Header

MERAIH PRESTASI DENGAN APRESIASI

April 5th, 2016 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

MERAIH PRESTASI DENGAN APRESIASI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim [114]: 07)

                Pada ayat sebelumnya dijelaskan, Nabi Musa mengajak Bani Israil untuk mensyukuri nikmat Allah berupa pembebasan mereka dari kekuasaan Fir’aun, raja penindas yang menyiksa dan menyembelih semua anak laki-laki secara keji. Andaikan itu berlanjut, bagaimana nasib para wanita yang hidup tanpa suami dan kepala keluarga, semakin hari semakin menderita dan terus menerus dalam tekanan dan penyiksaan. Maka, sebagai kelanjutan, pada ayat ini sebagaimana dikutip di atas, Nabi Musa menjanjikan, jika mereka mensyukuri semua nikmat itu, Allah akan memberi kehidupan yang lebih sejahtera.

Berkaitan dengan ayat di atas, sebuah peristiwa terjadi pada masa Nabi SAW.  Suatu saat, datanglah seorang pengemis kepada Rasulullah, lalu ia diberi sebutir kurma. Tapi, rupanya ia menerimanya dengan wajah yang kurang puas. Tidak lama kemudian, datanglah peminta lainnya dan Rasulullah memberi yang sama: sebutir kurma. Peminta itu lalu berkata, “Subhanallah, inilah sebutir kurma yang langsung dari nabi.” Melihat sikap demikian, nabi berkata kepada peminta itu, “Temuilah istriku, Umi Salamah, nanti kau akan diberi 40 dirham.” (HR. Ahmad dari Anas bin Malik r.a).

Di sebuah perumahan di Surabaya, ada dua petugas keamanan, Supardi dan Padlan (maaf nama fiktif). Setiap membukakan portal untuk penghuni atau tamu yang keluar masuk, tidak jarang warga memberi mereka uang atau bingkisan. Hanya saja, ekspresi mereka berbeda. Pak Supardi dengan senyum lebar dan sedikit membungkuk mengucapkan, “Alhamdulillah, terima kasih pak, semoga dibalas Allah dengan kesehatan dan rizki yang melimpah.” Ia juga memakai sarung pemberian warga untuk shalat di masjid.  Adapun Pak Padlan, ia mengucapkan terima kasih dengan singkat dengan ekspresi muka yang datar-datar saja. Sarung yang diterima dari warga juga tidak pernah dipakai ke masjid.

Ketulusan pak Supardi dan ekpresi apresiasinya atas pemberian warga mengundang simpati warga yang luar biasa. Semua biaya sekolah anak-anaknya ditanggung penuh oleh tiga orang warga secara patungan, bahkan istrinya diberi modal untuk berjualan es kelapa muda di tepi jalan raya. Subhanallah, benarlah firman Allah, “Jika kamu bersyukur, Aku akan tambahkan kenikmatan padamu.”

Menurut Imam Al Qusyairy dalam Latha-iful Isyarah, maksud ayat di atas adalah jika kalian bersyukur, maka kalian akan mendapat kenikmatan melihat keindahan wajah Allah berkali-kali. Imam Al Mawardi dalam  An Nuktu Wal ‘Uyun menambahkan,  jika kalian bersyukur, Allah akan menambahkan kenikmatan dunia dan akhirat. Menurut Hamka, syukurlah dan kerja keraslah tanpa mengeluh soal dana, fasilitas, lingkungan dan sebagainya. Kalain juga akan mendapat rizki yang melimpah. Jika mengeluh, maka kalian akan merasakan derita yang berlipat, yaitu derita batin di dunia dan siksa berat di akhirat.

Ada sebuah buku menarik yang mengupas bagaimana kaitan apresiasi dengan limpahan rizki karya John Kralik yang berjudul 365 Thank Yous The Year a Simple Act of Daily Gratitude Changed My Life, Efek Terima Kasih Tindakan Bersyukur Sederhana Yang Mengubah Hidup. Pada tahun 2007, pengacara (53 tahun) di Amerika ini bangkrut, sehingga tidak bisa membayar sewa kantor, pegawai, dan angsuran bank. Ia sampai iri dengan orang yang mati karena serangan jantung atau tertubruk mobil. Tiba-tiba ia teringat rasa senangnya menerima ucapan terima kasih yang tulus dari seseorang atas hadiah kecil yang pernah diberikan. Dalam kesendirian di kantornya, tiba-tiba matanya tertuju  pada tumpukan amplop yang tidak terpakai. Ia kemudian membuat proyek besar, yaitu menulis surat apresiasi untuk semua orang yang terkasih setiap hari selama setahun.

Surat pertama diberikan kepada putra tertuanya yang tinggal di Los Angeles. Sewaktu menulis  surat, ia baru sadar tidak tahu alamat rumahnya. “Sebagai orang tua, ini adalah sebuah aib atas ketidaktahuan alamat ini,” sesalnya. Inilah bunyi surat itu: Putraku tersayang, terima kasih atas hadiah mesin pembuat kopi yang sangat mengagumkan. Sekarang, ayah bisa memberi jamuan istimewa kepada setiap tamu di kantor ayah. Sampai bertemu. Penuh Cinta: Ayah.” Setelah terharu menerima surat apresiasi sang ayah, ia lalu meminta ayahnya untuk makan di sebuah restoran dengan biaya simpanannya sendiri. Sungguh, ada kebahagiaan baru yang luar biasa bagi mereka.

 Surat kedua ditujukan kepada pemilik apartemen, Mr Robert. Ternyata, ia sudah meninggal. Maka sang istri yang membalas surat itu dengan rasa bangga, bahkan mengajak usaha kerjasama. Baru sebulan ia mengirim 30 pucuk surat apresiasi, ia telah merasakan ada yang berubah dalam hidupnya. Setiap ditanya orang tentang keadaannya, ia sama sekali tidak bercerita tentang kehancuran usahanya. Ia justru teringat dan menonjolkan kisah anak-anaknya yang sukses, lebih menonjolkan rasa syukur daripada penderitaan. Jika tidak mendapat respon dari penerima surat, ia tetap bahagia karena telah menyalurkan rasa terima kasihnya.

Giliran surat berikutnya ditujukan kepada dokter ahli gastro yang melakukan endoskopi 10 tahun silam. Tapi, ia tidak tahu alamatnya. Setelah lama dicari, ternyata diketahui dokter itu telah menjadi guru besar di University of Rochester Medical Center New York. Ia mengatakan, “Setiap malam menjelang tidur, saya teringat jasa Anda. Andalah yang membuat saya tidur nyenyak tanpa sedikitpun rasa sakit selama 10 tahun ini.” Ia tersentak, ternyata dokter itu menjawab dengan surat yang lebih panjang, “Inilah surat pertama yang saya terima sejak berprofesi sebagai dokter. Belum pernah ada pasien dalam jangka panjang memberi apresiasi seperti ini. Anda bukan seperti kabanyakan orang yang hanya ingat dokter ketika sakit.” Pengacara ini berkesimpulan, setiap kebaikan, sekecil apapun, baik materi atau non materi merupakan investasi. Ia akan kembali kepadamu secara tidak diketahui jalurnya setelah melalui beberapa tangan orang lain.

Dalam perenungan selama menulis sekian banyak surat, John Kralik sadar, amat banyak hal yang terlupa disyukuri dalam hidupnya, dan ia merasakan hidupnya tidaklah terlalu buruk. Sekalipun pada akhir tahun ia hanya bisa berkirim 300 buah surat, tapi ia telah bisa menjalin kembali hubungan dengan teman-teman lama dan mendapat dukungan untuk usaha-usaha kebangkitannya. Ia merasa lebih damai dan melihat ada tanda-tanda kebangkitan kembali praktek hukumnya.

John Kralik memberi beberapa petunjuk agar ucapan apresiasi Anda lebih indah dan mengesankan, yaitu: 1. Sebutkan jasa atau jenis barang yang Anda terima. Berhati-hatilah jangan sampai keliru menyebutkan. 2. Ceritakan tambahan kualitas hidup Anda setelah menerima hadiah atau jasa itu 3. Sebutkan betapa pentingnya membangun persahabatan dengan mereka. 4. Pujilah bahwa jasa mereka merupakan hal yang amat istimewa bagi Anda. 5. Berhati-hatilah dengan hal-hal yang berbau humor, sebab tidak semua orang menyukainya. 6. Jangan pelit kertas dan kata agar bisa mengungkapkan apresiasi dengan bahasa yang indah dan mengesankan. 7. Tulislah dengan tangan, sebab tulisan itu mewakili kehadiran Anda secara fisik 8. Berlatihlah terus untuk mengkekspersikan apresiasi, sebab dibutuhkan latihan yang panjang untuk bisa berekspresi apresiasi secara mengesankan.

John Kralik telah mengamalkan pesan ayat di atas, sekalipun ia non-muslim dan belum pernah membacanya.  Mengapa bukan Anda yang mempraktekkan terlebih dahulu? Sekarang, tulislah nama  guru-guru yang pernah mengajar Anda sejak kecil dan orang-orang yang berjasa mengantarkan Anda sampai menjadi orang mulia saat ini. Ucapkan terima kasih atas semua jasa mereka dengan tutur kata yang terindah dan doakan kesehetan dan kebahagiaan mereka. Tumbuhkan terus sikap apresiatif itu kepada pasangan hidup Anda, anak-anak Anda dan semua orang. Percayalah akan janji Allah, hidup Anda pasti akan lebih berkualitas, keluarga Anda pasti lebih bahagia dan sejuta pintu rizki akan terbuka untuk Anda.

                                                                                                                                Denpasar, 01 Maret 2016

Referensi;

(1) Hamka, Tafsir Al Azhar, Juz XIII, PenerbitPustaka Panjimas, Jakarta, p.121-122.(2) Imam Al Qusyairy,  TafsirLatha-iful Isyarah(3) Imam Al Mawardi, Tafsir An Nuktu Wal ‘Uyun (4)John Kralik,365 Thank Yous The Year a Simple Act of Daily Gratitude Changed My Life, Efek Terima Kasih Tindakan Bersyukur Sederhana Yang Mengubah Hidup.  terj.Dewi Wulansari, Penerbit Gemilang, Jakarta, 2014, cet. I

 

 

 

BAHAGIA MEMUJA TANPA MEMINTA

March 4th, 2016 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

BAHAGIA MEMUJA TANPA MEMINTA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://www.atu.ac.ir/Images/1/News/100%283%29.jpg

sumber gambar: http://www.atu.ac.ir/Images/1/News/100%283%29.jpg

Hai orang-orang yang beriman berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al Ahzab [33]:41-42).

            Ayat di atas memerintahkan kita untuk banyak berdzikir, yaitu menyebut nama-nama Allah secara lisan dengan mengingat sifat-sifat-Nya atau hanya mengingatnya dalam hati. Dengan pengertian dzikir yang luas ini, maka shalat, membaca Al Qur’an, bershalawat, belajar dan sebagainya termasuk kegiatan dzikir.

         Menurut Ibnu Abbas r.a, semua kewajiban pasti disertai ketentuan waktu dan dispensasi bagi yang berhalangan. Tapi, untuk berdzikir tidak ada ketentuan demikian, bahkan kita diperintah berdzikir dalam keadaan apapun: miskin atau kaya, gembira atau sedih, sehat atau sakit , pagi, siang, atau malam, berdiri atau duduk, berjalan atau berbaring, sedang bekerja atau istirahat. Sebanarnya, bertasbih termasuk kegiatan berdzikir, tapi dalam ayat ini disebut secara khusus, sebab ia merupakan zikir pemurnian iman dan pembersih dari pikiran negatif, termasuk berburuk sangka kepada Allah.

            Cobalah Anda renungkan salah satu bacaan tasbih Rasulullah SAW berikut ini: “Subhanallah ‘adada khalqih, subhanallah ridla nafsih, subhanallah zinata ‘arsyih, subhanallah midada kalimatih” (aku bertasbih sebanyak bilangan makhluk ciptaan-Nya, sampai Allah senang dengan diri-Nya, senilai arasy di langit tertinggi, dan bertasbih tiada henti sampai dunia kehabisan tinta untuk menulisnya).

            Jika Anda banyak berdzikir, maka berbagai anugerah Allah akan Anda peroleh, bahkan dibanggakan Allah di hadapan para malaikat, lalu para malaikat mengucapkan salam untuk Anda ketika hendak memasuki surga, sebagaimana dijelaskan pada lanjutan ayat di atas (ayat 43,44) (Hamka, Juz 22: 55). Allah SWT juga berfirman, “Ingatlah akan Aku, niscaya Aku akan mengingatmu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (QS. Al Baqarah [02]:152).

            Dalam sebuah hadits qudsi, Allah SWT berfirman,

               عَنْ اَبِى سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ يَقُوْلُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ مَنْ شَغَلَهُ الْقُرْأَنُ وَذِكْرِي عَنْ مَسْأَلَتِى أَعْطَيْتُهُ اَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِيْنَ وَفَضْلُ كَلَامِ اللهِ عَلَى سَا ئِرِ الْكَلَامِ كَفَضْلِ اللهِ عَلَى خَلْقِهِ رواه الترمذي

Abu Said Al Khudry r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda, Allah ‘Azza Wajalla berfirman, “Barangsiapa sibuk membaca Al Qur’an dan berdzikir sampai tidak sempat mengajukan permohonan kepada-Ku, maka Aku akan memberinya anugerah yang lebih berharga daripada yang Aku berikan kepada para pemohon. Ketahuilah, nilai kalam Allah lebih tinggi dari semua perkataan makhluk seperti ketinggian Allah dibanding makhluk-Nya (HR. Al Turmudzi).

                Muhammad ‘Awwaamah (2013:446) mengatakan orang-orang yang hanyut dalam kesibukan membaca Al Qur’an dan berzikir lebih dimuliakan Allah daripada para peminta, sebab mereka lebih menonjolkan kewajibannya untuk mengagungkan Allah daripada haknya untuk meminta kepada-Nya. Dr. Imam Ghozali Said, MA menambahkan itulah filosofi Surat Al Fatihah. Dari tujuah ayat, hanya ada satu ayat (10%) yang berisi permohonan sedangkan sisanya (90%) berisi pemujaan atau sanjungan untuk Allah SWT.

            Berkaitan dengan hadis di atas, ijinkan saya bercerita tentang dua pembantu rumah tangga, Rukmini dan Hartatik (keduanya nama fiktif). Mereka sudah bekerja lebih dari sembilan tahun di rumah pemilik hotel di Tainan, Taiwan. Sang majikan dan anak-anaknya sangat puas dengan kerja mereka, bahkan tiga anaknya tidak bisa berpisah seharipun dengan mereka. Setiap diberi cuti pulang setelah dua tahun bekerja, dua anak majikan yang masih kecil diikutkan Rukmini ke Indonesia walaupun agak lama: dua atau tiga minggu.

            Tipe dua TKI tersebut berbeda. Rukmini lebih gaul, sehingga dalam banyak kesempatan, khususnya ketika cuti pulang, dengan nada sedikit gurau ia meminta hadiah dan diiyakan oleh majikan. Sedangkan Hartatik, jarang bicara dan tidak pernah meminta hadiah apapun. Ia hanya fokus bekerja dan bekerja.

            Ketika Hartatik pamit pulang untuk menikah, sang majikan memberi gaji sesuai perjanjian, dan di luar dugaan, ia juga memberi tambahan uang lebih dari cukup untuk biaya pesta perkawinan. Bahkan ia memberinya sebuah amplop angpao merah dengan tulisan tangan bahasa Taiwan, “Spesial untuk berbulan madu.” Ha ha. Jika dikalkulasi, pembantu pendiam asal Madiun yang fokus mengabdi itu menerima hadiah lebih banyak daripada yang diterima Rukmini setiap pulang cuti ke Indonesia.

            Dalam beribadah selama ini, apakah Anda bertipe Rukmini yang selalu meminta atau Hartatik yang fokus bekerja dan mengabdi, tanpa sekalipun meminta bonus? Wah, jangan kedua-duanya. Jika Anda hanya memuji Allah dan tidak memohon sesuatu apapun, Allah sangat murka, sebab Anda sombong, merasa sudah mampu hidup tanpa campur tangan Allah. Allah SWT berfirman, “Barangsiapa tidak berdoa, maka Aku marah kepadanya” (HQR.’Askary dari Abu Hurairah r.a). Ikutilah semua nabi yang selalu berdoa dalam segala hal (QS. Al Anbiyak [21]: 83-90).

            Jika Anda terus menerus meminta sampai kurang waktu untuk memperbanyak membaca Al Qur’an, bertasbih, bertahmid dan bershalawat, apakah Anda tidak malu, sebab Anda seolah-olah sedang membalik ayat dalam surat Al Fatihah, yang seharusnya “iyyaka na’bud waiyyaka nastain: kepada-Mu kami menyembah dan kepada-Mu kami memohon pertolongan” menjadi “iyyaka nastain waiyyaka na’budu: kepada-Mu kami memohon pertolongan dan kepada-Mu kami menyembah?”

            Apakah Anda tidak malu pula dengan ‘Imran bin Hushain yang menangis di tengah malam, “Wahai Allah, mengapa aku tidak Engkau jadikan debu sehingga cepat lenyap ditiup angin, karena aku kehabisan kata dan daya untuk mengagungkan-Mu sesuai dengan kebesaran-Mu yang sesungguhnya?”

            Mengapa Anda bertipe Rukmini? Ingatlah pesan Syekh Ahmad ibnu ‘Athaillah, “Al mukminu yusyghiluhus tsana-u ‘alallahi ta’ala ‘an an yakuna linafsihi syakira. Laisal muhib alladzi yarju min mahbubihi ‘iwadla aw yathlubu minhu ‘aradla, fainnal muhibba man yabdzulu laka, laisal muhibbu man tabdzulu lahu (mukmin sejati selalu sibuk memuji Allah sehingga ia tidak sempat mengingat kepentingan dirinya sendiri. Pecinta bukanlah yang meminta sesuatu dari sang kekasih, melainkan yang selalu memberi segalanya untuknya yang terkasih).

            Tulisan ini hanya untuk introspeksi dan mengajak merenung sejenak. Di sela-sela ibadah kita yang banyak meminta Allah, kapankah kita sediakan waktu yang agak panjang untuk hanya memuji, menyanjung dan mengagungkan Allah dan Rasulullah, tanpa sedikitpun terlintas meminta untuk sesuatupun. Setelah itu, kita lanjutkan paduan antara menyembah dan meminta (iyyaka na’budu waiyyaka nastain) seperti kebiasaan semula. Saatnya kita berubah: perbanyak porsi memuja daripada meminta. Dengan cara itu, yakinlah Anda akan lebih ceria dan pasti lebih bahagia. Sambutlah senyum Allah untuk Anda.

Surabaya, 25 Pebruari 2016

Referensi: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar Juz XXII: p. 55; (2) M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah Vol 10: 494; (3) Muhammad ‘Awwaamah, Minas Shihah Al Ahadits Al Qudsiyyah: Mi’ah Hadits Qudsi Ma’a Syarhiha (Seratus Syarah Hadis Qudsi), Noura Books, Jakarta Selatan 2013, p. 446-449); (4) Syekh Ibnu Athaillah, Al Hikam, terj. Salim Bahreisy, Penerbit Balai Buku, Surabaya, 1984, p. 182-183). (5) Moh. Ali Aziz, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, IAIN Press, Surabaya, 2012.

PINEAL THERAPY: PENYEMBUHAN DENGAN SUJUD PANJANG
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)” (QS. Al ‘Alaq [96]:19).

sumber gambar: http://www.mypinealgland.com/uploads/1/2/6/9/12698963/96925_orig.jpg

sumber gambar: http://www.mypinealgland.com/uploads/1/2/6/9/12698963/96925_orig.jpg

Ayat di atas mengingatkan Anda agar jangan sekali-kali mengikuti lintasan pikiran atau ajakan orang yang negatif, sebab setiap dosa akan mendatangkan penderitaan. Sebaliknya, Anda diperintah untuk bersujud dan lebih mendekat kepada Allah agar Anda mendapat bimbingan dan kebahagiaan.

Ayat ini tidak bisa dipisahkan dengan ayat-ayat sebelumnya yang menjelaskan pada setiap kepala manusia terdapat ubun-ubun (nashiyah atau frontal lobe) yang berisi sejumlah pusat neurotis yang merupakan pusat tertinggi di antara pusat-pusat konsentrasi, berpikir, dan memori. Menurut Prof. Muhammad Yusuf Sakr tugas frontal lobe adalah mengarahkan setiap keputusan manusia, apakah Anda akan berbohong atau jujur, memberi atau meminta, shalat atau tidak dan sebagainya. Bagian tulang depan tempat otak itulah yang Anda ratakan di tanah untuk bersujud. Otak Anda benar-benar anugerah Allah sebab ia menjaga dan mengendalikan semua fungsi organ tubuh dari berbagai gangguan termasuk penyakit.

sumber gambar: http://2.bp.blogspot.com/-RXDrgFmoBMg/U1kRdNyriwI/AAAAAAAAC7o/nGC0VY8Va1o/s1600/IMG-20140314-WA0039.jpg

sumber gambar: http://2.bp.blogspot.com/-RXDrgFmoBMg/U1kRdNyriwI/AAAAAAAAC7o/nGC0VY8Va1o/s1600/IMG-20140314-WA0039.jpg

Dalam otak Anda ada juga yang disebut pineal gland (kelenjar pineal) yaitu organ amat kecil seukuran beras (5-8 mm) berbentuk kerucut berwarna abu-abu kemerahan yang terletak di pusat otak, searah dengan titik di dahi antara dua mata, yang jika disambung maka akan berbentuk segitiga. Kelenjar inilah yang sering disebut “mata ketiga” atau “pusat jiwa” atau “indera keenam” karena kemampuannya menembus hal-hal metafisis dan spiritual. Semakin kuat indera ini, semakin mudah dan indah Anda berkomunikasi dengan Tuhan dan makhluk-makhluk lainnya. Kelenjar pineal dapat menghancurkan berbagai penyakit yang menyerang. Bahkan menurut Dr. Iftachul ‘ain Hambali (2011), otak Anda dapat menghasilkan lebih dari 50 macam obat alami yang tiga kali lebih hebat dari obat-obat sintesis. Kelenjar pineal ini berkembang sejak usia tiga bulan dan puncaknya pada usia 6 tahun.

       Kelenjar pineal terdiri dari sel-sel yang sangat peka terhadap cahaya. Oleh sebab itu, ia hanya bekerja memproduksi hormon melatonin dalam suasana gelap, lebih-lebih pada pukul 23.00-02.00. Pada waktu siang atau malam hari dengan lampu yang terang, mata yang terkena rangsangan cahaya akan melapor ke otak, lalu kelenjar pineal tidak bekerja maksimal. Oleh sebab itu, pekerja malam atau orang yang tidur dengan lampu menyala lebih rentan terkena kanker.

       Kelenjar pineal juga hanya bekerja jika hati Anda senang dan damai. Perasaan ikhlas, tidak mengeluh atas apapun keadaan dapat memacu kelenjar pineal untuk bekerja maksimal memproduksi hormon melatonin dalam jumlah yang besar. Hormon inilah yang dapat mengontrol dan mengendalikan hormon-hormon lain serta mengontrol seluruh proses biologis yang ada. Oleh sebab itu, kelenjar pineal tidak bekerja dengan baik ketika Anda sedang marah, kecewa, menyesali nasib, dendam dan sejenisnya. Semua emosi negatif itu mengurangi produksi hormon melatonin dan meningkatkan produksi hormon serotonin yang akan mengakibatkan penyempitan pembuluh darah dan berakibat pada jantung koroner dan stroke. Stres juga meningkatkan produksi hormon estrogen pada wanita yang menyebabkan kanker payudara.

       Sujudlah yang lama, sebab dalam otak Anda ada beberapa saraf yang tidak dimasuki darah yang sangat dibutuhkan untuk bisa berfungsi secara normal. Dalam posisi sujud, darah mengalir memasuki urat saraf dalam otak yang sedang menunggu aliran darah, ke paru-paru dan jantung. Dr. G. Sauer, ahli penyakit kulit dari Jerman dan Dr. M. Fisbein mengatakan ketegangan jiwa bisa mempengaruhi kualitas kulit dan kecantikan termasuk timbulnya jerawat.

       Anda harus secara rutin berkonsultasi dengan dokter, apalagi ketika sakit. Tapi, menurut pengalaman Lee Lipsenthal MD, berobat ke dokter tidak sepenuhnya mengatasi masalah. Lee Lipsenthal MD adalah direktur medis research institute di California selama tujuh tahun dan penulis internasional bidang kebugaran fisik dan ilmu kedokteran integratif. Lee Lipsenthal MD terkena kanker esophagus bawah dan menurut dokter yang menanganinya, usianya tinggal 18 bulan lagi. Istrinya, Kathy yang juga seorang dokter amat bereperan dalam proses penyembuhannya secara medis dan melalui yoga. Ia mengatakan, “Berdasar pengalamanku melawan kanker dan banyak panyakit yang menyerangku, saya menyimpulkan kesembuhan tidak cukup hanya dengan pil dan peralatan kedokteran yang canggih, tapi harus disertai perubahan mindset secara radikal. Antara lain dengan doa-doa afirmasi, yaitu pernyataan terima kasih dan senang atas semua pemberian Tuhan dan keyakinan akan kepastian kasih dan pertolongan dari-Nya.”

       Dia membenarkan adanya God Spot atau Titik Tuhan (oleh Dr. Vilayanur Ramachandaran) yang secara teknis merupakan angular gyrus kanan dan bagian otak temporal kanan belakang. God Spot merupakan pusat spiritual otak yang membawanya kepada pangalaman luar biasa, keindahan berpisah dengan raga dan bermesra dengan Tuhan. “Jika God Spot ini kita sentuh, maka kita akan merasakan pengalaman baru yang amat menyenangkan. Mungkin saja God Spot tempat tangan Tuhan untuk kita.”

       Lee Lipsenthal MD juga menyarakan, “Lakukan meditasi 5-10 menit dua kali sehari agar Anda lebih mudah mengontrol otak. Meditasi itu membantu mengurangi penderitaan akibat semakin banyaknya harapan duniawi. Bahagia adalah sebuah pilihan. Nikmatilah apa yang ada, bukan apa yang seharusnya ada atau yang mungkin ada.”        Ibrahim El-Fiky (2011) mengatakan setiap hari Anda menghadapi lebih dari 60.000 pikiran. Anda harus mengarahkannya. Jika Anda arahkan kepada hal positif, maka 60.000 pikiran tersebut akan keluar dari memori ke arah positif yang membuat Anda optimis, riang, produktif dan sangat bahagia.

       Potensi otak yang menakjubkan di atas dapat Anda peroleh ketika Anda sujud panjang yang disertai doa afirmasi yang membuat Anda sangat riang, karena merasa dekat dengan Allah dan mendapat jaminan dari-Nya untuk penyelesaian masalah Anda. Ketika Anda bersujud, yang berarti tidak ada lagi cahaya di depan mata Anda dan pada saat yang sama hati tenang dan damai, maka kelenjar pineal akan bekerja maksimal yang amat menentukan kesehatan dan kesembuhan Anda.

       Sujudlah selama dua menit pada setiap sujud pada shalat pagi dan malam hari, maka Anda bisa mengontrol 60.000 pikiran dalam otak Anda dan memperoleh kedahsyatan pengaruhnya untuk kesehatan Anda, melebihi pengaruh yoga seperti yang dilakukan Lee Lipsenthal, disamping Anda mendapat cinta yang lebih dari Allah. Lebih-lebih Anda kerjakan tengah malam waktu puncaknya kerja kelenjar pineal. Perbanyak doa afirmasi daripada doa permintaan sebagaimana doa Nabi Ayyub AS ketika sakit, “Aku benar-benar sakit, tapi Engkau Tuhan yang Paling Pengasih dari semua pengasih.” (QS. Al Anbiyak [21]: 83). Atau dalam bahasa yang lain, “Engkau pasti menyanyangi aku, dan tidak mungkin Engkau membiarkan aku tanpa kasih-Mu dalam mengatasi penyakitku.”

       Dalam sujud panjang itu, ucapkan doa sujud yang baku dari Nabi SAW, lalu sampaikan dalam hati (tidak boleh diucapkan) doa afirmasi berikut ini, “Wahai Allah, aku bersujud untuk berterima kasih dan sangat senang atas semua pemberian-Mu, yaitu ……. (sebutkan satu persatu nikmat Allah yang telah Anda terima). Wahai Allah, aku ikhlas dan tidak sedikitpun mengeluh atas apapun penyakit yang aku rasakan. Aku juga ikhlas dan tidak mengeluh berapapun rizki yang Engkau berikan kepadaku. Aku ikhlas dan tidak mengeluh atas apapun yang hilang dari tanganku. Aku pasrahkan hidup-mati, sehat-sakit, kaya-miskin, sukses-gagal dan segalanya kepada-Mu. Terserah Engkau, sebab aku yakin (x3) semua keputusan-Mu pasti (3) yang terbaik untukku. Dengan kepasrahanku, aku yakin Engkau akan mengambil alih penyelesaian masalahku.”

       Berobatlah, shalatlah dengan sujud panjang, bersenanglah dan raihlah kesembuhan dan kesehatan Anda.

            Referensi: (1) Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, UIN Sunan Ampel Press, Surabaya, cet X, 2015. (2) Lee Lipsenthal MD, Enjoy Every Sandwich, Nikmati Hidup Setiap Hari Seolah Hari Terakhir Kita, Terj. FX Supri Harsono, PT. Gramedia, Jakarta, 2012. (3) Dr. Iftachul ‘ain Hambali Sp. THT, Islamic Pineal Therapy, penerbit Prestasi, Jakarta, cet. I, 2011. (4) Prof. Dr. HM Amin Syukur MA, Sufi Healing, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2012 p. 87. (5) Dr. H. Harjani Hefni, MA, The Seven Islamic Daily Habits, Pustaka Ikadi, Jakarta, Cet. VI, 2013 p. 197. (6) Dr. H. Achmad Zuhdi DH, M.Fil, Terapi Qur’ani, Tinjauan Al Qur’an Al Hadits dan Sains Modern, Imtiyaz, Surabaya, cet. I, 2015 p. 285. (7) Ibrahim Elfik-y, Dr, Quwwat al-Tafkir, Terj. Khalifurrahman Fath dan M. Taufik Damas, Terapi Berpikir Positif, Penerbit Zaman, Jakarta, Cet IX, 2011. (8) Prof. Dr. HM Amin Syukur MA, Kuberserah, Kisah Nyata Survivor Kanker Yang Divonis Memiliki Kesempatan Hidup Hanya Tiga Bulan, Penerbit Noura Books (PT. Mizan Publika), Jakarta Selatan, 2012, cet. II. (9) Masaru Emoto, The Secret Life of Water (Menguak Rahasia Mengapa Air Dapat Menyembuhkan), terj. Susi Purwoko, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2006, cet.