Header

MANUSIA ANEH

May 28th, 2020 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

MANUSIA ANEH
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: https://www.askideas.com/15-most-funny-donkey-face-pictures-that-will-make-you-laugh/

فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ كَأَنَّهُمۡ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۢ 

“Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)? Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa” (QS. Al Muddats-tsir [74]: 49-51).

Dalam ayat ini, Allah heran, mengapa orang-orang kafir Makkah menjauhi Nabi, padahal ia mengajarkan keselamatan, bukan kesengsaraan. Allah mengumpamakan tindakan mereka itu dengan keledai liar yang melompat, lari kencang ketika melihat seekor singa di dekatnya. Ia terus berlari, dan tak ada orang yang bisa menghalaunya, padahal singa itu sudah sangat jauh. Itulah tamsil keanehan manusia dalam menyikapi ajaran agama.

Tanpa kita sadari, kita sebenarnya juga manusia aneh. Dalam setiap shalat, kita selalu meminta petunjuk jalan yang benar atau shiraathal mustaqim, tapi kita justru memilih jalan yang bengkok. Sikap ini seperti pengemis yang meminta buah segar, tapi membuangnya setelah diberi. Atau seperti orang yang meminta madu, lalu setelah diberi, madu itu dicampakkan, dan ia justru menenggak racun yang mematikan.

Dalam kitab Nasha-ihul ‘Ibad pada bab “as-sudasy” disebutkan lebih rinci beberapa keanehan tersebut, yaitu:

سِتَّةُ أَشْيَاءَ هُنَّ غَرِيْبَةٌ فِيْ سِتَّةِ مَوَاضِعَ: اَلْمَسْجِدُ غَرِيْبٌ فِيْمَا بَيْنَ قَوْمٍ لَا يُصَلُّوْنَ فِيْهِ، وَالْمُصْحَفُ غَرِيْبٌ فِيْ مَنْزِلِ قَوْمٍ لَا يَقْرَؤُوْنَ فِيْهِ، وَالْقُرْآنُ غَرِيْبٌ فِيْ جَوْفِ الْفَاسِقِ ، وَالرَّجُلُ الْمُسْلِمُ غَرِيْبٌ فِيْ بَيْتِ امْرَأَةٍ رَدِيْئَةٍ سَيِّئَةِ الْخُلُقِ، وَالْمَرْأَةُ الْمُسْلِمَةُ الصَّالِحَةُ غَرِيْبَةٌ فِيْ بَيْتِ رَجُلٍ ظَالِمٍ سَيِّئِ الْخُلُقِ، وَالْعَالِمُ غَرِيْبٌ بَيْنِ قَوْمٍ لَا يَسْتَمِعُوْنَ إِلَيْهِ

Ada enam keganjilan dalam kehidupan, yaitu (1) masjid yang kosong di tengah masyarakat, (2) kitab suci Alquran di dalam rumah, tapi tak dibaca, (3) Alquran di mulut orang yang banyak melakukan dosa, (4) suami saleh beristri wanita yang rusak akhlaknya, (5) istri salehah bersuami pria yang zalim dan buruk akhlak, dan (6) ulama yang tidak didengar oleh masyarakatnya.

Kita bersyukur, kita menyaksikan banyak masjid yang dibangun oleh sebuah instansi, perusahaan atau oleh perorangan. Tapi, setelah selesai dibangun, masjid itu terlantar, sepi tanpa kegiatan di dalamnya, sehingga kehilangan daya tarik masyarakat. Bisa juga, masyarakat enggan memasukinya karena kegiatan masjid tidak sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat setempat. Program kerja disusun berdasar impian belaka, tanpa didahului penelitian yang mendalam tentang sosiologi, psikologi, budaya, politik dan paham keagamaan masyarakat sekitar.

Keanehan lainnya terkait dengan Alquran. Gerakan cinta Alquran yang kita dengungkan telah berhasil menggerakkan masyarakat untuk memiliki kitab suci itu. Tapi, setelah dimiliki, Alquran hanya dijadikan identitas kesantrian belaka.  Ia diletakkan di ruang tamu, di kantor, atau mobil, dan tidak dibaca secara rutin. Akhirnya, Alquran hanya sebagai asesori atau hiasan, bukan sebagai pedoman.

Ada juga orang yang rajin membaca dan mengutip ayat-ayat Alquran dengan fasih dan menjelaskannya dengan uraian yang menghipnosis pendengar, namun akhlak kesehariannya jauh dari nilai-nilai Alquran yang diajarkannya. Pada era informasi ini, tidak sedikit orang yang menghabiskan waktunya di depan komputer atau HP untuk menjadi “penceramah” baru dengan cara membagikan nasihat-nasihat agama kiriman orang, padahal ia sendiri tidak mengerti, apalagi menjalankannya. Ia tampil dalam media sosial itu seperti ulama besar atau penasihat agama yang ulung dengan narasi atau penjelasan yang logis dan mengesankan. Barangkali inilah jaman yang pernah diprediksi, yaitu lebih banyak pembicara, tapi nihil pengetahuan agama, dan gagal menjadi tauladan bagi masyarakat sekitarnya.

Keanehan lainnya terjadi dalam kehidupan rumah tangga, yaitu rusaknya keimanan dan akhlak suami atau istri, akibat kesalahan memilih pasangan. Suami atau istri yang santri atau taat beragama menjadi “mantan santri” karena pengaruh pasangannya yang lemah iman, bodoh dan rapuh akhlaknya. Tidak ada larangan, orang santri memilih pasangan yang tidak santri, asalkan bisa memengaruhi pasangannya menjadi taat beragama dan berakhlak mulia. Jika berhasil demikian, maka dialah pendakwah bahkan pejuang sejati, dan dialah yang dikagumi malaikat dan dicintai Allah. Tapi, jika gagal, artinya pasangan yang santri luntur kesantriannya akibat pengaruh negatif pasangannya, maka itulah sebuah musibah besar. Lebih baik “mantan preman” daripada “mantan orang beriman.” Juga, “mantan wanita tuna susila” lebih terpuji daripada “mantan wanita pegiat agama.”  

Masih ada lagi satu keanehan. Yaitu kiai, ustad, dan tokoh agama lainnya yang tidak didengar nasihatnya oleh orang-orang di sekitarnya, karena gagal menjadi teladan yang terbaik bagi mereka. Ia hanya pandai berseru berjamaah di masjid, tapi ia hanya ke masjid ketika terjadwal sebagai imam. Seakan-akan ia hanya pantas sebagai imam, dan merasa hilanglah kehormatannya jika menjadi makmum, apalagi status sosial si imam saat itu lebih rendah dari dirinya. Tokoh agama tersebut mengajurkan kesabaran dan kesopanan, namun ia terkenal sebagai orang yang kasar terhadap istri dan anak-anaknya. Inilah beberapa ilustrasi mengapa seorang tokoh agama dijauhi oleh lingkungannya

Silakan Anda tambahkan keanehan-keanehan lainnya yang Anda jumpai di tengah masyarakat. Atau mungkin keanehan dalam diri Anda sendiri. Mintalah kekuatan Allah untuk dibebaskan dari keanehan-keanehan tersebut. (Surabaya, 4-11-2019)

Sumber: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 29, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 231-232 (2) Syekh Imam Nawawi Al Bantany, Nasha-ihul ‘Ibad, t.p; t.th, p. 42

PERJUANGAN MENUJU KEMULIAAN
Khutbah Idul Fitri 1441 H / 24-5-2020
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

 اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُلِلَّهِ/  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ / وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهْ/ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهْ / اَمَّابَعْدُ/  قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Kaum muslimin Yth.

Pada idul fitri ini, kita bersyukur, bisa menyelesaikan puasa ramadhan dengan rangkaian ibadah di dalamnya, yaitu sedekah, zakat, tarawih, witir, baca Alquran dan sebagainya. Semoga semuanya diterima Allah, dan mendatangkan kasih dan ampunan-Nya untuk kita semua, juga untuk semua sesepuh dan saudara kita yang telah kembali ke hadirat Allah.

Tujuan puasa adalah ”la’allakum tattaquun,” yaitu supaya kita menjadi orang baik. Jika setelah ramadan ini, ibadah dan akhlak kita menjadi lebih baik, maka berarti puasa kita diterima Allah. Demikian juga, lailatul qadar adalah malam kemuliaan. Jika setelah lailatul qadar, tutur kata, sikap dan perbuatan kita semakin mencerminkan kemuliaan, maka berarti, kita telah mendapatkan berkah malam seribu bulan itu.

Melalui khutbah ini, kita memohon pertolongan kepada Allah agar setelah idul fitri ini, kita dijadikan pemimpin yang lebih baik, menjadi suami atau istri yang jauh lebih baik, lebih sabar dan lebih saling menghargai; menjadi ayah dan ibu yang lebih bijaksana; menjadi anak yang lebih berprestasi dan berakhlak; menjadi muslim yang lebih giat bekerja dan lebih dekat dengan orang miskin, lebih-lebih pada saat pandemi yang sungguh berat mereka rasakan sekarang ini.

Sebagai penutup, semoga saudara-saudara yang telah wafat , terutama pasien covid 19 dicatat Allah sebagai syuhadak. Semoga juga para dokter, paramedis, pejabat, sukarelawan atau siapa saja yang wafat ketika dalam melaksanakan tugas kemanusiaan, ditempatkan Allah dalam surga, bersanding dengan para Nabi dan semua pahlawan kekasih Allah. Semoga yang sedang sakit segera diberi kesembuhan, dan kita semua diselamatkan Allah dari semua penyakit dan bencana dunia dan akhirat.

             اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Duduk 10 detik. Lalu berdiri lagi melanjutkan khutbah kedua:

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُلِلَّهِ/  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ / وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهْ/ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهْ / اَمَّابَعْدُ/  قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ, وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

EMPAT MANUSIA TERMULIA

March 31st, 2020 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

EMPAT MANUSIA TERMULIA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://o-plosan.blogspot.com/2010/01/penduduk-surga-yang-paling-rendah.html

”Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka  akan bersama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat Allah, yaitu  para nabi, para shiddiiqiin, para syuhada’ dan orang-orang saleh, dan mereka itulah teman yang terbaik. Itulah karunia dari Allah, dan cukuplah Allah yang Maha Mengetahui” (QS. An Nisa’[04]: 69-70).

                Aisyah r.a., istri Nabi SAW menceritakan sebab turunnya ayat ini.  ”Suatu hari, datanglah seorang pria menghadap Nabi SAW seraya berkata, ”Wahai Rasulullah, tuan lebih saya cintai daripada diriku dan anakku sendiri. Setiap kali saya duduk sendirian di rumah, pikiranku tertuju kepada tuan. Tak ada yang bisa mengobati kerinduan itu kecuali bertemu dan melihat langsung wajah tuan. Sekarang saya semakin cemas, bagaimana kelak saya mengobati kegelisahan saya, ketika tuan telah meninggal dunia. Setelah kematian, tuan juga akan ditempatkan di tempat tertinggi dalam surga bersama para nabi, sedangkan saya di tempat yang berbeda, sehingga  saya tidak lagi bisa memandang wajah tuan.” Nabi SAW terdiam mendengar curahan hati laki-laki yang mengharukan itu. Saat itulah, Jibril datang membawa ayat ini.”

Abdullah Yusuf Ali dalam The Holy Quran mengatakan, ayat ini menjelaskan empat tingkatan orang mulia dan masing-masing dipertemukan satu sama lain dalam surga. Pertama, an-nabiyyuun, yaitu orang yang yakin, seyakin-yakinnya kepada Allah, para malaikat, semua kitab suci Allah, para nabi, hari pembalasan, dan percaya bahwa semua yang terjadi adalah merupakan kehendak Allah. Apa saja yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apapun yang tidak dikehendaki, pastilah tidak terjadi. Benar, kita sudah beriman, tapi sama sekali belum yakin. Dalam keseharian, kita lebih percaya kepada janji manusia daripada janji Allah. Kita lebih percaya kepada kemampuan manusia daripada kemampuan Allah, sehingga ketika menghadapi masalah, kita justru bercerita kepada mereka, bukan kepada Allah.

Termasuk as-shiddiiquun adalah orang yang jujur. Kita jujur mengakui, agama kita seringkali tajam untuk orang lain, tapi tumpul untuk diri sendiri. Kita meminta orang lain bertindak jujur dan adil, tapi sama sekali tidak untuk diri sendiri. Misalnya, dalam proses pengadilan, jika kita jujur, ibu kandung kita harus masuk penjara 20 tahun. Tapi, jika kita mau bohong sedikit, ia bisa bebas atau hanya setahun penjara. Manakah yang kita pilih?

Dalam berdagang, jika kita jujur kita rugi, bahkan bangkrut. Tapi, jika mau bohong sedikit saja, kita bisa selamat dan untung milyaran rupiah. Manakah yang kita pilih?. Oleh sebab itu, dalam ayat ini,  as-shiddiiquun ditempatkan Allah lebih mulia di atas para syuhadak.

Abu Bakar r.a. mendapat gelar as shiddiq, sebab ia mempercayai Nabi sepenuhnya ketika beberapa orang murtad, karena Nabi bercerita tentang sesuatu yang mereka dipandang mustahil. Tidaklah mungkin ia melakukan perjalanan malam (isra’) dari Masjidil Haram ke Masjid Al Aqsa dan melanjutkan perjalanan naik (mi’raj) ke langit tertinggi hanya dalam semalam.

Ketiga, as syuhada’, yaitu muslim yang menunjukkan persaksian keimanannya kepada Allah, malaikat dan semua manusia dengan cara ikut berperang dan meninggal dunia di medan pertempuran itu. Menurut Abdullah Yusuf Ali, para penggiat dakwah, penulis buku, pengurus masjid, lembaga pendidikan, panti asuhan dan semua orang yang mewakafkan hidupnya untuk membantu manusia dan kemajuan syiar Islam termasuk dalam kategori ini. Keempat, as-shaalihuun, yaitu muslim pada umumnya yang berusaha sekuat tenaga berada di atas jalan yang lurus dan cepat-cepat beristighfar dan bertobat jika melakukan dosa. Mereka ikut pula mengembangkan Islam dalam level yang sederhana, sesuai dengan kemampuan ilmu, fisik dan finansialnya. Sekalipun demikian, Allah amat menghargai keringatnya, sebab perjuangan yang besar tidak akan bisa sukses tanpa bantuan orang-orang kecil. Mereka inilah orang-orang yang seringkali luput dalam catatan sejarah. Tapi, Allah mencatatnya dengan tinta emas di pintu surga.  Tak mungkin sebuah pohon menjadi rindang dan berbuah tanpa akar sebagai pemasok makanan, dan ranting kecil sebagai gantungan buahnya.

Ayat ini merupakan penjabaran dari ayat ketujuh dalam surat Al Fatihah yang berisi permohonan agar kita termasuk an’amta ’alaihim, orang-orang yang mendapat kenikmatan surga, yaitu an-nabiyyuun, as-shiddiiquun, as-syuhadaa’, dan as-shaalihuun. Inti ayat inilah yang dijadikan doa Nabi SAW beberapa detik sebelum wafatnya. Aisyah r.a bercerita, ”Aku mendengar Nabi berdoa menjelang wafatnya sambil bersandar kepada saya, 

أَلّلهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَأَلْحِقْنِيْ بِالرَّفِيْقِ الأَعْلى

“Wahai Allah, ampunilah aku, kasihilah aku, dan pertemukan aku dengan arrafiilqul a’laa (tempat perkumpulan orang-orang termulia)” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Pada sebagian masyarakat muslim Indonesia, ayat ini juga dibaca oleh imam shalat tarawih sebelum melanjutkan shalat witir. Doa itu antara lain berbunyi, ”Wahai Allah, jadikan kami penikmat makanan dan minuman terlezat di surga. Ijinkan kami bersenang-senang dengan para bidadari tercantik yang telah Engkau siapkan. Wahai Allah, kumpulkan kami bersama empat kelompok manusia termulia, yaitu an-nabiyyuun, as-shiddiiquun, as-syuhadaa’, dan as-shaalihuun.”

Manusia yang tertinggi kemuliaannya adalah para Nabi atau an-nabiyyuun. Dan yang paling mulia di antara para nabi itu adalah Nabi SAW.  Kelompok ini sudah tertutup bagi siapapun, sebab tidak ada lagi nabi setelah Nabi SAW. Anda hanya bisa berusaha berada pada rangking dua, tiga dan empat, yaitu as-shiddiiquun, as-syuhadaa’, dan as-shaalihuun. Selamat berlomba meraihnya, dan selamat bersiap menjadi tamu agung di surga bersama empat manusia termulia. 

Surabaya, 4 Oktober 2019

Referensi: (1) Ahmad Al Shawi Al Maaliky, Tafsir As Shaawy, Juz 1, Darul Fikri, Beirut Libanon 1993 /1414 H, p, 303 (2) Abdullah Yusuf Ali, The Holy Qur’an, Dar Al Arabia, Beirut, Lebanon, tt, p. 200 (3) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 5, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 155 (4) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, vol. 2, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 608 (5) Al Bukhari, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il, Shahih Al Bukhari, Penerbit Toha Putra, Semarang, t.t.