Header

OBAT KECEWA

August 5th, 2020 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

OBAT KECEWA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: https://absurdbeingblog.wordpress.com/2020/02/23/a-life-without-regrets/

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖ شَرّٗا يَرَهُۥ

Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (atom) pun, maka ia akan melihat (balasan)nya, dan barangsiapa mengerjakan kejelekan sebesar atom pun, maka dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. Az Zalzalah [99]: 7-8).

Artikel ini saya tulis setelah seorang teman meminta ayat Alquran untuk mengobati kekecewaan sampai terkena gangguan jantung. Saya pilihkan dua ayat ini untuk menjawabnya. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam At Turmudzi dari Ibnu Abbas r.a dikatakan, dua ayat penutup surat Az Zalzalah ini setara dengan separuh Alquran.  Abdullah bin Mas’ud r.a, sahabat yang dipuji Nabi sebagai orang paling pintar Alquran juga mengatakan, dua ayat ini merupakan ayat terlengkap di antara semua ayat Alquran.

Kata dzarrah pada dua ayat ini berarti benda terkecil di alam semesta. Misalnya, debu yang terlihat beterbangan melalui jendela ketika terkena sinar matahari; atau debu di sela-sela karpet, atau butiran pasir terkecil di pantai, atau benda terkecil lainnya yang tak bisa dilihat dengan alat pembesar. Saat ini, dzarrah lebih sering diterjemahkan dengan atom. Ayat itu menegaskan, benda sekecil itu pun sangat jelas di mata Allah. Maka, sekecil apa pun yang Anda kerjakan, baik atau buruk, pasti akan ada perhitungannya di sisi Allah. Tak ada satu pun perbuatan yang sia-sia di hadapan Allah.

Dua ayat ini turun menanggapi dua orang yang berprilaku aneh. Seorang di antaranya enggan bersedekah, karena malu hanya memiliki sebutir kurma, dan seorang lainnya meremehkan dosa kecil, sebab mengira bahwa Allah mencatat hanya dosa besar.  Berkenaan dengan hal ini, Nabi SAW bersabda, “Lindungilah dirimu dari neraka, meskipun hanya dengan sebutir kurma” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari ‘Adi bin Hatim r,a). Ia juga bersabda, “Jauhilah dosa-dosa kecil, sebab masing-masing akan dituntut dalam pengadilan Allah” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi dari Abdullah bin Mas’ud r.a).

Menurut Syekh Muhammad Abduh, ayat ini berlaku untuk muslim dan non-muslim. Kebaikan sekecil apa pun yang dilakukan non-muslim dihargai Allah berupa pengurangan siksa, bukan pembebasan dari siksa. Ia berpijak pada firman Allah, “Kami akan meletakkan timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tak ada satu pun orang yang dirugikan sedikit pun. Meskipun perbuatan itu hanya seberat atom, pasti Kami berikan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al Anbiyak [21]: 47).

Hatim at Thaa-iy, penduduk Arab yang nasrani akan mendapat keringanan siksa, sebab ia terkenal paling dermawan.  Abu Lahab, paman Nabi yang musyrik juga dikurangi siksanya, karena ikut bersuka cita dengan kelahiran Nabi. Abu Thalib, paman Nabi juga diringankan siksanya karena mengasuh Nabi sampai dewasa, dan membela, bahkan siap mati untuk mengawal Nabi. Hamka dalam Tafsir Al Azhar menambahkan, “Thomas Alva Edison juga akan diringankan siksanya karena menghasilkan temuan listrik yang luar biasa manfaatnya untuk kehidupan kita, termasuk untuk aktivitas ibadah dan dakwah umat Islam sampai hari ini.”

Sekali lagi, renungkanlah dua ayat ini, betapa lengkap dan indahnya pesan yang terkandung di dalamnya, bahwa tak ada satu hal pun yang samar bagi Allah, dan tak ada sekecil apa pun kebaikan dan kejelekan yang tidak diperhitungkan balasannya oleh Allah. Suatu saat, Anda menyebut satu kata, ”Allah,” atau hanya terlintas dalam hati, maka Allah akan mencatatnya sebagai poin kebajikan, dan pasti memberikan balasan terbaik untuk Anda. Jika Anda berjalan di tepi laut, lalu berkata dalam hati, ”Wahai Allah, jika Engkau berikan aku kekayaan sebanyak pasir di pantai ini, betapa senangnya aku bisa membebaskan orang-orang dari kemiskinan,” maka lintasan hati itu akan dicatat sebagai kemuliaan sebanyak pasir di pantai, meskipun sampai akhir ajal, Anda tak bisa bersedekah sedikit pun. Bergembiralah, dan berniatlah untuk membahagiakan orang setiap pagi dan malam hari, sebab niat Anda adalah sumber kemuliaan, sekalipun tak terlaksana.

Jika Anda gagal dalam usaha, Anda tak perlu kecewa, sebab setiap butir keringat yang Anda keluarkan pasti sudah diperhitungkan balasan terbaiknya oleh Allah. Tak ada yang sia-sia. Mungkin Anda menyekolahkan anak miskin, lalu menikahkannya setelah lulus, dan memberi modal usaha yang tidak sedikit. Tapi, sejak itu, ia tidak pernah menunjukkan terima kasih, bahkan berulang kali menyakiti hati Anda. Jangan sekali-kali kecewa, sebab semua tenaga dan harta yang telah Anda berikan, sekecil apa pun, sudah dicatat dengan tinta emas dan telah disiapkan balasan terbaik untuk Anda. Jika Anda kecewa, maka berarti Anda sedang mempertontonkan ketidak-ikhlasan dalam menolong orang. Lalu, bagaimana dengan orang yang mengecewakan Anda? Setiap kata yang menjengkelkan Anda beserta pengkhianatannya kepada Anda sudah dicatat Allah, dan telah disiapkan untuknya hukuman yang pantas untuknya. Hapuskan kekecewaan, lupakan kejahatan orang, sebab Allah terus bekerja untuk menyiapkan pahala dan kemuliaan tertinggi untuk Anda.     

Sumber: (1) Khalid Muhammad Khalid, Rijal Haular Rasul, Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah, terj. Mahyuddin Syaf, CV Diponegoro,  Bandung, cet VI, 1988, (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 30, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 217-219, (3) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, vol. 15, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 531-533, (4) Hepi Andi Bastomi, 101 Sahabat Nabi, Pustaka Al Kautsar, Jakarta Timur, 2004 p. 38-44.

TABLET BERLAPIS DUA

July 11th, 2020 | Posted by admin_tsb in Taushiyah/Khutbah - (2 Comments)
DSC_0027

TABLET BERLAPIS DUA
Khutbah Idul Adha 1441 H / 31-7-2020
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

 اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُلِلَّهِ/  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ / وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهْ/ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهْ / اَمَّابَعْدُ/  قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Kaum muslimin Yth.

            Pada Khutbah Idul Adha pagi ini, saya bacakan Surat Al Kautsar ayat 1-3, surat favorit, paling sering kita baca dalam shalat, karena paling pendek:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ

”Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka, kerjakanlah shalat demi Tuhanmu, dan sembelihlah hewan kurban. Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus dari rahmat Allah.”

Saudara-saudara sekalian yang saya hormati

Firman Allah ini menjelaskan tiga hal. Pertama, nikmat Allah yang telah kita terima sungguh amat banyak, dalam kondisi apap pun. Andaikan hari ini kita sakit, kita tetap mendapat nikmat besar, yaitu masih hidup, dan itu berarti masih bisa menambah pahala dan meminta ampunan. Andaikan juga, hari ini kita tak punya uang sedikit pun, kita masih mendapat nikmat besar, yaitu bisa bersujud. Ketahuilah, sekali sujud lebih besar nilainya daripada dunia dan isinya. Tapi, dalam Alquran dinyatakan, hanya sedikit di antara kita yang ingat dan mensyukuri yang demikian itu. Kita makhluk yang susah diatur, sehingga kita belum berubah juga, meskipun Allah telah mengingatkan kita dengan firman-Nya sebanyak 31 kali dalam Alquran, ”Fa bi ayyi alaa-i rabbikumaa tukadzzibaan” (mengapa kamu tidak mengakui nikmat besar Allah itu, dan terus mengeluh?)

Kedua, ada dua cara untuk menyatakan syukur itu, yaitu ibadah individual dan ibadah sosial. Antara lain, mengerjakan shalat untuk kesalehan pribadi, dan menyembelih kurban untuk kesejahteraan manusia. Kita harus menjadi ”tablet berlapis dua.” Artinya, satu sisi, secara pribadi, kita adalah orang yang berkualitas, bersih hatinya karena banyak bersujud, dan pada sisi lainnya, kita muslim yang peduli lingkungan. Suatu saat, tangan kita bertakbir untuk shalat, dan pada saat yang lain kita gunakan tangan kita untuk menyembelih kurban dan memberi pertolongan kepada masyarakat. Oleh sebab itu, demi kemanusiaan, pada masa pandemi ini, kita boleh menggantikan menyembelih hewan dengan memberikan infak untuk menyelamatkan nyawa manusia.  Jika Anda ”tablet berlapis dua,” maka Anda pasti menjadi obat pengusir penderitaan manusia, dan Anda pasti manusia berkelas di mata Allah.

Ketiga, orang yang mengabaikan ajaran Nabi, tidak pernah berpikir halal haram, dan dalam otaknya hanya kesenangan semata, atau bahkan mengejek ajaran Nabi secara terus terang atau secara tersirat, maka ia tidak akan mendapat rahmat Allah. 

 Melalui hari raya idul qurban tahun ini, kita memohon kepada Allah, agar sifat-sifat hewan yang masih melekat pada diri kita dimatikan Allah bersamaan dengan penyembelihan jutaan hewan pada idul adha ini. Kita pasti sudah tahu sifat-sifat hewan yang hendak kita matikan itu, yaitu free sex, buta halal haram, hedonis, tidak pernah berpikir tentang tanggung jawab di akhirat, dan sebagainya. 

Sebagai penutup, semoga saudara-saudara kita yang telah wafat, yaitu para pasien covid 19, para dokter, paramedis, pejabat, sukarelawan atau siapa saja, lebih-lebih yang sedang melaksanakan tugas kemanusiaan, dicatat Allah sebagai syuhadak, sedangkan keluarganya diberi kesabaran. Semoga juga Allah memberi kesembuhan semua orang yang sakit, baik muslim atau pun non muslim, agar bisa melanjutkan tugas-tugas untuk kehidupan keluarganya, atau pun tugas-tugas pengabdiannya di tengah masyarakat.

             اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Duduk 10 detik. Lalu berdiri lagi melanjutkan khutbah kedua:

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُلِلَّهِ/  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ / وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهْ/ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهْ / اَمَّابَعْدُ/  قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ, وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

TERTARIK MANUNGGALING KAWULA GUSTI
Juni 2020

Tanya:

Assalamu’alaikum wr wb.

Suami saya akhir-akhir ini berubah. Yang dibicarakan selalu penyatuan dirinya dengan Allah, atau sering ia sebut manunggaling kawulo gusti. Perubahan itu setelah mengikuti beberapa kali pengajian di kantornya. Saya tak setuju, tapi selalu kalah argumen dengannya. Maklumlah saya mualaf. Mohon petunjuk pak ustad. Terima kasih.

Sultania Bogenvile – Bekasi

Jawab:

Wa’alaikumussalam wr wb

Ibu Sultania Bogenvile Yth. Satu sisi, saya salut dengan pencapaian spiritual suami ibu, tapi pada sisi yang lain prihatin dengan pemahamannya yang baru tentang Allah dan manusia. Dugaan saya, suami ibu berpegang pada firman Allah,

 “Kami lebih dekat dengannya daripada urat lehernya” (QS. Qaf [50]: 16).   Ayat inilah yang dijadikan pegangan para penganut faham al hulul atau wahdatul wujud, atau manunggaling kawulo gusti (istilah Jawa), bahwa Allah bisa menyatu dengan manusia.

Ayat itu harus dipahami secara menyeluruh, tidak boleh dipotong di tengah, atau pun dipisah dari konteks ayat sebelum dan sesudahnya. Ayat itu berbicara tentang dua malaikat yang bertugas mencatat perbuatan manusia. Maka, yang dimaksud kata ”Kami” dalam ayat ini adalah ”para malaikat kami, ” bukan Allah SWT. Pengertian sejenis juga terdapat pada ayat yang terdapat dalam surat Al Waqi’ah, ”Kami lebih dekat dengan (orang yang menjelang kematian) daripada kalian,” (QS. Al Waqi’ah [56]: 85). Maksudnya, ”para malaikat yang Kami tugaskan mencabut nyawa” itu lebih dekat daripada keluarga yang menyaksikannya.

QS. Qaf ayat 16 tentang kedekatan manusia dan Allah di atas juga bisa diartikan bukan secara fisik, tapi secara maknawi, bahwa pengetahuan dan pengawasan Allah sangat melekat pada manusia, sehingga Allah Maha Mendengar apa pun yang diucapkannya, dan Maha Mengatahui apa pun yang dilakukannya. Bahkan sekecil apa pun lintasan pada hati manusia. Kata ”Kami” juga bisa diartikan, ”para malaikat Kami (Allah) selalu dekat dengan manusia untuk membawa rahmat Kami untuknya.”

Jadi, pengertian keberadaan Allah yang lebih dekat dengan urat leher manusia, sekali lagi saya tegaskan, harus diartikan secara maknawi, seperti pengertian dalam sabda Nabi, aqrabu maa yakuunul ‘abdu min rabbihii wa huwa saajidun fa aktsirud du’aa-a / posisi terdekat manusia dengan Tuhannya adalah ketika bersujud. Maka, perbanyaklah berdoa” (HR. Muslim 482). Atau sabda Nabi yang lain, “Tuhan yang engkau panggil itu lebih dekat denganmu daripada leher binatang yang engkau tunggangi (‘unuqi raahilati ahadikum) (HR. Muslim No. 2704).

Itulah penjelasan saya, semoga ibu dan suami memiliki pemahaman yang sama tentang keimanan. Namun, jika tidak diperoleh titik temu, mohon jangan diperuncing, agar keutuhan rumah tangga terjaga. Ibu tetap harus bersyukur, bahwa di tengah banyak suami yang menyimpang agama, suami ibu justru semakin mendekat kepada Allah. Wallahu a’lamu bis shawab.