Header

MENJADI SEWANGI NABI

December 31st, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

MENJADI SEWANGI NABI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://dianlatifani.blogspot.com

مُّحَمَّدٞ رَّسُولُ ٱللَّهِۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡۖ تَرَىٰهُمۡ رُكَّعٗا سُجَّدٗا يَبۡتَغُونَ فَضۡلٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٗاۖ سِيمَاهُمۡ فِي وُجُوهِهِم مِّنۡ أَثَرِ ٱلسُّجُودِۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِۚ وَمَثَلُهُمۡ فِي ٱلۡإِنجِيلِ كَزَرۡعٍ أَخۡرَجَ شَطۡ‍َٔهُۥ فَ‍َٔازَرَهُۥ فَٱسۡتَغۡلَظَ فَٱسۡتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِۦ يُعۡجِبُ ٱلزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ ٱلۡكُفَّارَۗ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِنۡهُم مَّغۡفِرَةٗ وَأَجۡرًا عَظِيمَۢا

“Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengannya keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat. Dan sifat-sifat mereka dalam Injil adalah seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, dan tunas itu menjadikan tanaman tersebut kuat, lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, sehingga Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan perbuatan baik di antara mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS. Al Fath [48]:29)

                Pada ayat sebelumnya, Allah membuktikan kebenaran mimpi Nabi tentang keberhasilannya memasuki Mekah yang telah lama diinginkan. Sebagai kelanjutan, ayat ini menjelaskan karakter orang-orang yang menyertai perjuangan Nabi memasuki kota suci tersebut.

                Allah memberi pujian kepada Nabi sebagai utusan-Nya yang berhasil membentuk para pengikutnya berakhlak sewangi dirinya dengan lima karakter. Pertama, kuat dan tegas dalam keimanan, tidak berkompromi dalam keyakinan agama, meskipun terhadap keluarga sendiri. Tapi, ketegasan keimanan tersebut sama sekali tidak mengurangi sikap hormat terhadap penganut agama lain, sebagaimana difirmankan Allah, “Katakanlah, “wahai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, dan aku tidak menjadi penyembah yang kamu sembah. (Sekali lagi), kamu tidak akan menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al Kafirun [09]: 1-6).

Allah memerintahkan kita untuk hormat kepada keyakinan non-muslim, sebab Allah telah merancang bumi ini dengan penghuni yang beraneka budaya dan penganut agama. Allah SWT berfirman, “Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah semua orang yang di muka bumi seluruhnya beriman (kepada-Nya). Maka, apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? (QS. Yunus [10]:99). Bahkan kita dipersilakan untuk bekerjasama dengan non-muslim selama tidak merusak keimanan kita. Allah berfirman, ”Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sungguh Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al Mumtahanah [60]: 8). Itulah sebabnya, Allah tidak menegur Nabi SAW ketika bekerjasama dengan tokoh kafir, Abu Thalib, yang tidak lain adalah pamannya sendiri, dalam perjuangan dakwah di kota Mekah.

Hamka menyatakan, ”Masyarakat muslim selalu lunak dalam pergaulan, tapi kokoh dalam keimanan. Orang beradab pasti menghargai kepercayaan orang lain, walaupun kepercayaan itu sama sekali tidak sesuai dengan akal sehat.” Quraish Shihab mengatakan, sikap keras umat Islam terhadap orang kafir ini berlaku dalam peperangan, sedangkan terhadap sesama muslim adalah ketegasan dalam penegakan hukuman terhadap pezina, pencuri, dan sebagainya (QS. An Nur [24]: 2).

Kedua, kasih sayang sesama muslim tanpa membedakan etnis, warna kulit, pendidikan, dan status sosial mereka. Umat Islam telah mendapat doktrin Nabi  bahwa kesatuan mereka adalah laksana satu tubuh atau satu bangunan, yang saling menguatkan, bukan saling menyakiti dan meruntuhkan. Mereka seperti orang yang berkaca di depan cermin: sama-sama tersenyum ketika tersenyum, dan sama-sama menangis ketika menangis. Ketiga, mencitrakan diri sebagai komunitas yang seirama dalam beribadah dan serasa dalam kehidupan bersama. Rukuk dan sujud dalam shalat berjamaah adalah penggambaran kemauan dan kebersamaan dalam perjuangan menuju kemuliaan akhlak.

Keempat, ikhlas semata-mata mengharap ridho Allah dalam semua tindakan, sama sekali tidak mengharap apresiasi manusia. Pengikut nabi itu bagaikan akar pohon yang tidak kecewa, apalagi iri hati dengan daun dan buah yang selalu mendapat sanjungan, meskipun akarlah yang memasok makanan untuk daun dan buah tersebut.

Kelima, tutur kata dan tindakannya selalu benar dan menyenangkan orang sebagai pengaruh atas sujudnya kepada Allah. Sayyid Qutb mengatakan,

لَيْسَتْ هَذِهِ السِّيْمَاالنُّكْتَةَ فِى الوَجْهِ وَاَثَارُ السُّجُوْدِ هُوَ اَثَارُ الْعِبَادَةِ

“Tanda keimanan bukan bekas hitam di wajah. Yang dimaksud bekas sujud adalah pengaruh ibadah dalam kehidupan.”

Al Biqa’i mengatakan, “Bekas sujud seorang muslim sejatinya adalah sebuah kharisma, kekaguman, kehormatan, dan magnit kebaikan bagi orang lain.”

Orang bijak berkata,

اِنَّ لِلْحَسَنَةِ نُوْرًا فِى الْقَلْبِ وَضِيَاءً فِى الْوَجْهِ وَسَعَةً فِى الرِّزْقِ وَمَحَبَّةً فِى قُلُوْبِ النَّاسِ

“Semua kebaikan menghasilkan sinar di hati, cahaya di wajah, kemudahan memperoleh rizki, dan simpati manusia).”  

Umar r.a berkata,

مَنْ اَصْلَحَ سَرِيْرَتَهُ اَصْلَحَ اللهُ تَعَالَى عَلَانِيَتَهُ

“Siapa yang bersih hatinya, maka Allah akan mempercantik penampilannya.”

Abu Darda’ r.a pernah menjumpai orang yang terdapat bekas sujud di dahinya. Lalu, ia berkata, “Akan lebih baik bagimu, jika tidak ada bekas sujud di wajahmu agar engkau terjauh dari rasa bangga atas pujian orang.”

Semua karakter pengikut Nabi seperti di atas telah dijelaskan dalam Kitab Taurat. Oleh sebab itu, pengikut Nabi Musa tidak asing dengan berita itu. Kitab Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa juga menjelaskan bagaimana respon dunia kelak terhadap para pengikut Nabi, bahwa semakin hari semakin banyak orang yang bergabung dalam komunitas muslim yang besar dan kuat itu. Itulah yang membanggakan umat Islam, tapi juga membuat iri dan menjengkelkan beberapa non-muslim. Semoga pembaca menjadi generasi sewangi nabi setelah mempraktikkan pesan-pesan keharuman dalam ayat ini. (Surabaya, 14-4-2019).

Referensi: (1) Sayyid Quthb, Tafsir Fi  Dhilal Al Qur’an, Jilid 6, Dar Asy Syuruq, Beirut, Libanon, 1972. (2) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, vol 12, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 558-563 (3) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 26, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 174 (4)  Moh. Ali Aziz, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, UIN Sunan Ampel Press, Surabaya, 2015, cet. X, p. 181.

DIPLOMASI TANAH SUCI

December 10th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

DIPLOMASI TANAH SUCI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: https://www.maxmanroe.com/vid/sosial/pengertian-diplomasi.html

إِنَّا فَتَحۡنَا لَكَ فَتۡحٗا مُّبِينٗا

“Sungguh Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata” (QS. Al Fath [48]: 1)

Ayat pembuka Surat Al Fath yang turun tahun 6 H  ini merupakan kelanjutan dari ayat-ayat perintah perang pada surat sebelumnya, yaitu Surat Muhammad  yang turun pada tahun 3 H. Ayat yang berisi kemenangan Nabi memasuki Mekah ini hanya bisa kita fahami jika kita mengetahui proses panjang “Fat-hu Makkah” tersebut.  

Penduduk Mekah, apapun suku dan agamanya, amat memuliakan kakbah. Meskipun mereka sedang perang antar suku, mereka bisa menjaga kehormatan kakbah. Lebih-lebih, pada empat bulan yang mereka muliakan, yaitu Rajab, Syawal, Dzul Qa’dah, dan Dzul Hijjah. Di dalam bangunan kakbah dan jalan di antara dua bukit Shafa dan Marwah terdapat banyak berhala.  Itulah sebabnya, ketika perintah umrah turun (QS. Al Baqarah [02]: 185), Allah menyatakan, “tidak apalah engkau mengerjakannya antara Shafa dan Marwah,” meskipun banyak berhala di sekitar tempat ibadah itu.  

Suatu malam pada tahun 6 H, Nabi bermimpi umrah di Mekah dengan selamat. Mendengar berita itu, 1.400 orang langsung mendaftar untuk mengikuti umrah, sebab mereka telah rindu Mekah setelah 6 tahun ditinggalkannya. Maka, pada bulan Dzul Qa’dah, mereka berangkat dengan membawa kambing yang akan disembelih setelah selesai umrah.

Di tengah jalan, Khalid bin Walid dan sejumlah kafir Mekah menghadang Nabi agar tidak melanjutkan ke Mekah. Setelah istirahat sejenak, Nabi tetap bersikeras melanjutkan perjalanan melewati jalan yang tidak biasa. Ketika sampai di lembah Hudaibiyah, Nabi menyuruh Umar untuk melobi kafir Mekah agar mengijinkan untuk memasuki Mekah. Tapi, Umar menyarankan agar Usman yang berangkat, sebab Usman memiliki banyak keluarga yang berpengaruh di Mekah. Maka, berangkatlah Usman. Kepada Abu Sufyan, pemimpin kafir, Usman meyakinkan bahwa kedatangan Nabi murni untuk beribadah, bukan untuk berperang. Abu Sufyan menjawab, “Jika tuan sendirian, silakan. Jangan bersama rombongan.”

Nabi cemas, sebab Usman lama tidak kembali, dan menduga ia dibunuh. Maka, Nabi meminta para sahabat untuk meletakkan tangannya di atas tangan Nabi sebagai janji kesetiaan. Khusus untuk Usman yang sedang tidak ada di tempat, Nabi meletakkan tangan kirinya di atas tangan kanannya sebagai tanda bai’at atas nama Usman.  

Tiba-tiba, muncullah Usman bersama utusan kafir Mekah, Suhail bin ‘Amr. Nabi kemudian memanggil Ali bin Abi Thalib untuk menyiapkan naskah perjanjian. Para sahabat kaget setengah marah terutama Umar bin Khattab melihat Suhail seenaknya mencoret beberapa poin dalam naskah itu. Pertama, basmalah (dengan nama Allah) diganti “Bismika Allahumma.” (dengan namamu, oh Allah). Kedua, kalimat “Inilah perjanjian antara Muhammad Rasulullah dengan Suhail bin ‘Amr” diganti “Inilah perjanjian antara Muhammad bin Abdullah dengan Suhail bin ‘Amr.” Sebab, ia memang tidak mengakui kenabian Muhammad. Ketiga, genjatan senjata selama 10 tahun. Keempat, ”Jika ada orang Quraisy Mekah datang kepada Nabi tanpa seijin pemimpin Quraisy, maka Muhammad wajib memulangkannya ke Mekah. Tapi, jika pengikut Nabi datang ke Mekah, maka tidak ada kewajiban bagi mereka untuk memulangkannya kepada Nabi di Madinah.” Kelima, dan ini yang terpenting, Nabi baru diijinkan ke Mekah tahun berikutnya.  Para sahabat tidak menduga Nabi menyetujui semua itu. Mereka kecewa, mengapa Nabi semudah itu mengalah?.

Umar lalu berbisik kepada Abu Bakar, “Bukankah Muhammad utusan Allah? Mengapa kita umat muslim harus mengalah kepada orang-orang musyrik? Abu Bakar menjawab satu persatu pertanyaan itu dengan jawaban yang sama, “Tenanglah Umar. Saya tidak ragu sedikitpun dengan pertanyaanmu itu. Muhammad benar-benar utusan Allah.” Tidak puas dengan jawaban itu, Umar mendekati Nabi dan membisikkan kata yang sama, dan Nabi menjawab singkat,  “Sebagai hamba Allah dan utusan-Nya, aku tidak diperbolehkan menentang kehendak-Nya.”

Beda sekali antara dua sahabat ini. Abu Bakar 100% percaya Nabi, sedangkan Umar sangat kritis, bahkan sedikit tersirat meragukan kerasulan Nabi. Tapi, keduanya diapresiasi oleh Nabi. Beberapa waktu setelah peristiwa itu, Umar seringkali menangis jika teringat sikapnya yang kasar kepada Nabi, “Niatku memang baik, tapi mengapa saya berkata begitu kasar kepada Nabi?”

Beberata menit sebelum ditandatangani perjanjian, para sahabat dikejutkan dengan kedatangan Abu Jundul putra Suhail dengan tangan terborgol sebagai tawanan Quraisy. Ia menyatakan telah muslim, dan menolak dipulangkan ke Mekah, meskipun yang membujuknya adalah ayahnya sendiri, Suhail. Nabi memulangkannya ke Mekah demi ketaatannya kepada sebuah perjanjian. “Wahai Abu Jundul, ikutilah ayahmu. Allah pasti menolongmu dan semua orang yang tertindas sepertimu,” pesan singkat Nabi kepadanya.

Akhirnya, perjanjian ditandatangani Abu Bakar, Umar, Abdurrahman bin Auf, Abdullah bin Suhail bin ‘Amr, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Ali bin Abi Thalib sebagai sekretaris. Umar dan beberapa sahabat lainnya masih mendongkol, sebab memandang perjanjian itu kekalahan umat Islam sekaligus penghinaan kepada Nabi.

Nabi lalu memerintahkan para sahabat memotong kambing dan mencukur rambut sebagai tanda batalnya umrah. Perintah itu diulang dua kali, tapi, mereka dingin-dingin saja. Maka, Ummu Salamah,  istri Nabi menyarankannya untuk memberi contoh terlebih dahulu. Nah, ketika Nabi mengambil pisau untuk memotong kambing dan mencukur rambutnya, barulah semua sahabat mengikutinya.  

Dalam perjalanan pulang ke Madinah itulah Surat Al Fath ini turun. “Inilah surat yang paling aku cintai, karena nilainya melampaui nilai langit, bumi dan segala isinya,” kata Nabi kepada Umar yang masih cemberut.

Inilah kehebatan Nabi yang berhasil merebut tanah suci dengan diplomasi kelas tinggi. Tak diperlukan biaya besar, dan tak ada setetespun darah tercecer. Diplomasi Nabi juga menghasilkan keajaiban, penduduk kafir Mekah yang terkenal ganas, bahkan berencana membunuh Nabi, tiba-tiba saja bersedia duduk berunding, suatu peristiwa yang langka bagi masyarakat Arab saat itu. 

Inilah ayat yang menunjukkan apresiasi Allah atas langkah-langkah diplomasi Nabi dalam Perjanjian Hudaibiyah. Para sahabat bertanya, “Itu apresiasi Allah untuk tuan. Adakah apresiasi untuk kami?.” Maka, turunlah ayat kelima pada surat tersebut. Belajarlah diplomasi, dan raihlah kemenangan tertinggi. 

Sumber: Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 26, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 108.

PENGGANTI YANG TELAH PERGI

November 4th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

PENGGANTI YANG TELAH PERGI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ

“(Orang-orang yang sabar itu adalah) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun” (Sungguh, kami adalah milik Allah, dan sungguh kepada-Nyalah kami kembali)” (QS. Al Baqarah [02]: 156)

Pada ayat sebelumnya, Allah menjelaskan bahwa setiap orang pasti menghadapi aneka ujian. Jangan bermimpi hidup tanpa cobaan, sebab kita berada di dunia, bukan di surga. Kita sering mendengar kalimat penyemangat, “Berani hidup, berani menghadapi cobaan.” Cobaan itu bisa berupa psikis, seperti kegelisahan karena peristiwa yang telah dialami atau kecemasan terhadap sesuatu yang belum terjadi. Juga bisa berupa pisik, seperti sakit, kekurangan keuangan untuk biaya hidup, dan sebagainya. Sebagai kelanjutan, ayat di atas menjelaskan bahwa orang mukmin akan tetap tegar menghadapi apapun cobaan, karena dalam dirinya telah terhunjam sebuah keyakinan, bahwa jiwa, raga dan harta adalah milik Allah, dan pasti akan diambil kembali oleh-Nya.

Jika Anda mendapat pinjaman motor, Anda tidak boleh melarang pemiliknya mengambilnya kembali. Demikian itulah tamsil yang sederhana tentang makna ayat di atas. Nyawa, raga, dan harta adalah milik Allah, maka kita tidak boleh menghalangi-Nya jika Allah mengurangi atau mengambilnya. Setiap hari kita telah menguatkan mental dengan ayat kursi, “Milik Allah-lah semua yang ada di langit dan bumi.” Keyakinan demikian itulah yang menjadi penangkal paling ampuh dari ancaman stres. Jadi, secara hakikat, sebenarnya kita dilarang mengatakan, “ini tanganku, atau ini kakiku.” Jika Anda mengakuinya sebagai milik Anda, maka Anda harus bisa menunjukkan surat kepemilikan yang sah. Dan, jika Anda mengakuinya sebagai sewa dari Allah, Anda harus menunjukkan surat persawaan yang sah dengan biaya persewaan yang jelas.

            Dari penjelasan di atas, Anda bisa memahami mengapa Nabi SAW menganjurkan orang yang mengalami sebuah musibah untuk membaca doa,  

إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ اَللّٰهُمَّ عِنْدَكَ أَحْتَسِبُ مُصِيْبَتِيْ فَـآجِرْنِيْ فِيْهَا وَأَبْدِلْنِيْ بِهَا خَيْرًا مِّنْهَا

“Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun” (Sungguh, kami adalah milik Allah, dan sungguh kepada-Nyalah kami kembali).”  Wahai ­Allah, musibah ini dari-Mu, maka berilah pahala untuk kami me­lalui musibah ini. Berikan kami ganti yang lebih baik daripada yang telah hilang dari kami.” (HR. Abu Daud dari Ummu Salamah r.a).

            Ummu Salamah r.a adalah wanita yang paling terkesan dengan doa ini, karena melalui doa itu, ia mendapatkan anugerah yang besar setelah mendapat musibah. Nama asli janda yang cantik dan cerdas dari keluarga berpengaruh di Mekah ini adalah Hindun binti Abi Umayyah. Ia terkenal dengan panggilan Ummu Salamah, karena anak pertama dan empat anaknya bernama Salamah. Sedangkan suaminya, Abdullah bin Al Asad Al Makhzumi lebih dikenal dengan Abu Salamah.

Suami-istri ini sangat setia kepada Nabi dan mengikutinya hijrah ke Abesinia. Adapun untuk hijrah ke Madinah, keluarga hanya mengijinkan suami Ummu Salamah, sedangkan Ummu Salamah dan anak-anaknya harus tetap tingal di Mekah. Setahun kemudian, Ummu Salamah dengan setengah memaksa, baru diijinkan menyusul suaminya di Madinah. Itupun dengan catatan, ia berangkat sendiri, tanpa diantar oleh siapapun. Meskipun Ummu Salamah tidak mengetahui jalan yang harus dilalui menuju Madinah, ia tetap berangkat dengan mengendarai unta sambil menggendong anaknya.

Ketika sampai di desa Tan’im, Ummu Salamah yang kehilangan arah ditolong oleh non-muslim yang berbaik hati mengantarnya sampai gerbang kota Madinah. Di sana, ia amat senang bertemu suami yang telah setahun berpisah. Ia juga bangga bersuami tentara yang terkenal cerdas dan kuat dalam perang Badar dan Uhud. Dalam perang yang terakhir itulah, ia terluka berat, lalu meninggal di rumahnya dengan didampingi Nabi SAW. Ummu Salamah terpukul, sebab suami yang jauh-jauh didatangi dari Mekah dengan pengurbanan yang luar biasa harus meninggalkannya selamanya. Sejak itulah ia membaca doa di atas.

Beberapa sahabat melamar si janda shalihah itu, termasuk dua sahabat senior, Abu Bakar dan Umar. Tapi, semua ditolak olehnya. Beberapa waktu setelah itu, ia terkejut, sebab pelamar berikutnya adalah Nabi SAW. Ia amat bergembira menerima lamaran itu dengan mengatakan, “Wahai Nabi, saya sudah tua dan dari keluarga biasa. Saya juga memiliki banyak anak.” 

Inilah buah doa Ummu Salamah. Ia mendapat suami yang jauh lebih mulia dari suami yang pergi meninggalkannya. Ketika berkumpul dengan para istri nabi lainnya, ia minder terutama terhadap Aisyah dan Hafshah, sebab mereka dari keluarga terhormat, yaitu Abu Bakar As Shiddiq dan Umar bin Khattab. Ummu Salamah termasuk istri yang istimewa, sebab dialah yang mendampingi Nabi dalam perang Hunain dan perebutan kembali kota Mekah (fat-hu Makkah). 

Dialah istri yang pernah bertanya kepada Nabi, “Mengapa wanita tidak diberi kesempatan berperang seperti lakai-laki? Mengapa pula, kami hanya mendapat separuh dari hak laki-laki dalam pembagian harta waris?” Nabi tersenyum bangga mendengar pertanyaan yang mencerminkan kecerdasan dan semangat juang sang istri. Saat itulah turun Surat An Nisa’ ayat 32-34 yang berisi larangan iri-hati terhadap kekayaan atau kelebihan yang diberikan Allah kepada seseorang, dan bahwa lelaki adalah pemimpin yang bertanggungjawab di tengah keluarga. Setelah Nabi wafat, Ummu Salamah menolak ajakan Aisyah untuk bergabung melawan kelompok Ali bin Abi Thalib r.a., dan pada tahun 39 H, ia meninggal dunia dalam usia 84 tahun.

Tanamkan sekuat-kuatnya keyakinan isi kalimat istirja’ (inna lillahi wainna ilayhi raaji-uun), agar Anda tegar dan tidak stres ketika suatu saat mendapat cobaan berat yang terkait dengan keluarga, harta, kesehatan, karir, dan sebagainya. Dan, bacalah doa di atas ketika musibah sudah terjadi, agar Allah memberi pengganti yang lebih indah daripada apa yang telah pergi atau lepas dari tangan Anda, bisa di dunia atau di akhirat kelak.

Sumber: Fathi Fawzi Abdul Mu’thy, Mawaqif fi Hayatir Rasul Nuzilat Fihi Ayatun Qur’aniyyah,  diterjemahkan oleh penerbit Mizan dengan judul “Kisah Nyata Di Balik Turunnya Ayat Suci Al Qur’an,”  Penerbit Mizan, Jakarta, 2008, p. 151-172.