Header

DEBU TAKWA PEMBEBAS DERITA

May 12th, 2016 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

DEBU TAKWA PEMBEBAS DERITA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

terapishalatbahagia20160512Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya (QS. At Thalaq [65]:5).

Ayat ini kelanjutan dari tiga ayat sebelumnya (QS. 65: 2-4) tentang keuntungan bagi orang yang bertakwa, yaitu (1) mendapat solusi atas semua masalah hidup (2) memperoleh banyak rizki di luar dugaan, dan (3) kemudahan dalam segala urusan. Selanjutnya pada ayat ini sebagaimana dikutip di atas, Allah SWT menjelaskan keuntungan takwa yang lain, yaitu (4) pengampunan atas segala dosa, dan (5) lipatan pahala atas kebaikan yang pernah dilakukannya.

Dalam beberapa literatur disebutkan, takwa adalah menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Secara lebih praktis, Umar bin Khattab r.a menjelaskan, takwa adalah kehatian-kehatian dalam setiap langkah, seperti kehati-hatian pejalan kaki di atas jalan yang penuh duri. Kaki baru diinjakkan ke tanah ketika ia yakin bahwa jalan yang diinjak itu benar-benar aman dari tusukan duri. Jika berpedoman pada pengertian ini, tidak ada satupun orang yang bisa disebut bertakwa selain nabi. Tapi, bergembiralah, sebab Allah tetap mengampuni kesalahan Anda berkat ketakwaan Anda meskipun hanya setitik debu. Tidak hanya itu, Allah melipatgandakan pahala sekecil apapun kebaikan kita, sebagaimana disebut pada ayat di atas, “..dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya (QS. At Thalaq [65]:5).

Nabi SAW pernah bercerita, ada seorang yang hidup sebelum masa kenabiannya. Orang tersebut hidup berlimpah harta dengan anak cucu yang amat menyenangkan. Menjelang mati, ia bertanya kepada anak-anaknya, “Menurut kalian, ayah kalian ini orang yang bagaimana?” Mereka menjawab, “Orang baik.” Selanjutnya sang ayah mengatakan, “Ketahuilah wahai anak-anakku, aku lebih tahu tentang diriku. Aku tidak memiliki sedikitpun kebaikan di sisi Allah. Oleh sebab itu, pasti Allah akan menyiksaku kelak.” Saya wasiatkan kepada kalian, “Jika suatu saat aku mati, bakarlah tubuhku lalu tumbuklah arangnya sampai menjadi abu. Tumbuklah sekali lagi sampai benar-benar lembut. Lalu, pergilah ke laut dan taburkan semua abu itu ketika angin sangat kencang!”

“Semua anaknya berjanji untuk melakukan wasiat itu. Demi Tuhanku, mereka benar-benar melakukannya,” kata Nabi SAW.  Ketika abu telah ditebar, Allah SWT berfirman, “Kun (jadilah), maka berdirilah seorang lelaki yang utuh.” Allah kemudian bertanya, “Ay ‘abdii, maa hamalaka ‘ala an fa’alta maa fa’alta? Qaala: makhaafataka / Wahai hamba-Ku, mengapa kamu melakukan semua itu?” Lelaki itu menjawab, “Karena takut kepada (siksa-Mu).” Nabi SAW melanjutkan, “Maka sejak itu, ia mendapat limpahan rahmat Allah.” Nabi SAW mengulang sekali lagi, “Maka sejak itu, ia mendapat limpahan rahmat Allah” (HR. Al Bukhari No. 7.508 dari Abu Said r.a).

Ada satu lagi kisah hampir sama yang saya yakini dapat menguatkan optimisme ampunan Allah untuk Anda. Pada zaman Nabi Musa a.s, ada pria di sebuah kampung yang meninggal dan tak satupun orang bersedia memandikan dan memakamkannya. Mereka bahkan menyeret dan melemparkannya ke pembuangan sampah, karena sepanjang hidupnya ia benar-benar “sampah” yang menyusahkan warga. Allah SWT lalu memberitahu Nabi Musa a.s, “Wahai Musa, ada orang yang dibuang ke tempat sampah di suatu perkampungan. Carilah ia sampai ketemu, lalu mandikan, bungkuslah dengan kafan, shalatilah dan makamkanlah secara terhormat. Ia benar-benar kekasih-Ku.”

Musa berjalan menyusuri kampung ke kampung untuk mencari “manusia sampah” itu. Setiap orang memberi julukan yang sama untuk mayit itu: ”si jahat.” Nabi Musa a.s meminta ditunjukkan di mana si jahat itu dibuang. Setelah mayat itu ditemukan tergeletak busuk di tumpukan sampah, Musa a.s berkata, “Wahai Tuhanku, apakah Engkau memerintahkan aku menshalati orang yang sudah dikenal kejahatannya ini?”

 Allah SWT mengatakan, “Wahai Musa, benar, ia memang orang jahat, tapi tahukah kamu bahwa ketika menjelang matinya, ia meminta belas kasih-Ku. Apakah Aku, Tuhan Yang Maha Pengasih tidak mengasihinya? Ketahuilah wahai Musa, menjelang sakaratul maut, ia berkata lirih, “Wahai Tuhanku, Engkau Maha Mengetahui gunungan dosa yang telah aku lakukan sepanjang hidupku. Tapi, saya yakin, Engkau Maha Mengatahui isi hatiku. Aku sejatinya berontak setiap kali aku melakukan dosa. Wahai Tuhanku, sekalipun penuh dosa, aku tetap senang dan hormat kepada orang-orang shaleh di sekitarku. Jika ada dua panggilan, dari orang jahat dan orang shaleh, pastilah aku mendahulukan orang shaleh.”

“Wahai Tuhanku, jika Engkau mengampuni aku, pastilah Nabi-Mu tersenyum gembira karena salah satu umatnya terbebas dari neraka. Sebaliknya, musuh-musuh-Mu, yaitu Iblis dan setan akan bersedih. Aku yakin, Engkau lebih menyukai senyuman Nabi-Mu daripada senyum Iblis dan kawan-kawannya. Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kasihanilah aku.” Maka Allah SWT berfirman, “Aku, Tuhan Maha Pengasih dan Maha Pengampun. Aku akan mengasihi dan mengampuni dia, karena ia telah mengakui dosa-dosanya kepada-Ku. Allah SWT berfirman, “Wahai Musa, segera shalat untuknya sesuai perintah-Ku. Aku akan mengampuninya atas keberkahan orang yang menshalatinya.”

Sekali lagi, bergembiralah, dengan kasih-Nya yang tak terbatas, Allah akan menyelamatkan Anda berbekal ketakwaan meskipun sebesar partikel. Ibnu Athaillah mengatakan, ‘alima wujudad dla’fi minka faqallala a’daadaha, wa’alima ihtiyaajaka ilaa fadl-lihi fakatstsara amdaadaha (Allah mengetahui kelemahanmu, maka Allah meminimalkan (tuntutan) bilangan (ibadahmu). Allah juga Mengetahui kebutuhanmu akan karunia-Nya, maka Ia melipatgandakan pahala kebaikanmu)

 Dua kisah di atas juga bisa menampar muka Anda. Orang yang Anda pandang penuh maksiat, bisa jadi ia kekasih Allah karena setitik debu takwa dalam hatinya yang tidak diketahui siapapun, dan partikel takwa itulah yang mendatangkan ampunan Allah kepadanya. Sedangkan Anda yang merasa lebih suci daripadanya, bisa jadi menurut Allah, ada setitik debu dosa yang Anda lakukan tanpa Anda sadari dan partikel dosa itulah yang membuat Allah SWT murka kepada Anda. Mulai saat ini, hapuslah perasaan bahwa Anda lebih suci daripada orang lain, dan hentikan kebiasaan memandang sinis pelaku dosa di sekitar Anda, sebab bisa jadi ia lebih harum di sisi Allah daripada Anda. Wallahu alamu bis shawab.

Referensi: (1) Muhammad bin Abu Bakar Al Usfuri, Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah, Penerbit Mutiara Ilmu Surabaya, Zeid Husein Al Hamid, 1994: cet II: 4-6; (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, Panjimas, Jakarta  (3) Muhammad ‘Awwaamah, Minas Shihah Al Ahadits Al Qudsiyyah: Mi’ah Hadits Qudsi Ma’a Syarhiha (Seratus Syarah Hadis Qudsi), Noura Books, Jakarta Selatan 2013, p. 176; (4) Ibnu Atha’illah As-Sakandari, Al Hikam, (Al Hikam dan Syarahnya) terj. DA. Pakih Sati LC, Penerbit saufa Yogyakarta, 2015, cet.I

MERAIH PRESTASI DENGAN APRESIASI

April 5th, 2016 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

MERAIH PRESTASI DENGAN APRESIASI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim [114]: 07)

                Pada ayat sebelumnya dijelaskan, Nabi Musa mengajak Bani Israil untuk mensyukuri nikmat Allah berupa pembebasan mereka dari kekuasaan Fir’aun, raja penindas yang menyiksa dan menyembelih semua anak laki-laki secara keji. Andaikan itu berlanjut, bagaimana nasib para wanita yang hidup tanpa suami dan kepala keluarga, semakin hari semakin menderita dan terus menerus dalam tekanan dan penyiksaan. Maka, sebagai kelanjutan, pada ayat ini sebagaimana dikutip di atas, Nabi Musa menjanjikan, jika mereka mensyukuri semua nikmat itu, Allah akan memberi kehidupan yang lebih sejahtera.

Berkaitan dengan ayat di atas, sebuah peristiwa terjadi pada masa Nabi SAW.  Suatu saat, datanglah seorang pengemis kepada Rasulullah, lalu ia diberi sebutir kurma. Tapi, rupanya ia menerimanya dengan wajah yang kurang puas. Tidak lama kemudian, datanglah peminta lainnya dan Rasulullah memberi yang sama: sebutir kurma. Peminta itu lalu berkata, “Subhanallah, inilah sebutir kurma yang langsung dari nabi.” Melihat sikap demikian, nabi berkata kepada peminta itu, “Temuilah istriku, Umi Salamah, nanti kau akan diberi 40 dirham.” (HR. Ahmad dari Anas bin Malik r.a).

Di sebuah perumahan di Surabaya, ada dua petugas keamanan, Supardi dan Padlan (maaf nama fiktif). Setiap membukakan portal untuk penghuni atau tamu yang keluar masuk, tidak jarang warga memberi mereka uang atau bingkisan. Hanya saja, ekspresi mereka berbeda. Pak Supardi dengan senyum lebar dan sedikit membungkuk mengucapkan, “Alhamdulillah, terima kasih pak, semoga dibalas Allah dengan kesehatan dan rizki yang melimpah.” Ia juga memakai sarung pemberian warga untuk shalat di masjid.  Adapun Pak Padlan, ia mengucapkan terima kasih dengan singkat dengan ekspresi muka yang datar-datar saja. Sarung yang diterima dari warga juga tidak pernah dipakai ke masjid.

Ketulusan pak Supardi dan ekpresi apresiasinya atas pemberian warga mengundang simpati warga yang luar biasa. Semua biaya sekolah anak-anaknya ditanggung penuh oleh tiga orang warga secara patungan, bahkan istrinya diberi modal untuk berjualan es kelapa muda di tepi jalan raya. Subhanallah, benarlah firman Allah, “Jika kamu bersyukur, Aku akan tambahkan kenikmatan padamu.”

Menurut Imam Al Qusyairy dalam Latha-iful Isyarah, maksud ayat di atas adalah jika kalian bersyukur, maka kalian akan mendapat kenikmatan melihat keindahan wajah Allah berkali-kali. Imam Al Mawardi dalam  An Nuktu Wal ‘Uyun menambahkan,  jika kalian bersyukur, Allah akan menambahkan kenikmatan dunia dan akhirat. Menurut Hamka, syukurlah dan kerja keraslah tanpa mengeluh soal dana, fasilitas, lingkungan dan sebagainya. Kalain juga akan mendapat rizki yang melimpah. Jika mengeluh, maka kalian akan merasakan derita yang berlipat, yaitu derita batin di dunia dan siksa berat di akhirat.

Ada sebuah buku menarik yang mengupas bagaimana kaitan apresiasi dengan limpahan rizki karya John Kralik yang berjudul 365 Thank Yous The Year a Simple Act of Daily Gratitude Changed My Life, Efek Terima Kasih Tindakan Bersyukur Sederhana Yang Mengubah Hidup. Pada tahun 2007, pengacara (53 tahun) di Amerika ini bangkrut, sehingga tidak bisa membayar sewa kantor, pegawai, dan angsuran bank. Ia sampai iri dengan orang yang mati karena serangan jantung atau tertubruk mobil. Tiba-tiba ia teringat rasa senangnya menerima ucapan terima kasih yang tulus dari seseorang atas hadiah kecil yang pernah diberikan. Dalam kesendirian di kantornya, tiba-tiba matanya tertuju  pada tumpukan amplop yang tidak terpakai. Ia kemudian membuat proyek besar, yaitu menulis surat apresiasi untuk semua orang yang terkasih setiap hari selama setahun.

Surat pertama diberikan kepada putra tertuanya yang tinggal di Los Angeles. Sewaktu menulis  surat, ia baru sadar tidak tahu alamat rumahnya. “Sebagai orang tua, ini adalah sebuah aib atas ketidaktahuan alamat ini,” sesalnya. Inilah bunyi surat itu: Putraku tersayang, terima kasih atas hadiah mesin pembuat kopi yang sangat mengagumkan. Sekarang, ayah bisa memberi jamuan istimewa kepada setiap tamu di kantor ayah. Sampai bertemu. Penuh Cinta: Ayah.” Setelah terharu menerima surat apresiasi sang ayah, ia lalu meminta ayahnya untuk makan di sebuah restoran dengan biaya simpanannya sendiri. Sungguh, ada kebahagiaan baru yang luar biasa bagi mereka.

 Surat kedua ditujukan kepada pemilik apartemen, Mr Robert. Ternyata, ia sudah meninggal. Maka sang istri yang membalas surat itu dengan rasa bangga, bahkan mengajak usaha kerjasama. Baru sebulan ia mengirim 30 pucuk surat apresiasi, ia telah merasakan ada yang berubah dalam hidupnya. Setiap ditanya orang tentang keadaannya, ia sama sekali tidak bercerita tentang kehancuran usahanya. Ia justru teringat dan menonjolkan kisah anak-anaknya yang sukses, lebih menonjolkan rasa syukur daripada penderitaan. Jika tidak mendapat respon dari penerima surat, ia tetap bahagia karena telah menyalurkan rasa terima kasihnya.

Giliran surat berikutnya ditujukan kepada dokter ahli gastro yang melakukan endoskopi 10 tahun silam. Tapi, ia tidak tahu alamatnya. Setelah lama dicari, ternyata diketahui dokter itu telah menjadi guru besar di University of Rochester Medical Center New York. Ia mengatakan, “Setiap malam menjelang tidur, saya teringat jasa Anda. Andalah yang membuat saya tidur nyenyak tanpa sedikitpun rasa sakit selama 10 tahun ini.” Ia tersentak, ternyata dokter itu menjawab dengan surat yang lebih panjang, “Inilah surat pertama yang saya terima sejak berprofesi sebagai dokter. Belum pernah ada pasien dalam jangka panjang memberi apresiasi seperti ini. Anda bukan seperti kabanyakan orang yang hanya ingat dokter ketika sakit.” Pengacara ini berkesimpulan, setiap kebaikan, sekecil apapun, baik materi atau non materi merupakan investasi. Ia akan kembali kepadamu secara tidak diketahui jalurnya setelah melalui beberapa tangan orang lain.

Dalam perenungan selama menulis sekian banyak surat, John Kralik sadar, amat banyak hal yang terlupa disyukuri dalam hidupnya, dan ia merasakan hidupnya tidaklah terlalu buruk. Sekalipun pada akhir tahun ia hanya bisa berkirim 300 buah surat, tapi ia telah bisa menjalin kembali hubungan dengan teman-teman lama dan mendapat dukungan untuk usaha-usaha kebangkitannya. Ia merasa lebih damai dan melihat ada tanda-tanda kebangkitan kembali praktek hukumnya.

John Kralik memberi beberapa petunjuk agar ucapan apresiasi Anda lebih indah dan mengesankan, yaitu: 1. Sebutkan jasa atau jenis barang yang Anda terima. Berhati-hatilah jangan sampai keliru menyebutkan. 2. Ceritakan tambahan kualitas hidup Anda setelah menerima hadiah atau jasa itu 3. Sebutkan betapa pentingnya membangun persahabatan dengan mereka. 4. Pujilah bahwa jasa mereka merupakan hal yang amat istimewa bagi Anda. 5. Berhati-hatilah dengan hal-hal yang berbau humor, sebab tidak semua orang menyukainya. 6. Jangan pelit kertas dan kata agar bisa mengungkapkan apresiasi dengan bahasa yang indah dan mengesankan. 7. Tulislah dengan tangan, sebab tulisan itu mewakili kehadiran Anda secara fisik 8. Berlatihlah terus untuk mengkekspersikan apresiasi, sebab dibutuhkan latihan yang panjang untuk bisa berekspresi apresiasi secara mengesankan.

John Kralik telah mengamalkan pesan ayat di atas, sekalipun ia non-muslim dan belum pernah membacanya.  Mengapa bukan Anda yang mempraktekkan terlebih dahulu? Sekarang, tulislah nama  guru-guru yang pernah mengajar Anda sejak kecil dan orang-orang yang berjasa mengantarkan Anda sampai menjadi orang mulia saat ini. Ucapkan terima kasih atas semua jasa mereka dengan tutur kata yang terindah dan doakan kesehetan dan kebahagiaan mereka. Tumbuhkan terus sikap apresiatif itu kepada pasangan hidup Anda, anak-anak Anda dan semua orang. Percayalah akan janji Allah, hidup Anda pasti akan lebih berkualitas, keluarga Anda pasti lebih bahagia dan sejuta pintu rizki akan terbuka untuk Anda.

                                                                                                                                Denpasar, 01 Maret 2016

Referensi;

(1) Hamka, Tafsir Al Azhar, Juz XIII, PenerbitPustaka Panjimas, Jakarta, p.121-122.(2) Imam Al Qusyairy,  TafsirLatha-iful Isyarah(3) Imam Al Mawardi, Tafsir An Nuktu Wal ‘Uyun (4)John Kralik,365 Thank Yous The Year a Simple Act of Daily Gratitude Changed My Life, Efek Terima Kasih Tindakan Bersyukur Sederhana Yang Mengubah Hidup.  terj.Dewi Wulansari, Penerbit Gemilang, Jakarta, 2014, cet. I

 

 

 

BAHAGIA MEMUJA TANPA MEMINTA

March 4th, 2016 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

BAHAGIA MEMUJA TANPA MEMINTA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://www.atu.ac.ir/Images/1/News/100%283%29.jpg

sumber gambar: http://www.atu.ac.ir/Images/1/News/100%283%29.jpg

Hai orang-orang yang beriman berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al Ahzab [33]:41-42).

            Ayat di atas memerintahkan kita untuk banyak berdzikir, yaitu menyebut nama-nama Allah secara lisan dengan mengingat sifat-sifat-Nya atau hanya mengingatnya dalam hati. Dengan pengertian dzikir yang luas ini, maka shalat, membaca Al Qur’an, bershalawat, belajar dan sebagainya termasuk kegiatan dzikir.

         Menurut Ibnu Abbas r.a, semua kewajiban pasti disertai ketentuan waktu dan dispensasi bagi yang berhalangan. Tapi, untuk berdzikir tidak ada ketentuan demikian, bahkan kita diperintah berdzikir dalam keadaan apapun: miskin atau kaya, gembira atau sedih, sehat atau sakit , pagi, siang, atau malam, berdiri atau duduk, berjalan atau berbaring, sedang bekerja atau istirahat. Sebanarnya, bertasbih termasuk kegiatan berdzikir, tapi dalam ayat ini disebut secara khusus, sebab ia merupakan zikir pemurnian iman dan pembersih dari pikiran negatif, termasuk berburuk sangka kepada Allah.

            Cobalah Anda renungkan salah satu bacaan tasbih Rasulullah SAW berikut ini: “Subhanallah ‘adada khalqih, subhanallah ridla nafsih, subhanallah zinata ‘arsyih, subhanallah midada kalimatih” (aku bertasbih sebanyak bilangan makhluk ciptaan-Nya, sampai Allah senang dengan diri-Nya, senilai arasy di langit tertinggi, dan bertasbih tiada henti sampai dunia kehabisan tinta untuk menulisnya).

            Jika Anda banyak berdzikir, maka berbagai anugerah Allah akan Anda peroleh, bahkan dibanggakan Allah di hadapan para malaikat, lalu para malaikat mengucapkan salam untuk Anda ketika hendak memasuki surga, sebagaimana dijelaskan pada lanjutan ayat di atas (ayat 43,44) (Hamka, Juz 22: 55). Allah SWT juga berfirman, “Ingatlah akan Aku, niscaya Aku akan mengingatmu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (QS. Al Baqarah [02]:152).

            Dalam sebuah hadits qudsi, Allah SWT berfirman,

               عَنْ اَبِى سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ يَقُوْلُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ مَنْ شَغَلَهُ الْقُرْأَنُ وَذِكْرِي عَنْ مَسْأَلَتِى أَعْطَيْتُهُ اَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِيْنَ وَفَضْلُ كَلَامِ اللهِ عَلَى سَا ئِرِ الْكَلَامِ كَفَضْلِ اللهِ عَلَى خَلْقِهِ رواه الترمذي

Abu Said Al Khudry r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda, Allah ‘Azza Wajalla berfirman, “Barangsiapa sibuk membaca Al Qur’an dan berdzikir sampai tidak sempat mengajukan permohonan kepada-Ku, maka Aku akan memberinya anugerah yang lebih berharga daripada yang Aku berikan kepada para pemohon. Ketahuilah, nilai kalam Allah lebih tinggi dari semua perkataan makhluk seperti ketinggian Allah dibanding makhluk-Nya (HR. Al Turmudzi).

                Muhammad ‘Awwaamah (2013:446) mengatakan orang-orang yang hanyut dalam kesibukan membaca Al Qur’an dan berzikir lebih dimuliakan Allah daripada para peminta, sebab mereka lebih menonjolkan kewajibannya untuk mengagungkan Allah daripada haknya untuk meminta kepada-Nya. Dr. Imam Ghozali Said, MA menambahkan itulah filosofi Surat Al Fatihah. Dari tujuah ayat, hanya ada satu ayat (10%) yang berisi permohonan sedangkan sisanya (90%) berisi pemujaan atau sanjungan untuk Allah SWT.

            Berkaitan dengan hadis di atas, ijinkan saya bercerita tentang dua pembantu rumah tangga, Rukmini dan Hartatik (keduanya nama fiktif). Mereka sudah bekerja lebih dari sembilan tahun di rumah pemilik hotel di Tainan, Taiwan. Sang majikan dan anak-anaknya sangat puas dengan kerja mereka, bahkan tiga anaknya tidak bisa berpisah seharipun dengan mereka. Setiap diberi cuti pulang setelah dua tahun bekerja, dua anak majikan yang masih kecil diikutkan Rukmini ke Indonesia walaupun agak lama: dua atau tiga minggu.

            Tipe dua TKI tersebut berbeda. Rukmini lebih gaul, sehingga dalam banyak kesempatan, khususnya ketika cuti pulang, dengan nada sedikit gurau ia meminta hadiah dan diiyakan oleh majikan. Sedangkan Hartatik, jarang bicara dan tidak pernah meminta hadiah apapun. Ia hanya fokus bekerja dan bekerja.

            Ketika Hartatik pamit pulang untuk menikah, sang majikan memberi gaji sesuai perjanjian, dan di luar dugaan, ia juga memberi tambahan uang lebih dari cukup untuk biaya pesta perkawinan. Bahkan ia memberinya sebuah amplop angpao merah dengan tulisan tangan bahasa Taiwan, “Spesial untuk berbulan madu.” Ha ha. Jika dikalkulasi, pembantu pendiam asal Madiun yang fokus mengabdi itu menerima hadiah lebih banyak daripada yang diterima Rukmini setiap pulang cuti ke Indonesia.

            Dalam beribadah selama ini, apakah Anda bertipe Rukmini yang selalu meminta atau Hartatik yang fokus bekerja dan mengabdi, tanpa sekalipun meminta bonus? Wah, jangan kedua-duanya. Jika Anda hanya memuji Allah dan tidak memohon sesuatu apapun, Allah sangat murka, sebab Anda sombong, merasa sudah mampu hidup tanpa campur tangan Allah. Allah SWT berfirman, “Barangsiapa tidak berdoa, maka Aku marah kepadanya” (HQR.’Askary dari Abu Hurairah r.a). Ikutilah semua nabi yang selalu berdoa dalam segala hal (QS. Al Anbiyak [21]: 83-90).

            Jika Anda terus menerus meminta sampai kurang waktu untuk memperbanyak membaca Al Qur’an, bertasbih, bertahmid dan bershalawat, apakah Anda tidak malu, sebab Anda seolah-olah sedang membalik ayat dalam surat Al Fatihah, yang seharusnya “iyyaka na’bud waiyyaka nastain: kepada-Mu kami menyembah dan kepada-Mu kami memohon pertolongan” menjadi “iyyaka nastain waiyyaka na’budu: kepada-Mu kami memohon pertolongan dan kepada-Mu kami menyembah?”

            Apakah Anda tidak malu pula dengan ‘Imran bin Hushain yang menangis di tengah malam, “Wahai Allah, mengapa aku tidak Engkau jadikan debu sehingga cepat lenyap ditiup angin, karena aku kehabisan kata dan daya untuk mengagungkan-Mu sesuai dengan kebesaran-Mu yang sesungguhnya?”

            Mengapa Anda bertipe Rukmini? Ingatlah pesan Syekh Ahmad ibnu ‘Athaillah, “Al mukminu yusyghiluhus tsana-u ‘alallahi ta’ala ‘an an yakuna linafsihi syakira. Laisal muhib alladzi yarju min mahbubihi ‘iwadla aw yathlubu minhu ‘aradla, fainnal muhibba man yabdzulu laka, laisal muhibbu man tabdzulu lahu (mukmin sejati selalu sibuk memuji Allah sehingga ia tidak sempat mengingat kepentingan dirinya sendiri. Pecinta bukanlah yang meminta sesuatu dari sang kekasih, melainkan yang selalu memberi segalanya untuknya yang terkasih).

            Tulisan ini hanya untuk introspeksi dan mengajak merenung sejenak. Di sela-sela ibadah kita yang banyak meminta Allah, kapankah kita sediakan waktu yang agak panjang untuk hanya memuji, menyanjung dan mengagungkan Allah dan Rasulullah, tanpa sedikitpun terlintas meminta untuk sesuatupun. Setelah itu, kita lanjutkan paduan antara menyembah dan meminta (iyyaka na’budu waiyyaka nastain) seperti kebiasaan semula. Saatnya kita berubah: perbanyak porsi memuja daripada meminta. Dengan cara itu, yakinlah Anda akan lebih ceria dan pasti lebih bahagia. Sambutlah senyum Allah untuk Anda.

Surabaya, 25 Pebruari 2016

Referensi: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar Juz XXII: p. 55; (2) M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah Vol 10: 494; (3) Muhammad ‘Awwaamah, Minas Shihah Al Ahadits Al Qudsiyyah: Mi’ah Hadits Qudsi Ma’a Syarhiha (Seratus Syarah Hadis Qudsi), Noura Books, Jakarta Selatan 2013, p. 446-449); (4) Syekh Ibnu Athaillah, Al Hikam, terj. Salim Bahreisy, Penerbit Balai Buku, Surabaya, 1984, p. 182-183). (5) Moh. Ali Aziz, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, IAIN Press, Surabaya, 2012.