Header

PENGGANTI YANG TELAH PERGI

November 4th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

PENGGANTI YANG TELAH PERGI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ

“(Orang-orang yang sabar itu adalah) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun” (Sungguh, kami adalah milik Allah, dan sungguh kepada-Nyalah kami kembali)” (QS. Al Baqarah [02]: 156)

Pada ayat sebelumnya, Allah menjelaskan bahwa setiap orang pasti menghadapi aneka ujian. Jangan bermimpi hidup tanpa cobaan, sebab kita berada di dunia, bukan di surga. Kita sering mendengar kalimat penyemangat, “Berani hidup, berani menghadapi cobaan.” Cobaan itu bisa berupa psikis, seperti kegelisahan karena peristiwa yang telah dialami atau kecemasan terhadap sesuatu yang belum terjadi. Juga bisa berupa pisik, seperti sakit, kekurangan keuangan untuk biaya hidup, dan sebagainya. Sebagai kelanjutan, ayat di atas menjelaskan bahwa orang mukmin akan tetap tegar menghadapi apapun cobaan, karena dalam dirinya telah terhunjam sebuah keyakinan, bahwa jiwa, raga dan harta adalah milik Allah, dan pasti akan diambil kembali oleh-Nya.

Jika Anda mendapat pinjaman motor, Anda tidak boleh melarang pemiliknya mengambilnya kembali. Demikian itulah tamsil yang sederhana tentang makna ayat di atas. Nyawa, raga, dan harta adalah milik Allah, maka kita tidak boleh menghalangi-Nya jika Allah mengurangi atau mengambilnya. Setiap hari kita telah menguatkan mental dengan ayat kursi, “Milik Allah-lah semua yang ada di langit dan bumi.” Keyakinan demikian itulah yang menjadi penangkal paling ampuh dari ancaman stres. Jadi, secara hakikat, sebenarnya kita dilarang mengatakan, “ini tanganku, atau ini kakiku.” Jika Anda mengakuinya sebagai milik Anda, maka Anda harus bisa menunjukkan surat kepemilikan yang sah. Dan, jika Anda mengakuinya sebagai sewa dari Allah, Anda harus menunjukkan surat persawaan yang sah dengan biaya persewaan yang jelas.

            Dari penjelasan di atas, Anda bisa memahami mengapa Nabi SAW menganjurkan orang yang mengalami sebuah musibah untuk membaca doa,  

إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ اَللّٰهُمَّ عِنْدَكَ أَحْتَسِبُ مُصِيْبَتِيْ فَـآجِرْنِيْ فِيْهَا وَأَبْدِلْنِيْ بِهَا خَيْرًا مِّنْهَا

“Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun” (Sungguh, kami adalah milik Allah, dan sungguh kepada-Nyalah kami kembali).”  Wahai ­Allah, musibah ini dari-Mu, maka berilah pahala untuk kami me­lalui musibah ini. Berikan kami ganti yang lebih baik daripada yang telah hilang dari kami.” (HR. Abu Daud dari Ummu Salamah r.a).

            Ummu Salamah r.a adalah wanita yang paling terkesan dengan doa ini, karena melalui doa itu, ia mendapatkan anugerah yang besar setelah mendapat musibah. Nama asli janda yang cantik dan cerdas dari keluarga berpengaruh di Mekah ini adalah Hindun binti Abi Umayyah. Ia terkenal dengan panggilan Ummu Salamah, karena anak pertama dan empat anaknya bernama Salamah. Sedangkan suaminya, Abdullah bin Al Asad Al Makhzumi lebih dikenal dengan Abu Salamah.

Suami-istri ini sangat setia kepada Nabi dan mengikutinya hijrah ke Abesinia. Adapun untuk hijrah ke Madinah, keluarga hanya mengijinkan suami Ummu Salamah, sedangkan Ummu Salamah dan anak-anaknya harus tetap tingal di Mekah. Setahun kemudian, Ummu Salamah dengan setengah memaksa, baru diijinkan menyusul suaminya di Madinah. Itupun dengan catatan, ia berangkat sendiri, tanpa diantar oleh siapapun. Meskipun Ummu Salamah tidak mengetahui jalan yang harus dilalui menuju Madinah, ia tetap berangkat dengan mengendarai unta sambil menggendong anaknya.

Ketika sampai di desa Tan’im, Ummu Salamah yang kehilangan arah ditolong oleh non-muslim yang berbaik hati mengantarnya sampai gerbang kota Madinah. Di sana, ia amat senang bertemu suami yang telah setahun berpisah. Ia juga bangga bersuami tentara yang terkenal cerdas dan kuat dalam perang Badar dan Uhud. Dalam perang yang terakhir itulah, ia terluka berat, lalu meninggal di rumahnya dengan didampingi Nabi SAW. Ummu Salamah terpukul, sebab suami yang jauh-jauh didatangi dari Mekah dengan pengurbanan yang luar biasa harus meninggalkannya selamanya. Sejak itulah ia membaca doa di atas.

Beberapa sahabat melamar si janda shalihah itu, termasuk dua sahabat senior, Abu Bakar dan Umar. Tapi, semua ditolak olehnya. Beberapa waktu setelah itu, ia terkejut, sebab pelamar berikutnya adalah Nabi SAW. Ia amat bergembira menerima lamaran itu dengan mengatakan, “Wahai Nabi, saya sudah tua dan dari keluarga biasa. Saya juga memiliki banyak anak.” 

Inilah buah doa Ummu Salamah. Ia mendapat suami yang jauh lebih mulia dari suami yang pergi meninggalkannya. Ketika berkumpul dengan para istri nabi lainnya, ia minder terutama terhadap Aisyah dan Hafshah, sebab mereka dari keluarga terhormat, yaitu Abu Bakar As Shiddiq dan Umar bin Khattab. Ummu Salamah termasuk istri yang istimewa, sebab dialah yang mendampingi Nabi dalam perang Hunain dan perebutan kembali kota Mekah (fat-hu Makkah). 

Dialah istri yang pernah bertanya kepada Nabi, “Mengapa wanita tidak diberi kesempatan berperang seperti lakai-laki? Mengapa pula, kami hanya mendapat separuh dari hak laki-laki dalam pembagian harta waris?” Nabi tersenyum bangga mendengar pertanyaan yang mencerminkan kecerdasan dan semangat juang sang istri. Saat itulah turun Surat An Nisa’ ayat 32-34 yang berisi larangan iri-hati terhadap kekayaan atau kelebihan yang diberikan Allah kepada seseorang, dan bahwa lelaki adalah pemimpin yang bertanggungjawab di tengah keluarga. Setelah Nabi wafat, Ummu Salamah menolak ajakan Aisyah untuk bergabung melawan kelompok Ali bin Abi Thalib r.a., dan pada tahun 39 H, ia meninggal dunia dalam usia 84 tahun.

Tanamkan sekuat-kuatnya keyakinan isi kalimat istirja’ (inna lillahi wainna ilayhi raaji-uun), agar Anda tegar dan tidak stres ketika suatu saat mendapat cobaan berat yang terkait dengan keluarga, harta, kesehatan, karir, dan sebagainya. Dan, bacalah doa di atas ketika musibah sudah terjadi, agar Allah memberi pengganti yang lebih indah daripada apa yang telah pergi atau lepas dari tangan Anda, bisa di dunia atau di akhirat kelak.

Sumber: Fathi Fawzi Abdul Mu’thy, Mawaqif fi Hayatir Rasul Nuzilat Fihi Ayatun Qur’aniyyah,  diterjemahkan oleh penerbit Mizan dengan judul “Kisah Nyata Di Balik Turunnya Ayat Suci Al Qur’an,”  Penerbit Mizan, Jakarta, 2008, p. 151-172.     

DERITA DUSTA

October 5th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

DERITA DUSTA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang jujur” (QS. At Taubah [9]: 119).

            Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menceritakan tiga sahabat Nabi dengan sifat yang berbeda. Dua orang dari mereka berkata jujur dengan risiko dikucilkan oleh lingkungannya beberapa waktu, dan seorang lainnya berbohong, sehingga ia aman dari sanksi sosial saat itu. Sebagai kelanjutan, ayat di atas memerintahkan kita untuk meniru orang yang jujur, sebab itulah tanda utama ketakwaan. Al Imam Ibnu Qayyim berkata, “Jujur adalah ciri pembeda antara munafik dan mukmin, atau antara penghuni surga dan neraka.”

Secara garis besar, ada tiga macam manusia. Pertama, muslim atau mukmin, yaitu orang yang percaya kepada Allah dan menjalankan semua perintah-Nya. Kedua, munafik, yaitu orang yang tidak beriman, tapi mengaku beriman; atau beriman, tapi berbohong. Ketiga, kafir, yaitu orang yang tidak percaya kepada Allah. Ketiga kelompok tersebut dijadikan nama-nama surat Alquran, yaitu al Mukminun, al Kafirun, dan al Munafiqun.

Orang kafir pasti mendapat hukuman, dan hukuman yang lebih berat diberikan kepada orang kafir yang berpura-pura mukmin. Sebab, ia melakukan dosa yang berlipat, yaitu tidak beriman kepada Allah dan menipu orang dengan berpura-pura mukmin. Mereka itulah yang mendapat ancaman berat dari Allah, “Sungguh orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka, dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.”

Hukuman Allah juga berlaku untuk orang yang berdosa, dan hukuman itu pasti lebih berat bagi pendosa yang tidak mengakui dosanya, bahkan bergaya seperti orang suci dan memandang kotor orang lain. Hukuman berat itu diberikan, sebab ia durhaka kepada Allah, dan tidak mengakui dosanya, serta bergaya seperti orang suci dan merendahkan orang.

Siapapun yang berdosa sebaiknya segera mengakui dosanya kepada Allah dan kepada penegak hukum. Jangan berputar-putar menghindar dari hukuman dengan retorika, sandiwara, dan rekayasa, sebab itulah dosa yang bertumpuk, yaitu berdosa kepada Allah, kepada publik, dan menyulitkan penegak hukum.

Paling sedikit, ada tiga tanda kemunafikan. Pertama, berdusta kepada seseorang. Jika seseorang berdusta kepada banyak orang, termasuk melalui media sosial, maka dosanya semakin besar. Kedua, mengingkari janji kepada Allah, kepada istri, suami, anak, orang tua, pembantu rumah tangga, dan masyarakat luas. Ingkar janji merupakan dosa, dan dosanya akan lebih besar jika ia pemimpin jutaan orang. Wahai calon pemimpin dan calon wakil rakyat! Jangan hanya demi meraih popularitas dan simpati, Anda mengobral janji-janji yang tidak realistis.   

Ketiga, tidak menjalankan amanah atau kepercayaan yang dibebankan di pundaknya. Termasuk dalam kategori ini adalah pegawai atau karyawan yang tidak serius menjalankan tugasnya, dan anggota legislatif yang tidak hadir pada sidang pembuatan undang-undang. Atau ia hadir, tapi tidak serius mengikutinya. Juga pemimpin rakyat yang lebih fokus mengurus partai, keluarga, para pendukung dan tim suksesnya, daripada mengurus rakyatnya.

Berdasar hadis riwayat Imam Al Bukhari dari Abdullah bin Umar r.a, tanda kemunafikan lainnya adalah, wa idzaa khaashama fajara, artinya ketika konflik dengan seseorang, ia tidak berbicara obyektif, bahkan membesar-besarkan kekurangan lawan konfliknya. Kesalahan kecil orang yang sedang konflik dengannya, atau menjadi pesaing dalam ekonomi atau politiknya dibesar-besarkan (blow up), bahkan melakukan rekayasa jahat untuk menjatuhkan nama baik yang bersangkutan. Nabi SAW mengajarkan kita untuk berdoa, “Wahai Allah, bantulah aku untuk berbicara benar ketika senang ataupun sedang marah dengan orang.”

Ada juga ciri munafik yang tidak banyak diketahui orang, yang disebut Allah dalam Surat An Nisa’ ayat 142, “Sungguh orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (pamer dan meminta pujian) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka berzikir menyebut Allah kecuali sangat sedikit.”

Berdasar ayat ini, salah satu tanda kemunafikan adalah menunda-nunda waktu shalat, atau mengerjakannya tanpa semangat dan penghayatan. Orang yang mengharap dipuji masyarakat sebagai orang saleh, dermawan, pejuang, dan pujian-pujian lainnya juga tanda yang terang benderang bahwa dia orang munafik. Demikian juga orang yang jarang menyebut nama Allah, lebih sering berbicara tentang hal-hal yang tidak ada gunanya atau tentang kekurangan orang lain. Nama Allah hanya dipanggil ketika ia menghadapi kesulitan ekonomi, kesehatan, keluarga, dan sebagainya. Jika semua sifat kemunafikan tersebut lengkap ada pada Anda, maka Anda munafik tulen atau munafik kelas berat. Dan, jika hanya satu atau dua sifat, maka Anda munafik kelas ringan.

Hanya Allah yang mengetahui apakah Anda muslim, munafik, atau kafir. Juga hanya Anda dan Allah yang tahu apakah Anda munafik kelas berat atau ringan, munafik tulen atau semi munafik. Alat-alat monitor pengukur tekanan darah dan pernapasan, alat pendeteksi suara, pendeteksi retina mata, hingga pemindai otak tidaklah selalu akurat membuktikan kebohongan orang.

Sekalipun Anda merasa berhasil menutupi kebohongan, sebenarnya oleh ahli piskologi, ekspresi kebohongan Anda itu terbaca. Ketika Anda berbohong, Anda akan terlihat gugup, karena khawatir kebohongan itu terbongkar. Ekspresi wajah Anda juga terlihat janggal, mulai dari senyum yang dipaksakan, kontak mata yang selalu dihindari, bahkan sesekali memalingkan wajah. Anda juga terlihat berlebihan dalam meyakinkan orang, misalnya dengan banyak bersumpah atau bahasa-bahasa agama lainnya. Kata orang bijak, “People can lie with their words, but not with their eyes / orang bisa berbohong dengan kata, tapi tidak akan bisa dengan mata;” “Jujur itu sakit, tapi lebih sakit ketika kebohongan itu terungkap;” “Sekecil apapun sebuah dusta, pasti akan ada balasannya;” “Sekali engkau berbohong, sejuta kejujuranmu diragukan orang,” dan “Kebohongan itu menyenangkanmu sesaat, tapi menyusahkanmu sampai kiamat.”

Imam Ibnul Mubarak berkata, “Dusta menjadikanmu menderita. Engkau akan lelah dan tersiksa, terus menerus waswas dan takut dustamu terbuka. Hiduplah dengan jujur apa adanya, agar batinmu bebas, dan langkahmu ringan.”

Surabaya, 25 Pebruari 2019

 Referensi: (1) Muhammad Ali As Shabuuny, Shafwatut Tafaasiir, Juz 1, Darul Qur-aanil Kariim, Beirut, 1402 H/1981 M, Cet. IV, p. 567, (2) Al Sya’rani, Abdul Wahhab, Tanbih Al Mughtarrin, penyadur: W. Wikarta: Jalan-jalan Surga, Akhlak dan Ibadah Pembuka Pintu Surga, Mizania, Bandung 2017, cet.1.

LISAN SAUL, QALBUN AQUL

August 29th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

LISAN SAUL, QALBUN AQUL
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: https://www.huffpost.com/entry/asking-questions-is-really-hard

“Kami tiada mengutus para rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Anbiyak [21]:07)

            Pada ayat-ayat sebelumya dijelaskan tentang penolakan orang kafir terhadap kepemimpinan Nabi SAW karena ia manusia biasa, bukan malaikat. Sebagai kelanjutan, ayat di atas menegaskan bahwa memang benar Nabi SAW dan semua nabi sebelumnya adalah manusia biasa, berjenis kelamin lelaki yang mendapat wahyu dari Allah. Jika masih meragukan penegasan itu, maka Allah menyuruh mereka bertanya kepada ahli kitab Injil dan Taurat, para pemuka agama Kristen dan Yahudi.

Inilah ayat yang menegaskan keleluasaan bagi kita mencari ilmu dan banyak bertanya kepada para ahli, meskipun berbeda agama dengan kita. Abdullah bin Abbas r.a adalah orang yang mempraktikkan ayat ini. Ia mengunjungi para sahabat senior untuk mendapatkan ilmu, bahkan seringkali tertidur di depan rumah mereka. ”Wahai keponakan Rasulullah SAW, mestinya saya yang mengunjungimu,” kata mereka. Sahabat Mughirah r.a  bercerita, Ibnu Abbas pernah ditanya:

كَيْفَ أَصَبْتَ هَذَا الْعِلْمَ؟ قَالَ بِلِسَانٍ سَئُوْلٍ وقَلْبٍ عَقُولٍ

“Bagaimana engkau bisa mendapatkan ilmu sebanyak itu?  Ia menjawab, “Bi lisaanin sa-uul, waqalbin ‘aquul” (dengan lisan yang banyak bertanya, dan otak yang terus berpikir).”  (HR. Ahmad 2/970)

Putra paman Nabi yang lebih sering dipanggil Ibnu Abbas ini sejak kecil mendapat ilmu dan nasihat-nasihat yang amat dalam dan berbobot dari Nabi. Beliau juga mendoakannya, ”Wahai Allah, berikan anak ini  keahlian dalam agama-Mu, dan ajarilah ia tafsir kitab suci-Mu.” Berkat doa Nabi dan kegigihannya dalam mencari ilmu itulah, Ibnu Abbas  mendapat julukan ”Hibrul Ummah” (tinta manusia), dan ”Al Bahru” (samudera ilmu) dalam ilmu Alquran.

            Pada masa pemerintahan Umar r.a, ia sering diminta pendapat dalam banyak hal, padahal di sekelilingnya banyak sahabat veteran perang Badar yang lebih senior. Umar r.a memberinya julukan ”Pemuda Tua,” karena terlalu pintar untuk ukuran anak seusianya. Sedangkan pada masa Usman r.a, ia mendapat tugas mengembangkan dakwah di Afrika Utara. Adapun pada masa Ali r.a, ia mendapat kepercayaan untuk memberi pencerahan kelompok Khawarij, dan berhasil memengaruhi 15.000 orang dari mereka untuk kembali ke jalan yang benar.

Siapapun yang ingin menjadi orang cendekia, ia harus mengikuti dua cara yang dinasihatkan oleh Ibnu Abbas r.a. Pertama, lisaanun-sauul, yaitu lisan yang banyak bertanya.  Silakan membuat pertanyaan sendiri tentang sesuatu masalah, lalu cailah jawabannya di buku-buku, atau bertanyalah kepada para ahli sesuai dengan bidangnya. Jika pertanyaan disampaikan dalam ruang kelas, diskusi, seminar dan sebagainya, Anda harus lebih berhati-hati mengajukannya, sebab didengar banyak orang. Ingat, pertanyaan yang baik mencerminkan kualitas dan kepribadian, yang selanjutnya ikut menentukan karir Anda, dan nama baik organisasi Anda. Pertanyaan yang berkualitas juga menentukan bagaimana respon narasumber dan semua peserta diskusi. Bahkan, pertanyaan yang baik akan diabadikan dalam dokumen penting. Elon Musk, seorang pebisnis dan pakar teknologi dari Amerika mengaku bisa menguasai ilmu roket berkat kegemarannya membaca dan banyak bertanya.

Ada sembilan kiat bertanya yang baik, yaitu (1) gunakan bahasa yang baku, singkat, dan  mudah dipaham, (2) sampaikan dengan suara yang jelas, (3) berbicaralah ketika Anda telah diberi kesempatan, jangan menyela pembicaraan orang, (4) hindari pertanyaan yang secara umum mudah dicari jawabannya, termasuk dari internet, (5) hindari pertanyaan yang menggiring narasumber pada suatu posisi yang tidak diinginkan, (6) hindari berprilaku agresif atau membuat narasumber merasa tidak nyaman mendengarnya, (7) pelajarilah topik masalah secara mendalam dari berbagai perspektif sebelum bertanya, atau lebih baik lagi, sebelum memasuki ruangan, (8) berikan apresiasi atas pengetahuan baru yang telah Anda peroleh dari narasumber sebelum bertanya, dan (9) bertanyalah tentang hal-hal yang kurang Anda pahami, tentang pendapat pribadi narasumber, atau sanggahan atas pendapatnya.   

Kedua, qalbun ‘aquul yaitu otak yang terus berpikir. Otak yang tajam hanyalah otak yang selalu diasah, sebagaimana menajamkan pisau dengan menggosoknya berulang-ulang pada alat pengasah. Alquran mendorong kita untuk berpikir kritis. Oleh sebab itu, kita harus memiliki keingintahuan intelektual (intellectual curiosity) yang tinggi tentang suatu masalah, dan secara tekun memaksimalkan waktu, tenaga dan motivasi untuk mencari jawabannya. Akan lebih produktif otak kita, jika tidak hanya berpikir kritis, tapi juga kreatif.

Ada sembilan cara berpikir kritis, yaitu (1) buatlah asumsi tentang suatu masalah, lalu berdasar asumsi itu, pikirkan jawabannya secara obyektif. Jangan terpangaruh emosi yang cenderung merusak obyektivitas Anda, (2) berpikirlah lebih maju daripada orang lain, (3) gunakan data yang valid untuk pijakan berpikir, (4) jangan takut hasil pikiran Anda ditertawai orang, (5) perbanyak membaca buku-buku berkualitas yang terkait dengan masalah yang sedang dipikirkan, (6) berpikirlah secara mendalam, bahkan out of the box, dan jangan terpengaruh pikiran kelompok, atau mainstream, (7) hargai semua pendapat yang berbeda, (8) tingkatkan fungsi otak dengan tiga cara, yaitu berfikir selama 30 menit setiap hari, berolah raga, dan mengonsumsi makanan yang menguatkan otak, (8) belajarlah kepada sebanyak mungkin orang tanpa melihat status sosialnya. Ibnu Samak berkata, ”Jika engkau tidak mau belajar kepada orang yang lebih rendah, engkau semakin congkak dan kehilangan ilmu darinya.” Syekh Abdus Salam juga berkata, ”Tanda tawadhuk adalah senang mendapat nasihat dari orang yang lebih rendah dan berguru kepadanya.”

Selamat berjuang menjadi manusia cendekia dengan B2 (bertanya dan berpikir) atau lisaan sa-ul dan qalbun ’aqul.

Sumber: (1) Muhammad bin Ali bin Muhammad As Syaukaany, Juz 13, Fat-hul Qadiir, Lajnah Lit Tahqiiq Wal Buhuths Al ‘Ilmy Bi Daaril Wafaa-i, tt p. 546 (2) Hepi Andi Bastomi, 101 Sahabat Nabi, Pustaka Al Kautsar, Jakarta Timur, 2004, 15-18. (3) Al Sya’rani, Abdul Wahhab, Tanbih Al Mughtarrin, penyadur: W. Wikarta: Jalan-jalan Surga, Akhlak dan Ibadah Pembuka Pintu Surga, Mizania, Bandung, 2017, Cet. 1