Header

MENYAPA MALAIKAT DALAM SHALAT

October 8th, 2018 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

MENYAPA MALAIKAT DALAM SHALAT
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

 

أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِدُلُوكِ ٱلشَّمۡسِ إِلَىٰ غَسَقِ ٱلَّيۡلِ وَقُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِۖ إِنَّ قُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِ كَانَ مَشۡهُودٗا ٧٨

sumber gambar: https://www.bbc.com/indonesia/vert_earth/2015/10/151017_vert_earth_

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sungguh shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat) (QS. Al Isra [17]: 78).

Inilah salah satu ayat yang mengaitkan shalat dan doa para malaikat untuk pelakunya. Saya lalu teringat beberapa doa shalat yang berisi nama-nama malaikat. Antara lain doa dalam rukuk dan sujud, “Maha Suci dan Maha Bersih Tuhanku dan Tuhan semua malaikat dan Malaikat Jibril (HR. Muslim dari  ’Aisyah r.a). Juga doa pada tasyahud akhir menjelang salam, “Wahai Allah, Tuhannya Malaikat Jibril, Mikail dan Israfil. Engkaulah Pencipta langit dan bumi; Engkaulah yang Maha mengetahui yang tersembunyi dan yang terbuka; Engkaulah yang akan menghakimi semua yang diperselisihkan di antara hamba-hamba-Mu. Berilah aku petunjuk yang benar dari masalah yang diperselisihkan itu. Sungguh Engkau pembimbing ke jalan yang lurus untuk siapapun yang Engkau kehendaki.” (HR. Muslim 1829). Nah, saya kemudian penasaran, mungkinkah kita berdialog dengan malaikat ketika shalat?.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya jelaskan terlebih dahulu apa dan bagaimana malaikat itu. Al Qur’an tidak menyebutkan bahan penciptaan malaikat. Hanya hadis yang menjelaskan, bahwa ia tercipta dari cahaya. Penciptaan malaikat tersebut dimaksudkan untuk mengingatkan keterbatasan pengetahuan manusia, sebab malaikat adalah metafisika di luar jangkuan akal. Sekalipun demikian, kita wajib mengimani keberadaannya, sifat-sifatnya, dan ketundukannya kepada Allah. Ia satu-satunya makhluk yang selalu terkait dengan aktivitas manusia di dunia, di alam kubur, dan di dalam surga atau neraka. Perintah Allah kepada malaikat untuk bersujud kepada Nabi Adam a.s merupakan simbol perintah kepada malaikat untuk melayani manusia di dunia dan akhirat.

Berapa jumlah malaikat? Nabi SAW pernah bertanya kepada Jibril tentang baitul ma’mur, suatu tempat yang suci di langit tertinggi, lalu dijawab, “Setiap hari, ada 70.000 malaikat mengerjakan shalat di tempat itu, dan mereka tidak kembali.” (HR. Al Bukhari). Artinya, ada malaikat lain dalam jumlah yang sama dan mengerjakan ibadah yang sama di tempat itu. Jadi, jumlahnya tak terhitung. Penyebutan malaikat dalam Al Qur’an selalu berbentuk jamak. Itu berarti masing-masing malaikat, yaitu Jibril, Mikail, Israfil, dan sebagainya hanya bertugas sebagai kordinator untuk malaikat-malaikat lainnya untuk tugas masing-masing. Penyebutan adanya delapan malaikat yang memikul ‘arasy dalam Al Qur’an (Q.S Al Haqqah [69]: 17) bisa diartikan delapan kelompok besar malaikat pemikul ‘arasy.

Malaikat digambarkan Al Qur’an sebagai makhluk yang gagah perkasa atau “dzuu quwwatin” (QS. An Najm [53]: 6), atau ’inda dzil ‘arsyi makiin, artinya memiliki kecepatan seperti kilat (QS. Al Ma’arij [70]: 4), dan berparas menawan (QS. Yusuf [12]: 30), tidak seperti setan yang selalu digambarkan buruk rupa. Dalam melayani kebutuhan manusia, malaikat bisa berwajah manusia, sebagaimana yang dialami Nabi Ibrahim a.s ketika kedatangan para tamu, yang ternyata mereka adalah malaikat. Demikian juga ketika malaikat bertamu di rumah Nabi Luth a.s. Nabi SAW juga pernah dua kali menerima wahyu dari malaikat Jibril dengan wajah sahabat karibnya.

Apakah malaikat hanya datang kepada para Nabi? Tidak, mereka juga bisa menemui siapapun selain nabi, termasuk Anda, bahkan memberikan pertolongan atas perintah Allah. Mereka inilah yang datang untuk menolong Maryam ketika melahirkan Isa a.s. Akan tetapi kita harus berhati-hati, sebab setan juga bisa saja datang dengan mengaku sebagai malaikat. Nabi SAW sendiri pernah didatangi setan ketika shalat, lalu setan itu dicekiknya.

Menurut Ibnu Sirin (W 729 M), ulama ahli takwil mimpi dalam kitabnya, Muntakhabul Kalaam fii Tafsiiril Ahlaam, malaikat juga bisa hadir dalam mimpi kita, seperti yang dialami Abdullah bin Zaid r.a. Dalam tidurnya, ia diajari azan oleh orang yang berjubah. Mendengar pelaporan mimpi tersebut, Nabi SAW amat senang, sebab itulah yang ditunggu-tunggu, dan Nabi langsung memerintakan Bilal bin Rabbah untuk mengumandangkan azan hasil pengajaran malaikat melalui mimpi tersebut. Ketika Bilal beradzan, Umar bin Khattab terkejut, karena pada malam yang sama, ia juga diajari malaikat dengan bacaan azan yang sama. Malaikat juga bisa menolong manusia dengan cara yang sangat halus berupa pemberian inspirasi, ilham dan sejenisnya. Inilah yang disebut lamhah malakiyah atau lintasan pengetahuan dari alam malaikat. Di samping bertindak secara langsung untuk kebutuhan manusia, malaikat juga selalu mendoakan kebaikan untuk orang baik, dan hukuman penderitaan (la’nat) untuk orang-orang yang buruk perangai.

Dalam kehidupan kita, ada sunnatullah dan ‘inayatullah. Orang yang jatuh dari lantai 10 dan meninggal, misalnya, itulah sunnatullah, artinya sesuai dengan hukum alam. Tetapi, jika ternyata ia tidak meninggal karena berbagai sebab, maka itulah ‘inayatullah, artinya, ada tangan malaikat yang ikut menyelamatkannya atas perintah Allah. Allah SWT berfirman, “Dan bagi manusia, ada para malaikat yang menjaganya secara bergantian di depan dan dibelakangnya atas perintah Allah” (QS. Ar Ra’d [13]: 11). Inilah yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib r.a, setiap manusia dikawal malaikat penyelamat. Jika ada bahaya datang, dan hari itu bukan jadwal kematiannya, maka Allah memerintahkan malaikat untuk menyelematkannya. Tapi, jika hari telah ditentukan sebagai hari kematiannya, maka malaikat diperintahkan Allah untuk membiarkannya menuju ajalnya.

Dengan gambaran sifat-sifat malaikat di atas, maka kita benar-benar bisa menyapa mereka. Di luar shalat, kita dikawal malaikat, maka tentu lebih banyak malaikat yang menyertai dan mendoakan kita ketika kita sedang shalat. Anda pasti semakin merasakan nikmatnya shalat, jika misalnya ketika bersujud Anda menyapa (dalam hati) para malaikat, “Wahai Allah, Tuhannya semua malaikat, perintahkan mereka untuk mengawal aku agar selamat dari semua bencana, dan perintahkan pula membuka pintu-pintu rizki dan ilmu untukku.” Selamat menyapa malaikat dalam setiap shalat.

Referensi: (1) M. Quraish Shihab, Malaikat Dalam Al Qur’an, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2017 cet. 1 (2) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol 6, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 227-230 (3) Moh. Ali Aziz, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, UIN Sunan Ampel Press, Surabaya, 2015, cet. X. (4) Al Bukhari, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il, Shahih Al Bukhari, Toha Putra, Semarang, t.t. (5) Muslim bin Al Hajaj Al Qusyairi Al Naisaburi, Shahih Muslim, Dar Al Fikr, Beirut, 1988. (6) Hamka, Tafsir Al Azhar, Juz 13, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 70-73.

ATM

June 25th, 2018 | Posted by admin_tsb in Taushiyah/Khutbah - (0 Comments)

ATM

Khutbah di Masjid Agung Ampel Surabaya
01 Syawal 1439/15 Juni 2018
oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
www.terapishalatbahagia.net / malzis@yahoo.com

 

MUSLIM PEWANGI BUMI

June 25th, 2018 | Posted by admin_tsb in Taushiyah/Khutbah - (0 Comments)

Khutbah di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya,
Shalat Jum’at bersama RI-1 tanggal 8-Syawal 1439 H/22 Juni 2018
oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
www.terapishalatbahagia.net / malzis@yahoo.com

 

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ  وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّابَعْدُ فَيَا عِبَادَاللهِ اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ  قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin Yth.

            Sampai hari Jumat kedua pada bulan Syawal ini, kita masih merasakan kebahagiaan sebagai muslim, karena telah kembali kepada kesucian, dan kebanggaan sebagai bangsa yang memiliki tradisi silaturrahim untuk menguatkan ikatan kekeluargaan di antara sanak famili, tetangga, dan semua orang, tanpa membedakan suku, ras, dan agama. Semangat silaturrahim itulah yang melahirkan budaya mudik kita, bahkan merupakan mobilitias sosial terbesar di dunia. Kita mengapresiasi pemerintah yang bias mengatur mobilitas tersebut dengan amataman dan lancer.

Tidak hanya itu, semua muslim Indonesia, semiskin apapun berupaya menyenangkan orang dengan makanan dan minuman yang terbaik. Subhanallah, sebagian besar kita juga menyediakan uang recehan yang masih baru dari bank untuk menyenangkan anak-anak kecil, orang tua, sanak famili, guru-guru kita, penjaga masjid, para janda, dan sebagainya. Sungguh, di atas mimbar ini, saya masih mencium bau harum bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara-saudara sekalian atas berbagai kemuliaan yang dilakukan selama Ramadan dan lebaran.

Wewangian yang kita tebarkan itu jangan hanya berlangsung sesaat, tapi berlanjut sampai lebaran tahun depan. Dan, itulah salah satu tanda bahwa puasa kita diterima Allah. Ketahuilah, Allah telah memberi kita bonus harian, mingguan dan tahunan. Bonus harian berupa ampunan dosa antara satu shalat wajib dengan shalat berikutnya; bonus mingguan berupa ampunan antara Jumat sekarang dan Jum’at berikutnya, dan bonus tahunan berupa ampunan antara Ramadan tahun ini dan Ramadan tahun depan. Selamat menyongsong kehidupan dengan hati yang telah tersucikan.

Hadirin Yth.

Misi kita untuk menjadi pewangi bumi tidak terbatas kepada manusia, tapi juga kepada lingkungan, tumbuh-tumbuhan dan hewan. Kehadiran kita harus menjadi sumber senyuman bagi semua penghuni bumi. Nabi SAW mengajarkan kita untuk hemat air dengan berwudu hanya dengan 0,76 ltr air. Ia bahkan menegur Sa’ad r.a ketika ia boros air dalam berwudu. Nabi SAW rupanya sudah mengetahui apa yang akan dirasakan manusia kelak, seperti yang dikatakan oleh Forum Ekonomi Dunia, bahwa krisis air merupakan isu utama dalam satu dekade mendatang. Saat ini, 1 dari 10 penduduk dunia tidak memiliki akses ke air bersih.

Kepada tanaman, Nabi SAW mengajarkan kita untuk tidak memetik bunga sebelum mekar, agar bisa memberi kesempatan lebah menghisap sarinya, dan kepada kita untuk menikmati keindahannya. Ia juga melarang memetik buah sebelum matang, agar bisa dinikmati manusia.  Kepada binatang, Nabi SAW mengajarkan kita untuk tidak memberi beban yang berat di atas punggungnya. Nabi bahkan memberitakan adanya wanita yang dimasukkan ke neraka karena mengurung kucing sampai mati kelaparan. Sebaliknya, wanita pelacur dimasukkan ke dalam surga karena menyelamatkan nyawa seekor anjing.

Itu semua akhlak yang diajarkan Nabi SAW kepada tumbuh-tumbuhan dan hewan, apalagi kepada sesama manusia, sebab manusia adalah makhluk paling dimuliakan Allah. Apalagi, jika menyangkut kelangsungan hiudp. Tahukah Anda, bahwa ketika terjadi gempa tsunami di Aceh sekian tahun silam, sejumlah orang non-muslim di Inggris mengumpulkan dana untuk membantu saudara-saudara kita itu dengan mengutip ayat Al Qur’an yang kita sendiri agaknya telah melupakannnya, yaitu firman Allah dalam Surat Al Ma-idah ayat 32, “Barangsiapa membunuh orang, bukan (sebagai hukuman) karena pembunuhan orang atau tindakan perusakan di bumi, maka dia seakan-akan telah membunuh manusia semuanya, dan barangsiapa menjaga kelangsungan hidup manusia, maka ia seakan-akan telah menghidupkan semua (generasi) manusia.” Inilah Islam yang datang selalu dengan bunga, bukan dengan duri, dan inilah ruh Islam yang membuat Umar bin Khattab tertarik masuk Islam.

Hadirin Yth.

Ramadan dan lebaran tahun ini harus melahirkan manusia-manusia baru. Antara lain, sebagai suami yang lebih membahagiakan istri, dan sebagai bapak yang paling dibanggakan anak-anak-anaknya. Demikian juga sebagai istri kepada suami, dan ibu untuk anak-anaknya. Negara yang kuat hanya bisa dibangun di atas unit-unit keluarga yang bahagia. Kita harus menjadi manusia yang benar-benar baru, sebagai muslim terbaik di tengah masyarakat yang majmuk, sebagai pemimpin, sebagai wakli rakyat, sebagai karyawan, dan sebagai apapun peran kita di tengah masyarakat.  Jika kita tidak berubah lebih baik, lalu untuk apa kita berlapar-lapar puasa sebulan penuh? Untuk apa pula kita kerjakan ratusan rakaat shalat taraweh dan witir selama malam Ramadan? Untuk apa juga kita berlama-lama sujud pada malam-malam itikaf lailatul qadar? Untuk apa juga kita menggemakan takbir di semua ruas jalan raya pada malam lebaran sampai shalat shalat idul fitri? Hadirin, jika kita tidak berubah, berarti semua ibadah itu tak berbekas, dan itulah pemborosan waktu dan tenaga yang dikutuk Allah sebagai perbuatan setan.

Hadirin, jika kita berubah menjadi emas, semua orang akan mencarinya. Jika kita berubah menjadi bunga, tak usah diundangpun, kumbang akan datang menghampirinya. Jika kita semanis gula, semut di kejauhanpun berebut mengerumuninya. Selanjutnya, jika akhlak anak bangsa ini terpuji, maka semua negara akan berebut kemari untuk berinvestasi, dan kita akan bisa melakukan lompatan untuk mengejar ketertinggalan dan sejajar dengan negara-negara besar dunia.

Pada piala sepak bola dunia yang juga menambah keceriaan lebaran tahun ini, saya mencatat satu hal yang patut menjadi renungan kita. Para pemain sepak bola yang rata-rata berumur duapuluh tahunan tidak serta merta menyalahkan anggota tim yang melakukan kesalahan dalam laga pertandingan, tapi justru mengusap kepalanya dengan bisikan penyemangat berkompetisi. Dalam suasana kesedihan atas sebuah kekalahan pun, mereka yang masih remaja itu mengajari kita untuk sportif mengakui kelebihan lawan pertandingan. Mereka partner pertandingan, bukan musuh dalam kehidupan. Kita merenung sejanak, mengapa di antara kita yang jauh lebih tua dari mereka, berusia lebih setengah abad, dan sebagian rambut telah memutih masih saja terus menerus membesar-besarkan kesalahan orang, bahkan tega-teganya menggorengnya dan menyebarkannya dengan nada kebencian untuk menyulut permusuhan. Kebohonganpun juga dibuat sedemikian rupa demi kepuasan menjelekkan nama baik seseorang.

Baiklah, lebaran telah tiba, yang sudah ya sudah, saatnya kita hidup lebih dewasa. Yang lalu biarlah berlalu, kita memulai hidup baru. Ujaran kebencian kita ganti dengan ujaran kesejukan. Hubungan yang retak, kita rekatkan, dan yang putus, kita sambungkan. Kita gelorakan semangat kerja, kerja, dan kerja, sebab itulah ibadah, dan itulah modal utama sumbangsih kita untuk umat mansia dan masa depan bangsa.

اَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهُ لِى وَلَكُمْ اِنَّهُ هُوَاالْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

–=0=–

Doa pada khutbah kedua:

Rabbanaghfir lanaa wali-ikhwaaninal ladziina sabaquunaa bil iimaan, walaa taj’al fii quluubinaa ghillal lilladziina aamanuu, rabbanaa innaka rauufur rahiim

Wahai Allah, ampunilah semua kami yang sedang bersimpuh di masjid ini dan semua saudara kami seiman yang telah wafat mendahului kami; hapuskanlah dari hati kami sekecil apapun kedengkian terhadap sesama orang beriman.

Allahumma allif baina quluubinaa wa ashlih dzaata baininaa wahdinaa subulas salaam

Wahai Allah, lunakkanlah hati yang keras di antara kami; lembutkanlah tutur kata kami di tengah keluarga dan dalam pergaulan sehari-hari, hilangkanlah buruk sangka di antara kami, dan jadikanlah kami bergandengan tangan untuk membangun surga di negeri ini, dan memasuki surga Firadaus bersama-sama di alam baka nanti.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad, Allahummarzuqnaa fiddun-yaa ziyaaratahuu wafil aakhirarati syafaa’atahuu, wabil jannati rukyatahuu wa muraafaqatahuu.

Wahai Allah hiasilah hidup kami dengan keharuman akhlak Rasulullah, berikanlah semua yang hadir di masjid ini kesempatan menikmati bersujud lama di depan kakbah, dan bershalawat dengan hening di masjid Madinah. Kumpulkan kami di surga nanti bersama Nabi dan para pemimpin yang kami cintai.