Header

PENEGAKAN KEADILAN

August 22nd, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

PENEGAKAN KEADILAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

timbangan keadilan“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil, dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sekelompok orang, mendorong kalian bertindak secara tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Ma-idah [5]:8)

Perintah menegakkan keadilan pada firman Allah di atas didahului ayat-ayat tentang dua perintah, yaitu perintah berakhlak yang baik terhadap semua penerima kitab suci (ahlul kitab) dan perintah shalat. Hal ini berarti bahwa shalat diharapkan membentuk manusia yang memiliki komitmen keadilan dan keberanian menegakkan keadilan dengan segala resikonya. Ayat di atas juga menegaskan bahwa penegakan keadilan harus obyektif, apa adanya berdasar fakta, bukan berdasar suka atau tidak suka. Hubungan keluarga atau keakraban dengan siapapun tidak boleh mempengaruhi sedikitpun penegakan keadilan.

Ayat di atas menjadi penguat firman Allah pada surat sebelumnya, yaitu QS. An Nisa’ [4]:135, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia (tergugat atau terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu yang terbaik baginya. Maka janganlah kalian ikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sungguh, Allah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”

Jika suatu saat Anda mendapat tugas sebagai hakim atau saksi untuk suatu perkara di pengadilan atau di luar pengadilan resmi, berkatalah sejujur-jujurnya. Janganlah kedekatan Anda dengan mereka yang berperkara mempengaruhi kejujuran Anda. Bisa jadi mereka adalah ibu, bapak, anak atau teman akrab Anda sendiri. Sebagai saksi, berkatalah yang sebenarnya, sekalipun itu akan beresiko pada diri Anda sendiri, antara lain perubahan status hukum Anda: semula sebagai saksi, lalu dalam proses selanjutnya dinaikkan menjadi tersangka. Kebencian atau kecintaan Anda kepada mereka, tidak boleh mengurangi sedikitpun kejujuran kesaksian. Abaikan mereka kawan atau lawan. Jangan berbohong untuk membela yang kaya karena kekayaannya, atau membela yang miskin karena kasihan atas kemiskinannya.

Sekali lagi, hindari kebohongan dan kepalsuan, dan tegakkan keadilan. Biarpun kejujuran itu mengantar ibu atau anak kesayangan Anda ke tiang gantungan, tidak bisa tidak, Anda harus tetap memegang teguh kejujuran. Apalagi kebohongan yang berlapis-lapis untuk membela keselamatan atau nama baik golongan atau partai. Jangan nodai keadilan, karena ia adalah ruh Islam. Anda harus berdarah-darah melawan hawa nafsu kebohongan, karena semangat itulah yang mencerminkan identitas Anda sebagai manusia yang shaleh. Allah SWT berfirman, “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” Perintah keadilan itu seringkali hanya Anda teriakkan ketika Anda sedang pada pihak yang lemah, dan diam sejuta bahasa, ketika Anda pihak yang diuntungkan dengan ketidakadilan. Jika demikian, sama sekali Anda tidak pantas mengaku sebagai muslim.

Cobalah Anda cermati bagaimana keadilan itu ditegakkan oleh Nabi SAW, sekalipun itu mencoreng nama baiknya di depan publik, dan beresiko keselamatan jiwanya. Berikut ini kisah yang disampaikan oleh Abdullah bin Abbas r.a. Menjelang wafat, Nabi SAW meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan di Masjid Madinah. Nabi masuk masjid, shalat dua rakaat dan langsung naik mimbar. Di depan kaum muslimin di masjid itu, ia berpidato cukup panjang. Itulah pidato yang menggetarkan hati semua pendengar dan memeras air mata mereka yang menyaksikannya. “Saudara-saudara, aku adalah nabi utusan Allah, pembawa kebenaran untuk kalian. Kedudukanku di tengah-tengah kalian bagaikan bapak dengan anaknya atau kakak dengan adiknya. Jika ada di antara saudara-saudara merasa saya perlakukan secara dhalim selama kepemimpinan saya, silakan maju sekarang untuk melakukan pembalasan sebelum aku diadili di akhirat nanti.” Kata yang terakhir itu diulang berkali-kali. Semua sahabat diam termangu. Beberapa sahabat menangis terisak-isak karena haru, betapa pemimpin agung yang sudah berkorban segala-galanya dan sedang sakit tetap bersemangat menegakkan keadilan.

Tiba-tiba, berdirilah seorang yang bernama ‘Akasyah bin Muhsin dengan suara yang memecah kesunyian, “Akulah yang akan meminta keadilan dari tuan.” Para sahabat seperti tersambar petir. Suara tangis bersahutan dengan suara tangis dinding masjid yang menjadi saksi atas peristiwa itu. Nabi SAW lalu mempersilakan ‘Akasyah untuk menyampaikan tuntutan. “Kedhaliman tuan terjadi dalam persiapan perang Badar. Untaku persis di samping unta tuan. Ketika tuan mengangkat tongkat penyebat, tongkat itu mengenai punggungku. Aku tidak tahu itu sengaja atau tidak.”

Nabi SAW lalu memangggil Bilal untuk berangkat ke rumah Fatimah, putrinya. “Ambilkan tongkat yang dimaksud ‘Akasyah itu.” Dalam perjalanan kembali dari rumah Fatimah, Bilal menarik nafas panjang, memikirkan apa yang akan terjadi setelah tongkat ini di tangan ‘Akasyah. Fatimah juga heran bercampur sedih mengapa ada orang yang tega melakukan pembalasan kepada ayahandanya. Abu Bakar, Umar dan Ali secara bergantian berdiri memohon ‘Akasyah agar melakukan pembalasan kepada mereka sebagai ganti pembalasan kepada Nabi. Nabi SAW menolak tawaran itu dengan mengatakan, “Allah Maha Mengetahui kebaikan kalian.” Nabi tetap mempersilakan ‘Akasyah untuk melakukan pembalasan segera.

Sebelum melakukan pembalasan, ‘Akasyah meminta Nabi untuk benar-benar menegakkan keadilan seadil-adilnya. Setelah tongkat yang asli di tangannya, ‘Akasyah memohon agar Nabi melepas bajunya, karena sewaktu terjadi pemukulan pada dirinya waktu itu, ia sedang tidak berbaju. Nabi SAW pun menuruti perintahnya, bahkan ia kemudian menelungkup. Suara tangisan para sahabat semakin merata di semua sudut masjid.

Sebuah drama besar terjadi. ‘Akasyah ternyata membuang tongkat dari tangannya. Justru ia memeluk Nabi SAW dan menempelkan tubuhnya sambil berkata, “Wahai Nabi, aku korbankan jiwa ragaku demi tuan. Hati siapa yang tega melakukan qishah (pembalasan) pada tuan. Aku hanya ingin kulitku yang bersentuhan dengan kulitmu terselamatkan dari api neraka.” Para sahabat serentak lega dan tersenyum melihat adegan itu. Nabi SAW lalu memuji ‘Akasyah di depan kaum muslimin, “Jika kalian semua ingin melihat wajah calon penghuni surga, lihatlah orang ini.”

  Begitulah semangat penegakan keadilan yang dilakukan oleh Nabi. Tentu Anda masih ingat janji keadilan Nabi, “Andaikan anakku, Fatimah mencuri, akulah yang akan memotong tangannya.” Sudahkah Anda resapi wasiat Allah dan Rasulullah SAW ini? Saya yakin jawaban Anda: ya. Pernahkah Anda berbohong untuk keselamatan pribadi atau keluarga atau kelompok? Saya yakin jawaban Anda: tidak. Jika ya, Anda harus bertobat sebab telah mengkhianati semangat keadilan yang telah diwariskan oleh Nabi SAW, dan Anda telah menanam benih kehancuran masa depan manusia. Wallahu ‘alamu bisshawab.

PUASA PENGASAH JIWA

July 3rd, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

PUASA PENGASAH JIWA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah [2]:183)

Saya sadar bahwa ayat tentang puasa di atas sudah amat sering Anda baca, sehingga seperti telah kehilangan aktualitas. Tapi, tiba-tiba saja saya tertarik untuk mengulas ayat itu kembali setelah merenungi puasa kita selama ini yang menurut saya amat jauh dari berkualitas, lebih-lebih setelah saya membaca salah satu literatur tentang puasa yang benar-benar menampar wajah saya.

Jika Anda hayati secara mendalam, firman Allah di atas menunut kita untuk menjadi orang cerdas. Untuk berpuasa, Anda tidak harus menunggu diperintah Allah, sebab Anda pasti sudah faham bahwa pencernaan Anda telah melakukan pekerjaan yang amat berat selama sebelas bulan untuk mencerna makanan siang dan malam. Makanan yang Anda masukkan ke dalam perut juga hampir tanpa seleksi, sebab hanya berdasar selera yang memuaskan tengggorokan, bahkan tanpa dikunyah secara lembut, sehingga memberatkan kerja pencernaan. Oleh sebab itu, kecerdasan Anda sudah cukup menjadi sumber perintah puasa Anda, agar perut bisa istirahat sebulan di siang hari.

Berapa lama kita menjadi muslim dengan ritual shalat setiap hari dan puasa sebulan setahun sekali. Tapi, cobalah Anda mendaki gunung, lalu genggamlah beberapa batu yang Anda jumpai. Tanyakan kepada hati nurani, manakah yang lebih keras: batu di tangan Anda atau hati Anda? Jangan jawab dulu, sebelum membaca firman Allah SWT berikut, “Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini di atas sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (QS. Al Hasyr [59:21). Ternyata, selama ini hati kita tidak bergetar, jiwa kita tidak tercambuk dengan firman Allah yang setiap hari kita baca dan kita dengar. Oleh sebab itu, sekali lagi, perintah puasa sebenarnya layak timbul dari diri Anda sendiri untuk melatih jiwa mengekang hawa nafsu dan mengasah kepekaan jiwa Anda.

Jika Anda membaca sejarah orang-orang shaleh terdahulu, Anda pasti faham, bahwa mereka bisa meraih kemuliaan, ketajaman spiritual dan keluhuran peradaban disebabkan mereka telah membiasakan puasa dan semangat berkarya yang luar biasa. Karya besar yang terbaik selalu dihasilkan dari otak yang cerdas dan hati yang bersih.

Berdasarkan hal-hal di atas, maka Anda bisa memahami mengapa perintah puasa dalam firman Allah yang dikutip di atas berbetuk kalimat pasif, tanpa menyebutkan siapa yang mewajibkan puasa, “..diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Puasa yang dilakukan semua generasi manusia bersumber dari pemikiran mereka sendiri disamping dari perintah Tuhan.

Ujung ayat di atas menunjukkan untuk apa Anda berlapar-lapar puasa. Tidak lain agar kita menjadi pribadi yang bertakwa. Pribadi yang bertakwa tercermin dalam kehidupannya yang tiada pernah putus hubungannya dengan Allah, kerendahan hati, kepekaan sosial, kejujuran, dan optimismenya dalam menjalani kehidupan di tengah masyarakat.

Untuk membentuk pribadi unggul dan berkualitas, Anda sebaiknya tidak hanya berpuasa berdasar aturan-aturan standar belaka, tapi harus juga diperhatikan beberapa etika puasa. Pertama, sertakan semua indera Anda untuk berpuasa, sebab kemuliaan Anda sangat ditentukan ketakwaan indera tersebut. Puasa perut, tanpa puasa indera adalah puasa nihil makna. Puasa harus dilakukan bersamaan antara puasa perut, puasa di atas perut yaitu hati dan kepala dan puasa di bawah perut yaitu nafsu seksual. Kedua, bebaskan perut Anda dari makanan dan minuman untuk berbuka dan sahur yang tidak jelas halalnya (syubhat), apalagi yang haram. Jangan sekali-kali berbuka puasa dengan makanan yang syubhat. Juga, pilihlah tempat berbuka yang bernuansa ilahiyah. Maka berbuka dengan keriangan di tengah keluarga, di mushalla, masjid atau bersama dengan orang-orang miskin jauh lebih merangsang kemuliaan daripada di warung, pasar atau hotel-hotel.

Ketiga, puasakan semua anggota badan Anda dari tindakan yang tidak bernilai atau tidak menambah poin kebajikan akhirat, walaupun tindakan itu diperbolehkan. Ingatlah pesan nabi SAW, “Termasuk tanda ketinggian iman seseorang adalah keberhasilannya menjauhi hal-hal yang tidak bernilai baginya.” Perintah Nabi SAW tersebut harus diperhatikan, lebih-lebih pada bulan suci. Anda harus selektif: benar-benar cerdas memilih yang sangat bernilai ketika Anda di depan televisi, internet, telpon seluler dan sebagainya. Keempat, hindari tidur berkepanjangan di siang hari sehingga produktifitas kerja Anda menurun dan mengumbar nafsu makan di malam hari sehingga Anda bermalasan ibadah. Anda dipastikan gagal memberikan pelatihan jiwa jika etika ini dilanggar. Kelima, makanlah dengan porsi dan menu seperti hari-hari biasa di luar ramadlan. Jauhi ramadlan konsumtif apalagi berlebih dan mengundang kemubadziran. Semua makanan yang melebihi kebutuhan tubuh menjadi investasi penyakit masa depan. Dengan memperhatikan etika keempat dan kelima, Anda diharapkan berhasil “menerawang” (mukasyafah) akhirat lebih jelas, bisa menikmati kemesraan dengan Allah dan meraih cahaya ramadlan yang sesungguhnya. Orang-orang shaleh terdahulu selalu menambah ibadah ramadlan sekalipun sudah maksimal ibadahnya di luar ramadlan. Mereka juga bersungguh-sungguh mengurangi syahwat makanan di malam hari.

Keenam, jadikan ramadlan bulan sedekah berupa pemberian makanan berbuka untuk mereka yang berpuasa, memberi makanan untuk penguat puasa mereka berikutnya, dan membebaskan penderitaan fakir miskin. Senyum orang-orang miskin adalah senyum Allah untuk Anda. Kesegaran kerongkongan mereka adalah kesegaran kerongkongan Anda di surga kelak. Pahala puasa mereka yang berbuka dan makan sahur atas uluran tangan Anda adalah pahala puasa Anda yang berlipat-lipat.

Ketujuh, lakukan shalat taraweh dengan tenang (tumakninah), tidak tergesa-gesa dalam semua gerakannya serta memperhatikan aturan dan keindahan bacaan Al Fatihah dan surat-surat lainnya. Para sahabat Nabi dan orang-orang shaleh terdahulu melakukan shalat dengan beberapa kali menuntaskan bacaan 30 juz Al Qur’an dan beristirahat (taraweh) sejenak di sela-sela pelaksanaan sahalat malam. Jika tidak bisa meniru demikian, maka jangan terlalu jauh dari kebiasaan mereka, apalagi menjadi orang “bodoh” (istilah Habib Abdullah bin Haddad) yang dikendalikan setan selama tarawehnya. Berhati-hatilah dengan perangkap setan selama ibadah malam. Kedelapan, bersiaplah setiap malam, lebih-lebih pada sepuluh malam terakhir untuk menyambut malam seribu bulan: lailatul qadar. Cahaya malam istimewa itu hanya bisa dirasakan oleh mereka yang menyiapkan hati untuk menyongsongnya. Kaca yang tertutup debu tidak akan tertembus sekuat apapun cahaya.

Kesembilan, lakukan apa saja yang menguatkan silaturrahim dan persatuan umat. Hindari hal-hal yang mengundang konflik dan perpecahan. Tunjukkan selama puasa bahwa Allah SWT ada di mulut, mata, telinga, tangan dan semua anggota tubuh Anda sehingga yang terpancar dari diri Anda adalah ketulusan, kesejukan dan kasih sayang.

Barangkali, itulah sembilan etika yang kita abaikan selama sekian kali ramadlan, sehingga kita masih jauh dari predikat pribadi yang shaleh, sebagaimana tujuan utama puasa. Anggaplah ramadlan ini ramadlan terakhir dalam kehidupan Anda, dan jadikan ramadlan tahun ini tonggak perubahan besar hidup Anda: la’allakum tattaqun. (Sumber utama: Kitab Al Nasha-ih Al Diniyyah wa Al Washaya Al Imaniyyah karya Imam Habib Abdullah bin Haddad dan beberapa sumber lainnya).

SHALAT RAMADLAN, SHALAT KEBANGKITAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“ Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang rukuk” (QS. Al Baqarah [2]:43)

Ayat di atas dengan jelas menjelaskan tiga perintah sekaligus, yaitu shalat, zakat dan shalat bersama-sama (jamaah). Bulan Ramadlan bulan yang paling tepat untuk membentuk pribadi muslim yang terbaik dalam menjalankan semua perintah itu, karena ketiganya ada di dalam bulan ramadlan. Anda wajib menjalan shalat lima waktu, dan inilah ibadah yang utama dalam Islam. Oleh sebab itu, orang yang meninggalkan shalat bagaikan orang hidup tanpa kepala. Jika Anda shalat tapi tanpa penghayatan, maka Anda bagaikan orang bertubuh sempurna tapi tanpa nyawa.

Tulisan ini difokuskan pada kajian shalat terutama pada bulan ramadlan. Di seluruh dunia, kita menyaksikan umat Islam berduyun-duyun ke masjid untuk menjalanksan shalat taraweh berjamaah di masjid, baik 8, 20 atau 36 rakaat. Shalat taraweh sebanyak 20 rakaat dilakukan sejak zaman pemerintahan Umar bin Khatttab ra. Kitab Dalilul Falihin menyebutkan, hitungan tersebut dipilih sebagai kelipatan dari 10 rakaat shalat sunah muakad (sangat dianjurkan) yang dilakukan sebelum atau sesudah shalat wajib setiap hari, yaitu 2 rakaat sebelum shalat subuh, 2 rakaat sebelum shalat dhuhur dan 2 rakaat sesudahnya, 2 rakaat setelah shalat maghrib dan 2 rakaat setelah shalat isyak. Atau mungkin menyesuaikan dengan jumlah shalat sunah muakad tersebut di atas ditambah 10 rakaat sunah ghairu muakad (tidak seberapa dianjurkan), yaitu 2 rakaat sebelum dhuhur dan 2 rakaat sesudahnya, 4 rakaat sebelum ashar dan 2 rakaat sebelum maghrib.

Wuh, luar biasa banyak. Jika Anda membiasakan semua sunah di atas, maka Anda telah melaksanakan 37 rakaat setiap hari, yaitu 17 rakaat shalat wajib ditambah 20 rakaat shalat sunah. Dalam bulan ramadlan, Anda bertambah mulia lagi karena masih menjalankan lagi 20 rakaat shalat taraweh. Belum lagi ditambah shalat witir dan shalat-shalat sunah lainnya. Dengan demikian, Anda telah melakukan shalat lebih dari 50 rakaat, jumlah rakaat shalat yang diperintahkan pertama kali ketika Nabi SAW melakuakn israk mikraj.

Untuk mencapai kualitas shalat sebanyak di atas, ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan. Pertama, lakukan wudlu yang sempurna dengan penuh syukur dan permohonan ampunan atas semua anggota badan yang dibasuh atau diusap. Hindari wudlu dengan waswas (serba ragu keabsahan), sebab waswas adalah cermin atas kedangkalan ilmu dan kelemahan otak pelakunya. Upayakan jarak antara setiap waktu shalat itu tetap dalam keadaan suci. Allah SWT pernah memberitahu Nabi Musa as, “Jika kamu mendapat musibah, maka besar kemungkinan kamu tidak dalam keadaan suci. Maka salahkan dirimu sendiri.”

Kedua, kerjakan shalat awal waktu untuk menunjukkan kesungguhan Anda dalam mencari kebaikan. Shalat awal waktu mendatangkan ridla atau kesenangan Allah, shalat di tengah waktu mendatangkan kasih Allah dan shalat di akhir waktu merupakan ampunan-Nya. Artinya, Allah tidak menyukai Anda melakukan shalat di akhir waktu, tapi Allah masih memaafkannya.

Ketiga, laksanakan shalat berjamaah di masjid dan carilah barisan terdepan. Tunjukkan kepada Allah bahwa Anda siap berkompetisi untuk kebaikan (fastabiqul khairat). Tunjukkan pula bahwa Anda ingin serba terdepan dalam kebaikan, terdepan dalam kualitas diri Anda sebagai SDM di tempat kerja, terdepan sebagai suami teladan, sebagai ayah dan sebagainya, bahkan terdepan dalam memasuki surga. Anda juga akan memperoleh lebih banyak doa para malaikat daripada mereka yang ada pada barisan-barisan di belakang Anda. Jangan sekali-kali berlari ke neraka dengan melangkahi pundak orang karena ingin berada di barisan depan. Mengenai shalat berjamaah, Imam Haddad mengatakan, “Belum pernah saya jumpai satu hadispun bahwa Nabi SAW pernah shalat wajib sendirian.” Abdullah bin Mas’ud r.a berkata, “Salah satu tanda orang munafik adalah shalat wajib yang dilakukan sendirian. Pada masa Nabi SAW, banyak orang tua atau sakit yang digotong ke masjid.” Semarak taraweh di masjid adalah pendidikan terpenting untuk penanaman rasa cinta masjid. Percayalah, banyak solusi persoalan hidup dan berbagai kesuksesan Anda lebih banyak berkat doa orang-orang yang shalat berjamaah bersama Anda di masjid daripada doa Anda sendiri. Percayalah, jika selama hidup, Anda aktif shalat berjamaah di masjid, insya-Allah kelak Anda juga akan dishalati di masjid oleh banyak orang sebelum dibawa ke pemakaman.

Keempat, bangun pada akhir malam untuk makan sahur juga pendidikan yang amat berharga untuk membiasakan shalat tahajud. Itulah waktu terbaik untuk pendekatan diri kepada Allah. Silakan meminta apa saja kepada-Nya, apalagi disampaikan pada posisi terdekat Anda dengan Allah yaitu ketika bersujud. Itulah saat bersatunya waktu dan posisi kedekatan manusia dengan Allah. Tidak hanya doa yang disampaikan, tapi penyerahan secara total semua persoalan Anda kepada-Nya.

Dengarkan komentar orang-orang shaleh terdahulu mengenai shalat malam. Antara lain, “Selama 40 tahun saya beribadah, tidak ada yang lebih menyedihkan saya melebihi datangnya waktu fajar.” “Jika tidak ada shalat malam, untuk apa ada kelanjutan hidup saya.” Bangkitkan semangat Anda untuk membiasakan shalat malam, sekalipun hanya beberapa menit sebelum suhuh. Nabi SAW bersabda, “Lakukan shalat malam sekalipun hanya satu rakaat.” Artinya baru satu rakaat shalat malam, waktu shubuh sudah tiba. Shalat malam merupakan sarana utama menuju kemuliaan sebagaima dilakukan oleh orang-orang shaleh terdahulu. Jangan bermimpi meraih kemuliaan tanpa sujud di akhir malam. Shalat malam beberapa menit sebelum subuh dan dikerjakan secara terus menerus jauh lebih baik daripada shalat malam yang lama tapi dikerjakan sekali atau dua dalam sebulan. Memang berat untuk memulai, tapi ringan setelah menjadi kebiasaan. Bismillah.

Kelima, lakukan shalat dengan khusyuk dan tumakninah (tenang) baik secara fisik, tenang bacaan dan tenang hati. Larangan bangkit dari rukuk sebelum tumakninah, harus diartikan lebih mendalam sebagai sebuah pesan penting, “Jangan bangkit dari rukuk sebelum Anda memperoleh ketenangan batin.” Shalat dalam keadaan puasa menjamin shalat Anda bebas dari pikiran makanan dan bebas dari rasa mengantuk. Ketika makanan memenuhi perut Anda, energi Anda terkuras untuk mencerna. Sedangkan ketika pencernaan tidak bekerja, maka energi Anda berfungsi untuk menghidupkan otak dan hati.

Perintah shalat yang diikuti perintah membayar zakat menunjukkan shalat yang baik adalah shalat yang melahirkan kesadaran sosial. Shalat ramadlan telah berfungsi demikian, sehingga umat Islam membayar zakat dan berlomba-lomba untuk bersedekah selama bulan suci. Secara tidak langsung, Anda dididik untuk lebih suka memberi daripada diberi. Muslim terbaik adalah muslim yang memerdekakan dirinya dari mental meminta dan menggantungkan orang lain. Malaikat Jibril pernah turun ke bumi untuk menyampaikan berita itu kepada Nabi SAW. (wa’izzahu istighna-uhu ‘aninnas). Jauhilah sikap mengeluh atas apapun yang Anda terima, sebab keluhan menunjukkan kualitas shalat Anda. Allah SWT berfirman, “Sungguh, manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya.” (QS Al Ma’arij [70]:19-23).

Shalat ramadlan diharapkan membangkitkan Anda untuk lebih banyak menjalankan shalat sunah, lebih menyintai masjid, lebih aktif berjamaah di masjid, lebih sering shalat malam, lebih peka terhadap lingkungan sosial, lebih mandiri serta bahagia karena berhasil menghapus mental ketergantungan kepada orang lain dan lebih ikhlas, ridla dan tidak mengeluh terhadap takdir Allah. Selamat menjalani proses kebangkitan melalui shalat ramadlan menuju hidup yang lebih bahagia. (Sumber utama: Kitab Al Nasha-ih Al Diniyyah wa Al Washaya Al Imaniyyah karya Imam Habib Abdullah bin Haddad, Kitab Dalilul Falihin karya Moh bin Allan As Shiddiqi dan beberapa sumber lainnya).