Header

SINGA DALAM SENYAP

September 11th, 2016 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

SINGA DALAM SENYAP
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

وَلَوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ قُلۡتُم مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبۡحَٰنَكَ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ عَظِيمٞ ١٦

sumber gambar: http://cdn.pcwallart.com/images/lion-roar-front-view-wallpaper-4.jpg

sumber gambar: http://cdn.pcwallart.com/images/lion-roar-front-view-wallpaper-4.jpg

Dan mengapa kamu tidak berkata, ketika mendengar berita bohong itu, “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita membicarakan hal ini. Maha Suci Engkau (Wahai Tuhan kami). Ini adalah dusta yang besar.” (QS. An Nur [24]:16).

            Ayat di atas merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya tentang tuduhan busuk orang-orang munafik bahwa Aisyah, istri Nabi berselingkuh, berduaan dengan Sofwan bin Mu’aththil As-Sulami dalam perjalanan pulang dari perang Bani Musthaliq. Tuduhan itu menyebar begitu cepat sehingga menggegerkan umat Islam. Nabi SAW juga gelisah dan meminta pendapat Umar bin Khattab r.a. Umar bertanya, “Wahai Nabi, siapakah yang menikahkan tuan dengan Aisyah?” “Allah,” jawab Nabi. Umar berkata, “Apakah Allah menipu tuan?” Nabi menjawab: “Maha suci Engkau, wahai Allah. Ini benar-benar sebuah kebohongan (inna hadza buhtanun adhim).” Lalu turunlah ayat di atas dengan redaksi dan isi yang mirip dengan dialog Nabi dan Umar bahwa tuduhan itu sebuah kebohongan besar (buhtanun ‘adhim).

             Itulah salah satu kehebatan Umar ra. Ia seolah mengetahui bunyi wahyu yang akan diturunkan Allah. Tidak hanya itu, surat Al Maidah: 90, At Taubah: 84,  Al Anfal: 67 dan At Tahrim: 4-5 juga turun dengan redaksi dan isi yang mirip dengan perkataan Umar. Apa rahasia di balik kehebatan Umar?. Tidak lain karena ia pemimpin yang tegas dan berani dalam menegakkan keadilan di siang hari dan menunduk khusyuk penuh tangis di malam sunyi.

            Dengan fisik yang tinggi besar, berkepala botak, bertelapak kaki lebar, bersenjata  dua meter pedang di tangan kanannya, Umar benar-benar singa bagi siapapun yang merusak kehormatan umat Islam. Dialah yang menantang orang-orang kafir, “Malam nanti, saya dan Nabi berangkat hijrah ke Madinah. Silakan hadang saya jika kalian ingin menjadikan istri dan anak kalian janda dan yatim.” Ketika menjabat kepala negara, ia berpidato, “Saya tahu, banyak orang gelisah karena sikap keras saya. Untuk apa takut, jika ia tidak bersalah? Ketahuilah, sikap kerasku akan berlipat kepada siapapun yang zalim dan membuat rusuh di masyarakat. Aku akan menginjak kepala mereka sampai tunduk kepada kebenaran. Tapi, aku akan mencium kaki orang-orang yang berjiwa mulia dan hidup sederhana.”

            Suatu hari Umar memasuki Syira, salah satu wilayah kekuasaannya. Rakyat sudah menunggu sang khalifah di gerbang kota. Tapi yang datang adalah penunggang onta berbaju rombeng, telanjang kaki dengan pelana murahan. Mereka bertanya kepada penunggang onta ini, “Manakah khalifah kami?” Ia menjawab, “Orang yang kalian cari sekarang berada di depan kalian.” Mereka terpana, histeris berlarian memberitahu penduduk kota bahwa Umar telah tiba. Para pejabat sudah menyiapkan kuda terbaik dengan pelana yang pantas untuk kepala Negara, tapi Umar menolaknya, “Singkirkan kendaraan setan ini.” Umar baru bersedia menggunakan kuda itu setelah semua asesori mewahnya dilepas. Di tengah kota, Umar melihat beberapa pejabat menunggang kuda dengan pelana berbalut sutra. Ia turun dari kudanya, mengambil batu dan melempari mereka sambil berteriak, “Begitu cepat kalian berubah. Apakah dengan kendaraan mewah dan makanan enak-enak sepert ini kalian menyambut Umar? Dua tahun yang lalu, kalian masih hidup sederhana dan masih siap menahan lapar.” Umar berani melakukan semua itu karena ia telah memberi tauladan kesederhanaan sampai akhir hayatnya. Ketika menjelang mati, ia meminta Abdullah, anaknya untuk mengambil bantalnya, “Jangan-jangan Allah tidak berkenan melihat saya menikmati pengganjal kepala ini ketika aku bersiap kembali kepada-Nya.” Umar juga hanya memiliki satu gamis dengan 21 tambalan. Karenanya, ia pernah datang khutbah Jumat terlambat karena menunggu gamisnya kering.

            Ketika di mimbar khutbah pun, ia diprotes seseorang, ”Aku sama sekali tidak percaya khutbahmu. Kau tidak adil. Rakyatmu kamu beri sehelai kain, sedangkan sekarang engkau menggunakan dua helai.” Umar menoleh ke kanan dan kiri mencari anaknya, Abdullah. “Wahai anakku ini milik siapa?” “Milikku,” jawab sang anak. “Badanku besar, tidak cukup sehelai, maka saya minta jatah anakku,” lanjut Umar. Pemrotes itu kemudian melunak, “Kalau begitu, lanjutkan khutbahmu dan saya akan mendengarkannya.”

            Umar r.a mengetuk pintu dari rumah ke rumah para tentara yang bertugas di luar kota dan berhasil merontokkan imperium Persia dan Romawi. Dari luar rumah, Umar meminta para istri tentara itu mendektekan semua keperluannya. “Jika ibu punya pembantu, suruhlah dia ikut saya ke pasar agar berbelanja sesuai dengan kebutuhan ibu dan tidak salah beli,” pesan Umar.  Benarlah, Umar pergi ke pasar dengan beberapa pembantu rumah tangga berbaris di belakangnya. Mereka berbelanja sesuai dengan perintah majikan masing-masing dan Umar yang membayarnya.

            Tengah malam, Umar dengan isterinya, Ummu Kultsum mengangkut sekarung tepung, samin, daging sekaligus periuk untuk menolong seorang ibu di daerah terpencil yang merintih sakit menjelang persalinan. Beberapa lembar selimut untuk si bayi, popok, pakaian untuk sang ibu dan beberapa perlengkapan lainnya juga disiapkan. Ketika sampai di tempat, Ummu Kultsum langsung masuk rumah membantu persalinan, sedangkan Umar memasak makanan di luar. Tidak lama kemudian, terdengarlah suara jeritan bayi dari gubuk. Umar memanggil si suami untuk membawakan makanan yang telah dimasaknya untuk istrinya. Ummu Kultsum menyuapkan makanan untuk ibu yang berbahagia itu sampai kenyang.

            Umar yang segagah itu ternyata jiwanya amat lembut. Ia menunduk pasi ketika seseorang berkata kepadanya, “Tidak takutkah engkau kepada Allah?.” Setiap shalat tengah malam, air matanya membasahi jubahnya, badannya bergetar seperti anak burung yang tertiup angin. Lebih-lebih ketika membaca firman Allah, “Bacalah catatanmu. Cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghitung perbuatanmu” (QS. Al Isra’ [17]: 14). Ia juga pernah roboh dari shalatnya, pingsan ketika membaca surat At Thur ayat 1-8.  Berkali-kali ia mengatakan, “Jika aku tidur siang, aku kehilangan rakyatku dan jika tidur malam aku kehilangan diriku.”

            Saya ingin menyebutkan satu pemimpin dunia yang tak kenal ampun terhadap perusak masa depan bangsanya. Saya sebutkan pemimpin di luar Indonesia agar tulisan ini tidak berbau politik. Ia adalah presiden Filipina, Rodrigo Duterte. Setelah dilantik, dia berjanji akan membunuh 100.000 pengedar narkoba. Penggunapun akan ditembak di kepalanya, kecuali jika menyerahkan diri dan bertobat. Polisi, tentara, walikota, politikus atau siapa saja yang terbukti menjadi beking obat terlarang itu akan dilibas. Kepala kepolisianpun diancam bunuh jika tidak melaksanakan perintahnya. Benar, dalam dua bulan menjabat sebagai presiden (Juli dan Agustus 2016), ribuan orang sudah bergelimpangan merenggang nyawa dan sekitar 600.000 orang telah menyerahkan diri. Dia tahu tindakan ektrim itu melanggar HAM. Tapi, menurutnya, negara sudah benar-benar darurat, dan kejahatan narkoba sudah tidak bisa diatasi hanya dengan cara-cara konvensional.

            Negara ini membutuhkan singa yang meraung di siang hari dan siap menerkam dan mengunyah leher para koruptor, pengedar miras, narkoba, pelaku kejahatan seksual anak-anak, penyedia wanita pelacur dan semua penghancur masa depan bangsa. Tapi, pemimpin  itu juga harus seperti Umar bin Khattab yang bersujud panjang di malam senyap. Saya yakin, Andalah orangnya, insya Allah.

Sumber Bacaan: (1) Khalid Muhammad Khalid, Ma’a Umar (Umar Ibnul Khattab Mukmin Perkasa), terj. Abu Syauqi Baya’syud dan Mustafa Mahdami, Penerbit Media Idaman, Surabaya, 1989, cet. II (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985 (3) Abdullah bin Ibrahim Al Luhaidan, Al Buka-u ‘Inda Qira-atil Qur’an, Mirqat Publishing, Jakarta 2008 (4) Abdul Lathif Ahmad ‘Asyur, Al ‘Asyarotul Mubasysyaruna Bil-Jannah (Sepuluh Orang Dijamin Masuk Surga), Gema Insani Press, Jakarta 1996. (5) Nasy’at Al Masri, An Nabiyyu Zaujan (Nabi Suami Teladan) terj. Salim Basyarahil, Gema Insani Press, Jakarta, 1993 (6) Harian Jawa Pos 28 Agustus 2016.

TENANGLAH, ALLAH SEDANG BERDIALOG DENGAN VIRUS ANDA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://www.galamedianews.com/media/galeri/150401111630–wajib-tahu–7-virus-mematikan-di-dunia.jpg

قُلۡنَا يَٰنَارُ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ٦٩

“Kami berfirman, “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim” (QS. Al Anbiyak [21]:69)

Raja Namrudz memututuskan, Nabi Ibrahim a.s harus dibakar. Lalu ia membuat lubang besar yang dipenuhi tumpukan kayu kering. Ibarhim (25 tahun) diikat dan dilemparkan ke api dengan manjaniq, bandul pelempar yang biasa digunakan dalam perang. Maka datanglah Malaikat Jibril dan bertanya, “alaka hajah?/apakah engkau membutuhkan sesuatu?, Ibrahim a.s menjawab, “amma ilaika fala / adapun kepada tuan, tidaklah. Lalu Jibril berkata, “fas-al rabbak / mohonlah pertolongan Tuhanmu. Ibrahim menjawab, hasby min su-aly, ‘ilmuhu bihaaly / cukuplah bagiku Allah. Ia mengetahui keadaanku dan aku tidak perlu memohon apapun kepada-Nya.” Selama dalam kobaran api, Nabi Ibrahim a.s terus menerus membaca hasbiyallah wani’mal wakil.  

                Saat itulah, Allah berfirman, “Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.  Menurut Tafsir Ar Razy, ada tiga kemungkinan sebab mengapa api tidak bisa membakar Ibrahim dan hanya menghanguskan tali pengikatnya, yaitu: (1) Allah menghilangkan unsur panas pada api dan tinggal nyalanya semata. (2) Allah memberi kekebalan pada tubuh  Ibrahim seperti yang diberikan kepada malaikat yang bertugas dalam neraka (3) Allah membuat dinding pemisah antara Ibrahim dan api.

                 Ketahuilah, Allah SWT tidak hanya berbicara dengan api, tpi juga dengan gunung dan burung-burung pada masa Nabi Daud a.s.  Allah memberi Daud a.s dua karunia besar, yaitu kerajaan Bani Israil untuk melanjutkan kepemimpinan Raja Thalut, dan suara yang indah untuk membacakan mazmur, pujian-pujian dalam Kitab Zabur. Ia membacanya dengan suara yang merdu dan iringan kecapi yang dimainkannya. Saat itulah, Allah berfirman, “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud” (QS. Saba’ [34]:10). Burung-burung yang berterbangan juga cepat-cepat hinggap di ranting pohon untuk menikmati kemerduan suara Daud a.s. Bahkan, sebagian mereka mati kelaparan, lupa tidak makan karena terbius suara sang nabi. Dalam pujian-pujian Daud a.s yang penuh estetika itu tersimpul tiga keistimewaan, yaitu al jamaal (keindahan), al kamal (kesempurnaan) dan al jalaal (kemuliaan).

                Ternyata, Allah SWT juga berbicara kepada bumi dan langit ketika banjir besar setinggi 80 mil di atas gunung yang tertinggi pada masa Nabi Nuh a.s, “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah, dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi” (QS. Hud [11]:44). Dalam banjir selama 150 hari itu, semua orang kafir tenggelam, termasuk anak  Nuh a.s. Saat itulah, Allah berbicara kepada langit agar menghentikan hujan dan bumi agar menelan habis jutaan kubik air di atasnya. Tepat tanggal 10 Muharram, kapal Nuh a.s mendarat di gunung Judy di deretan pegunungan Ararat di perbatasan Turki dan Rusia.

                Dalam sebuah hadis qudsi juga disebutkan, Allah berdialog dengan pena sebelum penciptaan alam semesta. ‘Ubadah bin Shamit r.a berkata kepada anaknya,  “Wahai anakku, engkau tidak akan merasakan hakekat iman sebelum engkau meyakini bahwa semua yang tercatat akan terjadi padamu, pasti akan engkau rasakan dan engkau tidak akan dapat menghindarinya. Dan apapun yang tidak tercatat untukmu, pastilah tidak akan engkau alami. Ketahuilah, aku telah mendengar Nabi SAW bersabda:

اَنَّ اَوَّلَ مَا خَلَقَ اللهُ الْقَلَمُ فَقَالَ لَهُ اُكْتُبْ قاَلَ رَبَّ وَمَاذَا اَكْتُبُ؟ قَالَ اُكْتُبْ مَقَادِيْرَ كُلِّ شَيءٍ حَتَّى تَقُوْمَ السّاعَةُ

Sungguh, pena adalah benda pertama yang diciptakan Allah. Lalu Allah memerintah kepadanya, “Hai pena, catatlah!” Pena bertanya, “Wahai Tuhanku, apa yang harus saya catat?” Allah menjawab. “Catatlah ketetapan segala sesuatu yang akan terjadi sampai hari kiamat!”

                Ubadah melanjutkan nasehatnya, “Wahai anakku, aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Siapapun yang mati tanpa keimanan tentang takdir ini, maka ia bukan pengikutku.” (HQR. Abu Daud, nomor 4668). Dalam hadits lain disebutkan bahwa 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi, seluruh kejadian alam semesta sudah dicatat oleh Allah secara rinci dalam lauh mahfudh (lembaran yang terpelihara). Siapapun yang meragukan semua catatan tersebut dan mati sebelum bertobat, maka ia tidak diakui sebagai pengikut Nabi SAW.

                Semua firman Allah di atas menunjukkan, Allah benar-benar menguasai semua makhluknya, benda hidup atau mati dan bisa berbicara apa saja dan kapan saja kepadanya. Allah SWT telah berbicara langsung dengan api agar tidak membakar Nabi Ibrahim a.s,  berbicara dengan langit untuk menghentikan hujan dan bumi untuk menelan semua air bah pada masa Nuh a.s, berbicara dengan gunung dan burung-burung untuk menyimak tasbih Nabi Daud a.s, dan juga berdialog dengan pena pencatat takdir manusia. Maka, Allah SWT pasti juga bisa berbicara dan mengendalikan berbagai virus, protozoa, bakteri dan sebagainya yang menurut kodratnya dapat mematikan manusia.

                Wahai saudaraku yang sedang sakit, tenanglah, jangan bersedih.  Ketika Anda bersujud dan berzikir panjang,  hasbiyallah wani’mal wakil (cukuplah Allah sebagai penolongku) Allah SWT sedang berdialog dengan virus yang sedang menyerang tubuh Anda:  “Wahai virus, Aku Maha Mengetahui, engkau telah telah membunuh ratusan juta manusia. Sekarang, silakan tetap tinggal dalam tubuh hamba-Ku yang sedang bersujud ini. Jangan mengganggunya. Aku baru mengijinkanmu bangkit dan mematikan dia jika jatah hidupnya memang telah habis. Tunggulah komando-Ku.”

                Setiap meminum obat atau makan kapan saja, bacalah doa dari Nabi SAW: bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syaiun fil ardhi walaa fissama-I wahuwas sami’ul ‘alim (dengan memanggil nama-nama Allah dan atas ijin-Nya, tidak akan ada satupun makhluk di bumi dan langit yang membahayakan tubuhku. Sungguh Allah Maha Mengetahui semua kejadian dan Maha Mendengar suara hatiku).  La tahzan innallaha ma’ana (jangan bersedih, Allah tiada pernah meninggalkan Anda).        

Referensi: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar  juz XII (p.61) , XVII (p.70), XXII (p.272), Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985 (2) Muhammad ‘Awwaamah, Minas Shihah Al Ahadits Al Qudsiyyah: Mi’ah Hadits Qudsi Ma’a Syarhiha (Seratus Syarah Hadis Qudsi), Noura Books, Jakarta Selatan 2013, p. 107-114 (3) As-Shabuni, Muhammad Ali, An Nubuwwah wal Anbiya’, (Kisah-Kisah Nabi dan Masalah Kenabiannya) terj. Mushlikh Shabir, Penerbit Cahaya Indah, Semarang, 1994.

REBRANDING:
MUSLIMS AS SPREADERS OF AROMA TO THE WORLD
Khutbah Idul Fitri 1437 H/2016 M delivered by:
Prof Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
(Professor of Islamic Studies at State Islamic University Sunan Ampel Surabaya-Indonesia)
Organized by:
The Embassy of the Republic of Indonesia in Bangladesh
1 Syawal 1437/ 06 July 2016

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahilhamdu.

Innalhamda lillah, nahmaduhu wanasta’inuh, wanastaghfiruhu. Wana’udzu billahi min syururi anfusina wamin sayyi-ati a’malina. Man yahdillahu fala mudlil-la lah, waman yudl-lillahu fala hadiya lahu. Asyhadu alla ilaha illahu wahadahu la syarika lah, wa-asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu warasuluh, la nabiyya ba’dah.

Allahumma shalli ‘ala sayyidina wa maulana Muhammadin wa’ala alihi washahbihi waman walah.

Amma ba’du, faya ‘ibadallah, ushikum waiyyaya bitaqwallah. Qalallahu Ta’ala: “Ya ayyuhalladzina amanu ittaqullaha haqqa tuqatih, wala tamutunna illa wa-antum muslimun.”

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

          On this occasion I would like to convey to all Muslims wherever they are: Eid Mubarak, Happy Eid, congratulations for becoming new human beings who are closer to their God and more civilized regardless of their ethnicity and religious differences. Happy Eid, welcome to a new life.

          We deserve this piety after a full month of fasting, refraining from foods, drinks, and letch during the day, then we continue to do i’tikaf, zikir, and taraweeh and witr prayers hundreds times at night. Not only that, during Ramadan we multiply to do alms giving and we end the holy month by paying zakat.

Dear happy Muslims,

In this brief sermon I would like to deliver three stories that I think represents three generations: the generation of the Prophet Muhammad SAW, the companions (sahabah) and the modern generation. These stories are not chronological in nature, but constitue the same important message that I will deliver at the end of this sermon.

First, I will tell you the story of what happened at a mosque when the Prophet Muhammad SAW was among his senior companions. All of the sudden, they were surprised by someone who entered the mosque sitting on his camel with his arms akimbo. Umar bin Khattab who sat alongside with the Prophet stood up immediately to strangle him, but the Prophet  Mohammad SAW prevented him.

Umar bin Khattab and Ali ibn Abi Talib were barely able to hold back when the Bedouin was shouting to look for the Prophet Muhammad SAW with mockery. The Prophet Muhammad SAW smiled softly and responded to the man, “I am whom you are looking for.” Bedouin Jews continued, “Oh, so you are the one who teaches the creed (shahada), prayer, charity and fasting?” “Yes,” replied the Prophet Mohammad SAW with a cool and polite face. Suddenly the Bedouin turned back his camel to go out of the mosque and said, “I am amazed by softness of the Prophet Muhammad SAW. I will convert to Islam and invite all people to follow his religion.”

Second, the story happened during the reign of Ali bin Abi Talib. When he became the head of state, he lost his favorite armor and it was in the hands of a Christian. When the trial of the armor ownership disputed, the judge called Ali, “Ya Amiral mukminin (O leader of the Muslims).” Ali objected with the call, because in his opinion, everyone should be equal before the law. Finally, the court decided that Ali was not entitled to claim the armor because he could not show any proof of the ownership.

After the trial, the Christian admitted that the armor was stolen from Ali bin Abi Talib. He converted to Islam due to his admiration of  Ali’s noble character before the law. When the armor was about to be returned voluntarily, Ali replied, “Let it be yours as a memento from me on your new religion.”

Third, this story happened to Dr. Germanus, a tourist from Hungary who was on his summer vacation in Bosnia. At night, he went out of the hotel to observe the daily life of Bosnian people. He encountered a cafe with a dim light which was not far from the hotel. When he was enjoying a warm coffee, suddenly two men, who wore traditional loose pants and a machete tucked into their wide belts, entered. He trembled when the two men staring at him with strange look. He remembered some stories of the cruelty of the Muslims toward the people who do not believe in the same religion, as he read in many books and mass media. Especially,  when he looked at these two men whispering. He thought they would kill him because he is a non-believer. He wanted to run away of the cafe, but he was completely limp.

A few minutes later, something unexpected happened. One of the men saluted and approached the tourist. The man even lit a cigarette for him with very polite sign language. After that, the tourist was invited to lunch for the next day. “This is my first encounter with a Muslim in a foreign country,” he said. He was very impressed with the man’s attitude and tenderness, until he was interested in studying Islam. At night, he was visited by the Prophet Muhammad SAW who wore a green robe with a distinctive aroma, which has never been encountered before. Then, he recited shahada (Islamic creed) and pledge to convert to Islam.

Dear respected muslims.

The three stories above give an example on how we have to interact with non-Muslims. The Prophet Mohammad SAW said:

 Auha Allahu ila Ibrahim, ya khalili, hassin khuluqaka walau ma’al kuffar, tadkhulu madakhilal abrar (Allah sent a message to Prophet Ibrahim: “God has given revelation to the Prophet Ibrahim, ”My dear beloved, show good manners even to the non-believers, you will enter the heaven with the best people”( HR. Al Hakim from Abu Hurairah r.a).

Why did I choose these three stories for the Eid sermon in Dhaka this year? Because, nowadays, Muslims have a very negative branding as ruthless believers and they even kill people who do not believe in Islam, even sometimes against their own fellow Muslims. Logically, non-Muslims would think that Muslims today have become light handed to kill their fellow Muslims only because they differ in political affiliation or thoughts, let alone to those with different religions. Atrocity against non-Muslims were also displayed only a few meters away from this place during the holy month of Ramadan. When Muslims in Bangladesh were performing i’tikaf (staying in a mosque for a certain number of days) at the mosques to glorify nights of Lailatul Qadr,  a group of seven men armed with blades, guns and bombs attacked the Holey Artisan Bakery chanting Allahu Akbar then killed 20 people from Italy, America, Japan, Bangladesh and India. The attackers claimed as member of Islamic State.

It is time to re-brand the image of Muslims as religious believers who are courteous and aroma spreaders to all of mankind, as the message of Allah to the Prophet Muhammad  SAW and all his followers, ”Wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ’alamin (and We have not sent you, [O Muhammad], except as a mercy to the worlds.” (QS. Al Anbiyak [21]: 107).

Eid is the best time to start a re-branding campaign of Muslims  to the world so that humanity look at Muslims as spreaders of love. We can start from our family, then neighborhoods and workplaces, and then to extend further to reach greater spectrum. We might not be able to see the results of these efforts, because it may take decades to rebrand the image of Muslims, but we must start now with extra efforts.

We must turn the pages of history where the spread of Islam had taken place so spectacularly in the Arabian Peninsula, Africa and Asia caused by the magnet of morals of the Prophet and his followers, not by speeches from podiums, not even by a frightening weapons. The Prophet Muhammad SAW used violence several times, but it was done in a state of war to defend against the other parties. And even it was done with very commendable ethics according to the standard of civilized human being.

We must bear in mind that human beings are becoming more educated and require extremely ethics in all aspects. If day by day the image of Muslims is not getting better, then we are the ones who will be held  responsible if the religion is abandoned in the future. Then, people will justify a thesis by one of ulama, al Islamu mahjubun bil Muslimin (Islam’s future could be bleak caused by Muslims themselves).

Allahu Akbar, we welcome the future of Islam in the spirit of Eid, the spirit of cleansing the soul. Let us work together to spread the aroma of noble character for the glory of Islam and peace amongst the world.

Minal ‘Aidin wal Faizin. Ied Mubarok. Taqbbalallahu minna waminkum. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamdu.