Header

TENANGLAH, ALLAH SEDANG BERDIALOG DENGAN VIRUS ANDA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://www.galamedianews.com/media/galeri/150401111630–wajib-tahu–7-virus-mematikan-di-dunia.jpg

قُلۡنَا يَٰنَارُ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ٦٩

“Kami berfirman, “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim” (QS. Al Anbiyak [21]:69)

Raja Namrudz memututuskan, Nabi Ibrahim a.s harus dibakar. Lalu ia membuat lubang besar yang dipenuhi tumpukan kayu kering. Ibarhim (25 tahun) diikat dan dilemparkan ke api dengan manjaniq, bandul pelempar yang biasa digunakan dalam perang. Maka datanglah Malaikat Jibril dan bertanya, “alaka hajah?/apakah engkau membutuhkan sesuatu?, Ibrahim a.s menjawab, “amma ilaika fala / adapun kepada tuan, tidaklah. Lalu Jibril berkata, “fas-al rabbak / mohonlah pertolongan Tuhanmu. Ibrahim menjawab, hasby min su-aly, ‘ilmuhu bihaaly / cukuplah bagiku Allah. Ia mengetahui keadaanku dan aku tidak perlu memohon apapun kepada-Nya.” Selama dalam kobaran api, Nabi Ibrahim a.s terus menerus membaca hasbiyallah wani’mal wakil.  

                Saat itulah, Allah berfirman, “Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.  Menurut Tafsir Ar Razy, ada tiga kemungkinan sebab mengapa api tidak bisa membakar Ibrahim dan hanya menghanguskan tali pengikatnya, yaitu: (1) Allah menghilangkan unsur panas pada api dan tinggal nyalanya semata. (2) Allah memberi kekebalan pada tubuh  Ibrahim seperti yang diberikan kepada malaikat yang bertugas dalam neraka (3) Allah membuat dinding pemisah antara Ibrahim dan api.

                 Ketahuilah, Allah SWT tidak hanya berbicara dengan api, tpi juga dengan gunung dan burung-burung pada masa Nabi Daud a.s.  Allah memberi Daud a.s dua karunia besar, yaitu kerajaan Bani Israil untuk melanjutkan kepemimpinan Raja Thalut, dan suara yang indah untuk membacakan mazmur, pujian-pujian dalam Kitab Zabur. Ia membacanya dengan suara yang merdu dan iringan kecapi yang dimainkannya. Saat itulah, Allah berfirman, “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud” (QS. Saba’ [34]:10). Burung-burung yang berterbangan juga cepat-cepat hinggap di ranting pohon untuk menikmati kemerduan suara Daud a.s. Bahkan, sebagian mereka mati kelaparan, lupa tidak makan karena terbius suara sang nabi. Dalam pujian-pujian Daud a.s yang penuh estetika itu tersimpul tiga keistimewaan, yaitu al jamaal (keindahan), al kamal (kesempurnaan) dan al jalaal (kemuliaan).

                Ternyata, Allah SWT juga berbicara kepada bumi dan langit ketika banjir besar setinggi 80 mil di atas gunung yang tertinggi pada masa Nabi Nuh a.s, “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah, dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi” (QS. Hud [11]:44). Dalam banjir selama 150 hari itu, semua orang kafir tenggelam, termasuk anak  Nuh a.s. Saat itulah, Allah berbicara kepada langit agar menghentikan hujan dan bumi agar menelan habis jutaan kubik air di atasnya. Tepat tanggal 10 Muharram, kapal Nuh a.s mendarat di gunung Judy di deretan pegunungan Ararat di perbatasan Turki dan Rusia.

                Dalam sebuah hadis qudsi juga disebutkan, Allah berdialog dengan pena sebelum penciptaan alam semesta. ‘Ubadah bin Shamit r.a berkata kepada anaknya,  “Wahai anakku, engkau tidak akan merasakan hakekat iman sebelum engkau meyakini bahwa semua yang tercatat akan terjadi padamu, pasti akan engkau rasakan dan engkau tidak akan dapat menghindarinya. Dan apapun yang tidak tercatat untukmu, pastilah tidak akan engkau alami. Ketahuilah, aku telah mendengar Nabi SAW bersabda:

اَنَّ اَوَّلَ مَا خَلَقَ اللهُ الْقَلَمُ فَقَالَ لَهُ اُكْتُبْ قاَلَ رَبَّ وَمَاذَا اَكْتُبُ؟ قَالَ اُكْتُبْ مَقَادِيْرَ كُلِّ شَيءٍ حَتَّى تَقُوْمَ السّاعَةُ

Sungguh, pena adalah benda pertama yang diciptakan Allah. Lalu Allah memerintah kepadanya, “Hai pena, catatlah!” Pena bertanya, “Wahai Tuhanku, apa yang harus saya catat?” Allah menjawab. “Catatlah ketetapan segala sesuatu yang akan terjadi sampai hari kiamat!”

                Ubadah melanjutkan nasehatnya, “Wahai anakku, aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Siapapun yang mati tanpa keimanan tentang takdir ini, maka ia bukan pengikutku.” (HQR. Abu Daud, nomor 4668). Dalam hadits lain disebutkan bahwa 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi, seluruh kejadian alam semesta sudah dicatat oleh Allah secara rinci dalam lauh mahfudh (lembaran yang terpelihara). Siapapun yang meragukan semua catatan tersebut dan mati sebelum bertobat, maka ia tidak diakui sebagai pengikut Nabi SAW.

                Semua firman Allah di atas menunjukkan, Allah benar-benar menguasai semua makhluknya, benda hidup atau mati dan bisa berbicara apa saja dan kapan saja kepadanya. Allah SWT telah berbicara langsung dengan api agar tidak membakar Nabi Ibrahim a.s,  berbicara dengan langit untuk menghentikan hujan dan bumi untuk menelan semua air bah pada masa Nuh a.s, berbicara dengan gunung dan burung-burung untuk menyimak tasbih Nabi Daud a.s, dan juga berdialog dengan pena pencatat takdir manusia. Maka, Allah SWT pasti juga bisa berbicara dan mengendalikan berbagai virus, protozoa, bakteri dan sebagainya yang menurut kodratnya dapat mematikan manusia.

                Wahai saudaraku yang sedang sakit, tenanglah, jangan bersedih.  Ketika Anda bersujud dan berzikir panjang,  hasbiyallah wani’mal wakil (cukuplah Allah sebagai penolongku) Allah SWT sedang berdialog dengan virus yang sedang menyerang tubuh Anda:  “Wahai virus, Aku Maha Mengetahui, engkau telah telah membunuh ratusan juta manusia. Sekarang, silakan tetap tinggal dalam tubuh hamba-Ku yang sedang bersujud ini. Jangan mengganggunya. Aku baru mengijinkanmu bangkit dan mematikan dia jika jatah hidupnya memang telah habis. Tunggulah komando-Ku.”

                Setiap meminum obat atau makan kapan saja, bacalah doa dari Nabi SAW: bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syaiun fil ardhi walaa fissama-I wahuwas sami’ul ‘alim (dengan memanggil nama-nama Allah dan atas ijin-Nya, tidak akan ada satupun makhluk di bumi dan langit yang membahayakan tubuhku. Sungguh Allah Maha Mengetahui semua kejadian dan Maha Mendengar suara hatiku).  La tahzan innallaha ma’ana (jangan bersedih, Allah tiada pernah meninggalkan Anda).        

Referensi: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar  juz XII (p.61) , XVII (p.70), XXII (p.272), Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985 (2) Muhammad ‘Awwaamah, Minas Shihah Al Ahadits Al Qudsiyyah: Mi’ah Hadits Qudsi Ma’a Syarhiha (Seratus Syarah Hadis Qudsi), Noura Books, Jakarta Selatan 2013, p. 107-114 (3) As-Shabuni, Muhammad Ali, An Nubuwwah wal Anbiya’, (Kisah-Kisah Nabi dan Masalah Kenabiannya) terj. Mushlikh Shabir, Penerbit Cahaya Indah, Semarang, 1994.

REBRANDING:
MUSLIMS AS SPREADERS OF AROMA TO THE WORLD
Khutbah Idul Fitri 1437 H/2016 M delivered by:
Prof Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
(Professor of Islamic Studies at State Islamic University Sunan Ampel Surabaya-Indonesia)
Organized by:
The Embassy of the Republic of Indonesia in Bangladesh
1 Syawal 1437/ 06 July 2016

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahilhamdu.

Innalhamda lillah, nahmaduhu wanasta’inuh, wanastaghfiruhu. Wana’udzu billahi min syururi anfusina wamin sayyi-ati a’malina. Man yahdillahu fala mudlil-la lah, waman yudl-lillahu fala hadiya lahu. Asyhadu alla ilaha illahu wahadahu la syarika lah, wa-asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu warasuluh, la nabiyya ba’dah.

Allahumma shalli ‘ala sayyidina wa maulana Muhammadin wa’ala alihi washahbihi waman walah.

Amma ba’du, faya ‘ibadallah, ushikum waiyyaya bitaqwallah. Qalallahu Ta’ala: “Ya ayyuhalladzina amanu ittaqullaha haqqa tuqatih, wala tamutunna illa wa-antum muslimun.”

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

          On this occasion I would like to convey to all Muslims wherever they are: Eid Mubarak, Happy Eid, congratulations for becoming new human beings who are closer to their God and more civilized regardless of their ethnicity and religious differences. Happy Eid, welcome to a new life.

          We deserve this piety after a full month of fasting, refraining from foods, drinks, and letch during the day, then we continue to do i’tikaf, zikir, and taraweeh and witr prayers hundreds times at night. Not only that, during Ramadan we multiply to do alms giving and we end the holy month by paying zakat.

Dear happy Muslims,

In this brief sermon I would like to deliver three stories that I think represents three generations: the generation of the Prophet Muhammad SAW, the companions (sahabah) and the modern generation. These stories are not chronological in nature, but constitue the same important message that I will deliver at the end of this sermon.

First, I will tell you the story of what happened at a mosque when the Prophet Muhammad SAW was among his senior companions. All of the sudden, they were surprised by someone who entered the mosque sitting on his camel with his arms akimbo. Umar bin Khattab who sat alongside with the Prophet stood up immediately to strangle him, but the Prophet  Mohammad SAW prevented him.

Umar bin Khattab and Ali ibn Abi Talib were barely able to hold back when the Bedouin was shouting to look for the Prophet Muhammad SAW with mockery. The Prophet Muhammad SAW smiled softly and responded to the man, “I am whom you are looking for.” Bedouin Jews continued, “Oh, so you are the one who teaches the creed (shahada), prayer, charity and fasting?” “Yes,” replied the Prophet Mohammad SAW with a cool and polite face. Suddenly the Bedouin turned back his camel to go out of the mosque and said, “I am amazed by softness of the Prophet Muhammad SAW. I will convert to Islam and invite all people to follow his religion.”

Second, the story happened during the reign of Ali bin Abi Talib. When he became the head of state, he lost his favorite armor and it was in the hands of a Christian. When the trial of the armor ownership disputed, the judge called Ali, “Ya Amiral mukminin (O leader of the Muslims).” Ali objected with the call, because in his opinion, everyone should be equal before the law. Finally, the court decided that Ali was not entitled to claim the armor because he could not show any proof of the ownership.

After the trial, the Christian admitted that the armor was stolen from Ali bin Abi Talib. He converted to Islam due to his admiration of  Ali’s noble character before the law. When the armor was about to be returned voluntarily, Ali replied, “Let it be yours as a memento from me on your new religion.”

Third, this story happened to Dr. Germanus, a tourist from Hungary who was on his summer vacation in Bosnia. At night, he went out of the hotel to observe the daily life of Bosnian people. He encountered a cafe with a dim light which was not far from the hotel. When he was enjoying a warm coffee, suddenly two men, who wore traditional loose pants and a machete tucked into their wide belts, entered. He trembled when the two men staring at him with strange look. He remembered some stories of the cruelty of the Muslims toward the people who do not believe in the same religion, as he read in many books and mass media. Especially,  when he looked at these two men whispering. He thought they would kill him because he is a non-believer. He wanted to run away of the cafe, but he was completely limp.

A few minutes later, something unexpected happened. One of the men saluted and approached the tourist. The man even lit a cigarette for him with very polite sign language. After that, the tourist was invited to lunch for the next day. “This is my first encounter with a Muslim in a foreign country,” he said. He was very impressed with the man’s attitude and tenderness, until he was interested in studying Islam. At night, he was visited by the Prophet Muhammad SAW who wore a green robe with a distinctive aroma, which has never been encountered before. Then, he recited shahada (Islamic creed) and pledge to convert to Islam.

Dear respected muslims.

The three stories above give an example on how we have to interact with non-Muslims. The Prophet Mohammad SAW said:

 Auha Allahu ila Ibrahim, ya khalili, hassin khuluqaka walau ma’al kuffar, tadkhulu madakhilal abrar (Allah sent a message to Prophet Ibrahim: “God has given revelation to the Prophet Ibrahim, ”My dear beloved, show good manners even to the non-believers, you will enter the heaven with the best people”( HR. Al Hakim from Abu Hurairah r.a).

Why did I choose these three stories for the Eid sermon in Dhaka this year? Because, nowadays, Muslims have a very negative branding as ruthless believers and they even kill people who do not believe in Islam, even sometimes against their own fellow Muslims. Logically, non-Muslims would think that Muslims today have become light handed to kill their fellow Muslims only because they differ in political affiliation or thoughts, let alone to those with different religions. Atrocity against non-Muslims were also displayed only a few meters away from this place during the holy month of Ramadan. When Muslims in Bangladesh were performing i’tikaf (staying in a mosque for a certain number of days) at the mosques to glorify nights of Lailatul Qadr,  a group of seven men armed with blades, guns and bombs attacked the Holey Artisan Bakery chanting Allahu Akbar then killed 20 people from Italy, America, Japan, Bangladesh and India. The attackers claimed as member of Islamic State.

It is time to re-brand the image of Muslims as religious believers who are courteous and aroma spreaders to all of mankind, as the message of Allah to the Prophet Muhammad  SAW and all his followers, ”Wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ’alamin (and We have not sent you, [O Muhammad], except as a mercy to the worlds.” (QS. Al Anbiyak [21]: 107).

Eid is the best time to start a re-branding campaign of Muslims  to the world so that humanity look at Muslims as spreaders of love. We can start from our family, then neighborhoods and workplaces, and then to extend further to reach greater spectrum. We might not be able to see the results of these efforts, because it may take decades to rebrand the image of Muslims, but we must start now with extra efforts.

We must turn the pages of history where the spread of Islam had taken place so spectacularly in the Arabian Peninsula, Africa and Asia caused by the magnet of morals of the Prophet and his followers, not by speeches from podiums, not even by a frightening weapons. The Prophet Muhammad SAW used violence several times, but it was done in a state of war to defend against the other parties. And even it was done with very commendable ethics according to the standard of civilized human being.

We must bear in mind that human beings are becoming more educated and require extremely ethics in all aspects. If day by day the image of Muslims is not getting better, then we are the ones who will be held  responsible if the religion is abandoned in the future. Then, people will justify a thesis by one of ulama, al Islamu mahjubun bil Muslimin (Islam’s future could be bleak caused by Muslims themselves).

Allahu Akbar, we welcome the future of Islam in the spirit of Eid, the spirit of cleansing the soul. Let us work together to spread the aroma of noble character for the glory of Islam and peace amongst the world.

Minal ‘Aidin wal Faizin. Ied Mubarok. Taqbbalallahu minna waminkum. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamdu.

REBRANDING:
MUSLIM PENEBAR AROMA DUNIA
Khutbah Idul Fitri 1437 H/2016 M disampaikan oleh:
Prof Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
(Professor of Islamic Studies at State Islamic University Sunan Ampel Surabaya-Indonesia)
Diselenggarakan oleh:
Kedutaan Besar Republik Indonesia Dhaka Bangladesh
1 Syawal 1437/ 06 Juli 2016

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahilhamdu.

Innalhamda lillah, nahmaduhu wanasta’inuh, wanastaghfiruhu. Wana’udzu billahi min syururi anfusina wamin sayyi-ati a’malina. Man yahdillahu fala mudlil-la lah, waman yudl-lillahu fala hadiya lahu. Asyhadu alla ilaha illahu wahadahu la syarika lah, wa-asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu warasuluh, la nabiyya ba’dah.

Allahumma shalli ‘ala sayyidina wa maulana Muhammadin wa’ala alihi washahbihi waman walah.

Amma ba’du, faya ‘ibadallah, ushikum waiyyaya bitaqwallah. Qalallahu Ta’ala: “Ya ayyuhalladzina amanu ittaqullaha haqqa tuqatih, wala tamutunna illa wa-antum muslimun.”

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Pada kesempatan ini saya mengucapkan kepada semua muslim di manapun berada: Ied Mubarak, Selamat Idul Fitri, selamat menjadi manusia baru, manusia yang lebih akrab dengan Tuhannya dan lebih beradab kepada sesama manusia tanpa melihat perbedaan etnis dan agama. Selamat Idul Fitri, selamat menempuh hidup baru dalam keluarga yang lebih berbahagia.

Semua kesalehan itu layak kita raih setelah sebulan penuh menahan makan, minum dan nafsu birahi di siang hari, lalu kita lanjutkan i’tikaf,  zikir dan shalat taraweh dan witir ratusan rakaat di malam hari. Tidak hanya itu, selama ramadhan kita memperbanyak sedekah dan kita menutup bulan suci itu dengan membayar zakat.

Kaum muslimin yang berbahagia.

Dalam khutbah singkat ini saya akan menyampaikan tiga kisah yang saya anggap mewakili tiga generasi, yaitu generasi Rasulullah, generasi sahabat dan generasi moderen. Tiga kisah ini tidak terjadi secara kronologis, akan tetapi mengandung pesan yang sama, dan pesan penting tersebut akan saya sampaikan pada akhir khutbah ini.

Pertama, kisah yang terjadi pada zaman Rasulullah. Suatu saat, Nabi SAW duduk bersama para sahabat senior di sebuah masjid. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh seseorang yang memasuki masjid dengan berkacak pinggang di atas untanya. Umar bin Khattab yang duduk berdampingan dengan Nabi langsung berdiri hendak mencekik orang itu, tapi Nabi mencegahnya.

Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib hampir tak dapat menahan diri ketika si badui itu berteriak-teriak mencari Nabi dengan berbagai ejekan. Tapi, Nabi dengan senyum lembut menghampiri orang itu dengan mengatakan, ”Akulah yang kau cari itu.” Badui Yahudi itu melanjutkan, ”Oh, jadi engkau yang mengajarkan syahadat, shalat, zakat dan  puasa itu?” “Betul,” jawab Nabi dengan muka yang tetap sejuk dan sopan. Tiba-tiba si badui membalikkan untanya untuk keluar masjid sambil berkata, “Saya kagum atas kelembutan Nabi. Saya akan masuk Islam dan mengajak semua penduduk sekampung untuk mengikuti agamanya.”

Kedua, kisah yang terjadi pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Ketika menjadi kepala negara, baju besi kesayangannya hilang dan ternyata di tangan orang Nasrani. Ketika dalam sidang sengketa kepemilikan baju itu, hakim memanggil Ali, ”Ya amiral mukminin (wahai pemimpin umat Islam).” Ali keberatan dengan panggilan itu, sebab menurutnya, setiap orang harus sama di depan hukum. Akhirnya, pengadilan memutuskan Ali tidak berhak mengklaim baju besi sebagai miliknya karena tidak bisa menunjukkan bukti kepemilikan.

Usai sidang si Nasrani mengakui bahwa baju itu sejatinya milik Ali bin Abi Thalib. Ia menyatakan masuk Islam atas kekaguman akhlak Ali di depan hukum. Ketika baju itu hendak dikembalikan secara sukarela, Ali menjawab, ”Biarlah itu milikmu sebagai kenang-kenangan dari saya atas agamamu yang baru.”

Ketiga, peristiwa ini terjadi pada Dr. Germanus, turis dari Hongaria yang sedang berlibur musim panas di Bosnia. Pada malam hari, ia keluar hotel untuk mengetahui praktek kehidupan orang-orang Bosnia sehari-hari. Ia jumpai sebuah kafe tidak jauh dari hotel dengan lampu yang remang-remang. Ketika sedang menikmati kopi hangat, tiba-tiba dua orang masuk dengan celana adat yang longgar dan dengan golok yang diselipkan di ikat pingangnya yang lebar. Ia gemetar melihat dua orang itu memandang dirinya dengan pandangan yang aneh. Teringatlah olehnya kisah-kisah kebengisan orang-orang muslim dengan wajah serupa mereka terhadap orang-orang yang tak seagama, sebagaimana ia baca dalam banyak buku dan media massa. Apalagi ketika melihat mereka berdua berbisik. Dalam pikirannya hanya satu, ”Sebentar lagi, mereka akan menggorok saya yang kafir ini.” Ia ingin lari keluar kafe, tapi tak berdaya. Ia benar-benar lemas.

Beberapa menit kemudian, sesuatu di luar dugaan terjadi. Salah seorang mereka memberi salam dan menghampirinya. Ia bahkan menyulutkan rokok untuknya dengan bahasa isyarat yang amat sopan. Setelah itu, ia mengundang makan siang di rumah untuk esok harinya. ”Inilah perjumpaan saya pertama kali dengan muslim di negara asing,” katanya. Ia sangat terkesan dengan tutur kata dan kelembutan sikapnya, sampai ia berminat mempelajari Islam. Pada malam harinya, ia didatangi Nabi SAW dengan jubah hijau dengan aroma yang khas, yang belum pernah dijumpai sebelumnya. Ia lalu benar-benar bersyahadat untuk ikrar masuk Islam.

 

Para jamaah yang saya hormati.

Tiga kisah di atas memberi tauladan bagaimana kita harus bergaul dengan orang-orang non-Islam. Nabi SAW mengatakan:

Auhallahu Ta’ala ila Ibrahim, ya khalili, hassin khuluqaka walau ma’al kuffar tadkhulu madakhilal akbar/ Allah SWT pernah  berpesan kepada Nabi Ibrahim a.s: “Allah telah memberi wahyu kepada Nabi Ibrahim, “Hai kekasih-Ku, tunjukkan budi pekerti yang baik walaupun terhadap orang kafir, engkau akan masuk surga bersama orang-orang yang terbaik” (HR. Al Hakim dari Abu Hurairah r.a).

Mengapa saya memilih tiga kisah di atas dalam khutbah idul fitri di Dhaka tahun ini? Sebab branding umat Islam saat ini amat negatif, yaitu penganut agama yang bengis dan tega membunuh orang yang tidak seagama dengan cara-cara yang keji, bahkan terkadang terhadap sesama muslim. Orang-orang di luar Islam berlogika, orang-orang muslim ringan tangan untuk menghabisi nyawa sesama muslim hanya karena perbedaan aliran politik atau pemikiran, maka apalagi terhadap orang-orang yang berbeda agama. Kekejian terhadap non-muslim itu juga diperlihatkan hanya beberapa meter dari tempat shalat ini pada bulan suci, ketika ketika umat Islam Bangladesh sedang beri’tikaf dengan khusyuk di semua masjid untuk mengagungkan malam-malam lailatul qadar. Tujuh orang yang mengatasnamakan ISIS menyandera pengunjung Restorant Holey Artisan Bakery dan dengan bertakbir menyembelih 20 orang berkebangsaan Italy, Amerika, Jepang, Bangladesh dan India.

Saatnya kita membangun rebranding umat Islam sebagai penganut agama yang santun dan penebar aroma di tengah umat manusia, sebagaimana pesan Allah kepada Nabi SAW dan semua umatnya, ”Wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ’alamin /Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan untuk menebar kasih kepada penghuni alam semesta” (QS. Al Anbiyak [21]: 107).

Idul Fitri adalah saat yang paling tepat untuk start kampanye dunia untuk rebranding muslim sebagai penebar kasih. Kita mulai dari lingkungan keluarga sendiri, lalu lingkungan tetangga dan tempat kerja, lalu ke tingkat yang lebih luas lagi. Biarlah kita tidak bisa menyaksikan hasil usaha ini, sebab diperlukan puluhan tahun untuk rebranding citra umat, tapi kita harus memulainya sekarang dengan ekstra keringat.

Kita harus membuka lembaran sejarah, bahwa penyebaran Islam yang begitu spektakuler di semanjung Arab, Afrika dan Asia lebih banyak disebabkan oleh daya tarik akhlak Nabi SAW dan umat Islam, bukan oleh pidato-pidato  mereka di mimbar-mimbar, apalagi oleh senjata yang menakutkan. Nabi SAW memang beberapa kali menggunakan kekerasan, tapi itu dilakukan dalam keadaan perang karena terpaksa mempertahankan diri dari serangan pihak lain. Itupun dilakukan dengan etika yang sangat terpuji menurut ukuran manusia beradab.

Kita harus sadar bahwa umat manusia semakin hari semakin terpelajar dan menuntut etika terpuji dalam segala hal. Jika semakin hari citra umat Islam tidak semakin baik, maka kitalah yang bertanggung jawab jika agama ini ditinggalkan orang di kemudian hari. Lalu, orang membenarkan sebuah tesis seorang ulama, al Islamu mahjubun bil muslimin (masa depan Islam bisa suram karena ulah muslim sendiri).

Allahu Akbar, kita songsong masa depan Islam dengan spirit idul fitri, semangat penyucian jiwa. Kita tebar aroma akhlak mulia demi kejayaan Islam dan kedamaian dunia.

Minal ‘Aidin wal Faizin. Ied Mubarok. Taqbbalallahu minna waminkum. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamdu.