Header

MUTIARA DALAM LUMURAN DARAH

October 26th, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

MUTIARA DALAM LUMURAN DARAH
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah [2]:216)

                 Pada ayat sebelumnya, Allah menjelaskan kepada Nabi SAW bahwa orang-orang shaleh terdahulu tiada sepi dari cobaan yang menyangkut kesehatan, ekonomi dan cobaan-cobaan berat lain sampai menggoncang jiwa mereka seperti gempa yang menggoncang bumi (wazulzilu). Jika Anda muslim shaleh, Anda juga harus bersiap menghadapi cobaan yang sama. Jangan terkejut dan jangan mengeluh.

                 Ayat yang dikutip di atas merupakan kelanjutan ayat sebelumnya, bahwa di samping cobaan-cobaan yang telah disebutkan, masih ada cobaan lain, yaitu perang. Semua orang normal tidak menyukai perang: biaya besar, korban jiwa yang tak terhitung dan rasa damai yang hilang. Tapi, jika musuh sudah melecehkan kehormatan dan kedaulatan negara, Anda harus angkat senjata sekalipun Anda sama sekali tidak menyukainya. Allah SWT memberitahu Anda untuk selalu bersiap menjumpai hal-hal yang sama sekali tidak Anda sukai. Pada saat itulah, Anda harus berfikir positif dengan merenungkan firman Allah, “..boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu..”

                 Untuk memudahkan Anda memahami ayat ini, saya ilustrasikan sebuah peristiwa yang dialami kuli bangunan yang terdampar di sebuah terminal bus tanpa bekal satu rupiahpun. Pemuda asal Magetan Jawa Timur yang bekerja di Surabaya itu harus segera pulang karena ibunya sakit kritis di kampung. Ia membawa uang hanya cukup untuk tiket bus karena ia akan dijemput adiknya di terminal terakhir. Sialnya, ketika bus berhenti di terminal Mojokerto, ia pergi ke toilet, dan saat itulah ia ditinggalkan bus. Di mushalla tempat ia istirahat, ia mengadu kepada Allah, “Wahai Allah, saya sudah tidak memiliki uang sepeserpun. Bagaimana saya melanjutkan perjalanan pulang? Tidakkah tujuan saya ini mulia: menjenguk ibu saya yang kritis?” Berkali-kali ia mengajukan protes kepada Allah, “Mengapa Engkau tidak memberi kemudahan hamba-Mu yang sedang berbakti kepada orang tua ini?”

                 Pagi hari setelah bangun tidur di mushalla kecil itu, ia mendengar suara penjual koran, “Koran, koran. Kecelakaan maut, kecelakaan maut. Bus Brahma.” Ternyata bus itulah yang meninggalkannya di terminal sehari sebelumnya. Ia langsung bersujud syukur sambil mengatakan, “Wahai Allah, luar biasa skenario-Mu untuk menyelamatkan saya. Luar biasa kasih-Mu. Andaikan saya tidak tertinggal di terminal, tentu saya sudah mati dan tidak bisa menjenguk ibu selamanya.”

                 Kasus serupa terjadi pada diri saya sendiri. Pada tahun 2000, sepulang dari Afrika, tiba-tiba suara saya hilang dan berlangsung selama enam bulan. Saya sedih, tidak bisa mengajar dan berceramah seperti sebelumnya. Beberapa tahun kemudian, cobaan kedua datang. Nyaris saya tidak bisa rukuk dan sujud dengan sempurna karena penyakit punggung dan lutut. Saya harus rukuk dengan perlahan menahan sakit dan lebih lama. Sejak itu saya “terpaksa” rukuk dan sujud lebih lama dan lebih tenang, tidak tergesa-gesa, dan berusaha memahami makna doa di dalamnya. Dari situlah, saya memperoleh inspirasi menulis buku tentang kedahsyatan rukuk dan sujud, dan pada tahun 2012 terbitlah buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia. Andai tidak ada cobaan itu, tidak akan ada buku tersebut. Ternyata, pada semua kejadian yang tidak saya sukai tersimpan rahasia Ilahi yang baru dibuka-Nya di kemudian hari. Sekali lagi renungkan firman Allah, “Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu..”

                 Untuk Anda yang masih meragukan firman Allah di atas, saya tambahkan satu kisah lagi. Seorang anggotaTNI Angkatan Laut tiba-tiba mendapat surat pemecatan karena terbukti salah satu keluarganya tokoh PKI. Berbulan-bulan ia merasakan derita psikis dan ekonomis karena tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menyelematkan masa depan anak-anaknya yang masih kecil. Setahun kemudian ia diterima di perusahaan pelayaran dan beberapa tahun sesudahnya ia mendapat gaji perbulan sama dengan gaji TNI selama dua tahun. Tiada henti ia bersyukur, “Terima kasih oh Allah atas peristiwa pemecatan saya sekian tahun yang lalu.”

                 Dalam hidup selalu ada siang dan malam. Artinya, tidak selamanya seseorang dalam kegelapan malam, sebab esok hanya ia menyaksikan matahari terbit di ufuk timur. Tidak selamanya Anda dalam penderitaan. Pada waktu yang lain, Anda pasti mengalamai hal yang menyenangkan. Pada saat demikian, Anda harus berhati-hati, sebab Allah memberitahu Anda, ”… dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu..”. Anda mungkin pernah mendengar kisah berikut ini. Seorang pejabat mengadakan pesta besar-besaran dengan aneka makanan rakyat, sebagai tanda kegembiraan atas terpilihnya sebagai bupati, mengalahkan pesaingnya dengan selisih suara yang tipis. Baru setahun memimpin kabupaten, ia tertangkap tangan oleh KPK dan masuk bui karena kasus korupsi.

                 Ada lagi kisah lain yang serupa. Seorang janda bertahun-tahun menabung untuk membelikan motor untuk anak tunggalnya. Seusai shalat subuh, sang anak mencoba motornya di jalan raya. Di pagi buta itulah sang anak menghembuskan nafas terakhir, karena sebuah truk pengangkut sayur dari pasar induk melaju dengan kecepatan tinggi menabraknya.

                 Allah SWT menyudahi firman-Nya, “Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Artinya, Anda hanya bisa mengetahui bungkus sebuah peristiwa sedang Allah-lah Yang Maha Tahu isinya. Anda hanya bisa melihat kulit dan tidak mengetahui di baliknya. Anda hanya bisa mengetahui kekinian dan tidak akan tahu apa yang terjadi kemudian.

                 Ternyata, pada buah apel segar di tangan Anda, terdapat ulat di dalamnya yang mematikan Anda. Di tengah kegembiraan terkadang tersimpan sebuah malapetaka. Maka bergembiralah secara wajar-wajar saja, jangan berlebihan. Bahkan, tetap waspadalah di tengah kegembiraaan itu. Sebaliknya, di tengah genangan air mata dan darah, kadang terdapat mutiara indah yang baru Anda temukan di kemudian hari. Maka tetap bersiullah di tengah badai derita kehidupan. Semoga Anda segera menemukan mutiara itu.

HIDUP BIASA DENGAN IBADAH EKSTRA

September 23rd, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

HIDUP BIASA DENGAN IBADAH EKSTRA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

karikatur

sumber gambar: http://aldoputra.files.wordpress.com/2011/03/karikatur.jpg

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan semua yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah yang halal dan baik dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al Ma-idah [5]:87-88)

Pada saat ayat ini turun, banyak tempat ibadah khusus (biara) yang dibangun oleh rahib Kristen, bahkan di tengah padang pasir atau di gua-gua pegunungan. Mereka tidak kawin selamanya dan memakai pakaian dari bulu domba seperti yang dipakai Nabi Yahya a.s. Satu di antara mereka adalah Rahib Buhaira. Inilah rahib yang dijumpai Muhammad kecil (12 tahun) ketika diajak pamannya, Abu Thalib melakukan perjalanan ke Syiria. Dialah yang menyatakan adanya tanda-tanda kenabian di wajah Muhammad kecil jauh sebelum diangkat menjadi Nabi.

Beberapa sahabat Nabi amat tertarik dengan cara hidup para rahib yang nampak suci, dekat dengan Tuhan dan bahagia, karena tidak lagi terganggu oleh nafsu duniawi. Para sahabat senior seperti Usman bin Madh’un, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Miqdad bin Aswad dan Salim Maula Abu Hudzaifah bersepakat untuk tidak mengonsumsi makanan yang enak dan berjanji menghabiskan malam hanya untuk beribadah serta tidak akan berhubungan dengan istri.

Beberapa sahabat yang lain mengikuti jejak sahabat seniornya. Inilah antara lain sumpah mereka: “Saya tidak akan makan daging, sebab membuat saya semakin bernafsu kepada wanita.” “Saya tinggalkan kasur yang empuk, dan memilih alas tidur yang tipis, agar tidak hanyut dalam kenikmatan tidur.” “Saya jauhi wewangian dan pakaian yang indah, sebab aku lebih suka keharuman akhirat dan pakaian kebesaran surga.”

Nabi SAW pernah bertanya kepada sahabatnya, Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash yang menjalani dunia kerahiban. “Apa benar, menurut kata orang, engkau berpuasa setiap hari dan shalat sepanjang malam?” “Benar, wahai Nabi,” jawabnya. Nabi SAW lalu bersabda, “Jangan kau lakukan itu. Puasalah dan berbukalah (pada hari yang lain), shalatlah di tengah malam dan tidurlah. Sungguh, tubuhmu mempunyai hak yang harus engkau penuhi, demikian juga matamu. Istrimu mempunyai hak yang wajib engkau penuhi, demikian juga para peziarah (tamu) yang datang kepadamu. Engkau cukup berpuasa tiga hari setiap bulan, sebab setiap kebajikan dilipatkan pahalanya, dan itu berarti sama dengan puasa setahun. Abdullah menjawab, “Saya yakin, saya kuat.” Nabi melanjutkan sabdanya, “Berpuasalah seperti puasa Nabi Daud, jangan lebih!” “Bagaimana cara puasa Daud?,” tanya Abdullah. Nabi SAW menjawab, “Puasa setengah tahun (sehari puasa dan sehari tidak).” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Al Nasa-i)

Sahabat senior lainnya, Abu Darda’ yang dipersaudarakan oleh Nabi dengan Salman Al Farisi sewaktu hijrah di Madinah juga menyukai hidup dengan menjauhi kenikmatan duniawi. Suatu saat, Salman bertamu ke rumah Abu Darda’. Ia iba melihat melihat istri Abu Darda’ yang kusut dan muram. Di meja makan, Salman berkata, “Saya tidak akan makan jika tidak kau temani.” Maka Abu Darda’ terpaksa membatalkan puasa sunatnya. Menjelang tidur, Abu Darda’ terus saja melanjutkan shalatnya. Maka Salman mengajak tidur. Setelah tidur sebentar, ia bangun lagi untuk shalat. Lalu Salman berkata lagi, “Mari tidur dulu.” Pada ujung malam, barulah Salman mengajak Abu Darda’ shalat malam. Setelah shalat, Salman menasehatinya, “Tuhanmu mempunyai hak yang harus kau penuhi. Demikian juga hak istrimu. Maka lakukan semua kewajibanmu untuk semua pemilik hak itu.” Esok harinya, mereka berdua menghadap Nabi SAW untuk menceritakan apa yang terjadi, lalu Nabi bersabda, “Salman benar.”

Usman bin Madh’un, sahabat yang pertama kali menghentikan minuman keras ketika mendengar Nabi SAW melarangnya dan amat terkenal kesalehannya menghadap Nabi bersama beberapa sahabat dengan membawa sebilah belati. Mereka meminta ijin kepada Nabi untuk mengebiri diri mereka, sebab hasrat biologis kepada wanita selalu mengganggu ibadah dan semangat perjuangan. Pada masa itu, mengebiri selalu dengan memotong kemaluan. Berbeda dengan sekarang, cukup dengan “suntik kebiri” atau chemical castration untuk mengurangi hormon atau libidonya yang tinggi. Nabi terdiam, tidak memberi jawaban. Ketika itulah, Malaikat Jibril datang membawa ayat sebagaimana dikutip di atas.

Mendengar obrolan mereka, Nabi SAW lalu menjelaskan kesehariannya sekaligus memberi peringatan, “Orang-orang berbicara ini dan itu. Ketahuilah, aku shalat dan aku juga tidur, aku berpuasa (pada hari tertentu) dan tidak berpuasa (pada hari lain). Aku juga menikahi wanita. Siapapun yang tidak suka dengan cara hidupku, maka ia bukan pengikutku.” (HR Muslim).

Sejak itu Usman bin Madh’un merubah pola hidupnya, termasuk kepada istrinya. Tidak lama setelah itu, Haula, sang isteri datang kepada Aisyah dengan pakaian rapi dan wajah berseri karena telah mendapatkan kepuasan nafkah batin dari suaminya. Sebelumnya, ia bermuka kusut dengan rambut acak-acakan. Para isteri Nabi sampai tertawa mendengar kepolosan cerita Haula.

Banyak hal yang dihalalkan Allah: daging hewan, ikan, buah, sayur-sayuran, pakaian yang bagus, bersetubuh dengan isteri. Mengapa semua itu tidak dinikmati hanya karena dianggap menghalagi kedekatan dengan Allah? Islam menolak konsep hidup “sengsara” demi mencapai “nirwana.”

Orang yang anti daging dan makanan bergizi, lalu fisiknya lemah dan tidak bisa melakukan kewajibannya sebagai suami atau kepala rumah tangga tentu bukan muslim yang baik. Layakkah Anda disebut pengikut Nabi, jika Anda meninggalkan tugas-tugas rumah tangga dan hanya fokus berdzikir sepanjang hari sampai anak-anak dan rumah tangga berantakan?

Untuk menikmati semua yang halal di atas, Allah menetapkan pedoman seleksinya, yaitu halal (halal), baik (thayyib) dan proporsional (wala ta’tadu). Daging sapi, buah, sayur dan sebagainya halal, tapi jangan dimakan jika dokter melarangnya, atau daging itu hasil korupsi. Jika halal dan baik untuk tubuh, silakan dikonsumsi, tapi makanlah sesuai dengan porsi yang benar menurut dokter, jangan berlebih, apalagi untuk menunjukkan kemewahan dan kesombongan satus sosial. Silakan bersetubuh dengan isteri, sebab itu kewajiban yang mendatangkan pahala, tapi lakukan secara proporsional.

Tiupkan semangat beragama pada diri Anda, tapi jangan tinggalkan tugas dan kenikmatan dunia. Jika orang-orang shaleh seperti Anda “bertapa” di masjid dan menjauhi kehidupan riil dalam dunia politik, perdagangan, dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya, lalu orang-orang yang tidak beragama atau tidak bermoral menjadi pimpinan dalam semua lini kehidupan, siapakah yang disalahkan?

Sebagai hamba Allah, tidak dibenarkan satu menitpun Anda lewatkan tanpa ibadah, tapi artikan ibadah dalam arti yang seluas-luasnya. Anda wajib beribadah secara ekstra, tapi tetap hiduplah sebagai manusia biasa: sebagai individu, kepala keluarga dan warga masyarakat dan negara. Panggilan ibadah tidak hanya adzan untuk shalat, tapi juga panggilan kemanusiaan dan kepemimpinan (khalifah) di panggung dunia. Semua lini kehidupan itu bisa Anda jadikan sajadah untuk investasi pahala.

PENEGAKAN KEADILAN

August 22nd, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

PENEGAKAN KEADILAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

timbangan keadilan“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil, dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sekelompok orang, mendorong kalian bertindak secara tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Ma-idah [5]:8)

Perintah menegakkan keadilan pada firman Allah di atas didahului ayat-ayat tentang dua perintah, yaitu perintah berakhlak yang baik terhadap semua penerima kitab suci (ahlul kitab) dan perintah shalat. Hal ini berarti bahwa shalat diharapkan membentuk manusia yang memiliki komitmen keadilan dan keberanian menegakkan keadilan dengan segala resikonya. Ayat di atas juga menegaskan bahwa penegakan keadilan harus obyektif, apa adanya berdasar fakta, bukan berdasar suka atau tidak suka. Hubungan keluarga atau keakraban dengan siapapun tidak boleh mempengaruhi sedikitpun penegakan keadilan.

Ayat di atas menjadi penguat firman Allah pada surat sebelumnya, yaitu QS. An Nisa’ [4]:135, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia (tergugat atau terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu yang terbaik baginya. Maka janganlah kalian ikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sungguh, Allah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”

Jika suatu saat Anda mendapat tugas sebagai hakim atau saksi untuk suatu perkara di pengadilan atau di luar pengadilan resmi, berkatalah sejujur-jujurnya. Janganlah kedekatan Anda dengan mereka yang berperkara mempengaruhi kejujuran Anda. Bisa jadi mereka adalah ibu, bapak, anak atau teman akrab Anda sendiri. Sebagai saksi, berkatalah yang sebenarnya, sekalipun itu akan beresiko pada diri Anda sendiri, antara lain perubahan status hukum Anda: semula sebagai saksi, lalu dalam proses selanjutnya dinaikkan menjadi tersangka. Kebencian atau kecintaan Anda kepada mereka, tidak boleh mengurangi sedikitpun kejujuran kesaksian. Abaikan mereka kawan atau lawan. Jangan berbohong untuk membela yang kaya karena kekayaannya, atau membela yang miskin karena kasihan atas kemiskinannya.

Sekali lagi, hindari kebohongan dan kepalsuan, dan tegakkan keadilan. Biarpun kejujuran itu mengantar ibu atau anak kesayangan Anda ke tiang gantungan, tidak bisa tidak, Anda harus tetap memegang teguh kejujuran. Apalagi kebohongan yang berlapis-lapis untuk membela keselamatan atau nama baik golongan atau partai. Jangan nodai keadilan, karena ia adalah ruh Islam. Anda harus berdarah-darah melawan hawa nafsu kebohongan, karena semangat itulah yang mencerminkan identitas Anda sebagai manusia yang shaleh. Allah SWT berfirman, “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” Perintah keadilan itu seringkali hanya Anda teriakkan ketika Anda sedang pada pihak yang lemah, dan diam sejuta bahasa, ketika Anda pihak yang diuntungkan dengan ketidakadilan. Jika demikian, sama sekali Anda tidak pantas mengaku sebagai muslim.

Cobalah Anda cermati bagaimana keadilan itu ditegakkan oleh Nabi SAW, sekalipun itu mencoreng nama baiknya di depan publik, dan beresiko keselamatan jiwanya. Berikut ini kisah yang disampaikan oleh Abdullah bin Abbas r.a. Menjelang wafat, Nabi SAW meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan di Masjid Madinah. Nabi masuk masjid, shalat dua rakaat dan langsung naik mimbar. Di depan kaum muslimin di masjid itu, ia berpidato cukup panjang. Itulah pidato yang menggetarkan hati semua pendengar dan memeras air mata mereka yang menyaksikannya. “Saudara-saudara, aku adalah nabi utusan Allah, pembawa kebenaran untuk kalian. Kedudukanku di tengah-tengah kalian bagaikan bapak dengan anaknya atau kakak dengan adiknya. Jika ada di antara saudara-saudara merasa saya perlakukan secara dhalim selama kepemimpinan saya, silakan maju sekarang untuk melakukan pembalasan sebelum aku diadili di akhirat nanti.” Kata yang terakhir itu diulang berkali-kali. Semua sahabat diam termangu. Beberapa sahabat menangis terisak-isak karena haru, betapa pemimpin agung yang sudah berkorban segala-galanya dan sedang sakit tetap bersemangat menegakkan keadilan.

Tiba-tiba, berdirilah seorang yang bernama ‘Akasyah bin Muhsin dengan suara yang memecah kesunyian, “Akulah yang akan meminta keadilan dari tuan.” Para sahabat seperti tersambar petir. Suara tangis bersahutan dengan suara tangis dinding masjid yang menjadi saksi atas peristiwa itu. Nabi SAW lalu mempersilakan ‘Akasyah untuk menyampaikan tuntutan. “Kedhaliman tuan terjadi dalam persiapan perang Badar. Untaku persis di samping unta tuan. Ketika tuan mengangkat tongkat penyebat, tongkat itu mengenai punggungku. Aku tidak tahu itu sengaja atau tidak.”

Nabi SAW lalu memangggil Bilal untuk berangkat ke rumah Fatimah, putrinya. “Ambilkan tongkat yang dimaksud ‘Akasyah itu.” Dalam perjalanan kembali dari rumah Fatimah, Bilal menarik nafas panjang, memikirkan apa yang akan terjadi setelah tongkat ini di tangan ‘Akasyah. Fatimah juga heran bercampur sedih mengapa ada orang yang tega melakukan pembalasan kepada ayahandanya. Abu Bakar, Umar dan Ali secara bergantian berdiri memohon ‘Akasyah agar melakukan pembalasan kepada mereka sebagai ganti pembalasan kepada Nabi. Nabi SAW menolak tawaran itu dengan mengatakan, “Allah Maha Mengetahui kebaikan kalian.” Nabi tetap mempersilakan ‘Akasyah untuk melakukan pembalasan segera.

Sebelum melakukan pembalasan, ‘Akasyah meminta Nabi untuk benar-benar menegakkan keadilan seadil-adilnya. Setelah tongkat yang asli di tangannya, ‘Akasyah memohon agar Nabi melepas bajunya, karena sewaktu terjadi pemukulan pada dirinya waktu itu, ia sedang tidak berbaju. Nabi SAW pun menuruti perintahnya, bahkan ia kemudian menelungkup. Suara tangisan para sahabat semakin merata di semua sudut masjid.

Sebuah drama besar terjadi. ‘Akasyah ternyata membuang tongkat dari tangannya. Justru ia memeluk Nabi SAW dan menempelkan tubuhnya sambil berkata, “Wahai Nabi, aku korbankan jiwa ragaku demi tuan. Hati siapa yang tega melakukan qishah (pembalasan) pada tuan. Aku hanya ingin kulitku yang bersentuhan dengan kulitmu terselamatkan dari api neraka.” Para sahabat serentak lega dan tersenyum melihat adegan itu. Nabi SAW lalu memuji ‘Akasyah di depan kaum muslimin, “Jika kalian semua ingin melihat wajah calon penghuni surga, lihatlah orang ini.”

  Begitulah semangat penegakan keadilan yang dilakukan oleh Nabi. Tentu Anda masih ingat janji keadilan Nabi, “Andaikan anakku, Fatimah mencuri, akulah yang akan memotong tangannya.” Sudahkah Anda resapi wasiat Allah dan Rasulullah SAW ini? Saya yakin jawaban Anda: ya. Pernahkah Anda berbohong untuk keselamatan pribadi atau keluarga atau kelompok? Saya yakin jawaban Anda: tidak. Jika ya, Anda harus bertobat sebab telah mengkhianati semangat keadilan yang telah diwariskan oleh Nabi SAW, dan Anda telah menanam benih kehancuran masa depan manusia. Wallahu ‘alamu bisshawab.