Header

SOUND HEALING, SEMBUHKAN DENGAN AL QUR’AN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: https://novabio16.files.wordpress.com/2009/11/earlrg.jpg

sumber gambar: https://novabio16.files.wordpress.com/2009/11/earlrg.jpg

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al Isra’ [17]:82)

Kajian ayat di atas dipilih setelah terinspirasi Prof. Dr. Amin Syukur, MA, penulis buku Sufi Healing yang bertemu dalam satu meja ujian promosi doktor sebulan yang lalu. Buku yang dia tulis itu menceritakan peristiwa ajaib 10 tahun silam ketika tim dokter yang mengoperasinya memperkirakan usianya tinggal 15 bulan lagi. Ia terkena kanker nasopharynk, bicaranya gagap, dan anggota badan bagian kanannya lumpuh. Sejak itu, ia tiada henti membaca Al Qur’an dan berdzikir. Beberapa bulan kemudian, ia sembuh bahkan lebih sehat daripada sebelumnya, dan sampai sekarang masih aktif memberi kuliah di beberapa perguruan tinggi.

                Guru Besar di UIN Walisongo itu berobat ke dokter mengikuti perintah Nabi SAW yang tersebut pada hadis berikut. Usamah bin Syarik r.a bercerita, “Saya mendatangi nabi SAW dan para sahabat di sekitarnya menunduk seolah-olah ada burung di atas kepalanya. Saya mengucapkan salam lalu duduk. Tiba-tiba datanglah orang Arab pedesaan dan bertanya, “Haruskah kami berobat?” Nabi menjawab, “ya.” Lalu ia bersabda, “Berobatlah kalian sebab Allah tidak menurunkan penyakit melainkan menyertakan obat untuknya, kecuali penyakit yang satu ini yaitu penuaan” (HR. Ahmad). Dalam hadits yang lain, Nabi SAW juga menegaskan penyakit hanya bisa diketahui oleh orang yang ahli sesuai dengan bidangnya.

                Peristiwa Amin Syukur adalah bukti kebenaran firman Allah yang dikutip pada awal tulisan ini bahwa Al Qur’an berfungsi sebagai obat dan rahmat untuk semua orang mukmin. Bukan ayat-ayat yang direndam dalam air dan diminum, tapi yang dibaca dengan lagu yang merdu sampai menimbulkan rasa gembira dan optimisme kesembuhan.

                Kate dan Richard Mucci melaporkan hasil penelitian dalam bukunya, The Healing Sound of Music (2002). Eksperimen dilakukan dengan meminta sejumlah penderita kanker ganas untuk menikmati musik harpa yang dimainkannya. Para dokter terkejut, ternyata beberapa bulan berikutnya mereka sembuh. Menurutnya, akan lebih dahsyat lagi pengaruh musik jika yang memainkannya adalah mereka sendiri. Musik bisa merangsang aktivasi otak dan menimbulkan rasa senang, dan rasa senang inilah yang mempercepat penyembuhan. Menurut Deepak Chopra, “Pikiran bahagia membentuk molekul bahagia, dan pikiran tegang membuka pintu masuknya banyak penyakit termasuk kanker.” Amin Syukur membuktikan dzikir dengan nyaring dapat menenangkan jiwa sekaligus merangsang aktivasi otak melalui indera telinga, apalagi jika disertai dengan pengaturan pernafasan dan visualisasi. Inilah yang disebut sound healing atau al ‘ilaj bis shawt atau penyembuhan melalui suara.

                Peneliti di Mesir juga melakukan lima tahap ekperimen terhadap 210 non-muslim sebagai sukarelawan. Dari riset itu ia menyimpulkan bacaan Al Qur’an dapat menurunkan ketegangan pikiran sampai 65 persen sekaligus menguatkan kekebalan tubuh sehingga terhindar dari beberapa penyakit yang lama ataupun baru.

                Alfred Tomatis, musisi dan dokter asal Prancis mengatakan, pendengaran adalah indera paling penting, sebab ia panglima yang mengatur semua sistem syaraf. Telinga bagian dalam berhubungan dengan jantung, paru-paru, hati dan usus. Frekwensi suara dapat memengaruhi semua organ tubuh. Fabien (1974) menambahkan, suara dapat memengaruhi sel-sel termasuk sel kanker. Suara paling dahsyat pengaruhnya adalah suara dirinya sendiri. Suara memiliki pengaruh terhadap sel-sel dalam tubuh termasuk sel-sel darah, bahkan bisa meledakkan sel kanker dan dalam waktu yang sama mengaktifkan sel-sel dengan baik.

                Menurut teori PNI (Psiko-Neuro-Endokrin-Imunologi), hati yang tenang akan menyebabkan kelenjar mengeluarkan hormon indokrin yang menguatkan imunitas dan kesehatan fisik. Dengan demikian, sel-sel radikal (kanker) akan terhenti dan hilang. Sebaliknya, jika hati seseorang gelisah dan marah maka cairan tubuhnya akan berubah menjadi racun dan imunitas tubuhnya menurun sehingga mudah terserang penyakit.

                Abd al Daim Al Kahiil dalam bukunya, Al Qur’an, The Healing Book mengatakan, semua suara termasuk bacaan Al Qur’an merupakan gelombang yang menyebar ke udara. Getaran frekwensi di udara tersebut lalu menggetarkan gendang telinga, lalu ke saraf pendengaran dan kemudian berubah menjadi gelombang electromagnetic yang diterima otak. Otak selanjutnya melakukan analisis dan memberi perintah ke seluruh tubuh.

                Adz Dzahaby dalam At Thibbun Nabawy mengatakan, “Menyanyi adalah denyut kesenangan yang menguatkan emosi, memperlambat penuaan dan mengusir penyakit.” Bacaan Al Qur’an yang merdu oleh imam shalat dapat menggerakkan gelombang electromagnetic yang menggetarkan kulit dan menenangkan hati makmum dan semua pendengarnya (QS. Al Zumar [39]: 23). Suara kalam ilahi itu juga dapat menggetarkan gunung dan bumi (QS. Al Ra’d [13]:31).

                Jika musik tanpa energi ilahiah bisa memberikan penyembuhan, maka ayat-ayat Al Qur’an pasti lebih dahsyat pengaruhnya, sebab setiap huruf yang masuk ke dalam telinga mengandung minimal sepuluh energi positif. Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab suci Allah, maka dia mendapat satu kebaikan, dan satu kebaikan berlipat sepuluh. Aku tidak menghitung alif lam mim satu huruf, melainkan alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf” (HR. At Tirmidzi).

                Mulai sekarang, jangan lewatkan satu haripun rumah Anda tanpa suara Al Qur’an. Keraskan bacaan Anda dengan irama dan alunan yang membuat hati Anda berbunga-bunga, penuh suka cita. Semoga Anda juga secara bertahap memahami kandungan maknanya. Dari sound healing therapy inilah kita bisa mengerti mengapa Nabi SAW memerintahkan Anda melagukan Al Qur’an, “Bukanlah pengikutku orang yang tidak melagukan Al Qur’an” ( HR. Al Bukhari dari Abu Hurairah r.a). Selamat menyambut kesehatan, ketenangan hati dan limpahan rahmat Allah melalui lagu-lagu Al Qur’an.

Referensi: Prof. Dr. HM. Amin Syukur, MA, Sufi Healing, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2012 p. 87; Dr. H. Achmad Zuhdi DH, M.Fil, Terapi Qur’ani, Tinjauan Al Qur’an Al Hadits dan Sains Modern, Penerbit Imtiyaz, Surabaya, 2015 p. 285; Dr. H. Harjani Hefni, MA, The Seven Islamic Daily Habits, Pustaka Ikadi, Jakarta, Cet VI, 2013 p. 197.

SENYUM PEJALAN SENYUM TUHAN

December 30th, 2015 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

SENYUM PEJALAN SENYUM TUHAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Abdul Syukur alias Pak Tuwek sedang menambal jalan (13/5). Foto: WS Hendro/Jawa Pos

Abdul Syukur alias Pak Tuwek sedang menambal jalan (13/5). Foto: WS Hendro/Jawa Pos

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imran [03]:104)

Pada ayat-ayat sebelumnya dijelaskan bahwa Allah telah menyelamatkan umat Islam yang hampir saja jatuh dalam neraka atau kehancuran dan penderitaan. Sebagai kelanjutan, ayat ini menjelaskan keharusan adanya sekelompok orang yang peduli moralitas lingkungan dengan melakukan amar makruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan menghentikan yang dosa) agar generasi sekarang dan selanjutnya selamat dari bencana yang sama.

Pada ayat di atas terdapat dua kata yang hampir sama maknanya, yaitu al khair (kebaikan yang bersumber dari Al Qur’an) dan al makruf (kebaikan yang bersumber dari kesepakatan komunitas setempat). Ada perbedaan cara pemasyarakatan antara dua kebaikan itu. Allah SWT memerintah kita untuk “mengajak” (yad’uuna) kepada kebaikan (al khair) yaitu nilai-nilai asasi yang bersumber dari Al Qur’an. Ini berarti bahwa untuk memasyarakatkan nilai-nilai Al Qur’an, Anda hanya diperintah untuk “mengajak”, tanpa sedikitpun unsur pemaksaan atau ancaman. Sedangkan untuk penegakan nilai-nilai yang bersumber dari kesepakatan bersama baik yang positif (al makruf) maupun penghentian yang negatif (al munkar), maka pihak pemegang kekuasaan bisa melakukan “perintah” (ya’muruna) bahkan pemaksaan berdasar undang-undang. Juga bisa dilakukan oleh setiap muslim dengan apapun bentuk kekuasaan di tangannya. Oleh sebab itu, setiap muslim harus berusaha menciptakan opini publik tentang nilai kebaikan, sehingga jika suatu saat terjadi pelanggaran nilai-nilai tersebut, semua orang bahu-membahu menghentikannya dan Anda sebagai penganjur kebaikan mendapat dukungan publik secara luas.

Saya yakin Anda penasaran di mana letak keterkaitan ayat ini dengan judul tulisan di atas? Begini, ayat ini berbicara tentang perintah menebar kebaikan dan menghentikan apa saja yang dilarang agama, apalagi yang menimbulkan malapetaka manusia. Dalam Islam, tindakan tersebut disebut amar makruf nahi munkar. Ternyata, menurut Nabi SAW, amar makruf nahi munkar tidak hanya didengungkan di tempat-tempat ibadah dan acara-acara keagamaan melalui ceramah-ceramah agama, tapi juga dilakukan di jalan raya. Sebab kelancaran, kenyamanan dan keamanan di jalan raya menentukan keselamatan jiwa, kegiatan ekonomi, kelancaran silaturahim dan sebagainya. Oleh sebab itu, semua pihak harus melakukan amar makruf nahi munkar di setiap ruas jalan raya.

Bagi Anda yang pernah mengalami kecelakaan di jalan atau terhambat perjalanan ke suatu tujuan sehingga Anda mengalami kerugian finansial atau non-finansial, Anda pasti lebih tertarik untuk mendalami tulisan ini. Apalagi Anda yang mengalami kekerasan fisik atau perampasan hak milik yang dilakukan pembegal atau orang-orang jalanan yang tidak bermoral. Anda bisa mengetahui tingginya perhatian Nabi SAW terhadap moralitas, kenyamanan dan keselamatan di jalan raya dari hadis berikut ini.

Abu sa’id Al Khudry r.a berkata, Nabi SAW bersabda, “Jauhilah duduk-duduk di tepi jalan!” Para sahabat bertanya, “Wahai rasulullah, kami tidak bisa meninggalkannya sebab itu tempat kami membicarakan sesuatu. Rasulullah SAW bersabda:

فَاِذَا اَبَيْتُمْ اِلَّا الْمَجْلِسَ فَاَعْطُوا الطَّرِيْقَ حَقّهُ قالوُا وَمَاحَقُّ الطًّرِيْقِ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ

قَالَ غَضُّ البَصَرِ وَكَفُّ الْاَذَى وَرَدُّ السّلامِ وَالْاَمْرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ

رَوَاهُ الْبُخَارِى وَمُسْلِمٌ

“Jika kalian tidak bisa meninggalkan duduk-duduk di sekitar jalan raya, maka penuhilah hak-hak jalan itu. Para sahabat bertanya, “Apa sajakah hak-hak jalan itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, hak-hak jalan (atau kewajiban kalian di jalan raya) adalah memejamkan mata (dari yang dosa), menjauhkan segala hal yang mengganggu lalu lintas, menjawab salam, menganjurkan yang baik, dan mencegah yang munkar atau dosa (HR. Al Bukhari dan Muslim). Dalam hadis yang lain, Nabi SAW menjelaskan bahwa salah satu bukti keimanan adalah menjauhkan segala sesuatu yang membahayakan atau setidaknya mengurangi kenyamanan pengguna jalan (imathatul adza ‘anit thariq).

Yang dimaksud hak-hak jalan yang disebut dalam hadits di atas adalah kewajiban setiap muslim yang berada di tengah atau sekitar jalan. Ada banyak hadits yang menjelaskan aturan ketertiban di jalan. As Shiddiqi dalam Kitab Dalilul Falihin mengutip pendapat ulama yang menyebutkan 14 kewajiban muslim di jalan berdasar sejumlah hadis Nabi SAW. Lima di antaranya sebagaimana tersebut dalam hadits di atas. Pertama, menghindari pandangan yang dosa, misalnya melihat aurat wanita yang sedang melintasi jalan, sebab hal ini mengundang nafsu birahi dan membuat tidak nyaman bagi yang dipandang sehingga memungkinkan terjadinya kecelakaan. Kedua, menjauhkan hal-hal yang mengurangi kenyamanan dan keamanan jalan. Misalnya parkir kendaraan yang menyusahkan pengguna jalan lain, berjualan di tepi atau badan jalan yang menambah kemacetan, membuat “polisi tidur”; menyirami jalan dengan air selokan. Air kotor itu merusak kesehatan lingkungan dan menjadikan pakaian pelintas jalan najis, membiarkan jalan yang berlubang atau olie yang tertumpah, membuang bangkai hewan di jalan, membuang sampah di jalan, berlalu lintas tidak sopan di jalan, mendahului kendaraan tanpa memberi tanda sehingga mengagetkan pengguna jalan yang lain, menutup akses jalan untuk kegaiatan apapapun tanpa kordinasi dengan petugas pengatur jalan, dan sebagainya. Ketiga, menjawab salam yang diucapkan oleh pelintas jalan. Menurut aturan Islam, orang yang berdiri mendahului pengucapan salam pada yang duduk dan pengendara memberi salam kepada pejalan kaki. Dengan salam ini, dimaksudkan orang di sekitar jalan menambah semarak Islam dan menebar kedamaian (as salam) bersama. Kelima, menyebarkan kebaikan di jalan raya dan menghentikan apapun yang membuat dosa dan kerusakan, misalnya melarang balapan liar jalanan, menghentikan ugal-ugalan di jalan, memerangi pembegal dan sebagainya.

Ketika menulis artikel ini, Allah menakdirkan saya menyaksikan berita mengharukan di televisi, yaitu adanya tukang becak (65 tahun) di Surabaya, Pak Tuwek alias Abdul Syukur yang setiap malam selama sepuluh tahun secara sukarela mengangkut 2-3 kuintal batu atau sisa aspal untuk menambal jalan yang berlubang agar tidak ada pengguna jalan yang terjatuh karenanya. Saya juga teringat, sekelompok orang di Jakarta yang setiap malam berhasil mengumpulkan beberapa kilo paku yang tercecer di jalan agar tidak ada ban kendaraan yang bocor karenanya.

Jika Anda telah melakukan perintah Allah dan Rasulullah sebagaimana dikutip di atas, maka Anda telah menjadi muslim penebar sedekah di jalan. Anda telah membuat senyum pengguna jalan dan percayalah Allah tersenyum dengan apa yang Anda lakukan. Adakah kebahagiaan melebihi senyum Allah untuk Anda? (Sumber: An Nawawi, Riyadus Shalihin, juz 1: p.193; As Shiddiqy, Dalilul Falihin, juz 1, p. 358; Hamka, Tafsir Al Azhar Juz IV, p. 27-34; M. Qurasih Shihab, Tafsir Al Misbah Vol 2, p. 208-210)

LEPAS DERITA MERANGKUL RASULULLAH TERCINTA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

mhmmd

sumber gambar: http://islamicstyle-img.al-habib.info/download/2011/12/My_Wallpaper_by_drDIGITALhamodi.jpg

“Dan Kami tidak mengutus seorangpun rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sungguh jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa’ [04]: 64).

Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah SWT menjelaskan adanya sejumlah orang yang menyatakan kesetiaan di depan Nabi SAW, tapi ternyata hanya pengakuan palsu. Mereka masih menyembah thaghut yaitu sesuatu yang dituhankan selain Allah. Hebatnya, Nabi SAW tetap diperintah untuk berbicara kepada mereka dengan perkataan yang sopan dan mengesankan (qaulan baligha). Sebaliknya, pada ayat berikutnya sebagaimana dikutip di atas (ayat 64) Allah menjelaskan sejumlah orang yang datang kepada Nabi untuk menyatakan kesetiaan sepenuh hati.

Imam As Sya’rawy memikirkan ayat ini sampai 10 tahun, “Betapa nikmatnya para sahabat yang hidup semasa dengan Nabi SAW. Mereka bisa setiap saat menemuinya untuk menyatakan penyesalan atas sebuah dosa, lalu ia memintakan ampunan untuk mereka dan Allah mengampuni mereka.” Inilah kemuliaan yang khusus diberikan Allah kepada Nabi SAW. Juga keistimewaan para sahabat yang semasa dengannya. Bagaimana nasib generasi sesudah wafatnya Nabi? Inilah kegelisahan Imam As Sya’rawy. Ia baru terhibur ketika menemukan sabda Nabi SAW, “Hidupku menguntungkan kalian, demikian juga kematianku. Semua perbuatanmu dilaporkan kepadaku. Jika aku saksikan itu perbuatan baik, maka aku bersyukur kepada Allah, dan jika buruk, maka aku memohonkan ampunan untuk kalian.” (HR. Ibn Sa’ad dari Bakr bin Abdillah r.a).

Dari hadis itulah, maka As Sya’rawy menyimpulkan istighfar Nabi SAW berlaku untuk semua umatnya sepanjang masa sekalipun ia sudah wafat, asalkan mereka bersedia datang kepadanya, sebagaimana disebut dalam ayat di atas, “..datang kepadamu (Muhammad) lalu memohon ampun kepada Allah.” Mendatangi nabi artinya berkomitmen untuk mengikuti ajarannya dan beristighfar kepada Allah. Berdasar ayat ini pula, Anda tidak cukup memuji-muji Nabi SAW secara lisan dalam shalat atau pada acara-acara keagamaan, tapi harus juga menjalankan ajarannya dalam kehidupan nyata atas pertolongan Allah (bi-idznillah).

Quraish Shihab dalam Tafsir Al Misbah Vol 2 p. 597-599 menyebutkan ampunan yang dimintakan Rasulullah berlaku untuk siapa saja yang menghadapnya untuk menyesali dosanya. Mengapa demikian? Menurut Ar Razi, “Siapapun yang melanggar agama, maka ia sebenarnya melanggar ajaran Nabi. Maka untuk menunjukkan keseriusan bertobat, ia harus datang kepadanya.”

Tafsir Ibnu Katsir Juz II, p. 731 mengutip pernyataan As Syekh Abu Nashar ibn Shabagh, penulis kitab As Syamil tentang kisah Al ‘Utba, sebuah cerita yang amat terkenal. Al ‘Utba mengatakan, “Aku pernah duduk di depan makan Nabi SAW. Tiba-tiba datanglah orang Arab dari desa pegunungan memberi salam kepadanya, “Assalamu’alaika ya Rasulallah / salam untukmu wahai utusan Allah.” Tiba-tiba aku mendengar suara firman Allah sebagaimana dikutip di atas, “Sungguh jikalau mereka ketika menganiaya dirinya (atau berdosa) datang kepadamu (Muhammad) lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang (QS. An Nisa’ [04]:64)” Setelah mendengar firman Allah itu, orang pedesaan berkata lagi, “Aku datang kepadamu, wahai Nabi untuk beristighfar kepada Allah dan memohon syafa’atmu.” Lalu pergilah orang itu. Pada malam harinya, saya bermimpi didatangi Rasulullah dan berkata, “Wahai Al ‘Utba, orang Arab itu benar. Beritahukan kepadanya Allah telah mengampuninya.”

Tahukah Anda bahwa sebenarnya Anda setiap hari datang kepada Nabi SAW berkali-kali dan mengucapkan salam kepadanya, “Assalamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh / salam untukmu, wahai Nabi. Semoga keselamatan, rahmat dan berkah Allah tetap untukmu.” Senangkanlah hati Anda dalam setiap tasyahud dan rangkullah Rasulullah ketika itu. Katakan kepadanya, “Wahai Rasulullah, aku datang kepadamu untuk mengakui dosa-dosaku sebagai suami atau istri kepada istri atau suamiku, atau dosa sebagai ayah/ibu kepada anak-anakku, atau dosa sebagai anak kepada orang tuaku, atau dosa-dosa meninggalakn perintah dan melanggar larangan-Mu. Wahai Rasulullah, aku mengakui belum menjadi suami atau ayah yang benar seperti akhlak yang engkau ajarkan. Wahai Rasulullah, aku merangkulmu agar keharuman akhlakmu mewarnai kehidupanku. Wahai Rasulullah, aku datang kepadamu agar engkau berkenan memintakan ampunan Allah untukku. Rangkullah Rasulullah lebih erat sekali lagi dan katakan, “Wahai Rasulullah, aku berharap bisa sering berziarah ke Mekah tempat kelahiranmu dan ke Madinah di depan makammu bersama orang tuaku, istri dan anak-anakku. Wahai Rasulullah, aku berharap engkau tersenyum kepadaku ketika Malaikat Izrail mencabut nyawaku. Wahai Rasulullah, gandenglah tanganku, ibu dan bapakku, istriku dan anak-anakku ke istana surga yang disediakan Allah untukmu. Wahai Rasulullah, aku yakin, yakin, yakin kehangatan kulitmu akan menyembuhkan semua penyakitku dan menyemangati hidupku. Assalamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh. Assalamu’alaika ya Rasulallah. Salam untukmu wahai Rasulullah.”

Setelah merenungkan ayat ini, maka bacalah dengan kesyahduan shalawat Nabi yang amat terkenal dan pasti Anda sudah menghafalnya: Ya sayyidi, ya Rasulallah. Ya man lahul jah ‘indallah. Innal musi-ina qad ja-u. Lidz dzanbi yastaghfirunallah (Wahai pemimpinku, wahai Rasulullah. Wahai manusia termulia di sisi Allah. Mereka yang berlumuran dosa termasuk aku sekarang datang kepadamu agar engkau memintakan ampunan Allah untukku).

Berdoalah, Allahummaj’al ayyamana ayyama Rasulillah, walayalana layala Rasulillah (wahai Allah, jadikan hari-hari kami hari-hari bersama Rasululullah dan malam-malam kami malam-malam bersanding dengan Rasulullah). Jadikan keluarga Anda tiada shalat tanpa merangkul Rasulullah. Rangkullah Rasullah tercinta dan sirnalah semua derita, sekarang dan kelak di alam baka.