Header

LA TAHZAN

December 4th, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

LA TAHZAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sungguh Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Jangan bersedih, sungguh Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepadanya (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah, dan seruan Allah-lah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah [09]:40)

Sebelum membaca uraian ini lebih lanjut, saya mohon Anda membaca penggalan ayat di atas dengan suara sedikit nyaring sebanyak tiga kali: “La tahzan innallaha ma’ana” (Jangan bersedih. Sungguh Allah bersama kita). Inilah firman Allah yang menjelaskan perjalanan hijrah Nabi SAW ke Madinah yang memerlukan bekal fisik dan mental baja. Ayat ini sekaligus menggambarkan betapa semua tantangan itu dilalui dengan tenang dan optimisme oleh Nabi SAW dan pengawalnya, Abu Bakar As Shiddiq r.a.

Nasehat Nabi SAW kepada Abu Bakar r.a: “La tahzan innallaha ma’ana” disampaikan ketika mereka dalam persembunyian di sebuah gua di bukit Tsur. Saat itu Nabi melihat Abu Bakar cemas dan ketakutan setelah ia melihat kaki para algojo sebagai perwakilan dari semua etnis Makkah untuk mengejar dan membunuh Nabi SAW. Peristiwa itu terjadi antara hari Kamis sampai Senin tanggal 1-4 Rabiul Awal tahun ke 53 dari kelahiran Nabi SAW atau tanggal 24-27 September 622 M. Setelah tiga malam di gua, barulah mereka melanjutkan perjalanan ke Madinah.

Sebenarnya Nabi SAW sangat mencintai Makkah sebagai tanah kelahirannya. Ia berkata, “Demi Allah, engkau adalah tempat yang paling aku muliakan. Andaikan pendudukmu tidak mengusirku, aku tidak akan meninggalkanmu.” Keberangkatan Nabi SAW ke Madinah dilakukan atas perintah Allah SWT karena tindakan orang-orang kafir di Makkah sudah sangat membahayakan jiwa Nabi SAW.

Mengapa Nabi SAW memilih Abu Bakar a.s sebagai pengawal? Sebab ia sahabat yang sudah terbukti kesetiannya kepada Nabi SAW dan itulah yang sangat dibutuhkan untuk perjalanan jauh yang memerlukan suport mental dan finansial. Dialah juga sahabat yang pertama kali masuk Islam, kaya raya dan amat dermawan. Dialah yang juga mengerahkan semua anggota keluarganya untuk mendukung perjuangan Nabi SAW.

Dalam perjalanan dari Makkah menuju ke gua, Abu Bakar kadang berjalan di muka Nabi agar menjadi tameng bagi penyerang dari muka, dan sesekali di belakangnya agar bisa menghalau para pengejarnya. Nabi SAW bertanya, “Jadi kamu lebih suka mati lebih dulu? Abu Bakar r.a menjawab, “Demi Allah yang mengutusmu untuk kebenaran, betul demikian wahai Nabi.” Ia menambahkan, “Jika aku yang terbunuh, hanya seorang yang mati. Tapi jika engkau yang terbunuh, maka umat dan agama ikut binasa.”

Abu Bakar r.a sudah lama mengharap Nabi segera meninggalkan Makkah demi keselamatan jiwanya, bahkan sudah menyiapkan dua ekor unta terbaik untuk sewaktu-waktu dibutuhkan. Maka ketika mendengar berita adanya perintah hijrah, Abu Bakar r.a sangat senang dan menyuruh Nabi SAW untuk memilih satu dari dua unta tersebut. Semua biaya perjalanan termasuk upah untuk penunjuk jalan ditanggung sepenuhnya oleh Abu Bakar r.a. Ia juga memerintahkan putrinya, Asma’ binti Abu Bakar untuk mengirim makanan setiap malam ke gua yang dimasukkan ke ikat pinggangnya. Kegesitan Asma’ dalam perjuangan inilah yang menjadi inspirasi bagi semua wanita muslimah untuk tampil dalam kiprah dakwah dengan peran masing-masing sesuai dengan kodratnya. Sejarah telah mengukir dengan tinta emas peran para wanita muslimah dalam sejarah pengembangan Islam. Bangkitlah para wanita muslimah!

Ucapan Nabi SAW, “La tahzan innallaha ma’ana” sangat menyejukkan Abu Bakar r.a dan benar-benar menyemangatinya. Para malaikat dikirim Allah menuju gua tempat persembunyian Nabi SAW agar membuat sarang laba-laba dan mengaburkan penglihatan para pengejar Nabi. Begitulah antara lain cara Allah SWT menolong hamba-Nya. Mengingat jasa Abu Bakar r.a sebagaimana disebut di atas, maka pantaslah ia diabadikan dalam Al Qur’an sebagai dua sejoli (tsaniya isnayni) dengan Nabi SAW. Kesatuan jiwa Nabi SAW dengan Abu Bakar masih kita saksikan sampai sekarang melalui letak makam mereka berdua yang berdampingan di dalam Masjid Madinah.

Ayat di atas memberi dua pesan penting kepada kita. Pertama, seorang pemimpin harus tetap tenang sekalipun keadaan amat genting agar para pengikutnya tidak cemas. Ia harus tetap menyemangati pengikutnya. Ucapan pemimpin, “La tahzan innallaha ma’ana” yang bisa diterjemahkan secara bebas, “Tenang, jangan cemas. Allah SWT tetap menyertai langkah kita” pasti memberi motivasi yang luar biasa bagi pengikutnya. Masyarakat yang dipimpin pasti akan kehilangan semangat perjuangan jika pada saat-saat sulit, seorang pemimpin misalnya mengatakan, “Kita bingung dan tidak tahu apa yang harus kita lakukan menghadapi kesulitan ini.” Spirit dan keberanian pempimpin akan menular kepada pengikutnya. Demikian juga sebaliknya. Nasehat “La tahzan innallaha ma’anaharus lebih sering diucapkan oleh orang tua kepada anak-anaknya, guru kepada pada para muridnya, suami kepada istrinya, kepala kantor kepada anak buahnya, dan semua orang di sekeliling kita.

Kedua, Allah SWT telah menyiapkan jutaan malaikat untuk menolong hamba-Nya yang mengalami kesulitan. Tidak hanya untuk nabi, tapi juga untuk semua hamba-Nya, asalkan ia tetap beriman kepada Allah dan meyakini kepastian pertolongan-Nya. Anda tidak perlu bertanya bagaimana cara Allah memberi pertolongan. Allah SWT tidak akan menolong orang yang meragukan pertolongan-Nya. Ucapan “La tahzan innallaha ma’ana” adalah sebuah ekspresi keyakinan kepada Allah. Oleh sebab itu, semakin Anda yakin dengan ucapan itu, semakin banyak malaikat yang dikirim Allah untuk menolong Anda.

Sebagai penutup tulisan, ucapkan “La tahzan innallaha ma’ana” berkali-kali, lalu tulis dan tempelkan di tembok untuk menyemangati hidup Anda, keluarga dan semua orang di sekeliling Anda. (Sumber : Hamka, Tafsir Al Azhar juz X: 214, M. Qureish Shihab, Tafsir Al Misbah volume 5, p. 104-112, Moh. Ali Aziz, Hijrah Nabi, p. 3)

MUTIARA DALAM LUMURAN DARAH

October 26th, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel - (2 Comments)

MUTIARA DALAM LUMURAN DARAH
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah [2]:216)

                 Pada ayat sebelumnya, Allah menjelaskan kepada Nabi SAW bahwa orang-orang shaleh terdahulu tiada sepi dari cobaan yang menyangkut kesehatan, ekonomi dan cobaan-cobaan berat lain sampai menggoncang jiwa mereka seperti gempa yang menggoncang bumi (wazulzilu). Jika Anda muslim shaleh, Anda juga harus bersiap menghadapi cobaan yang sama. Jangan terkejut dan jangan mengeluh.

                 Ayat yang dikutip di atas merupakan kelanjutan ayat sebelumnya, bahwa di samping cobaan-cobaan yang telah disebutkan, masih ada cobaan lain, yaitu perang. Semua orang normal tidak menyukai perang: biaya besar, korban jiwa yang tak terhitung dan rasa damai yang hilang. Tapi, jika musuh sudah melecehkan kehormatan dan kedaulatan negara, Anda harus angkat senjata sekalipun Anda sama sekali tidak menyukainya. Allah SWT memberitahu Anda untuk selalu bersiap menjumpai hal-hal yang sama sekali tidak Anda sukai. Pada saat itulah, Anda harus berfikir positif dengan merenungkan firman Allah, “..boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu..”

                 Untuk memudahkan Anda memahami ayat ini, saya ilustrasikan sebuah peristiwa yang dialami kuli bangunan yang terdampar di sebuah terminal bus tanpa bekal satu rupiahpun. Pemuda asal Magetan Jawa Timur yang bekerja di Surabaya itu harus segera pulang karena ibunya sakit kritis di kampung. Ia membawa uang hanya cukup untuk tiket bus karena ia akan dijemput adiknya di terminal terakhir. Sialnya, ketika bus berhenti di terminal Mojokerto, ia pergi ke toilet, dan saat itulah ia ditinggalkan bus. Di mushalla tempat ia istirahat, ia mengadu kepada Allah, “Wahai Allah, saya sudah tidak memiliki uang sepeserpun. Bagaimana saya melanjutkan perjalanan pulang? Tidakkah tujuan saya ini mulia: menjenguk ibu saya yang kritis?” Berkali-kali ia mengajukan protes kepada Allah, “Mengapa Engkau tidak memberi kemudahan hamba-Mu yang sedang berbakti kepada orang tua ini?”

                 Pagi hari setelah bangun tidur di mushalla kecil itu, ia mendengar suara penjual koran, “Koran, koran. Kecelakaan maut, kecelakaan maut. Bus Brahma.” Ternyata bus itulah yang meninggalkannya di terminal sehari sebelumnya. Ia langsung bersujud syukur sambil mengatakan, “Wahai Allah, luar biasa skenario-Mu untuk menyelamatkan saya. Luar biasa kasih-Mu. Andaikan saya tidak tertinggal di terminal, tentu saya sudah mati dan tidak bisa menjenguk ibu selamanya.”

                 Kasus serupa terjadi pada diri saya sendiri. Pada tahun 2000, sepulang dari Afrika, tiba-tiba suara saya hilang dan berlangsung selama enam bulan. Saya sedih, tidak bisa mengajar dan berceramah seperti sebelumnya. Beberapa tahun kemudian, cobaan kedua datang. Nyaris saya tidak bisa rukuk dan sujud dengan sempurna karena penyakit punggung dan lutut. Saya harus rukuk dengan perlahan menahan sakit dan lebih lama. Sejak itu saya “terpaksa” rukuk dan sujud lebih lama dan lebih tenang, tidak tergesa-gesa, dan berusaha memahami makna doa di dalamnya. Dari situlah, saya memperoleh inspirasi menulis buku tentang kedahsyatan rukuk dan sujud, dan pada tahun 2012 terbitlah buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia. Andai tidak ada cobaan itu, tidak akan ada buku tersebut. Ternyata, pada semua kejadian yang tidak saya sukai tersimpan rahasia Ilahi yang baru dibuka-Nya di kemudian hari. Sekali lagi renungkan firman Allah, “Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu..”

                 Untuk Anda yang masih meragukan firman Allah di atas, saya tambahkan satu kisah lagi. Seorang anggotaTNI Angkatan Laut tiba-tiba mendapat surat pemecatan karena terbukti salah satu keluarganya tokoh PKI. Berbulan-bulan ia merasakan derita psikis dan ekonomis karena tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menyelematkan masa depan anak-anaknya yang masih kecil. Setahun kemudian ia diterima di perusahaan pelayaran dan beberapa tahun sesudahnya ia mendapat gaji perbulan sama dengan gaji TNI selama dua tahun. Tiada henti ia bersyukur, “Terima kasih oh Allah atas peristiwa pemecatan saya sekian tahun yang lalu.”

                 Dalam hidup selalu ada siang dan malam. Artinya, tidak selamanya seseorang dalam kegelapan malam, sebab esok hanya ia menyaksikan matahari terbit di ufuk timur. Tidak selamanya Anda dalam penderitaan. Pada waktu yang lain, Anda pasti mengalamai hal yang menyenangkan. Pada saat demikian, Anda harus berhati-hati, sebab Allah memberitahu Anda, ”… dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu..”. Anda mungkin pernah mendengar kisah berikut ini. Seorang pejabat mengadakan pesta besar-besaran dengan aneka makanan rakyat, sebagai tanda kegembiraan atas terpilihnya sebagai bupati, mengalahkan pesaingnya dengan selisih suara yang tipis. Baru setahun memimpin kabupaten, ia tertangkap tangan oleh KPK dan masuk bui karena kasus korupsi.

                 Ada lagi kisah lain yang serupa. Seorang janda bertahun-tahun menabung untuk membelikan motor untuk anak tunggalnya. Seusai shalat subuh, sang anak mencoba motornya di jalan raya. Di pagi buta itulah sang anak menghembuskan nafas terakhir, karena sebuah truk pengangkut sayur dari pasar induk melaju dengan kecepatan tinggi menabraknya.

                 Allah SWT menyudahi firman-Nya, “Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Artinya, Anda hanya bisa mengetahui bungkus sebuah peristiwa sedang Allah-lah Yang Maha Tahu isinya. Anda hanya bisa melihat kulit dan tidak mengetahui di baliknya. Anda hanya bisa mengetahui kekinian dan tidak akan tahu apa yang terjadi kemudian.

                 Ternyata, pada buah apel segar di tangan Anda, terdapat ulat di dalamnya yang mematikan Anda. Di tengah kegembiraan terkadang tersimpan sebuah malapetaka. Maka bergembiralah secara wajar-wajar saja, jangan berlebihan. Bahkan, tetap waspadalah di tengah kegembiraaan itu. Sebaliknya, di tengah genangan air mata dan darah, kadang terdapat mutiara indah yang baru Anda temukan di kemudian hari. Maka tetap bersiullah di tengah badai derita kehidupan. Semoga Anda segera menemukan mutiara itu.

HIDUP BIASA DENGAN IBADAH EKSTRA

September 23rd, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

HIDUP BIASA DENGAN IBADAH EKSTRA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

karikatur

sumber gambar: http://aldoputra.files.wordpress.com/2011/03/karikatur.jpg

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan semua yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah yang halal dan baik dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al Ma-idah [5]:87-88)

Pada saat ayat ini turun, banyak tempat ibadah khusus (biara) yang dibangun oleh rahib Kristen, bahkan di tengah padang pasir atau di gua-gua pegunungan. Mereka tidak kawin selamanya dan memakai pakaian dari bulu domba seperti yang dipakai Nabi Yahya a.s. Satu di antara mereka adalah Rahib Buhaira. Inilah rahib yang dijumpai Muhammad kecil (12 tahun) ketika diajak pamannya, Abu Thalib melakukan perjalanan ke Syiria. Dialah yang menyatakan adanya tanda-tanda kenabian di wajah Muhammad kecil jauh sebelum diangkat menjadi Nabi.

Beberapa sahabat Nabi amat tertarik dengan cara hidup para rahib yang nampak suci, dekat dengan Tuhan dan bahagia, karena tidak lagi terganggu oleh nafsu duniawi. Para sahabat senior seperti Usman bin Madh’un, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Miqdad bin Aswad dan Salim Maula Abu Hudzaifah bersepakat untuk tidak mengonsumsi makanan yang enak dan berjanji menghabiskan malam hanya untuk beribadah serta tidak akan berhubungan dengan istri.

Beberapa sahabat yang lain mengikuti jejak sahabat seniornya. Inilah antara lain sumpah mereka: “Saya tidak akan makan daging, sebab membuat saya semakin bernafsu kepada wanita.” “Saya tinggalkan kasur yang empuk, dan memilih alas tidur yang tipis, agar tidak hanyut dalam kenikmatan tidur.” “Saya jauhi wewangian dan pakaian yang indah, sebab aku lebih suka keharuman akhirat dan pakaian kebesaran surga.”

Nabi SAW pernah bertanya kepada sahabatnya, Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash yang menjalani dunia kerahiban. “Apa benar, menurut kata orang, engkau berpuasa setiap hari dan shalat sepanjang malam?” “Benar, wahai Nabi,” jawabnya. Nabi SAW lalu bersabda, “Jangan kau lakukan itu. Puasalah dan berbukalah (pada hari yang lain), shalatlah di tengah malam dan tidurlah. Sungguh, tubuhmu mempunyai hak yang harus engkau penuhi, demikian juga matamu. Istrimu mempunyai hak yang wajib engkau penuhi, demikian juga para peziarah (tamu) yang datang kepadamu. Engkau cukup berpuasa tiga hari setiap bulan, sebab setiap kebajikan dilipatkan pahalanya, dan itu berarti sama dengan puasa setahun. Abdullah menjawab, “Saya yakin, saya kuat.” Nabi melanjutkan sabdanya, “Berpuasalah seperti puasa Nabi Daud, jangan lebih!” “Bagaimana cara puasa Daud?,” tanya Abdullah. Nabi SAW menjawab, “Puasa setengah tahun (sehari puasa dan sehari tidak).” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Al Nasa-i)

Sahabat senior lainnya, Abu Darda’ yang dipersaudarakan oleh Nabi dengan Salman Al Farisi sewaktu hijrah di Madinah juga menyukai hidup dengan menjauhi kenikmatan duniawi. Suatu saat, Salman bertamu ke rumah Abu Darda’. Ia iba melihat melihat istri Abu Darda’ yang kusut dan muram. Di meja makan, Salman berkata, “Saya tidak akan makan jika tidak kau temani.” Maka Abu Darda’ terpaksa membatalkan puasa sunatnya. Menjelang tidur, Abu Darda’ terus saja melanjutkan shalatnya. Maka Salman mengajak tidur. Setelah tidur sebentar, ia bangun lagi untuk shalat. Lalu Salman berkata lagi, “Mari tidur dulu.” Pada ujung malam, barulah Salman mengajak Abu Darda’ shalat malam. Setelah shalat, Salman menasehatinya, “Tuhanmu mempunyai hak yang harus kau penuhi. Demikian juga hak istrimu. Maka lakukan semua kewajibanmu untuk semua pemilik hak itu.” Esok harinya, mereka berdua menghadap Nabi SAW untuk menceritakan apa yang terjadi, lalu Nabi bersabda, “Salman benar.”

Usman bin Madh’un, sahabat yang pertama kali menghentikan minuman keras ketika mendengar Nabi SAW melarangnya dan amat terkenal kesalehannya menghadap Nabi bersama beberapa sahabat dengan membawa sebilah belati. Mereka meminta ijin kepada Nabi untuk mengebiri diri mereka, sebab hasrat biologis kepada wanita selalu mengganggu ibadah dan semangat perjuangan. Pada masa itu, mengebiri selalu dengan memotong kemaluan. Berbeda dengan sekarang, cukup dengan “suntik kebiri” atau chemical castration untuk mengurangi hormon atau libidonya yang tinggi. Nabi terdiam, tidak memberi jawaban. Ketika itulah, Malaikat Jibril datang membawa ayat sebagaimana dikutip di atas.

Mendengar obrolan mereka, Nabi SAW lalu menjelaskan kesehariannya sekaligus memberi peringatan, “Orang-orang berbicara ini dan itu. Ketahuilah, aku shalat dan aku juga tidur, aku berpuasa (pada hari tertentu) dan tidak berpuasa (pada hari lain). Aku juga menikahi wanita. Siapapun yang tidak suka dengan cara hidupku, maka ia bukan pengikutku.” (HR Muslim).

Sejak itu Usman bin Madh’un merubah pola hidupnya, termasuk kepada istrinya. Tidak lama setelah itu, Haula, sang isteri datang kepada Aisyah dengan pakaian rapi dan wajah berseri karena telah mendapatkan kepuasan nafkah batin dari suaminya. Sebelumnya, ia bermuka kusut dengan rambut acak-acakan. Para isteri Nabi sampai tertawa mendengar kepolosan cerita Haula.

Banyak hal yang dihalalkan Allah: daging hewan, ikan, buah, sayur-sayuran, pakaian yang bagus, bersetubuh dengan isteri. Mengapa semua itu tidak dinikmati hanya karena dianggap menghalagi kedekatan dengan Allah? Islam menolak konsep hidup “sengsara” demi mencapai “nirwana.”

Orang yang anti daging dan makanan bergizi, lalu fisiknya lemah dan tidak bisa melakukan kewajibannya sebagai suami atau kepala rumah tangga tentu bukan muslim yang baik. Layakkah Anda disebut pengikut Nabi, jika Anda meninggalkan tugas-tugas rumah tangga dan hanya fokus berdzikir sepanjang hari sampai anak-anak dan rumah tangga berantakan?

Untuk menikmati semua yang halal di atas, Allah menetapkan pedoman seleksinya, yaitu halal (halal), baik (thayyib) dan proporsional (wala ta’tadu). Daging sapi, buah, sayur dan sebagainya halal, tapi jangan dimakan jika dokter melarangnya, atau daging itu hasil korupsi. Jika halal dan baik untuk tubuh, silakan dikonsumsi, tapi makanlah sesuai dengan porsi yang benar menurut dokter, jangan berlebih, apalagi untuk menunjukkan kemewahan dan kesombongan satus sosial. Silakan bersetubuh dengan isteri, sebab itu kewajiban yang mendatangkan pahala, tapi lakukan secara proporsional.

Tiupkan semangat beragama pada diri Anda, tapi jangan tinggalkan tugas dan kenikmatan dunia. Jika orang-orang shaleh seperti Anda “bertapa” di masjid dan menjauhi kehidupan riil dalam dunia politik, perdagangan, dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya, lalu orang-orang yang tidak beragama atau tidak bermoral menjadi pimpinan dalam semua lini kehidupan, siapakah yang disalahkan?

Sebagai hamba Allah, tidak dibenarkan satu menitpun Anda lewatkan tanpa ibadah, tapi artikan ibadah dalam arti yang seluas-luasnya. Anda wajib beribadah secara ekstra, tapi tetap hiduplah sebagai manusia biasa: sebagai individu, kepala keluarga dan warga masyarakat dan negara. Panggilan ibadah tidak hanya adzan untuk shalat, tapi juga panggilan kemanusiaan dan kepemimpinan (khalifah) di panggung dunia. Semua lini kehidupan itu bisa Anda jadikan sajadah untuk investasi pahala.