Header

BANGKIT DENGAN JARUM JAHIT

January 22nd, 2015 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

BANGKIT DENGAN JARUM JAHIT
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“Dan tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat; sungguh kami kembali (bertaubat) kepada-Mu. Allah berfirman, “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami.” (QS. Al A’raf [7]:156)

Ayat di atas adalah kelanjutan dari doa Nabi Musa AS pada ayat sebelumnya. Jika Anda hayati doa di atas, Anda pasti menyimpulkan betapa tulus dan lembut hati nabi yang menjadi musuh Fir’aun ini. Ia terkenal paling gagah perkasa, tapi luar biasa tenggang rasanya, paling cepat marah tapi lekas meminta maaf, dan sangat sayang kepada umatnya. Dialah nabi yang paling banyak disebut dalam Al Qur’an, yaitu sebanyak 135 kali.

Ketika Nabi Musa AS memohon kepada Allah SWT agar semua kebaikan ditetapkan untuknya di dunia dan akhirat, dan agar taubatnya diterima oleh-Nya, Allah SWT menjawab, “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami.”

Tulisan ini difokuskan pada firman Allah yang bergaris bawah di atas, ”..dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu (warahmati wasi’at kulla syay-in)” Artinya tidak ada satupun makhluk, khususnya manusia yang tidak mendapat sentuhan kasih Allah: muslim atau bukan. Bahkan cobaan yang berat yang dihadapi manusia itupun sebenarnya bentuk kasih Allah agar ia segera kembali ke jalan yang benar. Musibah atau cobaan yang Anda alami sebenarnya sengaja diberikan Allah SWT kepada Anda agar Anda selamat dari musibah yang jauh lebih dahsyat. Jika tangan Anda ditarik oleh seseorang sampai tulang bahu Anda nyaris patah, sungguh orang itu sayang kepada Anda, sebab jika tidak, Anda pasti akan hancur tertubruk kereta api ekspres yang berada persis di belakang Anda. Berterima kasihlah kepada “pemutus” lengan yang penuh kasih itu. Siksa Allah hanya diberikan kepada orang yang benar-benar sudah keterlaluan, “…dan Kami tidak menjatuhkan siksa, melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (QS. Saba’ [34]:17)

Dalam kaitan itu, Nabi SAW bersabda, “Ketika Allah menciptakan makhluk, Ia menulis pada sebuah catatan yang terletak di dekat arasy dan di sisi Allah, “inna rahmati taghlibu ghadlabi (sungguh, kasih-Ku mengalahkan murka-Ku” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a). Agar lebih jelas, perhatikan sabda Nabi berikut ini. Umar bin Khattab r.a bercerita, “Beberapa tawanan perang dihadapkan kepada Rasulullah. Tiba-tiba seorang ibu di antara tawanan itu berlari kecil mencari anaknya. Setiap ia menjumpai anak kecil di antara tawanan itu, ia mengangkat dan menetekinya. Rasulullah lalu bersabda, “Menurut pendapatmu, apakah si ibu itu akan melemparkan anaknya ke dalam api?” Kami menjawab, “Demi Allah, tidak.” Nabi SAW lalu bersabda, “Allah lebih mengasihi hamba-Nya daripada kasih si ibu itu terhadap anaknya.” (HR Bukhari Muslim/ Kitab Riyadhus Shalihin I: 366)

Semua ayat dan hadis Nabi yang disebut di atas menjelaskan luasnya kasih Allah kepada manusia. Allah SWT sangat mengasihi dan mengampuni orang-orang mukmin. Hampir tidak mungkin menyiksa mereka. Allah SWT hanya menyiksa mereka yang kafuur (amat keterlaluan kekafirannya). Bahkan dalam hadis di atas dijelaskan bahwa setiap kali Allah SWT murka, Ia langsung membatalkan murka-Nya.

Sebagaimana diketahui, Allah memiliki 100 kasih (rahmat). Satu rahmat untuk kehidupan di dunia, sedangkan 99 sisanya disimpan untuk kehidupan akhirat. Setelah kiamat kelak, satu kasih itu dicabut kembali dan ditambahkan pada 99 agar genap menjadi 100 rahmat untuk orang-orang yang beriman seperti Anda. Semua ayat dan hadis di atas juga memberi optimisme hidup. Allah pasti menyanangi orang yang setiap hari bersujud kepada-Nya. Tidak mungkin Ia membiarkan Anda sendirian mengatasi masalah.

Untuk menggambarkan kasih Allah kepada semua makhluk, saya akan membangkitkan keimanan Anda dengan menyampaikan firman Allah SWT dalam sebuah hadits qudsi yang panjang. Allah SWT berfirman: (1) Wahai hamba-Ku, sungguh, Aku mengharamkan kepada diri-Ku untuk bertindak dhalim, dan Aku mengharamkannya juga kepadamu. Maka janganlah kalian saling mendhalimi. (2) Wahai hamba-Ku, kamu semua tersesat kecuali orang yang mendapat petunjuk-Ku. Maka mohonlah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku memberi petunjuk kepadamu. (3) Wahai hamba-Ku, kamu semua orang lapar kecuali orang yang Aku beri makan. Maka mohonlah makan kepada-Ku, nicsaya Aku memberimu makanan. (4) Wahai hamba-Ku, kamu semua telanjang kecuali orang yang Aku beri pakaian, maka mohonlah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku memberi pakaian kepadamu. (5) Wahai hamba-Ku, kamu semua selalu melakukan dosa, malam dan siang, dan Aku adalah Pengampun semua dosa. Maka mohonlah ampunan kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu. (6) Wahai hamba-Ku, kamu semua tidak akan bisa melakukan apapun yang merugikan Aku, dan tidak pula bisa melakukan apapun yang menguntungkan Aku. (7) Wahai hamba-Ku, seandainya orang generasi pertama sampai generasi terakhir, baik manusia maupun jin bertakwa seperti ketakwaan seorang (yang shaleh) di antara kamu, maka yang demikian itu sama sekali tidak menambah sedikitpun kebesaran dan kekuasaan-Ku. (8) Wahai hamba-Ku, seandainya orang generasi pertama sampai generasi terakhir, baik manusia maupun jin berhati jahat seperti kejahatan seorang (yang rusak iman dan akhlak) di antara kamu, maka yang demikian itu sama sekali tidak akan mengurangi sedikitpun kebesaran dan kekuasaan-Ku. (9) Wahai hamba-Ku, seandainya orang generasi pertama sampai generasi terakhir berkumpul di lapangan kemudian semuanya meminta kepada-Ku dan semua permintaan itu Aku beri, maka yang demikian itu sama sekali tidak mengurangi kekayaan-Ku, hanya seperti berkurangnya air samudera jika diambil dengan jarum (yang dicelupkan). (10) Wahai hamba-Ku, segala sesuatu tergantung pada perbuatanmu, dan semuanya Aku perhitungkan dan Aku beri balasan masing-masing. Maka barangsiapa yang melakukan kebaikan, maka bersyukurlah kepada Allah, dan barangsiapa yang melakukan selain kebaikan itu, maka jangan sekali-kali menyalahkan siapapun kecuali pada dirinya sendiri.” (HR Muslim dari Jundub bin Junadah r.a)

Bangkit dan optimislah. Kasih Allah SWT untuk Anda masih tersedia secara melimpah. Semua kesuksesan atau kebahagiaan yang telah diberikan kepada sekian banyak manusia sama sekali tidak mengurangi persediaan karunia untuk Anda, seperti air yang menempel pada jarum jahit kecil yang dicelupkan ke air laut. Limpahan air laut adalah limpahan karunia yang tersedia untuk Anda. Raihlah.

LA TAHZAN

December 4th, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

LA TAHZAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sungguh Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Jangan bersedih, sungguh Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepadanya (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah, dan seruan Allah-lah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah [09]:40)

Sebelum membaca uraian ini lebih lanjut, saya mohon Anda membaca penggalan ayat di atas dengan suara sedikit nyaring sebanyak tiga kali: “La tahzan innallaha ma’ana” (Jangan bersedih. Sungguh Allah bersama kita). Inilah firman Allah yang menjelaskan perjalanan hijrah Nabi SAW ke Madinah yang memerlukan bekal fisik dan mental baja. Ayat ini sekaligus menggambarkan betapa semua tantangan itu dilalui dengan tenang dan optimisme oleh Nabi SAW dan pengawalnya, Abu Bakar As Shiddiq r.a.

Nasehat Nabi SAW kepada Abu Bakar r.a: “La tahzan innallaha ma’ana” disampaikan ketika mereka dalam persembunyian di sebuah gua di bukit Tsur. Saat itu Nabi melihat Abu Bakar cemas dan ketakutan setelah ia melihat kaki para algojo sebagai perwakilan dari semua etnis Makkah untuk mengejar dan membunuh Nabi SAW. Peristiwa itu terjadi antara hari Kamis sampai Senin tanggal 1-4 Rabiul Awal tahun ke 53 dari kelahiran Nabi SAW atau tanggal 24-27 September 622 M. Setelah tiga malam di gua, barulah mereka melanjutkan perjalanan ke Madinah.

Sebenarnya Nabi SAW sangat mencintai Makkah sebagai tanah kelahirannya. Ia berkata, “Demi Allah, engkau adalah tempat yang paling aku muliakan. Andaikan pendudukmu tidak mengusirku, aku tidak akan meninggalkanmu.” Keberangkatan Nabi SAW ke Madinah dilakukan atas perintah Allah SWT karena tindakan orang-orang kafir di Makkah sudah sangat membahayakan jiwa Nabi SAW.

Mengapa Nabi SAW memilih Abu Bakar a.s sebagai pengawal? Sebab ia sahabat yang sudah terbukti kesetiannya kepada Nabi SAW dan itulah yang sangat dibutuhkan untuk perjalanan jauh yang memerlukan suport mental dan finansial. Dialah juga sahabat yang pertama kali masuk Islam, kaya raya dan amat dermawan. Dialah yang juga mengerahkan semua anggota keluarganya untuk mendukung perjuangan Nabi SAW.

Dalam perjalanan dari Makkah menuju ke gua, Abu Bakar kadang berjalan di muka Nabi agar menjadi tameng bagi penyerang dari muka, dan sesekali di belakangnya agar bisa menghalau para pengejarnya. Nabi SAW bertanya, “Jadi kamu lebih suka mati lebih dulu? Abu Bakar r.a menjawab, “Demi Allah yang mengutusmu untuk kebenaran, betul demikian wahai Nabi.” Ia menambahkan, “Jika aku yang terbunuh, hanya seorang yang mati. Tapi jika engkau yang terbunuh, maka umat dan agama ikut binasa.”

Abu Bakar r.a sudah lama mengharap Nabi segera meninggalkan Makkah demi keselamatan jiwanya, bahkan sudah menyiapkan dua ekor unta terbaik untuk sewaktu-waktu dibutuhkan. Maka ketika mendengar berita adanya perintah hijrah, Abu Bakar r.a sangat senang dan menyuruh Nabi SAW untuk memilih satu dari dua unta tersebut. Semua biaya perjalanan termasuk upah untuk penunjuk jalan ditanggung sepenuhnya oleh Abu Bakar r.a. Ia juga memerintahkan putrinya, Asma’ binti Abu Bakar untuk mengirim makanan setiap malam ke gua yang dimasukkan ke ikat pinggangnya. Kegesitan Asma’ dalam perjuangan inilah yang menjadi inspirasi bagi semua wanita muslimah untuk tampil dalam kiprah dakwah dengan peran masing-masing sesuai dengan kodratnya. Sejarah telah mengukir dengan tinta emas peran para wanita muslimah dalam sejarah pengembangan Islam. Bangkitlah para wanita muslimah!

Ucapan Nabi SAW, “La tahzan innallaha ma’ana” sangat menyejukkan Abu Bakar r.a dan benar-benar menyemangatinya. Para malaikat dikirim Allah menuju gua tempat persembunyian Nabi SAW agar membuat sarang laba-laba dan mengaburkan penglihatan para pengejar Nabi. Begitulah antara lain cara Allah SWT menolong hamba-Nya. Mengingat jasa Abu Bakar r.a sebagaimana disebut di atas, maka pantaslah ia diabadikan dalam Al Qur’an sebagai dua sejoli (tsaniya isnayni) dengan Nabi SAW. Kesatuan jiwa Nabi SAW dengan Abu Bakar masih kita saksikan sampai sekarang melalui letak makam mereka berdua yang berdampingan di dalam Masjid Madinah.

Ayat di atas memberi dua pesan penting kepada kita. Pertama, seorang pemimpin harus tetap tenang sekalipun keadaan amat genting agar para pengikutnya tidak cemas. Ia harus tetap menyemangati pengikutnya. Ucapan pemimpin, “La tahzan innallaha ma’ana” yang bisa diterjemahkan secara bebas, “Tenang, jangan cemas. Allah SWT tetap menyertai langkah kita” pasti memberi motivasi yang luar biasa bagi pengikutnya. Masyarakat yang dipimpin pasti akan kehilangan semangat perjuangan jika pada saat-saat sulit, seorang pemimpin misalnya mengatakan, “Kita bingung dan tidak tahu apa yang harus kita lakukan menghadapi kesulitan ini.” Spirit dan keberanian pempimpin akan menular kepada pengikutnya. Demikian juga sebaliknya. Nasehat “La tahzan innallaha ma’anaharus lebih sering diucapkan oleh orang tua kepada anak-anaknya, guru kepada pada para muridnya, suami kepada istrinya, kepala kantor kepada anak buahnya, dan semua orang di sekeliling kita.

Kedua, Allah SWT telah menyiapkan jutaan malaikat untuk menolong hamba-Nya yang mengalami kesulitan. Tidak hanya untuk nabi, tapi juga untuk semua hamba-Nya, asalkan ia tetap beriman kepada Allah dan meyakini kepastian pertolongan-Nya. Anda tidak perlu bertanya bagaimana cara Allah memberi pertolongan. Allah SWT tidak akan menolong orang yang meragukan pertolongan-Nya. Ucapan “La tahzan innallaha ma’ana” adalah sebuah ekspresi keyakinan kepada Allah. Oleh sebab itu, semakin Anda yakin dengan ucapan itu, semakin banyak malaikat yang dikirim Allah untuk menolong Anda.

Sebagai penutup tulisan, ucapkan “La tahzan innallaha ma’ana” berkali-kali, lalu tulis dan tempelkan di tembok untuk menyemangati hidup Anda, keluarga dan semua orang di sekeliling Anda. (Sumber : Hamka, Tafsir Al Azhar juz X: 214, M. Qureish Shihab, Tafsir Al Misbah volume 5, p. 104-112, Moh. Ali Aziz, Hijrah Nabi, p. 3)

MUTIARA DALAM LUMURAN DARAH

October 26th, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel - (2 Comments)

MUTIARA DALAM LUMURAN DARAH
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah [2]:216)

                 Pada ayat sebelumnya, Allah menjelaskan kepada Nabi SAW bahwa orang-orang shaleh terdahulu tiada sepi dari cobaan yang menyangkut kesehatan, ekonomi dan cobaan-cobaan berat lain sampai menggoncang jiwa mereka seperti gempa yang menggoncang bumi (wazulzilu). Jika Anda muslim shaleh, Anda juga harus bersiap menghadapi cobaan yang sama. Jangan terkejut dan jangan mengeluh.

                 Ayat yang dikutip di atas merupakan kelanjutan ayat sebelumnya, bahwa di samping cobaan-cobaan yang telah disebutkan, masih ada cobaan lain, yaitu perang. Semua orang normal tidak menyukai perang: biaya besar, korban jiwa yang tak terhitung dan rasa damai yang hilang. Tapi, jika musuh sudah melecehkan kehormatan dan kedaulatan negara, Anda harus angkat senjata sekalipun Anda sama sekali tidak menyukainya. Allah SWT memberitahu Anda untuk selalu bersiap menjumpai hal-hal yang sama sekali tidak Anda sukai. Pada saat itulah, Anda harus berfikir positif dengan merenungkan firman Allah, “..boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu..”

                 Untuk memudahkan Anda memahami ayat ini, saya ilustrasikan sebuah peristiwa yang dialami kuli bangunan yang terdampar di sebuah terminal bus tanpa bekal satu rupiahpun. Pemuda asal Magetan Jawa Timur yang bekerja di Surabaya itu harus segera pulang karena ibunya sakit kritis di kampung. Ia membawa uang hanya cukup untuk tiket bus karena ia akan dijemput adiknya di terminal terakhir. Sialnya, ketika bus berhenti di terminal Mojokerto, ia pergi ke toilet, dan saat itulah ia ditinggalkan bus. Di mushalla tempat ia istirahat, ia mengadu kepada Allah, “Wahai Allah, saya sudah tidak memiliki uang sepeserpun. Bagaimana saya melanjutkan perjalanan pulang? Tidakkah tujuan saya ini mulia: menjenguk ibu saya yang kritis?” Berkali-kali ia mengajukan protes kepada Allah, “Mengapa Engkau tidak memberi kemudahan hamba-Mu yang sedang berbakti kepada orang tua ini?”

                 Pagi hari setelah bangun tidur di mushalla kecil itu, ia mendengar suara penjual koran, “Koran, koran. Kecelakaan maut, kecelakaan maut. Bus Brahma.” Ternyata bus itulah yang meninggalkannya di terminal sehari sebelumnya. Ia langsung bersujud syukur sambil mengatakan, “Wahai Allah, luar biasa skenario-Mu untuk menyelamatkan saya. Luar biasa kasih-Mu. Andaikan saya tidak tertinggal di terminal, tentu saya sudah mati dan tidak bisa menjenguk ibu selamanya.”

                 Kasus serupa terjadi pada diri saya sendiri. Pada tahun 2000, sepulang dari Afrika, tiba-tiba suara saya hilang dan berlangsung selama enam bulan. Saya sedih, tidak bisa mengajar dan berceramah seperti sebelumnya. Beberapa tahun kemudian, cobaan kedua datang. Nyaris saya tidak bisa rukuk dan sujud dengan sempurna karena penyakit punggung dan lutut. Saya harus rukuk dengan perlahan menahan sakit dan lebih lama. Sejak itu saya “terpaksa” rukuk dan sujud lebih lama dan lebih tenang, tidak tergesa-gesa, dan berusaha memahami makna doa di dalamnya. Dari situlah, saya memperoleh inspirasi menulis buku tentang kedahsyatan rukuk dan sujud, dan pada tahun 2012 terbitlah buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia. Andai tidak ada cobaan itu, tidak akan ada buku tersebut. Ternyata, pada semua kejadian yang tidak saya sukai tersimpan rahasia Ilahi yang baru dibuka-Nya di kemudian hari. Sekali lagi renungkan firman Allah, “Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu..”

                 Untuk Anda yang masih meragukan firman Allah di atas, saya tambahkan satu kisah lagi. Seorang anggotaTNI Angkatan Laut tiba-tiba mendapat surat pemecatan karena terbukti salah satu keluarganya tokoh PKI. Berbulan-bulan ia merasakan derita psikis dan ekonomis karena tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menyelematkan masa depan anak-anaknya yang masih kecil. Setahun kemudian ia diterima di perusahaan pelayaran dan beberapa tahun sesudahnya ia mendapat gaji perbulan sama dengan gaji TNI selama dua tahun. Tiada henti ia bersyukur, “Terima kasih oh Allah atas peristiwa pemecatan saya sekian tahun yang lalu.”

                 Dalam hidup selalu ada siang dan malam. Artinya, tidak selamanya seseorang dalam kegelapan malam, sebab esok hanya ia menyaksikan matahari terbit di ufuk timur. Tidak selamanya Anda dalam penderitaan. Pada waktu yang lain, Anda pasti mengalamai hal yang menyenangkan. Pada saat demikian, Anda harus berhati-hati, sebab Allah memberitahu Anda, ”… dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu..”. Anda mungkin pernah mendengar kisah berikut ini. Seorang pejabat mengadakan pesta besar-besaran dengan aneka makanan rakyat, sebagai tanda kegembiraan atas terpilihnya sebagai bupati, mengalahkan pesaingnya dengan selisih suara yang tipis. Baru setahun memimpin kabupaten, ia tertangkap tangan oleh KPK dan masuk bui karena kasus korupsi.

                 Ada lagi kisah lain yang serupa. Seorang janda bertahun-tahun menabung untuk membelikan motor untuk anak tunggalnya. Seusai shalat subuh, sang anak mencoba motornya di jalan raya. Di pagi buta itulah sang anak menghembuskan nafas terakhir, karena sebuah truk pengangkut sayur dari pasar induk melaju dengan kecepatan tinggi menabraknya.

                 Allah SWT menyudahi firman-Nya, “Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Artinya, Anda hanya bisa mengetahui bungkus sebuah peristiwa sedang Allah-lah Yang Maha Tahu isinya. Anda hanya bisa melihat kulit dan tidak mengetahui di baliknya. Anda hanya bisa mengetahui kekinian dan tidak akan tahu apa yang terjadi kemudian.

                 Ternyata, pada buah apel segar di tangan Anda, terdapat ulat di dalamnya yang mematikan Anda. Di tengah kegembiraan terkadang tersimpan sebuah malapetaka. Maka bergembiralah secara wajar-wajar saja, jangan berlebihan. Bahkan, tetap waspadalah di tengah kegembiraaan itu. Sebaliknya, di tengah genangan air mata dan darah, kadang terdapat mutiara indah yang baru Anda temukan di kemudian hari. Maka tetap bersiullah di tengah badai derita kehidupan. Semoga Anda segera menemukan mutiara itu.