Header

PUASA PENGASAH JIWA

July 3rd, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

PUASA PENGASAH JIWA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah [2]:183)

Saya sadar bahwa ayat tentang puasa di atas sudah amat sering Anda baca, sehingga seperti telah kehilangan aktualitas. Tapi, tiba-tiba saja saya tertarik untuk mengulas ayat itu kembali setelah merenungi puasa kita selama ini yang menurut saya amat jauh dari berkualitas, lebih-lebih setelah saya membaca salah satu literatur tentang puasa yang benar-benar menampar wajah saya.

Jika Anda hayati secara mendalam, firman Allah di atas menunut kita untuk menjadi orang cerdas. Untuk berpuasa, Anda tidak harus menunggu diperintah Allah, sebab Anda pasti sudah faham bahwa pencernaan Anda telah melakukan pekerjaan yang amat berat selama sebelas bulan untuk mencerna makanan siang dan malam. Makanan yang Anda masukkan ke dalam perut juga hampir tanpa seleksi, sebab hanya berdasar selera yang memuaskan tengggorokan, bahkan tanpa dikunyah secara lembut, sehingga memberatkan kerja pencernaan. Oleh sebab itu, kecerdasan Anda sudah cukup menjadi sumber perintah puasa Anda, agar perut bisa istirahat sebulan di siang hari.

Berapa lama kita menjadi muslim dengan ritual shalat setiap hari dan puasa sebulan setahun sekali. Tapi, cobalah Anda mendaki gunung, lalu genggamlah beberapa batu yang Anda jumpai. Tanyakan kepada hati nurani, manakah yang lebih keras: batu di tangan Anda atau hati Anda? Jangan jawab dulu, sebelum membaca firman Allah SWT berikut, “Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini di atas sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (QS. Al Hasyr [59:21). Ternyata, selama ini hati kita tidak bergetar, jiwa kita tidak tercambuk dengan firman Allah yang setiap hari kita baca dan kita dengar. Oleh sebab itu, sekali lagi, perintah puasa sebenarnya layak timbul dari diri Anda sendiri untuk melatih jiwa mengekang hawa nafsu dan mengasah kepekaan jiwa Anda.

Jika Anda membaca sejarah orang-orang shaleh terdahulu, Anda pasti faham, bahwa mereka bisa meraih kemuliaan, ketajaman spiritual dan keluhuran peradaban disebabkan mereka telah membiasakan puasa dan semangat berkarya yang luar biasa. Karya besar yang terbaik selalu dihasilkan dari otak yang cerdas dan hati yang bersih.

Berdasarkan hal-hal di atas, maka Anda bisa memahami mengapa perintah puasa dalam firman Allah yang dikutip di atas berbetuk kalimat pasif, tanpa menyebutkan siapa yang mewajibkan puasa, “..diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Puasa yang dilakukan semua generasi manusia bersumber dari pemikiran mereka sendiri disamping dari perintah Tuhan.

Ujung ayat di atas menunjukkan untuk apa Anda berlapar-lapar puasa. Tidak lain agar kita menjadi pribadi yang bertakwa. Pribadi yang bertakwa tercermin dalam kehidupannya yang tiada pernah putus hubungannya dengan Allah, kerendahan hati, kepekaan sosial, kejujuran, dan optimismenya dalam menjalani kehidupan di tengah masyarakat.

Untuk membentuk pribadi unggul dan berkualitas, Anda sebaiknya tidak hanya berpuasa berdasar aturan-aturan standar belaka, tapi harus juga diperhatikan beberapa etika puasa. Pertama, sertakan semua indera Anda untuk berpuasa, sebab kemuliaan Anda sangat ditentukan ketakwaan indera tersebut. Puasa perut, tanpa puasa indera adalah puasa nihil makna. Puasa harus dilakukan bersamaan antara puasa perut, puasa di atas perut yaitu hati dan kepala dan puasa di bawah perut yaitu nafsu seksual. Kedua, bebaskan perut Anda dari makanan dan minuman untuk berbuka dan sahur yang tidak jelas halalnya (syubhat), apalagi yang haram. Jangan sekali-kali berbuka puasa dengan makanan yang syubhat. Juga, pilihlah tempat berbuka yang bernuansa ilahiyah. Maka berbuka dengan keriangan di tengah keluarga, di mushalla, masjid atau bersama dengan orang-orang miskin jauh lebih merangsang kemuliaan daripada di warung, pasar atau hotel-hotel.

Ketiga, puasakan semua anggota badan Anda dari tindakan yang tidak bernilai atau tidak menambah poin kebajikan akhirat, walaupun tindakan itu diperbolehkan. Ingatlah pesan nabi SAW, “Termasuk tanda ketinggian iman seseorang adalah keberhasilannya menjauhi hal-hal yang tidak bernilai baginya.” Perintah Nabi SAW tersebut harus diperhatikan, lebih-lebih pada bulan suci. Anda harus selektif: benar-benar cerdas memilih yang sangat bernilai ketika Anda di depan televisi, internet, telpon seluler dan sebagainya. Keempat, hindari tidur berkepanjangan di siang hari sehingga produktifitas kerja Anda menurun dan mengumbar nafsu makan di malam hari sehingga Anda bermalasan ibadah. Anda dipastikan gagal memberikan pelatihan jiwa jika etika ini dilanggar. Kelima, makanlah dengan porsi dan menu seperti hari-hari biasa di luar ramadlan. Jauhi ramadlan konsumtif apalagi berlebih dan mengundang kemubadziran. Semua makanan yang melebihi kebutuhan tubuh menjadi investasi penyakit masa depan. Dengan memperhatikan etika keempat dan kelima, Anda diharapkan berhasil “menerawang” (mukasyafah) akhirat lebih jelas, bisa menikmati kemesraan dengan Allah dan meraih cahaya ramadlan yang sesungguhnya. Orang-orang shaleh terdahulu selalu menambah ibadah ramadlan sekalipun sudah maksimal ibadahnya di luar ramadlan. Mereka juga bersungguh-sungguh mengurangi syahwat makanan di malam hari.

Keenam, jadikan ramadlan bulan sedekah berupa pemberian makanan berbuka untuk mereka yang berpuasa, memberi makanan untuk penguat puasa mereka berikutnya, dan membebaskan penderitaan fakir miskin. Senyum orang-orang miskin adalah senyum Allah untuk Anda. Kesegaran kerongkongan mereka adalah kesegaran kerongkongan Anda di surga kelak. Pahala puasa mereka yang berbuka dan makan sahur atas uluran tangan Anda adalah pahala puasa Anda yang berlipat-lipat.

Ketujuh, lakukan shalat taraweh dengan tenang (tumakninah), tidak tergesa-gesa dalam semua gerakannya serta memperhatikan aturan dan keindahan bacaan Al Fatihah dan surat-surat lainnya. Para sahabat Nabi dan orang-orang shaleh terdahulu melakukan shalat dengan beberapa kali menuntaskan bacaan 30 juz Al Qur’an dan beristirahat (taraweh) sejenak di sela-sela pelaksanaan sahalat malam. Jika tidak bisa meniru demikian, maka jangan terlalu jauh dari kebiasaan mereka, apalagi menjadi orang “bodoh” (istilah Habib Abdullah bin Haddad) yang dikendalikan setan selama tarawehnya. Berhati-hatilah dengan perangkap setan selama ibadah malam. Kedelapan, bersiaplah setiap malam, lebih-lebih pada sepuluh malam terakhir untuk menyambut malam seribu bulan: lailatul qadar. Cahaya malam istimewa itu hanya bisa dirasakan oleh mereka yang menyiapkan hati untuk menyongsongnya. Kaca yang tertutup debu tidak akan tertembus sekuat apapun cahaya.

Kesembilan, lakukan apa saja yang menguatkan silaturrahim dan persatuan umat. Hindari hal-hal yang mengundang konflik dan perpecahan. Tunjukkan selama puasa bahwa Allah SWT ada di mulut, mata, telinga, tangan dan semua anggota tubuh Anda sehingga yang terpancar dari diri Anda adalah ketulusan, kesejukan dan kasih sayang.

Barangkali, itulah sembilan etika yang kita abaikan selama sekian kali ramadlan, sehingga kita masih jauh dari predikat pribadi yang shaleh, sebagaimana tujuan utama puasa. Anggaplah ramadlan ini ramadlan terakhir dalam kehidupan Anda, dan jadikan ramadlan tahun ini tonggak perubahan besar hidup Anda: la’allakum tattaqun. (Sumber utama: Kitab Al Nasha-ih Al Diniyyah wa Al Washaya Al Imaniyyah karya Imam Habib Abdullah bin Haddad dan beberapa sumber lainnya).

SHALAT RAMADLAN, SHALAT KEBANGKITAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“ Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang rukuk” (QS. Al Baqarah [2]:43)

Ayat di atas dengan jelas menjelaskan tiga perintah sekaligus, yaitu shalat, zakat dan shalat bersama-sama (jamaah). Bulan Ramadlan bulan yang paling tepat untuk membentuk pribadi muslim yang terbaik dalam menjalankan semua perintah itu, karena ketiganya ada di dalam bulan ramadlan. Anda wajib menjalan shalat lima waktu, dan inilah ibadah yang utama dalam Islam. Oleh sebab itu, orang yang meninggalkan shalat bagaikan orang hidup tanpa kepala. Jika Anda shalat tapi tanpa penghayatan, maka Anda bagaikan orang bertubuh sempurna tapi tanpa nyawa.

Tulisan ini difokuskan pada kajian shalat terutama pada bulan ramadlan. Di seluruh dunia, kita menyaksikan umat Islam berduyun-duyun ke masjid untuk menjalanksan shalat taraweh berjamaah di masjid, baik 8, 20 atau 36 rakaat. Shalat taraweh sebanyak 20 rakaat dilakukan sejak zaman pemerintahan Umar bin Khatttab ra. Kitab Dalilul Falihin menyebutkan, hitungan tersebut dipilih sebagai kelipatan dari 10 rakaat shalat sunah muakad (sangat dianjurkan) yang dilakukan sebelum atau sesudah shalat wajib setiap hari, yaitu 2 rakaat sebelum shalat subuh, 2 rakaat sebelum shalat dhuhur dan 2 rakaat sesudahnya, 2 rakaat setelah shalat maghrib dan 2 rakaat setelah shalat isyak. Atau mungkin menyesuaikan dengan jumlah shalat sunah muakad tersebut di atas ditambah 10 rakaat sunah ghairu muakad (tidak seberapa dianjurkan), yaitu 2 rakaat sebelum dhuhur dan 2 rakaat sesudahnya, 4 rakaat sebelum ashar dan 2 rakaat sebelum maghrib.

Wuh, luar biasa banyak. Jika Anda membiasakan semua sunah di atas, maka Anda telah melaksanakan 37 rakaat setiap hari, yaitu 17 rakaat shalat wajib ditambah 20 rakaat shalat sunah. Dalam bulan ramadlan, Anda bertambah mulia lagi karena masih menjalankan lagi 20 rakaat shalat taraweh. Belum lagi ditambah shalat witir dan shalat-shalat sunah lainnya. Dengan demikian, Anda telah melakukan shalat lebih dari 50 rakaat, jumlah rakaat shalat yang diperintahkan pertama kali ketika Nabi SAW melakuakn israk mikraj.

Untuk mencapai kualitas shalat sebanyak di atas, ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan. Pertama, lakukan wudlu yang sempurna dengan penuh syukur dan permohonan ampunan atas semua anggota badan yang dibasuh atau diusap. Hindari wudlu dengan waswas (serba ragu keabsahan), sebab waswas adalah cermin atas kedangkalan ilmu dan kelemahan otak pelakunya. Upayakan jarak antara setiap waktu shalat itu tetap dalam keadaan suci. Allah SWT pernah memberitahu Nabi Musa as, “Jika kamu mendapat musibah, maka besar kemungkinan kamu tidak dalam keadaan suci. Maka salahkan dirimu sendiri.”

Kedua, kerjakan shalat awal waktu untuk menunjukkan kesungguhan Anda dalam mencari kebaikan. Shalat awal waktu mendatangkan ridla atau kesenangan Allah, shalat di tengah waktu mendatangkan kasih Allah dan shalat di akhir waktu merupakan ampunan-Nya. Artinya, Allah tidak menyukai Anda melakukan shalat di akhir waktu, tapi Allah masih memaafkannya.

Ketiga, laksanakan shalat berjamaah di masjid dan carilah barisan terdepan. Tunjukkan kepada Allah bahwa Anda siap berkompetisi untuk kebaikan (fastabiqul khairat). Tunjukkan pula bahwa Anda ingin serba terdepan dalam kebaikan, terdepan dalam kualitas diri Anda sebagai SDM di tempat kerja, terdepan sebagai suami teladan, sebagai ayah dan sebagainya, bahkan terdepan dalam memasuki surga. Anda juga akan memperoleh lebih banyak doa para malaikat daripada mereka yang ada pada barisan-barisan di belakang Anda. Jangan sekali-kali berlari ke neraka dengan melangkahi pundak orang karena ingin berada di barisan depan. Mengenai shalat berjamaah, Imam Haddad mengatakan, “Belum pernah saya jumpai satu hadispun bahwa Nabi SAW pernah shalat wajib sendirian.” Abdullah bin Mas’ud r.a berkata, “Salah satu tanda orang munafik adalah shalat wajib yang dilakukan sendirian. Pada masa Nabi SAW, banyak orang tua atau sakit yang digotong ke masjid.” Semarak taraweh di masjid adalah pendidikan terpenting untuk penanaman rasa cinta masjid. Percayalah, banyak solusi persoalan hidup dan berbagai kesuksesan Anda lebih banyak berkat doa orang-orang yang shalat berjamaah bersama Anda di masjid daripada doa Anda sendiri. Percayalah, jika selama hidup, Anda aktif shalat berjamaah di masjid, insya-Allah kelak Anda juga akan dishalati di masjid oleh banyak orang sebelum dibawa ke pemakaman.

Keempat, bangun pada akhir malam untuk makan sahur juga pendidikan yang amat berharga untuk membiasakan shalat tahajud. Itulah waktu terbaik untuk pendekatan diri kepada Allah. Silakan meminta apa saja kepada-Nya, apalagi disampaikan pada posisi terdekat Anda dengan Allah yaitu ketika bersujud. Itulah saat bersatunya waktu dan posisi kedekatan manusia dengan Allah. Tidak hanya doa yang disampaikan, tapi penyerahan secara total semua persoalan Anda kepada-Nya.

Dengarkan komentar orang-orang shaleh terdahulu mengenai shalat malam. Antara lain, “Selama 40 tahun saya beribadah, tidak ada yang lebih menyedihkan saya melebihi datangnya waktu fajar.” “Jika tidak ada shalat malam, untuk apa ada kelanjutan hidup saya.” Bangkitkan semangat Anda untuk membiasakan shalat malam, sekalipun hanya beberapa menit sebelum suhuh. Nabi SAW bersabda, “Lakukan shalat malam sekalipun hanya satu rakaat.” Artinya baru satu rakaat shalat malam, waktu shubuh sudah tiba. Shalat malam merupakan sarana utama menuju kemuliaan sebagaima dilakukan oleh orang-orang shaleh terdahulu. Jangan bermimpi meraih kemuliaan tanpa sujud di akhir malam. Shalat malam beberapa menit sebelum subuh dan dikerjakan secara terus menerus jauh lebih baik daripada shalat malam yang lama tapi dikerjakan sekali atau dua dalam sebulan. Memang berat untuk memulai, tapi ringan setelah menjadi kebiasaan. Bismillah.

Kelima, lakukan shalat dengan khusyuk dan tumakninah (tenang) baik secara fisik, tenang bacaan dan tenang hati. Larangan bangkit dari rukuk sebelum tumakninah, harus diartikan lebih mendalam sebagai sebuah pesan penting, “Jangan bangkit dari rukuk sebelum Anda memperoleh ketenangan batin.” Shalat dalam keadaan puasa menjamin shalat Anda bebas dari pikiran makanan dan bebas dari rasa mengantuk. Ketika makanan memenuhi perut Anda, energi Anda terkuras untuk mencerna. Sedangkan ketika pencernaan tidak bekerja, maka energi Anda berfungsi untuk menghidupkan otak dan hati.

Perintah shalat yang diikuti perintah membayar zakat menunjukkan shalat yang baik adalah shalat yang melahirkan kesadaran sosial. Shalat ramadlan telah berfungsi demikian, sehingga umat Islam membayar zakat dan berlomba-lomba untuk bersedekah selama bulan suci. Secara tidak langsung, Anda dididik untuk lebih suka memberi daripada diberi. Muslim terbaik adalah muslim yang memerdekakan dirinya dari mental meminta dan menggantungkan orang lain. Malaikat Jibril pernah turun ke bumi untuk menyampaikan berita itu kepada Nabi SAW. (wa’izzahu istighna-uhu ‘aninnas). Jauhilah sikap mengeluh atas apapun yang Anda terima, sebab keluhan menunjukkan kualitas shalat Anda. Allah SWT berfirman, “Sungguh, manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya.” (QS Al Ma’arij [70]:19-23).

Shalat ramadlan diharapkan membangkitkan Anda untuk lebih banyak menjalankan shalat sunah, lebih menyintai masjid, lebih aktif berjamaah di masjid, lebih sering shalat malam, lebih peka terhadap lingkungan sosial, lebih mandiri serta bahagia karena berhasil menghapus mental ketergantungan kepada orang lain dan lebih ikhlas, ridla dan tidak mengeluh terhadap takdir Allah. Selamat menjalani proses kebangkitan melalui shalat ramadlan menuju hidup yang lebih bahagia. (Sumber utama: Kitab Al Nasha-ih Al Diniyyah wa Al Washaya Al Imaniyyah karya Imam Habib Abdullah bin Haddad, Kitab Dalilul Falihin karya Moh bin Allan As Shiddiqi dan beberapa sumber lainnya).

SHALAT ORANG BERTATO?
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Tanya:

Assalamu’alaikum wr wb

Saya istri (35 tahun) bersuami pria bertato pada tangan, leher dan dada sejak muda sebelum menikah dengan saya. Ia suami yang luar biasa perhatiannya untuk saya, orang tua dan semua saudara saya. Juga sangat sopan kepada siapa saja. Pokoknya, ia segala-galanya bagi saya dan anak-anak. Hanya satu kekurangannya, sampai sekarang tidak mau shalat. Setiap saya ajak shalat, ia hanya diam, tidak menjawab satu katapun.

Pada awal tahun 2014 ini, dia tiba-tiba bercerita tentang sebab keengganannya untuk shalat. Ia sangat menyesal telah mentato sedemikian banyak anggota tubuhnya. Sudah beberapa kali ia mencoba menghilangkannya, tapi ternyata sangat sulit walaupun dengan laser, disamping biayanya mahal. Ia semakin gelisah setelah mendengar seorang ustad yang berceramah di masjid yang terdengar sampai di kamar tidurnya, bahwa shalat tidak sah bagi orang yang bertato.

Saya mohon penjelasan dan solusi atas masalah tersebut. Terima kasih. Wassalam.

Ratih Putri – Jakarta

Jawab:

Wa’alaikumussalam wr wb.

Tenang bu Ratih. Sebelum menjawab pertanyaan Anda, ijinkan saya bercerita sedikit tentang tato. Tato (tatto) adalah suatu tanda yang dibuat dengan memasukkan pigmen ke dalam kulit. Seni ini dikenal sejak 12.000 tahun lalu. Pada jaman dahulu, tato dipakai oleh masyarakat suku terasing sebagai tanda wilayah, status, atau pangkat seseorang.

Ada dua macam tato, yakni tato temporer dan tato permanen. Tato jenis pertama cara pembuatannya sangat sederhana, sama dengan cara membuat hiasan di kulit dengan henna: cukup dioleskan pada permukaan kulit dan menunggu hingga warnanya meresap ke dalam lapisan permukaan kulit. Tato jenis ini hanya bertahan beberapa waktu dan akan hilang dengan sendirinya. Adapun tato jenis kedua dibuat dengan cara memasukkan tinta ke dalam lapisan kulit dengan alat yang mirip jarum suntik. Tato jenis ini tidak bisa hilang dengan sendirinya, sehingga proses penghapusannya membutuhkan cara khusus. Misalnya menggunakan laser. Rupanya tato suami Anda termasuk jenis ini.

Bolehkah muslim membuat tato pada badannya? Nabi SAW bersabda, “Allah SWT melaknat wanita yang menyambung rambutnya, dan yang meminta untuk disambungkan, serta wanita yang mentato atau meminta ditato.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a). Allah SWT juga berfirman, “Dan aku (setan) benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku (setan) suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya. Barangsiapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (QS. An-Nisa`[04]: 119).

Berdasarkan ayat dan hadis diatas, maka Islam melarang muslim untuk bertato di bagian tubuh manapun, karena termasuk perbuatan menyakiti diri sendiri, merubah apa yang telah dikaruniakan Allah, serta mendorong orang untuk memamerkan bagian tubuhnya.

Lalu, bagaimana jika telah terlanjur melakukannya? Imam An-Nawawi mengatakan wajib menghapusnya jika tidak sulit dan tidak membahayakan kesehatan. Namun, jika tidak memungkinkan, maka yang bersangkutan cukup bertobat kepada Allah SWT. Tidak mungkin Allah membuat perintah yang menyusahkan orang. Allah SWT berfirman, “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS Al Baqarah [02]:185).

Apakah wudlu yang bersangkutan sah? Tetap sah, sebab tinta tato masuk di bawah permukaan kulit sehingga air wudlu tetap mengenai kulit anggota badan yang wajib dibasuh. Dengan demikian, shalatnya juga sah. Adapun tato yang menggunakan cat atau tinta yang menghalangi air wudlu sampai ke kulit, maka wudlu yang bersangkutan tidak sah. Ia wajib menghilangkan tato jenis ini sangat mudah.

Begitulah bu Ratih. Semoga jawaban ini benar-benar menghibur dan menyemangati suami Anda untuk shalat wajib dan shalat sunah. Semoga Anda sekelurarga menjadi keluarga penuh ibadah dan sakinah. Wallahu a’lamu bis shawab.