Header

SHALAT YANG MEMBAHAGIAKAN

July 23rd, 2017 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

SHALAT YANG MEMBAHAGIAKAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

 

sumber gambar: https://muslimvillage.com/2013/11/04/45425/daniel-pipes-on-russias-muslims-wrong-as-usual

قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢

Sungguh, (pasti) berbahagialah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu´ dalam shalatnya (QS. Al Mukminun [23]:1-2).

Artikel ini saya tulis untuk merespon beberapa orang yang masih meragukan shalat sebagai terapi atau cara-cara spesifik untuk meraih kebahagiaan, atau menganggap istilah shalat bahagia tidak ditemukan dalam literatur Islam selain shalat khusyuk. Tulisan ini juga sekaligus untuk persiapan saya memberi pencerahan shalat di 16 kota besar di Amerika Serikat tahun 2017.

Ada dua kata kunci dalam firman Allah di atas, yaitu khusyuk dan bahagia, bahwa pelaku shalat khusyuk dijamin hidup sukses dan bahagia. Setiap hari, kita diseru untuk sukses melalui azan, hayya ‘alas shalah, hayya alal falah (ayo shalat dan ayo bahagia). Kita disemangati terus menerus setiap hari untuk lebih berprestasi dan berbahagia (al falah) agar kita dapat memimpin dunia, bukan penonton atau orang yang terpuruk dan terpinggirkan.

Shalat khusyuk adalah shalat yang menumbuhkan ketundukan kepada perintah Allah, kepasrahan dan perasaan senang terhadap apapun dan berapapun pemberian Allah. Bisakah kekhusyukan diperoleh tanpa memahami makna doa-doa shalat? Hampir mustahil. Oleh sebab itu, Anda harus memahami arti semua doa shalat, sekalipun hanya secara global, tidak arti kata perkata. Bagaimana mengatasi kesulitan pemahaman doa-doa shalat yang tertulis dalam teks Arab itu, terutama bagi pemula atau mualaf? Sangat mudah, jika diajarkan dengan keseimbangan otak kiri dan kanan (lihat buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, p. 216-222).

Shalat khusyuk akan menghasilkan T2Q, yaitu tumakninah (tenang, damai, tidak tergesa-gesa dalam segala hal), tawakal (pasrah atas pemberian Allah setelah kerja keras dan doa), dan qana’ah (menerima dengan senang hati apapun dan berapapun pemberian Allah). Rincian (breakdown) dari T2Q yang merupakan modal utama untuk meraih kebahagiaan tersebut ditanamkan melalui enam gerakan utama shalat sekaligus  menghapus enam sumber kecemasan yang saya singkat KURMA PUCUK DOMIS, yaitu: pertama, kurang bersyukur, merasa serba kurang. Emosi negatif yang menjadi sumber kecemasan ini dihapus melalui renungan alhamdu lillahi rabbbil ‘alamin pada posisi berdiri shalat. Melalui hamdalah, dengan senang hati, Anda sedang berterima kasih kepada Allah SWT,  “Wahai Allah, saya berterima kasih atas keimanan yang Engkau anugrahkan kepadaku. Saya orang yang bahagia karena memiliki ibu, ayah, adik, kakak, suami atau istri, yang semuanya sangat menyayangi saya. Saya amat berbahagia karena masih hidup dan berkecukupan, tidak menjadi pengemis di jalan-jalan.” Anda bisa menambahkan deretan kenikmatan Allah yang telah Anda terima sejak kecil. Dengan penyebutan semua anugrah Allah itu, Anda akan lebih bahagia, lebih menghargai orang dan frekwensi marah kepada keluarga atau siapapun menjadi jauh berkurang. Hidup bahagia bisa diraih dengan mensyukuri apa yang ada, bukan mengharap-harap atau berangan-angan tentang apa yang belum di tangan.

Kedua, kematian yang ditakuti secara berlebihan. Ini juga merupakan sumber kecemasan. Melalui rukuk dengan posisi kepala yang diserahkan kepada Allah, Anda diingatkan untuk menyerahkan hidup-mati kepada Allah SWT, sebab kematian bukanlah pilihan, melainkan kepastian. Dengan menghapus ketakutan itu, Anda telah menutup pintu-pintu stres.  Melalui rukuk pula, Anda disemangati untuk rendah hati dan hormat kepada siapapun. Sikap hormat dan menghargai orang dapat mengantarkan Anda hidup lebih bahagia, sebab sikap itu mengundang simpati banyak orang untuk bekerjasama dalam banyak hal, termasuk dalam berbisnis untuk menambah penghasilan Anda.

Ketiga, pujian dan apresiasi orang yang diharap-harap atas apa yang Anda lakukan. Ketika Anda mengucapkan rabbana walakal hamdu pada waktu bangkit dari rukuk, sebenarnya Anda sedang bersumpah tidak mengharap balas budi, pujian, apresiasi dan terima kasih dari siapapun selain Allah, sebab Dia-lah satu-satunya yang berhak dipuji. Mengharap pujian orang sama dengan merampas hak-hak Allah, sekaligus membuka sejuta pintu stres. Sebab, menurut Al Qur’an (QS. 34: 13), hanya sedikit orang yang memberi apresiasi karya orang. Semakin besar harapan seseorang akan apresiasi orang, semakin terbuka lebar pintu stres. Orang bahagia tidak akan mengemis apresiasi, tapi justru selalu memberi apresiasi sekecil apapun jasa orang.

Keempat, curahan kesedihan hati yang belum tersalurkan kepada orang paling dipercaya. Oleh sebab itu, salah satu obat stres adalah mencurahkan masalah hidup sampai tuntas kepada orang yang dipercaya dan bersedia mendengarkannya, sekalipun orang itu tidak dapat memberikan solusi. Ketika bersujud minimal 30 detik dan Anda mencurahkan isi hati sepuas-pusanya, maka berkuranglah beban psikologis Anda, sebab semua curahan hati telah ditumpahkan kepada Allah SWT disertai keyakinan bahwa Allah akan mengambil alih semua masalah yang Anda hadapi.

Kelima, dosa-dosa masa lalu. Melalui doa pada posisi duduk di antara dua sujud, Anda diyakinkan bahwa tidaklah mungkin, Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun tidak mengampuni dan mengasihi orang yang shalat, dan merengek meminta belas kasih dan ampunan kepada-Nya.

Keenam, pesimis dan minder. Lihatlah, betapa gelap dan ciut muka orang yang tidak percaya diri, pesimis dan putus asa. Itulah tanda orang yang “kafir” dan menderita (QS. 14:7 dan 12:87). Melalui syahadat pada posisi tasyahud, keimanan Anda dikuatkan sehingga lebih percaya diri dan optimis, bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan diyakini sebagai sumber energi untuk mengarungi masa depan. Sekarang, lihatlah, betapa cerah dan ceria muka orang yang optimis. Terapi shalat bahagia bukan berarti shalat yang menghasilkan uang untuk membayar hutang atau menyembuhkan penyakit. Tapi, dengan shalat yang benar, Anda optimis dan amat yakin bahwa Allah pasti, pasti, pasti Maha Kuasa mengatasi kesulitan ekonomi, penyakit, dan seberat apapun masalah Anda. Melalui rukuk, sujud dan tasyahud, beban psikologis Anda terasa ringan, sebab tugas Anda sudah tuntas, yaitu usaha dan doa. Lalu, Anda pasrah, pasrah, pasrah dengan keyakinan bahwa Allah SWT akan “mengambil alih” semua masalah dan memberi keputusan yang terbaik untuk Anda (QS. 65: 2-3).

Terapi shalat bahagia bukan menambah atau mengurangi aturan shalat yang sudah paten dari Nabi SAW, melainkan hanya memberi kemudahan menemukan kecanggihan shalat. Handphone Anda sangat canggih untuk berkomunikasi lintas batas geografis secara audio visual dengan cepat dan akurat. Tapi, sayang, Anda tidak mengerti cara menggunakannya. Sungguh, shalat Anda super canggih sebagai pemompa semangat hidup dan pembebas penderitaan. Tapi, sayang, Andalah yang tidak canggih memanfaatkannya.

HIDUP DENGAN LEMBARAN BARU
oleh:
Prof Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Khutbah Idul Fitri disampaikan di Kedutaan Besar Republik Indonesia Dhaka Bangladesh pada tanggal 1 Syawal 1438/ 26 Juni 2017

 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamdu.

Alhamdulil ladzi ja’ala ramadhaana sabiilan li’ubuudiyyatihi wa taqwaah

Ahmaduhuu subhaanahuu waasykuruhuu syukran wa hamdan laa hadda limuntahaah

Ayshadu an laa ilaaha illallahu wahdahuu laa syariika lah

Wa bi’aunihii watawfiiqihii shallaynaa wa shumnaa wa ‘abadnaah

Wa asyhadu anna sayyidanaa wa nabiyyanaa Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu laa nabiyya ba’dah

Ijtabaahu rabbuhuu washtafaahu wa hadaah

Shallallahu ‘alahi wa ‘alaa aalihi wa shahbihii waman waalaah

Amma ba’du

Fa uushiikum wa nafsii bi taqawallah. Qaalallahu ta’aalaa, “Ya ayyuhal ladziina aamnuttaqullaha haqqa tuqaatihi wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Pada pagi ini kita bersyukur dapat menyelesaikan puasa Ramadan sebulan penuh, dan menjalankan ratusan rakaat taraweh, witir, dan shalat-shalat sunah lainnya. Alhamdulillah, kita juga telah membayar zakat dan sedekah untuk meringankan beban hidup orang lain. Oleh sebab itu, terimalah kabar gembira dari Rasulullah SAW untuk Anda semua, bahwa siapapun yang menjalankan shalat-shalat sunah selama ramadan semata-mata demi ketaatannya kepada Allah, maka semua dosanya diampuni oleh Allah SWT. Pahala untuk shalat fardhu dan ibadah-badah wajib lainnya yang kita kerjakan selama Ramadan jauh lebih besar, sebab Allah SWT menyatakan, “Puasamu adalah untuk-Ku.” Secara tidak langsung, Allah mengatakan, “Biarlah Aku yang memberikan ganjaran sesuai dengan kehendak-Ku. Engkau tidak akan mampu menghitung besaran pahala dari-Ku untukmu.”

Kabar gembira berikutnya untuk Anda, bahwa Allah SWT akan memberikan pahala puasa sebanyak pahala orang yang menerima sedekah berbuka puasa atau sahur dari Anda. Nabi SAW juga memberi jaminan, bahwa siapapun yang meringankan beban hidup orang selama Ramadan atau di luar Ramadan, maka ia akan dibebaskan dari derita hidup di akhirat kelak. Saya yakin dan berdoa semoga para hadirin termasuk mereka yang dimuliakan Allah tersebut.

Pantaslah, jika pada idul fitri ini, kita saling memberi ucapan selamat: Eid Mubarak, yang artinya, semoga hari raya ini memberikan tambahan kemuliaan dan kebahagiaan Anda; Taqabbalallahu minna waminkum, taqabbal ya karim, yang artinya, semoga semua ibadah kita diterima Allah Yang Maha Pemurah; atau ucapan lain yang paling terkenal di Indonesia, Minal a’idin wal faizin, yang artinya, semoga kita sama-sama kembali kepada kesucian, sukses dan bahagia selamanya. Ucapan selamat itu biasanya kita sertai ekspresi rendah hati berupa permintaan maaf atas kesalahan yang mungkin telah kita lakukan sesama kita. Kita benar-benar telah menyelesaikan masalah-masalah yang mengurangi keakraban kita dengan Allah dan antara sesama kita.

 

Kaum muslimin yang berbahagia.

Idul Fitri harus kita jadikan lembaran baru untuk hidup lebih berkualitas, lebih bahagia dan lebih banyak lagi orang yang kita bahagiakan. The more people you please, the more smile of God at you (semakin banyak orang yang Anda bahagiakan, semakin banyak senyum Allah untuk Anda). Nabi SAW bersabda, “Irhamu man fil ardhi yarhamkum man fis sama’,” yang artinya ”Kasihilah penduduk bumi agar malaikat penghuni langit mengasihimu.” Setiap hari kita mendengar seruan azan, Hayya alas shalah, hayya alal falah, yang artinya ”Ayo kita kerjakan shalat, dan ayo kita raih kesuksesan dan kebahagiaan.” Mengapa kita harus sukses? Ya, agar kita bisa membahagiakan banyak orang. Inilah komando harian yang harus menyemangati kita untuk menjadi the best and the winner dalam segala hal.

Apa saja yang harus kita isi dalam lembaran baru setahun ke depan sampai ramadan berikutnya?. Pertama, lanjutkan akhlak mulia yang telah kita bangun selama ramadan. Sebulan penuh, kita tidak makan dan minum, tapi terus menerus berpikir tentang makan dan minum orang lain. Persis seperti yang dilakukan Allah, yaitu tidak makan dan minum, tapi selalu memberi makan dan minum manusia. Jika kita bisa membahagiakan orang, maka itulah kebahagiaan kita yang sejati, dan itulah definisi bahagia yang paling benar.

Pasti kita paham, bahwa kita harus memiliki finansial yang lebih dari cukup, jika kita ingin menolong banyak manusia secara maksimal. Oleh sebab itu, kita sambut baik ajakan presiden kita untuk kerja, kerja dan kerja. Artinya, kita harus meraih kekayaan sebanyak-banyaknya dengan cara yang halal, lalu kita nikmati bersama orang-orang di sekitar kita. Kerja, kerja, dan kerjalah yang maksimal dan profesional agar Anda ikut berperan memajukan kesejahteraan bangsa Indonesia dan semua umat manusia di dunia, dan itu berarti keberadaan Anda di bumi ini bernilai bagi orang lain. Untuk apa hidup, jika tidak memberi manfaat bagi orang lain? Kata Nabi SAW, ”Orang terbaik adalah yang paling sempurna imannya dan paling banyak memberi sumbangsihnya untuk umat manusia.”

Kedua, perbanyaklah rasa syukur atas apapun yang Anda terima. Salah satu doa setelah shalat taraweh yang dibaca oleh imam di berbagai masjid adalah, Allahummaj’alna bi imani kamilin, wa binna’mai syakirin, wa bilqhadha-i radhin, yang artinya, wahai Allah sempurnakanlah iman kami, jadikan kami orang yang selalu senang dengan pemberian-Mu, dan tidak mengeluh dengan apapun takdir-Mu. Nikmatilah hari demi hari tanpa keluhan. Hindari sejauh-sejauhnya sikap mengeluh, sebab orang yang mengeluh menunjukkan jiwanya sakit dan imannya rapuh. Mengeluh bahkan mendatangkan murka Allah. Allah SWT berfirman, ”Barangsiapa tidak menerima dengan senang hati semua takdir-Ku, dan tidak bersabar atas cobaan dari-Ku, maka hendaklah ia mencari Tuhan selain Aku.” Bekerjalah dengan semangat kuda di siang hari, pasrahkan hasilnya kepada Allah ketika shalat di malam sunyi, lalu nyatakan rasa senang apapun dan berapapun pemberian Allah sepenuh hati. Katakan setiap pagi dan petang, Radhitu billahi rabba wabil Islami dina wabi Muhammadin nabiyyan wa rasula, yang artinya, ”Aku senang dengan semua perintah-Mu, juga senang atas  apapun dan berapapun pemberian-Mu, aku senang menjadikan Islam sebagai agamaku, serta Nabi Muhammad sebagai utusan-Mu yang jadi panutanku.” Siapapun yang setiap pagi dan petang berjanji taat Allah dan Rasul-Nya, dan tidak mengeluh atas apapun yang diahadapi, maka Allah mencintai dan merahmatinya sepanjang hari dan malam itu.

Ketiga, selama ramadan, kita telah berlatih menjaga mulut dari makanan yang haram dan perkataan yang dosa. Isilah lembaran baru hidup kita dengan sikap ekstra hati-hati dalam menjaga mulut. Antara lain dari makanan yang haram. Lebih baik Anda mati karena bertahan pada yang halal, daripada bertahan hidup, tapi dengan yang makanan yang haram. Kita masih prihatin bahwa tingkat korupsi di beberapa negara berpenduduk muslim masih tetap tinggi, tidak terkecuali di Indonesia. Semua pelaku korupsi itu bukan dikarenakan kelaparan, melainkan keserakahan. Not hungry but greedy.

Selama ramadan, kita juga berpuasa dari perkataan yang tidak baik. Akhlak selama ramadan dalam penjagaan mulut atau lidah itu harus kita lanjutkan. Mulut kita harus terbebas dari perkataan yang menyinggung perasaan anggota keluarga kita dan masyarakat pada umumnya, atau mengandung hoax dan fitnah, apalagi yang mengundang permusuhan, baik secara vertikal antara pemerintah dan rakyat atau secara horisontal yaitu sesama warga masyarakat. Dalam media sosial, akhlak bangsa kita akhir-akhir ini, khususnya dalam bertutur-kata, nyaris lenyap, sehingga orang berpendidikan dan tidak berpendidikan, antara tokoh agama dan orang awam hampir sama saja, sama-sama tidak menjaga kesopanan, sebagaimana yang diajarkan Nabi SAW.

 

Kaum muslimin yang berbahagia.

Sudahlah, itu lembaran lama yang penuh dosa dan ketidakharmonisan. Yang lalu, biarlah berlalu. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita.  Allahu Akbar, Allahu Akbar, inilah idul fitri, hari kemuliaan dan kegembiraan. Kita buka lembaran baru dengan akhlak yang lebih mulia, saling menghargai dan saling memaafkan antar sesama. Tunjukkan kepada dunia, bahwa Anda bukan orang biasa, tapi pribadi yang agung dan luar biasa, berakhlak mulia seperti Nabi kita tercinta, selalu riang bahagia dan tiada henti membahagiakan semua manusia.

Allahu Akbar, dengan menjalankan puasa ramadan dan semua rangkaian ibadah di dalamnya, kita telah berhasil membangun surga di dada, dan Insya Allah kita akan memasukinya di alam baka. Idul fitri adalah sebuah deklarasi untuk hidup dengan lembaran baru yang berisi sikap saling memaafkan dan menghargai semua orang tanpa melihat perbedaan etnis dan keagamaan.

Minal ‘Aidin wal Faizin. Ied Mubarok. Taqbbalallahu minna waminkum. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamdu.

 LIVING LIFE IN THE NEW CHAPTER
delivered by:
Prof Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Eidul-Fitr Speech hosted by the Embassy of the Republic of Indonesia Dhaka, Bangladesh on Syawal 1, 1438 / June 26, 2017

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamdu.

Alhamdulil ladzi ja’ala ramadhaana sabiilan li’ubuudiyyatihi wa taqwaah

Ahmaduhuu subhaanahuu waasykuruhuu syukran wa hamdan laa hadda limuntahaah

Ayshadu an laa ilaaha illallahu wahdahuu laa syariika lah

Wa bi’aunihii watawfiiqihii shallaynaa wa shumnaa wa ‘abadnaah

Wa asyhadu anna sayyidanaa wa nabiyyanaa Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu laa nabiyya ba’dah

Ijtabaahu rabbuhuu washtafaahu wa hadaah

Shallallahu ‘alahi wa ‘alaa aalihi wa shahbihii waman waalaah

Amma ba’du

Fa uushiikum wa nafsii bi taqawallah. Qaalallahu ta’aalaa, “Ya ayyuhal ladziina aamnuttaqullaha haqqa tuqaatihi wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Today we are grateful that we are able to complete our fasting in the month of Ramadan and perform hundreds of raka’ats of tarawih and witir prayers, and other recommended or sunah prayers. Alhamdulillah, we also have paid zakat, and alms as much as possible to lighten the life burden of others. Therefore, kindly accept the good news from Rasulullah PBUH, “Man qaama Ramadhaana iimaanan wahtisaaban, ghufira lahuu maa taqaddama min dzanbih” which means, “Whosoever performs prayers during Ramadan solely because of Allah the Almighty, then all his sins are forgiven by Allah.” Moreover, the obligatory prayers that we perform during this holy month, certainly the rewards given by Allah will be much greater, because Allah Almighty has declared, “Your fasting is for Me.” Indirectly, Allah said, “Let Me give you reward according to My will. You will not be able to calculate the magnitude of My rewards for you.”

The next great news for you is that Allah SWT will give you reward as much as the reward of those who receive iftar or sahoor from you. The Prophet PBUH also gives assurance, “Man farraja ‘an muslimin kurbatan min kurabiddunya, farrajallahu kurbatan min kurabi yaumil qiyaamah” that means, “Whoever lightens the burden or difficulty of muslim, then he will be freed from the suffering of life in the hereafter.” I am sure that this congregation today belongs to those who are glorified by Allah the Almighty.

No wonder if on this feast day, we all greet and felicitate each other: “Eid Mubarak,” which means, “May this feast day gives you additional glory and happiness”; “Taqabbalallahu minnaa waminkum, taqabbal yaa kariim,” which means, “May all our worship be accepted by Allah, the Most Gracious,” or another most famous remarks in Indonesia, “Minal aa’idin walfaaiziin,” which means, “May all of us revert to the holiness, and attain success and happiness always.” Those wishes are usually accompanied by a humble expression of apology for all the wrong doings we may have made to our friends and family members. We have truly ended all disputes or conflicts that diminish our intimacy with Allah and among friends and family.

 

Dear brothers and sisters,

We should wield the Eid ul-Fitr as the new chapter in our lives, so that we live better in quality. We should be happier and make more other people happier. The more people you please, the more smile of God at you. Our prophet PBUH said, ”Irhamuu man fil ardhi yarhamkum man fis sama,” which means, ”Have mercy on all the inhabitants of the earth, then the angels at the heavens will love you.” When the time of shalat comes, we are called, ”Hayya ’alas shalaah, hayya ’alal falaah,” which means, ”Let us do a prayer and let’s achieve success and happiness.” This is the daily command that should encourage us to be the best and the winner in everything so that we can please many people.

What should our new chapter be filled with in the year ahead until the next Ramadan? Firstly, continue to be in the noble characters which we have built during Ramadan. For the whole month, we do not eat and drink, but constantly think about the food and drink for others. Just exactly like that Allah does, who does not eat and drink, but always feed all beings. The real happiness is whenever we are able to please other people. This is the most interesting definition of happiness.

Surely we understand, that we must be financially sound if we want to fully help many people. Therefore, we must welcome our President, Mr. Joko Widodo’s call to work, work, and work, to acquire wealth as much as possible in the halal way, then enjoy it with the people around you. We should work hard and professionally so that we can play a role in enhancing the welfare of our country and all humankind, and that means your existence on earth is of value to others. Should we continue a life, if we were not benefiting others? Our Prophet PBUH said, ”Akmalul mukminiina iimaanan ahsanuhum khuluqan wa anfa’uhum lin naas,” which means, “The best beleiver in faith among muslims is the one with the best character and the most contribution to mankind.”

Secondly, be always grateful for whatever Allah bestowed upon you. One of the supplications recited by the Imams after tarawih prayer in various mosques is, ”Allahumma ij’alnaa bil iimaani kaamiliin, wa bin na’maai syaakiriin, wa bil qhadhaa-i raadhin,” which means, ”O Allah, please perfect our faith and make us those who are always grateful for Your gifts, and not complaining with the destiny You have accorded us.” Enjoy everyday without complaining. Avoid complaining, because those who complain are indicating that their soul and faith are ill and fragile. Complaining also brings God’s wrath. Allah the Almighty said, ”Man lam yardha biqadhaa-i walam yashbir ’alaa balaa-i fal yathlub rabban ghairii,” which means, “Whoever does not gladly accept the destiny I have assigned, so he should seek other God beside Me.” Let’s work hard like horse during the day, and we surrender all the results to Allah, then we express all gratefulness for all blessings and gracious gifts from Allah the Almighty. Recite this supplication taught by our Prophet PBUH, ”Radhiitu billaahi rabbaa wa bil Islaami diinaa, wa bi Muhammadin nabiyyan wa rasuula,” which means, ”I am pleased with whatever Your commands or whatever and how much of Your gifts, I am pleased to acknowledge that Islam is my faith, and to render that Muhammad is my guide.” Those who recites those prayers each morning and evening, then defintely Allah the Almighty love and bless them throughout the day and night.

Thirdly, during Ramadan we have been practicing to keep our lips away from haram foods and sinful words. Kindly fill in the new chapter of our lives with extra care in utterrance of words and what toeat. It is better to die by suffering from hunger rather than surviving by taking haram foods. We should be concerned that the level of corruption in some Muslim countries remains high, including in Indonesia. Those who are involved in corruption practice not because they were hungry, but because they were greedy.

During Ramadan, we refrain from uttering bad words. Keeping our mouths and tongues from uttering bad words should continue after Ramadan. Our Prophet PBUH said, ”Man kaana yukminu billahi wal yaumil aakhir, fal yaqul khairan aw li yashmut,” which means, ”Whoever beleives in Allah and the day of resurrection, he must say good words or just keep silent.” Our mouths must be free from saying offensive words which can cause resentments to our family and society in general, or contain hoaxes and defamation, saying words that can ignite hostility or malignancy, be it vertically towards the government and the nation, or horizontally between communities. Nowadays in the social media, decorum have almost disappeared, as can be seen on how the educated and uneducated, the religious leaders and ordinary people,are not being careful in choosing their words.

Ayyuhal haadhiruun. Bi barakati Ramadhaana wa aatsaarihi ’alanufuusinaa, narjuu hadzal yaum ibtidaa-an bi shahiifatin jadiidah linailis sa’aadah fid dun-ya wal aakhirah. Awwalan, bis shadaqah lil fuqaraa-i wal masaakiin. Tsaaniyan, bis syukri ’alaa ni’amillah war ridlaa bi qadhaa-ih. Tsaalitsan, bil kalamit thayyibah wal akhlaaqil kariimah.

 

Dear Muslims Ummahs,

Let by gones be by gones, it’s the old chapters of life which are full of sins and disharmony. May Allah the Almighty forgive all our sins. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Eid-ul Fitr is the day of glory and joy. We should open a new page with a more noble character, respect each other and forgive one another. Show the world that you are not an ordinary muslim, but rather a muslim with great and extraordinary characters, as well as noble personality of our beloved Prophet PBUH. Be always happy and endlessly bring happiness to all beings in the world.

Allahu Akbar, by fasting and performing all worships during the holy-month of Ramadan, we have built a paradise in our hearts, and Insya Allah, we will enter the paradise later in the hereafter. Eid-ulFitr is our declaration of new chapter of life in peace, along with all people with different ethnicities and religions. May Allah the Almighty grant peace and prosperity for all Muslim ummah in the world with the blessings of Ramadan and Eid-ul Fitr.

Minal ‘aaidiin wal faaiziin. Eid Mubaarak. Taqabbalallahu minnaa wa minkum. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamdu.