Header

HIDUP BIASA DENGAN IBADAH EKSTRA

September 23rd, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

HIDUP BIASA DENGAN IBADAH EKSTRA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

karikatur

sumber gambar: http://aldoputra.files.wordpress.com/2011/03/karikatur.jpg

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan semua yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah yang halal dan baik dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al Ma-idah [5]:87-88)

Pada saat ayat ini turun, banyak tempat ibadah khusus (biara) yang dibangun oleh rahib Kristen, bahkan di tengah padang pasir atau di gua-gua pegunungan. Mereka tidak kawin selamanya dan memakai pakaian dari bulu domba seperti yang dipakai Nabi Yahya a.s. Satu di antara mereka adalah Rahib Buhaira. Inilah rahib yang dijumpai Muhammad kecil (12 tahun) ketika diajak pamannya, Abu Thalib melakukan perjalanan ke Syiria. Dialah yang menyatakan adanya tanda-tanda kenabian di wajah Muhammad kecil jauh sebelum diangkat menjadi Nabi.

Beberapa sahabat Nabi amat tertarik dengan cara hidup para rahib yang nampak suci, dekat dengan Tuhan dan bahagia, karena tidak lagi terganggu oleh nafsu duniawi. Para sahabat senior seperti Usman bin Madh’un, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Miqdad bin Aswad dan Salim Maula Abu Hudzaifah bersepakat untuk tidak mengonsumsi makanan yang enak dan berjanji menghabiskan malam hanya untuk beribadah serta tidak akan berhubungan dengan istri.

Beberapa sahabat yang lain mengikuti jejak sahabat seniornya. Inilah antara lain sumpah mereka: “Saya tidak akan makan daging, sebab membuat saya semakin bernafsu kepada wanita.” “Saya tinggalkan kasur yang empuk, dan memilih alas tidur yang tipis, agar tidak hanyut dalam kenikmatan tidur.” “Saya jauhi wewangian dan pakaian yang indah, sebab aku lebih suka keharuman akhirat dan pakaian kebesaran surga.”

Nabi SAW pernah bertanya kepada sahabatnya, Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash yang menjalani dunia kerahiban. “Apa benar, menurut kata orang, engkau berpuasa setiap hari dan shalat sepanjang malam?” “Benar, wahai Nabi,” jawabnya. Nabi SAW lalu bersabda, “Jangan kau lakukan itu. Puasalah dan berbukalah (pada hari yang lain), shalatlah di tengah malam dan tidurlah. Sungguh, tubuhmu mempunyai hak yang harus engkau penuhi, demikian juga matamu. Istrimu mempunyai hak yang wajib engkau penuhi, demikian juga para peziarah (tamu) yang datang kepadamu. Engkau cukup berpuasa tiga hari setiap bulan, sebab setiap kebajikan dilipatkan pahalanya, dan itu berarti sama dengan puasa setahun. Abdullah menjawab, “Saya yakin, saya kuat.” Nabi melanjutkan sabdanya, “Berpuasalah seperti puasa Nabi Daud, jangan lebih!” “Bagaimana cara puasa Daud?,” tanya Abdullah. Nabi SAW menjawab, “Puasa setengah tahun (sehari puasa dan sehari tidak).” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Al Nasa-i)

Sahabat senior lainnya, Abu Darda’ yang dipersaudarakan oleh Nabi dengan Salman Al Farisi sewaktu hijrah di Madinah juga menyukai hidup dengan menjauhi kenikmatan duniawi. Suatu saat, Salman bertamu ke rumah Abu Darda’. Ia iba melihat melihat istri Abu Darda’ yang kusut dan muram. Di meja makan, Salman berkata, “Saya tidak akan makan jika tidak kau temani.” Maka Abu Darda’ terpaksa membatalkan puasa sunatnya. Menjelang tidur, Abu Darda’ terus saja melanjutkan shalatnya. Maka Salman mengajak tidur. Setelah tidur sebentar, ia bangun lagi untuk shalat. Lalu Salman berkata lagi, “Mari tidur dulu.” Pada ujung malam, barulah Salman mengajak Abu Darda’ shalat malam. Setelah shalat, Salman menasehatinya, “Tuhanmu mempunyai hak yang harus kau penuhi. Demikian juga hak istrimu. Maka lakukan semua kewajibanmu untuk semua pemilik hak itu.” Esok harinya, mereka berdua menghadap Nabi SAW untuk menceritakan apa yang terjadi, lalu Nabi bersabda, “Salman benar.”

Usman bin Madh’un, sahabat yang pertama kali menghentikan minuman keras ketika mendengar Nabi SAW melarangnya dan amat terkenal kesalehannya menghadap Nabi bersama beberapa sahabat dengan membawa sebilah belati. Mereka meminta ijin kepada Nabi untuk mengebiri diri mereka, sebab hasrat biologis kepada wanita selalu mengganggu ibadah dan semangat perjuangan. Pada masa itu, mengebiri selalu dengan memotong kemaluan. Berbeda dengan sekarang, cukup dengan “suntik kebiri” atau chemical castration untuk mengurangi hormon atau libidonya yang tinggi. Nabi terdiam, tidak memberi jawaban. Ketika itulah, Malaikat Jibril datang membawa ayat sebagaimana dikutip di atas.

Mendengar obrolan mereka, Nabi SAW lalu menjelaskan kesehariannya sekaligus memberi peringatan, “Orang-orang berbicara ini dan itu. Ketahuilah, aku shalat dan aku juga tidur, aku berpuasa (pada hari tertentu) dan tidak berpuasa (pada hari lain). Aku juga menikahi wanita. Siapapun yang tidak suka dengan cara hidupku, maka ia bukan pengikutku.” (HR Muslim).

Sejak itu Usman bin Madh’un merubah pola hidupnya, termasuk kepada istrinya. Tidak lama setelah itu, Haula, sang isteri datang kepada Aisyah dengan pakaian rapi dan wajah berseri karena telah mendapatkan kepuasan nafkah batin dari suaminya. Sebelumnya, ia bermuka kusut dengan rambut acak-acakan. Para isteri Nabi sampai tertawa mendengar kepolosan cerita Haula.

Banyak hal yang dihalalkan Allah: daging hewan, ikan, buah, sayur-sayuran, pakaian yang bagus, bersetubuh dengan isteri. Mengapa semua itu tidak dinikmati hanya karena dianggap menghalagi kedekatan dengan Allah? Islam menolak konsep hidup “sengsara” demi mencapai “nirwana.”

Orang yang anti daging dan makanan bergizi, lalu fisiknya lemah dan tidak bisa melakukan kewajibannya sebagai suami atau kepala rumah tangga tentu bukan muslim yang baik. Layakkah Anda disebut pengikut Nabi, jika Anda meninggalkan tugas-tugas rumah tangga dan hanya fokus berdzikir sepanjang hari sampai anak-anak dan rumah tangga berantakan?

Untuk menikmati semua yang halal di atas, Allah menetapkan pedoman seleksinya, yaitu halal (halal), baik (thayyib) dan proporsional (wala ta’tadu). Daging sapi, buah, sayur dan sebagainya halal, tapi jangan dimakan jika dokter melarangnya, atau daging itu hasil korupsi. Jika halal dan baik untuk tubuh, silakan dikonsumsi, tapi makanlah sesuai dengan porsi yang benar menurut dokter, jangan berlebih, apalagi untuk menunjukkan kemewahan dan kesombongan satus sosial. Silakan bersetubuh dengan isteri, sebab itu kewajiban yang mendatangkan pahala, tapi lakukan secara proporsional.

Tiupkan semangat beragama pada diri Anda, tapi jangan tinggalkan tugas dan kenikmatan dunia. Jika orang-orang shaleh seperti Anda “bertapa” di masjid dan menjauhi kehidupan riil dalam dunia politik, perdagangan, dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya, lalu orang-orang yang tidak beragama atau tidak bermoral menjadi pimpinan dalam semua lini kehidupan, siapakah yang disalahkan?

Sebagai hamba Allah, tidak dibenarkan satu menitpun Anda lewatkan tanpa ibadah, tapi artikan ibadah dalam arti yang seluas-luasnya. Anda wajib beribadah secara ekstra, tapi tetap hiduplah sebagai manusia biasa: sebagai individu, kepala keluarga dan warga masyarakat dan negara. Panggilan ibadah tidak hanya adzan untuk shalat, tapi juga panggilan kemanusiaan dan kepemimpinan (khalifah) di panggung dunia. Semua lini kehidupan itu bisa Anda jadikan sajadah untuk investasi pahala.

PENEGAKAN KEADILAN

August 22nd, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

PENEGAKAN KEADILAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

timbangan keadilan“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil, dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sekelompok orang, mendorong kalian bertindak secara tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Ma-idah [5]:8)

Perintah menegakkan keadilan pada firman Allah di atas didahului ayat-ayat tentang dua perintah, yaitu perintah berakhlak yang baik terhadap semua penerima kitab suci (ahlul kitab) dan perintah shalat. Hal ini berarti bahwa shalat diharapkan membentuk manusia yang memiliki komitmen keadilan dan keberanian menegakkan keadilan dengan segala resikonya. Ayat di atas juga menegaskan bahwa penegakan keadilan harus obyektif, apa adanya berdasar fakta, bukan berdasar suka atau tidak suka. Hubungan keluarga atau keakraban dengan siapapun tidak boleh mempengaruhi sedikitpun penegakan keadilan.

Ayat di atas menjadi penguat firman Allah pada surat sebelumnya, yaitu QS. An Nisa’ [4]:135, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia (tergugat atau terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu yang terbaik baginya. Maka janganlah kalian ikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sungguh, Allah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”

Jika suatu saat Anda mendapat tugas sebagai hakim atau saksi untuk suatu perkara di pengadilan atau di luar pengadilan resmi, berkatalah sejujur-jujurnya. Janganlah kedekatan Anda dengan mereka yang berperkara mempengaruhi kejujuran Anda. Bisa jadi mereka adalah ibu, bapak, anak atau teman akrab Anda sendiri. Sebagai saksi, berkatalah yang sebenarnya, sekalipun itu akan beresiko pada diri Anda sendiri, antara lain perubahan status hukum Anda: semula sebagai saksi, lalu dalam proses selanjutnya dinaikkan menjadi tersangka. Kebencian atau kecintaan Anda kepada mereka, tidak boleh mengurangi sedikitpun kejujuran kesaksian. Abaikan mereka kawan atau lawan. Jangan berbohong untuk membela yang kaya karena kekayaannya, atau membela yang miskin karena kasihan atas kemiskinannya.

Sekali lagi, hindari kebohongan dan kepalsuan, dan tegakkan keadilan. Biarpun kejujuran itu mengantar ibu atau anak kesayangan Anda ke tiang gantungan, tidak bisa tidak, Anda harus tetap memegang teguh kejujuran. Apalagi kebohongan yang berlapis-lapis untuk membela keselamatan atau nama baik golongan atau partai. Jangan nodai keadilan, karena ia adalah ruh Islam. Anda harus berdarah-darah melawan hawa nafsu kebohongan, karena semangat itulah yang mencerminkan identitas Anda sebagai manusia yang shaleh. Allah SWT berfirman, “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” Perintah keadilan itu seringkali hanya Anda teriakkan ketika Anda sedang pada pihak yang lemah, dan diam sejuta bahasa, ketika Anda pihak yang diuntungkan dengan ketidakadilan. Jika demikian, sama sekali Anda tidak pantas mengaku sebagai muslim.

Cobalah Anda cermati bagaimana keadilan itu ditegakkan oleh Nabi SAW, sekalipun itu mencoreng nama baiknya di depan publik, dan beresiko keselamatan jiwanya. Berikut ini kisah yang disampaikan oleh Abdullah bin Abbas r.a. Menjelang wafat, Nabi SAW meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan di Masjid Madinah. Nabi masuk masjid, shalat dua rakaat dan langsung naik mimbar. Di depan kaum muslimin di masjid itu, ia berpidato cukup panjang. Itulah pidato yang menggetarkan hati semua pendengar dan memeras air mata mereka yang menyaksikannya. “Saudara-saudara, aku adalah nabi utusan Allah, pembawa kebenaran untuk kalian. Kedudukanku di tengah-tengah kalian bagaikan bapak dengan anaknya atau kakak dengan adiknya. Jika ada di antara saudara-saudara merasa saya perlakukan secara dhalim selama kepemimpinan saya, silakan maju sekarang untuk melakukan pembalasan sebelum aku diadili di akhirat nanti.” Kata yang terakhir itu diulang berkali-kali. Semua sahabat diam termangu. Beberapa sahabat menangis terisak-isak karena haru, betapa pemimpin agung yang sudah berkorban segala-galanya dan sedang sakit tetap bersemangat menegakkan keadilan.

Tiba-tiba, berdirilah seorang yang bernama ‘Akasyah bin Muhsin dengan suara yang memecah kesunyian, “Akulah yang akan meminta keadilan dari tuan.” Para sahabat seperti tersambar petir. Suara tangis bersahutan dengan suara tangis dinding masjid yang menjadi saksi atas peristiwa itu. Nabi SAW lalu mempersilakan ‘Akasyah untuk menyampaikan tuntutan. “Kedhaliman tuan terjadi dalam persiapan perang Badar. Untaku persis di samping unta tuan. Ketika tuan mengangkat tongkat penyebat, tongkat itu mengenai punggungku. Aku tidak tahu itu sengaja atau tidak.”

Nabi SAW lalu memangggil Bilal untuk berangkat ke rumah Fatimah, putrinya. “Ambilkan tongkat yang dimaksud ‘Akasyah itu.” Dalam perjalanan kembali dari rumah Fatimah, Bilal menarik nafas panjang, memikirkan apa yang akan terjadi setelah tongkat ini di tangan ‘Akasyah. Fatimah juga heran bercampur sedih mengapa ada orang yang tega melakukan pembalasan kepada ayahandanya. Abu Bakar, Umar dan Ali secara bergantian berdiri memohon ‘Akasyah agar melakukan pembalasan kepada mereka sebagai ganti pembalasan kepada Nabi. Nabi SAW menolak tawaran itu dengan mengatakan, “Allah Maha Mengetahui kebaikan kalian.” Nabi tetap mempersilakan ‘Akasyah untuk melakukan pembalasan segera.

Sebelum melakukan pembalasan, ‘Akasyah meminta Nabi untuk benar-benar menegakkan keadilan seadil-adilnya. Setelah tongkat yang asli di tangannya, ‘Akasyah memohon agar Nabi melepas bajunya, karena sewaktu terjadi pemukulan pada dirinya waktu itu, ia sedang tidak berbaju. Nabi SAW pun menuruti perintahnya, bahkan ia kemudian menelungkup. Suara tangisan para sahabat semakin merata di semua sudut masjid.

Sebuah drama besar terjadi. ‘Akasyah ternyata membuang tongkat dari tangannya. Justru ia memeluk Nabi SAW dan menempelkan tubuhnya sambil berkata, “Wahai Nabi, aku korbankan jiwa ragaku demi tuan. Hati siapa yang tega melakukan qishah (pembalasan) pada tuan. Aku hanya ingin kulitku yang bersentuhan dengan kulitmu terselamatkan dari api neraka.” Para sahabat serentak lega dan tersenyum melihat adegan itu. Nabi SAW lalu memuji ‘Akasyah di depan kaum muslimin, “Jika kalian semua ingin melihat wajah calon penghuni surga, lihatlah orang ini.”

  Begitulah semangat penegakan keadilan yang dilakukan oleh Nabi. Tentu Anda masih ingat janji keadilan Nabi, “Andaikan anakku, Fatimah mencuri, akulah yang akan memotong tangannya.” Sudahkah Anda resapi wasiat Allah dan Rasulullah SAW ini? Saya yakin jawaban Anda: ya. Pernahkah Anda berbohong untuk keselamatan pribadi atau keluarga atau kelompok? Saya yakin jawaban Anda: tidak. Jika ya, Anda harus bertobat sebab telah mengkhianati semangat keadilan yang telah diwariskan oleh Nabi SAW, dan Anda telah menanam benih kehancuran masa depan manusia. Wallahu ‘alamu bisshawab.

PUASA PENGASAH JIWA

July 3rd, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

PUASA PENGASAH JIWA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah [2]:183)

Saya sadar bahwa ayat tentang puasa di atas sudah amat sering Anda baca, sehingga seperti telah kehilangan aktualitas. Tapi, tiba-tiba saja saya tertarik untuk mengulas ayat itu kembali setelah merenungi puasa kita selama ini yang menurut saya amat jauh dari berkualitas, lebih-lebih setelah saya membaca salah satu literatur tentang puasa yang benar-benar menampar wajah saya.

Jika Anda hayati secara mendalam, firman Allah di atas menunut kita untuk menjadi orang cerdas. Untuk berpuasa, Anda tidak harus menunggu diperintah Allah, sebab Anda pasti sudah faham bahwa pencernaan Anda telah melakukan pekerjaan yang amat berat selama sebelas bulan untuk mencerna makanan siang dan malam. Makanan yang Anda masukkan ke dalam perut juga hampir tanpa seleksi, sebab hanya berdasar selera yang memuaskan tengggorokan, bahkan tanpa dikunyah secara lembut, sehingga memberatkan kerja pencernaan. Oleh sebab itu, kecerdasan Anda sudah cukup menjadi sumber perintah puasa Anda, agar perut bisa istirahat sebulan di siang hari.

Berapa lama kita menjadi muslim dengan ritual shalat setiap hari dan puasa sebulan setahun sekali. Tapi, cobalah Anda mendaki gunung, lalu genggamlah beberapa batu yang Anda jumpai. Tanyakan kepada hati nurani, manakah yang lebih keras: batu di tangan Anda atau hati Anda? Jangan jawab dulu, sebelum membaca firman Allah SWT berikut, “Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini di atas sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (QS. Al Hasyr [59:21). Ternyata, selama ini hati kita tidak bergetar, jiwa kita tidak tercambuk dengan firman Allah yang setiap hari kita baca dan kita dengar. Oleh sebab itu, sekali lagi, perintah puasa sebenarnya layak timbul dari diri Anda sendiri untuk melatih jiwa mengekang hawa nafsu dan mengasah kepekaan jiwa Anda.

Jika Anda membaca sejarah orang-orang shaleh terdahulu, Anda pasti faham, bahwa mereka bisa meraih kemuliaan, ketajaman spiritual dan keluhuran peradaban disebabkan mereka telah membiasakan puasa dan semangat berkarya yang luar biasa. Karya besar yang terbaik selalu dihasilkan dari otak yang cerdas dan hati yang bersih.

Berdasarkan hal-hal di atas, maka Anda bisa memahami mengapa perintah puasa dalam firman Allah yang dikutip di atas berbetuk kalimat pasif, tanpa menyebutkan siapa yang mewajibkan puasa, “..diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Puasa yang dilakukan semua generasi manusia bersumber dari pemikiran mereka sendiri disamping dari perintah Tuhan.

Ujung ayat di atas menunjukkan untuk apa Anda berlapar-lapar puasa. Tidak lain agar kita menjadi pribadi yang bertakwa. Pribadi yang bertakwa tercermin dalam kehidupannya yang tiada pernah putus hubungannya dengan Allah, kerendahan hati, kepekaan sosial, kejujuran, dan optimismenya dalam menjalani kehidupan di tengah masyarakat.

Untuk membentuk pribadi unggul dan berkualitas, Anda sebaiknya tidak hanya berpuasa berdasar aturan-aturan standar belaka, tapi harus juga diperhatikan beberapa etika puasa. Pertama, sertakan semua indera Anda untuk berpuasa, sebab kemuliaan Anda sangat ditentukan ketakwaan indera tersebut. Puasa perut, tanpa puasa indera adalah puasa nihil makna. Puasa harus dilakukan bersamaan antara puasa perut, puasa di atas perut yaitu hati dan kepala dan puasa di bawah perut yaitu nafsu seksual. Kedua, bebaskan perut Anda dari makanan dan minuman untuk berbuka dan sahur yang tidak jelas halalnya (syubhat), apalagi yang haram. Jangan sekali-kali berbuka puasa dengan makanan yang syubhat. Juga, pilihlah tempat berbuka yang bernuansa ilahiyah. Maka berbuka dengan keriangan di tengah keluarga, di mushalla, masjid atau bersama dengan orang-orang miskin jauh lebih merangsang kemuliaan daripada di warung, pasar atau hotel-hotel.

Ketiga, puasakan semua anggota badan Anda dari tindakan yang tidak bernilai atau tidak menambah poin kebajikan akhirat, walaupun tindakan itu diperbolehkan. Ingatlah pesan nabi SAW, “Termasuk tanda ketinggian iman seseorang adalah keberhasilannya menjauhi hal-hal yang tidak bernilai baginya.” Perintah Nabi SAW tersebut harus diperhatikan, lebih-lebih pada bulan suci. Anda harus selektif: benar-benar cerdas memilih yang sangat bernilai ketika Anda di depan televisi, internet, telpon seluler dan sebagainya. Keempat, hindari tidur berkepanjangan di siang hari sehingga produktifitas kerja Anda menurun dan mengumbar nafsu makan di malam hari sehingga Anda bermalasan ibadah. Anda dipastikan gagal memberikan pelatihan jiwa jika etika ini dilanggar. Kelima, makanlah dengan porsi dan menu seperti hari-hari biasa di luar ramadlan. Jauhi ramadlan konsumtif apalagi berlebih dan mengundang kemubadziran. Semua makanan yang melebihi kebutuhan tubuh menjadi investasi penyakit masa depan. Dengan memperhatikan etika keempat dan kelima, Anda diharapkan berhasil “menerawang” (mukasyafah) akhirat lebih jelas, bisa menikmati kemesraan dengan Allah dan meraih cahaya ramadlan yang sesungguhnya. Orang-orang shaleh terdahulu selalu menambah ibadah ramadlan sekalipun sudah maksimal ibadahnya di luar ramadlan. Mereka juga bersungguh-sungguh mengurangi syahwat makanan di malam hari.

Keenam, jadikan ramadlan bulan sedekah berupa pemberian makanan berbuka untuk mereka yang berpuasa, memberi makanan untuk penguat puasa mereka berikutnya, dan membebaskan penderitaan fakir miskin. Senyum orang-orang miskin adalah senyum Allah untuk Anda. Kesegaran kerongkongan mereka adalah kesegaran kerongkongan Anda di surga kelak. Pahala puasa mereka yang berbuka dan makan sahur atas uluran tangan Anda adalah pahala puasa Anda yang berlipat-lipat.

Ketujuh, lakukan shalat taraweh dengan tenang (tumakninah), tidak tergesa-gesa dalam semua gerakannya serta memperhatikan aturan dan keindahan bacaan Al Fatihah dan surat-surat lainnya. Para sahabat Nabi dan orang-orang shaleh terdahulu melakukan shalat dengan beberapa kali menuntaskan bacaan 30 juz Al Qur’an dan beristirahat (taraweh) sejenak di sela-sela pelaksanaan sahalat malam. Jika tidak bisa meniru demikian, maka jangan terlalu jauh dari kebiasaan mereka, apalagi menjadi orang “bodoh” (istilah Habib Abdullah bin Haddad) yang dikendalikan setan selama tarawehnya. Berhati-hatilah dengan perangkap setan selama ibadah malam. Kedelapan, bersiaplah setiap malam, lebih-lebih pada sepuluh malam terakhir untuk menyambut malam seribu bulan: lailatul qadar. Cahaya malam istimewa itu hanya bisa dirasakan oleh mereka yang menyiapkan hati untuk menyongsongnya. Kaca yang tertutup debu tidak akan tertembus sekuat apapun cahaya.

Kesembilan, lakukan apa saja yang menguatkan silaturrahim dan persatuan umat. Hindari hal-hal yang mengundang konflik dan perpecahan. Tunjukkan selama puasa bahwa Allah SWT ada di mulut, mata, telinga, tangan dan semua anggota tubuh Anda sehingga yang terpancar dari diri Anda adalah ketulusan, kesejukan dan kasih sayang.

Barangkali, itulah sembilan etika yang kita abaikan selama sekian kali ramadlan, sehingga kita masih jauh dari predikat pribadi yang shaleh, sebagaimana tujuan utama puasa. Anggaplah ramadlan ini ramadlan terakhir dalam kehidupan Anda, dan jadikan ramadlan tahun ini tonggak perubahan besar hidup Anda: la’allakum tattaqun. (Sumber utama: Kitab Al Nasha-ih Al Diniyyah wa Al Washaya Al Imaniyyah karya Imam Habib Abdullah bin Haddad dan beberapa sumber lainnya).