Header

DOA SEBAGAI KRITIK DAN SOLUSI

July 2nd, 2021 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

DOA SEBAGAI KRITIK DAN SOLUSI
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

فَإِذَا فَرَغۡتَ فَٱنصَبۡ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرۡغَب

“Maka, apabila kamu telah menyelesaikan (sesuatu), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (sesuatu) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al Insyriah [94]: 7-8).

Dua ayat penutup surat Al Insyriah ini merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya yang berisi perintah berlapang dada dan optimis, bahwa di tengah himpitan kesulitan hidup, selalu ada  solusi yang disediakan Allah. Melalui ayat ini, kita diingatkan agar segera melanjutkan kerja, bahkan lebih giat (fanshab) setelah selesai beribadah. Dalam ayat lain, Allah juga berfirman dengan pesan yang hampir sama,

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَٱبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرٗا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ

“Apabila shalat telah dikerjakan, maka segera bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia (rizki) Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu bahagia” (QS. Al Jumu’ah [62]: 10).

Dua ayat di atas juga mengingatkan kita agar jangan hanya kerja tanpa ibadah, atau ibadah tanpa kerja. Maka, Nabi SAW menegur orang yang berada di masjid pada jam-jam kerja. Sa’id al Khudry r.a bercerita dalam sebuah hadis riwayat Abu Dawud, bahwa Nabi menjumpai Abu Umamah Al Bahili, penduduk asli Madinah (anshar) yang duduk sedih di masjid pada saat orang-orang sibuk bekerja. “Kenapa kamu duduk di masjid di luar waktu shalat begini?,” tanya Nabi. “Saya sedih karena terlilit hutang.” “Maukah kamu saya ajari doa, yang jika kamu membacanya, Allah akan menghapus kesedihanmu dan memberi kemudahan pelunasan hutang-hutangmu?” “Tentu,” jawabnya dengan ceria. “Baiklah, bacalah doa ini pagi dan petang,”

اَللّٰهُمَّ إِنِّى  أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوْذُبِكَ مِنَ الْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

“Wahai Allah, jauhkan saya dari kesedihan dan kecemasan, lemah dan malas, kikir, takut, dan terlilit hutang. Jauhkan pula saya dari orang yang sewenang-wenang.”

Jika kita cermati, doa yang diajarkan Nabi itu tidak hanya memohon rizki, tapi juga sebuah sindiran dan motovasi agar Abu Umamah bangkit bekerja, bukan bermalas-malasan atau hanya berdoa dalam masjid. Ia harus bangkit merubah keadaan, tidak berpangku tangan dan menunggu hujan emas dari langit. Keterpurukan ekonomi hampir selalu diakibatkan karena malas bekerja, bermental buruk, atau takut melangkah. Maka, solusinya adalah percaya diri, ceria, bekerja, bekerja dan bekerja. Jangan sekali-kali menggantungkan hidup pada orang lain, lalu mengemis-ngemis belas kasih mereka. Itulah yang menjatuhkan martabat manusia, bahkan marwah Islam. Imam Ali bin Abi Thalib k.w berkata, ”Semua kepahitan hidup pernah saya alami, dan kepahitan yang terparah adalah mengharap belas kasih orang.”

Setelah membaca doa dari Nabi tersebut pagi dan petang, semua hutang Abu Umamah terbayar, bahkan rizkinya melimpah, sehingga rajin sedekah, meskipun tidak banyak. Suatu saat, ia memberikan tiga dinar, satu-satunya harta yang dimiliki, kepada tiga pengemis yang datang bergiliran. Sore harinya, ia mendapati 300 dinar dalam kamarnya. Lalu, malam harinya, ia mendapati lagi hidangan makan malam yang diyakini pemberian langsung oleh Allah.

Nama asli Abu Umamah adalah Shudai bin ’Ajlan dari suku Bahilah, Syiria (W. 86 H). Shabat yang pernah menjadi tentara Ali bin Abi Thalib r.a dalam perang Shiffin juga menceritakan sebanyak 250 hadis dari Nabi dalam kitab Al Bukhari dan Muslim. Setelah masuk Islam, ia diperintah Nabi untuk berdakwah di kampungnya. Meskpiun mendapat perlawanan, tapi akhirnya beberapa pemuka kampungnya masuk Islam.

Suatu saat, sahabat yang terakhir wafat di Syiria itu juga mengadu, “Wahai Nabi, tuan mengajarkan banyak doa, tapi aku tak bisa menghafalnya.” Nabi menjawab, “Maukah kamu saya tunjukkan doa yang bisa merangkum semua doa itu? Lalu, Nabi mengajarkan doa ini,

اَلـلَّهُمَّ اِنِّى اَسْاَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وأَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَااسْتَعَاذَكَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاَنْتَ الْمُسْتَعَانُ وَعَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَلَا حَوْلَ وَلَاقُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ 

“Wahai Allah, sungguh saya memohon kepada-Mu semua kebaikan yang diminta oleh Nabi-Mu SAW, dan mohon dijauhkan dari semua keburukan yang diminta Nabi-Mu SAW untuk dijauhkannya. Engkaulah Tuhan yang berhak diminta pertolongan, dan hanya kepada-Mu lah kami menyampaikan pengaduan (al balaagh). Tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah (HR. At Turmudzi dari Abu Umamah).

Menurut Muhammad bin Allan Ash Shiddiqy, yang dimaksud keburukan dalam doa di atas adalah penderitaan dunia atau rusaknya akhlak. Sedangkan arti al balagh dalam  hadis ini adalah bahwa Allah bisa mengatasi semua kebutuhan makhluk tanpa bantuan siapa pun.

Nabi SAW sama sekali tidak berkomentar negatif kepada sahabat yang lemah hafalan itu.  Nabi tetap menghargai, dan memberi solusi berupa doa yang mudah dihafal dan telah merangkum semua doa yang diajarkan Nabi, yaitu, “Wahai Allah, berikan saya semua kebaikan dan kebahagiaan yang pernah diminta oleh Nabi-Mu SAW. Dan, jauhkan saya dari semua keburukan yang diminta Nabi-Mu untuk dijauhkannya.”

Jika kita mempelajari secara mandalam, semua doa-doa dari Nabi tidak sekadar berisi permohonan, tapi juga sebuah pelajaran, kritik, penyemangat, dan langkah-langkah solusi atas problem kita. Wallahu a’lamu bis shawab. (Surabaya 17 Agustus 2020)

Sumber: (1) Al Nawawy, Abu Zakariya, Yahya bin Syaraf, Riyadush Shalihin, CV. Thoha Putra, Semarang, 1981, juz 2, p. 358-359 (2) As Shiddiqy, Muhammad bin ‘Allan, Dalilul Falihin, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, Bairut, Lebanon, tt.  Juz 4, p. 262, 263 (3) Moh Ali Aziz, Doa-doa Keluarga Bahagia, Penerbit Kun Yaquta Foundation dan PT Duta Aksara Mulia, Surabaya, 2014, cet. III, p. 8, dan 16.

PEDOMAN PENYEMBELIHAN QURBAN

June 17th, 2021 | Posted by admin_tsb in Lain-lain - (0 Comments)

PEDOMAN PENYEMBELIHAN QURBAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

  1. Definisi. Istilah yang benar, al udl-hiyah yaitu penyembelihan hewan pada hari raya kurban dan 3 hari sesudahnya (11-13 Dzulhijjah). Di Indonesia, lebih dikenal istilah kurban (pendekatan), seperti persembahan yang dilakukan dua putra Adam a.s untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT (QS. Al Maidah [5]: 27). 
  2. Dasar Hukum:  QS. Al Kautsar [108]: 2; QS. Al Hajj [22]: 28, 36-38; dan sabda Nabi SAW, bahwa kurban adalah perbuatan yang paling dicintai Allah, dan darahnya diterima oleh-Nya sebelum menyentuh tanah (HR. At Tirmidzi dari Aisyah r.a).
  3. Hukum: Sunah muakkadah (sangat dianjurkan) bagi yang mampu, dan wajib bagi yang bernazar. Nabi SAW: “Siapa yang tidak berkurban padahal mampu, maka jangan mendekat tempat shalat kami” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah r.a). Nabi SAW menyembelih sendiri 2 ekor kambing dengan bertakbir (HR. Bukhari dan Muslim). “Aku diperintah berkurban, dan itu sunah bagimu” (HR. At Tirmidzi). Abu Bakar, r.a dan Umar, r.a tidak pernah menyembelih kurban, karena khawatir dianggap wajib oleh masyarakat.  
  4. Jenis Hewan: hewan ternak (al-an’am): unta, sapi, kerbau, dan kambing (QS. Al Hajj [22]: 34) dengan ketentuan: (a) umur kambing (1 th), sapi (2 th), unta (5 th), (b) tidak cacat fisik (misalnya sakit, buta, pincang, sangat kurus, tanduknya putus, dsb), (c) tidak ada ketentuan jenis kelamin. Di Indonesia, ternak betina yang produktif dilarang untuk disembelih  (UU 18/2009, pasal 18 ayat 2).
  5. Waktu Penyembelihan: selama 4 hari, yaitu tanggal 10 Dzulhijjah setelah shalat idul adha sampai tanggal 13 Dzulhijjah sebelum maghrib. Nabi SAW: ”Semua hari tasyriq (11-13 Dzulhijjah) adalah hari-hari penyembelihan” (HR. Ahmad). Pada 4 hari itu, dianjurkan membaca takbir setiap usai shalat fardlu.
  6. Jumlah Pengorban: 1 ekor sapi dan sejenisnya untuk 7 orang, dan 1 ekor kambing untuk satu orang atau satu keluarga berapa pun anggotanya (Maadzhab Syafi’i). Menurut madzhab Maliki dan Hanbali: boleh 1 ekor kambing untuk dirinya sendiri dan semua anggota keluarganya, sebab kurban adalah fardlu kifayah. Para sahabat juga melakukan demikian (HR. Ibnu Majah dan At Tirmidzi). Jika jumlah pengorban melebihi ketentuan di atas, maka statusnya bukan kurban, melainkan sedekah, sekaligus pendidikan dan syiar Islam.
  7. Kurban untuk yang telah meninggal. Madzhab Syafi’i: tidak boleh, kecuali ia berwasiat sebelum meninggal. Semua dagingnya harus diberikan kepada fakir miskin. Madzhab  Maliki: makruh. Madzhab Hanafi dan Hanbali: boleh, seperti sedekah pada umumnya dari keluarga untuk menambah pahala si mayit.
  8. Porsi Pembagian Daging: 1/3 dimakan sendiri pada hari itu, 1/3 lagi disimpan untuk dimakan kapan saja, dan 1/3 sisanya dibagikan kepada masyarakat. Daging boleh juga diberikan semuanya untuk masyarakat. Khusus pengorban yang bernazar, haram memakannya.
  9. Penjualan Daging: daging dan kulit haram dijual oleh pengorban, tapi boleh bagi penerimanya. Nabi SAW: ”Jangan menjual daging hewan yang disembelih untuk denda haji dan kurban. Makanlah dan sedekahkan, nikmatilah dengan kulitnya juga, tapi jangan dijual” (HR. Ahmad dari Sa’id, r.a).
  10. Doa Peneyembelihan: jika memungkinkan, sebaiknya pengorban menyaksikan penyembelihan, atau lebih baik lagi menyembelihnya sendiri dengan berdoa, Bismillahi, wallahu akbar. Wahai Allah, terimalah penyembelihan kurban atas nama …..ini.
  11. Penerima Daging: muslim di daerah setempat. Boleh untuk luar daerah/negeri jika kedaannya lebih membutuhkan. Non-muslim yang hidup damai bersama umat Islam boleh menerimanya.
  12. Tambahan: selain orang yang berhaji, dianjurkan puasa ’arafah, yaitu tanggal 9 Dzulhijjah (sehari sebelum Idul Adlha). Allah SWT akan menghapus dosa tahun sebelumnya dan tahun berikutnya.  

Surabaya, 05-08-2018 / 25 Dzul Qa’dah 1439 H
Sumber: (1) Sabiq, As-Sayyid, Fiqh As Sunnah, Dar Al  Kitab Al  ‘Arabi, Bairut, 1973, Cet II, (2) Ibnu Rusyd Al Hafidh, Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid,Juz 1, Penerbit Dar Al Fikr, tt, (3)Wahbah Az Zuhaily, Al Fiqhul Islamy wa Adillatuhu, (4) Sulaiman Rasyid, Fiqih Islam, Sinar Baru Al Gensindo, Bandung, 2007, cet 40, (5) Hamka, Tafsir Al Azhar, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985

CARA SHALAT GERHANA

May 25th, 2021 | Posted by admin_tsb in Lain-lain - (0 Comments)

CARA SHALAT GERHANA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”


A. Bukti Kekuasaan Allah. Gerhana adalah fenomena alam biasa, yang terjadi secara rutin beberapa kali dalam setiap tahun, sebagai bukti kekuasaan Allah. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah menyembah matahari maupun bulan. Tapi, sembahlah Allah Yang menciptakannya, jika hanya Dia yang kamu sembah” (QS. Fusshilat [41]: 37). “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala penjuru bumi dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Quran itu benar. Tidak cukupkah bahwa Tuhanmu benar-benar menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Fusshilat [41]: 53). Jadi, gerhana matahari (kusuf) dan gerhana bulan (khusuf) sama sekali bukan pertanda adanya bencana, penyakit, dan sebagainya.


B. Dasar dan Hukum Shalat Gerhana. Nabi SAW bersabda, ”Sungguh matahari dan bulan adalah termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah. Kedua gerhana itu tidaklah terjadi karena mati dan hidupnya seseorang. Maka, jika kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, bersedekahlah, dan shalatlah” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari ’Aisyah, r.a).
Hukumnya: sunah muakkadah (sangat dianjurkan) bagi laki-laki dan perempuan. Shalat gerhana diperintahkan mulai tahun 2 H.


C. Waktu Shalat: mulai muncul gerhana sampai selesai. Shalat tetap sah, sekalipun di tengah pelaksanaan shalat, gerhana sudah berakhir. Boleh juga dilakukan pada waktu-waktu terlarang shalat, yaitu setelah shalat subuh dan shalat ashar, dan sebagainya.


D. Cara Shalat: sebanyak dua raka’at, dengan dua rukuk dan dua sujud pada masing-masing raka’at. Caranya: (1) niat dalam hati ketika mengangkat tangan pada takbir pertama, (2) membaca Al Fatihah dan Surat Al Qur’an, (3) rukuk, (4) i’tidal, dan membaca Al Fatihah dan Surat Al Qur’an, (5) rukuk, (6) i’tidal, (7) sujud, (8) duduk di antara dua sujud, (9) sujud kedua, (10) berdiri untuk rakaat kedua, dengan cara yang sama dengan raka’at pertama, (11) tasyahud, (12) salam.


E. Beberapa Anjuran (bukan wajib): (1) mandi sebelum shalat, (2) dikerjakan secara berjamaah di masjid. Bisa juga di rumah, dengan berjamaah atau sendirian. Jika sendirian, maka tanpa khutbah, (3) tidak ada azan dan iqamah, hanya panggilan “as-shalaatu jaami’ah” (marilah kita shalat berjamaah), (4) khutbah (satu atau dua khutbah) setelah shalat. Jika semua jamaahnya perempuan, boleh khatibnya perempuan, (5) imam mengeraskan bacaan Al Qur’an, (6) mandi sebelum shalat, (7) memanjangkan bacaan Al Qur’an (kira-kira 80-100 ayat), sedangkan bacaan Al Qur’an pada raka’at kedua lebih pendek daripada rakaat pertama. Shalat dengan hanya membaca Al Fatihah tetap sah, (8) memanjangkan rukuk dan sujud dengan mengulang lebih banyak doa di dalamnya (kira-kira sepanjang bacaan 50-100 ayat), (9) memperbanyak doa, zikir, takbir, sedekah dan perbuatan baik lainnya.

Surabaya, 24-05-2021