Header

AKUI KEMUNAFIKAN ANDA

July 6th, 2020 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

AKUI KEMUNAFIKAN ANDA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: https://thefitagain.com/wp-content/uploads/2017/02/comforting-lies.jpg

إِذَا جَآءَكَ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ قَالُواْ نَشۡهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُۥ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ لَكَٰذِبُونَ 

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui, sungguh engkau (Muhammad) benar-benar utusan Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa engkau (Muhammad) sungguh benar-benar utusan-Nya; Allah juga Mengetahui bahwa orang-orang munafik itu sungguh benar-benar pendusta.” (QS. Al Munafiqun [63]: 1)

            Artikel ini lanjutan dari tulisan sebelumnya, “Derita Dusta” yang membahas penderitaan batin orang munafik. Munafik berasal dari kata nafaq yang artinya lubang di bawah tanah untuk bersembunyi. Orang munafik menyembunyikan isi hati yang berbeda dengan yang diucapkan, maka ia tersiksa karena harus menutupi kebohongan itu sepanjang hidupnya.

Ketika mendengar ayat-ayat tentang munafik, para sahabat Nabi tidak menuding-nuding orang lain, melainkan mengarahkan ayat itu kepada diri masing-masing. Mereka takut dan khawatir, jangan-jangan munafik yang disebut dalam ayat itu adalah mereka sendiri. Ibnu Abu Malikah, tokoh tabi’in berkata, “Saya menjumpai 30 sahabat Nabi yang bersedih, khawatir dalam dirinya terdapat tanda-tanda kemunafikan, sebab keimanan mereka masih jauh dari yang seharusnya.” Sebagian dari mereka berdoa,

اَللهُمَّ اِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ خُشُوْعِ النِّفَاقِ

“Wahai Allah jauhkanlah aku dari khusyuk munafik.” Para sahabat bertanya, “Apa maksudmu?” “Yaitu kekhusyukan palsu: hanya fisik, bukan hati.”

Umar bin Khattab r.a sering bertanya pada Khudzaifah bin Yaman r.a, “Apakah engkau melihat tanda-tanda munafik pada diri saya?” “Tidak,” jawaban yang melegakan Umar. Khudzaifah adalah sahabat yang paling jeli melihat tanda kemunafikan, karena paling sering bertanya kepada Nabi tentang hal itu. Ketika melihat kerumunan orang yang bersiap mengantar jenazah ke pemakaman, Umar r.a bertanya, “Apakah Khudzaifah hadir?” Jika ya, Umar cepat-cepat datang menemuinya untuk ke sekian kalinya meminta kejelasan ada tidaknya sifat munafik pada dirinya.

Sahabat yang lain, Handhalah Al Usayyidiy r.a juga selalu mengakui kemunafikan dirinya. Ia bercerita, “Abu Bakar r.a suatu hari menjumpainya dan bertanya, “Bagaimana keadaanmu, wahai Handhalah?” “Handhalah orang munafik,” jawabku. Abu Bakar terkejut, “Subhanallah, apa yang kau katakana itu?” Aku menjawab, “Kami pernah mendengarkan Rasulullah SAW menjelaskan neraka dan surga dalam sebuah pertemuan (dengan jelas dan mengesankan), sehingga kami seakan-akan melihat keduanya itu secara langsung. Akan tetapi, setelah keluar dari pertemuan itu, dan bersukaria dengan istri dan anak-anak, serta kegiatan-kegiatan lain yang tidak penting, kami benar-benar lupa neraka dan surga itu.” Abu Bakar r.a.  berkata, “Demi Allah, kalau begitu, saya juga munafik.” Oleh karena itu, aku dan beliau pergi menemui Nabi di rumahnya. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, saya, Handhalah benar-benar munafik.” “Apa yang engkau maksud?” Aku menjawab, “Kami pernah mendengarkan tuan menerangkan neraka dan surga dalam sebuah pertemuan, sehingga kami seakan-akan melihat keduanya secara langsung. Akan tetapi, setelah keluar dari pertemuan itu, dan bersukaria dengan istri dan anak-anak, serta kegiatan-kegiatan lain yang tidak penting, kami lalu benar-benar lupa neraka dan surga itu.” Rasulullah menjawab,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي وَفِي الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمْ الْمَلَائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِي طُرُقِكُمْ وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً

“Demi Tuhan yang menguasai diriku, jika kalian tetap (beriman dan bertakwa) seperti ketika kalian berada di sisiku, dan ketika berzikir, niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian dalam semua langkah hidup kalian. Namun, (ingatlah) wahai Handhalah, semuanya itu harus setahap demi setahap” (Beliau mengulang ucapan “setahap demi setahap” itu) tiga kali.” (HR.Muslim no. 2750, dalam bab tobat, pada sub bab keistimewaan keajegan zikir dan penguatan keyakinan pengawasan (muraqabah) Allah terhadap manusia, serta diperbolehkannya menjalani kesibukan yang dapat mengurangi zikir).

Siapakah Handhalah bin Abi ‘Amir r.a itu? Ia adalah pengantin baru yang gugur sebagai syuhadak perang Uhud pada tahun 3 H (625 M). Dialah yang pernah meminta ijin Nabi untuk membunuh ayahnya, Abu ‘Amir yang berada dalam pasukan kafir, tapi Nabi melarangnya. Sehari sebelum perang Uhud, Handhalah menikah dengan wanita pujaannya. Esok harinya, ia bangkit dan berlari memenuhi ajakan Nabi untuk perang. Begitu semangatnya, sampai ia lupa belum mandi besar. Maka, ketika ia gugur sebagai syuhadak, Nabi mengatakan, “Ia akan dimandikan oleh malaikat.” Sejak itulah, ia dikenal dengan julukan “Ghasiilul Malaa-ikah” (orang yang dimandikan malaikat).

Ketika tersebar hoax atau berita bohong, bahwa Nabi gugur dalam perang Uhud itu, tentara kafir, termasuk ayah Handhalah mencari jenazah Nabi. Tapi, yang ditemukan justru jasad Handhalah, anaknya.  Ia menangisi putranya dan meminta pasukan kafir tidak melakukan mutilasi putranya.

Handhalah terkenal keperkasaannya dalam perang, dan kesungguhannya dalam pembersihan diri dari sifat-sifat munafik. Berulang kali, ia mengatakan, “aku munafik.” Abdullah, putra Handhalah yang lahir beberapa bulan sepeninggal ayahnya, juga  mewarisi sifat-sifat sang ayah, yaitu semangat juang dan kerendahan hatinya terhadap setiap orang. Ia sangat jarang menegakkan kepalanya dalam pergaulan sehari-hari.

Orang sesuci Handhalah r.a dan Abu Bakar r.a mengaku munafik di mana-mana. Mengapa ada di antara kita yang justru sibuk memberi label munafik pada orang lain. Melalui artikel ini, kita berharap bisa menghentikan kebiasaan memandang jelek orang lain. Hentikan berkiblat pada Iblis yang selalu mengatakan dengan congkak, “Ana khairun minhu (aku lebih baik dari dia).” (QS. Al A’raf [7]:12). Melalui artikel ini, kita berharap berubah menjadi muslim rendah hati, tidak merasa suci atau memandang rendah orang lain, selalu memintakan ampunan untuk orang yang melakukan maksiat, dan tidak justru menghina dan memberitakan kemaksiatannya. Termasuk dalam hal ini adalah orang yang tertangkap aparat keamanan karena kejahatan kriminal, korupsi, atau skandal seks. Sebab, Allah sengaja membongkar dosa itu agar ia tidak menambah dosa yang lebih banyak. Itulah rahasia kasih Allah. Ingatlah juga peringatan Nabi SAW, 

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Barangsiapa mencela orang karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati sebelum melakukan dosa yang sama” (HR. At Tirmidzi dari Mu’adz bin Jabal r.a).

            Selamat berubah menjadi muslim rendah hati dan mengasihi semua pendosa.     

Sumber:  (1) Al Naisaburi,  Muslim bin Al Hajaj Al Qusyairi. Shahih Muslim. Beirut:Dar Al Fikr, 1988. (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 28, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 205-206. (3) Al Turmudzi, Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah, Sunan Al Turmudzi, Dar Al Fikr, Beirut, Lebanon, 2005.

PPDS

July 1st, 2020 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

PPDS
Acara “Sapa Hangat, Kajian dan Doa”
Zoom Meeting Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia Wilayah Jatim, 25 Juni 2020.
Oleh Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

Yth. (1) Bapak DR. Dr. Sutrisno SpOG-K (Ketua IDI Jatim), (2) dan Bapak Dr. Dr. Achmad Chusnu Romdhoni Sp. THT-KL (K) FICS (Ketua Satgas Covid-19 Jatim), (3) Bapak Dr. dr Brahmana (Ketua IDI Surabaya) (4) Para Guru Besar dan Senior Dokter seluruh Jatim, (5) Pengurus IDI Wilayah Jatim, (6) Ketua IDI Cabang di seluruh Jatim, dan (7) Anggota IDI Wilayah Jatim terdampak Covid 19 dan keluarga.

Kita berdoa sejenak untuk para dokter, paramedis, pejabat, petugas, sukarelawan, dan siapa pun yang telah gugur dalam melaksanakan tugas. Semoga semua amal mereka diterima Allah, dosanya diampuni-Nya, dan dicatat di sisi-Nya sebagai syuhadak. Al Fatihah.  Bagi yang sakit di antara mereka, semoga Allah segera memberi kesembuhan.

Bagi para dokter, paramedis, pejabat, petugas, sukarelawan, donatur yang masih diberi tambahan umur sampai hari ini, semoga diberi kemudahan dan keselamatan dalam melaksanakan tugas. Al fatihah.

Kita doakan juga keluarga yang ditinggalkan, baik yang muslim maupun yang non-muslim semoga diberi kesabaran dan kebanggaan sebagai keluarga pejuang, dan anak-anak yang ditinggalkan menjadi orang-orang hebat melebihi keluarga yang telah meninggalkan mereka selamanya. Untuk menyemangati bapak dan ibu Yth dalam melanjutkan tugas mulia, saya akan menyampaikan kajian malam ini dengan judul PPDS

1.Pengabdian.

Niatilah pekerjaan bapak ibu Yth dengan benar, yaitu ibadah, bukan yang lain. Pengabdian itu bahasa arabnya adalah ibadah. “Nilai perbuatan ditentukan niatnya,” sabda Nabi.

Niat yang demikian itu harus dikuatkan terus setiap saat. Sebab, godaan untuk melenceng dari niat mulia ini datang setiap saat, dan pada siapa saja, sesuci apa pun dia. Mengendalikan hati bukanlah persoalan mudah. Maka, Nabi SAW selalu memohon, “Wahai Allah, bantulah aku untuk selalu mengingat-Mu.” Menata hati dalam semua langkah adalah bagian dari zikrullah itu.  Ali bin Abi Thalib r.a berkata, “Orang  yang hanya berorientasi isi perut, harga dirinya tidak jauh dari isi perutnya itu.”

Syuhadak artinya persaksian, yaitu kematian dengan persaksian para malaikat bahwa seseorang meninggal dalam perjuangan dengan niat ibadah. Jika salah niat, maka predikat syuhadak tidak berlaku.

Kita diciptakan Allah bukan untuk kepentingan pribadi, tapi untuk manusia. “Kamu adalah komunitas terbaik yang dilahirkan untuk manusia” (QS. Ali Imran 3: 110). Untuk apa kita lanjutkan kehidupan, jika tidak memberi sumbangsih untuk kehidupan orang lain.

Abu Abdillah Sufyan bin Said Al-Tsauri, petapa, sufi, ahli hadis dan teologi yang lahir di Kufah tahun 715M dan wafat tahun 778M di Bashrah mengatakan, “Termasuk sadisme adalah doa yang terfokus pada diri sendiri, tanpa mendoakan orang lain.”

Semakin tinggi peran kita dalam menyejahterakan manusia, semakin tinggi juga kemuliaan kita. Nabi bersabda, “Orang yang tertinggi imannya, adalah yang paling baik akhlaknya dan paling besar sumbangsihnya untuk manusia.” Perhatikan, ibadah-ibadah individual yang seperti umrah, haji, shalat dan sebagainya tidak dijadikan ukuran utama dalam penilaian Allah

Pengabdian ini harus dilakukan secara maaksimal, antara lain smart working, hard working, endurance, and compassion.

Pengabdian yang dilakukan dengan tulus dan cinta pasti menghasilkan sesuatu yang positif. Alam semesta tercipta dengan indah, karena Allah mengerjakannya dengan cinta-kasih. “Kamu tidak akan melihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan yang Maha pengasih.” (QS. Al Mulk 67:

2. Penyelamatan Nyawa

Salah satu misi utama agama adalah penyelamatan nyawa (hifdhun nafs) untuk nyawa sendiri, dan lebih-lebih nyawa orang lain, muslim atau non-muslim. Bahkan, penyelamatan nyawa binatang. Maka, semua ibadah harus dilakukan dengan memperhatikan misi tersebut. Misalnya, wudu wajib diganti tayamum, jika air membahayakan kesehatan. Puasa tidak boleh dilakukan, jika membahayakan kesehatan. Shalat di masjid, umrah dan haji juga tidak boleh dilakukan jika membahayakan nyawa sendiri atau orang lain. Jadi, argumentasi, “Saat pandemi, manusia seharusnya lebih banyak di masjid” tidaklah selalu benar.

Jangan ceroboh dalam hal keselamatan nyawa. Ikutilah sunnatullah (hukum-hukum alam). Allah berfirman, “Janganlah kalian melakukan apa pun yang membawa kebinasaan” (QS. Al Baqarah 2: 195)

Islam amat menghargai nyawa manusia. Penyelamatan satu nyawa sama dengan penyelamatan semua generasi manusia, dan siapa pun yang menyebabkan kematian seorang, sama dengan membunuh semua generasi manusia. (QS. Al Maidah 5: 32).

Bersyukurlah, semua tenaga medis telah mendapat apresiasi Allah. Jean Gough, Direktur Regional Asia Selatan UNICEF mengatakan, “Tanpa tindakan segera, Covid-19 bisa menghancurkan harapan dan masa depan seluruh generasi. Tidak hanya kematian karena covid, tapi juga kematian anak-anak di Asia Selatan akibat tidak mendapat imunisasi dan nutrisi, karena semua dana terfokus untuk penanganan Covid-19. Mereka, lebih-lebih yang miskin atau di pedalaman yang jauh dari jaringan internet, juga mengalami krisis edukasi yang memprihatinkan.” (Jawa Pos, 23-6-2020, p.3)

3. Doa

Berdoalah setiap memulai dan mengakhiri tugas. Itulah ciri khas manusia beragama. Allah amat membenci orang yang jarang berdoa, sebab berarti ia congkak, bahwa dirinya bisa hidup tanpa Tuhan.

Doa tidak hanya berisi permohonan keselamatan, tapi juga keilmuan, sebab masih banya rahasia semesta, termasuk penyakit yang masih misteri. Selain covid, masih banyak ciptaan Allah yang belum ditunjukkan manusia. “Ilmu yang telah diberikan kepadamu amatlah sedikit” (QS. Luqman 31: 34). Juga mohonlah kekuatan iman dan akhlak di tengah berbagai goncangan. Pandemi adalah ujian keimanan. Ali bin Abi Thalib, r.a berkata, “Angin yang menerpa pohon, bukanlah untuk menguji batang, ranting dan daunnya, melainkan menguji kekuatan akarnya.”

Doa sebaiknya tidak hanya berisi sebuah permohonan, tapi juga sebaiknya berisi sanjungan, pujian, dan tawakal kepada Allah. Doa yang berisi permohonan semata akan menimbulkan kekecewaan, jika permohonan itu tidak terpenuhi. Sanjunglah Allah dan berserahlah kepada-Nya. “Katakan, Dialah yang Maha Pengasih. Kami sunguh beriman kepada-Nya, dan kepada-Nya kami berpasrah.” (QS. Al Mulk 67: 29). Lihat juga redaksi doa yang menyehatkan body and mind manusia pada Buku Terapi Shalat Bahagia, oleh Moh Ali Aziz, pada tabel di bagian akhir buku.

4. Syukur

Syukur berarti senang dengan apa pun pemberian Allah. Rasa senang inilah yang ikut menguatkan kekebalan kita. Dengan jiwa syukur itu, pelayanan kita juga amat menyenangkan pasien. Bagaimana mungkin menyenangkan orang, jika ia gagal menyenangkan diri sendiri. Mengobati pasien adalah pahala, dan menyenangkannya adalah tambahan pahala lainnya. Raihlah keduanya.

Sedih, takut, dan kecewa adalah kondisi kejiawaan yang manusiawi. Nabi pun mengalaminya. Tapi, menjadi terlarang, jika berkepanjangan, sebab kesdihan dan ketakutan yang berlebihan, secara tidak langsung, adalah penghinaan kepada Allah, seolah-olah Allah sudah tidak ada atau tidak mampu menolong manusia.

Kita harus menjadi pribadi yang paling apresiatif, tapi jangan sekali-kali mengemis apresiasi. Gantungkan harapan apresiasi itu dari Allah semata, bukan dari manusia. Jika tidak, hanya kekecewaan yang didapat, jika tidak terpenuhi. Apalagi, jika diingat, bahwa hanya sedikit manusia yang apresaitif. “Sedikit sekali hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’ 34: 13)

Tanamkan sekuat-kuatnya, bahwa berapa pun besarnya penghargaan manusia terhadap karya kita sama sekali tak sebanding dengan penghargaan dari Allah. “Dan apa saja (kekayaan, jabatan, keturunan) yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kesenangan hidup duniawi dan asesorinya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Tidakkah kamu mengerti? (QS. Al Qasas 28: 60). Insentif untuk nakes yang dijanjikan pemerintah sebesar Rp. 3.7 T untuk 99.660 nakes yang terlibat penanganan covid-19 (Jawa Pos, 25-6-2020, p.12) tidaklah sebanding dengan resiko kematian mereka. Apalagi dibanding ganjaran Allah.

Dutch News in English (23-6-2020) melaporkan, “Part of Health workers want a different profession because of lack of appreciation.” Alhamdulillah, bukan tenaga medis di Indonesia.

Sekali lagi, syukur adalah senang. Maka, tetaplah riang, selalu berpikir positif dan optimis dalam mengahadapi semua tantangan. Sebab, itulah yang menyehatkan, dan itu pula yang amat menyenangkan Allah. Berpikir negatif atau positif adalah choices. Harvey Mackay mengatakan, “Optimis dan pesimis sama-sama masuk akal. Terserah Anda memilih yang mana.”

Surabaya, 24-6-2020

malzis@yahoo.com, www.terapishalatbahagia.net

Doa Penutup

  1. Wahai Allah, gantilah keringat panitia dan sponsor acara ini dengan parfum di surga nanti
  2. Wahai Allah, kami benar-benar kehilangan rekan-rekan kami yang telah kembali ke hadirat-Mu, tanpa sempat melambaikan tangan perpisahan karena protokol kesehatan. Kami bersaksi, mereka orang-orang baik dengan dedikasi tinggi. Ampunilah mereka.
  3. “Allahummaghsilhu….”Mandikan mereka dengan air sejuk pengampunan, lalu selimutilah dengan kehangatan kasih-Mu. Jadikan kuburan mereka lebih menyenangkan daripada rumahnya di dunia. Utuslah malaikat rahmat untuk mendampingi dan menghibur mereka, agar tidak kesepian di alam sana. Wahai Allah, jika mereka kembali kepada-Mu dengan sedikit pahala dan banyak dosa, maka jadikan kematian di tengah menjalankan tugas mulia itu sebagai pelipat pahala dan penghapus dosa.
  4. Berikan kesabaran keluarga yang mereka tinggalkan, baik muslim atau non-muslim, dan tanamkan pada mereka kebanggaan sebagai keluarga pejuang, serta yakinkan mereka, bahwa anak-anak mereka kelak akan menjadi bintang dunia, berkat doa yang diamini orang-orang baik malam ini, dan doa semua orang yang pernah ditolong semasa hidupnya.
  5. Wahai Allah, rahmatilah guru-guru kami yang telah mengantarkan kami menjadi manusia berilmu, terhormat dan berdedikasi tinggi. Jadikan semua ilmu yang telah kami amalkan pahala jariyah bagi guru-guru kami, juga kedua orang tua kami. Jadikan pula para dokter yang telah berada di sisi-Mu saksi atas ketulusan guru-guru kami dalam mendidik kami sebagai dokter dan paramedis.
  6. Bismillahi urqika…” Wahai Allah, melalui doa Malaikat Jibril yang pernah dibaca untuk kesembuhan Nabi dan kami baca malam ini, berikan semua tenaga medis dan paramedis yang sedang sakit, baik muslim atau non muslim. Berikan mereka keceriaan dan optimisme kesembuhan.
  7. “Innallaha Huwar Razzaq…” Wahai Allah, sumber kekuatan di alam semesta. Alirkan kekuatan-Mu pada otak kami, agar lebih cerdas dan menghasilkan temuan-temuan baru di bidang kedokteran. Alirkan juga pada hati kami, agar lebih bersyukur, optimis dan terbebas dari kecemasan. Alirkan juga kekuatan-Mu pada tubuh kami untuk menambah kekebalan tubuh kami dan selamat dari berbagai virus dan bencana lainnya.   

MANUSIA ANEH

May 28th, 2020 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

MANUSIA ANEH
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: https://www.askideas.com/15-most-funny-donkey-face-pictures-that-will-make-you-laugh/

فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ كَأَنَّهُمۡ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۢ 

“Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)? Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa” (QS. Al Muddats-tsir [74]: 49-51).

Dalam ayat ini, Allah heran, mengapa orang-orang kafir Makkah menjauhi Nabi, padahal ia mengajarkan keselamatan, bukan kesengsaraan. Allah mengumpamakan tindakan mereka itu dengan keledai liar yang melompat, lari kencang ketika melihat seekor singa di dekatnya. Ia terus berlari, dan tak ada orang yang bisa menghalaunya, padahal singa itu sudah sangat jauh. Itulah tamsil keanehan manusia dalam menyikapi ajaran agama.

Tanpa kita sadari, kita sebenarnya juga manusia aneh. Dalam setiap shalat, kita selalu meminta petunjuk jalan yang benar atau shiraathal mustaqim, tapi kita justru memilih jalan yang bengkok. Sikap ini seperti pengemis yang meminta buah segar, tapi membuangnya setelah diberi. Atau seperti orang yang meminta madu, lalu setelah diberi, madu itu dicampakkan, dan ia justru menenggak racun yang mematikan.

Dalam kitab Nasha-ihul ‘Ibad pada bab “as-sudasy” disebutkan lebih rinci beberapa keanehan tersebut, yaitu:

سِتَّةُ أَشْيَاءَ هُنَّ غَرِيْبَةٌ فِيْ سِتَّةِ مَوَاضِعَ: اَلْمَسْجِدُ غَرِيْبٌ فِيْمَا بَيْنَ قَوْمٍ لَا يُصَلُّوْنَ فِيْهِ، وَالْمُصْحَفُ غَرِيْبٌ فِيْ مَنْزِلِ قَوْمٍ لَا يَقْرَؤُوْنَ فِيْهِ، وَالْقُرْآنُ غَرِيْبٌ فِيْ جَوْفِ الْفَاسِقِ ، وَالرَّجُلُ الْمُسْلِمُ غَرِيْبٌ فِيْ بَيْتِ امْرَأَةٍ رَدِيْئَةٍ سَيِّئَةِ الْخُلُقِ، وَالْمَرْأَةُ الْمُسْلِمَةُ الصَّالِحَةُ غَرِيْبَةٌ فِيْ بَيْتِ رَجُلٍ ظَالِمٍ سَيِّئِ الْخُلُقِ، وَالْعَالِمُ غَرِيْبٌ بَيْنِ قَوْمٍ لَا يَسْتَمِعُوْنَ إِلَيْهِ

Ada enam keganjilan dalam kehidupan, yaitu (1) masjid yang kosong di tengah masyarakat, (2) kitab suci Alquran di dalam rumah, tapi tak dibaca, (3) Alquran di mulut orang yang banyak melakukan dosa, (4) suami saleh beristri wanita yang rusak akhlaknya, (5) istri salehah bersuami pria yang zalim dan buruk akhlak, dan (6) ulama yang tidak didengar oleh masyarakatnya.

Kita bersyukur, kita menyaksikan banyak masjid yang dibangun oleh sebuah instansi, perusahaan atau oleh perorangan. Tapi, setelah selesai dibangun, masjid itu terlantar, sepi tanpa kegiatan di dalamnya, sehingga kehilangan daya tarik masyarakat. Bisa juga, masyarakat enggan memasukinya karena kegiatan masjid tidak sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat setempat. Program kerja disusun berdasar impian belaka, tanpa didahului penelitian yang mendalam tentang sosiologi, psikologi, budaya, politik dan paham keagamaan masyarakat sekitar.

Keanehan lainnya terkait dengan Alquran. Gerakan cinta Alquran yang kita dengungkan telah berhasil menggerakkan masyarakat untuk memiliki kitab suci itu. Tapi, setelah dimiliki, Alquran hanya dijadikan identitas kesantrian belaka.  Ia diletakkan di ruang tamu, di kantor, atau mobil, dan tidak dibaca secara rutin. Akhirnya, Alquran hanya sebagai asesori atau hiasan, bukan sebagai pedoman.

Ada juga orang yang rajin membaca dan mengutip ayat-ayat Alquran dengan fasih dan menjelaskannya dengan uraian yang menghipnosis pendengar, namun akhlak kesehariannya jauh dari nilai-nilai Alquran yang diajarkannya. Pada era informasi ini, tidak sedikit orang yang menghabiskan waktunya di depan komputer atau HP untuk menjadi “penceramah” baru dengan cara membagikan nasihat-nasihat agama kiriman orang, padahal ia sendiri tidak mengerti, apalagi menjalankannya. Ia tampil dalam media sosial itu seperti ulama besar atau penasihat agama yang ulung dengan narasi atau penjelasan yang logis dan mengesankan. Barangkali inilah jaman yang pernah diprediksi, yaitu lebih banyak pembicara, tapi nihil pengetahuan agama, dan gagal menjadi tauladan bagi masyarakat sekitarnya.

Keanehan lainnya terjadi dalam kehidupan rumah tangga, yaitu rusaknya keimanan dan akhlak suami atau istri, akibat kesalahan memilih pasangan. Suami atau istri yang santri atau taat beragama menjadi “mantan santri” karena pengaruh pasangannya yang lemah iman, bodoh dan rapuh akhlaknya. Tidak ada larangan, orang santri memilih pasangan yang tidak santri, asalkan bisa memengaruhi pasangannya menjadi taat beragama dan berakhlak mulia. Jika berhasil demikian, maka dialah pendakwah bahkan pejuang sejati, dan dialah yang dikagumi malaikat dan dicintai Allah. Tapi, jika gagal, artinya pasangan yang santri luntur kesantriannya akibat pengaruh negatif pasangannya, maka itulah sebuah musibah besar. Lebih baik “mantan preman” daripada “mantan orang beriman.” Juga, “mantan wanita tuna susila” lebih terpuji daripada “mantan wanita pegiat agama.”  

Masih ada lagi satu keanehan. Yaitu kiai, ustad, dan tokoh agama lainnya yang tidak didengar nasihatnya oleh orang-orang di sekitarnya, karena gagal menjadi teladan yang terbaik bagi mereka. Ia hanya pandai berseru berjamaah di masjid, tapi ia hanya ke masjid ketika terjadwal sebagai imam. Seakan-akan ia hanya pantas sebagai imam, dan merasa hilanglah kehormatannya jika menjadi makmum, apalagi status sosial si imam saat itu lebih rendah dari dirinya. Tokoh agama tersebut mengajurkan kesabaran dan kesopanan, namun ia terkenal sebagai orang yang kasar terhadap istri dan anak-anaknya. Inilah beberapa ilustrasi mengapa seorang tokoh agama dijauhi oleh lingkungannya

Silakan Anda tambahkan keanehan-keanehan lainnya yang Anda jumpai di tengah masyarakat. Atau mungkin keanehan dalam diri Anda sendiri. Mintalah kekuatan Allah untuk dibebaskan dari keanehan-keanehan tersebut. (Surabaya, 4-11-2019)

Sumber: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 29, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 231-232 (2) Syekh Imam Nawawi Al Bantany, Nasha-ihul ‘Ibad, t.p; t.th, p. 42