Header

KHUTBAH IDUL FITRI 1442/2021
KECERDASAN MENJAWAB TANTANGAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

 اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُلِلَّهِ/  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ / وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهْ/ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهْ / اَمَّابَعْدُ/  قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Kaum muslimin Yth.

Inilah idul fitri, hari kembali kepada kesucian. Selama setahun, sekian banyak sampah yang mengotori otak dan hati kita. Hari ini, semua sampah dan kotoran itu kita bersihkan melalui puasa di siang hari dan berlama-lama sujud di malam hari selama sebulan penuh. Bersyukurlah dan bergembiralah. Deretan panjang ibadah Ramadan itu sekarang kita akhiri dengan shalat idul fitri, lalu kita saling mendoakan dan saling memaafkan. Sekali lagi, bersyukurlah dan rayakan kegembiraan ini.

Tidak hanya itu, kita juga tak pernah absen memohonkan rahmat dan ampunan untuk semua keluarga kita yang telah kembali di sisi Allah, khususnya ibu dan bapak kita. Pada pembuka khutbah ini, marilah kita berdoa juga, semoga semua anggota Polri dan TNI, dokter, perawat, sukarelawan, dan semua pegiat kemanusiaan, serta pejuang negara yang gugur dalam melaksanakan tugas mendapat rahmat dan ampunan Allah, serta dicatat sebagai syuhadak.

Kaum muslimin Yth.

          Pada khutbah pagi ini, saya akan berbicara tentang pentingnya kecerdasan untuk menjawab berbagai tantangan menuju peradaban Islam. Untuk itu, saya akan menceritakan sebuah kisah tentang kekuatan otak yang menarik, yang terjadi pada tahun 80-an Hijriyah.

Pada tahun-tahun itu, Baghdad terkenal sebagai pusat kekuasaan dan peradaban Islam. Penguasa Romawi mengirim utusan untuk menguji kejeniusan ilmuwan Islam. Utusan itu dipersilakan menaiki panggung besar. Ia lalu mengajukan tiga pertanyaan, dan mengharap jawaban yang memuaskan dari para ulama dan ilmuwan Islam. Pertama, ada apa sebelum adanya Allah?. Kedua, ke arah mana wajah Allah menghadap, dan ketiga, apa yang dilakukan Allah saat ini?

Ketika para ulama dan ilmuwan bersiap menjawab, tiba-tiba seorang anak berdiri mengangkat tangan, siap menjawab semua pertanyaan itu. Si anak meminta utusan Romawi untuk menghitung mundur dari angka sepuluh sampai angka satu. “Adakah angka sebelum angka satu?,” tanya si anak. “Tidak ada,” jawab utusan Romawi. “Maka, jawaban pertanyaan pertama tuan adalah, bahwa sebelum adanya Allah, tidak ada apa pun,” kata si anak meyakinkan yang disambut tepuk tangan hadirin.

Sebelum menjawab pertanyaan kedua, si anak meminta utusan Romawi menyalakan lilin. Lalu ia bertanya, “Kemanakah cahaya lilin itu menghadap?” “ke semua arah.” “Maka, jawaban untuk pertanyaan tuan yang kedua, bahwa Allah adalah nur atau cahaya dan cahanya menerangi semua penjuru,” kata si anak dengan tegas, dan tepuk tangan panjang hadirin menggema ke semua ruangan. Utusan Romawi tertunduk malu, sebab ia bertekuk lutut dengan jawaban si anak, bukan para ulama dan ilmuwan senior.

Kaum muslimin Yth.

Setelah bisa menaklukkan logika utusan Romawi yang menguji kemajuan peradaban Islam di Baghdad, si kecil yang cerdas itu selanjutnya memohon pengatur acara. “Sekarang, saya minta tuan turun panggung, dan ganti saya yang di atas untuk menjawab pertanyaan yang ketiga, yaitu “apa yang sedang dikerjakan Allah saat ini?” Setelah utusan Romawi turun, si anak di atas panggung berkata, “Yang dikerjakan Allah saat ini adalah menurunkan kewibawaan orang yang sombong dan tidak percaya Allah, dan mengangkat kehormatan orang yang mempercayai-Nya.” Jawaban diplomatis dan analogis si anak ini amat mencengangkan semua orang dan memaksa utusan Romawi mengakui keagungan peradaban Islam saat itu.

Kaum muslimin Yth.

Kita pasti penasaran, siapakah anak kecil itu. Tidak lain adalah anak yang kemudian tumbuh menjadi Imam Abu Hanifah (80-150 H/699-767 M). Dialah imam yang paling senior di antara empat imam mazhab dalam khasanah intelektual Islam, yaitu Imam Malik (93-179 H atau 712-795 M), Imam Syafi’I 150-204 H atau 769-820), dan Imam Ahmad (164-241 H atau 780-855 M) (Nuh, 2014: 167).

Kisah di atas menggambarkan salah satu tantangan pemikiran yang dihadapi dunia Islam. Dan, tantangan itu begitu mudah dijawab dengan kekuatan otak yang dianalogikan dengan fenomina alam. Itulah kekuatan otak yang amat dihargai Al Qur’an, dan dalam berbagai ayat, Allah menagih kita dengan firman-Nya, ”afala ta’qilun? (mengapa engkau tidak berpikir?).” Albert Einstein mengatakan, “Look deep into nature, you will understand everything better” (pelajarilah alam semesta lebih mendalam, engkau akan lebih mudah memahami segala sesuatu).

Dalam beberapa hal, kebenaran bisa kita peroleh tanpa dalil wahyu. Maka, akan lebih dahsyat dan sampai kepada kebenaran yang hakiki jika akal itu tercahayai wahyu Al Qur’an, kitab suci yang kita kaji atau tadarus selama Ramadan, bulan suci yang beberapa jam yang lewat telah meninggalkan kita.

Semoga khutbah ini bermanfaat.  

           اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Duduklah 7 detik. Lalu berdiri lagi melanjutkan khutbah kedua:

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُلِلَّهِ/  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ / وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهْ/ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهْ / اَمَّابَعْدُ/  قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ, وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Catatan: (1) Khutbah idul fitri dilakukan setelah shalat, (2) khutbah bisa satu kali (tanpa duduk dan tanpa khutbah kedua), atau dua kali dengan selingan duduk di antara dua khutbah.

KHUTBAH IDUL FITRI 1442/2021
EMPAT KIAT SEDERHANA MERAIH KEBAHAGIAAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

 اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُلِلَّهِ/  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ / وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهْ/ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهْ / اَمَّابَعْدُ/  قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Kaum muslimin Yth.

Hari ini, kita bersyukur kepada Allah, bisa menyelesaikan puasa Ramadan selama sebulan. Tidak hanya berpuasa, kita juga berlomba sedekah semampunya, dan memperbanyak shalat dan zikir dalam bulan yang mulia itu. Lalu, Ramadan kita akhiri dengan saling mendoakan dan memaafkan. Betapa indahnya susana hari ini.

Semoga keluarga kita yang telah kembali kepada Allah ikut merasakan kegembiraan selama Ramadan, bahkan selamanya, berkat doa-doa kita, khususnya selama bulan suci itu.  Dengan berkah Ramadan dan lailatul qadar, kita doakan juga, semoga anggota Polri dan TNI, dokter, perawat, sukarelawan, dan semua pegiat kemanusiaan, serta pejuang negara yang gugur dalam melaksanakan tugas mendapat kegembiraan berupa rahmat dan ampunan Allah dalam kuburnya. Amin.

Kaum muslimin Yth.

Bisakah kebahagiaan idul fitri ini berlanjut sampai Ramadan yang akan datang? Bisa, asalkan akhlak mulia selama Ramadan ini kita lanjutkan pada bulan-bulan berikutnya. Orang bijak atau ahlul hikmah mengatakan, ada empat kiat sederhana untuk meraih kebahagiaan. Pertama, perbanyak doauntuk orang lain. Jangan hanya fokus berdoa untuk diri dan keluarganya, padahal banyak orang di kanan kiri kita yang sedang dalam kesulitan dan kesedihan. Sekali lagi, perbanyak sedekah doa untuk orang lain, dan jangan memberitahukan doa itu kepada yang bersangkutan. Apa imbalan Allah untuk kita? Semua malaikat mendoakan kemudahan hidup kita karena ketulusan doa kita.

Kedua, segeralah sambut panggilan azan dengan berwudu dan shalat. Jangan teruskan bermain HP atau ngobrol, atau tertawa terbahak-bahak ketika azan berkumandang. Jangan tunda shalat, kecuali ada kepentingan yang benar-benar tak bisa ditinggalkan. Jangan bikin lelucon, yaitu ingin doanya cepat dijawab Allah, tapi ia tidak cepat menjawab panggilan-Nya.

Ketiga, perbanyak shalawat. Jangan pelit bershalawat, atau hanya menggenjot shalawat ketika menghadapi masalah. Shalawat juga berfungsi sebagai sayap yang menerbangkan doa-doa kita ke langit. Jangan lupa, inilah yang terpenting, yaitu setiap membaca shalawat, sertailah permohonan dalam hati, “Wahai Allah, harumkan akhlak kami seperti harumnya akhlak Nabi-Mu, dan kumpulkan kami bersamanya dalam surga-Mu.” Sebuah keluarga dijamin bahagia, jika setiap anggotanya selalu introspeksi atas kekurangan dirinya, lalu bertekad memperbaiki akhlaknya setiap kali membaca shalawat.

Keempat, jangan egois. Artinya, sering-seringlah menoleh ke kanan dan kiri untuk mencaritahu siapa yang sedang membutuhkan pertolongan. Itulah kelanjutan ibadah shalat yang selalu kita akhiri dengan salam ke kanan dan kiri. Jika ingin dibahagiakan Allah, bertanyalah terlebih dahulu, sudah seberapa banyak orang yang kita bahagiakan. Semakin banyak beban hidup orang yang kita ringankan, semakin banyak beban hidup kita yang diringankan Allah. Hanya harta yang sampai ke tangan orang yang dapat mengantarkan kita ke surga Allah.

Kaum muslimin Yth.

Agar kita bisa menolong orang secara materi, kita harus kerja, kerja dan kerja untuk mencari rizki sebanyak-banyaknya. Menolong orang tidaklah cukup hanya dengan tenaga dan doa. Akan lebih mantap, jika disertai bantuan finansial. Jadilah manusia pemberi, bukan yang diberi. Jadilah tangan di atas, bukan tangan yang di bawah. Jangan sekali-kali bergantung kepada belas kasih orang. Mandirilah, dan itulah kunci kemuliaan dan kejayaan kita.  Ali bin Abi Thalib r,a mengatakan, “Aku sudah kenyang dengan berbagai derita hidup, dan yang paling mengerikan adalah ketika aku mengharap belas kasih orang.”

Kaum muslimin Yth.

Keempat kiat sederhana meraih kebahagiaan itu saya singkat DAST, yaitu Doa, Azan, Shalawat, dan Tolong-menolong. Semoga khutbah ini bermanfaat. 

           اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Duduklah 7 detik. Lalu berdiri lagi melanjutkan khutbah kedua:

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُلِلَّهِ/  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ / وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهْ/ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهْ / اَمَّابَعْدُ/  قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ, وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Catatan: (1) Khutbah idul fitri dilakukan setelah shalat, (2) khutbah bisa satu kali (tanpa duduk dan tanpa khutbah kedua), atau dua kali dengan selingan duduk.

RAHASIA SUKSES DAKWAH DUNIA

January 9th, 2021 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

RAHASIA SUKSES DAKWAH DUNIA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: httpsfavpng.compng_viewarabic-world-north-africa-arab-world-arabian-peninsula-world-map-pngFexLGSkt

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ 

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. Ali Imran [3]: 110).

            Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya (QS. Ali Imran: 104) yang berisi perintah amar ma’ruf nahi munkar (mengajak berbuat yang baik dan mencegah perbuatan dosa). Pada ayat ini dijelaskan lebih lanjut, bahwa dakwah atau amar ma’ruf nahi munkar harus berorientasi keimanan, bukan lainnya, sehingga bisa menyatukan dan menyejukkan masyarakat.  Dalam ayat ini juga tersirat perintah agar setiap muslim melakukan dakwah semampunya, meskipun ia bukan ahli agama. Gerakan dakwah yang masif inilah yang menjadi salah satu faktor keberhasilan dakwah di dunia.    

Dalam sebuah kajian Islam di USA, Dr. Muhammad Jawwad Chirri (w. 1994) ditanya oleh Wilson H. Guintin, Ph.D tentang faktor keberhasilan dakwah di dunia. Penanya yang Kristen dan ahli psikologi itu mengatakan, “Sejak berpendidikan, saya menjadi ragu tentang agama saya.” Ia menambahkan, bahwa agama-agama yang dipelajari sebelumnya tidak bisa mengobati kebimbangan keimananya, dan dialog dengan ulama besar inilah satu-satunya yang berhasil menghapus kebimbangannya.

Chirri adalah penulis puluhan buku dalam bahasa Arab dan Inggris, antara lain Muslim Practice; The Faith of Islam; Inquiries about Islam; Imam Husein, Leader of the Martyrs; dan The Brother of The Prophet Muhammad (the Imam Ali). Ia dibesarkan dalam keluarga Syi’ah di Libanon dan meraih gelar doktor teologi dari Iraq sebelum berhijrah ke Detroit, USA. Ia mendirikan sekaligus memimpin Islamic Center of America tahun 1962 setelah terlebih dahulu mendatangi Syekh Mahmud Shaltut di Universitas Al Azhar Mesir untuk mencari persamaan antara Sunni dan Syiah.

Menurutnya, ada tiga faktor yang mempercepat perkembangan Islam di dunia. Pertama, kepribadian Nabi sebagai pembawa Islam yang tidak mengambil jarak dengan masyarakat, tapi menyatu, bahkan dengan orang yang paling tak terhormat sekali pun. Masyarakat memandang Nabi sebagai kawan sekaligus pembimbing (QS An-Najm [53]: 2; At-Takwir [81]: 22). Juga mengakuinya secara aklamasi sebagai “al amin” yaitu manusia yang paling jujur dan bisa dipercaya (QS. Al-Qalam [68] : 4). Tak kalah pentingnya, ia tetap santun meskipun diperlakukan jahat oleh para atheis dan politheis (QS An-Nahl [16]: 125, QS. Ali Imran [3]: 159). Kepribadian Nabi inilah yang menjadi faktor utama percepatan penyebaran Islam. Selama memimpin, Nabi mampu mengelola perbedaan pendapat para penasihatnya sebagai sumber kekuatan, bukan sumber perpecahan. Ia dengan lincah mengelola konflik para penasehatnya seperti seorang musikus yang menggabungkan macam-macam bunyi alat musik menjadi lagu yang indah dan enak didengar.

Kedua, militansi para pengikut Nabi. Mereka siap mengurbankan harta, jiwa dan raga untuk perjuangan Nabi. Bandingkan dengan pengikut Musa a.s yang menolak diajak memasuki Yerussalam, bahkan mencemooh, “Silakan pergi sendiri dengan Tuhanmu, wahai Musa. Kami santai saja di sini.” (QS. Al-Maidah [5]: 24). Bandingkan juga dengan pengikut Isa a.s yang membiarkan Isa a.s dalam kesulitan. Sampai sekarang pun, setiap muslim di seluruh dunia memiliki militansi sebagai pendakwah sesuai dengan kemampuan dan bidang masing-masing. “Ketika saya berkunjung ke Afrika pada tahun 1962, saya tidak menjumpai organisasi Islam yang secara khusus bergerak di bidang dakwah. Padahal, saat itu misi Kristen telah memiliki sebanyak 212.250 buah dengan dana yang melimpah. Sedangkan pusat dakwah Islam sedunia pada saat yang sama hanya memiliki kurang dari seratus buah. Itu pun dengan dana yang terengah-engah,” kata Chirri. Perkembangan Islam di semua benua sampai hari ini lebih banyak karena kekuatan pendakwah perorangan daripada dakwah yang teroganisir. Di Indonesia, kita menjadi saksi sejarah, bahwa Islam masuk ke Indonesia bukan oleh lembaga dakwah, melainkan para saudagar yang berdakwah di sela-sela kegiatan bisnisnya.

Ketiga, ajaran Islam yang logis dan jelas, berisi aturan hidup yang lengkap, serta menjunjung tinggi kesetaraan di antara semua manusia. Ajaran tentang keesaan Tuhan, kerasulan Nabi dan konsep kehidupan sesudah mati tidak berbelit-belit dan sukar dipahami. Setiap orang dapat langsung membaca kitab sucinya dan menjalankannya. Islam mengajak penganutnya untuk berilmu dan berwawasan luas (QS. Thaha [20]: 114; Az Zumar [39]: 9), dan mencela orang yang tidak mau belajar dan meneliti (QS. Al A’raaf [7]: 179). Oleh sebab itu, pantaslah manusia dipercaya sebagai khalifah untuk mengatur dunia (QS. Al-Baqarah [2]: 30-33).

Aspek lainnya tentang ajaran Islam yang menjadi daya tarik dunia adalah ajaran keseimbangan antara aspek benda dan rohani, atau antara perorangan dan kemasyarakatan. Islam tidak melarang mencari kesenangan duniawi (QS. Al Baqarah [2]: 201-202), bahkan mencela mereka yang tidak memanfaatkan karunia Allah (QS Al A’raf [7]: 31-32). Islam tidak mengajarkan manusia untuk melenyapkan kepribadiannya dan meleburkan diri pada masyarakat dan negara (QS. An Najm [53]: 39;  QS. Al Baqarah [2]: 286), tapi menekankan agar setiap muslim memiliki tanggungjawab sosial untuk ikut mengatur kehidupan sosial, antara lain adanya perintah shalat berjamaah, zakat dan sadakah (QS. Al  Baqarah [2]: 43, dan Az Zariaat [51]: 19).

Berdasarkan jawaban ulama di atas, maka untuk kesuksesan dakwah ke depan, kita harus melakukan tiga hal. Pertama, kita harus benar-benar menjadi teladan, sebab inilah daya sugesti yang terkuat bagi masyarakat untuk mengikuti jejak kita. Kedua, kita harus didampingi oleh teman-teman seperjuangan yang militan, kompak, dan siap mengurbankan apa saja yang dibutuhkan dakwah, serta lebih senang memberi daripada diberi. Ketiga, kita harus mampu menjelaskan Islam sesuai dengan watak aslinya, yaitu logis, simpel, menyemangati untuk berkarya besar, dan selalu menyenangkan, bukan menyusahkan, apalagi menggelisahkan orang.