Header

TETANGGA PENYESAK DADA

February 15th, 2013 | Posted by admin_tsb in Artikel - (4 Comments)

TETANGGA PENYESAK DADA

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

“Isa, Isa, kemari. Ini makanmu.” Itulah perkataan sehari-hari yang diucapkan tetangga depan rumah pak Apel, salah satu peserta kajian Islam  di Masjid Al Falah. Pria tambun itu berkisah betapa beratnya ujian keimanan dalam hidup bermasyarakat. Tetangga itu selalu memanggil nama kucingnya dengan nama cucu pak Apel, yaitu Aisyah dengan nama panggilan Isa. Tidak hanya itu, ia juga selalu memarkir deretan sepeda di depan rumah, sehingga pak Apel kesulitan memasukkan mobil ke dalam rumah. “Ia juga rajin ke dukun untuk membuat saya tidak betah di kampungnya,” katanya mengakhiri kisahnya.

Inilah kisah lain yang sejenis. “Saya diumumkan di kampung punya thuyul (setan pengepul uang)  oleh tetangga dua rumah sebelah kanan saya.” kata seorang tamu yang bersilaturrahim untuk meminta solusi.  “Mereka menuduh demikian karena saya tidak banyak keluar rumah tapi uang mengalir. Mereka tidak tahu saya punya bisnis batubara di Kalimantan.” Ia menjelaskan latar belakang yang sebenarnya dari semua tuduhan itu, bahwa tetangga itu menganggap kegagalannya dalam pemilihan ketua RW banyak disebabkan karena provokasinya. “Memang benar, saya melakukan kampanye itu karena ada pilihan calon ketua RW yang lebih santri dari dia,” katanya.

Dua cuplikan kisah di atas hanya sebagian kecil dari liku-liku hidup bertetangga. Anda pasti juga pernah mengalaminya walaupun tidak sama persis. Apa yang Anda lakukan? Anda datangi ke rumahnya lalu Anda teriak-teriak di atas meja tamunya? Atau Anda pegang mike, lalu Anda “hantam” dia dengan pidato Anda?  Itu penyelesaian yang justru menambah masalah. Juga langkah yang tidak berakhlak. Atau Anda akan pindah rumah? Tidak perlu itu. Sebab di tempat yang baru, Anda pasti juga menemukan tetangga yang mirip dia. Sebab baik dan buruk itu sudah hukum kehidupan. Kecuali jika Anda menyendiri di tengah hutan belantara di gunung Papua dan hanya bertetangga dengan binatang-bnatang buas. Perlu diingat yang dimaksud tetangga bukan hanya orang yang tinggal satu atau sepuluh rumah dari rumah Anda, tapi bisa sekitar 40 rumah di sekitar Anda.

Allah SWT berfirman, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan,” kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS Al Ankabut [29]:2). Berdasar ayat ini, Allah SWT sengaja “mengirim” tetangga buruk perangai itu untuk menguji, apakah Anda memang orang beriman atau tidak. Jadi pertemuan Anda dengan tetangga itu bukanlah suatu kebetulan.  Ada rencana Allah yang khusus.  Jika Anda berprilaku baik kepada tetangga yang baik, maka itu biasa: bukan ujian. Nilai keimanan Anda juga tidak siginifikan. Akan tetapi, Anda baru benar-benar terbukti sebagai muslim sejati, ketika berhadapan dengan tetangga yang serba menyakitkan dalam segala ucapan dan tingkahnya. Oleh sebab itu, syukurilah saja hidup bertetangga dengan mereka, sebab justru tantangan itulah yang akan menjadikan keimanan Anda teruji. Menjadi muslim dengan menjalankan haji dan umrah itu berat. Tapi lebih berat lagi bertetangga dengan mereka, sebab tidak hanya sepuluh sampai empat puluh hari, tapi seumur hidup dan jauh lebih menguras semua potensi kesabaran Anda. Rahmat Allah SWT benar-benar tak terhingga untuk Anda yang tetap santun kepada tetangga penyesak dada.

Sebagai penutup, saya kutipkan sebuah hadis yang agak panjang tapi di dalamnya ada pesan tentang hidup bertetangga. Abu Hurairah r.a bercerita, Nabi SAW menawarkan, “Siapa yang mau menerima nasehat-nasehat ini dan menjalankannya atau mengajarkan kepada orang yang bersedia menjalannya?”. Saya menjawab, “Saya, wahai Rasulullah.” Lalu Nabi memegang tangan saya sambil mengucapkan lima hitungan. Nabi SAW bersabda, “Jauhilah yang dilarang Allah, engkau pasti menjadi manusia paling beribadah (tunduk) kepada-Nya. Senang dan puaslah dengan jatah dari Allah, engkau pasti menjadi manusia paling kaya; perlakukan tetanggamu dengan baik, engkau pasti menjadi manusia beriman; cintailah semua manusia seperti cintamu kepada kepada diri sendiri, engkau pasti menjadi muslim (sejati); jangan memperbanyak tawa, sebab banyak tawa mematikan hati.” (HR. At-Turmudzi).

PENUH ASA DENGAN DOA

February 8th, 2013 | Posted by admin_tsb in Taushiyah/Khutbah - (1 Comments)

PENUH ASA DENGAN DOA

Khutbah Jum’at di Masjid Al Falah Surabaya
Tanggal 08 Pebruari 2013
Oleh:
Prof.Dr.Moh.Ali Aziz, M.Ag

Para hadirin yang saya hormati.

Saat ini, kita sangat berbahagia berada di bulan Rabi’ul Awal, bulan kelahiran Nabi SAW. Tapi sebenarnya juga bulan kesedihan, karena pada bulan yang sama, Nabi SAW meninggalkan para sahabat untuk selamanya.

Pada saat menjelang ajal, Nabi SAW berkata kepada Jibril a.s, ”Siapa yang mengurusi umatku sesudah aku mati?.” Maka Allah SWT memberi perintah kepada Jibril, ”Beritahukan kekasihku bahwa Aku tidak menelantarkan umatnya. Beritahukan pula, ia adalah orang yang pertama kali keluar dari bumi pada hari kebangkitan, sekaligus pemimpin mereka yang dibangkitkan itu. Juga beritahukan, siapapun tidak diijinkan memasuki surga sebelum dimasuki umatnya.” Maka Nabi SAW berkata,”Sekarang aku jadi tenang.”

Saat itu, Nabi SAW dalam dekapan Aisyah r.a. Begitu dekatnya, sampai ia katakan, “Aku kumpulkan air ludahku dengan ludah Nabi di waktu wafatnya.” Pada saat-saat kritis itu, datanglah kakak Aisyah, Abdurrahman dengan siwak di tangannya. Nabi SAW terus memandang siwak itu. Aisyah faham, bahwa Nabi SAW menginginkannya. ”Aku akan mengambilnya untukmu,” kata Aisyah kepada Nabi SAW dan beliau mengiyakan dengan isyarat kepala. Dengan tangan gemetar, beliau memasukkan siwak ke dalam mulutnya. Tapi ternyata siwak itu masih terasa keras baginya, maka Aisyah mengambilnya kembali untuk dilembutkan ujungnya.

Di sebelah Nabi, terdapat wadah berisi air. Beliau memasukkan tangannya dan mengusapkannya ke muka seraya mengucapkan, ”La ilaha illallah (Tiada Tuhan selain Allah). Sungguh, kematian itu melalui sakarat (proses yang berat).”  Lalu beliau mengangkat tangannya untuk berdoa dengan suara lirih, “(Jadikan aku) bersama dengan orang-orang yang Engkau beri nikmat, para nabi, para shiddiqin, para syuhada’ dan orang-orang yang shaleh (QS. An Nisa’: 69). Wahai Allah ampunilah aku, rahmatilah aku dan pertemukan aku dengan ”Ar-Rafiqul A’laa, Ar-Rafiqul A’laa

Para hadirin,

            Pada khutbah kali ini, saya tidak meneruskan kisah detik-detik terakhir Rasulullah itu. Saya hanya ingin menceritakan, siapa sebenarnya pria yang diberi kehormatan menyediakan kayu siwak untuk pembersih gigi Rasulullah menjelang wafat beliau itu. Ia adalah Abdurrahman putra Abu Bakat As Shiddiq, kakak kandung Aisyah r.a.  Pernikahan Abu Bakar dengan Ummu Rumman, janda dari al-Harits ibnu Sukhairah menghasilkan dua anak yaitu Abdrurrahman dan Aisyah.

Pada masa-masa awal, Abdurrahman adalah anak durhaka, yang tiada henti menyakiti hati bapak dan ibunya. Bahkan, pernah berhadapan langsung dalam perang Badar. Abu Bakar pada pasukan Nabi dan anaknya pada pasukan musuh. Betapa kontrasnya, Abu Bakar yang dikenal orang pertama yang masuk Islam dan menjadi pembela setia Rasulullah SAW mendapat perlawanan ideologis dan fisik dari anaknya sendiri.

Abu Bakar dan istri tiada henti mengajak sang anak masuk Islam dan mempercayai hari kebangkitan pada hari kiamat. Tapi Abdurrahman menolak mentah-mentah dan menyebutnya omong kosong Muhammad. Menurutnya, belum ada satupun manusia yang pernah dibangkitkan untuk hidup kembali. “Itu dongeng palsu orang-orang kuno (asathirul awwalin),” katanya.

Abu Bakar dan isteri sedih dan terus berdoa (wahuma yastaghitsani) sambil tiada bosan menasehati sang anak, tapi tetap saja ia menolaknya. Saat itulah Allah menurunkan Al Qur’an Surat Al-Ahqaf [46] ayat 17:

“Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya, “Persetan, bagi kamu berdua. Apakah kamu berdua mengingatkan aku bahwa aku akan dibangkitkan?. Padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? Kedua ibu bapaknya kemudian memohon pertolongan (istighatsah) kepada Allah seraya mengatakan, “Celaka kamu, berimanlah! Sungguh, janji Allah benar.” Lalu si anak berkata, “Ini tidak lain hanyalah dongeng orang-orang kuno”. (QS Al-Ahqaf [46]:17)

Amat kasihan bagi sang Ibu. Ia wafat dengan kesedihan melihat anaknya masih tetap memusuhi sang bapak dan Rasulullah SAW. Setelah sekian lama berdoa, Allah SWT baru mengabulkan doa Abu Bakar, setelah istrinya meninggal. Tiba-tiba saja, Abdurrahman meminta bapaknya membimbing masuk Islam. Betapa senangnya sang bapak, Abu Bakar. Alangkah bahagia sang adik, Aisyah yang saat itu sudah menjadi istri Nabi SAW.

Abdurrahman kemudian tidak hanya muslim biasa. Tapi muslim shaleh dan pejuang tangguh. Ketika Abu Bakar dikukuhkan sebagai kepala negara sepeninggal Rasulullah, Abdurrahman menjadi tentara andalan beliau untuk menumpas 40.000 pasukan nabi palsu, Musailamah al-Kadzdzab, para pembangkang pembayar zakat. Luar biasa, Abdurrahman berhasil membunuh Muhammad ibnu al-Thufail, orang kepercayaan Musailamah. Sedangkan Musailamah sendiri mati atas sabetan pedang Wahsy bin Harb.

Para hadirin,

Dulu, Abdurrhman amat memusuhi Nabi SAW. Tapi ketika wafat Nabi, dia mendapat kehormatan menyerahkan siwak kepada Nabi. Dulu, Abdurrahman-lah yang menjadi penyebab kesedihan Abu Bakar. Tapi pada akhir hayat Abu Bakar, Abdurrahman-lah yang paling dicintainya. Bahkan ia mendapat wasiat untuk memandikan jenazah sang ayah. Itulah kekuatan doa orang tua.

Setiap doa orang tua untuk anaknya pasti dikabulkan Allah SWT. Tapi perlu dicatat, tidak semua permohonan itu dikabulkan dengan segera. Ada kalanya, dibutuhkan kesabaran yang ekstra, sebab Allah telah menentukan jadual tersendiri kapan sebuah permohonan dikabulkan. Bahkan, permohonan itu ada kalanya baru dikabulkan setelah pemohonnya meninggal dunia, sebagaimana yang dialami oleh keluarga Abu Bakar as-Shiddiq.

Setiap pemohon harus tunduk kepada kehendak Allah, berupa jadual terpenuhinya permohonan. Jika sedikit saja ada ada perasaan terburu-buru, permohonan itu tidak akan dikabulkan Allah. Doa dengan harapan terkabulnya permohonan secara terburu-buru berarti mendikte Allah. Berarti pula ia bertindak sebagai manusia Maha di atas Maha Kuasanya Allah SWT.  Nabi SAW bersabda, “Permohonan seorang di antara kalian akan dikabulkan Allah selama ia tidak tergesa-gesa dan berkata, “Saya sudah berdoa kepada Tuhanku, tapi Tuhanku belum saja mengabulkannya (qad da’awtu rabbi, falam yastajib li” (HR Bukhari Muslim dari Abu Hurairah r.a).

Tetaplah penuh asa menghadapi semua masalah dengan doa. Tapi, hindari bahasa dan sikap bernada memaksa yang Maha Kuasa. Selamat berdoa untuk keluarga sepanjang masa. Semoga tetap sabar menunggu jawaban Allah, Yang Maha Pemurah.

HIDUP ITU KOMA (2)

February 8th, 2013 | Posted by admin_tsb in Artikel - (7 Comments)

HIDUP ITU KOMA (2)

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Mungkinkah seorang pencuri menjadi kiai di kemudian hari? Masihkah bisa diharapkan seorang pemabuk berubah menjadi pemuka agama pada suatu saat? Jawabnya: sangat mungkin, karena hidup itu koma: belum titik. Dan itulah yang dibahas pada artikel sebelumnya. Sekarang sebaliknya. Bisakah pegiat agama berubah menjadi pezina? Mungkinkah seorang kiai berubah menjadi pencuri? Atau penyuluh agama berubah menjadi pembunuh sesama? Anda akan bisa menjawabnya sendiri setelah membaca kisah berikut ini.

Pada masa Bani Israil, hiduplah Barshisha, orang yang sangat populer keilmuan dan kesalehannya. Murid dan pengikut setianya mencapai 60.000 orang. Hampir semua mereka ini bisa terbang karena kehebatan ilmu dan spiritualnya. Apalagi kelebihan sang guru, Barshisha. Tidak hanya manusia, para malaikat juga amat kagum pada Barshisha. Tapi, Allah mengingatkan para malaikat, agar tidak tergesa-gesa menyanjungnya. “Jangan tergesa-gesa mengaguminya. Dengan ilmu-Ku, Aku Maha Mengetahui, apa yang tidak kalian ketahui,” kata Allah.

Pada suatu saat, Iblis mendatangi Barshisha untuk pura-pura berguru. Selama belajar, Iblis hanya beribadah, tidak makan dan minum sama sekali. Barshisha bertanya, ”Bagaimana kamu bisa beribadah sekian lama? Bagaimana pula kamu bisa menahan makan dan minum berhari-hari selama beribadah?. Saya telah beribadah bertahun-tahun, belum bisa melakukan seperti kamu”. Iblis menjawab, ”Saya beribadah begini karena saya telah banyak melakukan dosa. Saya bertobat secara sungguh-sungguh. Lakukan zina atau membunuh orang terlebih dahulu, lalu bertobatlah. Baru tuan bisa merasakan nikmatnya ibadah.”

Barshisha menolak disuruh berzina dan membunuh karena keduanya dosa besar. Tapi dengan kepandaian rayuan Iblis, akhrinya ia mau hanya meminum minuman keras. “Ya, itu dosa kecil, dan lebih mudah diampuni Allah, karena tidak menyangkut orang lain,” kata Iblis memberi dorongan. Setelah diberitahu tempat penjualan miras, Barshisha berangkat menuju kedai miras di sebuah desa dengan wanita cantik penjaganya. Setelah minum sedikit dan mabuk, ia amat terangsang dengan paras wanita itu, sampai terjadi pemerkosaan.

Sial. Ia kepergok oleh sang suami yang datang pada kejadian itu. Barshiha cepat mengambil keputusan untuk membunuhnya. Iblis bergembira karena Barshisha telah melakukan tiga dosa sekaligus: minum, zina dan membunuh.  Ia ditangkap dan dihukum mati. Di tiang gantungan, ia didatangi Iblis, ”Maukah kamu saya tolong agar lepas dari hukuman ini? Jika mau, segera pejamkan mata dan tundukkan kepala sejenak kepadaku.” Ketika ia melakukan perintah Iblis itu, ia menghembuskan nafas terakhir.

Hidup masih koma. Anda wajib bersyukur menjadi orang baik-baik sekarang berkat hidayah Allah. Tapi Anda harus ingat, hanya malaikatlah yang sudah titik: pasti baik selamanya, karena mereka tidak memiliki nafsu. “…dan (para malaikat itu) tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim [66]:7).

Hidup masih koma. Esok hari masih penuh spekulasi. Maka bacalah ihdinash shirathal mustaqim (Wahai Allah tunjukilah kami jalan yang lurus) dengan penuh penghayatan dalam setiap shalat. Baca juga doa, “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami” (QS. Ali Imran [3]: 8). Atau bacalah doa dari Rasulullah SAW, “Wahai Allah, sesungguhnya saya memohon hidayah, takwa, kelapangan, dan rasa cukup” (H.R. Muslim).