Header

MAUKAH HIDUP 10.000 TAHUN?

December 4th, 2012 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

MAUKAH HIDUP 10.000 TAHUN?

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Bulan Muharram, tahun baru 1434 hijriyah ini atau dua bulan lagi, Januari 2013, Anda sudah lebih tua. Mungkin di antara pembaca ada yang dicatat oleh Allah mati setelah pensiun, atau baru saja terdaftar sebagai pegawai pada suatu instansi. “Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS. An-Nahl [16]:70)

Ayat di atas juga menunjukkan bahwa orang yang diberi kesempatan hidup sampai tua, ia tidak lagi sempurna ingatannya, dan terbatas pengetahuannya, seperti ia bayi dan anak-anak.  Allah SWT berfirman, “Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian (awalnya). Maka apakah  mereka tidak memikirkan? (QS. Yasin [36]:68).

Rasulullah diberi hidup oleh Allah SWT selama 63 tahun Hijriyah atau 61 tahun menurut hitungan tahun Masehi. Bagi orang sesuci beliau, bekal untuk menghadap Allah tentu sudah cukup dengan usia sebanyak itu. Beliau tekun beribadah dan seringkali menangis tersedu-sedu ketika memohon ampunan Allah, padahal ia tidak punya dosa. Bagi kita, usia 61 tahun, terlalu singkat untuk mengumpulkan bekal menghadap Allah SWT. Kita berharap diberi usia lebih lama dari usia Nabi. Untuk itu kita wajib berusaha menjaga kesehatan dengan pola hidup sehat sebagaimana dicontohkan Nabi. Ada lagi kiat panjang umur yang diberikan Rasulullah Saw, yaitu menyambung tali persaudaraan. Rasulullah Saw bersabda,”Barangsiapa ingin dimudahkan rizkinya dan ditunda ajalnya (dipanjangkan usianya) hendaklah ia menyambung tali persaudaraan” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik r.a).

Berdasar hadis di atas, timbul pertanyaan: bisakah umur manusia diperpanjang? Muhammad Ibrahim An-Nu’aim dalam bukunya Kaifa Tuthilu Umrakal Intajiy (Misteri Panjang Umur) menjawab bahwa menambah jatah umur manusia bukanlah hal yang sulit bagi Allah. Sekalipun umur manusia telah ditulis di sisi-Nya, namun adalah hak mutlak Allah untuk  merubah atau menghapuskannya. Hanya Allah yang berhak merubah atau menghapus catatanNya.  Nabi dan Malaikat tidak bisa melakukannya. “Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh) (QS.Ar-Ra’d [13]:39).

Dengan kekuasaan mutlak Allah itu, bisa saja seseorang telah ditetapkan batas umurnya, namun karena ia bersilaturrahim dan banyak berdoa, maka Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Pemurah merubah ketetapan-Nya dan memberi tambahan umur kepadanya.

Ada juga pendapat lain bahwa umur manusia tidak bisa ditambah atau dikurangi, karena sudah ditetapkan Allah sebelum kelahirannya (QS. Fathir [35]: 11 dan Qs Al A’raf [7]:34). Kita hanya bisa meminta tambahan berkah atau kualitasnya. Artinya hitungan usia kita memang pendek, namun karena banyak ibadah, maka usia yang pendek menandingi usia ratusan tahun orang lain, khususnya umat sebelum nabi Muhammad SAW. Misalnya, usia muslim sehari bisa dinilai Allah setara dengan lima tahun. Setahun bisa setara dengan 3.800 tahun jika mengikuti petunjuk Rasulullah SAW berikut, “Barangsiapa berjalan ke masjid untuk shalat fardhu secara berjamaah, maka shalatnya setara dengan sekali ibadah haji. (HR Ahmad dan Abu Dawud r.a).

Shalat berjamaah lima kali sehari berarti sama dengan lima kali ibadah haji. Padahal haji hanya bisa dikerjakan setahun sekali. Jika seseorang menjalankan shalat berjamaah setahun penuh tanpa absen, maka usia setahun itu sama dengan 3.800 tahun. (5 x 360 hari = 3.800). Pada bulan suci Ramadlan, juga bisa seseorang yang memperoleh sehari sama dengan 1000 bulan atau 83 tahun, jika bersungguh-sungguh beribadah pada malam lailatul qadar.

Menurut Nabi SAW, “Umur umatku antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun, dan sedikit sekali yang lebih dari itu” (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah r.a). Sekalipun pendek, kita berharap usia kita bernilai ratusan ribu tahun karena berkah kebaikan yang kita lakukan. Inilah usia yang terbaik, sebagaimana hadis Nabi, ”Orang yang terbaik adalah yang panjang umurnya dan baik perbuatannya” (HR Ahmad dari Abu Bakrah r.a.).

ALLAHUMMA JUNK FOOD

October 20th, 2012 | Posted by admin_tsb in Artikel - (2 Comments)

ALLAHUMMA JUNK FOOD

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

            Baru kali ini, saya menghadiri pelepasan jamaah haji, 12 Oktober 2012 dengan ribuan pengunjung. “Rombongan Haji Sabar” Kalibokor Surabaya dengan pembimbing Abah Rahman itu juga menghadirkan puluhan kiai yang diminta duduk berbaris di panggung kehormatan menghadap pengunjung.  Bagi Anda yang tidak biasa dalam komunitas tahlil dan istighatsah pasti heran dan mungkin tidak sabar mengikuti urutan acara pada malam itu. Tapi mereka yang sudah terbiasa, justru memperoleh kenikmatan dan kesyahduan.

Saya menyaksikan betapa riang wajah pengunjung menikmati suara “penerbang” hadrah dengan pasukan “tepuk khas” shalawatnya, sekalipun harus berdiri lebih dari 45 menit. Sesekali terdengar suara melengking komando “liar” shalawat dari barisan belakang, dan semua pengunjung  merespon shalawat itu dengan sedikit menggoyang badan ke kanan dan kiri. Sungguh mereka menikmati shalawat bersama itu, sekalipun tidak semua memahami maknanya. Inilah salah satu bentuk ekspressi cinta Rasul.

Bagi yang belum terbiasa, semakin tidak bersabar ketika harus mendengar 12 kiai berdoa pada akhir acara secara bergilir. Doanya juga panjang-panjang. Saya yang mendapat  giliran kesebelas hampir kehabisan doa, karena sudah dibaca semua oleh para kiai sebelumnya.  Giliran paling akhir adalah Kiai Luthfi Ahmad dari Ponpes TeeBee (Tambak Bening). Karena sudah malam, ia langsung pegang mike dan tanpa pengantar langsung berdoa, “Allahumma, Ya Allah, jauhkan kami semua dari junk food, junk food, jauhkan dari junk food...” . Saya sebenarnya tertawa dalam hati, tapi saya tahan, karena saya di atas panggung di depan ribuan orang. Baru kali ini ada doa jenis itu.

Usai acara, saya tanya,  “..pak kiai, doanya kok unik sekali?”. Ia menjawab, “..karena semua doa sudah diborong habis kiai sepuh, dan kita kiai muda, harus dengan doa unik..kan?”. Setelah berbicara panjang, ternyata bukan itu alasan utama. Kiai muda ini memang sedang berkampanye cinta lingkungan dan produk dalam negeri. Bahkan dalam sambutan sebagai wakil tuan rumah, ia juga berkali-kali menekankan pentingnya masyarakat kita mengonsumsi garam kasar (grosok) yang sangat menyehatkan, bukan garam lembut di supermarket.  “Garam kasar bukan hanya cocok untuk mengusir setan..ha ha,  tapi juga penyakit…”.  Sebelum pulang, kiai berjubah hitam, tampan dan berjenggot itu memberikan tafsir tentang doa uniknya.

Menurutnya, semua kiai harus peduli tentang kesehatan umatnya, dan menanamkan kesadaran akan bahaya penjajahan negara asing untuk masa depan Indonesia. Salah satu perusak kesehatan generasi muda kita adalah makanan cepat saji yang semakin hari semakin populer di kalangan anak muda kita.

Sebuah hasil riset yang dipublikasikan di India Gazette menunjukkan bahwa 85% dari anak-anak usia 10-14 tahun, didiagnosa terancam diabetes karena kebiasaan makan yang tidak sehat. Satu diantaranya adalah junk food atau makanan cepat saji.  Riset yang dilakukan oleh Delhi Diabetes Research Centre (DDRC) di bawah bagian dari Scheme of the Delhi melibatkan 5.802 anak sekolah di ibu kota. Penelitian yang difokuskan pada masalah obesitas dan perlunya mengubah pola makan yang cenderung meniru “mimic western lifestyle”.

Pada banyak acara ulang tahun, anak-anak sekolah kita mengajak temannya bermakan ria di restoran penyedia junk food. Bahkan salah satu acara pelepasan anak TK di sebuah lembaga pendidikan, juga diadakan di restoran itu. Semua anak dan orang tuanya dengan lahap dan bangga sebagai orang moderen mengonsumsi junk food di restoran pada komplek pertokoan mewah. Junk food adalah makan yang jumlah kandungan nutrisinya terbatas. Umumnya, yang termasuk dalam golongan junk food adalah makanan yang kandungan garam, gula, lemak, dan kalorinya tinggi, tetapi kandungan gizinya sedikit. Junk food mengandung banyak sodium, saturated fat, dan kolesterol. Bila dalam tubuh jumlah ini banyak, maka akan menimbulkan banyak penyakit. Dari penyakit ringan sampai penyakit berat semacam darah tinggi, stroke, jantung, dan kanker.

Dulu, penyakit-penyakit “berat” tersebut hanya diderita oleh orang-orang tua yang umurnya di atas 40 tahun. Tetapi, semakin tahun, penderita penyakit mematikan itu semakin muda saja umurnya. Kalau tidak bisa menjaga diri, bukan tidak mungkin dalam waktu lima sampai sepuluh tahun ke depan, kaum remajalah yang menjadi si penderita itu. Sodium banyak ditemukan pada makanan yang dimakan dan minum. Sodium adalah bagian dari garam. Banyak makanan kemasan atau kalengan itu berkadar sodium tinggi. Sodium banyak terdapat pada french fries (apalagi bila ditambah dengan shakers), ayam goreng, burger, cheese burger, bologna, piza, segala jenis snack keripik kentang, dan mi instan.

Dalam perjalanan pulang, saya berfikir tentang anak-anak saya yang hampir tiada hari tanpa junk food. Ketika sampai di rumah tengah malam, saya membuka Al Qur’an. Menurut kitab suci ini, orang Islam harus selektif makanan. “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sungguh,setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al Baqarah [2]: 126). Makanan yang kita konsumsi haruslah halal (halalan) dan menyehatkan (thayyiban). Kekeliruan mengonsumsi makanan bisa berakibat sakit bahkan kematian. Kita perhatikan urutan konskuensi firman Allah dalam surat As-Syu’ara ayat 78-81 berikut ini. “…(Yaitu Tuhan) yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku, dan yang akan mematikan aku..”. Berdasar ayat ini, Allah telah menciptakan manusia dan semua makanan, lalu memberi petunjuk apa dan bagaimana mengonsumsinya. Jika menyalahi petunjuk Allah, maka manusia akan sakit atau mati. Kiai muda  kita itu mengajak anak-anak sekolah membawa makanan sehat dan alami dari rumah, dan semua keluarga Indonesia lebih banyak menikmati pecel, sayur asem, sayur bayam, dadar jagung dan makanan-makanan khas Indonesia lainnya. Lebih hemat, sehat, halalan, thayyiban, kan? Allahumma jauhkan junk food…”

BERSEDEKAH DENGAN TELINGA

October 6th, 2012 | Posted by admin_tsb in Artikel - (2 Comments)

BERSEDEKAH DENGAN TELINGA

Oleh Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag

Guru Besar IAIN SAS dan Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Dalam perjalanan menuju acara khitanan massal (25/9), saya melewati sebuah  kampung sepi di Jombang. Di desa itulah, tokoh pembaru Islam di Indonesia, Prof. Dr Nurkholis Majid, atau lebih dikenal dengan panggilan Cak Nur, dilahirkan. Madrasah Ibtidaiyah di tepi jalan yang dirintis oleh ayahnya menjadi pengingat bagi siapapun yang memasuki desa itu. Saat itu, tiba-tiba saya teringat pribadi Cak Nur dalam setiap seminar atau pengajian.

Beberapa kali saya berkesempatan mengikuti seminar dimana ia menjadi salah satu narasumber. Ketika narasumber lain sedang menyampaikan makalah, ia mengikutinya dengan serius. Sesekali mencatat hal-hal yang dianggap penting. Ia tidak berbicara dengan orang lain atau menunjukkan muka jenuh mendengarkan, sekalipun peserta sudah gaduh dan teriak-teriak karena makalah yang dipaparkan tidak menarik dan tidak logis. Pada saat makan siang, Cak Nur masih sekali lagi menjabat tangan pemakalah itu dan berkata, “Apa yang Anda sampaikan tadi sangat menarik.” Saya yakin, banyak hal yang tidak menarik dalam makalah itu, tapi Cak Nur melupakan semuanya dan mengapresiasi satu atau dua poin yang baik saja.

Sejak itu, saya belajar mengikuti jejaknya, sekalipun seringkali gagal: tidak sabar mendengarkan pembicaraan orang yang tidak logis, lebih-lebih tidak jelas arahnya. Saya sering cepat berkesimpulan, “Tidak ada yang baru dari ceramah ini.” Kemudian, saya merogoh handphone di saku untuk bermain SMS. Jebol juga pertahanan saya. Apalagi,  ketika badan lagi lelah. Saya sangat sadar, itu etika tercela, tapi saya masih berat melawannya.  Ternyata, menjadi pendengar yang terpuji jauh lebih sulit daripada menjadi pembicara yang baik. Ia membutuhkan enerji besar dan super sabar untuk melawan egoisme.  Tulisan ini saya buat, semata-mata untuk memberi motivasi diri sendiri untuk menjadi pendengar yang terbaik.

Ada banyak kiat bagaimana menjadi pendengar yang terhormat. Pertama, selama proses mendengar, belajarlah untuk mencari ide pokok atau tema sentral dari isi pidato atau obrolan orang. Kedua,  cobalah untuk memfokuskan diri pada isi pidato atau obrolan, bukan pada bagaimana cara penyampaiannya. Ketiga,  jangan terlalu cepat menarik kesimpulan dengan memalingkan perhatian atau memotong obrolan orang.

Jika Anda menjadi guru, Anda harus belajar seni berbicara yang baik. Tapi, jangan lupa, Anda juga harus belajar bagaimana menjadi pendengar yang baik untuk semua peserta didik. Termasuk mendengar pertanyaan mereka yang tidak fokus, tidak bisa difaham dan tidak sopan dalam menyampaikannya. Ketika pulang di rumah, Anda harus belajar lagi menjadi pendengar yang baik untuk istri dan anak-anak. Keluarga Anda dijamin tidak akan harmonis,  jika Anda hanya pandai berbicara di depan anak dan istri, sekalipun dengan kutipan ayat Al-Qur’an dan hadis,  dan tidak belajar menjadi pendengar yang baik. Mereka tidak hanya butuh dipenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan, tapi juga butuh didengar dan dihargai.

Mengapa Allah SWT menciptakan manusia dengan dua telinga dan hanya satu mulut? Bisa jadi karena Allah mengetahui tabiat manusia yang rata-rata merasa berat mendengarkan orang lain. Dengan satu mulut saja, dunia sudah ramai gosip seperti ini. Apa jadinya, jika manusia memiliki dua mulut. Jika dikaitkan dengan perut,  telah banyak orang menderita dalam kemiskinan akibat keserakahan satu atau dua orang. Apa jadinya nasib umat manusia, jika ada orang serakah dengan dua mulut.

Jika Anda telah berhasil menunjukkan sikap mau mendengarkan orang, maka  selanjutnya Anda harus belajar mendengar dengan hati. Jika Anda ingin memberi hadiah atau sedekah bernilai kepada  seseorang: bawahan, pimpinan, istri, suami, saudara, dan anak-anak  Anda,  maka hadiahkan kepada mereka sikap Anda yang mendengarkan dengan telinga terbuka lebar, hati dan antusiasme. Anda telah melecehkan seseorang, dan amat menyakitinya,  jika Anda memalingkan muka di depan orang yang sedang serius berbicara kepada Anda.

Seorang bapak marah karena nasahet untuk anaknya hanya masuk di telinga kanan dan keluar melalui telinga kiri. Tak ada pengaruh sama sekali. Ketika sedih bercampur jengkel itu, tetangganya mengatakan, “Itu lumayan pak.  Nasehat saya sama sekali tidak bisa masuk ke telinga anak saya. Baru di daun telinga sudah terpental keluar.”

Berakhlaklah seperti Allah Yang Maha (Mau) Mendengar (as-samii’) kepada semua manusia, sekalipun mulut orang itu berbau busuk karena dustanya,  bermuka hitam karena kemunafikannya, dan tidak fokus pandangan mata karena kebiasaan khianatnya. Tirulah Nabi SAW yang selalu menghadapkan muka dan menunjukkan antusiasme kepada orang yang sedang berbicara dengannya. Berdasar ketauladan nabi, maka orang yang mengangkat telpon atau membuka SMS ketika orang lain sedang berbicara dengannya, bukanlah muslim yang baik, apalagi dilakukan ketika sedang bertamu di rumah orang.  Allah SWT berfirman, “…sebab itu sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba- hamba-Ku. Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.” (QS Az Zumar 17, 18:) Dalam Al Kitab (Injil) disebutkan, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!.” (Matius 11:15).

Ayat diatas menunjukkan secara tersirat bahwa tidak semua yang Anda dengar dari orang itu baik dan benar, tapi tetap dengarkan, lalu pilihlah yang baik dan benar untuk diikuti.

Les Giblin (2009) menulis buku Skill With People. Salah satu bab di dalamnya adalah Cara Terampil Mendengarkan Orang. Menurutnya, semakin Anda mendengarkan, semakin tampak Anda orang pandai,  semakin disukai dan dihargai, serta semakin pandai sebagai pembicara. Pendengar yang baik selalu membiarkan seseorang  mendengarkan “pembicara favorit” nya, yaitu dirinya sendiri. Orang lebih suka mendengar bicaranya sendiri seribu kali lipat daripada mendengarkan orang lain.

Ada lima petunjuk untuk menjadi pendengar yang baik.  Pertama, tataplah orang yang sedang berbicara. Siapapun yang layak didengar, layak pula ditatap. Kedua, condongkan badan ke arah pembicara dan dengarkan penuh perhatian. Tunjukkan seolah-olah Anda tidak mau kelewatan satu katapun. Ketiga, ajukan pertanyaan. Hal itu menunjukkan bahwa Anda sangat memperhatikannya. Mengajukan pertanyaan adalah bentuk sanjungan yang tertinggi. Keempat, ikutilah topik pembicaraan, dan jangan memotong atau menyela. Kuatkan kesabaran untuk menahan diri dari keinginan pindah ke topik yang lain. Kelima, gunakan kata-kata pembicara dengan “Anda” atau “Perkataan Anda”. Jika Anda menggunakan kata “saya” atau “milik saya”, Anda telah memindahkan fokus dari pembicara ke diri Anda. Itu adalah berbicara bukan mendengarkan.

Anda tentu sudah sering mendengar sabda Nabi SAW berikut ini. “Setiap persendian manusia harus bersedekah setiap hari selama matahari masih terbit. Mendamaikan dua orang yang bersengketa adalah sedekah; membantu orang untuk mengangkutkan barangnya di atas kendaraannya juga sedekah; ucapan yang baik juga sedekah, setiap langkah untuk melakukan shalat juga sedekah, dan menyingkirkan gangguan yang ada di tengah jalan juga sedekah.” (HR Bukhari Muslim dari Abu Hurairah r.a).

Bersyukurlah, mulut Anda sudah bersedekah. Demikian juga tangan dan kaki Anda. Sekarang, gilirannya telinga Anda. Ia harus banyak bersedekah dengan mendengarkan dengan baik dan menyenangkan untuk orang yang sedang berbicara dengan Anda. “Seseorang di antara kalian tidaklah disebut orang beriman, kecuali jika ia menyintai orang lain seperti menyintai dirinya sendiri.” kata Nabi SAW. Jika Anda merasa diwongke (dihargai) oleh orang yang mau mendengarkan obrolan Anda, maka Anda juga harus memerlakukan pembicara dengan perlakuan yang sama.

Semakin hari negara kita semakin kebanjiran orang yang pandai berbicara, bahkan tidak malu berbicara panjang lebar di luar bidangnya. Tapi, semakin langka ditemukan orang yang pandai menghargai dan mendengarkan orang. Bagi Anda yang muslim, bersyukurlah Allah telah mengajarkan untuk mengusap telinga setiap hari ketika berwudlu. Berdoalah ketika mengusap organ tubuh yang tipis di bagian kanan dan kiri kepala Anda itu, agar keduanya lebih banyak bersedekah daripada kemarin dan hari ini.