Header

KATA SENILAI ISI DUNIA

February 5th, 2020 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

KATA SENILAI ISI DUNIA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: www.123rf.com

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan perbuatan yang baik, dan berkata, “Sungguh aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fussilat [41]: 33).

Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menjelaskan kecintaan-Nya kepada orang yang istiqamah, yaitu tangguh keimanannya, tidak goyah ketika menghadapi godaan seberat apapun. Sebagai bukti kecintaan-Nya, Allah menyuruh para malaikat turun dari langit untuk memberi solusi masalah dan menghiburnya. Sebagai kelanjutan, ayat ini menjelaskan bahwa orang yang istiqamah tidak hanya berpikir tentang dirinya, tapi juga tentang keimanan orang di sekitarnya. Ia tiada henti mengajak semua orang untuk tunduk dan patuh kepada Allah. Kata yang berisi ajakan kebaikan itulah yang paling pantas diucapkan atau didengarkan, dan paling tinggi nilainya di hadapan Allah.

Paling sedikit ada tiga ayat yang terkait dengan ayat ini. Pertama, ayat yang memerintahkan kita untuk menjadi komunitas terbaik (khairu ummah), yaitu orang-orang yang bersemangat memerintahkan kebaikan, mencegah perbuatan dosa, dan menguatkan keimanan diri (QS. Ali Imran [3]: 110). Kedua, ayat tentang perintah mengajak manusia dengan cara yang bijaksana, nasihat yang menyejukkan, dan bertukar pikiran yang sehat dan produktif (QS. An Nahl [16: 125). Ketiga, ayat yang tersirat di dalamnya perintah untuk mengajarkan Alquran dengan cara yang bijaksana (QS. Yasin [36]: 1).  

Adapun hadis yang memperjelas ayat ini adalah sabda Nabi SAW,

عَنْ اَبِى مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ ابْنِ عَمْرٍو الْأَنْصَارِىِّ الْبَدْرِىِّ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ اَجْرِ فَاعِلِهِ رواه مسلم

Barangsiapa menunjukkan kebaikan, maka ia mendapat pahala  yang sama dengan pahala orang yang melakukan kebaikan itu” (HR. Muslim dari Abi Mas’ud, Uqbah bin ‘Amr Al Anshari r.a).

Sebaliknya, apakah orang yang melakukan dosa mendapat dosa yang sama dengan orang meniru dosanya? Nabi SAW menjelaskan, “Barangsiapa mengajak kepada petunjuk (kebenaran), maka ia mendapat pahala seperti sejumlah pahala orang yang mengerjakannya, tanpa dikurangi sedikitpun pahala mereka. Dan, barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan (dosa), maka ia mendapat dosa seperti dosa orang yang melakukannya, tanpa sedikitpun dikurangi dosa-dosa mereka” (HR Muslim dari Abu Hurairah r.a).

Nabi SAW pernah kedatangan seorang sahabat yang bernama Hazanan. Mendengar nama itu, Nabi menyarankan untuk mengganti nama Hazanan, yang artinya kesedihan, dengan nama baru, Sahal, yang artinya kemudahan. Sahal bin Sa’ad As-Saa’idy r.a. lalu bercerita, bahwa pada hari-hari sebelum atau sesudah perang Khaibar, Nabi memberitahu para sahabat, “Besok, saya akan menyerahkan bendera perang (ar-raayah) kepada seseorang yang mencintai dan dicintai Allah dan Rasul-Nya. Dialah yang akan mengantarkan kemenangan perang nanti.

Pada malam harinya, para sahabat penasaran, siapa yang akan diserahi bendera itu. Pada esok harinya, para sahabat berdatangan ke rumah Nabi dengan harapan mereka yang mendapat tugas kehormatan itu. Ternyata, Nabi bertanya, “Di mana Ali bin Abi Thalib?” “Huwa yasytakii ‘ainayhi, ya Rasulallah (ia sakit mata, wahai Rasulullah),” jawab para sahabat. Nabi SAW meminta agar Ali menghadapnya. Ketika sampai di hadapan Nabi, beliau menyemprotkan sedikit air ludah ke mata Ali r.a, dan langsung sembuh, seolah-olah tidak sakit sama sekali sebelumnya. Setelah menerima bendera dari nabi, Ali r.a bertanya, “Apakah aku harus berperang sampai mereka (beragama) seperti kita?. Nabi menjawab, “Kerjakan dengan tenang sampai engkau memasuki wilayah mereka. Ajaklah mereka untuk Islam, dan beritahu semua kewajiban yang semuanya itu adalah hak Allah (untuk disembah). Nabi melanjutkan sabdanya,

فَوَاللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمُرِ النِّعَمِ

“Demi Allah, ajakanmu kepada kebaikan yang diikuti satu orang, lebih baik daripada ternak merah yang bagus (hasil rampasan perang)” (HR. Muttafaq ‘alaih). Artinya ajakan kebaikan itu lebih bernilai daripada dunia dan semua isinya.

Dalam kitab Tafsir Ruuhul Ma’any karya Al Aluusy dijelaskan, para muazin termasuk pengajak kebaikan sebagaimana disebut dalam ayat ini. Mereka memperoleh pahala sebanyak orang yang datang untuk shalat memenuhi panggilan tersebut. Menurut Abu Umamah, ayat ini juga memerintahkan shalat setelah azan, baik shalat wajib atau sunah. Menurut Al Aluusy juga, berdasarkan ayat ini, para penganjur kebaikan harus menjadi tauladan pengamalan kebaikan, harus susuai antara kata dan tindakan agar mendapat kepercayaan dan berwibawa di depan orang yang menerima ajakan.

Anas r.a bercerita, seorang pemuda dari suku Aslam melapor kepada Nabi bahwa ia ingin ikut berperang, tapi tak punya bekal. Maka Nabi menyuruhnya datang ke rumah sahabat yang batal ikut perang karena sakit. Setelah menyampaikan salam dari nabi, pemuda itu menjelaskan maksudnya. Tuan rumah langsung menyuruh istrinya untuk menyerahkan semua perbekalannya kepada tamu itu demi penyiaran Islam, sebab itulah sumber keberkahan (fayubaaraka laki fiihi). (HR Muslim).

Abdullah Yusuf Ali, penulis The Holy Qur’an mengatakan, berdasar ayat ini, maka ada tiga syarat agar sebuah kata paling pantas diucapkan. Pertama, kata itu bersumber dari Allah dan diucapkan bukan untuk kepentingan pribadi, tapi untuk kemuliaan semua orang . Kedua, kata yang diucapkan itu telah sesuai dengan tindakannya dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, kata itu cerminan dari keimanan yang mendalam. ”Itulah gambaran yang dahsyat tentang kepribadian Nabi SAW,” katanya.  

Untuk meraih kekayaan dunia ternyata tidak susah. Cukup berkata yang baik berupa ajakan kebaikan. Jadilah pemrakarsa kebaikan, sekecil apapun di lingkungan Anda masing-masing, dan jadilah teladan kebaikan itu. Anda juga harus menunjukkan rasa bangga sebagai muslim, sama sekali tidak minder di depan semua orang. Sekali lagi, jadilah penganjur kebaikan, sebab kita akan memetik pahala yang terus mengalir sepanjang masa. Itulah kata semulia nilai dunia dan isinya. Sebaliknya, jauhilah yang dilarang Allah, sebab ia akan menjadi sumber aliran dosa sepanjang masa, jika ada orang yang menirunya. 

Referensi: (1) An Nawawi, Riyadus Sholihin Juz I, p. 180; (2) As Shiddiqy, Dalilul Falihin  Juz I, p. 336. (3) Mahmud Al Aluusy Al Baghdaady, Ruuhul Ma’aany Fii Tafsiiril Qur-aanil ‘Adhiim Was Sab’il Matsaany, Dar Ihya at Turats Al ‘Araby, Beirut, Libanon tt, p. 122. (4) ) Abdullah Yusuf Ali, The Holy Qur’an, Dar Al Arabia, Beirut, Lebanon, tt, p. 200, p. 1296.

MENJADI SEWANGI NABI

December 31st, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

MENJADI SEWANGI NABI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://dianlatifani.blogspot.com

مُّحَمَّدٞ رَّسُولُ ٱللَّهِۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡۖ تَرَىٰهُمۡ رُكَّعٗا سُجَّدٗا يَبۡتَغُونَ فَضۡلٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٗاۖ سِيمَاهُمۡ فِي وُجُوهِهِم مِّنۡ أَثَرِ ٱلسُّجُودِۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِۚ وَمَثَلُهُمۡ فِي ٱلۡإِنجِيلِ كَزَرۡعٍ أَخۡرَجَ شَطۡ‍َٔهُۥ فَ‍َٔازَرَهُۥ فَٱسۡتَغۡلَظَ فَٱسۡتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِۦ يُعۡجِبُ ٱلزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ ٱلۡكُفَّارَۗ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِنۡهُم مَّغۡفِرَةٗ وَأَجۡرًا عَظِيمَۢا

“Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengannya keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat. Dan sifat-sifat mereka dalam Injil adalah seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, dan tunas itu menjadikan tanaman tersebut kuat, lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, sehingga Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan perbuatan baik di antara mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS. Al Fath [48]:29)

                Pada ayat sebelumnya, Allah membuktikan kebenaran mimpi Nabi tentang keberhasilannya memasuki Mekah yang telah lama diinginkan. Sebagai kelanjutan, ayat ini menjelaskan karakter orang-orang yang menyertai perjuangan Nabi memasuki kota suci tersebut.

                Allah memberi pujian kepada Nabi sebagai utusan-Nya yang berhasil membentuk para pengikutnya berakhlak sewangi dirinya dengan lima karakter. Pertama, kuat dan tegas dalam keimanan, tidak berkompromi dalam keyakinan agama, meskipun terhadap keluarga sendiri. Tapi, ketegasan keimanan tersebut sama sekali tidak mengurangi sikap hormat terhadap penganut agama lain, sebagaimana difirmankan Allah, “Katakanlah, “wahai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, dan aku tidak menjadi penyembah yang kamu sembah. (Sekali lagi), kamu tidak akan menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al Kafirun [09]: 1-6).

Allah memerintahkan kita untuk hormat kepada keyakinan non-muslim, sebab Allah telah merancang bumi ini dengan penghuni yang beraneka budaya dan penganut agama. Allah SWT berfirman, “Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah semua orang yang di muka bumi seluruhnya beriman (kepada-Nya). Maka, apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? (QS. Yunus [10]:99). Bahkan kita dipersilakan untuk bekerjasama dengan non-muslim selama tidak merusak keimanan kita. Allah berfirman, ”Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sungguh Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al Mumtahanah [60]: 8). Itulah sebabnya, Allah tidak menegur Nabi SAW ketika bekerjasama dengan tokoh kafir, Abu Thalib, yang tidak lain adalah pamannya sendiri, dalam perjuangan dakwah di kota Mekah.

Hamka menyatakan, ”Masyarakat muslim selalu lunak dalam pergaulan, tapi kokoh dalam keimanan. Orang beradab pasti menghargai kepercayaan orang lain, walaupun kepercayaan itu sama sekali tidak sesuai dengan akal sehat.” Quraish Shihab mengatakan, sikap keras umat Islam terhadap orang kafir ini berlaku dalam peperangan, sedangkan terhadap sesama muslim adalah ketegasan dalam penegakan hukuman terhadap pezina, pencuri, dan sebagainya (QS. An Nur [24]: 2).

Kedua, kasih sayang sesama muslim tanpa membedakan etnis, warna kulit, pendidikan, dan status sosial mereka. Umat Islam telah mendapat doktrin Nabi  bahwa kesatuan mereka adalah laksana satu tubuh atau satu bangunan, yang saling menguatkan, bukan saling menyakiti dan meruntuhkan. Mereka seperti orang yang berkaca di depan cermin: sama-sama tersenyum ketika tersenyum, dan sama-sama menangis ketika menangis. Ketiga, mencitrakan diri sebagai komunitas yang seirama dalam beribadah dan serasa dalam kehidupan bersama. Rukuk dan sujud dalam shalat berjamaah adalah penggambaran kemauan dan kebersamaan dalam perjuangan menuju kemuliaan akhlak.

Keempat, ikhlas semata-mata mengharap ridho Allah dalam semua tindakan, sama sekali tidak mengharap apresiasi manusia. Pengikut nabi itu bagaikan akar pohon yang tidak kecewa, apalagi iri hati dengan daun dan buah yang selalu mendapat sanjungan, meskipun akarlah yang memasok makanan untuk daun dan buah tersebut.

Kelima, tutur kata dan tindakannya selalu benar dan menyenangkan orang sebagai pengaruh atas sujudnya kepada Allah. Sayyid Qutb mengatakan,

لَيْسَتْ هَذِهِ السِّيْمَاالنُّكْتَةَ فِى الوَجْهِ وَاَثَارُ السُّجُوْدِ هُوَ اَثَارُ الْعِبَادَةِ

“Tanda keimanan bukan bekas hitam di wajah. Yang dimaksud bekas sujud adalah pengaruh ibadah dalam kehidupan.”

Al Biqa’i mengatakan, “Bekas sujud seorang muslim sejatinya adalah sebuah kharisma, kekaguman, kehormatan, dan magnit kebaikan bagi orang lain.”

Orang bijak berkata,

اِنَّ لِلْحَسَنَةِ نُوْرًا فِى الْقَلْبِ وَضِيَاءً فِى الْوَجْهِ وَسَعَةً فِى الرِّزْقِ وَمَحَبَّةً فِى قُلُوْبِ النَّاسِ

“Semua kebaikan menghasilkan sinar di hati, cahaya di wajah, kemudahan memperoleh rizki, dan simpati manusia).”  

Umar r.a berkata,

مَنْ اَصْلَحَ سَرِيْرَتَهُ اَصْلَحَ اللهُ تَعَالَى عَلَانِيَتَهُ

“Siapa yang bersih hatinya, maka Allah akan mempercantik penampilannya.”

Abu Darda’ r.a pernah menjumpai orang yang terdapat bekas sujud di dahinya. Lalu, ia berkata, “Akan lebih baik bagimu, jika tidak ada bekas sujud di wajahmu agar engkau terjauh dari rasa bangga atas pujian orang.”

Semua karakter pengikut Nabi seperti di atas telah dijelaskan dalam Kitab Taurat. Oleh sebab itu, pengikut Nabi Musa tidak asing dengan berita itu. Kitab Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa juga menjelaskan bagaimana respon dunia kelak terhadap para pengikut Nabi, bahwa semakin hari semakin banyak orang yang bergabung dalam komunitas muslim yang besar dan kuat itu. Itulah yang membanggakan umat Islam, tapi juga membuat iri dan menjengkelkan beberapa non-muslim. Semoga pembaca menjadi generasi sewangi nabi setelah mempraktikkan pesan-pesan keharuman dalam ayat ini. (Surabaya, 14-4-2019).

Referensi: (1) Sayyid Quthb, Tafsir Fi  Dhilal Al Qur’an, Jilid 6, Dar Asy Syuruq, Beirut, Libanon, 1972. (2) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, vol 12, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 558-563 (3) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 26, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 174 (4)  Moh. Ali Aziz, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, UIN Sunan Ampel Press, Surabaya, 2015, cet. X, p. 181.

DIPLOMASI TANAH SUCI

December 10th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

DIPLOMASI TANAH SUCI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: https://www.maxmanroe.com/vid/sosial/pengertian-diplomasi.html

إِنَّا فَتَحۡنَا لَكَ فَتۡحٗا مُّبِينٗا

“Sungguh Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata” (QS. Al Fath [48]: 1)

Ayat pembuka Surat Al Fath yang turun tahun 6 H  ini merupakan kelanjutan dari ayat-ayat perintah perang pada surat sebelumnya, yaitu Surat Muhammad  yang turun pada tahun 3 H. Ayat yang berisi kemenangan Nabi memasuki Mekah ini hanya bisa kita fahami jika kita mengetahui proses panjang “Fat-hu Makkah” tersebut.  

Penduduk Mekah, apapun suku dan agamanya, amat memuliakan kakbah. Meskipun mereka sedang perang antar suku, mereka bisa menjaga kehormatan kakbah. Lebih-lebih, pada empat bulan yang mereka muliakan, yaitu Rajab, Syawal, Dzul Qa’dah, dan Dzul Hijjah. Di dalam bangunan kakbah dan jalan di antara dua bukit Shafa dan Marwah terdapat banyak berhala.  Itulah sebabnya, ketika perintah umrah turun (QS. Al Baqarah [02]: 185), Allah menyatakan, “tidak apalah engkau mengerjakannya antara Shafa dan Marwah,” meskipun banyak berhala di sekitar tempat ibadah itu.  

Suatu malam pada tahun 6 H, Nabi bermimpi umrah di Mekah dengan selamat. Mendengar berita itu, 1.400 orang langsung mendaftar untuk mengikuti umrah, sebab mereka telah rindu Mekah setelah 6 tahun ditinggalkannya. Maka, pada bulan Dzul Qa’dah, mereka berangkat dengan membawa kambing yang akan disembelih setelah selesai umrah.

Di tengah jalan, Khalid bin Walid dan sejumlah kafir Mekah menghadang Nabi agar tidak melanjutkan ke Mekah. Setelah istirahat sejenak, Nabi tetap bersikeras melanjutkan perjalanan melewati jalan yang tidak biasa. Ketika sampai di lembah Hudaibiyah, Nabi menyuruh Umar untuk melobi kafir Mekah agar mengijinkan untuk memasuki Mekah. Tapi, Umar menyarankan agar Usman yang berangkat, sebab Usman memiliki banyak keluarga yang berpengaruh di Mekah. Maka, berangkatlah Usman. Kepada Abu Sufyan, pemimpin kafir, Usman meyakinkan bahwa kedatangan Nabi murni untuk beribadah, bukan untuk berperang. Abu Sufyan menjawab, “Jika tuan sendirian, silakan. Jangan bersama rombongan.”

Nabi cemas, sebab Usman lama tidak kembali, dan menduga ia dibunuh. Maka, Nabi meminta para sahabat untuk meletakkan tangannya di atas tangan Nabi sebagai janji kesetiaan. Khusus untuk Usman yang sedang tidak ada di tempat, Nabi meletakkan tangan kirinya di atas tangan kanannya sebagai tanda bai’at atas nama Usman.  

Tiba-tiba, muncullah Usman bersama utusan kafir Mekah, Suhail bin ‘Amr. Nabi kemudian memanggil Ali bin Abi Thalib untuk menyiapkan naskah perjanjian. Para sahabat kaget setengah marah terutama Umar bin Khattab melihat Suhail seenaknya mencoret beberapa poin dalam naskah itu. Pertama, basmalah (dengan nama Allah) diganti “Bismika Allahumma.” (dengan namamu, oh Allah). Kedua, kalimat “Inilah perjanjian antara Muhammad Rasulullah dengan Suhail bin ‘Amr” diganti “Inilah perjanjian antara Muhammad bin Abdullah dengan Suhail bin ‘Amr.” Sebab, ia memang tidak mengakui kenabian Muhammad. Ketiga, genjatan senjata selama 10 tahun. Keempat, ”Jika ada orang Quraisy Mekah datang kepada Nabi tanpa seijin pemimpin Quraisy, maka Muhammad wajib memulangkannya ke Mekah. Tapi, jika pengikut Nabi datang ke Mekah, maka tidak ada kewajiban bagi mereka untuk memulangkannya kepada Nabi di Madinah.” Kelima, dan ini yang terpenting, Nabi baru diijinkan ke Mekah tahun berikutnya.  Para sahabat tidak menduga Nabi menyetujui semua itu. Mereka kecewa, mengapa Nabi semudah itu mengalah?.

Umar lalu berbisik kepada Abu Bakar, “Bukankah Muhammad utusan Allah? Mengapa kita umat muslim harus mengalah kepada orang-orang musyrik? Abu Bakar menjawab satu persatu pertanyaan itu dengan jawaban yang sama, “Tenanglah Umar. Saya tidak ragu sedikitpun dengan pertanyaanmu itu. Muhammad benar-benar utusan Allah.” Tidak puas dengan jawaban itu, Umar mendekati Nabi dan membisikkan kata yang sama, dan Nabi menjawab singkat,  “Sebagai hamba Allah dan utusan-Nya, aku tidak diperbolehkan menentang kehendak-Nya.”

Beda sekali antara dua sahabat ini. Abu Bakar 100% percaya Nabi, sedangkan Umar sangat kritis, bahkan sedikit tersirat meragukan kerasulan Nabi. Tapi, keduanya diapresiasi oleh Nabi. Beberapa waktu setelah peristiwa itu, Umar seringkali menangis jika teringat sikapnya yang kasar kepada Nabi, “Niatku memang baik, tapi mengapa saya berkata begitu kasar kepada Nabi?”

Beberata menit sebelum ditandatangani perjanjian, para sahabat dikejutkan dengan kedatangan Abu Jundul putra Suhail dengan tangan terborgol sebagai tawanan Quraisy. Ia menyatakan telah muslim, dan menolak dipulangkan ke Mekah, meskipun yang membujuknya adalah ayahnya sendiri, Suhail. Nabi memulangkannya ke Mekah demi ketaatannya kepada sebuah perjanjian. “Wahai Abu Jundul, ikutilah ayahmu. Allah pasti menolongmu dan semua orang yang tertindas sepertimu,” pesan singkat Nabi kepadanya.

Akhirnya, perjanjian ditandatangani Abu Bakar, Umar, Abdurrahman bin Auf, Abdullah bin Suhail bin ‘Amr, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Ali bin Abi Thalib sebagai sekretaris. Umar dan beberapa sahabat lainnya masih mendongkol, sebab memandang perjanjian itu kekalahan umat Islam sekaligus penghinaan kepada Nabi.

Nabi lalu memerintahkan para sahabat memotong kambing dan mencukur rambut sebagai tanda batalnya umrah. Perintah itu diulang dua kali, tapi, mereka dingin-dingin saja. Maka, Ummu Salamah,  istri Nabi menyarankannya untuk memberi contoh terlebih dahulu. Nah, ketika Nabi mengambil pisau untuk memotong kambing dan mencukur rambutnya, barulah semua sahabat mengikutinya.  

Dalam perjalanan pulang ke Madinah itulah Surat Al Fath ini turun. “Inilah surat yang paling aku cintai, karena nilainya melampaui nilai langit, bumi dan segala isinya,” kata Nabi kepada Umar yang masih cemberut.

Inilah kehebatan Nabi yang berhasil merebut tanah suci dengan diplomasi kelas tinggi. Tak diperlukan biaya besar, dan tak ada setetespun darah tercecer. Diplomasi Nabi juga menghasilkan keajaiban, penduduk kafir Mekah yang terkenal ganas, bahkan berencana membunuh Nabi, tiba-tiba saja bersedia duduk berunding, suatu peristiwa yang langka bagi masyarakat Arab saat itu. 

Inilah ayat yang menunjukkan apresiasi Allah atas langkah-langkah diplomasi Nabi dalam Perjanjian Hudaibiyah. Para sahabat bertanya, “Itu apresiasi Allah untuk tuan. Adakah apresiasi untuk kami?.” Maka, turunlah ayat kelima pada surat tersebut. Belajarlah diplomasi, dan raihlah kemenangan tertinggi. 

Sumber: Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 26, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 108.