Header

MUSLIM PEWANGI BUMI

June 25th, 2018 | Posted by admin_tsb in Taushiyah/Khutbah - (0 Comments)

Khutbah di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya,
Shalat Jum’at bersama RI-1 tanggal 8-Syawal 1439 H/22 Juni 2018
oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
www.terapishalatbahagia.net / malzis@yahoo.com

 

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ  وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّابَعْدُ فَيَا عِبَادَاللهِ اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ  قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin Yth.

            Sampai hari Jumat kedua pada bulan Syawal ini, kita masih merasakan kebahagiaan sebagai muslim, karena telah kembali kepada kesucian, dan kebanggaan sebagai bangsa yang memiliki tradisi silaturrahim untuk menguatkan ikatan kekeluargaan di antara sanak famili, tetangga, dan semua orang, tanpa membedakan suku, ras, dan agama. Semangat silaturrahim itulah yang melahirkan budaya mudik kita, bahkan merupakan mobilitias sosial terbesar di dunia. Kita mengapresiasi pemerintah yang bias mengatur mobilitas tersebut dengan amataman dan lancer.

Tidak hanya itu, semua muslim Indonesia, semiskin apapun berupaya menyenangkan orang dengan makanan dan minuman yang terbaik. Subhanallah, sebagian besar kita juga menyediakan uang recehan yang masih baru dari bank untuk menyenangkan anak-anak kecil, orang tua, sanak famili, guru-guru kita, penjaga masjid, para janda, dan sebagainya. Sungguh, di atas mimbar ini, saya masih mencium bau harum bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara-saudara sekalian atas berbagai kemuliaan yang dilakukan selama Ramadan dan lebaran.

Wewangian yang kita tebarkan itu jangan hanya berlangsung sesaat, tapi berlanjut sampai lebaran tahun depan. Dan, itulah salah satu tanda bahwa puasa kita diterima Allah. Ketahuilah, Allah telah memberi kita bonus harian, mingguan dan tahunan. Bonus harian berupa ampunan dosa antara satu shalat wajib dengan shalat berikutnya; bonus mingguan berupa ampunan antara Jumat sekarang dan Jum’at berikutnya, dan bonus tahunan berupa ampunan antara Ramadan tahun ini dan Ramadan tahun depan. Selamat menyongsong kehidupan dengan hati yang telah tersucikan.

Hadirin Yth.

Misi kita untuk menjadi pewangi bumi tidak terbatas kepada manusia, tapi juga kepada lingkungan, tumbuh-tumbuhan dan hewan. Kehadiran kita harus menjadi sumber senyuman bagi semua penghuni bumi. Nabi SAW mengajarkan kita untuk hemat air dengan berwudu hanya dengan 0,76 ltr air. Ia bahkan menegur Sa’ad r.a ketika ia boros air dalam berwudu. Nabi SAW rupanya sudah mengetahui apa yang akan dirasakan manusia kelak, seperti yang dikatakan oleh Forum Ekonomi Dunia, bahwa krisis air merupakan isu utama dalam satu dekade mendatang. Saat ini, 1 dari 10 penduduk dunia tidak memiliki akses ke air bersih.

Kepada tanaman, Nabi SAW mengajarkan kita untuk tidak memetik bunga sebelum mekar, agar bisa memberi kesempatan lebah menghisap sarinya, dan kepada kita untuk menikmati keindahannya. Ia juga melarang memetik buah sebelum matang, agar bisa dinikmati manusia.  Kepada binatang, Nabi SAW mengajarkan kita untuk tidak memberi beban yang berat di atas punggungnya. Nabi bahkan memberitakan adanya wanita yang dimasukkan ke neraka karena mengurung kucing sampai mati kelaparan. Sebaliknya, wanita pelacur dimasukkan ke dalam surga karena menyelamatkan nyawa seekor anjing.

Itu semua akhlak yang diajarkan Nabi SAW kepada tumbuh-tumbuhan dan hewan, apalagi kepada sesama manusia, sebab manusia adalah makhluk paling dimuliakan Allah. Apalagi, jika menyangkut kelangsungan hiudp. Tahukah Anda, bahwa ketika terjadi gempa tsunami di Aceh sekian tahun silam, sejumlah orang non-muslim di Inggris mengumpulkan dana untuk membantu saudara-saudara kita itu dengan mengutip ayat Al Qur’an yang kita sendiri agaknya telah melupakannnya, yaitu firman Allah dalam Surat Al Ma-idah ayat 32, “Barangsiapa membunuh orang, bukan (sebagai hukuman) karena pembunuhan orang atau tindakan perusakan di bumi, maka dia seakan-akan telah membunuh manusia semuanya, dan barangsiapa menjaga kelangsungan hidup manusia, maka ia seakan-akan telah menghidupkan semua (generasi) manusia.” Inilah Islam yang datang selalu dengan bunga, bukan dengan duri, dan inilah ruh Islam yang membuat Umar bin Khattab tertarik masuk Islam.

Hadirin Yth.

Ramadan dan lebaran tahun ini harus melahirkan manusia-manusia baru. Antara lain, sebagai suami yang lebih membahagiakan istri, dan sebagai bapak yang paling dibanggakan anak-anak-anaknya. Demikian juga sebagai istri kepada suami, dan ibu untuk anak-anaknya. Negara yang kuat hanya bisa dibangun di atas unit-unit keluarga yang bahagia. Kita harus menjadi manusia yang benar-benar baru, sebagai muslim terbaik di tengah masyarakat yang majmuk, sebagai pemimpin, sebagai wakli rakyat, sebagai karyawan, dan sebagai apapun peran kita di tengah masyarakat.  Jika kita tidak berubah lebih baik, lalu untuk apa kita berlapar-lapar puasa sebulan penuh? Untuk apa pula kita kerjakan ratusan rakaat shalat taraweh dan witir selama malam Ramadan? Untuk apa juga kita berlama-lama sujud pada malam-malam itikaf lailatul qadar? Untuk apa juga kita menggemakan takbir di semua ruas jalan raya pada malam lebaran sampai shalat shalat idul fitri? Hadirin, jika kita tidak berubah, berarti semua ibadah itu tak berbekas, dan itulah pemborosan waktu dan tenaga yang dikutuk Allah sebagai perbuatan setan.

Hadirin, jika kita berubah menjadi emas, semua orang akan mencarinya. Jika kita berubah menjadi bunga, tak usah diundangpun, kumbang akan datang menghampirinya. Jika kita semanis gula, semut di kejauhanpun berebut mengerumuninya. Selanjutnya, jika akhlak anak bangsa ini terpuji, maka semua negara akan berebut kemari untuk berinvestasi, dan kita akan bisa melakukan lompatan untuk mengejar ketertinggalan dan sejajar dengan negara-negara besar dunia.

Pada piala sepak bola dunia yang juga menambah keceriaan lebaran tahun ini, saya mencatat satu hal yang patut menjadi renungan kita. Para pemain sepak bola yang rata-rata berumur duapuluh tahunan tidak serta merta menyalahkan anggota tim yang melakukan kesalahan dalam laga pertandingan, tapi justru mengusap kepalanya dengan bisikan penyemangat berkompetisi. Dalam suasana kesedihan atas sebuah kekalahan pun, mereka yang masih remaja itu mengajari kita untuk sportif mengakui kelebihan lawan pertandingan. Mereka partner pertandingan, bukan musuh dalam kehidupan. Kita merenung sejanak, mengapa di antara kita yang jauh lebih tua dari mereka, berusia lebih setengah abad, dan sebagian rambut telah memutih masih saja terus menerus membesar-besarkan kesalahan orang, bahkan tega-teganya menggorengnya dan menyebarkannya dengan nada kebencian untuk menyulut permusuhan. Kebohonganpun juga dibuat sedemikian rupa demi kepuasan menjelekkan nama baik seseorang.

Baiklah, lebaran telah tiba, yang sudah ya sudah, saatnya kita hidup lebih dewasa. Yang lalu biarlah berlalu, kita memulai hidup baru. Ujaran kebencian kita ganti dengan ujaran kesejukan. Hubungan yang retak, kita rekatkan, dan yang putus, kita sambungkan. Kita gelorakan semangat kerja, kerja, dan kerja, sebab itulah ibadah, dan itulah modal utama sumbangsih kita untuk umat mansia dan masa depan bangsa.

اَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهُ لِى وَلَكُمْ اِنَّهُ هُوَاالْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

–=0=–

Doa pada khutbah kedua:

Rabbanaghfir lanaa wali-ikhwaaninal ladziina sabaquunaa bil iimaan, walaa taj’al fii quluubinaa ghillal lilladziina aamanuu, rabbanaa innaka rauufur rahiim

Wahai Allah, ampunilah semua kami yang sedang bersimpuh di masjid ini dan semua saudara kami seiman yang telah wafat mendahului kami; hapuskanlah dari hati kami sekecil apapun kedengkian terhadap sesama orang beriman.

Allahumma allif baina quluubinaa wa ashlih dzaata baininaa wahdinaa subulas salaam

Wahai Allah, lunakkanlah hati yang keras di antara kami; lembutkanlah tutur kata kami di tengah keluarga dan dalam pergaulan sehari-hari, hilangkanlah buruk sangka di antara kami, dan jadikanlah kami bergandengan tangan untuk membangun surga di negeri ini, dan memasuki surga Firadaus bersama-sama di alam baka nanti.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad, Allahummarzuqnaa fiddun-yaa ziyaaratahuu wafil aakhirarati syafaa’atahuu, wabil jannati rukyatahuu wa muraafaqatahuu.

Wahai Allah hiasilah hidup kami dengan keharuman akhlak Rasulullah, berikanlah semua yang hadir di masjid ini kesempatan menikmati bersujud lama di depan kakbah, dan bershalawat dengan hening di masjid Madinah. Kumpulkan kami di surga nanti bersama Nabi dan para pemimpin yang kami cintai.

NABI YUNUS, TELADAN PERUBAHAN

June 2nd, 2018 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

NABI YUNUS, TELADAN PERUBAHAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ١٣٩  إِذۡ أَبَقَ إِلَى ٱلۡفُلۡكِ ٱلۡمَشۡحُونِ ١٤٠ فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ ٱلۡمُدۡحَضِينَ ١٤١ فَٱلۡتَقَمَهُ ٱلۡحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٞ ١٤٢  فَلَوۡلَآ أَنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلۡمُسَبِّحِينَ ١٤٣ لَلَبِثَ فِي بَطۡنِهِۦٓ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ ١٤٤  ۞فَنَبَذۡنَٰهُ بِٱلۡعَرَآءِ وَهُوَ سَقِيمٞ ١٤٥ وَأَنۢبَتۡنَا عَلَيۡهِ شَجَرَةٗ مِّن يَقۡطِينٖ ١٤٦ وَأَرۡسَلۡنَٰهُ إِلَىٰ مِاْئَةِ أَلۡفٍ أَوۡ يَزِيدُونَ ١٤٧  فَ‍َٔامَنُواْ فَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ ١٤٨

sumber gambar: https://i.ytimg.com/vi/jnkf9ANN1-8/maxresdefault.jpg

“Sungguh Yunus benar-benar salah seorang rasul. (Ingatlah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan. Kemudian ia ikut berundi, lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Lalu, ia ditelan ikan besar dalam keadaan tercela. Maka, kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang bertasbih kepada Allah, niscaya ia akan tetap tinggal dalam perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan Kami tumbuhkan untuknya sebatang pohon sejenis labu. Dan Kami mengutusnya kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu, mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu (QS As Shaffat [37]: 139-148).

Topik ini saya pilih karena penasaran, mengapa dalam satu ayat Al Qur’an Allah melarang kita meniru karakter Nabi Yunus. Untuk menjawabnya, akan saya uraikan terlebih dahulu kisah Yunus a.s. Ia dipanggil Allah dengan panggilan Dzun Nun, artinya orang yang mengalami penderitaan dalam perut ikan selama tiga hari, “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia berdoa (dengan bersuara) dalam keadaan yang sangat gelap, “La ilaaha illaa anta, subhaanaka innii kuntu minadh-dhaalimiin” (tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim).” Maka Kami telah mengabulkan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman” (QS. Al Anbiyak [21]: 87-88).

Pada ayat lain, Yunus a.s juga dipanggil dengan Shahibul Hut, artinya sama dengan Dzun Nun, “Atau apakah mereka memiliki pengetahuan tentang yang gaib, lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetapkan). Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan yang berdoa ketika itu dalam keadaan marah (kepada kaumnya). Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, ia pasti dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh” (QS. Al Qalam [68]: 47-50).

Yunus bin Matta lahir di Palestina, lalu diutus untuk masyarakat Nainawa atau Ninive dengan penduduk 100.000 orang lebih, di dekat sungai Tigris, Irak pada abad 8 SM. Ia dimakamkan di Palestina di tepi barat Laut Mati (Shihab, 2002: 304). Ketika Nabi SAW berteduh di sebuah kebun kurma setelah dihujani batu oleh masyarakat Thaif, Mekah, ia dihampiri orang Kristen yang bernama ‘Adas. Setelah berbincang panjang, ternyata ‘Adas berasal dari kampung Nainawa. ‘Adas terkejut dan kagum ternyata Nabi SAW bercerita lebih lengkap tentang Nainawa dan amat hormat kepada Yunus a.s. Lalu, ia masuk Islam (Hamka, 1985: 166).

            Yunus a.s disebut enam kali dalam Al Qur-an, yaitu dua kali dengan nama panggilan Dzun Nun dan Shahibul Hut, sebagaimana disebut pada dua ayat di atas, dan empat kali dengan nama aslinya pada QS. An Nisa’, Al An’am, Yunus, dan As Shaffat (As Shabuni, 1994: 445-450). Suatu hari, ia marah kepada masyarakat yang menolak ajakannya, bahkan mereka mengancam untuk membunuhnya.  Ia lalu lari menuju tepi laut dan naik kapal yang sedang bersandar. Dalam perjalanan di tengah laut, kapal oleng. Para penumpang memutuskan membuang satu orang yang banyak dosa, karena dialah kapal oleng. Lalu, undian dilakukan untuk menentukan siapa yang harus dibuang, dan ternyata sampai diulang tiga kali, tetap saja nama Yunus a.s yang keluar. Mereka tidak tega, sebab Yunus orang yang baik. Yunus a.s kemudian meminta mereka untuk melemparkan dirinya ke laut, karena telah menjadi keputusan. Dalam perut ikan itupun, Yunus a.s masih tetap marah kepada masyarakatnya (Hamka,1985: 166).

            Dalam sejarah, cara undian seperti itu juga pernah dilakukan oleh para pemuka Nasrani untuk menentukan siapa yang berhak merawat Maryam, dan Nabi Zakariya a.s yang memenanginya. Nabi SAW juga selalu mengundi di antara istrinya, siapa yang berhak diajak keluar. Bagaimana Yunus bisa selamat? Pertama, sangat mungkin ikan Hiu yang menelannya sangat besar, panjang 20 m, tak bersirip, tak bergigi, dan sudah biasa menelan ikan sepanjang 3 m, sebagaimana banyak dijumpai di laut tengah. Karenanya, Yunus berada di tempat yang longgar, di langit-langit mulut Hiu. Tapi, ia pasti kesulitan bernafas. Untunglah Allah menggiring Hiu ke pinggir pantai dan memerintahkannya untuk memuntahkan Yunus.as (Shihab, 2002: 304). Sebab kedua, dan ini yang paling pasti, ia selalu bertasbih selama dalam perut ikan, “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang bertasbih kepada Allah. Niscaya ia akan tetap tinggal dalam perut ikan itu sampai hari berbangkit (QS. As Shaffat [37]: 139-148).

            Yunus a.s keluar dari perut ikan dalam keadaan lemas, dan baru sehat kembali setelah memakan buah sejenis labu yang ditanam Allah dengan cepat di dekatnya. Setelah sehat betul, ia kembali ke masyarakatnya dengan karakter baru, yaitu lebih sabar dan santun (Hamka, 1985: 166). Tasbih yang dibaca Yunus a.s dalam perut ikan itulah yang kemudian diajarkan Nabi SAW untuk semua umatnya. Nabi SAW bersabda,

دَعْوَةُ ذِى النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِى بَطْنِ الْحُوتِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِى شَىْءٍ قَطٌّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ

“Doa yang diucapkan oleh Dzun Nun (Nabi Yunus) sewaktu  berada dalam perut ikan adalah “Tiada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim.” Siapapun muslim yang membaca doa ini untuk suatu keperluan, pastilah Alllah akan mengabulkannya” (HR. Tirmidzi no. 3505 dari Sa’d r.a).

Dari penjelasan di atas, dapat kita ketahui, bahwa larangan meniru Yunus a.s tertuju pada karakternya sebelum ia ditelan ikan. Tapi setelah itu, ia berubah total dari pemarah menjadi peramah, santun dan sabar sehingga masyarakat mencintai dan mengikuji ajakannya. Andaikan Yunus a.s bukan manusia mulia, tidaklah mungkin Allah memerintahkan kita untuk mengimaninya. Kisah Yunus a.s disebut dalam Al Qur’an untuk menunjukkan bahwa ia manusia biasa, yang bisa saja khilaf. Berikut inilah kata kunci yang menunjukkan pujian Allah untuk Yunus a.s yang telah berubah, “Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh” (QS. Al Qalam [68]: 47-50).

Anda tidak boleh berdalih tidak bisa merubah karakter karena watak dan pembawaan sejak lahir. Yunus menjadi bukti perubahan karakter, karena terus bertasbih, introspeksi, dan istighfar. Anda harus berubah sekarang menuju karakter mulia tanpa harus menunggu ditimpa musibah besar.

Referensi: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar, Juz 23, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985 (2) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vo. 11, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012 (3) Al Turmudzi,  Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah, Sunan Al Turmudzi, Beirut: Dar Al Fikr, 2005. (4) As-Shabuni, Muhammad Ali, Prof, An Nubuwwah wal Anbiya’, (Kisah-Kisah Nabi dan Masalah Kenabiannya) terj. Mushlikh Shabir, Penerbit Cahaya Indah, Semarang 1994.

MEMPERSUNTING KARAMAH

May 7th, 2018 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

MEMPERSUNTING KARAMAH
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: sportourism.id

“Dan jika kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.” (QS. Al Kahfi [18]: 16)

Ayat di atas berkisah tentang tujuh orang (as-habul kahfi) yang ditidurkan Allah di dalam gua selama 309 tahun. Mereka bersembunyi untuk menghindari kekejaman raja yang zalim. Sebelum ditidurkan, mereka mengonsumsi makanan dan minuman (mirfaqa) yang disediakan langsung oleh Allah. Inilah keajaiban pertama. Keajaiban kedua adalah bahwa gua itu menghadap ke utara, sehingga tidak mendapat sinar matahari. Padahal, tanpa sinar dan sirkulasi udara, mereka bisa mati. Maka, setiap pagi, Allah “memindahkan” matahari ke utara agar dapat sejenak memberi cahaya gua. Keajaiban yang diberikan Allah kepada para pemuda gua itulah yang disebut “karamah,” bukan “mukjizat,” sebagaimana yang diperuntukkan khusus bagi para nabi.

Imam An Nawawi mengutip ayat tersebut dalam bab “Karamah Para Kekasih Allah” pada kitab Riyadhus Shalihin II: 368-373 dan Kitab Dalilul Falihin juz IV: 273. Pada bab itu juga dijelaskan karamah yang diberikan Allah kepada Maryam, ibu Nabi Isa a.s ketika dipingit Nabi Zakaria di sebuah tempat khusus sekaligus tempat ibadah. Suatu saat, Zakaria terkejut, ternyata dalam kamar yang telah tertutup rapat itu, ada buah segar di luar musimnya. Ketika ditanya, Maryam menjawab, “Makanan itu dari sisi Allah. Sungguh, Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa perhitungan” (QS. Ali Imran [3]: 37).

Ada lagi karamah yang diberikan Allah kepada Maryam. Ketika ia hamil, ia gelisah bercampur malu karena diolok-olok sebagai pezina, karena ia tidak bersuami. Ia lalu bersandar pada pohon kurma sambil merasakan sakit perut menjelang persalinan. Ia juga cemas, karena tidak ada makanan untuk dirinya yang sudah lemas, dan untuk sang bayi yang akan dilahirkan. Allah mengtus malaikat Jibril untuk memberitahu Maryam, “Jangan bersedih. Aku telah menyediakan untukmu sungai di bawahmu. Segera minumlah air segar dari sungai itu. Goyanglah pohon kurma tempat engkau bersandar. Nikmatilah bersama bayimu kurma segar yang berjatuhan di depanmu.” (QS. Maryam [19]: 24-25).

Dalam hadis, peristiwa karamah diceritakan oleh Abdurrahman bin Abu Bakar As Shididiq r.a. Ia mengatakan, keadaan penduduk Mekah yang hijrah bersama Nabi SAW ke Madinah yang ditampung di perkemahan belakang Masjid Madinah (ash-haabus shuffah atau ahlus-suffah) sangat memprihatinkan. Mereka hijrah tanpa membawa bekal sedikitpun dan tidak memiliki sanak keluarga di Madinah. Saat itulah, Abu Bakar bertindak karena teringat perintah Nabi SAW,

مَنْ كَانَ عِنْدَهُ طَعَامُ اثْنَيْنِ فَلْيَذْهَبْ بِثَالِثٍ وَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ طَعَامُ اَرْبَعَةٍ فَلْيَذْهَبْ بِخَامِسٍ بِسَادِسٍ

“Barangsiapa memiliki makanan untuk dua orang, maka hendaknya ia makan bertiga, dan barangsiapa memiliki makanan untuk empat orang, maka hendaknya ia makan berlima atau berenam” (HR. Muttafaq ‘Alaih dari Abu Muhammad, Adurrahman bin Abu Bakar As Shididiq r.a). Abu Bakar lalu mengundang  tiga orang ke rumahnya, dan Nabi menambahkan undangan sepuluh orang lainnya. Mereka yang diundang itu langsung menuju rumah Abu Bakar r.a. Ia berpesan kepada anaknya, Abdurrahman agar menjamu para tamu itu, karena ia harus menemani Nabi SAW di masjid sampai shalat isyak dan makan malam bersamanya.

Abu Bakar r.a pulang agak larut malam, dan mendapat teguran istrinya, “Mengapa kamu menerlantarkan tamumu?” Sebelum menjawab, Abu Bakar justru bertanya, “Apakah mereka sudah dijamu?” “Mereka tidak mau makan yang sudah saya hidangkan sampai engkau pulang,” Jawab sang istri. Ketika Abu Bakar r.a datang, Abdurrahman bersembunyi, takut dimarahi sang ayah, karena para tamu menolak makan yang sudah disiapkan. Benar, Abu Bakar memanggil dengan nada kesal, “Wahai si dungu, kenapa tamu tidak segera diberi jamuan.” “Ayah, mereka menolak makan jika tidak bersamamu,” jawab Abdurrrahman. Abu Bakar r.a lalu mempersilakan tamunya menikmati hidangan, sedangkan dia sendiri bersumpah tidak akan makan, karena baru saja makan bersama Nabi. Abu Bakar r.a baru membatalkan sumpahnya dan bersedia makan bersama setelah mereka bersikukuh hanya makan jika ditemani tuan rumah. Ia berkata, “Sumpah saya tadi terucap karena pengaruh setan.”

Ketika melayani para tamu, Abdurrahman berkata, “Demi Allah, saya menyaksikan keajaiban. Setiap kami mengambil makanan, selalu ada makanan baru di bawahnya, sehingga semua tamu puas. Bahkan makanan yang tersisa jauh lebih banyak daripada semula. Abu Bakar r.a juga heran dan bertanya kepada istrinya, “Wahai keturunan Bani Firas (panggilan untuk istrinya yang keturunan marga Firas), “Apa yang sedang terjadi?” Sang istri menjawab, “Aku sangat senang melihat hidangan ini menjadi tiga kali lipat banyaknya daripada ketika disuguhkan sebelumnya.” Abu Bakar r.a mengambil sedikit makanan untuk diberikan kepada Rasulullah yang sedang mengadakan rapat penandatanganan perjanjian dengan non-muslim. Setelah rapat, Abu Bakar menghidangkan makanan untuk mereka yang telah dibagi menjadi 12 kelompok yang masing-masing terdiri dari sejumlah orang yang hanya Allah SWT yang tahu. Ajaib, mereka semua bisa makan dari sisa makanan yang sedikit tadi” (HR. Muttafaq ‘Alaih).

Karamah juga disediakan untuk Anda, tidak hanya untuk pemuda gua, Maryam dan Abu Bakar r.a. Jika Anda ingin mempersunting karamah, tidak perlu Anda berdoa memintanya. Jika Anda terus menerus meningkatkan keimanan dan mengharumkan budi pekerti, yakinlah Allah akan memberi Anda karamah secara mengejutkan. Jika Anda menginginkan kupu-kupu, tidaklah perlu Anda mengejarnya. Cukup tanamlah bunga-bunga yang indah di taman, maka rombongan kupu-kupu yang berwarna warni akan datang menghampirinya.” Selamat berkompetisi memersunting karamah, dan saya yakin, Andalah pemenangnya.

            Referensi: (1) Al Nawawy, Abu Zakariya, Yahya bin Syaraf,  Riyadush Shalihin,  CV. Thoha Putra, Semarang, 1981, p. 368-373  (2) As Shiddiqy, Muhammad bin ‘Allan, Dalilul Falihin, darul Kutub Al Ilmiyah, Bairut Libanon, tt.  juz IV: 273.