Header

PARA PEMBANTU, RAHIMAKUMULLAH

September 5th, 2012 | Posted by admin_tsb in Artikel - (3 Comments)

PARA PEMBANTU, RAHIMAKUMULLAH

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia 

Di depan hadirin yang terlihat lemas karena semalam suntuk i’tikaf dzikir di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, 24 Ramadlan 1433,  saya mempersingkat ceramah shubuh. Ketika turun dari mimbar, tiba-tiba KH Ahmad Sofwan Ilyas menghampiri saya. Ia meminta buku saya, “60 Menit Terapi Shalat Bahagia” untuk dipelajari lebih lanjut setelah mendengar cuplikan yang saya kutip dalam ceramah itu. Tentu sebuah kehormatan, karena buku itu nanti akan mendapat masukan berharga dari kiai besar ini.

Dengan sungguh-sungguh, ia meminta saya agar berkunjung ke rumahnya jam itu juga. Saya sebenarnya ingin segera pulang untuk meneruskan membaca berita tentang kegelisahan para bos di kota-kota besar menjelang lebaran ketika para pembantu rumah tangganya mudik ke kampung. Saya sedang berfikir tentang nasib para pembantu rumah tangga. Betapa banyak di antara mereka tidak memperoleh kehormatan sebagai manusia merdeka. Seolah-oleh membentak mereka tidak dipandang dosa. Para majikan tidak merasa bersalah memberi upah yang pasti mereka tahu tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan diri, apalagi keluarganya. Itupun tanpa hari libur sama sekali dalam seminggu. Pikiran saya itu semakin menjadi-jadi ketika berada dalam bulan Ramadlan ini. Ketika semua anggota keluarga yang lagi tidur nyenyak atau sedang berdzikir khusyuk, pembantu harus menyiapkan makan sahur sang majikan dan keluarga. Itupun makannya harus paling akhir. Beberapa hari menjelang lebaran, para majikan masih sampai hati membujuk mereka untuk menunda pulang kampung.

Di rumah mewah kiai yang juga pengusaha sukses itu, saya meminta ijin meraba-raba perabot rumah yang serba ukir “tiga dimensi.” Tiba-tiba saja kiai ini bercerita tentang wasiat alamaghfur lah, ayahandanya, Kiai Sofwan di Rembang tentang bagaimana memperlakukan pembantu. “Lho, dari mana kiai ini tahu saya sedang berfikir tentang hal itu” pikir saya.” “Para pembantu itu orang-orang mulia. Kita bisa memuliakan para tamu karena mereka. Juga atas jasa merekalah, kita bisa beribadah dengan tenang dengan pakaian bersih dan harum.” Inilah kalimat pembuka kiai. Ia kemudian meneruskan wasiat ayahnya, “Nak, berikan pembantumu waktu istirahat yang secukupnya. Jika ia sedang tidur pada jam istirahat, jangan bangunkan dia. Buatlah teh atau kopi dan suguhkan kepada para tamu dengan tanganmu sendiri. Jika sedang shalat atau mengaji, jangan sekali-kali dipanggil untuk mengerjakan sesuatu. Mereka manusia merdeka yang juga butuh istirahat dan ingin masuk surga seperti engkau.” Segera saya lepas kacamataku, karena tidak terasa air mata saya berlinang, tapi saya tetap bersikap seperti tidak terjadi gejolak jiwa sedikitpun. Kiai ini lalu meminta pamit sebentar ke dalam rumah. Ternyata ia kembali ke ruang tamu dengan membawa tiga sarung dan menyuruh saya memilihnya. “Saya ambil yang cerah saja pak kiai. Saya ingin memiliki hati secerah abah panjenengan” kata saya.

Setelah menggeser pantatnya sedikit, kiai yang terkenal dengan travel bimbingan haji dan umrah itu melanjutkan wasiat abahnya, “Nak Ahmad (panggilan untuk kiai sewaktu kecil), berhati-hatilah. Jangan mempekerjakan pembantu di luar tugas utamanya, atau lebih dari batas jam maksimalnya. Sedikit saja ia mengeluarkan keringat dengan hati yang jengkel, kejengkelan itu langsung tersambung ke arasy, maka murkalah Allah SWT dan kemudian tertutuplah pintu-pintu rizki untukmu.”.  Kiai ini kemudian berdiri dan menyampaikan dengan lebih bersemangat, padahal saya sebenarnya agak sakit menahan buang air sejak memasuki rumahnya. Tapi menjadi tidak terasa karena melihat semangat dan keikhlasan kiai mewariskan wasiat itu kepada saya. “Nak Ahmad, setiap kali pembantu itu pulang, tanyakan kepadanya daftar nama secara lengkap anggota keluarga yang miskin di kampungnya. Masukkan uang dalam amplop walaupun sedikit dan tuliskan nama masing-masing mereka, agar pembantu itu tidak salah memberikannya. Kegembiraan pembantu bisa bersilaturrahim kepada keluarga dengan membawa uang dan kebahagiaan mereka yang menerimanya tersambung ke arasy, terseyumlah Allah, dan terbukalah sejuta pintu rizki untukmu.” Saya menunduk dan beristighfar, sebab saya belum bisa melakukan persis seperti yang diwasiatkan kiai kharismatik yang sekarang “berbahagia” di alam kuburnya.

Ketika sampai di rumah, saya langsung membuka beberapa buku yang terkait dengan wasiat yang mulia di atas. Dalam kitab Tanbighul Ghafilin disebutkan sebuah kisah. Salah seorang sahabat Nabi SAW meminta air kepada tetangganya, dan menyuruh budaknya untuk mengambilnya. Karena ia terlambat mengambilkan air, tetangga itu menghardiknya dengan kata yang kasar, “Pelacur kau”. Sahabat Nabi itu langsung mengingatkan,  “Pada hari kiamat kelak, engkau akan didera Allah sebagai hukuman, jika engkau tidak bisa membuktikan ucapanmu itu.” Tetangga itu segera meminta maaf kepada si budak dan memerdekakannya. “Semoga Allah menebus dosamu” doa sahabat Nabi untuk  tetangga tersebut.

Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW, “Kam na’fu ‘anil khadim/berapa kali kami harus memaafkan pembantu?” Nabi menjawab, “70 kali untuk setiap hari”. Sebagai imbalan kebaikan majikan, pembantu tentunya harus mengikuti nasehat Al Hasan Al Bashri. Ketika ditanya, “Manakah yang didahulukan: memenuhi panggilan adzan shalat atau melayani sang tuan?,” ia menjawab, “Layani tuanmu terlebih dahulu.”.

Dalam Kitab Riyadlus Shalihin,  Ma’rur bin Suwaid berkata, “Aku melihat Abu Dzarrin r.a memakai perhiasan yang sama dengan yang dikapai pembantunya. Lalu aku bertanya kepadanya, dan dia menjelaskan bahwa dia pernah memaki seorang (pembantu)  dan mencela dengan mengaitkan dengan ibunya.  Nabi SAW mengingatkan, “Engkau manusia dengan budaya jahiliyah. Mereka saudara kalian, pembantu kalian, mereka berada dalam kekauasaan kalian. Siapapun yang mempekerjakan orang, hendaklah ia memberi makan seperti yang dia makan, memberi pakaian seperti yang dia pakai. Janganlah kalian membebenai pekerjan di luar kemampuan mereka, jika mereka dibebani pekerjaan demikian, maka bantulah mereka.” (HR Bukhari Muslim).

Nabi SAW mengajarkan perlakuan yang terhormat dan penuh kemuliaan untuk para budak. Pembantu rumah tangga sama sekali bukan budak. Oleh sebab itu, ia harus dihormati, diberi kesejahteraan dan diberi peluang memiliki masa depan kebahagiaan dunia dan akhiratnya. Lailatul Qadar adalah malam yang tepat bagi para majikan “besar” atau “kecil” untuk bertaubat dan meminta maaf kepada para pembantu yang mungkin selama ini belum diperlakukan seperti ajaran Nabi SAW. Idul Fitri tahun ini harus menjadi hari raya yang mencerahkan masa depan para pembantu. Pembaca yang tercerahkan dengan Ramadlan, yakinlah Anda juga akan tercerahkan masa depan ekonomi, karir, kesehatan dan kebahagiaan rumah tangga Anda berkat senyum dan doa tulus para pembantu Anda. Minal aidin wal faizin, berbahagialalah para pembantu, rahimakumullah.

SUKSES BISNIS DEBU SYARIAH

September 4th, 2012 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

SUKSES BISNIS DEBU SYARIAH

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

“Al Qur’an itu bagai intan. Dari sisi manapun dilihatnya, Anda tetap menyaksikan cahaya indahnya” kata Abdullah Darraz, penulis buku An-Naba-ul Adhim. Satu ayat Al-Qur’an bisa difahami dari berbagai sudut pandangan, dan semuanya menakjubkan. Pesan Al Qur’an juga bisa menimbulkan getaran kalbu secara berbeda antara satu pembaca dengan pembaca lainnya, karena masing-masing memiliki disiplin ilmu, pengetahuan dan pengalaman hidup yang tidak sama.

Pada suatu hari, saya menjelaskan Surat Ali Imran di depan hadirin tentang perang Nabi di medan Badar dan Uhud. Dalam sesi tanya jawab, ada pertanyaan di luar dugaan, karena tidak pernah saya dengar sebelumnya. “Dari mana mereka mendapatkan logam dan bagaimana cara pembuatan pedang pada saat itu?”. Pantas, penanya itu dosen kimia. Lain lagi pertanyaan orang yang setiap harinya berbicara hukum Islam, “Bagaimana cara memakamkan para syuhada’, apakah dalam satu lubang untuk semuanya atau masing-masing satu lubang?”

Sekarang giliran Anda. Apa kira-kira yang ada dalam benak Anda ketika membaca firman Allah SWT berikut “Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah 7-8). Lagi-lagi di luar dugaan saya, ternyata ayat itu juga bisa dikaitkan dengan bisnis perusahaan. Inilah yang yang akan saya jelaskan dalam tulisan ini, sebagai kelanjutan tulisan sebelumnya, “Para Pembantu Rahimakumullah”.

KH Sofwan Rembang pernah memanggil putranya, Ahmad yang salah satu bisnisnya pengangkutan bahan-bahan bangunan untuk proyek di sebuah desa. Sudah tentu, penduduk desa yang terlewati ratusan truk setiap harinya mengeluh dengan debu yang memasuki celah-celah lubang rumahnya. Tidak terkecuali, jamaah mushala dan masjid di sepanjang jalan itu juga tidak nyaman bersujud di atas lantai yang berdebu. “Ahmad, jangan dikira kamu akan lepas dari pertanyaan Allah di akhirat tentang sekecil butir debu yang menyakiti hati mereka, sekalipun engkau sendiri tidak bisa melihatnya,” Itulah nasehat ces-pleng KH Sofwan yang menohok hati sang putra.  Kiai Sofwan masih belum puas dengan nasehat itu, lalu ia menambahkan, “Apa engkau tidak takut kepada Allah, jika seorang saja dari penduduk desa itu wadul (melapor) kepada Allah atas kedhalimanmu? Pasti, bisnismu tidak berkah, dan cepat atau lambat engkau akan hancur.”

Ahmad segera bangkit dari dari tempat duduknya dan menemui tokoh-tokoh masyarakat semua desa yang terlintasi truk-truk pengangkutnya. Dalam perjalanan, ia selalu terngiang-ngiang dengan nasehat pedas abahnya. Di depan mereka, tanpa basa-basi, Ahmad langsung menjanjikan jutaan rupiah setiap bulan untuk semua mushala dan masjid di sepanjang jalan yang terimbas debu. Beberapa bulan kemudian, Ahmad memberitahu akan selesainya proyek dan berpindah ke lokasi lain. Serentak mereka memohon agar memperpanjang kontrak proyek, sebab dana sumbangan yang mereka terima masih sangat dibutuhkan. “Saya bersyukur, berarti saya telah terhindar dari kedhaliman debu” kata Ahmad sambil menambahkan bahwa sejak itu, usahanya semakin berkembang dan berkah. “Dana untuk semua masjid sebanyak itu, jauh lebih sedikit dibanding jika urusan itu sampai ke kepolisian dan pengadilan” kenang Ahmad yang sekarang mendirikan pondok pesantren besar dan lembaga pendidikan formal serta mengelola perusahaan Travel Umrah dan Haji dan sejumlah perusahaan lainnya. “Menurut saya, inilah bisnis syariah, bisnis yang menafikan kedhlaiman sekecil apapun” kata KH Ahmad Sofwan Ilyas, nama populer kiai tersebut. Menurutnya, bisnis syariah tidak hanya terjauh dari kedhaliman, tapi juga mendatangkan keberkahan. Sudah ratusan orang yang diberangkatkan haji atau umrah olehnya.

“Ada lagi contoh konkrit bisnis syariah lainnya” kata kiai yang hampir semua anak cucunya hafal Al-Qur’an ini. Ia memiliki puluhan mobil yang disewa tahunan oleh sejumlah perusahaan. Ia tahu bahwa biaya termahal untuk sebuah rental mobil adalah perawatan, disamping jaminan keamanan. Ia memanggil semua sopir di rumahnya. Mereka adalah sopir milik perusahaan yang kebetulan mengemudikan mobil kiai.  Di depan mereka, kiai ini mengajak dialog. “Apakah sampean semua mempunyai anak?” “Ya pak kiai” jawab mereka. “Ada yang masih sekolah?” “Ada”. “Lebih mahal mana harga mobil saya dengan anak sampean?.” Tanpa menunggu jawaban, kiai menambahkan, “Semua biaya sekolah anak sampean saya tanggung. Sebagai imbalannya, tolong semua mobil yang setiap hari di tangan sampean itu dirawat dengan kasih sayang seperti saya menyayangi anak sampean semua.” Pembaca pasti bisa membayangkan wajah sumringah wong cilik yang mendapatkan biaya sekolah semua anaknya.

Dengan cara itu, para sopir tidak hanya merasa ikut memiliki, tapi juga dengan sukarela membelikan sendiri kebutuhan-kebutuhan kecil perawatan mobil. Hasilnya sangat menakjubkan. Biaya perawatan mobil jauh lebih kecil dibanding dengan biaya perawatan pada rental-rental lainnya. Harga jualnya setelah setahun dua tahun juga masih sangat tinggi. Keuntungan semakin banyak dan jumlah mobil yang disewakan menjadi semakin banyak pula. Pada akhir pembicraaan saya di akhir Ramadlan 1433 H itu, KH Ahmad Sofwan Ilyas menformulasi wasiat abahnya dengan sebuah pesan, “Berikan kebahagiaan kepada semua orang sekalipun hanya setitik debu, engkau akan mendapat keberkahan sepenuh langit. Hindari kehdlaiman sekecil debu, sebab “debu” itu akan terbang ke arasy, dan engkau akan dikutuk malaikat sepenuh langit. Anda tidak akan bahagia dan bisnis Anda pasti hancur suatu saat”.

CINTA RASUL -1

October 31st, 2011 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

CINTA RASUL (1)

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Ketika menjadi imam taraweh di |Mauritius Afrika tahun 2000, beberapa kali pengunjung masjid meminta saya untuk membaca Surat Ali Imran ayat 144, ”Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sidikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.

Berbeda dengan di Indonesia, di negera bekas perbudakan itu, jamaah shalat diberi hak untuk mengusulkan ayat al-Qur’an yang dibaca oleh imam. Saya agak terkejut, sebab ayat itu tidak sepopuler surat Yasin, Al-Waqi’ah.

Setelah mempelajari isi ayat di atas, saya menduga dua alasan mengapa mereka terkesan dengan firman Allah di atas. Pertama, karena dalam sejarah,  ayat itu bisa menenangkan kaum muslimin yang kalut pada saat kematian Nabi SAW. Kedua, ayat itulah yang membakar semangat juang Mush’ab bin Umar pada perang Uhud, sampai ia mati syahid. Uraian ini hanya menguraikan alasan pertama.

Setelah sakit beberapa hari, akhirnya Nabi SAW wafat di atas pangkuan Aisyah. Setelah Aisyah memindahkan kepala Nabi SAW di atas bantal, ia berdiri dengan wajah sedih bersama sejumlah wanita yang memukul-mukul wajah.  Kegaduhan itu membuat kaum muslimin yang sedang berada di masjid terkejut, tidak percaya akan wafatnya Nabi SAW, karena pagi harinya ia sudah terlihat sembuh.

     Umar bin Khattab berlari menuju tempat jenazah disemayamkan. Ia buka pelan-pelan kain penutup wajah Nabi SAW. Ternyata ia sudah tidak bergerak lagi. Umar menduga bahwa Nabi sedang pingsan. Jadi tentu akan siuman lagi.  Mughirah, sahabat yang dekat dengan Umar berkali-kali meyakinkan bahwa Nabi telah wafat, tapi Umar justeru membentak, ”Engkau bohong”.  Bahkan Umar pergi ke masjid untuk berbicara di depan kaum muslimin.

Demi Allah, Nabi SAW tidak meninggal, melainkan hanya pergi sebentar kepada Allah, seperti kepergian Nabi Musa as, yang menghilang dari tengah-tengah masyarakat selama empat puluh hari, lalu datang kembali lagi setalah dikabarkan dia sudah mati. Sungguh, Nabi SAW pasti akan kembali seperti Nabi Musa juga. Siapapun yang mengatakan Nabi SAW meninggal, saya akan memotong tangan dan kakinya!”.

Umar masih terus mengulang-ulang pidatonya, sementara semakin banyak kaum wanita  di sekitar rumah duka yang masih memukul-mukul muka sebagai tanda kematian Nabi SAW.

Dalam keadaan demikian, datanglah Abu Bakr, mertua Nabi SAW. Tanpa menoleh ke kanan dan kiri, ia minta izin Aisyah untuk masuk ke kamar Nabi SAW. Aisyah berkata, ”Orang tidak perlu minta izin untuk hari ini”.  Dibukalah kain burdah buatan Yaman yang menutup wajah Nabi SAW. Abu Bakar ra mencium jasad Nabi dan berkata,  “Alangkah sedapnya di waktu engkau hidup, alangkah sedapnya pula di waktu engkau mati”.

Kemudian kepala Nabi diangkat dan diperhatikan paras mukanya, yang ternyata menunjukkan ciri-ciri kematian. Abu Bakar berkata, “Demi ibu-bapakku (sebuah ekspresi doa & cinta),  maut yang sudah ditentukan Allah untukmu, sekarang sudah kau rasakan. Sesudah itu, tak akan ada lagi maut menimpamu !”. Kepala Nabi dikembalikan lagi di atas bantal dan kain burdah ditutupkan kembali lagi ke muka Nabi SAW.

Abu Bakar segera pergi ke masjid untuk menenangkan kaum muslimin yang sedang mendengarkan pidato Umar. “Sabar !, sabarlah, wahai Umar !” katanya setelah ia berada di dekat Umar. “Dengarkan!”. Tetapi Umar tidak mau diam dan terus bicara. Setelah mengucapkan hamdalah, Abu Bakar berpidato sebagai berikut, “Saudara-saudara! Barangsiapa menyembah Muhammad, ketahuilah ia sudah meninggal. Tetapi barangsiapa menyembah Allah, ketahuilah Allah hidup selamanya dan tak akan mati. Lalu ia mengutip firman Allah di atas.

Kedua kaki Umar mulai gemetar dan tidak dapat lagi menyangga tubuhnya. Mendengar firman Allah yang dibacakan Abu Bakar, ia baru percaya bahwa Nabi SAW telah dipanggil Allah selamanya. Umar jatuh tersungkur ke tanah. Para sahabat yang semula percaya kepada Umar juga tidak dapat menahan tangis setelah mendengar ayat tersebut. Seolah-olah ayat itu baru saja diturunkan.

Kisah itu amat sederhana dan sudah sering kita dengar. Tapi jika diperhatikan, kita dapat mengetahui betapa cinta Umar dan para sahabat kepada Nabi SAW. Orang  sekelas Umar, yang terkenal cerdas dan kritis hampir tidak mempercayai kepergian sang kekasih. Tidak lain, karena kecintaannya yang tiada tara. Umar dan para sahabat benar-benar kehilangan cahaya yang amat dibutuhkan, pemimpin yang penuh kasih bagai kasih seorang bapak kepada anak, atau kasih kakak kepada sang adik. Kisah itu juga menunjukkan,  secerdas bagaimanapun, manusia lebih dikendalikan oleh emosi daripada rasionya.

Hari ini, jutaan muslim mulai berdatangan di makam Nabi SAW di Masjid Madinah sambil menunggu pelaksanaan puncak ibadah haji di Mekah. Ibadah haji lebih banyak mengasah emosi daripada rasio. Semoga haji dan ziarah makam Rasul kaum muslimim menghasilkan cinta Rasul lebih mendalam, sehingga mereka menjadi penggerak pembangunan karakter bangsa sepulang ke Indonesia.