Header

KE SURGA DENGAN SEMANGKA

December 20th, 2012 | Posted by admin_tsb in Artikel - (3 Comments)

KE SURGA DENGAN SEMANGKA

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Inilah tulisan saya satu-satunya tanpa mengutip satupun dalil Al-Qur’an dan hadis untuk mengingatkan pembaca tentang kasih ibu. Islam mengakui adanya perbuatan baik dan buruk yang bisa diterima semua akal sehat, sehingga orang tidak beragamapun bisa membedakannya. Itulah yang disebut al ma’ruf dan al munkar.  Setiap orang pasti tidak membenarkan mencuri, membunuh orang dan sebagainya, sekalipun ia atheis. Menolong orang miskin, mengasihi orang tua juga pasti dipandang baik oleh setiap orang waras. Maka dengan satu kisah berikut ini cukuplah untuk mengingatkan kita tentang keharusan hormat dan berbalas budi atas jasa ibu dan berdoa setiap saat untuknya.

Peristiwa ini terjadi pada bulan Ramadlan pada tahun yang saya tidak ingat. Sebuah keluarga miskin dengan ibu bapak dan dua anak di Surabaya tetap berpuasa sekalipun suami istri itu pekerja kasar dan berat. Siapapun orangnya selalu ingin memberi makanan berbuka yang menyegarkan untuk keluarganya. Menjelang maghrib, ibu setengah baya itu pergi kira-kira seratus meter dari rumah kontrakannya untuk membeli semangka. Karena terdengar adzan maghrib, ia berlari kecil agar buah segar itu segera dinikmati untuk buka puasa suami dan kedua anaknya. Ia tidak melihat kanan kiri, padahal yang dilintasi itu rel kereta api. Inna lillah wainna ilahi raji’un, ia tertindas kereta api dengan semangka yang tergeletak pecah di sebelahnya. Jeritan orang yang melihatnya mengagetkan penduduk sekitar yang sedang menikmati berbuka puasa. Kedua anaknya berlari ke tempat kejadian dan merangkul ibunya yang tidak bernyawa dengan baju daster yang penuh darah. Suami dan anaknya hanya berbuka dengan setetes air di tenggorokan, bersamaan dengan linangan air mata yang membasahi rata pipinya. Ibunya pasti juga berbuka puasa dengan pemberian khusus dari malaikat dengan air telaga kautsar dari surga. Ia mati dalam keadaan berpuasa, demi cintanya kepada Allah. Ia menghembuskan nafas terakhir membawa cinta suami dan anak dengan semangka sebagai saksi di hadapan Allah.

Walaupun tidak sama persis, semua pembaca pasti bisa bercerita panjang tentang jasa dan kasih ibu kepada Anda seperti dalam kisah di atas. Apalagi ibu yang bekerja membanting tulang, memeras keringat untuk membantu ekonomi sang suami yang tidak cukup untuk kebutuhan keluarga.

Dunia memang panggung keanehan. Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita menyaksikan macam-macam kedhaliman. Seringkali kesetiaan dan pengorbanan sang ibu yang berdarah-darah itu, tidak mendapat apresiasi selayaknya dari suami, atau penghormatan dan kasih dari anak-anaknya. Anda tentu pernah menyaksikan bagaimana seorang ibu yang tulus melayani suami dan mendidik anak, tapi justru menderita karena kekerasan kata dan fisik suaminya. Anda juga tentu pernah menjumpai seorang ibu berduka atas ulah anaknya. Semakin hari semakin kurus, stres dan meninggal memikirkan anaknya. Ia telah “dibunuh” oleh anaknya sendiri. Air susu dibalas dengan air toba.

Inilah hari ibu. Kita ucapkan selamat untuk semua ibu. Sekarang, ambillah pulpen dan beberapa lembar kertas. Tulislah jasa ibu Anda kira-kira satu sampai tiga halaman. Lalu esok hari tulislah sehalaman lagi. Hari berikutnya tambahkan lagi. Saya yakin, sampai seribu halamanpun tidak akan cukup untuk menggambarkan kasih, jasa, pengorbanan dan kesetiaannya untuk Anda. Sujudlah paling sedikit tiga puluh detik setiap shalat. Jangan angkat kepala sebelum Anda bisa menteskan air mata untuk memohonkan ampunan dan rahmat Allah untuk ibu Anda (Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia). Oh Ibu, aku anakmu. Kasih tulusmu kepadaku, pasti berbuah kasih Allah untukmu. Doaku tetap untukmu dan tiada aku hentikan sebelum aku bisa mencium pipimu di surga. Aku akan terus bershalawat kepada nabi, agar aku dan kau bisa bergandengan tangan sowan dan mencium kaki Rasulullah SAW di sana.

MUKMIN GUNDUL

December 15th, 2012 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

MUKMIN GUNDUL

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Ketika saya melihat semakin banyak selebritis berkepala plontos di berbagai acara televisi, saya teringat tahun tujuhpuluhan di pondok pesantren. Pada tahun-tahun itu, santri yang pulang dari pondok dalam keadaan gundul, pasti orang tua malu, karena itu berarti si anak terkena hukuman berat di pondok. Orang-orang di kampung juga selalu menduga orang gundul orang yang baru keluar dari penjara. Itulah mode, pantas atau tidak pantas tergantung perkembangan waktu. Tentu yang dibicarakan di sini bukan gundul di Saudi Arabia, sebab berkepala plontos di tempat kelahiran Nabi itu, berarti seseorang baru saja selesai menjalankan ibadah haji atau umrah.

Ternyata tidak hanya manusia yang gundul. Setan pun mengikuti mode. Ketika masih kanak-kanak,  saya sering mendengar orang memanggil-manggil setan itu. Ketika sedang mencari sesuatu yang hilang, mereka berdoa, “Wahai setan gundul, tolong temukan barangku yang hilang.”. Pada saat memasuki musim hujan pada minggu-minggu ini, saya juga mendengar salah satu warga Surabaya  mengucapkan doa yang aneh, “Oh buyut, udano sing deres..” (Wahai  kakek-nenek  turunkan hujan yang deras..)”

Dua jenis doa unik di atas bertahun-tahun telah berkembang di tengah masyarakat pedesaan kita, tanpa disadari bahwa doa itu bertentangan dengan keimanan. Mengapa meminta pertolongan kepada setan, gundul lagi. Mengapa pula meminta hujan kepada kakek nenek?. Padahal mereka orang-orang yang bersyahadat  dan shalat. Inilah mukmin gundul karena berkepala syahadat tapi cabang-cabang keimanannya tidak ditumbuhkan. Sudah berikrar mengakui Allah sebagai Tuhannya, tapi masih meminta tolong kepada selain Allah. Sudah bersyahadat, tapi masih lebih banyak curhat kepada manusia daripada kepada Allah. Sudah muslim, tapi lebih mengandalkan pertolongan manusia daripada pertolongan Allah. Ketika menghadapi masalah, lebih banyak datang ke paranormal daripada mendatangi Allah yang sudah menunggu kehadirannya di ujung malam. Tanda-tanda mukmin gundul lainnya adalah banyak mengeluh, cemas dan khawatir menyangkut apa yang akan terjadi terkait dari sebuah ikhtiar, dan tidak percaya diri: hanya mengingat kekurangannya dan melupakan kelebihan yang diberikan Allah. Mengenalkan siapa dan bagaimana sifat-sifat Allah kepada orang jauh lebih mudah daripada meyakinkan kebesaran dan kekuasaan-Nya. Penguatan keyakinan tidak bisa hanya dengan ceramah atau beca buku, tapi diperlukan pengalaman hidup khususnya pahit getirnya roda kehidupan.

Hadis berikut ini penting dihayati agar kita terjauh dari pribadi mukmin gundul. Dari Abu ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Abbas R.A berkata, “Pada suatu hari, saya berada di belakang Nabi SAW. Beliau bersabda, “Wahai anak laki-laki, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa pesan: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati Dia di hadapanmu. Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta tolong, mintalah tolong juga kepada Allah. Ketahuilah, sekiranya semua umat manusia bersatu untuk memberikan sesuatu yang berguna bagimu, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang sudah ditetapkan Allah untukmu. Sekiranya mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakan kamu, niscaya tidak akan membahayakan kamu kecuali apa yang telah ditetapkan Allah untukmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Tirmidzi)

Sabda Nabi di atas menyuruh kita untuk menggantungkan semua hal kepada Allah semata, meminta kenikmatan, pertolongan, pemecahan masalah hanya kepada Allah, merasa cukup dengan pertolongan Allah, dan tidak perlu mengharap pertolongan dari makhluk-Nya.

Nabi Ibrahim as memberi tauladan yang luar biasa dalam keimanan dan kepasrahan. Ketika menghadapi api yang telah disiapkan untuk membakarnya, Jibril datang dan menawarkan bantuan, ”Apa yang kau butuhkan?” Nabi Ibrahim menjawab. ”Saya tidak butuh apapun darimu, sebab aku sudah merasa cukup dengan pertolongan Allah.”

Syahadat adalah kepala Anda. Tumbuhkan dari kepala itu sejuta keyakinan akan pertolongan Allah. Rukuk dan sujudlah dalam setiap shalat lebih dari tigapuluh detik, dan katakan, “Allah Maha Kuasa, Allah pasti menolong saya”.  Optimislah dalam berdoa. Iblis saja dikabulkan permohonannya oleh Allah, apalagi Anda. Orang-orang non-muslim saja bisa meyakini dan mengalami keajaiban pertolongan Tuhan, maka apalagi Anda yang beragama yang benar. Jika hari ini, Anda masih tetap saja gelisah seperti kemarin, tetap saja tidak terbakar semangat dan optimisme, serta belum yakin akan kemukjizatan pertolongan Allah, maka Anda masih termasuk mukmin gundul.

KOMUNITAS PENYUBUR SPIRITUALITAS

December 15th, 2012 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

KOMUNITAS PENYUBUR SPIRITUALITAS

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridlaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan ia melewati batas.” (QS. Al Kahfi [18]:28)

Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah SWT memuji Para Pemuda Gua (Ash-habul Kahfi) yang mempertahankan keimanan dari penguasa lalim dengan bersembunyi di dalam sebuah gua. Sambil menunggu kejatuhan penguasa itu, Allah SWT menidurkan mereka di samping anjing kesayangan selama 309 tahun dan baru dibangunkan ketika dinasti yang lalim telah jatuh dan digantikan penguasa baru yang saleh.

Sebagai kelanjutan, ayat yang dikutip di atas (QS. Al Kahfi [18]:28) menjelaskan bahwa untuk mempertahankan keimanan, perlu perjuangan lahir batin  yang tidak ringan, yaitu memilih komunitas yang benar-benar menyuburkan spritualitas dan menjauhi komunitas yang diduga akan merusak keimanan sekalipun komunitas yang disebut terakhir itu amat menggiurkan dari segi imbalan materialnya. Ini sangat berat dan hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar kuat keimanan. Oleh sebab itu, ayat di atas diawali dengan kata washbir yang artinya kuatkan imanmu menghadapai tantangan itu.

Sa’ad bin Abi Waqqash  bercerita tentang latarbelakang turun ayat di atas. Ketika ia bersama enam temannya, antara lain Abdullah bin Mas’ud r.a dan Bilal r.a, tiba-tiba beberapa tokoh kafir datang dan meminta Nabi SAW agar mengusir mereka yang dipandang miskin dan tidak layak duduk bersama mereka. Hampir saja Nabi SAW menyetujui permintaan itu. Mungkin pertimbangan Nabi, apa salahnya mereka keluar sebentar dan tokoh-tokoh kafir itu bisa berdialog dan masuk Islam. Persis seperti pertimbangan Nabi ketika pada suatu saat fokus berbicara dengan tokoh-tokoh kafir sampai kurang perhatian terhadap kedatangan orang jelata dan buta, Abdullah bin Ummi Maktum. Maka turunlah ayat di atas yang mengingatkan Nabi SAW agar tidak terpancing dengan rayuan mereka sampai melupakan orang-orang jelata yang saleh dan amat setia kepadanya. Menurut Ibnu Abbas, orang-orang kafir itu memang tokoh elit dan bangsawan. Tapi Allah mengingatkan, untuk apa engkau mengikuti mereka yang lupa Allah, hati membatu, mengikuti hawa nafsu, mengumpulkan kekayaan dan mengejar kekuasaan tanpa mengenal batas-batas halal haram, baik dan buruk (amruhu furutha).

Orang-orang angkuh seperti di atas selalu ada setiap zaman. Jauh sebelum Nabi SAW, orang-orang elit zaman Nabi Nuh a.s juga pernah menyatakan siap mengikuti ajarannya dengan syarat orang-orang miskin, orang-orang tidak terpelajar, atau mereka dari keturunan jelata tidak dicampur dengan mereka. Berkumpul dengan orang rendah akan merendahkan status sosial mereka.

Ayat di atas sangat cocok untuk dibacakan di depan khalayak sekarang. Tidak sedikit agamawan muslim yang bercerita bangga sebagai orang yang dekat dengan politikus terkenal, penguasa, pengusaha sukses, dan selibritis, sampai jarang bercengkrama dengan orang-orang berpakaian kusut, bersandal jepit, bersepeda dayung, para pemulung, dan orang-orang kecil dan miskin lainnya. Allah SWT mengingatkan kita agar hati-hati, “Jangan-jangan orang-orang sukses yang engkau banggakan itu orang yang kering spiritualitasnya, karena hidup dalam kemewahan, habis energinya untuk berkompetisi meraih tiga ta (cinta, tahta, dan harta) tanpa mengenal halal dan haram, dan tidak lagi tersisa energy untuk berdzikir dan menunduk kepada Allah. Jika demikian, mereka telah berhati batu, lupa Allah dan bertuhan hawa nafsu. Jika tidak hati-hati, sangat besar kemungkinan engkau tidak terasa lambat laun seperti mereka, atau bahkan lebih rusak dari mereka.”

Dari segi kenikmatan hidup, pasti berkumpul dengan komunitas elit itu lebih bergengsi dan menyenangkan. Sebaliknya, berkumpul dengan orang kecil tidak mendapatkan apa-apa, bahkan justru lebih sering mendengar keluhan atau menerima amplop permohonan bantuan. Status sosial kita juga tidak terangkat.  Allah SWT mengingatkan, “washbir nafsak” (kuatkan mental melawan godaan menggiurkan itu). Sebaliknya, kita diperintah untuk mencari komunitas yang menuyuburkan spiritualitas. Dalam bahasa sekarang, bisa saja nasehat Allah itu berbunyi, “Tetaplah menjadi pengurus atau anggota jamaah Yasinta, jamaah istighasah, kelompok pengajian rutin, kajian Islam, KPK (Kelompok Peduli Kemiskinan), bersama para peshalat berjamaah di masjid, menjadi panitia pencari dana pembangunan mushala dan sebagainya.  Sekalipun tidak mendapatkan keuntungan material apapun dari mereka, aura dzikir mereka sangat besar artinya untuk menyuburkan spritualitasmu. Magnit kebajikan mereka menjadikanmu lebih mudah melakukan kebajikan yang sama.”

Selamat bertahan dalam komunitas penyubur spritualitas dan semoga semua pembaca sampai kapanpun tidak meninggalkan komunitas itu hanya karena godaan materi dan popuralitas. Berat, tapi berupayalah yang keras, hidayah Allah sungguh tak terbatas. Ketika menutup Surat Al-Ankabut [29] ayat 69, Allah berjanji, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari keridlaan Kami, pasti Kami akan menunjukkan mereka kepada jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah pasti bersama orang-orang yang berbuat baik.”