Header

PERNIKAHAN SEJATI MELALUI SHALAT

December 7th, 2012 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

PERNIKAHAN SEJATI MELALUI SHALAT

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Semula judul tulisan ini adalah “Menikah” dengan Allah”. Setelah adanya protes istri saya, maka bergantilah dengan judul di atas. Apa kira-kira nasehat Anda untuk wanita berikut ini? Dua tahun silam, Rubiyah (tidak nama sebenarnya) telah menyerahkan semua hasil kerjanya selama dua tahun di Hong Kong kepada pria yang dicintai di Indonesia. Pernikahan sudah direncanakan secara detail. Untuk persiapan acara dan kebutuhan rumah tangga, ia mencari penghasilan yang lebih banyak dengan pindah tempat kerja tapi dalam profesi yang sama: house helper. Di Taiwan, tempat kerja yang baru ia mendapatkan Rp. 4,5 juta per bulan. Hasil sekian tahun di Taiwan juga diserahkan kepada pria yang sama: Suroyman (tidak nama sebenarnya) yang bersumpah cinta sehidup semati dengannya.

Itulah cinta. Pecinta selalu berfikir apa yang terbaik untuk diberikan kepada yang dicinta. Apa saja yang membuat yang dicinta bahagia, bahagialah dia. Kata Syekh Ahmad bin Athoillah, “Pecinta sejati selalu berusaha memberi kepada yang dicinta, bukan menuntut sesuatu darinya.” Demikianlah gambaran pecinta Allah sejati. Sama sekali tidak terlintas pahala dalam benaknya. Senyum Allah adalah kebahagiaan tertinggi baginya.

Stop. Saya tidak melanjutkan bicara cinta, sebab bulan Oktober 2012 adalah bulan bencana bagi Rubiyah. Kata khianat dan bangsat lebih sering terucap daripada cinta, karena tiba-tiba saja, Suroyman berkirim SMS, “Rub, kata pak kiai, saya tidak cocok menikah denganmu. Oleh sebab itu, saya sudah bersiap menikah dengan wanita lain yang cocok, sekalipun tidak secantik kamu.” Maka, keluarga yang menyiapkan semua pesta dengan pengajian akbar sesuai dengan janji nadzarnya dibatalkan. Rubiyah sedih bercampur malu. Tapi masih lumayan, ia di Taiwan, jauh dari kampungnya. Keluarganya di Indonesia lebih berat beban psikologisnya karena hidup di tengah masyarakat sedesa.

Ketika linglung, ia semakin ingat ibunya yang almarhumah. Beliau meninggal setahun silam, ketika sedang menunggu tanggal pernikahan. Terlintas berkali-kali untuk bunuh diri, tapi ia berhasil melawannya. Apa kira-kira nasehat Anda untuk si galau ini? Jika Anda bertaushiyah, “Sabarlah Rubiyah, semua itu sudah takdir,” maka kemungkinan ia akan menjawab dan menantang, “Saya sudah tahu itu, tapi bagaimana caranya. Apa Anda sendiri bisa melakukannya?”

Pada puncak kebingungannya, ia datang ke sebuah toko penjual barang-barang Indonesia di Taipei. Tiba-tiba matanya tertuju ke sebuah buku tentang shalat bahagia. Ia mengikuti petunjuk buku itu. Rukuk dan sujud minimal selama tiga puluh detik untuk bercerita dalam hati tentang Suroyman, tentang hilangnya semua penghasilan selama kerja di Hong Kong dan Taiwan sampai tuntas, lalu pasrah sepenuhnya kepada Allah. Ia bisa menikmati rukuk dan sujud lebih dari lima menit karena di setiap sujudnya, terasa ada tangan yang mengusap air matanya dan mengusap lembut kepalanya. Ia sekarang memutuskan tidak menikah, trauma dengan pengkhianatan orang lelaki. Tidak ada cinta melebihi cinta Allah. Tidak ada pengasih melebihi ketulusan kasih Allah. “Aku gagal hidup baru dengan Suroyman, tapi aku sekarang bahagia hidup baru dengan Kekasih dan Pengasih sejati: Gusti Allah. Aku lebih sering bermesra dengan-Nya.”

Shalat benar-benar telah merubah hidup penuh putus asa menjadi penuh asa. Dengan shalat, keinginan bunuh diri berganti dengan taqarrub kepada ilahi. Shalat yang benar menjadikan manusia galau menemukan Allah yang gaul: Maha Senang mendengar keluhan dan Maha Menyapa hamba-Nya yang duka. Inilah hayya alas shalah (ayo shalat) yang bisa mengantarkan manusia ke hayya alal falah (ayo bahagia). Selamat untuk saudariku Rubiyah yang bisa menghadapi kenyataan dengan ikhlas, cinta dan pasrah kepada Allah. Semoga cinta dan pasrah Anda kepada Allah berbuah keindahan melebihi pernikahan Anda yang gagal itu. Allah berfirman, “..dan barangsiapa pasrah kepada Allah, maka Ia satu-satunya Tuhan yang mengatasi masalahanya..” (QS. 65:2-3)

BERSUJUD UNTUK MENGANGKAT KEPALA

December 7th, 2012 | Posted by admin_tsb in Artikel - (3 Comments)

BERSUJUD UNTUK MENGANGKAT KEPALA

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Setelah acara dialog “Terapi Shalat Bahagia” di Radio Elvictor Surabaya (Jum’at 29/11/12), satu dari sekian banyak pendengar yang berdatangan ke radio adalah perempuan berusia duapuluhan dengan menggenggam dompet kecil di tangan. Saya mendahului menyapa dan bertanya, “Kerja di mana mbak?”. “Saya pembantu rumah tangga pak,” jawabnya menunduk malu, sambil menambahkan bahwa ia janda dengan satu anak yang diasuh neneknya.

Pada saat itulah saya memberi nasehat, bahwa semua pekerjaan dipandang mulia oleh Allah asalkan halal. Saya kutipkan juga prinsip orang Jepang, “Semua pekerjaan adalah terhormat selama tidak kriminal.” Dalam hati,  saya berpikir apa sebenarnya yang salah di tengah masyarakat kita sehingga membuat orang minder karena sebuah profesi? Secara tidak sadar, ternyata setiap hari kita mendengar pelecehan atas profesi seseorang. Pernyataan, “Dasar anak pemulung”, “Anak tukang becak saja berbicara muluk-muluk.”  “Gayanya amit-amit, padahal ibunya hanya penjual kangkung” dan pernyataan sejenis adalah penghinaan kepada seseorang dan pelecehan terhadap suatu pekerjaan. Tidakkah pembantu rumah tangga jauh lebih mulia daripada orang berdasi di ruang ber-AC tapi pemeras uang BUMN? Seorang penulis novel membandingkan PSK (Pekerja Seks Komersial) dengan koruptor. PSK hanya mencari uang dengan menjual “miliknya” sendiri, sedangkan koruptor mencari uang dengan menjual kekayaan negara, sehingga jutaan orang sengsara karenanya.

Semua kita diingatkan Allah agar tidak menghina keadaan fisik, pekerjaan, atau latarbelakang seseorang. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekelompok orang laki-laki merendahkan kelompok yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekelompok perempuan merendahkan kelompok lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS Al Hujurat [49]:11).  Murka Allah lebih-lebih kepada orang yang menghina orang-orang miskin. Secara ekonomi, mereka sudah menderita, ditambah lagi penderitaan secara psikologis.

Saya bertahun-tahun bergaul dengan 170.000 pembantu rumah tangga di Hong Kong dan, Macau,  160.000 orang di Taiwan, dan ratusan pembantu rumah tangga di Inggris, Belanda dan sebagainya. Tidak pernah satu katapun terdengar ucapan yang mencerminkan minder atas profesi mereka. Mengapa? Karena masyarakat setempat lebih “Islami” dalam hal memandang kemuliaan apapun profesi orang.

Siapapun yang bekerja pada sektor yang dipandang rendah oleh masyarakat yang dhalim, Anda tidak perlu menghiraukan pelecehan itu. Lebih baik hina dalam pandangan manusia, tapi mulia di hadapan Allah. Untuk apa mulia dan terhormat di hadapan manusia, tapi ternyata paling hina di hadapan Allah. Anda hanya boleh merasa hina di hadapan Allah, terutama ketika rukuk dan sujud, dan tidak boleh merasa hina di hadapan manusia.  Rukuk dan sujudlah minimal tigapuluh detik dan katakan dalam hati, “Oh Allah, aku bekerja sebagai pembantu rumah tangga, atau  penarik becak atau pemulung. Aku ridla dan senang hati menjalani pekerjaan ini. Aku tidak mengeluh, sekalipun sangat melelahkan dan sebagian orang mememandang rendah kepadaku. Engkau Maha Pengasih, pasti mengasihi aku. Engkau Maha Kaya, pasti memberi aku rizki yang banyak dan berkah. Aku yakin, Engkau pasti menjadikan anak-anakku kelak menjadi orang hebat dan shaleh. Aku yakin akan pertolongan-Mu. Aku pasrah apapun yang Engkau berikan kepadaku. Aku pasrah sepenuhnya kepada-Mu.”

Setelah bangkit dari sujud dan mengucapkan salam penutup shalat, angkatlah kepala Anda dengan percaya diri, tanpa sedikitpun rasa minder dan yakinlah bahwa masa depan anak-anak Anda jauh melampaui mereka yang menghina Anda. Semoga.

SUKSES USAHA DENGAN TEORI TIDUR AL KAHFI

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Setelah mengikuti pelantikan HIPSI (Himpunan Pengusaha Santri Indonesia) di kantor NU Jawa Timur Selasa (13/11), saya bertemu dengan pengusaha yang bergerak dalam penyembelihan sapi dari Jambi. Tiba-tiba KH Ahmad Sofwan datang bersama kepala divisi Bank Jatim Syariah dan mengajak shalat dan makan siang bersama di rumah yang tidak jauh dari kantor NU.

Sambil berjalan memasuki rumahnya, kiai besar dan terkenal dengan puluhan unit bisnis itu  bercerita tentang suka duka ekspor ikan kerapu ke Hong Kong dan Taiwan. “Yang paling rumit adalah menjaga ruh ikan. Siapa bisa ikut campur dalam urusan ruh..ha ha?,” Kata kiai yang semua anak, menantu dan semua cucunya hafal Al Qur’an itu. Jika ikan seharga Rp. 125.000 perekor di restoran Indonesia itu mati dalam pengiriman, maka harganya bisa jatuh lima puluh persen atau tidak laku sama sekali. Untuk antisipasi hal itu, agar ikan tidak bertarung dengan kawannya sendiri atau stres yang membawa kematiannya, maka ikan dibius dengan oksigen yang telah diamasukkan air. Baru enam jam berikutnya ikan hidup kembali, persis ketika sudah mendarat di bandara negara tujuan.

Sebelum kiai bercerita, pengusaha Jambi sudah berbagi pengalaman kepada saya tentang susahnya “menjaga ruh” sapi yang dikirim dari Jawa. Jika sapi dikirim selama lima hari dari Jawa ke Jambi tanpa istirahat, hampir dipastikan sapi stres atau mati sebelum sampai tujuan. Padahal Jambi amat membutuhkan pasokan sapi dari Jawa. Oleh sebab itu, para pengangkut sapi harus mengajak sapi beristirahat sehari di Batang (Jateng) dan sehari di Lampung. Itulah yang menyebabkan biaya ekonomi tinggi untuk asuransi dan biaya pengiriman.

Perbincangan tentang bisnis yang terkait dengan ruh itu mengingatkan saya tentang kisah  beberapa pemuda yang ditidurkan Allah selama 309 tahun dalam sebuah gua. “Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu…. (QS. Al Kahfi [18]:11), …”Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun lagi..” (QS Al Kahfi [18]:25). Maksud ayat itu, Allah menutup telinga mereka sehingga tidur mereka lebih nyenyak dan tidak bisa dibangunkan oleh suara apapun.

Di samping banyak pelajaran yang bisa diambil dari ayat di atas, bisa saja Allah menjelaskan kisah itu agar para ahli biologi berkreasi membuat bius semua hewan yang sedang menjadi komoditi bisnis agar hewannya tidak stres dan mati. Pengusahanya juga tidak stres menghadapi resiko kerugian dan angsuran bank. Jika Teori Tidur Al Kahfi ini bisa dikembangkan oleh ahlinya, apalagi dengan biaya yang rendah, maka ayat ini menjadi salah satu kiat sukses bagi para entrepreneur yang sedang berdiskusi di kantor NU sampai sore itu. Di antara pengusaha ekonomi menengah itu terdapat para pemula usaha yang terkait dengan “ruh” yaitu peternak lele, kambing, sapi, ayam, pemasok ikan segar ke beberapa restoran dan sebagainya. Semoga ruh hewan bisnis mereka terjaga, dan ruh bisnis mereka semakin hidup dan berkembang. Selamat bangkit menjadi santri “pemberi” bukan “penerima” dana.