Header

HAPUS DUKA DENGAN DLUHA

December 21st, 2013 | Posted by admin_tsb in Artikel - (3 Comments)

HAPUS DUKA DENGAN DLUHA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://www.wallpapersmi.org/wallpapers/2013/05/Green-Morning-Normal-485x728.jpg

sumber gambar: http://www.wallpapersmi.org/wallpapers/2013/05/Green-Morning-Normal-485×728.jpg

“Demi waktu dluha, dan demi malam apabila telah sunyi (gelap). Tuhanmu tidaklah meninggalkan kamu dan tidak (pula) benci kepadamu. Dan sungguh, hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang. Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai orang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.  Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan?. Oleh sebab itu, terhadap anak yatim, janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu tunjukkan.” (QS. Ad-Dluha [93]: 1-11)

Ayat-ayat di atas benar-benar hiburan yang luar biasa bagi Nabi SAW. Setelah mengunumkan di depan khalayak tentang kenabiannya pasca turunnya wahyu, tiba-tiba wahyu terhenti. Bukan sehari dua hari, tapi berbulan-bulan. Khalayak lalu meragukan kenabian Muhammad SAW. Bahkan istri Abu Lahab terang-terangan mengejeknya, “Tuhanmu telah meninggalkan kamu, dan telah membencimu.” Sebagai manusia biasa, wajar Nabi SAW sedih bercampur malu. Maka turunlah ayat ini untuk membantah ejekan orang-orang kafir, bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan Nabi SAW dan tidak pernah marah kepadanya. Tuhan akan tetap mendampinginya.

Allah secara tidak langsung memerintahkan kita memperhatikan waktu dluha, yaitu sejak matahari terbit beberapa saat sampai menjelang tengah hari. Lihatlah, betapa cerah sinar matahari saat itu. Betapa segar bugarnya fisik kita setelah semalam istirahat. Betapa optimis kita songsong masa depan yang lebih cerah. Lebih-lebih bagi yang shalat tahajud pada malam sunyi sebelumnya. Seolah-olah Allah SWT berpesan, “Bercerialah secerah sinar terang pagi ini. Semalam memang gelap, tapi pandanglah, alangkah terangnya sinar mentari ini. Saat ini, batu besar terasa menindih dadamu sampai engkau kesulitan bernafas. Tapi percayalah, Aku tidak akan membiarkanmu sendirian. Aku tetap mengasihimu. Hanya saja engkau tidak faham maksud-Ku.” Allah SWT berfirman, “Tuhanmu tidaklah meninggalkan kamu dan tidak (pula) benci kepadamu.”

Anda mungkin sedang terhuyung-huyung kelelahan menyelesaikan masalah hidup yang berat. Bahkan bukan air mata yang diteteskan, tapi darah. Belum selesai masalah yang satu, datang lagi masalah berikutnya. Komplit sudah penderitaan Anda. Tapi yakinlah bahwa itu bukan karena Allah membenci Anda. Sebaliknya, itu adalah bentuk kasih-Nya agar Anda cerdas dan menjadi manusia tahan bantingan. Dengan modal itu, Anda akan menjadi manusia sukses di kemudian hari. “Dan sungguh, hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang.” Tidak hanya itu, jika kesuksesan itu disyukuri dan dipergunakan untuk membahagiakan orang-orang menderita, maka senyum mereka adalah senyum Allah untuk Anda. “Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.” Lebih membahagiakan lagi kesuksesan Anda di akhirat kelak, ketika Allah menjemput Anda dengan “wajah” keceriaan di surga.

Pantaslah Allah SWT menganjurkan kita menyambut keceriahan pagi itu dengan mengangkat dua tangan untuk mengucapkan “Allahu Akbar” sebagai pembuka shalat Dluha dua, empat atau sampai delapan rakaat. Nabi SAW bersabda, “Setiap tubuh manusia terdiri dari 360 ruas tulang yang harus disedekahi. Para sahabat bertanya, “Apa ada yang mampu melakukannya wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Menutup dahak dengan tanah di masjid atau menghilangkan gangguan di jalan raya (adalah sedekah). Jika tidak mampu, maka cukup kerjakan dua rakaat dluha” (HR. Ahmad dan Abu Daud dari Buraidah R.A). Allah Azza Wajalla berfirman, “Ibna Adam, laa ta’jizanna ‘an arba’i raka’atin fii awwalin nahari, akfika fii aakhirihi” (Wahai keturunan Adam, jangan sekali-kali malas mengerjakan 4 rakaat di awal siang (dluha), Aku akan mencukupi (kebutuhan)mu di sore hari.” (HR Al Hakim dan At-Thabrani dari Nuwas bin Sam’an).

Jangan ada sedikitpun keraguan tentang kemurahan dan kasih Allah untuk merubah yang duka menjadi suka, dari tangisan menjadi kesuksesan. Sebab Allah telah membuktikannya. “Bukankah Dia mendapatimu sebagai orang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan?. Ketika masih dua bulan dalam kandungan ibu, si kecil Muhammad telah ditinggal wafat ayahnya. Lalu ketika berusia enam tahun, ditinggal wafat pula oleh ibunya. Ia benar-benar yatim piatu tanpa peninggalan sedikitpun harta dari orang tuanya. Allah-lah yang menggerakkan hati kakeknya untuk merawat dan membesarkannya. Setelah sang kakek meninggal, Allah jugalah yang menggerakkan hati pamannya, Abu Thalib untuk membesarkan dan mengasihinya seperti kasih orangtuanya sendiri.

Menjelang menerima wahyu, Muhammad benar-benar bingung melihat perilaku masyarakat sekitar yang tiada hari tanpa perang antar suku, mengubur hidup-hidup bayi perempuan, menjadikan batu sebagai tuhan, memerlakukan wanita seperti binatang piaraan. Allah-lah yang menggerakkan hati Muhammad untuk pergi ke gua Hira, lalu di sana menerima wahyu yang memberi pencerahan baginya.

Sebelumnya, Nabi SAW sangat miskin. Allah-lah yang menggerakkan hati si janda kaya-raya, Khadijah untuk meminangnya menjadi suami. Sama sekali bukan Nabi SAW yang melamar Khadijah. Dengan kekayaan itulah Nabi SAW tidak kekurangan ekonomi dan bisa menjalankan tugas-tugas kenabian lebih tenang.

Jika Anda ingin hidup cerah secerah dluha, maka lakukan tiga hal. Pertama, tunjukkan kasihmu kepada anak-anak yatim. “Oleh sebab itu, terhadap anak yatim, janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.” Kedua, tetap santunlah kepada as-sa-il yaitu penanya ilmu pengetahuan yang bertanya hal-hal yang menjengkelkan (Tafsir Ar-Razy) atau peminta-minta (Tafsir Ibnu Jarir At-Thabary). “Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah kamu menghardiknya.” Ketiga, tunjukkan kepada semua orang bahwa Anda benar-benar telah memperoleh karunia besar dari Allah. Jika Anda berduit, jangan sekali-kali berkata, “Saya miskin” lalu pelit bersedekah. Ketika mendapat kepercayaan untuk melakukan sesuatu, segera katakan dengan percaya diri, “Saya bisa melakukannya atas pertolongan Allah.” Orang yang tidak percaya diri berarti mengingkari kemampuan yang diberikan Allah SWT kepadanya. “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu tunjukkan.” (QS. Ad-Dluha [..]: 1-11).

Dalam Al Qur’an, Surat Ad-Dluha diikuti Surat Al-Insyirah yang berisi kegembiraan Nabi SAW memperoleh jalan keluar dari semua persoalan. Bagi Anda yang sedang mengalami kesulitan, cerahkan hati secerah dluha dengan membaca dua surat tersebut dalam satu shalat. Bahkan konon katanya orang-orang syiah wajib membaca dua surat tersebut dalam satu rakaat salat. (Jalaluddin Rahmat, Meraih Cinta Ilahi, p. 395; Tafisr Al-Azhar p. 178-180).

TRAUMA DENGAN LELAKI

December 21st, 2013 | Posted by admin_tsb in Konsultasi Keluarga Bahagia - (0 Comments)

TRAUMA DENGAN LELAKI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Tanya:

Assalamu’alaikum wr wb

sumber gambar: http://4.bp.blogspot.com/-QitZx2S0XiA/TZQ2zaP90sI/AAAAAAAAAGM/SdXSg70-QWQ/s1600/muslimah.jpg

sumber gambar: http://4.bp.blogspot.com/-QitZx2S0XiA/TZQ2zaP90sI/AAAAAAAAAGM/SdXSg70-QWQ/s1600/muslimah.jpg

Salam hangat untuk sahabat –sahabat Nurul Falah. Saya Dessi, gadis 20 tahun, yang sekarang tinggal di Surabaya. Sejak di kota pahlawan ini, keimanan saya benar-benar rapuh. Shalatpun sering saya tinggalkan, karena merasa sepertinya shalat sudah tidak ada gunanya sama sekali.

Muncul juga godaan dosa yang lain. Sekarang, saya berkali-kali bercinta dengan pria yang semuanya selalu sudah berkeluarga. Semula saya trauma dengan jejaka, sekarang lebih parah lagi trauma dengan lelaki siapa saja. Semua tidak bisa dipercaya.

Rapuh, rapuh keimanan saya. Mohon bimbingan agar selamat dari dosa dan kembali hidup dengan iman yang benar. Terima kasih pak ustad.

Dessi – Surabaya

Jawab:

Membaca pertanyaan Anda, saya teringat lagu religi Opick, “rapuh”, karena Anda berkali-kali menyebut kata itu untuk menggambarkan keimanan Anda. Saya memberi apresiasi yang besar kepada Anda yang jujur mengakui dosa-dosanya. Pengakuan dosa adalah awal dari langkah menuju kemajuan iman. Sebab, dari pengakuan itu, Anda akan memohon ampunan Allah. Orang terkutuk adalah orang yang berdosa, tapi tidak mengakui dosa-dosanya, sehingga tidak ada kemauan untuk memohon ampunan. Muslim terbaik bukan muslim tanpa dosa, tapi muslim yang mengakui dosa dan segera memohon ampunan Allah.

Untung Anda mengirim pertanyaan ini sekarang, sehingga tidak berlarut-larut dalam kesalahan besar. Apapun alasan yang dikemukakan, shalat tidak bisa ditinggalkan. Orang sakit yang tidak bisa menggerakkan anggota badan kecuali ibu jari, umpamanya,  masih terkena kewajiban shalat, yaitu dengan isyarat ibu jari itu. Jika bangunan sudah kehilangan pilarnya, ia akan roboh. Shalat adalah adalah pilar Islam. Oleh sebab itu, salah satu pembeda muslim atau kafir adalah pelaksanaan shalat. Nabi SAW bersabda, “Janjiku dengan mereka adalah shalat. Siapapun yang meninggalkannya maka ia kafir.” HR. Ahmad dari Buraidah r.a. Berdasar hadis ini, Anda harus segera bertaubat dan berjanji menjalankan shalat lima waktu bagaimanapun kesulitan hidup Anda.

Apakah Anda tidak terbalik? Seharusnya semakin besar kesulitan Anda, semakin banyak Anda bersujud kepada Allah, bukan semakin menjauhi shalat. Sebab shalat adalah sarana solusi seberat apapun masalah Anda. Allah SWT berfirman, “..dan mohonlah pertolongan Allah dengan sabar dan shalat..” (QS. Al Baqarah [2]:49)

Saya senang mendengar, bahwa sekarang sudah putus hubungan dengan pria yang sudah berkeluarga. Anda benar dan terhormat. Jika Anda teruskan, coba Anda renungkan betapa hancur hati istri dan anak-anaknya di rumah yang ditinggal suami atau bapaknya berselingkuh, walaupun dengan alasan-alasan yang katanya “Islami”. Kecuali jika sang istri mempersilakan Anda menjadi istri kedua, ketiga atau keempat bagi suaminya. Jika tidak, “Apakah Anda tega menari ceria di atas genangan air mata?”

Soal trauma dengan pria, hapuskan sekarang juga. Bersiaplah menikah dengan pria yang dipilih berdasar shalat istikharah. Anda harus tahu, trauma itu diharamkan, sebab berarti tidak ikhlas menerima takdir Allah. Jika Anda pernah ditinggalkan atau dikecewakan pria, tidakkah itu jawaban dari doa Anda sendiri, “Wahai Allah jika, ia baik untuk masa depan keimananku, maka pertemukan aku dan langgengkan rumah tanggaku dengannya. Dan jika ia tidak baik, jauhkan aku dari dia dan jauhkan dia dariku, lalu berilah aku pengganti yang lebih baik.”

Bismillah, shalatlah lebih sempurna, rukuk sujudlah yang lebih lama, untuk menghapus dosa dan taruma. Yakinlah, Allah akan mengirim pria yang terbaik sesuai dengan harapan Anda dan keluarga.  (Baca buku Terapi Shalat Bahagia). (Surabaya, 10 November 2013)

MENGEJEK REMPEYEK

November 28th, 2013 | Posted by admin_tsb in Artikel - (9 Comments)

MENGEJEK REMPEYEK
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

rempeyek

sumber gambar: http://ricepaddies.webs.com/photos/Menus/Rempeyek%20Kacang.jpg

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka,  dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka, dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelar yang mengandung ejekan. Panggilan terburuk adalah (panggilan) sesudah iman, dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dhalim(QS. Al Hujurat [49]:11)

Ayat di atas saya pilih untuk kajian Al Qur’an kali ini, setelah pada tanggal 12 Oktober 2013, saya tinggal semalam bersama para mahasiswa, anak buah kapal, pekerja pabrik dan pembantu rumah tangga asal Indonesia di Hualien, kota kecil sebelah timur Taipei. Terpaksa naik pesawat, karena saya dan rombongan dari KDEI (Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia) kehabisan tiket kereta api. Salah satu tujuan kunjungan ini adalah apresiasi kepada wanita Indonesia yang menjadikan tokonya untuk pusat kegiatan Islam dan perlindungan untuk semua warga Indonesia di Hualien. Anda pasti bertanya-tanya, apa hubungan Hualien dengan ayat ini.

15 tahun yang lalu, Yani (45 tahun) pembantu rumah tangga (PRT) dianggap “gila” oleh orang sekampungnya di Jawa Tengah dan teman sekerja di Taiwan. Ia menikah dengan penduduk Taiwan yang lumpuh total karena enam tulung punggungnya patah dan sistem syarafnya rusak karena sebuah kecelakaan. Ke manapun ia pergi, hanya ejekan yang diterima. Janda dengan dua anak asal Purwokerto itu benar-benar hanya ingin menyemangati orang walaupun tidak seiman, dan sama sekali tidak ada yang bisa diharapkan darinya, karena pria itu tidak hanya cacat, tapi juga amat miskin.

Sebagai istri yang setia, setelah menyuap makanan untuk suami, ia keluar untuk menjual rempeyek (kerupuk tipis) yang dititipkan di sejumlah toko. Sore hari, ia cepat-cepat pulang untuk merawat sang suami, dan keluar lagi untuk melanjutkan usahanya. Itu dilakukan bertahun-tahun untuk suami yang masuk Islam sebelum pernikahan, dengan tulus dan tanpa keluhan sama sekali.

Suatu saat, hati Yani goyah, karena seorang teman mengejeknya, “Gila kamu ini.  Andai mau kerja di majikan, tentu kamu dapat bayaran Rp. 6 juta perbulan untuk keluarga di Indonesia.?” Tapi, jiwa kemanusiaan istri ini luar biasa. Ia sangat iba, sehingga tidak mungkin meninggalkan suaminya yang sudah menderita. Suami juga benar-benar menyemangatinya. Sekalipun ia hanya bisa menggerakkan tangan, ia selalu berusaha sebisanya untuk membantu sang istri membuat rempeyek. Beberapa kali ia terjatuh, dan bangkit lagi. “Benar-benar ia orang Taiwan: gila kerja, pantang menyerah,” puji sang istri.

Setelah 4 tahun berlalu, tiba-tiba sang suami bisa bangkit. Sedikit demi sedikit dengan obat dan operasi jutaan dolar yang ditanggung pemerintah, sang suami, Ye Ming Cen bisa berjalan. Dengan tenaga sekuatnya, ia berternak ayam di halaman rumah. Usaha itu berhasil bersamaan dengan semakin terkenalnya “Rempeyek Yani.” Sekarang, ia memiliki toko Indonesia di Tzi Chians Road yang terbesar Hualien. Tidak hanya terkenal dengan Toko Yani, tapi juga Mushala Yani. Sekalipun Ming Cen belum shalat lima waktu, tapi dialah yang paling bersemangat menyiapkan tempat dan peralatan shalat untuk ratusan pekerja Indonesia di salah satu ruang tokonya. Bahkan pada pelaksanaan shalat idul Fitri pertama kali di Hualien yang diadakan di pinggir pantai, Agustus 2013 yang lalu, dialah yang paling sibuk menyiapkan tikar, sound system, dan memintakan ijin kepada pemerintah setempat. Ia terpanggil “menghidupi” orang Indonesia, yang selama ini telah “menghidupinya.

Roda hidup selalu berputar. Jika Anda di atas, bersiaplah, suatu saat untuk berada di bawah. Jika sedang di bawah, jangan berkecil hati, optimislah, cepat atau lambat, Anda akan di atas. “Dan masa (kejayaan dan kehancuran itu) Kami pergilirkan di antara manusia…” (QS. Ali Imran [3]:140). Warga sekampung di Indonesia, yang dulu mengejek Yani, sekarang merekalah yang paling sering meminta bantuannya. Teman-teman sekerja di Taiwan yang mengolok-oloknya sekian tahun silam, sekarang menjadikan Toko Yani sebagai tempat ibadah dan pusat posko perlindungan setiap kali mengalami masalah pekerjaan di negeri Formosa.

Firman Allah di atas memberi peringatan, jangan mudah mengejek orang karena status, profesi, etnis, atau apapun alasannya. Jika Allah merubah nasib orang yang Anda pandang hina, lalu ia berada di atas roda, dan Anda di bawah kakinya, betapa derita psikologis Anda? Jika ejekan itu menyangkut prilaku seseorang, jangan-jangan Anda seperti burung merak, yang memukau orang karena bulunya, dan dengan kemilau bulu itu, ia pandai menutupi kakinya yang jelek. Orang yang Anda ejek itu orang lugu dan jujur, tidak pandai beretorika, dan miskin asesori penampilan, sehingga yang terlihat keasliannya. Tapi bagi Allah, ia jauh lebih terhormat dari Anda. Jika Allah membuka aib  Anda, dengan apalagi Anda menutup muka-malu Anda? Bisa saja, orang yang Anda pandang sebagai “setan” itu suatu saat bertobat, lalu kesalahennya melampaui Anda.

Dalam firman Allah di atas, Allah juga berpesan, “Jangan mencela dirimu sendiri.” Artinya orang lain itu saudaramu sendiri. Berarti, ejekan kepada mereka, sebenarnya memantul kepada diri Anda sendiri. Jika Anda suka dipanggil dengan panggilan kerhormatan yang menyenangkan, maka jangan memanggil mereka dengan label-label kehinaan. Kasihilah sesama, Allah dan semua penduduk langit akan mengasihi Anda. Buatlah mereka tersenyum, Allah pasti akan tersenyum kepada Anda. Senyum ibu Yani dan kasihnya yang tulus kepada orang menderita dengan sejuta pengurbanan, membuahkan senyum Tuhan kepadanya, dan senyum itu baru ditunjukkan oleh-Nya setelah sekian tahun berlalu.

Ayat di atas secara tersirat mengingatkan Anda untuk berhati-hati setiap bicara. Ucapan itu bagaikan anak panah yang terluncur dari busurnya. Berhati-hatilah dari perkataan yang bernada merendahkan orang. Luka hati lebih menyakitkan dari tusukan belati. Semakin sering Anda menghina seseorang, semakin jelaslah bagi orang lain, siapa Anda sebenarnya. Pintu rizki di langit juga semakin tertutup untuk Anda, karena semakin sedikitlah orang yang mau bekerjasama dengan Anda.

Jika Anda mendapat ejekan, diamlah. Dengarkan, dan biarkan pengejek itu mati dengan kelelahannya sendiri. Jangan membantah walau dengan sepatah katapun. Bantahlah dengan perbuatan nyata, sebagaimana yang dilakukan ibu Yani dengan kerja keras, pantang menyerah untuk merubah nasibnya. Andaikan ia bukan wanita, saya pasti merangkulnya untuk menyerap nilai cinta kasih, pengurbanan, dan ketauladanaan kesabaran dan kerja kerasnya. Keberpihakan Anda sesaat kepada orang menderita, lebih baik baginya daripada kedekatannya dengan orang lain yang tidak peduli sepanjang masa.

“..dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dhalim(QS. Al Hujurat [49]:” Firman Allah ini mengandung anjuran untuk bertobat bagi siapapun yang terbiasa memandang rendah orang lain.  Oleh sebab itu, setelah membaca artikel ini, mohonlah ampun kepada Allah. Lalu berjanjilah untuk menebar kasih dan penghormatan, bukan ejekan dan kebencian. Wallahu a’lamu bisshowab. (Taipei, 15 Oktober 2013)