Header

KIAT HIDUP 3800 TAHUN

June 27th, 2013 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

KIAT HIDUP 3800 TAHUN

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Allah menciptakan kalian, kemudian mewafatkan kalian; dan diantara kalian ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. An-Nahl [16]:70)

Jeanne Louise Calment (Perancis, usia 122 th)

Jeanne Louise Calment (Perancis, usia 122 th)

Beberapa ayat sebelumnya, Allah menjelaskan, untuk kelangsungan hidup dan kenikmatan manusia, Allah telah menurunkan air dari langit untuk menyuburkan tanaman dan menghasilkan buah kurma, anggur dan sebagainya. Lebah juga diberi “wahyu” oleh Allah untuk menghisap bunga dan membuat rumah yang bagus agar menghasilkan madu untuk kekuatan dan obat bagi manusia. Sayang, sebagian manusia tidak mensyukuri anugrah Allah itu. Sebaliknya, mereka menggunakan buah-buahan itu untuk minuman memabukkan. Pada ayat yang dikutip di atas, Allah menegaskan bahwa sesehat apapun, usia manusia ada batasnya. Kematian itu disebabkan karena usia tua atau karena kecerobohan pola makan dan minum. Sebagian mereka meninggal pada usia muda dan sebagian yang lain diberi panjang usia.

Sangat manusiawi, jika Anda bersedih karena salah satu keluarga Anda meninggal pada usia muda. Tapi, sebaiknya Anda berbaik sangka kepada Allah. Bisa jadi, ia diwafatkan oleh Allah agar ia menghadap-Nya ketika masih dalam keadaan beriman. Tidak jarang orang shaleh ketika muda, lalu banyak maksiat ketika tua dan mati dalam keadaan tercela. Rasulullah SAW sendiri mengajarkan doa,”Wahai Allah, jika Engkau berkehendak rusaknya suatu masyarakat, maka wafatkan aku sebelum terkena pengaruh negatif itu. (HR Ahmad dari Mu’adz bin Jabal r.a). Umur yang terbaik bukan dilihat dari kuantitas namun kualitasnya. Usia yang pendek namun penuh kebaikan jauh lebih baik daripada usia 100 tahun, tapi penuh dosa. Kita berharap panjang usia, panjang pula pahalanya. ”Orang yang terbaik adalah yang panjang umurnya dan baik perbuatannya” (HR Ahmad dari Abu Bakrah r.a.). Tentu, yang kita harapkan usia panjang yang tidak sampai pada keadaan ardzalil ’umur (usia lemah alias pikun) sehingga menjadi beban bagi keluarga.

Rasulullah SAW diberi hidup oleh Allah SWT 63 tahun Hijriyah atau 61 tahun Masehi. Bagi orang sesuci beliau, cukuplah usia itu untuk menghadap Allah. Beliau tekun beribadah dan selalu menangis setiap memohon ampunan, padahal ia tidak punya dosa. Bagi kita, usia 61 tahun terlalu singkat untuk mengumpulkan bekal menghadap Allah SWT dan menghapus dosa kita yang menumpuk.  Kita harus berusaha hidup lebih lama dari usia Nabi SAW. Mungkin idealnya dua kali lipat dari usia Nabi: 122 tahun seperti usia wanita tertua di dunia, Jeanne Louise Calment di Perancis (meningggal 1997 dalam usia 122). Untuk itu, kita wajib menjaga kesehatan dengan pola hidup sehat, membangun keakraban dengan sanak famili dan bergaul sebanyak-banyaknya dengan orang lain di masjid, majlis dzikir, perkumpulan olah raga dan sebagainya. Rasulullah SAW bersabda,”Barangsiapa ingin dimudahkan rizkinya dan ditunda ajalnya (dipanjangkan usianya) hendaklah ia menyambung tali persaudaraan” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik r.a). Dr. Nil Barzilai, direktur Albert Einstein College of Medicine’s Institute for Aging Research di New York menyimpulkan mereka yang panjang umur adalah yang selalu positif dalam hidupnya: optimistis, mudah bergaul, extrovert, lebih banyak tertawa dan emosi yang terungkap. (Strait Time)

Berdasar hadis di atas, timbul pertanyaan: bisakah umur manusia diperpanjang? Muhammad Ibrahim An-Nu’aim dalam bukunya Kaifa Tuthilu Umrakal Intajiy (Misteri Panjang Umur) menjawabnya dengan mengutip tiga pendapat ulama. Pertama, menambah jatah umur manusia bukanlah hal yang sulit bagi Allah. Sekalipun umur manusia telah ditulis di sisi-Nya, namun adalah hak mutlak bagi-Nya untuk  merubah atau menghapusnya. Nabi dan Malaikat tidak bisa melakukannya. “Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh) (QS.Ar-Ra’d [13]:39).

Dengan kekuasaan mutlak Allah itu, bisa saja seseorang telah ditetapkan batas umurnya, namun karena ia berbaik-baik dengan sanak famili dan sebanyak-banyak orang, lalu Allah SWT merubah catatan-Nya untuk memberi tambahan umur kepadanya.

Kedua, yang dipanjangkan Allah SWT adalah keharuman nama setelah kematian seseorang. Ketika hidup, ia banyak bersedekah, sehingga pahalanya tetap mengalir kepadanya (shadaqah jariyah). Atau ia amat terkenal kebaikannya, sehingga setelah matinya, banyak orang menyebut-nyebut kebaikan itu. Semakin lama, semakin harum namanya. Nabi Ibrahim berdoa, ”Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian” (QS. As-Syu’ara [26]:84).

Ketiga, umur manusia tidak bisa ditambah atau dikurangi, karena sudah ditetapkan Allah sebelum kelahirannya (QS. Fathir [35]: 11 dan Qs Al A’raf [7]:34). Kita hanya bisa meminta tambahan keberkahan usia. Artinya hitungan usia kita memang pendek, namun karena banyak ibadah, usia yang pendek itu menandingi usia ratusan tahun orang lain, khususnya umat sebelum nabi Muhammad SAW. Misalnya, usia sehari bisa dinilai Allah setara dengan lima tahun. Setahun setara dengan 3.800 tahun. Caranya? Ikuti petunjuk Rasulullah SAW berikut, “Barangsiapa berjalan ke masjid untuk shalat fardlu secara berjamaah, maka shalatnya setara dengan sekali ibadah haji. (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Shalat berjamaah lima kali sehari sama dengan lima kali ibadah haji. Haji dikerjakan setahun sekali. Berarti, jika Anda shalat berjamaah di masjid setahun penuh (360 hari) tanpa absen, maka usia setahun itu sama dengan 3.800 tahun. Pada bulan suci Ramadlan, bonus untuk nilai usia Anda jauh lebih dahsyat. Semalam lailatul qadar sama dengan usia 83 tahun.

Demi usia yang berkualitas itulah, maka para sahabat dan orang-orang shaleh terdahulu tidak melewatkan waktunya dengan sia-sia. Abdullah bin Mas’ud berkata, ”Aku tidak pernah menyesali apapun melebihi penyesalanku akan terbenamnya matahari. Umurku berkurang sedangkan ibadahku tidak bertambah.” Dawud at-Tha’i lebih suka meminum fatiit (sup roti) daripada makan roti. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab, ”Minum sup roti lebih cepat. Waktu untuk mengunyah roti cukup untuk membaca 50 ayat al-Qur’an”. Majduddin Abul Barakat, kakek Ibnu Taimiyah tidak mau waktunya lewat tanpa memperoleh ilmu. Jika ia akan masuk kamar kecil, ia menyuruh seseorang untuk membacakan sebuah buku dengan suara keras agar ia bisa mendengarnya selama buang hajat itu. Sebagian ulama terdahulu selalu membaca al-Qur’an dalam perjalanan ke mana saja. Oleh karena itu, ia mengukur jarak perjalanan dengan jumlah ayat al-Qur’an”.  Begitulah usaha memperpanjang umur dengan kualitas keberkahan.

Menurut Nabi SAW, “Umur umatku antara 60-70 tahun, dan hanya sedikit yang lebih dari itu” (HR At Tirmidzi dari Abu Hurairah r.a). Sekali lagi, Anda harus berusaha hidup melebihi usia Nabi SAW. Tapi, jika Allah menghendaki usia Anda lebih pendek, Anda tetap berbahagia, karena usia sependek itu telah setara dengan ratusan ribu tahun berkat kebaikan yang Anda lakukan. Maukah?

sumber foto: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/7/7f/Jeanne-Calment-1996.jpg/220px-Jeanne-Calment-1996.jpg

KAMERA TERCANGGIH PENGINTAI ANDA

June 21st, 2013 | Posted by admin_tsb in Artikel - (3 Comments)

KAMERA TERCANGGIH PENGINTAI ANDA

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

bumi

sumber gambar: http://sathiyam.tv/english/wp-content/uploads/2013/01/Earth-Landscape-Art.jpg

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya, “Mengapa bumi (menjadi begini)?”. Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan beraneka, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) atas perbuatan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (debu atau atom)pun, pastilah ia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula. (QS al-Zalzalah [99]:1-8)

Inilah Surat Al-Qur’an yang disebut Rasulullah SAW sebagai ”Surat Separuh Al-Qur’an” (HR at-Tirmidzi dari Ibnu Abbas). Surat ini memuat tiga pesan penting. Pertama, suasana hari kiamat. Kedua, kesaksian bumi atas semua perbuatan manusia. Ketiga, ketelitian pemeriksaan Allah terhadap perbuatan manusia dan jenis balasannya. Saya yakin hati Anda bergetar terkena sentuhan ”Surat Separuh Al-Qur’an” ini.

Salah satu pokok keimanan dalam Islam adalah percaya adanya hari kiamat. Pada hari berakhirnya semua kehidupan itu, bumi diguncang dengan dahsyat melebihi guncangan yang pernah disaksikan manusia sebelumnya. Begitu kerasnya goncangan, sampai gunung seberat apapun terlempar tinggi ke atas. Apalagi makhluk sekecil Anda. Semua gunung itu terlempar ke atas seperti ribuan laron yang memenuhi udara atau kapas yang tertiup angin. Ahli geologi yang sudah mengenal seluk beluk bumi, pada hari kiamat itu juga akan heran, gugup dan penuh ketakutan. Tambang minyak, lahar panas, emas, intan dan semua isi perut bumi akan dimuntahkan.

Setelah semuanya berakhir, maka semua manusia mulai Nabi Adam sampai manusia terakhir akan dibangkitkan dari kuburan masing-masing. Malaikat Jibril pernah mengatakan bahwa Nabi SAW adalah orang pertama yang dibangkitkan, dan dialah juga yang akan memimpin semua manusia yang dibangkitkan itu menuju pengadilan Allah.

Dalam Surat Ali Imran ayat 106-107, Allah menjelaskan dua macam wajah manusia saat itu. “Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan), “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? karena itu rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu”. Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya”.

Di samping wajah yang hitam dan putih, dalam beberapa hadis, dijelaskan pula adanya manusia berwajah keledai, ada pula yang terhuyung-huyung kelelahan, selalu terjatuh dan terinjak-injak, dan ada pula yang berjalan dengan salah satu pundak yang miring. Semua tampilan itu sebagai hasil dari make-upnya sendiri selama hidup di dunia. Mereka yang berwajah putih, adalah yang ber-make-up dengan wudlu. Mereka yang terjatuh dan terinjak-injak orang, adalah mereka yang sudah terbiasa menginjak-injak hak-hak dan kehormatan manusia semasa hidupnya. Adapun orang yang berjalan dengan pundak yang miring, adalah mereka yang beristri lebih dari seorang dan bertindak tidak adil kepada mereka.

Bumi tidak hanya memuntahkan isi perutnya. Ia juga menjadi CCTV sepanjang zaman untuk merekam apa saja yang Anda lakukan. Alat perekam itu telah dipasang di semua tempat: dugem-disco, remang-remang arena pelacuran,  masjid, mushalla, gedung DPR/MPR dan sebagainya. Rasulullah SAW menjelaskan bagaimana pelaporan rekaman bumi tersebut.

وَعَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَرَأَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ اَخْبَارَهَا, ثُمَّ قَالَ: اَتَدْرُوْنَ مَا اَخْبَارَهَا؟ قَالُوْا: اَللهُ وَرَسُوْلُهُ اَعْلَمْ, قَالَ: فَاِنَّ اَخْبَارَهَا اَنْ تَشْهَدَ عَلَى كُلِّ عَبْدٍ اَوْاَمَةٍ بِمَا عَمِلَ عَلَى ظَهْرِهَا, تَقُوْلُ: عَمِلَ كَذَا فِى يَوْمٍ كَذَا وَكَذَا, فَهَذِهِ اَخْبَارُهَا. (روه الترمذى وقال حديث حسن)

Abu Hurairah r.a berkata, “Rasulullah SAW membaca ayat: “Yaumaidzin tuhadditsu akhbaraha (pada hari itu bumi menceritakan beritanya). Tahukah kamu sekalian, apa yang diberitakan oleh bumi itu?”. Para sahabat menjawab: “Allah dan RasulNya lebih tahu”. Beliau bersabda, “Berita bumi itu adalah bahwa bumi itu menjadi saksi atas segala perbuatan seorang laki-laki maupun perempuan yang dilakukan di atasnya. Bumi itu akan mengatakan, “Ia berbuat begini dan begitu pada hari ini dan hari itu”. Inilah yang diberitakan oleh bumi”. (HR. At-Turmudzi)

Mohammad bin ’Allan as-Shiddiqi mengatakan bumi akan berbicara dengan suara seperti suara manusia dan itu tidak sulit bagi Allah. Bumi melaporkan secara detail hasil rekamannya. Tidak cukup dengan kesaksian bumi, semua anggota badan Anda ikut berbicara memberi kesaksian. Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. (QS Yasin [36]:65).

Dalam ayat lain, Allah berfirman, ”Dan mereka berkata kepada kulit mereka, “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan Kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan”. (QS. Fushilat [41]:21)

Lengkaplah sudah alat perekam perbuatan manusia di semua sudut bumi. Semua alat perekam itu mendeteksi kita. Perbuatan baik sebesar debupun akan diketahui Allah dan akan dibalasnya. Demikian juga perbuatan dosa. Adapun hati, hanya Allah yang mengetahui lintasan sesamar apapun di dalamnya.

Jika Anda melakukan kebajikan, tapi tidak satupun orang memberi apresiasi, jangan gelisah. Jangan sekali-kali bersuka ria, jika kesalahan Anda itu berhasil ditutup-rapat dengan segala cara, sebab Allah pasti mengetahui dan bumi menjadi saksinya. Jika Anda memenangi perkara di pengadilan, padahal hati nurani Anda mengetahui bahwa Anda melakukan kebohongan dan tipudaya dengan kekuasaan dan uang, jangan bersorak-sorai. Ingatlah bumi menjadi saksi kebohongan Anda dan Allah pasti akan membalasnya. Allah Maha Mengetahui isi hati Anda.

Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (debu atau atom)pun, pastilah ia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula.Dua ayat penutup surat inilah yang oleh Abdullah bin Mas’ud disebut sebagai ayat paling lengkap cakupanya dan paling menggetarkan hati pembacanya. Saya yakin, Anda juga bergetar membaca kandungan surat ini. (Sumber beberapa Kitab Tafsir, Dalilul Falihin:I:245; Riyadus Sholihin I:358)

 

MEMOTRET DIRI MELALUI LENSA ILAHI

June 14th, 2013 | Posted by admin_tsb in Artikel - (6 Comments)

MEMOTRET DIRI MELALUI LENSA ILAHI

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

lensa

“Sungguh, telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?”. (QS. Al Anbiyak [21]:10).

Ayat di atas merupakan kelanjutan beberapa ayat sebelumnya yang menjelaskan fungsi para nabi dan rasul sebagi ahludz dzikri, rujukan atau tempat bertanya tentang agama, karena mereka telah dibekali wahyu Allah. Sebagai kelanjutan ayat tersebut, ayat ini menjelaskan bahwa, di samping mengutus para nabi dan  rasul, Allah juga menurunkan Kitab Suci untuk membimbing manusia ke jalan keselamatan dan kemuliaan.

Kata dzikrukum pada ayat di atas bisa diartikan sebutan tentang kamu atau sebutan untuk kamu atau pelajaran untuk kamu. Ibnu Abbas mengartikan kemuliaan untuk kamu (syarafukum). Diartikan sebutan tentang kamu atau sebutan untuk kamu, karena Al Qur’an  berisi kisah-kisah tentang kamu: bangsa Arab dan bangsa-bangsa lain sebagai pelajaran dan petunjuk agar kamu tetap berada di jalan yang benar.  Al Qur’an juga memberi pedoman dan manusia bisa memilih menjadi terhormat atau terhina, mulia atau tercela. Ayat diatas ditutup dengan teguran, “Mengapa kamu tidak menggunakan akal sehat untuk mengambil pelajaran Al Qur’an?”.

Ayat yang dikutip diatas sangat pendek. Tapi ayat itulah yang mendorong Al Ahnaf bin Qays membolak-balik lembaran-lembaran Al Qur’an. Ia ingin mengetahui ayat-ayat yang mengantarkan manusia kepada kemuliaan (dzikrukum), kemudian ingin melihat potret dirinya, apakah dia termasuk orang mulia dalam ayat-ayat itu atau orang hina.

Siapakah Al Ahnaf bin Qays?. Dia adalah sahabat yang lahir pada tahun ketiga sebelum hijrah. Nama aslinya Ad-Dhahhak, tapi lebih dikenal dengan nama Al Ahnaf yang artinya kaki bengkok. Kakinya memang seperti huruf X, tubuhya kecil, kepalanya botak, matanya cekung dan dagunya agak miring. Ketika Nabi SAW wafat, ia masih usia remaja. Ia pernah didoakan Nabi untuk ampunan Allah, dan itulah doa yang selalu menjadi kenangan dan harapan, “Itulah doa yang paling saya butuhkan pada hari kiamat nanti”.

Al Ahnaf adalah murid kesayangan Umar bin Khattab. Secara fisik, ia tidak meyakinkan. Tapi luar biasa pengaruhnya di masyarakat. Pemimpin Bani Tamim dan pejuang Islam ini sangat berwibawa. “Jika dia marah, seratus ribu orang bisa ikut marah tanpa tahu sebabnya” kata Muawiyah bin Abi Sufyan. Ia seperti singa ketika menghadapi musuh di medan perang karena keberaniannya, dan bagaikan patung ketika mendapat cacian orang karena kesabarannya. Setiap tengah malam, ia menyalakan lentera di samping tempat sujudnya. Sesekali meletakkan jarinya di atas lentera untuk mengingakan panasnya api neraka. Dialah muslim tauladan yang bisa membangun keseimbangan antara kesalehan pribadi dan kesalehan sosial.

Berbekal dorongan ayat di atas, Al Ahnaf mulai membuka-buka Al Qur’an, Tiba-tiba mata tertuju pada firman Allah Surat Adz-Dzariyat [51]: 17-18 ”Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di waktu pagi sebelum fajar, mereka  selalu memohon ampunan”.  Menurut ayat ini, orang yang bertakwa selalu salat malam, dan hanya memohon ampunan Allah SWT. Al Ahnaf bin Qays  meneteskan air mata dan berkata, ”Wahai Allah, sungguh saya tidak termasuk dari mereka yang Engkau sebutkan dalam firman-Mu ini”.

Dalam lembaran berikutnya, Al Ahnaf membaca Surat Ali Imran [3]: 134, ”(Orang-orang yang bertakwa adalah)… orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. Menurut ayat ini, orang-orang  bertakwa selalu menginfakkan harta setiap saat. Tidak menunggu sampai ia kaya atau berlebih. Mereka tidak hanya mengobral infak, tapi juga mengobral maaf dan kelapangan hati. Setelah diam sejenak, Al Ahnaf berkata, ”Wahai Allah,  saya tidak termasuk kelompok ini”.

Dalam lembaran Mushaf Al-Quran berikutnya, ia menjumpai Surat Al Hasyr [59]: 9 ”…..dan mereka mengutamakan (orang-orang lain), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapapun yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung”. Mereka yang dipuji Allah dalam ayat di atas adalah para sahabat penduduk asli Madinah yang memberi semua kebutuhan saudara-saudaranya yang hijrah dari Makkah, sekalipun mereka sendiri bukan orang berlebih. Mereka lebih banyak memikirkan kepentingan orang lain daripada diri sendiri. Bukan sebaliknya, seperti yang kita saksikan di negeri ini, mengorbankan orang banyak demi kepentingan diri, keluarga, kelompok atau partainya. Setelah membaca ayat ini, Al Ahnaf sekali lagi berkata, ”Wahai Allah, sungguh, saya tidak termasuk kelompok ini”.

Al Ahnaf melanjutkan pencarian ayat sambil berkata, “Wahai Allah aku belum menemukan potret diriku”. Kali ini ia membaca firman Allah Surat As Shaffat [37]:35-36 ”Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan melainkan Allah), mereka menyombongkan diri. Dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena (menikuti) seorang penyair gila?” Ayat ini menjelaskan adanya sekelompok orang yang acuh bahkan sinis ketika mendengar nasehat keagamaan. Mereka menganggap para penganjur kebajikan di tengah kemaksiatan sebagai orang-orang tak waras. Al Ahnaf bin Qays berkata, “Wahai Allah, jauhkan aku dari sifat-sifat yang tercela ini”.

Al Ahnaf tidak henti-hentinya membolak-balik mushaf Al-Qur’an sampai bertemulah Surat At Taubah [90]:102, ”Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka. Mereka mencampurbaurkan perbuatan yang baik dengan perbuatan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Melalui ayat inilah, Al Ahnaf bin Qays menemukan potret dirinya. Ia berkata, ”Wahai Allah, saya temasuk kelompok ini”. Ia menyadari bahwa sepanjang hidupnya ia mengerjakan dua hal yang berlawanan antara pahala dan dosa. Ia mengakui potret dirinya yang abu-abu, tidak jelas keimanan dan keislamannya.

Anda bisa melakukan seperti yang dilakukan Al Ahnaf bin Qays. Sudah sangat jelas diterangkan dalam Al Qur’an sifat-sifat orang mukmin, munafik, kafir dan seterusnya. Dari situlah Anda dapat mengetahui ”Siapa Anda sebenarnya”. Anda hanya bisa memotret diri, jika lensa Anda bersih dan tajam yaitu akal yang cerdas dan indera yang peka. ”Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya”. (QS. Qaf [50]:37).

 sumber gambar: http://www.sxc.hu/pic/m/b/br/brokenarts/182201_lens.jpg