Header

MENGGESER GUNUNG, MEMBELAH LAUT DENGAN SHALAT
Khutbah Jum’at Masjid Nasional Al Akbar 09 Mei 2014
Oleh: Prof. Dr. Moh Ali Aziz, M.Ag (Guru Besar UINSAS dan trainer/penulis buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia” www.terapishalatbahagia.net)

Hadirin yang terhormat

Saya diberi topik khutbah, “Inti dan Ruh Shalat.” Agar lebih hidup, saya ganti dengan topik, “Menggeser Bumi, Membelah laut dengan Shalat.” Saya akan memulainya dengan membacakan firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d [13] ayat 31:

sumber gambar: http://74211.com/wallpaper/picture_big/beautiful-nature-wallpaper-The-Blue-Wide-Sea-Divided-by-a-Narrow-Island-is-Clean-and-Impressive.jpg

sumber gambar: http://74211.com/wallpaper/picture_big/beautiful-nature-wallpaper-The-Blue-Wide-Sea-Divided-by-a-Narrow-Island-is-Clean-and-Impressive.jpg

“Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentulah Al Quran itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sungguh, Allah tidak menyalahi janji. (QS. Ar-Ra’d [13]:31).

Berkaitan dengan ayat di atas, ada peristiwa unik yang dialami seorang ibuyang hidup tertekan, tidak berdaya menghadapi kekerasan suaminya.Oleh temannya, si ibu disarankan untuk membaca ayat di atas setiap malam. Lalu, ia secara rutin melakukannya, sekalipun sama sekali tidak mengerti artinya. Beberapa bulan kemudian, secara mengejutkan, sang suami berangsur-angsur berubah, semakin melunak dan lebih santun. Karena itu, si ibu datang kepada saya untuk meminta penjelasankandungan ayat tersebut.

Ayat yang turun ketika Nabi masih berada di Mekah ini mempertegas ayat sebelumnya bahwa hati orang-orang kafir Mekah benar-benar membatu. Seandainya mereka menyaksikan Al Qur’an dapat mengoncangkan gunung-gunung, membelah bumi, atau menghidupkan orang yang telah mati, mereka tetap tidak akan beriman kepada Allah. Akan tetapi ayat ini juga dijadikan motivasi bagi Nabi untuk melakukan perubahan, sebab dalam ayat ini juga terkandung isyarat akan terjadinya revolusi besar: bangsa Arab yang telah mati jiwanya akan dihidupkan Allah SWT.

Melunakkan hati yang keras, menghidupkan jiwa yang mati, memfungsikan kembali mata yang buta dan telinga yang tuli bukanlah hal yang sulit bagi Allah. Semua makhluk ada dalam genggaman kekuasaan-Nya (bal lillahil amru jami’an).Atas usaha Nabi yang tiada henti, para pengembala unta dari penduduk pedalaman Arab (badwi)beberapa tahun kemudian menjadi pahlawan-pahlawan sejarah. Tokoh-tokoh elit penentang Nabi berbalik arah: masuk Islam dan kemudian memperkuat barisan Nabi. Mereka antara lain Umar bin Khattab, Khalid bin Walid, dan ‘Amr bin al-‘Ash. Dua kerajaan besar yang amat berpengaruh di kawasan Timur dan Barat pada waktu itu, yaitu Kerajaan Persia dan Romawi bertekuk lutut pada kekuasaan Islam.

Hadirin yang sangat terhormat

            Sengaja saya memilih ayat di atas untuk khutbah Jum’at pada bulan bernuansa isra’ mi’raj sekarang ini, semata-mata untuk meyakinkan kita semua, cahaya Allah yang dahsyat itu bisa diperoleh melalui shalat. Satu di antara doa dalam sujud kita adalah doa permohonan cahaya, bahkan memohon agar diri kita menjadi cahaya itu sendiri, “..waj’alni nura (dan jadikan diriku sebagai cahaya) (HR. Muslim, Ahmad dari Ibnu Abbas r.a). Shalat lima waktu benar-benar memberikan cahaya dan kekuatan iman yang menjadikan kita memiliki kapasitas berlipat untuk menghadapi tantangan apapun untuk sebuah cita-cita.

            Cahaya Allah tidak hanya kita butuhkan untuk menerangi diri agar terjauh dari dosa, tapi juga menerangi jiwa agar terpupus dari keputusasaan, lalu berubah menjadi hidup penuh harapan, memandang terbitnya mata hari di pagi hari sebagai lambang munculnya harapan-harapan baru. Dengan cahaya shalat, terik mentari menjadi penyemangat kerja sepanjang hari.

            Shalat tidak hanya menghasilkan pengampunan atas semua dosa dan mengantarkan kita ke surga, tapi juga bisa untuk membangun surga di dada. Artinya, orang Islam jangan hanya menunggu surga di alam baka. Mengapa kita tidak meraih surga sekarang juga? Mengapa banyak di antara kita yang telah shalat, namun masih menderita, gelisah, cemas, dan putus asa. Bagaimana mungkin mereka leading dalam ekonomi dan politik dunia. Dimana cahaya shalat kita?

Hadirin yang sangat terhormat.

            Dengan iman yang benar, kita tidak akan merasakan lelah untuk menempuh perjalanan sejauh apapun. Iman yang tangguh menjadikan kita berani menyeberangi laut yang penuh gelombang dan mendaki ke puncak gunung yang tertinggi. Ayat-ayat Al Qur’an yang kita baca dalam shalat harus dapat merubah pribadi yang lunglai dan putus asa untuk bangkit, dan yang bermental rendah diri menjadi percaya diri.

            Ayat-ayat Al Qur’an dan doa-doa dalam shalat kita harus disertai renungan mendalam sehingga menghasilkan keyakinan dan optimisme yang mantap akan kekuasaan, kasih dan keperkasaan Allah untuk menolong kita dalam semua hal. Tidak perlu menangisi takdir masa lalu, dan tidak perlu cemas membangun masa depan. Dengan sentuhan tangan Allah, semua yang sulit menjadi mudah, yang berat terasa ringan, dan yang menurut perkiraan hanya impian, benar-benar menjadi kenyataan (dreams come true), sebab Allah berfirman dalam ayat di atas, “bal lillahil amru jami’an” (semua dalam genggaman Allah).

           Mintakan cahaya itu untuk diri sendiri, suami, istri, anak atau untuk siapa saja melalui shalat. Sudah saatnya, kita akhiri sekarang juga kebiasaan shalat yang hanya raga tanpa nyawa, hanya gerakan tanpa renungan, atau hanya shalat robot, tanpa hati. Optimislah menghadapi semua persoalan hidup dengancahaya Al-Qur’an dan cahaya shalat. Saya yakin kita bisa menggoyang jagat dengan shalat. Geserlah “gunung,” belahlah “bumi,” hidupkan “orang mati” dengan shalat. Dengan semangat itulah, kita bisa menggenggam dunia, membangun surga di dada dan memasuki surga di alam baka.

JIHAD MENUJU MAKRIFAT

April 30th, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel - (4 Comments)

JIHAD MENUJU MAKRIFAT
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/83/Wind_turbine_dawn.JPG

sumber gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/83/Wind_turbine_dawn.JPG

”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami, dan sungguh Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Ankabut[29]:69)

Ayat diatas adalah salah satu dari ayat-ayat tentang jihad, tapi bukan jihad dengan samurai atau bom, seperti yang diartikan secara sempit oleh sebagian orang. Melalui ayat penutup surat Al Ankabut yang turun di Mekah ini, Allah memberi jaminan petunjuk bagi siapapun yang melakukan jihad (bekerjakeras) untuk mencari kebenaran. Ayat ini merupakan kelanjutan ayat sebelumnya tentang murka Allah kepada orang-orang yang mengabaikan perintah Rasul, padahal utusan Allah itu telah menyampaikan ajaran kitab suci dengan jelas dan terang. Mereka tidak bisa menangkap cahaya kebanaran karena tidak berusaha dengan sungguh-sungguh (jihad) untuk mencarinya.

Beberapa ahli tafsir memberikan penafsiran yang beragam tentang ayat di atas. Menurut Al Alusi dalam TafsirRuhul Ma’ani, maksud ayat di atas adalah, ”Siapapun yang berjihad dalam mencari ridla Allah, akan diberi tambahan petunjuk dan kemudahan untuk sampai kepada-Nya.” Ibnu Abbas dalam Tanwirul Miqbas memberikan tafsir bahwa, ”Siapaun yang berjihad untuk taat kepada Allah sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki, ia akan diberi tambahan petunjuk dan pengetahuan baru untuk bisa meningkatkan ketaatannya kepada Allah. Allah Maha Menolong orang yang berusaha meningkatkan kebajikan dalam tutur dan tindakannya.” Menurut Hamka dalamTafsir Al Azhar, ayat di atas merupakan jaminan petunjuk bagi siapapun yang menyediakan dirinya menempuh jalan Allah. Tujuan mereka hanya satu, yaitu Allah dan tekadnya telah bulat, yaitu ridla Allah. Ia berjihad: mendaki bukit betapapun tingginya, menyeberangi laut berapapun luasnya, dan mengurbankan harta bahkan jiwa raga untuk meraih ridla-Nya.

   Allah memang Maha Dekat dengan hamba-Nya. Akan tetapi untuk bisa benar-benar dekat, manusia harus berusaha dengan penuh kesungguhan. Tanpa kesungguhan, ia tidak akan bisa mendobrak dinding hawa nafsu yang menyekat dirinya dengan Allah SWT. Oleh sebab itu, Imam Al Qusyairi dalam Tafsir Al Qusyairi menjelaskan ayat di atas lebih sufistik, bahwa siapapun yang berjihad dalam ibadah lahiriyah, akan memperoleh kelembutan batiniah. Untuktujuan itu, setiap orang harus menempuh lima jihad. Pertama, meninggalkan yang haram; kedua, meninggalkan yang samar: diragukan halal haramnya(syubhat); ketiga, meninggalkan hal-hal duniawi yang sekunder (al-fudlolat); keempat memutus ketergantungan kepada makhluk Allah; dan kelima, menghindari kesibukan yang tidak bermakna sepanjang waktu.

Pada ujung ayat, Allah berfirman ” dan sungguh, Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik (muhsin)”. Orang yang muhsin tidak hanya memandang agama secara formal namun juga fungsional. Tidak hanya meninggalkan yang haram, tapi juga perbuatan yang makruh atau yang tidak bermakna, sekalipun tidak dilarang. Tidak hanya menjalankan yang wajib, namun juga yang sunnah sebanyak-banyaknya. Tidak hanya berpedoman keabsahan ibadah semata, namun juga kehadiran hati dan kekhidmatan. Tidak hanya memandang ibadah dari segi kulitnya, namun lebih pada isi atau hakekatnya. Inilah ladang jihad untuk lebih dekat kepada Allah. Allah SWT pasti memberi kemudahan bagi setiap orang yang mendekat kepada-Nya, bagaikan magnit besar yang menarik dengan cepat butir-butir pasir besi yang mendekatinya. Ketika masih jauh dari magnit, harus ada usaha untuk mendekatkan butir-butir pasir besi itu. Namun ketika sudah dekat magnit, ia tidak perlu mendekat, karena magnit itulah yang secara aktif menariknya. Ia benar-benar telah menjadi kekasih Allah (waliyullah). Mohammad bin Allan Ash-Shiddiqi dalam Dalilul Falihin mendefinisikan waliyullah orang yangamat dekat dengan Allah karena pendekatannya (taqarrub) yang tiada henti kepada-Nya dengan menjalankan kewajiban, meninggalkan larangan, memperbanyak perbuatan sunnah, dengan cahaya makrifatnya, ia melihat Allah dalam setiap makhluk-Nya, tidak mendengar kecuali ayat-ayat Allah, tiada berucap kecuali pujian untuk Allah dan tidak bertindak kecuali untuk ketaatan kepada Allah. Ia telah mengenal lebih dekat siapa diri dan siapa Tuhannya (ma’rifat). Dalam keadaan demikian, maka Allah telah menjadi sensor semua inderanya dan motor dalam semua langkahnya.

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, اِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ اَذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ, وَمَاتَقَرَّبُ اِلَىَّ عَبْدِىْ بِشَىءٍ اَحَبَّ اِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ, وَمَا يَزَالُ عَبْدِىْ يَتَقَرَّبُ اِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى اُحِبَّهُ, فَاِذَا اَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِىْ يُبْصِرُبِهِ وَيَدُهُ الَّتِى يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا وَلَئِنْ سَاَلَنِى َلاُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى َلاُعِيْذَنَّهُ. (رواه البخارى)

”Rasulullah SAW bersabda, ”Allah SWT berfirman, “Barangsiapa memusuhi kekasih-Ku (waliyullah), maka Aku menyatakan perang kepadanya. Yang paling Aku senangi dari apa yang dikerjakan hamba-Ku untuk mendekatkan dirinya kepada-Ku adalah ketika ia mengerjakan apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dia lalu tiada henti mendekatkan diri kepada-Ku dengan mengerjakan beberapa yang sunah, sehingga Aku menyintainya. Apabila Aku menyintainya, maka Aku adalah telinga yang ia gunakan untuk mendengar. Aku adalah mata yang digunakan untuk melihat, Aku adalah tangan yang dipergunakan untuk menyerang, dan Aku adalah kaki yang digunakan untuk melangkah. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku akan mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan dari-Ku, Aku pasti akan melindunginya.” (HQR. Bukhari dari Abu Hurairah r.a)

عَنْ اَنَسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ عَزَّوَجَلَّ, قَالَ: اِذَاتَقَرَّبَ الْعَبْدُ اِلَىَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ اِلَيْهِ ذِرَاعًا, وَاِذَاتَقَرَّبَ اِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا, وَاِذَا اَتَانِىْ يَمْشِ اَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً. (رواه البخارى)

Allah SWT berfirman,”Bila seseorang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta, bila ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa, dan bila ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku menyambutnya dengan berlari.”(HQR. Bukhari dari Anas r.a)

Betapa mulia para kekasih Allah (waliyullah) itu. Mereka telah makrifat atau memahami dengan benar keberadaan diri dengan segala kekuarangannya di hadapan Allah. Adakah orang sejenis ini di lingkungan kita? Saya yakin ada, namun hanya Allah Yang Maha Mengetahui siapa dia. Bisa jadi, ia adalah Anda sendiri, sekalipun tidak pernah ada orang memanggil Anda ustadz atau kiai. Predikat waliyullah tidak ada hubungannya dengan simbol-simbol penampilan fisik dan pakaian, apalagi mengaku diri sebagai waliyullah. Setiap Anda mempunyai hak menjadi waliyullah asalkan ada kesungguhan usaha ke arah itu. ”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, mereka benar-benar akan Kami tunjukkan kepada jalan-jalan kamiMaukah?

(Sumber: Hadits Riyadus Shalihin I:115, Kitab-kitab Tafsir, Dalilul Falihin I: 226)

MENDAKI DENGAN RENDAH HATI

April 20th, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

MENDAKI DENGAN RENDAH HATI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://minaka.blogdetik.com/files/2011/12/rendah-hati-di-ketinggian-300x225.jpg

sumber gambar: http://minaka.blogdetik.com/files/2011/12/rendah-hati-di-ketinggian-300×225.jpg

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) mereka yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) kedamaian.” (QS. Al Furqan [25]:63)

Ayat di atas termasuk ayat yang sering dibaca oleh imam shalat di semua negara. Juga ayat yang paling sering dikutip untuk menjelaskan sifat tawadlu (rendah hati) yang harus dimiliki setiap muslim. Pada ayat-ayat sebelumnya (ayat 56-62), Allah SWT menunjukkan diri-Nya dengan tindakan nyata sebagai Tuhan Maha Pengasih kepada semua makhluk-Nya. Ia menciptakan langit dan bumi, bintang-bintang di langit untuk menerangi bumi, serta pergantian siang dan malam, yang semuanya untuk kelangsungan dan kenyamanan hidup makhluk-Nya. Tidak hanya menyediakan sarana fisik, Allah SWT juga mengutus rasul untuk membimbing mereka secara gratis dengan cara persuasif. Para rasul hanya diberi tugas memberi berita yang menyenangkan bagi yang taat kepada Allah dan ancaman siksa bagi yang menolaknya. Nabi SAW tidak boleh bersedih atau marah atas sikap mereka: menolak atau menerima ajakannya. Nabi SAW dilarang keras melakukan pemaksaan apalagi kekerasan.

Setelah Allah membuktikan kasih-Nya kepada semua makhluk, barulah Ia memerintahkan manusia untuk bertindak penuh kasih dan bersikap rendah hati. Allah SWT secara tidak langsung memberi pelajaran kita, “Jangan menyuruh anak, istri, suami dan siapapun untuk bersikap mengasihi dan rendah hati, sebelum Anda memberi ketauladanan untuk hal yang sama.”

Ada dua macam tawadlu’ yaitu kepada Allah dan kepada sesama manusia. Tawadlu kepada Allah berupa kesungguhan menerima perintah Allah tanpa mempertimbangkan rasional atau tidaknya, dan menerima apapun pemberian Allah dengan senang hati. Sedangkan tawadlu kepada manusia berupa sikap tenang, sederhana, tidak merasa lebih dari orang lain, apalagi merendahkannya, dan menjadikan sesamaa muslim benar-benar sebagai saudaranya. Demikian definisi yang dikemukakan oleh kebanyakan ahli hakekat atau ahli tasawuf.

Orang yang tawadlu’ atau disebut mutawadli’ tidak menyombongkan diri atas apapun yang dimiliknya . Dalam ayat di atas juga disebutkan, “..dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) kedamaian.” Yang dimaksud orang bodoh di sini adalah mereka yang tidak mengerti jalan pikiran, visi dan misi kita, sekalipun mungkin saja mereka sarjana S1, S2 atau S3. Orang bodoh selalu nampak kebodohannya dalam tutur katanya. Mereka miskin perbendaharaan kata dan tidak faham dengan etika, sehingga seringkali perkataanya amat menyakitkan dan menjengkelkan kita. Imam As-Suyuthy berkata, “ma kana kabirun fi ‘ashrin illa kana lahu ‘aduwwun minassalafah”/Orang besar di setiap generasi selalu dimusuhi orang yang tidak memahaminya.” Orang tawadlu’ selalu senyum dan berkata lembut, penuh sopan santun dalam menjawab ejekan atau cemoohan orang bodoh. Anda tidak perlu gusar dan terkejut dengan para pengejek, sebab dalam Al-Qur’an (Al Mai-dah [5]:54) disebutkan adanya “laumata laa-im” yaitu orang yang berhobi mengolok-olok. Dalam bahasa kelakar, “Sehari tanpa ejekan, ia terkena sariawan.”

Apakah orang rendah hati bisa mendaki menuju panggung kejayaan dan kesuksesan? Untuk menjawab ini, Rasulullah SAW pernah memberi pelajaran para sahabat dengan metode aktivasi otak kanan, yaitu menelungkupkan telapak tangan, lalu membaliknya, sambil bersabda, “Allah SWT berfirman, “Siapa yang tawadlu demi Aku, maka Aku akan mengangkat derajatnya.” (HQR. Ahmad, Bazzar, Abu Ya’la dan At Thabrani dari Umar r.a). Agar otak kanan Anda juga berfungsi, coba gerakkan telapak tangan Anda, sebagaimana yang dilakukan Nabi SAW. Dalam kesempatan lain, Nabi SAW bersabda dengan pesan yang sama, “Man tawadla’a lillahi rafa‘ahullah /siapa yang tawadlu demi Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya” (HR Abu Na’im dari Abu Hurairah r.a)

Nabi SAW tidak pernah berbicara tetang sesuatu, sebelum ia sendiri memberi contoh ketauladanan. Nabi SAW sangat sayang dan akrab dengan anak-anak, sehingga mereka tidak jarang bergelayutan manja kepadanya. Silakan introspkesi, mengapa Anda tidak menyapa anak-anak kecil yang Anda jumpai ketika memasuki masjid? Mengapa justeru wajah Anda menakutkan bagi mereka? Nabi SAW menyapu rumahnya, memerah susu sendiri, menggiling gandum bergantian dengan pembantunya, makan bersama pembantu, dan berbelanja sendiri ke pasar. Bagaimana dengan Anda? Semoga Anda tidak termasuk suami yang serba memerintah istri ataupun pembantu, seolah-olah Anda raja dan istri atau pembantu Anda sebagai hamba. Nabi SAW mendahului menyapa dan mengucapkan salam kepada setiap orang yang dijumpai. Silakan introspeksi sekali lagi, mengapa Anda kadangkala merasa senior dan terhormat, lalu memandang orang lain lebih pantas menyapa Anda terlebih dahulu? Nabi SAW selalu menolak diberi tempat duduk khusus dalam setiap pertemuan, juga menolak digelarkan tikar untuknya. Semoga Anda bukan sejenis orang yang pernah saya jumpai: “orang besar” yang merasa dilecehkan karena tidak diberi tempat yang terhormat dalam sebuah perhelatan, lalu marah-marah di atas podium, berpidato singkat dan meninggalkan acara dengan hati dongkol.

Maukah Anda dijelaskan lebih lanjut tentang tawadlu’ Nabi? Rumah Nabi SAW bertipe 5-S (Sangat Sempit, Sederhana, dan Sulit Selonjor). Karenanya, Nabi SAW seringkali harus menggeser kaki istrinya, Aisyah ketika ia bersujud. Alas tidur Nabi SAW hanya lembaran pelepah kurma, sehingga ketika bangun untuk shalat malam, Aisyah mengambil beberapa kerikil yang menempel di punggungnya terlebih dahulu. Mengapa Anda selalu mengeluh soal rumah, padahal lebih luks daripada rumah Nabi SAW, lalu mencari pinjaman bank untuk merehabnya, padahal tidak terlalu mendesak?

Nabi SAW mendatangi undangan siapa saja, termasuk orang paling miskin. Ia juga selalu membalas pemberian hadiah orang. Jika bercanda, Nabi SAW selalu menjauhi canda yang mengandung dusta, dan tidak pernah tertawa terbahak-bahak. Mengapa Anda kadangkala terpancing meladeni canda orang yang tak bermutu, bahkan berlebihan sampai menimbulkkan ketersinggungan orang lain, atau canda berbau porno? Nabi SAW selalu menghadapkan muka dengan serius untuk mendengarkan orang yang berbicara dengannya. Sebagai introspeksi terakhir, mengapa anak-anak Anda terus bermain hand-phone, padahal guru atau orang tuanya sedang berbicara serius kepadanya? Atau jangan-jangan yang melakukan itu Anda sendiri.

Rendah hati sama sekali bukan berarti menunjukkan kelemahan dan kerendahan diri. Rendah hati justru mengundang simpati dan menjadi daya tarik yang luar biasa bagi orang lain untuk bekerjasama dengan Anda. Orang selalu mencari padi yang menunduk, sebab ia pasti berisi. Sekali lagi, tulungkupkan telapak tangan Anda, kemudian balik dan angkatlah, sambil berkata kepada diri sendiri, “Jika aku rendah hati, Allah pasti memudahkan kesuksesanku esok hari.”