Header

DOA SHOLAWAT SURGA

July 11th, 2013 | Posted by admin_tsb in Doa-doa - (4 Comments)

DOA SHOLAWAT SURGA

(Moh. Ali Aziz, malzis@yahoo.com; Surabaya 10 Juli 2013)

 

Allahumma sholli ‘ala Muhammad; Allahummarzuqna fid dun-ya ziyaratahu, wafil akhirati syafa’atahu, wabil jannati ru’yatahu wamurafaqatahu.
Wahai Allah, berikan sholawat kepada Nabi Muhammad.  Mudahkan kami sekeluarga dan kedua orang tua untuk beribadah umrah dan haji di Mekah, serta shalat di Raudhah dekat makam Nabi di Madinah. Pertemukan kami sekeluarga dengannya di surga.

Allahumma sholli ‘ala Muhammad;  Allahummaj’alna min khiyari ummatihi, wassa-irina yaumal qiyamati tahta liwa-ihi
Allahumma sholli ‘ala Muhammad.
Wahai Allah, jadikan kami orang-orang pilihan Nabi Muhammad. Bariskan kami pada hari kiamat di bawah benderanya.

Allahumma sholli ‘ala Muhammad;  Ista’mil alsinatana fi mad-hihi wanushrotihi
Allahumma sholli ‘ala Muhammad. Jadikan lidah kami tiada henti bersholawat kepada Nabi Muhammad dan bersemangat menyebarkan ajaran yang dibawanya.

Allahumma sholli ‘ala Muhammad; Ahyina mutamassikina bitho’atihi wamahabbatihi, wa-amitna ‘ala sunnatihi wajama’atihi.
Allahumma sholli ‘ala Muhammad.
Hidupkan kami dengan penuh ketaatan dan cinta kepada Nabi Muhammad. Matikan kami dalam keadaan tetap berpegang teguh pada sunnah dan jama’ahnya.

Allahumma sholli ‘ala Muhammad; Adkhilna ma’ahul jannata fainnahu awwalu man yadkhuluha, wa-anzilna ma’ahu fi qushuriha fainnahu awwalu man yanziluha
Allahumma sholli ‘ala Muhammad.
Masukkan kami ke surga bersama Nabi Muhammad, sebab dialah yang pertama kali memasukinya. Ijinkan kami menikmati istananya di surga bersamanya, sebab dialah yang pertama kali menempatinya.

KIAT HIDUP 3800 TAHUN

June 27th, 2013 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

KIAT HIDUP 3800 TAHUN

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Allah menciptakan kalian, kemudian mewafatkan kalian; dan diantara kalian ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. An-Nahl [16]:70)

Jeanne Louise Calment (Perancis, usia 122 th)

Jeanne Louise Calment (Perancis, usia 122 th)

Beberapa ayat sebelumnya, Allah menjelaskan, untuk kelangsungan hidup dan kenikmatan manusia, Allah telah menurunkan air dari langit untuk menyuburkan tanaman dan menghasilkan buah kurma, anggur dan sebagainya. Lebah juga diberi “wahyu” oleh Allah untuk menghisap bunga dan membuat rumah yang bagus agar menghasilkan madu untuk kekuatan dan obat bagi manusia. Sayang, sebagian manusia tidak mensyukuri anugrah Allah itu. Sebaliknya, mereka menggunakan buah-buahan itu untuk minuman memabukkan. Pada ayat yang dikutip di atas, Allah menegaskan bahwa sesehat apapun, usia manusia ada batasnya. Kematian itu disebabkan karena usia tua atau karena kecerobohan pola makan dan minum. Sebagian mereka meninggal pada usia muda dan sebagian yang lain diberi panjang usia.

Sangat manusiawi, jika Anda bersedih karena salah satu keluarga Anda meninggal pada usia muda. Tapi, sebaiknya Anda berbaik sangka kepada Allah. Bisa jadi, ia diwafatkan oleh Allah agar ia menghadap-Nya ketika masih dalam keadaan beriman. Tidak jarang orang shaleh ketika muda, lalu banyak maksiat ketika tua dan mati dalam keadaan tercela. Rasulullah SAW sendiri mengajarkan doa,”Wahai Allah, jika Engkau berkehendak rusaknya suatu masyarakat, maka wafatkan aku sebelum terkena pengaruh negatif itu. (HR Ahmad dari Mu’adz bin Jabal r.a). Umur yang terbaik bukan dilihat dari kuantitas namun kualitasnya. Usia yang pendek namun penuh kebaikan jauh lebih baik daripada usia 100 tahun, tapi penuh dosa. Kita berharap panjang usia, panjang pula pahalanya. ”Orang yang terbaik adalah yang panjang umurnya dan baik perbuatannya” (HR Ahmad dari Abu Bakrah r.a.). Tentu, yang kita harapkan usia panjang yang tidak sampai pada keadaan ardzalil ’umur (usia lemah alias pikun) sehingga menjadi beban bagi keluarga.

Rasulullah SAW diberi hidup oleh Allah SWT 63 tahun Hijriyah atau 61 tahun Masehi. Bagi orang sesuci beliau, cukuplah usia itu untuk menghadap Allah. Beliau tekun beribadah dan selalu menangis setiap memohon ampunan, padahal ia tidak punya dosa. Bagi kita, usia 61 tahun terlalu singkat untuk mengumpulkan bekal menghadap Allah SWT dan menghapus dosa kita yang menumpuk.  Kita harus berusaha hidup lebih lama dari usia Nabi SAW. Mungkin idealnya dua kali lipat dari usia Nabi: 122 tahun seperti usia wanita tertua di dunia, Jeanne Louise Calment di Perancis (meningggal 1997 dalam usia 122). Untuk itu, kita wajib menjaga kesehatan dengan pola hidup sehat, membangun keakraban dengan sanak famili dan bergaul sebanyak-banyaknya dengan orang lain di masjid, majlis dzikir, perkumpulan olah raga dan sebagainya. Rasulullah SAW bersabda,”Barangsiapa ingin dimudahkan rizkinya dan ditunda ajalnya (dipanjangkan usianya) hendaklah ia menyambung tali persaudaraan” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik r.a). Dr. Nil Barzilai, direktur Albert Einstein College of Medicine’s Institute for Aging Research di New York menyimpulkan mereka yang panjang umur adalah yang selalu positif dalam hidupnya: optimistis, mudah bergaul, extrovert, lebih banyak tertawa dan emosi yang terungkap. (Strait Time)

Berdasar hadis di atas, timbul pertanyaan: bisakah umur manusia diperpanjang? Muhammad Ibrahim An-Nu’aim dalam bukunya Kaifa Tuthilu Umrakal Intajiy (Misteri Panjang Umur) menjawabnya dengan mengutip tiga pendapat ulama. Pertama, menambah jatah umur manusia bukanlah hal yang sulit bagi Allah. Sekalipun umur manusia telah ditulis di sisi-Nya, namun adalah hak mutlak bagi-Nya untuk  merubah atau menghapusnya. Nabi dan Malaikat tidak bisa melakukannya. “Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh) (QS.Ar-Ra’d [13]:39).

Dengan kekuasaan mutlak Allah itu, bisa saja seseorang telah ditetapkan batas umurnya, namun karena ia berbaik-baik dengan sanak famili dan sebanyak-banyak orang, lalu Allah SWT merubah catatan-Nya untuk memberi tambahan umur kepadanya.

Kedua, yang dipanjangkan Allah SWT adalah keharuman nama setelah kematian seseorang. Ketika hidup, ia banyak bersedekah, sehingga pahalanya tetap mengalir kepadanya (shadaqah jariyah). Atau ia amat terkenal kebaikannya, sehingga setelah matinya, banyak orang menyebut-nyebut kebaikan itu. Semakin lama, semakin harum namanya. Nabi Ibrahim berdoa, ”Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian” (QS. As-Syu’ara [26]:84).

Ketiga, umur manusia tidak bisa ditambah atau dikurangi, karena sudah ditetapkan Allah sebelum kelahirannya (QS. Fathir [35]: 11 dan Qs Al A’raf [7]:34). Kita hanya bisa meminta tambahan keberkahan usia. Artinya hitungan usia kita memang pendek, namun karena banyak ibadah, usia yang pendek itu menandingi usia ratusan tahun orang lain, khususnya umat sebelum nabi Muhammad SAW. Misalnya, usia sehari bisa dinilai Allah setara dengan lima tahun. Setahun setara dengan 3.800 tahun. Caranya? Ikuti petunjuk Rasulullah SAW berikut, “Barangsiapa berjalan ke masjid untuk shalat fardlu secara berjamaah, maka shalatnya setara dengan sekali ibadah haji. (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Shalat berjamaah lima kali sehari sama dengan lima kali ibadah haji. Haji dikerjakan setahun sekali. Berarti, jika Anda shalat berjamaah di masjid setahun penuh (360 hari) tanpa absen, maka usia setahun itu sama dengan 3.800 tahun. Pada bulan suci Ramadlan, bonus untuk nilai usia Anda jauh lebih dahsyat. Semalam lailatul qadar sama dengan usia 83 tahun.

Demi usia yang berkualitas itulah, maka para sahabat dan orang-orang shaleh terdahulu tidak melewatkan waktunya dengan sia-sia. Abdullah bin Mas’ud berkata, ”Aku tidak pernah menyesali apapun melebihi penyesalanku akan terbenamnya matahari. Umurku berkurang sedangkan ibadahku tidak bertambah.” Dawud at-Tha’i lebih suka meminum fatiit (sup roti) daripada makan roti. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab, ”Minum sup roti lebih cepat. Waktu untuk mengunyah roti cukup untuk membaca 50 ayat al-Qur’an”. Majduddin Abul Barakat, kakek Ibnu Taimiyah tidak mau waktunya lewat tanpa memperoleh ilmu. Jika ia akan masuk kamar kecil, ia menyuruh seseorang untuk membacakan sebuah buku dengan suara keras agar ia bisa mendengarnya selama buang hajat itu. Sebagian ulama terdahulu selalu membaca al-Qur’an dalam perjalanan ke mana saja. Oleh karena itu, ia mengukur jarak perjalanan dengan jumlah ayat al-Qur’an”.  Begitulah usaha memperpanjang umur dengan kualitas keberkahan.

Menurut Nabi SAW, “Umur umatku antara 60-70 tahun, dan hanya sedikit yang lebih dari itu” (HR At Tirmidzi dari Abu Hurairah r.a). Sekali lagi, Anda harus berusaha hidup melebihi usia Nabi SAW. Tapi, jika Allah menghendaki usia Anda lebih pendek, Anda tetap berbahagia, karena usia sependek itu telah setara dengan ratusan ribu tahun berkat kebaikan yang Anda lakukan. Maukah?

sumber foto: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/7/7f/Jeanne-Calment-1996.jpg/220px-Jeanne-Calment-1996.jpg

KAMERA TERCANGGIH PENGINTAI ANDA

June 21st, 2013 | Posted by admin_tsb in Artikel - (3 Comments)

KAMERA TERCANGGIH PENGINTAI ANDA

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

bumi

sumber gambar: http://sathiyam.tv/english/wp-content/uploads/2013/01/Earth-Landscape-Art.jpg

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya, “Mengapa bumi (menjadi begini)?”. Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan beraneka, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) atas perbuatan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (debu atau atom)pun, pastilah ia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula. (QS al-Zalzalah [99]:1-8)

Inilah Surat Al-Qur’an yang disebut Rasulullah SAW sebagai ”Surat Separuh Al-Qur’an” (HR at-Tirmidzi dari Ibnu Abbas). Surat ini memuat tiga pesan penting. Pertama, suasana hari kiamat. Kedua, kesaksian bumi atas semua perbuatan manusia. Ketiga, ketelitian pemeriksaan Allah terhadap perbuatan manusia dan jenis balasannya. Saya yakin hati Anda bergetar terkena sentuhan ”Surat Separuh Al-Qur’an” ini.

Salah satu pokok keimanan dalam Islam adalah percaya adanya hari kiamat. Pada hari berakhirnya semua kehidupan itu, bumi diguncang dengan dahsyat melebihi guncangan yang pernah disaksikan manusia sebelumnya. Begitu kerasnya goncangan, sampai gunung seberat apapun terlempar tinggi ke atas. Apalagi makhluk sekecil Anda. Semua gunung itu terlempar ke atas seperti ribuan laron yang memenuhi udara atau kapas yang tertiup angin. Ahli geologi yang sudah mengenal seluk beluk bumi, pada hari kiamat itu juga akan heran, gugup dan penuh ketakutan. Tambang minyak, lahar panas, emas, intan dan semua isi perut bumi akan dimuntahkan.

Setelah semuanya berakhir, maka semua manusia mulai Nabi Adam sampai manusia terakhir akan dibangkitkan dari kuburan masing-masing. Malaikat Jibril pernah mengatakan bahwa Nabi SAW adalah orang pertama yang dibangkitkan, dan dialah juga yang akan memimpin semua manusia yang dibangkitkan itu menuju pengadilan Allah.

Dalam Surat Ali Imran ayat 106-107, Allah menjelaskan dua macam wajah manusia saat itu. “Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan), “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? karena itu rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu”. Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya”.

Di samping wajah yang hitam dan putih, dalam beberapa hadis, dijelaskan pula adanya manusia berwajah keledai, ada pula yang terhuyung-huyung kelelahan, selalu terjatuh dan terinjak-injak, dan ada pula yang berjalan dengan salah satu pundak yang miring. Semua tampilan itu sebagai hasil dari make-upnya sendiri selama hidup di dunia. Mereka yang berwajah putih, adalah yang ber-make-up dengan wudlu. Mereka yang terjatuh dan terinjak-injak orang, adalah mereka yang sudah terbiasa menginjak-injak hak-hak dan kehormatan manusia semasa hidupnya. Adapun orang yang berjalan dengan pundak yang miring, adalah mereka yang beristri lebih dari seorang dan bertindak tidak adil kepada mereka.

Bumi tidak hanya memuntahkan isi perutnya. Ia juga menjadi CCTV sepanjang zaman untuk merekam apa saja yang Anda lakukan. Alat perekam itu telah dipasang di semua tempat: dugem-disco, remang-remang arena pelacuran,  masjid, mushalla, gedung DPR/MPR dan sebagainya. Rasulullah SAW menjelaskan bagaimana pelaporan rekaman bumi tersebut.

وَعَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَرَأَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ اَخْبَارَهَا, ثُمَّ قَالَ: اَتَدْرُوْنَ مَا اَخْبَارَهَا؟ قَالُوْا: اَللهُ وَرَسُوْلُهُ اَعْلَمْ, قَالَ: فَاِنَّ اَخْبَارَهَا اَنْ تَشْهَدَ عَلَى كُلِّ عَبْدٍ اَوْاَمَةٍ بِمَا عَمِلَ عَلَى ظَهْرِهَا, تَقُوْلُ: عَمِلَ كَذَا فِى يَوْمٍ كَذَا وَكَذَا, فَهَذِهِ اَخْبَارُهَا. (روه الترمذى وقال حديث حسن)

Abu Hurairah r.a berkata, “Rasulullah SAW membaca ayat: “Yaumaidzin tuhadditsu akhbaraha (pada hari itu bumi menceritakan beritanya). Tahukah kamu sekalian, apa yang diberitakan oleh bumi itu?”. Para sahabat menjawab: “Allah dan RasulNya lebih tahu”. Beliau bersabda, “Berita bumi itu adalah bahwa bumi itu menjadi saksi atas segala perbuatan seorang laki-laki maupun perempuan yang dilakukan di atasnya. Bumi itu akan mengatakan, “Ia berbuat begini dan begitu pada hari ini dan hari itu”. Inilah yang diberitakan oleh bumi”. (HR. At-Turmudzi)

Mohammad bin ’Allan as-Shiddiqi mengatakan bumi akan berbicara dengan suara seperti suara manusia dan itu tidak sulit bagi Allah. Bumi melaporkan secara detail hasil rekamannya. Tidak cukup dengan kesaksian bumi, semua anggota badan Anda ikut berbicara memberi kesaksian. Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. (QS Yasin [36]:65).

Dalam ayat lain, Allah berfirman, ”Dan mereka berkata kepada kulit mereka, “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan Kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan”. (QS. Fushilat [41]:21)

Lengkaplah sudah alat perekam perbuatan manusia di semua sudut bumi. Semua alat perekam itu mendeteksi kita. Perbuatan baik sebesar debupun akan diketahui Allah dan akan dibalasnya. Demikian juga perbuatan dosa. Adapun hati, hanya Allah yang mengetahui lintasan sesamar apapun di dalamnya.

Jika Anda melakukan kebajikan, tapi tidak satupun orang memberi apresiasi, jangan gelisah. Jangan sekali-kali bersuka ria, jika kesalahan Anda itu berhasil ditutup-rapat dengan segala cara, sebab Allah pasti mengetahui dan bumi menjadi saksinya. Jika Anda memenangi perkara di pengadilan, padahal hati nurani Anda mengetahui bahwa Anda melakukan kebohongan dan tipudaya dengan kekuasaan dan uang, jangan bersorak-sorai. Ingatlah bumi menjadi saksi kebohongan Anda dan Allah pasti akan membalasnya. Allah Maha Mengetahui isi hati Anda.

Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (debu atau atom)pun, pastilah ia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula.Dua ayat penutup surat inilah yang oleh Abdullah bin Mas’ud disebut sebagai ayat paling lengkap cakupanya dan paling menggetarkan hati pembacanya. Saya yakin, Anda juga bergetar membaca kandungan surat ini. (Sumber beberapa Kitab Tafsir, Dalilul Falihin:I:245; Riyadus Sholihin I:358)