Header

SHALAT INNA LILLAH

November 15th, 2013 | Posted by admin_tsb in Artikel - (9 Comments)

SHALAT INNA LILLAH
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

2“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain” (QS. Thaha [20]:55)

Ayat di atas menjelaskan, Anda diciptakan dari tanah, lalu dikembalikan ke tanah: mati, dan dari tanah itu pula Anda akan dihidupkan kembali. Bumi yang Anda injak setiap hari ini menghasilkan tumbuh-tumbuhan dan makanan yang berisi zat putih telur, zat besi kalori, dan berbagai vitamin yang semuanya dibutuhkan untuk kelangsungan hidup Anda. Di dalamnya juga terdapat zat hormon yang memperkaya darah untuk menghasilkan sperma. Dari sperma itulah Anda diciptakan dan diberi hidup untuk jatah waktu yang telah ditentukan. Setelah jatah waktu itu habis, maka Anda dikembalikan lagi ke tanah. Mayat yang dibakar sampai menjadi debu dan dibuang ke lautpun pasti kembali ke tanah. Pada hari kiamat nanti, semua manusia, tak peduli beragama atau tidak, akan dihidupkan kembali.

Ayat di atas itulah yang dibaca Nabi SAW setiap kali selesai pemakaman seseorang. Ia mengambil sekepal tanah dan dilemparkan sambil membaca penggalan awal ayat, minha khalaqnakum (dari tanah itulah Kami menciptakan kamu), lalu melakukannya untuk kali kedua dengan membaca penggalan tengah ayat, wafiha nu’idukum (dan ke dalam tanah, Kami kembalikan kamu). Nabi mengambil sekepal tanah sekali lagi dan melemparkan dengan membaca ujung ayat, waminha nukhrijukum taratan ukhra (dan dari tanah itu pula, Kami akan mengeluarkan kamu pada waktu yang lain).

Muhsin Qira’ati (2001) mengatakan ayat di atas menjawab pertanyaan, mengapa Anda bersujud dua kali dalam setiap rakaat shalat. Sujud pertama mengingatkan asal muasal kejadian Anda: dari tanah. Bangkit dari sujud pertama mengingatkan kehidupan: realitas sekarang. Sujud kedua mengingatkan muara kehidupan Anda: kembali ke tanah,  dan bangkit dari sujud kedua mengingatkan kehidupan kedua: hari kebangkitan menuju kehidupan yang abadi.  Sebelum sujud, Anda pasti rukuk terlebih dahulu. Inilah posisi shalat yang bermakna penyerahan kepala untuk dipenggal Allah demi ridla-Nya. Rukuk adalah posisi leher paling siap untuk diperlakukan apa saja oleh Allah. Oleh sebab itu, rukuk tanpa penyerahan nyawa atau kesiapan mati adalah rukuk kebohongan.  (Lihat Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, p.71-72)

 Berdasarkan pemaknaan filosofis shalat di atas, maka setiap shalat sejatinya adalah “shalat inna lillahi wainna ilahi raji’un” yaitu shalat yang mengingatkan kematian. Tidak semua Anda memahami arti doa shalat. Tapi, jika Anda bersedia memahami simbol-simbol kematian dari gerakan shalat, maka shalat Anda pasti berpengaruh terhadap karakter Anda, sekalipun tidak semaksimal jika Anda memahami kedalaman makna doa-doa tersebut. Imam Al Qurthuby r.a mengatakan,  “Orang yang ingat mati akan memperoleh tiga kemuliaan:  lebih menghayati istighfar, tidak serakah, dan mudah diajak kepada kebaikan.”

Selain analisis terhadap gerakan shalat, beberapa doa dalam shalat juga menunjukkan keterkaitan atau kemiripan dengan doa-doa dalam shalat jenazah. Dalam doa pembuka shalat, kita membaca doa,  “…wahai Allah, bersihkan aku dari semua dosa, seperti kain putih yang dibersihkan dari semua noda. Mandikan aku dengan embun salju yang menyegarkan…”. Ternyata dalam shalat jenazah, kita juga dianjurkan membaca doa yang sama, hanya sasarannya yang berbeda,“…wahai Allah, bersihkan si mayit dari semua dosa, seperti kain putih yang dibersihkan dari semua noda. Mandikan ia dengan embun salju yang menyegarkan…”.

Dalam posisi duduk di antara dua sujud, kita membaca doa, “..wahai Allah, ampuni, dan kasihi aku..”. Dalam shalat jenazah, ternyata kita membaca doa yang hampir sama, “..wahai Allah ampuni si mayit dan kasihilah dia..”. Terakhir, dalam doa menjelang salam penutup shalat, kita membaca doa, “…wahai Allah, dengan pengetahuan-Mu akan yang gaib, dan dengan Ke-Mahakuasaan-Mu dalam semua penciptaan, hidupkan aku, jika menurut pengetahuan-Mu itu lebih baik bagiku, dan matikan aku jika mati lebih baik bagiku….” Allah-lah yang paling tahu yang gaib, termasuk di dalamnya “apa dan bagaimana masa depan kita”. Jika esok hari, iman kita bertambah baik dan akhlak kita semakin terpuji, kita memohon untuk diberi tambahan usia sehari atau dua atau lebih. Namun, jika menurut pengetahuan Allah, esok hari iman kita semakin merosot, dan kita semakin durhaka, untuk apa diberi tambahan usia?. Mati sekarang pasti lebih baik, agar kita mati dalam keadaan tetap beriman, dan selamat dari kematian dengan lebih banyak dosa. Beranikah Anda menirukan doa Rasulullah ini? Jika tidak, (mohon maaf) rukuk Anda adalah rukuk kebohongan.

Tidak ada jaminan bahwa orang yang beriman hari ini, esok hari masih tetap beriman. Artinya, Anda yang berakhlak mulia hari ini tidak dijamin tetap demikian pada hari berikutnya. Esok hari penuh spekulasi: antara kesalehan dan kefasikan, antara ketaatan dan kedurhakaan, antara keimanan dan kekafiran. Hidup itu masih “koma”, belum “titik”. Hanya setan dan malaikat yang sudah “titik”. Setan pasti selamanya sesat, dan malaikat juga pasti selamanya taat Allah. Dalam buku-buku agama, Anda membaca kisah Barshisha, ulama besar yang terkenal kepandaian dan kesalehannya, tiba-tiba tergoda dengan wanita cantik, lalu semakin lama, semakin hanyut dalam dosa-dosa lainnya. Akhirnya, ia mengakhiri hidup secara mengenaskan: mati dalam kekafiran. Dalam koran dan televisi, Anda juga mengikuti berita beberapa anggota DPR atau pejabat yang semula terkenal dengan hafalan Al Qur’an, suaranya yang empuk dalam ceramah yang menggugah kalbu, tiba-tiba tampil di pengadilan dengan seragam pakaian penjara karena korupsi milyaran rupiah. Lebih mengerikan lagi, sederet wanita cantik teman kencannya ikut dihadirkan untuk menjadi saksi dalam persidangan.  Benar kan?!  Hidup itu masih “koma”  belum “titik”.  Benar khan doa Nabi di atas?! Berhati-hatilah. Sekali lagi, Anda yang baik hari ini, tidak dijamin tetap baik esok hari. Sebaliknya, orang berlumuran dosa hari ini, masih ada kemungkinan menjadi manusia mulia esok hari.

Adanya spekulasi keimanan bagi setiap orang, menuntut kita lebih waspada dalam meniti setiap langkah. Awas, banyak tikungan tajam dan licin. Mintalah kepada Allah SWT petunjuk dan penjagaan keimanan,  paling tidak tujuh belas kali setiap hari. Ihdinasshirathal mustaqim (tunjukilah kami jalan yang lurus) kita baca berkali-kali dengan harapan,  sekarang, esok sampai akhir hayat, kita tetap menjadi muslim yang taat dan lebih saleh.  Selain itu, jadikan shalat Anda, “shalat inna lillah,” yaitu shalat yang menguatkan kesiapan untuk mati.  Jika Anda dipanggil Allah menghadap-Nya hari ini, maka dengan “shalat inna lillah,” Anda dan keluarga pasti tetap bersyukur, karena Anda mati sebagai muslim yang saleh. Mungkin saja esok hari, keimanan dan akhlak Anda tidak lebih baik. Jika hari esok adalah hari penambah kemuliaan Anda, bergembiralah jika Allah SWT masih memberi kesempatan hidup sehari lagi. Wallahu a’lamu bis-shawab.

Sumber Gambar: http://mengenalislamlebihdekat.files.wordpress.com/2012/09/makam-raja-fadh-21.jpg

MELAYANI SUAMI ATAU SHALAT MALAM?
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”Tanya:

Assalamu’alaikum wr wb

muslim-woman-prayingSaya ibu dua orang anak. Saya tidak bekerja, sehingga bisa di rumah menjaga anak sepenuhnya. Suami saya pegawai negeri di pemerintah daerah. Saya bersyukur secara materi saya tidak kekurangan.  Hanya saya menghadapi masalah. Saya ingin shalat malam secara rutin, mengingat keistimewaan pahalanya. Akan tetapi keinginan itu terhalang dua hal, yaitu menstruasi dan  larangan suami. Halangan yang pertama tidak masalah, karena itu sifatnya alami. Tapi halangan kedua sangat mengganggu pikiran saya. Suami melarang shalat malam setiap hari. Ia mengatakan bahwa menemani suami sama besar pahalanya dengan shalat malam. Saya menghadapi dilema. Jika shalat malam, berarti saya melawan keinginan suami, dan jika saya mengikuti keinginan suami berarti saya absen shalat malam. Apa yang sebaiknya saya lakukan?

Demikian, atas jawaban Bapak Pengasuh saya ucapkan terima kasih.

Zaenab – donator Nurul Falah.

Jawab:

Wa’alaikumussalam wr wb.

Pengasuh memberi apreasiasi kepada Ibu Zainab atas kesungguhuan merawat dan mendidik ananda serta ketaatan kepada suami. Semoga keluarga Anda tetap bahagia dan rizki Allah yang diberikan kepada Ibu penuh berkah berkat ibu selalu mensyukurinya.

Ibu betul, bahwa shalat malam amat besar pahala dan manfaatnya. Nabi SAW bersabda, “Sungguh di waktu malam ada satu waktu di mana seorang muslim memohon kebaikan kepada Allah SWT untuk masalah dunia dan akhirat niscaya Allah mengabulkan permohonannya. Waktu spesial itu ada pada setiap malam” (HR Muslim dari Jabir RA). Nabi SAW bersabda lagi, “jika seorang suami membangunkan istri pada waktu malam, lalu keduanya shalat atau shalat dua rakaat bersama-sama, maka keduanya dicatat sebagai kelompok orang-orang yang selalu berdzikir kepada Allah” (HR.Abu Daud dari Abu Hurairah RA).

Sekalipun besar pahalanya, namun shalat malam hanya sunnah hukumnya berdasar firman Allah SWT, “..Dan pada sebagian malam hari, bertahajudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. (QS. Al-Isra’ [17]:79).

Adapun taat kepada suami hukumnya wajib, karena ia diangkat Allah sebagai pemimpin keluarga berdasar firman Allah “Orang laki-laki adalah pemimpin bagi isterinya” (QS. An-Nisa’ [4]:34). Nabi SAW bersabda, “Andaikan aku boleh menyuruh orang bersujud kepada seseorang, niscaya aku menyuruh  istri bersujud kepada suaminya”. (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah RA). Kewajiban taat kepada suami mengalahkan pelaksanaan ibadah sunnah. Contohnya seorang istri wajib membatalkan puasa sunnah jika suami melarangnya. Nabi SAW bersabda, “Seorang istri tidak diperkenankan berpuasa sunnah bila suami ada di rumah, kecuali atas ijinnya. Juga tidak diperkenankan keluar rumah kecuali atas ijin suaminya pula” (HR Bukhari Muslim dari Abu Hurairah RA).

Berdasar dalil-dalil di atas, maka ibu dilarang shalat malam jika suami tidak mengijinkannya. Benar, kata suami Anda bahwa menemani suami itu juga besar pahalanya. Akan tetapi, pengasuh menganjurkan ibu untuk secara perlahan memberi pengertian kepada suami bahwa shalat malam yang Anda lakukan adalah doa untuk kebahagiaan  suami, anak-anak dan keluarga. Ibu juga bisa menyiasati untuk shalat malam beberapa menit sebelum subuh setelah melaksanakan kewajiban sebagai istri. Shalat sunnah lima menit sebelum subuh masih termasuk shalat malam. Pengasuh yakin, suatu saat suami Anda tidak hanya mengijinkan tapi juga ikut shalat malam bersama Anda. Amin.

sumber gambar: http://loveinshallah.files.wordpress.com/2013/05/muslim-woman-praying.jpg

BERKARYA BESAR DENGAN INSPIRASI KUDA

October 31st, 2013 | Posted by admin_tsb in Artikel - (8 Comments)

BERKARYA BESAR DENGAN INSPIRASI KUDA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

kuda(1) Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, (2) Dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), (3) Dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi (4) Maka ia menerbangkan debu, (5) Dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, (6) Sungguh, manusia itu sangat ingkar: tidak berterima kasih kepada Tuhannya, (7) Dan sungguh, manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, (QS. Al ‘Adiyat [100]: 1-11)

Pada ayat-ayat terakhir surat sebelumnya (Surat Al Zalzalah), Allah menjelaskan ketelitian dan keadilan-Nya terhadap apapun yang dikerjakan manusia. Allah mencatat sekecil apapun perbuatan baik dan buruk, dan memberinya penghargaan dan hukuman masing-masing. Sebagai kelanjutan, pada surat Al ‘Adiyat ini, Allah menegaskan kembali bahwa Ia Maha Mengetahui siapa yang pandai berterima kasih dan tidak.

Surat Al ‘Adiyat diawali sumpah Allah dengan kuda perang. Setiap sumpah dalam Al Qur’an mengandung pesan khusus.  Ketika Allah bersumpah dengan buah pohon Tin dan Zaitun, misalnya, Anda harus melakukan penelitian, ada apa dengan dua buah itu dari sudut kesehatan, pertanian,  sejarah dan sebagainya. Demikian juga untuk sumpah-sumpah Allah lainnya.

Coba Anda perhatikan ayat-ayat dengan sumpah yang dikutip di atas. Semua ayat itu menjelaskan bakti dan kesetiaan kuda untuk melakukan apa saja perintah pemiliknya. Termasuk perintah dengan resiko nyawa, yaitu melompat masuk ke wilayah musuh dalam perang yang sengit.  Allah SWT menyindir manusia yang tidak berterima kasih kepada-Nya dengan sindiran kuda. Hewan bertenaga ekstra ini, jelas tidaklah berakal, tapi ia menunjukkan bakti yang luar biasa kepada pemilik yang merawatnya. Mengapa manusia tidak serius bertertima kasih dan mengabdi kepada Allah yang menciptakan dan memberi semua kebutuhannya? “Sungguh, manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya.”

Pesan lain yang tersirat dari sumpah Allah SWT adalah perintah semangat, percaya diri dan keberanian menghadapi tantangan. Inilah yang dibutuhkan untuk siapapun yang ingin meraih prestasi dalam dunia bisnis, pendidikan, politik dan sebagainya. Dunia hanya dikuasai oleh mereka yang percaya diri, memiliki semangat, dan tahan bantingan terhadap derita demi cita-cita. Orang cerdas tapi lemah semangat dan minder, akan sia-sia kecerdasannya, bahkan terkalahkan orang bodoh yang memiliki semangat dan kepercayaan diri.

 Allah SWT bersumpah, “Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah.  Dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya).” Melalui ayat ini Anda dituntut berbadan sehat dan perkasa, agar memiliki mobilitas yang optimal (speed) dan bisa membuat keputusan cepat dan cerdas (smart). Muslim yang sehat dan perkasa lebih dicintai Allah dan rasul-Nya karena bisa maksimal mengemban peran kekhalifahan (kepemimpinan) di tengah komunitasnya. Hanya mereka yang memiliki speed and smart yang memenangi kompetisi prestasi dalam segala bidang.

“Dan (demi) kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu subuh. Maka ia menerbangkan debu.” Ayat ini mengingatkan Anda, orang sukses selalu memanfaatkan waktu seproduktif mungkin. Ia tahu jatah waktu untuk dirinya sama dengan jatah mereka yang sukses mendahuluinya: sama-sama 24 jam.  Ketika banyak manusia masih terlelap tidur di pagi buta, orang sukses sudah bangun “mengepulkan debu” untuk usahanya. Para pemalas tidak layak hidup di zaman manapun. Mereka pasti selalu menjadi “objek” dan tidak akan menjadi “subjek” dalam pembangunan komunitasnya;  selalu di “pinggir” dan terpinggirkan oleh zamannya, dan tidak akan bisa di “tengah”. Perhatikan doa Nabi SAW, “Wahai Allah, jauhkan aku dari sedih (karena peristiwa yang terjadi) dan cemas (untuk hal yang belum terjadi); jauhkan aku dari lemah (fisik dan mental) dan malas; jauhkan aku dari serba takut dan kikir; jauhkan pula  aku dari terbelit utang-piutang dan kesewenang-wenangan (dan kedhaliman) orang.”  Jika Anda tidak berprestasi, pastikan bukan karena Anda tidak memiliki kemampuan untuk itu, tapi lebih karena kemalasan Anda. Atau karena perasaan minder dan pesimis yang Anda suburkan dalam diri Anda.

“Dan  menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh.”  Anda pasti tahu, apa resiko memasuki sarang musuh, paling tidak tertawan atau mati tersungkur bersimbah darah. Orang sukses harus berani resiko dalam setiap langkah, tentu setelah perhitungan yang masak. Anda tentu tidak akan menikmati umrah atau haji ke Mekah secepat perjalanan sekarang, jika tidak ada orang yang menantang resiko kematian ketika uji coba pesawat terbang pertama kali. Bahkan Anda akan jalan kaki sepanjang hidup, jika takut resiko kecelakaan kendaraan bermotor, apalagi naik pesawat.             

 Itulah inspirasi kuda untuk merangsang Anda berpacu demi kesuksesan. Jika hanya inspirasi kuda yang dipedomani, sangat mungkin Anda depresi, bahkan gila. Sebab, kesuksesan tidak selalu diraih secara mulus dan tiba-tiba. Dalam catatan sejarah orang-orang sukses, ternyata mereka harus jatuh bangun dari kegagalan sampai puluhan kali. Oleh sebab itu, Anda harus bermetamorfosis sebagai patung setelah menjadi kuda. Artinya, Anda harus pasrah sepenuhnya kepada Allah, seperti patung yang menyerah kepada pemiliknya. Kewajiban Anda hanya berusaha, sedangkan sukses atau tidaknya usaha itu Anda serahkan sepenuhnya kepada Allah.  “Jika kamu telah bertekad (untuk suatu usaha dengan perhitungan yang profesional), maka serahkan (tawakallah) kepada Allah. Sungguh, Allah menyintai orang-orang yang berserah diri.” (QS. Ali Imran [3]:159).

Dengan tawakal sepenuh hati itu, Anda telah menyuntikkan imunitas stres dan depresi pada diri Anda. Jika berhasil, Anda boleh bersiul-siul mensyukurinya, dan jika gagal, Anda tetap tersenyum menyikapinya. Anda lalu ingat kata orang bijak, “Anda bukan gagal. Hanya sukses Anda masih tertunda.” Atau menghayati taushiyah para sufi, “Tenanglah. Biarlah Allah bekerja sesuai dengan rencana-Nya. Rencana Allah jauh lebih hebat dari rencana Anda, sekalipun Anda mungkin ahli perencanaan”  Itulah keajaiban orang Islam dengan keimanan yang mendalam, sukses atau gagal tetap berucap alhamdulillah.

Kepasrahan “patung” kepada Allah tidak hanya berfungsi sebagai penangkal stres, tapi juga menguatkan keberanian dan mendatangkan pertolongan Allah yang luar biasa. Siapapun yang tawakal sepenuh hati, Allah akan secara penuh membantunya. Jika menghadapi kesulitan, Allah-lah yang akan mengambil alih menyelesaikannya. Allah SWT meyakinkan Anda, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah (sendiri) yang akan menyelesaikan urusannya.”  (QS. At Thalaq [65]: 2-3). Sekalipun demikian, Anda tidak boleh berlama-lama menjadi patung agar tidak pasip. Segeralah metamorfosis kembali menjadi kuda. Demikian dan seterusnya.

Jadilah kuda di siang hari, lalu patung di malam hari. Berpaculah untuk prestasi, lalu bertawakallah sepenuh hati. Wallahu ‘alamu bis-shawab. (Surabaya, 01 Nopember 2013).

sumber gambar: http://horsebreedsinfo.com/images/black_horse_running.jpg