Header

MELAYANI SUAMI ATAU SHALAT MALAM?
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”Tanya:

Assalamu’alaikum wr wb

muslim-woman-prayingSaya ibu dua orang anak. Saya tidak bekerja, sehingga bisa di rumah menjaga anak sepenuhnya. Suami saya pegawai negeri di pemerintah daerah. Saya bersyukur secara materi saya tidak kekurangan.  Hanya saya menghadapi masalah. Saya ingin shalat malam secara rutin, mengingat keistimewaan pahalanya. Akan tetapi keinginan itu terhalang dua hal, yaitu menstruasi dan  larangan suami. Halangan yang pertama tidak masalah, karena itu sifatnya alami. Tapi halangan kedua sangat mengganggu pikiran saya. Suami melarang shalat malam setiap hari. Ia mengatakan bahwa menemani suami sama besar pahalanya dengan shalat malam. Saya menghadapi dilema. Jika shalat malam, berarti saya melawan keinginan suami, dan jika saya mengikuti keinginan suami berarti saya absen shalat malam. Apa yang sebaiknya saya lakukan?

Demikian, atas jawaban Bapak Pengasuh saya ucapkan terima kasih.

Zaenab – donator Nurul Falah.

Jawab:

Wa’alaikumussalam wr wb.

Pengasuh memberi apreasiasi kepada Ibu Zainab atas kesungguhuan merawat dan mendidik ananda serta ketaatan kepada suami. Semoga keluarga Anda tetap bahagia dan rizki Allah yang diberikan kepada Ibu penuh berkah berkat ibu selalu mensyukurinya.

Ibu betul, bahwa shalat malam amat besar pahala dan manfaatnya. Nabi SAW bersabda, “Sungguh di waktu malam ada satu waktu di mana seorang muslim memohon kebaikan kepada Allah SWT untuk masalah dunia dan akhirat niscaya Allah mengabulkan permohonannya. Waktu spesial itu ada pada setiap malam” (HR Muslim dari Jabir RA). Nabi SAW bersabda lagi, “jika seorang suami membangunkan istri pada waktu malam, lalu keduanya shalat atau shalat dua rakaat bersama-sama, maka keduanya dicatat sebagai kelompok orang-orang yang selalu berdzikir kepada Allah” (HR.Abu Daud dari Abu Hurairah RA).

Sekalipun besar pahalanya, namun shalat malam hanya sunnah hukumnya berdasar firman Allah SWT, “..Dan pada sebagian malam hari, bertahajudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. (QS. Al-Isra’ [17]:79).

Adapun taat kepada suami hukumnya wajib, karena ia diangkat Allah sebagai pemimpin keluarga berdasar firman Allah “Orang laki-laki adalah pemimpin bagi isterinya” (QS. An-Nisa’ [4]:34). Nabi SAW bersabda, “Andaikan aku boleh menyuruh orang bersujud kepada seseorang, niscaya aku menyuruh  istri bersujud kepada suaminya”. (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah RA). Kewajiban taat kepada suami mengalahkan pelaksanaan ibadah sunnah. Contohnya seorang istri wajib membatalkan puasa sunnah jika suami melarangnya. Nabi SAW bersabda, “Seorang istri tidak diperkenankan berpuasa sunnah bila suami ada di rumah, kecuali atas ijinnya. Juga tidak diperkenankan keluar rumah kecuali atas ijin suaminya pula” (HR Bukhari Muslim dari Abu Hurairah RA).

Berdasar dalil-dalil di atas, maka ibu dilarang shalat malam jika suami tidak mengijinkannya. Benar, kata suami Anda bahwa menemani suami itu juga besar pahalanya. Akan tetapi, pengasuh menganjurkan ibu untuk secara perlahan memberi pengertian kepada suami bahwa shalat malam yang Anda lakukan adalah doa untuk kebahagiaan  suami, anak-anak dan keluarga. Ibu juga bisa menyiasati untuk shalat malam beberapa menit sebelum subuh setelah melaksanakan kewajiban sebagai istri. Shalat sunnah lima menit sebelum subuh masih termasuk shalat malam. Pengasuh yakin, suatu saat suami Anda tidak hanya mengijinkan tapi juga ikut shalat malam bersama Anda. Amin.

sumber gambar: http://loveinshallah.files.wordpress.com/2013/05/muslim-woman-praying.jpg

BERKARYA BESAR DENGAN INSPIRASI KUDA

October 31st, 2013 | Posted by admin_tsb in Artikel - (8 Comments)

BERKARYA BESAR DENGAN INSPIRASI KUDA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

kuda(1) Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, (2) Dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), (3) Dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi (4) Maka ia menerbangkan debu, (5) Dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, (6) Sungguh, manusia itu sangat ingkar: tidak berterima kasih kepada Tuhannya, (7) Dan sungguh, manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, (QS. Al ‘Adiyat [100]: 1-11)

Pada ayat-ayat terakhir surat sebelumnya (Surat Al Zalzalah), Allah menjelaskan ketelitian dan keadilan-Nya terhadap apapun yang dikerjakan manusia. Allah mencatat sekecil apapun perbuatan baik dan buruk, dan memberinya penghargaan dan hukuman masing-masing. Sebagai kelanjutan, pada surat Al ‘Adiyat ini, Allah menegaskan kembali bahwa Ia Maha Mengetahui siapa yang pandai berterima kasih dan tidak.

Surat Al ‘Adiyat diawali sumpah Allah dengan kuda perang. Setiap sumpah dalam Al Qur’an mengandung pesan khusus.  Ketika Allah bersumpah dengan buah pohon Tin dan Zaitun, misalnya, Anda harus melakukan penelitian, ada apa dengan dua buah itu dari sudut kesehatan, pertanian,  sejarah dan sebagainya. Demikian juga untuk sumpah-sumpah Allah lainnya.

Coba Anda perhatikan ayat-ayat dengan sumpah yang dikutip di atas. Semua ayat itu menjelaskan bakti dan kesetiaan kuda untuk melakukan apa saja perintah pemiliknya. Termasuk perintah dengan resiko nyawa, yaitu melompat masuk ke wilayah musuh dalam perang yang sengit.  Allah SWT menyindir manusia yang tidak berterima kasih kepada-Nya dengan sindiran kuda. Hewan bertenaga ekstra ini, jelas tidaklah berakal, tapi ia menunjukkan bakti yang luar biasa kepada pemilik yang merawatnya. Mengapa manusia tidak serius bertertima kasih dan mengabdi kepada Allah yang menciptakan dan memberi semua kebutuhannya? “Sungguh, manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya.”

Pesan lain yang tersirat dari sumpah Allah SWT adalah perintah semangat, percaya diri dan keberanian menghadapi tantangan. Inilah yang dibutuhkan untuk siapapun yang ingin meraih prestasi dalam dunia bisnis, pendidikan, politik dan sebagainya. Dunia hanya dikuasai oleh mereka yang percaya diri, memiliki semangat, dan tahan bantingan terhadap derita demi cita-cita. Orang cerdas tapi lemah semangat dan minder, akan sia-sia kecerdasannya, bahkan terkalahkan orang bodoh yang memiliki semangat dan kepercayaan diri.

 Allah SWT bersumpah, “Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah.  Dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya).” Melalui ayat ini Anda dituntut berbadan sehat dan perkasa, agar memiliki mobilitas yang optimal (speed) dan bisa membuat keputusan cepat dan cerdas (smart). Muslim yang sehat dan perkasa lebih dicintai Allah dan rasul-Nya karena bisa maksimal mengemban peran kekhalifahan (kepemimpinan) di tengah komunitasnya. Hanya mereka yang memiliki speed and smart yang memenangi kompetisi prestasi dalam segala bidang.

“Dan (demi) kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu subuh. Maka ia menerbangkan debu.” Ayat ini mengingatkan Anda, orang sukses selalu memanfaatkan waktu seproduktif mungkin. Ia tahu jatah waktu untuk dirinya sama dengan jatah mereka yang sukses mendahuluinya: sama-sama 24 jam.  Ketika banyak manusia masih terlelap tidur di pagi buta, orang sukses sudah bangun “mengepulkan debu” untuk usahanya. Para pemalas tidak layak hidup di zaman manapun. Mereka pasti selalu menjadi “objek” dan tidak akan menjadi “subjek” dalam pembangunan komunitasnya;  selalu di “pinggir” dan terpinggirkan oleh zamannya, dan tidak akan bisa di “tengah”. Perhatikan doa Nabi SAW, “Wahai Allah, jauhkan aku dari sedih (karena peristiwa yang terjadi) dan cemas (untuk hal yang belum terjadi); jauhkan aku dari lemah (fisik dan mental) dan malas; jauhkan aku dari serba takut dan kikir; jauhkan pula  aku dari terbelit utang-piutang dan kesewenang-wenangan (dan kedhaliman) orang.”  Jika Anda tidak berprestasi, pastikan bukan karena Anda tidak memiliki kemampuan untuk itu, tapi lebih karena kemalasan Anda. Atau karena perasaan minder dan pesimis yang Anda suburkan dalam diri Anda.

“Dan  menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh.”  Anda pasti tahu, apa resiko memasuki sarang musuh, paling tidak tertawan atau mati tersungkur bersimbah darah. Orang sukses harus berani resiko dalam setiap langkah, tentu setelah perhitungan yang masak. Anda tentu tidak akan menikmati umrah atau haji ke Mekah secepat perjalanan sekarang, jika tidak ada orang yang menantang resiko kematian ketika uji coba pesawat terbang pertama kali. Bahkan Anda akan jalan kaki sepanjang hidup, jika takut resiko kecelakaan kendaraan bermotor, apalagi naik pesawat.             

 Itulah inspirasi kuda untuk merangsang Anda berpacu demi kesuksesan. Jika hanya inspirasi kuda yang dipedomani, sangat mungkin Anda depresi, bahkan gila. Sebab, kesuksesan tidak selalu diraih secara mulus dan tiba-tiba. Dalam catatan sejarah orang-orang sukses, ternyata mereka harus jatuh bangun dari kegagalan sampai puluhan kali. Oleh sebab itu, Anda harus bermetamorfosis sebagai patung setelah menjadi kuda. Artinya, Anda harus pasrah sepenuhnya kepada Allah, seperti patung yang menyerah kepada pemiliknya. Kewajiban Anda hanya berusaha, sedangkan sukses atau tidaknya usaha itu Anda serahkan sepenuhnya kepada Allah.  “Jika kamu telah bertekad (untuk suatu usaha dengan perhitungan yang profesional), maka serahkan (tawakallah) kepada Allah. Sungguh, Allah menyintai orang-orang yang berserah diri.” (QS. Ali Imran [3]:159).

Dengan tawakal sepenuh hati itu, Anda telah menyuntikkan imunitas stres dan depresi pada diri Anda. Jika berhasil, Anda boleh bersiul-siul mensyukurinya, dan jika gagal, Anda tetap tersenyum menyikapinya. Anda lalu ingat kata orang bijak, “Anda bukan gagal. Hanya sukses Anda masih tertunda.” Atau menghayati taushiyah para sufi, “Tenanglah. Biarlah Allah bekerja sesuai dengan rencana-Nya. Rencana Allah jauh lebih hebat dari rencana Anda, sekalipun Anda mungkin ahli perencanaan”  Itulah keajaiban orang Islam dengan keimanan yang mendalam, sukses atau gagal tetap berucap alhamdulillah.

Kepasrahan “patung” kepada Allah tidak hanya berfungsi sebagai penangkal stres, tapi juga menguatkan keberanian dan mendatangkan pertolongan Allah yang luar biasa. Siapapun yang tawakal sepenuh hati, Allah akan secara penuh membantunya. Jika menghadapi kesulitan, Allah-lah yang akan mengambil alih menyelesaikannya. Allah SWT meyakinkan Anda, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah (sendiri) yang akan menyelesaikan urusannya.”  (QS. At Thalaq [65]: 2-3). Sekalipun demikian, Anda tidak boleh berlama-lama menjadi patung agar tidak pasip. Segeralah metamorfosis kembali menjadi kuda. Demikian dan seterusnya.

Jadilah kuda di siang hari, lalu patung di malam hari. Berpaculah untuk prestasi, lalu bertawakallah sepenuh hati. Wallahu ‘alamu bis-shawab. (Surabaya, 01 Nopember 2013).

sumber gambar: http://horsebreedsinfo.com/images/black_horse_running.jpg

BERJABAT TANGAN DENGAN MALAIKAT

September 26th, 2013 | Posted by admin_tsb in Artikel - (5 Comments)

       BERJABAT TANGAN DENGAN MALAIKAT

Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

10271007-hand-shake“Sungguh, orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, “Janganlah kalian takut dan jangan pula bersedih; dan bergembiralah (mereka) dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS Fushilat 41:30)

Maukah Anda didampingi para malaikat yang menghibur ketika Anda bersedih dan membisikkan kata penyemangat ketika Anda hampir putus asa? Melalui ayat di atas, Allah menawarkan kesempatan emas tersebut. Siapapun Anda berhak untuk mendapatkannya, asalkan Anda menyatakan beriman sepenuh hati kepada Allah, lalu tidak goyah sekalipun menghadapi tantangan penuh resiko. Inilah yang disebut istiqamah. Banyak orang menyatakan keimanan melalui lisannya, namun tidak konsisten dalam tindakan, lebih-lebih ketika menghadapi godaan kenikmatan. Imannya naik turun bersamaan dengan gelombang kehidupan, mendekat Allah ketika susah, lalu menjauh dari-Nya ketika bebas dari masalah.

Iman yang istiqamah bisa diibaratkan sebuah gunung. Ia tidak membeku sekalipun udara sangat dingin, tidak bergerak sekalipun ada badai, tidak meleleh sekalipun cuaca sangat panas, dan tidak terseret air sekalipun terjadi banjir bandang. Buah utama dari istiqamah adalah tumbuhnya rasa senang dan tenang karena kedekatannya kepada Allah, sehingga tidak menoleh kepada siapapun selain kepada Allah SWT.

Istiqamah merupakan prestasi besar bagi orang mukmin. Hanya orang istimewa yang bisa melakukannya. Istiqamah baru bisa dilakukan ketika seseorang sudah mampu melawan kebiasaan buruk sehari-hari, jujur dan bersungguh-sungguh. Jadi bukti istiqamah adalah bertauhid dengan lidah, memantapkan tauhid dengan hati dan menjalankannya dengan benar sampai wafat.

Semakin berat tantangan keimanan, semakin terlihat istiqamah seseorang. Orang  istiqamah akan menolak ajakan zina oleh orang yang paling dikasihi ketika segalanya memungkinkan dan kerahasiaan juga terjamin. Itulah salah satu bukti istiqamah. Orang istiqamah tidak akan mengambil uang yang tidak halal sedikitpun, walaupun ia sangat membutuhkan uang untuk pengobatan anak yang sedang dioperasi di rumah sakit.

Bilal bin Rabbah adalah contoh muslim istiqamah. Ia tetap berani mengatakan ”Tiada Tuhan selain Allah” sekalipun berat resikonya. Kedua kakinya diikat di kaki kuda yang berlari di jalan utama kota Makkah, sehingga darah tercecer dari kepalanya. Penyiksaan itu dialami Bilal tidak sekali dua kali.

Ada kisah yang erat kaitannya dengan janji Allah di atas. Pada tahun perang Khoibar, datanglah Imran bin Hushain kepada Rasulullah SAW. Ia letakkan tangan kanannya di atas tangan kanan Rasulullah SAW untuk menyatakan kesetiaan, dan bersumpah tidak akan menggunakan tangannya kecuali untuk berbuat kebajikan. Setelah sumpah setia itu, ia tidak pernah absen dari kajian Islam Rasulullah SWT bersama para sahabat. Suatu saat, ia sangat tertarik dengan dialog Nabi dengan para sahabat pada kajian tersebut.

”Wahai Rasulullah, jika saya berada di dekatmu, tenanglah hati saya. Rasanya tidak ada lagi keinginan duniawi. Bahkan seolah-olah saya bisa menerawang akhirat dengan jelas. Namun ketika jauh darimu dan kembali di tengah keluarga beserta anak-anak, saya lupa diri lagi,” tanya sebagian sahabat. Rasulullah SAW menjawab, ”Demi Allah yang menguasai diriku, seandainya kamu semua selalu dalam keadaan seperti ketika kalian di sisiku, para malaikat pasti akan menampakkan diri untuk berjabat tangan denganmu. Tapi, yang demikian itu tidak bisa terus menerus atau hanya sewaktu-waktu”.

Dalam ayat di atas, orang yang istiqamah akan memperoleh bisikan para malaikat, Jangan takut dan jangan bersedih. Bergembiralah dengan surga yang sudah tersedia untukmu”. Kapan para malaikat itu datang? Imam Mujahid, As-Suddi dan Zaid bin Aslam mengatakan bahwa para malaikat itu datang ketika orang mukmin menghadapi sakaratul maut (detik-detik terakhir kahidupan). Dengan wajah berseri-seri, para malaikat memanggil ruh orang yang istiqamah,”Wahai ruh yang baik dalam jasad yang baik pula, keluarlah untuk menemui Tuhan yang tidak marah kepadamu”.

Menurut At-Thobari dari Ibnu ’Abbas, para malaikat itu datang ketika orang-orang mukmin dibangkitkan dari kubur pada hari kiamat kelak. Sebagian ahli tafsir mengatakan malaikat datang pada saat orang mukmin menghadapai pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur. Hamka menafsirkan secara lebih luas, para malaikat itu datang kepada orang yang mukmin dan istiqomah  kapan saja dalam hidup sekarang, sebab ayat berikutnya berbunyi, ”Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta”.(QS Fushilat [41]:31).

Imran bin Hushain penasaran dengan jawaban Nabi SAW, kenapa ”berjabat tangan” dengan malaikat hanya sewaktu-waktu? Andai selamanya tentu lebih menyenangkan. Oleh sebab itu, ia berjanji untuk menambah ibadahnya kepada Allah. Semakin hari, semakin bersemangat ibadahnya. Ketika ia sampai pada puncak ibadahnya, ia mengatakan ”Oh Allah, mengapa aku tidak Kau jadikan debu saja”. Semakin mengetahui keagungan Allah, ia semakin mengetahui keterbatasannya untuk memuji dan menyanjung Allah. Ia kehabisan kata untuk mengagungkan Allah sesuai dengan kebesarannya.

Masalah hidup selalu hadir pada siapa saja dan kapan saja: masalah rumah tangga, pekerjaan, kesehatan, pergaulan di tengah-tengah masyarakat dan sebagainya. Sebagian orang berhasil melalui ujian itu dengan kesabaran, dan sebagian yang lain murung bercampur marah. Bahkan ada yang bunuh diri dengan ”terjun bebas dari lantai 11”. Kesedihan yang berlarut-larut atau keputusasaan itu tidak akan dialami orang-orang yang istiqamah, sebab Allah SWT sudah menunjuk beberapa malaikat untuk mengawal, menolong dan memberi kalimat penguat kepadanya.

Sumber Gambar: http://us.123rf.com/400wm/400/400/pixxart/pixxart1108/pixxart110800023/10271007-hand-shake.jpg