Header

BERDIRI DI ATAS API

March 3rd, 2015 | Posted by admin_tsb in Artikel - (2 Comments)

BERDIRI DI ATAS API
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“Sungguh, Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin (pendatang di Madinah) dan orang-orang anshar (penduduk asli Madinah) yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit, setelah hati sebagian dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sungguh, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.” (QS. At Taubah [09]:117)

fireAyat di atas merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya tentang perang Tabuk, perang melawan tentara Romawi. Inilah perang dengan persiapan paling berat bagi Nabi SAW. Dalam ayat yang dikutip di atas, Allah SWT menyebut suasana perang itu dengan kata sa’atil ‘usrah (masa sulit). Itulah masa paceklik, musim buah mulai gugur karena pergantian musim panas ke musim gugur, udara panas luar biasa, minim perbekalan, sampai kurma harus dihemat-hemat selama perjalanan. Kendaraan perang juga terbatas: satu unta harus dikendarai dua sampai tiga orang untuk menempuh perjalanan yang sukar dan jauh dari Madinah.

Umar bin Khattab menggambarkan derita Tabuk sebagai berikut, “Ketika istirahat di suatu tempat, kami sangat haus, tenggorokan kami rasanya hampir putus dan tidak ada air setetespun. Satu-satunya cara adalah menyembelih unta, agar bisa mengambil air yang tersimpan di lambungnya, dan itulah yang kami lakukan. Melihat tentara sudah semakin tidak kuat menahan haus, Abu Bakar memohon Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, Tuhanmu telah menjamin doamu dikabulkan. Berdoalah agar Allah menurunkan hujan.” Andaikan tidak seberat itu derita yang dirasakan, tentu Abu Bakar tidak minta demikian kepada Nabi SAW. Nabi mengangkat tangan berdoa, lalu tidak lama setelah menurunkan tangannya, turunlah hujan deras. Dengan riang gembira, para tentara minum dan mengisi kantong-kantong air. Setelah semua kantong terpenuhi, berhentilah hujan. Ajaib, ternyata hujan itu hanya di sekitar Nabi SAW.”

Dalam perang dengan perbekalan terbatas menghadapi kekuatan musuh yang jauh lebih kuat itu, tidak sedikit orang Islam yang menolak secara terang-terangan ikut perang. Ada juga yang berangkat dengan setengah hati, menggerutu dan pulang di tengah perjalanan. Tapi, ada juga penduduk asli Madinah (anshar) dan pendatang di Madinah (al muhajirin) yang sepenuh hati mengikuti nabi sekalipun harus “berjalan melintasi api.” Orang-orang pilihan inipun hampir saja tergoda untuk desersi, mengingat beratnya tantangan. Keraguan dan pesimisme menjalani derita perang itulah yang mereka mintakan ampunan Allah SWT. Mereka gembira karena Allah telah mengampuninya, sebab Dia Maha Pengampun, sebagaimana disebut pada ujung ayat, “Sungguh, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.”

Sebelum berangkat ke Tabuk, ada beberapa orang yang meminta ijin Nabi untuk absen perang dan Nabi mengiyakan. Nabi merasa “berdosa,” sebab seharusnya tidak mudah memberi ijin mereka sebelum mengetahui alasan yang masuk akal, sebab banyak yang absen hanya karena kemalasan. Inilah “dosa” nabi yang diampuni oleh Allah sebagaimana disebut pada awal ayat di atas. Sebenarnya kesalahan itu tidak termasuk dosa, sebab hanya sebuah keputusan, tapi bagi nabi, sekalipun sesederhana itu, ia tetap meminta ampunan Allah.

Dari mereka yang absen perang itu, ada tiga orang yang paling mengecewakan Nabi SAW, yaitu Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayyah, dan Marrah bin Rabi’. Mereka ini, terutama Ka’ab adalah sahabat-sahabat mulia, tapi mengapa mengikuti jejak orang-orang munafik. Kekecewaan Nabi tersebut diceritakan sendiri oleh Ka’ab pada masa tuanya yang sudah buta, kepada anaknya, Abdullah. Ka’ab bercerita, “Ketika pasukan Nabi berangkat, saya sedang istirahat di rumah. Saya sangat sehat dan baru saja membeli tunggangan baru.” Ia maju mundur untuk berangkat, dan akhirnya benar-benar absen. Ketika pasukan sudah sampai di Tabuk, Nabi tiba-tiba bertanya, “Mana Ka’ab bin Malik?” Seorang sahabat menjawab, “Dia terikat oleh selimutnya dan sedang mengurus dirinya.” Nabi diam dengan wajah yang sedikit berubah.

Setelah Nabi SAW tiba kembali di Madinah, sebanyak delapan puluh orang meminta maaf kepada Nabi dengan berbagai alasan dusta. “Kemari, kenapa engkau tidak ikut datang? Tidakkah kamu bisa membeli tunggangan lagi?”. Ka’ab datang memenuhi panggilan Nabi dan berkata jujur apa adanya, “Jika saya berbicara kepada “orang bumi,” saya bisa menyampaikan seribu alasan, lalu engkau tidak marah, tapi Allah pasti tetap marah kepadaku. Aku tidak ikut perang bukan karena apa-apa, dan saya waktu itu juga sangat sehat dan ekonomi berkecukupan.” Nabi kemudian berkata, “Engkau berkata jujur. Sekarang pergilah, dan tunggulah keputusan Allah untukmu (mengampuni atau tidak)!”

Ka’ab keluar rumah dengan lunglai. Sambil menunggu keputusan Allah itulah, Nabi SAW melarang semua sahabat untuk berhubungan dengannya. Istrinyapun juga dilarang tidur bersamanya. “Aku pergi kemanapun: ke pasar, tetangga, bahkan ke rumah sanak famili, tidak ada satupun yang mengajakku bicara. Ketika Nabi selesai memimpin shalat di masjid, saya amat berharap Nabi memandangku, tapi ternyata juga tidak,” keluh Ka’ab. “Bumi terasa sangat sempit bagiku, dan dadaku terasa terhimpit,” katanya sebagaimana tersirat dalam QS. At Taubah 118. Derita batin itu dirasakan Ka’ab sampai lima puluh hari.

Pada hari ke lima puluh pengucilan Ka’ab, tiba-tiba usai shalat subuh, beberapa sahabat, termasuk penunggang kuda berdatangan mengucapkan selamat kepadanya, karena Nabi SAW telah mengumumkan di dalam masjid bahwa telah turun ayat tentang pengampunan Allah untuk Ka’ab dan dua orang temannya, yaitu Hilal bin Umayyah dan Marrah bin Rabi’. “Aku langsung berlari memasuki masjid untuk mendengar langsung berita itu dari Nabi SAW,” katanya.

Sebelum memasuki kerumunan orang, Thalhah bin Ubaid berdiri menyambutku dengan ucapan selamat. “Dialah sahabat yang terbaik menurutku. Karenanya, saya tidak akan melupakannya selamanya,” katanya. Nabi berkata dengan wajah yang amat ceria, “Ada berita gembira untukmu, berita yang paling membahagiakan seumur hidupmu.” Ka’ab bertanya, “Ini berita ampunan darimu atau dari Allah, wahai Nabi?”. “Dari Allah,” kata Nabi SAW. Begitu senangnya mendapat berita pengampunan, ia menyerahkan semua hartanya kepada Nabi, tapi ditolak oleh nabi, dan dianjurkan sebagain hartanya saja.

   Dari kisah di atas, jelaslah bahwa setiap muslim harus siap menjalani seberat apapun tantangan, bahkan berdiri di atas api sekalipun demi cita-cita agung dan mulia. Ini berlaku dalam hal usaha penyebaran agama, mencari ilmu, usaha, membangun kebahagiaan keluarga dan sebagainya. Terbesit sedikitpun rasa malas atau takut menghadapai tantangan dipandang sebagai cacat iman. Setiap muslim harus juga siap “berdiri di atas api” untuk berkata jujur. Telah terbukti, jujur itu pahit pada awalnya, tapi pasti manis buah yang akan dipetiknya.

BERJAMAAH DENGAN ANJING DEMI ANAK

February 20th, 2015 | Posted by admin_tsb in Artikel - (2 Comments)

BERJAMAAH DENGAN ANJING DEMI ANAK
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Setiba di Yun Long tahun 2005, setelah menempuh perjalanan bus dua jam dari Hong Kong, saya berjumpa dengan TKW (Tenaga Kerja Wanita) asal Jawa Timur. Wanita berjilbab setengah baya itu sedang berbelanja babi di pasar . “Nasib, dua kali ganti majikan, pekerjaan saya tetap sama, yaitu belanja dan masak babi setiap hari untuk majikan” katanya. Ia mengaku selama 4 tahun bekerja di negeri orang, ia tidak pernah melakukan shalat. “Bagaimana mungkin badan dan pakaian yang sudah najis berat dipakai shalat” keluhnya. Apalagi dengan majikan yang terakhir, ia diminta juga menjaga tiga anjing piaraan. “Namanya menjaga , ya tidur bersama anjing-anjing itu”.

Dialog itulah yang menjadi inspirasi untuk ceramah agama saya di mushalla 4 x 4 m2 di atas toko Indonesiadog yang disewa oleh Majlis Taklim TKW Hong Kong cabang Yun Long. Ibu dua anak itu merasa bergembira, lalu berjanji untuk lebih rajin shalat setelah mengetahui bahwa najis babi bisa dibersihkan dengan sabun karena darurat kesulitan mencari tanah untuk campuran air untuk mencucinya. “Plong, lego pak rasanya”, kata wanita yang tinggal di lantai 21 rumah bertingkat. Andai menjumpai tanah pun, ia tidak berani melakukannya karena bertentangan dengan aturan kebersihan majikan.

Sepulang dari mushalla, ia berlari mengejar saya, “Bagaimana dengan sentuhan saya dengan anjing setiap saat atau ketika tidur?”. Ia masih penasaran, bagaimana mungkin beribadah dengan tangan yang bersentuhan dengan babi dan lingkungan yang serba anjing. “Shalatlah, sekalipun harus “berjamaah” dengan anjing” nasehat saya. Ia tidak mungkin berpisah dengan anjing, sebab memandikan, menyiapkan makanan dan tidur bersama anjing adalah tugas utamanya.

Demi anak, apapun beratnya pekerjaan tetap dijalani sang ibu. Ia bermimpi dua anaknya bisa sekolah sampai lulus dan menjadi orang yang lebih mulia daripadanya. Ia sebenarnya sangat menderita karena jauh dari keluarga. Ratusan dolar ia habiskan setiap bulan untuk membeli pulsa agar bisa mendengar suara anaknya. Uang pulsa itu, amat banyak dan mahal baginya, namun murah demi dekapan jarak jauh sang ibu untuk anaknya. Ia tidak mungkin bekerja di Indonesia, sebab semua kekayaannya telah ludes untuk ambisi suaminya yang gagal dalam pemilihan kepala desa.

Ia masih terus menceritakan harapan untuk kedua anaknya. “Jika anakku lulus dan di wisuda di universitas, akulah yang memasang toganya. Akulah yang menggendongnya untuk menerima sertifikat (maksudnya: ijazah)”. Harapan dan kecintaan sang ibu itu tentu lebih mendalam daripada yang diceritakannya melalui kata-kata. Cinta ibu kepada anak tidaklah terukur. Cinta orang tua sepanjang jalan dan cinta anak hanya sepanjang gala.

Jika setiap kecintaan yang tulus orang tua dihitung sebagai pahala, dan setiap kesulitan nafkah orang tua untuk biaya hidup anaknya dihitung sebagai penghapus dosa, maka masih adakah dosa bagi ibu yang berkurban segala-galanya demi kelangsungan hdiup anak di atas? Apalagi ia berjuang menyelamatkan anaknya atau generasi yang bodoh. Pada sisi lain, melihat begitu besarnya pengurbanan ibu kepada anaknya, maka teramat tega dan biadab anak yang sampai hati melukai hati ibunya.

Perintah berbakti kepada orang tua dijelaskan secara jelas dalam Al Qur’an. Bahkan gaya perintahnya berbeda dengan perintah-perintah lainnya, yaitu menyuruh anak membuka sejarah perjalanan hidup sejak bayi dengan ibunya. Allah SWT berfirman, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan…. “. (QS al-Ahqaf [46]:15).

Oh ibu, cinta dan pengurbananmu untuk kami adalah cinta dan pahala Allah untukmu. Maafkan kami tidak bisa membalas cintamu yang agung itu, kecuali doa pengampunan dan rahmat untuk tiketmu ke surga. Senyumlah selalu, ibundaku.

BANGKIT DENGAN JARUM JAHIT

January 22nd, 2015 | Posted by admin_tsb in Artikel - (4 Comments)

BANGKIT DENGAN JARUM JAHIT
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“Dan tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat; sungguh kami kembali (bertaubat) kepada-Mu. Allah berfirman, “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami.” (QS. Al A’raf [7]:156)

Ayat di atas adalah kelanjutan dari doa Nabi Musa AS pada ayat sebelumnya. Jika Anda hayati doa di atas, Anda pasti menyimpulkan betapa tulus dan lembut hati nabi yang menjadi musuh Fir’aun ini. Ia terkenal paling gagah perkasa, tapi luar biasa tenggang rasanya, paling cepat marah tapi lekas meminta maaf, dan sangat sayang kepada umatnya. Dialah nabi yang paling banyak disebut dalam Al Qur’an, yaitu sebanyak 135 kali.

Ketika Nabi Musa AS memohon kepada Allah SWT agar semua kebaikan ditetapkan untuknya di dunia dan akhirat, dan agar taubatnya diterima oleh-Nya, Allah SWT menjawab, “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami.”

Tulisan ini difokuskan pada firman Allah yang bergaris bawah di atas, ”..dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu (warahmati wasi’at kulla syay-in)” Artinya tidak ada satupun makhluk, khususnya manusia yang tidak mendapat sentuhan kasih Allah: muslim atau bukan. Bahkan cobaan yang berat yang dihadapi manusia itupun sebenarnya bentuk kasih Allah agar ia segera kembali ke jalan yang benar. Musibah atau cobaan yang Anda alami sebenarnya sengaja diberikan Allah SWT kepada Anda agar Anda selamat dari musibah yang jauh lebih dahsyat. Jika tangan Anda ditarik oleh seseorang sampai tulang bahu Anda nyaris patah, sungguh orang itu sayang kepada Anda, sebab jika tidak, Anda pasti akan hancur tertubruk kereta api ekspres yang berada persis di belakang Anda. Berterima kasihlah kepada “pemutus” lengan yang penuh kasih itu. Siksa Allah hanya diberikan kepada orang yang benar-benar sudah keterlaluan, “…dan Kami tidak menjatuhkan siksa, melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (QS. Saba’ [34]:17)

Dalam kaitan itu, Nabi SAW bersabda, “Ketika Allah menciptakan makhluk, Ia menulis pada sebuah catatan yang terletak di dekat arasy dan di sisi Allah, “inna rahmati taghlibu ghadlabi (sungguh, kasih-Ku mengalahkan murka-Ku” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a). Agar lebih jelas, perhatikan sabda Nabi berikut ini. Umar bin Khattab r.a bercerita, “Beberapa tawanan perang dihadapkan kepada Rasulullah. Tiba-tiba seorang ibu di antara tawanan itu berlari kecil mencari anaknya. Setiap ia menjumpai anak kecil di antara tawanan itu, ia mengangkat dan menetekinya. Rasulullah lalu bersabda, “Menurut pendapatmu, apakah si ibu itu akan melemparkan anaknya ke dalam api?” Kami menjawab, “Demi Allah, tidak.” Nabi SAW lalu bersabda, “Allah lebih mengasihi hamba-Nya daripada kasih si ibu itu terhadap anaknya.” (HR Bukhari Muslim/ Kitab Riyadhus Shalihin I: 366)

Semua ayat dan hadis Nabi yang disebut di atas menjelaskan luasnya kasih Allah kepada manusia. Allah SWT sangat mengasihi dan mengampuni orang-orang mukmin. Hampir tidak mungkin menyiksa mereka. Allah SWT hanya menyiksa mereka yang kafuur (amat keterlaluan kekafirannya). Bahkan dalam hadis di atas dijelaskan bahwa setiap kali Allah SWT murka, Ia langsung membatalkan murka-Nya.

Sebagaimana diketahui, Allah memiliki 100 kasih (rahmat). Satu rahmat untuk kehidupan di dunia, sedangkan 99 sisanya disimpan untuk kehidupan akhirat. Setelah kiamat kelak, satu kasih itu dicabut kembali dan ditambahkan pada 99 agar genap menjadi 100 rahmat untuk orang-orang yang beriman seperti Anda. Semua ayat dan hadis di atas juga memberi optimisme hidup. Allah pasti menyanangi orang yang setiap hari bersujud kepada-Nya. Tidak mungkin Ia membiarkan Anda sendirian mengatasi masalah.

Untuk menggambarkan kasih Allah kepada semua makhluk, saya akan membangkitkan keimanan Anda dengan menyampaikan firman Allah SWT dalam sebuah hadits qudsi yang panjang. Allah SWT berfirman: (1) Wahai hamba-Ku, sungguh, Aku mengharamkan kepada diri-Ku untuk bertindak dhalim, dan Aku mengharamkannya juga kepadamu. Maka janganlah kalian saling mendhalimi. (2) Wahai hamba-Ku, kamu semua tersesat kecuali orang yang mendapat petunjuk-Ku. Maka mohonlah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku memberi petunjuk kepadamu. (3) Wahai hamba-Ku, kamu semua orang lapar kecuali orang yang Aku beri makan. Maka mohonlah makan kepada-Ku, nicsaya Aku memberimu makanan. (4) Wahai hamba-Ku, kamu semua telanjang kecuali orang yang Aku beri pakaian, maka mohonlah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku memberi pakaian kepadamu. (5) Wahai hamba-Ku, kamu semua selalu melakukan dosa, malam dan siang, dan Aku adalah Pengampun semua dosa. Maka mohonlah ampunan kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu. (6) Wahai hamba-Ku, kamu semua tidak akan bisa melakukan apapun yang merugikan Aku, dan tidak pula bisa melakukan apapun yang menguntungkan Aku. (7) Wahai hamba-Ku, seandainya orang generasi pertama sampai generasi terakhir, baik manusia maupun jin bertakwa seperti ketakwaan seorang (yang shaleh) di antara kamu, maka yang demikian itu sama sekali tidak menambah sedikitpun kebesaran dan kekuasaan-Ku. (8) Wahai hamba-Ku, seandainya orang generasi pertama sampai generasi terakhir, baik manusia maupun jin berhati jahat seperti kejahatan seorang (yang rusak iman dan akhlak) di antara kamu, maka yang demikian itu sama sekali tidak akan mengurangi sedikitpun kebesaran dan kekuasaan-Ku. (9) Wahai hamba-Ku, seandainya orang generasi pertama sampai generasi terakhir berkumpul di lapangan kemudian semuanya meminta kepada-Ku dan semua permintaan itu Aku beri, maka yang demikian itu sama sekali tidak mengurangi kekayaan-Ku, hanya seperti berkurangnya air samudera jika diambil dengan jarum (yang dicelupkan). (10) Wahai hamba-Ku, segala sesuatu tergantung pada perbuatanmu, dan semuanya Aku perhitungkan dan Aku beri balasan masing-masing. Maka barangsiapa yang melakukan kebaikan, maka bersyukurlah kepada Allah, dan barangsiapa yang melakukan selain kebaikan itu, maka jangan sekali-kali menyalahkan siapapun kecuali pada dirinya sendiri.” (HR Muslim dari Jundub bin Junadah r.a)

Bangkit dan optimislah. Kasih Allah SWT untuk Anda masih tersedia secara melimpah. Semua kesuksesan atau kebahagiaan yang telah diberikan kepada sekian banyak manusia sama sekali tidak mengurangi persediaan karunia untuk Anda, seperti air yang menempel pada jarum jahit kecil yang dicelupkan ke air laut. Limpahan air laut adalah limpahan karunia yang tersedia untuk Anda. Raihlah.