Header

TANPA SAPA DALAM KELUARGA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

Tanya:

Assalamualaikum wr wb.

Saya ibu rumah tangga dengan suami semata. Dua belas tahun berumah tangga belum dikaruniai anak. Orang-orang memandang saya bahagia bersuami tampan dengan rupiah dan dolar di mana-mana. Tapi mereka tidak tahu, bagaimana penderitaan yang saya alami mendengar label “mandul” dari mertua. Tidak sekali dua kali kata itu dilontarkan di tengah keluarga, bahkan di depan tamu, sekalipun dengan bahasa yang dihaluskan.

Penderitaan itu sekarang lebih ‘sempurna” karena sikap mertua yang tidak mau berbicara dengan saya, padahal hanya karena persoalan sepele dan kesalahpahaman. Saya telah berusaha meminta maaf, tapi tampaknya beliau belum berkenan. Saya mohon penjelasan bapak, apakah saya terkena dosa besar karena putus komunikasi lebih dari tiga hari sebagaimana yang disabdakan Nabi SAW?

Atas pencerahan bapak, saya ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum wr wb

Yosiana – Jakarta

Jawab:

            Ibu Yosiana, saya ikut prihatin dengan kondisi rumah tangga ibu. Tapi, percayalah tak selamanya mendung itu kelabu. Artinya, cobaan hidup itu suatu saat akan berakhir. Semoga ujungnya adalah kebahagiaan. Saya lebih suka menggunakan istilah cobaan hidup daripada penderitaan, istilah yang ibu gunakan. Kedengarannya seram sekali bu. Apa ada rumah tangga tanpa cobaan? Saya yakin cobaan yang ibu alami dirancang Allah untuk mendewasakan ibu dan semakin mematangkan keimanan ibu.

            Ibu benar bahwa Nabi SAW pernah bersabda:

            عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ اَنْ يَهْجُرَ اَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ فَمَنْ هَجَرَ فَوْقَ ثَلَاثٍ فَمَاتَ دَخَلَ النَّارَ رواه ابو داود

Abu Hurairah r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Seorang muslim tidak dihalalkan mendiamkan atau tidak menyapa saudaranya lebih dari tiga hari. Barangsiapa mendiamkannya lebih dari tiga hari kemudian ia mati, maka ia masuk neraka.” (HR. Abu Daud / Kitab Riyadlus Shalihin: 456)

            Saya cantumkan juga hadis-hadis lain tentang ancaman Allah bagi siapapun yang mendiamkan saudaranya, apalagi anggota keluarganya sendiri. Nabi SAW bersabda, “Siapapun yang mendiamkan saudaranya selama setahun maka sama dengan menumpahkan darahnya.” (HR. Abu Daud)

Dalam hadis yang lain juga dijelaskan, setiap hari Senin dan Kamis, semua catatan perbuatan manusia dilaporkan oleh malaikat kepada Allah. Lalu Allah mengampuni semua muslim kecuali muslim yang masih menyimpan dendam dengan yang lain. Allah memerintahkan malaikat, “Tangguhkanlah pengampunan untuk mereka sampai mereka berdamai.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a)

Berdasarkan hadis di atas, ibu tidak termasuk yang berdosa, sebab konflik itu terjadi secara sepihak. Orang yang memulai konflik dan membekukan komunikasi itulah yang berdosa. Apalagi ibu sudah mencoba mencarikan suasana dengan berinisiatif meminta maaf. Berbahagialah, dua bonus besar telah disiapkan Allah untuk ibu atas kesabaran dan usaha itu.

Saya ingin menghibur ibu sekalilagi dengan mengutip hadis bahwa muslim yang berinisiatip memulai menyapa dengan mengucapkan salam atau dengan cara lain maka dia dicatat Allah sebagai muslim yang berakhlak mulia, dan dia telah lepas dari semua dosa. Dalam syarah hadis disebutkan oleh As Shiddiqi: was saabiqu yasbiqu ilal jannah (orang yang mendahului kebaikan, dialah yang lebih awal memasuki surga). Ia mendapat dua bonus pahala yaitu pahala menyampaikan salam dan pahala memperbaiki hubungan sesama muslim. Jika salam itu dijawab, maka keduanya mendapat pahala. Tapi jika yang bersangkutan menolak menjawab salam, maka pemberi salam telah terbebas dari dosa, dan muslim yang menolak salam menanggung dosanya. (HR. Abu Daud dari Abu Hurairah r.a). Mengapa menanggung dosa? Karena ia meninggalkan dua kewajiban yaitu kewajiban menjawab salam dan kewajiban membangun hubungan harmonis sesama muslim.

Saya salut dengan usaha ibu yang terus menerus memulihkan keakraban dengan mertua. Saya yakin dan berdoa semoga mertua akan kembali bersikap seperti semula, bahkan akan jauh lebih akrab. Teruskan doa dalam sujud panjang Anda untuk keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga ibu. Wallahu a’lamu bis shawab.

 

 

KELUARGA BERARAH DENGAN SHALAT TENGAH
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sujud“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat tengah. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk.” (QS. Al Baqarah [02]:238)

Pujangga Perancis, Voltaire ketika membaca Al Qur’an pertama kali mengatakan, urutan ayat-ayat Al Qur’an sangat kacau. Tetapi, setelah dipelajari secara tenang dan mendalam, ia baru menemukan pesona sistematika ayat-ayatnya. Anda bisa memahami kegalauan Voltaire tersebut jika memahami ayat di atas dalam kaitannya dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya.

Ayat-ayat sebelumnya (ayat 221-237) berbicara tentang pernikahan, talak, maskawin, menyusui anak, masa tunggu (‘iddah) bagi wanita yang ditinggal mati suaminya, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kehidupan keluarga. Dan terbanyak berbicara tentang perceraian. Tiba-tiba saja ayat ini berbicara tentang shalat, lalu ayat berikutnya (ayat 239-241) berbicara lagi tentang perceraian dan kematian.

Ahli tafsir, Sayyid Quthub dalam tafsirnya cetakan pertama mengatakan, ia belum menemukan hubungan logis antara ayat-ayat di atas. Ia lalu memohon sumbangan pikiran dari para pembaca. Tapi, pada tafsir cetakan kedua, beliau sudah menemukan jawabannya, bahwa pernikahan, hubungan seksual suami istri, urusan keturunan, perceraian, iddah, rujuk kembali setelah perceraian, kewajiban nafkah, pemberian hadiah (mut’ah) untuk istri yang ditalak, menyusui anak dan menyapihnya, semuanya merupakah ibadah yang terkait dengan sesama manusia. Maka shalat sebagai ibadah tertinggi dijelaskan di tengah deretan ayat-ayat tersebut untuk menggambarkan satu kesatuan ibadah antara sesama manusia dan ibadah kepada Allah. Demikianlah Al Qur’an mengaitkan segala aktivitas manusia dengan Allah walaupun sepintas terlihat aktivitas tersebut tidak berkaitan dengan ibadah (Quraish Shihab, 2012 Vol. I: 625).

Kaitan ayat-ayat tersebut bisa juga dijelaskan bahwa kehidupan rumah tangga selalu disertai aneka problem yang menggangu ketenangan hati. Seringkali masalah-masalah itu membuat anggota keluarga kehilangan kesabaran dan terpancing berucap, bersikap dan bertindak yang tidak terpuji, bahkan kadang-kadang suami istri terbawa emosi melakukan pelanggaran agama secara serius. Misalnya memukul, mengungkit-ungkit pemberian dan menyampaikan daftar kesalahan masing-masing, lalu berujung pada kata-kata yang menjurus pada perceraian. Oleh sebab itu, semua anggota keluarga harus menguatkan daya redam dan penyejuk hatinya dengan shalat khusyuk agar masing-masing pihak bisa mengendalikan diri, sehingga kapal keluarga tidak tenggelam di tengah bahtera, meskipun gelombang dan badai menerpanya.

   Ayat ini berisi perintah melaksanakan shalat dengan gerakan dan bacaan yang sempurna (hafidhu) dan perintah menghadirkan hati ketika shalat (qanitin), terutama shalat tengah (wustha). Imam As Syaukani mengutip sebanyak 18 pendapat ulama yang berbeda-beda tentang makna shalat tengah. Tapi, menurut pendapat terbanyak shalat tengah adalah shalat Ashar, karena berada di antara semua urutan waktu shalat lainnya, mulai dari shubuh, dhuhur, maghrib dan Isyak.

Jika dikaitkan dengan kehidupan rumah tangga, maka shalat ashar amat menentukan keharmonisan atau kehancuran rumah tangga. Waktu ashar sampai maghrib adalah waktu dimana orang sudah sangat lelah setelah bekerja seharian. Apalagi suami istri sama-sama berkarir di luar rumah atau pekerja berat. Itulah saat-saat mereka sensitif emosinya sehingga mudah tersinggung dan marah. Mereka sama-sama meminta perhatian di saat mereka sama-sama dalam kelelahan fisik dan mental. Perhatikan firman Allah, ..“..dan (peliharalah) shalat tengah. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu´.”  Pada saat itulah mulut harus diberi cahaya ketuhanan dengan berwudlu dan bacaan-bacaan mulia selama shalat agar tidak mengeluarkan perkataan yang menyesakkan dada anggota keluarga. Pikiran dan hati harus dijernihkan dengan rukuk dan sujud panjang dan khusyuk agar dapat berfikir positif dan kuat untuk mengendalikan diri.

Sebagian ulama mengartikan shalat tengah dengan shalat subuh, sebab ia berada di antara shalat maghrib, isya’, dhuhur dan ashar. Shalat maghrib disebut shalat pertama sebab maghrib adalah awal hari dalam hitungan tahun Islam. Budaya Jawa juga menghitung malam sebagai awal hari. Jika shalat shubuh dipandang shalat tengah yang harus diperhatikan di tengah pembicaraan masalah-masalah rumah tangga, maka shubuh adalah waktu di mana fisik dan pikiran orang sangat fresh setelah istirahat semalam dan shalat berjamaah. Itulah saatnya masing-masing pihak dalam rumah tangga saling introspeksi, saling mengalah dan saling memaafkan, dan itulah kunci utama untuk menjaga keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga.

Jika shalat tengah adalah shalat ashar dan shubuh, sebagaimana pendapat Al ‘Allamah Ibnu Abi Jamrah dalam kitabnya Bahjah Al Nufus (Juz I: 203), maka hadis qudsi berikut ini semakin menyemangati kita untuk lebih memperhatikan kekhusyukan kedua shalat tersebut.

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَتَعَاقَبُوْنَ فِيْكُمْ مَلَائِكَةٌ بِالَّيْلِ وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُوْنَ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ وَصَلَاةِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِيْنَ بَاتُوْا اَوْكَانُوْا فِيْكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ وَهُوَاَعْلَمُ بِهِمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فَيَقُوْلُوْنَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ وَاَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ رواه البخارى

Rasulullah SAW bersabda, para malaikat penjaga malam dan penjaga siang silih berganti mengawasi kalian. Mereka berkumpul pada saat shalat subuh dan shalat ashar. Lalu para malaikat yang mengawasi kalian sepanjang malam naik ke langit. Allah bertanya kepada mereka, dan Allah sebenarnya lebih mengetahuinya, “Bagaimana kalian meninggalkan hamba-hamba-Ku? Mereka menjawab, “Kami meninggalkan mereka dalam keadaan sedang shalat dan kami mendatangi mereka juga dalam keadaan shalat.” (HR. Al Bukhari dari Abu Hurairah r.a)

Malaikat yang disebut dalam hadis di atas adalah malaikat yang secara khusus mengawasi shalat manusia selain Malaikat Raqib dan Atid yang bertugas mencatat perbuatan manusia secara keseluruhan. Mereka terbagi menjadi dua kelompok yaitu pengawas siang dan kelompok pengawas malam. Dua kelompok itu berkumpul setiap ashar dan shubuh, waktu pergantian jadwal pengawasan. Mereka menjadi saksi atas kesungguhan shalat setiap orang khususnya shalat ashar dan shubuh. Persiapan shalat, menunggu shalat berjamaah, dzikir dan bincang-bincang santai untuk menyegarkan suasana keluarga, saling memberi kritik usai shalat ashar dan shubuh termasuk dalam kategori shalat yang dilaporkan oleh malaikat itu.

Jika kedua shalat itu dijalankan dengan benar, maka semua malaikat akan menjadi saksi keimanan Anda. Jangan lupa, setelah persaksian itu, malaikat juga memintakan ampunan dan rahmat Allah untuk Anda. Wahai saudaraku yang sedang dirundung masalah dalam rumah tangga, mulai sekarang kendalikan pikiran, mulut dan tangan Anda dari hal-hal yang semakin menambah runyamnya masalah, khususnya pada senja menjelang maghrib. Lakukan shalat shubuh berjamaah dengan istri, suami dan anak-anak. Rukuk dan sujudlah yang lama untuk meminta ampunan dan petunjuk Allah, lalu saling berpeluklah sambil meminta maaf dan berjanji untuk memperbaiki diri. Apa yang Anda lakukan akan terekam dalam kamera para malaikat, lalu mereka mendoakan Anda. Cahaya shubuh adalah cahaya persaksian. Allah SWT berfirman, “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sungguh shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)” (QS. Al Isra’ [17]:78). Sambutlah terbitnya fajar dan matahari dengan terbitnya harapan baru rumah tangga Anda.

Sumber: Hamka, Tafsir Al Azhar Juz II: 247; M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah Volume 1: 625; Muhammad ‘Awwaamah, Minas Shihah Al Ahadits Al Qudsiyyah: Mi’ah Hadits Qudsi Ma’a Syarhiha (Seratus Syarah Hadis Qudsi), Noura Books, Jakarta Selatan 2013, p. 282-287.

BERAGAMA DENGAN CERIA

March 19th, 2015 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

BERAGAMA DENGAN CERIA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

smile muslim“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu, Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rasulullah itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah pelindung terbaik dan penolong terbaik (pula).” (QS. Al Haj [22]:78)

Tulisan ini ini hanya menjelaskan penggalan dari ayat yang tercetak tebal dalam terjemah ayat di atas, “..dan Dia (Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” Tentu Anda masih ingat tulisan saya sebelumnya, “Hidup Biasa dengan Ibadah Ekstra.” Sebaiknya Anda membacanya ulang sebab sangat terkait dengan tulisan ini. Uraian ini ditulis sebagai respon atas komentar negatif yang disampaikan oleh orang-orang yang memandang Islam sebagai ajaran yang terlalu banyak aturan sehingga menyempitkan gerak kehidupan. Mereka merasa kehilangan kenyamanan atau kebebasan hidup karena kungkungan nilai-nilai agama yang ketat. Allah SWT Maha Mendengar ucapan mereka dan menurunkan wahyu yang berbunyi:

طه ١ مَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لِتَشۡقَىٰٓ ٢ إِلَّا تَذۡكِرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰ ٣

“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah. Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).” (QS. Thaha [20]: 1-3)

Firman Allah ini diawali dengan Thaahaa, salah satu nama atau predikat Nabi SAW, yaitu singkatan dari thahir (orang yang bersih dari dosa) dan hadi (orang yang memberi pencerahan agama). Oleh sebagian ulama, thaaha dikaitkan dengan pribadi Nabi SAW karena kata itu terdiri dari huruf tha yang dalam hitungan Arab berarti angka 9 dan ha yang berarti 5 sehingga berjumlah 14. Tanggal 14 adalah awal dari puncak cahaya bulan purnama yaitu tanggal 15, dan Nabi SAW dipanggil dengan bulan purnama (al badar). Dengan demikian, firman Allah ini secara tidak langsung mengingatkan Nabi agar mengajarkan agama yang memudahkan orang dan menjauhkan mereka dari hidup yang susah karena Islam.

Surat Thaaha ini turun ketika banyak pengikut Nabi SAW disiksa oleh orang-orang kafir di Mekah. Mereka lalu mengejek Islam sebagai agama yang mendatangkan penderitaan pengikutnya. Maka ayat ini membantah tuduhan orang kafir Mekah tersebut,”Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah.” Sebagian ahli tafsir memberi penjelasan berbeda, bahwa ayat ini turun ketika ada seorang sahabat yang memaksakan diri untuk terus beribadah padahal ia sudah kelelahan, sebagaimana akan dijelaskan pada bagian akhir tulisan ini.

Allah SWT juga menegaskan keceriaan dalam beragama dalam ayat yang lain, yaitu:

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.“ (QS. Al Baqarah [02]:185)

Muhammad bin ‘Allan As Shiddiqy, penulis kitab Dalilul Falihin menulis satu bab yang berjudul Bab Al Iqtshad fit Tha’ah (Pembahasan tentang Beragama secara Moderat). Ia mengatakan, “Orang beragama bagaikan orang yang melakukan perjalanan yang sangat jauh dengan banyak bekal di punggungnya. Jika ia berjalan dengan cepat dan memaksakan diri agar lekas sampai tujuan, maka dipastikan ia kelelahan dan tidak akan sampai ke tujuan.”

Pada zaman Nabi SAW, ada peristiwa yang menarik. Seorang penduduk desa pedalaman menemui Nabi SAW. Beliau lupa siapa pria yang datang tersebut. Lalu lelaki itu berkata, “Saya orang yang masuk Islam setahun silam, dan sejak itu saya tidak pernah makan di siang hari.” Nabi SAW lalu berkata, “wa man amaraka an tu’adzdziba nafsaka? (Siapa yang menyuruhmu menyiksa diri sendiri?”

Nabi SAW juga pernah bersabda, “Sungguh, agama itu mudah (yusrun). Siapapun yang mempersulit (pelaksanaan) agama, ia akan kalah. Maka sedang-sedang sajalah kalian (saddidu), berdekat-dekatlah (wa qaribu), dan bergembiralah (wa absyiru), serta mintalah pertolongan Allah di waktu pagi, sore dan sedikit di malam hari” (HR Bukhari dari Abu Hurairah r.a)

Imam Al Karmany menjelaskan arti hadis di atas secara rinci. Menurutnya, kata yusrun dalam hadis di atas artinya Islam itu sangat mudah. Oleh sebab itu, siapapun yang mempersulit diri dalam menjalankan agama, ia akan gagal mencapai kesempurnaan sebagian atau keseluruhan ibadahnya. Perintah Nabi SAW, “saddidu (sedang-sedang sajalah)” artinya jalankan agama dengan sedang-sedang saja dengan prinsip kemudahan asalkan tidak melanggar aturan yang baku. Sedangkan kata wa qaribu (berdekat-dekatlah)” artinya, jika Anda tidak bisa menjalankan agama secara ideal, maka berupayalah mendekati yang ideal itu.

Imam Al Karmany lebih lanjut menjelaskan bahwa sabda Nabi SAW, “wa absyiru (bergembiralah)” artinya kerjakan agama dengan sukacita. Bergembiralah dengan pahala Allah atas ibadah yang Anda kerjakan dengan konsiten dan kontinyu sekalipun kecil. Mintalah pertolongan Allah agar tetap menjalankan ibadah dengan sukacita agar tidak merasa bosan. Orang yang tidak mengerjakan agama dengan riang hati, ia akan jemu dan merasa lelah, seperti musafir yang kelehan di jalan dan tidak sampai tujuan.

Anas bin Malik r.a bercerita, suatu ketika Nabi SAW memasuki masjid dan beliau melihat tali yang terbentang antara dua tiang. Beliau bertanya, “Ini tali apa?” Para sahabat menjawab, “Ini tali yang diikat oleh Zainab untuk pegangan shalat ketika ia sudah lelah. Maka Nabi SAW bersabda, “Li yushalli ahadukum nasyathahu, fa idza fatara fal yarqud (hendaklah seseorang shalat dalam keadaan segar. Jika lelah, maka hendaklah ia tidur dulu).”

Dalam Al Qur’an, Allah SWT menekankan beberapa kali prinsip kemudahan beragama tersebut, antara lain pada beberapa ayat yang disebut di atas. Renungkan kembali penggalan firman Allah di atas, yaitu:

“…dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al Haj [22]:78).

Islam diturunkan untuk membahagiakan Anda, bukan untuk menyusahkan Anda, maka raihlah kebahagiaan itu dengan pengamalan agama dengan sukacita. Jika ada ajaran yang menurut Anda menyusahkan, maka pastikan cara pandang Anda yang salah karena mungkin berdasar hawa nafsu, bukan dengan akal sehat. Atau karena pengetahuan Anda yang sempit atau karena penafsiran yang keliru. Kerjakan perintah Allah semampu Anda dan Allah SWT pasti Mahatahu kesulitan dan semangat Anda. Jika Anda beragama dengan dukacita, bagaimana mungkin Anda bermuka ceria dan menebar kasih kepada sesama, dan mungkinkah ada orang lain tertarik pada agama Anda?

Sumber: Muhammad bin Allan As Shiddiqy, Dalilul Falihin Juz I, p. 281; An Nawawi, Riyadlus Shalihin I: 145, Hamka, Tafsir Al Azhar Juz 16 p. 118; M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah vol. 7 p. 548