Header

BERJABAT TANGAN DENGAN MALAIKAT

September 26th, 2013 | Posted by admin_tsb in Artikel - (5 Comments)

       BERJABAT TANGAN DENGAN MALAIKAT

Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

10271007-hand-shake“Sungguh, orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, “Janganlah kalian takut dan jangan pula bersedih; dan bergembiralah (mereka) dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS Fushilat 41:30)

Maukah Anda didampingi para malaikat yang menghibur ketika Anda bersedih dan membisikkan kata penyemangat ketika Anda hampir putus asa? Melalui ayat di atas, Allah menawarkan kesempatan emas tersebut. Siapapun Anda berhak untuk mendapatkannya, asalkan Anda menyatakan beriman sepenuh hati kepada Allah, lalu tidak goyah sekalipun menghadapi tantangan penuh resiko. Inilah yang disebut istiqamah. Banyak orang menyatakan keimanan melalui lisannya, namun tidak konsisten dalam tindakan, lebih-lebih ketika menghadapi godaan kenikmatan. Imannya naik turun bersamaan dengan gelombang kehidupan, mendekat Allah ketika susah, lalu menjauh dari-Nya ketika bebas dari masalah.

Iman yang istiqamah bisa diibaratkan sebuah gunung. Ia tidak membeku sekalipun udara sangat dingin, tidak bergerak sekalipun ada badai, tidak meleleh sekalipun cuaca sangat panas, dan tidak terseret air sekalipun terjadi banjir bandang. Buah utama dari istiqamah adalah tumbuhnya rasa senang dan tenang karena kedekatannya kepada Allah, sehingga tidak menoleh kepada siapapun selain kepada Allah SWT.

Istiqamah merupakan prestasi besar bagi orang mukmin. Hanya orang istimewa yang bisa melakukannya. Istiqamah baru bisa dilakukan ketika seseorang sudah mampu melawan kebiasaan buruk sehari-hari, jujur dan bersungguh-sungguh. Jadi bukti istiqamah adalah bertauhid dengan lidah, memantapkan tauhid dengan hati dan menjalankannya dengan benar sampai wafat.

Semakin berat tantangan keimanan, semakin terlihat istiqamah seseorang. Orang  istiqamah akan menolak ajakan zina oleh orang yang paling dikasihi ketika segalanya memungkinkan dan kerahasiaan juga terjamin. Itulah salah satu bukti istiqamah. Orang istiqamah tidak akan mengambil uang yang tidak halal sedikitpun, walaupun ia sangat membutuhkan uang untuk pengobatan anak yang sedang dioperasi di rumah sakit.

Bilal bin Rabbah adalah contoh muslim istiqamah. Ia tetap berani mengatakan ”Tiada Tuhan selain Allah” sekalipun berat resikonya. Kedua kakinya diikat di kaki kuda yang berlari di jalan utama kota Makkah, sehingga darah tercecer dari kepalanya. Penyiksaan itu dialami Bilal tidak sekali dua kali.

Ada kisah yang erat kaitannya dengan janji Allah di atas. Pada tahun perang Khoibar, datanglah Imran bin Hushain kepada Rasulullah SAW. Ia letakkan tangan kanannya di atas tangan kanan Rasulullah SAW untuk menyatakan kesetiaan, dan bersumpah tidak akan menggunakan tangannya kecuali untuk berbuat kebajikan. Setelah sumpah setia itu, ia tidak pernah absen dari kajian Islam Rasulullah SWT bersama para sahabat. Suatu saat, ia sangat tertarik dengan dialog Nabi dengan para sahabat pada kajian tersebut.

”Wahai Rasulullah, jika saya berada di dekatmu, tenanglah hati saya. Rasanya tidak ada lagi keinginan duniawi. Bahkan seolah-olah saya bisa menerawang akhirat dengan jelas. Namun ketika jauh darimu dan kembali di tengah keluarga beserta anak-anak, saya lupa diri lagi,” tanya sebagian sahabat. Rasulullah SAW menjawab, ”Demi Allah yang menguasai diriku, seandainya kamu semua selalu dalam keadaan seperti ketika kalian di sisiku, para malaikat pasti akan menampakkan diri untuk berjabat tangan denganmu. Tapi, yang demikian itu tidak bisa terus menerus atau hanya sewaktu-waktu”.

Dalam ayat di atas, orang yang istiqamah akan memperoleh bisikan para malaikat, Jangan takut dan jangan bersedih. Bergembiralah dengan surga yang sudah tersedia untukmu”. Kapan para malaikat itu datang? Imam Mujahid, As-Suddi dan Zaid bin Aslam mengatakan bahwa para malaikat itu datang ketika orang mukmin menghadapi sakaratul maut (detik-detik terakhir kahidupan). Dengan wajah berseri-seri, para malaikat memanggil ruh orang yang istiqamah,”Wahai ruh yang baik dalam jasad yang baik pula, keluarlah untuk menemui Tuhan yang tidak marah kepadamu”.

Menurut At-Thobari dari Ibnu ’Abbas, para malaikat itu datang ketika orang-orang mukmin dibangkitkan dari kubur pada hari kiamat kelak. Sebagian ahli tafsir mengatakan malaikat datang pada saat orang mukmin menghadapai pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur. Hamka menafsirkan secara lebih luas, para malaikat itu datang kepada orang yang mukmin dan istiqomah  kapan saja dalam hidup sekarang, sebab ayat berikutnya berbunyi, ”Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta”.(QS Fushilat [41]:31).

Imran bin Hushain penasaran dengan jawaban Nabi SAW, kenapa ”berjabat tangan” dengan malaikat hanya sewaktu-waktu? Andai selamanya tentu lebih menyenangkan. Oleh sebab itu, ia berjanji untuk menambah ibadahnya kepada Allah. Semakin hari, semakin bersemangat ibadahnya. Ketika ia sampai pada puncak ibadahnya, ia mengatakan ”Oh Allah, mengapa aku tidak Kau jadikan debu saja”. Semakin mengetahui keagungan Allah, ia semakin mengetahui keterbatasannya untuk memuji dan menyanjung Allah. Ia kehabisan kata untuk mengagungkan Allah sesuai dengan kebesarannya.

Masalah hidup selalu hadir pada siapa saja dan kapan saja: masalah rumah tangga, pekerjaan, kesehatan, pergaulan di tengah-tengah masyarakat dan sebagainya. Sebagian orang berhasil melalui ujian itu dengan kesabaran, dan sebagian yang lain murung bercampur marah. Bahkan ada yang bunuh diri dengan ”terjun bebas dari lantai 11”. Kesedihan yang berlarut-larut atau keputusasaan itu tidak akan dialami orang-orang yang istiqamah, sebab Allah SWT sudah menunjuk beberapa malaikat untuk mengawal, menolong dan memberi kalimat penguat kepadanya.

Sumber Gambar: http://us.123rf.com/400wm/400/400/pixxart/pixxart1108/pixxart110800023/10271007-hand-shake.jpg

SUSAHNYA BERSAMA SUAMI AHLI AL-QUR’AN

Tanya:

Assalamu’alaikum Wr Wb.

Saya bangga sebagai seorang istri dari ustad pembaca Al-Qur’an terkenal. Sebagai penghormatan kepada keilmuan serta statusnya sebagai suami, saya menunjukkan ketaatan yang maksimal. Apa saja perintahnya saya lakukan. Seingat saya, tidak ada satupun perintahnya yang saya bantah. Setiap jabat tangan, pasti saya cium tangannya. Sampai saat ini, saya tidak pernah menuntut nafkah yang aneh-aneh, hanya kebutuhan pokok rumah tangga saja.

Memasuki tahun keenam rumah tangga, tiba-tiba saja sering terjadi kesalahfahaman. Suatu saat, suami marah, lalu pamit pergi dengan alasan mencari hawa segar daripada hawa menyesakkan di rumah. Saya hitung ia tidak pulang sampai enam bulan. Nafkah lahir tidak, apalagi nafkah batin.

Nasehat orang tua, mertua, guru-gurunya tidak pernah dihiraukan. Ia lebih mendengar bisikan orang lain. Apa yang harus saya lakukan?. Lalu, siapakah yang bisa memberi nasehat kepada suami yang sudah berstatus ustadz itu? Sejauhmana batas kebebasan keluar rumah bagi seorang suami?. Demikian, saya ucapkan terimakasih atas jawaban Bapak.

Noer Husna – Gresik

Jawab:

Wa’alaikumussalam wr wb.

Pengasuh ikut prihatin atas masalah yang Anda hadapi. Semakin mulia kedudukan seseorang, semakin besar ujian dan cobaannya. Anda orang mulia, karenanya diuji dengan ujian seperti ini. Suami Anda juga sangat mulia karena penguasaan Al Qur’an, maka diuji Allah apakah hafalan Al Qur’an bisa menguatkan kesabaran menghadapi Anda, anak-anak dan masalah-masalah keluarga.  Tapi percayalah, kemarau panjang akan berakhir dengan hujan sehari. Hujan itu adalah hidayah Allah untuk suami Anda, dan juga untuk Anda sendiri.

Saya katakan hidayah Allah juga penting untuk Anda sendiri, sebab bisa saja tindakan suami yang Anda sebutkan dalam pertanyaan itu, hanya sebagai akibat dari ucapan, sikap dan tingkah laku Anda kepada suami selama ini. Mungkin Anda tidak merasa selalu melakukan yang positif. Tapi, bisa saja suami menafsirkannya secara negatif. Inilah yang disebut kesalahfahaman. Namanya salah faham, berarti kedua pihak harus dipertemukan untuk klarifikasi.

Karena Anda sebagai penanya, maka nasehat saya sampaikan kepada Anda. Bukan kepada suami yang tidak membaca jawaban ini. Pertama, jika Anda menemukan batu besar di tengah jalan, dan Anda tidak mampu menggesernya, Anda tidak perlu melakukannya sendirian. Bisa jadi, batu tetap bertengger sekalipun tangan Anda patah. Cukup Anda berjalan dengan berbelok sedikit melewati jalan lain untuk bisa sampai tujuan. Suami Anda mungkin punya watak dan temperamen yang unik, maka untuk sementara, Anda tidak perlu menasehati atau mencari orang untuk menasehatinya. Cobalah merenung untuk introspeksi sejenak, kata, sikap atau tindakan apa yang paling tidak disenangi sang suami? Rubahlah sekarang, tidak perlu berbantah dengan suami, apalagi menggunakan Al-Qur’an dan hadis sebagai penguat alasan. Ia sudah hafal semuanya. Logis atau tidak, apa saja yang tidak menyenangkan suami, Anda hindari. Pengasuh yakin,  Anda lebih tahu hal ini, karena sekian tahun berkumpul dengannya. Jika suami terbuka, mintalah ia mengatakan secara tertulis atau lisan apa saja yang sedang membuatnya kecewa dan marah. Tanyakan bagaimana caranya agar ia betah di rumah?. Sekali lagi jangan berbantah. Ikuti saja. Jika sudah membaik, didiskusikan lebih lanjut.

Hanya Allah yang menjadi Penggenggam hati sang suami. Saya yakin, Allah dengan sinar cahaya-Nya yang menembus lapisan langit dan bumi melunakkan hatinya. Itu sangat mudah bagi-Nya. Jika suami Anda bersedia, pengasuh siap menjembatani, dengan catatan Anda berdua yang datang. Kata Ibnu Taimiyah, “Jika seekor anjing akan menggigit, Anda tidak perlu melawannya. Cukup teriaklah pada pemilik yang mengendalikannya.”

Mudah-mudahan Allah menakdirkan suami Anda membaca hadis ini, “Mu’awiyah bin Hydah r.a berkata, ”Aku bertanya, wahai Rasulullah, apa kewajiban kami kepada istri?. Nabi menjawab, ”memberi makan, jika engkau (mampu) memberinya, memberi pakaian jika engkau (mampu) memberinya, jangan memukul wajahnya, jangan menjelekkannya dan jangan pula menghindar darinya kecuali serumah” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah). Artinya, dalam suasana ”perang” seseru apapun dalam keluarga, suami tidak dibenarkan meninggalkan rumah. Hanya boleh berpisah tidur, tapi tetap serumah.  Wallahu A’lamu bis-shawab.

MUSLIM SELEKTIF PRODUKTIF

September 5th, 2013 | Posted by admin_tsb in Taushiyah/Khutbah - (4 Comments)

MUSLIM SELEKTIF PRODUKTIF

Khutbah Jum’at di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya
30 Syawal 1434 / 06 September 2013
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ هُوَ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ  وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ  اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّابَعْدُ فَيَا عِبَادَاللهِ اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Kaum muslimin Yth.

Siang ini, saya akan menyampaikan satu hadits Nabi SAW yang sangat singkat, yang oleh Ibnu ’Abdil Bar dikatakan, “Inilah hadis paling singkat kata, tapi padat makna. Belum ada ucapan sesingkat dan sepadat itu sebelum Nabi SAW”. Inilah hadisnya:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه ” حديث حسن رواه الترمذي وغيره هكذا

Abu Hurairah r.a berkata, Rasululah SAW bersabda, ”Salah satu tanda sempurnanya keagamaan (Islam) seseorang adalah kesediaan meninggalkan sesuatu yang tidak bernilai baginya” (HR. At Tirmidzi dan lainnya)

Islam membuat skala nilai perbuatan manusia, mulai dari yang wajib (keharusan), sunnah (anjuran), mubah (netral nilai), makruh (anjuran untuk ditinggalkan) sampai yang haram (terlarang). Allah telah memberi kita akal, kitab suci al-Qur’an dan hadis Nabi sebagai alat untuk memilih di antara semua nilai tersebut. Sabda Nabi di atas memberi petunjuk, bagaimana kita seharusnya memilih di antara banyak nilai perbuatan tersebut. Kerjakan yang benar-benar bernilai, dan tinggalkan yang tidak bernilai sekalipun tidak terlarang.

Sesuatu disebut bernilai, jika ia dibutuhkan untuk kelangsungan hidup dan keselamatannya di akhirat. Terhadap hadis ini, Al Fasyani berkata, “Jika Anda membatasi diri untuk hal-hal yang penting dalam segala hal, Anda dijamin selamat dari penderitaan dunia dan akhirat. Jika Anda sadar bahwa semua kata dan tindakan selalu direkam dan dipertanggung-jawabkan di akhirat, pasti Anda tidak berbicara kecuali yang bernilai, dan tidak mendengarkan kecuali yang ada gunanya.”

Hadis ini juga megandung perintah berhati-hati dalam setiap kata dan tindakan, agar tidak ada orang yang terganggu ketenangannya atau tersakiti hatinya. Termasuk pula kata tak bernilai adalah kata yang diucapkan hanya untuk mengundang tawa orang. Dalam Kitab al-Muwatha’, Imam Malik mengutip nasehat Luqman, ”Ada tiga pangkal kebajikan, yaitu berbicara yang benar, memegang teguh amanah dan meninggalkan hal yang tidak berguna”. Imam Al-Hasan berkata, ”Salah satu tanda orang yang dibenci Allah adalah jika ia menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak bernilai.” Allah SWT berfirman,

Sungguh, bahagialah orang-orang yang beriman, (yaitu) mereka yang khusyu’ shalatnya, dan mereka yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna” (QS. Al Mukminun [23]:1-3)

Dalam kehidupan sehari-hari, kebanyakan kita tidak selektif dalam berucap dan bertindak. Kita sering melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak penting. Menghibur diri itu boleh dan perlu, tapi jika lebih dari cukup, itu sudah termasuk tak bernilai. Bergurau antar teman itu juga diijinkan untuk mengurangi ketegangan, tapi jika lebih dari cukup, maka itu termasuk tidak bernilai, bahkan seringkali menjadi sumber permusuhan. Apalagi sampai hanyut dalam gurauan yang berbau pornografi. Cobalah pegang prinsip ini ketika kita memegang telpon seluler,  di depan internet, di depan televisi, di meja makan, dan dalam segala hal. Semakin selektif terhadap ucapan dan tindakan, Anda semakin produktif, dan semakin jelas kemuliaan karakter Anda. Sebaliknya, semakin tidak selektif, semakin tampak kekeredilan dan kerapuhan iman Anda.

Al-Fasyani berpesan, ”Sibukkan dirimu dengan hal-hal yang berguna dan berpahala. Setan amat senang jika Anda menyia-nyiakan usia. Setan tahu bahwa setiap tarikan nafas dalam hidup ini amat mahal harganya. Muslim yang bijaksana akan menggunakan setiap detik usianya untuk mencari bekal menuju di akhirat.”

Setiap muslim harus menjauhi perkataan yang tidak baik. Jika tidak hati-hati, bisa saja orang mengalami penderitaan beruntun di akhirat hanya karena satu kata yang pernah diucapkannya. Ketika ia mati, setiap kali ada orang yang mengikuti ucapan buruk itu, ia mendapat siksa dalam kuburnya. Ibnu Umar r.a berkata, ”Jangan memperbanyak bicara kecuali yang bisa mendorong ingatan kepada Allah. Jika tidak, hatimu akan membatu dan Anda terjauh dari Allah.”

Hidup adalah amanah ”Sungguh, Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” (QS. An-Nisa [4]:58). Oleh sebab itu, setiap anggota badan adalah amanah. Amanah lisan adalah berbicara yang benar dan berguna. Pesan orang bijak, ”Berlebihlah dalam sedekah, tapi berhematlah dalam kata”. Amanah mata adalah menjauh dari pandangan yang dosa. Amanah tangan adalah berkarya terbaik untuk umat manusia. Amanah pemimpin adalah kesejahteraan dan keadilan untuk rakyat. Amanah ulama adalah mengarahkan umat ke jalan yang benar dan menjauhkannya dari kemaksiatan dengan fatwa dan ketauladanan. Amanah budak adalah tidak mengurangi pengabdiannya kepada tuan dan tidak curang terhadap harta yang dipercayakan kepadanya. Perlu diingat, kita adalah budak dalam hubungannya dengan Allah SWT.

Ketinggian iman seseorang ditentukan sikap selektifnya terhadap segala ucapan dan tindakan. Ada dua pedoman untuk seleksi kata dan tindakan. Pertama, ucapan atau tindakan itu diperbolehkan agama atau tidak?.  Kedua, jika diperbolehkan, kita harus mempertimbangkan, ada gunanya atau tidak. Jika tidak ada gunanya, maka tinggalkan, dan inilah tanda kesempurnaan iman Anda. Anda telah menjadi muslim produktif sebab semua kata dan tindakan Anda membuahkan kedekatan kepada Allah dan kehangatan persaudaraan sesama manusia.

Jika cukup bicara dua kalimat, jangan ucapkan kalimat ketiga. Kalimat ketiga itu tak bernilai, boros energi, bahkan kalimat yang berlebih itu bisa menjengkelkan orang.  Jika ada SMS yang tidak terlalu penting, untuk apa dibaca atau dijawab?. Jika Anda menasehati orang cukup dengan satu kata, untuk apa dua atau tiga kata. Kelebihan kata itu menandakan rendahnya keimanan, sebab Anda tidak selektif kata dan kontra produktif.

Belanjakan uang untuk hal-hal yang sangat penting saja. Jika tidak, rumah tangga Anda akan berantakan, sebab Anda boros dan mengarah ke pola hidup GLTL alias “gali lubang tutup lubang.”  Keluarlah dari rumah, jika memang ada hal penting yang harus dilakukan. Jika tidak, Anda menghamburkan BBM, tidak ikut prihatin dengan menipisnya cadangan BBM di negeri ini, dan menambah kemacetan yang menyusahkan orang di jalan raya. Jika cukup setengah piring, jangan makan satu, apalagi dua piring, sebab itu melebihi yang dibutuhkan tubuh. Makanan yang lebih dari yang dibutuhkan tubuh itulah yang menjadi sumber penyakit di kemudian hari.

Subhanallah, luar biasa, Maha Benar Allah dalam segala firman-Nya. Sungguh, pesan Rasulullah SAW sangat mendalam cakupannya. Ucapkan dan kerjakan hanya yang benar-benar penting. Tinggalkan yang tidak seberapa penting, sekalipun diperbolehkan agama, apalagi tidak ada gunanya sama sekali. Jadilah muslim selektif dan produktif. Badan Anda dijamin lebih sehat, rumah tangga Anda dijamin lebih bahagia, ekonomi Anda dijamin lebih stabil, dan tidak banyak orang di sekeliling Anda yang sinis atau bermusuhan dengan Anda. Barakallahu fikum (Semoga Allah memberkahi kehidupan kita semua)

اَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهُ لِى وَلَكُمْ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ