Header

KE LANGIT TUJUH DENGAN TISSUE

March 19th, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel - (11 Comments)

KE LANGIT TUJUH DENGAN TISSUE
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://images.astronet.ru/pubd/2001/03/15/0001166632/siriushb_jcc_big.jpg

sumber gambar: http://images.astronet.ru/pubd/2001/03/15/0001166632/siriushb_jcc_big.jpg

Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sungguh, hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar [39]:10)

Dalam ayat di atas, Allah menyuruh Nabi SAW untuk meneruskan panggilan-Nya kepada semua muslim, “Wahai hamba-Ku yang beriman, “Bertakwalah kepada tuhan-Mu..” Inilah panggilan Allah (“Hai hamba-hamba-Ku..”) yang mencerminkan kedekatan dan kasih-Nya kepada orang yang beriman kepada-Nya. Allah SWT lebih dekat kepada manusia daripada manusia itu sendiri mendekat kepada-Nya. Bagi manusia yang telah beriman, ia diminta membuktikan keimanannya dalam praktek kehidupan. Tidak cukup dengan pengakuan, tapi perlu pembuktian ketakwaan. Perintah bertakwa berarti perintah melakukan hal-hal yang terbaik kepada Allah, kepada semua manusia tanpa membedakan etnis, golongan dan agama, dan perlakuan terbaik untuk lingkungan hidup. Sekecil apapun kebaikan yang Anda lakukan pasti mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan di dunia. Anda akan menuai buah apel segar, jika yang Anda tanam memang pohon itu. Sebailknya, Anda akan menuai badai, jika yang Anda tabur adalah angin.   “Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan.” Menurut Al Qurthuby, kepuasan dan apresiasi manusia atas kebaikan yang Anda lakukan termasuk dari kebaikan yang Anda peroleh di dunia sebagaimana dimaksud dalam ayat ini. Di akhirat kelak, pasti balasan kebaikan itu jauh lebih besar.

Allah SWT mengisyaratkan, tidak semua orang memberi apresiasi atas kebaikan yang Anda lakukan. Kadangkala justeru sebaliknya, Anda mendapat perlawanan, cacian, sinisme, teror dan penyiksaan. Dalam sejarah, hanya sedikit orang yang mengapresiasi kegiatan Nabi SAW selama di Mekah, dan yang terbanyak justru penghinaan, intimidasi dan penyiksaan. Allah SWT mengingatkan, “..dan bumi Allah itu luas.” Artinya, jika benih kebaikan itu tidak cocok ditebarkan di suatu tempat, maka tidak perlu berkecil hati, karena masih banyak bumi Allah yang subur untuk benih kebaikan itu. Jika sebuah ide tidak diterima oleh suatu komunitas, jangan berkecil hati, masih banyak komunitas lain yang lebih cerdas dan siap menerima ide Anda. Melalui ayat ini, Allah SWT memberi inspirasi untuk selalu optimis, berfikir besar dan berpandangan luas seluas bumi. Tidak memandang dunia seluas daun semanggi. Jika usaha bisnis Anda tidak berkembang di suatu wilayah, jangan berputus asa. Cobalah kembangkan di tempat lain. Bumi Allah masih luas tersedia untuk usaha Anda. Percayalah, masih lebih banyak wilayah yang membutuhkan jasa dan barang Anda. Jika bakat Anda tidak bisa tersalur di suatu daerah, mengapa Anda tidak berhijrah ke daerah yang subur untuk pengembangan bakat dan kreativitas itu. Sekali lagi, “..dan bumi Allah itu luas.”

Imam Ar Rozy mengatakan, “Ayat ini turun di Mekah dan memberi isyarat kepada Nabi SAW bahwa suatu saat, ia akan hijrah dan sukses di kota Madinah. Allah SWT menutup firman dalam ayat ini, “Sungguh, hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” Firman ini menunjukkan, tidak ada kesuksesan tanpa keringat, air mata dan darah. Oleh sebab itu, keuletan, kesabaran menunggu hasil, tidak tergesa-gesa melihat kesuksesan, dan ketegaran menghadapi tantangan menjadi syarat mutlak untuk kesuksesan perjuangan bisnis, aksi sosial ataupun agama. Untuk menuju sukses, siapkan tissue sebanyak-banyaknya untuk mengusap keringat, air mata, bahkan darah karena harus berluka-luka menjalani kerasnya tantangan usaha ataupun dakwah.

Menurut Tafsir Imam Al Auza’iy, “Orang yang sabar menjalani penderitaan hidup akan diberi bonus istimewa, yaitu pembebasan dari pemeriksaan yang ketat di akhirat kelak. Ia akan langsung dimasukkan di ruang istimewa di surga.” Anas bin Malik r.a pernah mendengar Nabi SAW bersabda, “Semua perbuatan manusia akan diperiksa dan diperhitungkan (hisab), kecuali ahlul bala’, yaitu mereka yang bertubi-tubi mengalami cobaan dan penderitaan semasa hidupnya. Mereka memasuki surga tanpa proses pemeriksaan dan timbangan nilai perbuatannya. Melihat perlakuan istimewa untuk ahlul bala’ tersebut, maka orang-orang yang sehat semasa hidupnya, bebas dari macam-macam cobaan membayangkan kiranya di dunia dulu badannya dipotong-potong dengan gergaji.”  (Hamka, Tafsir Al Azhar Juz 23: 20-21). Tersenyumlah sekarang, wahai Anda yang hidup dalam penderitaan sampai saat ini.

Abu Hurairah r.a berkata, “Bersabarlah untuk menjalankan perintah Allah dan menghadapi cobaan. Dijamin, engkau mendapat pahala tiada batas dari Allah sebagaimana firman-Nya, “Sungguh, hanya orang-orang yang bersabarlah yang dipenuhi pahala mereka tanpa batas.” (Abul Laits As Samarqanday, Tanbighul Ghafilin: 144).

Jika Anda shalat dua rakaat di Masjidil Haram Mekah, Anda mendapat pahala senilai 100.000 shalat. Jika Anda mengerjakannya di Masjid Madinah, Anda dinilai sama dengan 1.000 shalat di masjid lainnya. Shalat sebelum Shubuh yang Anda kerjakan, menghasilkan pahala lebih besar daripada langit dan bumi. Banyak ibadah lain yang dijelaskan bilangan pahalanya oleh Allah SWT. Maukah Anda pahala yang jauh lebih dahsyat dari itu, bahkan tak terbatas dan tak terhitung, lalu Anda diterbangkan ke istana kemuliaan di langit tertinggi? Jawabnya hanya satu: “Jangan mengeluh dengan cobaan hidup. Pandanglah sebagai tantangan dan sekolah kematangan pribadi. Terimalah dengan sabar dan suka hati.”

 Tirulah Nabi SAW yang hanya tersenyum ketika disoraki sebagai “orang gila.” Nabi SAW juga tidak berkomentar satu katapun dan hanya mengusap ludah yang disemprotkan orang di mukanya. Ketika Anda memulai karya besar, orang-orang yang berpandangan sempit dan berotak kecil akan memandang Anda gila. Apalagi ketika mengalami kegagalan. Siapkan tissue di saku Anda dan usaplah ludah busuk mereka, lalu tinggalkan pergi.

Kaki dan tangan Anda mungkin sampai berlumuran darah, tidak lagi keringat karena beratnya tantangan yang Anda hadapi. Tetap tegarlah. Sekali lagi, ambillah tissue di saku Anda, lalu usaplah darah itu dan teruskan perjuangan Anda. Bersabarlah, suatu saat, Andalah yang menikmati kebahagiaan di puncak langit kesuksesan.

Berdasar ayat di atas, ada empat hal yang harus Anda tempuh menuju kesuksesan. Pertama, tanamkan keimanan kepada Allah yang membaja dan sertakan Ia dalam semua usaha Anda. Kedua, taburkan kebaikan kepada semua orang di semua penjuru angin. Setitik kebaikan Anda adalah investasi masa depan Anda. Ketiga, berpikir dan bergeraklah yang luas melampaui wilayah tempat tinggal Anda. Keempat, jadilah MTB (Manusia Tahan Bantingan), tidak cengeng, tetap ulet mengejar cita-cita. Usaplah dengan tissue berapapun derasnya keringat Anda. Dengarkan pedasnya cemoohan orang dengan tenang dan anggaplah sebagai musik penyemangat Anda. Andalah peraih anugerah yang terjanjikan dalam firman Allah, “Sungguh, hanya orang-orang yang bersabarlah yang dipenuhi pahala mereka tanpa batas.”

BERDZIKIR DENGAN AIR

February 14th, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel - (12 Comments)

BERDZIKIR DENGAN AIR
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

airMaka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan atau Kami yang menurunkannya? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur? (QS. Al Waqi’ah [56]:58-70)

Tiga ayat di atas merupakan penggalan dari rangkaian ayat ke 58 – 74 dari Surat Al Waqi’ah. Surat itu berisi perintah untuk merenungkan proses penciptaan manusia, makanan yang ditanam lalu dikonsumsi, serta air dan api yang mutlak diperlukan untuk kelangsungan hidup manusia. Penyebutan air dalam ayat di atas hanya salah satu dari 63 kali penyebutannya dalam Al Qur’an.

Berapa liter air yang Anda konsumsi setiap hari? Begitu murah dan mudah Anda mendapatkannya, sampai Anda lupa bahwa air merupakan benda yang amat mahal dan penting. Kita diingatkan Allah: ”Dari manakah air yang engkau minum? Buatanmu sendiri atau pemberian-Ku? Tidakkah tenggorokmu menjadi segar karena air? Betapa susah hidupmu, jika semua air menjadi asin? Dengan kata lain,  ”Mengapa engkau tidak berdzikir melalui renungan air?”

 Anda dan semua makhluk hidup tidak bisa dipisahkan dari air. Allah SWT berfirman, “Dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup …” (QS. Al Anbiya’ [21]: 30). Dari air spermalah Anda tercipta. “Hendaklah manusia merenungkan dari apa ia diciptakan. Mereka diciptakan dari air yang menyemprot” (QS. Al Thariq [86]: 5-6). Sebagian besar tubuh Anda juga mengandung air. “Allah telah menciptakan langit dan bumi serta menurunkan hujan dari langit, kemudian Ia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan yang menjadi rejeki untukmu …” (QS. Ibrahim [14]: 32). Ternyata air bukan saja dibutuhkan oleh fisik kita, tetapi juga elemen terpenting dalam menjaga keseimbangan alam semesta. Mengapa kita tidak lebih intensif berdzikir melalui renungan air?

Melalui sifat-sifat air, Allah memberi pelajaran yang lebih mendalam. Ia tenang dan selalu mengalir pada tempat yang lebih rendah. Dari sini, kemudian ada kiat sukses menjadi pemimpin dengan Filsafat Kepemimpinan Air: tenang, menyegarkan, memberi kepuasan, dan tidak sombong.   Air juga mengalir di antara batu-batu di pegunungan. Allah SWT memberi semangat Anda untuk tiada putus asa melunakkan hati orang yang membatu. Dengan kesungguhan, dari hati sekeras batu itu masih ada harapan untuk sebuah kebajikan. “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada sungai yang mengalir darinya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air darinya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Baqarah [2]: 74)

Di samping untuk diminum, air juga memberikan rasa segar untuk mandi dan mengembalikan kekuatan. Kekuatan air itu akan jauh lebih dahsyat, jika Anda menyebut Nama Allah setiap kali mengonsumsi atau memanfaatkan air, paling tidak dengan membaca basmalah, ”Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.Masaru Emoto dari Jepang pernah meneliti perbedaan kekuatan air yang disertai doa dan tidak. Kualitas daun pada tanaman bunga yang disiram dengan lembut dan doa yang diucapkan, amat berbeda dengan yang tanpa doa. Tanpa Masaru Emoto, kita sudah diajarkan untuk mengingat Allah sebelum minum atau menggunakannya. Mengapa kita sering mengabaikan ajaran yang simpel ini? Anda pasti beristighfar dan menunduk jika benar-benar menghayati nikmat air.

Suatu ketika, Harun Al Rasyid, kepala negara yang kharismatis dalam sejarah Islam, duduk gelisah. Lalu ia memerintahkan salah seorang pembantuya untuk mengundang Abus-sammak, seorang ulama terhormat pada masanya. ”Nasehatilah aku, wahai Abus-sammak,” kata Al Rasyid. Pada saat itu, seorang pelayan membawa segelas air untuk Al Rasyid. Ketika dia bersiap untuk meminumnya, Abus-sammak berkata: ”Tunggu sebentar wahai pemimpin kaum mukminin (amirul mukminin). Demi Tuhan, aku mengharap agar pertanyaanku dijawab dengan jujur. ”Seandainya Anda haus, tapi segelas air ini tak dapat Anda minum, berapa harga yang akan Anda bayar demi melepaskan dahaga?” ”Setengah dari kekayaanku,” jawab Al Rasyid, lalu ia meminumnya. ”Baiklah, seandainya apa yang Anda minum tadi tidak dapat keluar, sehingga Anda sakit, berapakah Anda bersedia membayar untuk kesembuhan Anda?” lanjut Abus-sammak. ”Separuh dari kekuasaanku,” tegas Al Rasyid. Abus-sammak lalu memberi taushiyah, “Ketahuilah, bahwa seluruh kekayaan dan kekuasaaan yang nilainya hanya seharga segelas air tidak pantas diperebutkan atau dipertahankan dengan cara yang tidak benar.” Kepala negara yang kaya-raya dan kekuasaannya meliputi beberapa negara itu kemudian menangis tersedur-sedu mendapatkan ”nasehat air” tersebut.

”Nasehat air” juga terjadi pada diri Umar bin Khatthab r.a. Hurmuzan, seorang tokoh Persia yang sedang ditawan dan dijatuhi hukuman mati memohon kepada Umar r.a. ”Berilah aku segelas air sebelum hukuman dijatuhkan kepadaku.” Umar setuju, dan sebelum terpidana tersebut minum, ia memandang Umar dan bertanya, ”Apakah aku dijamin aman sampai air ini habis saya minum?” ”Tentu,” jawab Umar r.a. Setelah mendapatkan jaminan, Hurmuzan lalu menumpahkan isi gelas itu, dan dengan senyum penuh arti dia berkata, ”Tepatilah janjimu, wahai Umar! Bebaskan aku”. Hadirin yang menyaksikan tersentak, namun Umar r.a berkata, ”Lepaskan dia. Kita harus setia kepada janji, apapun akibatnya.” (Quraish Shihab, Lentera Hati: 276)

Air juga bisa sarana penyelemat seseorang dari api neraka. Ada seorang pelacur yang menjumpai seekor anjing kehausan di padang pasir. Ia manaruh iba lalu turun ke dalam sumur untuk mengambil air dengan sepatunya. Ia minumkan sedikit air yang tersisa di sepatu kepada binatang yang liurnya najis itu, dan selamatlah ia dari bahaya kematian. Begitu menariknya kisah itu, sehingga dikisahkan oleh Rasulullah SAW dengan memberi komentar, ”Allah mengampuni dosa-dosanya, dan memasukkannya ke dalam surga karena sedikit air itu.”

Dengan ”nasehat air,” dzikir Anda semakin bermakna dan Anda semakin pandai mensyukuri air. Dengan ”air penuh dzikir” untuk minum, mandi, berwudlu, menyiram tanaman dan sebagainya, akan dihasilkan manfaat yang jauh lebih dahsyat melampaui analisis ilmuwan moderen.

BERSIUL DI TENGAH BADAI

January 9th, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel - (3 Comments)

BERSIUL DI TENGAH BADAI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://im.ft-static.com/content/images/830f14cd-e48e-493c-b619-b52693c53d42.img

sumber gambar: http://im.ft-static.com/content/images/830f14cd-e48e-493c-b619-b52693c53d42.img

“Tidakkah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?, dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu, dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Sungguh, sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sungguh, sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Alam Nasyrah [94]:1-8)

Uraian tentang surat Al Qur’an (nomor 94) dengan judul sebagaimana tersebut di atas tidak bisa dipisahkan dari uraian tentang surat sebelumnya (Ad-Dluha). Saya telah mengulas surat 93 itu dalam tulisan sebelumnya yang berjudul, “Hapus Duka dengan Dluha”. Siapapun yang menghadapi kesulitan hidup, sebaiknya menyemangati diri dengan membaca dan menghayati dua surat tersebut dalam satu shalat agar badai cepat berlalu, atau tetap bersiul sekalipun ia dalam pusaran badai.

Pada tahun 1970-an, ribuan orang di masjid Mekkah bertakbir histeris, sebagai pengganti tepuk tangan, ketika pembaca Al Qur’an legendaris, Syekh Abdul Basith Abdus Shamad melantunkan surat Alam Nashrah di atas dengan lengkingan suara merdunya,  “Tidakkah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?, dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu, dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.”

Beban apa yang dirasakan Nabi SAW (wizraka) sampai mematahkan punggungnya? Tidak lain adalah dosa manusia pada masa awal kenabian, meskipun Nabi tidak ikut melakukannya. Mereka tega mengubur hidup bayi berjenis kelamin wanita, menyembah patung batu dan saling menumpahkan darah hampir setiap hari. Tugas kenabian di tengah masyarakat yang terkenal membangkang dan arogan juga bagian dari beban berat Nabi. Di antara mereka memang ada yang menerima ajakan Nabi, tapi kebanyakan mereka orang miskin dan rendahan.

“Tidakkah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Sekarang, Nabi tersenyum ria setelah mendapat pertolongan Allah SWT. Banyak tokoh elit yang masuk Islam dan memberi dukungan penuh tugas dakwah Nabi SAW. Tidak hanya itu, Allah SWT juga mengharumkan namanya sejagat sampai hari kiamat.”.. dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.” Dalam semua ibadah, nama Nabi SAW selalu disebut setelah penyebutan nama Allah SWT, yaitu dalam ikrar syahadat, adzan, doa shalat dan sebagainya. Sehari saja Anda tidak menyebut namanya, Anda berubah menjadi kafir. Seorang penyair menyanjung Nabi SAW, “Oh Nabi, engkau pintu Allah. Tidak seorangpun bisa menjumpai-Nya, tanpa melalui gerbangmu.” (fa-anta babullah, ayyumri-in ataahu min ghairika la yadkhul).

Benar sekali, Allah menunjukkan bahwa tidak selamanya mendung itu kelabu. Untuk lebih meyakinkan Nabi SAW tentang hal itu, Allah SWT berfirman dan mengulangnya dua kali, “Maka sungguh, sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sungguh, sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

   Ayat di atas bisa diterjemahkan “Sungguh, sesudah kesulitan itu ada kemudahan” atau “Sungguh, di tengah kesulitan itu ada kemudahan.” Di tengah setiap penderitaan selalu terkandung mutiara indah, yaitu 3 K (Ketanggguhan mental, Kecerdasan dan Kedekatan kepada Tuhan). Tidak ada kesuksesan besar tanpa modal ketiganya. Tetap bersiullah sekalipun Anda sedang diterjang badai. Dengan badai itu, Allah sedang menyiapkan mental Anda untuk menjadi orang hebat.

Nabi SAW pernah harus makan dedaunan berbulan-bulan karena embargo bahan makanan oleh para pembencinya. Di tengah derita itu, Khadijah, istri yang paling setia mendampingi Nabi menerima wahyu serta memberi support dana perjuangan dipanggil selamanya oleh Allah?. Belum kering air matanya, datang lagi cobaan yang lebih berat. Abu Thalib, paman yang menyatakan siap mati untuk melindungi Nabi dari pelecehan dan kekejaman orang kafir juga meninggal dunia. Komplit sudah derita Nabi dalam setahun itu. Rupanya Allah sedang menyiapkan mental Nabi SAW untuk menerima anugrah besar. Dalam keadaan duka itu, ia diberi kehormatan luar biasa: menghadap Allah secara langsung di langit untuk isra’mi’raj.

Untuk menjadi orang besar, Nabi Yusuf harus merasakan bui selama tujuh tahun karena fitnah atau rekayasa jahat keluarga penguasa. Pengalaman serupa dialami oleh Hamka. Dalam penjara, ia mengatakan, “Andai saya hanya mengingat betapa kejinya kejahatan penguasa, saya bisa gila.”  Tapi Hamka amat menikmati penjara itu. Baru lima hari dalam penjara, ia sudah menyelesaikan membaca Al Qur’an tiga kali. Selama dua tahun di balik terali besi, ia diberi kemudahan Allah membaca tuntas Al Qur’an lebih dari 150 kali. Tidak hanya itu, 28 Kitab Tafsir Al Azhar bisa diselesaikan.

 Jika Anda mengagumi pengusaha sukses (al yusr), Anda perlu bertanya kepadanya berapa lama ia menderita (al ‘usr) sampai memperoleh kecerdasan usahanya. Bagaimana ia pantang menyerah dan harus bangkit dari kegagalan demi kegagalan (al ‘usr). Ada juga yang mengalami 100 kali kegagalan, dan baru berhasil (al yusr) ketika bangkit ke 101 kalinya. Seratus kegagalan itu lalu ditulisnya dalam sebuah buku yang mengantarkannya menjadi motivator kelas dunia.

Apakah Anda menyukai kopi luwak? Kopi itu menjadi mahal setelah ditelan luwak dan harus merasakan bercampur dengan kotoran luwak berjam-jam. Anda juga berhak menjadi orang sukses dengan usaha yang lebih lancar (al yusr) setelah merasakan badai demi badai. Bersenanglah sekalipun Anda sedang di perut luwak. Sebentar lagi Anda menjadi orang sukses dan nama Anda menjadi buah bibir. “Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.”

Untuk kesuksesan, Anda harus menjadi pekerja keras dan disiplin. Selesaikan tugas atau pekerjaan dengan segera, agar Anda bisa menyelesaikan pekerjaan lainnya yang juga penting. Jangan sekali-kali menunda pekerjaan. Atau mengerjakannya tanpa keseriusan. Istirahat adalah sebuah keharusan, tapi jangan berlama-lama. Perhatikan firman Allah ini, “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu pekerjaan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (pekerjaan) yang lain,” Optimislah dalam meraih cita-cita. Yakinlah bahwa Allah pasti, pasti, pasti Maha Kuasa menolong Anda, lebih-lebih ketika Anda rukuk dan sujud lama dalam shalat. “Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” Jangan mengeluh. Jangan cengeng menghadapi sebuah kesulitan. Lebih tepat Anda menyebut kesulitan itu sebagai tantangan. Nikmatilah. Bersiullah sekalipun Anda sedang diterjang badai. Sebentar lagi mendung akan sirna, dan cahaya kesuksesan telah di ambang pintu.