Header

JIHAD MENUJU MAKRIFAT

April 30th, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel - (4 Comments)

JIHAD MENUJU MAKRIFAT
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/83/Wind_turbine_dawn.JPG

sumber gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/83/Wind_turbine_dawn.JPG

”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami, dan sungguh Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Ankabut[29]:69)

Ayat diatas adalah salah satu dari ayat-ayat tentang jihad, tapi bukan jihad dengan samurai atau bom, seperti yang diartikan secara sempit oleh sebagian orang. Melalui ayat penutup surat Al Ankabut yang turun di Mekah ini, Allah memberi jaminan petunjuk bagi siapapun yang melakukan jihad (bekerjakeras) untuk mencari kebenaran. Ayat ini merupakan kelanjutan ayat sebelumnya tentang murka Allah kepada orang-orang yang mengabaikan perintah Rasul, padahal utusan Allah itu telah menyampaikan ajaran kitab suci dengan jelas dan terang. Mereka tidak bisa menangkap cahaya kebanaran karena tidak berusaha dengan sungguh-sungguh (jihad) untuk mencarinya.

Beberapa ahli tafsir memberikan penafsiran yang beragam tentang ayat di atas. Menurut Al Alusi dalam TafsirRuhul Ma’ani, maksud ayat di atas adalah, ”Siapapun yang berjihad dalam mencari ridla Allah, akan diberi tambahan petunjuk dan kemudahan untuk sampai kepada-Nya.” Ibnu Abbas dalam Tanwirul Miqbas memberikan tafsir bahwa, ”Siapaun yang berjihad untuk taat kepada Allah sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki, ia akan diberi tambahan petunjuk dan pengetahuan baru untuk bisa meningkatkan ketaatannya kepada Allah. Allah Maha Menolong orang yang berusaha meningkatkan kebajikan dalam tutur dan tindakannya.” Menurut Hamka dalamTafsir Al Azhar, ayat di atas merupakan jaminan petunjuk bagi siapapun yang menyediakan dirinya menempuh jalan Allah. Tujuan mereka hanya satu, yaitu Allah dan tekadnya telah bulat, yaitu ridla Allah. Ia berjihad: mendaki bukit betapapun tingginya, menyeberangi laut berapapun luasnya, dan mengurbankan harta bahkan jiwa raga untuk meraih ridla-Nya.

   Allah memang Maha Dekat dengan hamba-Nya. Akan tetapi untuk bisa benar-benar dekat, manusia harus berusaha dengan penuh kesungguhan. Tanpa kesungguhan, ia tidak akan bisa mendobrak dinding hawa nafsu yang menyekat dirinya dengan Allah SWT. Oleh sebab itu, Imam Al Qusyairi dalam Tafsir Al Qusyairi menjelaskan ayat di atas lebih sufistik, bahwa siapapun yang berjihad dalam ibadah lahiriyah, akan memperoleh kelembutan batiniah. Untuktujuan itu, setiap orang harus menempuh lima jihad. Pertama, meninggalkan yang haram; kedua, meninggalkan yang samar: diragukan halal haramnya(syubhat); ketiga, meninggalkan hal-hal duniawi yang sekunder (al-fudlolat); keempat memutus ketergantungan kepada makhluk Allah; dan kelima, menghindari kesibukan yang tidak bermakna sepanjang waktu.

Pada ujung ayat, Allah berfirman ” dan sungguh, Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik (muhsin)”. Orang yang muhsin tidak hanya memandang agama secara formal namun juga fungsional. Tidak hanya meninggalkan yang haram, tapi juga perbuatan yang makruh atau yang tidak bermakna, sekalipun tidak dilarang. Tidak hanya menjalankan yang wajib, namun juga yang sunnah sebanyak-banyaknya. Tidak hanya berpedoman keabsahan ibadah semata, namun juga kehadiran hati dan kekhidmatan. Tidak hanya memandang ibadah dari segi kulitnya, namun lebih pada isi atau hakekatnya. Inilah ladang jihad untuk lebih dekat kepada Allah. Allah SWT pasti memberi kemudahan bagi setiap orang yang mendekat kepada-Nya, bagaikan magnit besar yang menarik dengan cepat butir-butir pasir besi yang mendekatinya. Ketika masih jauh dari magnit, harus ada usaha untuk mendekatkan butir-butir pasir besi itu. Namun ketika sudah dekat magnit, ia tidak perlu mendekat, karena magnit itulah yang secara aktif menariknya. Ia benar-benar telah menjadi kekasih Allah (waliyullah). Mohammad bin Allan Ash-Shiddiqi dalam Dalilul Falihin mendefinisikan waliyullah orang yangamat dekat dengan Allah karena pendekatannya (taqarrub) yang tiada henti kepada-Nya dengan menjalankan kewajiban, meninggalkan larangan, memperbanyak perbuatan sunnah, dengan cahaya makrifatnya, ia melihat Allah dalam setiap makhluk-Nya, tidak mendengar kecuali ayat-ayat Allah, tiada berucap kecuali pujian untuk Allah dan tidak bertindak kecuali untuk ketaatan kepada Allah. Ia telah mengenal lebih dekat siapa diri dan siapa Tuhannya (ma’rifat). Dalam keadaan demikian, maka Allah telah menjadi sensor semua inderanya dan motor dalam semua langkahnya.

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, اِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ اَذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ, وَمَاتَقَرَّبُ اِلَىَّ عَبْدِىْ بِشَىءٍ اَحَبَّ اِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ, وَمَا يَزَالُ عَبْدِىْ يَتَقَرَّبُ اِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى اُحِبَّهُ, فَاِذَا اَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِىْ يُبْصِرُبِهِ وَيَدُهُ الَّتِى يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا وَلَئِنْ سَاَلَنِى َلاُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى َلاُعِيْذَنَّهُ. (رواه البخارى)

”Rasulullah SAW bersabda, ”Allah SWT berfirman, “Barangsiapa memusuhi kekasih-Ku (waliyullah), maka Aku menyatakan perang kepadanya. Yang paling Aku senangi dari apa yang dikerjakan hamba-Ku untuk mendekatkan dirinya kepada-Ku adalah ketika ia mengerjakan apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dia lalu tiada henti mendekatkan diri kepada-Ku dengan mengerjakan beberapa yang sunah, sehingga Aku menyintainya. Apabila Aku menyintainya, maka Aku adalah telinga yang ia gunakan untuk mendengar. Aku adalah mata yang digunakan untuk melihat, Aku adalah tangan yang dipergunakan untuk menyerang, dan Aku adalah kaki yang digunakan untuk melangkah. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku akan mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan dari-Ku, Aku pasti akan melindunginya.” (HQR. Bukhari dari Abu Hurairah r.a)

عَنْ اَنَسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ عَزَّوَجَلَّ, قَالَ: اِذَاتَقَرَّبَ الْعَبْدُ اِلَىَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ اِلَيْهِ ذِرَاعًا, وَاِذَاتَقَرَّبَ اِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا, وَاِذَا اَتَانِىْ يَمْشِ اَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً. (رواه البخارى)

Allah SWT berfirman,”Bila seseorang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta, bila ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa, dan bila ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku menyambutnya dengan berlari.”(HQR. Bukhari dari Anas r.a)

Betapa mulia para kekasih Allah (waliyullah) itu. Mereka telah makrifat atau memahami dengan benar keberadaan diri dengan segala kekuarangannya di hadapan Allah. Adakah orang sejenis ini di lingkungan kita? Saya yakin ada, namun hanya Allah Yang Maha Mengetahui siapa dia. Bisa jadi, ia adalah Anda sendiri, sekalipun tidak pernah ada orang memanggil Anda ustadz atau kiai. Predikat waliyullah tidak ada hubungannya dengan simbol-simbol penampilan fisik dan pakaian, apalagi mengaku diri sebagai waliyullah. Setiap Anda mempunyai hak menjadi waliyullah asalkan ada kesungguhan usaha ke arah itu. ”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, mereka benar-benar akan Kami tunjukkan kepada jalan-jalan kamiMaukah?

(Sumber: Hadits Riyadus Shalihin I:115, Kitab-kitab Tafsir, Dalilul Falihin I: 226)

MENDAKI DENGAN RENDAH HATI

April 20th, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

MENDAKI DENGAN RENDAH HATI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://minaka.blogdetik.com/files/2011/12/rendah-hati-di-ketinggian-300x225.jpg

sumber gambar: http://minaka.blogdetik.com/files/2011/12/rendah-hati-di-ketinggian-300×225.jpg

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) mereka yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) kedamaian.” (QS. Al Furqan [25]:63)

Ayat di atas termasuk ayat yang sering dibaca oleh imam shalat di semua negara. Juga ayat yang paling sering dikutip untuk menjelaskan sifat tawadlu (rendah hati) yang harus dimiliki setiap muslim. Pada ayat-ayat sebelumnya (ayat 56-62), Allah SWT menunjukkan diri-Nya dengan tindakan nyata sebagai Tuhan Maha Pengasih kepada semua makhluk-Nya. Ia menciptakan langit dan bumi, bintang-bintang di langit untuk menerangi bumi, serta pergantian siang dan malam, yang semuanya untuk kelangsungan dan kenyamanan hidup makhluk-Nya. Tidak hanya menyediakan sarana fisik, Allah SWT juga mengutus rasul untuk membimbing mereka secara gratis dengan cara persuasif. Para rasul hanya diberi tugas memberi berita yang menyenangkan bagi yang taat kepada Allah dan ancaman siksa bagi yang menolaknya. Nabi SAW tidak boleh bersedih atau marah atas sikap mereka: menolak atau menerima ajakannya. Nabi SAW dilarang keras melakukan pemaksaan apalagi kekerasan.

Setelah Allah membuktikan kasih-Nya kepada semua makhluk, barulah Ia memerintahkan manusia untuk bertindak penuh kasih dan bersikap rendah hati. Allah SWT secara tidak langsung memberi pelajaran kita, “Jangan menyuruh anak, istri, suami dan siapapun untuk bersikap mengasihi dan rendah hati, sebelum Anda memberi ketauladanan untuk hal yang sama.”

Ada dua macam tawadlu’ yaitu kepada Allah dan kepada sesama manusia. Tawadlu kepada Allah berupa kesungguhan menerima perintah Allah tanpa mempertimbangkan rasional atau tidaknya, dan menerima apapun pemberian Allah dengan senang hati. Sedangkan tawadlu kepada manusia berupa sikap tenang, sederhana, tidak merasa lebih dari orang lain, apalagi merendahkannya, dan menjadikan sesamaa muslim benar-benar sebagai saudaranya. Demikian definisi yang dikemukakan oleh kebanyakan ahli hakekat atau ahli tasawuf.

Orang yang tawadlu’ atau disebut mutawadli’ tidak menyombongkan diri atas apapun yang dimiliknya . Dalam ayat di atas juga disebutkan, “..dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) kedamaian.” Yang dimaksud orang bodoh di sini adalah mereka yang tidak mengerti jalan pikiran, visi dan misi kita, sekalipun mungkin saja mereka sarjana S1, S2 atau S3. Orang bodoh selalu nampak kebodohannya dalam tutur katanya. Mereka miskin perbendaharaan kata dan tidak faham dengan etika, sehingga seringkali perkataanya amat menyakitkan dan menjengkelkan kita. Imam As-Suyuthy berkata, “ma kana kabirun fi ‘ashrin illa kana lahu ‘aduwwun minassalafah”/Orang besar di setiap generasi selalu dimusuhi orang yang tidak memahaminya.” Orang tawadlu’ selalu senyum dan berkata lembut, penuh sopan santun dalam menjawab ejekan atau cemoohan orang bodoh. Anda tidak perlu gusar dan terkejut dengan para pengejek, sebab dalam Al-Qur’an (Al Mai-dah [5]:54) disebutkan adanya “laumata laa-im” yaitu orang yang berhobi mengolok-olok. Dalam bahasa kelakar, “Sehari tanpa ejekan, ia terkena sariawan.”

Apakah orang rendah hati bisa mendaki menuju panggung kejayaan dan kesuksesan? Untuk menjawab ini, Rasulullah SAW pernah memberi pelajaran para sahabat dengan metode aktivasi otak kanan, yaitu menelungkupkan telapak tangan, lalu membaliknya, sambil bersabda, “Allah SWT berfirman, “Siapa yang tawadlu demi Aku, maka Aku akan mengangkat derajatnya.” (HQR. Ahmad, Bazzar, Abu Ya’la dan At Thabrani dari Umar r.a). Agar otak kanan Anda juga berfungsi, coba gerakkan telapak tangan Anda, sebagaimana yang dilakukan Nabi SAW. Dalam kesempatan lain, Nabi SAW bersabda dengan pesan yang sama, “Man tawadla’a lillahi rafa‘ahullah /siapa yang tawadlu demi Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya” (HR Abu Na’im dari Abu Hurairah r.a)

Nabi SAW tidak pernah berbicara tetang sesuatu, sebelum ia sendiri memberi contoh ketauladanan. Nabi SAW sangat sayang dan akrab dengan anak-anak, sehingga mereka tidak jarang bergelayutan manja kepadanya. Silakan introspkesi, mengapa Anda tidak menyapa anak-anak kecil yang Anda jumpai ketika memasuki masjid? Mengapa justeru wajah Anda menakutkan bagi mereka? Nabi SAW menyapu rumahnya, memerah susu sendiri, menggiling gandum bergantian dengan pembantunya, makan bersama pembantu, dan berbelanja sendiri ke pasar. Bagaimana dengan Anda? Semoga Anda tidak termasuk suami yang serba memerintah istri ataupun pembantu, seolah-olah Anda raja dan istri atau pembantu Anda sebagai hamba. Nabi SAW mendahului menyapa dan mengucapkan salam kepada setiap orang yang dijumpai. Silakan introspeksi sekali lagi, mengapa Anda kadangkala merasa senior dan terhormat, lalu memandang orang lain lebih pantas menyapa Anda terlebih dahulu? Nabi SAW selalu menolak diberi tempat duduk khusus dalam setiap pertemuan, juga menolak digelarkan tikar untuknya. Semoga Anda bukan sejenis orang yang pernah saya jumpai: “orang besar” yang merasa dilecehkan karena tidak diberi tempat yang terhormat dalam sebuah perhelatan, lalu marah-marah di atas podium, berpidato singkat dan meninggalkan acara dengan hati dongkol.

Maukah Anda dijelaskan lebih lanjut tentang tawadlu’ Nabi? Rumah Nabi SAW bertipe 5-S (Sangat Sempit, Sederhana, dan Sulit Selonjor). Karenanya, Nabi SAW seringkali harus menggeser kaki istrinya, Aisyah ketika ia bersujud. Alas tidur Nabi SAW hanya lembaran pelepah kurma, sehingga ketika bangun untuk shalat malam, Aisyah mengambil beberapa kerikil yang menempel di punggungnya terlebih dahulu. Mengapa Anda selalu mengeluh soal rumah, padahal lebih luks daripada rumah Nabi SAW, lalu mencari pinjaman bank untuk merehabnya, padahal tidak terlalu mendesak?

Nabi SAW mendatangi undangan siapa saja, termasuk orang paling miskin. Ia juga selalu membalas pemberian hadiah orang. Jika bercanda, Nabi SAW selalu menjauhi canda yang mengandung dusta, dan tidak pernah tertawa terbahak-bahak. Mengapa Anda kadangkala terpancing meladeni canda orang yang tak bermutu, bahkan berlebihan sampai menimbulkkan ketersinggungan orang lain, atau canda berbau porno? Nabi SAW selalu menghadapkan muka dengan serius untuk mendengarkan orang yang berbicara dengannya. Sebagai introspeksi terakhir, mengapa anak-anak Anda terus bermain hand-phone, padahal guru atau orang tuanya sedang berbicara serius kepadanya? Atau jangan-jangan yang melakukan itu Anda sendiri.

Rendah hati sama sekali bukan berarti menunjukkan kelemahan dan kerendahan diri. Rendah hati justru mengundang simpati dan menjadi daya tarik yang luar biasa bagi orang lain untuk bekerjasama dengan Anda. Orang selalu mencari padi yang menunduk, sebab ia pasti berisi. Sekali lagi, tulungkupkan telapak tangan Anda, kemudian balik dan angkatlah, sambil berkata kepada diri sendiri, “Jika aku rendah hati, Allah pasti memudahkan kesuksesanku esok hari.”

MENGHIDUPKAN MAYIT DALAM MASJID

April 3rd, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

MENGHIDUPKAN MAYIT DALAM MASJID
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

masjidnabawi

sumber gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/4/41/Masjed_Nabawi_interior.jpg

“Hanya yang meramaikan (syiar) masjid-masjid Allah, ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta tetap mendirikan shalat, membayar zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At Taubah [09]:18)

Pada ayat sebelumnya (QS. At Taubah [09]:17), Allah SWT menjelaskan orang-orang atheis atau beragama tapi ber-Tuhan secara tidak benar (musyrik) tidak mungkin tertarik untuk meramaikan syiar masjid. Masjid artinya tempat bersujud kepada Allah, maka tidak mungkin orang yang tidak ada kemauan bersujud kepada Allah SWT mendatangi masjid. Mohon maaf, jika Anda yang tidak aktif berjamaah di masjid tersindir atau tertampar dengan ayat ini.

Sebagai kelanjutan, ayat yang dikutip di atas (QS. At Taubah [09]:18) mempertegas bahwa orang-orang yang aktif mengisi aktifitas masjid (takmirul masajid) hanyalah mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat, mendirikan shalat, membayar zakat, dan tidak takut kepada siapapun kecuali Allah. Merekalah yang juga siap mengurbankan jiwa, raga dan hartanya untuk merawat masjid, melengkapi sarana yang diperlukan, dan menyisihkan sebagian penghasilannya untuk dana kegiatan keagamaan di masjid. Mereka dengan senang hati mengeluarkan dana berapapun untuk masjid sebab mereka yakin membangun dan merawat masjid sama dengan mempersiapkan bangunan rumah untuknya di surga sebagaimana yang dijanjikan Nabi SAW. Siapapun yang mendobrak kesepian masjid dengan aktifitas-aktifitas keagamaan dan sosial, maka dialah yang tidak merasakan kesepian di alam kubur, sebab semua kebaikannya menjadi penghibur di tengah kesunyian kubur.

Pada ayat di atas juga tersirat, orang yang tidak membayar zakat atau enggan berbagi kekayaan pada orang lain tidak akan aktif ke masjid. Ia sangat khawatir bertemu dengan orang-orang miskin yang meminta bantuan. Masjid adalah aset publik, maka semua orang:  miskin atau kaya, berpendidikan atau tidak, penguasa atau rakyat, sehat atau sakit berhak memasuki masjid. Semakin aktif seseorang ke masjid, berarti semakin dekat dengan tetangga dan orang sekitar dengan berbagai latarbelakangnya dan semakin pandai berempati untuk lebih berkesempatan berbagi.

Jika Anda lebih sering shalat di rumah atau di ruang kerja daripada di masjid terdekat dengan seribu alasan, maka sebaiknya Anda memperhatikan firman Allah SWT, “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (.QS Al Baqarah [2]:43). Artinya, bergabunglah segera dengan semua orang yang Anda saksikan  sedang membungkukkan badan dengan keriangan dalam masjid itu. Anda pasti masih ingat kisah berikut ini. Suatu hari, seorang lelaki buta menghadap Nabi SAW untuk meminta keringanan tidak shalat berjamaah di masjid karena tidak ada yang menuntunnya. Nabi SAW mengiyakan.  Akan tetapi, ketika tamu itu berpamitan, Nabi SAW memanggilnya dan bertanya, “Apakah engkau mendengar adzan shalat?” “Ya,” jawabnya. Nabi SAW lalu meralat keringanan tersebut dan tetap memerintahkan shalat berjamaah di masjid. (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a). Sebagai apresiasi untuk mereka yang aktif berjamaah dan mengisi kegiatan-kegiatan keagamaan di masjid, Nabi SAW bersabda, “Sungguh, semua orang yang meramaikan syiar masjid adalah keluarga Allah (ahlullah)” (HR. Abdullah bin Humaid dari Anas bin Malik r.a). Keluarga Allah artinya mereka sangat dekat dengan Allah, bahkan memperoleh jaminan tanggungan-Nya dalam semua urusan.

Apakah untuk menjadi muslim terbaik cukup dengan hadir secara rutin di masjid? Tidak. Jika Anda bertahun-tahun aktif ke masjid, tapi iman dan pola hidup Anda tidak berubah, maka hanya fisik Anda yang hidup sedangkan iman Anda telah mati. Untuk apa ke masjid  jika iman Anda tetap menjadi mayit? Masjid harus menghidupkan iman Anda yang sekarat. Menurut ayat di atas, pecinta dan pengisi kegiatan masjid diharapkan memiliki iman yang menumbuhkan perilaku positif, antara lain lebih berkualitas shalatnya, lebih bersemangat untuk berbagi, dan memiliki kepercayaan diri untuk bertindak “..dan tidak takut (kepada siapapun) selain Allah..” Percaya diri mutlak diperlukan untuk modal prestasi dalam segala hal. Sekalipun Anda siswa teladan atau wisdudawan terbaik, Anda pasti terkalahkan dalam kompetisi hidup oleh teman Anda yang tidak berprestasi, tapi memiliki semangat dan percaya diri.  Muslim dengan keimanan yang hidup tidak akan takut kepada siapapun, kecuali kepada Allah SWT. Ia sadar bahwa manusia hanya dituntut untuk bekerja, berusaha dan berkarya seoptimal mungkin, sedangkan sukses atau gagal bukan wilayah kekuasaanya. Pecinta masjid tidak akan kecewa apalagi malu dengan sebuah kegagalan. Dengan ketakutannya kepada Allah semata, ia menjadi pribadi yang berkarakter mulia yang membuahkan kepercayaan (trust) dari semua orang, serta mengundang daya tarik setiap orang untuk bekerjasama. Tidak ada modal kesuksesan yang lebih mahal daripada kepercayaan orang. Itulah iman yang hidup.

    Setiap memasuki masjid, Anda diajari Nabi SAW untuk berdoa, “Wahai Allah, ampunilah semua kesalahanku dan bukakan semua pintu rahmat untukku.”  Ini berarti setiap memasuki masjid, Anda dituntut untuk berjanji tidak mengulangi kesalahan dan merubah cara hidup yang memungkinkan pintu kesuksesan terbuka untuk Anda. Lakukan perenungan mendalam dalam masjid (i’tikaf) untuk introspeksi dan kuatkan kemauan untuk berubah. Bagaimana mungkin pintu rahmat dan kesuksesan terbuka untuk Anda jika sepulang dari masjid cara berfikir Anda tetap negatif, cara bicara Anda tidak berubah, dan semangat dan streategi kerja Anda tidak ada peningkatan. Hidupkan iman Anda melalui masjid.

Malaikat Jibril pernah datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Allah telah mengirimkan wahyu kepadaku (untukmu): “Wahai saudara para rasul, wahai saudara para pemberi peringatan! Berikan peringatan kepada kaummu, agar mereka tidak memasuki satu rumahpun dari rumah-rumah-Ku (masjid) kecuali dengan hati yang bersih, lidah yang benar, tangan yang suci dan kemaluan yang bersih (dari dosa). Jangan sekali-kali mereka memasuki rumah-rumah-Ku sedang ia masih berurusan kedhaliman pada orang lain. Aku benar-benar melaknatnya selama ia berdiri shalat di hadapan-Ku, sampai dia menyelesaikan kedhaliman itu kepada yang terdhalimi. Jika ia telah menyelesaikannya, Aku akan menjadi telinganya untuk mendengar, dan menjadi matanya untuk melihat. Ia akan menjadi kekasih dan pilihan-Ku. Ia menjadi tetangga-Ku bersama para nabi, shiddiqin dan syuhada di dalam surga.” (HQR. Abu Na’im, Al Dailami dan Ibnu ‘Asaakir dari Hudzaifah r.a).

Pesan Malaikat Jibril di atas mengingatkan Anda untuk membersihkan hati dari D3 (dengki, dongkol dan dendam) dan S2 (serakah dan sombong) setiap memasuki masjid. Masjid harus menjadi alat pembersih virus hati. Tidak mungkin wajah Anda simpatik dan tutur kata Anda menyenangkan keluarga dan semua orang,  jika D3 masih mengotori hati Anda. Jangan berharap lampu menyala dari baterai yang telah mati. Jadikan semua sikap dan tindakan Anda menyenangkan orang dan hindari hal-hal yang menyakitkan apalagi mengambil sekecil apapun dari hak-hak mereka. Masjid harus membangkitkan iman yang stagnan dan menghidupkan iman yang telah mati. Setiap keluar dari masjid bertekadlah untuk merubah sikap dan tindakan Anda kepada istri, anak-anak Anda, anak buah Anda, pimpinan, tetangga, dan pelanggan Anda. Pastikan Anda telah merubah pola pikir, pola kerja dan pola hidup Anda setiap keluar dari masjid. Itulah hidup berkualitas yang tercerahkan dan mencerahkan, ”.. maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” Semoga kita termasuk dalam firman ini. Selamat menghidupkan mayit (iman yang mati) melalui ibadah masjid.