Header

SHALAT RAMADLAN, SHALAT KEBANGKITAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“ Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang rukuk” (QS. Al Baqarah [2]:43)

Ayat di atas dengan jelas menjelaskan tiga perintah sekaligus, yaitu shalat, zakat dan shalat bersama-sama (jamaah). Bulan Ramadlan bulan yang paling tepat untuk membentuk pribadi muslim yang terbaik dalam menjalankan semua perintah itu, karena ketiganya ada di dalam bulan ramadlan. Anda wajib menjalan shalat lima waktu, dan inilah ibadah yang utama dalam Islam. Oleh sebab itu, orang yang meninggalkan shalat bagaikan orang hidup tanpa kepala. Jika Anda shalat tapi tanpa penghayatan, maka Anda bagaikan orang bertubuh sempurna tapi tanpa nyawa.

Tulisan ini difokuskan pada kajian shalat terutama pada bulan ramadlan. Di seluruh dunia, kita menyaksikan umat Islam berduyun-duyun ke masjid untuk menjalanksan shalat taraweh berjamaah di masjid, baik 8, 20 atau 36 rakaat. Shalat taraweh sebanyak 20 rakaat dilakukan sejak zaman pemerintahan Umar bin Khatttab ra. Kitab Dalilul Falihin menyebutkan, hitungan tersebut dipilih sebagai kelipatan dari 10 rakaat shalat sunah muakad (sangat dianjurkan) yang dilakukan sebelum atau sesudah shalat wajib setiap hari, yaitu 2 rakaat sebelum shalat subuh, 2 rakaat sebelum shalat dhuhur dan 2 rakaat sesudahnya, 2 rakaat setelah shalat maghrib dan 2 rakaat setelah shalat isyak. Atau mungkin menyesuaikan dengan jumlah shalat sunah muakad tersebut di atas ditambah 10 rakaat sunah ghairu muakad (tidak seberapa dianjurkan), yaitu 2 rakaat sebelum dhuhur dan 2 rakaat sesudahnya, 4 rakaat sebelum ashar dan 2 rakaat sebelum maghrib.

Wuh, luar biasa banyak. Jika Anda membiasakan semua sunah di atas, maka Anda telah melaksanakan 37 rakaat setiap hari, yaitu 17 rakaat shalat wajib ditambah 20 rakaat shalat sunah. Dalam bulan ramadlan, Anda bertambah mulia lagi karena masih menjalankan lagi 20 rakaat shalat taraweh. Belum lagi ditambah shalat witir dan shalat-shalat sunah lainnya. Dengan demikian, Anda telah melakukan shalat lebih dari 50 rakaat, jumlah rakaat shalat yang diperintahkan pertama kali ketika Nabi SAW melakuakn israk mikraj.

Untuk mencapai kualitas shalat sebanyak di atas, ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan. Pertama, lakukan wudlu yang sempurna dengan penuh syukur dan permohonan ampunan atas semua anggota badan yang dibasuh atau diusap. Hindari wudlu dengan waswas (serba ragu keabsahan), sebab waswas adalah cermin atas kedangkalan ilmu dan kelemahan otak pelakunya. Upayakan jarak antara setiap waktu shalat itu tetap dalam keadaan suci. Allah SWT pernah memberitahu Nabi Musa as, “Jika kamu mendapat musibah, maka besar kemungkinan kamu tidak dalam keadaan suci. Maka salahkan dirimu sendiri.”

Kedua, kerjakan shalat awal waktu untuk menunjukkan kesungguhan Anda dalam mencari kebaikan. Shalat awal waktu mendatangkan ridla atau kesenangan Allah, shalat di tengah waktu mendatangkan kasih Allah dan shalat di akhir waktu merupakan ampunan-Nya. Artinya, Allah tidak menyukai Anda melakukan shalat di akhir waktu, tapi Allah masih memaafkannya.

Ketiga, laksanakan shalat berjamaah di masjid dan carilah barisan terdepan. Tunjukkan kepada Allah bahwa Anda siap berkompetisi untuk kebaikan (fastabiqul khairat). Tunjukkan pula bahwa Anda ingin serba terdepan dalam kebaikan, terdepan dalam kualitas diri Anda sebagai SDM di tempat kerja, terdepan sebagai suami teladan, sebagai ayah dan sebagainya, bahkan terdepan dalam memasuki surga. Anda juga akan memperoleh lebih banyak doa para malaikat daripada mereka yang ada pada barisan-barisan di belakang Anda. Jangan sekali-kali berlari ke neraka dengan melangkahi pundak orang karena ingin berada di barisan depan. Mengenai shalat berjamaah, Imam Haddad mengatakan, “Belum pernah saya jumpai satu hadispun bahwa Nabi SAW pernah shalat wajib sendirian.” Abdullah bin Mas’ud r.a berkata, “Salah satu tanda orang munafik adalah shalat wajib yang dilakukan sendirian. Pada masa Nabi SAW, banyak orang tua atau sakit yang digotong ke masjid.” Semarak taraweh di masjid adalah pendidikan terpenting untuk penanaman rasa cinta masjid. Percayalah, banyak solusi persoalan hidup dan berbagai kesuksesan Anda lebih banyak berkat doa orang-orang yang shalat berjamaah bersama Anda di masjid daripada doa Anda sendiri. Percayalah, jika selama hidup, Anda aktif shalat berjamaah di masjid, insya-Allah kelak Anda juga akan dishalati di masjid oleh banyak orang sebelum dibawa ke pemakaman.

Keempat, bangun pada akhir malam untuk makan sahur juga pendidikan yang amat berharga untuk membiasakan shalat tahajud. Itulah waktu terbaik untuk pendekatan diri kepada Allah. Silakan meminta apa saja kepada-Nya, apalagi disampaikan pada posisi terdekat Anda dengan Allah yaitu ketika bersujud. Itulah saat bersatunya waktu dan posisi kedekatan manusia dengan Allah. Tidak hanya doa yang disampaikan, tapi penyerahan secara total semua persoalan Anda kepada-Nya.

Dengarkan komentar orang-orang shaleh terdahulu mengenai shalat malam. Antara lain, “Selama 40 tahun saya beribadah, tidak ada yang lebih menyedihkan saya melebihi datangnya waktu fajar.” “Jika tidak ada shalat malam, untuk apa ada kelanjutan hidup saya.” Bangkitkan semangat Anda untuk membiasakan shalat malam, sekalipun hanya beberapa menit sebelum suhuh. Nabi SAW bersabda, “Lakukan shalat malam sekalipun hanya satu rakaat.” Artinya baru satu rakaat shalat malam, waktu shubuh sudah tiba. Shalat malam merupakan sarana utama menuju kemuliaan sebagaima dilakukan oleh orang-orang shaleh terdahulu. Jangan bermimpi meraih kemuliaan tanpa sujud di akhir malam. Shalat malam beberapa menit sebelum subuh dan dikerjakan secara terus menerus jauh lebih baik daripada shalat malam yang lama tapi dikerjakan sekali atau dua dalam sebulan. Memang berat untuk memulai, tapi ringan setelah menjadi kebiasaan. Bismillah.

Kelima, lakukan shalat dengan khusyuk dan tumakninah (tenang) baik secara fisik, tenang bacaan dan tenang hati. Larangan bangkit dari rukuk sebelum tumakninah, harus diartikan lebih mendalam sebagai sebuah pesan penting, “Jangan bangkit dari rukuk sebelum Anda memperoleh ketenangan batin.” Shalat dalam keadaan puasa menjamin shalat Anda bebas dari pikiran makanan dan bebas dari rasa mengantuk. Ketika makanan memenuhi perut Anda, energi Anda terkuras untuk mencerna. Sedangkan ketika pencernaan tidak bekerja, maka energi Anda berfungsi untuk menghidupkan otak dan hati.

Perintah shalat yang diikuti perintah membayar zakat menunjukkan shalat yang baik adalah shalat yang melahirkan kesadaran sosial. Shalat ramadlan telah berfungsi demikian, sehingga umat Islam membayar zakat dan berlomba-lomba untuk bersedekah selama bulan suci. Secara tidak langsung, Anda dididik untuk lebih suka memberi daripada diberi. Muslim terbaik adalah muslim yang memerdekakan dirinya dari mental meminta dan menggantungkan orang lain. Malaikat Jibril pernah turun ke bumi untuk menyampaikan berita itu kepada Nabi SAW. (wa’izzahu istighna-uhu ‘aninnas). Jauhilah sikap mengeluh atas apapun yang Anda terima, sebab keluhan menunjukkan kualitas shalat Anda. Allah SWT berfirman, “Sungguh, manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya.” (QS Al Ma’arij [70]:19-23).

Shalat ramadlan diharapkan membangkitkan Anda untuk lebih banyak menjalankan shalat sunah, lebih menyintai masjid, lebih aktif berjamaah di masjid, lebih sering shalat malam, lebih peka terhadap lingkungan sosial, lebih mandiri serta bahagia karena berhasil menghapus mental ketergantungan kepada orang lain dan lebih ikhlas, ridla dan tidak mengeluh terhadap takdir Allah. Selamat menjalani proses kebangkitan melalui shalat ramadlan menuju hidup yang lebih bahagia. (Sumber utama: Kitab Al Nasha-ih Al Diniyyah wa Al Washaya Al Imaniyyah karya Imam Habib Abdullah bin Haddad, Kitab Dalilul Falihin karya Moh bin Allan As Shiddiqi dan beberapa sumber lainnya).

SHALAT ORANG BERTATO?
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Tanya:

Assalamu’alaikum wr wb

Saya istri (35 tahun) bersuami pria bertato pada tangan, leher dan dada sejak muda sebelum menikah dengan saya. Ia suami yang luar biasa perhatiannya untuk saya, orang tua dan semua saudara saya. Juga sangat sopan kepada siapa saja. Pokoknya, ia segala-galanya bagi saya dan anak-anak. Hanya satu kekurangannya, sampai sekarang tidak mau shalat. Setiap saya ajak shalat, ia hanya diam, tidak menjawab satu katapun.

Pada awal tahun 2014 ini, dia tiba-tiba bercerita tentang sebab keengganannya untuk shalat. Ia sangat menyesal telah mentato sedemikian banyak anggota tubuhnya. Sudah beberapa kali ia mencoba menghilangkannya, tapi ternyata sangat sulit walaupun dengan laser, disamping biayanya mahal. Ia semakin gelisah setelah mendengar seorang ustad yang berceramah di masjid yang terdengar sampai di kamar tidurnya, bahwa shalat tidak sah bagi orang yang bertato.

Saya mohon penjelasan dan solusi atas masalah tersebut. Terima kasih. Wassalam.

Ratih Putri – Jakarta

Jawab:

Wa’alaikumussalam wr wb.

Tenang bu Ratih. Sebelum menjawab pertanyaan Anda, ijinkan saya bercerita sedikit tentang tato. Tato (tatto) adalah suatu tanda yang dibuat dengan memasukkan pigmen ke dalam kulit. Seni ini dikenal sejak 12.000 tahun lalu. Pada jaman dahulu, tato dipakai oleh masyarakat suku terasing sebagai tanda wilayah, status, atau pangkat seseorang.

Ada dua macam tato, yakni tato temporer dan tato permanen. Tato jenis pertama cara pembuatannya sangat sederhana, sama dengan cara membuat hiasan di kulit dengan henna: cukup dioleskan pada permukaan kulit dan menunggu hingga warnanya meresap ke dalam lapisan permukaan kulit. Tato jenis ini hanya bertahan beberapa waktu dan akan hilang dengan sendirinya. Adapun tato jenis kedua dibuat dengan cara memasukkan tinta ke dalam lapisan kulit dengan alat yang mirip jarum suntik. Tato jenis ini tidak bisa hilang dengan sendirinya, sehingga proses penghapusannya membutuhkan cara khusus. Misalnya menggunakan laser. Rupanya tato suami Anda termasuk jenis ini.

Bolehkah muslim membuat tato pada badannya? Nabi SAW bersabda, “Allah SWT melaknat wanita yang menyambung rambutnya, dan yang meminta untuk disambungkan, serta wanita yang mentato atau meminta ditato.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a). Allah SWT juga berfirman, “Dan aku (setan) benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku (setan) suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya. Barangsiapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (QS. An-Nisa`[04]: 119).

Berdasarkan ayat dan hadis diatas, maka Islam melarang muslim untuk bertato di bagian tubuh manapun, karena termasuk perbuatan menyakiti diri sendiri, merubah apa yang telah dikaruniakan Allah, serta mendorong orang untuk memamerkan bagian tubuhnya.

Lalu, bagaimana jika telah terlanjur melakukannya? Imam An-Nawawi mengatakan wajib menghapusnya jika tidak sulit dan tidak membahayakan kesehatan. Namun, jika tidak memungkinkan, maka yang bersangkutan cukup bertobat kepada Allah SWT. Tidak mungkin Allah membuat perintah yang menyusahkan orang. Allah SWT berfirman, “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS Al Baqarah [02]:185).

Apakah wudlu yang bersangkutan sah? Tetap sah, sebab tinta tato masuk di bawah permukaan kulit sehingga air wudlu tetap mengenai kulit anggota badan yang wajib dibasuh. Dengan demikian, shalatnya juga sah. Adapun tato yang menggunakan cat atau tinta yang menghalangi air wudlu sampai ke kulit, maka wudlu yang bersangkutan tidak sah. Ia wajib menghilangkan tato jenis ini sangat mudah.

Begitulah bu Ratih. Semoga jawaban ini benar-benar menghibur dan menyemangati suami Anda untuk shalat wajib dan shalat sunah. Semoga Anda sekelurarga menjadi keluarga penuh ibadah dan sakinah. Wallahu a’lamu bis shawab.

TANGISAN KEKASIH

June 26th, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

TANGISAN KEKASIH
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

pray“Ingatlah, sungguh, kekasih-kekasih Allah itu tidak ada kekhawatiran (sedikitpun) pada diri mereka dan tidak (pula) bersedih hati. (Mereka adalah) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka kegembiraan dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kesuksesan yang besar.” (QS. Yunus [10]:62-64)

Jika Anda pernah tinggal di desa, Anda pasti pernah menyaksikan induk ayam yang marah lalu mengejar untuk mematuk orang yang mencoba mengganggu anak-anaknya. Jika Anda seorang ibu, pasti Anda siap 24 jam untuk melindungi sang bayi dari segala macam gangguan. Mendengar sedikit tangisan bayi, Anda cepat-cepat menggendongnya dan melakukan apa saja agar tangisannya segera terhenti. Dua pengalaman itu cukup sebagai modal untuk memahami dua ayat di atas.

Melalui ayat di atas, Allah SWT meyakinkan Anda, “Percayalah, Aku jamin, siapapun yang Aku kasihi, akan Aku berikan kepadanya apa saja yang diminta, Aku usap setiap tetesan air matanya, dan Aku lindungi dari segala hal yang menyusahkannya.” Dengan demikian, mereka pasti merasakan bahagia (busyra) di dunia dan akhiratnya. Para kekasih Allah itu tidak sedikitpun memiliki rasa takut dan khawatir menghadapi kehidupan dunia. Mereka selalu tersenyum dan berfikir positif dalam segala hal. Kemiskinan yang dijauhi orang, justru diterima dengan senang hati, sebab kemiskinan itulah yang mengantarkan mereka menjadi pribadi rendah hati (tawadlu’). Penyakit yang dibenci banyak orang, justru dipandang sebagai sarana pendekatan diri kapada Allah dan bonus ampunan dari-Nya. Perjumpaan dengan orang-orang yang menjengkelkan pun dijalani dengan senyum, sebab mereka dipandang pengasah kesabaran. “Pisau hanya tajam jika diasah dengan batu yang kasar.” Artinya, Anda hanya bisa meraih ketajaman ruhani dan kesabaran tingkat tinggi jika telah bertemu ratusan kali dengan orang-orang yang menjengkelkan dan mengecewakan Anda. Kematian yang paling ditakui manusia juga dipandang peristiwa menyenangkan, sebab itulah pintu utama untuk bertemu dengan kekasih (liqa-illah) yang dirindukan bertahun-tahun sepanjang hidupnya. Kebahagiaan dunia dan akhirat itulah yang disebut Allah dalam ayat di atas, “Yang demikian itu adalah kesuksesan yang besar.”

Dalam Kitab Dalil Al Falihin, ayat di atas dikuatkan dengan beberapa kisah pada zaman Nabi SAW yang menunjukkan betapa para kekasih Allah itu dekat dengan Allah, sehingga semua doanya dikabulkan oleh-Nya. Doa itu semakin cepat terkabul, ketika ada orang yang memperlakukan mereka dengan cara yang tidak menyenangkan.

Sa’ad bin Abi Waqqash adalah satu dari sepuluh sahabat yang mendapat jaminan masuk surga. Ketika menjabat sebagai gubernur Kufah, ia dilaporkan oleh penduduknya bahwa ia tidak memberi contoh shalat yang baik kepada penduduknya. Umar bin Khattab yang menerima laporan itu langsung memberhentikan Sa’ad dan mengangkat ‘Ammaar bin Yaasir sebagai penggantinya. Sa’ad lalu memberikan klarifikasi kepada kepala negara, “Saya shalat bersama mereka seperti yang dilakukan Nabi SAW. Saya tidak mengurangi sedikitpun. Memang, saya shalat isyak dengan dua rakaat pertama yang panjang, dan dua rakaat terakhir yang singkat.” Umar lalu memerintah Muhammad bin Muslim untuk melakukan penelitian di lapangan. Beberapa masjid dimasuki oleh peneliti dan ternyata semua muslim yang ditanya memuji kepimpinan Sa’ad. Akan tetapi, ketika peneliti itu memasuki Masjid Bani ‘Abs, ada seorang yang bernama Usamah bin Qatadah yang biasa dipanggil Abu Sa’ad mengritik Sa’ad bin Abi Waqqash, “Ia pemimpin yang tidak pernah ikut berperang, tidak membagi hasil rampasan dengan rata, dan tidak adil dalam membuat keputusan.” Sa’ad lalu bersumpah, “Demi Allah, saya akan berdoa dengan tiga hal, “Wahai Allah, jika Usamah berdusta dan mengatakan demikian hanya untuk mencari muka dan popularitas (riya’ wa sum’ah), maka panjangkan usianya, panjangkan kemiskinannya dan berikan ia cobaan berat (al fitan), sampai suatu saat nanti dia sadar bahwa yang dialami itu karena doa Sa’ad bin Abi Waqqash. Abdul Malik bin ‘Umair, salah satu sumber hadits ini menyaksikan sendiri, Usamah benar-benar panjang usianya, hampir kedua matanya tertutup kelopak matanya, dan selalu duduk di tepi jalan menunggu pemberian beberapa perempuan yang lewat (HR. Muttafaq ‘Alaih dari Jabir bin Samurah r.a). Abdul Malik bisa bersaksi demikian, sebab ia berusia 103 tahun dan wafat pada tahun 136 H.

Ada satu lagi kisah serupa yang dialami Sa’id bin Zaid. Ia juga termasuk sepuluh sahabat yang mendapat jaminan surga oleh Rasulullah SAW. Ia dilaporkan oleh seorang wanita, Arwaa binti Aus kepada Marwan bin Al Hakam, gubernur Madinah atas tuduhan merampas sebagian tanahnya. Sa’id membantah tuduhan itu dengan mengatakan, “Apakah mungkin saya melakukan hal itu, setelah saya mendengar sabda Nabi SAW?” “Sabda yang mana,” tanya Marwan. “Siapa yang mengambil tanah sejengkal secara tidak benar, maka kelak tujuh lapis tanah bumi itu akan dikalungkan di lehernya,” kata Sa’id mengutip sabda Nabi SAW. Marwan berkata, “Cukup, saya tidak perlu meminta bukti setelah penjelasanmu itu.” Sa’id lalu berdoa, “Allahumma in kaanat kaadzibatan fa-a’mi basharahaa waqtulhaa fii ardlihaa (Wahai Allah, jika Arwa dusta, maka butakan matanya dan matikan dia di atas tanahnya). Wanita itu benar-benar buta dan mati terperosok ke dalam sumur ketika ia berjalan-jalan di atas tanahnya. Sumur itu sekaligus menjadi kuburannya (HR Muttafaq ‘alaih dari ‘Urwah bin Zubair r.a)

Dua hadis di atas, disamping menunjukkan kedekatan para kekasih Allah dengan Allah SWT, juga menunjukkan terkabulnya doa orang yang terdhalimi. Semua penghalang antara orang yang terdhalimi dengan Allah, termasuk awan yang menggantung di langit dibersihkan oleh Allah agar doa mereka tersambung dengan-Nya. Allah SWT murka jika manusia ciptaan-Nya disakiti orang, sebab ia diciptakan oleh-Nya dengan penuh keseriusan dan kasih sayang, bukan untuk disakiti. Apalagi yang disakiti itu para kekasih-Nya. Anda pasti beruntung jika dekat dengan para kekasih Allah. Jika Anda dekat penjual parfum, Anda beruntung mencium aromanya, sekalipun tidak bisa memilikinya. Anda amat membutuhkan doa para kekasih Allah, sekalipun Anda merasa paling kaya dengan hafalan doa dan paling rajin shalat malam.

Ayat di atas menyebut “kekasih-kekasih Allah” (dalam bentuk jamak) untuk menunjukkan bahwa kekasih Allah amat banyak. Mereka tidak harus dari kalangan nabi, rasul atau ulama. Tidak pula harus alumni pondok pesantren. Tidak juga harus berpenampilan ala ustadz. Siapapun, termasuk Anda diberi kesempatan untuk meraih predikat sebagai kekasih Allah, asalkan memenuhi dua syarat utama, yaitu beriman dan bertakwa: beriman secara benar, beribadah secara ikhlas dan bergaul dengan semua manusia dengan akhlak mulia. “(Mereka adalah) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” Manusia berpredikat kekasih Allah pasti hidupnya penuh kemudahan, sebab semua orang berebut untuk bekerjasama. Setelah kematian, ia juga menjadi rebutan para malaikat untuk mengantar ruhnya yang harum ke langit tertinggi. Penulis yakin, Anda telah berada di jalur yang benar menuju perdikat itu. Selamat.