Header

Author Archives: admin_tsb

NABI, MENGAPA HANYA DIPUJI?

January 8th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

NABI, MENGAPA HANYA DIPUJI?
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِيَّ ٱلۡأُمِّيَّ ٱلَّذِي يَجِدُونَهُۥ مَكۡتُوبًا عِندَهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ يَأۡمُرُهُم بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَىٰهُمۡ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡخَبَٰٓئِثَ وَيَضَعُ عَنۡهُمۡ إِصۡرَهُمۡ وَٱلۡأَغۡلَٰلَ ٱلَّتِي كَانَتۡ عَلَيۡهِمۡۚ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُواْ ٱلنُّورَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ  

 (yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS. Al A’raf [7]: 157).

                Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menjelaskan ciri-ciri orang yang mendapatkan rahmat Allah. Orang-orang Yahudi mengklaim merekalah yang dimaksud pada ayat itu. Maka, ayat yang dikutip di atas menegaskan bahwa orang-orang yang mendapat rahmat itu bukan untuk satu kelompok, melainkan untuk siapapun yang beriman kepada Nabi SAW, mengikuti ajarannya dan mengajarkannya kepada umat manusia.  

sumber gambar: http://www.clker.com/cliparts

                Ayat di atas juga menegaskan, Nabi SAW yang harus diikuti itu telah dijelaskan dalam kitab Taurat dan Injil. Dalam Perjanjian Lama Ulangan XVIII antara lain disebutkan, “Seorang nabi akan Ku-bangkitkan bagi mereka seperti engkau ini. Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Ku- perintahkan kepadanya. Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan oleh nabi itu demi nama-Ku darinya akan Ku-tuntut pertanggungjawaban.” Maksud dari kata “orang seperti engkau (Musa)” adalah  Nabi SAW, karena keduanya sama-sama membawa syariat. Sedangkan Isa Al Masih tidak membawa syariat baru, tapi hanya melanjutkan syariat Nabi Musa as.

                Dalam ayat di atas ditegaskan, Nabi SAW adalah ummi, artinya tidak bisa membaca dan menulis. Ummi berasal dari kata umm (ibu) atau ummah (masyarakat umum). Pada saat itu, ibu Nabi SAW dan masyarakat pada umumnya buta aksara, kecuali beberapa orang sebagaimana disebut dalam Al Qur’an, “Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Qur’an) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu) (QS. Al Ankabut [29]: 48)

                Buta aksara sama sekali bukan berarti kebodohan. Sultan Akbar di Hindustan yang buta aksara ternyata ia filosuf cerdas sekaligus raja besar yang sukses sampai akhir hayatnya. Nabi SAW fathanah artinya genius, kuat ingatan, dan tajam analisis. Salah satu buktinya, Nabi menerima wahyu hanya melalui pendengaran dari Malaikat Jibril, tapi ia kuat menghafal semuanya. Jibril kadangkala memerintahkan Nabi SAW agar ayat yang diterimanya itu diurutkan dengan ayat-ayat yang diterima beberapa tahun sebelumnya, bahkan bisa jadi puluhan tahun, dan ia tidak pernah membuat kesalahan.

                Berdasarkan ayat di atas, tugas utama Nabi SAW adalah (1) amar makruf. Makruf berasal dari kata marifat yang artinya dikenal atau diterima oleh akal. Jadi, ajaran yang dibawa Nabi SAW bisa diterima akal sehat dan pasti benar karena bersumber dari Allah SWT. (2) nahi munkar. Munkar artinya tidak bisa diterima oleh akal sehat. Suatu contoh, semua orang waras dapat menilai bahwa mencuri, melukai, dan membunuh adalah munkar, karena tidak sesuai dengan akal orang beradab (3) menghalalkan makanan thayyibat, yaitu diperbolehkan agama sekaligus baik untuk kesehatan, dan mengharamkan khabaa-its, yaitu kebalikan dari thayyibat. Kita dilarang mengonsumsi makanan yang merusak kesehatan, meskipun ia halal, tidak dilarang agama, dan (4) menghapus ajaran yang memberatkan kaum Yahudi atau Bani Israil, yaitu ajaran bunuh diri sebagai syarat bertobat, larangan memakan hewan yang kukunya tak terbelah atau hewan yang tidak memamah biak, larangan memakan lemak hewan, larangan menikah bagi pendeta, perintah qishah, yaitu hukuman mati untuk pembunuh tanpa mempertimbangkan disengaja atau tidak, dan keluarga terbunuh telah memaafkan atau tidak, dan juga menghapus perintah menggunting atau membuang pakaian yang terkena najis.

Itulah tugas Nabi SAW menyempurnakan ajaran nabi-nabi sebelumnya. Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata, Wahaii Bani Israil, sungguh aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan isi kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira tentang (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad). Maka, ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata” (QS. Shaf [61]: 6).

                Pada ujung ayat di atas disebutkan bahwa orang yang akan mendapat kemuliaan dan kebahagiaan di sisi Allah SWT adalah yang percaya kepada Nabi SAW, memuliakannya, menjalankan perintahnya, dan mengajarkannya kepada umat manusia. Berdasar kriteria ini, maka Abu Thalib, paman Nabi SAW tidak mendapat kemuliaan dan kebahagiaan akhirat, meskipun ia penolong dan penyelamat Nabi SAW dari upaya pembunuhan orang kafir, sebab ia tidak beriman dan menjalankan ajarannya. Dengan demikian, tidaklah pengikut Nabi yang sejati, jika Anda hanya menyanjungnya, namun tetap berakhlak yang tercela. Gebyar shalawat akan bermakna jika mendorong percepatan kesejahteraan dan perdamaian dunia. Shalawat yang dikumandangkan haruslah shalawat yang melahirkan perubahan. Pujilah Nabi dan bertekadlah menjadi pribadi yang terpuji.          

Referensi: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 9, penerbit Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 76, (2) M.Qureish Shihab, Tafsir Al Misbah, Vol 4, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 322.

MENATA HATI, MEMBUKA RIZKI

December 14th, 2018 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

MENATA HATI, MEMBUKA RIZKI

Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

وَٱلَّذِينَجَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَسَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوبِنَا غِلّٗا لِّلَّذِينَءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٞ رَّحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (al anshar dan al muhajirin) dan berdoa, “Wahai Tuhan kami, berilah ampunan untuk kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan membawa keimanan, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, sungguh Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”(QS. Al Hasyr [59]: 10).

Ayat di atas merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya tentang kemuliaan penduduk pribumi Madinah (al anshar) dalam menyambut para pendatang dari Mekah (al muhajirin). Penduduk Madinah melayani pendatang dengan senang hati dan murah harta untuk member pelayanan dan tempat tinggal yang terbaik, bahkan mengurbankan kepentingan diri dan keluarga demi kenyamanan mereka. Maka pada ayat di atas, Allah SWTmemberi pujian kepada generasi sesudah mereka yang memintakan ampunan untuk mereka, dan memohon kekuatan untuk mengikuti jejak kemuliaan mereka.


Paling sedikit, ada empat pesan penting pada ayat di atas. Pertama, introspeksi. Pernyataan doa, “Wahai Tuhan kami, ampunilah kami” secara tidak langsung menyuruh kita untuk tiada henti koreksi diri. Antara lain, apakah kita sudah menjadi suami, ayah, istri, dan ibu yang patut dijadkan tauladan? Apakah kita guru, karyawan dan pemimpin yang terbaik? Apakah semua yang kita makan selama ini benar-benar murni halal? Apakah shalat kita telah membentuk diri kita sebagai pribadi yang menumbuhkan senyum dan optimisme orang-orang di sekitar kita? Introspeksilah. Sediakan waktu secara rutin setiap malam untuk menunduk hening, usaplah air mata yang membasahi pipi, lalu beristighfarlah. Orang terbaik bukanlah orang yang tanpa dosa, tapi yang jujur mengakui dosa dan bertekad untuk berubah. Nilai Anda di mata Allah ditentukan seberapa besar ruang yang Anda siapkan untuk-Nya di hati Anda.


Kedua, kepedulian. Pernyataan, “..dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan keimanan” mengajarkan kita untuk peduli terhadap orang lain. Abu Abdillah Sufyan bin Sa’id Ats Tsaury, ulama besar Iraq mengatakan, salah satu tanda sadisme adalah minimnya doa untuk orang lain, khususnya orang yang telah wafat. Ahli hadis dan fikih yang hidup pada abad 8 M itu menambahkan, jika Anda melewati kuburan dan Anda diam tanpa doa, Andalah manusia sadis, raja-tega yang mengabaikan jeritan penghuni kubur yang merintih menunggu doa pengampunan dari kita yang masih hidup. Jika Anda bekerja pada suatu kantor atau di manapun, lalu Anda tidak berdoa untuk kemajuan tempat kerja, maka Anda juga sadis, sebab Anda hanya menghisap madu, lalu mengabaikan lebah dan sarangnya.


Ketiga, kesetaraan. Pernyataan, “..dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan keimanan” juga mengajarkan kita tentang semangat kesetaraan. Semua ayat Al Qur’an tentang hubungan nabi dan umatnya menggunakan istilah “saudaramu” atau akhuuhum. Nabi memperlakukan umatnya sebagai saudara, bukan hirarkhis, sebagai anak buah. Umat Nabi juga tidak memperlakukannya sebagai bapak buah. Prinsip inilah yang dikembangkan dalam majamen moderen. Dalam dunia pendidikan, tidak ada lagi istilah guru dan murid, tapi pendidik dan peserta didik. Dalam ilmu dakwah, tidak ada lagi subyek dan obyek dakwah, melainkan pendakwah dan mitra dakwah. Pendakwah bukan lagi memposisikan diri sebagai manusia termulia dan tersuci yang berhak menggurui obyeknya, melainkan sama-sama bermitra untuk mencari cara terbaik menapaki jalan yang lurus. Dalam posisi itu, pendakwah bertaushiyah, “Inilah perintah Allah, mari kita bersama-sama mencari cara bagaimana kita bisa menjalankannya, dan inilah yang terlarang, lalu bagaimana cara termudah untuk bersama-sama meninggalkannya.”
Sebutan “saudaraku” oleh Nabi SAW untuk umatnya, antara lain ditunjukkan pada saat ia keluar menuju kuburan. Ia memberi salam, “Salam untuk kalian wahai penghuni kubur. Sungguh, suatu saat, kami akan menyusul kalian atas kehendak Allah.” Ia melanjutkan, “Wadidtu an ra-aytu ikhwaananaa (saya ingin sekali melihat saudara-saudaraku).” Para sahabat bertanya, “Alasnaa bi-ikhwaanika (tidakkah kami ini juga saudara tuan?” Nabi menjawab, “Bal antum ash-haabii wa anaa farathuhum ‘alal haudli (ya, kalian juga sahabatku. Saya akan menemui mereka di telaga al-kautsar ) (HR. Al Bukhari dan Muslim).


Keempat, kehangatan persaudaraan. Pernyataan doa, “Wahai Tuhan kami, janganlah ada di hati kami kedengkian terhadap orang-orang beriman” menunjukkan perintah pembersihan hati untuk menciptakan persaudaraan yang hangat. Hati yang bersih dari dengki, benci dan iri hati. Inilah yang sering kita abaikan, karena perhatian kita habis tersita untuk pembersihan muka dan pewangian penampilan. Memang ini berat, sebab kata Ibnu Taimiyah, semua orang berpotensi dengki, hanya saja ada orang yang berhasil memerangi, dan sebagian yang lain justeru mengeksekusi.
Mengapa sifat negatif itu harus dihapus? Sebab benci, jengkel dan dengki bisa merusak nama baik yang amat Anda butuhkan dlam menapaki masa depan. Citra diri harus dibangun sejak dini, lebih-lebih dalam perjumpaan awal dengan orang. Perhatikan bagaimana Allah memperkenalkan dirinya pertama kali kepada manusia dengan dua namanya, Maha Pengasih dan Maha Penyayang dari 99 namanya. Dengan kesan pertama yang indah dalam memori otak itu, diharapkan manusia memiliki optimisme menatap masa depan, merasa didampingi oleh Tuhan yang selalu mengasihi dan menyayangi. Brain Tracy berkata, “A first impression says everything. One makes a judgment about you in aprroximately four seconds, and his judgment is finalized largely 30 seconds of the initial contact (Kesan pertama menceritakan segalanya. Seseorang memulai membuat penilaian tentang diri Anda dalam empat detik pertama, dan memutuskan peniliaian itu 30 detik berikutnya). Perasaan negaif itu juga merusak ketampanan dan kecantikan dan merusak kesehatan Anda. Allah SWT berfirman, “Katakanlah (wahai Muhammad), “Matilah kamu dengan membawa kegenkianmu itu). Dan, jangan lupa, kebencian, kejengkelan dan iri hati akan menutup rapat semua pintu rizki Anda, lebih-lebih pada era sekarang ini, dimana courtesy atau kesopanan, kesantunan dan kehangatan pelayanan di butuhkan dalam semua lini bisnis. Semoga, pintu rizki yang selama ini tertutup, sebantar lagi akan terbuka lebar untuk Anda.

KE SURGA TANPA DIPERIKSA

November 23rd, 2018 | Posted by admin_tsb in Taushiyah/Khutbah - (1 Comments)

KE SURGA TANPA DIPERIKSA
Oleh: Prof.Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Khutbah Jum’at di Masjid Baitur Rahman Sidosermo Surabaya 23/ 11/2018

 

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ  وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّابَعْدُ فَيَا عِبَادَاللهِ اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ  قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin Yth.

Dalam Al Qur’an surat Az Zalzalah ayat 7-8, Allah berfirman:

”Siapapun yang mengerjakan kebaikan sebesar atom, niscaya ia akan melihat (balasan)nya. Dan siapapun yang mengerjakan kejelekan sebesar atom, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. Az Zalzalah [99]: 7-8).

Firman Allah di atas memberi kegembiraan yang besar bagi kita, bahwa sekecil apapun perbuatan baik yang kita lakukan, bahkan tak diketahui oleh seorangpun pasti mendapat balasan pahala dari Allah. Ketika kebaikan kita dilupakan orang atau bahkan dituduh hanya pamer dan pencitraan belaka, kita tak perlu marah atau gelisah, sebab Allah sudah mempersiapkan balasan terbaik untuk kita. Ayat itu juga amat menakutkan, sebab, sekecil apapun dosa yang kita lakukan pasti diketahui Allah dan akan mendapat hukuman karenanya. Satu keping kerupuk yang lupa belum terbayar ketika kita makan di sebuah warung bisa menjadi penghalang kita untuk melangkah ke surga, jika penjualnya tidak merelakannya.

Dalam kisah klasik, ada seorang murid yang bermimpi jumpa guru spiritualnya, lalu bertanya, ”Adakah sesuatu yang menyusahkan tuan guru di dalam kubur?” dan dijawab, ”Ya, ada. Saya pernah mengambil robekan kayu kecil di pagar tetangga untuk tusuk gigi tanpa meminta ijin kepadanya.” Umar bin Khattab r.a pernah bertanya kepada Abdullah bin Mas’ud, ”Wahai Ibnu Mas’ud, ayat apakah yang paling lengkap untuk pegangan hidup?” Ia menjawab, ”Ayat 7-8 yang menjadi penutup surat Az Zalzalah.”

Allah sekali lagi meyakinkan kita, ”Bukankah Allah hakim yang paling adil? (QS. At Tin [95]: 8). Oleh sebab itu, di akhirat kelak, tidak akan ada vonis pengadilan yang keliru, seperti yang pernah dialami oleh Sengkon dan Karta. Atau yang dialami oleh suami isteri, Risman Lakoro dan Rostin Wahaji di propinsi Gorontalo pada tahun 2007. Setelah 3,5 tahun mendekam di penjara dengan tuduhan membunuh anak tirinya, ternyata anak tiri yang diduga telah dibunuh itu masih hidup dan menjenguk mereka di rumah tahanan. Anak itu baru mengetahui bahwa selama ia meninggalkan rumah tanpa pamit itu, orang tua mereka mendekam di penjara.

 

Hadirin Yth.

Dalam proses pengadilan yang amat teliti itu, ternyata ada beberapa orang yang diistimewakan Allah, bahkan diminta langsung memasuki surga tanpa pemeriksaan, sebagaimana dikatakan Allah kepada Nabi Musa a.s:

يَا مٌوْسَى اِنَّهُ لَنْ يَلْقَانِى عَبْدِى فِى حَاضِرِ الْقِيَامَةِ اِلَّا فَتَّشْتُ عَمَّا فِى يَدِهِ اِلَّا الْوَرِعِيْنَ فَاِنِّى أْسْتَحْيِيْهِمْ وَأُجِلُّهُمْ وَأٌدْخِلُهُمٌ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ رواه الحاكم والترمذي

 

”Wahai Musa, sungguh siapapun dari hamba-Ku pasti berjumpa dengan-Ku di meja pengadilan kiamat untuk Aku periksa dengan teliti apa saja perbuatan yang pernah dilakukannya kecuali ”ahlul wara’.” Sungguh, Aku segan dan sangat menghormati mereka, dan Aku masukkan ke dalam surga tanpa pemeriksaan” (HQR. Al Hakim, At Turmudzi dalam kitabnya Nawaadirul-Ushuul yang bersumber dari Abdullah Ibnu Abbas r.a.).

Yang dimaksud ”ahlul wara’” dalam hadis di atas adalah orang yang menahan diri dari semua larangan Allah, bahkan terhadap sesuatu yang masih remang-remang halal-haramnya. Abu Bakar As Shiddiq r.a adalah salah satu contoh ahlul wara’, amat berhati-hati terutama dalam hal makanan dan pakaian. Ia tidak segan-segan bertanya, dari mana makanan itu dan bagaimana cara memperolehnya. Jika jawabannya tidak meyakinkan, Abu Bakar r.a memohon maaf untuk meninggalkan jamuan makan.

Pada waktu yang lain, Abu Bakar r.a langsung memakan hidangan tanpa banyak bertanya seperti biasanya, karena sangat lapar. Beberapa saat kemudian, ia hentikan makannya dan bertanya kepada pemberi hidangan. Setelah menyimpulkan bahwa makanan itu masih remang-remang halalnya, ia lari keluar sambil mencolokkan telunjukknya ke dalam kerongkongan untuk memuntahkan makanan. Orang di sampingnya bertanya, ”Wahai sahabat Rasulullah, mengapa sampai demikian, toh hanya sesuap makanan?” Ia menjawab, ”Demi Allah, jika makanan itu tidak mau keluar melainkan dengan nyawaku, niscaya akan aku keluarkan juga, sebab Nabi SAW pernah bersabda, ”Seberapapun daging dalam tubuh yang tumbuh dari yang haram, maka api neraka adalah tempat paling layak untuknya.”

Mengenai syubhat ini, Nabi bersabda, ”Sungguh yang halal itu jelas, dan yang haram juga jelas. Di antara keduanya ada beberapa hal yang reman-remang halal-haramnya (musytabih atau syubhat), dan tidak diketahui kejelasan hukumnya oleh kebanyakan orang. Barang siapa yang menahan diri dari hal-hal yang samar-samar hukumnya itu, maka ia benar-benar berhasil menjaga kesucian imannya dan nama baiknya. Barang siapa yang terhanyut dalam hal-hal yang syubhat, maka ia telah benar-benar masuk ke dalam wilayah yang haram, laksana pengembala yang membiarkan ternaknya di sekitar lahan yang terlarang, (sesekali) hewan itu  memasuki lahan terlarang itu”  (H.R. Bukhari dan Muslim dari Nu’man bin Basyir r.a).

 

Hadirin Yth.

Saya sama sekali belum termasuk ahlul wara’. Saya yakin banyak di antara hadirin yang lebih mendekati predikat itu daripada saya. Tapi, saya tetap menyampaikan khutbah ini untuk menguatkan diri sendiri dan hadirin agar lebih berhati-hati dalam mencari nafkah. Anda pernah mendengar perkataan orang, ”Yang haram saja susah, apalagi yang halal.” Jangan ikuti dia. Kasihanilah dia, sebab terlalu berat resiko yang harus ditanggungnya kelak.  Semoga khutbah ini mendekatkan kita ke predikat ahlul wara’, sangat hati-hati dalam mencari nafkah, jangan ada sedikitpun tercampur hak-hak orang lain, dan jangan ada sesuap nasipun yang tidak jelas halalnya. Dengan cara hidup ekstra hati-hati yang demikian, kita berharap diselamatkan dari siksa kubur dan neraka, serta dipersilakan Allah SWT memasuki surga tanpa diperiksa oleh-Nya. Amin YRA.

                                اَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِى وَلَكُمْ اِنَّهُ هُوَالْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Sumber: (1) Al Qur’an Al Karim (2)  Ali Usman dkk, Hadits Qudsi, Penerbit CV Diponegoro,  Bandung, 1979, p. 298, (3) Hepi Andi Bastomi, 101 Sahabat Nabi, Pustaka Al Kautsar, Jakarta Timur, 2004.