Header

Author Archives: admin_tsb

PENANGKAL VIRUS DAN BULLYING

September 30th, 2020 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

PENANGKAL VIRUS DAN BULLYING
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia

sumber gambar: https://www.aa.com.tr/id/berita-analisis/analisis-virus-korona-black-swan-baru-ekonomi-global/1736101

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّٰثَٰتِ فِي ٱلۡعُقَدِ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ 

“Katakanlah (wahai Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.” (QS. Al Falaq [113]: 1-5).

Artikel ini saya tulis ketika penduduk dunia sedang ketakutan pada virus Corona-19 yang muncul di Tiongkok. Hanya sekejap, virus itu merenggut nyawa ribuan orang, dan menyebar ke sejumlah negara. Peristiwa ini mengingatkan kita tentang kematian secara masal dan mendadak dengan tubuh kaku yang dialami oleh orang-orang yang membangkang terhadap perintah Nabi terdahulu. Pada waktu yang bersamaan, kita juga sedang menyaksikan sejumlah korban bullying atau perundungan yang dilakukan siswa sekolah.  

Sebagai manusia yang beragama, kita tidak boleh ikut-ikutan takut terhadap virus dan bencana apa pun, sebab kita punya Tuhan Yang Maha Kuasa mengatasi-Nya. Tapi, kita tidak boleh ceroboh. Semua petunjuk dokter dan pemerintah untuk menangkalnya harus kita ikuti, sebab kesehatan adalah amanat yang wajib kita jaga (QS. An Nisa’ [5]: 58).

Di samping usaha-usaha lahiriah, kita juga harus melakukan ikhtiar batiniah, antara lain penguatan keyakinan dan optimisme melalui zikir dan doa. Ketenangan, keyakinan dan optimisme itu amat besar pengaruhnya terhadap imunitas tubuh. Pertama, kita kuatkan keyakinan, bahwa kehidupan hanya berlanjut, jika Tuhan Yang Maha Hidup dan Maha Pemelihara (al hayyul qayyuum) mengijinkannya. Maka, dekatkan diri Anda kepada Yang Maha Hidup dan seraplah enerji-Nya. Dialah Allah yang tak pernah mengantuk atau pun tidur (laa ta’khudzuhuu sinatun walaa nawm), tapi fokus mengurus alam semeseta, termasuk Anda. Inilah energi besar yang terdapat dalam ayat kursi (QS. Al Baqarah [2]: 255). Inilah juga ayat yang membuat setan takut mendekat ketika membacanya menjelang tidur (HR. Al Bukhari dari Abu Hurairah r.a). Ayat ini juga berfungsi sebagai pengantar manusia ke dalam surga, jika dibaca secara rutin setelah shalat (HR. An Nasa-i dari Abu Umamah r.a). Inilah ayat yang secara otomatis menjadi sarana perlindungan dari semua bencana dan kezaliman orang.  

Kedua, kita kuatkan juga ketenangan dan optimisme melalui Surat Al Ikhlas untuk menghadapi apa pun musibah akibat bencana alam atau pun akibat kejahatan manusia dan jin. Melalui bacaan surat ini, kita akan dikawal oleh as-shamad, Tuhan tempat semua makhluk bergantung, dan Tuhan Penyelamat manusia dari berbagai musibah. Allah yang bersifat as-shamad, akan dengan cepat menarik tangan orang yang nyaris tenggelam di laut. Dialah Tuhan Yang Perkasa, bagaikan pohon besar yang kita rangkul dengan kuat ketika banjir bandang tsunami menghanyutkan bangunan dan ribuan manusia. Atau, bagaikan gua yang rapat, tempat kita bersembunyi dari kejaran para penjahat. Inilah surat penangkal bahaya yang sama nilainya dengan sepertiga Alquran. Sebab, ia menjelaskan pokok-pokok keyakinan, sedangkan ayat-ayat Alquran lainnya berbicara tentang dua pilar Islam lainnya, yaitu ibadah dan akhlak.

Ketiga, kita tingkatkan kehati-hatian menjalani hidup melalui Surat Al Falaq. Inilah surat  tentang perintah waspada terhadap sisi negatif makhluk Allah (min syarri maa khalaq). Hampir setiap makhluk memiliki sisi positif dan negatif. Pohon yang rindang bisa memberi kenikmatan untuk berteduh, tapi juga bisa secara tiba-tiba roboh dan menggencet tubuh kita. Teman sekelas bisa sebagai penyemangat, tapi bisa juga pelaku bullying yang membuat anak kita cacat seumur hidup, atau bahkan meregang nyawa. Seorang istri yang menemani suami sekian puluh tahun, bisa saja tiba-tiba kalap dan membunuh suaminya dengan keji. Dalam tubuh kita juga terdapat organ-organ yang vital, tapi bisa saja mematikan, jika tidak kita perlakukan dengan benar. Malam sunyi sejatinya waktu terindah untuk bersujud, tapi ternyata juga dimanfaatkan tukang santet, pencuri dan perampok yang mengganggu dan menyakiti kita. Melalui surat ini, kita meminta penjagaan Allah dari sisi negatif semua makhluk Allah itu.

Kita juga harus waspada kepada orang-orang yang iri hati atau hasud kepada kita (min syarri haasidin idza hasad). “Tak ada manusia tanpa iri hati,” kata Ibnu Taimiyah. Hanya saja, menurut surat ini, ada yang bisa membatalkan hasudnya, dan ada pula yang melampiaskannya (idza hasad). Hasud adalah kejahatan pertama di langit, yaitu ketika Iblis hasud kepada Adam yang sedang menikmati fasilitas surga. Hasud juga kejahatan pertama di bumi, yaitu ketika Qabil iri hati dan tega membunuh saudaranya, Habil yang mendapatkan istri tercantik.  

Keempat, kita tingkatkan kesadaran kita, bahwa setan selalu mengintai peluang untuk menghancurkan kita (min syarril waswasil khannats). Setan selalu memengaruhi jalan pikiran (yuwaswisu) kita, sehingga dengan keterampilannya, sebuah racun bisa dikemas sedemikian rupa, sehingga terlihat minuma yang menyegarkan. Melalui surat ini, kita diyakinkan, bahwa semua rekayasa jahat itu akan terpatahkan, jika kita mendekat Allah, Penguasa, Pengendali, dan Sembahan manusia (rabbin nas, malikin nas, ilaahin nas).

Berdasarkan uruan di atas, maka kita wajib menjaga kesehatan dan keselamatan sesuai petunjuk para ahli yang terkait. Tapi, kita juga harus melengkapi jiwa dan raga dengan penangkal otomatis terhadap virus, kuman, bakteri, jamur, tumor, kanker, kejahatan manusia, jin, dan sebagainya dengan membaca ayat-ayat di atas. Yaitu, ayat kursi dan tiga surat “Qul” (Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Nas) pada pagi dan malam hari untuk perlindungan sepanjang hari dan malam itu. Lebih baik lagi, jika ayat-ayat itu dibaca dalam shalat pagi dan malam hari. Misalnya, ayat kursi kita baca pada rakaat pertama shalat sunah sebelum subuh, dan tiga surat “qul” kita baca pada rakaat kedua. Lalu, pada malam harinya, kita melakukan yang sama pada shalat sunah setalah maghrib. Dengan cara itu, shalat kita lebih berkualitas dan lebih menyenangkan Allah, sekaligus mendapat perlindungan dari-Nya sepanjang hari dan malam dari semua bencana, kezaliman orang dan berbagai sumber penyakit.

  Sumber: (1) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol. 1 Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 664-668, dan Vol 15, p. 713-760. (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, juz 30, p.275-298, dan juz 3, p. 15-20.    

BAITI JANNATI, RUMAHKU SURGAKU

September 8th, 2020 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

“BAITI JANNATI, RUMAHKU SURGAKU”
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar:http://clipart-library.com/cartoon-family-cliparts.html

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَكُم مَّوَدَّةٗ وَرَحۡمَةًۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ 

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berfikir” (QS. Ar Rum [31]: 21).

Pada ayat sebelumnya dijelaskan, Allah menciptakan manusia dari tanah, lalu dari padanya, manusia berkembang biak melalui hubungan suami istri. Sebagai kelanjutan, ayat ini menjelaskan, bahwa hubungan pasangan itu harus dibangun dengan akhlak mulia menuju keluarga sakinah (tentram), mawaddah (cinta), dan rahmah (sayang). 

Dalam Alquran, Nabi SAW lebih ditonjolkan ketauladanan akhlaknya daripada ibadahnya. “Sungguh, engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al Qalam [68]: 4). Nabi SAW juga bersabda, “Khairukum khairukum li ahlih / orang yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik dalam berkeluarga.” (HR. At Tirmidzi).

Ada tiga akhlak utama yang harus diperhatikan untuk membangun “Baiti Jannti, Rumahku Surgaku.” Pertama, komunikatif. Artinya, aktiflah berkomunikasi dengan Allah, orang tua, mertua, pasangan, dan putra putri Anda. Ketika bangun tidur, sebelum menyapa siapa pun, sapalah Allah dengan berdoa, “Wahai Allah, terima kasih, Engkau masih berkenan memberi saya tambahan hidup, setelah tidur semalam. Saya akan berhati-hati dalam hidup, sebab saya pasti suatu saat kembali kepada-Mu.”  

Setiap pagi, berikan ciuman kasih untuk pasangan Anda, disertai doa dan ungkapan cinta. Misalnya, “I love you, barakallahu fik / aku mencintaimu, dan semoga berkah Allah terus tercurah untukmu.” Sapalah setiap hari kedua orang tua dan mertua Anda dengan salam dan ungkapan yang terindah, meskipun hanya melalui media komunikasi modern. Upayakan, jangan sampai Anda kedahuluan salam mereka. Jadilah anak atau menantu penyapa dan periang. Jangan jadi orang “bisu.” Semua itu pahala. Senyum orang tua adalah senyum Allah untuk Anda. Dan, ketahuilah, senyum mereka adalah modal untuk kesuksesan Anda. 

Bicarakan terus terang, sekecil apa pun masalah yang mengganjal dengan pasangan Anda dengan cara yang sopan dan terhormat. Jangan disimpan dalam hati, agar tidak menjadi penyakit. Bicara blak-blakan memang amat berat dan menyakitkan. Tapi, untuk jangka panjang, itulah tindakan yang paling menyelamatkan rumah tangga.

Perbanyak komunikasi dengan Allah melalui sujud malam hari untuk curhat apa pun. Jangan sekali-kali curhat kepada selain-Nya. Yakinlah, melalui sujud panjang, Allah akan mengambil alih penyelesaian semua masalah Anda. (Baca buku Terapi Shalat Bahagia). 

Sikap komunikatif juga ditandai dengan memperbanyak sedekah telinga, yaitu mendengarkan sampai tuntas apa saja yang disampaikan pasangan Anda. Tahanlah sekuat tenaga hasrat untuk memotong pembicaraan. Sebab, hal itu menyakitkan dan amat melukainya. Setiap orang amat suka didengar. Tapi sayang, hanya sedikit orang yang bisa melakukannya. Telah banyak kursus menjadi pembicara terbaik, tapi belum ada pelatihan menjadi pendengar yang baik.

Kedua, apresiatif. Artinya memperbanyak syukur kepada Allah dan terima kasih kepada pasangan. Hindari kebiasaan mengeluh, sebab itu tanda keimanan yang keropos dan mental yang sakit. Hargailah setiap jasa sekecil apa pun pasangan Anda. Ketika menikmati hidangan yang disiapkan istri, misalnya, katakan, “Wahai Allah, gantilah makanan dan minuman surga untuk istriku tercantik, yang menyiapkan hidangan ini. Berikan ia kebahagiaan, sebab, ia telah membahagiakan saya dengan penataan rumah, pakaian dan hidangan yang luar biasa ini.” Sebagai istri, Anda juga harus memberi apresiasi yang sama. Misalnya, “Wahai Allah, gantilah keringat suamiku yang tampan dan pekerja keras ini dengan mutiara-mutiara terindah di surga.” Allah sudah memberi jaminan keberkahan dan kebahagiaan, jika Anda apresiatif. “Jika kamu apresiatif kepada Allah dan semua orang, Kami akan menambah kualitas hidupmu.” (QS. Ibrahim [14]: 7).

Sediakan “me time” untuk pasangan Anda. Pada waktu-waktu tertentu, berikan istri Anda waktu dan kesempatan sepenuhnya untuk off dari semua tugas rutin rumah tangga, agar bisa bersenang sepenuhnya. Berikan waktu seharian penuh kepada istri Anda sesekali untuk istirahat dan memanjakan dirinya, serta ambil alihlah semua pekerjaan hari itu, mulai membersihkan dan merapikan rumah, sampai menyuapi anak Anda. Saat itulah, Anda bisa menghargai kepayahan sang istri dalam mengatur rumah dan anak selama ini, yang telah dilakukan bertahun-tahun.

Sebagai istri, ijinkan suami Anda untuk istirahat atau menyalurkan hobinya sampai ia bersenang dengan puas. Tidakkah ini juga ibadah yang amat agung? (Baca doa apresiatif dalam buku “Doa-doa keluarga Bahagia”).

Ternyata, dalam kenyataan sehari-hari, hanya sedikit manusia apresiatif (QS. Saba’: 13). Artinya, jangan kecewa menghadapi manusia tak apresiatif dan berusahalah menjadi manusia langka yang terpuji itu. Umar bin Khattab r.a pernah mendengar orang berdoa, “Wahai Allah, jadikan aku termasuk orang yang sedikit.” “Maa haadzad du’a? / doa macam apa ini?” tanya Umar.Orang itu menjawab, “Tidakkah Allah berfirman, bahwa hanya sedikit orang yang apresiatif?” Umar langsung berkata, “Kullun naas a’lamu min ‘Umar / ternyata,  orang-orang lebih pintar dari Umar.”

Ketiga, selektif. Artinya, pilihlah kata terindah untuk pasangan Anda. Jangan asbun (asal bunyi), tanpa berfikir akibat negatif dari kata yang diucapkan. Orang bijak berkata, “Think today and speak tomorrow / berpikirlah sekarang, dan katakan besok.” Ali bin Abi Thalib r.a berkata, “Lidah orang cerdas di belakang hatinya, dan lidah orang bodoh di depan hatinya.” Artinya, hanya orang bodoh yang tidak selektif terhadap kata yang akan diucapkan.

Jangan pula aslan (asal telan) semua informasi. Anda harus selektif terhadap informasi negatif tentang pasangan Anda. Lakukan tabayun atau klarifikasi, apalagi pada era banjir informasi seperti sekarang ini. Perhatikan perintah klarifikasi tersebut dalam QS. Al Hujurat [49]: 6. (Baca buku Pasangan Berbintang, Mengukur Skor Suami dan Istri).

Selamat mendayung keluarga menuju pulau “Baiti Jannati, Rumahku Surgaku.”

KHUTBAH: MANUSIA ANEH

September 8th, 2020 | Posted by admin_tsb in Taushiyah/Khutbah - (0 Comments)

KHUTBAH: MANUSIA ANEH
Khutbah Jum’at Masjid Nasional Al Akbar Surabaya 4/9/2020
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ  وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّابَعْدُ فَيَا عِبَادَاللهِ اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ  قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Para jamaah yang berbahagia.

            Pada khutbah siang ini, saya akan menyampaikan khutbah berjudul ”Manusia Aneh.” Salah satu ayat yang menunjukkan keanehan manusia adalah Surat Al Muddats-tsir ayar 49-51: 

فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ كَأَنَّهُمۡ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۢ 

“Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)? Seakan-akan mereka itu keledai liar, yang lari terkejut, lari dari singa.

Allah heran, mengapa orang-orang kafir menjauhi Nabi, padahal Nabi mengajarkan keselamatan, bukan kesengsaraan. Kanehan mereka itu digambarkan dalam Al Quran seperti keledai liar yang melompat, lalu lari kencang, karena melihat seekor singa. Ia terus berlari, padahal singa itu sudah sangat jauh.

Para jamaah yang berbahagia.

Di mata Allah, kita ini juga manusia aneh. Kita meminta petunjuk jalan yang benar atau shiraathal mustaqim dalam setiap shalat, tapi kita justru memilih jalan bengkok, yang menyengsarakan masa depan, dengan seribu alasan. Sikap demikian ini seperti pengemis yang kahausan dan meminta air dingin. Tapi, ketika beri, minuman itu justru dibuangnya.

Kita manusia aneh. Dalam setiap doa, meminta dijauhkan dari hutang, tapi setiap ada tawaran barang dengan angsuran murah diterima. Padahal, barang itu bukan kebutuhan pokok, melainkan hanya untuk penambah gaya dan gengsi. Akibatnya, ketika ada kebutuhan pengobatan dan pendidikan anak, atau kebutuhan pokok lainnya, ia pontang-panting mencari pinjaman. Ia mengabaikan perintah Allah untuk mengatur ekonomi keluarga secara terencana. Allah berfirman dalam Surat Al Hasyr ayat 18,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap orang memikirkan apa yang yang telah dilakukan (sebagai persiapan) untuk hari esok”

Para jamaah yang berbahagia.

Kita manusia aneh. Kita mengakui Al Quran sumber petunjuk. Tapi, kitab suci itu hanya diletakkan di ruang tamu, di kantor, atau di mobil hanya untuk asesori dan simbol, bahwa ia keluarga santri dan pecinta Al Qur’an. Atau Al Quran sunguh-sunguh kita baca, tapi hanya untuk kemudahan rizki dan kesehatan. Akibatnya, tetap saja akhlaknya tak berubah, ya buta halal-haram dalam mengumpulkan rizki, bahkan uang milik rakyat pun juga dicuri, ya tetap kasar dan zalim di tengah keluarga, ya tak terkontrol bicaranya, dan tak merasa bersalah sama sekali, padahal kata-katanya amat menusuk perasaan sesama muslim, atau penganut agama lain.   

Kita manusia aneh. Berkali-kali kita meneriakkan cinta Rasul, atau pejuang sunah Rasul. Tapi, pada masa pandemi ini, keluar tak memakai masker, bergaya sok paling mengerti takdir, padahal hal itu membahayakan diri sendiri dan orang lain. Rasul yang mana yang kita cintai itu? Ia juga membuang sampah seenaknya, bahkan kadangkala membuangnya ke sungai. Astaghfirullah. Rasul yang mana yang dicintai itu? Ia tidak hanya boros bicara, tapi juga boros air, boros plastik dan tas kresek, padahal hal itu merusak lingkungan yang akan menyusahkan hidup anak cucu kita. Berkendara di jalan raya juga tak mengindahkan kesopanan dan keselamatan. Rasul yang mana yang kita cintai itu, dan sunah Nabi yang mana yang diperjuangkan itu.?  

Sebab Rasulullah SAW sama sekali tidak mengajarkan semua itu. Allahumma shalli ala Muhammad.   

Hadirin yang berbahagia

Pada era informasi ini, bertambah banyak orang aneh. Setiap jam mengirimkan nasihat-nasihat agama kiriman orang melalui HP. Padahal, ia tidak tahu sumber aslinya, tidak dicek benar tidaknya, juga belum paham betul isinya, apalagi menjalankannya. Tidakkah itu terkena peringatan Allah dalam surat As Shaf ayat 2,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak engkau lakukan?

Barangkali inilah jaman yang pernah diprediksi, yaitu lebih banyak pembicara, tapi ia tak punya pengetahuan agama, dan gagal menjadi tauladan bagi masyarakat sekitarnya.

Para jamaah yang berbahagia.

Masih banyak keanehan dalam hidup ini. Tidak jauh-jauh, bisa jadi keanehan itu pada diri kita sendiri. Semoga Allah mengampuni kita dan membebaskan kita dari predikat manusia aneh, sebagaimana disebut dalam ayat di atas.

اَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهُ لِى وَلَكُمْ اِنَّهُ هُوَاالْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ