Header

Author Archives: admin_tsb

KONSENTRASI PADA HAK-HAK ILAHI

July 16th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

KONSENTRASI PADA HAK-HAK ILAHI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

 “Hanya kepada-Mu, kami menyembah, dan hanya kepada-Mu pula kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah [01]: 5).

Inilah firman Allah paling populer yang menjelaskan hak-hak Allah dan hak-hak manusia. Istilah hak selalu terkait dengan kewajiban. Artinya, adanya hak seseorang berarti adanya kewajiban pihak lain untuk memenuhinya. Demikian juga sebaliknya, adanya kewajiban seseorang berarti adanya hak bagi pihak lain yang harus dipenuhi. Akan tetapi, ketentuan itu tidak berlaku dalam hubungan antara  manusia dan Allah. Hak-hak Allah melahirkan kewajiban manusia, akan tetapi hak-hak manusia tidak mendatangkan kewajiban bagi Allah, karena manusia sebagai makhluk tidak berhak menuntut kewajiban dari Allah, Tuhan yang menciptakannya. Meskipun tidak ada yang berhak menuntut kewajiban dari Allah, tapi Allah telah menjamin pelaksanaan ”kewajiban-Nya” dan tidak akan mengurangi sedikitpun hak-hak hamba-Nya, ”Dan Aku sekali-kali tidak akan berbuat zalim kepada hamba-hamba-Ku” (QS. Qaf [50]: 27-29). Allah juga menegaskan dalam hadis Qudsi, ”Sunguh Aku mengharamkan diri-Ku untuk berbuat zalim.”

Allah tidak hanya menunjukkan keadilan-Nya terhadap manusia, tapi juga kemurahan-Nya yang melimpah, antara lain dengan memberikan hak hidup manusia dan pemenuhan semua kebutuhannya, meskipun orang itu mengingkari Allah, ataupun orang itu belum melakukan penyembahan apapun kepada-Nya, misalnya, si bayi. Anda bisa memperhatikan sejumlah ayat Al Qur-an tentang bagaimana Allah melaksanakan ”kewajiban-Nya” kepada manusia sebelum memerintahkan penyembahan kepada-Nya. Antara lain, dalam surat Al Kautsar,

”Sungguh Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah” (QS. Al Kautsar [108]: 1-2).   

Dalam surat Al Waqi’ah juga dijelaskan macam-macam pemberian Allah kepada manusia, ”Maka terangkanlah (kepadaKu) tentang (tumbuhan) yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkannya?. Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan tanaman itu hancur dan kering, maka  kamu menjadi heran dan tercengang, (sambil berkata), “Sungguh kami benar-benar menderita kerugian, bahkan kami menjadi orang-orang yang tidak mendapat hasil apapun. Maka terangkanlah  (kepada-Ku) tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kami yang menurunkannya?. Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan ia asin. Mengapakah kamu tidak bersyukur? Maka terangkanlah  (kepada-Ku) tentang api yang kamu nyalakan (dengan menggosok-gosokkan kayu). Kamukah yang menjadikan kayu itu atau kami yang menjadikannya? Kami jadikan api itu untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu  Yang Maha Besar” (QS. Al Waqi’ah [56]: 63-74).

Pemberian Allah kepada manusia tidak hanya bersifat fisik, tapi juga non-fisik, yaitu menjaganya, merawatnya, mengambil-alih kesulitan yang dihadapinya, menutupi dan mengampuni dosa-dosanya, memberi kekuatan untuk melakukan kebaikan, dan yang tak kalah pentingnya, memberi kekuatan untuk melawan setan, karena tanpa bantan Allah, manusia tidak akan mampu mengalahkannya, sebagaimana firman Allah,  

”Sungguh (wahai) hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka (setan-setan) dan cukuplah Tuhanmu sebagai Pelindung”  (QS. Al Isra’[17]: 65). Nabi Yusuf a.s pun tidak mampu melawan nafsu syahwatnya menghadapi godaan wanita cantik dan kaya-raya, Zulaikha, seandainya tidak dibantu Allah, sebagaimana diceritakan Allah,  

وَلَقَدۡ هَمَّتۡ بِهِۦۖ وَهَمَّ بِهَا لَوۡلَآ أَن رَّءَا بُرۡهَٰنَ رَبِّهِۦۚ كَذَٰلِكَ لِنَصۡرِفَ عَنۡهُ ٱلسُّوٓءَ وَٱلۡفَحۡشَآءَۚ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُخۡلَصِينَ

“Sungguh wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami menjauhkannya dari kejelekan dan kekejian (zina). Sungguh Yusuf termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf [12]: 24).

Secara garis besar, ada dua macam hak Allah yang harus dipenuhi manusia, yaitu, pertama,  mengimani eksistensi-Nya beserta sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Kedua, berupa tindakan nyata yaitu menunaikan shalat, puasa Ramadhan, mengeluarkan zakat, berhaji, dan menjalankan semura perintah-Nya. Manusia harus memenuhi hak-hak Allah sebelum menuntut haknya untuk dikabulkan doa-doanya. Allah berfirman dalam hadis qudsi,

لَسْتُ بِنَاظِرٍ فِى حَقِّ عَبْدِى حَتَّى يَنْظُرَ فِى حَقِّى (رواه الطبرانى)

Aku tidak akan memberikan hak hamba-Ku sebelum ia menunaikan hak-Ku. (HR. Thabarani dari Ibnu Abbas ra).

            Allah SWT akan lebih mencintai orang yang mendepankan hak-hak Allah berupa shalat, puasa, zakat, haji, berzikir, membaca Al Qur’an, bertawakal, dan semua bentuk penyembahan lainnya kepada Allah daripada orang yang menuntut haknya untuk dikabulkan doanya oleh Allah. Allah SWT berfirman,  

               عَنْ اَبِى سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ يَقُوْلُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ مَنْ شَغَلَهُ الْقُرْأَنُ وَذِكْرِي عَنْ مَسْأَلَتِى أَعْطَيْتُهُ اَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِيْنَ وَفَضْلُ كَلَامِ اللهِ عَلَى سَا ئِرِ الْكَلَامِ كَفَضْلِ اللهِ عَلَى خَلْقِهِ رواه الترمذي

Abu Said Al Khudry r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda, Allah ‘Azza Wajalla berfirman, “Barangsiapa sibuk membaca Al Qur’an dan berdzikir sampai tidak sempat mengajukan permohonan kepada-Ku, maka Aku akan memberinya anugerah yang lebih berharga daripada yang Aku berikan kepada para pemohon. Ketahuilah, nilai kalam Allah lebih tinggi dari semua perkataan makhluk seperti ketinggian Allah dibanding makhluk-Nya (HR. Al Turmudzi).

Sungguh, Allah memenuhi hak-hak manusia lebih banyak daripada manusia itu sendiri memenuhi hak-hak Allah SWT. Saatnya, Anda berkonsentrasi kepada hak-hak ilahi dengan memuji dan menyembah-Nya. Semakin besar konsentrasi Anda untuk memuji-Nya, semakin banyak nikmat Allah yang Anda diterima, meskipun Anda tidak sempat memintanya.

Surabaya, 03/12/2018

Referensi: (1) Ali Usman dkk, Hadits Qudsi, Penerbit CV Diponegoro,  Bandung, 1979. P. 3219-322; (2) Muhammad ‘Awwaamah, Minas Shihah Al Ahadits Al Qudsiyyah: Mi’ah Hadits Qudsi Ma’a Syarhiha (Seratus Syarah Hadis Qudsi), Noura Books, Jakarta Selatan 2013, p. 446-449).

PUASA, NYALAKAN PELITA DI DADA

May 20th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

PUASA, NYALAKAN PELITA DI DADA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://asysyariah.com/ulama-pelita-dalam-kegelapan

ثُمَّ قَسَتۡ قُلُوبُكُم مِّنۢ بَعۡدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَٱلۡحِجَارَةِ أَوۡ أَشَدُّ قَسۡوَةٗۚ وَإِنَّ مِنَ ٱلۡحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنۡهُ ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ وَإِنَّ مِنۡهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخۡرُجُ مِنۡهُ ٱلۡمَآءُۚ وَإِنَّ مِنۡهَا لَمَا يَهۡبِطُ مِنۡ خَشۡيَةِ ٱللَّهِۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ ٧٤

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Dan sungguh di antara batu-batu itu ada sungai-sungai yang mengalir darinya, dan di antara batu-batu itu, benar-benar ada yang terbelah, lalu keluarlah mata air dari padanya, dan di antara batu-batu itu pula, benar-benar ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Baqarah [02]: 74).

            Ayat di atas menjelaskan adanya hati manusia yang mati, gelap dan mengeras bagaikan batu, sehingga tidak dapat tertembus cahaya Allah.Bandingkan dengan hati yang lunak, hidup dan siap manerima cahaya Allah, sebagaiman dijelaskan dalam Al Qur’an, “Sungguh orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah, hati mereka bergetar, apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, iman mereka bertambah (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal” (QS. Al Anfal [08]: 02).

            Mengapa hati manusia mati dan mengeras? Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Adh-Dhabi’i, penulis buku Sanabilul Khair menjelaskan sebab-sebab yang mematikan hati manusia. Pertama, mengonsumsi makanan dan minuman melebihi yang dibutuhkan tubuh. Sebab yang pertama ini benar-benar menohok, karena kita kerapkali gagal menahan diri dari makan dan minum yang sesuai dengan selera, apalagi jika gratis, padahal kita sejatinya tidak lapar dan tidak pula haus. Rosyadi Achmad memberi nasihat, “Makan Anda yang pertama ketika lapar adalah kebutuhan, sedangkan makan kedua adalah nafsu yang akan menambah bodoh, malas dan penyakit, sebab akan menghasilkan lemak yang tersimpan di bawah permukaan kulit.”   

            Kedua, mengoleksi pakaian dan asesori atau berdandan secara berlebihan. Prilaku ini sudah pasti mengundang pemborosan dan berbau pamer, padahal boros dan show off sama-sama paling disukai setan. Tidak hanya itu, kadangkala pakaian tersebut sangat ketat atau terbuka pada bagian-bagian tertentu sehingga mengundang nafsu birahi lain jenis. Mungkinkah cahaya Allah menembus hati orang yang berada dalam dekapan setan itu? Perhatikan gaya hidup kebanyakan orang Indonesia sekarang yang cenderung konsumtif demi kepuasan pribadi, lupa etika dan kurang bersedekah.

            Ketiga, berbicara tentang hal-hal yang tidak penting dalam percakapan sehar-hari, baik langsung ataupun melalui media sosial. Perhatikan, tidak sedikit orang yang kuat berlama-lama ngobrol atau chatting tentang berbagai hal, namun tidak sabar berpanjang-panjang membaca Al Qur’an dan buku-buku ilmiah atau keagamaan.

Keempat, banyak bergurau, bahkan terbahak-bahak persis gelak-tawa setan. Anas r.a bercerita, “Rasulullah SAW pernah berkhutbah dengan semangatnya yang luar biasa, yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Beliau berkhutbah, Lau ta’lamuna ma a’lam ladlahiktum qalilan walabakaitum katsira” (andaikan kalian mengetahui apa yang telah saya ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Anas melanjutkan, ”Para sahabat langsung menutup muka sambil menangis terisak-isak” (HR. Bukhari Muslim). Imam Hasan Al Bashri pernah menjumpai pemuda yang tertawa terbahak-bahak, lalu menegurnya, ”Apakah engkau telah mendapat jaminan selamat dari siksa neraka? Apakah ada kepastian bahwa engkau dimasukkan ke surga?.” Pemuda cengengesan itu menjawab, ”Belum.” “Mengapa kamu bisa tertawa seperti itu?” kata Hasan Al Bashri. Sejak itu, pemuda tersebut bertaubat dan menjadi orang yang saleh.

            Kelima, tidak menyediakan waktu untuk introspeksi setiap hari. Setiap hari Anda hanya fokus pada kebersihan dan penampilan fisik di depan cermin, dan lalai kebersihan ruhani dan penampilan akhlak mulia. Anda rajin periksa ke dokter untuk mengobati penyakit, lalu membayar dan berterima kasih kepadanya, tapi Anda tidak pernah datang kepada orang yang dekat kepada Allah untuk memeriksakan penyakit hati. Anda justru tersinggung dan tidak berterima kasih ketika orang yang dengan sukarela menunjukkan penyakit hati Anda, misalnya kikir, sombong, pamer, banyak bicara, dan sebagainya. Anda juga tiada henti menilai prilaku negatif orang sampai lupa mengurai sifat-sifat negatif Anda sendiri. Anda pandai berbicara soal moral di atas panggung, tapi cacat budi pekerti dalam keluarga sendiri dan masyarakat umum. Mengapa Anda tidak introspeksi melalui duduk tasyahud ketika Anda bershalawat kepada Nabi SAW? Antara lain, “Wahai nabiku, inilah aku yang masih jauh dari sunahmu. Pergaulanku dengan semua orang muslim dan non-muslim, sesama jenis dan lain jenis belum seperti pergaulan yang engkau contohkan kepadaku. Wahai nabiku, rumah tanggaku belum seperti rumah tanggamu. Wahai nabiku, ibadahku belum seperti ibadahmu. Wahai nabiku, cara bicaraku belum seperti cara bicaramu. Wahai nabiku, cara makan dan minumku belum seperti cara makan dan minummu. Wahai nabiku, sampai usiaku yang sekian ini, aku belum memiliki karya besar untuk kemanusiaan dan agama seperti karya-karyamu. Wahai nabiku, aku kurang bersabar menghadapi apapun cobaan hidup seperti kesabaranmu. Wahai nabiku, aku malu berjuta shalawat kepadamu, namun wajahku masih jauh dari wajahmu.”

            Keenam, sering mendengarkan atau menyaksikan hal-hal yang sama sekali tidak memberi nilai positif dalam pembinaan jiwa dan semangat berkarya. Kita diajari nabi SAW untuk berdoa, “Waj’al fi sam’i nura, wafi bashari nura / wahai Allah berikan cahaya-Mu pada pendengaran dan penglihatanku.” Kedelapan, melanjutkan tidur di atas kasur, atau melanjutkan kegiatan yang tidak terlalu penting, padahal panggilan azan telah terdengar. Anda ingin Allah segera merespon doa Anda, namun Anda tidak merespon segera panggilan-Nya.

            Apakah Anda benar-benar berminat menyalakan pelita di dada yang sekarang telah redup atau bahkan mati itu? Jika ya, ramadhan inilah saatnya yang paling tepat untuk menyalakannya. Semoga.

Referensi: (1) Kementerian Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya, Al Jumanatul ‘Ali, Bandung, 2005; (2) Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Adh Dhabi’i, Sanabilul Khair, Investasi Akhirat, terjemah: Tsaniananda Fidyatul Ch, Penerbit: Tinta Medina, Creative Imprint of Tiga Serangkai, Solo, Cet. I, 2016, hlm. 72-73; (3) Rosyadi Achmad, Terapi Sapu Jagad, Penerbit: Sapu Jagad Corp, Sidoarjo, cet.1.2015;  (4) As Samarqandy, Syekh Nashr bin Muhammad bin Ibrahim, Tanbighul Ghafilin, Maktabah wa Mathba’ah Al Hidayah, Surabaya, t.t. hlm. 70

PENDAKWAH TERPELAJAR DAN PEMBELAJAR

May 6th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

PENDAKWAH TERPELAJAR DAN PEMBELAJAR
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: https://www.vectorstock.com

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan perbuatan yang baik, dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang yang tunduk kepada Allah?.” (QS. Fusshilat [41]: 33).

Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menjelaskan cinta-Nya kepada muslim yang menyatakan beriman, lalu konsisten dengan keimanannya (istiqamah). Sebagai kelanjutan, ayat yang dikutip di atas menjelaskan, bahwa keimanan itu harus juga disebarkan kepada orang lain. Sebuah kemuliaan yang tertinggi bagi seorang muslim yang tegar imannya, lalu mengerjakan kebaikan, dan mengajak orang melakukan yang sama, serta bangga untuk menyatakan dengan percaya diri sebagai muslim. Nabi SAW adalah contoh terbaik dalam hal semangat berdakwah, ketauladannya, dan keberanian serta kebanggaannya sebagai muslim di depan publik.    

Menurut satu pendapat yang dikutip dalam Tafsir Ibnu Katsir, bahwa yang dimaksud muslim pengajak kepada keimanan pada ayat di atas adalah muadzin, orang yang mengumandangkan adzan. Ibnu Mas’ud r.a berkata, “Andaikan aku dahulu sebagai muadzin, niscaya aku tidak perlu lagi berhaji,  umrah, ataupun ikut berperang.” Umar bin Khatthab r.a juga berkata, “Seandainya dulu aku seorang muadzin, niscaya cukuplah kemuliaan bagiku, sehingga aku tidak perlu lagi shalat malam dan puasa sepanjang hari, sebab aku pernah mendengar Rasulullah SAW berdoa tiga kali, “Wahai Allah, ampunilah para muadzin.”

Menurut kebanyakan ahli tafsir, apresiasi Allah untuk pengajak kebaikan itu bukan khusus untuk muadzin, tapi semua orang yang mengajarkan atau mengajak kepada kebaikan, baik dilakukan oleh muadzin, penceramah, ataupun orang awam, sekalipun hanya dengan satu kata kebaikan, dan dia sendiri menjadi tauladan dalam kebaikan itu. Nabi SAW memberi apresiasi yang besar kepada siapapun yang menyampaikan kebaikan, sebagaimana pernah dikatakan kepada Ali bin Abi Thalib, “Wahai Ali, usahamu untuk membimbing satu orang ke jalan yang benar lebih bernilai daripada dunia dan semua isinya” (HR Bukhari Muslim dan H.R Al Hakim).

Bersemangatlah menjadi pendakwah sekalipun minimalis, sebab Allah merahmati Anda, dan semua malaikat di langit, penghuni bumi, ikan di laut memintakan rahmat Allah untuk Anda. Nabi SAW bersabda,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

“Sungguh Allah, para malaikat, semua penghuni bumi, termasuk semut dalam liangnya dan ikan-ikan (dalam laut) semuanya memohonkan rahmat untuk siapapun yang mengajarkan kebaikan” (HR. At Tirmidzi dari Abu Umamah Al-Bahily).

Jangan sekali-kali berhenti sebagai pendakwah, sebab keringat Anda untuk mencerahkan manusia akan menjadi cahaya untuk kuburan Anda, sebab pahala terus menerus terkirim ke buku catatan perbuatan Anda. Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa mengajarkan atau merintis kebaikan, lalu kebaikan itu diikuti orang, maka ia mendapat pahala dari orang yang mengikuti kebaikan itu, tanpa dikurangi sedikitpun. Dan barangsiapa yang merintis kejelekan, lalu kejelekan itu diikuti orang, maka ia mendapat dosa dari yang mengikuti kejelekan itu, tanpa dikurangi sedikitpun.” (HR. Muslim dari Jarir bin Abdillah r.a). Nabi SAW juga bersabda, 

نَضَرَاللهُ امْرَءًا سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ فَرُبَّ مُبَلِّغٍ اَوْعَى مِنْ سَامِعٍ

“Semoga Allah memberi cahaya berkilau (nadlrah) pada orang yang mendengar sesuatu (syai-an) dari kami, lalu menyampaikannya (kepada orang lain) sesuatu yang telah didengar (dari kami). Ketahuilah, tidak sedikit penerima pesan (muballagh) lebih menghayati daripada orang yang mendengarnya sendiri (secara langsung)” (HR. Al Turmudzi dari Ibnu Mas’ud r.a).

Berdasar hadis ini, setiap orang memiliki kemampuan komunikasi yang berbeda dengan yang lain. Oleh sebab itu, bisa saja sebuah pesan agama oleh pendakwah diterima pendengar tanpa kesan yang maksimal, tapi justru lebih mengesankan ketika pesan yang diterima itu disampaikan kembali oleh pendengar tersebut kepada orang lain, sebab ia memiliki keterampilan komunikasi yang lebih baik. Oleh sebab itu, jadilah pendakwah sekalipun hanya dengan materi pesan yang diterima dari pendakwah lain, bukan dari kitab suci dan literatur.     

Nah, ada sisi dakwah selain mengajak kepada kebaikan (amar makruf) yaitu nahi munkar (mencegah sebuah  kemaksiatan). Sisi kedua ini jauh lebih berat dari amar makruf, bahkan berisiko tinggi. Tidak sedikit pegiat nahi munkar masuk penjara atau bahkan mati di tangan orang yang terusik harga diri dan kenyamanannya oleh pegiat nahi munkar. Benar, nahi munkar sehari lebih berat daripada amar makruf seribu tahun.

Lalu, apakah kita harus diam terhadap kemaksiatan karena risiko yang berbahaya itu? Nabi SAW memberi jawaban, jika kalian mampu, hentikan kemaksiatan itu dengan kekuasaanmu. Jika tidak mampu, lakukan dengan nasihatmu, dan jika itupun  tidak mampu, cukup berdoalah saja agar kemaksiatan itu terhapus. Jika Anda tidak melakukan apapun di antara tiga pilihan tadi, maka Anda menanggung dosa kemaksiatan tersebut, doa-doa Anda juga tidak akan didengar Allah, dan Anda ikut bertanggungjawab akan kehancuran masyarakt itu dan sekitarnya, cepat atau lambat. Sebab, kemaksiatan ibarat sebuah kebakaran. Jika tidak Anda padamkan, maka semua kampung ikut terbakar. Rasulullah SAW bersabda, “Demi Allah Yang menguasai diriku, (pilihlah!) kalian lakukan amar makruf dan nahi munkar atau kalian rasakan siksa, lalu semua doa kalian tertolak karenannya. (HR. At Tirmidzi dari Hudzifah bin Al Yaman r.a)

Dakwah minimalis, dengan satu kata kebaikan mendatangkan pahala yang besar, maka apalagi jika yang Anda sampaikan lebih banyak lagi. Oleh sebab itu, Anda harus menjadi pendakwah terpelajar dan pembelajar, artinya kaya ilmu dan tiada henti menambah ilmu. Sebab masyarakat penerima dakwah telah berkembang pesat pengetahuan dan wawasannya. Pendakwah akan kehilangan wibawa jika ia miskin ilmu dan wawasan dibanding mitra dakwahnya.  Nabi SAW bersabda,

اَلدُّنْيَا مَلْعُوْنَةٌ مَلْعُوْنٌ مَا فِيْهَا اِلَّا ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمًا وَمُتَعَلِّمًا

 “Semua isi dunia ini terkutuk, kecuali dzikrullah, orang yang taat kepada-Nya, orang terpelajar dan pembelajar (pencari ilmu)” (HR Al Turmudzi dari Abu Hurairah r.a).

     Pada era milenial ini, tidak bisa tidak, Anda harus menjadi pandakwah maksimalis, yaitu pendakwah yang terpelajar dan pembelajar.