Header

Author Archives: admin_tsb

IBRAHIM, TAULADAN KERAMAHAN

November 6th, 2017 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

IBRAHIM, TAULADAN KERAMAHAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةٗ قَانِتٗا لِّلَّهِ حَنِيفٗا وَلَمۡ يَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ١٢٠

Sungguh Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan) (QS. An Nahl [16]: 120).

            Artikel ini ditulis ketika bangsa Indonesia masih dalam suasana mensyukuri kemerdekaan, dan muslim Indonesia sebagai jamaah haji terbanyak di dunia sedang menyelesaikan rangkaian ibadah haji bersama jutaan muslim lainnya di Mekah. Inilah ibadah yang tahapannya merupakan warisan Nabi Ibrahim a.s, nabi yang disebut sebagai kekasih (khalilullah) Allah, dan bapak dari semua nabi. “Dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya (QS. An Nisa’ [04]: 125).

Mengapa Nabi Ibrahim disebut sebagai kekasih Allah? Sebab, dialah satu-satunya nabi yang berpredikat hanif, artinya memiliki keimanan dan akhlak yang terpuji. Yaitu, pertama, ia berkepribadian labbaik, artinya tidak menunda sedetikpun perintah Allah, dan tidak selangkahpun diayunkan untuk melakukan larangan Allah. Ia berkhitan dengan kapak, bukan karena tidak ada pisau waktu itu, melainkan karena hanya kapak itulah yang ada di dekatnya. Ia tidak mau menunda sedetikpun melakukan perintah Allah hanya karena mencari ke sana kemari pisau atau alat potong lainnya. Inilah salah satu bukti konkrit kepribadian labbaik beliau.

Jika Anda muslim labbaik,  Anda pasti cepat bangkit dari duduk atau dari tidur untuk berangkat ke masjid ketika mendengar azan. Muslim labbaik selalu menaati aturan yang berlaku, dan tidak mengambil sedikitpun uang yang bukan haknya, meskipun tanpa diawasi. Semarak labbaikallahumma labbaik selama berhaji merupakan kampanye pembinaan muslim labbaik. Negara kita yang kaya raya ini akan cepat bangkit sebagai negara super power, jika dikelola oleh manusia-manusia labbaik.

Kedua, Nabi Ibrahim a.s selalu mengedepankan dialog, dan mendengar aspirasi dari bawah dalam membuat keputusan. Sebenarnya, ia bisa saja melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih Ismail seketika. Tetapi, ia meminta pendapat terlebih dahulu kepada anaknya, anak yang berpuluh-puluh tahun dinantikan kehadirannya, tapi justru harus disembelihnya. Pada saat Ismail sedang sendirian bermain panah, Ibrahim memeluknya, lalu meminta pendapatnya tentang perintah penyembelihan tersebut (QS. As-Shaffat [37]: 102 dan Hud [11]: 71).

Mengapa banyak keputusan penting di negara kita gagal dalam implementasinya?. Ya, antara lain karena bersifat top down, tidak bottom up, atau tidak menyerap aspirasi masyarakat yang akan menjadi pelaku aturan tersebut.

Ketiga, Ibrahim menjadi contoh dalam “penyembelihan” kepemilikan, keakuan atau ego. Negara kita lambat kemajuannya, disebabkan sikap kenegarawanan para tokoh kita sangat rendah. Masing-masing orang mengedepankan ego golongan, partai atau kelompoknya, bukan menjadikan kepentingan nasional sebagai panglima.

Keempat, Nabi yang lahir di Irak itu juga terkenal paling ramah dan hormat dalam menyambut tamu. Oleh sebab itu, ia mendapat julukan abud dlaifan (tauladan penghormatan tamu), sebab ia selalu menyembelih hewan untuk suguhan terbaik para tamunya, tanpa memandang ia muslim atau tidak, atau sudah dikenalnya atau belum. Ketika ia kedatangan tamu para malaikat yang memberi kabar akan dikaruniai anak, ia memotong sapi besar dan menyuruh isterinya untuk membakarnya untuk suguhan tamu tersebut, tapi mereka tidak mau makan. Ia baru tahu bahwa mereka bukan manusia (QS. Adz Dzariyat [51]: 24-25).

Mengapa industri pariwisata Indonesia tidak bisa maksimal? Padahal tourisme termasuk sumber keuangan negara yang bisa dijadikan andalan. Arab Saudi akan tetap kaya bukan karena kekayaan alamnya semata, sebab ia bisa habis, akan tetapi kaya raya dari sumber “tourisme spiritual” yang selalu meningkat setiap tahun. Sejumlah duta besar kita berkali-kali mengeluh, “Kami beriklan milyaran rupiah untuk merangsang turis mengunjungi Indonesia. Tapi, iklan itu selalu gagal, sebab mereka kecewa, tidak mendapat perlakukan yang menyenangkan selama di Indonesia, mulai dari aparat yang tak bermoral di bandara, aparat pelayanan publik, dan tindakan kekerasan atau kriminal lainnya.”

Indonesia bisa bangkit ekonominya bermodal kekayaan alam yang luar biasa, jika aparat dan masyarakatnya berakhlak seperti yang dicontohkan abud dlayfan tersebut dalam menyambut para tamunya, tanpa memandang agama, etnis dan negara asalnya. Tidak hanya kekayaan alam yang kita miliki. Jutaan masjid dan pondok pesantren, atau tempat ibadah lain dengan segala keunikannya, serta toleransi komunitas kita terhadap penganut agama yang beraneka juga bisa dikemas menjadi objek wisata, sebagaimana telah dilakukan oleh beberapa negara. Mengapa turis dunia berbondong-bondong mengunjungi danau kecil Grand Bassin di Republik Mauritius, negara mungil di Afrika. Padahal danau itu seribu persen tidak lebih baik dari danau-danau Indonesia? Para turis itu berkomentar, “Ya, saya menyukai danau ini karena masyarakatnya lancar berbahasa Inggris dan Perancis, dan memberikan hot welcome and courtesy (sambutan hangat dan keramahan).”

Industri pariwisata tidak bisa hanya bermodal keindahan alam, fasilitas lengkap maupun harga akomodasi yang ditawarkan, namun juga harus dengan sambutan yang ramah dari penduduk lokal, terutama kepada wisatawan asing. World Economic Forum membuat laporan tahunan yang memuat data kasar dari sejumlah survey yang terdiri dari sejumlah variabel, yang diantaranya adalah tingkat keterbukaan dan keramahan yang ditunjukkan masyarakat pribumi terhadap wisatawan asing. Dalam laporan itu disebutkan sepuluh negara yang sukses industri pariwisatanya karena keramahan penduduknya dengan skor masing-masing, yaitu Eslandia (6,8), Selandia Baru (6,8), Maroko (6,7), Macedonia (6,7), Austria (6,7), Senegal (6,7),  Portugal (6,6), Bosnia dan Herzegovina (6,6), Irlandia (6,6), dan Burkina Faso (6,6).

Kita bersyukur negara kita tidak termasuk sepuluh negara yang paling tidak ramah terhadap para tamu turisnya, yaitu Bolivia (4,1), Venezuela (4,5), Rusia (5,0), Kuwait (5,2), Latvia (5,2), Iran (5,2), Pakistan (5,3), Slowakia (5,5), Bulgaria (5,5), Mongolia (5,5). Indonesia selamat dari peringkat negatif ini dengan skor 5,8.

Saatnya, Indonesia bangkit dengan kekayaan alam dan keramahan terhadap tamu, sebagaimana ditcontohkan Nabi Ibrahim a.s, bapak kita.

Sumber: Muhammad Ali As-Shobuni, An-Nubuwwah Wal-Anbiya’, terj. Muslich shabir, Cahaya  Indah, Semarang, 1994: 220-249.

CAHAYA PENDETA

October 27th, 2017 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

CAHAYA PENDETA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan perbuatan yang baik dan melarang mereka dari perbuatan yang tidak baik (munkar), dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, dan menghapus dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS. Al A’raf [7]: 157).

Ayat di atas menjelaskan bahwa jauh sebelum Nabi SAW lahir, nama Muhammad dan sifat atau tugas-tugasnya telah disebutkan dalam Kitab Taurat dan Injil, yaitu menyuruh manusia untuk berbuat baik, mencegah perbuakan tercela, menghalalkan makanan yang baik, mengharamkan yang tidak baik, dan menghapus aturan agama yang memberatkan Bani Israil. Aturan yang memberatkan tersebut meliputi perintah bunuh diri sebagai tanda pertobatan, larangan memakan hewan dengan kuku yang tak terbelah, hewan yang tidak memamah biak, larangan mengonsumsi lemak hewan, larangan menikah bagi pendeta, menetapkan hukum balas setimpal atau qisashah kepada semua pembunuh, baik sengaja atau tidak, perintah memotong anggota badan yang melakukan dosa, dan membuang atau menggunting pakaian yang terkena najis.

Ada kisah menarik berkaitan dengan maksud ayat di atas, yaitu yang terjadi pada diri Abu Bakar As Shiddiq. Ketika berdagang di Syria atau Syam, Abu Bakar r.a bermimpi, yaitu matahari dan bulan berada di pangkuannya. Ia mendekap matahari dan bulan itu, lalu menutupinya dengan selendang. Esok harinya, ia meminta penjelasan takwil mimpi itu kepada pendeta Nasrani. “Tuan dari mana, dari suku apa, dan apa pekerjaan tuan?,” tanya pendeta. “Saya dari Mekah, dari suku Taim, dan profesi saya adalah pedagang,” jawab Abu Bakar r.a.

Setelah diam sejenak, sang pendeta berkata, “Cahaya itu adalah pria yang bernama Muhammad dengan gelar al Amin (orang paling dipercaya), akhlaknya sangat mulia. Itulah yang dijelaskan dalam Kitab Taurat, Injil dan Zabur. Seandainya Allah tidak berencana menciptakan pria mulia ini, maka Allah tidak akan menciptakan bumi, langit dan segala isinya. Allah juga tidak akan menciptakan Nabi Adam, Nabi Idris, Nabi Nuh, dan semua nabi dan rasul. Wahai Abu Bakar, engkau akan menjadi pengikut pria terhormat itu, mendukung dan mengawalnya, serta akan menjadi kepala negara sepeninggalnya. Aku sebenarnya percaya penuh kepadanya, tapi keimanan itu aku sembunyikan, karena takut ancaman masyarakatku.”

Mendengar takwil mimpi yang menyenangkan itu, Abu Bakar r.a segera berangkat mencari Nabi SAW ke Mekah. Setelah bertemu, ia benar-benar jatuh cinta, dan merasakan beratnya berpisah dengannya. Setelah berteman beberapa waktu, Nabi SAW berkata, “Wahai Abu Bakar, kamu duduk berkali-kali denganku, tapi tidak juga menyatakan masuk Islam.” Abu Bakar r.a menjawab, “Jika benar tuan seorang nabi, tuan pasti memiliki mukjizat.” Nabi SAW menjawab, “Tidak cukupkah mukjizat yang engkau ketahui melalui mimpimu di Syria dan penjelasan pendeta Nasrani yang telah menyatakan percaya kepadaku itu?” Mendengar jawaban itu, Abu Bakar r.a spontan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Dari ayat dan kisah di atas, ada beberapa hal yang dapat diambil pelajaran. Pertama, kedatangan Muhammad sebagai nabi bukanlah berita yang baru bagi umat manusia, sebab sudah diberitakan ratusan tahun sebelumnya. Husein bin Salam, kepala pendeta Yahudi Madinah yang bertahun-tahun menjadi pengajar Taurat juga mengakui telah menemukan penjelasan dalam Kitab Taurat tentang akan datangnya seorang Nabi di Madinah. Maka, ketika ia mendengar Nabi SAW telah tiba di Madinah, ia mencocokkan sifat-sifat Nabi sebagaimana tersebut dalam Taurat. Setelah mengamati wajah Nabi SAW dari dekat, dan kelembutan budi pekertinya, ia menyimpulkan semua sifat-sifat yang diketahui dalam Kitab Taurat itu benar, lalu ia masuk Islam. Setelah muslim, namanya diganti oleh Nabi SAW dengan nama Abdullah bin Salam.

Kedua, mimpi Abu Bakar r.a tentang kedatangan Nabi SAW merupakan bagian dari cahaya kenabian.  Jangan heran, cahaya itu juga berlaku kita, sekalipun ia sudah wafat, sebab Nabi SAW bersabda, “Tidak ada lagi (isyarat) kenabian setelah kematianku, kecuali al mubassyirat. Para sahabat bertanya, “Apakah al mubassyirat itu?” Nabi menjawab, “Mimpi yang baik” (HR. Malik, Abu Dawud, Al Bukhari dari Abu Hurairah r.a). Silakan meraih cahaya itu dengan memperbanyak shalawat kepada Nabi SAW disertai tekad yang sungguh-sungguh untuk meniru akhlaknya.                 Ketiga, kedatangan Abu Bakar r.a untuk mencari ilmu kepada pendeta Kristen merupakan pelajaran bagi kita untuk membangun hubungan harmonis antara muslim dan non-muslim.  Negara tercinta warisan para pejuang ini harus kita majukan bersama, saling bahu-membahu antara semua komponen bangsa tanpa melihat latarbelakang etnis dan agama dalam bidang ekonomi, budaya, ilmu pengetahuan dan sebagainya.

Keempat,  Abu Bakar r.a mampu secara finansial memberikan dukungan dan membela Nabi SAW, karena ia kaya dari hasil profesinya sebagai pedagang. Demikian juga yang dilakukan Usman bin Affan r.a dan Abdurrahman bin Auf, serta  para saudagar besar pada masa itu. Dengan demikian, kebangkitan umat Islam ke depan tidak cukup hanya dengan memajukan semangat zikir dan keilmuan, tapi juga bangkitnya muslim-muslim saudagar kelas dunia. Kekayaan negeri ini tidak boleh justru banyak dinikmati oleh pengusaha asing. Para orang tua tidak boleh hanya berbangga anaknya menjadi pegawai negeri, pegawai pabrik, ataupun tenaga ahli di perusahaan asing sekalipun dengan bayaran tinggi, atau bidang-bidang jasa lainnya, tapi diharapkan mereka memacu semangat enterpreunership putra-putri mereka agar menjadi saudagar muslim kelas dunia dengan semangat dakwah yang menyala.

Referensi: (1) Al ‘Ushfuri, Muhammad bin Abu Bakar, Al Mawaidh Al ‘Ushfuriyah (Petuah Usfuriyah) terj. Zeid Husein Al Hamid, Penyunting: Husein Abdullah Bil Faqih, Penerbit Mutiara Ilmu, Surabaya, 1994, cet II, p. 16  (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 9, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 76 (3) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol 4, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 322.

SHALAT YANG MEMBAHAGIAKAN

July 23rd, 2017 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

SHALAT YANG MEMBAHAGIAKAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

 

sumber gambar: https://muslimvillage.com/2013/11/04/45425/daniel-pipes-on-russias-muslims-wrong-as-usual

قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢

Sungguh, (pasti) berbahagialah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu´ dalam shalatnya (QS. Al Mukminun [23]:1-2).

Artikel ini saya tulis untuk merespon beberapa orang yang masih meragukan shalat sebagai terapi atau cara-cara spesifik untuk meraih kebahagiaan, atau menganggap istilah shalat bahagia tidak ditemukan dalam literatur Islam selain shalat khusyuk. Tulisan ini juga sekaligus untuk persiapan saya memberi pencerahan shalat di 16 kota besar di Amerika Serikat tahun 2017.

Ada dua kata kunci dalam firman Allah di atas, yaitu khusyuk dan bahagia, bahwa pelaku shalat khusyuk dijamin hidup sukses dan bahagia. Setiap hari, kita diseru untuk sukses melalui azan, hayya ‘alas shalah, hayya alal falah (ayo shalat dan ayo bahagia). Kita disemangati terus menerus setiap hari untuk lebih berprestasi dan berbahagia (al falah) agar kita dapat memimpin dunia, bukan penonton atau orang yang terpuruk dan terpinggirkan.

Shalat khusyuk adalah shalat yang menumbuhkan ketundukan kepada perintah Allah, kepasrahan dan perasaan senang terhadap apapun dan berapapun pemberian Allah. Bisakah kekhusyukan diperoleh tanpa memahami makna doa-doa shalat? Hampir mustahil. Oleh sebab itu, Anda harus memahami arti semua doa shalat, sekalipun hanya secara global, tidak arti kata perkata. Bagaimana mengatasi kesulitan pemahaman doa-doa shalat yang tertulis dalam teks Arab itu, terutama bagi pemula atau mualaf? Sangat mudah, jika diajarkan dengan keseimbangan otak kiri dan kanan (lihat buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, p. 216-222).

Shalat khusyuk akan menghasilkan T2Q, yaitu tumakninah (tenang, damai, tidak tergesa-gesa dalam segala hal), tawakal (pasrah atas pemberian Allah setelah kerja keras dan doa), dan qana’ah (menerima dengan senang hati apapun dan berapapun pemberian Allah). Rincian (breakdown) dari T2Q yang merupakan modal utama untuk meraih kebahagiaan tersebut ditanamkan melalui enam gerakan utama shalat sekaligus  menghapus enam sumber kecemasan yang saya singkat KURMA PUCUK DOMIS, yaitu: pertama, kurang bersyukur, merasa serba kurang. Emosi negatif yang menjadi sumber kecemasan ini dihapus melalui renungan alhamdu lillahi rabbbil ‘alamin pada posisi berdiri shalat. Melalui hamdalah, dengan senang hati, Anda sedang berterima kasih kepada Allah SWT,  “Wahai Allah, saya berterima kasih atas keimanan yang Engkau anugrahkan kepadaku. Saya orang yang bahagia karena memiliki ibu, ayah, adik, kakak, suami atau istri, yang semuanya sangat menyayangi saya. Saya amat berbahagia karena masih hidup dan berkecukupan, tidak menjadi pengemis di jalan-jalan.” Anda bisa menambahkan deretan kenikmatan Allah yang telah Anda terima sejak kecil. Dengan penyebutan semua anugrah Allah itu, Anda akan lebih bahagia, lebih menghargai orang dan frekwensi marah kepada keluarga atau siapapun menjadi jauh berkurang. Hidup bahagia bisa diraih dengan mensyukuri apa yang ada, bukan mengharap-harap atau berangan-angan tentang apa yang belum di tangan.

Kedua, kematian yang ditakuti secara berlebihan. Ini juga merupakan sumber kecemasan. Melalui rukuk dengan posisi kepala yang diserahkan kepada Allah, Anda diingatkan untuk menyerahkan hidup-mati kepada Allah SWT, sebab kematian bukanlah pilihan, melainkan kepastian. Dengan menghapus ketakutan itu, Anda telah menutup pintu-pintu stres.  Melalui rukuk pula, Anda disemangati untuk rendah hati dan hormat kepada siapapun. Sikap hormat dan menghargai orang dapat mengantarkan Anda hidup lebih bahagia, sebab sikap itu mengundang simpati banyak orang untuk bekerjasama dalam banyak hal, termasuk dalam berbisnis untuk menambah penghasilan Anda.

Ketiga, pujian dan apresiasi orang yang diharap-harap atas apa yang Anda lakukan. Ketika Anda mengucapkan rabbana walakal hamdu pada waktu bangkit dari rukuk, sebenarnya Anda sedang bersumpah tidak mengharap balas budi, pujian, apresiasi dan terima kasih dari siapapun selain Allah, sebab Dia-lah satu-satunya yang berhak dipuji. Mengharap pujian orang sama dengan merampas hak-hak Allah, sekaligus membuka sejuta pintu stres. Sebab, menurut Al Qur’an (QS. 34: 13), hanya sedikit orang yang memberi apresiasi karya orang. Semakin besar harapan seseorang akan apresiasi orang, semakin terbuka lebar pintu stres. Orang bahagia tidak akan mengemis apresiasi, tapi justru selalu memberi apresiasi sekecil apapun jasa orang.

Keempat, curahan kesedihan hati yang belum tersalurkan kepada orang paling dipercaya. Oleh sebab itu, salah satu obat stres adalah mencurahkan masalah hidup sampai tuntas kepada orang yang dipercaya dan bersedia mendengarkannya, sekalipun orang itu tidak dapat memberikan solusi. Ketika bersujud minimal 30 detik dan Anda mencurahkan isi hati sepuas-pusanya, maka berkuranglah beban psikologis Anda, sebab semua curahan hati telah ditumpahkan kepada Allah SWT disertai keyakinan bahwa Allah akan mengambil alih semua masalah yang Anda hadapi.

Kelima, dosa-dosa masa lalu. Melalui doa pada posisi duduk di antara dua sujud, Anda diyakinkan bahwa tidaklah mungkin, Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun tidak mengampuni dan mengasihi orang yang shalat, dan merengek meminta belas kasih dan ampunan kepada-Nya.

Keenam, pesimis dan minder. Lihatlah, betapa gelap dan ciut muka orang yang tidak percaya diri, pesimis dan putus asa. Itulah tanda orang yang “kafir” dan menderita (QS. 14:7 dan 12:87). Melalui syahadat pada posisi tasyahud, keimanan Anda dikuatkan sehingga lebih percaya diri dan optimis, bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan diyakini sebagai sumber energi untuk mengarungi masa depan. Sekarang, lihatlah, betapa cerah dan ceria muka orang yang optimis. Terapi shalat bahagia bukan berarti shalat yang menghasilkan uang untuk membayar hutang atau menyembuhkan penyakit. Tapi, dengan shalat yang benar, Anda optimis dan amat yakin bahwa Allah pasti, pasti, pasti Maha Kuasa mengatasi kesulitan ekonomi, penyakit, dan seberat apapun masalah Anda. Melalui rukuk, sujud dan tasyahud, beban psikologis Anda terasa ringan, sebab tugas Anda sudah tuntas, yaitu usaha dan doa. Lalu, Anda pasrah, pasrah, pasrah dengan keyakinan bahwa Allah SWT akan “mengambil alih” semua masalah dan memberi keputusan yang terbaik untuk Anda (QS. 65: 2-3).

Terapi shalat bahagia bukan menambah atau mengurangi aturan shalat yang sudah paten dari Nabi SAW, melainkan hanya memberi kemudahan menemukan kecanggihan shalat. Handphone Anda sangat canggih untuk berkomunikasi lintas batas geografis secara audio visual dengan cepat dan akurat. Tapi, sayang, Anda tidak mengerti cara menggunakannya. Sungguh, shalat Anda super canggih sebagai pemompa semangat hidup dan pembebas penderitaan. Tapi, sayang, Andalah yang tidak canggih memanfaatkannya.