Header

Author Archives: admin_tsb

BISA MAIN MATA

November 16th, 2018 | Posted by admin_tsb in Taushiyah/Khutbah - (0 Comments)

BISA MAIN MATA
Oleh: Prof.Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Khutbah Jum’at di Masjid  Bulog Jatim Surabaya 16/11/2018

 

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ  وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّابَعْدُ فَيَا عِبَادَاللهِ اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ  قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

 

Para hadirin yang terhormat.

Allah SWT berfirman dalam Surat Al Baqarah ayat 74:

 

ثُمَّ قَسَتۡ قُلُوبُكُم مِّنۢ بَعۡدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَٱلۡحِجَارَةِ أَوۡ أَشَدُّ قَسۡوَةٗۚ وَإِنَّ مِنَ ٱلۡحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنۡهُ ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ وَإِنَّ مِنۡهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخۡرُجُ مِنۡهُ ٱلۡمَآءُۚ وَإِنَّ مِنۡهَا لَمَا يَهۡبِطُ مِنۡ خَشۡيَةِ ٱللَّهِۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ ٧٤

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Dan sungguh di antara batu-batu itu ada sungai-sungai yang mengalir darinya, dan di antara batu-batu itu, benar-benar ada yang terbelah, lalu keluarlah mata air dari padanya, dan di antara batu-batu itu pula, benar-benar ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Baqarah [02]: 74).

Ayat di atas menjelaskan adanya hati yang mati dan mengeras bagaikan batu, sehingga tidak dapat tertembus cahaya Allah. Bandingkan dengan hati yang lunak dan siap manerima cahaya Allah, sebagaiman dijelaskan dalam Al Qur’an, “Sungguh orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah, hati mereka bergetar, apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, iman mereka bertambah, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal” (QS. Al Anfal [08]: 02).

Para hadirin yang terhormat.

Lama Anda mencari jawaban, mengapa pasangan hidup Anda, anak-anak Anda, atau bahkan Anda sendiri susah dinasihati orang. Sekarang Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Adh-Dhabi’i, penulis buku Sanaabilul Khair menjawabnya, bahwa ada beberapa sebab mengapa hati seseorang membatu. Pertama, bicara lebih dari yang diperlukan, apalagi tentang hal yang tidak penting, bohong dan menimbulkan konflik di antara manusia, baik secra langsung ataupun melalui media sosial. Hanya orang bodoh dan tak beriman yang melakukan hal ini, sebab Nabi SAW sudah mengingatkan, “Berbicaralah yang baik. Jika tidak, maka diamlah.” Nabi SAW juga berpesan bahwa tanda kesempurnaan iman adalah selektif kata dan tindakan. Kita diperintah untuk mengucapkan atau melakukan hal yang benar-benar bernilai. Jika kebiasaan buruk itu tidak dihentikan, kata Adh-Dhabi’i, jangan heran lambat laun, hati Anda membatu, sulit menerima nasihat dari siapapun, termasuk sabda Allah Rasul-Nya.      

Kedua, shalat yang sering ditunda-tunda, kecuali jika ada alasan yang darurat dan rasional. “Hatimu akan membatu, jika engkau melanjutkan tidurmu di saat azan dikumandangkan,” kata Adh-Dhabi’i.  Anda berharap Allah selalu merespon doa Anda, tapi Anda tidak merespon panggilan-Nya. Nilai Anda di depan Allah, ditentukan bagaimana nilai Allah di hati Anda.

Ketiga, makan dan minum yang melebihi kebutuhan tubuh. Rosyadi Achmad memberi nasihat, “Makan Anda yang pertama ketika lapar adalah kebutuhan, sedangkan makan kedua adalah nafsu yang akan membuat Anda bodoh, malas dan berpenyakit, sebab akan menghasilkan lemak yang tersimpan di bawah permukaan kulit.” Jangan seperti hewan yang hanya berhenti mengunyah makanan ketika tidur. Kata Umar bin Khattab r.a, “Jika engkau tidak berlatih menahan hawa nafsu mulai dari makanan, apakah mungkin engkau bisa melawan hawa nafsu yang lebih membahayakan.” Makanan halal yang berlebih bisa mengeraskan hati, maka tentu akan lebih dahsyat dampak negatifnya, jika makanan itu bersumber dari korupsi, atau cara-cara yang haram lainnya.

Makanlah secukupnya dan belanjakan uang secara hemat, agar Anda  memiliki sisa dana untuk membantu lebih banyak orang yang membutuhkan. Kata nabi SAW, “Engkau tidak berhak menyebut diri sebagai orang beriman, jika engkau kenyang di tengah orang-orang yang lapar.”

Keempat, introspeksi yang diabaikan. Setiap muslim harus menyediakan waktu untuk introspeksi secara rutin. Rukuk dan sujudlah yang lebih lama untuk bertasbih dan memohon pertolongan Allah untuk berhenti dari kebiasaan-kebiasaan buruk. I’tikaf di masjid antara lain dimaksudkan untuk introspeksi atas dosa-dosa kita. Semakin jarang introspeksi dilakukan, semakin cepat hati Anda mengeras dan membatu.

Kelima, mainan atau game, musik dan video yang tidak mendidik. Kita diajari Nabi SAW untuk berdoa, “Wahai Allah, berikan cahaya-Mu pada pendengaran dan penglihatanku.” Artinya, kita meminta Allah untuk dijauhkan dari pendengaran dan penglihatan yang negatif. Untuk hiburan sejenak tidaklah dilarang, asal tidak berlebihan dan tidak merusak akhlak. Sering terjadi kriminalitas dan kejahatan seksual yang dilakukan akibat video-video yang tidak edukatif. Allah SWT mengingatkan, “Sungguh, pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya harus dipertanggungjawabkan” (QS.Al Isra [17]: 36).

 Keenam, tawa atau bergurau yang berlebihan, bahkan terbahak-bahak persis gelak-tawa setan. Anas r.a bercerita, “Rasulullah SAW pernah berkhutbah dengan berapi-api, cara yang belum pernah saya saksikan sebelumnya. Beliau berkhutbah, Lau ta’lamuna ma a’lam ladlahiktum qalilan walabakaitum katsira” (andaikan kalian mengetahui apa yang telah saya ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Para sahabat langsung menutup muka sambil sesenggukan menangis” (HR. Bukhari Muslim). Imam Hasan Al Bashri menegur pemuda yang terbahak-bahak, ”Wahai anak muda, bagaimana kalian bisa tertawa seperti itu, padahal tidak ada jaminan bahwa engkau masuk surga dan selamat dari siksa?” Sejak itu, pemuda tersebut bertaubat dan menjadi orang yang saleh.

Para hadirin Yth.

Sekali lagi, marilah kita menjauhi  enam sebab kebekuan hati, yang saya singkat BISA MAIN MATA, yaitu (1) bicara yang berlebihan, (2) shalat yang ditunda-tunda, (3) makan yang berlebihan, (4) introspeksi yang diabaikan, (5) mainan yang tidak mendidik, dan (6) tawa yang berlebihan. Kita memohon kepada Allah semoga Allah menyinari hati kita, sehingga mudah tersentuh dengan firman Allah dan sabda rasul-Nya. Lunakkan hati, nyalakan pelita di dada dengan cahaya Nabi tercinta.

                   اَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِى وَلَكُمْ اِنَّهُ هُوَالْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Referensi: (1) Kementerian Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya, Al Jumanatul ‘Ali, Bandung, 2005; (2) Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Adh Dhabi’i, Sanabilul Khair, Investasi Akhirat, terjemah: Tsaniananda Fidyatul Ch, Penerbit: Tinta Medina, Creative Imprint of Tiga Serangkai, Solo, Cet. I, 2016, hlm. 72-73; (3) Rosyadi Achmad, Terapi Sapu Jagad, Penerbit: Sapu Jagad Corp, Sidoarjo, cet.1.2015;  (4) As Samarqandy, Syekh Nashr bin Muhammad bin Ibrahim, Tanbighul Ghafilin, Maktabah wa Mathba’ah Al Hidayah, Surabaya, t.t. hlm. 70; (5) Khalid Muhammad Khalid, Ma’a Umar (Umar Ibnul Khattab Mukmin Perkasa), terj. Abu Syauqi Baya’syud dan Mustafa Mahdami, Penerbit Media Idaman, Surabaya, 1989, cet. II (6) Hamka, Tafsir Al Azhar, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985

BERSERI WALAU TAK DIBERI

November 10th, 2018 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

BERSERI WALAU TAK DIBERI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ٦٠

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan doamu. Sungguh, orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina-dina” (QS. Al Mukmin [40]: 60)

Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menjelaskan kekuasaan-Nya dalam penciptaan langit, bumi dan manusia. Tapi sayang, hanya sedikit manusia yang memahaminya. Sebagai kelanjutan dari ayat-ayat tersebut, ayat yang dikutip di atas memerintahkan kita meminta pertolongan kepada Allah Yang Maha Hebat itu. Semakin sering kita memohon, semakin senanglah Allah, sebab itu berarti pengakuan kita akan kebesaran-Nya, sekaligus kelemahan kita di hadapan-Nya. Sebaliknya, orang yang tidak meminta kepada-Nya dipandang congkak, sebab ia merasa bisa hidup tanpa Allah.

Ayat di atas juga berisi janji Allah untuk tidak akan mengecewakan semua peminta, dan Ia tidak akan ingkar janji. “Sungguh Allah tidak akan mengingkari janji” (QS. Ali Imran [3]: 9). Abu Hurairah r.a bercerita, Nabi SAW bersabda, “Setiap doa muslim pasti dikabulkan Allah. Adakalanya dipercepat terkabulnya di dunia, atau ditunda kelak di akhirat, atau diampuni dosa-dosanya sesuai dengan doanya, asalkan doa itu bukan untuk perbuatan dosa atau memutus silaturrahim.”

Berdasar hadis di atas, ada tiga macam respon Allah terhadap doa manusia, yaitu KTP (Kabul, Tunda, Pengganti). Pertama, kabul, yaitu dikabulkan persis sesuai dengan permintaan, sebagaimana dialami Nabi SAW. Ketika ia sedang berapi-api menyampaikan khutbah, tiba-tiba seorang pria interupsi, “Wahai Nabi, Madinah sedang paceklik. Hujan sudah lama tidak turun, sehingga beberapa ternak mati, dan kita juga kesulitan air. Saya mohon tuan berdoa agar Allah menurunkan hujan.” Nabi SAW lalu melihat langit sejenak dan berdoa, dan arak-arakan mendung tebal lalu menutup langit, lalu tidak lama kemudian, hujan turun.

Pada Jum’at berikutnya, pria tersebut mengulang interupsinya, “Wahai Nabi, sekarang Madinah sudah kelebihan air, sehingga banjir menggenang di beberapa tempat. Saya mohon tuan berdoa agar hujan berhenti.” Dengan sedikit senyum, Nabi berdoa, “Allahumma hawalaynaa, walaa ‘alaynaa (wahai Allah, hentikan hujan di daerah ini, dan alihkan ke daerah lain).” Benar-benar terkabul, hujan berhenti di Madinah, dan beralih ke daerah lain (HR. Al Bukhari).

Itulah contoh respon doa yang terkabul secara langsung dan persis sesuai dengan permintaan. Dalam hal ini, jangan kemudian mengira doa Nabi selalu terkabul. Puluhan tahun Nabi berdoa untuk pamannya, Abu Thalib, tapi ia tetap kafir sampai wafatnya. Nabi sedih, sebab sang paman itulah yang menyelamatkannya dari beberapa kali pembunuhan orang kafir. Doa Nabi Nuh a.s juga tidak dikabulkan, sehingga anaknya tetap kafir dan mati ditelan banjir bandang.

Kedua, tunda, artinya kadangkala Allah menunda mengabulkan sebuah doa dalm waktu yang lama, bahkan bisa saja dikabulkan setelah yang berdoa itu meninggal dunia. Itulah yang dialami Abu Bakar r.a dan istrinya. Mereka berdua bertahun-tahun berdoa agar anaknya, Abdurrahman masuk Islam (lihat QS. Al Ahqaf [46]: 17), tapi, tetap saja ia kafir  sampai sang ibu wafat. Bahkan, ia pernah mengajak sang ayah duel di medan perang. Baru setelah ibunya wafat, Abdurrahman masuk Islam, dan sejak itu, ia lengket dengan Nabi SAW dan diberi kehormatan menyediakan siwak pembersih gigi pada detik-detik terakhir wafatnya Nabi SAW. Jadi, musibah yang kita alami merupakan ujian, dan menunggu terkabulnya doa adalah ujian berikutnya. Jika Anda tergesa-gesa untuk dikabulkan, maka Anda mendikte Allah sesuai dengan kemauan Anda. Nabi SAW bersabda, “Doa seorang di antara kalian akan dikabulkan Allah, selama ia tidak tergesa-gesa dan berkata, ”qad da’awtu rabbi, falam yastajib li (saya sudah berdoa kepada Tuhanku, tapi mengapa Ia tidak mengabulkanku)” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a). Berdoalah, dan berpasrahlah kepada Allah, sebab Dialah Allah Yang Maha Pintar untuk memilihkan hari yang terbaik kapan Ia mengabulkannya.

Ketiga, pengganti, yaitu doa kita tidak dikabulkan sesuai dengan permintaan, tapi diberi pengganti yang lebih baik. Ada kisah menarik. Seorang mahasiswa di perguruan tinggi meminta motor kepada ayahnya, penjual kerupuk keliling dari kampung ke kampung. Sang ayah tidak membelikan motor atas pertimbangan tertentu. Sebagai gantinya, ia membeli seekor sapi kecil. Si anak protes, marah dan tak mau lagi membantu ayahnya menggoreng krupuk dan mengantarnya ke warung-warung sebagaimana biasa, karena permintaannya tidak dipenuhi. Setahun kemudian, sapi itu beranak kembar, dan tahun berikutnya, dua sapi itu layak jual dengan harga yang mahal. Maka ketika sang anak membutuhkan banyak biaya untuk praktikum, kuliah lapangan, penyusunan skripsi, wisuda, dan biaya-biaya lainnya yang biasanya menumpuk pada akhir studi, sang ayah menjual dua sapi itu sekaligus induknya untuk menutup semua biaya kuliah. Ternyata, masih ada sisa uang, dan itulah yang akan dipakai untuk mengkhitankan adiknya yang duduk di kelas dua SD. Pada upacara wisuda, sang anak yang sedang memakai toga tiba-tiba histeris mencari orang tuanya dan bersujud di kaki mereka. Sambil memegang map ijazah di tangan kanannya, ia menangis “Wahai ibu, wahai ayah, terima kasih engkau berdua telah mengantarkan aku menjadi sarjana. Maafkan aku, karena pernah jengkel kepadamu. Ternyata engkau mempunyai perencanaan yang mulia demi masa depanku.” Kedua orang tua yang bahagia itu ikut hanyut menangis, sedang adiknya duduk jongkok dengan mengelus punggung kakaknya sambil berkata, “Bangkitlah kak, nanti kita selamatan kesarjanaan kakak, dan aku dikhitan.”

Nah, itulah ilustrasi sederhana, bagaimana Allah memberi pengganti atas permintaan kita, karena Allah paling tahu apa yang terbaik untuk masa depan kita. Allah mempunyai perencanaan yang jauh lebih sempurna daripada Anda, hanya saja Anda tidak mengerti rahasia di balik semuanya. Ketahuilah, bisa saja kelak di akhirat, Allah berkata kepada penghuni surga yang sedang menikmati hidangan yang disuguhkan bidadari cantik, “Nikmatilah surga yang indah ini selamanya sebagai pengganti doa kalian yang tidak Aku kabulkan di dunia.”

Dengan berbekal KTP (Kabul, Tunda, Pengganti), tersenyumlah dan bersenanglah, sebab Allah sedang menyiapkan pengganti yang terindah untuk doa Anda. Sekarang, saya yakin, muka Anda tetap berseri walau Anda tidak diberi, dan itulah cara ber-Tuhan yang terpuji.

Surabaya, 26/5/2018

Referensi: (1) Abdul hadi, Senyum Indah Kanjeng Nabi, DIVA Press, Yogyakarta, 2016, p. 63, (2) Moh. Ali Aziz, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, UIN Sunan Ampel Press, Surabaya, 2015, cet. XII. P. 155, (3) Moh. Ali Aziz, Doa-Doa Keluarga Bahagia, Penerbit Kun Yaquta Foundation dan PT Duta Aksara Mulia, Surabaya, 2014, cet. III. P. 109, (4) Haddad, Imam Habib Abdullah, Al Nashaihud Diniyyah Wal Washaya Al Imaniyah, CV. Toha Putra, Semarang, 1993, p. 249. (5) Hamka, Tafsir Al Azhar, Juz 24, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p.161-164

MENYAPA MALAIKAT DALAM SHALAT

October 8th, 2018 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

MENYAPA MALAIKAT DALAM SHALAT
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

 

أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِدُلُوكِ ٱلشَّمۡسِ إِلَىٰ غَسَقِ ٱلَّيۡلِ وَقُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِۖ إِنَّ قُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِ كَانَ مَشۡهُودٗا ٧٨

sumber gambar: https://www.bbc.com/indonesia/vert_earth/2015/10/151017_vert_earth_

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sungguh shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat) (QS. Al Isra [17]: 78).

Inilah salah satu ayat yang mengaitkan shalat dan doa para malaikat untuk pelakunya. Saya lalu teringat beberapa doa shalat yang berisi nama-nama malaikat. Antara lain doa dalam rukuk dan sujud, “Maha Suci dan Maha Bersih Tuhanku dan Tuhan semua malaikat dan Malaikat Jibril (HR. Muslim dari  ’Aisyah r.a). Juga doa pada tasyahud akhir menjelang salam, “Wahai Allah, Tuhannya Malaikat Jibril, Mikail dan Israfil. Engkaulah Pencipta langit dan bumi; Engkaulah yang Maha mengetahui yang tersembunyi dan yang terbuka; Engkaulah yang akan menghakimi semua yang diperselisihkan di antara hamba-hamba-Mu. Berilah aku petunjuk yang benar dari masalah yang diperselisihkan itu. Sungguh Engkau pembimbing ke jalan yang lurus untuk siapapun yang Engkau kehendaki.” (HR. Muslim 1829). Nah, saya kemudian penasaran, mungkinkah kita berdialog dengan malaikat ketika shalat?.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya jelaskan terlebih dahulu apa dan bagaimana malaikat itu. Al Qur’an tidak menyebutkan bahan penciptaan malaikat. Hanya hadis yang menjelaskan, bahwa ia tercipta dari cahaya. Penciptaan malaikat tersebut dimaksudkan untuk mengingatkan keterbatasan pengetahuan manusia, sebab malaikat adalah metafisika di luar jangkuan akal. Sekalipun demikian, kita wajib mengimani keberadaannya, sifat-sifatnya, dan ketundukannya kepada Allah. Ia satu-satunya makhluk yang selalu terkait dengan aktivitas manusia di dunia, di alam kubur, dan di dalam surga atau neraka. Perintah Allah kepada malaikat untuk bersujud kepada Nabi Adam a.s merupakan simbol perintah kepada malaikat untuk melayani manusia di dunia dan akhirat.

Berapa jumlah malaikat? Nabi SAW pernah bertanya kepada Jibril tentang baitul ma’mur, suatu tempat yang suci di langit tertinggi, lalu dijawab, “Setiap hari, ada 70.000 malaikat mengerjakan shalat di tempat itu, dan mereka tidak kembali.” (HR. Al Bukhari). Artinya, ada malaikat lain dalam jumlah yang sama dan mengerjakan ibadah yang sama di tempat itu. Jadi, jumlahnya tak terhitung. Penyebutan malaikat dalam Al Qur’an selalu berbentuk jamak. Itu berarti masing-masing malaikat, yaitu Jibril, Mikail, Israfil, dan sebagainya hanya bertugas sebagai kordinator untuk malaikat-malaikat lainnya untuk tugas masing-masing. Penyebutan adanya delapan malaikat yang memikul ‘arasy dalam Al Qur’an (Q.S Al Haqqah [69]: 17) bisa diartikan delapan kelompok besar malaikat pemikul ‘arasy.

Malaikat digambarkan Al Qur’an sebagai makhluk yang gagah perkasa atau “dzuu quwwatin” (QS. An Najm [53]: 6), atau ’inda dzil ‘arsyi makiin, artinya memiliki kecepatan seperti kilat (QS. Al Ma’arij [70]: 4), dan berparas menawan (QS. Yusuf [12]: 30), tidak seperti setan yang selalu digambarkan buruk rupa. Dalam melayani kebutuhan manusia, malaikat bisa berwajah manusia, sebagaimana yang dialami Nabi Ibrahim a.s ketika kedatangan para tamu, yang ternyata mereka adalah malaikat. Demikian juga ketika malaikat bertamu di rumah Nabi Luth a.s. Nabi SAW juga pernah dua kali menerima wahyu dari malaikat Jibril dengan wajah sahabat karibnya.

Apakah malaikat hanya datang kepada para Nabi? Tidak, mereka juga bisa menemui siapapun selain nabi, termasuk Anda, bahkan memberikan pertolongan atas perintah Allah. Mereka inilah yang datang untuk menolong Maryam ketika melahirkan Isa a.s. Akan tetapi kita harus berhati-hati, sebab setan juga bisa saja datang dengan mengaku sebagai malaikat. Nabi SAW sendiri pernah didatangi setan ketika shalat, lalu setan itu dicekiknya.

Menurut Ibnu Sirin (W 729 M), ulama ahli takwil mimpi dalam kitabnya, Muntakhabul Kalaam fii Tafsiiril Ahlaam, malaikat juga bisa hadir dalam mimpi kita, seperti yang dialami Abdullah bin Zaid r.a. Dalam tidurnya, ia diajari azan oleh orang yang berjubah. Mendengar pelaporan mimpi tersebut, Nabi SAW amat senang, sebab itulah yang ditunggu-tunggu, dan Nabi langsung memerintakan Bilal bin Rabbah untuk mengumandangkan azan hasil pengajaran malaikat melalui mimpi tersebut. Ketika Bilal beradzan, Umar bin Khattab terkejut, karena pada malam yang sama, ia juga diajari malaikat dengan bacaan azan yang sama. Malaikat juga bisa menolong manusia dengan cara yang sangat halus berupa pemberian inspirasi, ilham dan sejenisnya. Inilah yang disebut lamhah malakiyah atau lintasan pengetahuan dari alam malaikat. Di samping bertindak secara langsung untuk kebutuhan manusia, malaikat juga selalu mendoakan kebaikan untuk orang baik, dan hukuman penderitaan (la’nat) untuk orang-orang yang buruk perangai.

Dalam kehidupan kita, ada sunnatullah dan ‘inayatullah. Orang yang jatuh dari lantai 10 dan meninggal, misalnya, itulah sunnatullah, artinya sesuai dengan hukum alam. Tetapi, jika ternyata ia tidak meninggal karena berbagai sebab, maka itulah ‘inayatullah, artinya, ada tangan malaikat yang ikut menyelamatkannya atas perintah Allah. Allah SWT berfirman, “Dan bagi manusia, ada para malaikat yang menjaganya secara bergantian di depan dan dibelakangnya atas perintah Allah” (QS. Ar Ra’d [13]: 11). Inilah yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib r.a, setiap manusia dikawal malaikat penyelamat. Jika ada bahaya datang, dan hari itu bukan jadwal kematiannya, maka Allah memerintahkan malaikat untuk menyelematkannya. Tapi, jika hari telah ditentukan sebagai hari kematiannya, maka malaikat diperintahkan Allah untuk membiarkannya menuju ajalnya.

Dengan gambaran sifat-sifat malaikat di atas, maka kita benar-benar bisa menyapa mereka. Di luar shalat, kita dikawal malaikat, maka tentu lebih banyak malaikat yang menyertai dan mendoakan kita ketika kita sedang shalat. Anda pasti semakin merasakan nikmatnya shalat, jika misalnya ketika bersujud Anda menyapa (dalam hati) para malaikat, “Wahai Allah, Tuhannya semua malaikat, perintahkan mereka untuk mengawal aku agar selamat dari semua bencana, dan perintahkan pula membuka pintu-pintu rizki dan ilmu untukku.” Selamat menyapa malaikat dalam setiap shalat.

Referensi: (1) M. Quraish Shihab, Malaikat Dalam Al Qur’an, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2017 cet. 1 (2) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol 6, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 227-230 (3) Moh. Ali Aziz, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, UIN Sunan Ampel Press, Surabaya, 2015, cet. X. (4) Al Bukhari, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il, Shahih Al Bukhari, Toha Putra, Semarang, t.t. (5) Muslim bin Al Hajaj Al Qusyairi Al Naisaburi, Shahih Muslim, Dar Al Fikr, Beirut, 1988. (6) Hamka, Tafsir Al Azhar, Juz 13, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 70-73.