Header

Author Archives: admin_tsb

MEMPERSUNTING KARAMAH

May 7th, 2018 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

MEMPERSUNTING KARAMAH
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: sportourism.id

“Dan jika kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.” (QS. Al Kahfi [18]: 16)

Ayat di atas berkisah tentang tujuh orang (as-habul kahfi) yang ditidurkan Allah di dalam gua selama 309 tahun. Mereka bersembunyi untuk menghindari kekejaman raja yang zalim. Sebelum ditidurkan, mereka mengonsumsi makanan dan minuman (mirfaqa) yang disediakan langsung oleh Allah. Inilah keajaiban pertama. Keajaiban kedua adalah bahwa gua itu menghadap ke utara, sehingga tidak mendapat sinar matahari. Padahal, tanpa sinar dan sirkulasi udara, mereka bisa mati. Maka, setiap pagi, Allah “memindahkan” matahari ke utara agar dapat sejenak memberi cahaya gua. Keajaiban yang diberikan Allah kepada para pemuda gua itulah yang disebut “karamah,” bukan “mukjizat,” sebagaimana yang diperuntukkan khusus bagi para nabi.

Imam An Nawawi mengutip ayat tersebut dalam bab “Karamah Para Kekasih Allah” pada kitab Riyadhus Shalihin II: 368-373 dan Kitab Dalilul Falihin juz IV: 273. Pada bab itu juga dijelaskan karamah yang diberikan Allah kepada Maryam, ibu Nabi Isa a.s ketika dipingit Nabi Zakaria di sebuah tempat khusus sekaligus tempat ibadah. Suatu saat, Zakaria terkejut, ternyata dalam kamar yang telah tertutup rapat itu, ada buah segar di luar musimnya. Ketika ditanya, Maryam menjawab, “Makanan itu dari sisi Allah. Sungguh, Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa perhitungan” (QS. Ali Imran [3]: 37).

Ada lagi karamah yang diberikan Allah kepada Maryam. Ketika ia hamil, ia gelisah bercampur malu karena diolok-olok sebagai pezina, karena ia tidak bersuami. Ia lalu bersandar pada pohon kurma sambil merasakan sakit perut menjelang persalinan. Ia juga cemas, karena tidak ada makanan untuk dirinya yang sudah lemas, dan untuk sang bayi yang akan dilahirkan. Allah mengtus malaikat Jibril untuk memberitahu Maryam, “Jangan bersedih. Aku telah menyediakan untukmu sungai di bawahmu. Segera minumlah air segar dari sungai itu. Goyanglah pohon kurma tempat engkau bersandar. Nikmatilah bersama bayimu kurma segar yang berjatuhan di depanmu.” (QS. Maryam [19]: 24-25).

Dalam hadis, peristiwa karamah diceritakan oleh Abdurrahman bin Abu Bakar As Shididiq r.a. Ia mengatakan, keadaan penduduk Mekah yang hijrah bersama Nabi SAW ke Madinah yang ditampung di perkemahan belakang Masjid Madinah (ash-haabus shuffah atau ahlus-suffah) sangat memprihatinkan. Mereka hijrah tanpa membawa bekal sedikitpun dan tidak memiliki sanak keluarga di Madinah. Saat itulah, Abu Bakar bertindak karena teringat perintah Nabi SAW,

مَنْ كَانَ عِنْدَهُ طَعَامُ اثْنَيْنِ فَلْيَذْهَبْ بِثَالِثٍ وَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ طَعَامُ اَرْبَعَةٍ فَلْيَذْهَبْ بِخَامِسٍ بِسَادِسٍ

“Barangsiapa memiliki makanan untuk dua orang, maka hendaknya ia makan bertiga, dan barangsiapa memiliki makanan untuk empat orang, maka hendaknya ia makan berlima atau berenam” (HR. Muttafaq ‘Alaih dari Abu Muhammad, Adurrahman bin Abu Bakar As Shididiq r.a). Abu Bakar lalu mengundang  tiga orang ke rumahnya, dan Nabi menambahkan undangan sepuluh orang lainnya. Mereka yang diundang itu langsung menuju rumah Abu Bakar r.a. Ia berpesan kepada anaknya, Abdurrahman agar menjamu para tamu itu, karena ia harus menemani Nabi SAW di masjid sampai shalat isyak dan makan malam bersamanya.

Abu Bakar r.a pulang agak larut malam, dan mendapat teguran istrinya, “Mengapa kamu menerlantarkan tamumu?” Sebelum menjawab, Abu Bakar justru bertanya, “Apakah mereka sudah dijamu?” “Mereka tidak mau makan yang sudah saya hidangkan sampai engkau pulang,” Jawab sang istri. Ketika Abu Bakar r.a datang, Abdurrahman bersembunyi, takut dimarahi sang ayah, karena para tamu menolak makan yang sudah disiapkan. Benar, Abu Bakar memanggil dengan nada kesal, “Wahai si dungu, kenapa tamu tidak segera diberi jamuan.” “Ayah, mereka menolak makan jika tidak bersamamu,” jawab Abdurrrahman. Abu Bakar r.a lalu mempersilakan tamunya menikmati hidangan, sedangkan dia sendiri bersumpah tidak akan makan, karena baru saja makan bersama Nabi. Abu Bakar r.a baru membatalkan sumpahnya dan bersedia makan bersama setelah mereka bersikukuh hanya makan jika ditemani tuan rumah. Ia berkata, “Sumpah saya tadi terucap karena pengaruh setan.”

Ketika melayani para tamu, Abdurrahman berkata, “Demi Allah, saya menyaksikan keajaiban. Setiap kami mengambil makanan, selalu ada makanan baru di bawahnya, sehingga semua tamu puas. Bahkan makanan yang tersisa jauh lebih banyak daripada semula. Abu Bakar r.a juga heran dan bertanya kepada istrinya, “Wahai keturunan Bani Firas (panggilan untuk istrinya yang keturunan marga Firas), “Apa yang sedang terjadi?” Sang istri menjawab, “Aku sangat senang melihat hidangan ini menjadi tiga kali lipat banyaknya daripada ketika disuguhkan sebelumnya.” Abu Bakar r.a mengambil sedikit makanan untuk diberikan kepada Rasulullah yang sedang mengadakan rapat penandatanganan perjanjian dengan non-muslim. Setelah rapat, Abu Bakar menghidangkan makanan untuk mereka yang telah dibagi menjadi 12 kelompok yang masing-masing terdiri dari sejumlah orang yang hanya Allah SWT yang tahu. Ajaib, mereka semua bisa makan dari sisa makanan yang sedikit tadi” (HR. Muttafaq ‘Alaih).

Karamah juga disediakan untuk Anda, tidak hanya untuk pemuda gua, Maryam dan Abu Bakar r.a. Jika Anda ingin mempersunting karamah, tidak perlu Anda berdoa memintanya. Jika Anda terus menerus meningkatkan keimanan dan mengharumkan budi pekerti, yakinlah Allah akan memberi Anda karamah secara mengejutkan. Jika Anda menginginkan kupu-kupu, tidaklah perlu Anda mengejarnya. Cukup tanamlah bunga-bunga yang indah di taman, maka rombongan kupu-kupu yang berwarna warni akan datang menghampirinya.” Selamat berkompetisi memersunting karamah, dan saya yakin, Andalah pemenangnya.

            Referensi: (1) Al Nawawy, Abu Zakariya, Yahya bin Syaraf,  Riyadush Shalihin,  CV. Thoha Putra, Semarang, 1981, p. 368-373  (2) As Shiddiqy, Muhammad bin ‘Allan, Dalilul Falihin, darul Kutub Al Ilmiyah, Bairut Libanon, tt.  juz IV: 273.

MENEMBUS TANDUS

April 6th, 2018 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

MENEMBUS TANDUS
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

 

وَهُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجۡنَا بِهِۦ نَبَاتَ كُلِّ شَيۡءٖ فَأَخۡرَجۡنَا مِنۡهُ خَضِرٗا نُّخۡرِجُ مِنۡهُ حَبّٗا مُّتَرَاكِبٗا وَمِنَ ٱلنَّخۡلِ مِن طَلۡعِهَا قِنۡوَانٞ دَانِيَةٞ وَجَنَّٰتٖ مِّنۡ أَعۡنَابٖ وَٱلزَّيۡتُونَ وَٱلرُّمَّانَ مُشۡتَبِهٗا وَغَيۡرَ مُتَشَٰبِهٍۗ ٱنظُرُوٓاْ إِلَىٰ ثَمَرِهِۦٓ إِذَآ أَثۡمَرَ وَيَنۡعِهِۦٓۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكُمۡ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ٩٩

Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu banyak butir, dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sungguh yang demikian itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman(QS. Al An’am [06]: 99)

sumber gambar: http://www.solopos.com/2014/10/31

Ayat-ayat sebelumnya (QS. Al An’am 95-98) berbicara tentang alam semesta mulai biji-bijian sampai matahari, bulan dan bintang yang semuanya diciptakan dan diatur oleh Allah untuk kelangsungan hidup manusia. Ayat yang dikutip di atas (QS. Al An’am 99) merupakan penjelasan lebih lanjut tentang jenis tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang disuburkan oleh air hujan, antara lain kurma, anggur, zaitun dan delima. Ayat ini bisa juga ditafsirkan secara kiasan (isyari), bahwa cahaya Allah dari langit sejatinya bisa menyuburkan hati yang membuahkan tutur kata, sikap dan tindakan yang membahagiakan orang.

Tulisan ini merupakan respon terhadap kegelisahan ilmuwan dari beberapa kampus, termasuk Rektor UIN Sunan Ampel tentang kecerdasan emosional dan spiritual yang tidak simetris dengan kecerdasan intelektual. “Akhir-akhir ini, saya sulit menangis pada zikir malam, dan mudah marah dalam pergaulan,” katanya dalam pengukuhan tiga guru besar (28/12/2017).

Sehari sesudah itu, saya kedatangan guru mengaji dari sebuah desa pedalaman. Ia bercerita, ia tidak bisa shalat di masjid karena selalu mengganggu ketenangan shalat orang. “Setiap saya bershalawat kepada Nabi pada posisi tasyahud, hati saya bergetar, lalu lemas dan nyaris tubuh saya tersandar pada pundak jamaah di sebelah saya,“ kata ibu guru itu. Pada saat yang sama, pria tunantetra dari Gresik bercerita tentang kenikmatan shalatnya selama dua jam untuk dua rakaat karena hanyut dalam syukur dan tawakal.

Dari tiga peristiwa yang dikisahkan rektor dan dua orang pedesaan di atas, amatlah jelas betapa kontras antara kecerdasan spiritualitas ilmuwan kampus dibanding kecerdasan spiritualitas guru mengaji dan tunanetra. Inilah perbandingan tanah subur dan tandus yang digambarkan Nabi SAW:

مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنَ الهُدَى وَالعِلْمِ، كَمَثَلِ الغَيْثِ الكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ، قَبِلَتِ المَاءَ، فَأَنْبَتَتِ الكَلَأَ وَالعُشْبَ الكَثِيرَ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ، أَمْسَكَتِ المَاءَ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ، فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا، وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى، إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَلَأً، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ، وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ

Perumpamaan agama dan ilmu yang diberikan Allah kepadaku seperti hujan lebat yang membasahi tanah. Ada tanah gembur yang menyerap air, lalu menumbuhkan tanaman dan rumput yang lebat. Ada juga tanah yang tandus dan tidak menyerap air sedikitpun, tapi atas kemurahan Allah, ia bisa memberi manfaat kepada orang lain untuk diminum dan mengairi ladang pertanian. Ada pula tanah tandus yang sama sekali tidak menyerap air hujan, sehingga tidak menumbuhkan satupun tumbuh-tumbuhan. Itulah perumpamaan orang yang memahami agama Allah dan memberi manfaat pada orang lain. Ia memahami ilmu itu, lalu mengajarkannya kepada orang lain sebagaimana perintah Allah yang telah aku lakukan. Itu juga perumpamaan orang yang enggan menerima petunjuk Allah yang saya ajarkan” (HR. Bukhari dari Abu Musa al-Asy’ari r.a).

Berdasar hadis di atas, ada tiga jenis manusia dalam menerima agama dan ilmu. Pertama, orang yang berhati lembut dan berakal cerdas untuk menyerap ilmu dan agama, menghayati, mengamalkan, dan kemudian mengajarkannya kepada orang lain. Ia bagaikan tanah gembur yang menyerap air hujan dan menumbuhkan berbagai tanaman dan buah-buahan yang dibutuhkan manusia. Kedua, orang yang berakal cerdas, tapi berhati batu. Ia sangat cepat memahami ilmu dan agama, serta terampil mengajarkannya kepada orang, tapi ia sama sekali tidak menghayati, apalagi mengamalkannya. Inilah orang yang digambarkan Nabi SAW seperti tanah tandus yang tidak tertembus air hujan, tapi ia mengalirkannya untuk kebutuhan minum dan mengairi pertanian.

            Ketiga, orang dungu dan enggan menerima ilmu dan agama, termasuk melalui nasihat orang, sehingga tidak memiliki bekal keilmuan untuk diajarkan kepada orang lain. Ia batu dan tidak mungkin bisa menyuburkan tanah, bahkan bisa jadi membuat luka kaki orang. Orang jenis ketiga ini bagaikan tanah tandus yang tidak bisa menyerap air hujan sederas apapun, sehingga gersang tanpa satupun tanaman.

Ibnu Batthal, As Sufairi, dan At Thibby dalam kitab masing-masing mendorong kita untuk menjadi kelompok pertama, sebab mereka bercahaya dan memberi cahaya. Merekalah yang dipuji Nabi SAW, berakhlak mulia dan kontributif untuk kehidupan manusia.” Kelompok kedua juga mendapat apresiasi karena memiliki kemauan untuk menambah ilmu dan memiliki kepedulian kepada lingkungan, namun sayang, mereka  cacat karena hanya memberi cahaya semu, sebab sejatinya obornya telah redup, bahkan telah membakar dirinya, seperti sebatang lilin. Ia diibaratkan Imam Al Ghozali seperti jarum yang menjahit pakaian raja, tapi ia sendiri telanjang selamanya.

Bagi yang merasa berhati tandus, sebaiknya berguru kepada petani yang menyewa sapi dengan alat tradisional, atau traktor bajak tanah untuk mengeruk dan membalik tanah kering agar bisa gembur dan siap untuk ditanami. Tidak cukup hanya dengan cangkul dan skop. Untuk menyuburkan hati Anda yang tandus dan membatu tidaklah cukup dengan zikir-zikir konvensional yang telah rutin Anda jalankan. Diperlukan tindakan yang ekstra seperti petani yang mendatangkan traktor untuk menggemburkan sawahnya. Tidak cukup hanya dengan nasihat ulama, apalagi hanya nasihat orang di sekitarnya. Jika Anda tidak bersungguh-sungguh menyuburkan hati, bisa saja Allah mengambil tindakan drastis dengan mencabut kesempurnaan fisik, ketercukupan ekonomi dan daya intelektual Anda, na’udzu billah, karena hanya dengan cara itulah hati Anda bisa gembur dan siap menerima cahaya Allah.

Lihatlah mereka yang sedang bersiap menuai padi. Perhatikan padi yang semakin menunduk ke bumi karena isinya. Mengapa bobot intelektual Anda tidak bisa menundukkan emosi dan spritualitas Anda? Sudah sejauhmana kontribusi Anda untuk umat manusia dengan keilmuan dan serba-kecukupan Anda? Jika tidak bisa menjadi pohon yang berbuah, jadilah pohon rindang yang meneduhkan, atau menjadi rumput yang menyegarkan pendangan. jika Anda berspiritualitas emas dan tiada henti memberi manfaat untuk kesejahteraan dan kedamaian manusia, maka keharuman Anda kekal di alam semesta dan di sisi Allah. Tapi, jika Anda buih, maka segara lenyap tertiup angin, lalu keberadaan Anda sama dengan ketiadaan Anda (wujuduk ka’adamik). “Adapun buih itu, ia akan hilang dan tak berharga sama sekali, sedangkan yang bermanfaat bagi manusia, maka ia tetap di bumi” (QS. Ar Ra’d [13]: 17).

Surabaya, 2-1-2018

Referensi: (1) Ibnu Batthal, Syarah Shahih Bukhari (Riyad: Al-Rusd, 2003), Vol. 1, p.164 (2) Muhammad bin ‘Amr bin Ahmad As-Sufairi, Al-Majalis al-Wa’idhiyyah fi Syarhi Ahadits Khairil Bariyyah (Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 2004), vol. 2, p. 139 (3) Husain bin Abdillah At-Thiby, Syarhu At-Thiby ‘Alaa Misykatil Mashabih (Riyad: Nizar Musthafa al-Baz, 1997), vol. 2, p. 616. (4) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 7, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 295-297 (5) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol 3,  Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 573-575, (6) Al Bukhari, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il, Shahih Al Bukhari, Toha Putra, Semarang, t.t. (7) Musthofa Muhammad ‘Umaarah, Jawahirul Bukhori wa Syarhil Qostholaani, Darul Kubutbil Ilmiyah, Beirut, Libanon, Cet. II, 2010, p. 43.

MIMPI NABI, RINDU MATI

March 8th, 2018 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

MIMPI NABI, RINDU MATI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

 

أَلَآ إِنَّ أَوۡلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ٦٢ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ ٦٣ لَهُمُ ٱلۡبُشۡرَىٰ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۚ لَا تَبۡدِيلَ لِكَلِمَٰتِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ٦٤

Ingatlah, sungguh para kekasih Allah itu, tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak (pula) bersedih. (Mereka adalah) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. Mereka akan mendapat berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan juga di akhirat. Tidak ada perubahan pada janji-janji Allah itu. Dan itulah kesuksesan yang besar (QS. Yunus [10]: 62-64)

Artikel ini merupakan kelanjutan dari tulisan saya sebelumnya, “Mimpi Nabi, Mimpi Produktif.”  Sebelum ayat-ayat di atas, Allah menjelaskan, semua yang dilakukan manusia disaksikan dan dicatat oleh Allah. Ayat di atas merupakan penegasan lebih lanjut bahwa perbuatan yang baik itu tidak hanya disaksikan dan dicatat, melainkan juga dibalas oleh Allah dengan kegembiraan dunia dan akhirat (busyra fil hayatid dunya wafil akhirah).

Kegembiraan itu antara lain berupa janji Allah untuk mengirim malaikat menjelang kematian orang mukmin dan memperlihatkan surga yang sudah disiapkan untuknya. Kegembiraan itu juga berupa mimpi bertemu Nabi dan mimpi-mimpi baik lainnya. Ubadah bin Shamit r.a bertanya pada Nabi SAW makna al busyra (berita gembira) pada ayat di atas, lalu dijawab, “Itulah mimpi yang benar.”

Dalam kitab Ra-aitun Nabiyya SAW, Mi-atu Qisshatin Min Rua-an Nabi (100 Kisah Nyata Mimpi Melihat Nabi) karya Abdul Aziz Ahmad Abdul Aziz dikatakan, mimpi jumpa Nabi adalah kegembiraan dan kemuliaan, sebab ia adalah cahaya Allah, kabar gembira, peringatan, pembuka tabir (al futuh) rahasia-rahasia ilahiah (QS. Al A’raf  [07]: 96), dan penampakan Nabi dari dalam diri manusia itu sendiri (QS. Al Hujurat [49]: 07). Kitab itu menganjurkan Anda untuk lebih bersungguh-sungguh jika benar-benar ingin jumpa Nabi, seperti kesungguhan yang dilakukan Maryam untuk menggoyang pohon sampai buah kurma berjatuhan untuk makanan si bayi Isa a.s yang baru saja dilahirkan (QS. Maryam [09]: 25). Buku itu menambahkan, jika Anda fokus terhadap sesuatu, maka alam bawah sadar Anda menyertainya. Misalnya, ketika Anda sangat haus dan belum mendapatkan sedikitpun air, lalu tertidur, maka besar kemungkinan Anda akan melihat air segar dalam tidur Anda. Demikian juga, jika Anda fokus untuk mengharap perjumpaan dengan Nabi SAW.

Beberapa ulama terkemuka sering mendapatkan al futuh keilmuan dan kemuliaan melalui mimpi. Itulah yang dialami oleh Imam As Syafii, Imam Nawawi, Ibnu Sina. Abu Abdillah bermimpi melihat Nabi SAW duduk di masjid bersama Imam Malik bin Anas. Nabi memberikan minyak wangi misik kepada Imam Malik, lalu ia membagikannnya kepada orang banyak. Imam Syafi’i bercerita, “Aku bermimpi dipanggil Nabi, “Mendekatlah kepadaku!.” Lalu ia memasukkan ludahnya di mulutku seraya berkata, “Cukup, sekarang pergilah. Semoga Allah memberkahimu.” Ahmad bin Hajjaj mimpi melihat Nabi ditanya banyak orang tentang berbagai masalah, dan ia selalu menunjuk Imam Ahmad bin Hanbal. Ali bin Hamzah al Kisaa-i membaca Al Qur’an di depan umum. Pada malam harinya, ia bermimpi ditanya Nabi, “Apa benar engkau Ali bin Hamzah? “Ya” “Bacalah untukku Al Qur’an,” pinta Nabi. “Lalu, saya membaca QS As AShaffat: 1-3. Nabi berkata, “Bagus. Lanjutkan!.” Maka saya melanjutkan bacaan surat tersebut sampai ayat 94, dan Nabi memberi pujian yang sama, seraya mengatakan, “Saya akan menyebut namamu dengan bangga kelak di hadapan para malaikat dan semua pembaca Al Qur’an.”

Para sahabat dan orang-orang mulia terdahulu juga mendapat al futuh tentang kematiannya melalui Nabi SAW. Usman bin Affan r.a pada suatu hari berpuasa dan memerdekakan 20 orang budak. Malam harinya, ia mimpi berjumpa Nabi SAW, “Wahai Usman, maukah kamu berbuka puasa denganku?” “Tantu wahai nabi,” jawab Usman. Esok harinya, ia terbunuh. Ada juga seorang pria yang bermimpi melihat Nabi memanggil-manggil Abdullah bin Mas’ud di tengah kerumunan orang, “Kemari, jangan jauh dariku!.” Pria itu lalu memberitahukan mimpi itu kepadanya. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Baiklah, besok pagi mari ikut saya ke Madinah!,” Ternyata, pada hari itu Ibnu Mas’ud meninggal dunia, dan ia bisa shalat janazah untuknya bersama banyak orang di Masjid Madinah.  At Thawawisi berkata, “Saya mimpi melihat Nabi sedang  berdiri di suatu tempat. Saya menyampaikan salam dan bertanya kepadanya, “Mengapa tuan di sini?” Nabi menjawab, “Saya sedang menunggu Al Bukhari.”  Esok harinya, beliau meninggal dunia.

Para sahabat dan ulama terdahulu memandang kematian sebagai suatu yang indah.  Abu Darda’ r.a berkata, “Orang tidak suka miskin, tapi aku menyukainya, sebab bisa menjadikan aku rendah hati. Aku juga menyukai penyakit, sebab bisa menghapus dosa. Orang tidak suka kematian, tapi aku menyukainya, sebab aku bisa segera bertemu dengan Kekasih sejati” Komaruddin Hidayat menulis, “Berdamailah dengan kematian, karena Anda sedang dinaikkan di atas pesawat untuk terbang jauh menuju pertemuan dengan Allah, Nabi SAW, keluarga tercinta dan teman-teman lama yang telah mendahului Anda. Kematian bagaikan kepompong yang berubah menjadi kupu-kupu, terbang di antara bunga-bunga, tanpa jejak kerusakan. Jika Anda riang melihat kematian, maka riang pula hidup Anda. Sebaliknya, jika Anda cemas dan takut, maka kehidupan Anda terasa sesak dan mengerikan. Fokuslah untuk berkarya dan berkarya. Ar-Raghib Al Ashfahani mengatakan, “Kematian adalah “pecah telur” yang mengantarkan ayam mencapai tarap kesempurnaannya.”

Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk kampanye kematian, melainkan ajakan memandang kematian sebagai sesuatu kepastian yang menyenangkan, lebih pasti dan menyenangkan daripada menunggu antrean di bandara. Semakin Anda cemas dan takut menghadapi kematian, semakin terbuka sejuta pintu stres untuk Anda. Fokuslah untuk berkarya besar untuk kemanusiaan dan agama, harumkan akhlak Anda, dan bersiaplah menerima kahadiran Nabi SAW dengan mukanya yang bersinar, senyumnya yang indah, dan wewangiannya yang menyegarkan untuk menjemput kematian Anda.

Surabaya, 15 Desember 2017

Referensi: (1) M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah, vol. 5: 448- 456,  (2) Abdul Aziz Ahmad Abdul Aziz, Ra-aitun Nabiyya SAW, Mi-atu Qisshatin Min Rua-an Nabi, (100 Kisah Nyata Mimpi Melihat Nabi), Terj. Kaserun AS Rachman, Penerbit Turos, Jakarta, 2015,  (3) Komaruddin Hidayat, Berdamai dengan Kematian, Menjemput Ajal dengan Optimisme, Penerbit Hikmah, Jakarta, 2009, cet 9. P xii, (4) Komaruddin Hidayat, Psikologi Kematian, Mengubah Ketakutan Menjadi Optimisme, Penerbit Hikmah, Jakarta, 2006, cet VII, P x, p. 163 (5) Abdul Wahid, Senyum Indah Kanjeng Nabi, Penerbit Diva Press, Jogjakarta, 2016, CetI, p. 201