Header

Author Archives: admin_tsb

LAQAD JA-AKUM – RINDU RASUL

February 26th, 2020 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

LAQAD JA-AKUM – RINDU RASUL
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://dapurpelangi.blogspot.com

لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin” (QS. At Taubah [9]: 128).

Ada empat alasan saya memilih topik ini. Pertama, ayat ini terkenal di seluruh dunia, baik dalam berbagai diskusi ataupun dalam kaligrafi di sejumlah tempat umum. Di Indonesia, ayat ini hampir pasti dibaca dalam acara bershalawat bersama. Kedua, ayat ini oleh Ubay bin Ka’ab disebut sebagai ayat yang terakhir turun. Ketiga, ayat ini pernah membingungkan Zaid bin Tsabit, r.a yang mendapat tugas dari Khalifah Usman bin Affan r.a untuk membukukan Alquran. Mantan sekretaris Nabi SAW itu telah berhasil mengumpulkan semua ayat dari para sahabat. Namun, masih kesulitan menemukan ayat ini. Setelah dilacak bersama tim, barulah ayat ini ditemukan di rumah Abu Khuzaimah Al Anshary r,a. Itu pun, masih membingungkan, ayat ini turun di Makkah atau Madinah, lalu dimasukkan dalam surat yang mana.

Keempat, Rasyad Khalifah, ahli biokimia Mesir-Amerika yang menganalisis numerologis Alquran juga pernah bingung dengan ayat ini. Dalam risetnya, ia berkesimpulan bahwa semua kata benda dalam basmalah yang diulang-ulang dalam Alquran pasti bisa dibagi habis dengan angka 19. Angka pembagi ini adalah jumlah huruf dalam basmalah itu sendiri.

 Pakar Islam yang dibunuh pada tahun 1990 oleh para penentang pemikirannya itu membuktikan, bahwa kata ismi dalam basmalah terulang sebanyak 19 kali, sama dengan 1×19. Kata Allah terulang dalam Alquran sebanyak 2.698 kali, sama dengan 142×19. Kata ar-Rahman terulang sebanyak 57 kali, sama dengan 3×19. Lalu, kata terakhir dalam basmalah, yaitu ar-Rahim terulang dalam Alquran sebanyak 115 kali. Nah, jumlah ini tidak bisa dibagi habis dengan angka 19. Inilah yang membuat peneliti itu bingung. Setelah diteliti lebih mendalam, ternyata kata ar-Rahim dalam ayat ini terkait dengan akhlak Nabi SAW, bukan mensifati Allah. Dengan demikian, ar-Rahim yang mensifati Allah, Maha Penyayang, hanya berjumlah 114, sama dengan 6×19.

Mengapa dua sifat Allah, rauf (penyantun) dan rahim (penyayang) disematkan pada pribadi Nabi SAW? Sebab, kasih sayang Nabi kepada manusia di atas rata-rata yang dimiliki manusia pada umumnya. Oleh sebab itu, dalam ayat ini, Allah menggunakan kata, “telah datang kepadamu,” bukan “telah Kami datangkan kepadamu.” Dengan kata lain, sebelum adanya perintah Allah untuk mengasihi manusia dalam ayat ini, dalam diri Nabi telah terhunjam sifat mengasihi yang luar bisa kepada manusia.

Coba Anda perhatikan, bagaimana reaksi Nabi ketika mendengar berita kematian Ja’far bin Abu Thalib r.a dalam perang Mu’tah. Nabi langsung mengunjungi rumah duka dengan membawa sejumlah makanan yang dikumpulkan dari para sahabat. Para yatim yang ditinggalkan syuhadak itu diajak Nabi ke tukang cukur rambut, disuapi makanan, digendong, dan disayang melebihi orang tuanya sendiri. Berpuluh tahun kemudian, si yatim itu menjadi hartawan yang budiman dan bercerita bagaimana Nabi menyayanginya sejak yatim kecil, lebih mengesankan daripada sang ayah.

Berdasarkan ayat ini, ada tiga karakter Nabi SAW. Pertama, ‘aziizun alahi maa ‘anittum, artinya ikut merasakan derita orang lain. Sama seperti orang di depan cermin: sama-sama senyum, atau sama-sama sedih. Nabi merasakan sakit, persis sama dengan yang Anda rasakan. Hatinya teriris-iris, jika melihat Anda dizalimi orang. Pundaknya merasakan berat yang sama dengan beban pundak Anda yang memikul beban hidup yang berat. Nabi bahkan meminta Allah, agar semua derita sakaratul maut manusia ditanggung sendirian olehnya, agar kelak tidak ada lagi orang yang merasakan derita itu menjelang ajalnya.

Kedua, hariisun ‘alaikum, artinya, luar biasa keinginan Nabi untuk menjadikan Anda manusia yang berbudi dan terharum di langit dan di bumi. “Biarlah lenganku terlepas karena menarik badanmu, atau punggungku retak menggendongmu demi keselamatanmu.” Begitulah kira-kira pikiran Nabi sepanjang siang dan malam. Nabi menangis jika melihat satu saja pengikutnya melakukan dosa. “Mengapa engkau tega menyusahkan aku di hari pertanggung jawabanku atas tugas-tugas kenabianku? Apakah seruanku selama ini kurang jelas? Mengapa engkau tega menyiksa dirimu sendiri, sedangkan aku bersusah payah menyelamatkanmu.” Demikianlah kira-kira kekecewaan Nabi melihat orang yang melakukan dosa. Anda mungkin tertawa dalam dosa. Tapi, tahukah Anda, bahwa saat itu, Nabi berlinang air mata memikirkan nasib Anda.

Ketiga, bil mukminiina rauuf Rahiim, artinya Nabi adalah rauf yaitu bertindak langsung untuk mencarikan solusi atas masalah yang dihadapi pengikutnya. Nabi juga Rahim, yaitu  menyayangi orang secara umum, bermasalah atau tidak. “Saya amat mencitaimu. Apa yang bisa saya bantu?.” Begitulah kira-kira ungkapan simpatik Nabi kepada setiap umatnya. Apakah mata Anda belum juga berka-kaca membaca ayat ini?

Silakan Anda baca ayat ini berkali-kali di dalam shalat atau sesudahnya, dan resapilah, renungkan sedalam-dalamnya sampai karakter Nabi itu merasuk ke dalam jiwa Anda. Bacalah berkali-kali lagi, dan renungkanlah sampai ruh Anda bertemu dengan ruh Nabi SAW. Semoga cara ini mempercepat Anda menyerap keharuman akhlak Nabi SAW.   

Sebagai penutup, saya kutipkan kisah dalam buku, Ra-aitun Nabiyya SAW, Mi-atu Qisshatin Min Rua-an Nabi karya Abdul Aziz Ahmad Abdul Aziz. Dalam buku ini dikatakan, bahwa di kalangan masyarakat Iraq, nama Syibli sangat terkenal sebagai orang gila. Suatu saat, seorang syekh paling kharismatik mencari si gila itu dan mencium keningnya. Ketika masyarakat terheran-heran, Syekh itu menjelaskan, “Saya melakukan seperti ini, sebab semalam aku bermimpi melihat Nabi menciumnya. Nabi melakukannya, karena Syibli, yang selalu menyamar dan menyembunyikan kesalehannya itu, selalu membaca ayat Laqad jaa-akum rasuulun….dst setiap selesai shalat, lalu bershalawat, “Shallallahu ‘alaika ya Muhammad.

Semoga Anda seharum Nabi dan segera mendapat giliran ciuman kekasih Allah itu.

        Surabaya 17-8-2019

(1). Abdul Aziz Ahmad Abdul Aziz, Ra-aitun Nabiyya SAW, Mi-atu Qisshatin Min Rua-an Nabi, (100 Kisah Nyata Mimpi Melihat Nabi), terjemah oleh Kaserun AS Rachman, Penerbit Turos, Jakarta, 2015. P. 129, (2) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol.5 Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p.300-305 (3) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 23, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985.

KATA SENILAI ISI DUNIA

February 5th, 2020 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

KATA SENILAI ISI DUNIA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: www.123rf.com

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan perbuatan yang baik, dan berkata, “Sungguh aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fussilat [41]: 33).

Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menjelaskan kecintaan-Nya kepada orang yang istiqamah, yaitu tangguh keimanannya, tidak goyah ketika menghadapi godaan seberat apapun. Sebagai bukti kecintaan-Nya, Allah menyuruh para malaikat turun dari langit untuk memberi solusi masalah dan menghiburnya. Sebagai kelanjutan, ayat ini menjelaskan bahwa orang yang istiqamah tidak hanya berpikir tentang dirinya, tapi juga tentang keimanan orang di sekitarnya. Ia tiada henti mengajak semua orang untuk tunduk dan patuh kepada Allah. Kata yang berisi ajakan kebaikan itulah yang paling pantas diucapkan atau didengarkan, dan paling tinggi nilainya di hadapan Allah.

Paling sedikit ada tiga ayat yang terkait dengan ayat ini. Pertama, ayat yang memerintahkan kita untuk menjadi komunitas terbaik (khairu ummah), yaitu orang-orang yang bersemangat memerintahkan kebaikan, mencegah perbuatan dosa, dan menguatkan keimanan diri (QS. Ali Imran [3]: 110). Kedua, ayat tentang perintah mengajak manusia dengan cara yang bijaksana, nasihat yang menyejukkan, dan bertukar pikiran yang sehat dan produktif (QS. An Nahl [16: 125). Ketiga, ayat yang tersirat di dalamnya perintah untuk mengajarkan Alquran dengan cara yang bijaksana (QS. Yasin [36]: 1).  

Adapun hadis yang memperjelas ayat ini adalah sabda Nabi SAW,

عَنْ اَبِى مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ ابْنِ عَمْرٍو الْأَنْصَارِىِّ الْبَدْرِىِّ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ اَجْرِ فَاعِلِهِ رواه مسلم

Barangsiapa menunjukkan kebaikan, maka ia mendapat pahala  yang sama dengan pahala orang yang melakukan kebaikan itu” (HR. Muslim dari Abi Mas’ud, Uqbah bin ‘Amr Al Anshari r.a).

Sebaliknya, apakah orang yang melakukan dosa mendapat dosa yang sama dengan orang meniru dosanya? Nabi SAW menjelaskan, “Barangsiapa mengajak kepada petunjuk (kebenaran), maka ia mendapat pahala seperti sejumlah pahala orang yang mengerjakannya, tanpa dikurangi sedikitpun pahala mereka. Dan, barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan (dosa), maka ia mendapat dosa seperti dosa orang yang melakukannya, tanpa sedikitpun dikurangi dosa-dosa mereka” (HR Muslim dari Abu Hurairah r.a).

Nabi SAW pernah kedatangan seorang sahabat yang bernama Hazanan. Mendengar nama itu, Nabi menyarankan untuk mengganti nama Hazanan, yang artinya kesedihan, dengan nama baru, Sahal, yang artinya kemudahan. Sahal bin Sa’ad As-Saa’idy r.a. lalu bercerita, bahwa pada hari-hari sebelum atau sesudah perang Khaibar, Nabi memberitahu para sahabat, “Besok, saya akan menyerahkan bendera perang (ar-raayah) kepada seseorang yang mencintai dan dicintai Allah dan Rasul-Nya. Dialah yang akan mengantarkan kemenangan perang nanti.

Pada malam harinya, para sahabat penasaran, siapa yang akan diserahi bendera itu. Pada esok harinya, para sahabat berdatangan ke rumah Nabi dengan harapan mereka yang mendapat tugas kehormatan itu. Ternyata, Nabi bertanya, “Di mana Ali bin Abi Thalib?” “Huwa yasytakii ‘ainayhi, ya Rasulallah (ia sakit mata, wahai Rasulullah),” jawab para sahabat. Nabi SAW meminta agar Ali menghadapnya. Ketika sampai di hadapan Nabi, beliau menyemprotkan sedikit air ludah ke mata Ali r.a, dan langsung sembuh, seolah-olah tidak sakit sama sekali sebelumnya. Setelah menerima bendera dari nabi, Ali r.a bertanya, “Apakah aku harus berperang sampai mereka (beragama) seperti kita?. Nabi menjawab, “Kerjakan dengan tenang sampai engkau memasuki wilayah mereka. Ajaklah mereka untuk Islam, dan beritahu semua kewajiban yang semuanya itu adalah hak Allah (untuk disembah). Nabi melanjutkan sabdanya,

فَوَاللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمُرِ النِّعَمِ

“Demi Allah, ajakanmu kepada kebaikan yang diikuti satu orang, lebih baik daripada ternak merah yang bagus (hasil rampasan perang)” (HR. Muttafaq ‘alaih). Artinya ajakan kebaikan itu lebih bernilai daripada dunia dan semua isinya.

Dalam kitab Tafsir Ruuhul Ma’any karya Al Aluusy dijelaskan, para muazin termasuk pengajak kebaikan sebagaimana disebut dalam ayat ini. Mereka memperoleh pahala sebanyak orang yang datang untuk shalat memenuhi panggilan tersebut. Menurut Abu Umamah, ayat ini juga memerintahkan shalat setelah azan, baik shalat wajib atau sunah. Menurut Al Aluusy juga, berdasarkan ayat ini, para penganjur kebaikan harus menjadi tauladan pengamalan kebaikan, harus susuai antara kata dan tindakan agar mendapat kepercayaan dan berwibawa di depan orang yang menerima ajakan.

Anas r.a bercerita, seorang pemuda dari suku Aslam melapor kepada Nabi bahwa ia ingin ikut berperang, tapi tak punya bekal. Maka Nabi menyuruhnya datang ke rumah sahabat yang batal ikut perang karena sakit. Setelah menyampaikan salam dari nabi, pemuda itu menjelaskan maksudnya. Tuan rumah langsung menyuruh istrinya untuk menyerahkan semua perbekalannya kepada tamu itu demi penyiaran Islam, sebab itulah sumber keberkahan (fayubaaraka laki fiihi). (HR Muslim).

Abdullah Yusuf Ali, penulis The Holy Qur’an mengatakan, berdasar ayat ini, maka ada tiga syarat agar sebuah kata paling pantas diucapkan. Pertama, kata itu bersumber dari Allah dan diucapkan bukan untuk kepentingan pribadi, tapi untuk kemuliaan semua orang . Kedua, kata yang diucapkan itu telah sesuai dengan tindakannya dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, kata itu cerminan dari keimanan yang mendalam. ”Itulah gambaran yang dahsyat tentang kepribadian Nabi SAW,” katanya.  

Untuk meraih kekayaan dunia ternyata tidak susah. Cukup berkata yang baik berupa ajakan kebaikan. Jadilah pemrakarsa kebaikan, sekecil apapun di lingkungan Anda masing-masing, dan jadilah teladan kebaikan itu. Anda juga harus menunjukkan rasa bangga sebagai muslim, sama sekali tidak minder di depan semua orang. Sekali lagi, jadilah penganjur kebaikan, sebab kita akan memetik pahala yang terus mengalir sepanjang masa. Itulah kata semulia nilai dunia dan isinya. Sebaliknya, jauhilah yang dilarang Allah, sebab ia akan menjadi sumber aliran dosa sepanjang masa, jika ada orang yang menirunya. 

Referensi: (1) An Nawawi, Riyadus Sholihin Juz I, p. 180; (2) As Shiddiqy, Dalilul Falihin  Juz I, p. 336. (3) Mahmud Al Aluusy Al Baghdaady, Ruuhul Ma’aany Fii Tafsiiril Qur-aanil ‘Adhiim Was Sab’il Matsaany, Dar Ihya at Turats Al ‘Araby, Beirut, Libanon tt, p. 122. (4) ) Abdullah Yusuf Ali, The Holy Qur’an, Dar Al Arabia, Beirut, Lebanon, tt, p. 200, p. 1296.

MENJADI SEWANGI NABI

December 31st, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

MENJADI SEWANGI NABI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://dianlatifani.blogspot.com

مُّحَمَّدٞ رَّسُولُ ٱللَّهِۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡۖ تَرَىٰهُمۡ رُكَّعٗا سُجَّدٗا يَبۡتَغُونَ فَضۡلٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٗاۖ سِيمَاهُمۡ فِي وُجُوهِهِم مِّنۡ أَثَرِ ٱلسُّجُودِۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِۚ وَمَثَلُهُمۡ فِي ٱلۡإِنجِيلِ كَزَرۡعٍ أَخۡرَجَ شَطۡ‍َٔهُۥ فَ‍َٔازَرَهُۥ فَٱسۡتَغۡلَظَ فَٱسۡتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِۦ يُعۡجِبُ ٱلزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ ٱلۡكُفَّارَۗ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِنۡهُم مَّغۡفِرَةٗ وَأَجۡرًا عَظِيمَۢا

“Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengannya keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat. Dan sifat-sifat mereka dalam Injil adalah seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, dan tunas itu menjadikan tanaman tersebut kuat, lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, sehingga Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan perbuatan baik di antara mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS. Al Fath [48]:29)

                Pada ayat sebelumnya, Allah membuktikan kebenaran mimpi Nabi tentang keberhasilannya memasuki Mekah yang telah lama diinginkan. Sebagai kelanjutan, ayat ini menjelaskan karakter orang-orang yang menyertai perjuangan Nabi memasuki kota suci tersebut.

                Allah memberi pujian kepada Nabi sebagai utusan-Nya yang berhasil membentuk para pengikutnya berakhlak sewangi dirinya dengan lima karakter. Pertama, kuat dan tegas dalam keimanan, tidak berkompromi dalam keyakinan agama, meskipun terhadap keluarga sendiri. Tapi, ketegasan keimanan tersebut sama sekali tidak mengurangi sikap hormat terhadap penganut agama lain, sebagaimana difirmankan Allah, “Katakanlah, “wahai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, dan aku tidak menjadi penyembah yang kamu sembah. (Sekali lagi), kamu tidak akan menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al Kafirun [09]: 1-6).

Allah memerintahkan kita untuk hormat kepada keyakinan non-muslim, sebab Allah telah merancang bumi ini dengan penghuni yang beraneka budaya dan penganut agama. Allah SWT berfirman, “Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah semua orang yang di muka bumi seluruhnya beriman (kepada-Nya). Maka, apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? (QS. Yunus [10]:99). Bahkan kita dipersilakan untuk bekerjasama dengan non-muslim selama tidak merusak keimanan kita. Allah berfirman, ”Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sungguh Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al Mumtahanah [60]: 8). Itulah sebabnya, Allah tidak menegur Nabi SAW ketika bekerjasama dengan tokoh kafir, Abu Thalib, yang tidak lain adalah pamannya sendiri, dalam perjuangan dakwah di kota Mekah.

Hamka menyatakan, ”Masyarakat muslim selalu lunak dalam pergaulan, tapi kokoh dalam keimanan. Orang beradab pasti menghargai kepercayaan orang lain, walaupun kepercayaan itu sama sekali tidak sesuai dengan akal sehat.” Quraish Shihab mengatakan, sikap keras umat Islam terhadap orang kafir ini berlaku dalam peperangan, sedangkan terhadap sesama muslim adalah ketegasan dalam penegakan hukuman terhadap pezina, pencuri, dan sebagainya (QS. An Nur [24]: 2).

Kedua, kasih sayang sesama muslim tanpa membedakan etnis, warna kulit, pendidikan, dan status sosial mereka. Umat Islam telah mendapat doktrin Nabi  bahwa kesatuan mereka adalah laksana satu tubuh atau satu bangunan, yang saling menguatkan, bukan saling menyakiti dan meruntuhkan. Mereka seperti orang yang berkaca di depan cermin: sama-sama tersenyum ketika tersenyum, dan sama-sama menangis ketika menangis. Ketiga, mencitrakan diri sebagai komunitas yang seirama dalam beribadah dan serasa dalam kehidupan bersama. Rukuk dan sujud dalam shalat berjamaah adalah penggambaran kemauan dan kebersamaan dalam perjuangan menuju kemuliaan akhlak.

Keempat, ikhlas semata-mata mengharap ridho Allah dalam semua tindakan, sama sekali tidak mengharap apresiasi manusia. Pengikut nabi itu bagaikan akar pohon yang tidak kecewa, apalagi iri hati dengan daun dan buah yang selalu mendapat sanjungan, meskipun akarlah yang memasok makanan untuk daun dan buah tersebut.

Kelima, tutur kata dan tindakannya selalu benar dan menyenangkan orang sebagai pengaruh atas sujudnya kepada Allah. Sayyid Qutb mengatakan,

لَيْسَتْ هَذِهِ السِّيْمَاالنُّكْتَةَ فِى الوَجْهِ وَاَثَارُ السُّجُوْدِ هُوَ اَثَارُ الْعِبَادَةِ

“Tanda keimanan bukan bekas hitam di wajah. Yang dimaksud bekas sujud adalah pengaruh ibadah dalam kehidupan.”

Al Biqa’i mengatakan, “Bekas sujud seorang muslim sejatinya adalah sebuah kharisma, kekaguman, kehormatan, dan magnit kebaikan bagi orang lain.”

Orang bijak berkata,

اِنَّ لِلْحَسَنَةِ نُوْرًا فِى الْقَلْبِ وَضِيَاءً فِى الْوَجْهِ وَسَعَةً فِى الرِّزْقِ وَمَحَبَّةً فِى قُلُوْبِ النَّاسِ

“Semua kebaikan menghasilkan sinar di hati, cahaya di wajah, kemudahan memperoleh rizki, dan simpati manusia).”  

Umar r.a berkata,

مَنْ اَصْلَحَ سَرِيْرَتَهُ اَصْلَحَ اللهُ تَعَالَى عَلَانِيَتَهُ

“Siapa yang bersih hatinya, maka Allah akan mempercantik penampilannya.”

Abu Darda’ r.a pernah menjumpai orang yang terdapat bekas sujud di dahinya. Lalu, ia berkata, “Akan lebih baik bagimu, jika tidak ada bekas sujud di wajahmu agar engkau terjauh dari rasa bangga atas pujian orang.”

Semua karakter pengikut Nabi seperti di atas telah dijelaskan dalam Kitab Taurat. Oleh sebab itu, pengikut Nabi Musa tidak asing dengan berita itu. Kitab Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa juga menjelaskan bagaimana respon dunia kelak terhadap para pengikut Nabi, bahwa semakin hari semakin banyak orang yang bergabung dalam komunitas muslim yang besar dan kuat itu. Itulah yang membanggakan umat Islam, tapi juga membuat iri dan menjengkelkan beberapa non-muslim. Semoga pembaca menjadi generasi sewangi nabi setelah mempraktikkan pesan-pesan keharuman dalam ayat ini. (Surabaya, 14-4-2019).

Referensi: (1) Sayyid Quthb, Tafsir Fi  Dhilal Al Qur’an, Jilid 6, Dar Asy Syuruq, Beirut, Libanon, 1972. (2) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, vol 12, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 558-563 (3) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 26, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 174 (4)  Moh. Ali Aziz, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, UIN Sunan Ampel Press, Surabaya, 2015, cet. X, p. 181.