Header

Author Archives: admin_tsb

HIDUP ITU KOMA (2)

February 8th, 2013 | Posted by admin_tsb in Artikel - (7 Comments)

HIDUP ITU KOMA (2)

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Mungkinkah seorang pencuri menjadi kiai di kemudian hari? Masihkah bisa diharapkan seorang pemabuk berubah menjadi pemuka agama pada suatu saat? Jawabnya: sangat mungkin, karena hidup itu koma: belum titik. Dan itulah yang dibahas pada artikel sebelumnya. Sekarang sebaliknya. Bisakah pegiat agama berubah menjadi pezina? Mungkinkah seorang kiai berubah menjadi pencuri? Atau penyuluh agama berubah menjadi pembunuh sesama? Anda akan bisa menjawabnya sendiri setelah membaca kisah berikut ini.

Pada masa Bani Israil, hiduplah Barshisha, orang yang sangat populer keilmuan dan kesalehannya. Murid dan pengikut setianya mencapai 60.000 orang. Hampir semua mereka ini bisa terbang karena kehebatan ilmu dan spiritualnya. Apalagi kelebihan sang guru, Barshisha. Tidak hanya manusia, para malaikat juga amat kagum pada Barshisha. Tapi, Allah mengingatkan para malaikat, agar tidak tergesa-gesa menyanjungnya. “Jangan tergesa-gesa mengaguminya. Dengan ilmu-Ku, Aku Maha Mengetahui, apa yang tidak kalian ketahui,” kata Allah.

Pada suatu saat, Iblis mendatangi Barshisha untuk pura-pura berguru. Selama belajar, Iblis hanya beribadah, tidak makan dan minum sama sekali. Barshisha bertanya, ”Bagaimana kamu bisa beribadah sekian lama? Bagaimana pula kamu bisa menahan makan dan minum berhari-hari selama beribadah?. Saya telah beribadah bertahun-tahun, belum bisa melakukan seperti kamu”. Iblis menjawab, ”Saya beribadah begini karena saya telah banyak melakukan dosa. Saya bertobat secara sungguh-sungguh. Lakukan zina atau membunuh orang terlebih dahulu, lalu bertobatlah. Baru tuan bisa merasakan nikmatnya ibadah.”

Barshisha menolak disuruh berzina dan membunuh karena keduanya dosa besar. Tapi dengan kepandaian rayuan Iblis, akhrinya ia mau hanya meminum minuman keras. “Ya, itu dosa kecil, dan lebih mudah diampuni Allah, karena tidak menyangkut orang lain,” kata Iblis memberi dorongan. Setelah diberitahu tempat penjualan miras, Barshisha berangkat menuju kedai miras di sebuah desa dengan wanita cantik penjaganya. Setelah minum sedikit dan mabuk, ia amat terangsang dengan paras wanita itu, sampai terjadi pemerkosaan.

Sial. Ia kepergok oleh sang suami yang datang pada kejadian itu. Barshiha cepat mengambil keputusan untuk membunuhnya. Iblis bergembira karena Barshisha telah melakukan tiga dosa sekaligus: minum, zina dan membunuh.  Ia ditangkap dan dihukum mati. Di tiang gantungan, ia didatangi Iblis, ”Maukah kamu saya tolong agar lepas dari hukuman ini? Jika mau, segera pejamkan mata dan tundukkan kepala sejenak kepadaku.” Ketika ia melakukan perintah Iblis itu, ia menghembuskan nafas terakhir.

Hidup masih koma. Anda wajib bersyukur menjadi orang baik-baik sekarang berkat hidayah Allah. Tapi Anda harus ingat, hanya malaikatlah yang sudah titik: pasti baik selamanya, karena mereka tidak memiliki nafsu. “…dan (para malaikat itu) tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim [66]:7).

Hidup masih koma. Esok hari masih penuh spekulasi. Maka bacalah ihdinash shirathal mustaqim (Wahai Allah tunjukilah kami jalan yang lurus) dengan penuh penghayatan dalam setiap shalat. Baca juga doa, “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami” (QS. Ali Imran [3]: 8). Atau bacalah doa dari Rasulullah SAW, “Wahai Allah, sesungguhnya saya memohon hidayah, takwa, kelapangan, dan rasa cukup” (H.R. Muslim).

HIDUP ITU KOMA (1)

February 1st, 2013 | Posted by admin_tsb in Artikel - (7 Comments)

HIDUP ITU KOMA (1)

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Kata jijik dan muak itu soal biasa jika dialamatkan kepada makanan atau minuman.  Sebab selera manusia tidak sama dan tidak kenal logika. Orang Yaman mengatakan, “al-dzauq, la jidala fih” yang diterjemahkan orang Inggris, “The taste is undebateble”. Bisa saja makanan itu menjijikkan bagi Anda, tapi paling lezat bagi yang lain. Tapi jika kedua kata itu dialamatkan kepada seseorang, maka maknanya menjadi tidak biasa, karena berbau penghinaan untuk seseorang.

Setidaknya dua kali saya mendengar dua kata itu atau ungkapan semakna dari mulut teman saya. Keduanya terjadi di luar negeri. Saya tidak menyebut kasus serupa di dalam negeri, agar tidak ada pembaca yang tersinggung. Ketika saya diundang  untuk mengisi kajian Islam untuk komunitas santri Indonesia di London, saya merasa bangga dan takjub, bagaimana mereka bisa membangun kebersamaan dalam keimanan di tengah masyarakat acuh agama. Akan tetapi, ketika mengantar saya pulang, seorang panitia bercerita di atas bus bahwa  komunitas ini adalah khusus pecinta Allah dan Rasul. Semua peserta wajib berpakaian sopan dan tutup aurat bagi muslimah. Saya baru sadar kemudian, mengapa wanita tak berjilbab yang menyertai saya dalam kajian itu tidak memperoleh sambutan sehangat mereka yang berjilbab. Semula saya menduga hanya karena wanita itu belum akrab dengan mereka, tapi ternyata ada kesan lain yang melatarbelakanginya.

Pengalaman yang lain adalah ketika saya diajak petugas KJRI Hong Kong memberi pencerahan agama untuk komunitas BMI (Buruh Migran Indonedsia) di Taipo, sebuah kota kecil, kira-kira perjalanan satu jam dari pusat kota. Inilah komunitas khas: wadah kaum lesbi yang sedang bersuka ria menikmati hari libur Minggu di sebuah kedai. Saya mengajak masuk dua orang berjilbab yang menyertai saya, tapi mereka menolak. “Saya jijik dengan mereka, pak. Saya lebih enak di luar menunggu bapak,” katanya singkat sambil mengerutkan muka.

Dua pengalaman itu saya ingat kembali, setelah saya membaca  buku Warisan Para Aulia’ karya Fariduddin Al-Attar (p.102). Pada tahun 800an Masehi, hiduplah pemuda yang terkenal kaya,  Abu Nashr, Bisyri bin al Harits. Tiada hari lewat tanpa foya-foya dan minuman memabukkan. Suatu hari, ia berjalan terhuyung-huyung karena baru saja menenggak beberapa botol miras. Dalam perjalanan itu,  ia menemukan secarik kertas kusut bertuliskan bismillahirrahmanirrahim (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang). Ia membacanya dengan senyum bahagia. Dibacanya sampai berulang kali. Setelah mencium kertas temuannya itu, ia mengambil minyak mawar untuk dipercikkan di atasnya, lalu menyimpannya di tempat yang spesial.

Pada malam hari berikutnya, seorang syekh mendapat perintah dalam mimpinya, “Carilah seorang pemuda dengan ciri-ciri begini begitu, dan katakan, bahwa Allah telah mengharumkannya, karena ia telah mengharumkan nama-Nya. Allah juga memuliakannya karena ia telah memuliakan-Nya.”  Syekh itu terus penasaran, siapa dan di mana pemuda itu?.

Setelah dicari sekian hari, syekh berhasil menemukan pemuda dengan ciri-ciri yang disebutkan dalam mimpi. Tapi syekh ragu, karena ada bau miras menyengat dari mulut si pemuda. “Mungkinkah pemuda seperti ini di harumkan dan dimuliakan Allah?” tanya syekh dalam hati berkali-kali.  Untuk menghilangkan keraguan, syekh mengambil air wudlu dan shalat malam. Ternyata ia memperoleh mimpi yang sama. Sampai mimpi pada malam ketiga juga tidak berbeda, tetap mengisyaratkan pemuda dengan ciri-ciri semula.

Pagi buta, syekh berangkat menemui sang pemuda. Syekh kaget tidak kepalang,  pemuda itu ditemukan sedang berpesta miras anggur dengan rekan-rekannya. Pemuda itu menolak diajak bicara oleh syekh dan selalu menyebutnya salah sasaran. Akan tetapi, setelah syekh meyakinkan apa yang diperoleh dalam mimpinya, pemuda itu dengan senang hati mendengar petuahnya. “Anda orang terpilih. Allah mencium Anda, karena Anda mencium kertas bertuliskan nama-Nya. Anda dimuliakan Allah, karena Anda telah memerciki minyak mawar dan menempatkan kertas bertuliskan Kasih-Nya di tempat terhormat.” Begitulah kira-kira petuah sejuk syekh kepada pemuda yang sedang tidak beralas kaki saat itu.

Sentuhan kasih sang syekh itulah yang meluluhkan hati sang pemuda untuk bertobat. Ia lalu menandai tobatnya dengan mengatakan, “Mulai hari ini dan seterusnya, saya tidak akan memakai alas kaki, sebagai kenangan tanda awal pertobatan saya.” Mantan peminum miras itu kemudian bersungguh-sungguh belajar dan menjalankan agama, sampai ia dikukuhkan masyarakat sebagai salah satu syekh paling kharismatik di Irak. Dalam sebuah fatwanya, syekh mantan peminum itu,  Bisyr bin al-Harits, mengutip firman Allah, “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap…” (QS. Al Baqarah [2]:22).

“Mengapa saya tidak beralas kaki? Sebab aku merasa tidak pantas berjalan di atas permadani yang disiapkan sang raja,” katanya untuk menguatkan selamat tinggalnya kepada alas kaki, sekaligus menunjukkan analogi kesopanan yang maksimal kepada Allah SWT.

Hidup itu masih koma. Belum titik. Jika Anda jijik dan muak kepada seseorang atas perbuatan dosanya, Anda pasti lupa, bahwa esok hari masih ada kemungkinan ia menjadi orang baik. Ia tidak setan yang tidak mungkin berubah jadi makhluk yang baik. Anda juga lupa, Anda bukan malaikat yang tidak punya dosa dan tidak ada kemungkinan jadi mantan orang baik. Esok hari penuh spekulasi antara baik dan buruk. Apa kata dunia, dan di mana Anda akan menyembunyikan muka, jika suatu saat, orang yang Anda pandang menjijikkan itu bertobat dan menjadi orang saleh, melampaui kesalehan Anda. Wallau ‘almau bis shawab.

SHALAT BERSAMA MALAIKAT IZRAIL

January 25th, 2013 | Posted by admin_tsb in Artikel - (4 Comments)

SHALAT BERSAMA MALAIKAT IZRAIL

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Siapakah malaikat yang paling akrab dengan Anda? Tentu Malaikat Raqib dan Atid. Mereka berdua mengikuti ke manapaun Anda pergi dengan kamera canggih tajam gambar dan peka suara. Pori-pori Anda yang terkecil terekam olehnya. Anda masuk ke WC sekalipun, mereka tidak boleh ketinggalan. Lalu, siapa malaikat yang paling jarang Anda temui? Siapa lagi jika bukan Malaikat Izrail. Ia hanya datang ketika jatah hidup Anda sudah habis. Saya dan Anda berharap, malaikat pencabut nyawa itu datang, ketika kita sedang berjuang di medan pengembangan Islam, sedang menolong fakir miskin, sedang sujud shalat, atau sedang merasakan sakit di rumah sakit tapi hati tetap ikhlas, ridla dan tanpa mengeluh sedikitpun terhadap takdir Allah SWT.

Salah satu orang berbahagia dengan kematian seperti di atas adalah Bansor, pria berusia 50 tahun di kelurahan Wage Sidoarjo. Bapak dari empat orang anak ini hanya muslim sebentar ketika akad nikah, dan kembali ke agama semula tidak lama setelah pernikahan. Memasuki usia limapuluhan, ia mengidap tumor besar di leher. Semakin hari semakin membesar bersamaan dengan penyakit barunya: paru-paru basah. Pada tanggal 26 Desember 2012 yang lalu, ia meminta Ustad Suwita, ustad yang tinggal sekampung untuk membimbingnya masuk Islam.

Di depan anggota keluarga yang non-muslim, ia dibimbing sang ustad mengucapkan  syahadat sebagai ikrar masuk Islam. Anehnya, setiap kali mengucapkan syahadat, tenggorokan lelaki paruh baya itu selalu tersumbat. Matanya lalu tertuju ke tembok rumah dengan melotot dan membentak, “Siapa kamu?”. Ia tidak pernah menceritakan “siapa” yang dibentak di tembok rumahnya itu. Syahadat baru bisa diucapkan dengan lancar pada usaha ketiga kalinya. Pada hari-hari berikutnya, sesuai dengan permintaan, Ustad Suwita lalu mengajarkan bagaimana cara-cara shalat.

Pada hari keenam sebagai muslim, ustad Suwita mengajarkan Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia. Ustad mengajarkan isi buku itu agar ikhlas, ridla dan menghindari mengeluh terhadap penyakit tumornya. Ia diajari juga untuk menyerahkan segala penyakitnya kepada Allah khususnya dalam setiap rukuk dan sujud. Sehari sebelumnya, ustad muda yang sangat ikhlas mengajar terjemah Al Qur’an itu memang datang ke rumah dan minta diajari  isi dan praktek buku tersebut.

Ajaib, pada keesokan harinya, benjolan besar di leher mualaf itu mulai mengempis. Ia semakin yakin akan fungsi shalat dan dahsyatnya ridla dan pasrah dalam sujud untuk semua masalah. Akan tetapi, Allah menghendaki lain. Pada hari Selasa minggu pertama tahun 2013, ia dipanggil Allah SWT selamanya. Pada detik-detik akhir pemakaman, adik kandungnya juga mengikuti jejak sang kakak: meminta dibimbing masuk Islam. Sang isteri menangis histeris, “Oh Allah, puluhan tahun aku berjuang agar suamiku masuk Islam kembali dan mengerjakan shalat yang benar. Aku sangat sedih kehilangan kekasih dan tulang punggung rumah tangga. Tapi, aku bersyukur dan bangga, suamiku telah mati sebagai muslim. Aku haru menyaksikan jenazah suamiku sedang senyum seperti sedang berpamit manja kepadaku.”

Peristiwa di atas mengingatkan kita, bahwa jeritan doa seorang istri akan petunjuk Allah secara terus menerus dengan keyakinan akan pertolongan Allah, pasti dikabulkan oleh Allah. Tapi, pendoa perlu kesabaran ekstra. Maukah Anda bersabar menunggu jawaban doa sampai tiga puluh tahun seperti yang dialami istri Mas Bansor itu?

Setiap pemohon harus tunduk kepada kehendak Allah berupa jadual terpenuhinya permohonan. Kita harus sabar menunggu jawaban Allah. Jika sedikit saja ada perasaan terburu-buru, permohonan itu tidak akan dikabulkan Allah. Doa dengan harapan terkabulnya permohonan secara terburu-buru berarti mendikte Allah. Berarti pula ia bertindak sebagai manusia yang melebihi Maha Kuasanya Allah SWT. Seolah-olah ia memaksa Allah bertindak sesuai dengan kemauan kita.  Na’udzu billah min dzalik.   Nabi SAW bersabda, “Permohonan seorang di antara kalian akan dikabulkan Allah selama ia tidak tergesa-gesa dan berkata,”qad da’awtu rabbi, falam yastajib li /saya sudah berdoa kepada Tuhanku, tapi Tuhanku belum saja mengabulkannya)” (HR Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a).

Kedua, bagi siapapun yang sedang diberi ujian apapun oleh Allah, berusahalah sekuat tenaga untuk ikhlas menerimanya. Ketika Anda mengeluh, Anda sebenarnya sedang memprotes Allah. Keluhan tidak menyelesaikan masalah, bahkan menambah derita Anda. Anda merasakan dua lapis sakit: raga dan jiwa atau  fisik dan mental. Tidak hanya itu, jika ditakdirkan meninggal pada saat mengeluh, Anda berarti berjumpa dengan Tuhan yang Anda protes. Anda berjumpa dengan musuh Anda: Allah. Na’udzu billah. Tapi jika Anda sakit, tapi ikhlas, ridlo dan senang hati menerimanya, Anda beruntung karena sakit hanya satu sisi: fisik semata. Proses penyembuhan juga lebih cepat. Ada lagi bonus tertinggi, jika Anda meninggal dalam keadaan ikhlas dan ridlo atas takdir Allah, Anda berarti berjumpa dengan kekasih Anda: Allah. Dalam sujud terakhir menjelang kematian, malaikat Izrail sebenarnya sedang menunggu di sebelah Anda. Beberapa malaikat lain juga sedang menunggu membawa ruh yang harum yang keluar dari pribadi tumakninah:  sabar, ikhlas, ridlo dan pasrah itu ke langit tertinggi.

Almarhum pak Bansor baru seminggu menjadi muslim dan baru beberapa kali shalat, tapi dengan shalat yang singkat itu, ia telah berprestasi: mati dengan membawa jiwa tumakninah. Saya yakin, di langit tertinggi para malaikat berebut,  “Aku sajalah yang mengantar ruh harum Bansor ke singgasana Allah.” Saatnya, saya dan Anda berjuang menguatkan jiwa sabar, ikhlas, ridlo dan pasrah melalui ruku dan sujud yang lebih lama dari kebiasaan sekarang.