Header

Author Archives: admin_tsb

DERITA DUSTA

October 5th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

DERITA DUSTA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang jujur” (QS. At Taubah [9]: 119).

            Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menceritakan tiga sahabat Nabi dengan sifat yang berbeda. Dua orang dari mereka berkata jujur dengan risiko dikucilkan oleh lingkungannya beberapa waktu, dan seorang lainnya berbohong, sehingga ia aman dari sanksi sosial saat itu. Sebagai kelanjutan, ayat di atas memerintahkan kita untuk meniru orang yang jujur, sebab itulah tanda utama ketakwaan. Al Imam Ibnu Qayyim berkata, “Jujur adalah ciri pembeda antara munafik dan mukmin, atau antara penghuni surga dan neraka.”

Secara garis besar, ada tiga macam manusia. Pertama, muslim atau mukmin, yaitu orang yang percaya kepada Allah dan menjalankan semua perintah-Nya. Kedua, munafik, yaitu orang yang tidak beriman, tapi mengaku beriman; atau beriman, tapi berbohong. Ketiga, kafir, yaitu orang yang tidak percaya kepada Allah. Ketiga kelompok tersebut dijadikan nama-nama surat Alquran, yaitu al Mukminun, al Kafirun, dan al Munafiqun.

Orang kafir pasti mendapat hukuman, dan hukuman yang lebih berat diberikan kepada orang kafir yang berpura-pura mukmin. Sebab, ia melakukan dosa yang berlipat, yaitu tidak beriman kepada Allah dan menipu orang dengan berpura-pura mukmin. Mereka itulah yang mendapat ancaman berat dari Allah, “Sungguh orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka, dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.”

Hukuman Allah juga berlaku untuk orang yang berdosa, dan hukuman itu pasti lebih berat bagi pendosa yang tidak mengakui dosanya, bahkan bergaya seperti orang suci dan memandang kotor orang lain. Hukuman berat itu diberikan, sebab ia durhaka kepada Allah, dan tidak mengakui dosanya, serta bergaya seperti orang suci dan merendahkan orang.

Siapapun yang berdosa sebaiknya segera mengakui dosanya kepada Allah dan kepada penegak hukum. Jangan berputar-putar menghindar dari hukuman dengan retorika, sandiwara, dan rekayasa, sebab itulah dosa yang bertumpuk, yaitu berdosa kepada Allah, kepada publik, dan menyulitkan penegak hukum.

Paling sedikit, ada tiga tanda kemunafikan. Pertama, berdusta kepada seseorang. Jika seseorang berdusta kepada banyak orang, termasuk melalui media sosial, maka dosanya semakin besar. Kedua, mengingkari janji kepada Allah, kepada istri, suami, anak, orang tua, pembantu rumah tangga, dan masyarakat luas. Ingkar janji merupakan dosa, dan dosanya akan lebih besar jika ia pemimpin jutaan orang. Wahai calon pemimpin dan calon wakil rakyat! Jangan hanya demi meraih popularitas dan simpati, Anda mengobral janji-janji yang tidak realistis.   

Ketiga, tidak menjalankan amanah atau kepercayaan yang dibebankan di pundaknya. Termasuk dalam kategori ini adalah pegawai atau karyawan yang tidak serius menjalankan tugasnya, dan anggota legislatif yang tidak hadir pada sidang pembuatan undang-undang. Atau ia hadir, tapi tidak serius mengikutinya. Juga pemimpin rakyat yang lebih fokus mengurus partai, keluarga, para pendukung dan tim suksesnya, daripada mengurus rakyatnya.

Berdasar hadis riwayat Imam Al Bukhari dari Abdullah bin Umar r.a, tanda kemunafikan lainnya adalah, wa idzaa khaashama fajara, artinya ketika konflik dengan seseorang, ia tidak berbicara obyektif, bahkan membesar-besarkan kekurangan lawan konfliknya. Kesalahan kecil orang yang sedang konflik dengannya, atau menjadi pesaing dalam ekonomi atau politiknya dibesar-besarkan (blow up), bahkan melakukan rekayasa jahat untuk menjatuhkan nama baik yang bersangkutan. Nabi SAW mengajarkan kita untuk berdoa, “Wahai Allah, bantulah aku untuk berbicara benar ketika senang ataupun sedang marah dengan orang.”

Ada juga ciri munafik yang tidak banyak diketahui orang, yang disebut Allah dalam Surat An Nisa’ ayat 142, “Sungguh orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (pamer dan meminta pujian) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka berzikir menyebut Allah kecuali sangat sedikit.”

Berdasar ayat ini, salah satu tanda kemunafikan adalah menunda-nunda waktu shalat, atau mengerjakannya tanpa semangat dan penghayatan. Orang yang mengharap dipuji masyarakat sebagai orang saleh, dermawan, pejuang, dan pujian-pujian lainnya juga tanda yang terang benderang bahwa dia orang munafik. Demikian juga orang yang jarang menyebut nama Allah, lebih sering berbicara tentang hal-hal yang tidak ada gunanya atau tentang kekurangan orang lain. Nama Allah hanya dipanggil ketika ia menghadapi kesulitan ekonomi, kesehatan, keluarga, dan sebagainya. Jika semua sifat kemunafikan tersebut lengkap ada pada Anda, maka Anda munafik tulen atau munafik kelas berat. Dan, jika hanya satu atau dua sifat, maka Anda munafik kelas ringan.

Hanya Allah yang mengetahui apakah Anda muslim, munafik, atau kafir. Juga hanya Anda dan Allah yang tahu apakah Anda munafik kelas berat atau ringan, munafik tulen atau semi munafik. Alat-alat monitor pengukur tekanan darah dan pernapasan, alat pendeteksi suara, pendeteksi retina mata, hingga pemindai otak tidaklah selalu akurat membuktikan kebohongan orang.

Sekalipun Anda merasa berhasil menutupi kebohongan, sebenarnya oleh ahli piskologi, ekspresi kebohongan Anda itu terbaca. Ketika Anda berbohong, Anda akan terlihat gugup, karena khawatir kebohongan itu terbongkar. Ekspresi wajah Anda juga terlihat janggal, mulai dari senyum yang dipaksakan, kontak mata yang selalu dihindari, bahkan sesekali memalingkan wajah. Anda juga terlihat berlebihan dalam meyakinkan orang, misalnya dengan banyak bersumpah atau bahasa-bahasa agama lainnya. Kata orang bijak, “People can lie with their words, but not with their eyes / orang bisa berbohong dengan kata, tapi tidak akan bisa dengan mata;” “Jujur itu sakit, tapi lebih sakit ketika kebohongan itu terungkap;” “Sekecil apapun sebuah dusta, pasti akan ada balasannya;” “Sekali engkau berbohong, sejuta kejujuranmu diragukan orang,” dan “Kebohongan itu menyenangkanmu sesaat, tapi menyusahkanmu sampai kiamat.”

Imam Ibnul Mubarak berkata, “Dusta menjadikanmu menderita. Engkau akan lelah dan tersiksa, terus menerus waswas dan takut dustamu terbuka. Hiduplah dengan jujur apa adanya, agar batinmu bebas, dan langkahmu ringan.”

Surabaya, 25 Pebruari 2019

 Referensi: (1) Muhammad Ali As Shabuuny, Shafwatut Tafaasiir, Juz 1, Darul Qur-aanil Kariim, Beirut, 1402 H/1981 M, Cet. IV, p. 567, (2) Al Sya’rani, Abdul Wahhab, Tanbih Al Mughtarrin, penyadur: W. Wikarta: Jalan-jalan Surga, Akhlak dan Ibadah Pembuka Pintu Surga, Mizania, Bandung 2017, cet.1.

LISAN SAUL, QALBUN AQUL

August 29th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

LISAN SAUL, QALBUN AQUL
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: https://www.huffpost.com/entry/asking-questions-is-really-hard

“Kami tiada mengutus para rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Anbiyak [21]:07)

            Pada ayat-ayat sebelumya dijelaskan tentang penolakan orang kafir terhadap kepemimpinan Nabi SAW karena ia manusia biasa, bukan malaikat. Sebagai kelanjutan, ayat di atas menegaskan bahwa memang benar Nabi SAW dan semua nabi sebelumnya adalah manusia biasa, berjenis kelamin lelaki yang mendapat wahyu dari Allah. Jika masih meragukan penegasan itu, maka Allah menyuruh mereka bertanya kepada ahli kitab Injil dan Taurat, para pemuka agama Kristen dan Yahudi.

Inilah ayat yang menegaskan keleluasaan bagi kita mencari ilmu dan banyak bertanya kepada para ahli, meskipun berbeda agama dengan kita. Abdullah bin Abbas r.a adalah orang yang mempraktikkan ayat ini. Ia mengunjungi para sahabat senior untuk mendapatkan ilmu, bahkan seringkali tertidur di depan rumah mereka. ”Wahai keponakan Rasulullah SAW, mestinya saya yang mengunjungimu,” kata mereka. Sahabat Mughirah r.a  bercerita, Ibnu Abbas pernah ditanya:

كَيْفَ أَصَبْتَ هَذَا الْعِلْمَ؟ قَالَ بِلِسَانٍ سَئُوْلٍ وقَلْبٍ عَقُولٍ

“Bagaimana engkau bisa mendapatkan ilmu sebanyak itu?  Ia menjawab, “Bi lisaanin sa-uul, waqalbin ‘aquul” (dengan lisan yang banyak bertanya, dan otak yang terus berpikir).”  (HR. Ahmad 2/970)

Putra paman Nabi yang lebih sering dipanggil Ibnu Abbas ini sejak kecil mendapat ilmu dan nasihat-nasihat yang amat dalam dan berbobot dari Nabi. Beliau juga mendoakannya, ”Wahai Allah, berikan anak ini  keahlian dalam agama-Mu, dan ajarilah ia tafsir kitab suci-Mu.” Berkat doa Nabi dan kegigihannya dalam mencari ilmu itulah, Ibnu Abbas  mendapat julukan ”Hibrul Ummah” (tinta manusia), dan ”Al Bahru” (samudera ilmu) dalam ilmu Alquran.

            Pada masa pemerintahan Umar r.a, ia sering diminta pendapat dalam banyak hal, padahal di sekelilingnya banyak sahabat veteran perang Badar yang lebih senior. Umar r.a memberinya julukan ”Pemuda Tua,” karena terlalu pintar untuk ukuran anak seusianya. Sedangkan pada masa Usman r.a, ia mendapat tugas mengembangkan dakwah di Afrika Utara. Adapun pada masa Ali r.a, ia mendapat kepercayaan untuk memberi pencerahan kelompok Khawarij, dan berhasil memengaruhi 15.000 orang dari mereka untuk kembali ke jalan yang benar.

Siapapun yang ingin menjadi orang cendekia, ia harus mengikuti dua cara yang dinasihatkan oleh Ibnu Abbas r.a. Pertama, lisaanun-sauul, yaitu lisan yang banyak bertanya.  Silakan membuat pertanyaan sendiri tentang sesuatu masalah, lalu cailah jawabannya di buku-buku, atau bertanyalah kepada para ahli sesuai dengan bidangnya. Jika pertanyaan disampaikan dalam ruang kelas, diskusi, seminar dan sebagainya, Anda harus lebih berhati-hati mengajukannya, sebab didengar banyak orang. Ingat, pertanyaan yang baik mencerminkan kualitas dan kepribadian, yang selanjutnya ikut menentukan karir Anda, dan nama baik organisasi Anda. Pertanyaan yang berkualitas juga menentukan bagaimana respon narasumber dan semua peserta diskusi. Bahkan, pertanyaan yang baik akan diabadikan dalam dokumen penting. Elon Musk, seorang pebisnis dan pakar teknologi dari Amerika mengaku bisa menguasai ilmu roket berkat kegemarannya membaca dan banyak bertanya.

Ada sembilan kiat bertanya yang baik, yaitu (1) gunakan bahasa yang baku, singkat, dan  mudah dipaham, (2) sampaikan dengan suara yang jelas, (3) berbicaralah ketika Anda telah diberi kesempatan, jangan menyela pembicaraan orang, (4) hindari pertanyaan yang secara umum mudah dicari jawabannya, termasuk dari internet, (5) hindari pertanyaan yang menggiring narasumber pada suatu posisi yang tidak diinginkan, (6) hindari berprilaku agresif atau membuat narasumber merasa tidak nyaman mendengarnya, (7) pelajarilah topik masalah secara mendalam dari berbagai perspektif sebelum bertanya, atau lebih baik lagi, sebelum memasuki ruangan, (8) berikan apresiasi atas pengetahuan baru yang telah Anda peroleh dari narasumber sebelum bertanya, dan (9) bertanyalah tentang hal-hal yang kurang Anda pahami, tentang pendapat pribadi narasumber, atau sanggahan atas pendapatnya.   

Kedua, qalbun ‘aquul yaitu otak yang terus berpikir. Otak yang tajam hanyalah otak yang selalu diasah, sebagaimana menajamkan pisau dengan menggosoknya berulang-ulang pada alat pengasah. Alquran mendorong kita untuk berpikir kritis. Oleh sebab itu, kita harus memiliki keingintahuan intelektual (intellectual curiosity) yang tinggi tentang suatu masalah, dan secara tekun memaksimalkan waktu, tenaga dan motivasi untuk mencari jawabannya. Akan lebih produktif otak kita, jika tidak hanya berpikir kritis, tapi juga kreatif.

Ada sembilan cara berpikir kritis, yaitu (1) buatlah asumsi tentang suatu masalah, lalu berdasar asumsi itu, pikirkan jawabannya secara obyektif. Jangan terpangaruh emosi yang cenderung merusak obyektivitas Anda, (2) berpikirlah lebih maju daripada orang lain, (3) gunakan data yang valid untuk pijakan berpikir, (4) jangan takut hasil pikiran Anda ditertawai orang, (5) perbanyak membaca buku-buku berkualitas yang terkait dengan masalah yang sedang dipikirkan, (6) berpikirlah secara mendalam, bahkan out of the box, dan jangan terpengaruh pikiran kelompok, atau mainstream, (7) hargai semua pendapat yang berbeda, (8) tingkatkan fungsi otak dengan tiga cara, yaitu berfikir selama 30 menit setiap hari, berolah raga, dan mengonsumsi makanan yang menguatkan otak, (8) belajarlah kepada sebanyak mungkin orang tanpa melihat status sosialnya. Ibnu Samak berkata, ”Jika engkau tidak mau belajar kepada orang yang lebih rendah, engkau semakin congkak dan kehilangan ilmu darinya.” Syekh Abdus Salam juga berkata, ”Tanda tawadhuk adalah senang mendapat nasihat dari orang yang lebih rendah dan berguru kepadanya.”

Selamat berjuang menjadi manusia cendekia dengan B2 (bertanya dan berpikir) atau lisaan sa-ul dan qalbun ’aqul.

Sumber: (1) Muhammad bin Ali bin Muhammad As Syaukaany, Juz 13, Fat-hul Qadiir, Lajnah Lit Tahqiiq Wal Buhuths Al ‘Ilmy Bi Daaril Wafaa-i, tt p. 546 (2) Hepi Andi Bastomi, 101 Sahabat Nabi, Pustaka Al Kautsar, Jakarta Timur, 2004, 15-18. (3) Al Sya’rani, Abdul Wahhab, Tanbih Al Mughtarrin, penyadur: W. Wikarta: Jalan-jalan Surga, Akhlak dan Ibadah Pembuka Pintu Surga, Mizania, Bandung, 2017, Cet. 1

KONSENTRASI PADA HAK-HAK ILAHI

July 16th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

KONSENTRASI PADA HAK-HAK ILAHI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

 “Hanya kepada-Mu, kami menyembah, dan hanya kepada-Mu pula kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah [01]: 5).

Inilah firman Allah paling populer yang menjelaskan hak-hak Allah dan hak-hak manusia. Istilah hak selalu terkait dengan kewajiban. Artinya, adanya hak seseorang berarti adanya kewajiban pihak lain untuk memenuhinya. Demikian juga sebaliknya, adanya kewajiban seseorang berarti adanya hak bagi pihak lain yang harus dipenuhi. Akan tetapi, ketentuan itu tidak berlaku dalam hubungan antara  manusia dan Allah. Hak-hak Allah melahirkan kewajiban manusia, akan tetapi hak-hak manusia tidak mendatangkan kewajiban bagi Allah, karena manusia sebagai makhluk tidak berhak menuntut kewajiban dari Allah, Tuhan yang menciptakannya. Meskipun tidak ada yang berhak menuntut kewajiban dari Allah, tapi Allah telah menjamin pelaksanaan ”kewajiban-Nya” dan tidak akan mengurangi sedikitpun hak-hak hamba-Nya, ”Dan Aku sekali-kali tidak akan berbuat zalim kepada hamba-hamba-Ku” (QS. Qaf [50]: 27-29). Allah juga menegaskan dalam hadis Qudsi, ”Sunguh Aku mengharamkan diri-Ku untuk berbuat zalim.”

Allah tidak hanya menunjukkan keadilan-Nya terhadap manusia, tapi juga kemurahan-Nya yang melimpah, antara lain dengan memberikan hak hidup manusia dan pemenuhan semua kebutuhannya, meskipun orang itu mengingkari Allah, ataupun orang itu belum melakukan penyembahan apapun kepada-Nya, misalnya, si bayi. Anda bisa memperhatikan sejumlah ayat Al Qur-an tentang bagaimana Allah melaksanakan ”kewajiban-Nya” kepada manusia sebelum memerintahkan penyembahan kepada-Nya. Antara lain, dalam surat Al Kautsar,

”Sungguh Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah” (QS. Al Kautsar [108]: 1-2).   

Dalam surat Al Waqi’ah juga dijelaskan macam-macam pemberian Allah kepada manusia, ”Maka terangkanlah (kepadaKu) tentang (tumbuhan) yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkannya?. Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan tanaman itu hancur dan kering, maka  kamu menjadi heran dan tercengang, (sambil berkata), “Sungguh kami benar-benar menderita kerugian, bahkan kami menjadi orang-orang yang tidak mendapat hasil apapun. Maka terangkanlah  (kepada-Ku) tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kami yang menurunkannya?. Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan ia asin. Mengapakah kamu tidak bersyukur? Maka terangkanlah  (kepada-Ku) tentang api yang kamu nyalakan (dengan menggosok-gosokkan kayu). Kamukah yang menjadikan kayu itu atau kami yang menjadikannya? Kami jadikan api itu untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu  Yang Maha Besar” (QS. Al Waqi’ah [56]: 63-74).

Pemberian Allah kepada manusia tidak hanya bersifat fisik, tapi juga non-fisik, yaitu menjaganya, merawatnya, mengambil-alih kesulitan yang dihadapinya, menutupi dan mengampuni dosa-dosanya, memberi kekuatan untuk melakukan kebaikan, dan yang tak kalah pentingnya, memberi kekuatan untuk melawan setan, karena tanpa bantan Allah, manusia tidak akan mampu mengalahkannya, sebagaimana firman Allah,  

”Sungguh (wahai) hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka (setan-setan) dan cukuplah Tuhanmu sebagai Pelindung”  (QS. Al Isra’[17]: 65). Nabi Yusuf a.s pun tidak mampu melawan nafsu syahwatnya menghadapi godaan wanita cantik dan kaya-raya, Zulaikha, seandainya tidak dibantu Allah, sebagaimana diceritakan Allah,  

وَلَقَدۡ هَمَّتۡ بِهِۦۖ وَهَمَّ بِهَا لَوۡلَآ أَن رَّءَا بُرۡهَٰنَ رَبِّهِۦۚ كَذَٰلِكَ لِنَصۡرِفَ عَنۡهُ ٱلسُّوٓءَ وَٱلۡفَحۡشَآءَۚ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُخۡلَصِينَ

“Sungguh wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami menjauhkannya dari kejelekan dan kekejian (zina). Sungguh Yusuf termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf [12]: 24).

Secara garis besar, ada dua macam hak Allah yang harus dipenuhi manusia, yaitu, pertama,  mengimani eksistensi-Nya beserta sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Kedua, berupa tindakan nyata yaitu menunaikan shalat, puasa Ramadhan, mengeluarkan zakat, berhaji, dan menjalankan semura perintah-Nya. Manusia harus memenuhi hak-hak Allah sebelum menuntut haknya untuk dikabulkan doa-doanya. Allah berfirman dalam hadis qudsi,

لَسْتُ بِنَاظِرٍ فِى حَقِّ عَبْدِى حَتَّى يَنْظُرَ فِى حَقِّى (رواه الطبرانى)

Aku tidak akan memberikan hak hamba-Ku sebelum ia menunaikan hak-Ku. (HR. Thabarani dari Ibnu Abbas ra).

            Allah SWT akan lebih mencintai orang yang mendepankan hak-hak Allah berupa shalat, puasa, zakat, haji, berzikir, membaca Al Qur’an, bertawakal, dan semua bentuk penyembahan lainnya kepada Allah daripada orang yang menuntut haknya untuk dikabulkan doanya oleh Allah. Allah SWT berfirman,  

               عَنْ اَبِى سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ يَقُوْلُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ مَنْ شَغَلَهُ الْقُرْأَنُ وَذِكْرِي عَنْ مَسْأَلَتِى أَعْطَيْتُهُ اَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِيْنَ وَفَضْلُ كَلَامِ اللهِ عَلَى سَا ئِرِ الْكَلَامِ كَفَضْلِ اللهِ عَلَى خَلْقِهِ رواه الترمذي

Abu Said Al Khudry r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda, Allah ‘Azza Wajalla berfirman, “Barangsiapa sibuk membaca Al Qur’an dan berdzikir sampai tidak sempat mengajukan permohonan kepada-Ku, maka Aku akan memberinya anugerah yang lebih berharga daripada yang Aku berikan kepada para pemohon. Ketahuilah, nilai kalam Allah lebih tinggi dari semua perkataan makhluk seperti ketinggian Allah dibanding makhluk-Nya (HR. Al Turmudzi).

Sungguh, Allah memenuhi hak-hak manusia lebih banyak daripada manusia itu sendiri memenuhi hak-hak Allah SWT. Saatnya, Anda berkonsentrasi kepada hak-hak ilahi dengan memuji dan menyembah-Nya. Semakin besar konsentrasi Anda untuk memuji-Nya, semakin banyak nikmat Allah yang Anda diterima, meskipun Anda tidak sempat memintanya.

Surabaya, 03/12/2018

Referensi: (1) Ali Usman dkk, Hadits Qudsi, Penerbit CV Diponegoro,  Bandung, 1979. P. 3219-322; (2) Muhammad ‘Awwaamah, Minas Shihah Al Ahadits Al Qudsiyyah: Mi’ah Hadits Qudsi Ma’a Syarhiha (Seratus Syarah Hadis Qudsi), Noura Books, Jakarta Selatan 2013, p. 446-449).