Header

Author Archives: admin_tsb

ALLAHUMMA JUNK FOOD

October 20th, 2012 | Posted by admin_tsb in Artikel - (2 Comments)

ALLAHUMMA JUNK FOOD

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

            Baru kali ini, saya menghadiri pelepasan jamaah haji, 12 Oktober 2012 dengan ribuan pengunjung. “Rombongan Haji Sabar” Kalibokor Surabaya dengan pembimbing Abah Rahman itu juga menghadirkan puluhan kiai yang diminta duduk berbaris di panggung kehormatan menghadap pengunjung.  Bagi Anda yang tidak biasa dalam komunitas tahlil dan istighatsah pasti heran dan mungkin tidak sabar mengikuti urutan acara pada malam itu. Tapi mereka yang sudah terbiasa, justru memperoleh kenikmatan dan kesyahduan.

Saya menyaksikan betapa riang wajah pengunjung menikmati suara “penerbang” hadrah dengan pasukan “tepuk khas” shalawatnya, sekalipun harus berdiri lebih dari 45 menit. Sesekali terdengar suara melengking komando “liar” shalawat dari barisan belakang, dan semua pengunjung  merespon shalawat itu dengan sedikit menggoyang badan ke kanan dan kiri. Sungguh mereka menikmati shalawat bersama itu, sekalipun tidak semua memahami maknanya. Inilah salah satu bentuk ekspressi cinta Rasul.

Bagi yang belum terbiasa, semakin tidak bersabar ketika harus mendengar 12 kiai berdoa pada akhir acara secara bergilir. Doanya juga panjang-panjang. Saya yang mendapat  giliran kesebelas hampir kehabisan doa, karena sudah dibaca semua oleh para kiai sebelumnya.  Giliran paling akhir adalah Kiai Luthfi Ahmad dari Ponpes TeeBee (Tambak Bening). Karena sudah malam, ia langsung pegang mike dan tanpa pengantar langsung berdoa, “Allahumma, Ya Allah, jauhkan kami semua dari junk food, junk food, jauhkan dari junk food...” . Saya sebenarnya tertawa dalam hati, tapi saya tahan, karena saya di atas panggung di depan ribuan orang. Baru kali ini ada doa jenis itu.

Usai acara, saya tanya,  “..pak kiai, doanya kok unik sekali?”. Ia menjawab, “..karena semua doa sudah diborong habis kiai sepuh, dan kita kiai muda, harus dengan doa unik..kan?”. Setelah berbicara panjang, ternyata bukan itu alasan utama. Kiai muda ini memang sedang berkampanye cinta lingkungan dan produk dalam negeri. Bahkan dalam sambutan sebagai wakil tuan rumah, ia juga berkali-kali menekankan pentingnya masyarakat kita mengonsumsi garam kasar (grosok) yang sangat menyehatkan, bukan garam lembut di supermarket.  “Garam kasar bukan hanya cocok untuk mengusir setan..ha ha,  tapi juga penyakit…”.  Sebelum pulang, kiai berjubah hitam, tampan dan berjenggot itu memberikan tafsir tentang doa uniknya.

Menurutnya, semua kiai harus peduli tentang kesehatan umatnya, dan menanamkan kesadaran akan bahaya penjajahan negara asing untuk masa depan Indonesia. Salah satu perusak kesehatan generasi muda kita adalah makanan cepat saji yang semakin hari semakin populer di kalangan anak muda kita.

Sebuah hasil riset yang dipublikasikan di India Gazette menunjukkan bahwa 85% dari anak-anak usia 10-14 tahun, didiagnosa terancam diabetes karena kebiasaan makan yang tidak sehat. Satu diantaranya adalah junk food atau makanan cepat saji.  Riset yang dilakukan oleh Delhi Diabetes Research Centre (DDRC) di bawah bagian dari Scheme of the Delhi melibatkan 5.802 anak sekolah di ibu kota. Penelitian yang difokuskan pada masalah obesitas dan perlunya mengubah pola makan yang cenderung meniru “mimic western lifestyle”.

Pada banyak acara ulang tahun, anak-anak sekolah kita mengajak temannya bermakan ria di restoran penyedia junk food. Bahkan salah satu acara pelepasan anak TK di sebuah lembaga pendidikan, juga diadakan di restoran itu. Semua anak dan orang tuanya dengan lahap dan bangga sebagai orang moderen mengonsumsi junk food di restoran pada komplek pertokoan mewah. Junk food adalah makan yang jumlah kandungan nutrisinya terbatas. Umumnya, yang termasuk dalam golongan junk food adalah makanan yang kandungan garam, gula, lemak, dan kalorinya tinggi, tetapi kandungan gizinya sedikit. Junk food mengandung banyak sodium, saturated fat, dan kolesterol. Bila dalam tubuh jumlah ini banyak, maka akan menimbulkan banyak penyakit. Dari penyakit ringan sampai penyakit berat semacam darah tinggi, stroke, jantung, dan kanker.

Dulu, penyakit-penyakit “berat” tersebut hanya diderita oleh orang-orang tua yang umurnya di atas 40 tahun. Tetapi, semakin tahun, penderita penyakit mematikan itu semakin muda saja umurnya. Kalau tidak bisa menjaga diri, bukan tidak mungkin dalam waktu lima sampai sepuluh tahun ke depan, kaum remajalah yang menjadi si penderita itu. Sodium banyak ditemukan pada makanan yang dimakan dan minum. Sodium adalah bagian dari garam. Banyak makanan kemasan atau kalengan itu berkadar sodium tinggi. Sodium banyak terdapat pada french fries (apalagi bila ditambah dengan shakers), ayam goreng, burger, cheese burger, bologna, piza, segala jenis snack keripik kentang, dan mi instan.

Dalam perjalanan pulang, saya berfikir tentang anak-anak saya yang hampir tiada hari tanpa junk food. Ketika sampai di rumah tengah malam, saya membuka Al Qur’an. Menurut kitab suci ini, orang Islam harus selektif makanan. “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sungguh,setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al Baqarah [2]: 126). Makanan yang kita konsumsi haruslah halal (halalan) dan menyehatkan (thayyiban). Kekeliruan mengonsumsi makanan bisa berakibat sakit bahkan kematian. Kita perhatikan urutan konskuensi firman Allah dalam surat As-Syu’ara ayat 78-81 berikut ini. “…(Yaitu Tuhan) yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku, dan yang akan mematikan aku..”. Berdasar ayat ini, Allah telah menciptakan manusia dan semua makanan, lalu memberi petunjuk apa dan bagaimana mengonsumsinya. Jika menyalahi petunjuk Allah, maka manusia akan sakit atau mati. Kiai muda  kita itu mengajak anak-anak sekolah membawa makanan sehat dan alami dari rumah, dan semua keluarga Indonesia lebih banyak menikmati pecel, sayur asem, sayur bayam, dadar jagung dan makanan-makanan khas Indonesia lainnya. Lebih hemat, sehat, halalan, thayyiban, kan? Allahumma jauhkan junk food…”

BERSEDEKAH DENGAN TELINGA

October 6th, 2012 | Posted by admin_tsb in Artikel - (2 Comments)

BERSEDEKAH DENGAN TELINGA

Oleh Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag

Guru Besar IAIN SAS dan Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Dalam perjalanan menuju acara khitanan massal (25/9), saya melewati sebuah  kampung sepi di Jombang. Di desa itulah, tokoh pembaru Islam di Indonesia, Prof. Dr Nurkholis Majid, atau lebih dikenal dengan panggilan Cak Nur, dilahirkan. Madrasah Ibtidaiyah di tepi jalan yang dirintis oleh ayahnya menjadi pengingat bagi siapapun yang memasuki desa itu. Saat itu, tiba-tiba saya teringat pribadi Cak Nur dalam setiap seminar atau pengajian.

Beberapa kali saya berkesempatan mengikuti seminar dimana ia menjadi salah satu narasumber. Ketika narasumber lain sedang menyampaikan makalah, ia mengikutinya dengan serius. Sesekali mencatat hal-hal yang dianggap penting. Ia tidak berbicara dengan orang lain atau menunjukkan muka jenuh mendengarkan, sekalipun peserta sudah gaduh dan teriak-teriak karena makalah yang dipaparkan tidak menarik dan tidak logis. Pada saat makan siang, Cak Nur masih sekali lagi menjabat tangan pemakalah itu dan berkata, “Apa yang Anda sampaikan tadi sangat menarik.” Saya yakin, banyak hal yang tidak menarik dalam makalah itu, tapi Cak Nur melupakan semuanya dan mengapresiasi satu atau dua poin yang baik saja.

Sejak itu, saya belajar mengikuti jejaknya, sekalipun seringkali gagal: tidak sabar mendengarkan pembicaraan orang yang tidak logis, lebih-lebih tidak jelas arahnya. Saya sering cepat berkesimpulan, “Tidak ada yang baru dari ceramah ini.” Kemudian, saya merogoh handphone di saku untuk bermain SMS. Jebol juga pertahanan saya. Apalagi,  ketika badan lagi lelah. Saya sangat sadar, itu etika tercela, tapi saya masih berat melawannya.  Ternyata, menjadi pendengar yang terpuji jauh lebih sulit daripada menjadi pembicara yang baik. Ia membutuhkan enerji besar dan super sabar untuk melawan egoisme.  Tulisan ini saya buat, semata-mata untuk memberi motivasi diri sendiri untuk menjadi pendengar yang terbaik.

Ada banyak kiat bagaimana menjadi pendengar yang terhormat. Pertama, selama proses mendengar, belajarlah untuk mencari ide pokok atau tema sentral dari isi pidato atau obrolan orang. Kedua,  cobalah untuk memfokuskan diri pada isi pidato atau obrolan, bukan pada bagaimana cara penyampaiannya. Ketiga,  jangan terlalu cepat menarik kesimpulan dengan memalingkan perhatian atau memotong obrolan orang.

Jika Anda menjadi guru, Anda harus belajar seni berbicara yang baik. Tapi, jangan lupa, Anda juga harus belajar bagaimana menjadi pendengar yang baik untuk semua peserta didik. Termasuk mendengar pertanyaan mereka yang tidak fokus, tidak bisa difaham dan tidak sopan dalam menyampaikannya. Ketika pulang di rumah, Anda harus belajar lagi menjadi pendengar yang baik untuk istri dan anak-anak. Keluarga Anda dijamin tidak akan harmonis,  jika Anda hanya pandai berbicara di depan anak dan istri, sekalipun dengan kutipan ayat Al-Qur’an dan hadis,  dan tidak belajar menjadi pendengar yang baik. Mereka tidak hanya butuh dipenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan, tapi juga butuh didengar dan dihargai.

Mengapa Allah SWT menciptakan manusia dengan dua telinga dan hanya satu mulut? Bisa jadi karena Allah mengetahui tabiat manusia yang rata-rata merasa berat mendengarkan orang lain. Dengan satu mulut saja, dunia sudah ramai gosip seperti ini. Apa jadinya, jika manusia memiliki dua mulut. Jika dikaitkan dengan perut,  telah banyak orang menderita dalam kemiskinan akibat keserakahan satu atau dua orang. Apa jadinya nasib umat manusia, jika ada orang serakah dengan dua mulut.

Jika Anda telah berhasil menunjukkan sikap mau mendengarkan orang, maka  selanjutnya Anda harus belajar mendengar dengan hati. Jika Anda ingin memberi hadiah atau sedekah bernilai kepada  seseorang: bawahan, pimpinan, istri, suami, saudara, dan anak-anak  Anda,  maka hadiahkan kepada mereka sikap Anda yang mendengarkan dengan telinga terbuka lebar, hati dan antusiasme. Anda telah melecehkan seseorang, dan amat menyakitinya,  jika Anda memalingkan muka di depan orang yang sedang serius berbicara kepada Anda.

Seorang bapak marah karena nasahet untuk anaknya hanya masuk di telinga kanan dan keluar melalui telinga kiri. Tak ada pengaruh sama sekali. Ketika sedih bercampur jengkel itu, tetangganya mengatakan, “Itu lumayan pak.  Nasehat saya sama sekali tidak bisa masuk ke telinga anak saya. Baru di daun telinga sudah terpental keluar.”

Berakhlaklah seperti Allah Yang Maha (Mau) Mendengar (as-samii’) kepada semua manusia, sekalipun mulut orang itu berbau busuk karena dustanya,  bermuka hitam karena kemunafikannya, dan tidak fokus pandangan mata karena kebiasaan khianatnya. Tirulah Nabi SAW yang selalu menghadapkan muka dan menunjukkan antusiasme kepada orang yang sedang berbicara dengannya. Berdasar ketauladan nabi, maka orang yang mengangkat telpon atau membuka SMS ketika orang lain sedang berbicara dengannya, bukanlah muslim yang baik, apalagi dilakukan ketika sedang bertamu di rumah orang.  Allah SWT berfirman, “…sebab itu sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba- hamba-Ku. Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.” (QS Az Zumar 17, 18:) Dalam Al Kitab (Injil) disebutkan, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!.” (Matius 11:15).

Ayat diatas menunjukkan secara tersirat bahwa tidak semua yang Anda dengar dari orang itu baik dan benar, tapi tetap dengarkan, lalu pilihlah yang baik dan benar untuk diikuti.

Les Giblin (2009) menulis buku Skill With People. Salah satu bab di dalamnya adalah Cara Terampil Mendengarkan Orang. Menurutnya, semakin Anda mendengarkan, semakin tampak Anda orang pandai,  semakin disukai dan dihargai, serta semakin pandai sebagai pembicara. Pendengar yang baik selalu membiarkan seseorang  mendengarkan “pembicara favorit” nya, yaitu dirinya sendiri. Orang lebih suka mendengar bicaranya sendiri seribu kali lipat daripada mendengarkan orang lain.

Ada lima petunjuk untuk menjadi pendengar yang baik.  Pertama, tataplah orang yang sedang berbicara. Siapapun yang layak didengar, layak pula ditatap. Kedua, condongkan badan ke arah pembicara dan dengarkan penuh perhatian. Tunjukkan seolah-olah Anda tidak mau kelewatan satu katapun. Ketiga, ajukan pertanyaan. Hal itu menunjukkan bahwa Anda sangat memperhatikannya. Mengajukan pertanyaan adalah bentuk sanjungan yang tertinggi. Keempat, ikutilah topik pembicaraan, dan jangan memotong atau menyela. Kuatkan kesabaran untuk menahan diri dari keinginan pindah ke topik yang lain. Kelima, gunakan kata-kata pembicara dengan “Anda” atau “Perkataan Anda”. Jika Anda menggunakan kata “saya” atau “milik saya”, Anda telah memindahkan fokus dari pembicara ke diri Anda. Itu adalah berbicara bukan mendengarkan.

Anda tentu sudah sering mendengar sabda Nabi SAW berikut ini. “Setiap persendian manusia harus bersedekah setiap hari selama matahari masih terbit. Mendamaikan dua orang yang bersengketa adalah sedekah; membantu orang untuk mengangkutkan barangnya di atas kendaraannya juga sedekah; ucapan yang baik juga sedekah, setiap langkah untuk melakukan shalat juga sedekah, dan menyingkirkan gangguan yang ada di tengah jalan juga sedekah.” (HR Bukhari Muslim dari Abu Hurairah r.a).

Bersyukurlah, mulut Anda sudah bersedekah. Demikian juga tangan dan kaki Anda. Sekarang, gilirannya telinga Anda. Ia harus banyak bersedekah dengan mendengarkan dengan baik dan menyenangkan untuk orang yang sedang berbicara dengan Anda. “Seseorang di antara kalian tidaklah disebut orang beriman, kecuali jika ia menyintai orang lain seperti menyintai dirinya sendiri.” kata Nabi SAW. Jika Anda merasa diwongke (dihargai) oleh orang yang mau mendengarkan obrolan Anda, maka Anda juga harus memerlakukan pembicara dengan perlakuan yang sama.

Semakin hari negara kita semakin kebanjiran orang yang pandai berbicara, bahkan tidak malu berbicara panjang lebar di luar bidangnya. Tapi, semakin langka ditemukan orang yang pandai menghargai dan mendengarkan orang. Bagi Anda yang muslim, bersyukurlah Allah telah mengajarkan untuk mengusap telinga setiap hari ketika berwudlu. Berdoalah ketika mengusap organ tubuh yang tipis di bagian kanan dan kiri kepala Anda itu, agar keduanya lebih banyak bersedekah daripada kemarin dan hari ini.

KIAI JAMPERSAL

October 6th, 2012 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

KIAI JAMPERSAL

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Ada-ada saja nasehat kiai. Seorang kiai hanya menyarankan singkat, “Baca shalawat Nabi yang banyak” pada seorang tamu yang bercerita panjang lebar tentang kesulitan ekonominya. Bagitu panjangnya cerita sang tamu, sampai kiai hampir mengantuk. Lain kiai, lain pula nesehatnya. Seorang Pengawai Negeri Sipil di Surabaya curhat, “Pak kiai, menurut informasi, saya akan dipindahtugaskan ke Papua. Mohon didoakan agar saya tetap bertugas di  wilayah Jawa Timur.” Di hadapan tujuh tamu lain yang sedang antre meminta nasehat, kiai berkata pendek, “Bacalah alhamdulillah 5000 kali setiap hari.” “Saya lagi susah, kok justru disuruh membaca alhamdulillah” sedikit protes dalam benak si tamu. Tapi demi kepercayaan kepada kiai, pesan itu dijalani dan ternyata berhasil.

Mau nasehat yang lebih unik? Tanyakan kepada KH Achmad Sofwan Ilyas, pengasuh Pondok Pesantren Terpadu Daarul Muttaqin Manukan Surabaya. Menurut beliau, abahnya, Kiai Sofwan di Rembang selalu berwasiat, “Agar hidupmu diberi kemudahan Allah, carilah orang miskin yang hamil tua sebanyak-banyaknya, lalu berikan biaya secukupnya untuk proses persalinan, walaupun kau peroleh dari pinjaman orang. Mereka sangat sedih dan cemas pada hari-hari itu.”

Andaikan Kiai Sofwan masih hidup, tentu ia diberi penghargaan Menteri Kesehatan RI yang sekarang lagi berjuang menurunkan kematian ibu dan anak. Kemenkes menarjet 102 kematian dari 100.000 kelahiran pada tahun 2015 nanti sesuai dengan tujuan MDGs (Millenium Development Goal’s). Angka kematian ibu sekarang masih memprihatinkan, yaitu 228 jiwa tiap 100.000 kelahiran. Menurut hitungan DR Sudibyo Alimoesa dari BKKBN, hampir setiap satu jam, dua ibu melahirkan meninggal dunia. Berdasar hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001, 90 persen kematian ibu disebabkan karena persalinan. Hal ini karena masih banyaknya ibu tidak mampu yang persalinannya tidak dilayani oleh tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang baik karena terkendala biaya.

Untuk menurunkan angka kematian sesuai dengan MDGs tersebut, berbagai upaya telah dilakukan. Antara lain melalui penempatan bidan di desa, pemberdayaan keluarga dan masyarakat dengan menggunakan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA), Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K), peyediaan fasilitas kesehatan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) di Puskesmas, dan  perawatan dan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) di rumah sakit.

Yang terakhir adalah peluncuran resmi program Jampersal (Jaminan Persalinan) untuk membantu ibu-ibu melahirkan secara gratis di fasilitas kesehatan pemerintah dan juga swasta yang sudah menandatangai kerja sama. Ibu hamil kini bisa melakukan persalinan yang dibantu oleh tenaga kesehatan secara gratis hanya dengan membawa KTP. Peserta program Jampersal adalah ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas (pasca melahirkan sampai 42 hari) dan bayi baru lahir (0-28 hari).

Melalui program dengan slogan Ibu Selamat, Bayi Lahir Sehat ini, pada tahun 2012 Pemerintah menjamin pembiayaan persalinan sekitar 2,5 juta ibu hamil agar mereka mendapatkan layanan persalinan oleh tenaga kesehatan dan bayi yang dilahirkan sampai dengan masa neonatal di fasilitas kesehatan.

Sekali lagi, andaikan Kiai Sofwan masih hidup, tentu ia akan menggerakkan semua kiai di Indonesia untuk lebih peduli terhadap tingginya angka kematian ibu dan bayi. Gerakan mulia semacam itu diperlukan sebab nyawa seorang manusia, termasuk bayi yang baru dilahirkan dihargai Allah setara dengan nyawa semua umat manusia. Ketika terjadi pembunuhan Qabil atas saudaranya, Habil, Allah SWT berfirman, “Oleh sebab itu, Kami tetapkan suatu hukum bagi Bangsa Israil, bahwa barangsiapa membunuh seorang manusia, bukan karena ia membunuh orang lain, atau bukan karena melakukan kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan ia membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa menyelamatkan kehidupan seorang manusia, maka-seakan-akan ia telah menyelamatkan kehidupan manusia seluruhnya..” (QS. Al Maidah [5]:32).

Di saat masyarakat sangat jenuh dengan media masa cetak dan eletktronik yang berisi berita gosip, persaingan politik dan kekerasan, apalagi dengan komentar para pakar yang membingungkan, saatnya kita melakukan gerakan untuk melanjutkan wasiat KH Sofwan: berbagi kasih kepada para ibu yang sedang gelisah dan bertaruh hidup diri dan bayinya pada saat dan sesudah persalinan. Nabi SAW bersabda, “Penebar kasih di antara manusia akan tertaburi kasih Allah Yang Maha Pengasih. Kasihilah penghuni bumi, engkau dikasihi semua penghuni langit.” Dalam kesempatan lain, Nabi SAW juga bersabda, “Barangsiapa membebaskan kesusahan orang mukmin dari masalah kehidupan dunia, Allah akan membebaskannya dari kesusahan di hari kiamat, dan barangsiapa memberi kemudahan atas kesulitan seseorang, Allah akan memberi kemudahan dari urusan dunia dan akhirat.” (HR Muslim dari Abu Hurairah)

Surabaya, 03-09-2012