Header

BAITI JANNATI, RUMAHKU SURGAKU

September 8th, 2020 | Posted by admin_tsb in Artikel

“BAITI JANNATI, RUMAHKU SURGAKU”
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar:http://clipart-library.com/cartoon-family-cliparts.html

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَكُم مَّوَدَّةٗ وَرَحۡمَةًۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ 

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berfikir” (QS. Ar Rum [31]: 21).

Pada ayat sebelumnya dijelaskan, Allah menciptakan manusia dari tanah, lalu dari padanya, manusia berkembang biak melalui hubungan suami istri. Sebagai kelanjutan, ayat ini menjelaskan, bahwa hubungan pasangan itu harus dibangun dengan akhlak mulia menuju keluarga sakinah (tentram), mawaddah (cinta), dan rahmah (sayang). 

Dalam Alquran, Nabi SAW lebih ditonjolkan ketauladanan akhlaknya daripada ibadahnya. “Sungguh, engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al Qalam [68]: 4). Nabi SAW juga bersabda, “Khairukum khairukum li ahlih / orang yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik dalam berkeluarga.” (HR. At Tirmidzi).

Ada tiga akhlak utama yang harus diperhatikan untuk membangun “Baiti Jannti, Rumahku Surgaku.” Pertama, komunikatif. Artinya, aktiflah berkomunikasi dengan Allah, orang tua, mertua, pasangan, dan putra putri Anda. Ketika bangun tidur, sebelum menyapa siapa pun, sapalah Allah dengan berdoa, “Wahai Allah, terima kasih, Engkau masih berkenan memberi saya tambahan hidup, setelah tidur semalam. Saya akan berhati-hati dalam hidup, sebab saya pasti suatu saat kembali kepada-Mu.”  

Setiap pagi, berikan ciuman kasih untuk pasangan Anda, disertai doa dan ungkapan cinta. Misalnya, “I love you, barakallahu fik / aku mencintaimu, dan semoga berkah Allah terus tercurah untukmu.” Sapalah setiap hari kedua orang tua dan mertua Anda dengan salam dan ungkapan yang terindah, meskipun hanya melalui media komunikasi modern. Upayakan, jangan sampai Anda kedahuluan salam mereka. Jadilah anak atau menantu penyapa dan periang. Jangan jadi orang “bisu.” Semua itu pahala. Senyum orang tua adalah senyum Allah untuk Anda. Dan, ketahuilah, senyum mereka adalah modal untuk kesuksesan Anda. 

Bicarakan terus terang, sekecil apa pun masalah yang mengganjal dengan pasangan Anda dengan cara yang sopan dan terhormat. Jangan disimpan dalam hati, agar tidak menjadi penyakit. Bicara blak-blakan memang amat berat dan menyakitkan. Tapi, untuk jangka panjang, itulah tindakan yang paling menyelamatkan rumah tangga.

Perbanyak komunikasi dengan Allah melalui sujud malam hari untuk curhat apa pun. Jangan sekali-kali curhat kepada selain-Nya. Yakinlah, melalui sujud panjang, Allah akan mengambil alih penyelesaian semua masalah Anda. (Baca buku Terapi Shalat Bahagia). 

Sikap komunikatif juga ditandai dengan memperbanyak sedekah telinga, yaitu mendengarkan sampai tuntas apa saja yang disampaikan pasangan Anda. Tahanlah sekuat tenaga hasrat untuk memotong pembicaraan. Sebab, hal itu menyakitkan dan amat melukainya. Setiap orang amat suka didengar. Tapi sayang, hanya sedikit orang yang bisa melakukannya. Telah banyak kursus menjadi pembicara terbaik, tapi belum ada pelatihan menjadi pendengar yang baik.

Kedua, apresiatif. Artinya memperbanyak syukur kepada Allah dan terima kasih kepada pasangan. Hindari kebiasaan mengeluh, sebab itu tanda keimanan yang keropos dan mental yang sakit. Hargailah setiap jasa sekecil apa pun pasangan Anda. Ketika menikmati hidangan yang disiapkan istri, misalnya, katakan, “Wahai Allah, gantilah makanan dan minuman surga untuk istriku tercantik, yang menyiapkan hidangan ini. Berikan ia kebahagiaan, sebab, ia telah membahagiakan saya dengan penataan rumah, pakaian dan hidangan yang luar biasa ini.” Sebagai istri, Anda juga harus memberi apresiasi yang sama. Misalnya, “Wahai Allah, gantilah keringat suamiku yang tampan dan pekerja keras ini dengan mutiara-mutiara terindah di surga.” Allah sudah memberi jaminan keberkahan dan kebahagiaan, jika Anda apresiatif. “Jika kamu apresiatif kepada Allah dan semua orang, Kami akan menambah kualitas hidupmu.” (QS. Ibrahim [14]: 7).

Sediakan “me time” untuk pasangan Anda. Pada waktu-waktu tertentu, berikan istri Anda waktu dan kesempatan sepenuhnya untuk off dari semua tugas rutin rumah tangga, agar bisa bersenang sepenuhnya. Berikan waktu seharian penuh kepada istri Anda sesekali untuk istirahat dan memanjakan dirinya, serta ambil alihlah semua pekerjaan hari itu, mulai membersihkan dan merapikan rumah, sampai menyuapi anak Anda. Saat itulah, Anda bisa menghargai kepayahan sang istri dalam mengatur rumah dan anak selama ini, yang telah dilakukan bertahun-tahun.

Sebagai istri, ijinkan suami Anda untuk istirahat atau menyalurkan hobinya sampai ia bersenang dengan puas. Tidakkah ini juga ibadah yang amat agung? (Baca doa apresiatif dalam buku “Doa-doa keluarga Bahagia”).

Ternyata, dalam kenyataan sehari-hari, hanya sedikit manusia apresiatif (QS. Saba’: 13). Artinya, jangan kecewa menghadapi manusia tak apresiatif dan berusahalah menjadi manusia langka yang terpuji itu. Umar bin Khattab r.a pernah mendengar orang berdoa, “Wahai Allah, jadikan aku termasuk orang yang sedikit.” “Maa haadzad du’a? / doa macam apa ini?” tanya Umar.Orang itu menjawab, “Tidakkah Allah berfirman, bahwa hanya sedikit orang yang apresiatif?” Umar langsung berkata, “Kullun naas a’lamu min ‘Umar / ternyata,  orang-orang lebih pintar dari Umar.”

Ketiga, selektif. Artinya, pilihlah kata terindah untuk pasangan Anda. Jangan asbun (asal bunyi), tanpa berfikir akibat negatif dari kata yang diucapkan. Orang bijak berkata, “Think today and speak tomorrow / berpikirlah sekarang, dan katakan besok.” Ali bin Abi Thalib r.a berkata, “Lidah orang cerdas di belakang hatinya, dan lidah orang bodoh di depan hatinya.” Artinya, hanya orang bodoh yang tidak selektif terhadap kata yang akan diucapkan.

Jangan pula aslan (asal telan) semua informasi. Anda harus selektif terhadap informasi negatif tentang pasangan Anda. Lakukan tabayun atau klarifikasi, apalagi pada era banjir informasi seperti sekarang ini. Perhatikan perintah klarifikasi tersebut dalam QS. Al Hujurat [49]: 6. (Baca buku Pasangan Berbintang, Mengukur Skor Suami dan Istri).

Selamat mendayung keluarga menuju pulau “Baiti Jannati, Rumahku Surgaku.”

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *