Header

BEBAS PRIHATIN PADA YAUMIDDIN

November 1st, 2016 | Posted by admin_tsb in Artikel

BEBAS PRIHATIN PADA YAUMIDDIN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ

(Allah) Yang Menguasai di Hari Pembalasan (QS. Al Fatihah [01]:4)

sumber gambar: http://www.aktual.com/wp-content/uploads/2015/08/Pemeriksaan-Berkas1.jpg

sumber gambar: http://www.aktual.com/wp-content/uploads/2015/08/Pemeriksaan-Berkas1.jpg

Dalam suatu pengajian, saya bertanya kepada hadirin, “Ayat manakah dalam surat Al Fatihah yang paling menakutkan?” Seorang dari mereka menjawab, “Ayat ketujuh, sebab berisi daftar orang yang dibenci Allah (al mahgdlubi ‘alaihim), atau orang-orang sesat (ad-dhallin).Saya takut termasuk di antara mereka.” Sebagian yang lain mengatakan, “Saya lebih takut dengan ayat 4: maliki yaumiddin (Allah Yang Menguasai di Hari Pembalasan), sebab inilah proses yang pasti akan saya lalui setelah kematian.” Benar, inilah ayat yang mengingatkan kita untuk selalu berhati-hati dalam setiap kata dan perbuatan, sebab semuanya dicatat oleh malaikat, lalu harus kita pertanggungjawabkan di hari pembalasan (yaumiddin).

            Ayat ini terletak setelah ayat kegembiraan, arrahmanirrahim (Allah Yang Maha Pemurah dan Penyayang). Dua ayat tersebut, arrahmanirrahim dan maliki yaumiddin disebutkan secara berurutan untuk menunjukkan pentingnya keseimbangan antara harap (raja’) dan cemas (khauf), antara antara ganjaran (reward) dan hukuman (punishment), dua hal yang harus dipadukan untuk suatu kesuksesan dan kemuliaan budi pekerti. Melalui arrahmanirrahim, Anda diberi motivasi besar, “Rianglah. Jangan bersedih, sebab kasih Tuhanmu melampaui kasih semua manusia.” Atau “Optimislah. Tidaklah mungkin Allah Yang Maha Pengasih meninggalkan kamu tanpa pertolongan-Nya, lebih-lebih ketika kamu sedang memeras keringat dan berdarah-darah demi memenuhi kebutuhan keluarga.”

            Agar Anda lebih mengingat kasih Allah sebagaimana pada ayat ketiga di atas, saya “putarkan” video tentang kasih induk ayam terhadap anak-anaknya. Ia menggaruk-garuk tanah dan mengais sampah untuk mencari makanan untuk anak-anaknya. Setelah mendapatkan makanan, ia memangil semua anaknya untuk menikmati makanan itu dan ia hanya menonton, tanpa sedikitpun mencicipinya. Ketika terik matahari menyengat, induk ayam mengepakkan sayapnya di dekat pepohonan agar anak-anaknya berteduh di bawahnya atau membiarkan mereka menari-nari di punggungnya. Lalu, ketika seekor gajah hendak mengganggu sang anak, ia melawannya sekalipun tahu resikonya adalah kematian di bawah injakan kaki sang raksasa. Kasih Allah untuk Anda melampaui itu semuanya.

            Apakah “air susu” yang diberikan Allah tersebut Anda balas dengan air toba? Apakah cinta-Nya justru Anda taburi dengan dosa? Ingatlah, Anda harus mempertanggungjawabkan semuanya pada yaumiddin. Anda akan didudukkan di kursi pengadilan sebagai terdakwa dengan Hakim Tunggal, yaitu Allah SWT. “Alaisallahu biahkamil hakimin (adakah hakim yang lebih adil daripada Allah?” (QS. At Tiin [95]: 8). Anggota badan Anda bertindak sebagai saksi, sebab pada saat itu, ia bisa berbicara tentang apa saja yang pernah Anda lakukan. Para malaikat sebagai jaksa penuntut umum menyampaikan berkas perkara yang berisi catatan semua perbuatan Anda. Hakim dan jaksa yaumiddin sama-sama tidak memiliki nomor rekening yang bisa menerima transfer Anda untuk negosiasi putusan pengadilan, sebagaimana sering Anda lakukan di dunia. Ketahuilah, pada saat itu, Rasulullah SAW akan hadir sebagai pembela Anda, jika Anda benar-benar pecinta Nabi SAW, pengamal dan penebar ajarannya selama di dunia. Maukah?

            Siapapun, termasuk Anda yang berprofesi sebagai jaksa, hakim, pengacara, polisi  dan sebagainya tidak akan bisa main-main dengan pengadilan yaumiddin. Semua orang harus melepas topeng yang selama hidupnya tidak pernah dilepas, penuh kepalsuan demi harga diri dan nama baik. Mereka tidak bisa lagi melakukan rekayasa untuk menangi pengadilan dengan kekuasaan dan kekayaannya. Hanya pada hari yaumiddin itulah, kita bisa mendapat keadilan yang hakiki. Pada saat itu, Allah SWT secara tuntas mengembalikan hak-hak setiap individu yang terzalimi atau terampas oleh orang-orang yang serakah dan zalim sewaktu di dunia. “Kami akan meletakkan timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (perbuatan baik itu) hanya seberat atompun pasti Kami berikan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pemeriksa (semua perbuatan manusia) (QS. Al Anbiyak [21]:47).

            Anda mungkin pernah terzalimi oleh orang di sekitar Anda, hanya karena ia menimbun kebencian berakar-akar, lalu memandang jelek semua yang Anda lakukan. Bisa jadi juga, pelaku kezaliman itu adalah Anda sendiri, karena tidak obyektif  menilai seseorang karena overdosis cinta Anda kepadanya, sehingga ia Anda pandang orang paling sempurna, bak seorang nabi. Subyektivitas itu bisa terjadi di mana saja: dalam ranah pengadilan, pendidikan, tempat kerja Anda, lingkungan keluarga dan sebagainya. Subhanallah, itulah realitas dunia, sebagaimana dikatakan oleh penyair, wa’ainurridla ‘an kulli ‘aibin kaliilah, kamaa anna ’ainas sukhthi tubdil masaawiyaa (di mata pecinta, cela orang dilihat tiada. Dan di mata pembenci, seseorang selalu terlihat keji). Subyektivitas dan kezaliman itu semua tidak akan terjadi pada yaumiddin. Pada hari itu, manusia akan menghadap Allah secara pribadi dan akan dinilai secara sejujur-jurunya dan seadil-adilnya.

            Ada sebuah isyarat pada yaumiddin, apakah Anda mendapat keringanan pemeriksaan ataukah pengetatan dan hukuman. Jika malaikat datang dari arah kanan untuk menyerahkan berkas perkara Anda, maka tersenyumlah, Anda akan mendapat keringanan pemeriksaan. “Adapun orang yang diberikan catatan perbuatannya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kelompoknya (sesama mukmin) dengan gembira. Adapun orang-orang yang diberikan catatan perbuatannya dari belakang, maka dia akan berteriak, “Aku benar-benar sengsara.” Dan dia akan masuk ke dalam api (neraka) yang menyala-nyala“ (QS. Al Insyiqaq [84]: 7-12)

            Ada 3 tips dari Nabi SAW agar Anda mendapat keringanan pemeriksaan pada yaumiddin. Nabi SAW bersabda:

ثلاث من كن فيه حاسبه الله حسابا يسيرا وادخله الجنة تعطى من حرمك وتعفو عمن ظلمك وتصل من قطعك

Tiga hal yang siapapun melakukannya akan mendapat keringanan pemeriksaan (di akhirat) dan dimasukkan ke dalam surga, yaitu sedekahmu kepada orang yang tidak pernah memberi apapun kepadamu, (kerelaan hatimu) memaafkan orang yang menzalimimu dan (ikhtiarmu) memulihkan persaudaraan dengan orang yang (sengaja) memutuskannya denganmu (HR. Al Hakim dari Abu Hurairah r.a).

            Berusahalah membebaskan diri Anda dari kegentingan dan keprihatinan yaumiddin dengan membebaskan umat manusia dari penderitaan, membersihkan hati dari dendam dan kebencian, dan memupuk persahabatan dengan semua orang tanpa melihat etnis dan keagamaan.

 Referensi: (1) Al Hasyimi, Sayid Ahmad, Mukhtar Al Ahadits, Pustaka Amani, Jakarta, 1995, Cet. I, p. 188 (2) Hamka, Tafsir Al Azhar,  juz I,Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 83 (3) M. Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol 1, Penerbit Lenterera Hati, Jakarta, 2012, p. 48.

 

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

3 Responses



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *