Header

BELAJAR TANGGUH DAN MANDIRI

March 5th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel

BELAJAR TANGGUH DAN MANDIRI

Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: https://www.shareicon.net/tag/strong

رَّبَّنَآ إِنِّيٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ عِندَ بَيۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجۡعَلۡ أَفۡ‍ِٔدَةٗ مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهۡوِيٓ إِلَيۡهِمۡ وَٱرۡزُقۡهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَشۡكُرُونَ * رَبَّنَآ إِنَّكَ تَعۡلَمُ مَا نُخۡفِي وَمَا نُعۡلِنُۗ وَمَا يَخۡفَىٰ عَلَى ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِ *

Wahai Tuhan kami, sungguh aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Wahai Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. Wahai Tuhan kami, sungguh Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami tampakkan; dan tidak ada suatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit (QS. Ibrahim [14]: 37-38).

Pada ayat-ayat  sebelumnya, dijelaskan usaha Nabi Ibrahim a.s untuk membekali anak-anaknya dengan keimanan dan menjauhkan mereka dari lingkungan yang merusak keimanan. Sebagai kelanjutan, ayat di atas menjelaskan usaha Ibrahim a.s berikutnya, yaitu member pembelajaran ketangguhan fisik dan mental.

Nabi Ibrahim a.s melahirkan keuturunan melalui jalur Ishak dan Ismail. Dari Ishak, lahirlah Ya’qub dengan dua belas keturunan yang kemudian disebut Bani Israil. Sedangkan dari Ismail, atas pernikahannya dengan suku Jurhum, lahirlah keturunan Adnan yang melahirkan dua suku besar yaitu Arab Musta’ribah dan Mudhar sampai kepada Nabi SAW.  Ketika berusia 86 tahun, Nabi Ibrahim dikarunia anak, yaitu Ismail dari istri kedua, Hajar. Betapa terkejutnya Hajar, ketika sang suami tiba-tiba mengajaknya bersama Ismail yang masih menyusu itu ke pegunungan Mekah, daerah kering, tandus, tak berpenghuni, dan tak ada satupun tanaman yang tumbuh. Di tempat itulah, Hajar dan Ismail ditinggalkan, dan Ibrahim a.s kembali ke Palestina. Wajarlah jika Hajar sangat keberatan ditinggal bersama si bayi tanpa bekal sedikitpun itu. ”Apakah ini perintah Allah?” tanyanya kepada Ibrahim berkali-kali. ”Benar,” jawab Ibrahim. ”Baiklah, kalau itu perintah Allah, maka saya yakin Allah tidak akan menelantarkan kami,” katanya ikhlas.  

Si bayi Ismail menangis kehausan, sedangkan air persediaan sudah habis. Hajar berlari mencari sumber air sampai ke bukit Shafa, tapi sia-sia, tak ada setetespun air. Lalu, berlari lagi sampai ke bukit Marwah, tetap saja sia-sia. Setelah tujuh kali bolak-balik dari Shafa dan Marwah, ia istirahat kelelahan. Ketika itulah, ia melihat Jibril, dan tiba-tiba ia merasakan adanya air keluar di tumitnya. Ia segera menciduk air itu untuk minuman Ismail. Jibril berkata, ”Jangan takut kesepian, karena di tempat inilah akan ada rumah Allah yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya,” kata Jibril menunjuk ke tempat yang tinggi. Beberapa burung turun meminum di sumber air itu. Suku Jurhum yang sedang melewati daerah itu lalu mengetahui bahwa di situ ada sumber air, yang kemudian terkenal dengan sumber zamzam itu.  Mereka minta ijin kepada Hajar untuk mengambil air dan berkemah di daerah sekitarnya. Lambat laun, daerah yang semula tandus tak berpenghuni itu berubah menjadi perkampungan Mekah yang kita kenal sekarang ini.

Inilah ayat yang mengajarkan perlunya pendidikan mental yang tangguh, dan  fisik yang kuat melalui pengalaman hidup, di samping pendidikan spiritual dan intelektual. Ibrahim a.s telah mengajarkan kedua bekal itu kepada Hajar dan Ismail. Hajar tidak berpangku tangan, tidak hanya berdoa, tidak hanya menggerutu menghadapi tantangan kehidupan. Ia sadar bahwa tangisan tidak bisa merubah keadaan. Pastilah, si bayi, Ismail juga menyerap spirit ketanggguhan dan kemandirian melalui keringat sang ibu.  

Ada dua cerita kehidupan yang dapat meyakinkan Anda tentang perlunya pendidikan mental baja untuk anak-anak Anda. Seorang pemilik hotel kenamaan yang memasuki usia lanjut menyerahkan estafet manajemen hotel kepada dua anaknya yang sama-sama bergelar master dalam ilmu perhotelan dari universitas kenamaan di Eropa. Setelah lima tahun dikelola sang anak, hotel dengan puluhan cabangnya itu kelimpungan menghadapi pesaing-pesaing yang baru. ”Otak anak-anak saya sangat encer, pengetahuannya tentang teori-teori perhotelan di luar kepala, tapi ketangguhannya untuk berdarah-darah menghadapi tantangan masih nol,” katanya. Ia mengaku salah dalam mendidik anaknya, yang dianggapnya cukup melalui bangku sekolah formal. ”Ternyata, anak kita harus dididik untuk bersakit-sakit dan berpayah-payah untuk merasakan pahit getirnya kehidupan, sehingga ia mengerti bahwa hidup adalah perjuangan, dan bahwa setiap rupiah hanya bisa diperoleh dengan keringat,” pesannya.  

Inilah kisah kedua yang juga menarik. Di atas pesawat dari Taiwan menuju Surabaya, seorang wanita pebisnis ekspor impor yang duduk di sebelah saya bercerita tentang anak tunggalnya yang sukses mengelola pabrik baja. Ketika saya tanya, bagaimana ia mendidik anaknya sehingga mau dan bisa mengelola pabrik sebesar itu, ia mangatakan, ”Saya didik dia sejak kecil untuk menghargai berapapun nilai uang, sebab setiap rupiah pasti dihasilkan dari perasan keringat.” Ketika sang anak kuliah di Uinversitas Kristen Petra, ia hanya memberinya bekal uang yang sangat terbatas, dan jika kurang, ia harus mencari tambahan sendiri. ”Saya pura-pura tidak tahu ketika ia bekerja sebagai pengangkut barang di sebuah pertokoan untuk menutupi biaya kuliahnya,” kisahnya. Menurutnya, saat itu sebenarnya ia menjerit, tapi ia harus tega, sebab itulah cara mendidik anaknya agar ia mengerti nilai uang dan kerja keras, serta memiliki ketangguhan sebagai pelaku bisnis masa depan dengan tantangan dan pesaing yang lebih berat.

Muslim mandiri selalu mengingat pesan Jibril kepada Nabi SAW, bahwa keperkasaan dan kemuliaan seseorang ditentukan sejauhmana ia membebaskan dirinya dari ketergantungan pada orang lain. Iamemandang kesulitan yang dihadapi sebagai tantangan. Ia mengerti kelebihan dan kekurangan dirinya, lalu berfokus pada kelebihannya bukan pada kelemahannya. Ia belajar berpikir positif, memandang kesalahan masa lalu dan kegagalan sebagai tonggak menuju sukses di masa depan. Semua itu hanya bisa dipelajari dari kehidupan nyata sebagaimana yang diajarkan Nabi Ibrahim a.s kepada Hajar dan Ismail, tidak bisa hanya dengan pendidikan formal belaka.

Surabaya, 30 Oktober 2018

Sumber: (1) Al Hamshy, Muhammad Hasan, Al Qur’an Al Karim, Tafsir Wa Bayan, Darur Rasyid, Beirut, Lebanon, tt (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 13, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 152, (3) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, vol. 6, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 388, (4) Afif Abdullah, Ma’al Anbiya’ Fil Qur’anil Karim (Nabi-Nabi Dalam Al Qur’an), Terjmah Tamyiiez Dery, dkk, Penerbit Toha Putra, Semarang, 1985.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *