Header

BERDZIKIR DENGAN AIR

February 14th, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel

BERDZIKIR DENGAN AIR
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

airMaka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan atau Kami yang menurunkannya? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur? (QS. Al Waqi’ah [56]:58-70)

Tiga ayat di atas merupakan penggalan dari rangkaian ayat ke 58 – 74 dari Surat Al Waqi’ah. Surat itu berisi perintah untuk merenungkan proses penciptaan manusia, makanan yang ditanam lalu dikonsumsi, serta air dan api yang mutlak diperlukan untuk kelangsungan hidup manusia. Penyebutan air dalam ayat di atas hanya salah satu dari 63 kali penyebutannya dalam Al Qur’an.

Berapa liter air yang Anda konsumsi setiap hari? Begitu murah dan mudah Anda mendapatkannya, sampai Anda lupa bahwa air merupakan benda yang amat mahal dan penting. Kita diingatkan Allah: ”Dari manakah air yang engkau minum? Buatanmu sendiri atau pemberian-Ku? Tidakkah tenggorokmu menjadi segar karena air? Betapa susah hidupmu, jika semua air menjadi asin? Dengan kata lain,  ”Mengapa engkau tidak berdzikir melalui renungan air?”

 Anda dan semua makhluk hidup tidak bisa dipisahkan dari air. Allah SWT berfirman, “Dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup …” (QS. Al Anbiya’ [21]: 30). Dari air spermalah Anda tercipta. “Hendaklah manusia merenungkan dari apa ia diciptakan. Mereka diciptakan dari air yang menyemprot” (QS. Al Thariq [86]: 5-6). Sebagian besar tubuh Anda juga mengandung air. “Allah telah menciptakan langit dan bumi serta menurunkan hujan dari langit, kemudian Ia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan yang menjadi rejeki untukmu …” (QS. Ibrahim [14]: 32). Ternyata air bukan saja dibutuhkan oleh fisik kita, tetapi juga elemen terpenting dalam menjaga keseimbangan alam semesta. Mengapa kita tidak lebih intensif berdzikir melalui renungan air?

Melalui sifat-sifat air, Allah memberi pelajaran yang lebih mendalam. Ia tenang dan selalu mengalir pada tempat yang lebih rendah. Dari sini, kemudian ada kiat sukses menjadi pemimpin dengan Filsafat Kepemimpinan Air: tenang, menyegarkan, memberi kepuasan, dan tidak sombong.   Air juga mengalir di antara batu-batu di pegunungan. Allah SWT memberi semangat Anda untuk tiada putus asa melunakkan hati orang yang membatu. Dengan kesungguhan, dari hati sekeras batu itu masih ada harapan untuk sebuah kebajikan. “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada sungai yang mengalir darinya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air darinya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Baqarah [2]: 74)

Di samping untuk diminum, air juga memberikan rasa segar untuk mandi dan mengembalikan kekuatan. Kekuatan air itu akan jauh lebih dahsyat, jika Anda menyebut Nama Allah setiap kali mengonsumsi atau memanfaatkan air, paling tidak dengan membaca basmalah, ”Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.Masaru Emoto dari Jepang pernah meneliti perbedaan kekuatan air yang disertai doa dan tidak. Kualitas daun pada tanaman bunga yang disiram dengan lembut dan doa yang diucapkan, amat berbeda dengan yang tanpa doa. Tanpa Masaru Emoto, kita sudah diajarkan untuk mengingat Allah sebelum minum atau menggunakannya. Mengapa kita sering mengabaikan ajaran yang simpel ini? Anda pasti beristighfar dan menunduk jika benar-benar menghayati nikmat air.

Suatu ketika, Harun Al Rasyid, kepala negara yang kharismatis dalam sejarah Islam, duduk gelisah. Lalu ia memerintahkan salah seorang pembantuya untuk mengundang Abus-sammak, seorang ulama terhormat pada masanya. ”Nasehatilah aku, wahai Abus-sammak,” kata Al Rasyid. Pada saat itu, seorang pelayan membawa segelas air untuk Al Rasyid. Ketika dia bersiap untuk meminumnya, Abus-sammak berkata: ”Tunggu sebentar wahai pemimpin kaum mukminin (amirul mukminin). Demi Tuhan, aku mengharap agar pertanyaanku dijawab dengan jujur. ”Seandainya Anda haus, tapi segelas air ini tak dapat Anda minum, berapa harga yang akan Anda bayar demi melepaskan dahaga?” ”Setengah dari kekayaanku,” jawab Al Rasyid, lalu ia meminumnya. ”Baiklah, seandainya apa yang Anda minum tadi tidak dapat keluar, sehingga Anda sakit, berapakah Anda bersedia membayar untuk kesembuhan Anda?” lanjut Abus-sammak. ”Separuh dari kekuasaanku,” tegas Al Rasyid. Abus-sammak lalu memberi taushiyah, “Ketahuilah, bahwa seluruh kekayaan dan kekuasaaan yang nilainya hanya seharga segelas air tidak pantas diperebutkan atau dipertahankan dengan cara yang tidak benar.” Kepala negara yang kaya-raya dan kekuasaannya meliputi beberapa negara itu kemudian menangis tersedur-sedu mendapatkan ”nasehat air” tersebut.

”Nasehat air” juga terjadi pada diri Umar bin Khatthab r.a. Hurmuzan, seorang tokoh Persia yang sedang ditawan dan dijatuhi hukuman mati memohon kepada Umar r.a. ”Berilah aku segelas air sebelum hukuman dijatuhkan kepadaku.” Umar setuju, dan sebelum terpidana tersebut minum, ia memandang Umar dan bertanya, ”Apakah aku dijamin aman sampai air ini habis saya minum?” ”Tentu,” jawab Umar r.a. Setelah mendapatkan jaminan, Hurmuzan lalu menumpahkan isi gelas itu, dan dengan senyum penuh arti dia berkata, ”Tepatilah janjimu, wahai Umar! Bebaskan aku”. Hadirin yang menyaksikan tersentak, namun Umar r.a berkata, ”Lepaskan dia. Kita harus setia kepada janji, apapun akibatnya.” (Quraish Shihab, Lentera Hati: 276)

Air juga bisa sarana penyelemat seseorang dari api neraka. Ada seorang pelacur yang menjumpai seekor anjing kehausan di padang pasir. Ia manaruh iba lalu turun ke dalam sumur untuk mengambil air dengan sepatunya. Ia minumkan sedikit air yang tersisa di sepatu kepada binatang yang liurnya najis itu, dan selamatlah ia dari bahaya kematian. Begitu menariknya kisah itu, sehingga dikisahkan oleh Rasulullah SAW dengan memberi komentar, ”Allah mengampuni dosa-dosanya, dan memasukkannya ke dalam surga karena sedikit air itu.”

Dengan ”nasehat air,” dzikir Anda semakin bermakna dan Anda semakin pandai mensyukuri air. Dengan ”air penuh dzikir” untuk minum, mandi, berwudlu, menyiram tanaman dan sebagainya, akan dihasilkan manfaat yang jauh lebih dahsyat melampaui analisis ilmuwan moderen.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

12 Responses



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *