Header

BERJAMAAH DENGAN ANJING DEMI ANAK

February 20th, 2015 | Posted by admin_tsb in Artikel

BERJAMAAH DENGAN ANJING DEMI ANAK
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Setiba di Yun Long tahun 2005, setelah menempuh perjalanan bus dua jam dari Hong Kong, saya berjumpa dengan TKW (Tenaga Kerja Wanita) asal Jawa Timur. Wanita berjilbab setengah baya itu sedang berbelanja babi di pasar . “Nasib, dua kali ganti majikan, pekerjaan saya tetap sama, yaitu belanja dan masak babi setiap hari untuk majikan” katanya. Ia mengaku selama 4 tahun bekerja di negeri orang, ia tidak pernah melakukan shalat. “Bagaimana mungkin badan dan pakaian yang sudah najis berat dipakai shalat” keluhnya. Apalagi dengan majikan yang terakhir, ia diminta juga menjaga tiga anjing piaraan. “Namanya menjaga , ya tidur bersama anjing-anjing itu”.

Dialog itulah yang menjadi inspirasi untuk ceramah agama saya di mushalla 4 x 4 m2 di atas toko Indonesiadog yang disewa oleh Majlis Taklim TKW Hong Kong cabang Yun Long. Ibu dua anak itu merasa bergembira, lalu berjanji untuk lebih rajin shalat setelah mengetahui bahwa najis babi bisa dibersihkan dengan sabun karena darurat kesulitan mencari tanah untuk campuran air untuk mencucinya. “Plong, lego pak rasanya”, kata wanita yang tinggal di lantai 21 rumah bertingkat. Andai menjumpai tanah pun, ia tidak berani melakukannya karena bertentangan dengan aturan kebersihan majikan.

Sepulang dari mushalla, ia berlari mengejar saya, “Bagaimana dengan sentuhan saya dengan anjing setiap saat atau ketika tidur?”. Ia masih penasaran, bagaimana mungkin beribadah dengan tangan yang bersentuhan dengan babi dan lingkungan yang serba anjing. “Shalatlah, sekalipun harus “berjamaah” dengan anjing” nasehat saya. Ia tidak mungkin berpisah dengan anjing, sebab memandikan, menyiapkan makanan dan tidur bersama anjing adalah tugas utamanya.

Demi anak, apapun beratnya pekerjaan tetap dijalani sang ibu. Ia bermimpi dua anaknya bisa sekolah sampai lulus dan menjadi orang yang lebih mulia daripadanya. Ia sebenarnya sangat menderita karena jauh dari keluarga. Ratusan dolar ia habiskan setiap bulan untuk membeli pulsa agar bisa mendengar suara anaknya. Uang pulsa itu, amat banyak dan mahal baginya, namun murah demi dekapan jarak jauh sang ibu untuk anaknya. Ia tidak mungkin bekerja di Indonesia, sebab semua kekayaannya telah ludes untuk ambisi suaminya yang gagal dalam pemilihan kepala desa.

Ia masih terus menceritakan harapan untuk kedua anaknya. “Jika anakku lulus dan di wisuda di universitas, akulah yang memasang toganya. Akulah yang menggendongnya untuk menerima sertifikat (maksudnya: ijazah)”. Harapan dan kecintaan sang ibu itu tentu lebih mendalam daripada yang diceritakannya melalui kata-kata. Cinta ibu kepada anak tidaklah terukur. Cinta orang tua sepanjang jalan dan cinta anak hanya sepanjang gala.

Jika setiap kecintaan yang tulus orang tua dihitung sebagai pahala, dan setiap kesulitan nafkah orang tua untuk biaya hidup anaknya dihitung sebagai penghapus dosa, maka masih adakah dosa bagi ibu yang berkurban segala-galanya demi kelangsungan hdiup anak di atas? Apalagi ia berjuang menyelamatkan anaknya atau generasi yang bodoh. Pada sisi lain, melihat begitu besarnya pengurbanan ibu kepada anaknya, maka teramat tega dan biadab anak yang sampai hati melukai hati ibunya.

Perintah berbakti kepada orang tua dijelaskan secara jelas dalam Al Qur’an. Bahkan gaya perintahnya berbeda dengan perintah-perintah lainnya, yaitu menyuruh anak membuka sejarah perjalanan hidup sejak bayi dengan ibunya. Allah SWT berfirman, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan…. “. (QS al-Ahqaf [46]:15).

Oh ibu, cinta dan pengurbananmu untuk kami adalah cinta dan pahala Allah untukmu. Maafkan kami tidak bisa membalas cintamu yang agung itu, kecuali doa pengampunan dan rahmat untuk tiketmu ke surga. Senyumlah selalu, ibundaku.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

4 Responses



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *