Header

BERKARYA BESAR DENGAN INSPIRASI KUDA

October 31st, 2013 | Posted by admin_tsb in Artikel

BERKARYA BESAR DENGAN INSPIRASI KUDA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

kuda(1) Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, (2) Dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), (3) Dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi (4) Maka ia menerbangkan debu, (5) Dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, (6) Sungguh, manusia itu sangat ingkar: tidak berterima kasih kepada Tuhannya, (7) Dan sungguh, manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, (QS. Al ‘Adiyat [100]: 1-11)

Pada ayat-ayat terakhir surat sebelumnya (Surat Al Zalzalah), Allah menjelaskan ketelitian dan keadilan-Nya terhadap apapun yang dikerjakan manusia. Allah mencatat sekecil apapun perbuatan baik dan buruk, dan memberinya penghargaan dan hukuman masing-masing. Sebagai kelanjutan, pada surat Al ‘Adiyat ini, Allah menegaskan kembali bahwa Ia Maha Mengetahui siapa yang pandai berterima kasih dan tidak.

Surat Al ‘Adiyat diawali sumpah Allah dengan kuda perang. Setiap sumpah dalam Al Qur’an mengandung pesan khusus.  Ketika Allah bersumpah dengan buah pohon Tin dan Zaitun, misalnya, Anda harus melakukan penelitian, ada apa dengan dua buah itu dari sudut kesehatan, pertanian,  sejarah dan sebagainya. Demikian juga untuk sumpah-sumpah Allah lainnya.

Coba Anda perhatikan ayat-ayat dengan sumpah yang dikutip di atas. Semua ayat itu menjelaskan bakti dan kesetiaan kuda untuk melakukan apa saja perintah pemiliknya. Termasuk perintah dengan resiko nyawa, yaitu melompat masuk ke wilayah musuh dalam perang yang sengit.  Allah SWT menyindir manusia yang tidak berterima kasih kepada-Nya dengan sindiran kuda. Hewan bertenaga ekstra ini, jelas tidaklah berakal, tapi ia menunjukkan bakti yang luar biasa kepada pemilik yang merawatnya. Mengapa manusia tidak serius bertertima kasih dan mengabdi kepada Allah yang menciptakan dan memberi semua kebutuhannya? “Sungguh, manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya.”

Pesan lain yang tersirat dari sumpah Allah SWT adalah perintah semangat, percaya diri dan keberanian menghadapi tantangan. Inilah yang dibutuhkan untuk siapapun yang ingin meraih prestasi dalam dunia bisnis, pendidikan, politik dan sebagainya. Dunia hanya dikuasai oleh mereka yang percaya diri, memiliki semangat, dan tahan bantingan terhadap derita demi cita-cita. Orang cerdas tapi lemah semangat dan minder, akan sia-sia kecerdasannya, bahkan terkalahkan orang bodoh yang memiliki semangat dan kepercayaan diri.

 Allah SWT bersumpah, “Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah.  Dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya).” Melalui ayat ini Anda dituntut berbadan sehat dan perkasa, agar memiliki mobilitas yang optimal (speed) dan bisa membuat keputusan cepat dan cerdas (smart). Muslim yang sehat dan perkasa lebih dicintai Allah dan rasul-Nya karena bisa maksimal mengemban peran kekhalifahan (kepemimpinan) di tengah komunitasnya. Hanya mereka yang memiliki speed and smart yang memenangi kompetisi prestasi dalam segala bidang.

“Dan (demi) kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu subuh. Maka ia menerbangkan debu.” Ayat ini mengingatkan Anda, orang sukses selalu memanfaatkan waktu seproduktif mungkin. Ia tahu jatah waktu untuk dirinya sama dengan jatah mereka yang sukses mendahuluinya: sama-sama 24 jam.  Ketika banyak manusia masih terlelap tidur di pagi buta, orang sukses sudah bangun “mengepulkan debu” untuk usahanya. Para pemalas tidak layak hidup di zaman manapun. Mereka pasti selalu menjadi “objek” dan tidak akan menjadi “subjek” dalam pembangunan komunitasnya;  selalu di “pinggir” dan terpinggirkan oleh zamannya, dan tidak akan bisa di “tengah”. Perhatikan doa Nabi SAW, “Wahai Allah, jauhkan aku dari sedih (karena peristiwa yang terjadi) dan cemas (untuk hal yang belum terjadi); jauhkan aku dari lemah (fisik dan mental) dan malas; jauhkan aku dari serba takut dan kikir; jauhkan pula  aku dari terbelit utang-piutang dan kesewenang-wenangan (dan kedhaliman) orang.”  Jika Anda tidak berprestasi, pastikan bukan karena Anda tidak memiliki kemampuan untuk itu, tapi lebih karena kemalasan Anda. Atau karena perasaan minder dan pesimis yang Anda suburkan dalam diri Anda.

“Dan  menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh.”  Anda pasti tahu, apa resiko memasuki sarang musuh, paling tidak tertawan atau mati tersungkur bersimbah darah. Orang sukses harus berani resiko dalam setiap langkah, tentu setelah perhitungan yang masak. Anda tentu tidak akan menikmati umrah atau haji ke Mekah secepat perjalanan sekarang, jika tidak ada orang yang menantang resiko kematian ketika uji coba pesawat terbang pertama kali. Bahkan Anda akan jalan kaki sepanjang hidup, jika takut resiko kecelakaan kendaraan bermotor, apalagi naik pesawat.             

 Itulah inspirasi kuda untuk merangsang Anda berpacu demi kesuksesan. Jika hanya inspirasi kuda yang dipedomani, sangat mungkin Anda depresi, bahkan gila. Sebab, kesuksesan tidak selalu diraih secara mulus dan tiba-tiba. Dalam catatan sejarah orang-orang sukses, ternyata mereka harus jatuh bangun dari kegagalan sampai puluhan kali. Oleh sebab itu, Anda harus bermetamorfosis sebagai patung setelah menjadi kuda. Artinya, Anda harus pasrah sepenuhnya kepada Allah, seperti patung yang menyerah kepada pemiliknya. Kewajiban Anda hanya berusaha, sedangkan sukses atau tidaknya usaha itu Anda serahkan sepenuhnya kepada Allah.  “Jika kamu telah bertekad (untuk suatu usaha dengan perhitungan yang profesional), maka serahkan (tawakallah) kepada Allah. Sungguh, Allah menyintai orang-orang yang berserah diri.” (QS. Ali Imran [3]:159).

Dengan tawakal sepenuh hati itu, Anda telah menyuntikkan imunitas stres dan depresi pada diri Anda. Jika berhasil, Anda boleh bersiul-siul mensyukurinya, dan jika gagal, Anda tetap tersenyum menyikapinya. Anda lalu ingat kata orang bijak, “Anda bukan gagal. Hanya sukses Anda masih tertunda.” Atau menghayati taushiyah para sufi, “Tenanglah. Biarlah Allah bekerja sesuai dengan rencana-Nya. Rencana Allah jauh lebih hebat dari rencana Anda, sekalipun Anda mungkin ahli perencanaan”  Itulah keajaiban orang Islam dengan keimanan yang mendalam, sukses atau gagal tetap berucap alhamdulillah.

Kepasrahan “patung” kepada Allah tidak hanya berfungsi sebagai penangkal stres, tapi juga menguatkan keberanian dan mendatangkan pertolongan Allah yang luar biasa. Siapapun yang tawakal sepenuh hati, Allah akan secara penuh membantunya. Jika menghadapi kesulitan, Allah-lah yang akan mengambil alih menyelesaikannya. Allah SWT meyakinkan Anda, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah (sendiri) yang akan menyelesaikan urusannya.”  (QS. At Thalaq [65]: 2-3). Sekalipun demikian, Anda tidak boleh berlama-lama menjadi patung agar tidak pasip. Segeralah metamorfosis kembali menjadi kuda. Demikian dan seterusnya.

Jadilah kuda di siang hari, lalu patung di malam hari. Berpaculah untuk prestasi, lalu bertawakallah sepenuh hati. Wallahu ‘alamu bis-shawab. (Surabaya, 01 Nopember 2013).

sumber gambar: http://horsebreedsinfo.com/images/black_horse_running.jpg

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

8 Responses



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *