Header

BERSUJUD UNTUK MENGANGKAT KEPALA

December 7th, 2012 | Posted by admin_tsb in Artikel

BERSUJUD UNTUK MENGANGKAT KEPALA

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Setelah acara dialog “Terapi Shalat Bahagia” di Radio Elvictor Surabaya (Jum’at 29/11/12), satu dari sekian banyak pendengar yang berdatangan ke radio adalah perempuan berusia duapuluhan dengan menggenggam dompet kecil di tangan. Saya mendahului menyapa dan bertanya, “Kerja di mana mbak?”. “Saya pembantu rumah tangga pak,” jawabnya menunduk malu, sambil menambahkan bahwa ia janda dengan satu anak yang diasuh neneknya.

Pada saat itulah saya memberi nasehat, bahwa semua pekerjaan dipandang mulia oleh Allah asalkan halal. Saya kutipkan juga prinsip orang Jepang, “Semua pekerjaan adalah terhormat selama tidak kriminal.” Dalam hati,  saya berpikir apa sebenarnya yang salah di tengah masyarakat kita sehingga membuat orang minder karena sebuah profesi? Secara tidak sadar, ternyata setiap hari kita mendengar pelecehan atas profesi seseorang. Pernyataan, “Dasar anak pemulung”, “Anak tukang becak saja berbicara muluk-muluk.”  “Gayanya amit-amit, padahal ibunya hanya penjual kangkung” dan pernyataan sejenis adalah penghinaan kepada seseorang dan pelecehan terhadap suatu pekerjaan. Tidakkah pembantu rumah tangga jauh lebih mulia daripada orang berdasi di ruang ber-AC tapi pemeras uang BUMN? Seorang penulis novel membandingkan PSK (Pekerja Seks Komersial) dengan koruptor. PSK hanya mencari uang dengan menjual “miliknya” sendiri, sedangkan koruptor mencari uang dengan menjual kekayaan negara, sehingga jutaan orang sengsara karenanya.

Semua kita diingatkan Allah agar tidak menghina keadaan fisik, pekerjaan, atau latarbelakang seseorang. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekelompok orang laki-laki merendahkan kelompok yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekelompok perempuan merendahkan kelompok lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS Al Hujurat [49]:11).  Murka Allah lebih-lebih kepada orang yang menghina orang-orang miskin. Secara ekonomi, mereka sudah menderita, ditambah lagi penderitaan secara psikologis.

Saya bertahun-tahun bergaul dengan 170.000 pembantu rumah tangga di Hong Kong dan, Macau,  160.000 orang di Taiwan, dan ratusan pembantu rumah tangga di Inggris, Belanda dan sebagainya. Tidak pernah satu katapun terdengar ucapan yang mencerminkan minder atas profesi mereka. Mengapa? Karena masyarakat setempat lebih “Islami” dalam hal memandang kemuliaan apapun profesi orang.

Siapapun yang bekerja pada sektor yang dipandang rendah oleh masyarakat yang dhalim, Anda tidak perlu menghiraukan pelecehan itu. Lebih baik hina dalam pandangan manusia, tapi mulia di hadapan Allah. Untuk apa mulia dan terhormat di hadapan manusia, tapi ternyata paling hina di hadapan Allah. Anda hanya boleh merasa hina di hadapan Allah, terutama ketika rukuk dan sujud, dan tidak boleh merasa hina di hadapan manusia.  Rukuk dan sujudlah minimal tigapuluh detik dan katakan dalam hati, “Oh Allah, aku bekerja sebagai pembantu rumah tangga, atau  penarik becak atau pemulung. Aku ridla dan senang hati menjalani pekerjaan ini. Aku tidak mengeluh, sekalipun sangat melelahkan dan sebagian orang mememandang rendah kepadaku. Engkau Maha Pengasih, pasti mengasihi aku. Engkau Maha Kaya, pasti memberi aku rizki yang banyak dan berkah. Aku yakin, Engkau pasti menjadikan anak-anakku kelak menjadi orang hebat dan shaleh. Aku yakin akan pertolongan-Mu. Aku pasrah apapun yang Engkau berikan kepadaku. Aku pasrah sepenuhnya kepada-Mu.”

Setelah bangkit dari sujud dan mengucapkan salam penutup shalat, angkatlah kepala Anda dengan percaya diri, tanpa sedikitpun rasa minder dan yakinlah bahwa masa depan anak-anak Anda jauh melampaui mereka yang menghina Anda. Semoga.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

3 Responses



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *