Header

BICARA SINGKAT, BICARA CERDAS

November 3rd, 2020 | Posted by admin_tsb in Artikel

BICARA SINGKAT, BICARA CERDAS
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia

sumber gambar: https://www.islamcendekia.com/2014/05/contoh-pidato-islami.html

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ 

“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sungguh, Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An Nahl [16]: 125).

Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menjelaskan orang-orang Yahudi yang memanfaatkan hari Sabtu untuk kegiatan ekonomi, padahal semestinya untuk ibadah sesuai dengan permintaan mereka sendiri, Sabtu sebagai hari yang agung. Mereka tidak mengakui Jum’at sebagai hari agung umat Islam. Sebagai kelanjutan, ayat ini menjelaskan tiga metode untuk mengajak mereka ke jalan yang benar, yaitu hikmah, nasihat yang baik, dan diskusi yang terbaik.

Pertama, hikmah yaitu dakwah yang berdasar kecerdasan membaca situasi, kapan harus berbicara dan kapan harus diam, cerdas mengambil pilihan yang terbaik dari beberapa alternatif, dan cerdas memilih kata yang sesuai dengan selera dan intelektualitas pendengar, yang semuanya berdasar pertimbangan pemikiran ilmiah, penelitian, dan analisis yang mendalam.  Kedua, mau’idhah hasanah, yaitu nasihat yang baik, yaitu pemberian pesan-pesan keagamaan dengan cara yang menyenangkan pendengar dan meyakinkannya, sehingga mereka termotivasi melakukan pesan-pesan itu secara sukarela dan senang hati. Metode ini bida dipraktikkan dalam keluarga, lembaga pendidikan dan masyarakat umum. Ketiga, mujadalah, yaitu berdebat atau berdiskusi dengan bertukar pikiran secara logis dan argumentatif, dan dilakukan dengan sopan dan lapang hati, serta diakhiri dengan penghormatan atas perbedaan, atau sering disebut dengan istilah setuju dalam ketidaksetujuan (agree in disagreement). Metode ini harus dilakukan dengan kasih sayang, bukan dengan kebencian dan pelecehan terhadap mitra diskusi. Diskusi yang bernuansa pemaksaan dan melukai hati itu akan menodai prinsip Islam yang menekankan pendekatan kasih (QS. Ali Imran [3]: 159) dan menjauhi pemaksaan (QS. Al Baqarah [2]: 256).

Munurut Qureish Shihab, dalam ayat ini, atribut hasanah (dengan cara yang baik) hanya ditempelkan pada metode dakwah kedua dan ketiga, sebab metode dakwah yang pertama, yaitu hikmah sudah pasti hasanah. Ketiga metode dakwah ini bisa berdiri sendiri sesuai dengan situasi dan tingkat intelektualitas pendengar, dan bisa dilakukan secara campuran.

Tulisan ini difokuskan pada cara dakwah kedua, yaitu nasihat atau ceramah atau taushiyah, sebab model inilah yang paling populer dibanding cara lainnya. Hampir semua masjid di Indonesia menyelenggarakan ceramah agama. Dahulu, ketika akses informasi belum semudah sekarang, dan penceramah juga tidak sebanyak hari ini, masyarakat betah mendengarkan ceramah berjam-jam. Pada tahun 1970-an, orang-orang di pedesaan rela berjalan kaki puluhan kilometer dengan membawa obor menuju lokasi pengajian akbar. Mereka hanya puas, jika penceramah telah tampil selama dua jam atau lebih. Sekarang, alat informasi sudah sedemikian canggih dan terjangkau semua lapisan masyarakat. Masih tepatkah penyampaian ceramah yang berlama-lama? Maka, perlu kita renungkan sabda Nabi SAW berikut ini,

عَنْ اَبِى الْيَقْظَانِ عَمَّارِبْنِ يَاسِرٍ رضي الله عنهما قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ اِنَّ طُوْلَ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ فَاَطِيْلُوا الصَّلَاةَ وَاَقْصِرُوا الْطْبَةَ رواه مسلم

 ”Abil Yaqdhan, ’Ammar bin Yaasir berkata, ”Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ”Sungguh panjangnya shalat seseorang dan singkatnya nasehat yang disampaikan merupakan tanda kecerdasannya. Maka, panjangkan salat dan pendekkan nasehat.” ( HR. Muslim)

Dalam hadis di atas, kita diperintah memperpanjang shalat, sebab hanya dengan cara itulah, shalat akan berpengaruh terhadap ketenangan dan ketegaran kita. Orang yang demikianlah yang disebut Nabi orang cerdas. Sebaliknya, orang bodoh adalah orang yang menyampaikan ceramah berlama-lama, sedangkan shalatnya dikerjakan secara kilat.

Shalat adalah praktik ibadah, sedangkan ceramah atau khutbah bersifat teori. Oleh sebab itu, sebaiknya kita tidak  memperpanjang teori dan mengesampingkan praktik, seperti pesan sebuah iklan, ”do more, speak less.” Semakin singkat sebuah ceramah, semakin terlihat kecerdasan penceramah memilih kata yang minimalis dengan makna yang maksimalis. Inilah yang disebut mau’idhah al-hasanah dalam ayat ini.

Secara tidak langsung, Nabi SAW memberitahu kita, bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam menerima pesan komunikasi. Manusia tidak mampu menerima nasihat yang banyak dalam satu waktu. Segala ciptaan Allah, termasuk otak telah ditetapkan ukuran potensi, cara kerja atau daya serapnya (QS. Al Furqan [25]: 2). Alquran tidak diturunkan sekaligus, melainkan secara berangsur-angsur selama 23 tahun agar mudah dihafal dan dicerna oleh otak manusia. Allah berfirman, ”Berkatalah orang-orang kafir, “Mengapa Alquran tidak diturunkan kepadanya sekaligus saja?”; Demikianlah, supaya Kami kuatkan hatimu (dan ingatanmu) dengannya, dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar) (QS. Al Furqan [25]: 32).

Dalam hadits riwayat muttafaq ’alaih dari Abi Waa-il, Syaqiiq bin Salamah disebutkan bahwa Ibnu Mas’ud r.a memberi ceramah rutin setiap hari Kamis. Seorang di antara audiens memohon,

لَوَدِدْتُ اَنَّكَ ذَكَّرْتَنَا كُلَّ يَوْمٍ فَقَالَ اِنَّهُ يَمْنَعُنِى مِنْ ذَلِكَ اَنِّى اَكْرَهُ اَنْ اُمِلَّكُمْ وَاِنِّى اَتَخَوَّلَكُمْ بِالْمَوْعِظَةِ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَهِ صلى الله عليه و سلم يَتَخَوَّلُنَا بِهَا مَخَافَةَ السَّامَةِ عَلَيْنَا

“Betapa senang senang hati saya jika tuan memberi ceramah untuk kami setiap hari. Beliau menjawab, ”Yang menghalangi saya melakukan hal itu adalah kekhawatiran saya akan kebosanan kalian. Saya tidak memberi nasihat kepada kalian terus menerus sebagaimana dilakukan Rasulullah SAW kepada kami agar kami tidak bosan.”

Semakin panjang sebuah ceramah, semakin kecil prosentase daya serap pendengar. Les Giblin (2009) menyebut maksimal 10% daya serap dari isi ceramah, dan hanya bisa meningkat jika disertai dramatisasi dan praktik. Hampir sama, Emma Sargent & Tim Fearon mengemukakan bahwa kata-kata yang disampaikan hanya berpotensi 7% memberi pemahaman. Kekuatan terbesar justru pada olah  vokal (38%), dan visual (55%). Luar biasa, sungguh benar sabda Nabi SAW.  

Sumber: (1) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol. 6, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 774-776, (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, juz 13-14, p.319, (3) Al Nawawy, Abu Zakariya, Yahya bin Syaraf,  Riyadush Shalihin,  CV. Thoha Putra, Semarang, 1981, Juz I, p 557 (4) Khalid, Muhammad Khalid, Rijalun Haular Rasul (Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah), CV Diponegoro, Bandung, Cet VI, 1988, p. 245-268 (5) Emma Sargent & Tim Fearon, How You Can Talk to Anyone in Every Situation (Cara Berbicara Kepada Setiap Orang dalam Setiap Situasi), alih bahasa: Dra. Ursula Gyani Budithahja, Penerbit Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, 2018, cet 8, p. 93.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *