Header

CAHAYA PENDETA

October 27th, 2017 | Posted by admin_tsb in Artikel

CAHAYA PENDETA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan perbuatan yang baik dan melarang mereka dari perbuatan yang tidak baik (munkar), dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, dan menghapus dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS. Al A’raf [7]: 157).

Ayat di atas menjelaskan bahwa jauh sebelum Nabi SAW lahir, nama Muhammad dan sifat atau tugas-tugasnya telah disebutkan dalam Kitab Taurat dan Injil, yaitu menyuruh manusia untuk berbuat baik, mencegah perbuakan tercela, menghalalkan makanan yang baik, mengharamkan yang tidak baik, dan menghapus aturan agama yang memberatkan Bani Israil. Aturan yang memberatkan tersebut meliputi perintah bunuh diri sebagai tanda pertobatan, larangan memakan hewan dengan kuku yang tak terbelah, hewan yang tidak memamah biak, larangan mengonsumsi lemak hewan, larangan menikah bagi pendeta, menetapkan hukum balas setimpal atau qisashah kepada semua pembunuh, baik sengaja atau tidak, perintah memotong anggota badan yang melakukan dosa, dan membuang atau menggunting pakaian yang terkena najis.

Ada kisah menarik berkaitan dengan maksud ayat di atas, yaitu yang terjadi pada diri Abu Bakar As Shiddiq. Ketika berdagang di Syria atau Syam, Abu Bakar r.a bermimpi, yaitu matahari dan bulan berada di pangkuannya. Ia mendekap matahari dan bulan itu, lalu menutupinya dengan selendang. Esok harinya, ia meminta penjelasan takwil mimpi itu kepada pendeta Nasrani. “Tuan dari mana, dari suku apa, dan apa pekerjaan tuan?,” tanya pendeta. “Saya dari Mekah, dari suku Taim, dan profesi saya adalah pedagang,” jawab Abu Bakar r.a.

Setelah diam sejenak, sang pendeta berkata, “Cahaya itu adalah pria yang bernama Muhammad dengan gelar al Amin (orang paling dipercaya), akhlaknya sangat mulia. Itulah yang dijelaskan dalam Kitab Taurat, Injil dan Zabur. Seandainya Allah tidak berencana menciptakan pria mulia ini, maka Allah tidak akan menciptakan bumi, langit dan segala isinya. Allah juga tidak akan menciptakan Nabi Adam, Nabi Idris, Nabi Nuh, dan semua nabi dan rasul. Wahai Abu Bakar, engkau akan menjadi pengikut pria terhormat itu, mendukung dan mengawalnya, serta akan menjadi kepala negara sepeninggalnya. Aku sebenarnya percaya penuh kepadanya, tapi keimanan itu aku sembunyikan, karena takut ancaman masyarakatku.”

Mendengar takwil mimpi yang menyenangkan itu, Abu Bakar r.a segera berangkat mencari Nabi SAW ke Mekah. Setelah bertemu, ia benar-benar jatuh cinta, dan merasakan beratnya berpisah dengannya. Setelah berteman beberapa waktu, Nabi SAW berkata, “Wahai Abu Bakar, kamu duduk berkali-kali denganku, tapi tidak juga menyatakan masuk Islam.” Abu Bakar r.a menjawab, “Jika benar tuan seorang nabi, tuan pasti memiliki mukjizat.” Nabi SAW menjawab, “Tidak cukupkah mukjizat yang engkau ketahui melalui mimpimu di Syria dan penjelasan pendeta Nasrani yang telah menyatakan percaya kepadaku itu?” Mendengar jawaban itu, Abu Bakar r.a spontan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Dari ayat dan kisah di atas, ada beberapa hal yang dapat diambil pelajaran. Pertama, kedatangan Muhammad sebagai nabi bukanlah berita yang baru bagi umat manusia, sebab sudah diberitakan ratusan tahun sebelumnya. Husein bin Salam, kepala pendeta Yahudi Madinah yang bertahun-tahun menjadi pengajar Taurat juga mengakui telah menemukan penjelasan dalam Kitab Taurat tentang akan datangnya seorang Nabi di Madinah. Maka, ketika ia mendengar Nabi SAW telah tiba di Madinah, ia mencocokkan sifat-sifat Nabi sebagaimana tersebut dalam Taurat. Setelah mengamati wajah Nabi SAW dari dekat, dan kelembutan budi pekertinya, ia menyimpulkan semua sifat-sifat yang diketahui dalam Kitab Taurat itu benar, lalu ia masuk Islam. Setelah muslim, namanya diganti oleh Nabi SAW dengan nama Abdullah bin Salam.

Kedua, mimpi Abu Bakar r.a tentang kedatangan Nabi SAW merupakan bagian dari cahaya kenabian.  Jangan heran, cahaya itu juga berlaku kita, sekalipun ia sudah wafat, sebab Nabi SAW bersabda, “Tidak ada lagi (isyarat) kenabian setelah kematianku, kecuali al mubassyirat. Para sahabat bertanya, “Apakah al mubassyirat itu?” Nabi menjawab, “Mimpi yang baik” (HR. Malik, Abu Dawud, Al Bukhari dari Abu Hurairah r.a). Silakan meraih cahaya itu dengan memperbanyak shalawat kepada Nabi SAW disertai tekad yang sungguh-sungguh untuk meniru akhlaknya.                 Ketiga, kedatangan Abu Bakar r.a untuk mencari ilmu kepada pendeta Kristen merupakan pelajaran bagi kita untuk membangun hubungan harmonis antara muslim dan non-muslim.  Negara tercinta warisan para pejuang ini harus kita majukan bersama, saling bahu-membahu antara semua komponen bangsa tanpa melihat latarbelakang etnis dan agama dalam bidang ekonomi, budaya, ilmu pengetahuan dan sebagainya.

Keempat,  Abu Bakar r.a mampu secara finansial memberikan dukungan dan membela Nabi SAW, karena ia kaya dari hasil profesinya sebagai pedagang. Demikian juga yang dilakukan Usman bin Affan r.a dan Abdurrahman bin Auf, serta  para saudagar besar pada masa itu. Dengan demikian, kebangkitan umat Islam ke depan tidak cukup hanya dengan memajukan semangat zikir dan keilmuan, tapi juga bangkitnya muslim-muslim saudagar kelas dunia. Kekayaan negeri ini tidak boleh justru banyak dinikmati oleh pengusaha asing. Para orang tua tidak boleh hanya berbangga anaknya menjadi pegawai negeri, pegawai pabrik, ataupun tenaga ahli di perusahaan asing sekalipun dengan bayaran tinggi, atau bidang-bidang jasa lainnya, tapi diharapkan mereka memacu semangat enterpreunership putra-putri mereka agar menjadi saudagar muslim kelas dunia dengan semangat dakwah yang menyala.

Referensi: (1) Al ‘Ushfuri, Muhammad bin Abu Bakar, Al Mawaidh Al ‘Ushfuriyah (Petuah Usfuriyah) terj. Zeid Husein Al Hamid, Penyunting: Husein Abdullah Bil Faqih, Penerbit Mutiara Ilmu, Surabaya, 1994, cet II, p. 16  (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 9, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 76 (3) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol 4, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 322.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *