Header

RAHASIA SUKSES DAKWAH DUNIA

January 9th, 2021 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

RAHASIA SUKSES DAKWAH DUNIA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: httpsfavpng.compng_viewarabic-world-north-africa-arab-world-arabian-peninsula-world-map-pngFexLGSkt

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ 

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. Ali Imran [3]: 110).

            Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya (QS. Ali Imran: 104) yang berisi perintah amar ma’ruf nahi munkar (mengajak berbuat yang baik dan mencegah perbuatan dosa). Pada ayat ini dijelaskan lebih lanjut, bahwa dakwah atau amar ma’ruf nahi munkar harus berorientasi keimanan, bukan lainnya, sehingga bisa menyatukan dan menyejukkan masyarakat.  Dalam ayat ini juga tersirat perintah agar setiap muslim melakukan dakwah semampunya, meskipun ia bukan ahli agama. Gerakan dakwah yang masif inilah yang menjadi salah satu faktor keberhasilan dakwah di dunia.    

Dalam sebuah kajian Islam di USA, Dr. Muhammad Jawwad Chirri (w. 1994) ditanya oleh Wilson H. Guintin, Ph.D tentang faktor keberhasilan dakwah di dunia. Penanya yang Kristen dan ahli psikologi itu mengatakan, “Sejak berpendidikan, saya menjadi ragu tentang agama saya.” Ia menambahkan, bahwa agama-agama yang dipelajari sebelumnya tidak bisa mengobati kebimbangan keimananya, dan dialog dengan ulama besar inilah satu-satunya yang berhasil menghapus kebimbangannya.

Chirri adalah penulis puluhan buku dalam bahasa Arab dan Inggris, antara lain Muslim Practice; The Faith of Islam; Inquiries about Islam; Imam Husein, Leader of the Martyrs; dan The Brother of The Prophet Muhammad (the Imam Ali). Ia dibesarkan dalam keluarga Syi’ah di Libanon dan meraih gelar doktor teologi dari Iraq sebelum berhijrah ke Detroit, USA. Ia mendirikan sekaligus memimpin Islamic Center of America tahun 1962 setelah terlebih dahulu mendatangi Syekh Mahmud Shaltut di Universitas Al Azhar Mesir untuk mencari persamaan antara Sunni dan Syiah.

Menurutnya, ada tiga faktor yang mempercepat perkembangan Islam di dunia. Pertama, kepribadian Nabi sebagai pembawa Islam yang tidak mengambil jarak dengan masyarakat, tapi menyatu, bahkan dengan orang yang paling tak terhormat sekali pun. Masyarakat memandang Nabi sebagai kawan sekaligus pembimbing (QS An-Najm [53]: 2; At-Takwir [81]: 22). Juga mengakuinya secara aklamasi sebagai “al amin” yaitu manusia yang paling jujur dan bisa dipercaya (QS. Al-Qalam [68] : 4). Tak kalah pentingnya, ia tetap santun meskipun diperlakukan jahat oleh para atheis dan politheis (QS An-Nahl [16]: 125, QS. Ali Imran [3]: 159). Kepribadian Nabi inilah yang menjadi faktor utama percepatan penyebaran Islam. Selama memimpin, Nabi mampu mengelola perbedaan pendapat para penasihatnya sebagai sumber kekuatan, bukan sumber perpecahan. Ia dengan lincah mengelola konflik para penasehatnya seperti seorang musikus yang menggabungkan macam-macam bunyi alat musik menjadi lagu yang indah dan enak didengar.

Kedua, militansi para pengikut Nabi. Mereka siap mengurbankan harta, jiwa dan raga untuk perjuangan Nabi. Bandingkan dengan pengikut Musa a.s yang menolak diajak memasuki Yerussalam, bahkan mencemooh, “Silakan pergi sendiri dengan Tuhanmu, wahai Musa. Kami santai saja di sini.” (QS. Al-Maidah [5]: 24). Bandingkan juga dengan pengikut Isa a.s yang membiarkan Isa a.s dalam kesulitan. Sampai sekarang pun, setiap muslim di seluruh dunia memiliki militansi sebagai pendakwah sesuai dengan kemampuan dan bidang masing-masing. “Ketika saya berkunjung ke Afrika pada tahun 1962, saya tidak menjumpai organisasi Islam yang secara khusus bergerak di bidang dakwah. Padahal, saat itu misi Kristen telah memiliki sebanyak 212.250 buah dengan dana yang melimpah. Sedangkan pusat dakwah Islam sedunia pada saat yang sama hanya memiliki kurang dari seratus buah. Itu pun dengan dana yang terengah-engah,” kata Chirri. Perkembangan Islam di semua benua sampai hari ini lebih banyak karena kekuatan pendakwah perorangan daripada dakwah yang teroganisir. Di Indonesia, kita menjadi saksi sejarah, bahwa Islam masuk ke Indonesia bukan oleh lembaga dakwah, melainkan para saudagar yang berdakwah di sela-sela kegiatan bisnisnya.

Ketiga, ajaran Islam yang logis dan jelas, berisi aturan hidup yang lengkap, serta menjunjung tinggi kesetaraan di antara semua manusia. Ajaran tentang keesaan Tuhan, kerasulan Nabi dan konsep kehidupan sesudah mati tidak berbelit-belit dan sukar dipahami. Setiap orang dapat langsung membaca kitab sucinya dan menjalankannya. Islam mengajak penganutnya untuk berilmu dan berwawasan luas (QS. Thaha [20]: 114; Az Zumar [39]: 9), dan mencela orang yang tidak mau belajar dan meneliti (QS. Al A’raaf [7]: 179). Oleh sebab itu, pantaslah manusia dipercaya sebagai khalifah untuk mengatur dunia (QS. Al-Baqarah [2]: 30-33).

Aspek lainnya tentang ajaran Islam yang menjadi daya tarik dunia adalah ajaran keseimbangan antara aspek benda dan rohani, atau antara perorangan dan kemasyarakatan. Islam tidak melarang mencari kesenangan duniawi (QS. Al Baqarah [2]: 201-202), bahkan mencela mereka yang tidak memanfaatkan karunia Allah (QS Al A’raf [7]: 31-32). Islam tidak mengajarkan manusia untuk melenyapkan kepribadiannya dan meleburkan diri pada masyarakat dan negara (QS. An Najm [53]: 39;  QS. Al Baqarah [2]: 286), tapi menekankan agar setiap muslim memiliki tanggungjawab sosial untuk ikut mengatur kehidupan sosial, antara lain adanya perintah shalat berjamaah, zakat dan sadakah (QS. Al  Baqarah [2]: 43, dan Az Zariaat [51]: 19).

Berdasarkan jawaban ulama di atas, maka untuk kesuksesan dakwah ke depan, kita harus melakukan tiga hal. Pertama, kita harus benar-benar menjadi teladan, sebab inilah daya sugesti yang terkuat bagi masyarakat untuk mengikuti jejak kita. Kedua, kita harus didampingi oleh teman-teman seperjuangan yang militan, kompak, dan siap mengurbankan apa saja yang dibutuhkan dakwah, serta lebih senang memberi daripada diberi. Ketiga, kita harus mampu menjelaskan Islam sesuai dengan watak aslinya, yaitu logis, simpel, menyemangati untuk berkarya besar, dan selalu menyenangkan, bukan menyusahkan, apalagi menggelisahkan orang.

MELAWAN PIKUN

December 5th, 2020 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

MELAWAN PIKUN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: https://id.depositphotos.com/vector-images/cartoon-man-forget.html?qview=37051487

وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ ثُمَّ يَتَوَفَّىٰكُمۡۚ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرۡذَلِ ٱلۡعُمُرِ لِكَيۡ لَا يَعۡلَمَ بَعۡدَ عِلۡمٖ شَيۡــئاً إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٞ قَدِيرٞ 

“Allah menciptakan kamu, lalu juga mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada “ardzalil ‘umuri” (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. An Nahl [16]: 70).

Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menjelaskan daging hewan, susu, buah-buahan, dan  madu yang amat penting untuk kesehatan. Sebagai kelanjutan, ayat ini menjelaskan kehidupan manusia setelah mengonsumi protein hewani dan nabati itu, bahwa sebagian dari mereka berumur panjang, dan sebagian yang lain berumur pendek. 

            Ayat ini menegaskan, hanya Allah yang menghidupkan dan mematikan manusia. Apa pun yang menyebabkan kematian, misalnya virus, bakteri, kanker, tumor, bencana, dan sebagainya benar-benar kepanjangan tangan Allah belaka. Maka, kapan pun hari kematian merupakan hari dan tanggal terbaik pilihan Allah. Ada orang hebat yang diwafatkan Allah pada usia muda. Bisa saja, karena Allah mengetahui, kelak ia akan sombong dan berakhlak buruk pada masa tuanya. Bagi Anda yang berumur panjang, bisa juga karena Allah memandang pahala Anda belum cukup untuk menghadap-Nya, dan diberi kesempatan untuk menambah pahala melalui ibadah dan kegiatan sosial. Tapi, Anda juga harus siap dengan konsekwensinya, yaitu “ardzalil ‘umuri” (pikun). Allah berfirman,   

وَمَن نُّعَمِّرۡهُ نُنَكِّسۡهُ فِي ٱلۡخَلۡقِۚ أَفَلَا يَعۡقِلُونَ 

Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya, niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadiannya. Maka, apakah mereka tidak berfikir? (QS. Yasin [36]: 68).

Nabi SAW tidak pernah mengajarkan doa umur panjang, melainkan umur yang berkualitas, padat dengan perbuatan-perbuatan yang terbaik. Nabi SAW juga meminta dijauhkan dari pikun (al haram),

اَللَّهُمَّ اِنِّى اَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَاَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

“Wahai Allah, jauhkan aku dari lemah (fisik dan mental), malas (bekerja dan ibadah), serba takut, pikun, dan kikir. Juahkan pula aku dari siksa kubur, dan cobaan hidup yang merusak akhlakku, serta jauhkan aku dari kamatian yang buruk (su-ul khatimah) dan siksa di akhirat” (HR. Muslim dari Anas bin Malik r.a).  

Pikun atau dimensia atau melemahnya daya ingatan merupakan penyakit degenartif bersamaan dengan pertambahan umur. Umumnya, pada usia 65 tahun, atau lebih cepat, yaitu pada usia 40 tahun. Gangguan itu ditandai dengan kemunduruan fungsi kognitif dan sensorimotor, dan gangguan komunikasi. Ia merasa tidak aman, selalu minta ditemani, lebih galak, tidak betah di rumah, sering lupa, ingin keluar rumah tanpa tujuan, senang menimbun barang, dan sering mengulang-ulang pertanyaan. 78 % orang mengalami gangguan ini. Di Indonesia (tahun 2010), 10 % atau 29 juta orang mengalami pikun.  Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, jumlah orang pikun sedunia akan meningkat tiga kali lipat pada tahun 2050 (sekitar 115,4 juta orang) (Kompas. Com). Semoga Anda tetap sehat, cerdas dan gesit sampai lansia, seperti ‘Ammar bin Yasir r.a, sahabat Nabi yang berusia 93 tahun, tapi tetap aktif sebagai tentara perang sampai pada masa Ali bin Abi Thalib r.a berakhir. 

Untuk pencegahan pikun, Dr. Syailendra Sadjarwo, spesialis penyakit jiwa, dan Prof. Dr. Benyamin Chandra, guru besar neurologi menganjurkan latihan syaraf otak untuk terus bekerja dengan enam cara, yaitu (1) senam otak dengan olahraga yang teratur untuk oksigenisasi yaitu memasok oksigen ke otak, agar aliran darah dan oksigen lancar ke otak. (2) tetap giat bekerja, (3) menyukai tantangan yang memerlukan analisis pemikiran, (4) banyak bergaul dengan orang-orang, bisa di tempat ibadah atau beberapa komunitas, (5) selalu memotivasi diri, “aku harus hidup seribu tahun lagi, dan aku harus mandiri,” dan (6) menjaga keseimbangan pola kerja, olahraga dan istirahat sejak usia muda. (Mingguan Guru, edisi 415, 1 Pebruari 1982, dan Tempo. com, 6-12-2011).

Dalam surat At Tin, Allah menyebut pikun bagian dari “asfala saafiliin” (keadaan yang menurun). Untuk menghindari asfala saafiliin, yaitu penurunan kualitas fisik, iman dan akhlak, Allah memerintahkan kita untuk beriman secara benar, sehingga selalu ceria dan syukur, serta menambah perbuatan yang baik, termasuk di dalamnya interaksi dengan sesama manusia sepanjang usia kita (aamanuu wa ‘amilus shalihat). Ibnu Abbas, r.a. mengatakan, perbuatan baik yang dibiasakan sejak usia muda tidak hanya berfungsi melawan pikun, tapi juga menghasilkan pahala yang sama ketika ia sakit atau lemah fisik pada masa tua. Ia mengatakan,

 مَنْ جَمَعَ الْقُرْأَنَ فَلَا يَرْجِعُ اِلَى اَرْذَلِ الْعُمُرِ اِنْ شَاءَاللهُ

“Barangsiapa selalu membaca, (menghafal atau mempelajari) Al Qur’an, maka ia terhindar dari “ardzalil umur” (pikun).”  Nabi SAW juga bersabda,

فَاِذَا بَلَغَ اَرْذَلَ الْعٌمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْئًا كَتَبَ اللهُ مِثْلَ مَاكَانَ يَعْمَلُ فِى صِحَّتِهِ مِنَ اْلَخْيْرِ فَاِذَا عَمِلَ سَيِّئَةً لَمْ تُكْتَبْ لَهُ

“Ketika seseorang telah pikun (ardzalil umuri), sehingga tidak mengetahui apa pun, maka Allah akan mencatat untuknya pahala sebagaimana pahala perbuatan baik yang dilakukan pada waktu sehatnya dulu. Dan, jika berbuat yang buruk, tidaklah dicatat dosa baginya” (HR. Abu Ya’ala dari Anas bin Malik, r.a.).

            Selamat mempersiapkan masa tua melalui pemanfaatan usia muda secara maksimal dengan hidup secara berimbang (al mizan) antara pola kerja, pola pikir, pola istirahat, serta pembiasaan berpikir dan berbuat yang positif. Itulah investasi untuk masa tua yang tetap energik, sekaligus investasi perolehan pahala ketika kita lemah.       

Sumber: (1) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol. 6 Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 651 (2) Tempo.com, 6-12-2011) (3) Mingguan Guru, edisi 415, tanggal 1-2-1982, (4) Kompas.com 12-4-2012, (5) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 30, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 185-188. (6) Khalid, Muhammad Khalid, Rijalun Haular Rasul (Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah), CV Diponegoro, Bandung, Cet VI, 1988, p. 245-268.

BICARA SINGKAT, BICARA CERDAS

November 3rd, 2020 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

BICARA SINGKAT, BICARA CERDAS
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia

sumber gambar: https://www.islamcendekia.com/2014/05/contoh-pidato-islami.html

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ 

“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sungguh, Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An Nahl [16]: 125).

Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menjelaskan orang-orang Yahudi yang memanfaatkan hari Sabtu untuk kegiatan ekonomi, padahal semestinya untuk ibadah sesuai dengan permintaan mereka sendiri, Sabtu sebagai hari yang agung. Mereka tidak mengakui Jum’at sebagai hari agung umat Islam. Sebagai kelanjutan, ayat ini menjelaskan tiga metode untuk mengajak mereka ke jalan yang benar, yaitu hikmah, nasihat yang baik, dan diskusi yang terbaik.

Pertama, hikmah yaitu dakwah yang berdasar kecerdasan membaca situasi, kapan harus berbicara dan kapan harus diam, cerdas mengambil pilihan yang terbaik dari beberapa alternatif, dan cerdas memilih kata yang sesuai dengan selera dan intelektualitas pendengar, yang semuanya berdasar pertimbangan pemikiran ilmiah, penelitian, dan analisis yang mendalam.  Kedua, mau’idhah hasanah, yaitu nasihat yang baik, yaitu pemberian pesan-pesan keagamaan dengan cara yang menyenangkan pendengar dan meyakinkannya, sehingga mereka termotivasi melakukan pesan-pesan itu secara sukarela dan senang hati. Metode ini bida dipraktikkan dalam keluarga, lembaga pendidikan dan masyarakat umum. Ketiga, mujadalah, yaitu berdebat atau berdiskusi dengan bertukar pikiran secara logis dan argumentatif, dan dilakukan dengan sopan dan lapang hati, serta diakhiri dengan penghormatan atas perbedaan, atau sering disebut dengan istilah setuju dalam ketidaksetujuan (agree in disagreement). Metode ini harus dilakukan dengan kasih sayang, bukan dengan kebencian dan pelecehan terhadap mitra diskusi. Diskusi yang bernuansa pemaksaan dan melukai hati itu akan menodai prinsip Islam yang menekankan pendekatan kasih (QS. Ali Imran [3]: 159) dan menjauhi pemaksaan (QS. Al Baqarah [2]: 256).

Munurut Qureish Shihab, dalam ayat ini, atribut hasanah (dengan cara yang baik) hanya ditempelkan pada metode dakwah kedua dan ketiga, sebab metode dakwah yang pertama, yaitu hikmah sudah pasti hasanah. Ketiga metode dakwah ini bisa berdiri sendiri sesuai dengan situasi dan tingkat intelektualitas pendengar, dan bisa dilakukan secara campuran.

Tulisan ini difokuskan pada cara dakwah kedua, yaitu nasihat atau ceramah atau taushiyah, sebab model inilah yang paling populer dibanding cara lainnya. Hampir semua masjid di Indonesia menyelenggarakan ceramah agama. Dahulu, ketika akses informasi belum semudah sekarang, dan penceramah juga tidak sebanyak hari ini, masyarakat betah mendengarkan ceramah berjam-jam. Pada tahun 1970-an, orang-orang di pedesaan rela berjalan kaki puluhan kilometer dengan membawa obor menuju lokasi pengajian akbar. Mereka hanya puas, jika penceramah telah tampil selama dua jam atau lebih. Sekarang, alat informasi sudah sedemikian canggih dan terjangkau semua lapisan masyarakat. Masih tepatkah penyampaian ceramah yang berlama-lama? Maka, perlu kita renungkan sabda Nabi SAW berikut ini,

عَنْ اَبِى الْيَقْظَانِ عَمَّارِبْنِ يَاسِرٍ رضي الله عنهما قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ اِنَّ طُوْلَ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ فَاَطِيْلُوا الصَّلَاةَ وَاَقْصِرُوا الْطْبَةَ رواه مسلم

 ”Abil Yaqdhan, ’Ammar bin Yaasir berkata, ”Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ”Sungguh panjangnya shalat seseorang dan singkatnya nasehat yang disampaikan merupakan tanda kecerdasannya. Maka, panjangkan salat dan pendekkan nasehat.” ( HR. Muslim)

Dalam hadis di atas, kita diperintah memperpanjang shalat, sebab hanya dengan cara itulah, shalat akan berpengaruh terhadap ketenangan dan ketegaran kita. Orang yang demikianlah yang disebut Nabi orang cerdas. Sebaliknya, orang bodoh adalah orang yang menyampaikan ceramah berlama-lama, sedangkan shalatnya dikerjakan secara kilat.

Shalat adalah praktik ibadah, sedangkan ceramah atau khutbah bersifat teori. Oleh sebab itu, sebaiknya kita tidak  memperpanjang teori dan mengesampingkan praktik, seperti pesan sebuah iklan, ”do more, speak less.” Semakin singkat sebuah ceramah, semakin terlihat kecerdasan penceramah memilih kata yang minimalis dengan makna yang maksimalis. Inilah yang disebut mau’idhah al-hasanah dalam ayat ini.

Secara tidak langsung, Nabi SAW memberitahu kita, bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam menerima pesan komunikasi. Manusia tidak mampu menerima nasihat yang banyak dalam satu waktu. Segala ciptaan Allah, termasuk otak telah ditetapkan ukuran potensi, cara kerja atau daya serapnya (QS. Al Furqan [25]: 2). Alquran tidak diturunkan sekaligus, melainkan secara berangsur-angsur selama 23 tahun agar mudah dihafal dan dicerna oleh otak manusia. Allah berfirman, ”Berkatalah orang-orang kafir, “Mengapa Alquran tidak diturunkan kepadanya sekaligus saja?”; Demikianlah, supaya Kami kuatkan hatimu (dan ingatanmu) dengannya, dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar) (QS. Al Furqan [25]: 32).

Dalam hadits riwayat muttafaq ’alaih dari Abi Waa-il, Syaqiiq bin Salamah disebutkan bahwa Ibnu Mas’ud r.a memberi ceramah rutin setiap hari Kamis. Seorang di antara audiens memohon,

لَوَدِدْتُ اَنَّكَ ذَكَّرْتَنَا كُلَّ يَوْمٍ فَقَالَ اِنَّهُ يَمْنَعُنِى مِنْ ذَلِكَ اَنِّى اَكْرَهُ اَنْ اُمِلَّكُمْ وَاِنِّى اَتَخَوَّلَكُمْ بِالْمَوْعِظَةِ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَهِ صلى الله عليه و سلم يَتَخَوَّلُنَا بِهَا مَخَافَةَ السَّامَةِ عَلَيْنَا

“Betapa senang senang hati saya jika tuan memberi ceramah untuk kami setiap hari. Beliau menjawab, ”Yang menghalangi saya melakukan hal itu adalah kekhawatiran saya akan kebosanan kalian. Saya tidak memberi nasihat kepada kalian terus menerus sebagaimana dilakukan Rasulullah SAW kepada kami agar kami tidak bosan.”

Semakin panjang sebuah ceramah, semakin kecil prosentase daya serap pendengar. Les Giblin (2009) menyebut maksimal 10% daya serap dari isi ceramah, dan hanya bisa meningkat jika disertai dramatisasi dan praktik. Hampir sama, Emma Sargent & Tim Fearon mengemukakan bahwa kata-kata yang disampaikan hanya berpotensi 7% memberi pemahaman. Kekuatan terbesar justru pada olah  vokal (38%), dan visual (55%). Luar biasa, sungguh benar sabda Nabi SAW.  

Sumber: (1) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol. 6, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 774-776, (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, juz 13-14, p.319, (3) Al Nawawy, Abu Zakariya, Yahya bin Syaraf,  Riyadush Shalihin,  CV. Thoha Putra, Semarang, 1981, Juz I, p 557 (4) Khalid, Muhammad Khalid, Rijalun Haular Rasul (Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah), CV Diponegoro, Bandung, Cet VI, 1988, p. 245-268 (5) Emma Sargent & Tim Fearon, How You Can Talk to Anyone in Every Situation (Cara Berbicara Kepada Setiap Orang dalam Setiap Situasi), alih bahasa: Dra. Ursula Gyani Budithahja, Penerbit Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, 2018, cet 8, p. 93.