Header

TUDUHAN KEJI UNTUK ISTRI NABI

May 28th, 2022 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. (Gubes UINSA Surabaya)

إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ عُصۡبَة مِّنكُمۡۚ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡر لَّكُمۡۚ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕ مِّنۡهُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِۚ وَٱلَّذِي تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُۥ مِنۡهُمۡ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٞ لَّوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ظَنَّ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بِأَنفُسِهِمۡ خَيۡرا وَقَالُواْ هَٰذَآ إِفۡك مُّبِين
“Sungguh orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, tapi ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, maka baginya azab yang besar. Mengapa ketika kamu sekalian (orang-orang mukmin) mendengar berita bohong itu, (kamu) orang-orang mukmin laki-laki dan mukmin perempuan tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, “Ini adalah suatu kebohongan yang nyata” (QS. An Nur [24]: 11-12).


Pada ayat sebelumnya, Allah menjelaskan hukuman keras bagi pezina dan larangan menuduh zina pada wanita muslimah. Sebagai kelanjutan, ayat ini menjelaskan terjadinya tuduhan keji itu pada keluarga Nabi. Begitulah pahit getirnya perjuangan Nabi SAW di Makkah maupun Madinah. Di Makkah, ia dilawan terang-terangan oleh Abu Jahal. Di Madinah juga mendapat musuh dalam selimut, yaitu Abdullah bin Ubay, si munafik yang selalu mengadu domba antara pribumi Madinah dan pendatang dari Makkah. Dialah juga yang membuat berita bohong atau hoaks (haditsul ifki), bahwa istri Nabi, Aisyah berselingkuh dengan Shafwan bin Mu’aththil As Sulami r.a. Hoaks itu sangat cepat menyebar, karena menyangkut Aisyah, sebagai public figure.


Hoaks itu muncul setelah perang melawan Yahudi Bani Musthaliq yang dimenangi Nabi SAW. Aisyah (14 tahun) berhak mengikuti Nabi SAW berdasar undian di antara semua istri Nabi. Dalam perjalanan pulang, pasukan beristirahat, dan Aisyah diturunkan dengan kursinya sekalian. Saat itulah, Aisyah mengetahui bahwa kalungnya hilang. Maka, ia berjalan menyusuri jalan yang telah dilalui untuk mencarinya, tanpa memberitahu siapa pun. Ketika kembali, ternyata unta yang dinaiki dan rombongan telah melanjutkan perjalanan. Ia duduk sendirian di tempat istirahat semula sambil berselimut selendang. Shafwan bin Mu’aththil, r.a yang jauh ketinggalan dari rombongan terkejut menjumpai Aisyah sendirian. Ia hanya memberi isyarat, tanpa satu kata pun, agar Aisyah menaiki untanya, sedangkan dia sendiri menuntunnya. Peristiwa inilah yang dijadikan bahan hoaks oleh Abdullah bin Ubay.


Kata ifki (berita bohong) pada awal ayat benar-benar bantahan dari Allah yang amat tegas terhadap hoaks tentang Aisyah. Ketika Abdullah bin Ubay, si produsen hoaks meninggal, Nabi tetap melakukan shalat jenazah untuknya, meskipun dilarang oleh Umar bin Khattab, r.a.


Pada ayat selanjutnya, yaitu An Nur ayat 12, kita diperintahkan berbaik sangka kepada sesama muslim, sebab semua adalah “diri kita sendiri. Tidaklah tega kita melukai hati keluarga sendiri. Dalam ayat ini dikatakan, penyebar atau pecinta hoaks akan tersiksa di dunia, berupa hilangnya kepercayaan orang pada dirinya, juga lenyapnya rasa saling percaya di tengah masyarakat. Di akhirat, ia juga menerima siksa yang berat. Lebih-lebih bagi produsen dan mereka yang berperan besar dalam pembuatan hoaks (tawalla kibrahu).

Ayat 12 ini juga teguran untuk orang-orang Islam, mengapa mereka hanya bertanya kesana kemari tentang berita buruk itu? Sebagai orang yang beriman, mestinya mereka dengan tegas menolak hoaks. Mereka seharusnya memegang prinsip, bahwa selama tidak ada bukti, sebuah informasi harus dipandang hoaks dan tidak boleh dijadikan pegangan, sebagaimana difirmankan Allah,
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui, karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya” (QS. Al Isra’ [17]: 36).


Ada beberapa pelajaran dari dua ayat ini. Pertama, setiap kejadian, termasuk yang tidak menyenangkan selalu memberi hikmah besar bagi kita. Hoaks inilah yang menyebabkan ayat tentang kesucian Aisyah diturunkan Allah, sebuah penegasan kesucian yang termahal bagi seorang muslimah. Kedua, hoaks bisa menimpa siapa saja, termasuk bagi keluarga yang saleh, suci dan terhormat seperti Nabi SAW. Ketiga, jangan sekali-kali memercayai, apalagi menyebarkannya, apalagi pula memproduksinya. Sebab, resikonya terlalu berat di dunia dan akhirat. Keempat, terhadap hoaks tentang sesama muslim, kita harus cepat dan tegas menolak dengan mengatakan, “Ini kebohongan besar (hadza ifkun mubin).

MENIKMATI KRITIK

April 4th, 2022 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

MENIKMATI KRITIK
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UINSA Surabaya

فَذَكِّرْ إِن نَّفَعَتِ ٱلذِّكْرَىٰ   سَيَذَّكَّرُ مَن يَخْشَىٰ  وَيَتَجَنَّبُهَا ٱلْأَشْقَى

“Maka, berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat. Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran. Dan, orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya” (QS. Al A’la 87]: 9-11)

Pada ayat-ayat sebelumnya dijelaskan, Allah membacakan firman-firman-Nya kepada Nabi SAW, untuk selanjutnya Nabi menyampaikannya kepada semua manusia. Sebagai kelanjutan, tiga ayat ini menjelaskan macam-macam manusia dalam menerima nasihat yang bersumber dari firman Allah.

Ayat ini bisa diterjemahkan, “Maka, berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat.” Dengan terjemah ini, maka nasihat harus diberikan kepada semua orang, sebab nasihat amat mereka perlukan. Allah SWT berfirman, “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sungguh peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Adz Dzariyat [51]: 55).

 Bisa juga diterjemahkan, “Maka, berikanlah peringatan, jika peringatan itu bermanfaat.”  Dengan terjemah versi kedua ini, Allah memerintahkan memberi nasihat hanya kepada orang yang membutuhkannya. Jika, ia tampak enggan, bahkan bertambah keras perlawanannya, maka nasihat tak perlu diberikan. Sebab, hanya pemborosan tenaga dan waktu belaka. Menurut Abdullah Yusuf Ali, pesan dalam ayat ini lebih halus dibanding pesan yang sama dalam Bibel, “Cast not pearls before swines” Atau lebih lengkapnya, “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing, dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.” (Matius 7:6).

Berdasar tiga ayat di atas, ada dua macam manusia dalam menerima nasihat. Pertama, orang yang menerima nasihat dengan senang hati. Itulah tanda mukmin yang benar-benar takut kepada Allah. Semakin senang menerima kritik, yang sangat pedas sekalipun, maka semakin sempurna iman seseorang. Dialah mukmin yang menjadikan orang lain sebagai kaca hias bagi dirinya. Nabi SAW bersabda,

الْمُؤْمِنُ مِرَآةُ أَخِيْهِ، إِذَا رَأَى فِيْهِ عَيْباً أَصْلَحَهُ

Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Jika dia melihat suatu aib pada diri saudaranya, maka dia memperbaikinya.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah, r.a).

Kedua, orang yang sinis, abai, bahkan menolak mentah-mentah nasihat. Orang inilah yang disebut Allah sebagai orang kafir atau munafik. Allah SWT berfirman,   

وَإِذَا قِيلَ لَهُ ٱتَّقِ ٱللَّهَ أَخَذَتْهُ ٱلْعِزَّةُ بِٱلْإِثْمِ ۚ فَحَسْبُهُۥ جَهَنَّمُ ۚ وَلَبِئْسَ ٱلْمِهَادُ

“Dan jika dikatkan kepada kepadanya, ‘bertakwalah kepada Allah’, ia bangkit yang mengantarkannya berbuat dosa. Maka, cukuplah (balasannya) adalah neraka Jahannam, dan itulah tempat tinggal yang terburuk” (QS. Al Baqarah [2]: 206).

Menurut Ibnu Katsir, “Fajir, yaitu orang yang bergelimang dalam dosa akan enggan menerima nasihat untuk menghentikan dosanya, bahkan marah dan melawan, sebab hatinya sudah tertutup dan merasa senang dengan dosa-dosanya.” Abdullah bin Mas’ud r.a juga mengatakan,

إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الذَّنْبِ أَنْ يَقُوْلَ الرَّجُلُ لِأَخِيْهِ : اِتَّقِ اللهَ . فَيَقُوْلُ : عَلَيْكَ نَفْسَكَ ، أَنْتَ تَأْمُرُنِي ؟ رواه الطبراني

“Termasuk dosa besar adalah ketika seseorang menasihati saudaranya, “Takutlah kamu kepada Allah,” lalu ia menjawab, “Urus dirimu sendiri. Untuk apa engkau menyuruh saya?” (HR. At Thabrani).

Begitulah sifat orang munafik, kafir, atau fasiq, yang akan jatuh ke dalam bahaya besar. Ia sudah di tepi jurang, tapi orang yang berteriak mengingatkan justru dimusuhinya. Akhirnya, ia masuk ke jurang dan mati dengan kekecewaan. Sebaliknya, orang yang beriman selalu haus dengan nasihat. Nasihat yang paling pedas pun diterima dengan ikhlas, sebab itulah yang menyelamatkannya dari bencana besar.  Nabi Yahya a.s bisa menjadi teladan dalam hal ini. Ia diutus sebagai utusan Allah semasa dengan saudara sepupunya, yaitu Isa a,s. Jika malam tiba, keduanya mencari tempat berteduh, dan setiap kali akan berpisah, Yahya a.s selalu meminta nasihat kepada Isa, a.s. Para sahabat Nabi SAW juga mengingatkan pentingnya saling menasihati setiap kali mengakhiri pertemuan dengan membaca Surat Wal ’Ashri.

Nasihat adalah intisari agama. Jika seseorang tidak senang dengan nasihat, maka ia kehilangan jati dirinya sebagai muslim. Nabi SAW bersabda,

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا : لِمَنْ ؟ قَالَ للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ

“Agama adalah nasihat” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya (untuk ditaati semuanya), (dan nasihat) untuk semua pemimpin Islam, serta naishat bagi orang Islam secara keseluruhan.” (HR. Muslim dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daari r.a).

Nabi SAW adalah contoh terbaik dalam menerima masukan. Dalam perang Khaibar, Nabi dan pasukan mengambil posisi di dekat benteng. Lalu, seorang sahabat memberi masukan agar mencari tempat yang agak jauh, agar tidak menjadi sasaran panah musuh. Nabi SAW menerima dengan senang hati masukan itu dan melaksanakannya.

Imam Al Ghazali mengatakan, “Nasihat itu mudah, tapi sulit bagi penerimanya. Nasihat terasa pahit jika diterima dengan nafsu.” Abdul Wahhab Al Sya’rani juga  mengatakan, “Berterima kasihlah kepada orang yang mencacimu, sebab ia pelatih kesabaran, dan penguji sejauhmana kematanganmu sebagai orang beriman. ” Syekh Abd Salam menambahkan,“Tanda tawadlu adalah senang dinasihati orang yang lebih muda dan lebih rendah, serta berguru kepadanya.”

Sumber: (1) Abdul Wahhab Al Sya’rani, Tanbih Al Mughtarrin, penyadur: W. Wikarta: Jalan-jalan Surga, Akhlak dan Ibadah Pembuka Pintu Surga, Penerbit Mizania, Bandung, 2017 cet. I (2) Afif Abdullah, Ma’al Anbiya’ Fil Qur’anil Karim (Nabi-Nabi Dalam Al Qur’an), Toha Putra,  Semarang, 1983. p.1-25, (3) As Shabuni, Muhammad Ali, An Nubuwwah Wal Anbiya’ (Kisah-Kisah Nabi) terj. Mushlich Shabir, CV Cahaya Indah Semarang, 1994, p.283-315, (4) Al Hilaly, Muhammad Taqi-ud-Din (Berlin), The Noble Qur’an, Darussalam, Riyadh, Saudi Arabia, tt. P. 1197 (5) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol. 15, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 247-252, (6) Abdullah Yusuf Ali, The Holy Qur’an, Dar Al Arabia, Beirut, Lebanon, tt, p. 1724

JAIM NABI

March 7th, 2022 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

JAIM NABI

Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag.

(Guru Besar UINSA Surabaya)

عَفَا ٱللَّهُ عَنكَ لِمَ أَذِنتَ لَهُمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَتَعْلَمَ ٱلْكَٰذِبِينَ

“Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi ijin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (alasan uzurnya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?  (QS. At Taubah [9]:43)
Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menyuruh orang-orang Islam untuk ikut perang Tabuk bersama Nabi SAW. Sebagai kelanjutan, ayat ini menjelaskan adanya beberapa orang yang berpamit, tidak bisa ikut perang dengan berbagai alasan yang disertai sumpah. Nabi SAW mengijinkan mereka absen perang dan memaafkannya, karena ingat perintah Allah (QS. Ali Imran [3]: 159) untuk bersikap lemah lembut, mengasihi dan memaafkan orang.

Ternyata, keputusan Nabi SAW itu mendatangkan teguran Allah, karena ia dia tergesa-gesa mengijinkan mereka, tanpa memeriksa terlebih dahulu siapa saja yang menyampaikan alasan dengan jujur, dan siapa pula yang berbohong. Dari redaksi ayat, inilah teguran Allah paling keras yang pernah diterima Nabi. Dan dari redaksi ini pula, ayat ini menunjukkan tingginya kemuliaan Nabi di depan Allah, sehingga sebelum menegur, Allah menyatakan pemberian maaf kepada-Nya.

Sebenarnya, Nabi tidak bersalah, sebab yang bersumpah bohong bukan Nabi. Ia hanya tertipu. Tapi, bagi Allah, keputusan Nabi itu tidak baik bagi seorang Nabi. Itulah, maka dalam dunia tasawuf dikenal kaidah,

حَسَنَاتُ الْاَبْرَارِسَيِّئَاتُ الْمُقَرَّبِيْنَ

“Apa yang dipandang baik oleh orang saleh (pada umumnya), bisa saja dinilai buruk bagi orang-orang yang sangat dekat kepada Allah).

Ayat ini merupakan salah satu bukti kejujuran Nabi SAW. Meskipun ayat ini berisi teguran keras, yang bisa saja menjatuhkan nama baik Nabi, tapi ia tetap saja memberitakan kepada semua orang. Ia tidak akan melakukan JAIM, yaitu menjaga citra diri dengan segala cara. Dalam bahasa populer, JAIM adalah berkata bohong atau bertindak pura-pura, dengan harapan mendapat penilian, bahwa ia orang suci atau saleh, hartawan, dermawan, cerdas, terhormat, orang bekelas, dan image atau citra baik lainnya. Inilah yang seringkali dilakukan beberapa pebisnis, politikus, dan tokoh-tokoh atau profesi-profesi lainnya.

Ada lagi teguran Allah kepada Nabi, dan teguran itu juga tetap disampaikan kepada semua orang, yaitu firman Allah,

مَا كَانَ لِنَبِىٍّ أَن يَكُونَ لَهُۥٓ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِى ٱلْأَرْضِ ۚ تُرِيدُونَ عَرَضَ ٱلدُّنْيَا وَٱللَّهُ يُرِيدُ ٱلْءَاخِرَةَ ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Anfal [8]: 67)

Ayat ini turun sebagai teguran Allah kepada Nabi, karena ia memaafkan dan membebaskan tawanan perang Badar dengan sejumlah tebusan. Keputusan ini dilakukan atas saran Abu Bakar, r.a, dan mengabaikan saran Umar bin Khattab, r.a untuk menghukum mati mereka.

Dalam ayat yang lain, Allah juga memberi teguran kepada Nabi, “Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling, karena seorang buta datang kepadanya. Dan tahukah engkau (Muhammad), barangkali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, yang memberi manfaat kepada. Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, yang memberi manfaat kepadanya?.” (QS. ‘Abasa [80]: 1-4).

Teguran itu diberikan Allah, disebabkan Nabi kurang memperhatikan orang buta, Abdullan bin Ummi Maktum, ra. yang bertamu kepadanya. Saat itu, Nabi sedang berbincang serius dengan para elit pemimpin kafir Makkah tentang masalah-masalah yang sangat penting. Ayat teguran ini juga tetap disampaikan ke publik tanpa beban psikologis sedikit pun.

Andaikan Nabi menjaga image agar terkesan suci dan mulia, tak pernah melakukan kesalahan, apa susahnya bagi Nabi untuk menyembunyikan ayat-ayat itu, dan tidak menyampaikannya ke publik agar nama baiknya terjaga?

Ada lagi satu persitiwa yang amat memojokkan Nabi, yaitu ketika istrinya, Aisyah, r.a disebarkan berselingkuh dengan seorang sahabat. Andaikan Nabi mau, tak ada susahnya bagi Nabi untuk membuat ayat palsu yang menyatakan bahwa tuduhan itu tidak benar. Tapi, Nabi membiarkan saja hoaks itu menyebar ke mana-mana, sampai turun QS. An Nur [24]: 11-12, yang menyatakan tuduhan itu kebohongan besar, dan Aisyah, r.a, istri Nabi adalah wanita suci. 

Dengan demikian, pujian Allah kepada Nabi sebagai pribadi teragung di dunia sudah melalui ratusan ujian besar. Dengan ujian nama baik tentang diri dan keluarga yang demikian berat, tetap saja ia menunjukkan pribadinya yang shidiq (jujur), dan tabligh (menyampaikan semua wahyu, tanpa ada satu ayat pun yang disembunyikan). Nabi SAW tidak punya beban sedikit pun bercerita, bahwa ia telah melakukan kesalahan dan mendapat teguran Allah. Ia juga tidak peduli bagaimana penilaian atau image orang terhadap dirinya. Ia tidak mau mencari-cari kemuliaan dan citra nama baik, sebab kemuliaan akan datang secara otomatis, jika manusia berakhlak mulia. Kemuliaan itu juga hanya milik Allah semata,

فَإِنَّ الْعِزَّةَ للهِ جَمِيعًا

“Maka, sungguh, semua kemuliaan hanya milik Allah” (Q.S. An-Nisa’: 138-139)

Tirulah Nabi SAW yang mengedepankan kejujuran dalam semua hal. Jauhilah jaga image dengan cara-cara yang tak terpuji. Tampillah apa adanya, sejujur-jujurnya, dan itulah yang justru menghasilkan image sebagai pribadi yang terhormat.