Header

LISAN SAUL, QALBUN AQUL

August 29th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

LISAN SAUL, QALBUN AQUL
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: https://www.huffpost.com/entry/asking-questions-is-really-hard

“Kami tiada mengutus para rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Anbiyak [21]:07)

            Pada ayat-ayat sebelumya dijelaskan tentang penolakan orang kafir terhadap kepemimpinan Nabi SAW karena ia manusia biasa, bukan malaikat. Sebagai kelanjutan, ayat di atas menegaskan bahwa memang benar Nabi SAW dan semua nabi sebelumnya adalah manusia biasa, berjenis kelamin lelaki yang mendapat wahyu dari Allah. Jika masih meragukan penegasan itu, maka Allah menyuruh mereka bertanya kepada ahli kitab Injil dan Taurat, para pemuka agama Kristen dan Yahudi.

Inilah ayat yang menegaskan keleluasaan bagi kita mencari ilmu dan banyak bertanya kepada para ahli, meskipun berbeda agama dengan kita. Abdullah bin Abbas r.a adalah orang yang mempraktikkan ayat ini. Ia mengunjungi para sahabat senior untuk mendapatkan ilmu, bahkan seringkali tertidur di depan rumah mereka. ”Wahai keponakan Rasulullah SAW, mestinya saya yang mengunjungimu,” kata mereka. Sahabat Mughirah r.a  bercerita, Ibnu Abbas pernah ditanya:

كَيْفَ أَصَبْتَ هَذَا الْعِلْمَ؟ قَالَ بِلِسَانٍ سَئُوْلٍ وقَلْبٍ عَقُولٍ

“Bagaimana engkau bisa mendapatkan ilmu sebanyak itu?  Ia menjawab, “Bi lisaanin sa-uul, waqalbin ‘aquul” (dengan lisan yang banyak bertanya, dan otak yang terus berpikir).”  (HR. Ahmad 2/970)

Putra paman Nabi yang lebih sering dipanggil Ibnu Abbas ini sejak kecil mendapat ilmu dan nasihat-nasihat yang amat dalam dan berbobot dari Nabi. Beliau juga mendoakannya, ”Wahai Allah, berikan anak ini  keahlian dalam agama-Mu, dan ajarilah ia tafsir kitab suci-Mu.” Berkat doa Nabi dan kegigihannya dalam mencari ilmu itulah, Ibnu Abbas  mendapat julukan ”Hibrul Ummah” (tinta manusia), dan ”Al Bahru” (samudera ilmu) dalam ilmu Alquran.

            Pada masa pemerintahan Umar r.a, ia sering diminta pendapat dalam banyak hal, padahal di sekelilingnya banyak sahabat veteran perang Badar yang lebih senior. Umar r.a memberinya julukan ”Pemuda Tua,” karena terlalu pintar untuk ukuran anak seusianya. Sedangkan pada masa Usman r.a, ia mendapat tugas mengembangkan dakwah di Afrika Utara. Adapun pada masa Ali r.a, ia mendapat kepercayaan untuk memberi pencerahan kelompok Khawarij, dan berhasil memengaruhi 15.000 orang dari mereka untuk kembali ke jalan yang benar.

Siapapun yang ingin menjadi orang cendekia, ia harus mengikuti dua cara yang dinasihatkan oleh Ibnu Abbas r.a. Pertama, lisaanun-sauul, yaitu lisan yang banyak bertanya.  Silakan membuat pertanyaan sendiri tentang sesuatu masalah, lalu cailah jawabannya di buku-buku, atau bertanyalah kepada para ahli sesuai dengan bidangnya. Jika pertanyaan disampaikan dalam ruang kelas, diskusi, seminar dan sebagainya, Anda harus lebih berhati-hati mengajukannya, sebab didengar banyak orang. Ingat, pertanyaan yang baik mencerminkan kualitas dan kepribadian, yang selanjutnya ikut menentukan karir Anda, dan nama baik organisasi Anda. Pertanyaan yang berkualitas juga menentukan bagaimana respon narasumber dan semua peserta diskusi. Bahkan, pertanyaan yang baik akan diabadikan dalam dokumen penting. Elon Musk, seorang pebisnis dan pakar teknologi dari Amerika mengaku bisa menguasai ilmu roket berkat kegemarannya membaca dan banyak bertanya.

Ada sembilan kiat bertanya yang baik, yaitu (1) gunakan bahasa yang baku, singkat, dan  mudah dipaham, (2) sampaikan dengan suara yang jelas, (3) berbicaralah ketika Anda telah diberi kesempatan, jangan menyela pembicaraan orang, (4) hindari pertanyaan yang secara umum mudah dicari jawabannya, termasuk dari internet, (5) hindari pertanyaan yang menggiring narasumber pada suatu posisi yang tidak diinginkan, (6) hindari berprilaku agresif atau membuat narasumber merasa tidak nyaman mendengarnya, (7) pelajarilah topik masalah secara mendalam dari berbagai perspektif sebelum bertanya, atau lebih baik lagi, sebelum memasuki ruangan, (8) berikan apresiasi atas pengetahuan baru yang telah Anda peroleh dari narasumber sebelum bertanya, dan (9) bertanyalah tentang hal-hal yang kurang Anda pahami, tentang pendapat pribadi narasumber, atau sanggahan atas pendapatnya.   

Kedua, qalbun ‘aquul yaitu otak yang terus berpikir. Otak yang tajam hanyalah otak yang selalu diasah, sebagaimana menajamkan pisau dengan menggosoknya berulang-ulang pada alat pengasah. Alquran mendorong kita untuk berpikir kritis. Oleh sebab itu, kita harus memiliki keingintahuan intelektual (intellectual curiosity) yang tinggi tentang suatu masalah, dan secara tekun memaksimalkan waktu, tenaga dan motivasi untuk mencari jawabannya. Akan lebih produktif otak kita, jika tidak hanya berpikir kritis, tapi juga kreatif.

Ada sembilan cara berpikir kritis, yaitu (1) buatlah asumsi tentang suatu masalah, lalu berdasar asumsi itu, pikirkan jawabannya secara obyektif. Jangan terpangaruh emosi yang cenderung merusak obyektivitas Anda, (2) berpikirlah lebih maju daripada orang lain, (3) gunakan data yang valid untuk pijakan berpikir, (4) jangan takut hasil pikiran Anda ditertawai orang, (5) perbanyak membaca buku-buku berkualitas yang terkait dengan masalah yang sedang dipikirkan, (6) berpikirlah secara mendalam, bahkan out of the box, dan jangan terpengaruh pikiran kelompok, atau mainstream, (7) hargai semua pendapat yang berbeda, (8) tingkatkan fungsi otak dengan tiga cara, yaitu berfikir selama 30 menit setiap hari, berolah raga, dan mengonsumsi makanan yang menguatkan otak, (8) belajarlah kepada sebanyak mungkin orang tanpa melihat status sosialnya. Ibnu Samak berkata, ”Jika engkau tidak mau belajar kepada orang yang lebih rendah, engkau semakin congkak dan kehilangan ilmu darinya.” Syekh Abdus Salam juga berkata, ”Tanda tawadhuk adalah senang mendapat nasihat dari orang yang lebih rendah dan berguru kepadanya.”

Selamat berjuang menjadi manusia cendekia dengan B2 (bertanya dan berpikir) atau lisaan sa-ul dan qalbun ’aqul.

Sumber: (1) Muhammad bin Ali bin Muhammad As Syaukaany, Juz 13, Fat-hul Qadiir, Lajnah Lit Tahqiiq Wal Buhuths Al ‘Ilmy Bi Daaril Wafaa-i, tt p. 546 (2) Hepi Andi Bastomi, 101 Sahabat Nabi, Pustaka Al Kautsar, Jakarta Timur, 2004, 15-18. (3) Al Sya’rani, Abdul Wahhab, Tanbih Al Mughtarrin, penyadur: W. Wikarta: Jalan-jalan Surga, Akhlak dan Ibadah Pembuka Pintu Surga, Mizania, Bandung, 2017, Cet. 1

KONSENTRASI PADA HAK-HAK ILAHI

July 16th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

KONSENTRASI PADA HAK-HAK ILAHI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

 “Hanya kepada-Mu, kami menyembah, dan hanya kepada-Mu pula kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah [01]: 5).

Inilah firman Allah paling populer yang menjelaskan hak-hak Allah dan hak-hak manusia. Istilah hak selalu terkait dengan kewajiban. Artinya, adanya hak seseorang berarti adanya kewajiban pihak lain untuk memenuhinya. Demikian juga sebaliknya, adanya kewajiban seseorang berarti adanya hak bagi pihak lain yang harus dipenuhi. Akan tetapi, ketentuan itu tidak berlaku dalam hubungan antara  manusia dan Allah. Hak-hak Allah melahirkan kewajiban manusia, akan tetapi hak-hak manusia tidak mendatangkan kewajiban bagi Allah, karena manusia sebagai makhluk tidak berhak menuntut kewajiban dari Allah, Tuhan yang menciptakannya. Meskipun tidak ada yang berhak menuntut kewajiban dari Allah, tapi Allah telah menjamin pelaksanaan ”kewajiban-Nya” dan tidak akan mengurangi sedikitpun hak-hak hamba-Nya, ”Dan Aku sekali-kali tidak akan berbuat zalim kepada hamba-hamba-Ku” (QS. Qaf [50]: 27-29). Allah juga menegaskan dalam hadis Qudsi, ”Sunguh Aku mengharamkan diri-Ku untuk berbuat zalim.”

Allah tidak hanya menunjukkan keadilan-Nya terhadap manusia, tapi juga kemurahan-Nya yang melimpah, antara lain dengan memberikan hak hidup manusia dan pemenuhan semua kebutuhannya, meskipun orang itu mengingkari Allah, ataupun orang itu belum melakukan penyembahan apapun kepada-Nya, misalnya, si bayi. Anda bisa memperhatikan sejumlah ayat Al Qur-an tentang bagaimana Allah melaksanakan ”kewajiban-Nya” kepada manusia sebelum memerintahkan penyembahan kepada-Nya. Antara lain, dalam surat Al Kautsar,

”Sungguh Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah” (QS. Al Kautsar [108]: 1-2).   

Dalam surat Al Waqi’ah juga dijelaskan macam-macam pemberian Allah kepada manusia, ”Maka terangkanlah (kepadaKu) tentang (tumbuhan) yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkannya?. Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan tanaman itu hancur dan kering, maka  kamu menjadi heran dan tercengang, (sambil berkata), “Sungguh kami benar-benar menderita kerugian, bahkan kami menjadi orang-orang yang tidak mendapat hasil apapun. Maka terangkanlah  (kepada-Ku) tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kami yang menurunkannya?. Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan ia asin. Mengapakah kamu tidak bersyukur? Maka terangkanlah  (kepada-Ku) tentang api yang kamu nyalakan (dengan menggosok-gosokkan kayu). Kamukah yang menjadikan kayu itu atau kami yang menjadikannya? Kami jadikan api itu untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu  Yang Maha Besar” (QS. Al Waqi’ah [56]: 63-74).

Pemberian Allah kepada manusia tidak hanya bersifat fisik, tapi juga non-fisik, yaitu menjaganya, merawatnya, mengambil-alih kesulitan yang dihadapinya, menutupi dan mengampuni dosa-dosanya, memberi kekuatan untuk melakukan kebaikan, dan yang tak kalah pentingnya, memberi kekuatan untuk melawan setan, karena tanpa bantan Allah, manusia tidak akan mampu mengalahkannya, sebagaimana firman Allah,  

”Sungguh (wahai) hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka (setan-setan) dan cukuplah Tuhanmu sebagai Pelindung”  (QS. Al Isra’[17]: 65). Nabi Yusuf a.s pun tidak mampu melawan nafsu syahwatnya menghadapi godaan wanita cantik dan kaya-raya, Zulaikha, seandainya tidak dibantu Allah, sebagaimana diceritakan Allah,  

وَلَقَدۡ هَمَّتۡ بِهِۦۖ وَهَمَّ بِهَا لَوۡلَآ أَن رَّءَا بُرۡهَٰنَ رَبِّهِۦۚ كَذَٰلِكَ لِنَصۡرِفَ عَنۡهُ ٱلسُّوٓءَ وَٱلۡفَحۡشَآءَۚ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُخۡلَصِينَ

“Sungguh wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami menjauhkannya dari kejelekan dan kekejian (zina). Sungguh Yusuf termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf [12]: 24).

Secara garis besar, ada dua macam hak Allah yang harus dipenuhi manusia, yaitu, pertama,  mengimani eksistensi-Nya beserta sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Kedua, berupa tindakan nyata yaitu menunaikan shalat, puasa Ramadhan, mengeluarkan zakat, berhaji, dan menjalankan semura perintah-Nya. Manusia harus memenuhi hak-hak Allah sebelum menuntut haknya untuk dikabulkan doa-doanya. Allah berfirman dalam hadis qudsi,

لَسْتُ بِنَاظِرٍ فِى حَقِّ عَبْدِى حَتَّى يَنْظُرَ فِى حَقِّى (رواه الطبرانى)

Aku tidak akan memberikan hak hamba-Ku sebelum ia menunaikan hak-Ku. (HR. Thabarani dari Ibnu Abbas ra).

            Allah SWT akan lebih mencintai orang yang mendepankan hak-hak Allah berupa shalat, puasa, zakat, haji, berzikir, membaca Al Qur’an, bertawakal, dan semua bentuk penyembahan lainnya kepada Allah daripada orang yang menuntut haknya untuk dikabulkan doanya oleh Allah. Allah SWT berfirman,  

               عَنْ اَبِى سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ يَقُوْلُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ مَنْ شَغَلَهُ الْقُرْأَنُ وَذِكْرِي عَنْ مَسْأَلَتِى أَعْطَيْتُهُ اَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِيْنَ وَفَضْلُ كَلَامِ اللهِ عَلَى سَا ئِرِ الْكَلَامِ كَفَضْلِ اللهِ عَلَى خَلْقِهِ رواه الترمذي

Abu Said Al Khudry r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda, Allah ‘Azza Wajalla berfirman, “Barangsiapa sibuk membaca Al Qur’an dan berdzikir sampai tidak sempat mengajukan permohonan kepada-Ku, maka Aku akan memberinya anugerah yang lebih berharga daripada yang Aku berikan kepada para pemohon. Ketahuilah, nilai kalam Allah lebih tinggi dari semua perkataan makhluk seperti ketinggian Allah dibanding makhluk-Nya (HR. Al Turmudzi).

Sungguh, Allah memenuhi hak-hak manusia lebih banyak daripada manusia itu sendiri memenuhi hak-hak Allah SWT. Saatnya, Anda berkonsentrasi kepada hak-hak ilahi dengan memuji dan menyembah-Nya. Semakin besar konsentrasi Anda untuk memuji-Nya, semakin banyak nikmat Allah yang Anda diterima, meskipun Anda tidak sempat memintanya.

Surabaya, 03/12/2018

Referensi: (1) Ali Usman dkk, Hadits Qudsi, Penerbit CV Diponegoro,  Bandung, 1979. P. 3219-322; (2) Muhammad ‘Awwaamah, Minas Shihah Al Ahadits Al Qudsiyyah: Mi’ah Hadits Qudsi Ma’a Syarhiha (Seratus Syarah Hadis Qudsi), Noura Books, Jakarta Selatan 2013, p. 446-449).

PUASA, NYALAKAN PELITA DI DADA

May 20th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

PUASA, NYALAKAN PELITA DI DADA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://asysyariah.com/ulama-pelita-dalam-kegelapan

ثُمَّ قَسَتۡ قُلُوبُكُم مِّنۢ بَعۡدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَٱلۡحِجَارَةِ أَوۡ أَشَدُّ قَسۡوَةٗۚ وَإِنَّ مِنَ ٱلۡحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنۡهُ ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ وَإِنَّ مِنۡهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخۡرُجُ مِنۡهُ ٱلۡمَآءُۚ وَإِنَّ مِنۡهَا لَمَا يَهۡبِطُ مِنۡ خَشۡيَةِ ٱللَّهِۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ ٧٤

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Dan sungguh di antara batu-batu itu ada sungai-sungai yang mengalir darinya, dan di antara batu-batu itu, benar-benar ada yang terbelah, lalu keluarlah mata air dari padanya, dan di antara batu-batu itu pula, benar-benar ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Baqarah [02]: 74).

            Ayat di atas menjelaskan adanya hati manusia yang mati, gelap dan mengeras bagaikan batu, sehingga tidak dapat tertembus cahaya Allah.Bandingkan dengan hati yang lunak, hidup dan siap manerima cahaya Allah, sebagaiman dijelaskan dalam Al Qur’an, “Sungguh orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah, hati mereka bergetar, apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, iman mereka bertambah (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal” (QS. Al Anfal [08]: 02).

            Mengapa hati manusia mati dan mengeras? Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Adh-Dhabi’i, penulis buku Sanabilul Khair menjelaskan sebab-sebab yang mematikan hati manusia. Pertama, mengonsumsi makanan dan minuman melebihi yang dibutuhkan tubuh. Sebab yang pertama ini benar-benar menohok, karena kita kerapkali gagal menahan diri dari makan dan minum yang sesuai dengan selera, apalagi jika gratis, padahal kita sejatinya tidak lapar dan tidak pula haus. Rosyadi Achmad memberi nasihat, “Makan Anda yang pertama ketika lapar adalah kebutuhan, sedangkan makan kedua adalah nafsu yang akan menambah bodoh, malas dan penyakit, sebab akan menghasilkan lemak yang tersimpan di bawah permukaan kulit.”   

            Kedua, mengoleksi pakaian dan asesori atau berdandan secara berlebihan. Prilaku ini sudah pasti mengundang pemborosan dan berbau pamer, padahal boros dan show off sama-sama paling disukai setan. Tidak hanya itu, kadangkala pakaian tersebut sangat ketat atau terbuka pada bagian-bagian tertentu sehingga mengundang nafsu birahi lain jenis. Mungkinkah cahaya Allah menembus hati orang yang berada dalam dekapan setan itu? Perhatikan gaya hidup kebanyakan orang Indonesia sekarang yang cenderung konsumtif demi kepuasan pribadi, lupa etika dan kurang bersedekah.

            Ketiga, berbicara tentang hal-hal yang tidak penting dalam percakapan sehar-hari, baik langsung ataupun melalui media sosial. Perhatikan, tidak sedikit orang yang kuat berlama-lama ngobrol atau chatting tentang berbagai hal, namun tidak sabar berpanjang-panjang membaca Al Qur’an dan buku-buku ilmiah atau keagamaan.

Keempat, banyak bergurau, bahkan terbahak-bahak persis gelak-tawa setan. Anas r.a bercerita, “Rasulullah SAW pernah berkhutbah dengan semangatnya yang luar biasa, yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Beliau berkhutbah, Lau ta’lamuna ma a’lam ladlahiktum qalilan walabakaitum katsira” (andaikan kalian mengetahui apa yang telah saya ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Anas melanjutkan, ”Para sahabat langsung menutup muka sambil menangis terisak-isak” (HR. Bukhari Muslim). Imam Hasan Al Bashri pernah menjumpai pemuda yang tertawa terbahak-bahak, lalu menegurnya, ”Apakah engkau telah mendapat jaminan selamat dari siksa neraka? Apakah ada kepastian bahwa engkau dimasukkan ke surga?.” Pemuda cengengesan itu menjawab, ”Belum.” “Mengapa kamu bisa tertawa seperti itu?” kata Hasan Al Bashri. Sejak itu, pemuda tersebut bertaubat dan menjadi orang yang saleh.

            Kelima, tidak menyediakan waktu untuk introspeksi setiap hari. Setiap hari Anda hanya fokus pada kebersihan dan penampilan fisik di depan cermin, dan lalai kebersihan ruhani dan penampilan akhlak mulia. Anda rajin periksa ke dokter untuk mengobati penyakit, lalu membayar dan berterima kasih kepadanya, tapi Anda tidak pernah datang kepada orang yang dekat kepada Allah untuk memeriksakan penyakit hati. Anda justru tersinggung dan tidak berterima kasih ketika orang yang dengan sukarela menunjukkan penyakit hati Anda, misalnya kikir, sombong, pamer, banyak bicara, dan sebagainya. Anda juga tiada henti menilai prilaku negatif orang sampai lupa mengurai sifat-sifat negatif Anda sendiri. Anda pandai berbicara soal moral di atas panggung, tapi cacat budi pekerti dalam keluarga sendiri dan masyarakat umum. Mengapa Anda tidak introspeksi melalui duduk tasyahud ketika Anda bershalawat kepada Nabi SAW? Antara lain, “Wahai nabiku, inilah aku yang masih jauh dari sunahmu. Pergaulanku dengan semua orang muslim dan non-muslim, sesama jenis dan lain jenis belum seperti pergaulan yang engkau contohkan kepadaku. Wahai nabiku, rumah tanggaku belum seperti rumah tanggamu. Wahai nabiku, ibadahku belum seperti ibadahmu. Wahai nabiku, cara bicaraku belum seperti cara bicaramu. Wahai nabiku, cara makan dan minumku belum seperti cara makan dan minummu. Wahai nabiku, sampai usiaku yang sekian ini, aku belum memiliki karya besar untuk kemanusiaan dan agama seperti karya-karyamu. Wahai nabiku, aku kurang bersabar menghadapi apapun cobaan hidup seperti kesabaranmu. Wahai nabiku, aku malu berjuta shalawat kepadamu, namun wajahku masih jauh dari wajahmu.”

            Keenam, sering mendengarkan atau menyaksikan hal-hal yang sama sekali tidak memberi nilai positif dalam pembinaan jiwa dan semangat berkarya. Kita diajari nabi SAW untuk berdoa, “Waj’al fi sam’i nura, wafi bashari nura / wahai Allah berikan cahaya-Mu pada pendengaran dan penglihatanku.” Kedelapan, melanjutkan tidur di atas kasur, atau melanjutkan kegiatan yang tidak terlalu penting, padahal panggilan azan telah terdengar. Anda ingin Allah segera merespon doa Anda, namun Anda tidak merespon segera panggilan-Nya.

            Apakah Anda benar-benar berminat menyalakan pelita di dada yang sekarang telah redup atau bahkan mati itu? Jika ya, ramadhan inilah saatnya yang paling tepat untuk menyalakannya. Semoga.

Referensi: (1) Kementerian Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya, Al Jumanatul ‘Ali, Bandung, 2005; (2) Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Adh Dhabi’i, Sanabilul Khair, Investasi Akhirat, terjemah: Tsaniananda Fidyatul Ch, Penerbit: Tinta Medina, Creative Imprint of Tiga Serangkai, Solo, Cet. I, 2016, hlm. 72-73; (3) Rosyadi Achmad, Terapi Sapu Jagad, Penerbit: Sapu Jagad Corp, Sidoarjo, cet.1.2015;  (4) As Samarqandy, Syekh Nashr bin Muhammad bin Ibrahim, Tanbighul Ghafilin, Maktabah wa Mathba’ah Al Hidayah, Surabaya, t.t. hlm. 70