Header

SHALAT YANG MEMBAHAGIAKAN

July 23rd, 2017 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

SHALAT YANG MEMBAHAGIAKAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

 

sumber gambar: https://muslimvillage.com/2013/11/04/45425/daniel-pipes-on-russias-muslims-wrong-as-usual

قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢

Sungguh, (pasti) berbahagialah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu´ dalam shalatnya (QS. Al Mukminun [23]:1-2).

Artikel ini saya tulis untuk merespon beberapa orang yang masih meragukan shalat sebagai terapi atau cara-cara spesifik untuk meraih kebahagiaan, atau menganggap istilah shalat bahagia tidak ditemukan dalam literatur Islam selain shalat khusyuk. Tulisan ini juga sekaligus untuk persiapan saya memberi pencerahan shalat di 16 kota besar di Amerika Serikat tahun 2017.

Ada dua kata kunci dalam firman Allah di atas, yaitu khusyuk dan bahagia, bahwa pelaku shalat khusyuk dijamin hidup sukses dan bahagia. Setiap hari, kita diseru untuk sukses melalui azan, hayya ‘alas shalah, hayya alal falah (ayo shalat dan ayo bahagia). Kita disemangati terus menerus setiap hari untuk lebih berprestasi dan berbahagia (al falah) agar kita dapat memimpin dunia, bukan penonton atau orang yang terpuruk dan terpinggirkan.

Shalat khusyuk adalah shalat yang menumbuhkan ketundukan kepada perintah Allah, kepasrahan dan perasaan senang terhadap apapun dan berapapun pemberian Allah. Bisakah kekhusyukan diperoleh tanpa memahami makna doa-doa shalat? Hampir mustahil. Oleh sebab itu, Anda harus memahami arti semua doa shalat, sekalipun hanya secara global, tidak arti kata perkata. Bagaimana mengatasi kesulitan pemahaman doa-doa shalat yang tertulis dalam teks Arab itu, terutama bagi pemula atau mualaf? Sangat mudah, jika diajarkan dengan keseimbangan otak kiri dan kanan (lihat buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, p. 216-222).

Shalat khusyuk akan menghasilkan T2Q, yaitu tumakninah (tenang, damai, tidak tergesa-gesa dalam segala hal), tawakal (pasrah atas pemberian Allah setelah kerja keras dan doa), dan qana’ah (menerima dengan senang hati apapun dan berapapun pemberian Allah). Rincian (breakdown) dari T2Q yang merupakan modal utama untuk meraih kebahagiaan tersebut ditanamkan melalui enam gerakan utama shalat sekaligus  menghapus enam sumber kecemasan yang saya singkat KURMA PUCUK DOMIS, yaitu: pertama, kurang bersyukur, merasa serba kurang. Emosi negatif yang menjadi sumber kecemasan ini dihapus melalui renungan alhamdu lillahi rabbbil ‘alamin pada posisi berdiri shalat. Melalui hamdalah, dengan senang hati, Anda sedang berterima kasih kepada Allah SWT,  “Wahai Allah, saya berterima kasih atas keimanan yang Engkau anugrahkan kepadaku. Saya orang yang bahagia karena memiliki ibu, ayah, adik, kakak, suami atau istri, yang semuanya sangat menyayangi saya. Saya amat berbahagia karena masih hidup dan berkecukupan, tidak menjadi pengemis di jalan-jalan.” Anda bisa menambahkan deretan kenikmatan Allah yang telah Anda terima sejak kecil. Dengan penyebutan semua anugrah Allah itu, Anda akan lebih bahagia, lebih menghargai orang dan frekwensi marah kepada keluarga atau siapapun menjadi jauh berkurang. Hidup bahagia bisa diraih dengan mensyukuri apa yang ada, bukan mengharap-harap atau berangan-angan tentang apa yang belum di tangan.

Kedua, kematian yang ditakuti secara berlebihan. Ini juga merupakan sumber kecemasan. Melalui rukuk dengan posisi kepala yang diserahkan kepada Allah, Anda diingatkan untuk menyerahkan hidup-mati kepada Allah SWT, sebab kematian bukanlah pilihan, melainkan kepastian. Dengan menghapus ketakutan itu, Anda telah menutup pintu-pintu stres.  Melalui rukuk pula, Anda disemangati untuk rendah hati dan hormat kepada siapapun. Sikap hormat dan menghargai orang dapat mengantarkan Anda hidup lebih bahagia, sebab sikap itu mengundang simpati banyak orang untuk bekerjasama dalam banyak hal, termasuk dalam berbisnis untuk menambah penghasilan Anda.

Ketiga, pujian dan apresiasi orang yang diharap-harap atas apa yang Anda lakukan. Ketika Anda mengucapkan rabbana walakal hamdu pada waktu bangkit dari rukuk, sebenarnya Anda sedang bersumpah tidak mengharap balas budi, pujian, apresiasi dan terima kasih dari siapapun selain Allah, sebab Dia-lah satu-satunya yang berhak dipuji. Mengharap pujian orang sama dengan merampas hak-hak Allah, sekaligus membuka sejuta pintu stres. Sebab, menurut Al Qur’an (QS. 34: 13), hanya sedikit orang yang memberi apresiasi karya orang. Semakin besar harapan seseorang akan apresiasi orang, semakin terbuka lebar pintu stres. Orang bahagia tidak akan mengemis apresiasi, tapi justru selalu memberi apresiasi sekecil apapun jasa orang.

Keempat, curahan kesedihan hati yang belum tersalurkan kepada orang paling dipercaya. Oleh sebab itu, salah satu obat stres adalah mencurahkan masalah hidup sampai tuntas kepada orang yang dipercaya dan bersedia mendengarkannya, sekalipun orang itu tidak dapat memberikan solusi. Ketika bersujud minimal 30 detik dan Anda mencurahkan isi hati sepuas-pusanya, maka berkuranglah beban psikologis Anda, sebab semua curahan hati telah ditumpahkan kepada Allah SWT disertai keyakinan bahwa Allah akan mengambil alih semua masalah yang Anda hadapi.

Kelima, dosa-dosa masa lalu. Melalui doa pada posisi duduk di antara dua sujud, Anda diyakinkan bahwa tidaklah mungkin, Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun tidak mengampuni dan mengasihi orang yang shalat, dan merengek meminta belas kasih dan ampunan kepada-Nya.

Keenam, pesimis dan minder. Lihatlah, betapa gelap dan ciut muka orang yang tidak percaya diri, pesimis dan putus asa. Itulah tanda orang yang “kafir” dan menderita (QS. 14:7 dan 12:87). Melalui syahadat pada posisi tasyahud, keimanan Anda dikuatkan sehingga lebih percaya diri dan optimis, bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan diyakini sebagai sumber energi untuk mengarungi masa depan. Sekarang, lihatlah, betapa cerah dan ceria muka orang yang optimis. Terapi shalat bahagia bukan berarti shalat yang menghasilkan uang untuk membayar hutang atau menyembuhkan penyakit. Tapi, dengan shalat yang benar, Anda optimis dan amat yakin bahwa Allah pasti, pasti, pasti Maha Kuasa mengatasi kesulitan ekonomi, penyakit, dan seberat apapun masalah Anda. Melalui rukuk, sujud dan tasyahud, beban psikologis Anda terasa ringan, sebab tugas Anda sudah tuntas, yaitu usaha dan doa. Lalu, Anda pasrah, pasrah, pasrah dengan keyakinan bahwa Allah SWT akan “mengambil alih” semua masalah dan memberi keputusan yang terbaik untuk Anda (QS. 65: 2-3).

Terapi shalat bahagia bukan menambah atau mengurangi aturan shalat yang sudah paten dari Nabi SAW, melainkan hanya memberi kemudahan menemukan kecanggihan shalat. Handphone Anda sangat canggih untuk berkomunikasi lintas batas geografis secara audio visual dengan cepat dan akurat. Tapi, sayang, Anda tidak mengerti cara menggunakannya. Sungguh, shalat Anda super canggih sebagai pemompa semangat hidup dan pembebas penderitaan. Tapi, sayang, Andalah yang tidak canggih memanfaatkannya.

TIDUR PRODUKTIF

May 8th, 2017 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

TIDUR PRODUKTIF
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://stuartsmythe.com/

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦ مَنَامُكُم بِٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱبۡتِغَآؤُكُم مِّن فَضۡلِهِۦٓۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَسۡمَعُونَ ٢٣

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan” (QS. Ar Rum [30]:23).

Ayat di atas termasuk di antara enam ayat yang unik, karena dibuka secara berturut-turut (ayat 20-25) dengan frasa yang sama, “wa min ayatihi” (dan di antara tanda-tanda kekuasaan Allah). Semua ayat tersebut mengingatkan Anda untuk lebih cerdas dan mengapresiasi nikmat-nikmat dan kekuasaan Allah SWT, yaitu penciptaan alam semasta, proses perkembangan kehidupan manusia, keluarga bahagia, kebinekaan bahasa dan budaya, dan kenikmatan tidur yang dianugrahkan Allah untuk Anda sebagaimana disebut pada ayat di atas.

Betapa nikmatnya seorang musafir yang tidur di bawah pohon rindang dengan angin sepoi-sepoi setelah perjalanan jauh yang melelahkan. Atau seorang ibu yang tertidur lelap setelah seharian menggendong bayinya yang sedang sakit. Allah SWT berfirman, “Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat” (QS. An Naba’ [78]: 9). Mengantuk yang menjadi pengantar tidurpun harus Anda syukuri. “Kemudian setelah kesedihan menimpamu, Dia memberikan kantuk yang dirasakan sebagian kelompok dari kalian” (QS. Ali Imran [03]: 154).

Dengan tidur, Anda bisa beristirahat dari kerja keras atau dari daftar keinginan dan khayalan yang memenuhi otak Anda. Badan sebenarnya mengeluh akibat padatnya aktivitas Anda. Demikian juga mental dari pikiran yang terus menerus bekerja. Mengapa kita harus bersyukur atas kenikmatan tidur? Sebab, dengan tidur yang cukup, Anda memperoleh kondisi fisik yang segar untuk melanjutkan tugas-tugas rutin selanjutnya. Paling tidak, ada enam manfaat tidur nyenyak, yaitu menyehatkan jantung, mencegah kanker payudara dan usus besar, mengurangi stres pada jiwa dan raga, menguatkan kembali energi, meningkatkan daya ingat otak, dan memperbaiki sel tubuh yang telah rusak.

Di tengah waktu-waktu tidur itu, Anda sebaiknya menyisihkan sedikit waktu untuk shalat malam, agar hidup Anda selalu terbimbing. Nabi SAW bersabda, “Kerjakanlah shalat malam, sebab itu kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kamu, juga mendekatkan kamu kepada Tuhanmu, menghapus kesalahan-kesalahanmu, dan menjauhkan kamu dari perbuatan dosa” (HR. Al Turmudzi dari Abu Umamah r.a).

Tidur dan mimpi telah lama dikaji secara ilmiah. Setelah lama diperdebatkan, ternyata kesimpulannya sama dengan apa yang dinyatakan dalam Al Qur’an, bahwa tidur merupakan mati kecil, sebab saat itu, ruh berpisah untuk sementara waktu dari jasad. Adapun mati besar adalah lepasnya ruh dalam waktu yang lebih lama sampai bersatu kembali pada hari kiamat. “Allah-lah yang mengendalikan  jiwa (orang) ketika matinya dan (mengendalikan) jiwa (orang) yang belum mati pada saat tidurnya” (QS. Az Zumar [39]: 42). Oleh sebab itu, sebaiknya Anda memulai tidur dengan membaca basmalah, dan bangun tidur membaca hamdalah sebagaimana diajarkan Nabi SAW untuk menyatakan terima kasih atas menyatunya kembali ruh dan jasad.

Pada saat tidur, ruh berkelana cukup jauh atas kehendak Allah dan bisa bertemu dengan ruh-ruh lainnya di alam semesta. Saat itulah, mimpi terjadi, bisa mimpi buruk atau baik. Jika mimpi itu baik, maka itulah percikan cahaya kenabian. Nabi SAW bersabda,

 لَمْ يَبْقَ بَعْدِى مِنَ النُّبُوَّةِ اِلَّا الْمُبَشِّرَاتُ قَالُوا وَمَا الْمُبَشِّرَاتُ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ

“Tidak ada lagi (isyarat) kenabian setelah kematianku kecuali al mubassyirat. Para sahabat bertanya, “Apakah al mubassyirat itu?” Nabi menjawab, “Mimpi yang baik” (HR. Malik, Abu Dawud, Al Bukhari dari Abu Hurairah r.a).

Tidur itu nikmat dan menyehatkan. Alangkah lebih menyenangkan, jika disertai mimpi yang indah, bertemu dengan Nabi SAW. Itulah cahaya kenabian yang terpancarkan untuk Anda, dan pasti hal itu benar-benar Nabi SAW. Ia bersabda, “Siapapun yang menjumpai aku alam tidurnya, maka ia bagaikan menjumpai aku dalam keadaan terjaga. (Ketahuilah) setan tidak akan bisa menyerupai aku” (HR. Al Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Al Tirmidzi).

Mimpi berjumpa dengan Nabi SAW juga bagian dari kenikmatan surga yang didahulukan pemberiannya di dunia bagi auliyak atau kekasih-Nya (QS. Yunus [10]: 63). Semakin dekat dengan Nabi SAW, semakin besar kemungkinannya ia datang kepada Anda, tidak hanya dalam mimpi, tapi juga ketika terjaga, sebagaimana dialami para sahabat dan orang-orang mulia terdahulu. Seorang pria penduduk Madinah tiba-tiba melihat Nabi SAW di tengah cahaya yang belum penah dilihat sebelumnya. Ia bimbang dan bertanya dalam hati, “Benarkah ini nabi yang aku rindukan?” Nabi SAW menjawabnya, “Benar, akulah Rasulullah.” Semakin dipandang, semakin bertambahlah cahaya itu, lalu menghilang.

Husin Muhammad Syaddad bin Umar dalam bukunya Kaifiyatul Wushul Liru’yati Sayyidinar Rasul, Muhammad SAW menulis kumpulan pengalaman 134 orang suci tentang perjumpaan dengan Nabi SAW.  Caranya?  Buku itu menjelaskan, “Lakukan shalat dua rakaat dan bacalah Al Qur’an sebanyak-banyaknya menjelang tidur.” Sungguh tidur Anda amat bernilai, sebab Anda tidur dalam keadaan suci dengan iringan Al Qur’an yang suci pula.  Penulis buku itu juga bertanya dengan sedikit heran, “Mengapa perjumpaan dengan Nabi SAW tidak menjadi bagian dari cita-cita harian Anda?.

Jika kita gagal berjumpa dengan nabi, tak apalah, sebab mimpi bukan tujuan utama, melainkan perantara kedekatan kita dengannya. Insya-Allah kita akan berjumpa dengan Nabi SAW ketika Izrail mencabut nyawa kita. Jika itupun tidak tercapai, masih ada harapan terakhir, yaitu berjumpa dengannya di surga, dan itu pasti terjadi, sebab ia bersabda, “Al mar-u ma’a man ahabba (seseorang akan disatukan di surga dengan kekasihnya).” Wahai Rasulullah, kami benar-benar mencintai, menauladani dan merindukanmu. Kami berharap, mata hati kami terus berenang di lautan cinta denganmu, dan Allah SWT menerbitkan cahaya-Nya, sehingga tersingkaplah segala penghalang (hijab) antara kami dan Dia.”

Referensi: (1) Moh. Ali Aziz, Doa-doa Keluarga Bahagia, (2) Husin Muhammad Syaddad bin Umar, Kaifiyatul Wushul Lirukyati Syyidinar Rasul (Doa-doa Mimpi Bertemu Nabi SAW), terj. Moh. Al Mighwar, Pustaka Hidayah, Bandung, Cet. I, 2002 (3) Abd Razaq Naufal, Ir, Al Qur’an dan Sains Modern, Husaini, Bandung, tt.

DAMAI DENGAN SHALAWAT NABI

May 2nd, 2017 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

DAMAI DENGAN SHALAWAT NABI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

 

sumber gambar: http://www.goodnewsnetwork.org/peace-sculpture-unveiled-in-wausau-2/

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا

“Sungguh Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (QS. Al Ahzab [33]: 56).

Hampir semua muslim di berbagai belahan dunia hafal ayat yang sangat populer di atas. Ketika penceramah atau pemimpin zikir membacakan ayat tersebut, hadirin secara spontan menirukannya, lalu bershalawat bersama, allhumma shalli wasallim ‘ala sayyidina Muhammad.

Ayat ini paling unik di antara semua ayat Al Qur’an, sebab sebelum memerintahkan manusia bershalawat, Allah memberi contoh untuk bershalawat terlebih dahulu bersama para malaikat. Seolah-olah Allah SWT berpesan, “Aku Yang Maha Besar dan para malaikat yang mulia bershalawat kepada Nabi. Maka, sebagai orang yang beriman, kalian seharusnya melakukan hal yang sama!” Allah SWT bershalawat kepada nabi, artinya melimpahkan rahmat-Nya. Sedangkan shalawat oleh malaikat berarti permohonan ampunan dan kemuliaan untuk Nabi SAW.

            Keunikan lainnya, ayat ini diapit dua ayat yang saling menguatkan. Ayat sebelumnya memerintahkan kita menghormati Nabi SAW dan para istrerinya, dan ayat sesudahnya tentang ancaman Allah bagi siapapun yang menyakiti atau menjelekkannya. Penghormatan itu wajib dilakukan sampai kapanpun. Umar bin Khattab menegur beberapa pemuda dari luar kota yang gaduh di depan makam Nabi SAW, “Hormatilah nabi kalian. Andaikan kalian bukan orang asing, kalian sudah pasti merasakan bogem-mentahku. Jangan bersuara keras di sini!” Berdasar isi ayat ini, Imam Nawawi dalam kitabnya Al Adzkaar menganjurkan untuk selalu bershalawat sekaligus bersalam kepada Nabi SAW, sebagaimana telah kita lakukan pada setiap tasyahud, yaitu: assalamu ‘alaka ayyuhan nabiyyu (salam untukmu wahai nabi) dan allahumma shalli ‘ala Muhammad (wahai Allah berikan shalawat untuk Nabi Muhammad).

Ayat ini menunjukkan betapa mulianya Nabi SAW di mata Allah SWT dan semua penduduk langit. Jika Anda enggan memuliakan nabi SAW, manusia yang paling agung budi pekertinya dan paling besar jasanya dalam Islam itu, maka tidaklah mungkin Anda memuliakan dan mengakui jasa-jasa orang kecil. Secara tidak langsung, Anda diajari Allah SWT untuk menjadi pribadi apresiatif, pandai berterima kasih dan selalu menghargai semua orang, lebih-lebih mereka yang terhormat.

Karena perintah bershalawat berlaku umum, maka, Nabi SAW juga bershalawat untuk dirinya sendiri di dalam dan di luar shalat. Fatimah r.a, putri Rasulullah SAW bercerita, Nabi SAW selalu bershalawat dan menyampaikan salam untuk dirinya sendiri setiap masuk dan keluar masjid, lalu memohon ampunan dan rahmat Allah (HR. Ahmad).

Begitulah pentingnya shalawat. Shalat Anda, termasuk shalat jenazah tidak sah, jika tidak disertai shalawat. Doa Anda tertolak jika tidak dimulai atau ditutup dengan shalawat. Nabi SAW bersabda, “Doa akan tertolak kecuali pembaca doa itu bershalawat untuk Nabi SAW” (HR. Al Thabrani). Sebab, shalawat adalah sayap yang dibutuhkan untuk menerbangkan doa sampai ke langit. Menurut Imam Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal, khutbah juga tidak sah, jika tanpa shalawat. Hitunglah, berapa kali Anda bershalawat dalam sehari? Mengapa demikian? Sebab, Anda harus terus menerus tersambung dengan cahaya Nabi agar bisa menyontoh akhlaknya. Bershalawatlah untuk Nabi SAW setiap kali Anda mendengar namanya. “Orang yang paling kikir adalah orang yang (mendengar) namaku di sebut, ia tidak bershalawat untukku” (HR. Al Tirmidzi dari Ali r.a).

Raihlah lima anugerah Allah melalui bershalawat. Pertama, Anda semakin dekat dengan Nabi SAW. Beliau bersabda, “Bershalawatlah untukku, sebab semua shalawat kalian sampai kepadaku di manapun kamu berada” (HR. Abu Dawud). Beberapa sahabat pernah bertanya, ”Wahai  Rasulullah, bagaimana shalawat kami diperlihatkan kepada tuan, sedangkan jasad tuan sudah bercampur dengan tanah? Beliau menjawab, ”Sungguh, Allah melarang bumi untuk memakan jasad para nabi” (HR. Abu Daud, Ahmad dan Al Hakim). ”Siapapun yang bersalam kepadaku, pasti Allah mengembalikan nyawaku sampai aku menjawab salam untuknya” (HR. Abu Daud dari Abu Hurairah r.a).

Kedua, akhlak Anda semakin mirip dengan Nabi SAW. Bacaan shalawat membuat Anda mengingat Nabi dan bertekad meniru akhlaknya. Shalawat nabi tanpa tekad meniru akhlaknya hanya shalawat formalitas. Beberapa kali dijumpai di Mesir, dua orang yang bersitegang tiba-tiba buyar setelah mendengar seruan shalawat, “shallu ‘alan nabi” oleh orang di sebelahnya. Ketiga, semakin banyak malaikat menemani dan menolong Anda. Nabi SAW bersabda, “Sungguh, Allah memiliki banyak malaikat yang berkeliling untuk menyampaikan salam umatku kepadaku” (HR. Al Nasa-i dan Al Hakim dari Abdullah bin Mas’ud r.a). Jutaan malaikat selalu menunggu shalawat untuk segera datang menjemput Anda, seperti gojek yang selalu siap berangkat ketika menerima panggilan pengguna jasa transportasi.  Keempat, Anda aman dari siksa akhirat. Nabi SAW akan hadir sebagai pemberi syafaat atau pembela ketika Anda berdiri di depan pengadilan Allah SWT. Nabi SAW bersabda,

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ حِينَ يُصْبِحُ عَشْرًا وَحِينَ يُمْسِي عَشْرًا أَدْرَكَتْهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa bershalawat untukku sepuluh kali di pagi hari dan sepuluh kali di sore hari, maka dia mendapat pembelaanku (syafa’at) pada hari kiamat” (HR. Al Thabrani dari Abu Darda). Sabdanya lagi, “Orang yang paling mulia bersamaku  pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat untukku” (HR. Al Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud r.a). “Barangsiapa bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan memberi sepuluh shalawat (rahmat) untuknya” (H.R. Muslim dari Abdillah bin ’Amr bin Al ’Ash r.a). Imam Habib Abdullah Haddad mengatakan, ”Satu shalawat Allah sudah cukup bisa menyelamatkan dan menaikkan kemuliaan Anda. Maka, alangkah tingginya kemuliaan itu, jika Allah memberi sepuluh shalawat untuk Anda.” Subhanallah.

Kelima, irama shalawat Anda bersamaan dengan gemuruh irama shalawat Allah dan para malaikat-Nya. Berkenaan dengan ayat di atas, Ibnu Katsir berkata, ”Shalawat benar-benar telah menyatukan gema irama zikir penduduk langit dan bumi.”

Semakin sering bershalawat kepada nabi, maka hidup Anda semakin DAMAI, yaitu kepanjangan dari: Dekat dengan Nabi; Akhlak Anda semakin mirip dengannya; Malaikat semakin banyak menolong Anda; Aman dari siksa akhirat, dan Irama shalawat Anda bersamaan dengan gemuruh shalawat Allah dan para malaikat-Nya. Allahumma shalli wa sallim wabarik ‘alaih.

 

Referensi: (1) Moh. Ali Aziz, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, UIN Sunan Ampel Press, Surabaya, 2015, cet. X  p. 128-135 (2)  Al Jamshy, Mohamad Hasan, Al Qur’anul Karim, Tafsir wa Bayan, Darur Rasyid, Beirut, p. 426  (3) Hamka, Tafsir Al Azhar,  Juz 22, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 84-91 (4) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol. 10, Penerbit Lenterera Hati, Jakarta, 2012, p. 526-531 (5) Al Nawawy, Abu Zakariya, Yahya bin Syaraf,  Riyadush Shalihin,  CV. Thoha Putra, Semarang, 1981.