Header

MENEMBUS TANDUS

April 6th, 2018 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

MENEMBUS TANDUS
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

 

وَهُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجۡنَا بِهِۦ نَبَاتَ كُلِّ شَيۡءٖ فَأَخۡرَجۡنَا مِنۡهُ خَضِرٗا نُّخۡرِجُ مِنۡهُ حَبّٗا مُّتَرَاكِبٗا وَمِنَ ٱلنَّخۡلِ مِن طَلۡعِهَا قِنۡوَانٞ دَانِيَةٞ وَجَنَّٰتٖ مِّنۡ أَعۡنَابٖ وَٱلزَّيۡتُونَ وَٱلرُّمَّانَ مُشۡتَبِهٗا وَغَيۡرَ مُتَشَٰبِهٍۗ ٱنظُرُوٓاْ إِلَىٰ ثَمَرِهِۦٓ إِذَآ أَثۡمَرَ وَيَنۡعِهِۦٓۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكُمۡ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ٩٩

Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu banyak butir, dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sungguh yang demikian itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman(QS. Al An’am [06]: 99)

sumber gambar: http://www.solopos.com/2014/10/31

Ayat-ayat sebelumnya (QS. Al An’am 95-98) berbicara tentang alam semesta mulai biji-bijian sampai matahari, bulan dan bintang yang semuanya diciptakan dan diatur oleh Allah untuk kelangsungan hidup manusia. Ayat yang dikutip di atas (QS. Al An’am 99) merupakan penjelasan lebih lanjut tentang jenis tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang disuburkan oleh air hujan, antara lain kurma, anggur, zaitun dan delima. Ayat ini bisa juga ditafsirkan secara kiasan (isyari), bahwa cahaya Allah dari langit sejatinya bisa menyuburkan hati yang membuahkan tutur kata, sikap dan tindakan yang membahagiakan orang.

Tulisan ini merupakan respon terhadap kegelisahan ilmuwan dari beberapa kampus, termasuk Rektor UIN Sunan Ampel tentang kecerdasan emosional dan spiritual yang tidak simetris dengan kecerdasan intelektual. “Akhir-akhir ini, saya sulit menangis pada zikir malam, dan mudah marah dalam pergaulan,” katanya dalam pengukuhan tiga guru besar (28/12/2017).

Sehari sesudah itu, saya kedatangan guru mengaji dari sebuah desa pedalaman. Ia bercerita, ia tidak bisa shalat di masjid karena selalu mengganggu ketenangan shalat orang. “Setiap saya bershalawat kepada Nabi pada posisi tasyahud, hati saya bergetar, lalu lemas dan nyaris tubuh saya tersandar pada pundak jamaah di sebelah saya,“ kata ibu guru itu. Pada saat yang sama, pria tunantetra dari Gresik bercerita tentang kenikmatan shalatnya selama dua jam untuk dua rakaat karena hanyut dalam syukur dan tawakal.

Dari tiga peristiwa yang dikisahkan rektor dan dua orang pedesaan di atas, amatlah jelas betapa kontras antara kecerdasan spiritualitas ilmuwan kampus dibanding kecerdasan spiritualitas guru mengaji dan tunanetra. Inilah perbandingan tanah subur dan tandus yang digambarkan Nabi SAW:

مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنَ الهُدَى وَالعِلْمِ، كَمَثَلِ الغَيْثِ الكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ، قَبِلَتِ المَاءَ، فَأَنْبَتَتِ الكَلَأَ وَالعُشْبَ الكَثِيرَ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ، أَمْسَكَتِ المَاءَ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ، فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا، وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى، إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَلَأً، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ، وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ

Perumpamaan agama dan ilmu yang diberikan Allah kepadaku seperti hujan lebat yang membasahi tanah. Ada tanah gembur yang menyerap air, lalu menumbuhkan tanaman dan rumput yang lebat. Ada juga tanah yang tandus dan tidak menyerap air sedikitpun, tapi atas kemurahan Allah, ia bisa memberi manfaat kepada orang lain untuk diminum dan mengairi ladang pertanian. Ada pula tanah tandus yang sama sekali tidak menyerap air hujan, sehingga tidak menumbuhkan satupun tumbuh-tumbuhan. Itulah perumpamaan orang yang memahami agama Allah dan memberi manfaat pada orang lain. Ia memahami ilmu itu, lalu mengajarkannya kepada orang lain sebagaimana perintah Allah yang telah aku lakukan. Itu juga perumpamaan orang yang enggan menerima petunjuk Allah yang saya ajarkan” (HR. Bukhari dari Abu Musa al-Asy’ari r.a).

Berdasar hadis di atas, ada tiga jenis manusia dalam menerima agama dan ilmu. Pertama, orang yang berhati lembut dan berakal cerdas untuk menyerap ilmu dan agama, menghayati, mengamalkan, dan kemudian mengajarkannya kepada orang lain. Ia bagaikan tanah gembur yang menyerap air hujan dan menumbuhkan berbagai tanaman dan buah-buahan yang dibutuhkan manusia. Kedua, orang yang berakal cerdas, tapi berhati batu. Ia sangat cepat memahami ilmu dan agama, serta terampil mengajarkannya kepada orang, tapi ia sama sekali tidak menghayati, apalagi mengamalkannya. Inilah orang yang digambarkan Nabi SAW seperti tanah tandus yang tidak tertembus air hujan, tapi ia mengalirkannya untuk kebutuhan minum dan mengairi pertanian.

            Ketiga, orang dungu dan enggan menerima ilmu dan agama, termasuk melalui nasihat orang, sehingga tidak memiliki bekal keilmuan untuk diajarkan kepada orang lain. Ia batu dan tidak mungkin bisa menyuburkan tanah, bahkan bisa jadi membuat luka kaki orang. Orang jenis ketiga ini bagaikan tanah tandus yang tidak bisa menyerap air hujan sederas apapun, sehingga gersang tanpa satupun tanaman.

Ibnu Batthal, As Sufairi, dan At Thibby dalam kitab masing-masing mendorong kita untuk menjadi kelompok pertama, sebab mereka bercahaya dan memberi cahaya. Merekalah yang dipuji Nabi SAW, berakhlak mulia dan kontributif untuk kehidupan manusia.” Kelompok kedua juga mendapat apresiasi karena memiliki kemauan untuk menambah ilmu dan memiliki kepedulian kepada lingkungan, namun sayang, mereka  cacat karena hanya memberi cahaya semu, sebab sejatinya obornya telah redup, bahkan telah membakar dirinya, seperti sebatang lilin. Ia diibaratkan Imam Al Ghozali seperti jarum yang menjahit pakaian raja, tapi ia sendiri telanjang selamanya.

Bagi yang merasa berhati tandus, sebaiknya berguru kepada petani yang menyewa sapi dengan alat tradisional, atau traktor bajak tanah untuk mengeruk dan membalik tanah kering agar bisa gembur dan siap untuk ditanami. Tidak cukup hanya dengan cangkul dan skop. Untuk menyuburkan hati Anda yang tandus dan membatu tidaklah cukup dengan zikir-zikir konvensional yang telah rutin Anda jalankan. Diperlukan tindakan yang ekstra seperti petani yang mendatangkan traktor untuk menggemburkan sawahnya. Tidak cukup hanya dengan nasihat ulama, apalagi hanya nasihat orang di sekitarnya. Jika Anda tidak bersungguh-sungguh menyuburkan hati, bisa saja Allah mengambil tindakan drastis dengan mencabut kesempurnaan fisik, ketercukupan ekonomi dan daya intelektual Anda, na’udzu billah, karena hanya dengan cara itulah hati Anda bisa gembur dan siap menerima cahaya Allah.

Lihatlah mereka yang sedang bersiap menuai padi. Perhatikan padi yang semakin menunduk ke bumi karena isinya. Mengapa bobot intelektual Anda tidak bisa menundukkan emosi dan spritualitas Anda? Sudah sejauhmana kontribusi Anda untuk umat manusia dengan keilmuan dan serba-kecukupan Anda? Jika tidak bisa menjadi pohon yang berbuah, jadilah pohon rindang yang meneduhkan, atau menjadi rumput yang menyegarkan pendangan. jika Anda berspiritualitas emas dan tiada henti memberi manfaat untuk kesejahteraan dan kedamaian manusia, maka keharuman Anda kekal di alam semesta dan di sisi Allah. Tapi, jika Anda buih, maka segara lenyap tertiup angin, lalu keberadaan Anda sama dengan ketiadaan Anda (wujuduk ka’adamik). “Adapun buih itu, ia akan hilang dan tak berharga sama sekali, sedangkan yang bermanfaat bagi manusia, maka ia tetap di bumi” (QS. Ar Ra’d [13]: 17).

Surabaya, 2-1-2018

Referensi: (1) Ibnu Batthal, Syarah Shahih Bukhari (Riyad: Al-Rusd, 2003), Vol. 1, p.164 (2) Muhammad bin ‘Amr bin Ahmad As-Sufairi, Al-Majalis al-Wa’idhiyyah fi Syarhi Ahadits Khairil Bariyyah (Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 2004), vol. 2, p. 139 (3) Husain bin Abdillah At-Thiby, Syarhu At-Thiby ‘Alaa Misykatil Mashabih (Riyad: Nizar Musthafa al-Baz, 1997), vol. 2, p. 616. (4) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 7, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 295-297 (5) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol 3,  Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 573-575, (6) Al Bukhari, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il, Shahih Al Bukhari, Toha Putra, Semarang, t.t. (7) Musthofa Muhammad ‘Umaarah, Jawahirul Bukhori wa Syarhil Qostholaani, Darul Kubutbil Ilmiyah, Beirut, Libanon, Cet. II, 2010, p. 43.

MIMPI NABI, RINDU MATI

March 8th, 2018 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

MIMPI NABI, RINDU MATI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

 

أَلَآ إِنَّ أَوۡلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ٦٢ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ ٦٣ لَهُمُ ٱلۡبُشۡرَىٰ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۚ لَا تَبۡدِيلَ لِكَلِمَٰتِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ٦٤

Ingatlah, sungguh para kekasih Allah itu, tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak (pula) bersedih. (Mereka adalah) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. Mereka akan mendapat berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan juga di akhirat. Tidak ada perubahan pada janji-janji Allah itu. Dan itulah kesuksesan yang besar (QS. Yunus [10]: 62-64)

Artikel ini merupakan kelanjutan dari tulisan saya sebelumnya, “Mimpi Nabi, Mimpi Produktif.”  Sebelum ayat-ayat di atas, Allah menjelaskan, semua yang dilakukan manusia disaksikan dan dicatat oleh Allah. Ayat di atas merupakan penegasan lebih lanjut bahwa perbuatan yang baik itu tidak hanya disaksikan dan dicatat, melainkan juga dibalas oleh Allah dengan kegembiraan dunia dan akhirat (busyra fil hayatid dunya wafil akhirah).

Kegembiraan itu antara lain berupa janji Allah untuk mengirim malaikat menjelang kematian orang mukmin dan memperlihatkan surga yang sudah disiapkan untuknya. Kegembiraan itu juga berupa mimpi bertemu Nabi dan mimpi-mimpi baik lainnya. Ubadah bin Shamit r.a bertanya pada Nabi SAW makna al busyra (berita gembira) pada ayat di atas, lalu dijawab, “Itulah mimpi yang benar.”

Dalam kitab Ra-aitun Nabiyya SAW, Mi-atu Qisshatin Min Rua-an Nabi (100 Kisah Nyata Mimpi Melihat Nabi) karya Abdul Aziz Ahmad Abdul Aziz dikatakan, mimpi jumpa Nabi adalah kegembiraan dan kemuliaan, sebab ia adalah cahaya Allah, kabar gembira, peringatan, pembuka tabir (al futuh) rahasia-rahasia ilahiah (QS. Al A’raf  [07]: 96), dan penampakan Nabi dari dalam diri manusia itu sendiri (QS. Al Hujurat [49]: 07). Kitab itu menganjurkan Anda untuk lebih bersungguh-sungguh jika benar-benar ingin jumpa Nabi, seperti kesungguhan yang dilakukan Maryam untuk menggoyang pohon sampai buah kurma berjatuhan untuk makanan si bayi Isa a.s yang baru saja dilahirkan (QS. Maryam [09]: 25). Buku itu menambahkan, jika Anda fokus terhadap sesuatu, maka alam bawah sadar Anda menyertainya. Misalnya, ketika Anda sangat haus dan belum mendapatkan sedikitpun air, lalu tertidur, maka besar kemungkinan Anda akan melihat air segar dalam tidur Anda. Demikian juga, jika Anda fokus untuk mengharap perjumpaan dengan Nabi SAW.

Beberapa ulama terkemuka sering mendapatkan al futuh keilmuan dan kemuliaan melalui mimpi. Itulah yang dialami oleh Imam As Syafii, Imam Nawawi, Ibnu Sina. Abu Abdillah bermimpi melihat Nabi SAW duduk di masjid bersama Imam Malik bin Anas. Nabi memberikan minyak wangi misik kepada Imam Malik, lalu ia membagikannnya kepada orang banyak. Imam Syafi’i bercerita, “Aku bermimpi dipanggil Nabi, “Mendekatlah kepadaku!.” Lalu ia memasukkan ludahnya di mulutku seraya berkata, “Cukup, sekarang pergilah. Semoga Allah memberkahimu.” Ahmad bin Hajjaj mimpi melihat Nabi ditanya banyak orang tentang berbagai masalah, dan ia selalu menunjuk Imam Ahmad bin Hanbal. Ali bin Hamzah al Kisaa-i membaca Al Qur’an di depan umum. Pada malam harinya, ia bermimpi ditanya Nabi, “Apa benar engkau Ali bin Hamzah? “Ya” “Bacalah untukku Al Qur’an,” pinta Nabi. “Lalu, saya membaca QS As AShaffat: 1-3. Nabi berkata, “Bagus. Lanjutkan!.” Maka saya melanjutkan bacaan surat tersebut sampai ayat 94, dan Nabi memberi pujian yang sama, seraya mengatakan, “Saya akan menyebut namamu dengan bangga kelak di hadapan para malaikat dan semua pembaca Al Qur’an.”

Para sahabat dan orang-orang mulia terdahulu juga mendapat al futuh tentang kematiannya melalui Nabi SAW. Usman bin Affan r.a pada suatu hari berpuasa dan memerdekakan 20 orang budak. Malam harinya, ia mimpi berjumpa Nabi SAW, “Wahai Usman, maukah kamu berbuka puasa denganku?” “Tantu wahai nabi,” jawab Usman. Esok harinya, ia terbunuh. Ada juga seorang pria yang bermimpi melihat Nabi memanggil-manggil Abdullah bin Mas’ud di tengah kerumunan orang, “Kemari, jangan jauh dariku!.” Pria itu lalu memberitahukan mimpi itu kepadanya. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Baiklah, besok pagi mari ikut saya ke Madinah!,” Ternyata, pada hari itu Ibnu Mas’ud meninggal dunia, dan ia bisa shalat janazah untuknya bersama banyak orang di Masjid Madinah.  At Thawawisi berkata, “Saya mimpi melihat Nabi sedang  berdiri di suatu tempat. Saya menyampaikan salam dan bertanya kepadanya, “Mengapa tuan di sini?” Nabi menjawab, “Saya sedang menunggu Al Bukhari.”  Esok harinya, beliau meninggal dunia.

Para sahabat dan ulama terdahulu memandang kematian sebagai suatu yang indah.  Abu Darda’ r.a berkata, “Orang tidak suka miskin, tapi aku menyukainya, sebab bisa menjadikan aku rendah hati. Aku juga menyukai penyakit, sebab bisa menghapus dosa. Orang tidak suka kematian, tapi aku menyukainya, sebab aku bisa segera bertemu dengan Kekasih sejati” Komaruddin Hidayat menulis, “Berdamailah dengan kematian, karena Anda sedang dinaikkan di atas pesawat untuk terbang jauh menuju pertemuan dengan Allah, Nabi SAW, keluarga tercinta dan teman-teman lama yang telah mendahului Anda. Kematian bagaikan kepompong yang berubah menjadi kupu-kupu, terbang di antara bunga-bunga, tanpa jejak kerusakan. Jika Anda riang melihat kematian, maka riang pula hidup Anda. Sebaliknya, jika Anda cemas dan takut, maka kehidupan Anda terasa sesak dan mengerikan. Fokuslah untuk berkarya dan berkarya. Ar-Raghib Al Ashfahani mengatakan, “Kematian adalah “pecah telur” yang mengantarkan ayam mencapai tarap kesempurnaannya.”

Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk kampanye kematian, melainkan ajakan memandang kematian sebagai sesuatu kepastian yang menyenangkan, lebih pasti dan menyenangkan daripada menunggu antrean di bandara. Semakin Anda cemas dan takut menghadapi kematian, semakin terbuka sejuta pintu stres untuk Anda. Fokuslah untuk berkarya besar untuk kemanusiaan dan agama, harumkan akhlak Anda, dan bersiaplah menerima kahadiran Nabi SAW dengan mukanya yang bersinar, senyumnya yang indah, dan wewangiannya yang menyegarkan untuk menjemput kematian Anda.

Surabaya, 15 Desember 2017

Referensi: (1) M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah, vol. 5: 448- 456,  (2) Abdul Aziz Ahmad Abdul Aziz, Ra-aitun Nabiyya SAW, Mi-atu Qisshatin Min Rua-an Nabi, (100 Kisah Nyata Mimpi Melihat Nabi), Terj. Kaserun AS Rachman, Penerbit Turos, Jakarta, 2015,  (3) Komaruddin Hidayat, Berdamai dengan Kematian, Menjemput Ajal dengan Optimisme, Penerbit Hikmah, Jakarta, 2009, cet 9. P xii, (4) Komaruddin Hidayat, Psikologi Kematian, Mengubah Ketakutan Menjadi Optimisme, Penerbit Hikmah, Jakarta, 2006, cet VII, P x, p. 163 (5) Abdul Wahid, Senyum Indah Kanjeng Nabi, Penerbit Diva Press, Jogjakarta, 2016, CetI, p. 201

RAMAH ALAM, RAIH SALAM

February 5th, 2018 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

RAMAH ALAM, RAIH SALAM
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ ١٠٧

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. Al Anbiyak [21]: 107).

sumber gambar: www.dreamstime.com

Pada ayat sebelumnya dijelaskan bahwa dalam Kitab Zabur telah tertulis bahwa bumi akan dikelola dengan baik oleh orang-orang yang beriman dan berakhlak mulia (‘ibadiyas shalihun), yaitu umat Nabi SAW. Ayat yang dikutip di atas merupakan kelanjutan ayat sebelumnya sebagai penegasan, bahwa Islam datang untuk rahmatan lil ‘alamin, yaitu pemberi kebahagiaan semua makhluk, yaitu manusia, jin, malaikat, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan alam secara keseluruhan.

Inilah ayat yang sangat pendek, hanya enam kata, tapi memiliki pesan yang luas tentang kedamaian dunia yang akan disumbangkan oleh Islam. Menurut Sayid Qutub, salah satu wujud  rahmatan lil alamin Islam adalah ajarannya tentang kesetaraan manusia, dan dorongan inovasi melalui kemerdekaan berfikir untuk memajukan kualitas kehidupan. Antara lain berupa apresiasi untuk sebuah inovasi. Jika ia gagal, penggagas diapresiasi dengan satu poin kebaikan, dan jika berhasil diberi bonus dua poin. Kepribadian Nabi SAW juga rahmatan lil alamin. Dialah satu-satunya manusia yang diberi predikat rahmatan lil alamin, dan satu-satunya yang bergelar rahim, satu sifat yang hampir sama dengan sifat Allah, ar Rahim (Yang Maha Penyayang), sebagaimana disebutkan dalam QS. At Taubah ayat 128.

Nabi SAW mengajarkan kita untuk menyayangi binatang, melarang memberi beban yang berat di atas punggungnya, dan melarang menyembelihnya dengan pisau yang kurang tajam. Nabi bahkan memberitakan adanya wanita yang dimasukkan ke neraka karena mengurung kucing sampai mati kelaparan. Sebaliknya, wanita pelacur dimasukkan ke dalam surga karena menyelamatkan nyawa seekor anjing. Anda manusia rahmatan lil ‘alamin, jika Anda menyayangi binatang seperti yang dilakukan Catherine van Eyk, turis Belanda yang menghentikan mobilnya di  Taman Nasional Kruger Afrika selatan, sehingga jalan macet selama 20 menit sebab 120 mobil berhenti, karena memberi kesempatan dua singa yang sedang bercinta.

Terhadap tanaman, Nabi SAW juga melarang kita memetik bunga sebelum mekar, agar lebah bisa menghisap sarinya dan kita bisa menikmati keindahannya. Ia juga melarang memetik buah sebelum matang agar dinikmati manusia sesuai dengan tujuan penciptaan semula  (M. Quraish Shihab, vol 8: 132-135).

Artikel ini ditulis untuk menyambut peringatan Hari Air Sedunia (22 Maret). Pada awal tahun 2018 ini, beberapa negara di Afrika mengalamai kekeringan air. Pada musim kemarau yang lalu, Indonesia juga mengalami hal yang sama. Presiden Joko Widodo menggelar rapat terbatas untuk mengatasi kekurangan air yang menambah penderitaan rakyat di beberapa daerah. Sekitar 3,9 juta jiwa merasakan dampak kekeringan, 56.334 hektar lahan pertanian kering kerontang, sehingga 18.516 hektar lahan pertanian gagal panen. Forum Ekonomi Dunia menempatkan krisis air sebagai  isu utama dalam satu dekade mendatang. Saat ini, 1 dari 10 penduduk dunia tidak memiliki akses ke air bersih. Atas nama pembangunan, berbagai lahan hijau kita tersapu bersih. 55 persen sungai di Tiongkok juga lenyap dalam waktu 20 tahun terakhir (Harian Kompas, nationalgeografic.co id).

Di sektor kehutanan juga tidak kalah mengerikan. 42 juta hektar dari 130 hektar hutan Indonesia telah gundul “plonthos” ditebang, sehingga Indonesia menciptakan “rekor” sebagai negara tercepat dalam perusakan hutan dibanding 44 negara pemilik hutan lainnya. Kebakaran hutan kita yang terjadi setiap tahun telah menghanguskan bahan baku obat, yang hanya satu-satunya di dunia dan menjadi incaran negara-negara farmasi. Satwa-satwa dalam hutanpun kehilangan habitatnya akibat kebakaran dan penggundulan tersebut. Dampaknya, bisa Anda saksikan, tanah longsor dan banjir bandang yang menyengsarakan jutaan manusia. Polusi udara akibat asap pabrik dan kendaraan juga telah memicu pemanansan global dan kerusakan paru-paru kita.

Nabi SAW memberi contoh hemat air. Ia berwudlu hanya dengan 1 mud air (0,76 ltr) (HR. Al Jama’ah dari Anas r.a). Ia juga menegur Sa’ad r.a ketika boros air dalam berwudlu (HR. Ahmad dan Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar r.a). Allah SWT berfirman, “Sungguh, orang-orang boros itu saudara setan” (QS. Al Isra’ [17]: 26). Secara tidak langsung, Nabi memberi pesan untuk menyelamatkan kehidupan anak cucu kita. Perhatikan ayat-ayat Al Qur’an tentang air. Antara lain, “Dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup” (QS. Al Anbiya’ [21]: 30). “Allah telah menciptakan langit dan bumi serta menurunkan hujan dari langit, kemudian Ia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan yang menjadi rejeki untukmu” (QS. Ibrahim [14]: 32). Dalam surat Al Waqi’ah [56]: 58-70, kita diingatkan Allah, dari manakah air yang engkau minum? Buatanmu sendiri atau pemberian Allah? Tidakkah tenggorokanmu menjadi segar karena air?. Perhatikan juga Surat Al Mulk [67] yang dibuka dengan firman tentang kehidupan dan kematian, lalu ditutup dengan peringatan akan terjadinya kekekeringan atau ketiadaan persediaan air sama sekali, “Katakanlah, terangkanlah kepadaku, jika sumber air kalian kering, maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?” (QS. Al Mulk 967]: 30).

Jika Anda berhemat air, menjaga kebersihan sungai, mengurangi berkendara bermotor, menyanyangi hewan, menjaga kelestarian hutan, memelihara keindahan taman dan kebun, ikut memikirkan kenyamanan hidup semua makhluk generasi mendatang, maka Anda manusia rahmatan lil alamin. Sebaliknya, jika Anda boros air, sekalipun dari sumur sendiri ataupun air sungai, membuang sampah seenaknya, bahkan tega-teganya membuang sampah dan limbah ke sungai, membuat derita hewan, menebang pohon semaunya, membakar hutan atau menggundulinya, menginjak taman-taman rumput yang indah di tempat publik, memetik bunga sebelum mekar, maka Andalah manusia la’natan lil alamin, yaitu penyebab penderitaan semua makhluk hidup. Jangan lupa, termasuk la’natan lil alamin adalah orang yang menyakiti hati pasangan hidup, anggota keluarga dan siapapun. Jadi, rahmatan lil alamin tidak hanya diartikan secara sempit untuk toleransi hidup di tengah masyarakat multikultural.

Jika seribu tahun mendatang, manusia merasakan kenyamanan hidup berkat jasa Anda memelihara alam ini, sekecil apapun, maka itulah pahala mengalir (jariyah) yang akan membuat Anda tersenyum di alam baka. Sebaliknya, jika terjadi sekecil apapun derita makhluk hidup akibat ulah Anda, maka itulah sumber tangisan yang Anda rasakan di alam baka itu. Na’udzu billah min dzalik. Saya yakin, salam Allah dan semua malaikatnya akan terus terkirim untuk Anda, manusia rahmatan lil alamin.

Referensi: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar, Juz 7, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, 122-124 (2) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, vol 8,  132-135, (3) Ibnu Majah, Al Hafidh Abu ‘Abdillah Muhammad bin Yazid Al Qazwini, Sunan, Dar Al Fikr, Beirut,  2004. (4) http/trivia.id post (5) jawa Pos23 oktober 2017 p.1