Header

BERAGAMA DENGAN CERIA

March 19th, 2015 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

BERAGAMA DENGAN CERIA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

smile muslim“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu, Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rasulullah itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah pelindung terbaik dan penolong terbaik (pula).” (QS. Al Haj [22]:78)

Tulisan ini ini hanya menjelaskan penggalan dari ayat yang tercetak tebal dalam terjemah ayat di atas, “..dan Dia (Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” Tentu Anda masih ingat tulisan saya sebelumnya, “Hidup Biasa dengan Ibadah Ekstra.” Sebaiknya Anda membacanya ulang sebab sangat terkait dengan tulisan ini. Uraian ini ditulis sebagai respon atas komentar negatif yang disampaikan oleh orang-orang yang memandang Islam sebagai ajaran yang terlalu banyak aturan sehingga menyempitkan gerak kehidupan. Mereka merasa kehilangan kenyamanan atau kebebasan hidup karena kungkungan nilai-nilai agama yang ketat. Allah SWT Maha Mendengar ucapan mereka dan menurunkan wahyu yang berbunyi:

طه ١ مَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لِتَشۡقَىٰٓ ٢ إِلَّا تَذۡكِرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰ ٣

“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah. Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).” (QS. Thaha [20]: 1-3)

Firman Allah ini diawali dengan Thaahaa, salah satu nama atau predikat Nabi SAW, yaitu singkatan dari thahir (orang yang bersih dari dosa) dan hadi (orang yang memberi pencerahan agama). Oleh sebagian ulama, thaaha dikaitkan dengan pribadi Nabi SAW karena kata itu terdiri dari huruf tha yang dalam hitungan Arab berarti angka 9 dan ha yang berarti 5 sehingga berjumlah 14. Tanggal 14 adalah awal dari puncak cahaya bulan purnama yaitu tanggal 15, dan Nabi SAW dipanggil dengan bulan purnama (al badar). Dengan demikian, firman Allah ini secara tidak langsung mengingatkan Nabi agar mengajarkan agama yang memudahkan orang dan menjauhkan mereka dari hidup yang susah karena Islam.

Surat Thaaha ini turun ketika banyak pengikut Nabi SAW disiksa oleh orang-orang kafir di Mekah. Mereka lalu mengejek Islam sebagai agama yang mendatangkan penderitaan pengikutnya. Maka ayat ini membantah tuduhan orang kafir Mekah tersebut,”Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah.” Sebagian ahli tafsir memberi penjelasan berbeda, bahwa ayat ini turun ketika ada seorang sahabat yang memaksakan diri untuk terus beribadah padahal ia sudah kelelahan, sebagaimana akan dijelaskan pada bagian akhir tulisan ini.

Allah SWT juga menegaskan keceriaan dalam beragama dalam ayat yang lain, yaitu:

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.“ (QS. Al Baqarah [02]:185)

Muhammad bin ‘Allan As Shiddiqy, penulis kitab Dalilul Falihin menulis satu bab yang berjudul Bab Al Iqtshad fit Tha’ah (Pembahasan tentang Beragama secara Moderat). Ia mengatakan, “Orang beragama bagaikan orang yang melakukan perjalanan yang sangat jauh dengan banyak bekal di punggungnya. Jika ia berjalan dengan cepat dan memaksakan diri agar lekas sampai tujuan, maka dipastikan ia kelelahan dan tidak akan sampai ke tujuan.”

Pada zaman Nabi SAW, ada peristiwa yang menarik. Seorang penduduk desa pedalaman menemui Nabi SAW. Beliau lupa siapa pria yang datang tersebut. Lalu lelaki itu berkata, “Saya orang yang masuk Islam setahun silam, dan sejak itu saya tidak pernah makan di siang hari.” Nabi SAW lalu berkata, “wa man amaraka an tu’adzdziba nafsaka? (Siapa yang menyuruhmu menyiksa diri sendiri?”

Nabi SAW juga pernah bersabda, “Sungguh, agama itu mudah (yusrun). Siapapun yang mempersulit (pelaksanaan) agama, ia akan kalah. Maka sedang-sedang sajalah kalian (saddidu), berdekat-dekatlah (wa qaribu), dan bergembiralah (wa absyiru), serta mintalah pertolongan Allah di waktu pagi, sore dan sedikit di malam hari” (HR Bukhari dari Abu Hurairah r.a)

Imam Al Karmany menjelaskan arti hadis di atas secara rinci. Menurutnya, kata yusrun dalam hadis di atas artinya Islam itu sangat mudah. Oleh sebab itu, siapapun yang mempersulit diri dalam menjalankan agama, ia akan gagal mencapai kesempurnaan sebagian atau keseluruhan ibadahnya. Perintah Nabi SAW, “saddidu (sedang-sedang sajalah)” artinya jalankan agama dengan sedang-sedang saja dengan prinsip kemudahan asalkan tidak melanggar aturan yang baku. Sedangkan kata wa qaribu (berdekat-dekatlah)” artinya, jika Anda tidak bisa menjalankan agama secara ideal, maka berupayalah mendekati yang ideal itu.

Imam Al Karmany lebih lanjut menjelaskan bahwa sabda Nabi SAW, “wa absyiru (bergembiralah)” artinya kerjakan agama dengan sukacita. Bergembiralah dengan pahala Allah atas ibadah yang Anda kerjakan dengan konsiten dan kontinyu sekalipun kecil. Mintalah pertolongan Allah agar tetap menjalankan ibadah dengan sukacita agar tidak merasa bosan. Orang yang tidak mengerjakan agama dengan riang hati, ia akan jemu dan merasa lelah, seperti musafir yang kelehan di jalan dan tidak sampai tujuan.

Anas bin Malik r.a bercerita, suatu ketika Nabi SAW memasuki masjid dan beliau melihat tali yang terbentang antara dua tiang. Beliau bertanya, “Ini tali apa?” Para sahabat menjawab, “Ini tali yang diikat oleh Zainab untuk pegangan shalat ketika ia sudah lelah. Maka Nabi SAW bersabda, “Li yushalli ahadukum nasyathahu, fa idza fatara fal yarqud (hendaklah seseorang shalat dalam keadaan segar. Jika lelah, maka hendaklah ia tidur dulu).”

Dalam Al Qur’an, Allah SWT menekankan beberapa kali prinsip kemudahan beragama tersebut, antara lain pada beberapa ayat yang disebut di atas. Renungkan kembali penggalan firman Allah di atas, yaitu:

“…dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al Haj [22]:78).

Islam diturunkan untuk membahagiakan Anda, bukan untuk menyusahkan Anda, maka raihlah kebahagiaan itu dengan pengamalan agama dengan sukacita. Jika ada ajaran yang menurut Anda menyusahkan, maka pastikan cara pandang Anda yang salah karena mungkin berdasar hawa nafsu, bukan dengan akal sehat. Atau karena pengetahuan Anda yang sempit atau karena penafsiran yang keliru. Kerjakan perintah Allah semampu Anda dan Allah SWT pasti Mahatahu kesulitan dan semangat Anda. Jika Anda beragama dengan dukacita, bagaimana mungkin Anda bermuka ceria dan menebar kasih kepada sesama, dan mungkinkah ada orang lain tertarik pada agama Anda?

Sumber: Muhammad bin Allan As Shiddiqy, Dalilul Falihin Juz I, p. 281; An Nawawi, Riyadlus Shalihin I: 145, Hamka, Tafsir Al Azhar Juz 16 p. 118; M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah vol. 7 p. 548

BERDIRI DI ATAS API

March 3rd, 2015 | Posted by admin_tsb in Artikel - (2 Comments)

BERDIRI DI ATAS API
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“Sungguh, Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin (pendatang di Madinah) dan orang-orang anshar (penduduk asli Madinah) yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit, setelah hati sebagian dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sungguh, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.” (QS. At Taubah [09]:117)

fireAyat di atas merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya tentang perang Tabuk, perang melawan tentara Romawi. Inilah perang dengan persiapan paling berat bagi Nabi SAW. Dalam ayat yang dikutip di atas, Allah SWT menyebut suasana perang itu dengan kata sa’atil ‘usrah (masa sulit). Itulah masa paceklik, musim buah mulai gugur karena pergantian musim panas ke musim gugur, udara panas luar biasa, minim perbekalan, sampai kurma harus dihemat-hemat selama perjalanan. Kendaraan perang juga terbatas: satu unta harus dikendarai dua sampai tiga orang untuk menempuh perjalanan yang sukar dan jauh dari Madinah.

Umar bin Khattab menggambarkan derita Tabuk sebagai berikut, “Ketika istirahat di suatu tempat, kami sangat haus, tenggorokan kami rasanya hampir putus dan tidak ada air setetespun. Satu-satunya cara adalah menyembelih unta, agar bisa mengambil air yang tersimpan di lambungnya, dan itulah yang kami lakukan. Melihat tentara sudah semakin tidak kuat menahan haus, Abu Bakar memohon Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, Tuhanmu telah menjamin doamu dikabulkan. Berdoalah agar Allah menurunkan hujan.” Andaikan tidak seberat itu derita yang dirasakan, tentu Abu Bakar tidak minta demikian kepada Nabi SAW. Nabi mengangkat tangan berdoa, lalu tidak lama setelah menurunkan tangannya, turunlah hujan deras. Dengan riang gembira, para tentara minum dan mengisi kantong-kantong air. Setelah semua kantong terpenuhi, berhentilah hujan. Ajaib, ternyata hujan itu hanya di sekitar Nabi SAW.”

Dalam perang dengan perbekalan terbatas menghadapi kekuatan musuh yang jauh lebih kuat itu, tidak sedikit orang Islam yang menolak secara terang-terangan ikut perang. Ada juga yang berangkat dengan setengah hati, menggerutu dan pulang di tengah perjalanan. Tapi, ada juga penduduk asli Madinah (anshar) dan pendatang di Madinah (al muhajirin) yang sepenuh hati mengikuti nabi sekalipun harus “berjalan melintasi api.” Orang-orang pilihan inipun hampir saja tergoda untuk desersi, mengingat beratnya tantangan. Keraguan dan pesimisme menjalani derita perang itulah yang mereka mintakan ampunan Allah SWT. Mereka gembira karena Allah telah mengampuninya, sebab Dia Maha Pengampun, sebagaimana disebut pada ujung ayat, “Sungguh, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.”

Sebelum berangkat ke Tabuk, ada beberapa orang yang meminta ijin Nabi untuk absen perang dan Nabi mengiyakan. Nabi merasa “berdosa,” sebab seharusnya tidak mudah memberi ijin mereka sebelum mengetahui alasan yang masuk akal, sebab banyak yang absen hanya karena kemalasan. Inilah “dosa” nabi yang diampuni oleh Allah sebagaimana disebut pada awal ayat di atas. Sebenarnya kesalahan itu tidak termasuk dosa, sebab hanya sebuah keputusan, tapi bagi nabi, sekalipun sesederhana itu, ia tetap meminta ampunan Allah.

Dari mereka yang absen perang itu, ada tiga orang yang paling mengecewakan Nabi SAW, yaitu Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayyah, dan Marrah bin Rabi’. Mereka ini, terutama Ka’ab adalah sahabat-sahabat mulia, tapi mengapa mengikuti jejak orang-orang munafik. Kekecewaan Nabi tersebut diceritakan sendiri oleh Ka’ab pada masa tuanya yang sudah buta, kepada anaknya, Abdullah. Ka’ab bercerita, “Ketika pasukan Nabi berangkat, saya sedang istirahat di rumah. Saya sangat sehat dan baru saja membeli tunggangan baru.” Ia maju mundur untuk berangkat, dan akhirnya benar-benar absen. Ketika pasukan sudah sampai di Tabuk, Nabi tiba-tiba bertanya, “Mana Ka’ab bin Malik?” Seorang sahabat menjawab, “Dia terikat oleh selimutnya dan sedang mengurus dirinya.” Nabi diam dengan wajah yang sedikit berubah.

Setelah Nabi SAW tiba kembali di Madinah, sebanyak delapan puluh orang meminta maaf kepada Nabi dengan berbagai alasan dusta. “Kemari, kenapa engkau tidak ikut datang? Tidakkah kamu bisa membeli tunggangan lagi?”. Ka’ab datang memenuhi panggilan Nabi dan berkata jujur apa adanya, “Jika saya berbicara kepada “orang bumi,” saya bisa menyampaikan seribu alasan, lalu engkau tidak marah, tapi Allah pasti tetap marah kepadaku. Aku tidak ikut perang bukan karena apa-apa, dan saya waktu itu juga sangat sehat dan ekonomi berkecukupan.” Nabi kemudian berkata, “Engkau berkata jujur. Sekarang pergilah, dan tunggulah keputusan Allah untukmu (mengampuni atau tidak)!”

Ka’ab keluar rumah dengan lunglai. Sambil menunggu keputusan Allah itulah, Nabi SAW melarang semua sahabat untuk berhubungan dengannya. Istrinyapun juga dilarang tidur bersamanya. “Aku pergi kemanapun: ke pasar, tetangga, bahkan ke rumah sanak famili, tidak ada satupun yang mengajakku bicara. Ketika Nabi selesai memimpin shalat di masjid, saya amat berharap Nabi memandangku, tapi ternyata juga tidak,” keluh Ka’ab. “Bumi terasa sangat sempit bagiku, dan dadaku terasa terhimpit,” katanya sebagaimana tersirat dalam QS. At Taubah 118. Derita batin itu dirasakan Ka’ab sampai lima puluh hari.

Pada hari ke lima puluh pengucilan Ka’ab, tiba-tiba usai shalat subuh, beberapa sahabat, termasuk penunggang kuda berdatangan mengucapkan selamat kepadanya, karena Nabi SAW telah mengumumkan di dalam masjid bahwa telah turun ayat tentang pengampunan Allah untuk Ka’ab dan dua orang temannya, yaitu Hilal bin Umayyah dan Marrah bin Rabi’. “Aku langsung berlari memasuki masjid untuk mendengar langsung berita itu dari Nabi SAW,” katanya.

Sebelum memasuki kerumunan orang, Thalhah bin Ubaid berdiri menyambutku dengan ucapan selamat. “Dialah sahabat yang terbaik menurutku. Karenanya, saya tidak akan melupakannya selamanya,” katanya. Nabi berkata dengan wajah yang amat ceria, “Ada berita gembira untukmu, berita yang paling membahagiakan seumur hidupmu.” Ka’ab bertanya, “Ini berita ampunan darimu atau dari Allah, wahai Nabi?”. “Dari Allah,” kata Nabi SAW. Begitu senangnya mendapat berita pengampunan, ia menyerahkan semua hartanya kepada Nabi, tapi ditolak oleh nabi, dan dianjurkan sebagain hartanya saja.

   Dari kisah di atas, jelaslah bahwa setiap muslim harus siap menjalani seberat apapun tantangan, bahkan berdiri di atas api sekalipun demi cita-cita agung dan mulia. Ini berlaku dalam hal usaha penyebaran agama, mencari ilmu, usaha, membangun kebahagiaan keluarga dan sebagainya. Terbesit sedikitpun rasa malas atau takut menghadapai tantangan dipandang sebagai cacat iman. Setiap muslim harus juga siap “berdiri di atas api” untuk berkata jujur. Telah terbukti, jujur itu pahit pada awalnya, tapi pasti manis buah yang akan dipetiknya.

BERJAMAAH DENGAN ANJING DEMI ANAK

February 20th, 2015 | Posted by admin_tsb in Artikel - (2 Comments)

BERJAMAAH DENGAN ANJING DEMI ANAK
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Setiba di Yun Long tahun 2005, setelah menempuh perjalanan bus dua jam dari Hong Kong, saya berjumpa dengan TKW (Tenaga Kerja Wanita) asal Jawa Timur. Wanita berjilbab setengah baya itu sedang berbelanja babi di pasar . “Nasib, dua kali ganti majikan, pekerjaan saya tetap sama, yaitu belanja dan masak babi setiap hari untuk majikan” katanya. Ia mengaku selama 4 tahun bekerja di negeri orang, ia tidak pernah melakukan shalat. “Bagaimana mungkin badan dan pakaian yang sudah najis berat dipakai shalat” keluhnya. Apalagi dengan majikan yang terakhir, ia diminta juga menjaga tiga anjing piaraan. “Namanya menjaga , ya tidur bersama anjing-anjing itu”.

Dialog itulah yang menjadi inspirasi untuk ceramah agama saya di mushalla 4 x 4 m2 di atas toko Indonesiadog yang disewa oleh Majlis Taklim TKW Hong Kong cabang Yun Long. Ibu dua anak itu merasa bergembira, lalu berjanji untuk lebih rajin shalat setelah mengetahui bahwa najis babi bisa dibersihkan dengan sabun karena darurat kesulitan mencari tanah untuk campuran air untuk mencucinya. “Plong, lego pak rasanya”, kata wanita yang tinggal di lantai 21 rumah bertingkat. Andai menjumpai tanah pun, ia tidak berani melakukannya karena bertentangan dengan aturan kebersihan majikan.

Sepulang dari mushalla, ia berlari mengejar saya, “Bagaimana dengan sentuhan saya dengan anjing setiap saat atau ketika tidur?”. Ia masih penasaran, bagaimana mungkin beribadah dengan tangan yang bersentuhan dengan babi dan lingkungan yang serba anjing. “Shalatlah, sekalipun harus “berjamaah” dengan anjing” nasehat saya. Ia tidak mungkin berpisah dengan anjing, sebab memandikan, menyiapkan makanan dan tidur bersama anjing adalah tugas utamanya.

Demi anak, apapun beratnya pekerjaan tetap dijalani sang ibu. Ia bermimpi dua anaknya bisa sekolah sampai lulus dan menjadi orang yang lebih mulia daripadanya. Ia sebenarnya sangat menderita karena jauh dari keluarga. Ratusan dolar ia habiskan setiap bulan untuk membeli pulsa agar bisa mendengar suara anaknya. Uang pulsa itu, amat banyak dan mahal baginya, namun murah demi dekapan jarak jauh sang ibu untuk anaknya. Ia tidak mungkin bekerja di Indonesia, sebab semua kekayaannya telah ludes untuk ambisi suaminya yang gagal dalam pemilihan kepala desa.

Ia masih terus menceritakan harapan untuk kedua anaknya. “Jika anakku lulus dan di wisuda di universitas, akulah yang memasang toganya. Akulah yang menggendongnya untuk menerima sertifikat (maksudnya: ijazah)”. Harapan dan kecintaan sang ibu itu tentu lebih mendalam daripada yang diceritakannya melalui kata-kata. Cinta ibu kepada anak tidaklah terukur. Cinta orang tua sepanjang jalan dan cinta anak hanya sepanjang gala.

Jika setiap kecintaan yang tulus orang tua dihitung sebagai pahala, dan setiap kesulitan nafkah orang tua untuk biaya hidup anaknya dihitung sebagai penghapus dosa, maka masih adakah dosa bagi ibu yang berkurban segala-galanya demi kelangsungan hdiup anak di atas? Apalagi ia berjuang menyelamatkan anaknya atau generasi yang bodoh. Pada sisi lain, melihat begitu besarnya pengurbanan ibu kepada anaknya, maka teramat tega dan biadab anak yang sampai hati melukai hati ibunya.

Perintah berbakti kepada orang tua dijelaskan secara jelas dalam Al Qur’an. Bahkan gaya perintahnya berbeda dengan perintah-perintah lainnya, yaitu menyuruh anak membuka sejarah perjalanan hidup sejak bayi dengan ibunya. Allah SWT berfirman, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan…. “. (QS al-Ahqaf [46]:15).

Oh ibu, cinta dan pengurbananmu untuk kami adalah cinta dan pahala Allah untukmu. Maafkan kami tidak bisa membalas cintamu yang agung itu, kecuali doa pengampunan dan rahmat untuk tiketmu ke surga. Senyumlah selalu, ibundaku.