Header

WUDLU INSPIRATIF

November 29th, 2016 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

WUDLU INSPIRATIF
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: https://audiojungle.net

sumber gambar: https://audiojungle.net

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ إِلَى ٱلۡمَرَافِقِ وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ وَأَرۡجُلَكُمۡ إِلَى ٱلۡكَعۡبَيۡنِۚ وَإِن كُنتُمۡ جُنُبٗا فَٱطَّهَّرُواْۚ وَإِن كُنتُم مَّرۡضَىٰٓ أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوۡ جَآءَ أَحَدٞ مِّنكُم مِّنَ ٱلۡغَآئِطِ أَوۡ لَٰمَسۡتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمۡ تَجِدُواْ مَآءٗ فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدٗا طَيِّبٗا فَٱمۡسَحُواْ بِوُجُوهِكُمۡ وَأَيۡدِيكُم مِّنۡهُۚ مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجۡعَلَ عَلَيۡكُم مِّنۡ حَرَجٖ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمۡ وَلِيُتِمَّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ٦

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur (QS. Al Maidah [05]:06).

Pada ayat sebelumnya, Allah menjelaskan beberapa makanan dan hewan yang halal dimakan serta para wanita yang halal dinikah. Sebagai kelanjutan, ayat yang dikutip di atas (QS. Al Maidah [05]:06) menjelaskan perintah berwudlu yaitu membersihkan muka, tangan, kepala dan kaki sebelum shalat untuk memperoleh bimbingan dan berkah dalam usaha mencari kenikmatan biologis tersebut serta menerima semua anugrah dengan rasa syukur dan senang hati.

Bisakah kita meraih kebahagiaan dan inspirasi melalui wudlu? Kita akan menemukan jawabannya dengan mempelajari penutup ayat tentang perintah wudlu di atas, la’allakum tasykurun (agar kamu menerima semua anugrah dengan syukur atau senang hati), lalu kita kaitkan dengan doa berwudlu yang diajarkan Nabi SAW, Allahummaghfirli dzanbi, wawassi’ li fi dari wabarikli fi rizqi (Wahai Allah, ampunilah dosaku, lapangkanlah rumah tanggaku dan berkahilah rizkiku) (HR Al Nasa-i dari Abu Musa Al Asy’ari r.a). Jadi, wudlu ikut menentukan kebahagiaan rumah tangga dan keberkahan usaha Anda.

Mengapa wudlu kita selama ini hanya menghasilkan kesegaran fisik tanpa kesegaran jiwa dan otak? Anda paling tahu jawabannya: karena wudlu kita hanya wudlu ritual, bukan wudlu spiritual atau wudlu fisik tanpa hati. Berikut ini sembilan langkah berwudlu yang menghasilkan kesehatan, inspirasi, optimisme dan kebahagiaan keluarga. Pertama, cucilah kedua tangan dengan sabun agar bersih, harum dan terbebas dari kuman. Bersihkan telapak dan punggung tangan serta sela-sela jari Anda sampai bersih. Banyak penyakit yang ditimbulkan oleh masuknya kuman yang membahayakan melalui tangan.

Kedua, berkumurlah tiga kali, lalu masukkan air ke dalam hidung dan semprotkan keluar agar rambut dalam lubang hidung Anda bersih dan berfungsi untuk menangkal debu yang merusak pernafasan dan paru-paru. Bersihkan gigi dengan kayu siwak atau sikat dengan pasta gigi untuk membersihkan sisa makanan di sela-sela gigi dan menyegarkan mulut Anda. Pada saat berkumur, berdoalah dalam hati: “Wahai Allah, ampunilah dosa-dosa yang bersumber dari  mulutku. Aku yakin, dengan pertolongan-Mu, aku bisa berbicara benar, komunikatif, menyenangkan dan menyemangati  semua orang, khususnya keluargaku tercinta.”

Senyum dengan gigi yang putih bersih dan bau mulut yang segar merupakan identitas Anda sebagai muslim terbaik. Bau mulut yang harum dan tutur kata yang menyenangkan dapat menghangatkan pergaulan dengan siapapun, bahkan menyenangkan malaikat-malaikat yang bertugas mengirim rahmat untuk Anda. Jangan mengusir para malaikat dengan gigi yang kotor dan bau mulut yang tak sedap.

Ketiga, basuhlah muka Anda secara merata sebanyak tiga kali dengan membaca doa wudlu sebagaimana disebutkan di atas, sekaligus dengan doa dalam hati,  “Wahai Allah, ampunilah dosa-dosa yang bersumber dari mukaku. Aku yakin, melalui muka yang tersinari cahaya-Mu, aku bisa menyenangkan dan menyemangati semua orang, khususnya keluargaku tercinta.” Pastikan bahwa semua bagian muka Anda terbasuh dengan air, termasuk sela-sela jenggot. Keempat, basuhlah tangan kanan dan kiri Anda sampai ke siku sebanyak tiga kali dengan menggosok permukaan kulit agar benar-benar bersih sambil berdoa dalam hati,  “Wahai Allah, ampunilah dosa-dosa yang bersumber dari tanganku. Aku yakin, dengan pertolongan-Mu, tanganku ini akan menghasilkan rizki yang melimpah dan karya yang besar yang membanggakan ibu dan ayah serta semua keluargaku.”

Kelima, usaplah kepala Anda secara merata dengan cara memasukkan kedua ibu jari ke lubang telinga kanan dan kiri, sedangkan jari-jari lainnya mengusap kepala dari depan ke belakang dan sebaliknya. Berdoalah dalam hati, “Wahai Allah, ampunilah dosa-dosa yang bersumber dari pikiranku. Aku yakin, otakku yang telah tersinari cahaya-Mu akan mudah memahami segala sesuatu, penuh kreasi dan inovasi serta berpikir positif dalam segala hal.”

Keenam, usaplah telinga kanan dan kiri Anda dengan memasukkan jari telunjuk ke lubang telinga dan menggerakkannya untuk membersihkan lekuk-lekuk bagian dalam telinga. Gunakan ibu jari untuk mengusap bagian luar daun telinga dengan sedikit menarik ke atas dan ke bawah. Berdoalah dalam hati, “Wahai Allah, ampunilah dosa-dosa yang bersumber dari telingaku. Aku yakin, telingaku yang telah tersinari cahaya-Mu akan mudah menerima pengetahuan serta peka terhadap panggilan adzan dan nasihat keagamaan.”

Ketujuh, basuhlah kaki dan dua mata kaki Anda sebanyak tiga kali dengan menggosok kulit dan sela-sela jari kaki sambil berdoa dalam hati, “Wahai Allah, ampunilah dosa-dosa yang bersumber dari kakiku. Aku yakin, Engkau memberi petunjuk dan kemudahan dalam semua langkahku menuju kesuksesan.” Dahulukan kaki kanan dari yang kiri. Upayakan dengan sabun agar benar-benar bersih dari kuman.

Kedelapan, gunakan air dengan hemat sekalipun air itu milik pribadi, bahkan air sungai atau laut sekalipun. Apalagi, air itu aset publik dari kran masjid. Masa depan generasi kita amat membutuhkan air seperti Anda. Nabi SAW berwudlu hanya dengan 1 mud air (0,76 ltr) (HR. Al Jama’ah dari Anas r.a). Nabi SAW menegur Sa’ad r.a ketika ia agak boros dalam berwudlu (HR. Ahmad dan Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar r.a). Allah SWT berfirman, “Sungguh, orang-orang boros itu saudara setan” (QS. Al Isra’ [17]:26). Belajarlah hidup hemat demi masa depan yang berkualitas  dan kikislah sikap egois yang merugikan umat manusia.

Kesembilan, berdoalah ketika selesai wudlu, “Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuluh. allahumaj’alni minat tawwabina waj’alni minal mutathahhirin (Aku mengakui dengan sungguh-sungguh tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya. Aku juga mengakui dengan sunguh-sungguh Nabi Muhammad hamba-Nya dan utusan-Nya. Wahai Allah, jadikan aku termasuk orang-orang yang bertobat dan jadikan pula aku termasuk orang-orang yang selalu bersuci (HR. Ahmad, Muslim dan Al Turmudzi dari Umar r.a).

Selamat meraih kesuksesan, kebahagiaan dan keberkahan usaha melalui wudlu inspiratif.

Surabaya, 01 Nopember 2016

Referensi: (1) Muhammad Hasan Al Hamshy, Qur’an Wa Bayan ‘Ma’a Asbabin Nuzul Lis Suyuthy, Darur Rasyid, Damaskus- Beirut, tt. (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, Juz 5, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985 (3) M. Qureish Shihab, Al Misbah, Penerbit Lenterera Hati, Jakarta, 2012, (4) Moh. Ali Aziz, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, UIN Sunan Ampel Press, Surabaya, cet. XI, 2016. P. 29-42 (5) Moh. Ali Aziz, Sukses Belajar Melalui Terapi Shalat, UIN Sunan Ampel Press, Surabaya, cet. I, 2016, p. 2-10.

BEBAS PRIHATIN PADA YAUMIDDIN

November 1st, 2016 | Posted by admin_tsb in Artikel - (2 Comments)

BEBAS PRIHATIN PADA YAUMIDDIN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ

(Allah) Yang Menguasai di Hari Pembalasan (QS. Al Fatihah [01]:4)

sumber gambar: http://www.aktual.com/wp-content/uploads/2015/08/Pemeriksaan-Berkas1.jpg

sumber gambar: http://www.aktual.com/wp-content/uploads/2015/08/Pemeriksaan-Berkas1.jpg

Dalam suatu pengajian, saya bertanya kepada hadirin, “Ayat manakah dalam surat Al Fatihah yang paling menakutkan?” Seorang dari mereka menjawab, “Ayat ketujuh, sebab berisi daftar orang yang dibenci Allah (al mahgdlubi ‘alaihim), atau orang-orang sesat (ad-dhallin).Saya takut termasuk di antara mereka.” Sebagian yang lain mengatakan, “Saya lebih takut dengan ayat 4: maliki yaumiddin (Allah Yang Menguasai di Hari Pembalasan), sebab inilah proses yang pasti akan saya lalui setelah kematian.” Benar, inilah ayat yang mengingatkan kita untuk selalu berhati-hati dalam setiap kata dan perbuatan, sebab semuanya dicatat oleh malaikat, lalu harus kita pertanggungjawabkan di hari pembalasan (yaumiddin).

            Ayat ini terletak setelah ayat kegembiraan, arrahmanirrahim (Allah Yang Maha Pemurah dan Penyayang). Dua ayat tersebut, arrahmanirrahim dan maliki yaumiddin disebutkan secara berurutan untuk menunjukkan pentingnya keseimbangan antara harap (raja’) dan cemas (khauf), antara antara ganjaran (reward) dan hukuman (punishment), dua hal yang harus dipadukan untuk suatu kesuksesan dan kemuliaan budi pekerti. Melalui arrahmanirrahim, Anda diberi motivasi besar, “Rianglah. Jangan bersedih, sebab kasih Tuhanmu melampaui kasih semua manusia.” Atau “Optimislah. Tidaklah mungkin Allah Yang Maha Pengasih meninggalkan kamu tanpa pertolongan-Nya, lebih-lebih ketika kamu sedang memeras keringat dan berdarah-darah demi memenuhi kebutuhan keluarga.”

            Agar Anda lebih mengingat kasih Allah sebagaimana pada ayat ketiga di atas, saya “putarkan” video tentang kasih induk ayam terhadap anak-anaknya. Ia menggaruk-garuk tanah dan mengais sampah untuk mencari makanan untuk anak-anaknya. Setelah mendapatkan makanan, ia memangil semua anaknya untuk menikmati makanan itu dan ia hanya menonton, tanpa sedikitpun mencicipinya. Ketika terik matahari menyengat, induk ayam mengepakkan sayapnya di dekat pepohonan agar anak-anaknya berteduh di bawahnya atau membiarkan mereka menari-nari di punggungnya. Lalu, ketika seekor gajah hendak mengganggu sang anak, ia melawannya sekalipun tahu resikonya adalah kematian di bawah injakan kaki sang raksasa. Kasih Allah untuk Anda melampaui itu semuanya.

            Apakah “air susu” yang diberikan Allah tersebut Anda balas dengan air toba? Apakah cinta-Nya justru Anda taburi dengan dosa? Ingatlah, Anda harus mempertanggungjawabkan semuanya pada yaumiddin. Anda akan didudukkan di kursi pengadilan sebagai terdakwa dengan Hakim Tunggal, yaitu Allah SWT. “Alaisallahu biahkamil hakimin (adakah hakim yang lebih adil daripada Allah?” (QS. At Tiin [95]: 8). Anggota badan Anda bertindak sebagai saksi, sebab pada saat itu, ia bisa berbicara tentang apa saja yang pernah Anda lakukan. Para malaikat sebagai jaksa penuntut umum menyampaikan berkas perkara yang berisi catatan semua perbuatan Anda. Hakim dan jaksa yaumiddin sama-sama tidak memiliki nomor rekening yang bisa menerima transfer Anda untuk negosiasi putusan pengadilan, sebagaimana sering Anda lakukan di dunia. Ketahuilah, pada saat itu, Rasulullah SAW akan hadir sebagai pembela Anda, jika Anda benar-benar pecinta Nabi SAW, pengamal dan penebar ajarannya selama di dunia. Maukah?

            Siapapun, termasuk Anda yang berprofesi sebagai jaksa, hakim, pengacara, polisi  dan sebagainya tidak akan bisa main-main dengan pengadilan yaumiddin. Semua orang harus melepas topeng yang selama hidupnya tidak pernah dilepas, penuh kepalsuan demi harga diri dan nama baik. Mereka tidak bisa lagi melakukan rekayasa untuk menangi pengadilan dengan kekuasaan dan kekayaannya. Hanya pada hari yaumiddin itulah, kita bisa mendapat keadilan yang hakiki. Pada saat itu, Allah SWT secara tuntas mengembalikan hak-hak setiap individu yang terzalimi atau terampas oleh orang-orang yang serakah dan zalim sewaktu di dunia. “Kami akan meletakkan timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (perbuatan baik itu) hanya seberat atompun pasti Kami berikan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pemeriksa (semua perbuatan manusia) (QS. Al Anbiyak [21]:47).

            Anda mungkin pernah terzalimi oleh orang di sekitar Anda, hanya karena ia menimbun kebencian berakar-akar, lalu memandang jelek semua yang Anda lakukan. Bisa jadi juga, pelaku kezaliman itu adalah Anda sendiri, karena tidak obyektif  menilai seseorang karena overdosis cinta Anda kepadanya, sehingga ia Anda pandang orang paling sempurna, bak seorang nabi. Subyektivitas itu bisa terjadi di mana saja: dalam ranah pengadilan, pendidikan, tempat kerja Anda, lingkungan keluarga dan sebagainya. Subhanallah, itulah realitas dunia, sebagaimana dikatakan oleh penyair, wa’ainurridla ‘an kulli ‘aibin kaliilah, kamaa anna ’ainas sukhthi tubdil masaawiyaa (di mata pecinta, cela orang dilihat tiada. Dan di mata pembenci, seseorang selalu terlihat keji). Subyektivitas dan kezaliman itu semua tidak akan terjadi pada yaumiddin. Pada hari itu, manusia akan menghadap Allah secara pribadi dan akan dinilai secara sejujur-jurunya dan seadil-adilnya.

            Ada sebuah isyarat pada yaumiddin, apakah Anda mendapat keringanan pemeriksaan ataukah pengetatan dan hukuman. Jika malaikat datang dari arah kanan untuk menyerahkan berkas perkara Anda, maka tersenyumlah, Anda akan mendapat keringanan pemeriksaan. “Adapun orang yang diberikan catatan perbuatannya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kelompoknya (sesama mukmin) dengan gembira. Adapun orang-orang yang diberikan catatan perbuatannya dari belakang, maka dia akan berteriak, “Aku benar-benar sengsara.” Dan dia akan masuk ke dalam api (neraka) yang menyala-nyala“ (QS. Al Insyiqaq [84]: 7-12)

            Ada 3 tips dari Nabi SAW agar Anda mendapat keringanan pemeriksaan pada yaumiddin. Nabi SAW bersabda:

ثلاث من كن فيه حاسبه الله حسابا يسيرا وادخله الجنة تعطى من حرمك وتعفو عمن ظلمك وتصل من قطعك

Tiga hal yang siapapun melakukannya akan mendapat keringanan pemeriksaan (di akhirat) dan dimasukkan ke dalam surga, yaitu sedekahmu kepada orang yang tidak pernah memberi apapun kepadamu, (kerelaan hatimu) memaafkan orang yang menzalimimu dan (ikhtiarmu) memulihkan persaudaraan dengan orang yang (sengaja) memutuskannya denganmu (HR. Al Hakim dari Abu Hurairah r.a).

            Berusahalah membebaskan diri Anda dari kegentingan dan keprihatinan yaumiddin dengan membebaskan umat manusia dari penderitaan, membersihkan hati dari dendam dan kebencian, dan memupuk persahabatan dengan semua orang tanpa melihat etnis dan keagamaan.

 Referensi: (1) Al Hasyimi, Sayid Ahmad, Mukhtar Al Ahadits, Pustaka Amani, Jakarta, 1995, Cet. I, p. 188 (2) Hamka, Tafsir Al Azhar,  juz I,Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 83 (3) M. Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol 1, Penerbit Lenterera Hati, Jakarta, 2012, p. 48.

 

MENYULAM DARUSSALAM

October 5th, 2016 | Posted by admin_tsb in Artikel - (6 Comments)

MENYULAM DARUSSALAM
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

 

sumber gambar: https://quakersireland.files.wordpress.com/2016/09/peace.gif

sumber gambar: https://quakersireland.files.wordpress.com/2016/09/peace.gif

وَٱللَّهُ يَدۡعُوٓاْ إِلَىٰ دَارِ ٱلسَّلَٰمِ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ٢٥

Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam) (QS. Yunus [10]:25)

            Artikel ini saya tulis ketika di telinga saya masih terngiang-ngiang suara tembakan teroris di restoran Balay Bakery di Dhaka, 1 km dari tempat istirahat saya di Ghulsan street. Malam lailatul qadar 1437 H atau 1 Juli 2016 di ibukota Bangladesh dinodai tujuh pemuda yang memancung satu persatu kepala pengunjung restoran warga negara Italy, Jepang, India, Amerika dan lain-lain yang ditest dan terbukti tidak bisa membaca Al Qur’an. Peristiwa serupa terjadi lagi setelah saya tiba di Indonesia, hati saya tersayat melihat gambar 84 mayat bergelimpangan di Perancis setelah Mohamed Lahouaiej Bouhlel menubrukkan truk pada kerumunan orang yang sedang berpesta kembang api untuk merayakan hari kemerdekaan Perancis. Masing-masing tindakan biadab itu dilakukan atas nama Islam.

            Dua peristiwa di atas menyadarkan kita sekali lagi untuk lebih intensif melakukan kampanye membangun citra Islam sebagai agama pelopor pembangun dunia damai (darussalam) sebagaimana tersirat dalam ayat di atas. Allah SWT menyeru umat manusia untuk bekerjasama membangun darussalam, yaitu dunia yang aman dan nyaman tanpa sedikitpun ketakutan. Juga yang lebih penting yaitu darussalam (surga) setelah kematian. Umat Islam sedunia selalu memohon darussalam setiap usai shalat sebagaimana diajarkan Nabi SAW:

اَللَّهُمَّ اَنْتَ السَّلاَمُ, وَمِنْكَ السَّلاَمُ, وَإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلاَمُ, فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ, وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ دَارَ السَّلاَمِ

Wahai Allah, Engkaulah as-salam (sumber kedamaian), dari-Mu-lah as-salam (kedamaian), kepada-Mu-lah (kami berharap kembali) dengan as-salam. Hidupkan kami dengan as-salam, masukkan kami ke dalam surga (darussalam).

            Ketika Nabi SAW pertama kali menginjakkan kakinya di Madinah, pesan pertama yang disampaikan adalah tentang as-salam. Husein bin Salam, kepala pendeta Yahudi Madinah yang telah bertahun-tahun mengabdikan hidupnya sebagai pengajar Taurat merekam pidato pertama Nabi SAW tersebut. Mengapa ia tertarik dengan pidato itu? Sebab  ia pernah menemukan ayat dalam Kitab Taurat yang memberitakan akan datangnya seorang Nabi di Madinah (lihat QS. Al A’raf [07]: 157).  Sejak itu, ia  berdoa untuk diberi panjang umur agar bisa berjumpa dengan nabi yang diberitakan itu. Maka, ketika ia mendengar kedatangan Nabi di Madinah, ia berlari menemuinya untuk mencocokkan sifat-sifat Nabi sebagaimana tersebut dalam Taurat. Setelah mengamati wajah Nabi SAW dari dekat dan kelembutan budi pekertinya, ia menyimpulkan semua sifat-sifat yang diketahui dalam Kitab Taurat itu benar. Inilah pesan lengkap Nabi SAW tersebut:

يَا اَيُّهَا النَّاسُ اَفْشُوا السَّلاَمَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصِلُوا الارْحَامَ وَصَلُّوا بِالَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ   تَدْخُلُواالْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

Wahai manusia, sebarkan salam, berikanlah makanan, sambunglah silaturrahim, dan shalatlah pada malam hari ketika (kebanyakan) manusia tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan as-salam (HR. At Tirmidzi dari Abdullah bin Salam r.a)

Di tengah kerumunan orang itu, sang pendeta tiba-tiba mengucapkan syahadat dengan suara yang nyaring. Nabi SAW menoleh dan bertanya,  ”Siapa namamu?”  ”Husein bin Salam,” jawabnya.  ”Sebaiknya namamu diganti dengan Abdullah bin Salam,” kata Nabi SAW. Ia pulang ke kampungnya dengan nama yang baru dan berhasil mengajak semua keluarganya untuk masuk Islam.

            Dari pesan Nabi SAW di atas, jelaslah bahwa kita hanya bisa memasuki darussalam, jika kita benar-benar mengembangkan empat kebajikan di bumi. Pertama, menebar salam, yaitu mengucap salam kepada sesama muslim dan menebar kasih dan damai kepada semua umat manusia, tanpa membedakan latarbelakang etnis dan agama. Setiap muslim harus menjadi pelopor as-salam (kedamaian dan ketertiban) dalam komunitas manapun. Nabi Ibrahim a.s juga memohon keamanaan dan kedamaian ketika selesai membangun Ka’bah bersama putranya, Ismail (QS. Al Baqarah [02]: 126). Dalam sejarah Islam, penduduk bumi lebih banyak mengikuti Islam karena tertarik akhlak as-salam yang ditauladankan oleh para tokoh Islam daripada pidato-pidato mereka di banyak mimbar, apalagi oleh kekerasan yang justru menimbulkan antipati.

            Kedua, berbagi kekayaan untuk kesejahteraan orang-orang miskin. Sudah menjadi keniscayaan bahwa dalam hidup bermasyarakat, selalu ada orang kaya dan miskin. Kedamaian masyarakat tidak akan terwujud tanpa adanya kesediaan orang kaya untuk berbagi kepada mereka yang miskin. Silakan Anda berlomba menjadi orang terkaya, sebab tidak ada satupun ayat al-Qur’an yang melarangnya. Tapi jangan buta dengan keadaan lingkungan Anda. Pengusaha, penguasa, anggota legislatif, atau siapapun sama sekali tidak dilarang menikmati rizki yang dikaruniakan Allah kepadanya. Tapi, ia harus memperhatikan keadaan orang-orang miskin melalui pembayaran zakat dan sedekah, terutama kepada mereka yang menahan diri dari meminta-minta (al qani’) (QS. Al Hajj [22]: 36).

Ketiga, merajut ikatan persaudaraan (silaturrahim). Dalam skop kecil, setiap muslim harus membangun keutuhan keluarganya, bahkan menjadikannya keluarga teladan bagi orang lain. Negara hanya kuat, damai dan sejahtera jika unit-unit keluarga di dalamnya kuat dan bahagia. Dalam skop yang lebih luas, setiap muslim juga harus bisa membangun hubungan sanak famili yang harmonis dan menghindari segala hal yang menimbulkan keretakan dalam keluarga besar. Perbedaan agama, ideologi, politik tidak boleh menjadi alasan keretakan hubungan dalam keluarga besar. Nabi Ibrahim a.s, Nabi Nuh a.s, Nabi Luth a.s, Nabi Zakaria a.s, Nabi SAW dan juga para sahabat seperti Abu Bakar r.a, Ali bin Abi Thalib r.a dan beberapa sahabat yang lain hidup di tengah keluarga besar yang multi agama. Umat Islam harus bisa membangun hubungan yang harmonis di tengah masyarakat multi etnis dan agama dengan tetap menjaga keutuhan aqidah Islam.

            Keempat, shalat malam. Inilah shalat sunah yang memiliki pengaruh besar dalam membangun kualitas keimanan, sekaligus menjadi indikator ketakwaan seseorang. Allah SWT mewajibkan shalat malam hanya untuk Nabi SAW. Itu berarti, siapapun yang menjadi pemimpin dalam level apapun, ia harus mewajibkan dirinya untuk shalat malam. Jangan mengharap cahaya dari battery yang sudah drop. Jangan mengharap pencerahan Allah, jika tidak ada charge untuk hati Anda di malam hari.

            Masa depan Darussalam hanya bisa kita raih jika kita secara terus menerus menyulam diri dengan tutur kata, sikap dan tindakan yang bernuansa assalam di tengah keluarga dan masyarakat kita.