Header

MENDAKI DENGAN RENDAH HATI

April 20th, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

MENDAKI DENGAN RENDAH HATI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://minaka.blogdetik.com/files/2011/12/rendah-hati-di-ketinggian-300x225.jpg

sumber gambar: http://minaka.blogdetik.com/files/2011/12/rendah-hati-di-ketinggian-300×225.jpg

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) mereka yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) kedamaian.” (QS. Al Furqan [25]:63)

Ayat di atas termasuk ayat yang sering dibaca oleh imam shalat di semua negara. Juga ayat yang paling sering dikutip untuk menjelaskan sifat tawadlu (rendah hati) yang harus dimiliki setiap muslim. Pada ayat-ayat sebelumnya (ayat 56-62), Allah SWT menunjukkan diri-Nya dengan tindakan nyata sebagai Tuhan Maha Pengasih kepada semua makhluk-Nya. Ia menciptakan langit dan bumi, bintang-bintang di langit untuk menerangi bumi, serta pergantian siang dan malam, yang semuanya untuk kelangsungan dan kenyamanan hidup makhluk-Nya. Tidak hanya menyediakan sarana fisik, Allah SWT juga mengutus rasul untuk membimbing mereka secara gratis dengan cara persuasif. Para rasul hanya diberi tugas memberi berita yang menyenangkan bagi yang taat kepada Allah dan ancaman siksa bagi yang menolaknya. Nabi SAW tidak boleh bersedih atau marah atas sikap mereka: menolak atau menerima ajakannya. Nabi SAW dilarang keras melakukan pemaksaan apalagi kekerasan.

Setelah Allah membuktikan kasih-Nya kepada semua makhluk, barulah Ia memerintahkan manusia untuk bertindak penuh kasih dan bersikap rendah hati. Allah SWT secara tidak langsung memberi pelajaran kita, “Jangan menyuruh anak, istri, suami dan siapapun untuk bersikap mengasihi dan rendah hati, sebelum Anda memberi ketauladanan untuk hal yang sama.”

Ada dua macam tawadlu’ yaitu kepada Allah dan kepada sesama manusia. Tawadlu kepada Allah berupa kesungguhan menerima perintah Allah tanpa mempertimbangkan rasional atau tidaknya, dan menerima apapun pemberian Allah dengan senang hati. Sedangkan tawadlu kepada manusia berupa sikap tenang, sederhana, tidak merasa lebih dari orang lain, apalagi merendahkannya, dan menjadikan sesamaa muslim benar-benar sebagai saudaranya. Demikian definisi yang dikemukakan oleh kebanyakan ahli hakekat atau ahli tasawuf.

Orang yang tawadlu’ atau disebut mutawadli’ tidak menyombongkan diri atas apapun yang dimiliknya . Dalam ayat di atas juga disebutkan, “..dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) kedamaian.” Yang dimaksud orang bodoh di sini adalah mereka yang tidak mengerti jalan pikiran, visi dan misi kita, sekalipun mungkin saja mereka sarjana S1, S2 atau S3. Orang bodoh selalu nampak kebodohannya dalam tutur katanya. Mereka miskin perbendaharaan kata dan tidak faham dengan etika, sehingga seringkali perkataanya amat menyakitkan dan menjengkelkan kita. Imam As-Suyuthy berkata, “ma kana kabirun fi ‘ashrin illa kana lahu ‘aduwwun minassalafah”/Orang besar di setiap generasi selalu dimusuhi orang yang tidak memahaminya.” Orang tawadlu’ selalu senyum dan berkata lembut, penuh sopan santun dalam menjawab ejekan atau cemoohan orang bodoh. Anda tidak perlu gusar dan terkejut dengan para pengejek, sebab dalam Al-Qur’an (Al Mai-dah [5]:54) disebutkan adanya “laumata laa-im” yaitu orang yang berhobi mengolok-olok. Dalam bahasa kelakar, “Sehari tanpa ejekan, ia terkena sariawan.”

Apakah orang rendah hati bisa mendaki menuju panggung kejayaan dan kesuksesan? Untuk menjawab ini, Rasulullah SAW pernah memberi pelajaran para sahabat dengan metode aktivasi otak kanan, yaitu menelungkupkan telapak tangan, lalu membaliknya, sambil bersabda, “Allah SWT berfirman, “Siapa yang tawadlu demi Aku, maka Aku akan mengangkat derajatnya.” (HQR. Ahmad, Bazzar, Abu Ya’la dan At Thabrani dari Umar r.a). Agar otak kanan Anda juga berfungsi, coba gerakkan telapak tangan Anda, sebagaimana yang dilakukan Nabi SAW. Dalam kesempatan lain, Nabi SAW bersabda dengan pesan yang sama, “Man tawadla’a lillahi rafa‘ahullah /siapa yang tawadlu demi Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya” (HR Abu Na’im dari Abu Hurairah r.a)

Nabi SAW tidak pernah berbicara tetang sesuatu, sebelum ia sendiri memberi contoh ketauladanan. Nabi SAW sangat sayang dan akrab dengan anak-anak, sehingga mereka tidak jarang bergelayutan manja kepadanya. Silakan introspkesi, mengapa Anda tidak menyapa anak-anak kecil yang Anda jumpai ketika memasuki masjid? Mengapa justeru wajah Anda menakutkan bagi mereka? Nabi SAW menyapu rumahnya, memerah susu sendiri, menggiling gandum bergantian dengan pembantunya, makan bersama pembantu, dan berbelanja sendiri ke pasar. Bagaimana dengan Anda? Semoga Anda tidak termasuk suami yang serba memerintah istri ataupun pembantu, seolah-olah Anda raja dan istri atau pembantu Anda sebagai hamba. Nabi SAW mendahului menyapa dan mengucapkan salam kepada setiap orang yang dijumpai. Silakan introspeksi sekali lagi, mengapa Anda kadangkala merasa senior dan terhormat, lalu memandang orang lain lebih pantas menyapa Anda terlebih dahulu? Nabi SAW selalu menolak diberi tempat duduk khusus dalam setiap pertemuan, juga menolak digelarkan tikar untuknya. Semoga Anda bukan sejenis orang yang pernah saya jumpai: “orang besar” yang merasa dilecehkan karena tidak diberi tempat yang terhormat dalam sebuah perhelatan, lalu marah-marah di atas podium, berpidato singkat dan meninggalkan acara dengan hati dongkol.

Maukah Anda dijelaskan lebih lanjut tentang tawadlu’ Nabi? Rumah Nabi SAW bertipe 5-S (Sangat Sempit, Sederhana, dan Sulit Selonjor). Karenanya, Nabi SAW seringkali harus menggeser kaki istrinya, Aisyah ketika ia bersujud. Alas tidur Nabi SAW hanya lembaran pelepah kurma, sehingga ketika bangun untuk shalat malam, Aisyah mengambil beberapa kerikil yang menempel di punggungnya terlebih dahulu. Mengapa Anda selalu mengeluh soal rumah, padahal lebih luks daripada rumah Nabi SAW, lalu mencari pinjaman bank untuk merehabnya, padahal tidak terlalu mendesak?

Nabi SAW mendatangi undangan siapa saja, termasuk orang paling miskin. Ia juga selalu membalas pemberian hadiah orang. Jika bercanda, Nabi SAW selalu menjauhi canda yang mengandung dusta, dan tidak pernah tertawa terbahak-bahak. Mengapa Anda kadangkala terpancing meladeni canda orang yang tak bermutu, bahkan berlebihan sampai menimbulkkan ketersinggungan orang lain, atau canda berbau porno? Nabi SAW selalu menghadapkan muka dengan serius untuk mendengarkan orang yang berbicara dengannya. Sebagai introspeksi terakhir, mengapa anak-anak Anda terus bermain hand-phone, padahal guru atau orang tuanya sedang berbicara serius kepadanya? Atau jangan-jangan yang melakukan itu Anda sendiri.

Rendah hati sama sekali bukan berarti menunjukkan kelemahan dan kerendahan diri. Rendah hati justru mengundang simpati dan menjadi daya tarik yang luar biasa bagi orang lain untuk bekerjasama dengan Anda. Orang selalu mencari padi yang menunduk, sebab ia pasti berisi. Sekali lagi, tulungkupkan telapak tangan Anda, kemudian balik dan angkatlah, sambil berkata kepada diri sendiri, “Jika aku rendah hati, Allah pasti memudahkan kesuksesanku esok hari.”

MENGHIDUPKAN MAYIT DALAM MASJID

April 3rd, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

MENGHIDUPKAN MAYIT DALAM MASJID
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

masjidnabawi

sumber gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/4/41/Masjed_Nabawi_interior.jpg

“Hanya yang meramaikan (syiar) masjid-masjid Allah, ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta tetap mendirikan shalat, membayar zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At Taubah [09]:18)

Pada ayat sebelumnya (QS. At Taubah [09]:17), Allah SWT menjelaskan orang-orang atheis atau beragama tapi ber-Tuhan secara tidak benar (musyrik) tidak mungkin tertarik untuk meramaikan syiar masjid. Masjid artinya tempat bersujud kepada Allah, maka tidak mungkin orang yang tidak ada kemauan bersujud kepada Allah SWT mendatangi masjid. Mohon maaf, jika Anda yang tidak aktif berjamaah di masjid tersindir atau tertampar dengan ayat ini.

Sebagai kelanjutan, ayat yang dikutip di atas (QS. At Taubah [09]:18) mempertegas bahwa orang-orang yang aktif mengisi aktifitas masjid (takmirul masajid) hanyalah mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat, mendirikan shalat, membayar zakat, dan tidak takut kepada siapapun kecuali Allah. Merekalah yang juga siap mengurbankan jiwa, raga dan hartanya untuk merawat masjid, melengkapi sarana yang diperlukan, dan menyisihkan sebagian penghasilannya untuk dana kegiatan keagamaan di masjid. Mereka dengan senang hati mengeluarkan dana berapapun untuk masjid sebab mereka yakin membangun dan merawat masjid sama dengan mempersiapkan bangunan rumah untuknya di surga sebagaimana yang dijanjikan Nabi SAW. Siapapun yang mendobrak kesepian masjid dengan aktifitas-aktifitas keagamaan dan sosial, maka dialah yang tidak merasakan kesepian di alam kubur, sebab semua kebaikannya menjadi penghibur di tengah kesunyian kubur.

Pada ayat di atas juga tersirat, orang yang tidak membayar zakat atau enggan berbagi kekayaan pada orang lain tidak akan aktif ke masjid. Ia sangat khawatir bertemu dengan orang-orang miskin yang meminta bantuan. Masjid adalah aset publik, maka semua orang:  miskin atau kaya, berpendidikan atau tidak, penguasa atau rakyat, sehat atau sakit berhak memasuki masjid. Semakin aktif seseorang ke masjid, berarti semakin dekat dengan tetangga dan orang sekitar dengan berbagai latarbelakangnya dan semakin pandai berempati untuk lebih berkesempatan berbagi.

Jika Anda lebih sering shalat di rumah atau di ruang kerja daripada di masjid terdekat dengan seribu alasan, maka sebaiknya Anda memperhatikan firman Allah SWT, “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (.QS Al Baqarah [2]:43). Artinya, bergabunglah segera dengan semua orang yang Anda saksikan  sedang membungkukkan badan dengan keriangan dalam masjid itu. Anda pasti masih ingat kisah berikut ini. Suatu hari, seorang lelaki buta menghadap Nabi SAW untuk meminta keringanan tidak shalat berjamaah di masjid karena tidak ada yang menuntunnya. Nabi SAW mengiyakan.  Akan tetapi, ketika tamu itu berpamitan, Nabi SAW memanggilnya dan bertanya, “Apakah engkau mendengar adzan shalat?” “Ya,” jawabnya. Nabi SAW lalu meralat keringanan tersebut dan tetap memerintahkan shalat berjamaah di masjid. (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a). Sebagai apresiasi untuk mereka yang aktif berjamaah dan mengisi kegiatan-kegiatan keagamaan di masjid, Nabi SAW bersabda, “Sungguh, semua orang yang meramaikan syiar masjid adalah keluarga Allah (ahlullah)” (HR. Abdullah bin Humaid dari Anas bin Malik r.a). Keluarga Allah artinya mereka sangat dekat dengan Allah, bahkan memperoleh jaminan tanggungan-Nya dalam semua urusan.

Apakah untuk menjadi muslim terbaik cukup dengan hadir secara rutin di masjid? Tidak. Jika Anda bertahun-tahun aktif ke masjid, tapi iman dan pola hidup Anda tidak berubah, maka hanya fisik Anda yang hidup sedangkan iman Anda telah mati. Untuk apa ke masjid  jika iman Anda tetap menjadi mayit? Masjid harus menghidupkan iman Anda yang sekarat. Menurut ayat di atas, pecinta dan pengisi kegiatan masjid diharapkan memiliki iman yang menumbuhkan perilaku positif, antara lain lebih berkualitas shalatnya, lebih bersemangat untuk berbagi, dan memiliki kepercayaan diri untuk bertindak “..dan tidak takut (kepada siapapun) selain Allah..” Percaya diri mutlak diperlukan untuk modal prestasi dalam segala hal. Sekalipun Anda siswa teladan atau wisdudawan terbaik, Anda pasti terkalahkan dalam kompetisi hidup oleh teman Anda yang tidak berprestasi, tapi memiliki semangat dan percaya diri.  Muslim dengan keimanan yang hidup tidak akan takut kepada siapapun, kecuali kepada Allah SWT. Ia sadar bahwa manusia hanya dituntut untuk bekerja, berusaha dan berkarya seoptimal mungkin, sedangkan sukses atau gagal bukan wilayah kekuasaanya. Pecinta masjid tidak akan kecewa apalagi malu dengan sebuah kegagalan. Dengan ketakutannya kepada Allah semata, ia menjadi pribadi yang berkarakter mulia yang membuahkan kepercayaan (trust) dari semua orang, serta mengundang daya tarik setiap orang untuk bekerjasama. Tidak ada modal kesuksesan yang lebih mahal daripada kepercayaan orang. Itulah iman yang hidup.

    Setiap memasuki masjid, Anda diajari Nabi SAW untuk berdoa, “Wahai Allah, ampunilah semua kesalahanku dan bukakan semua pintu rahmat untukku.”  Ini berarti setiap memasuki masjid, Anda dituntut untuk berjanji tidak mengulangi kesalahan dan merubah cara hidup yang memungkinkan pintu kesuksesan terbuka untuk Anda. Lakukan perenungan mendalam dalam masjid (i’tikaf) untuk introspeksi dan kuatkan kemauan untuk berubah. Bagaimana mungkin pintu rahmat dan kesuksesan terbuka untuk Anda jika sepulang dari masjid cara berfikir Anda tetap negatif, cara bicara Anda tidak berubah, dan semangat dan streategi kerja Anda tidak ada peningkatan. Hidupkan iman Anda melalui masjid.

Malaikat Jibril pernah datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Allah telah mengirimkan wahyu kepadaku (untukmu): “Wahai saudara para rasul, wahai saudara para pemberi peringatan! Berikan peringatan kepada kaummu, agar mereka tidak memasuki satu rumahpun dari rumah-rumah-Ku (masjid) kecuali dengan hati yang bersih, lidah yang benar, tangan yang suci dan kemaluan yang bersih (dari dosa). Jangan sekali-kali mereka memasuki rumah-rumah-Ku sedang ia masih berurusan kedhaliman pada orang lain. Aku benar-benar melaknatnya selama ia berdiri shalat di hadapan-Ku, sampai dia menyelesaikan kedhaliman itu kepada yang terdhalimi. Jika ia telah menyelesaikannya, Aku akan menjadi telinganya untuk mendengar, dan menjadi matanya untuk melihat. Ia akan menjadi kekasih dan pilihan-Ku. Ia menjadi tetangga-Ku bersama para nabi, shiddiqin dan syuhada di dalam surga.” (HQR. Abu Na’im, Al Dailami dan Ibnu ‘Asaakir dari Hudzaifah r.a).

Pesan Malaikat Jibril di atas mengingatkan Anda untuk membersihkan hati dari D3 (dengki, dongkol dan dendam) dan S2 (serakah dan sombong) setiap memasuki masjid. Masjid harus menjadi alat pembersih virus hati. Tidak mungkin wajah Anda simpatik dan tutur kata Anda menyenangkan keluarga dan semua orang,  jika D3 masih mengotori hati Anda. Jangan berharap lampu menyala dari baterai yang telah mati. Jadikan semua sikap dan tindakan Anda menyenangkan orang dan hindari hal-hal yang menyakitkan apalagi mengambil sekecil apapun dari hak-hak mereka. Masjid harus membangkitkan iman yang stagnan dan menghidupkan iman yang telah mati. Setiap keluar dari masjid bertekadlah untuk merubah sikap dan tindakan Anda kepada istri, anak-anak Anda, anak buah Anda, pimpinan, tetangga, dan pelanggan Anda. Pastikan Anda telah merubah pola pikir, pola kerja dan pola hidup Anda setiap keluar dari masjid. Itulah hidup berkualitas yang tercerahkan dan mencerahkan, ”.. maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” Semoga kita termasuk dalam firman ini. Selamat menghidupkan mayit (iman yang mati) melalui ibadah masjid.

KE LANGIT TUJUH DENGAN TISSUE

March 19th, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel - (11 Comments)

KE LANGIT TUJUH DENGAN TISSUE
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://images.astronet.ru/pubd/2001/03/15/0001166632/siriushb_jcc_big.jpg

sumber gambar: http://images.astronet.ru/pubd/2001/03/15/0001166632/siriushb_jcc_big.jpg

Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sungguh, hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar [39]:10)

Dalam ayat di atas, Allah menyuruh Nabi SAW untuk meneruskan panggilan-Nya kepada semua muslim, “Wahai hamba-Ku yang beriman, “Bertakwalah kepada tuhan-Mu..” Inilah panggilan Allah (“Hai hamba-hamba-Ku..”) yang mencerminkan kedekatan dan kasih-Nya kepada orang yang beriman kepada-Nya. Allah SWT lebih dekat kepada manusia daripada manusia itu sendiri mendekat kepada-Nya. Bagi manusia yang telah beriman, ia diminta membuktikan keimanannya dalam praktek kehidupan. Tidak cukup dengan pengakuan, tapi perlu pembuktian ketakwaan. Perintah bertakwa berarti perintah melakukan hal-hal yang terbaik kepada Allah, kepada semua manusia tanpa membedakan etnis, golongan dan agama, dan perlakuan terbaik untuk lingkungan hidup. Sekecil apapun kebaikan yang Anda lakukan pasti mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan di dunia. Anda akan menuai buah apel segar, jika yang Anda tanam memang pohon itu. Sebailknya, Anda akan menuai badai, jika yang Anda tabur adalah angin.   “Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan.” Menurut Al Qurthuby, kepuasan dan apresiasi manusia atas kebaikan yang Anda lakukan termasuk dari kebaikan yang Anda peroleh di dunia sebagaimana dimaksud dalam ayat ini. Di akhirat kelak, pasti balasan kebaikan itu jauh lebih besar.

Allah SWT mengisyaratkan, tidak semua orang memberi apresiasi atas kebaikan yang Anda lakukan. Kadangkala justeru sebaliknya, Anda mendapat perlawanan, cacian, sinisme, teror dan penyiksaan. Dalam sejarah, hanya sedikit orang yang mengapresiasi kegiatan Nabi SAW selama di Mekah, dan yang terbanyak justru penghinaan, intimidasi dan penyiksaan. Allah SWT mengingatkan, “..dan bumi Allah itu luas.” Artinya, jika benih kebaikan itu tidak cocok ditebarkan di suatu tempat, maka tidak perlu berkecil hati, karena masih banyak bumi Allah yang subur untuk benih kebaikan itu. Jika sebuah ide tidak diterima oleh suatu komunitas, jangan berkecil hati, masih banyak komunitas lain yang lebih cerdas dan siap menerima ide Anda. Melalui ayat ini, Allah SWT memberi inspirasi untuk selalu optimis, berfikir besar dan berpandangan luas seluas bumi. Tidak memandang dunia seluas daun semanggi. Jika usaha bisnis Anda tidak berkembang di suatu wilayah, jangan berputus asa. Cobalah kembangkan di tempat lain. Bumi Allah masih luas tersedia untuk usaha Anda. Percayalah, masih lebih banyak wilayah yang membutuhkan jasa dan barang Anda. Jika bakat Anda tidak bisa tersalur di suatu daerah, mengapa Anda tidak berhijrah ke daerah yang subur untuk pengembangan bakat dan kreativitas itu. Sekali lagi, “..dan bumi Allah itu luas.”

Imam Ar Rozy mengatakan, “Ayat ini turun di Mekah dan memberi isyarat kepada Nabi SAW bahwa suatu saat, ia akan hijrah dan sukses di kota Madinah. Allah SWT menutup firman dalam ayat ini, “Sungguh, hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” Firman ini menunjukkan, tidak ada kesuksesan tanpa keringat, air mata dan darah. Oleh sebab itu, keuletan, kesabaran menunggu hasil, tidak tergesa-gesa melihat kesuksesan, dan ketegaran menghadapi tantangan menjadi syarat mutlak untuk kesuksesan perjuangan bisnis, aksi sosial ataupun agama. Untuk menuju sukses, siapkan tissue sebanyak-banyaknya untuk mengusap keringat, air mata, bahkan darah karena harus berluka-luka menjalani kerasnya tantangan usaha ataupun dakwah.

Menurut Tafsir Imam Al Auza’iy, “Orang yang sabar menjalani penderitaan hidup akan diberi bonus istimewa, yaitu pembebasan dari pemeriksaan yang ketat di akhirat kelak. Ia akan langsung dimasukkan di ruang istimewa di surga.” Anas bin Malik r.a pernah mendengar Nabi SAW bersabda, “Semua perbuatan manusia akan diperiksa dan diperhitungkan (hisab), kecuali ahlul bala’, yaitu mereka yang bertubi-tubi mengalami cobaan dan penderitaan semasa hidupnya. Mereka memasuki surga tanpa proses pemeriksaan dan timbangan nilai perbuatannya. Melihat perlakuan istimewa untuk ahlul bala’ tersebut, maka orang-orang yang sehat semasa hidupnya, bebas dari macam-macam cobaan membayangkan kiranya di dunia dulu badannya dipotong-potong dengan gergaji.”  (Hamka, Tafsir Al Azhar Juz 23: 20-21). Tersenyumlah sekarang, wahai Anda yang hidup dalam penderitaan sampai saat ini.

Abu Hurairah r.a berkata, “Bersabarlah untuk menjalankan perintah Allah dan menghadapi cobaan. Dijamin, engkau mendapat pahala tiada batas dari Allah sebagaimana firman-Nya, “Sungguh, hanya orang-orang yang bersabarlah yang dipenuhi pahala mereka tanpa batas.” (Abul Laits As Samarqanday, Tanbighul Ghafilin: 144).

Jika Anda shalat dua rakaat di Masjidil Haram Mekah, Anda mendapat pahala senilai 100.000 shalat. Jika Anda mengerjakannya di Masjid Madinah, Anda dinilai sama dengan 1.000 shalat di masjid lainnya. Shalat sebelum Shubuh yang Anda kerjakan, menghasilkan pahala lebih besar daripada langit dan bumi. Banyak ibadah lain yang dijelaskan bilangan pahalanya oleh Allah SWT. Maukah Anda pahala yang jauh lebih dahsyat dari itu, bahkan tak terbatas dan tak terhitung, lalu Anda diterbangkan ke istana kemuliaan di langit tertinggi? Jawabnya hanya satu: “Jangan mengeluh dengan cobaan hidup. Pandanglah sebagai tantangan dan sekolah kematangan pribadi. Terimalah dengan sabar dan suka hati.”

 Tirulah Nabi SAW yang hanya tersenyum ketika disoraki sebagai “orang gila.” Nabi SAW juga tidak berkomentar satu katapun dan hanya mengusap ludah yang disemprotkan orang di mukanya. Ketika Anda memulai karya besar, orang-orang yang berpandangan sempit dan berotak kecil akan memandang Anda gila. Apalagi ketika mengalami kegagalan. Siapkan tissue di saku Anda dan usaplah ludah busuk mereka, lalu tinggalkan pergi.

Kaki dan tangan Anda mungkin sampai berlumuran darah, tidak lagi keringat karena beratnya tantangan yang Anda hadapi. Tetap tegarlah. Sekali lagi, ambillah tissue di saku Anda, lalu usaplah darah itu dan teruskan perjuangan Anda. Bersabarlah, suatu saat, Andalah yang menikmati kebahagiaan di puncak langit kesuksesan.

Berdasar ayat di atas, ada empat hal yang harus Anda tempuh menuju kesuksesan. Pertama, tanamkan keimanan kepada Allah yang membaja dan sertakan Ia dalam semua usaha Anda. Kedua, taburkan kebaikan kepada semua orang di semua penjuru angin. Setitik kebaikan Anda adalah investasi masa depan Anda. Ketiga, berpikir dan bergeraklah yang luas melampaui wilayah tempat tinggal Anda. Keempat, jadilah MTB (Manusia Tahan Bantingan), tidak cengeng, tetap ulet mengejar cita-cita. Usaplah dengan tissue berapapun derasnya keringat Anda. Dengarkan pedasnya cemoohan orang dengan tenang dan anggaplah sebagai musik penyemangat Anda. Andalah peraih anugerah yang terjanjikan dalam firman Allah, “Sungguh, hanya orang-orang yang bersabarlah yang dipenuhi pahala mereka tanpa batas.”