Header

RAMAH ALAM, RAIH SALAM

February 5th, 2018 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

RAMAH ALAM, RAIH SALAM
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ ١٠٧

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. Al Anbiyak [21]: 107).

sumber gambar: www.dreamstime.com

Pada ayat sebelumnya dijelaskan bahwa dalam Kitab Zabur telah tertulis bahwa bumi akan dikelola dengan baik oleh orang-orang yang beriman dan berakhlak mulia (‘ibadiyas shalihun), yaitu umat Nabi SAW. Ayat yang dikutip di atas merupakan kelanjutan ayat sebelumnya sebagai penegasan, bahwa Islam datang untuk rahmatan lil ‘alamin, yaitu pemberi kebahagiaan semua makhluk, yaitu manusia, jin, malaikat, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan alam secara keseluruhan.

Inilah ayat yang sangat pendek, hanya enam kata, tapi memiliki pesan yang luas tentang kedamaian dunia yang akan disumbangkan oleh Islam. Menurut Sayid Qutub, salah satu wujud  rahmatan lil alamin Islam adalah ajarannya tentang kesetaraan manusia, dan dorongan inovasi melalui kemerdekaan berfikir untuk memajukan kualitas kehidupan. Antara lain berupa apresiasi untuk sebuah inovasi. Jika ia gagal, penggagas diapresiasi dengan satu poin kebaikan, dan jika berhasil diberi bonus dua poin. Kepribadian Nabi SAW juga rahmatan lil alamin. Dialah satu-satunya manusia yang diberi predikat rahmatan lil alamin, dan satu-satunya yang bergelar rahim, satu sifat yang hampir sama dengan sifat Allah, ar Rahim (Yang Maha Penyayang), sebagaimana disebutkan dalam QS. At Taubah ayat 128.

Nabi SAW mengajarkan kita untuk menyayangi binatang, melarang memberi beban yang berat di atas punggungnya, dan melarang menyembelihnya dengan pisau yang kurang tajam. Nabi bahkan memberitakan adanya wanita yang dimasukkan ke neraka karena mengurung kucing sampai mati kelaparan. Sebaliknya, wanita pelacur dimasukkan ke dalam surga karena menyelamatkan nyawa seekor anjing. Anda manusia rahmatan lil ‘alamin, jika Anda menyayangi binatang seperti yang dilakukan Catherine van Eyk, turis Belanda yang menghentikan mobilnya di  Taman Nasional Kruger Afrika selatan, sehingga jalan macet selama 20 menit sebab 120 mobil berhenti, karena memberi kesempatan dua singa yang sedang bercinta.

Terhadap tanaman, Nabi SAW juga melarang kita memetik bunga sebelum mekar, agar lebah bisa menghisap sarinya dan kita bisa menikmati keindahannya. Ia juga melarang memetik buah sebelum matang agar dinikmati manusia sesuai dengan tujuan penciptaan semula  (M. Quraish Shihab, vol 8: 132-135).

Artikel ini ditulis untuk menyambut peringatan Hari Air Sedunia (22 Maret). Pada awal tahun 2018 ini, beberapa negara di Afrika mengalamai kekeringan air. Pada musim kemarau yang lalu, Indonesia juga mengalami hal yang sama. Presiden Joko Widodo menggelar rapat terbatas untuk mengatasi kekurangan air yang menambah penderitaan rakyat di beberapa daerah. Sekitar 3,9 juta jiwa merasakan dampak kekeringan, 56.334 hektar lahan pertanian kering kerontang, sehingga 18.516 hektar lahan pertanian gagal panen. Forum Ekonomi Dunia menempatkan krisis air sebagai  isu utama dalam satu dekade mendatang. Saat ini, 1 dari 10 penduduk dunia tidak memiliki akses ke air bersih. Atas nama pembangunan, berbagai lahan hijau kita tersapu bersih. 55 persen sungai di Tiongkok juga lenyap dalam waktu 20 tahun terakhir (Harian Kompas, nationalgeografic.co id).

Di sektor kehutanan juga tidak kalah mengerikan. 42 juta hektar dari 130 hektar hutan Indonesia telah gundul “plonthos” ditebang, sehingga Indonesia menciptakan “rekor” sebagai negara tercepat dalam perusakan hutan dibanding 44 negara pemilik hutan lainnya. Kebakaran hutan kita yang terjadi setiap tahun telah menghanguskan bahan baku obat, yang hanya satu-satunya di dunia dan menjadi incaran negara-negara farmasi. Satwa-satwa dalam hutanpun kehilangan habitatnya akibat kebakaran dan penggundulan tersebut. Dampaknya, bisa Anda saksikan, tanah longsor dan banjir bandang yang menyengsarakan jutaan manusia. Polusi udara akibat asap pabrik dan kendaraan juga telah memicu pemanansan global dan kerusakan paru-paru kita.

Nabi SAW memberi contoh hemat air. Ia berwudlu hanya dengan 1 mud air (0,76 ltr) (HR. Al Jama’ah dari Anas r.a). Ia juga menegur Sa’ad r.a ketika boros air dalam berwudlu (HR. Ahmad dan Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar r.a). Allah SWT berfirman, “Sungguh, orang-orang boros itu saudara setan” (QS. Al Isra’ [17]: 26). Secara tidak langsung, Nabi memberi pesan untuk menyelamatkan kehidupan anak cucu kita. Perhatikan ayat-ayat Al Qur’an tentang air. Antara lain, “Dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup” (QS. Al Anbiya’ [21]: 30). “Allah telah menciptakan langit dan bumi serta menurunkan hujan dari langit, kemudian Ia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan yang menjadi rejeki untukmu” (QS. Ibrahim [14]: 32). Dalam surat Al Waqi’ah [56]: 58-70, kita diingatkan Allah, dari manakah air yang engkau minum? Buatanmu sendiri atau pemberian Allah? Tidakkah tenggorokanmu menjadi segar karena air?. Perhatikan juga Surat Al Mulk [67] yang dibuka dengan firman tentang kehidupan dan kematian, lalu ditutup dengan peringatan akan terjadinya kekekeringan atau ketiadaan persediaan air sama sekali, “Katakanlah, terangkanlah kepadaku, jika sumber air kalian kering, maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?” (QS. Al Mulk 967]: 30).

Jika Anda berhemat air, menjaga kebersihan sungai, mengurangi berkendara bermotor, menyanyangi hewan, menjaga kelestarian hutan, memelihara keindahan taman dan kebun, ikut memikirkan kenyamanan hidup semua makhluk generasi mendatang, maka Anda manusia rahmatan lil alamin. Sebaliknya, jika Anda boros air, sekalipun dari sumur sendiri ataupun air sungai, membuang sampah seenaknya, bahkan tega-teganya membuang sampah dan limbah ke sungai, membuat derita hewan, menebang pohon semaunya, membakar hutan atau menggundulinya, menginjak taman-taman rumput yang indah di tempat publik, memetik bunga sebelum mekar, maka Andalah manusia la’natan lil alamin, yaitu penyebab penderitaan semua makhluk hidup. Jangan lupa, termasuk la’natan lil alamin adalah orang yang menyakiti hati pasangan hidup, anggota keluarga dan siapapun. Jadi, rahmatan lil alamin tidak hanya diartikan secara sempit untuk toleransi hidup di tengah masyarakat multikultural.

Jika seribu tahun mendatang, manusia merasakan kenyamanan hidup berkat jasa Anda memelihara alam ini, sekecil apapun, maka itulah pahala mengalir (jariyah) yang akan membuat Anda tersenyum di alam baka. Sebaliknya, jika terjadi sekecil apapun derita makhluk hidup akibat ulah Anda, maka itulah sumber tangisan yang Anda rasakan di alam baka itu. Na’udzu billah min dzalik. Saya yakin, salam Allah dan semua malaikatnya akan terus terkirim untuk Anda, manusia rahmatan lil alamin.

Referensi: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar, Juz 7, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, 122-124 (2) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, vol 8,  132-135, (3) Ibnu Majah, Al Hafidh Abu ‘Abdillah Muhammad bin Yazid Al Qazwini, Sunan, Dar Al Fikr, Beirut,  2004. (4) http/trivia.id post (5) jawa Pos23 oktober 2017 p.1

KEPEMIMPINAN RABBANI

January 17th, 2018 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

KEPEMIMPINAN RABBANI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: https://www.ted.com/topics/leadership

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤۡتِيَهُ ٱللَّهُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحُكۡمَ وَٱلنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُواْ عِبَادٗا لِّي مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلَٰكِن كُونُواْ رَبَّٰنِيِّ‍ۧنَ بِمَا كُنتُمۡ تُعَلِّمُونَ ٱلۡكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمۡ تَدۡرُسُونَ ٧٩

Tidaklah mungkin seseorang yang diberi Allah al Kitab, al hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia, “Jadilah kalian penyembah aku, bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia pasti berkata),Jadilah kalian manusia rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al Kitab dan karena kamu tetap mempelajarinya (QS. Ali Imran [03]: 79).

Ayat di atas turun ketika Nabi SAW kedatangan beberapa pendeta Yahudi dan Nasrani di Madinah. Ketika diajak Nabi memeluk Islam, mereka menjawab sinis, “Apakah kamu menyuruh kami menyembahmu seperti kaum Nasrani menyembah Isa?” Nabi mengatakan, “ma’adzallah, semoga Allah melindungi saya. Sama sekali bukan itu maksud saya.”

Ayat di atas menegaskan bahwa, pertama, tidaklah mungkin nabi-nabi, termasuk Nabi SAW yang mendapat tugas kenabian dengan bekal kitab suci dan diberi kecerdasan lalu berkhianat atau menyalahi perintah dengan menyuruh manusia menyembah dirinya selain Allah. Pengkhianatan adalah dosa bagi manusia biasa, maka apalagi bagi seorang nabi. Kedua, semua nabi justru menyuruh manusia menjadi manusia rabbani atau manusia berketuhanan, yaitu dekat kepada Tuhannya, mendalami firman-firman-Nya dan berakhlak seperti akhlak-Nya. Menurut Quraish Shihab, rabbani adalah muslim yang terus menerus mempelajari kitab suci dan mengajarkannya kepada manusia. Menurut Ibnu Abbas r.a, muslim rabbani adalah ulama, hukama (ahli hikmah dan filsafat), fuqaha’ (ahli hukum) yang menguasai ilmu dan filsafat, sehingga memahami makna terdalam dari firman-firman Allah, dan mengetahui berbagai rahasia dari semua ciptaan Tuhannya, lalu mengajarkannya kepada orang lain.

Jika dikaitkan dengan kepemimpinan, maka kepemimpinan rabbani adalah kepemimpinan yang berbasis ilmu ketuhanan dan ilmu-ilmu lainnya untuk memberikan pelayanan terbaik, kesejahteraan dan keadilan untuk masyarakat yang dipimpinnya. Nabi SAW memberi contoh tanggungjawab kepemimpinannya sampai detik-detik terakhir hidupnya. Ketika Jibril mengatakan bahwa tugasnya sebagai pengantar wahyu sudah berakhir, Nabi SAW bertanya, ”Siapa yang akan mengurusi umatku sesudah aku mati?” Allah SWT lalu mewahyukan kepada Jibril, ”Beritakan kepada kekasihku, Aku tidak akan menelantarkan umatnya. Beritahukan pula, ia orang pertama yang dikeluarkan dari bumi kelak pada hari kiamat, dan dialah yang akan memimpin semua manusia saat itu. Dialah pula yang Aku ijinkan pertama kali memasuki surga.” Nabi SAW lalu terlihat ceria, kemudian menggosok gigi dengan siwak sebelum bersyahadat untuk menutup kehidupan selamanya.

Sepanjang hidupnya, yang dipikirkan Nabi SAW hanya satu, yaitu keadaan atau nasib orang-orang yang dipimpinnya. Ia mencintai umatnya seperti seorang ibu kepada anaknya, atau kakak kepada adik-adiknya. Kisah pendek ini merupakan tamparan keras bagi siapapun pemimpin negeri ini yang mengutamakan partainya dan menomor-duakan rakyatnya. Waktu yang semestinya untuk mengurus rakyat terkuras untuk mengurus partai dan menambah pundi-pundi kekayaan keluarga, sedangkan untuk mengurus rakyat hanya dengan sisa-sisa energi yang telah terkuras sebelumnya.

Dalam sejarah, Umar bin Khattab r.a pernah bertindak cepat, memberhentikan gubernur Syria yang terbukti melakukan penyelewengan, lalu mengangkat Sa’id bin Amir sebagai penggantinya, semata-mata karena potensi dan akhlaknya. Belum lama menjabat, Said mendapat ujian dari istrinya yang  menuntut rumah dan fasilitas yang serba mewah. Said tidak tunduk kepada kemauan istri, tetap hidup sederhana, bahkan memberikan gajinya kepada fakir miskin. Menghadapi istri yang marah dan kecewa, Said mengarahkan pandangannya ke atas, seraya berkata, ”Wahai istriku, Allah sedang memperlihatkan pada saya para syuhada’, teman-temanku bercengkerama dengan para bidadari yang amat cantik. Jika engkau tidak bisa mengikuti cara kepemimpinan saya, maka saya lebih suka memilih  bidadari itu daripada engkau.”

Suatu saat, Umar mendapat laporan, bahwa gubernur yang baru itu sering terlambat ke kantor, beberapa kali absen, menolak didatangi rakyat di malam hari, dan sering pingsan di saat kerja.

Umar meminta klarifikasi Said bin Amir di depan rakyatnya. Inilah rekaman keterangannya, “Saya sebenarnya tidak ingin membuka rahasia ini. Tapi, baiklah, terpaksa saya harus ceritakan semuanya. Pertama, saya sering terlambat ke kantor, karena saya tidak punya pembantu, dan saya harus mengaduk roti sendiri, lalu shalat dhuha, dan barulah ke kantor. Kedua, saya absen ke kantor dua kali sebulan, karena ketika satu-satunya baju saya ini dicuci, saya harus menunggunya sampai kering dan baru bisa saya pakai ke kantor. Ketiga, saya menolak anda semua ke rumah malam hari, karena siang hari saya maksimalkan mengurus rakyat dan malam hari saya khususkan untuk bersujud kepada Allah. Keempat, benar, saya sering pingsan ketika di kantor. Inilah yang perlu saya jelaskan lebih detail, sebab saya memiliki pengalaman pahit yang tidak bisa saya lupakan.

Sa’ad melanjutkan, “Sebelum masuk Islam, saya menyaksikan Hubaib Al Anshari disiksa orang kafir secara keji disertai cacian yang menyakitkan hati, ”Kami akan melepas kamu, jika nabimu menggantikanmu untuk kami hajar di sini?” Hubaib menjawab, ”Aku tidak akan rela nabiku disiksa walaupun hanya dengan tusukan duri.” Saat itulah, tubuhnya dicincang-cincang, dan saya hanya berpangku tangan. Saya takut kelak ditanya Allah, mengapa saya diam dan tidak melakukan pembelaan sedikitpun. Setiap kali saya mengingat kejadian itu, saya lemas dan langsung pingsan.”  Mendengar klarifikasi tersebut, Umar bin Khattab menunduk haru, lalu bangkit memeluk erat dan mencium kening Said bin Amir sambil berkata, ”Saya bangga dan bersyukur, saya tidak salah memilihmu sebagai seorang pemimpin.”

Nabi SAW memberi tauladan kepemimpinan rabbani, yaitu dekat dengan Allah dan mengutamakan pelayanan umat. Umar bin Khattab memberi tauladan memilih pejabat yang benar-benar profesional, bukan berdasar hubungan keluarga, setoran atau mahar politik, strategi “dagang sapi,” dan sebagainya. Komitmen, kejujuran, ketulusan, kecerdasan, dan kecekatan harus menjadi pertimbangan utama. Untuk apa memilih orang cerdas, kalau terhadap uang negara ia tukang kuras? Untuk apa pula bergelar doktor kalau koruptor? Utamakan pejabat rabbani, dan ukurannya bukan berapa kali ia umrah atau berhaji.

Negeri ini terkenal kaya raya, dan hanya pemimpin rabbani yang bisa mengantarkannya menjadi negara besar setelah China dan India di kemudian hari. Andalah calon pemimpin itu!

Surabaya, 30/09/2017

Referensi: (1) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol.2, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 161 (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, Juz 3, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 217-219. (3) Khalid, Muhammad Khalid, Rijalun Haular Rasul (Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah), CV Diponegoro, Bandung, Cet VI, 1988.

 

MEMBAKAR UANG

December 19th, 2017 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

MEMBAKAR UANG
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Demi masa. Sungguh manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (QS. Al-Ashr [103]: 1-3).

Firman Allah di atas bukan satu-satunya ayat yang diawali sumpah dengan waktu. Masih banyak ayat lain yang sejenis, antara lain, “Demi waktu fajar” (QS. 89: 1), “Demi waktu subuh ketika fajar telah menyingsing” (QS. 81: 18), “Demi waktu dhuha (ketika matahari naik sepenggalan), dan demi waktu malam ketika telah sunyi” (QS. 93: 1-2), “Demi waktu malam ketika menutupi cahaya siang, dan demi waktu siang ketika terang benderang” (QS.92: 1-2). Semua ayat di atas menunjukkan betapa pentingnya waktu dan betapa besar kerugian orang yang melewati waktu tanpa perencanaan yang jelas atau digunakan untuk perbuatan sia-sia, apalagi dosa.

Muhammad Ibrahim An Nu’aim dalam bukunya Kaifa Tuthilu ‘Umrakal Intaji bertanya, “Apa komentar Anda terhadap orang yang membakar uang setiap hari?” Tentu jawaban Anda, “Ia bodoh, sombong atau tidak waras.” Bagaimana jika seseorang menyia-nyiakan waktu? Tentu lebih bodoh dan gila, sebab jika uang hilang, kita masih bisa mendapatkannya di lain waktu. Namun, jika waktu yang terbuang sia-sia, kita tidak bisa mencarinya lagi, sebab waktu tidak terulang, seperti jarum jam yang tidak bisa diputar kembali.

Waktu adalah modal besar dan penentu bahagia atau tidaknya masa depan Anda.  Sumpah Allah dengan waktu merupakan peringatan agar tidak ada satu menitpun lewat tanpa kegiatan yang bernilai positif dan produktif.  Perjalanan usia kita harus diisi dengan kegiatan yang bisa menjadi investasi untuk masa depan, baik jangka pendek yaitu dunia, maupun jangka panjang yaitu akhirat. Satu menit untuk menyebut nama Allah lebih baik dari seribu tahun tanpa mengingat-Nya. Majduddin Abul Barakat, kakek Ibnu Taimiyah tidak mau sedikitpun waktunya lewat tanpa memperoleh ilmu. Oleh karenanya, setiap ia masuk WC, ia menyuruh seseorang untuk membacakan buku dengan suara yang nyaring agar selama dalam WC ia tetap bisa memperoleh tambahan ilmu.

Abdullah bin Mas’ud berkata, ”Setiap aku melihat matahari terbenam di ufuk barat, hatiku amat gundah dan menyesal, sebab jatah umurku berkurang sedangkan ibadahku tidak bertambah.” Dawud At Tha’i lebih suka meminum fatiit (sup roti) daripada mengunyahnya, sebab menurutnya, “Minum sup roti lebih cepat. Durasi waktu untuk mengunyah roti cukup untuk membaca 50 ayat Al Qur-an.”

Para ulama terdahulu selalu membaca Al Qur-an dalam setiap perjalanan ke mana saja. Oleh karena itu, ia mengukur jarak perjalanan dengan seberapa banyak ayat Al Qur-an dibaca. Syekh Abdullah bin Baz selalu memanfaatkan waktu perjalanan dengan merenungkan tafsir ayat-ayat Al Qur’an. Abu Bakar bin Ayyasy mengatakan, ”Kebanyakan orang bersedih ketika kehilangan uang, tapi tidak pernah mengeluh ketika sehari umurnya hilang secara sia-sia.”

Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Adh Dhabi’i mengingatkan, “Gunakan waktu secara maksimal untuk meraih apa saja. Tapi, jangan lupa menyediakan waktu untuk bersenang-senang dan istirahat, sebab tubuh juga mempunyai hak untuk diberi istirahat.” Abdul Wahhab Al Sya’rani dalam kitabnya Tanbihul Mughtarrin  berpesan, “Hiduplah dengan pengaturan waktu yang teliti. Jika tidak, Anda sejatinya telah mati. Segera lakukan pekerjaan yang lain, jika suatu pekerjaan telah selesai, sebagaimana firman Allah, “Jika engkau telah selesai dari suatu pekerjaan, maka tetaplah bekerja keras untuk pekerjaan yang lain” (QS. Alam Nasyrah [94]: 7). Hasan Al Bashri berkata, “Sedetik waktu yang engkau gunakan untuk kebaikan lebih berharga daripada sejuta dinar dan dirham.”

Abdullah bin Al Mubarak  berkata, “Yang paling aku sesali dalam hidup adalah jika ada waktu yang terbuang. Kecerdasan seseorang ditentukan sejauhmana ia mengatur waktu.” Sebagian ulama terdahulu membawa sejumlah kerikil. Mereka memasukkan satu kerikil ke saku kiri jika melakukan dosa, dan satu kerikil di saku kanan jika melakukan kebaikan. Lalu, menjelang tidur, kerikil di dua saku itu dihitungnya.

Syaikh Al Qusyairi berkata, “Introspeksi yang terpenting adalah tentang waktu, sejauhmana digunakan untuk kebaikan atau dosa, sebab setiap detik harus jelas kegunaannya.” Nabi SAW bersabda,

لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ اَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ

“Dua telapak kaki manusia tidak akan bisa digerakkan pada hari kiamat sebelum menjawab (empat) pertanyaan, yaitu (1) tentang umurnya, digunakan untuk apa, (2) tentang ilmunya, sejauhmana pengamalannya, (3) tentang hartanya, darimana diperoleh dan untuk apa saja dipergunakannya, dan (4) tentang tubuhnya, sejauhmana dimanfaatkannya” (HR. At Turmudzi dari Abi Barzah Al Aslamy r.a). Nabi SAW juga bersabda, ”Orang-orang yang hadir dalam pertemuan tanpa mengingat Allah, mereka kelak pasti menyesal. Orang yang menempuh perjalanan tanpa mengingat Allah juga akan menyesal. Orang yang berbaring di tempat tidur tanpa mengingat Allah, ia pasti juga menyesal” (HR. Ahmad). Mereka meyesal bukan karena dosa, namun karena waktunya berlalu tanpa kegiatan yang dapat meningkatkan peringkatnya di surga.

Apakah Anda orang cerdas, dungu, gila ataukah waras ditentukan bagaimana Anda memanfaatkan waktu sebagai anugerah Allah yang termahal.

Referensi: (1) Kementerian Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya, Al Jumanatul ‘Ali, Bandung, 2005; (2) Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Adh Dhabi’i, Sanaabilul Khair, Investasi Akhirat, terj. Tsaniananda Fidyatul Ch, penerbit: Tinta Medina, Creative Imprint of Tiga Serangkai, Solo, Cet. I, 2016, hlm. 77-82. (3) Muhammad Ibrahim an-Nu’aim, Kaifa Tuthilu Umraka Al-intajy (4) Abdul Wahhab Al Sya’rani, Tanbih Al Mughtarrin, penyadur: W. Wikarta: Jalan-jalan Surga, Akhlak dan Ibadah Pembuka Pintu Surga, Penerbit Mizania, Bandung, 2017 cet. I, hlm.119.