Header

NABI YUNUS, TELADAN PERUBAHAN

June 2nd, 2018 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

NABI YUNUS, TELADAN PERUBAHAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ١٣٩  إِذۡ أَبَقَ إِلَى ٱلۡفُلۡكِ ٱلۡمَشۡحُونِ ١٤٠ فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ ٱلۡمُدۡحَضِينَ ١٤١ فَٱلۡتَقَمَهُ ٱلۡحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٞ ١٤٢  فَلَوۡلَآ أَنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلۡمُسَبِّحِينَ ١٤٣ لَلَبِثَ فِي بَطۡنِهِۦٓ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ ١٤٤  ۞فَنَبَذۡنَٰهُ بِٱلۡعَرَآءِ وَهُوَ سَقِيمٞ ١٤٥ وَأَنۢبَتۡنَا عَلَيۡهِ شَجَرَةٗ مِّن يَقۡطِينٖ ١٤٦ وَأَرۡسَلۡنَٰهُ إِلَىٰ مِاْئَةِ أَلۡفٍ أَوۡ يَزِيدُونَ ١٤٧  فَ‍َٔامَنُواْ فَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ ١٤٨

sumber gambar: https://i.ytimg.com/vi/jnkf9ANN1-8/maxresdefault.jpg

“Sungguh Yunus benar-benar salah seorang rasul. (Ingatlah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan. Kemudian ia ikut berundi, lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Lalu, ia ditelan ikan besar dalam keadaan tercela. Maka, kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang bertasbih kepada Allah, niscaya ia akan tetap tinggal dalam perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan Kami tumbuhkan untuknya sebatang pohon sejenis labu. Dan Kami mengutusnya kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu, mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu (QS As Shaffat [37]: 139-148).

Topik ini saya pilih karena penasaran, mengapa dalam satu ayat Al Qur’an Allah melarang kita meniru karakter Nabi Yunus. Untuk menjawabnya, akan saya uraikan terlebih dahulu kisah Yunus a.s. Ia dipanggil Allah dengan panggilan Dzun Nun, artinya orang yang mengalami penderitaan dalam perut ikan selama tiga hari, “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia berdoa (dengan bersuara) dalam keadaan yang sangat gelap, “La ilaaha illaa anta, subhaanaka innii kuntu minadh-dhaalimiin” (tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim).” Maka Kami telah mengabulkan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman” (QS. Al Anbiyak [21]: 87-88).

Pada ayat lain, Yunus a.s juga dipanggil dengan Shahibul Hut, artinya sama dengan Dzun Nun, “Atau apakah mereka memiliki pengetahuan tentang yang gaib, lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetapkan). Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan yang berdoa ketika itu dalam keadaan marah (kepada kaumnya). Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, ia pasti dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh” (QS. Al Qalam [68]: 47-50).

Yunus bin Matta lahir di Palestina, lalu diutus untuk masyarakat Nainawa atau Ninive dengan penduduk 100.000 orang lebih, di dekat sungai Tigris, Irak pada abad 8 SM. Ia dimakamkan di Palestina di tepi barat Laut Mati (Shihab, 2002: 304). Ketika Nabi SAW berteduh di sebuah kebun kurma setelah dihujani batu oleh masyarakat Thaif, Mekah, ia dihampiri orang Kristen yang bernama ‘Adas. Setelah berbincang panjang, ternyata ‘Adas berasal dari kampung Nainawa. ‘Adas terkejut dan kagum ternyata Nabi SAW bercerita lebih lengkap tentang Nainawa dan amat hormat kepada Yunus a.s. Lalu, ia masuk Islam (Hamka, 1985: 166).

            Yunus a.s disebut enam kali dalam Al Qur-an, yaitu dua kali dengan nama panggilan Dzun Nun dan Shahibul Hut, sebagaimana disebut pada dua ayat di atas, dan empat kali dengan nama aslinya pada QS. An Nisa’, Al An’am, Yunus, dan As Shaffat (As Shabuni, 1994: 445-450). Suatu hari, ia marah kepada masyarakat yang menolak ajakannya, bahkan mereka mengancam untuk membunuhnya.  Ia lalu lari menuju tepi laut dan naik kapal yang sedang bersandar. Dalam perjalanan di tengah laut, kapal oleng. Para penumpang memutuskan membuang satu orang yang banyak dosa, karena dialah kapal oleng. Lalu, undian dilakukan untuk menentukan siapa yang harus dibuang, dan ternyata sampai diulang tiga kali, tetap saja nama Yunus a.s yang keluar. Mereka tidak tega, sebab Yunus orang yang baik. Yunus a.s kemudian meminta mereka untuk melemparkan dirinya ke laut, karena telah menjadi keputusan. Dalam perut ikan itupun, Yunus a.s masih tetap marah kepada masyarakatnya (Hamka,1985: 166).

            Dalam sejarah, cara undian seperti itu juga pernah dilakukan oleh para pemuka Nasrani untuk menentukan siapa yang berhak merawat Maryam, dan Nabi Zakariya a.s yang memenanginya. Nabi SAW juga selalu mengundi di antara istrinya, siapa yang berhak diajak keluar. Bagaimana Yunus bisa selamat? Pertama, sangat mungkin ikan Hiu yang menelannya sangat besar, panjang 20 m, tak bersirip, tak bergigi, dan sudah biasa menelan ikan sepanjang 3 m, sebagaimana banyak dijumpai di laut tengah. Karenanya, Yunus berada di tempat yang longgar, di langit-langit mulut Hiu. Tapi, ia pasti kesulitan bernafas. Untunglah Allah menggiring Hiu ke pinggir pantai dan memerintahkannya untuk memuntahkan Yunus.as (Shihab, 2002: 304). Sebab kedua, dan ini yang paling pasti, ia selalu bertasbih selama dalam perut ikan, “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang bertasbih kepada Allah. Niscaya ia akan tetap tinggal dalam perut ikan itu sampai hari berbangkit (QS. As Shaffat [37]: 139-148).

            Yunus a.s keluar dari perut ikan dalam keadaan lemas, dan baru sehat kembali setelah memakan buah sejenis labu yang ditanam Allah dengan cepat di dekatnya. Setelah sehat betul, ia kembali ke masyarakatnya dengan karakter baru, yaitu lebih sabar dan santun (Hamka, 1985: 166). Tasbih yang dibaca Yunus a.s dalam perut ikan itulah yang kemudian diajarkan Nabi SAW untuk semua umatnya. Nabi SAW bersabda,

دَعْوَةُ ذِى النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِى بَطْنِ الْحُوتِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِى شَىْءٍ قَطٌّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ

“Doa yang diucapkan oleh Dzun Nun (Nabi Yunus) sewaktu  berada dalam perut ikan adalah “Tiada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim.” Siapapun muslim yang membaca doa ini untuk suatu keperluan, pastilah Alllah akan mengabulkannya” (HR. Tirmidzi no. 3505 dari Sa’d r.a).

Dari penjelasan di atas, dapat kita ketahui, bahwa larangan meniru Yunus a.s tertuju pada karakternya sebelum ia ditelan ikan. Tapi setelah itu, ia berubah total dari pemarah menjadi peramah, santun dan sabar sehingga masyarakat mencintai dan mengikuji ajakannya. Andaikan Yunus a.s bukan manusia mulia, tidaklah mungkin Allah memerintahkan kita untuk mengimaninya. Kisah Yunus a.s disebut dalam Al Qur’an untuk menunjukkan bahwa ia manusia biasa, yang bisa saja khilaf. Berikut inilah kata kunci yang menunjukkan pujian Allah untuk Yunus a.s yang telah berubah, “Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh” (QS. Al Qalam [68]: 47-50).

Anda tidak boleh berdalih tidak bisa merubah karakter karena watak dan pembawaan sejak lahir. Yunus menjadi bukti perubahan karakter, karena terus bertasbih, introspeksi, dan istighfar. Anda harus berubah sekarang menuju karakter mulia tanpa harus menunggu ditimpa musibah besar.

Referensi: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar, Juz 23, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985 (2) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vo. 11, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012 (3) Al Turmudzi,  Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah, Sunan Al Turmudzi, Beirut: Dar Al Fikr, 2005. (4) As-Shabuni, Muhammad Ali, Prof, An Nubuwwah wal Anbiya’, (Kisah-Kisah Nabi dan Masalah Kenabiannya) terj. Mushlikh Shabir, Penerbit Cahaya Indah, Semarang 1994.

MEMPERSUNTING KARAMAH

May 7th, 2018 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

MEMPERSUNTING KARAMAH
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: sportourism.id

“Dan jika kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.” (QS. Al Kahfi [18]: 16)

Ayat di atas berkisah tentang tujuh orang (as-habul kahfi) yang ditidurkan Allah di dalam gua selama 309 tahun. Mereka bersembunyi untuk menghindari kekejaman raja yang zalim. Sebelum ditidurkan, mereka mengonsumsi makanan dan minuman (mirfaqa) yang disediakan langsung oleh Allah. Inilah keajaiban pertama. Keajaiban kedua adalah bahwa gua itu menghadap ke utara, sehingga tidak mendapat sinar matahari. Padahal, tanpa sinar dan sirkulasi udara, mereka bisa mati. Maka, setiap pagi, Allah “memindahkan” matahari ke utara agar dapat sejenak memberi cahaya gua. Keajaiban yang diberikan Allah kepada para pemuda gua itulah yang disebut “karamah,” bukan “mukjizat,” sebagaimana yang diperuntukkan khusus bagi para nabi.

Imam An Nawawi mengutip ayat tersebut dalam bab “Karamah Para Kekasih Allah” pada kitab Riyadhus Shalihin II: 368-373 dan Kitab Dalilul Falihin juz IV: 273. Pada bab itu juga dijelaskan karamah yang diberikan Allah kepada Maryam, ibu Nabi Isa a.s ketika dipingit Nabi Zakaria di sebuah tempat khusus sekaligus tempat ibadah. Suatu saat, Zakaria terkejut, ternyata dalam kamar yang telah tertutup rapat itu, ada buah segar di luar musimnya. Ketika ditanya, Maryam menjawab, “Makanan itu dari sisi Allah. Sungguh, Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa perhitungan” (QS. Ali Imran [3]: 37).

Ada lagi karamah yang diberikan Allah kepada Maryam. Ketika ia hamil, ia gelisah bercampur malu karena diolok-olok sebagai pezina, karena ia tidak bersuami. Ia lalu bersandar pada pohon kurma sambil merasakan sakit perut menjelang persalinan. Ia juga cemas, karena tidak ada makanan untuk dirinya yang sudah lemas, dan untuk sang bayi yang akan dilahirkan. Allah mengtus malaikat Jibril untuk memberitahu Maryam, “Jangan bersedih. Aku telah menyediakan untukmu sungai di bawahmu. Segera minumlah air segar dari sungai itu. Goyanglah pohon kurma tempat engkau bersandar. Nikmatilah bersama bayimu kurma segar yang berjatuhan di depanmu.” (QS. Maryam [19]: 24-25).

Dalam hadis, peristiwa karamah diceritakan oleh Abdurrahman bin Abu Bakar As Shididiq r.a. Ia mengatakan, keadaan penduduk Mekah yang hijrah bersama Nabi SAW ke Madinah yang ditampung di perkemahan belakang Masjid Madinah (ash-haabus shuffah atau ahlus-suffah) sangat memprihatinkan. Mereka hijrah tanpa membawa bekal sedikitpun dan tidak memiliki sanak keluarga di Madinah. Saat itulah, Abu Bakar bertindak karena teringat perintah Nabi SAW,

مَنْ كَانَ عِنْدَهُ طَعَامُ اثْنَيْنِ فَلْيَذْهَبْ بِثَالِثٍ وَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ طَعَامُ اَرْبَعَةٍ فَلْيَذْهَبْ بِخَامِسٍ بِسَادِسٍ

“Barangsiapa memiliki makanan untuk dua orang, maka hendaknya ia makan bertiga, dan barangsiapa memiliki makanan untuk empat orang, maka hendaknya ia makan berlima atau berenam” (HR. Muttafaq ‘Alaih dari Abu Muhammad, Adurrahman bin Abu Bakar As Shididiq r.a). Abu Bakar lalu mengundang  tiga orang ke rumahnya, dan Nabi menambahkan undangan sepuluh orang lainnya. Mereka yang diundang itu langsung menuju rumah Abu Bakar r.a. Ia berpesan kepada anaknya, Abdurrahman agar menjamu para tamu itu, karena ia harus menemani Nabi SAW di masjid sampai shalat isyak dan makan malam bersamanya.

Abu Bakar r.a pulang agak larut malam, dan mendapat teguran istrinya, “Mengapa kamu menerlantarkan tamumu?” Sebelum menjawab, Abu Bakar justru bertanya, “Apakah mereka sudah dijamu?” “Mereka tidak mau makan yang sudah saya hidangkan sampai engkau pulang,” Jawab sang istri. Ketika Abu Bakar r.a datang, Abdurrahman bersembunyi, takut dimarahi sang ayah, karena para tamu menolak makan yang sudah disiapkan. Benar, Abu Bakar memanggil dengan nada kesal, “Wahai si dungu, kenapa tamu tidak segera diberi jamuan.” “Ayah, mereka menolak makan jika tidak bersamamu,” jawab Abdurrrahman. Abu Bakar r.a lalu mempersilakan tamunya menikmati hidangan, sedangkan dia sendiri bersumpah tidak akan makan, karena baru saja makan bersama Nabi. Abu Bakar r.a baru membatalkan sumpahnya dan bersedia makan bersama setelah mereka bersikukuh hanya makan jika ditemani tuan rumah. Ia berkata, “Sumpah saya tadi terucap karena pengaruh setan.”

Ketika melayani para tamu, Abdurrahman berkata, “Demi Allah, saya menyaksikan keajaiban. Setiap kami mengambil makanan, selalu ada makanan baru di bawahnya, sehingga semua tamu puas. Bahkan makanan yang tersisa jauh lebih banyak daripada semula. Abu Bakar r.a juga heran dan bertanya kepada istrinya, “Wahai keturunan Bani Firas (panggilan untuk istrinya yang keturunan marga Firas), “Apa yang sedang terjadi?” Sang istri menjawab, “Aku sangat senang melihat hidangan ini menjadi tiga kali lipat banyaknya daripada ketika disuguhkan sebelumnya.” Abu Bakar r.a mengambil sedikit makanan untuk diberikan kepada Rasulullah yang sedang mengadakan rapat penandatanganan perjanjian dengan non-muslim. Setelah rapat, Abu Bakar menghidangkan makanan untuk mereka yang telah dibagi menjadi 12 kelompok yang masing-masing terdiri dari sejumlah orang yang hanya Allah SWT yang tahu. Ajaib, mereka semua bisa makan dari sisa makanan yang sedikit tadi” (HR. Muttafaq ‘Alaih).

Karamah juga disediakan untuk Anda, tidak hanya untuk pemuda gua, Maryam dan Abu Bakar r.a. Jika Anda ingin mempersunting karamah, tidak perlu Anda berdoa memintanya. Jika Anda terus menerus meningkatkan keimanan dan mengharumkan budi pekerti, yakinlah Allah akan memberi Anda karamah secara mengejutkan. Jika Anda menginginkan kupu-kupu, tidaklah perlu Anda mengejarnya. Cukup tanamlah bunga-bunga yang indah di taman, maka rombongan kupu-kupu yang berwarna warni akan datang menghampirinya.” Selamat berkompetisi memersunting karamah, dan saya yakin, Andalah pemenangnya.

            Referensi: (1) Al Nawawy, Abu Zakariya, Yahya bin Syaraf,  Riyadush Shalihin,  CV. Thoha Putra, Semarang, 1981, p. 368-373  (2) As Shiddiqy, Muhammad bin ‘Allan, Dalilul Falihin, darul Kutub Al Ilmiyah, Bairut Libanon, tt.  juz IV: 273.

MENEMBUS TANDUS

April 6th, 2018 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

MENEMBUS TANDUS
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

 

وَهُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجۡنَا بِهِۦ نَبَاتَ كُلِّ شَيۡءٖ فَأَخۡرَجۡنَا مِنۡهُ خَضِرٗا نُّخۡرِجُ مِنۡهُ حَبّٗا مُّتَرَاكِبٗا وَمِنَ ٱلنَّخۡلِ مِن طَلۡعِهَا قِنۡوَانٞ دَانِيَةٞ وَجَنَّٰتٖ مِّنۡ أَعۡنَابٖ وَٱلزَّيۡتُونَ وَٱلرُّمَّانَ مُشۡتَبِهٗا وَغَيۡرَ مُتَشَٰبِهٍۗ ٱنظُرُوٓاْ إِلَىٰ ثَمَرِهِۦٓ إِذَآ أَثۡمَرَ وَيَنۡعِهِۦٓۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكُمۡ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ٩٩

Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu banyak butir, dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sungguh yang demikian itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman(QS. Al An’am [06]: 99)

sumber gambar: http://www.solopos.com/2014/10/31

Ayat-ayat sebelumnya (QS. Al An’am 95-98) berbicara tentang alam semesta mulai biji-bijian sampai matahari, bulan dan bintang yang semuanya diciptakan dan diatur oleh Allah untuk kelangsungan hidup manusia. Ayat yang dikutip di atas (QS. Al An’am 99) merupakan penjelasan lebih lanjut tentang jenis tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang disuburkan oleh air hujan, antara lain kurma, anggur, zaitun dan delima. Ayat ini bisa juga ditafsirkan secara kiasan (isyari), bahwa cahaya Allah dari langit sejatinya bisa menyuburkan hati yang membuahkan tutur kata, sikap dan tindakan yang membahagiakan orang.

Tulisan ini merupakan respon terhadap kegelisahan ilmuwan dari beberapa kampus, termasuk Rektor UIN Sunan Ampel tentang kecerdasan emosional dan spiritual yang tidak simetris dengan kecerdasan intelektual. “Akhir-akhir ini, saya sulit menangis pada zikir malam, dan mudah marah dalam pergaulan,” katanya dalam pengukuhan tiga guru besar (28/12/2017).

Sehari sesudah itu, saya kedatangan guru mengaji dari sebuah desa pedalaman. Ia bercerita, ia tidak bisa shalat di masjid karena selalu mengganggu ketenangan shalat orang. “Setiap saya bershalawat kepada Nabi pada posisi tasyahud, hati saya bergetar, lalu lemas dan nyaris tubuh saya tersandar pada pundak jamaah di sebelah saya,“ kata ibu guru itu. Pada saat yang sama, pria tunantetra dari Gresik bercerita tentang kenikmatan shalatnya selama dua jam untuk dua rakaat karena hanyut dalam syukur dan tawakal.

Dari tiga peristiwa yang dikisahkan rektor dan dua orang pedesaan di atas, amatlah jelas betapa kontras antara kecerdasan spiritualitas ilmuwan kampus dibanding kecerdasan spiritualitas guru mengaji dan tunanetra. Inilah perbandingan tanah subur dan tandus yang digambarkan Nabi SAW:

مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنَ الهُدَى وَالعِلْمِ، كَمَثَلِ الغَيْثِ الكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ، قَبِلَتِ المَاءَ، فَأَنْبَتَتِ الكَلَأَ وَالعُشْبَ الكَثِيرَ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ، أَمْسَكَتِ المَاءَ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ، فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا، وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى، إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَلَأً، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ، وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ

Perumpamaan agama dan ilmu yang diberikan Allah kepadaku seperti hujan lebat yang membasahi tanah. Ada tanah gembur yang menyerap air, lalu menumbuhkan tanaman dan rumput yang lebat. Ada juga tanah yang tandus dan tidak menyerap air sedikitpun, tapi atas kemurahan Allah, ia bisa memberi manfaat kepada orang lain untuk diminum dan mengairi ladang pertanian. Ada pula tanah tandus yang sama sekali tidak menyerap air hujan, sehingga tidak menumbuhkan satupun tumbuh-tumbuhan. Itulah perumpamaan orang yang memahami agama Allah dan memberi manfaat pada orang lain. Ia memahami ilmu itu, lalu mengajarkannya kepada orang lain sebagaimana perintah Allah yang telah aku lakukan. Itu juga perumpamaan orang yang enggan menerima petunjuk Allah yang saya ajarkan” (HR. Bukhari dari Abu Musa al-Asy’ari r.a).

Berdasar hadis di atas, ada tiga jenis manusia dalam menerima agama dan ilmu. Pertama, orang yang berhati lembut dan berakal cerdas untuk menyerap ilmu dan agama, menghayati, mengamalkan, dan kemudian mengajarkannya kepada orang lain. Ia bagaikan tanah gembur yang menyerap air hujan dan menumbuhkan berbagai tanaman dan buah-buahan yang dibutuhkan manusia. Kedua, orang yang berakal cerdas, tapi berhati batu. Ia sangat cepat memahami ilmu dan agama, serta terampil mengajarkannya kepada orang, tapi ia sama sekali tidak menghayati, apalagi mengamalkannya. Inilah orang yang digambarkan Nabi SAW seperti tanah tandus yang tidak tertembus air hujan, tapi ia mengalirkannya untuk kebutuhan minum dan mengairi pertanian.

            Ketiga, orang dungu dan enggan menerima ilmu dan agama, termasuk melalui nasihat orang, sehingga tidak memiliki bekal keilmuan untuk diajarkan kepada orang lain. Ia batu dan tidak mungkin bisa menyuburkan tanah, bahkan bisa jadi membuat luka kaki orang. Orang jenis ketiga ini bagaikan tanah tandus yang tidak bisa menyerap air hujan sederas apapun, sehingga gersang tanpa satupun tanaman.

Ibnu Batthal, As Sufairi, dan At Thibby dalam kitab masing-masing mendorong kita untuk menjadi kelompok pertama, sebab mereka bercahaya dan memberi cahaya. Merekalah yang dipuji Nabi SAW, berakhlak mulia dan kontributif untuk kehidupan manusia.” Kelompok kedua juga mendapat apresiasi karena memiliki kemauan untuk menambah ilmu dan memiliki kepedulian kepada lingkungan, namun sayang, mereka  cacat karena hanya memberi cahaya semu, sebab sejatinya obornya telah redup, bahkan telah membakar dirinya, seperti sebatang lilin. Ia diibaratkan Imam Al Ghozali seperti jarum yang menjahit pakaian raja, tapi ia sendiri telanjang selamanya.

Bagi yang merasa berhati tandus, sebaiknya berguru kepada petani yang menyewa sapi dengan alat tradisional, atau traktor bajak tanah untuk mengeruk dan membalik tanah kering agar bisa gembur dan siap untuk ditanami. Tidak cukup hanya dengan cangkul dan skop. Untuk menyuburkan hati Anda yang tandus dan membatu tidaklah cukup dengan zikir-zikir konvensional yang telah rutin Anda jalankan. Diperlukan tindakan yang ekstra seperti petani yang mendatangkan traktor untuk menggemburkan sawahnya. Tidak cukup hanya dengan nasihat ulama, apalagi hanya nasihat orang di sekitarnya. Jika Anda tidak bersungguh-sungguh menyuburkan hati, bisa saja Allah mengambil tindakan drastis dengan mencabut kesempurnaan fisik, ketercukupan ekonomi dan daya intelektual Anda, na’udzu billah, karena hanya dengan cara itulah hati Anda bisa gembur dan siap menerima cahaya Allah.

Lihatlah mereka yang sedang bersiap menuai padi. Perhatikan padi yang semakin menunduk ke bumi karena isinya. Mengapa bobot intelektual Anda tidak bisa menundukkan emosi dan spritualitas Anda? Sudah sejauhmana kontribusi Anda untuk umat manusia dengan keilmuan dan serba-kecukupan Anda? Jika tidak bisa menjadi pohon yang berbuah, jadilah pohon rindang yang meneduhkan, atau menjadi rumput yang menyegarkan pendangan. jika Anda berspiritualitas emas dan tiada henti memberi manfaat untuk kesejahteraan dan kedamaian manusia, maka keharuman Anda kekal di alam semesta dan di sisi Allah. Tapi, jika Anda buih, maka segara lenyap tertiup angin, lalu keberadaan Anda sama dengan ketiadaan Anda (wujuduk ka’adamik). “Adapun buih itu, ia akan hilang dan tak berharga sama sekali, sedangkan yang bermanfaat bagi manusia, maka ia tetap di bumi” (QS. Ar Ra’d [13]: 17).

Surabaya, 2-1-2018

Referensi: (1) Ibnu Batthal, Syarah Shahih Bukhari (Riyad: Al-Rusd, 2003), Vol. 1, p.164 (2) Muhammad bin ‘Amr bin Ahmad As-Sufairi, Al-Majalis al-Wa’idhiyyah fi Syarhi Ahadits Khairil Bariyyah (Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 2004), vol. 2, p. 139 (3) Husain bin Abdillah At-Thiby, Syarhu At-Thiby ‘Alaa Misykatil Mashabih (Riyad: Nizar Musthafa al-Baz, 1997), vol. 2, p. 616. (4) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 7, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 295-297 (5) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol 3,  Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 573-575, (6) Al Bukhari, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il, Shahih Al Bukhari, Toha Putra, Semarang, t.t. (7) Musthofa Muhammad ‘Umaarah, Jawahirul Bukhori wa Syarhil Qostholaani, Darul Kubutbil Ilmiyah, Beirut, Libanon, Cet. II, 2010, p. 43.