Header

PUASA PENGASAH JIWA

July 3rd, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

PUASA PENGASAH JIWA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah [2]:183)

Saya sadar bahwa ayat tentang puasa di atas sudah amat sering Anda baca, sehingga seperti telah kehilangan aktualitas. Tapi, tiba-tiba saja saya tertarik untuk mengulas ayat itu kembali setelah merenungi puasa kita selama ini yang menurut saya amat jauh dari berkualitas, lebih-lebih setelah saya membaca salah satu literatur tentang puasa yang benar-benar menampar wajah saya.

Jika Anda hayati secara mendalam, firman Allah di atas menunut kita untuk menjadi orang cerdas. Untuk berpuasa, Anda tidak harus menunggu diperintah Allah, sebab Anda pasti sudah faham bahwa pencernaan Anda telah melakukan pekerjaan yang amat berat selama sebelas bulan untuk mencerna makanan siang dan malam. Makanan yang Anda masukkan ke dalam perut juga hampir tanpa seleksi, sebab hanya berdasar selera yang memuaskan tengggorokan, bahkan tanpa dikunyah secara lembut, sehingga memberatkan kerja pencernaan. Oleh sebab itu, kecerdasan Anda sudah cukup menjadi sumber perintah puasa Anda, agar perut bisa istirahat sebulan di siang hari.

Berapa lama kita menjadi muslim dengan ritual shalat setiap hari dan puasa sebulan setahun sekali. Tapi, cobalah Anda mendaki gunung, lalu genggamlah beberapa batu yang Anda jumpai. Tanyakan kepada hati nurani, manakah yang lebih keras: batu di tangan Anda atau hati Anda? Jangan jawab dulu, sebelum membaca firman Allah SWT berikut, “Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini di atas sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (QS. Al Hasyr [59:21). Ternyata, selama ini hati kita tidak bergetar, jiwa kita tidak tercambuk dengan firman Allah yang setiap hari kita baca dan kita dengar. Oleh sebab itu, sekali lagi, perintah puasa sebenarnya layak timbul dari diri Anda sendiri untuk melatih jiwa mengekang hawa nafsu dan mengasah kepekaan jiwa Anda.

Jika Anda membaca sejarah orang-orang shaleh terdahulu, Anda pasti faham, bahwa mereka bisa meraih kemuliaan, ketajaman spiritual dan keluhuran peradaban disebabkan mereka telah membiasakan puasa dan semangat berkarya yang luar biasa. Karya besar yang terbaik selalu dihasilkan dari otak yang cerdas dan hati yang bersih.

Berdasarkan hal-hal di atas, maka Anda bisa memahami mengapa perintah puasa dalam firman Allah yang dikutip di atas berbetuk kalimat pasif, tanpa menyebutkan siapa yang mewajibkan puasa, “..diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Puasa yang dilakukan semua generasi manusia bersumber dari pemikiran mereka sendiri disamping dari perintah Tuhan.

Ujung ayat di atas menunjukkan untuk apa Anda berlapar-lapar puasa. Tidak lain agar kita menjadi pribadi yang bertakwa. Pribadi yang bertakwa tercermin dalam kehidupannya yang tiada pernah putus hubungannya dengan Allah, kerendahan hati, kepekaan sosial, kejujuran, dan optimismenya dalam menjalani kehidupan di tengah masyarakat.

Untuk membentuk pribadi unggul dan berkualitas, Anda sebaiknya tidak hanya berpuasa berdasar aturan-aturan standar belaka, tapi harus juga diperhatikan beberapa etika puasa. Pertama, sertakan semua indera Anda untuk berpuasa, sebab kemuliaan Anda sangat ditentukan ketakwaan indera tersebut. Puasa perut, tanpa puasa indera adalah puasa nihil makna. Puasa harus dilakukan bersamaan antara puasa perut, puasa di atas perut yaitu hati dan kepala dan puasa di bawah perut yaitu nafsu seksual. Kedua, bebaskan perut Anda dari makanan dan minuman untuk berbuka dan sahur yang tidak jelas halalnya (syubhat), apalagi yang haram. Jangan sekali-kali berbuka puasa dengan makanan yang syubhat. Juga, pilihlah tempat berbuka yang bernuansa ilahiyah. Maka berbuka dengan keriangan di tengah keluarga, di mushalla, masjid atau bersama dengan orang-orang miskin jauh lebih merangsang kemuliaan daripada di warung, pasar atau hotel-hotel.

Ketiga, puasakan semua anggota badan Anda dari tindakan yang tidak bernilai atau tidak menambah poin kebajikan akhirat, walaupun tindakan itu diperbolehkan. Ingatlah pesan nabi SAW, “Termasuk tanda ketinggian iman seseorang adalah keberhasilannya menjauhi hal-hal yang tidak bernilai baginya.” Perintah Nabi SAW tersebut harus diperhatikan, lebih-lebih pada bulan suci. Anda harus selektif: benar-benar cerdas memilih yang sangat bernilai ketika Anda di depan televisi, internet, telpon seluler dan sebagainya. Keempat, hindari tidur berkepanjangan di siang hari sehingga produktifitas kerja Anda menurun dan mengumbar nafsu makan di malam hari sehingga Anda bermalasan ibadah. Anda dipastikan gagal memberikan pelatihan jiwa jika etika ini dilanggar. Kelima, makanlah dengan porsi dan menu seperti hari-hari biasa di luar ramadlan. Jauhi ramadlan konsumtif apalagi berlebih dan mengundang kemubadziran. Semua makanan yang melebihi kebutuhan tubuh menjadi investasi penyakit masa depan. Dengan memperhatikan etika keempat dan kelima, Anda diharapkan berhasil “menerawang” (mukasyafah) akhirat lebih jelas, bisa menikmati kemesraan dengan Allah dan meraih cahaya ramadlan yang sesungguhnya. Orang-orang shaleh terdahulu selalu menambah ibadah ramadlan sekalipun sudah maksimal ibadahnya di luar ramadlan. Mereka juga bersungguh-sungguh mengurangi syahwat makanan di malam hari.

Keenam, jadikan ramadlan bulan sedekah berupa pemberian makanan berbuka untuk mereka yang berpuasa, memberi makanan untuk penguat puasa mereka berikutnya, dan membebaskan penderitaan fakir miskin. Senyum orang-orang miskin adalah senyum Allah untuk Anda. Kesegaran kerongkongan mereka adalah kesegaran kerongkongan Anda di surga kelak. Pahala puasa mereka yang berbuka dan makan sahur atas uluran tangan Anda adalah pahala puasa Anda yang berlipat-lipat.

Ketujuh, lakukan shalat taraweh dengan tenang (tumakninah), tidak tergesa-gesa dalam semua gerakannya serta memperhatikan aturan dan keindahan bacaan Al Fatihah dan surat-surat lainnya. Para sahabat Nabi dan orang-orang shaleh terdahulu melakukan shalat dengan beberapa kali menuntaskan bacaan 30 juz Al Qur’an dan beristirahat (taraweh) sejenak di sela-sela pelaksanaan sahalat malam. Jika tidak bisa meniru demikian, maka jangan terlalu jauh dari kebiasaan mereka, apalagi menjadi orang “bodoh” (istilah Habib Abdullah bin Haddad) yang dikendalikan setan selama tarawehnya. Berhati-hatilah dengan perangkap setan selama ibadah malam. Kedelapan, bersiaplah setiap malam, lebih-lebih pada sepuluh malam terakhir untuk menyambut malam seribu bulan: lailatul qadar. Cahaya malam istimewa itu hanya bisa dirasakan oleh mereka yang menyiapkan hati untuk menyongsongnya. Kaca yang tertutup debu tidak akan tertembus sekuat apapun cahaya.

Kesembilan, lakukan apa saja yang menguatkan silaturrahim dan persatuan umat. Hindari hal-hal yang mengundang konflik dan perpecahan. Tunjukkan selama puasa bahwa Allah SWT ada di mulut, mata, telinga, tangan dan semua anggota tubuh Anda sehingga yang terpancar dari diri Anda adalah ketulusan, kesejukan dan kasih sayang.

Barangkali, itulah sembilan etika yang kita abaikan selama sekian kali ramadlan, sehingga kita masih jauh dari predikat pribadi yang shaleh, sebagaimana tujuan utama puasa. Anggaplah ramadlan ini ramadlan terakhir dalam kehidupan Anda, dan jadikan ramadlan tahun ini tonggak perubahan besar hidup Anda: la’allakum tattaqun. (Sumber utama: Kitab Al Nasha-ih Al Diniyyah wa Al Washaya Al Imaniyyah karya Imam Habib Abdullah bin Haddad dan beberapa sumber lainnya).

SHALAT RAMADLAN, SHALAT KEBANGKITAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“ Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang rukuk” (QS. Al Baqarah [2]:43)

Ayat di atas dengan jelas menjelaskan tiga perintah sekaligus, yaitu shalat, zakat dan shalat bersama-sama (jamaah). Bulan Ramadlan bulan yang paling tepat untuk membentuk pribadi muslim yang terbaik dalam menjalankan semua perintah itu, karena ketiganya ada di dalam bulan ramadlan. Anda wajib menjalan shalat lima waktu, dan inilah ibadah yang utama dalam Islam. Oleh sebab itu, orang yang meninggalkan shalat bagaikan orang hidup tanpa kepala. Jika Anda shalat tapi tanpa penghayatan, maka Anda bagaikan orang bertubuh sempurna tapi tanpa nyawa.

Tulisan ini difokuskan pada kajian shalat terutama pada bulan ramadlan. Di seluruh dunia, kita menyaksikan umat Islam berduyun-duyun ke masjid untuk menjalanksan shalat taraweh berjamaah di masjid, baik 8, 20 atau 36 rakaat. Shalat taraweh sebanyak 20 rakaat dilakukan sejak zaman pemerintahan Umar bin Khatttab ra. Kitab Dalilul Falihin menyebutkan, hitungan tersebut dipilih sebagai kelipatan dari 10 rakaat shalat sunah muakad (sangat dianjurkan) yang dilakukan sebelum atau sesudah shalat wajib setiap hari, yaitu 2 rakaat sebelum shalat subuh, 2 rakaat sebelum shalat dhuhur dan 2 rakaat sesudahnya, 2 rakaat setelah shalat maghrib dan 2 rakaat setelah shalat isyak. Atau mungkin menyesuaikan dengan jumlah shalat sunah muakad tersebut di atas ditambah 10 rakaat sunah ghairu muakad (tidak seberapa dianjurkan), yaitu 2 rakaat sebelum dhuhur dan 2 rakaat sesudahnya, 4 rakaat sebelum ashar dan 2 rakaat sebelum maghrib.

Wuh, luar biasa banyak. Jika Anda membiasakan semua sunah di atas, maka Anda telah melaksanakan 37 rakaat setiap hari, yaitu 17 rakaat shalat wajib ditambah 20 rakaat shalat sunah. Dalam bulan ramadlan, Anda bertambah mulia lagi karena masih menjalankan lagi 20 rakaat shalat taraweh. Belum lagi ditambah shalat witir dan shalat-shalat sunah lainnya. Dengan demikian, Anda telah melakukan shalat lebih dari 50 rakaat, jumlah rakaat shalat yang diperintahkan pertama kali ketika Nabi SAW melakuakn israk mikraj.

Untuk mencapai kualitas shalat sebanyak di atas, ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan. Pertama, lakukan wudlu yang sempurna dengan penuh syukur dan permohonan ampunan atas semua anggota badan yang dibasuh atau diusap. Hindari wudlu dengan waswas (serba ragu keabsahan), sebab waswas adalah cermin atas kedangkalan ilmu dan kelemahan otak pelakunya. Upayakan jarak antara setiap waktu shalat itu tetap dalam keadaan suci. Allah SWT pernah memberitahu Nabi Musa as, “Jika kamu mendapat musibah, maka besar kemungkinan kamu tidak dalam keadaan suci. Maka salahkan dirimu sendiri.”

Kedua, kerjakan shalat awal waktu untuk menunjukkan kesungguhan Anda dalam mencari kebaikan. Shalat awal waktu mendatangkan ridla atau kesenangan Allah, shalat di tengah waktu mendatangkan kasih Allah dan shalat di akhir waktu merupakan ampunan-Nya. Artinya, Allah tidak menyukai Anda melakukan shalat di akhir waktu, tapi Allah masih memaafkannya.

Ketiga, laksanakan shalat berjamaah di masjid dan carilah barisan terdepan. Tunjukkan kepada Allah bahwa Anda siap berkompetisi untuk kebaikan (fastabiqul khairat). Tunjukkan pula bahwa Anda ingin serba terdepan dalam kebaikan, terdepan dalam kualitas diri Anda sebagai SDM di tempat kerja, terdepan sebagai suami teladan, sebagai ayah dan sebagainya, bahkan terdepan dalam memasuki surga. Anda juga akan memperoleh lebih banyak doa para malaikat daripada mereka yang ada pada barisan-barisan di belakang Anda. Jangan sekali-kali berlari ke neraka dengan melangkahi pundak orang karena ingin berada di barisan depan. Mengenai shalat berjamaah, Imam Haddad mengatakan, “Belum pernah saya jumpai satu hadispun bahwa Nabi SAW pernah shalat wajib sendirian.” Abdullah bin Mas’ud r.a berkata, “Salah satu tanda orang munafik adalah shalat wajib yang dilakukan sendirian. Pada masa Nabi SAW, banyak orang tua atau sakit yang digotong ke masjid.” Semarak taraweh di masjid adalah pendidikan terpenting untuk penanaman rasa cinta masjid. Percayalah, banyak solusi persoalan hidup dan berbagai kesuksesan Anda lebih banyak berkat doa orang-orang yang shalat berjamaah bersama Anda di masjid daripada doa Anda sendiri. Percayalah, jika selama hidup, Anda aktif shalat berjamaah di masjid, insya-Allah kelak Anda juga akan dishalati di masjid oleh banyak orang sebelum dibawa ke pemakaman.

Keempat, bangun pada akhir malam untuk makan sahur juga pendidikan yang amat berharga untuk membiasakan shalat tahajud. Itulah waktu terbaik untuk pendekatan diri kepada Allah. Silakan meminta apa saja kepada-Nya, apalagi disampaikan pada posisi terdekat Anda dengan Allah yaitu ketika bersujud. Itulah saat bersatunya waktu dan posisi kedekatan manusia dengan Allah. Tidak hanya doa yang disampaikan, tapi penyerahan secara total semua persoalan Anda kepada-Nya.

Dengarkan komentar orang-orang shaleh terdahulu mengenai shalat malam. Antara lain, “Selama 40 tahun saya beribadah, tidak ada yang lebih menyedihkan saya melebihi datangnya waktu fajar.” “Jika tidak ada shalat malam, untuk apa ada kelanjutan hidup saya.” Bangkitkan semangat Anda untuk membiasakan shalat malam, sekalipun hanya beberapa menit sebelum suhuh. Nabi SAW bersabda, “Lakukan shalat malam sekalipun hanya satu rakaat.” Artinya baru satu rakaat shalat malam, waktu shubuh sudah tiba. Shalat malam merupakan sarana utama menuju kemuliaan sebagaima dilakukan oleh orang-orang shaleh terdahulu. Jangan bermimpi meraih kemuliaan tanpa sujud di akhir malam. Shalat malam beberapa menit sebelum subuh dan dikerjakan secara terus menerus jauh lebih baik daripada shalat malam yang lama tapi dikerjakan sekali atau dua dalam sebulan. Memang berat untuk memulai, tapi ringan setelah menjadi kebiasaan. Bismillah.

Kelima, lakukan shalat dengan khusyuk dan tumakninah (tenang) baik secara fisik, tenang bacaan dan tenang hati. Larangan bangkit dari rukuk sebelum tumakninah, harus diartikan lebih mendalam sebagai sebuah pesan penting, “Jangan bangkit dari rukuk sebelum Anda memperoleh ketenangan batin.” Shalat dalam keadaan puasa menjamin shalat Anda bebas dari pikiran makanan dan bebas dari rasa mengantuk. Ketika makanan memenuhi perut Anda, energi Anda terkuras untuk mencerna. Sedangkan ketika pencernaan tidak bekerja, maka energi Anda berfungsi untuk menghidupkan otak dan hati.

Perintah shalat yang diikuti perintah membayar zakat menunjukkan shalat yang baik adalah shalat yang melahirkan kesadaran sosial. Shalat ramadlan telah berfungsi demikian, sehingga umat Islam membayar zakat dan berlomba-lomba untuk bersedekah selama bulan suci. Secara tidak langsung, Anda dididik untuk lebih suka memberi daripada diberi. Muslim terbaik adalah muslim yang memerdekakan dirinya dari mental meminta dan menggantungkan orang lain. Malaikat Jibril pernah turun ke bumi untuk menyampaikan berita itu kepada Nabi SAW. (wa’izzahu istighna-uhu ‘aninnas). Jauhilah sikap mengeluh atas apapun yang Anda terima, sebab keluhan menunjukkan kualitas shalat Anda. Allah SWT berfirman, “Sungguh, manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya.” (QS Al Ma’arij [70]:19-23).

Shalat ramadlan diharapkan membangkitkan Anda untuk lebih banyak menjalankan shalat sunah, lebih menyintai masjid, lebih aktif berjamaah di masjid, lebih sering shalat malam, lebih peka terhadap lingkungan sosial, lebih mandiri serta bahagia karena berhasil menghapus mental ketergantungan kepada orang lain dan lebih ikhlas, ridla dan tidak mengeluh terhadap takdir Allah. Selamat menjalani proses kebangkitan melalui shalat ramadlan menuju hidup yang lebih bahagia. (Sumber utama: Kitab Al Nasha-ih Al Diniyyah wa Al Washaya Al Imaniyyah karya Imam Habib Abdullah bin Haddad, Kitab Dalilul Falihin karya Moh bin Allan As Shiddiqi dan beberapa sumber lainnya).

TANGISAN KEKASIH

June 26th, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

TANGISAN KEKASIH
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

pray“Ingatlah, sungguh, kekasih-kekasih Allah itu tidak ada kekhawatiran (sedikitpun) pada diri mereka dan tidak (pula) bersedih hati. (Mereka adalah) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka kegembiraan dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kesuksesan yang besar.” (QS. Yunus [10]:62-64)

Jika Anda pernah tinggal di desa, Anda pasti pernah menyaksikan induk ayam yang marah lalu mengejar untuk mematuk orang yang mencoba mengganggu anak-anaknya. Jika Anda seorang ibu, pasti Anda siap 24 jam untuk melindungi sang bayi dari segala macam gangguan. Mendengar sedikit tangisan bayi, Anda cepat-cepat menggendongnya dan melakukan apa saja agar tangisannya segera terhenti. Dua pengalaman itu cukup sebagai modal untuk memahami dua ayat di atas.

Melalui ayat di atas, Allah SWT meyakinkan Anda, “Percayalah, Aku jamin, siapapun yang Aku kasihi, akan Aku berikan kepadanya apa saja yang diminta, Aku usap setiap tetesan air matanya, dan Aku lindungi dari segala hal yang menyusahkannya.” Dengan demikian, mereka pasti merasakan bahagia (busyra) di dunia dan akhiratnya. Para kekasih Allah itu tidak sedikitpun memiliki rasa takut dan khawatir menghadapi kehidupan dunia. Mereka selalu tersenyum dan berfikir positif dalam segala hal. Kemiskinan yang dijauhi orang, justru diterima dengan senang hati, sebab kemiskinan itulah yang mengantarkan mereka menjadi pribadi rendah hati (tawadlu’). Penyakit yang dibenci banyak orang, justru dipandang sebagai sarana pendekatan diri kapada Allah dan bonus ampunan dari-Nya. Perjumpaan dengan orang-orang yang menjengkelkan pun dijalani dengan senyum, sebab mereka dipandang pengasah kesabaran. “Pisau hanya tajam jika diasah dengan batu yang kasar.” Artinya, Anda hanya bisa meraih ketajaman ruhani dan kesabaran tingkat tinggi jika telah bertemu ratusan kali dengan orang-orang yang menjengkelkan dan mengecewakan Anda. Kematian yang paling ditakui manusia juga dipandang peristiwa menyenangkan, sebab itulah pintu utama untuk bertemu dengan kekasih (liqa-illah) yang dirindukan bertahun-tahun sepanjang hidupnya. Kebahagiaan dunia dan akhirat itulah yang disebut Allah dalam ayat di atas, “Yang demikian itu adalah kesuksesan yang besar.”

Dalam Kitab Dalil Al Falihin, ayat di atas dikuatkan dengan beberapa kisah pada zaman Nabi SAW yang menunjukkan betapa para kekasih Allah itu dekat dengan Allah, sehingga semua doanya dikabulkan oleh-Nya. Doa itu semakin cepat terkabul, ketika ada orang yang memperlakukan mereka dengan cara yang tidak menyenangkan.

Sa’ad bin Abi Waqqash adalah satu dari sepuluh sahabat yang mendapat jaminan masuk surga. Ketika menjabat sebagai gubernur Kufah, ia dilaporkan oleh penduduknya bahwa ia tidak memberi contoh shalat yang baik kepada penduduknya. Umar bin Khattab yang menerima laporan itu langsung memberhentikan Sa’ad dan mengangkat ‘Ammaar bin Yaasir sebagai penggantinya. Sa’ad lalu memberikan klarifikasi kepada kepala negara, “Saya shalat bersama mereka seperti yang dilakukan Nabi SAW. Saya tidak mengurangi sedikitpun. Memang, saya shalat isyak dengan dua rakaat pertama yang panjang, dan dua rakaat terakhir yang singkat.” Umar lalu memerintah Muhammad bin Muslim untuk melakukan penelitian di lapangan. Beberapa masjid dimasuki oleh peneliti dan ternyata semua muslim yang ditanya memuji kepimpinan Sa’ad. Akan tetapi, ketika peneliti itu memasuki Masjid Bani ‘Abs, ada seorang yang bernama Usamah bin Qatadah yang biasa dipanggil Abu Sa’ad mengritik Sa’ad bin Abi Waqqash, “Ia pemimpin yang tidak pernah ikut berperang, tidak membagi hasil rampasan dengan rata, dan tidak adil dalam membuat keputusan.” Sa’ad lalu bersumpah, “Demi Allah, saya akan berdoa dengan tiga hal, “Wahai Allah, jika Usamah berdusta dan mengatakan demikian hanya untuk mencari muka dan popularitas (riya’ wa sum’ah), maka panjangkan usianya, panjangkan kemiskinannya dan berikan ia cobaan berat (al fitan), sampai suatu saat nanti dia sadar bahwa yang dialami itu karena doa Sa’ad bin Abi Waqqash. Abdul Malik bin ‘Umair, salah satu sumber hadits ini menyaksikan sendiri, Usamah benar-benar panjang usianya, hampir kedua matanya tertutup kelopak matanya, dan selalu duduk di tepi jalan menunggu pemberian beberapa perempuan yang lewat (HR. Muttafaq ‘Alaih dari Jabir bin Samurah r.a). Abdul Malik bisa bersaksi demikian, sebab ia berusia 103 tahun dan wafat pada tahun 136 H.

Ada satu lagi kisah serupa yang dialami Sa’id bin Zaid. Ia juga termasuk sepuluh sahabat yang mendapat jaminan surga oleh Rasulullah SAW. Ia dilaporkan oleh seorang wanita, Arwaa binti Aus kepada Marwan bin Al Hakam, gubernur Madinah atas tuduhan merampas sebagian tanahnya. Sa’id membantah tuduhan itu dengan mengatakan, “Apakah mungkin saya melakukan hal itu, setelah saya mendengar sabda Nabi SAW?” “Sabda yang mana,” tanya Marwan. “Siapa yang mengambil tanah sejengkal secara tidak benar, maka kelak tujuh lapis tanah bumi itu akan dikalungkan di lehernya,” kata Sa’id mengutip sabda Nabi SAW. Marwan berkata, “Cukup, saya tidak perlu meminta bukti setelah penjelasanmu itu.” Sa’id lalu berdoa, “Allahumma in kaanat kaadzibatan fa-a’mi basharahaa waqtulhaa fii ardlihaa (Wahai Allah, jika Arwa dusta, maka butakan matanya dan matikan dia di atas tanahnya). Wanita itu benar-benar buta dan mati terperosok ke dalam sumur ketika ia berjalan-jalan di atas tanahnya. Sumur itu sekaligus menjadi kuburannya (HR Muttafaq ‘alaih dari ‘Urwah bin Zubair r.a)

Dua hadis di atas, disamping menunjukkan kedekatan para kekasih Allah dengan Allah SWT, juga menunjukkan terkabulnya doa orang yang terdhalimi. Semua penghalang antara orang yang terdhalimi dengan Allah, termasuk awan yang menggantung di langit dibersihkan oleh Allah agar doa mereka tersambung dengan-Nya. Allah SWT murka jika manusia ciptaan-Nya disakiti orang, sebab ia diciptakan oleh-Nya dengan penuh keseriusan dan kasih sayang, bukan untuk disakiti. Apalagi yang disakiti itu para kekasih-Nya. Anda pasti beruntung jika dekat dengan para kekasih Allah. Jika Anda dekat penjual parfum, Anda beruntung mencium aromanya, sekalipun tidak bisa memilikinya. Anda amat membutuhkan doa para kekasih Allah, sekalipun Anda merasa paling kaya dengan hafalan doa dan paling rajin shalat malam.

Ayat di atas menyebut “kekasih-kekasih Allah” (dalam bentuk jamak) untuk menunjukkan bahwa kekasih Allah amat banyak. Mereka tidak harus dari kalangan nabi, rasul atau ulama. Tidak pula harus alumni pondok pesantren. Tidak juga harus berpenampilan ala ustadz. Siapapun, termasuk Anda diberi kesempatan untuk meraih predikat sebagai kekasih Allah, asalkan memenuhi dua syarat utama, yaitu beriman dan bertakwa: beriman secara benar, beribadah secara ikhlas dan bergaul dengan semua manusia dengan akhlak mulia. “(Mereka adalah) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” Manusia berpredikat kekasih Allah pasti hidupnya penuh kemudahan, sebab semua orang berebut untuk bekerjasama. Setelah kematian, ia juga menjadi rebutan para malaikat untuk mengantar ruhnya yang harum ke langit tertinggi. Penulis yakin, Anda telah berada di jalur yang benar menuju perdikat itu. Selamat.