Header

KELUARGA BERARAH DENGAN SHALAT TENGAH
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sujud“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat tengah. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk.” (QS. Al Baqarah [02]:238)

Pujangga Perancis, Voltaire ketika membaca Al Qur’an pertama kali mengatakan, urutan ayat-ayat Al Qur’an sangat kacau. Tetapi, setelah dipelajari secara tenang dan mendalam, ia baru menemukan pesona sistematika ayat-ayatnya. Anda bisa memahami kegalauan Voltaire tersebut jika memahami ayat di atas dalam kaitannya dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya.

Ayat-ayat sebelumnya (ayat 221-237) berbicara tentang pernikahan, talak, maskawin, menyusui anak, masa tunggu (‘iddah) bagi wanita yang ditinggal mati suaminya, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kehidupan keluarga. Dan terbanyak berbicara tentang perceraian. Tiba-tiba saja ayat ini berbicara tentang shalat, lalu ayat berikutnya (ayat 239-241) berbicara lagi tentang perceraian dan kematian.

Ahli tafsir, Sayyid Quthub dalam tafsirnya cetakan pertama mengatakan, ia belum menemukan hubungan logis antara ayat-ayat di atas. Ia lalu memohon sumbangan pikiran dari para pembaca. Tapi, pada tafsir cetakan kedua, beliau sudah menemukan jawabannya, bahwa pernikahan, hubungan seksual suami istri, urusan keturunan, perceraian, iddah, rujuk kembali setelah perceraian, kewajiban nafkah, pemberian hadiah (mut’ah) untuk istri yang ditalak, menyusui anak dan menyapihnya, semuanya merupakah ibadah yang terkait dengan sesama manusia. Maka shalat sebagai ibadah tertinggi dijelaskan di tengah deretan ayat-ayat tersebut untuk menggambarkan satu kesatuan ibadah antara sesama manusia dan ibadah kepada Allah. Demikianlah Al Qur’an mengaitkan segala aktivitas manusia dengan Allah walaupun sepintas terlihat aktivitas tersebut tidak berkaitan dengan ibadah (Quraish Shihab, 2012 Vol. I: 625).

Kaitan ayat-ayat tersebut bisa juga dijelaskan bahwa kehidupan rumah tangga selalu disertai aneka problem yang menggangu ketenangan hati. Seringkali masalah-masalah itu membuat anggota keluarga kehilangan kesabaran dan terpancing berucap, bersikap dan bertindak yang tidak terpuji, bahkan kadang-kadang suami istri terbawa emosi melakukan pelanggaran agama secara serius. Misalnya memukul, mengungkit-ungkit pemberian dan menyampaikan daftar kesalahan masing-masing, lalu berujung pada kata-kata yang menjurus pada perceraian. Oleh sebab itu, semua anggota keluarga harus menguatkan daya redam dan penyejuk hatinya dengan shalat khusyuk agar masing-masing pihak bisa mengendalikan diri, sehingga kapal keluarga tidak tenggelam di tengah bahtera, meskipun gelombang dan badai menerpanya.

   Ayat ini berisi perintah melaksanakan shalat dengan gerakan dan bacaan yang sempurna (hafidhu) dan perintah menghadirkan hati ketika shalat (qanitin), terutama shalat tengah (wustha). Imam As Syaukani mengutip sebanyak 18 pendapat ulama yang berbeda-beda tentang makna shalat tengah. Tapi, menurut pendapat terbanyak shalat tengah adalah shalat Ashar, karena berada di antara semua urutan waktu shalat lainnya, mulai dari shubuh, dhuhur, maghrib dan Isyak.

Jika dikaitkan dengan kehidupan rumah tangga, maka shalat ashar amat menentukan keharmonisan atau kehancuran rumah tangga. Waktu ashar sampai maghrib adalah waktu dimana orang sudah sangat lelah setelah bekerja seharian. Apalagi suami istri sama-sama berkarir di luar rumah atau pekerja berat. Itulah saat-saat mereka sensitif emosinya sehingga mudah tersinggung dan marah. Mereka sama-sama meminta perhatian di saat mereka sama-sama dalam kelelahan fisik dan mental. Perhatikan firman Allah, ..“..dan (peliharalah) shalat tengah. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu´.”  Pada saat itulah mulut harus diberi cahaya ketuhanan dengan berwudlu dan bacaan-bacaan mulia selama shalat agar tidak mengeluarkan perkataan yang menyesakkan dada anggota keluarga. Pikiran dan hati harus dijernihkan dengan rukuk dan sujud panjang dan khusyuk agar dapat berfikir positif dan kuat untuk mengendalikan diri.

Sebagian ulama mengartikan shalat tengah dengan shalat subuh, sebab ia berada di antara shalat maghrib, isya’, dhuhur dan ashar. Shalat maghrib disebut shalat pertama sebab maghrib adalah awal hari dalam hitungan tahun Islam. Budaya Jawa juga menghitung malam sebagai awal hari. Jika shalat shubuh dipandang shalat tengah yang harus diperhatikan di tengah pembicaraan masalah-masalah rumah tangga, maka shubuh adalah waktu di mana fisik dan pikiran orang sangat fresh setelah istirahat semalam dan shalat berjamaah. Itulah saatnya masing-masing pihak dalam rumah tangga saling introspeksi, saling mengalah dan saling memaafkan, dan itulah kunci utama untuk menjaga keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga.

Jika shalat tengah adalah shalat ashar dan shubuh, sebagaimana pendapat Al ‘Allamah Ibnu Abi Jamrah dalam kitabnya Bahjah Al Nufus (Juz I: 203), maka hadis qudsi berikut ini semakin menyemangati kita untuk lebih memperhatikan kekhusyukan kedua shalat tersebut.

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَتَعَاقَبُوْنَ فِيْكُمْ مَلَائِكَةٌ بِالَّيْلِ وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُوْنَ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ وَصَلَاةِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِيْنَ بَاتُوْا اَوْكَانُوْا فِيْكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ وَهُوَاَعْلَمُ بِهِمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فَيَقُوْلُوْنَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ وَاَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ رواه البخارى

Rasulullah SAW bersabda, para malaikat penjaga malam dan penjaga siang silih berganti mengawasi kalian. Mereka berkumpul pada saat shalat subuh dan shalat ashar. Lalu para malaikat yang mengawasi kalian sepanjang malam naik ke langit. Allah bertanya kepada mereka, dan Allah sebenarnya lebih mengetahuinya, “Bagaimana kalian meninggalkan hamba-hamba-Ku? Mereka menjawab, “Kami meninggalkan mereka dalam keadaan sedang shalat dan kami mendatangi mereka juga dalam keadaan shalat.” (HR. Al Bukhari dari Abu Hurairah r.a)

Malaikat yang disebut dalam hadis di atas adalah malaikat yang secara khusus mengawasi shalat manusia selain Malaikat Raqib dan Atid yang bertugas mencatat perbuatan manusia secara keseluruhan. Mereka terbagi menjadi dua kelompok yaitu pengawas siang dan kelompok pengawas malam. Dua kelompok itu berkumpul setiap ashar dan shubuh, waktu pergantian jadwal pengawasan. Mereka menjadi saksi atas kesungguhan shalat setiap orang khususnya shalat ashar dan shubuh. Persiapan shalat, menunggu shalat berjamaah, dzikir dan bincang-bincang santai untuk menyegarkan suasana keluarga, saling memberi kritik usai shalat ashar dan shubuh termasuk dalam kategori shalat yang dilaporkan oleh malaikat itu.

Jika kedua shalat itu dijalankan dengan benar, maka semua malaikat akan menjadi saksi keimanan Anda. Jangan lupa, setelah persaksian itu, malaikat juga memintakan ampunan dan rahmat Allah untuk Anda. Wahai saudaraku yang sedang dirundung masalah dalam rumah tangga, mulai sekarang kendalikan pikiran, mulut dan tangan Anda dari hal-hal yang semakin menambah runyamnya masalah, khususnya pada senja menjelang maghrib. Lakukan shalat shubuh berjamaah dengan istri, suami dan anak-anak. Rukuk dan sujudlah yang lama untuk meminta ampunan dan petunjuk Allah, lalu saling berpeluklah sambil meminta maaf dan berjanji untuk memperbaiki diri. Apa yang Anda lakukan akan terekam dalam kamera para malaikat, lalu mereka mendoakan Anda. Cahaya shubuh adalah cahaya persaksian. Allah SWT berfirman, “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sungguh shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)” (QS. Al Isra’ [17]:78). Sambutlah terbitnya fajar dan matahari dengan terbitnya harapan baru rumah tangga Anda.

Sumber: Hamka, Tafsir Al Azhar Juz II: 247; M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah Volume 1: 625; Muhammad ‘Awwaamah, Minas Shihah Al Ahadits Al Qudsiyyah: Mi’ah Hadits Qudsi Ma’a Syarhiha (Seratus Syarah Hadis Qudsi), Noura Books, Jakarta Selatan 2013, p. 282-287.

BERAGAMA DENGAN CERIA

March 19th, 2015 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

BERAGAMA DENGAN CERIA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

smile muslim“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu, Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rasulullah itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah pelindung terbaik dan penolong terbaik (pula).” (QS. Al Haj [22]:78)

Tulisan ini ini hanya menjelaskan penggalan dari ayat yang tercetak tebal dalam terjemah ayat di atas, “..dan Dia (Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” Tentu Anda masih ingat tulisan saya sebelumnya, “Hidup Biasa dengan Ibadah Ekstra.” Sebaiknya Anda membacanya ulang sebab sangat terkait dengan tulisan ini. Uraian ini ditulis sebagai respon atas komentar negatif yang disampaikan oleh orang-orang yang memandang Islam sebagai ajaran yang terlalu banyak aturan sehingga menyempitkan gerak kehidupan. Mereka merasa kehilangan kenyamanan atau kebebasan hidup karena kungkungan nilai-nilai agama yang ketat. Allah SWT Maha Mendengar ucapan mereka dan menurunkan wahyu yang berbunyi:

طه ١ مَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لِتَشۡقَىٰٓ ٢ إِلَّا تَذۡكِرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰ ٣

“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah. Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).” (QS. Thaha [20]: 1-3)

Firman Allah ini diawali dengan Thaahaa, salah satu nama atau predikat Nabi SAW, yaitu singkatan dari thahir (orang yang bersih dari dosa) dan hadi (orang yang memberi pencerahan agama). Oleh sebagian ulama, thaaha dikaitkan dengan pribadi Nabi SAW karena kata itu terdiri dari huruf tha yang dalam hitungan Arab berarti angka 9 dan ha yang berarti 5 sehingga berjumlah 14. Tanggal 14 adalah awal dari puncak cahaya bulan purnama yaitu tanggal 15, dan Nabi SAW dipanggil dengan bulan purnama (al badar). Dengan demikian, firman Allah ini secara tidak langsung mengingatkan Nabi agar mengajarkan agama yang memudahkan orang dan menjauhkan mereka dari hidup yang susah karena Islam.

Surat Thaaha ini turun ketika banyak pengikut Nabi SAW disiksa oleh orang-orang kafir di Mekah. Mereka lalu mengejek Islam sebagai agama yang mendatangkan penderitaan pengikutnya. Maka ayat ini membantah tuduhan orang kafir Mekah tersebut,”Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah.” Sebagian ahli tafsir memberi penjelasan berbeda, bahwa ayat ini turun ketika ada seorang sahabat yang memaksakan diri untuk terus beribadah padahal ia sudah kelelahan, sebagaimana akan dijelaskan pada bagian akhir tulisan ini.

Allah SWT juga menegaskan keceriaan dalam beragama dalam ayat yang lain, yaitu:

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.“ (QS. Al Baqarah [02]:185)

Muhammad bin ‘Allan As Shiddiqy, penulis kitab Dalilul Falihin menulis satu bab yang berjudul Bab Al Iqtshad fit Tha’ah (Pembahasan tentang Beragama secara Moderat). Ia mengatakan, “Orang beragama bagaikan orang yang melakukan perjalanan yang sangat jauh dengan banyak bekal di punggungnya. Jika ia berjalan dengan cepat dan memaksakan diri agar lekas sampai tujuan, maka dipastikan ia kelelahan dan tidak akan sampai ke tujuan.”

Pada zaman Nabi SAW, ada peristiwa yang menarik. Seorang penduduk desa pedalaman menemui Nabi SAW. Beliau lupa siapa pria yang datang tersebut. Lalu lelaki itu berkata, “Saya orang yang masuk Islam setahun silam, dan sejak itu saya tidak pernah makan di siang hari.” Nabi SAW lalu berkata, “wa man amaraka an tu’adzdziba nafsaka? (Siapa yang menyuruhmu menyiksa diri sendiri?”

Nabi SAW juga pernah bersabda, “Sungguh, agama itu mudah (yusrun). Siapapun yang mempersulit (pelaksanaan) agama, ia akan kalah. Maka sedang-sedang sajalah kalian (saddidu), berdekat-dekatlah (wa qaribu), dan bergembiralah (wa absyiru), serta mintalah pertolongan Allah di waktu pagi, sore dan sedikit di malam hari” (HR Bukhari dari Abu Hurairah r.a)

Imam Al Karmany menjelaskan arti hadis di atas secara rinci. Menurutnya, kata yusrun dalam hadis di atas artinya Islam itu sangat mudah. Oleh sebab itu, siapapun yang mempersulit diri dalam menjalankan agama, ia akan gagal mencapai kesempurnaan sebagian atau keseluruhan ibadahnya. Perintah Nabi SAW, “saddidu (sedang-sedang sajalah)” artinya jalankan agama dengan sedang-sedang saja dengan prinsip kemudahan asalkan tidak melanggar aturan yang baku. Sedangkan kata wa qaribu (berdekat-dekatlah)” artinya, jika Anda tidak bisa menjalankan agama secara ideal, maka berupayalah mendekati yang ideal itu.

Imam Al Karmany lebih lanjut menjelaskan bahwa sabda Nabi SAW, “wa absyiru (bergembiralah)” artinya kerjakan agama dengan sukacita. Bergembiralah dengan pahala Allah atas ibadah yang Anda kerjakan dengan konsiten dan kontinyu sekalipun kecil. Mintalah pertolongan Allah agar tetap menjalankan ibadah dengan sukacita agar tidak merasa bosan. Orang yang tidak mengerjakan agama dengan riang hati, ia akan jemu dan merasa lelah, seperti musafir yang kelehan di jalan dan tidak sampai tujuan.

Anas bin Malik r.a bercerita, suatu ketika Nabi SAW memasuki masjid dan beliau melihat tali yang terbentang antara dua tiang. Beliau bertanya, “Ini tali apa?” Para sahabat menjawab, “Ini tali yang diikat oleh Zainab untuk pegangan shalat ketika ia sudah lelah. Maka Nabi SAW bersabda, “Li yushalli ahadukum nasyathahu, fa idza fatara fal yarqud (hendaklah seseorang shalat dalam keadaan segar. Jika lelah, maka hendaklah ia tidur dulu).”

Dalam Al Qur’an, Allah SWT menekankan beberapa kali prinsip kemudahan beragama tersebut, antara lain pada beberapa ayat yang disebut di atas. Renungkan kembali penggalan firman Allah di atas, yaitu:

“…dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al Haj [22]:78).

Islam diturunkan untuk membahagiakan Anda, bukan untuk menyusahkan Anda, maka raihlah kebahagiaan itu dengan pengamalan agama dengan sukacita. Jika ada ajaran yang menurut Anda menyusahkan, maka pastikan cara pandang Anda yang salah karena mungkin berdasar hawa nafsu, bukan dengan akal sehat. Atau karena pengetahuan Anda yang sempit atau karena penafsiran yang keliru. Kerjakan perintah Allah semampu Anda dan Allah SWT pasti Mahatahu kesulitan dan semangat Anda. Jika Anda beragama dengan dukacita, bagaimana mungkin Anda bermuka ceria dan menebar kasih kepada sesama, dan mungkinkah ada orang lain tertarik pada agama Anda?

Sumber: Muhammad bin Allan As Shiddiqy, Dalilul Falihin Juz I, p. 281; An Nawawi, Riyadlus Shalihin I: 145, Hamka, Tafsir Al Azhar Juz 16 p. 118; M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah vol. 7 p. 548

BERDIRI DI ATAS API

March 3rd, 2015 | Posted by admin_tsb in Artikel - (2 Comments)

BERDIRI DI ATAS API
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“Sungguh, Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin (pendatang di Madinah) dan orang-orang anshar (penduduk asli Madinah) yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit, setelah hati sebagian dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sungguh, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.” (QS. At Taubah [09]:117)

fireAyat di atas merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya tentang perang Tabuk, perang melawan tentara Romawi. Inilah perang dengan persiapan paling berat bagi Nabi SAW. Dalam ayat yang dikutip di atas, Allah SWT menyebut suasana perang itu dengan kata sa’atil ‘usrah (masa sulit). Itulah masa paceklik, musim buah mulai gugur karena pergantian musim panas ke musim gugur, udara panas luar biasa, minim perbekalan, sampai kurma harus dihemat-hemat selama perjalanan. Kendaraan perang juga terbatas: satu unta harus dikendarai dua sampai tiga orang untuk menempuh perjalanan yang sukar dan jauh dari Madinah.

Umar bin Khattab menggambarkan derita Tabuk sebagai berikut, “Ketika istirahat di suatu tempat, kami sangat haus, tenggorokan kami rasanya hampir putus dan tidak ada air setetespun. Satu-satunya cara adalah menyembelih unta, agar bisa mengambil air yang tersimpan di lambungnya, dan itulah yang kami lakukan. Melihat tentara sudah semakin tidak kuat menahan haus, Abu Bakar memohon Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, Tuhanmu telah menjamin doamu dikabulkan. Berdoalah agar Allah menurunkan hujan.” Andaikan tidak seberat itu derita yang dirasakan, tentu Abu Bakar tidak minta demikian kepada Nabi SAW. Nabi mengangkat tangan berdoa, lalu tidak lama setelah menurunkan tangannya, turunlah hujan deras. Dengan riang gembira, para tentara minum dan mengisi kantong-kantong air. Setelah semua kantong terpenuhi, berhentilah hujan. Ajaib, ternyata hujan itu hanya di sekitar Nabi SAW.”

Dalam perang dengan perbekalan terbatas menghadapi kekuatan musuh yang jauh lebih kuat itu, tidak sedikit orang Islam yang menolak secara terang-terangan ikut perang. Ada juga yang berangkat dengan setengah hati, menggerutu dan pulang di tengah perjalanan. Tapi, ada juga penduduk asli Madinah (anshar) dan pendatang di Madinah (al muhajirin) yang sepenuh hati mengikuti nabi sekalipun harus “berjalan melintasi api.” Orang-orang pilihan inipun hampir saja tergoda untuk desersi, mengingat beratnya tantangan. Keraguan dan pesimisme menjalani derita perang itulah yang mereka mintakan ampunan Allah SWT. Mereka gembira karena Allah telah mengampuninya, sebab Dia Maha Pengampun, sebagaimana disebut pada ujung ayat, “Sungguh, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.”

Sebelum berangkat ke Tabuk, ada beberapa orang yang meminta ijin Nabi untuk absen perang dan Nabi mengiyakan. Nabi merasa “berdosa,” sebab seharusnya tidak mudah memberi ijin mereka sebelum mengetahui alasan yang masuk akal, sebab banyak yang absen hanya karena kemalasan. Inilah “dosa” nabi yang diampuni oleh Allah sebagaimana disebut pada awal ayat di atas. Sebenarnya kesalahan itu tidak termasuk dosa, sebab hanya sebuah keputusan, tapi bagi nabi, sekalipun sesederhana itu, ia tetap meminta ampunan Allah.

Dari mereka yang absen perang itu, ada tiga orang yang paling mengecewakan Nabi SAW, yaitu Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayyah, dan Marrah bin Rabi’. Mereka ini, terutama Ka’ab adalah sahabat-sahabat mulia, tapi mengapa mengikuti jejak orang-orang munafik. Kekecewaan Nabi tersebut diceritakan sendiri oleh Ka’ab pada masa tuanya yang sudah buta, kepada anaknya, Abdullah. Ka’ab bercerita, “Ketika pasukan Nabi berangkat, saya sedang istirahat di rumah. Saya sangat sehat dan baru saja membeli tunggangan baru.” Ia maju mundur untuk berangkat, dan akhirnya benar-benar absen. Ketika pasukan sudah sampai di Tabuk, Nabi tiba-tiba bertanya, “Mana Ka’ab bin Malik?” Seorang sahabat menjawab, “Dia terikat oleh selimutnya dan sedang mengurus dirinya.” Nabi diam dengan wajah yang sedikit berubah.

Setelah Nabi SAW tiba kembali di Madinah, sebanyak delapan puluh orang meminta maaf kepada Nabi dengan berbagai alasan dusta. “Kemari, kenapa engkau tidak ikut datang? Tidakkah kamu bisa membeli tunggangan lagi?”. Ka’ab datang memenuhi panggilan Nabi dan berkata jujur apa adanya, “Jika saya berbicara kepada “orang bumi,” saya bisa menyampaikan seribu alasan, lalu engkau tidak marah, tapi Allah pasti tetap marah kepadaku. Aku tidak ikut perang bukan karena apa-apa, dan saya waktu itu juga sangat sehat dan ekonomi berkecukupan.” Nabi kemudian berkata, “Engkau berkata jujur. Sekarang pergilah, dan tunggulah keputusan Allah untukmu (mengampuni atau tidak)!”

Ka’ab keluar rumah dengan lunglai. Sambil menunggu keputusan Allah itulah, Nabi SAW melarang semua sahabat untuk berhubungan dengannya. Istrinyapun juga dilarang tidur bersamanya. “Aku pergi kemanapun: ke pasar, tetangga, bahkan ke rumah sanak famili, tidak ada satupun yang mengajakku bicara. Ketika Nabi selesai memimpin shalat di masjid, saya amat berharap Nabi memandangku, tapi ternyata juga tidak,” keluh Ka’ab. “Bumi terasa sangat sempit bagiku, dan dadaku terasa terhimpit,” katanya sebagaimana tersirat dalam QS. At Taubah 118. Derita batin itu dirasakan Ka’ab sampai lima puluh hari.

Pada hari ke lima puluh pengucilan Ka’ab, tiba-tiba usai shalat subuh, beberapa sahabat, termasuk penunggang kuda berdatangan mengucapkan selamat kepadanya, karena Nabi SAW telah mengumumkan di dalam masjid bahwa telah turun ayat tentang pengampunan Allah untuk Ka’ab dan dua orang temannya, yaitu Hilal bin Umayyah dan Marrah bin Rabi’. “Aku langsung berlari memasuki masjid untuk mendengar langsung berita itu dari Nabi SAW,” katanya.

Sebelum memasuki kerumunan orang, Thalhah bin Ubaid berdiri menyambutku dengan ucapan selamat. “Dialah sahabat yang terbaik menurutku. Karenanya, saya tidak akan melupakannya selamanya,” katanya. Nabi berkata dengan wajah yang amat ceria, “Ada berita gembira untukmu, berita yang paling membahagiakan seumur hidupmu.” Ka’ab bertanya, “Ini berita ampunan darimu atau dari Allah, wahai Nabi?”. “Dari Allah,” kata Nabi SAW. Begitu senangnya mendapat berita pengampunan, ia menyerahkan semua hartanya kepada Nabi, tapi ditolak oleh nabi, dan dianjurkan sebagain hartanya saja.

   Dari kisah di atas, jelaslah bahwa setiap muslim harus siap menjalani seberat apapun tantangan, bahkan berdiri di atas api sekalipun demi cita-cita agung dan mulia. Ini berlaku dalam hal usaha penyebaran agama, mencari ilmu, usaha, membangun kebahagiaan keluarga dan sebagainya. Terbesit sedikitpun rasa malas atau takut menghadapai tantangan dipandang sebagai cacat iman. Setiap muslim harus juga siap “berdiri di atas api” untuk berkata jujur. Telah terbukti, jujur itu pahit pada awalnya, tapi pasti manis buah yang akan dipetiknya.