Header

KHUTBAH: DEBU TAKWA PENGANTAR KE SURGA

February 1st, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

KHUTBAH: DEBU TAKWA PENGANTAR KE SURGA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Khutbah Jum’at Masjid Ulul Azmi UNAIR Kampus C Surabaya, 01-02-2019

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ  وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ  اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّابَعْدُ فَيَا عِبَادَاللهِ اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Para jamaah yang saya muliakan.

       Dalam Surat At Thalaq ayat 5 Allah SWT berfirman:

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يُكَفِّرۡ عَنۡهُ سَيِّ‍َٔاتِهِۦ وَيُعۡظِمۡ لَهُۥٓ أَجۡرًا

Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya, dan akan melipatgandakan pahala baginya.

            Untuk menjelaskan ayat ini, saya akan menyampaikan dua kisah yang terkait dengan takwa dan surga. Pertama, kisah tentang seseorang yang hidup sebelum Nabi SAW. Orang tersebut hidup berlimpah harta dengan keturunan yang membanggakan. Menjelang matinya, ia bertanya, “Wahai anak-anakku, apakah ayahmu ini orang yang baik?” Mereka menjawab, “Tentu, orang baik.” Selanjutnya sang ayah mengatakan, “Ketahuilah wahai anak-anakku, aku lebih tahu tentang diriku. Aku tidak memiliki sedikitpun kebaikan di sisi Allah. Oleh sebab itu, pasti Allah akan menyiksaku kelak. Jika suatu saat aku mati, bakarlah tubuhku, lalu tumbuklah arangnya sampai menjadi abu selembut-lembutnya. Lalu, pergilah ke laut dan taburkan semua abu itu ketika angin sangat kencang!”

            Nabi SAW bersabda, “Semua anaknya berjanji untuk melakukan wasiat itu. Demi Tuhanku, mereka benar-benar melakukannya.” Ketika abu telah ditebar, Allah SWT berfirman, “Kun fayakun, maka berdirilah seorang lelaki yang utuh.” Allah kemudian bertanya, “Ay ‘abdii, maa hamalaka ‘ala an fa’alta maa fa’alta? Qaala: makhaafataka / Wahai hamba-Ku, mengapa kamu melakukan semua itu?” Lelaki itu menjawab, “Karena takut kepada (siksa-Mu).” Nabi SAW melanjutkan, “Maka sejak itu, ia mendapat limpahan rahmat Allah.” Nabi SAW mengulang sekali lagi, “Maka sejak itu, ia mendapat limpahan rahmat Allah” (HR. Al Bukhari No. 7.508 dari Abu Said r.a).

Para jamaah yang saya muliakan.

Kisah kedua berikut ini juga mirip dengan kisah pertama. Ada orang pada zaman Nabi Musa a.s yang meninggal di sebuah kampung, dan tak seorangpun bersedia memakamkannya. Mereka bahkan menyeret dan melemparkannya ke sampah. Allah SWT lalu memberitahu Nabi Musa a.s, “Wahai Musa, ada jenazah yang dibuang orang ke tempat sampah. Carilah ia sampai ketemu, lalu mandikan, bungkuslah dengan kafan, shalatilah dan makamkanlah secara terhormat. Ia benar-benar kekasih-Ku.”

Musa berjalan menyusuri sejumlah kampung, dan akhirnya menemukan “manusia sampah” itu, benar-benar membusuk di tumpukan sampah. Musa a.s terheran dan berkata, “Wahai Tuhanku, apakah Engkau memerintahkan aku melakukan shalat untuk orang yang mendapat julukan masyarakat orang sampah dan orang jahat ini?

Allah SWT mengatakan, “Wahai Musa, benar, ia memang orang jahat, tapi tahukah kamu, bahwa ketika menjelang matinya, ia meminta belas kasih-Ku. Apakah Aku, Tuhan Yang Maha Pengasih tidak mengasihinya? Ketahuilah wahai Musa, menjelang sakaratul maut, ia berkata lirih, “Wahai Tuhanku, Engkau Maha Mengetahui gunungan dosa yang saya pikul di pundakku. Tapi, saya yakin, Engkau Maha Mengatahui isi hatiku. Aku sejatinya berontak setiap kali aku melakukan dosa. Aku ingin bertobat, tapi selalu saja gagal. Wahai Tuhanku, sekalipun penuh dosa, aku tetap senang dan hormat kepada orang-orang shaleh di sekitarku.”

“Wahai Tuhanku, jika Engkau mengampuni aku, pastilah Nabi-Mu tersenyum gembira karena salah satu umatnya mendapat ampunan dan surga. Sebaliknya, Iblis dan setan akan bersedih, karena gagal memasukkan aku ke naraka. Engkau pasti lebih menyukai senyuman Nabi-Mu daripada senyuman Iblis dan kawan-kawannya. Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kasihanilah aku.” Maka Allah SWT berfirman, “Aku, Tuhan Maha Pengasih dan Maha Pengampun. Aku akan mengasihi dan mengampuni dia, karena ia telah mengakui dosa-dosanya kepada-Ku. Allah SWT berfirman, “Wahai Musa, segeralah shalat untuknya sesuai perintah-Ku. Aku akan mengampuninya atas keberkahan orang yang menshalatinya.”

Para jamaah yang saya muliakan.

Bagaimana takwa yang menghapus dosa itu? Umar bin Khattab r.a memberikan definisi yang praktis, takwa adalah kehatian-kehatian dalam setiap langkah, seperti kehati-hatian pejalan kaki di atas jalan yang penuh duri. Kaki baru diinjakkan ke tanah ketika ia yakin bahwa jalan yang diinjak itu benar-benar aman dari tusukan duri. Berdasar pengertian itu, maka tidak ada satupun orang yang bisa disebut bertakwa selain nabi. Tapi, bergembiralah, sebab Allah tetap mengampuni kesalahan kita, meskipun takwa kita hanya setitik debu. Tidak hanya itu, di samping mengampuni, Allah juga melipatgandakan pahala untuk sekecil apapun kebaikan kita, sebagaimana disebut pada ayat di atas, “..dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.” (QS. At Thalaq [65]:5). Mengenai kasih dan kemurahan Allah tersebut, Ibnu ‘Athaillah mengatakan:

عَلِمَ وُجٌوْدَ الضَّعْفِ مِنْكَ فَقَلَّلَ أَعْدَادَهَا وَعَلِمَ اِحْتِيَاجَكَ اِلَى فَضْلِهِ فَكَثَّرَ اَمْدَادَهَا

Allah mengetahui kelemahanmu, maka Allah meminimalkan (tuntutan) bilangan (ibadahmu). Allah juga mengetahui kebutuhanmu akan karunia-Nya, maka Ia melipatgandakan pahala kebaikanmu.

 Dua kisah di atas memberikan optimisme kita akan ampunan Allah. Tidak ada kebahagiaan melebihi mendapat ampunan Allah. Kisah tersebut juga tamparan untuk kita. Orang yang dipandang penuh maksiat, bahkan secara keji disebut calon penghuni neraka,  bisa jadi ia dimasukkan Allah ke surga karena setitik debu takwa yang kita sama sekali tidak mengetahuinya. Sebaliknya, orang yang merasa lebih suci daripadanya, bisa jadi lebih dimurkai Allah karena setitik dosa yang tidak dia sadari, dan itulah penyebab utama murka Allah kepadanya. Jangan sekali-kali kita merasa lebih suci dari orang lain, apalagi dengan mudahnya menuduh seseorang sebagai calon penghuni neraka. Ketahuilah cara dan standar penilaian Allah berbeda dengan cara dan standar penilian kita.  

اَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِى وَلَكُمْ, وَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Referensi: (1) Muhammad bin Abu Bakar Al Usfuri, Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah, Penerbit Mutiara Ilmu Surabaya, Zeid Husein Al Hamid, 1994: cet II: 4-6; (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, Panjimas, Jakarta (3) Muhammad ‘Awwaamah, Minas Shihah Al Ahadits Al Qudsiyyah: Mi’ah Hadits Qudsi Ma’a Syarhiha (Seratus Syarah Hadis Qudsi), Noura Books, Jakarta Selatan 2013, p. 176; (4) Ibnu Atha’illah As-Sakandari, Al Hikam, (Al Hikam dan Syarahnya) terj. DA. Pakih Sati LC, Penerbit saufa Yogyakarta, 2015, cet.1.

NABI, MENGAPA HANYA DIPUJI?

January 8th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

NABI, MENGAPA HANYA DIPUJI?
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِيَّ ٱلۡأُمِّيَّ ٱلَّذِي يَجِدُونَهُۥ مَكۡتُوبًا عِندَهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ يَأۡمُرُهُم بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَىٰهُمۡ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡخَبَٰٓئِثَ وَيَضَعُ عَنۡهُمۡ إِصۡرَهُمۡ وَٱلۡأَغۡلَٰلَ ٱلَّتِي كَانَتۡ عَلَيۡهِمۡۚ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُواْ ٱلنُّورَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ  

 (yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS. Al A’raf [7]: 157).

                Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menjelaskan ciri-ciri orang yang mendapatkan rahmat Allah. Orang-orang Yahudi mengklaim merekalah yang dimaksud pada ayat itu. Maka, ayat yang dikutip di atas menegaskan bahwa orang-orang yang mendapat rahmat itu bukan untuk satu kelompok, melainkan untuk siapapun yang beriman kepada Nabi SAW, mengikuti ajarannya dan mengajarkannya kepada umat manusia.  

sumber gambar: http://www.clker.com/cliparts

                Ayat di atas juga menegaskan, Nabi SAW yang harus diikuti itu telah dijelaskan dalam kitab Taurat dan Injil. Dalam Perjanjian Lama Ulangan XVIII antara lain disebutkan, “Seorang nabi akan Ku-bangkitkan bagi mereka seperti engkau ini. Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Ku- perintahkan kepadanya. Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan oleh nabi itu demi nama-Ku darinya akan Ku-tuntut pertanggungjawaban.” Maksud dari kata “orang seperti engkau (Musa)” adalah  Nabi SAW, karena keduanya sama-sama membawa syariat. Sedangkan Isa Al Masih tidak membawa syariat baru, tapi hanya melanjutkan syariat Nabi Musa as.

                Dalam ayat di atas ditegaskan, Nabi SAW adalah ummi, artinya tidak bisa membaca dan menulis. Ummi berasal dari kata umm (ibu) atau ummah (masyarakat umum). Pada saat itu, ibu Nabi SAW dan masyarakat pada umumnya buta aksara, kecuali beberapa orang sebagaimana disebut dalam Al Qur’an, “Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Qur’an) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu) (QS. Al Ankabut [29]: 48)

                Buta aksara sama sekali bukan berarti kebodohan. Sultan Akbar di Hindustan yang buta aksara ternyata ia filosuf cerdas sekaligus raja besar yang sukses sampai akhir hayatnya. Nabi SAW fathanah artinya genius, kuat ingatan, dan tajam analisis. Salah satu buktinya, Nabi menerima wahyu hanya melalui pendengaran dari Malaikat Jibril, tapi ia kuat menghafal semuanya. Jibril kadangkala memerintahkan Nabi SAW agar ayat yang diterimanya itu diurutkan dengan ayat-ayat yang diterima beberapa tahun sebelumnya, bahkan bisa jadi puluhan tahun, dan ia tidak pernah membuat kesalahan.

                Berdasarkan ayat di atas, tugas utama Nabi SAW adalah (1) amar makruf. Makruf berasal dari kata marifat yang artinya dikenal atau diterima oleh akal. Jadi, ajaran yang dibawa Nabi SAW bisa diterima akal sehat dan pasti benar karena bersumber dari Allah SWT. (2) nahi munkar. Munkar artinya tidak bisa diterima oleh akal sehat. Suatu contoh, semua orang waras dapat menilai bahwa mencuri, melukai, dan membunuh adalah munkar, karena tidak sesuai dengan akal orang beradab (3) menghalalkan makanan thayyibat, yaitu diperbolehkan agama sekaligus baik untuk kesehatan, dan mengharamkan khabaa-its, yaitu kebalikan dari thayyibat. Kita dilarang mengonsumsi makanan yang merusak kesehatan, meskipun ia halal, tidak dilarang agama, dan (4) menghapus ajaran yang memberatkan kaum Yahudi atau Bani Israil, yaitu ajaran bunuh diri sebagai syarat bertobat, larangan memakan hewan yang kukunya tak terbelah atau hewan yang tidak memamah biak, larangan memakan lemak hewan, larangan menikah bagi pendeta, perintah qishah, yaitu hukuman mati untuk pembunuh tanpa mempertimbangkan disengaja atau tidak, dan keluarga terbunuh telah memaafkan atau tidak, dan juga menghapus perintah menggunting atau membuang pakaian yang terkena najis.

Itulah tugas Nabi SAW menyempurnakan ajaran nabi-nabi sebelumnya. Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata, Wahaii Bani Israil, sungguh aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan isi kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira tentang (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad). Maka, ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata” (QS. Shaf [61]: 6).

                Pada ujung ayat di atas disebutkan bahwa orang yang akan mendapat kemuliaan dan kebahagiaan di sisi Allah SWT adalah yang percaya kepada Nabi SAW, memuliakannya, menjalankan perintahnya, dan mengajarkannya kepada umat manusia. Berdasar kriteria ini, maka Abu Thalib, paman Nabi SAW tidak mendapat kemuliaan dan kebahagiaan akhirat, meskipun ia penolong dan penyelamat Nabi SAW dari upaya pembunuhan orang kafir, sebab ia tidak beriman dan menjalankan ajarannya. Dengan demikian, tidaklah pengikut Nabi yang sejati, jika Anda hanya menyanjungnya, namun tetap berakhlak yang tercela. Gebyar shalawat akan bermakna jika mendorong percepatan kesejahteraan dan perdamaian dunia. Shalawat yang dikumandangkan haruslah shalawat yang melahirkan perubahan. Pujilah Nabi dan bertekadlah menjadi pribadi yang terpuji.          

Referensi: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 9, penerbit Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 76, (2) M.Qureish Shihab, Tafsir Al Misbah, Vol 4, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 322.

MENATA HATI, MEMBUKA RIZKI

December 14th, 2018 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

MENATA HATI, MEMBUKA RIZKI

Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

وَٱلَّذِينَجَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَسَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوبِنَا غِلّٗا لِّلَّذِينَءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٞ رَّحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (al anshar dan al muhajirin) dan berdoa, “Wahai Tuhan kami, berilah ampunan untuk kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan membawa keimanan, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, sungguh Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”(QS. Al Hasyr [59]: 10).

Ayat di atas merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya tentang kemuliaan penduduk pribumi Madinah (al anshar) dalam menyambut para pendatang dari Mekah (al muhajirin). Penduduk Madinah melayani pendatang dengan senang hati dan murah harta untuk member pelayanan dan tempat tinggal yang terbaik, bahkan mengurbankan kepentingan diri dan keluarga demi kenyamanan mereka. Maka pada ayat di atas, Allah SWTmemberi pujian kepada generasi sesudah mereka yang memintakan ampunan untuk mereka, dan memohon kekuatan untuk mengikuti jejak kemuliaan mereka.


Paling sedikit, ada empat pesan penting pada ayat di atas. Pertama, introspeksi. Pernyataan doa, “Wahai Tuhan kami, ampunilah kami” secara tidak langsung menyuruh kita untuk tiada henti koreksi diri. Antara lain, apakah kita sudah menjadi suami, ayah, istri, dan ibu yang patut dijadkan tauladan? Apakah kita guru, karyawan dan pemimpin yang terbaik? Apakah semua yang kita makan selama ini benar-benar murni halal? Apakah shalat kita telah membentuk diri kita sebagai pribadi yang menumbuhkan senyum dan optimisme orang-orang di sekitar kita? Introspeksilah. Sediakan waktu secara rutin setiap malam untuk menunduk hening, usaplah air mata yang membasahi pipi, lalu beristighfarlah. Orang terbaik bukanlah orang yang tanpa dosa, tapi yang jujur mengakui dosa dan bertekad untuk berubah. Nilai Anda di mata Allah ditentukan seberapa besar ruang yang Anda siapkan untuk-Nya di hati Anda.


Kedua, kepedulian. Pernyataan, “..dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan keimanan” mengajarkan kita untuk peduli terhadap orang lain. Abu Abdillah Sufyan bin Sa’id Ats Tsaury, ulama besar Iraq mengatakan, salah satu tanda sadisme adalah minimnya doa untuk orang lain, khususnya orang yang telah wafat. Ahli hadis dan fikih yang hidup pada abad 8 M itu menambahkan, jika Anda melewati kuburan dan Anda diam tanpa doa, Andalah manusia sadis, raja-tega yang mengabaikan jeritan penghuni kubur yang merintih menunggu doa pengampunan dari kita yang masih hidup. Jika Anda bekerja pada suatu kantor atau di manapun, lalu Anda tidak berdoa untuk kemajuan tempat kerja, maka Anda juga sadis, sebab Anda hanya menghisap madu, lalu mengabaikan lebah dan sarangnya.


Ketiga, kesetaraan. Pernyataan, “..dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan keimanan” juga mengajarkan kita tentang semangat kesetaraan. Semua ayat Al Qur’an tentang hubungan nabi dan umatnya menggunakan istilah “saudaramu” atau akhuuhum. Nabi memperlakukan umatnya sebagai saudara, bukan hirarkhis, sebagai anak buah. Umat Nabi juga tidak memperlakukannya sebagai bapak buah. Prinsip inilah yang dikembangkan dalam majamen moderen. Dalam dunia pendidikan, tidak ada lagi istilah guru dan murid, tapi pendidik dan peserta didik. Dalam ilmu dakwah, tidak ada lagi subyek dan obyek dakwah, melainkan pendakwah dan mitra dakwah. Pendakwah bukan lagi memposisikan diri sebagai manusia termulia dan tersuci yang berhak menggurui obyeknya, melainkan sama-sama bermitra untuk mencari cara terbaik menapaki jalan yang lurus. Dalam posisi itu, pendakwah bertaushiyah, “Inilah perintah Allah, mari kita bersama-sama mencari cara bagaimana kita bisa menjalankannya, dan inilah yang terlarang, lalu bagaimana cara termudah untuk bersama-sama meninggalkannya.”
Sebutan “saudaraku” oleh Nabi SAW untuk umatnya, antara lain ditunjukkan pada saat ia keluar menuju kuburan. Ia memberi salam, “Salam untuk kalian wahai penghuni kubur. Sungguh, suatu saat, kami akan menyusul kalian atas kehendak Allah.” Ia melanjutkan, “Wadidtu an ra-aytu ikhwaananaa (saya ingin sekali melihat saudara-saudaraku).” Para sahabat bertanya, “Alasnaa bi-ikhwaanika (tidakkah kami ini juga saudara tuan?” Nabi menjawab, “Bal antum ash-haabii wa anaa farathuhum ‘alal haudli (ya, kalian juga sahabatku. Saya akan menemui mereka di telaga al-kautsar ) (HR. Al Bukhari dan Muslim).


Keempat, kehangatan persaudaraan. Pernyataan doa, “Wahai Tuhan kami, janganlah ada di hati kami kedengkian terhadap orang-orang beriman” menunjukkan perintah pembersihan hati untuk menciptakan persaudaraan yang hangat. Hati yang bersih dari dengki, benci dan iri hati. Inilah yang sering kita abaikan, karena perhatian kita habis tersita untuk pembersihan muka dan pewangian penampilan. Memang ini berat, sebab kata Ibnu Taimiyah, semua orang berpotensi dengki, hanya saja ada orang yang berhasil memerangi, dan sebagian yang lain justeru mengeksekusi.
Mengapa sifat negatif itu harus dihapus? Sebab benci, jengkel dan dengki bisa merusak nama baik yang amat Anda butuhkan dlam menapaki masa depan. Citra diri harus dibangun sejak dini, lebih-lebih dalam perjumpaan awal dengan orang. Perhatikan bagaimana Allah memperkenalkan dirinya pertama kali kepada manusia dengan dua namanya, Maha Pengasih dan Maha Penyayang dari 99 namanya. Dengan kesan pertama yang indah dalam memori otak itu, diharapkan manusia memiliki optimisme menatap masa depan, merasa didampingi oleh Tuhan yang selalu mengasihi dan menyayangi. Brain Tracy berkata, “A first impression says everything. One makes a judgment about you in aprroximately four seconds, and his judgment is finalized largely 30 seconds of the initial contact (Kesan pertama menceritakan segalanya. Seseorang memulai membuat penilaian tentang diri Anda dalam empat detik pertama, dan memutuskan peniliaian itu 30 detik berikutnya). Perasaan negaif itu juga merusak ketampanan dan kecantikan dan merusak kesehatan Anda. Allah SWT berfirman, “Katakanlah (wahai Muhammad), “Matilah kamu dengan membawa kegenkianmu itu). Dan, jangan lupa, kebencian, kejengkelan dan iri hati akan menutup rapat semua pintu rizki Anda, lebih-lebih pada era sekarang ini, dimana courtesy atau kesopanan, kesantunan dan kehangatan pelayanan di butuhkan dalam semua lini bisnis. Semoga, pintu rizki yang selama ini tertutup, sebantar lagi akan terbuka lebar untuk Anda.