Header

MENYAPA MALAIKAT DALAM SHALAT

October 8th, 2018 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

MENYAPA MALAIKAT DALAM SHALAT
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

 

أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِدُلُوكِ ٱلشَّمۡسِ إِلَىٰ غَسَقِ ٱلَّيۡلِ وَقُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِۖ إِنَّ قُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِ كَانَ مَشۡهُودٗا ٧٨

sumber gambar: https://www.bbc.com/indonesia/vert_earth/2015/10/151017_vert_earth_

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sungguh shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat) (QS. Al Isra [17]: 78).

Inilah salah satu ayat yang mengaitkan shalat dan doa para malaikat untuk pelakunya. Saya lalu teringat beberapa doa shalat yang berisi nama-nama malaikat. Antara lain doa dalam rukuk dan sujud, “Maha Suci dan Maha Bersih Tuhanku dan Tuhan semua malaikat dan Malaikat Jibril (HR. Muslim dari  ’Aisyah r.a). Juga doa pada tasyahud akhir menjelang salam, “Wahai Allah, Tuhannya Malaikat Jibril, Mikail dan Israfil. Engkaulah Pencipta langit dan bumi; Engkaulah yang Maha mengetahui yang tersembunyi dan yang terbuka; Engkaulah yang akan menghakimi semua yang diperselisihkan di antara hamba-hamba-Mu. Berilah aku petunjuk yang benar dari masalah yang diperselisihkan itu. Sungguh Engkau pembimbing ke jalan yang lurus untuk siapapun yang Engkau kehendaki.” (HR. Muslim 1829). Nah, saya kemudian penasaran, mungkinkah kita berdialog dengan malaikat ketika shalat?.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya jelaskan terlebih dahulu apa dan bagaimana malaikat itu. Al Qur’an tidak menyebutkan bahan penciptaan malaikat. Hanya hadis yang menjelaskan, bahwa ia tercipta dari cahaya. Penciptaan malaikat tersebut dimaksudkan untuk mengingatkan keterbatasan pengetahuan manusia, sebab malaikat adalah metafisika di luar jangkuan akal. Sekalipun demikian, kita wajib mengimani keberadaannya, sifat-sifatnya, dan ketundukannya kepada Allah. Ia satu-satunya makhluk yang selalu terkait dengan aktivitas manusia di dunia, di alam kubur, dan di dalam surga atau neraka. Perintah Allah kepada malaikat untuk bersujud kepada Nabi Adam a.s merupakan simbol perintah kepada malaikat untuk melayani manusia di dunia dan akhirat.

Berapa jumlah malaikat? Nabi SAW pernah bertanya kepada Jibril tentang baitul ma’mur, suatu tempat yang suci di langit tertinggi, lalu dijawab, “Setiap hari, ada 70.000 malaikat mengerjakan shalat di tempat itu, dan mereka tidak kembali.” (HR. Al Bukhari). Artinya, ada malaikat lain dalam jumlah yang sama dan mengerjakan ibadah yang sama di tempat itu. Jadi, jumlahnya tak terhitung. Penyebutan malaikat dalam Al Qur’an selalu berbentuk jamak. Itu berarti masing-masing malaikat, yaitu Jibril, Mikail, Israfil, dan sebagainya hanya bertugas sebagai kordinator untuk malaikat-malaikat lainnya untuk tugas masing-masing. Penyebutan adanya delapan malaikat yang memikul ‘arasy dalam Al Qur’an (Q.S Al Haqqah [69]: 17) bisa diartikan delapan kelompok besar malaikat pemikul ‘arasy.

Malaikat digambarkan Al Qur’an sebagai makhluk yang gagah perkasa atau “dzuu quwwatin” (QS. An Najm [53]: 6), atau ’inda dzil ‘arsyi makiin, artinya memiliki kecepatan seperti kilat (QS. Al Ma’arij [70]: 4), dan berparas menawan (QS. Yusuf [12]: 30), tidak seperti setan yang selalu digambarkan buruk rupa. Dalam melayani kebutuhan manusia, malaikat bisa berwajah manusia, sebagaimana yang dialami Nabi Ibrahim a.s ketika kedatangan para tamu, yang ternyata mereka adalah malaikat. Demikian juga ketika malaikat bertamu di rumah Nabi Luth a.s. Nabi SAW juga pernah dua kali menerima wahyu dari malaikat Jibril dengan wajah sahabat karibnya.

Apakah malaikat hanya datang kepada para Nabi? Tidak, mereka juga bisa menemui siapapun selain nabi, termasuk Anda, bahkan memberikan pertolongan atas perintah Allah. Mereka inilah yang datang untuk menolong Maryam ketika melahirkan Isa a.s. Akan tetapi kita harus berhati-hati, sebab setan juga bisa saja datang dengan mengaku sebagai malaikat. Nabi SAW sendiri pernah didatangi setan ketika shalat, lalu setan itu dicekiknya.

Menurut Ibnu Sirin (W 729 M), ulama ahli takwil mimpi dalam kitabnya, Muntakhabul Kalaam fii Tafsiiril Ahlaam, malaikat juga bisa hadir dalam mimpi kita, seperti yang dialami Abdullah bin Zaid r.a. Dalam tidurnya, ia diajari azan oleh orang yang berjubah. Mendengar pelaporan mimpi tersebut, Nabi SAW amat senang, sebab itulah yang ditunggu-tunggu, dan Nabi langsung memerintakan Bilal bin Rabbah untuk mengumandangkan azan hasil pengajaran malaikat melalui mimpi tersebut. Ketika Bilal beradzan, Umar bin Khattab terkejut, karena pada malam yang sama, ia juga diajari malaikat dengan bacaan azan yang sama. Malaikat juga bisa menolong manusia dengan cara yang sangat halus berupa pemberian inspirasi, ilham dan sejenisnya. Inilah yang disebut lamhah malakiyah atau lintasan pengetahuan dari alam malaikat. Di samping bertindak secara langsung untuk kebutuhan manusia, malaikat juga selalu mendoakan kebaikan untuk orang baik, dan hukuman penderitaan (la’nat) untuk orang-orang yang buruk perangai.

Dalam kehidupan kita, ada sunnatullah dan ‘inayatullah. Orang yang jatuh dari lantai 10 dan meninggal, misalnya, itulah sunnatullah, artinya sesuai dengan hukum alam. Tetapi, jika ternyata ia tidak meninggal karena berbagai sebab, maka itulah ‘inayatullah, artinya, ada tangan malaikat yang ikut menyelamatkannya atas perintah Allah. Allah SWT berfirman, “Dan bagi manusia, ada para malaikat yang menjaganya secara bergantian di depan dan dibelakangnya atas perintah Allah” (QS. Ar Ra’d [13]: 11). Inilah yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib r.a, setiap manusia dikawal malaikat penyelamat. Jika ada bahaya datang, dan hari itu bukan jadwal kematiannya, maka Allah memerintahkan malaikat untuk menyelematkannya. Tapi, jika hari telah ditentukan sebagai hari kematiannya, maka malaikat diperintahkan Allah untuk membiarkannya menuju ajalnya.

Dengan gambaran sifat-sifat malaikat di atas, maka kita benar-benar bisa menyapa mereka. Di luar shalat, kita dikawal malaikat, maka tentu lebih banyak malaikat yang menyertai dan mendoakan kita ketika kita sedang shalat. Anda pasti semakin merasakan nikmatnya shalat, jika misalnya ketika bersujud Anda menyapa (dalam hati) para malaikat, “Wahai Allah, Tuhannya semua malaikat, perintahkan mereka untuk mengawal aku agar selamat dari semua bencana, dan perintahkan pula membuka pintu-pintu rizki dan ilmu untukku.” Selamat menyapa malaikat dalam setiap shalat.

Referensi: (1) M. Quraish Shihab, Malaikat Dalam Al Qur’an, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2017 cet. 1 (2) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol 6, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 227-230 (3) Moh. Ali Aziz, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, UIN Sunan Ampel Press, Surabaya, 2015, cet. X. (4) Al Bukhari, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il, Shahih Al Bukhari, Toha Putra, Semarang, t.t. (5) Muslim bin Al Hajaj Al Qusyairi Al Naisaburi, Shahih Muslim, Dar Al Fikr, Beirut, 1988. (6) Hamka, Tafsir Al Azhar, Juz 13, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 70-73.

NABI YUNUS, TELADAN PERUBAHAN

June 2nd, 2018 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

NABI YUNUS, TELADAN PERUBAHAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ١٣٩  إِذۡ أَبَقَ إِلَى ٱلۡفُلۡكِ ٱلۡمَشۡحُونِ ١٤٠ فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ ٱلۡمُدۡحَضِينَ ١٤١ فَٱلۡتَقَمَهُ ٱلۡحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٞ ١٤٢  فَلَوۡلَآ أَنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلۡمُسَبِّحِينَ ١٤٣ لَلَبِثَ فِي بَطۡنِهِۦٓ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ ١٤٤  ۞فَنَبَذۡنَٰهُ بِٱلۡعَرَآءِ وَهُوَ سَقِيمٞ ١٤٥ وَأَنۢبَتۡنَا عَلَيۡهِ شَجَرَةٗ مِّن يَقۡطِينٖ ١٤٦ وَأَرۡسَلۡنَٰهُ إِلَىٰ مِاْئَةِ أَلۡفٍ أَوۡ يَزِيدُونَ ١٤٧  فَ‍َٔامَنُواْ فَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ ١٤٨

sumber gambar: https://i.ytimg.com/vi/jnkf9ANN1-8/maxresdefault.jpg

“Sungguh Yunus benar-benar salah seorang rasul. (Ingatlah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan. Kemudian ia ikut berundi, lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Lalu, ia ditelan ikan besar dalam keadaan tercela. Maka, kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang bertasbih kepada Allah, niscaya ia akan tetap tinggal dalam perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan Kami tumbuhkan untuknya sebatang pohon sejenis labu. Dan Kami mengutusnya kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu, mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu (QS As Shaffat [37]: 139-148).

Topik ini saya pilih karena penasaran, mengapa dalam satu ayat Al Qur’an Allah melarang kita meniru karakter Nabi Yunus. Untuk menjawabnya, akan saya uraikan terlebih dahulu kisah Yunus a.s. Ia dipanggil Allah dengan panggilan Dzun Nun, artinya orang yang mengalami penderitaan dalam perut ikan selama tiga hari, “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia berdoa (dengan bersuara) dalam keadaan yang sangat gelap, “La ilaaha illaa anta, subhaanaka innii kuntu minadh-dhaalimiin” (tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim).” Maka Kami telah mengabulkan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman” (QS. Al Anbiyak [21]: 87-88).

Pada ayat lain, Yunus a.s juga dipanggil dengan Shahibul Hut, artinya sama dengan Dzun Nun, “Atau apakah mereka memiliki pengetahuan tentang yang gaib, lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetapkan). Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan yang berdoa ketika itu dalam keadaan marah (kepada kaumnya). Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, ia pasti dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh” (QS. Al Qalam [68]: 47-50).

Yunus bin Matta lahir di Palestina, lalu diutus untuk masyarakat Nainawa atau Ninive dengan penduduk 100.000 orang lebih, di dekat sungai Tigris, Irak pada abad 8 SM. Ia dimakamkan di Palestina di tepi barat Laut Mati (Shihab, 2002: 304). Ketika Nabi SAW berteduh di sebuah kebun kurma setelah dihujani batu oleh masyarakat Thaif, Mekah, ia dihampiri orang Kristen yang bernama ‘Adas. Setelah berbincang panjang, ternyata ‘Adas berasal dari kampung Nainawa. ‘Adas terkejut dan kagum ternyata Nabi SAW bercerita lebih lengkap tentang Nainawa dan amat hormat kepada Yunus a.s. Lalu, ia masuk Islam (Hamka, 1985: 166).

            Yunus a.s disebut enam kali dalam Al Qur-an, yaitu dua kali dengan nama panggilan Dzun Nun dan Shahibul Hut, sebagaimana disebut pada dua ayat di atas, dan empat kali dengan nama aslinya pada QS. An Nisa’, Al An’am, Yunus, dan As Shaffat (As Shabuni, 1994: 445-450). Suatu hari, ia marah kepada masyarakat yang menolak ajakannya, bahkan mereka mengancam untuk membunuhnya.  Ia lalu lari menuju tepi laut dan naik kapal yang sedang bersandar. Dalam perjalanan di tengah laut, kapal oleng. Para penumpang memutuskan membuang satu orang yang banyak dosa, karena dialah kapal oleng. Lalu, undian dilakukan untuk menentukan siapa yang harus dibuang, dan ternyata sampai diulang tiga kali, tetap saja nama Yunus a.s yang keluar. Mereka tidak tega, sebab Yunus orang yang baik. Yunus a.s kemudian meminta mereka untuk melemparkan dirinya ke laut, karena telah menjadi keputusan. Dalam perut ikan itupun, Yunus a.s masih tetap marah kepada masyarakatnya (Hamka,1985: 166).

            Dalam sejarah, cara undian seperti itu juga pernah dilakukan oleh para pemuka Nasrani untuk menentukan siapa yang berhak merawat Maryam, dan Nabi Zakariya a.s yang memenanginya. Nabi SAW juga selalu mengundi di antara istrinya, siapa yang berhak diajak keluar. Bagaimana Yunus bisa selamat? Pertama, sangat mungkin ikan Hiu yang menelannya sangat besar, panjang 20 m, tak bersirip, tak bergigi, dan sudah biasa menelan ikan sepanjang 3 m, sebagaimana banyak dijumpai di laut tengah. Karenanya, Yunus berada di tempat yang longgar, di langit-langit mulut Hiu. Tapi, ia pasti kesulitan bernafas. Untunglah Allah menggiring Hiu ke pinggir pantai dan memerintahkannya untuk memuntahkan Yunus.as (Shihab, 2002: 304). Sebab kedua, dan ini yang paling pasti, ia selalu bertasbih selama dalam perut ikan, “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang bertasbih kepada Allah. Niscaya ia akan tetap tinggal dalam perut ikan itu sampai hari berbangkit (QS. As Shaffat [37]: 139-148).

            Yunus a.s keluar dari perut ikan dalam keadaan lemas, dan baru sehat kembali setelah memakan buah sejenis labu yang ditanam Allah dengan cepat di dekatnya. Setelah sehat betul, ia kembali ke masyarakatnya dengan karakter baru, yaitu lebih sabar dan santun (Hamka, 1985: 166). Tasbih yang dibaca Yunus a.s dalam perut ikan itulah yang kemudian diajarkan Nabi SAW untuk semua umatnya. Nabi SAW bersabda,

دَعْوَةُ ذِى النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِى بَطْنِ الْحُوتِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِى شَىْءٍ قَطٌّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ

“Doa yang diucapkan oleh Dzun Nun (Nabi Yunus) sewaktu  berada dalam perut ikan adalah “Tiada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim.” Siapapun muslim yang membaca doa ini untuk suatu keperluan, pastilah Alllah akan mengabulkannya” (HR. Tirmidzi no. 3505 dari Sa’d r.a).

Dari penjelasan di atas, dapat kita ketahui, bahwa larangan meniru Yunus a.s tertuju pada karakternya sebelum ia ditelan ikan. Tapi setelah itu, ia berubah total dari pemarah menjadi peramah, santun dan sabar sehingga masyarakat mencintai dan mengikuji ajakannya. Andaikan Yunus a.s bukan manusia mulia, tidaklah mungkin Allah memerintahkan kita untuk mengimaninya. Kisah Yunus a.s disebut dalam Al Qur’an untuk menunjukkan bahwa ia manusia biasa, yang bisa saja khilaf. Berikut inilah kata kunci yang menunjukkan pujian Allah untuk Yunus a.s yang telah berubah, “Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh” (QS. Al Qalam [68]: 47-50).

Anda tidak boleh berdalih tidak bisa merubah karakter karena watak dan pembawaan sejak lahir. Yunus menjadi bukti perubahan karakter, karena terus bertasbih, introspeksi, dan istighfar. Anda harus berubah sekarang menuju karakter mulia tanpa harus menunggu ditimpa musibah besar.

Referensi: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar, Juz 23, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985 (2) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vo. 11, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012 (3) Al Turmudzi,  Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah, Sunan Al Turmudzi, Beirut: Dar Al Fikr, 2005. (4) As-Shabuni, Muhammad Ali, Prof, An Nubuwwah wal Anbiya’, (Kisah-Kisah Nabi dan Masalah Kenabiannya) terj. Mushlikh Shabir, Penerbit Cahaya Indah, Semarang 1994.

MEMPERSUNTING KARAMAH

May 7th, 2018 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

MEMPERSUNTING KARAMAH
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: sportourism.id

“Dan jika kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.” (QS. Al Kahfi [18]: 16)

Ayat di atas berkisah tentang tujuh orang (as-habul kahfi) yang ditidurkan Allah di dalam gua selama 309 tahun. Mereka bersembunyi untuk menghindari kekejaman raja yang zalim. Sebelum ditidurkan, mereka mengonsumsi makanan dan minuman (mirfaqa) yang disediakan langsung oleh Allah. Inilah keajaiban pertama. Keajaiban kedua adalah bahwa gua itu menghadap ke utara, sehingga tidak mendapat sinar matahari. Padahal, tanpa sinar dan sirkulasi udara, mereka bisa mati. Maka, setiap pagi, Allah “memindahkan” matahari ke utara agar dapat sejenak memberi cahaya gua. Keajaiban yang diberikan Allah kepada para pemuda gua itulah yang disebut “karamah,” bukan “mukjizat,” sebagaimana yang diperuntukkan khusus bagi para nabi.

Imam An Nawawi mengutip ayat tersebut dalam bab “Karamah Para Kekasih Allah” pada kitab Riyadhus Shalihin II: 368-373 dan Kitab Dalilul Falihin juz IV: 273. Pada bab itu juga dijelaskan karamah yang diberikan Allah kepada Maryam, ibu Nabi Isa a.s ketika dipingit Nabi Zakaria di sebuah tempat khusus sekaligus tempat ibadah. Suatu saat, Zakaria terkejut, ternyata dalam kamar yang telah tertutup rapat itu, ada buah segar di luar musimnya. Ketika ditanya, Maryam menjawab, “Makanan itu dari sisi Allah. Sungguh, Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa perhitungan” (QS. Ali Imran [3]: 37).

Ada lagi karamah yang diberikan Allah kepada Maryam. Ketika ia hamil, ia gelisah bercampur malu karena diolok-olok sebagai pezina, karena ia tidak bersuami. Ia lalu bersandar pada pohon kurma sambil merasakan sakit perut menjelang persalinan. Ia juga cemas, karena tidak ada makanan untuk dirinya yang sudah lemas, dan untuk sang bayi yang akan dilahirkan. Allah mengtus malaikat Jibril untuk memberitahu Maryam, “Jangan bersedih. Aku telah menyediakan untukmu sungai di bawahmu. Segera minumlah air segar dari sungai itu. Goyanglah pohon kurma tempat engkau bersandar. Nikmatilah bersama bayimu kurma segar yang berjatuhan di depanmu.” (QS. Maryam [19]: 24-25).

Dalam hadis, peristiwa karamah diceritakan oleh Abdurrahman bin Abu Bakar As Shididiq r.a. Ia mengatakan, keadaan penduduk Mekah yang hijrah bersama Nabi SAW ke Madinah yang ditampung di perkemahan belakang Masjid Madinah (ash-haabus shuffah atau ahlus-suffah) sangat memprihatinkan. Mereka hijrah tanpa membawa bekal sedikitpun dan tidak memiliki sanak keluarga di Madinah. Saat itulah, Abu Bakar bertindak karena teringat perintah Nabi SAW,

مَنْ كَانَ عِنْدَهُ طَعَامُ اثْنَيْنِ فَلْيَذْهَبْ بِثَالِثٍ وَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ طَعَامُ اَرْبَعَةٍ فَلْيَذْهَبْ بِخَامِسٍ بِسَادِسٍ

“Barangsiapa memiliki makanan untuk dua orang, maka hendaknya ia makan bertiga, dan barangsiapa memiliki makanan untuk empat orang, maka hendaknya ia makan berlima atau berenam” (HR. Muttafaq ‘Alaih dari Abu Muhammad, Adurrahman bin Abu Bakar As Shididiq r.a). Abu Bakar lalu mengundang  tiga orang ke rumahnya, dan Nabi menambahkan undangan sepuluh orang lainnya. Mereka yang diundang itu langsung menuju rumah Abu Bakar r.a. Ia berpesan kepada anaknya, Abdurrahman agar menjamu para tamu itu, karena ia harus menemani Nabi SAW di masjid sampai shalat isyak dan makan malam bersamanya.

Abu Bakar r.a pulang agak larut malam, dan mendapat teguran istrinya, “Mengapa kamu menerlantarkan tamumu?” Sebelum menjawab, Abu Bakar justru bertanya, “Apakah mereka sudah dijamu?” “Mereka tidak mau makan yang sudah saya hidangkan sampai engkau pulang,” Jawab sang istri. Ketika Abu Bakar r.a datang, Abdurrahman bersembunyi, takut dimarahi sang ayah, karena para tamu menolak makan yang sudah disiapkan. Benar, Abu Bakar memanggil dengan nada kesal, “Wahai si dungu, kenapa tamu tidak segera diberi jamuan.” “Ayah, mereka menolak makan jika tidak bersamamu,” jawab Abdurrrahman. Abu Bakar r.a lalu mempersilakan tamunya menikmati hidangan, sedangkan dia sendiri bersumpah tidak akan makan, karena baru saja makan bersama Nabi. Abu Bakar r.a baru membatalkan sumpahnya dan bersedia makan bersama setelah mereka bersikukuh hanya makan jika ditemani tuan rumah. Ia berkata, “Sumpah saya tadi terucap karena pengaruh setan.”

Ketika melayani para tamu, Abdurrahman berkata, “Demi Allah, saya menyaksikan keajaiban. Setiap kami mengambil makanan, selalu ada makanan baru di bawahnya, sehingga semua tamu puas. Bahkan makanan yang tersisa jauh lebih banyak daripada semula. Abu Bakar r.a juga heran dan bertanya kepada istrinya, “Wahai keturunan Bani Firas (panggilan untuk istrinya yang keturunan marga Firas), “Apa yang sedang terjadi?” Sang istri menjawab, “Aku sangat senang melihat hidangan ini menjadi tiga kali lipat banyaknya daripada ketika disuguhkan sebelumnya.” Abu Bakar r.a mengambil sedikit makanan untuk diberikan kepada Rasulullah yang sedang mengadakan rapat penandatanganan perjanjian dengan non-muslim. Setelah rapat, Abu Bakar menghidangkan makanan untuk mereka yang telah dibagi menjadi 12 kelompok yang masing-masing terdiri dari sejumlah orang yang hanya Allah SWT yang tahu. Ajaib, mereka semua bisa makan dari sisa makanan yang sedikit tadi” (HR. Muttafaq ‘Alaih).

Karamah juga disediakan untuk Anda, tidak hanya untuk pemuda gua, Maryam dan Abu Bakar r.a. Jika Anda ingin mempersunting karamah, tidak perlu Anda berdoa memintanya. Jika Anda terus menerus meningkatkan keimanan dan mengharumkan budi pekerti, yakinlah Allah akan memberi Anda karamah secara mengejutkan. Jika Anda menginginkan kupu-kupu, tidaklah perlu Anda mengejarnya. Cukup tanamlah bunga-bunga yang indah di taman, maka rombongan kupu-kupu yang berwarna warni akan datang menghampirinya.” Selamat berkompetisi memersunting karamah, dan saya yakin, Andalah pemenangnya.

            Referensi: (1) Al Nawawy, Abu Zakariya, Yahya bin Syaraf,  Riyadush Shalihin,  CV. Thoha Putra, Semarang, 1981, p. 368-373  (2) As Shiddiqy, Muhammad bin ‘Allan, Dalilul Falihin, darul Kutub Al Ilmiyah, Bairut Libanon, tt.  juz IV: 273.