Header

CUCI DARAH DENGAN SAJADAH

August 3rd, 2015 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

CUCI DARAH DENGAN SAJADAH
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://www.lkc.or.id/wp-content/uploads/2012/06/hemodialysis-300x228.jpg

sumber gambar: http://www.lkc.or.id/wp-content/uploads/2012/06/hemodialysis-300×228.jpg

“Dan sungguh pasti Kami akan selalu menguji kamu dengan sedikit ketakutan, (sedikit) kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Al Baqarah [02]:155-157).

Pada ayat sebelumnya, Allah SWT berbicara tentang perintah 2-S yaitu sabar dan shalat untuk menghadapi apapun cobaan hidup. Selanjutnya pada ayat ini, sebagaimana dikutip di atas, Allah SWT menjelaskan jenis-jenis cobaan tersebut dan hadiah kebahagiaan bagi mereka yang sabar menghadapinya.

Dan sungguh, pasti Kami selalu memberi cobaan kepadamu…” merupakan sumpah Allah yang ditujukan kepada semua manusia. Tidak pandang bulu apakah Anda orang shaleh atau tidak, hidup berlimpah pahala atau bergelimang dosa. Siapapun Anda akan mengalami cobaan hidup berupa ketakutan terhadap sesuatu yang tidak diinginkan, kegalauan dalam persoalan ekonomi, kesehatan dan kematian. Termasuk kematian orang-orang yang Anda dicintai. Yang berbeda di antara kita hanyalah tingkat kecemasan dan cara-cara menyikapinya.

Sedih dan cemas merupakan bawaan manusia, termasuk para nabi. Nabi SAW meneteskan air mata ketika anak laki-laki yang dicintainya, Ibrahim meninggal dunia. Demikian juga ketika ditinggal wafat Khadijah, istri yang sangat setia, dan Abu Thalib, paman yang selalu pasang badan melawan orang-orang kafir yang menyerangnya. Dalam perang Uhud, Nabi SAW juga sedih ketika melihat paman yang merawatnya sejak kecil, Hamzah bin Abdul Muthalib bersimbah darah di depannya. Tapi, kesedihan Nabi SAW tidak berlangsung lama, apalagi sampai mengurangi semangat hidup. Kesedihan yang berlarut-larut menunjukkan kerapuhan iman. Tidak hanya itu, kesedihan yang seperti itu pasti akan merusak kesehatan dan menularkan virus kesedihan pada orang di sekitarnya. Sadarlah, jika Anda tidak bisa memberi kebahagiaan orang, jangan menularkan kesedihan kepadanya. Apapun musibah yang ada, Anda harus menghapusnya dengan membaca “Inna lillahi wa innaa ilaihi raji’uun” (QS. 02: 156). Terjemah bebasnya, “Sungguh, badan, harta, suami, istri, dan putra putriku, semua milik Allah, bukan milikku. Juga nyawaku. Aku tidak bisa menghalangi Pemilik semua itu melakukan apa saja. Semua keputusan-Nya pasti yang terbaik untukku. Aku dan semua keluargaku pasti akan kembali kepada Allah pada saat yang telah ditentukan-Nya.”

Allah SWT menjelaskan secara detail macam-macam cobaan hidup (QS.2: 155) agar Anda tidak terkejut ketika mengalaminya. Ayat tersebut juga difirmankan Allah SWT setelah ayat perintah sabar dan shalat, agar dengan dua modal itu Anda telah siap lahir batin menghadapinya. Jika Anda telah menempa iman yang membaja melalui shalat yang penuh penyerahan, Anda pasti tetap tenang dan tegar menghadapi cobaan, sebab Anda telah menyiapkan payung sebelum hujan atau telah membangun pondasi bangunan yang kokoh sebelum gempa dahsyat menggoncangnya. Anda sedih sejenak, itu wajar sebab Anda bukan malaikat. Tapi beberapa detik kemudian, Anda harus menunduk mengucapkan “Inna lillahi wa innaa ilaihi raji’uun.” Itulah tanda kedekatan dan penyerahan manusia kepada Tuhannya. (QS. Al Baqarah [02]: 156).

Jika Anda bisa mengucapkan kalimat istirja’ (inna lillahi wainna ilaihi raji’uun) sepenuh hati, tidak hanya dengan lidah seperti anak TK, maka Allah sangat senang dan bangga melihat wajah Anda, lalu memberi Anda tiga bonus termahal, yaitu shalawat dari Allah (perlindungan-Nya), rahmat-Nya, dan petunjuk-Nya, yaitu petunjuk jalan kebenaran, sekaligus petunjuk jalan keluar dari masalah yang dihadapi (QS. 02:157).

Salah satu cobaan hidup adalah penyakit, lebih-lebih yang dialami oleh orang yang merupakan tulang punggung ekonomi satu-satunya dalam keluarga. Tidak hanya berat baginya, tapi juga bagi keluarga yang merawatnya sekaligus mengambil alih tugas pencarian nafkah dan biaya berobat. Hanya orang-orang pilihan yang tetap senyum menghadapi cobaan itu dan mengucapkan kalimat istirja’ dengan penuh keriangan. Orang pilihan Allah sangat sadar bahwa mengeluh merusak keimanan sebab ia mendatangkan murka Allah. Allah akan mengatakan kepada orang yang mengeluh, “Jika mengeluh dan protes kepada keputusan-Ku, carilah Tuhan alternatif selain Aku!”

Berikut ini adalah firman Allah dalam sebuah hadits qudsi yang saya yakini dapat mempercepat Anda menjadi manusia pilihan. ‘Atho bin Yasar mengatakan Rasulullah SAW bersabda, “Ketika ada orang sakit, Allah mengutus dua malaikat kepadanya dan memerintahkan, “Perhatikan apa yang dia ucapkan kepada para penjenguknya. Jika ia mengucapkan syukur dan menyanjung Allah ketika para penjenguknya datang, maka dua malaikat itu segera mengirimkan laporan kepada Allah Azza Wajalla dan sebenarnya Allah Maha Mengetahui hal itu. Lalu Allah berfirman, “Wajib bagi-Ku untuk hamba-Ku itu, jika Aku mewafatkannya, untuk memasukkannya ke surga. Dan jika Aku memberi kesembuhan kepadanya, Aku akan mengganti dagingnya dengan daging yang lebih baik dari dagingnya sekarang dan darah yang lebih baik dari darahnya sekarang, dan akan Aku hapuskan seluruh dosanya.” (HR. Imam Malik dalam Al Muwaththa Juz 2 p. 940, hadis nomor 05)

            Jika Anda tetap ikhlas, tidak mengeluh menghadapi penyakit (tentunya setelah berobat dengan maksimal), maka Anda mendapat empat kehormatan dari Allah. Pertama, Allah mengirim dua malaikat selain malaikat pencatat perbuatan manusia yaitu Raqib dan Atid, dengan tugas khusus melaporkan apa saja yang Anda ucapkan dalam menyikapi penyakit itu. Kedua, Allah menghapus semua dosa Anda sampai habis seperti pohon yang bersih dari daun-daun tua yang berguguran, atau seperti si baby yang baru saja keluar dari perut ibunya. Ketiga, Allah memberi dua hadiah besar, yaitu surga jika Allah memutuskan Anda wafat pada saat-saat sakit itu. Itulah tanggal kematian yang terbaik menurut Allah. Keempat, jika Anda diberi kesembuhan, maka Anda menjadi manusia baru, karena Allah telah mencuci darah dan daging Anda. Daging dan darah Anda telah diganti dengan daging dan darah yang baru, yang belum ternoda dengan sedikitpun dosa. Pembaca yang sedang mengalami ujian berat! bersujudlah yang lama untuk menyatakan senang dan sama sekali tidak mengeluh dengan ujian yang Anda hadapi. Jangan angkat kepala sebelum Anda mengucapkan “radlitu billahi rabba” (sungguh, aku senang dan tidak mengeluh kepada perintah dan larangan-Mu, dan sangat senang menerima apapun cobaan dari-Mu). Selamat mencuci darah dan daging dengan sajadah. (Sumber: Moh. Ali Aziz, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, p. 167; Hamka, Tafsir Al Azhar Juz II: 20; M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah Vol 1: 435; Muhammad ‘Awwaamah, Minas Shihah Al Ahadits Al Qudsiyyah: Mi’ah Hadits Qudsi Ma’a Syarhiha (Seratus Syarah Hadis Qudsi), Noura Books, Jakarta Selatan 2013, p. 510)

KELUARGA BERARAH DENGAN SHALAT TENGAH
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sujud“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat tengah. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk.” (QS. Al Baqarah [02]:238)

Pujangga Perancis, Voltaire ketika membaca Al Qur’an pertama kali mengatakan, urutan ayat-ayat Al Qur’an sangat kacau. Tetapi, setelah dipelajari secara tenang dan mendalam, ia baru menemukan pesona sistematika ayat-ayatnya. Anda bisa memahami kegalauan Voltaire tersebut jika memahami ayat di atas dalam kaitannya dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya.

Ayat-ayat sebelumnya (ayat 221-237) berbicara tentang pernikahan, talak, maskawin, menyusui anak, masa tunggu (‘iddah) bagi wanita yang ditinggal mati suaminya, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kehidupan keluarga. Dan terbanyak berbicara tentang perceraian. Tiba-tiba saja ayat ini berbicara tentang shalat, lalu ayat berikutnya (ayat 239-241) berbicara lagi tentang perceraian dan kematian.

Ahli tafsir, Sayyid Quthub dalam tafsirnya cetakan pertama mengatakan, ia belum menemukan hubungan logis antara ayat-ayat di atas. Ia lalu memohon sumbangan pikiran dari para pembaca. Tapi, pada tafsir cetakan kedua, beliau sudah menemukan jawabannya, bahwa pernikahan, hubungan seksual suami istri, urusan keturunan, perceraian, iddah, rujuk kembali setelah perceraian, kewajiban nafkah, pemberian hadiah (mut’ah) untuk istri yang ditalak, menyusui anak dan menyapihnya, semuanya merupakah ibadah yang terkait dengan sesama manusia. Maka shalat sebagai ibadah tertinggi dijelaskan di tengah deretan ayat-ayat tersebut untuk menggambarkan satu kesatuan ibadah antara sesama manusia dan ibadah kepada Allah. Demikianlah Al Qur’an mengaitkan segala aktivitas manusia dengan Allah walaupun sepintas terlihat aktivitas tersebut tidak berkaitan dengan ibadah (Quraish Shihab, 2012 Vol. I: 625).

Kaitan ayat-ayat tersebut bisa juga dijelaskan bahwa kehidupan rumah tangga selalu disertai aneka problem yang menggangu ketenangan hati. Seringkali masalah-masalah itu membuat anggota keluarga kehilangan kesabaran dan terpancing berucap, bersikap dan bertindak yang tidak terpuji, bahkan kadang-kadang suami istri terbawa emosi melakukan pelanggaran agama secara serius. Misalnya memukul, mengungkit-ungkit pemberian dan menyampaikan daftar kesalahan masing-masing, lalu berujung pada kata-kata yang menjurus pada perceraian. Oleh sebab itu, semua anggota keluarga harus menguatkan daya redam dan penyejuk hatinya dengan shalat khusyuk agar masing-masing pihak bisa mengendalikan diri, sehingga kapal keluarga tidak tenggelam di tengah bahtera, meskipun gelombang dan badai menerpanya.

   Ayat ini berisi perintah melaksanakan shalat dengan gerakan dan bacaan yang sempurna (hafidhu) dan perintah menghadirkan hati ketika shalat (qanitin), terutama shalat tengah (wustha). Imam As Syaukani mengutip sebanyak 18 pendapat ulama yang berbeda-beda tentang makna shalat tengah. Tapi, menurut pendapat terbanyak shalat tengah adalah shalat Ashar, karena berada di antara semua urutan waktu shalat lainnya, mulai dari shubuh, dhuhur, maghrib dan Isyak.

Jika dikaitkan dengan kehidupan rumah tangga, maka shalat ashar amat menentukan keharmonisan atau kehancuran rumah tangga. Waktu ashar sampai maghrib adalah waktu dimana orang sudah sangat lelah setelah bekerja seharian. Apalagi suami istri sama-sama berkarir di luar rumah atau pekerja berat. Itulah saat-saat mereka sensitif emosinya sehingga mudah tersinggung dan marah. Mereka sama-sama meminta perhatian di saat mereka sama-sama dalam kelelahan fisik dan mental. Perhatikan firman Allah, ..“..dan (peliharalah) shalat tengah. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu´.”  Pada saat itulah mulut harus diberi cahaya ketuhanan dengan berwudlu dan bacaan-bacaan mulia selama shalat agar tidak mengeluarkan perkataan yang menyesakkan dada anggota keluarga. Pikiran dan hati harus dijernihkan dengan rukuk dan sujud panjang dan khusyuk agar dapat berfikir positif dan kuat untuk mengendalikan diri.

Sebagian ulama mengartikan shalat tengah dengan shalat subuh, sebab ia berada di antara shalat maghrib, isya’, dhuhur dan ashar. Shalat maghrib disebut shalat pertama sebab maghrib adalah awal hari dalam hitungan tahun Islam. Budaya Jawa juga menghitung malam sebagai awal hari. Jika shalat shubuh dipandang shalat tengah yang harus diperhatikan di tengah pembicaraan masalah-masalah rumah tangga, maka shubuh adalah waktu di mana fisik dan pikiran orang sangat fresh setelah istirahat semalam dan shalat berjamaah. Itulah saatnya masing-masing pihak dalam rumah tangga saling introspeksi, saling mengalah dan saling memaafkan, dan itulah kunci utama untuk menjaga keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga.

Jika shalat tengah adalah shalat ashar dan shubuh, sebagaimana pendapat Al ‘Allamah Ibnu Abi Jamrah dalam kitabnya Bahjah Al Nufus (Juz I: 203), maka hadis qudsi berikut ini semakin menyemangati kita untuk lebih memperhatikan kekhusyukan kedua shalat tersebut.

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَتَعَاقَبُوْنَ فِيْكُمْ مَلَائِكَةٌ بِالَّيْلِ وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُوْنَ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ وَصَلَاةِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِيْنَ بَاتُوْا اَوْكَانُوْا فِيْكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ وَهُوَاَعْلَمُ بِهِمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فَيَقُوْلُوْنَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ وَاَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ رواه البخارى

Rasulullah SAW bersabda, para malaikat penjaga malam dan penjaga siang silih berganti mengawasi kalian. Mereka berkumpul pada saat shalat subuh dan shalat ashar. Lalu para malaikat yang mengawasi kalian sepanjang malam naik ke langit. Allah bertanya kepada mereka, dan Allah sebenarnya lebih mengetahuinya, “Bagaimana kalian meninggalkan hamba-hamba-Ku? Mereka menjawab, “Kami meninggalkan mereka dalam keadaan sedang shalat dan kami mendatangi mereka juga dalam keadaan shalat.” (HR. Al Bukhari dari Abu Hurairah r.a)

Malaikat yang disebut dalam hadis di atas adalah malaikat yang secara khusus mengawasi shalat manusia selain Malaikat Raqib dan Atid yang bertugas mencatat perbuatan manusia secara keseluruhan. Mereka terbagi menjadi dua kelompok yaitu pengawas siang dan kelompok pengawas malam. Dua kelompok itu berkumpul setiap ashar dan shubuh, waktu pergantian jadwal pengawasan. Mereka menjadi saksi atas kesungguhan shalat setiap orang khususnya shalat ashar dan shubuh. Persiapan shalat, menunggu shalat berjamaah, dzikir dan bincang-bincang santai untuk menyegarkan suasana keluarga, saling memberi kritik usai shalat ashar dan shubuh termasuk dalam kategori shalat yang dilaporkan oleh malaikat itu.

Jika kedua shalat itu dijalankan dengan benar, maka semua malaikat akan menjadi saksi keimanan Anda. Jangan lupa, setelah persaksian itu, malaikat juga memintakan ampunan dan rahmat Allah untuk Anda. Wahai saudaraku yang sedang dirundung masalah dalam rumah tangga, mulai sekarang kendalikan pikiran, mulut dan tangan Anda dari hal-hal yang semakin menambah runyamnya masalah, khususnya pada senja menjelang maghrib. Lakukan shalat shubuh berjamaah dengan istri, suami dan anak-anak. Rukuk dan sujudlah yang lama untuk meminta ampunan dan petunjuk Allah, lalu saling berpeluklah sambil meminta maaf dan berjanji untuk memperbaiki diri. Apa yang Anda lakukan akan terekam dalam kamera para malaikat, lalu mereka mendoakan Anda. Cahaya shubuh adalah cahaya persaksian. Allah SWT berfirman, “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sungguh shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)” (QS. Al Isra’ [17]:78). Sambutlah terbitnya fajar dan matahari dengan terbitnya harapan baru rumah tangga Anda.

Sumber: Hamka, Tafsir Al Azhar Juz II: 247; M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah Volume 1: 625; Muhammad ‘Awwaamah, Minas Shihah Al Ahadits Al Qudsiyyah: Mi’ah Hadits Qudsi Ma’a Syarhiha (Seratus Syarah Hadis Qudsi), Noura Books, Jakarta Selatan 2013, p. 282-287.

BERAGAMA DENGAN CERIA

March 19th, 2015 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

BERAGAMA DENGAN CERIA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

smile muslim“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu, Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rasulullah itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah pelindung terbaik dan penolong terbaik (pula).” (QS. Al Haj [22]:78)

Tulisan ini ini hanya menjelaskan penggalan dari ayat yang tercetak tebal dalam terjemah ayat di atas, “..dan Dia (Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” Tentu Anda masih ingat tulisan saya sebelumnya, “Hidup Biasa dengan Ibadah Ekstra.” Sebaiknya Anda membacanya ulang sebab sangat terkait dengan tulisan ini. Uraian ini ditulis sebagai respon atas komentar negatif yang disampaikan oleh orang-orang yang memandang Islam sebagai ajaran yang terlalu banyak aturan sehingga menyempitkan gerak kehidupan. Mereka merasa kehilangan kenyamanan atau kebebasan hidup karena kungkungan nilai-nilai agama yang ketat. Allah SWT Maha Mendengar ucapan mereka dan menurunkan wahyu yang berbunyi:

طه ١ مَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لِتَشۡقَىٰٓ ٢ إِلَّا تَذۡكِرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰ ٣

“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah. Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).” (QS. Thaha [20]: 1-3)

Firman Allah ini diawali dengan Thaahaa, salah satu nama atau predikat Nabi SAW, yaitu singkatan dari thahir (orang yang bersih dari dosa) dan hadi (orang yang memberi pencerahan agama). Oleh sebagian ulama, thaaha dikaitkan dengan pribadi Nabi SAW karena kata itu terdiri dari huruf tha yang dalam hitungan Arab berarti angka 9 dan ha yang berarti 5 sehingga berjumlah 14. Tanggal 14 adalah awal dari puncak cahaya bulan purnama yaitu tanggal 15, dan Nabi SAW dipanggil dengan bulan purnama (al badar). Dengan demikian, firman Allah ini secara tidak langsung mengingatkan Nabi agar mengajarkan agama yang memudahkan orang dan menjauhkan mereka dari hidup yang susah karena Islam.

Surat Thaaha ini turun ketika banyak pengikut Nabi SAW disiksa oleh orang-orang kafir di Mekah. Mereka lalu mengejek Islam sebagai agama yang mendatangkan penderitaan pengikutnya. Maka ayat ini membantah tuduhan orang kafir Mekah tersebut,”Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah.” Sebagian ahli tafsir memberi penjelasan berbeda, bahwa ayat ini turun ketika ada seorang sahabat yang memaksakan diri untuk terus beribadah padahal ia sudah kelelahan, sebagaimana akan dijelaskan pada bagian akhir tulisan ini.

Allah SWT juga menegaskan keceriaan dalam beragama dalam ayat yang lain, yaitu:

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.“ (QS. Al Baqarah [02]:185)

Muhammad bin ‘Allan As Shiddiqy, penulis kitab Dalilul Falihin menulis satu bab yang berjudul Bab Al Iqtshad fit Tha’ah (Pembahasan tentang Beragama secara Moderat). Ia mengatakan, “Orang beragama bagaikan orang yang melakukan perjalanan yang sangat jauh dengan banyak bekal di punggungnya. Jika ia berjalan dengan cepat dan memaksakan diri agar lekas sampai tujuan, maka dipastikan ia kelelahan dan tidak akan sampai ke tujuan.”

Pada zaman Nabi SAW, ada peristiwa yang menarik. Seorang penduduk desa pedalaman menemui Nabi SAW. Beliau lupa siapa pria yang datang tersebut. Lalu lelaki itu berkata, “Saya orang yang masuk Islam setahun silam, dan sejak itu saya tidak pernah makan di siang hari.” Nabi SAW lalu berkata, “wa man amaraka an tu’adzdziba nafsaka? (Siapa yang menyuruhmu menyiksa diri sendiri?”

Nabi SAW juga pernah bersabda, “Sungguh, agama itu mudah (yusrun). Siapapun yang mempersulit (pelaksanaan) agama, ia akan kalah. Maka sedang-sedang sajalah kalian (saddidu), berdekat-dekatlah (wa qaribu), dan bergembiralah (wa absyiru), serta mintalah pertolongan Allah di waktu pagi, sore dan sedikit di malam hari” (HR Bukhari dari Abu Hurairah r.a)

Imam Al Karmany menjelaskan arti hadis di atas secara rinci. Menurutnya, kata yusrun dalam hadis di atas artinya Islam itu sangat mudah. Oleh sebab itu, siapapun yang mempersulit diri dalam menjalankan agama, ia akan gagal mencapai kesempurnaan sebagian atau keseluruhan ibadahnya. Perintah Nabi SAW, “saddidu (sedang-sedang sajalah)” artinya jalankan agama dengan sedang-sedang saja dengan prinsip kemudahan asalkan tidak melanggar aturan yang baku. Sedangkan kata wa qaribu (berdekat-dekatlah)” artinya, jika Anda tidak bisa menjalankan agama secara ideal, maka berupayalah mendekati yang ideal itu.

Imam Al Karmany lebih lanjut menjelaskan bahwa sabda Nabi SAW, “wa absyiru (bergembiralah)” artinya kerjakan agama dengan sukacita. Bergembiralah dengan pahala Allah atas ibadah yang Anda kerjakan dengan konsiten dan kontinyu sekalipun kecil. Mintalah pertolongan Allah agar tetap menjalankan ibadah dengan sukacita agar tidak merasa bosan. Orang yang tidak mengerjakan agama dengan riang hati, ia akan jemu dan merasa lelah, seperti musafir yang kelehan di jalan dan tidak sampai tujuan.

Anas bin Malik r.a bercerita, suatu ketika Nabi SAW memasuki masjid dan beliau melihat tali yang terbentang antara dua tiang. Beliau bertanya, “Ini tali apa?” Para sahabat menjawab, “Ini tali yang diikat oleh Zainab untuk pegangan shalat ketika ia sudah lelah. Maka Nabi SAW bersabda, “Li yushalli ahadukum nasyathahu, fa idza fatara fal yarqud (hendaklah seseorang shalat dalam keadaan segar. Jika lelah, maka hendaklah ia tidur dulu).”

Dalam Al Qur’an, Allah SWT menekankan beberapa kali prinsip kemudahan beragama tersebut, antara lain pada beberapa ayat yang disebut di atas. Renungkan kembali penggalan firman Allah di atas, yaitu:

“…dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al Haj [22]:78).

Islam diturunkan untuk membahagiakan Anda, bukan untuk menyusahkan Anda, maka raihlah kebahagiaan itu dengan pengamalan agama dengan sukacita. Jika ada ajaran yang menurut Anda menyusahkan, maka pastikan cara pandang Anda yang salah karena mungkin berdasar hawa nafsu, bukan dengan akal sehat. Atau karena pengetahuan Anda yang sempit atau karena penafsiran yang keliru. Kerjakan perintah Allah semampu Anda dan Allah SWT pasti Mahatahu kesulitan dan semangat Anda. Jika Anda beragama dengan dukacita, bagaimana mungkin Anda bermuka ceria dan menebar kasih kepada sesama, dan mungkinkah ada orang lain tertarik pada agama Anda?

Sumber: Muhammad bin Allan As Shiddiqy, Dalilul Falihin Juz I, p. 281; An Nawawi, Riyadlus Shalihin I: 145, Hamka, Tafsir Al Azhar Juz 16 p. 118; M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah vol. 7 p. 548