Header

PINEAL THERAPY: PENYEMBUHAN DENGAN SUJUD PANJANG
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)” (QS. Al ‘Alaq [96]:19).

sumber gambar: http://www.mypinealgland.com/uploads/1/2/6/9/12698963/96925_orig.jpg

sumber gambar: http://www.mypinealgland.com/uploads/1/2/6/9/12698963/96925_orig.jpg

Ayat di atas mengingatkan Anda agar jangan sekali-kali mengikuti lintasan pikiran atau ajakan orang yang negatif, sebab setiap dosa akan mendatangkan penderitaan. Sebaliknya, Anda diperintah untuk bersujud dan lebih mendekat kepada Allah agar Anda mendapat bimbingan dan kebahagiaan.

Ayat ini tidak bisa dipisahkan dengan ayat-ayat sebelumnya yang menjelaskan pada setiap kepala manusia terdapat ubun-ubun (nashiyah atau frontal lobe) yang berisi sejumlah pusat neurotis yang merupakan pusat tertinggi di antara pusat-pusat konsentrasi, berpikir, dan memori. Menurut Prof. Muhammad Yusuf Sakr tugas frontal lobe adalah mengarahkan setiap keputusan manusia, apakah Anda akan berbohong atau jujur, memberi atau meminta, shalat atau tidak dan sebagainya. Bagian tulang depan tempat otak itulah yang Anda ratakan di tanah untuk bersujud. Otak Anda benar-benar anugerah Allah sebab ia menjaga dan mengendalikan semua fungsi organ tubuh dari berbagai gangguan termasuk penyakit.

sumber gambar: http://2.bp.blogspot.com/-RXDrgFmoBMg/U1kRdNyriwI/AAAAAAAAC7o/nGC0VY8Va1o/s1600/IMG-20140314-WA0039.jpg

sumber gambar: http://2.bp.blogspot.com/-RXDrgFmoBMg/U1kRdNyriwI/AAAAAAAAC7o/nGC0VY8Va1o/s1600/IMG-20140314-WA0039.jpg

Dalam otak Anda ada juga yang disebut pineal gland (kelenjar pineal) yaitu organ amat kecil seukuran beras (5-8 mm) berbentuk kerucut berwarna abu-abu kemerahan yang terletak di pusat otak, searah dengan titik di dahi antara dua mata, yang jika disambung maka akan berbentuk segitiga. Kelenjar inilah yang sering disebut “mata ketiga” atau “pusat jiwa” atau “indera keenam” karena kemampuannya menembus hal-hal metafisis dan spiritual. Semakin kuat indera ini, semakin mudah dan indah Anda berkomunikasi dengan Tuhan dan makhluk-makhluk lainnya. Kelenjar pineal dapat menghancurkan berbagai penyakit yang menyerang. Bahkan menurut Dr. Iftachul ‘ain Hambali (2011), otak Anda dapat menghasilkan lebih dari 50 macam obat alami yang tiga kali lebih hebat dari obat-obat sintesis. Kelenjar pineal ini berkembang sejak usia tiga bulan dan puncaknya pada usia 6 tahun.

       Kelenjar pineal terdiri dari sel-sel yang sangat peka terhadap cahaya. Oleh sebab itu, ia hanya bekerja memproduksi hormon melatonin dalam suasana gelap, lebih-lebih pada pukul 23.00-02.00. Pada waktu siang atau malam hari dengan lampu yang terang, mata yang terkena rangsangan cahaya akan melapor ke otak, lalu kelenjar pineal tidak bekerja maksimal. Oleh sebab itu, pekerja malam atau orang yang tidur dengan lampu menyala lebih rentan terkena kanker.

       Kelenjar pineal juga hanya bekerja jika hati Anda senang dan damai. Perasaan ikhlas, tidak mengeluh atas apapun keadaan dapat memacu kelenjar pineal untuk bekerja maksimal memproduksi hormon melatonin dalam jumlah yang besar. Hormon inilah yang dapat mengontrol dan mengendalikan hormon-hormon lain serta mengontrol seluruh proses biologis yang ada. Oleh sebab itu, kelenjar pineal tidak bekerja dengan baik ketika Anda sedang marah, kecewa, menyesali nasib, dendam dan sejenisnya. Semua emosi negatif itu mengurangi produksi hormon melatonin dan meningkatkan produksi hormon serotonin yang akan mengakibatkan penyempitan pembuluh darah dan berakibat pada jantung koroner dan stroke. Stres juga meningkatkan produksi hormon estrogen pada wanita yang menyebabkan kanker payudara.

       Sujudlah yang lama, sebab dalam otak Anda ada beberapa saraf yang tidak dimasuki darah yang sangat dibutuhkan untuk bisa berfungsi secara normal. Dalam posisi sujud, darah mengalir memasuki urat saraf dalam otak yang sedang menunggu aliran darah, ke paru-paru dan jantung. Dr. G. Sauer, ahli penyakit kulit dari Jerman dan Dr. M. Fisbein mengatakan ketegangan jiwa bisa mempengaruhi kualitas kulit dan kecantikan termasuk timbulnya jerawat.

       Anda harus secara rutin berkonsultasi dengan dokter, apalagi ketika sakit. Tapi, menurut pengalaman Lee Lipsenthal MD, berobat ke dokter tidak sepenuhnya mengatasi masalah. Lee Lipsenthal MD adalah direktur medis research institute di California selama tujuh tahun dan penulis internasional bidang kebugaran fisik dan ilmu kedokteran integratif. Lee Lipsenthal MD terkena kanker esophagus bawah dan menurut dokter yang menanganinya, usianya tinggal 18 bulan lagi. Istrinya, Kathy yang juga seorang dokter amat bereperan dalam proses penyembuhannya secara medis dan melalui yoga. Ia mengatakan, “Berdasar pengalamanku melawan kanker dan banyak panyakit yang menyerangku, saya menyimpulkan kesembuhan tidak cukup hanya dengan pil dan peralatan kedokteran yang canggih, tapi harus disertai perubahan mindset secara radikal. Antara lain dengan doa-doa afirmasi, yaitu pernyataan terima kasih dan senang atas semua pemberian Tuhan dan keyakinan akan kepastian kasih dan pertolongan dari-Nya.”

       Dia membenarkan adanya God Spot atau Titik Tuhan (oleh Dr. Vilayanur Ramachandaran) yang secara teknis merupakan angular gyrus kanan dan bagian otak temporal kanan belakang. God Spot merupakan pusat spiritual otak yang membawanya kepada pangalaman luar biasa, keindahan berpisah dengan raga dan bermesra dengan Tuhan. “Jika God Spot ini kita sentuh, maka kita akan merasakan pengalaman baru yang amat menyenangkan. Mungkin saja God Spot tempat tangan Tuhan untuk kita.”

       Lee Lipsenthal MD juga menyarakan, “Lakukan meditasi 5-10 menit dua kali sehari agar Anda lebih mudah mengontrol otak. Meditasi itu membantu mengurangi penderitaan akibat semakin banyaknya harapan duniawi. Bahagia adalah sebuah pilihan. Nikmatilah apa yang ada, bukan apa yang seharusnya ada atau yang mungkin ada.”        Ibrahim El-Fiky (2011) mengatakan setiap hari Anda menghadapi lebih dari 60.000 pikiran. Anda harus mengarahkannya. Jika Anda arahkan kepada hal positif, maka 60.000 pikiran tersebut akan keluar dari memori ke arah positif yang membuat Anda optimis, riang, produktif dan sangat bahagia.

       Potensi otak yang menakjubkan di atas dapat Anda peroleh ketika Anda sujud panjang yang disertai doa afirmasi yang membuat Anda sangat riang, karena merasa dekat dengan Allah dan mendapat jaminan dari-Nya untuk penyelesaian masalah Anda. Ketika Anda bersujud, yang berarti tidak ada lagi cahaya di depan mata Anda dan pada saat yang sama hati tenang dan damai, maka kelenjar pineal akan bekerja maksimal yang amat menentukan kesehatan dan kesembuhan Anda.

       Sujudlah selama dua menit pada setiap sujud pada shalat pagi dan malam hari, maka Anda bisa mengontrol 60.000 pikiran dalam otak Anda dan memperoleh kedahsyatan pengaruhnya untuk kesehatan Anda, melebihi pengaruh yoga seperti yang dilakukan Lee Lipsenthal, disamping Anda mendapat cinta yang lebih dari Allah. Lebih-lebih Anda kerjakan tengah malam waktu puncaknya kerja kelenjar pineal. Perbanyak doa afirmasi daripada doa permintaan sebagaimana doa Nabi Ayyub AS ketika sakit, “Aku benar-benar sakit, tapi Engkau Tuhan yang Paling Pengasih dari semua pengasih.” (QS. Al Anbiyak [21]: 83). Atau dalam bahasa yang lain, “Engkau pasti menyanyangi aku, dan tidak mungkin Engkau membiarkan aku tanpa kasih-Mu dalam mengatasi penyakitku.”

       Dalam sujud panjang itu, ucapkan doa sujud yang baku dari Nabi SAW, lalu sampaikan dalam hati (tidak boleh diucapkan) doa afirmasi berikut ini, “Wahai Allah, aku bersujud untuk berterima kasih dan sangat senang atas semua pemberian-Mu, yaitu ……. (sebutkan satu persatu nikmat Allah yang telah Anda terima). Wahai Allah, aku ikhlas dan tidak sedikitpun mengeluh atas apapun penyakit yang aku rasakan. Aku juga ikhlas dan tidak mengeluh berapapun rizki yang Engkau berikan kepadaku. Aku ikhlas dan tidak mengeluh atas apapun yang hilang dari tanganku. Aku pasrahkan hidup-mati, sehat-sakit, kaya-miskin, sukses-gagal dan segalanya kepada-Mu. Terserah Engkau, sebab aku yakin (x3) semua keputusan-Mu pasti (3) yang terbaik untukku. Dengan kepasrahanku, aku yakin Engkau akan mengambil alih penyelesaian masalahku.”

       Berobatlah, shalatlah dengan sujud panjang, bersenanglah dan raihlah kesembuhan dan kesehatan Anda.

            Referensi: (1) Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, UIN Sunan Ampel Press, Surabaya, cet X, 2015. (2) Lee Lipsenthal MD, Enjoy Every Sandwich, Nikmati Hidup Setiap Hari Seolah Hari Terakhir Kita, Terj. FX Supri Harsono, PT. Gramedia, Jakarta, 2012. (3) Dr. Iftachul ‘ain Hambali Sp. THT, Islamic Pineal Therapy, penerbit Prestasi, Jakarta, cet. I, 2011. (4) Prof. Dr. HM Amin Syukur MA, Sufi Healing, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2012 p. 87. (5) Dr. H. Harjani Hefni, MA, The Seven Islamic Daily Habits, Pustaka Ikadi, Jakarta, Cet. VI, 2013 p. 197. (6) Dr. H. Achmad Zuhdi DH, M.Fil, Terapi Qur’ani, Tinjauan Al Qur’an Al Hadits dan Sains Modern, Imtiyaz, Surabaya, cet. I, 2015 p. 285. (7) Ibrahim Elfik-y, Dr, Quwwat al-Tafkir, Terj. Khalifurrahman Fath dan M. Taufik Damas, Terapi Berpikir Positif, Penerbit Zaman, Jakarta, Cet IX, 2011. (8) Prof. Dr. HM Amin Syukur MA, Kuberserah, Kisah Nyata Survivor Kanker Yang Divonis Memiliki Kesempatan Hidup Hanya Tiga Bulan, Penerbit Noura Books (PT. Mizan Publika), Jakarta Selatan, 2012, cet. II. (9) Masaru Emoto, The Secret Life of Water (Menguak Rahasia Mengapa Air Dapat Menyembuhkan), terj. Susi Purwoko, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2006, cet.

SOUND HEALING, SEMBUHKAN DENGAN AL QUR’AN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: https://novabio16.files.wordpress.com/2009/11/earlrg.jpg

sumber gambar: https://novabio16.files.wordpress.com/2009/11/earlrg.jpg

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al Isra’ [17]:82)

Kajian ayat di atas dipilih setelah terinspirasi Prof. Dr. Amin Syukur, MA, penulis buku Sufi Healing yang bertemu dalam satu meja ujian promosi doktor sebulan yang lalu. Buku yang dia tulis itu menceritakan peristiwa ajaib 10 tahun silam ketika tim dokter yang mengoperasinya memperkirakan usianya tinggal 15 bulan lagi. Ia terkena kanker nasopharynk, bicaranya gagap, dan anggota badan bagian kanannya lumpuh. Sejak itu, ia tiada henti membaca Al Qur’an dan berdzikir. Beberapa bulan kemudian, ia sembuh bahkan lebih sehat daripada sebelumnya, dan sampai sekarang masih aktif memberi kuliah di beberapa perguruan tinggi.

                Guru Besar di UIN Walisongo itu berobat ke dokter mengikuti perintah Nabi SAW yang tersebut pada hadis berikut. Usamah bin Syarik r.a bercerita, “Saya mendatangi nabi SAW dan para sahabat di sekitarnya menunduk seolah-olah ada burung di atas kepalanya. Saya mengucapkan salam lalu duduk. Tiba-tiba datanglah orang Arab pedesaan dan bertanya, “Haruskah kami berobat?” Nabi menjawab, “ya.” Lalu ia bersabda, “Berobatlah kalian sebab Allah tidak menurunkan penyakit melainkan menyertakan obat untuknya, kecuali penyakit yang satu ini yaitu penuaan” (HR. Ahmad). Dalam hadits yang lain, Nabi SAW juga menegaskan penyakit hanya bisa diketahui oleh orang yang ahli sesuai dengan bidangnya.

                Peristiwa Amin Syukur adalah bukti kebenaran firman Allah yang dikutip pada awal tulisan ini bahwa Al Qur’an berfungsi sebagai obat dan rahmat untuk semua orang mukmin. Bukan ayat-ayat yang direndam dalam air dan diminum, tapi yang dibaca dengan lagu yang merdu sampai menimbulkan rasa gembira dan optimisme kesembuhan.

                Kate dan Richard Mucci melaporkan hasil penelitian dalam bukunya, The Healing Sound of Music (2002). Eksperimen dilakukan dengan meminta sejumlah penderita kanker ganas untuk menikmati musik harpa yang dimainkannya. Para dokter terkejut, ternyata beberapa bulan berikutnya mereka sembuh. Menurutnya, akan lebih dahsyat lagi pengaruh musik jika yang memainkannya adalah mereka sendiri. Musik bisa merangsang aktivasi otak dan menimbulkan rasa senang, dan rasa senang inilah yang mempercepat penyembuhan. Menurut Deepak Chopra, “Pikiran bahagia membentuk molekul bahagia, dan pikiran tegang membuka pintu masuknya banyak penyakit termasuk kanker.” Amin Syukur membuktikan dzikir dengan nyaring dapat menenangkan jiwa sekaligus merangsang aktivasi otak melalui indera telinga, apalagi jika disertai dengan pengaturan pernafasan dan visualisasi. Inilah yang disebut sound healing atau al ‘ilaj bis shawt atau penyembuhan melalui suara.

                Peneliti di Mesir juga melakukan lima tahap ekperimen terhadap 210 non-muslim sebagai sukarelawan. Dari riset itu ia menyimpulkan bacaan Al Qur’an dapat menurunkan ketegangan pikiran sampai 65 persen sekaligus menguatkan kekebalan tubuh sehingga terhindar dari beberapa penyakit yang lama ataupun baru.

                Alfred Tomatis, musisi dan dokter asal Prancis mengatakan, pendengaran adalah indera paling penting, sebab ia panglima yang mengatur semua sistem syaraf. Telinga bagian dalam berhubungan dengan jantung, paru-paru, hati dan usus. Frekwensi suara dapat memengaruhi semua organ tubuh. Fabien (1974) menambahkan, suara dapat memengaruhi sel-sel termasuk sel kanker. Suara paling dahsyat pengaruhnya adalah suara dirinya sendiri. Suara memiliki pengaruh terhadap sel-sel dalam tubuh termasuk sel-sel darah, bahkan bisa meledakkan sel kanker dan dalam waktu yang sama mengaktifkan sel-sel dengan baik.

                Menurut teori PNI (Psiko-Neuro-Endokrin-Imunologi), hati yang tenang akan menyebabkan kelenjar mengeluarkan hormon indokrin yang menguatkan imunitas dan kesehatan fisik. Dengan demikian, sel-sel radikal (kanker) akan terhenti dan hilang. Sebaliknya, jika hati seseorang gelisah dan marah maka cairan tubuhnya akan berubah menjadi racun dan imunitas tubuhnya menurun sehingga mudah terserang penyakit.

                Abd al Daim Al Kahiil dalam bukunya, Al Qur’an, The Healing Book mengatakan, semua suara termasuk bacaan Al Qur’an merupakan gelombang yang menyebar ke udara. Getaran frekwensi di udara tersebut lalu menggetarkan gendang telinga, lalu ke saraf pendengaran dan kemudian berubah menjadi gelombang electromagnetic yang diterima otak. Otak selanjutnya melakukan analisis dan memberi perintah ke seluruh tubuh.

                Adz Dzahaby dalam At Thibbun Nabawy mengatakan, “Menyanyi adalah denyut kesenangan yang menguatkan emosi, memperlambat penuaan dan mengusir penyakit.” Bacaan Al Qur’an yang merdu oleh imam shalat dapat menggerakkan gelombang electromagnetic yang menggetarkan kulit dan menenangkan hati makmum dan semua pendengarnya (QS. Al Zumar [39]: 23). Suara kalam ilahi itu juga dapat menggetarkan gunung dan bumi (QS. Al Ra’d [13]:31).

                Jika musik tanpa energi ilahiah bisa memberikan penyembuhan, maka ayat-ayat Al Qur’an pasti lebih dahsyat pengaruhnya, sebab setiap huruf yang masuk ke dalam telinga mengandung minimal sepuluh energi positif. Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab suci Allah, maka dia mendapat satu kebaikan, dan satu kebaikan berlipat sepuluh. Aku tidak menghitung alif lam mim satu huruf, melainkan alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf” (HR. At Tirmidzi).

                Mulai sekarang, jangan lewatkan satu haripun rumah Anda tanpa suara Al Qur’an. Keraskan bacaan Anda dengan irama dan alunan yang membuat hati Anda berbunga-bunga, penuh suka cita. Semoga Anda juga secara bertahap memahami kandungan maknanya. Dari sound healing therapy inilah kita bisa mengerti mengapa Nabi SAW memerintahkan Anda melagukan Al Qur’an, “Bukanlah pengikutku orang yang tidak melagukan Al Qur’an” ( HR. Al Bukhari dari Abu Hurairah r.a). Selamat menyambut kesehatan, ketenangan hati dan limpahan rahmat Allah melalui lagu-lagu Al Qur’an.

Referensi: Prof. Dr. HM. Amin Syukur, MA, Sufi Healing, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2012 p. 87; Dr. H. Achmad Zuhdi DH, M.Fil, Terapi Qur’ani, Tinjauan Al Qur’an Al Hadits dan Sains Modern, Penerbit Imtiyaz, Surabaya, 2015 p. 285; Dr. H. Harjani Hefni, MA, The Seven Islamic Daily Habits, Pustaka Ikadi, Jakarta, Cet VI, 2013 p. 197.

SENYUM PEJALAN SENYUM TUHAN

December 30th, 2015 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

SENYUM PEJALAN SENYUM TUHAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Abdul Syukur alias Pak Tuwek sedang menambal jalan (13/5). Foto: WS Hendro/Jawa Pos

Abdul Syukur alias Pak Tuwek sedang menambal jalan (13/5). Foto: WS Hendro/Jawa Pos

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imran [03]:104)

Pada ayat-ayat sebelumnya dijelaskan bahwa Allah telah menyelamatkan umat Islam yang hampir saja jatuh dalam neraka atau kehancuran dan penderitaan. Sebagai kelanjutan, ayat ini menjelaskan keharusan adanya sekelompok orang yang peduli moralitas lingkungan dengan melakukan amar makruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan menghentikan yang dosa) agar generasi sekarang dan selanjutnya selamat dari bencana yang sama.

Pada ayat di atas terdapat dua kata yang hampir sama maknanya, yaitu al khair (kebaikan yang bersumber dari Al Qur’an) dan al makruf (kebaikan yang bersumber dari kesepakatan komunitas setempat). Ada perbedaan cara pemasyarakatan antara dua kebaikan itu. Allah SWT memerintah kita untuk “mengajak” (yad’uuna) kepada kebaikan (al khair) yaitu nilai-nilai asasi yang bersumber dari Al Qur’an. Ini berarti bahwa untuk memasyarakatkan nilai-nilai Al Qur’an, Anda hanya diperintah untuk “mengajak”, tanpa sedikitpun unsur pemaksaan atau ancaman. Sedangkan untuk penegakan nilai-nilai yang bersumber dari kesepakatan bersama baik yang positif (al makruf) maupun penghentian yang negatif (al munkar), maka pihak pemegang kekuasaan bisa melakukan “perintah” (ya’muruna) bahkan pemaksaan berdasar undang-undang. Juga bisa dilakukan oleh setiap muslim dengan apapun bentuk kekuasaan di tangannya. Oleh sebab itu, setiap muslim harus berusaha menciptakan opini publik tentang nilai kebaikan, sehingga jika suatu saat terjadi pelanggaran nilai-nilai tersebut, semua orang bahu-membahu menghentikannya dan Anda sebagai penganjur kebaikan mendapat dukungan publik secara luas.

Saya yakin Anda penasaran di mana letak keterkaitan ayat ini dengan judul tulisan di atas? Begini, ayat ini berbicara tentang perintah menebar kebaikan dan menghentikan apa saja yang dilarang agama, apalagi yang menimbulkan malapetaka manusia. Dalam Islam, tindakan tersebut disebut amar makruf nahi munkar. Ternyata, menurut Nabi SAW, amar makruf nahi munkar tidak hanya didengungkan di tempat-tempat ibadah dan acara-acara keagamaan melalui ceramah-ceramah agama, tapi juga dilakukan di jalan raya. Sebab kelancaran, kenyamanan dan keamanan di jalan raya menentukan keselamatan jiwa, kegiatan ekonomi, kelancaran silaturahim dan sebagainya. Oleh sebab itu, semua pihak harus melakukan amar makruf nahi munkar di setiap ruas jalan raya.

Bagi Anda yang pernah mengalami kecelakaan di jalan atau terhambat perjalanan ke suatu tujuan sehingga Anda mengalami kerugian finansial atau non-finansial, Anda pasti lebih tertarik untuk mendalami tulisan ini. Apalagi Anda yang mengalami kekerasan fisik atau perampasan hak milik yang dilakukan pembegal atau orang-orang jalanan yang tidak bermoral. Anda bisa mengetahui tingginya perhatian Nabi SAW terhadap moralitas, kenyamanan dan keselamatan di jalan raya dari hadis berikut ini.

Abu sa’id Al Khudry r.a berkata, Nabi SAW bersabda, “Jauhilah duduk-duduk di tepi jalan!” Para sahabat bertanya, “Wahai rasulullah, kami tidak bisa meninggalkannya sebab itu tempat kami membicarakan sesuatu. Rasulullah SAW bersabda:

فَاِذَا اَبَيْتُمْ اِلَّا الْمَجْلِسَ فَاَعْطُوا الطَّرِيْقَ حَقّهُ قالوُا وَمَاحَقُّ الطًّرِيْقِ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ

قَالَ غَضُّ البَصَرِ وَكَفُّ الْاَذَى وَرَدُّ السّلامِ وَالْاَمْرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ

رَوَاهُ الْبُخَارِى وَمُسْلِمٌ

“Jika kalian tidak bisa meninggalkan duduk-duduk di sekitar jalan raya, maka penuhilah hak-hak jalan itu. Para sahabat bertanya, “Apa sajakah hak-hak jalan itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, hak-hak jalan (atau kewajiban kalian di jalan raya) adalah memejamkan mata (dari yang dosa), menjauhkan segala hal yang mengganggu lalu lintas, menjawab salam, menganjurkan yang baik, dan mencegah yang munkar atau dosa (HR. Al Bukhari dan Muslim). Dalam hadis yang lain, Nabi SAW menjelaskan bahwa salah satu bukti keimanan adalah menjauhkan segala sesuatu yang membahayakan atau setidaknya mengurangi kenyamanan pengguna jalan (imathatul adza ‘anit thariq).

Yang dimaksud hak-hak jalan yang disebut dalam hadits di atas adalah kewajiban setiap muslim yang berada di tengah atau sekitar jalan. Ada banyak hadits yang menjelaskan aturan ketertiban di jalan. As Shiddiqi dalam Kitab Dalilul Falihin mengutip pendapat ulama yang menyebutkan 14 kewajiban muslim di jalan berdasar sejumlah hadis Nabi SAW. Lima di antaranya sebagaimana tersebut dalam hadits di atas. Pertama, menghindari pandangan yang dosa, misalnya melihat aurat wanita yang sedang melintasi jalan, sebab hal ini mengundang nafsu birahi dan membuat tidak nyaman bagi yang dipandang sehingga memungkinkan terjadinya kecelakaan. Kedua, menjauhkan hal-hal yang mengurangi kenyamanan dan keamanan jalan. Misalnya parkir kendaraan yang menyusahkan pengguna jalan lain, berjualan di tepi atau badan jalan yang menambah kemacetan, membuat “polisi tidur”; menyirami jalan dengan air selokan. Air kotor itu merusak kesehatan lingkungan dan menjadikan pakaian pelintas jalan najis, membiarkan jalan yang berlubang atau olie yang tertumpah, membuang bangkai hewan di jalan, membuang sampah di jalan, berlalu lintas tidak sopan di jalan, mendahului kendaraan tanpa memberi tanda sehingga mengagetkan pengguna jalan yang lain, menutup akses jalan untuk kegaiatan apapapun tanpa kordinasi dengan petugas pengatur jalan, dan sebagainya. Ketiga, menjawab salam yang diucapkan oleh pelintas jalan. Menurut aturan Islam, orang yang berdiri mendahului pengucapan salam pada yang duduk dan pengendara memberi salam kepada pejalan kaki. Dengan salam ini, dimaksudkan orang di sekitar jalan menambah semarak Islam dan menebar kedamaian (as salam) bersama. Kelima, menyebarkan kebaikan di jalan raya dan menghentikan apapun yang membuat dosa dan kerusakan, misalnya melarang balapan liar jalanan, menghentikan ugal-ugalan di jalan, memerangi pembegal dan sebagainya.

Ketika menulis artikel ini, Allah menakdirkan saya menyaksikan berita mengharukan di televisi, yaitu adanya tukang becak (65 tahun) di Surabaya, Pak Tuwek alias Abdul Syukur yang setiap malam selama sepuluh tahun secara sukarela mengangkut 2-3 kuintal batu atau sisa aspal untuk menambal jalan yang berlubang agar tidak ada pengguna jalan yang terjatuh karenanya. Saya juga teringat, sekelompok orang di Jakarta yang setiap malam berhasil mengumpulkan beberapa kilo paku yang tercecer di jalan agar tidak ada ban kendaraan yang bocor karenanya.

Jika Anda telah melakukan perintah Allah dan Rasulullah sebagaimana dikutip di atas, maka Anda telah menjadi muslim penebar sedekah di jalan. Anda telah membuat senyum pengguna jalan dan percayalah Allah tersenyum dengan apa yang Anda lakukan. Adakah kebahagiaan melebihi senyum Allah untuk Anda? (Sumber: An Nawawi, Riyadus Shalihin, juz 1: p.193; As Shiddiqy, Dalilul Falihin, juz 1, p. 358; Hamka, Tafsir Al Azhar Juz IV, p. 27-34; M. Qurasih Shihab, Tafsir Al Misbah Vol 2, p. 208-210)