Header

KELUARGA DENGAN KETEGARAN AKIDAH

July 9th, 2021 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

KELUARGA DENGAN KETEGARAN AKIDAH
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

لَّا تَجِدُ قَوۡمٗا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ يُوَآدُّونَ مَنۡ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوۡ كَانُوٓاْ ءَابَآءَهُمۡ أَوۡ أَبۡنَآءَهُمۡ أَوۡ إِخۡوَٰنَهُمۡ أَوۡ عَشِيرَتَهُمۡۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلۡإِيمَٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٖ مِّنۡهُۖ وَيُدۡخِلُهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ رَضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ أُوْلَٰٓئِكَ حِزۡبُ ٱللَّهِۚ أَلَآ إِنَّ حِزۡبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ 

“Kamu tak akan menjumpai sekelompok orang yang beriman pada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, meskipun mereka itu bapak, atau anak, atau saudara, atau pun keluarga dekat mereka. Mereka itulah orang-orang yang diberi kemantapan iman oleh Allah dalam hati mereka dan dikokohkan dengan pertolongan dari-Nya. Dan mereka dimasukkan Allah ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, merekadan kekal di dalamnya. Allah senang terhadap mereka, dan mereka juga  puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah hizbullah atau golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sungguh hizbullah itu adalah kelompok orang yang berbahagia. (QS. Al Mujadilah [58]: 22)

Pada ayat sebelumnya, Allah menjelaskan sifat orang-orang yang menentang Islam. Sebagai kelanjutan, ayat ini mengingatkan untuk tidak mengikuti prilaku mereka, meskipun mereka keluarga terdekat. Kita boleh menyayangi keluarga terdekat yang kafir, asalkan kasih itu tidak sampai ke tingkat “mawaddah,” yaitu kasih yang menghalangi kita bertindak tegas dalam akidah.

Melalui ayat ini, Allah memberi apresiasi para sahabat yang mengasihi keluarganya yang kafir, tapi tegas dan keras jika keluarga itu menunjukkan perlawanan fisik terhadap umat Islam. Antara lain, Abu Ubaidah ibnul Jarrah, r.a yang membunuh ayahnya pada perang Uhud; Abu Bakar, r.a yang meladeni tantangan putranya yang tertua, Abdurrahman dalam perang Badar, walaupun batal karena dicegah Nabi; Mush’ab bin Umair r.a yang membunuh saudaranya di medan perang; Sa’ad bin Abi Waqqash, r.a yang mengejar saudaranya, walaupun tak berhasil membunuhnya; dan masih banyak lagi.    

Anda akan lebih mudah memahami ayat ini jika Anda membaca kisah Abu Ubaidah ibnul Jarrah, r.a. Ia adalah salah satu sahabat yang mendapat jaminan masuk surga. Pria yang berbadan kurus tinggi, ompong, berjenggot tipis, dan pelit bicara ini tak pernah absen berdakwah dan berperang. Dan, yang paling membanggakan adalah ketika ditunjuk Nabi sebagai panglima perang, di mana Abu Bakar dan Umar termasuk di antara pasukannya.

Dalam perang Uhud, si ompong mengawal Nabi ke mana pun pergi. Ketika hujan panah di arahkan ke muka Nabi, dua pecahan besi pelindung kepala menancap di pipinya. Maka, ia meminta ijin Abu Bakar r.a, agar ia diijinkan mencabut dua pecahan besi itu satu persatu. Setiap berhasil mencabut besi itu, satu giginya ikut terlepas. Sejak dua gigi manisnya lepas itulah, ia terkenal dengan “si ompong.”

Pada perang Badar, ia menyusup ke tentara musuh, maka ia dikejar sampai jauh. Setelah ia mengambil posisi terbaik untuk menyerang, ia mengayunkan pedangnya ke tengkuk penunggang kuda yang mengejarnya, dan tersungkurlah ia mati seketika. Ternyata, ia adalah ayahnya sendiri, yang bernama Abdullah bin Al Jarrah.

Nabi SAW berkali-kali memujinya. Suatu saat, penduduk Yaman meminta pendakwah, maka Nabi mengatakan, “Sebentar lagi, saya kirim pria paling terpercaya di antara kalian (amiinul ummah), amat dan paling terpercaya.” Para sahabat, termasuk Umar r.a ingin agar dialah yang ditunjuk.  Pada saat shalat zuhur, ketika Nabi mengucapkan salam penutup, Umar menonjol-nonjolkan badannya, agar ditunjuk Nabi sebagai pendakwah itu. Ternyata, Nabi menoleh ke kanan dan kiri, dan menunjuk Abu Ubaidah ibnul Jarrah, r.a.  

Ketika Nabi wafat, Umar mengusulkan Abu Ubaidah sebagai khalifah, sebab ia pernah disebut Nabi sebagai “orang paling terpercaya (aminul ummah).” Tapi, menurut para sahabat, Abu Bakar r.a paling berhak, sebab Nabi pernah menunjuknya sebagai imam ketika beliau sakit. Maka, Abu Bakar terpilih, dan Abu Ubaidah dipercaya sebagai penasihatnya.

Pada masa Umar, ia diminta menyerahkan surat kepada Khalid bin Walid, panglima yang sedang berdarah-darah di medan laga, agar menyerahkan tongkat komando kepadanya. Ia tidak langsung memberikan surat itu, melainkan menunggu sampai waktu yang tepat. Ketika ditanya oleh Khalid, mengapa surat tidak langsung diserahkan kepadanya, ia menjawab, “Aku tidak ingin mematahkan tombakmu. Kita bukan pasukan gila kekuasaan dan status sosial, melainkan gila ibadah. Kita adalah bersaudara karena Allah.”

Sebagai panglima yang berhasil menguasai Syiria, ia dipercaya Umar sebagai gubernur di Syiria. Setiap kali Umar berkunjung ke negeri itu, ia berkali-kali bertanya kepada rakyat, “Mana saudaraku, Abu Ubaidah bin Jarrah.” Ketika singgah di rumah sang gubernur, Umar bertanya, mengapa tak ada satu pun perabot di rumahnya. Ia menjawab, “Itulah yang membuat hatiku tenang, dan terbebas dari pikiran tentang isi rumah.”

Karena keimanan dan perjuangan si ompong itulah, Allah menjamin kedamaian batin, pengawalan malaikat, dan kebahagiaan yang abadi dalam surga. Demikian juga para pejuang yang sejenis. Allah senang terhadap mereka, dan mereka juga senang dengan perlakukan Allah. Tidak ada kebahagian manusia melebihi senyuman Allah untuknya. Tidak lama kemudian, ia wafat, bukan di medan perang, melainkan di rumah karena serangan wabah penyakit menular di negeri itu. Ia dimakamkan di Yordania.

Ayat ini saya uraikan pada masa pandemi dengan dua pertimbangan. Pertama, agar kita terus berusaha membuat sejarah perjuangan yang layak dicatat dalam lembaran emas sejarah. Kedua, wabah penyakit tidak pandang bulu menyerang siapa pun, baik ia dekat atau jauh dari Allah, sebab sebaran wabah adalah sunnatullah.

Sumber: (1) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol. 13, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 512-513 (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 28, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 38-42 (3) Khalid, Muhammad Khalid, Rijalun Haular Rasul (Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah), CV Diponegoro, Bandung, Cet VI, 1988, p. 287-295

DOA SEBAGAI KRITIK DAN SOLUSI

July 2nd, 2021 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

DOA SEBAGAI KRITIK DAN SOLUSI
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

فَإِذَا فَرَغۡتَ فَٱنصَبۡ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرۡغَب

“Maka, apabila kamu telah menyelesaikan (sesuatu), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (sesuatu) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al Insyriah [94]: 7-8).

Dua ayat penutup surat Al Insyriah ini merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya yang berisi perintah berlapang dada dan optimis, bahwa di tengah himpitan kesulitan hidup, selalu ada  solusi yang disediakan Allah. Melalui ayat ini, kita diingatkan agar segera melanjutkan kerja, bahkan lebih giat (fanshab) setelah selesai beribadah. Dalam ayat lain, Allah juga berfirman dengan pesan yang hampir sama,

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَٱبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرٗا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ

“Apabila shalat telah dikerjakan, maka segera bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia (rizki) Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu bahagia” (QS. Al Jumu’ah [62]: 10).

Dua ayat di atas juga mengingatkan kita agar jangan hanya kerja tanpa ibadah, atau ibadah tanpa kerja. Maka, Nabi SAW menegur orang yang berada di masjid pada jam-jam kerja. Sa’id al Khudry r.a bercerita dalam sebuah hadis riwayat Abu Dawud, bahwa Nabi menjumpai Abu Umamah Al Bahili, penduduk asli Madinah (anshar) yang duduk sedih di masjid pada saat orang-orang sibuk bekerja. “Kenapa kamu duduk di masjid di luar waktu shalat begini?,” tanya Nabi. “Saya sedih karena terlilit hutang.” “Maukah kamu saya ajari doa, yang jika kamu membacanya, Allah akan menghapus kesedihanmu dan memberi kemudahan pelunasan hutang-hutangmu?” “Tentu,” jawabnya dengan ceria. “Baiklah, bacalah doa ini pagi dan petang,”

اَللّٰهُمَّ إِنِّى  أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوْذُبِكَ مِنَ الْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

“Wahai Allah, jauhkan saya dari kesedihan dan kecemasan, lemah dan malas, kikir, takut, dan terlilit hutang. Jauhkan pula saya dari orang yang sewenang-wenang.”

Jika kita cermati, doa yang diajarkan Nabi itu tidak hanya memohon rizki, tapi juga sebuah sindiran dan motovasi agar Abu Umamah bangkit bekerja, bukan bermalas-malasan atau hanya berdoa dalam masjid. Ia harus bangkit merubah keadaan, tidak berpangku tangan dan menunggu hujan emas dari langit. Keterpurukan ekonomi hampir selalu diakibatkan karena malas bekerja, bermental buruk, atau takut melangkah. Maka, solusinya adalah percaya diri, ceria, bekerja, bekerja dan bekerja. Jangan sekali-kali menggantungkan hidup pada orang lain, lalu mengemis-ngemis belas kasih mereka. Itulah yang menjatuhkan martabat manusia, bahkan marwah Islam. Imam Ali bin Abi Thalib k.w berkata, ”Semua kepahitan hidup pernah saya alami, dan kepahitan yang terparah adalah mengharap belas kasih orang.”

Setelah membaca doa dari Nabi tersebut pagi dan petang, semua hutang Abu Umamah terbayar, bahkan rizkinya melimpah, sehingga rajin sedekah, meskipun tidak banyak. Suatu saat, ia memberikan tiga dinar, satu-satunya harta yang dimiliki, kepada tiga pengemis yang datang bergiliran. Sore harinya, ia mendapati 300 dinar dalam kamarnya. Lalu, malam harinya, ia mendapati lagi hidangan makan malam yang diyakini pemberian langsung oleh Allah.

Nama asli Abu Umamah adalah Shudai bin ’Ajlan dari suku Bahilah, Syiria (W. 86 H). Shabat yang pernah menjadi tentara Ali bin Abi Thalib r.a dalam perang Shiffin juga menceritakan sebanyak 250 hadis dari Nabi dalam kitab Al Bukhari dan Muslim. Setelah masuk Islam, ia diperintah Nabi untuk berdakwah di kampungnya. Meskpiun mendapat perlawanan, tapi akhirnya beberapa pemuka kampungnya masuk Islam.

Suatu saat, sahabat yang terakhir wafat di Syiria itu juga mengadu, “Wahai Nabi, tuan mengajarkan banyak doa, tapi aku tak bisa menghafalnya.” Nabi menjawab, “Maukah kamu saya tunjukkan doa yang bisa merangkum semua doa itu? Lalu, Nabi mengajarkan doa ini,

اَلـلَّهُمَّ اِنِّى اَسْاَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وأَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَااسْتَعَاذَكَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاَنْتَ الْمُسْتَعَانُ وَعَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَلَا حَوْلَ وَلَاقُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ 

“Wahai Allah, sungguh saya memohon kepada-Mu semua kebaikan yang diminta oleh Nabi-Mu SAW, dan mohon dijauhkan dari semua keburukan yang diminta Nabi-Mu SAW untuk dijauhkannya. Engkaulah Tuhan yang berhak diminta pertolongan, dan hanya kepada-Mu lah kami menyampaikan pengaduan (al balaagh). Tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah (HR. At Turmudzi dari Abu Umamah).

Menurut Muhammad bin Allan Ash Shiddiqy, yang dimaksud keburukan dalam doa di atas adalah penderitaan dunia atau rusaknya akhlak. Sedangkan arti al balagh dalam  hadis ini adalah bahwa Allah bisa mengatasi semua kebutuhan makhluk tanpa bantuan siapa pun.

Nabi SAW sama sekali tidak berkomentar negatif kepada sahabat yang lemah hafalan itu.  Nabi tetap menghargai, dan memberi solusi berupa doa yang mudah dihafal dan telah merangkum semua doa yang diajarkan Nabi, yaitu, “Wahai Allah, berikan saya semua kebaikan dan kebahagiaan yang pernah diminta oleh Nabi-Mu SAW. Dan, jauhkan saya dari semua keburukan yang diminta Nabi-Mu untuk dijauhkannya.”

Jika kita mempelajari secara mandalam, semua doa-doa dari Nabi tidak sekadar berisi permohonan, tapi juga sebuah pelajaran, kritik, penyemangat, dan langkah-langkah solusi atas problem kita. Wallahu a’lamu bis shawab. (Surabaya 17 Agustus 2020)

Sumber: (1) Al Nawawy, Abu Zakariya, Yahya bin Syaraf, Riyadush Shalihin, CV. Thoha Putra, Semarang, 1981, juz 2, p. 358-359 (2) As Shiddiqy, Muhammad bin ‘Allan, Dalilul Falihin, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, Bairut, Lebanon, tt.  Juz 4, p. 262, 263 (3) Moh Ali Aziz, Doa-doa Keluarga Bahagia, Penerbit Kun Yaquta Foundation dan PT Duta Aksara Mulia, Surabaya, 2014, cet. III, p. 8, dan 16.

RAHASIA SUKSES DAKWAH DUNIA

January 9th, 2021 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

RAHASIA SUKSES DAKWAH DUNIA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: httpsfavpng.compng_viewarabic-world-north-africa-arab-world-arabian-peninsula-world-map-pngFexLGSkt

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ 

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. Ali Imran [3]: 110).

            Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya (QS. Ali Imran: 104) yang berisi perintah amar ma’ruf nahi munkar (mengajak berbuat yang baik dan mencegah perbuatan dosa). Pada ayat ini dijelaskan lebih lanjut, bahwa dakwah atau amar ma’ruf nahi munkar harus berorientasi keimanan, bukan lainnya, sehingga bisa menyatukan dan menyejukkan masyarakat.  Dalam ayat ini juga tersirat perintah agar setiap muslim melakukan dakwah semampunya, meskipun ia bukan ahli agama. Gerakan dakwah yang masif inilah yang menjadi salah satu faktor keberhasilan dakwah di dunia.    

Dalam sebuah kajian Islam di USA, Dr. Muhammad Jawwad Chirri (w. 1994) ditanya oleh Wilson H. Guintin, Ph.D tentang faktor keberhasilan dakwah di dunia. Penanya yang Kristen dan ahli psikologi itu mengatakan, “Sejak berpendidikan, saya menjadi ragu tentang agama saya.” Ia menambahkan, bahwa agama-agama yang dipelajari sebelumnya tidak bisa mengobati kebimbangan keimananya, dan dialog dengan ulama besar inilah satu-satunya yang berhasil menghapus kebimbangannya.

Chirri adalah penulis puluhan buku dalam bahasa Arab dan Inggris, antara lain Muslim Practice; The Faith of Islam; Inquiries about Islam; Imam Husein, Leader of the Martyrs; dan The Brother of The Prophet Muhammad (the Imam Ali). Ia dibesarkan dalam keluarga Syi’ah di Libanon dan meraih gelar doktor teologi dari Iraq sebelum berhijrah ke Detroit, USA. Ia mendirikan sekaligus memimpin Islamic Center of America tahun 1962 setelah terlebih dahulu mendatangi Syekh Mahmud Shaltut di Universitas Al Azhar Mesir untuk mencari persamaan antara Sunni dan Syiah.

Menurutnya, ada tiga faktor yang mempercepat perkembangan Islam di dunia. Pertama, kepribadian Nabi sebagai pembawa Islam yang tidak mengambil jarak dengan masyarakat, tapi menyatu, bahkan dengan orang yang paling tak terhormat sekali pun. Masyarakat memandang Nabi sebagai kawan sekaligus pembimbing (QS An-Najm [53]: 2; At-Takwir [81]: 22). Juga mengakuinya secara aklamasi sebagai “al amin” yaitu manusia yang paling jujur dan bisa dipercaya (QS. Al-Qalam [68] : 4). Tak kalah pentingnya, ia tetap santun meskipun diperlakukan jahat oleh para atheis dan politheis (QS An-Nahl [16]: 125, QS. Ali Imran [3]: 159). Kepribadian Nabi inilah yang menjadi faktor utama percepatan penyebaran Islam. Selama memimpin, Nabi mampu mengelola perbedaan pendapat para penasihatnya sebagai sumber kekuatan, bukan sumber perpecahan. Ia dengan lincah mengelola konflik para penasehatnya seperti seorang musikus yang menggabungkan macam-macam bunyi alat musik menjadi lagu yang indah dan enak didengar.

Kedua, militansi para pengikut Nabi. Mereka siap mengurbankan harta, jiwa dan raga untuk perjuangan Nabi. Bandingkan dengan pengikut Musa a.s yang menolak diajak memasuki Yerussalam, bahkan mencemooh, “Silakan pergi sendiri dengan Tuhanmu, wahai Musa. Kami santai saja di sini.” (QS. Al-Maidah [5]: 24). Bandingkan juga dengan pengikut Isa a.s yang membiarkan Isa a.s dalam kesulitan. Sampai sekarang pun, setiap muslim di seluruh dunia memiliki militansi sebagai pendakwah sesuai dengan kemampuan dan bidang masing-masing. “Ketika saya berkunjung ke Afrika pada tahun 1962, saya tidak menjumpai organisasi Islam yang secara khusus bergerak di bidang dakwah. Padahal, saat itu misi Kristen telah memiliki sebanyak 212.250 buah dengan dana yang melimpah. Sedangkan pusat dakwah Islam sedunia pada saat yang sama hanya memiliki kurang dari seratus buah. Itu pun dengan dana yang terengah-engah,” kata Chirri. Perkembangan Islam di semua benua sampai hari ini lebih banyak karena kekuatan pendakwah perorangan daripada dakwah yang teroganisir. Di Indonesia, kita menjadi saksi sejarah, bahwa Islam masuk ke Indonesia bukan oleh lembaga dakwah, melainkan para saudagar yang berdakwah di sela-sela kegiatan bisnisnya.

Ketiga, ajaran Islam yang logis dan jelas, berisi aturan hidup yang lengkap, serta menjunjung tinggi kesetaraan di antara semua manusia. Ajaran tentang keesaan Tuhan, kerasulan Nabi dan konsep kehidupan sesudah mati tidak berbelit-belit dan sukar dipahami. Setiap orang dapat langsung membaca kitab sucinya dan menjalankannya. Islam mengajak penganutnya untuk berilmu dan berwawasan luas (QS. Thaha [20]: 114; Az Zumar [39]: 9), dan mencela orang yang tidak mau belajar dan meneliti (QS. Al A’raaf [7]: 179). Oleh sebab itu, pantaslah manusia dipercaya sebagai khalifah untuk mengatur dunia (QS. Al-Baqarah [2]: 30-33).

Aspek lainnya tentang ajaran Islam yang menjadi daya tarik dunia adalah ajaran keseimbangan antara aspek benda dan rohani, atau antara perorangan dan kemasyarakatan. Islam tidak melarang mencari kesenangan duniawi (QS. Al Baqarah [2]: 201-202), bahkan mencela mereka yang tidak memanfaatkan karunia Allah (QS Al A’raf [7]: 31-32). Islam tidak mengajarkan manusia untuk melenyapkan kepribadiannya dan meleburkan diri pada masyarakat dan negara (QS. An Najm [53]: 39;  QS. Al Baqarah [2]: 286), tapi menekankan agar setiap muslim memiliki tanggungjawab sosial untuk ikut mengatur kehidupan sosial, antara lain adanya perintah shalat berjamaah, zakat dan sadakah (QS. Al  Baqarah [2]: 43, dan Az Zariaat [51]: 19).

Berdasarkan jawaban ulama di atas, maka untuk kesuksesan dakwah ke depan, kita harus melakukan tiga hal. Pertama, kita harus benar-benar menjadi teladan, sebab inilah daya sugesti yang terkuat bagi masyarakat untuk mengikuti jejak kita. Kedua, kita harus didampingi oleh teman-teman seperjuangan yang militan, kompak, dan siap mengurbankan apa saja yang dibutuhkan dakwah, serta lebih senang memberi daripada diberi. Ketiga, kita harus mampu menjelaskan Islam sesuai dengan watak aslinya, yaitu logis, simpel, menyemangati untuk berkarya besar, dan selalu menyenangkan, bukan menyusahkan, apalagi menggelisahkan orang.