Header

MENYULAM DARUSSALAM

October 5th, 2016 | Posted by admin_tsb in Artikel - (6 Comments)

MENYULAM DARUSSALAM
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

 

sumber gambar: https://quakersireland.files.wordpress.com/2016/09/peace.gif

sumber gambar: https://quakersireland.files.wordpress.com/2016/09/peace.gif

وَٱللَّهُ يَدۡعُوٓاْ إِلَىٰ دَارِ ٱلسَّلَٰمِ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ٢٥

Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam) (QS. Yunus [10]:25)

            Artikel ini saya tulis ketika di telinga saya masih terngiang-ngiang suara tembakan teroris di restoran Balay Bakery di Dhaka, 1 km dari tempat istirahat saya di Ghulsan street. Malam lailatul qadar 1437 H atau 1 Juli 2016 di ibukota Bangladesh dinodai tujuh pemuda yang memancung satu persatu kepala pengunjung restoran warga negara Italy, Jepang, India, Amerika dan lain-lain yang ditest dan terbukti tidak bisa membaca Al Qur’an. Peristiwa serupa terjadi lagi setelah saya tiba di Indonesia, hati saya tersayat melihat gambar 84 mayat bergelimpangan di Perancis setelah Mohamed Lahouaiej Bouhlel menubrukkan truk pada kerumunan orang yang sedang berpesta kembang api untuk merayakan hari kemerdekaan Perancis. Masing-masing tindakan biadab itu dilakukan atas nama Islam.

            Dua peristiwa di atas menyadarkan kita sekali lagi untuk lebih intensif melakukan kampanye membangun citra Islam sebagai agama pelopor pembangun dunia damai (darussalam) sebagaimana tersirat dalam ayat di atas. Allah SWT menyeru umat manusia untuk bekerjasama membangun darussalam, yaitu dunia yang aman dan nyaman tanpa sedikitpun ketakutan. Juga yang lebih penting yaitu darussalam (surga) setelah kematian. Umat Islam sedunia selalu memohon darussalam setiap usai shalat sebagaimana diajarkan Nabi SAW:

اَللَّهُمَّ اَنْتَ السَّلاَمُ, وَمِنْكَ السَّلاَمُ, وَإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلاَمُ, فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ, وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ دَارَ السَّلاَمِ

Wahai Allah, Engkaulah as-salam (sumber kedamaian), dari-Mu-lah as-salam (kedamaian), kepada-Mu-lah (kami berharap kembali) dengan as-salam. Hidupkan kami dengan as-salam, masukkan kami ke dalam surga (darussalam).

            Ketika Nabi SAW pertama kali menginjakkan kakinya di Madinah, pesan pertama yang disampaikan adalah tentang as-salam. Husein bin Salam, kepala pendeta Yahudi Madinah yang telah bertahun-tahun mengabdikan hidupnya sebagai pengajar Taurat merekam pidato pertama Nabi SAW tersebut. Mengapa ia tertarik dengan pidato itu? Sebab  ia pernah menemukan ayat dalam Kitab Taurat yang memberitakan akan datangnya seorang Nabi di Madinah (lihat QS. Al A’raf [07]: 157).  Sejak itu, ia  berdoa untuk diberi panjang umur agar bisa berjumpa dengan nabi yang diberitakan itu. Maka, ketika ia mendengar kedatangan Nabi di Madinah, ia berlari menemuinya untuk mencocokkan sifat-sifat Nabi sebagaimana tersebut dalam Taurat. Setelah mengamati wajah Nabi SAW dari dekat dan kelembutan budi pekertinya, ia menyimpulkan semua sifat-sifat yang diketahui dalam Kitab Taurat itu benar. Inilah pesan lengkap Nabi SAW tersebut:

يَا اَيُّهَا النَّاسُ اَفْشُوا السَّلاَمَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصِلُوا الارْحَامَ وَصَلُّوا بِالَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ   تَدْخُلُواالْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

Wahai manusia, sebarkan salam, berikanlah makanan, sambunglah silaturrahim, dan shalatlah pada malam hari ketika (kebanyakan) manusia tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan as-salam (HR. At Tirmidzi dari Abdullah bin Salam r.a)

Di tengah kerumunan orang itu, sang pendeta tiba-tiba mengucapkan syahadat dengan suara yang nyaring. Nabi SAW menoleh dan bertanya,  ”Siapa namamu?”  ”Husein bin Salam,” jawabnya.  ”Sebaiknya namamu diganti dengan Abdullah bin Salam,” kata Nabi SAW. Ia pulang ke kampungnya dengan nama yang baru dan berhasil mengajak semua keluarganya untuk masuk Islam.

            Dari pesan Nabi SAW di atas, jelaslah bahwa kita hanya bisa memasuki darussalam, jika kita benar-benar mengembangkan empat kebajikan di bumi. Pertama, menebar salam, yaitu mengucap salam kepada sesama muslim dan menebar kasih dan damai kepada semua umat manusia, tanpa membedakan latarbelakang etnis dan agama. Setiap muslim harus menjadi pelopor as-salam (kedamaian dan ketertiban) dalam komunitas manapun. Nabi Ibrahim a.s juga memohon keamanaan dan kedamaian ketika selesai membangun Ka’bah bersama putranya, Ismail (QS. Al Baqarah [02]: 126). Dalam sejarah Islam, penduduk bumi lebih banyak mengikuti Islam karena tertarik akhlak as-salam yang ditauladankan oleh para tokoh Islam daripada pidato-pidato mereka di banyak mimbar, apalagi oleh kekerasan yang justru menimbulkan antipati.

            Kedua, berbagi kekayaan untuk kesejahteraan orang-orang miskin. Sudah menjadi keniscayaan bahwa dalam hidup bermasyarakat, selalu ada orang kaya dan miskin. Kedamaian masyarakat tidak akan terwujud tanpa adanya kesediaan orang kaya untuk berbagi kepada mereka yang miskin. Silakan Anda berlomba menjadi orang terkaya, sebab tidak ada satupun ayat al-Qur’an yang melarangnya. Tapi jangan buta dengan keadaan lingkungan Anda. Pengusaha, penguasa, anggota legislatif, atau siapapun sama sekali tidak dilarang menikmati rizki yang dikaruniakan Allah kepadanya. Tapi, ia harus memperhatikan keadaan orang-orang miskin melalui pembayaran zakat dan sedekah, terutama kepada mereka yang menahan diri dari meminta-minta (al qani’) (QS. Al Hajj [22]: 36).

Ketiga, merajut ikatan persaudaraan (silaturrahim). Dalam skop kecil, setiap muslim harus membangun keutuhan keluarganya, bahkan menjadikannya keluarga teladan bagi orang lain. Negara hanya kuat, damai dan sejahtera jika unit-unit keluarga di dalamnya kuat dan bahagia. Dalam skop yang lebih luas, setiap muslim juga harus bisa membangun hubungan sanak famili yang harmonis dan menghindari segala hal yang menimbulkan keretakan dalam keluarga besar. Perbedaan agama, ideologi, politik tidak boleh menjadi alasan keretakan hubungan dalam keluarga besar. Nabi Ibrahim a.s, Nabi Nuh a.s, Nabi Luth a.s, Nabi Zakaria a.s, Nabi SAW dan juga para sahabat seperti Abu Bakar r.a, Ali bin Abi Thalib r.a dan beberapa sahabat yang lain hidup di tengah keluarga besar yang multi agama. Umat Islam harus bisa membangun hubungan yang harmonis di tengah masyarakat multi etnis dan agama dengan tetap menjaga keutuhan aqidah Islam.

            Keempat, shalat malam. Inilah shalat sunah yang memiliki pengaruh besar dalam membangun kualitas keimanan, sekaligus menjadi indikator ketakwaan seseorang. Allah SWT mewajibkan shalat malam hanya untuk Nabi SAW. Itu berarti, siapapun yang menjadi pemimpin dalam level apapun, ia harus mewajibkan dirinya untuk shalat malam. Jangan mengharap cahaya dari battery yang sudah drop. Jangan mengharap pencerahan Allah, jika tidak ada charge untuk hati Anda di malam hari.

            Masa depan Darussalam hanya bisa kita raih jika kita secara terus menerus menyulam diri dengan tutur kata, sikap dan tindakan yang bernuansa assalam di tengah keluarga dan masyarakat kita.

SINGA DALAM SENYAP

September 11th, 2016 | Posted by admin_tsb in Artikel - (16 Comments)

SINGA DALAM SENYAP
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

وَلَوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ قُلۡتُم مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبۡحَٰنَكَ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ عَظِيمٞ ١٦

sumber gambar: http://cdn.pcwallart.com/images/lion-roar-front-view-wallpaper-4.jpg

sumber gambar: http://cdn.pcwallart.com/images/lion-roar-front-view-wallpaper-4.jpg

Dan mengapa kamu tidak berkata, ketika mendengar berita bohong itu, “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita membicarakan hal ini. Maha Suci Engkau (Wahai Tuhan kami). Ini adalah dusta yang besar.” (QS. An Nur [24]:16).

            Ayat di atas merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya tentang tuduhan busuk orang-orang munafik bahwa Aisyah, istri Nabi berselingkuh, berduaan dengan Sofwan bin Mu’aththil As-Sulami dalam perjalanan pulang dari perang Bani Musthaliq. Tuduhan itu menyebar begitu cepat sehingga menggegerkan umat Islam. Nabi SAW juga gelisah dan meminta pendapat Umar bin Khattab r.a. Umar bertanya, “Wahai Nabi, siapakah yang menikahkan tuan dengan Aisyah?” “Allah,” jawab Nabi. Umar berkata, “Apakah Allah menipu tuan?” Nabi menjawab: “Maha suci Engkau, wahai Allah. Ini benar-benar sebuah kebohongan (inna hadza buhtanun adhim).” Lalu turunlah ayat di atas dengan redaksi dan isi yang mirip dengan dialog Nabi dan Umar bahwa tuduhan itu sebuah kebohongan besar (buhtanun ‘adhim).

             Itulah salah satu kehebatan Umar ra. Ia seolah mengetahui bunyi wahyu yang akan diturunkan Allah. Tidak hanya itu, surat Al Maidah: 90, At Taubah: 84,  Al Anfal: 67 dan At Tahrim: 4-5 juga turun dengan redaksi dan isi yang mirip dengan perkataan Umar. Apa rahasia di balik kehebatan Umar?. Tidak lain karena ia pemimpin yang tegas dan berani dalam menegakkan keadilan di siang hari dan menunduk khusyuk penuh tangis di malam sunyi.

            Dengan fisik yang tinggi besar, berkepala botak, bertelapak kaki lebar, bersenjata  dua meter pedang di tangan kanannya, Umar benar-benar singa bagi siapapun yang merusak kehormatan umat Islam. Dialah yang menantang orang-orang kafir, “Malam nanti, saya dan Nabi berangkat hijrah ke Madinah. Silakan hadang saya jika kalian ingin menjadikan istri dan anak kalian janda dan yatim.” Ketika menjabat kepala negara, ia berpidato, “Saya tahu, banyak orang gelisah karena sikap keras saya. Untuk apa takut, jika ia tidak bersalah? Ketahuilah, sikap kerasku akan berlipat kepada siapapun yang zalim dan membuat rusuh di masyarakat. Aku akan menginjak kepala mereka sampai tunduk kepada kebenaran. Tapi, aku akan mencium kaki orang-orang yang berjiwa mulia dan hidup sederhana.”

            Suatu hari Umar memasuki Syira, salah satu wilayah kekuasaannya. Rakyat sudah menunggu sang khalifah di gerbang kota. Tapi yang datang adalah penunggang onta berbaju rombeng, telanjang kaki dengan pelana murahan. Mereka bertanya kepada penunggang onta ini, “Manakah khalifah kami?” Ia menjawab, “Orang yang kalian cari sekarang berada di depan kalian.” Mereka terpana, histeris berlarian memberitahu penduduk kota bahwa Umar telah tiba. Para pejabat sudah menyiapkan kuda terbaik dengan pelana yang pantas untuk kepala Negara, tapi Umar menolaknya, “Singkirkan kendaraan setan ini.” Umar baru bersedia menggunakan kuda itu setelah semua asesori mewahnya dilepas. Di tengah kota, Umar melihat beberapa pejabat menunggang kuda dengan pelana berbalut sutra. Ia turun dari kudanya, mengambil batu dan melempari mereka sambil berteriak, “Begitu cepat kalian berubah. Apakah dengan kendaraan mewah dan makanan enak-enak sepert ini kalian menyambut Umar? Dua tahun yang lalu, kalian masih hidup sederhana dan masih siap menahan lapar.” Umar berani melakukan semua itu karena ia telah memberi tauladan kesederhanaan sampai akhir hayatnya. Ketika menjelang mati, ia meminta Abdullah, anaknya untuk mengambil bantalnya, “Jangan-jangan Allah tidak berkenan melihat saya menikmati pengganjal kepala ini ketika aku bersiap kembali kepada-Nya.” Umar juga hanya memiliki satu gamis dengan 21 tambalan. Karenanya, ia pernah datang khutbah Jumat terlambat karena menunggu gamisnya kering.

            Ketika di mimbar khutbah pun, ia diprotes seseorang, ”Aku sama sekali tidak percaya khutbahmu. Kau tidak adil. Rakyatmu kamu beri sehelai kain, sedangkan sekarang engkau menggunakan dua helai.” Umar menoleh ke kanan dan kiri mencari anaknya, Abdullah. “Wahai anakku ini milik siapa?” “Milikku,” jawab sang anak. “Badanku besar, tidak cukup sehelai, maka saya minta jatah anakku,” lanjut Umar. Pemrotes itu kemudian melunak, “Kalau begitu, lanjutkan khutbahmu dan saya akan mendengarkannya.”

            Umar r.a mengetuk pintu dari rumah ke rumah para tentara yang bertugas di luar kota dan berhasil merontokkan imperium Persia dan Romawi. Dari luar rumah, Umar meminta para istri tentara itu mendektekan semua keperluannya. “Jika ibu punya pembantu, suruhlah dia ikut saya ke pasar agar berbelanja sesuai dengan kebutuhan ibu dan tidak salah beli,” pesan Umar.  Benarlah, Umar pergi ke pasar dengan beberapa pembantu rumah tangga berbaris di belakangnya. Mereka berbelanja sesuai dengan perintah majikan masing-masing dan Umar yang membayarnya.

            Tengah malam, Umar dengan isterinya, Ummu Kultsum mengangkut sekarung tepung, samin, daging sekaligus periuk untuk menolong seorang ibu di daerah terpencil yang merintih sakit menjelang persalinan. Beberapa lembar selimut untuk si bayi, popok, pakaian untuk sang ibu dan beberapa perlengkapan lainnya juga disiapkan. Ketika sampai di tempat, Ummu Kultsum langsung masuk rumah membantu persalinan, sedangkan Umar memasak makanan di luar. Tidak lama kemudian, terdengarlah suara jeritan bayi dari gubuk. Umar memanggil si suami untuk membawakan makanan yang telah dimasaknya untuk istrinya. Ummu Kultsum menyuapkan makanan untuk ibu yang berbahagia itu sampai kenyang.

            Umar yang segagah itu ternyata jiwanya amat lembut. Ia menunduk pasi ketika seseorang berkata kepadanya, “Tidak takutkah engkau kepada Allah?.” Setiap shalat tengah malam, air matanya membasahi jubahnya, badannya bergetar seperti anak burung yang tertiup angin. Lebih-lebih ketika membaca firman Allah, “Bacalah catatanmu. Cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghitung perbuatanmu” (QS. Al Isra’ [17]: 14). Ia juga pernah roboh dari shalatnya, pingsan ketika membaca surat At Thur ayat 1-8.  Berkali-kali ia mengatakan, “Jika aku tidur siang, aku kehilangan rakyatku dan jika tidur malam aku kehilangan diriku.”

            Saya ingin menyebutkan satu pemimpin dunia yang tak kenal ampun terhadap perusak masa depan bangsanya. Saya sebutkan pemimpin di luar Indonesia agar tulisan ini tidak berbau politik. Ia adalah presiden Filipina, Rodrigo Duterte. Setelah dilantik, dia berjanji akan membunuh 100.000 pengedar narkoba. Penggunapun akan ditembak di kepalanya, kecuali jika menyerahkan diri dan bertobat. Polisi, tentara, walikota, politikus atau siapa saja yang terbukti menjadi beking obat terlarang itu akan dilibas. Kepala kepolisianpun diancam bunuh jika tidak melaksanakan perintahnya. Benar, dalam dua bulan menjabat sebagai presiden (Juli dan Agustus 2016), ribuan orang sudah bergelimpangan merenggang nyawa dan sekitar 600.000 orang telah menyerahkan diri. Dia tahu tindakan ektrim itu melanggar HAM. Tapi, menurutnya, negara sudah benar-benar darurat, dan kejahatan narkoba sudah tidak bisa diatasi hanya dengan cara-cara konvensional.

            Negara ini membutuhkan singa yang meraung di siang hari dan siap menerkam dan mengunyah leher para koruptor, pengedar miras, narkoba, pelaku kejahatan seksual anak-anak, penyedia wanita pelacur dan semua penghancur masa depan bangsa. Tapi, pemimpin  itu juga harus seperti Umar bin Khattab yang bersujud panjang di malam senyap. Saya yakin, Andalah orangnya, insya Allah.

Sumber Bacaan: (1) Khalid Muhammad Khalid, Ma’a Umar (Umar Ibnul Khattab Mukmin Perkasa), terj. Abu Syauqi Baya’syud dan Mustafa Mahdami, Penerbit Media Idaman, Surabaya, 1989, cet. II (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985 (3) Abdullah bin Ibrahim Al Luhaidan, Al Buka-u ‘Inda Qira-atil Qur’an, Mirqat Publishing, Jakarta 2008 (4) Abdul Lathif Ahmad ‘Asyur, Al ‘Asyarotul Mubasysyaruna Bil-Jannah (Sepuluh Orang Dijamin Masuk Surga), Gema Insani Press, Jakarta 1996. (5) Nasy’at Al Masri, An Nabiyyu Zaujan (Nabi Suami Teladan) terj. Salim Basyarahil, Gema Insani Press, Jakarta, 1993 (6) Harian Jawa Pos 28 Agustus 2016.

TENANGLAH, ALLAH SEDANG BERDIALOG DENGAN VIRUS ANDA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://www.galamedianews.com/media/galeri/150401111630–wajib-tahu–7-virus-mematikan-di-dunia.jpg

قُلۡنَا يَٰنَارُ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ٦٩

“Kami berfirman, “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim” (QS. Al Anbiyak [21]:69)

Raja Namrudz memututuskan, Nabi Ibrahim a.s harus dibakar. Lalu ia membuat lubang besar yang dipenuhi tumpukan kayu kering. Ibarhim (25 tahun) diikat dan dilemparkan ke api dengan manjaniq, bandul pelempar yang biasa digunakan dalam perang. Maka datanglah Malaikat Jibril dan bertanya, “alaka hajah?/apakah engkau membutuhkan sesuatu?, Ibrahim a.s menjawab, “amma ilaika fala / adapun kepada tuan, tidaklah. Lalu Jibril berkata, “fas-al rabbak / mohonlah pertolongan Tuhanmu. Ibrahim menjawab, hasby min su-aly, ‘ilmuhu bihaaly / cukuplah bagiku Allah. Ia mengetahui keadaanku dan aku tidak perlu memohon apapun kepada-Nya.” Selama dalam kobaran api, Nabi Ibrahim a.s terus menerus membaca hasbiyallah wani’mal wakil.  

                Saat itulah, Allah berfirman, “Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.  Menurut Tafsir Ar Razy, ada tiga kemungkinan sebab mengapa api tidak bisa membakar Ibrahim dan hanya menghanguskan tali pengikatnya, yaitu: (1) Allah menghilangkan unsur panas pada api dan tinggal nyalanya semata. (2) Allah memberi kekebalan pada tubuh  Ibrahim seperti yang diberikan kepada malaikat yang bertugas dalam neraka (3) Allah membuat dinding pemisah antara Ibrahim dan api.

                 Ketahuilah, Allah SWT tidak hanya berbicara dengan api, tpi juga dengan gunung dan burung-burung pada masa Nabi Daud a.s.  Allah memberi Daud a.s dua karunia besar, yaitu kerajaan Bani Israil untuk melanjutkan kepemimpinan Raja Thalut, dan suara yang indah untuk membacakan mazmur, pujian-pujian dalam Kitab Zabur. Ia membacanya dengan suara yang merdu dan iringan kecapi yang dimainkannya. Saat itulah, Allah berfirman, “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud” (QS. Saba’ [34]:10). Burung-burung yang berterbangan juga cepat-cepat hinggap di ranting pohon untuk menikmati kemerduan suara Daud a.s. Bahkan, sebagian mereka mati kelaparan, lupa tidak makan karena terbius suara sang nabi. Dalam pujian-pujian Daud a.s yang penuh estetika itu tersimpul tiga keistimewaan, yaitu al jamaal (keindahan), al kamal (kesempurnaan) dan al jalaal (kemuliaan).

                Ternyata, Allah SWT juga berbicara kepada bumi dan langit ketika banjir besar setinggi 80 mil di atas gunung yang tertinggi pada masa Nabi Nuh a.s, “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah, dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi” (QS. Hud [11]:44). Dalam banjir selama 150 hari itu, semua orang kafir tenggelam, termasuk anak  Nuh a.s. Saat itulah, Allah berbicara kepada langit agar menghentikan hujan dan bumi agar menelan habis jutaan kubik air di atasnya. Tepat tanggal 10 Muharram, kapal Nuh a.s mendarat di gunung Judy di deretan pegunungan Ararat di perbatasan Turki dan Rusia.

                Dalam sebuah hadis qudsi juga disebutkan, Allah berdialog dengan pena sebelum penciptaan alam semesta. ‘Ubadah bin Shamit r.a berkata kepada anaknya,  “Wahai anakku, engkau tidak akan merasakan hakekat iman sebelum engkau meyakini bahwa semua yang tercatat akan terjadi padamu, pasti akan engkau rasakan dan engkau tidak akan dapat menghindarinya. Dan apapun yang tidak tercatat untukmu, pastilah tidak akan engkau alami. Ketahuilah, aku telah mendengar Nabi SAW bersabda:

اَنَّ اَوَّلَ مَا خَلَقَ اللهُ الْقَلَمُ فَقَالَ لَهُ اُكْتُبْ قاَلَ رَبَّ وَمَاذَا اَكْتُبُ؟ قَالَ اُكْتُبْ مَقَادِيْرَ كُلِّ شَيءٍ حَتَّى تَقُوْمَ السّاعَةُ

Sungguh, pena adalah benda pertama yang diciptakan Allah. Lalu Allah memerintah kepadanya, “Hai pena, catatlah!” Pena bertanya, “Wahai Tuhanku, apa yang harus saya catat?” Allah menjawab. “Catatlah ketetapan segala sesuatu yang akan terjadi sampai hari kiamat!”

                Ubadah melanjutkan nasehatnya, “Wahai anakku, aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Siapapun yang mati tanpa keimanan tentang takdir ini, maka ia bukan pengikutku.” (HQR. Abu Daud, nomor 4668). Dalam hadits lain disebutkan bahwa 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi, seluruh kejadian alam semesta sudah dicatat oleh Allah secara rinci dalam lauh mahfudh (lembaran yang terpelihara). Siapapun yang meragukan semua catatan tersebut dan mati sebelum bertobat, maka ia tidak diakui sebagai pengikut Nabi SAW.

                Semua firman Allah di atas menunjukkan, Allah benar-benar menguasai semua makhluknya, benda hidup atau mati dan bisa berbicara apa saja dan kapan saja kepadanya. Allah SWT telah berbicara langsung dengan api agar tidak membakar Nabi Ibrahim a.s,  berbicara dengan langit untuk menghentikan hujan dan bumi untuk menelan semua air bah pada masa Nuh a.s, berbicara dengan gunung dan burung-burung untuk menyimak tasbih Nabi Daud a.s, dan juga berdialog dengan pena pencatat takdir manusia. Maka, Allah SWT pasti juga bisa berbicara dan mengendalikan berbagai virus, protozoa, bakteri dan sebagainya yang menurut kodratnya dapat mematikan manusia.

                Wahai saudaraku yang sedang sakit, tenanglah, jangan bersedih.  Ketika Anda bersujud dan berzikir panjang,  hasbiyallah wani’mal wakil (cukuplah Allah sebagai penolongku) Allah SWT sedang berdialog dengan virus yang sedang menyerang tubuh Anda:  “Wahai virus, Aku Maha Mengetahui, engkau telah telah membunuh ratusan juta manusia. Sekarang, silakan tetap tinggal dalam tubuh hamba-Ku yang sedang bersujud ini. Jangan mengganggunya. Aku baru mengijinkanmu bangkit dan mematikan dia jika jatah hidupnya memang telah habis. Tunggulah komando-Ku.”

                Setiap meminum obat atau makan kapan saja, bacalah doa dari Nabi SAW: bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syaiun fil ardhi walaa fissama-I wahuwas sami’ul ‘alim (dengan memanggil nama-nama Allah dan atas ijin-Nya, tidak akan ada satupun makhluk di bumi dan langit yang membahayakan tubuhku. Sungguh Allah Maha Mengetahui semua kejadian dan Maha Mendengar suara hatiku).  La tahzan innallaha ma’ana (jangan bersedih, Allah tiada pernah meninggalkan Anda).        

Referensi: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar  juz XII (p.61) , XVII (p.70), XXII (p.272), Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985 (2) Muhammad ‘Awwaamah, Minas Shihah Al Ahadits Al Qudsiyyah: Mi’ah Hadits Qudsi Ma’a Syarhiha (Seratus Syarah Hadis Qudsi), Noura Books, Jakarta Selatan 2013, p. 107-114 (3) As-Shabuni, Muhammad Ali, An Nubuwwah wal Anbiya’, (Kisah-Kisah Nabi dan Masalah Kenabiannya) terj. Mushlikh Shabir, Penerbit Cahaya Indah, Semarang, 1994.