Header

BELAJAR TANGGUH DAN MANDIRI

March 5th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

BELAJAR TANGGUH DAN MANDIRI

Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: https://www.shareicon.net/tag/strong

رَّبَّنَآ إِنِّيٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ عِندَ بَيۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجۡعَلۡ أَفۡ‍ِٔدَةٗ مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهۡوِيٓ إِلَيۡهِمۡ وَٱرۡزُقۡهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَشۡكُرُونَ * رَبَّنَآ إِنَّكَ تَعۡلَمُ مَا نُخۡفِي وَمَا نُعۡلِنُۗ وَمَا يَخۡفَىٰ عَلَى ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِ *

Wahai Tuhan kami, sungguh aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Wahai Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. Wahai Tuhan kami, sungguh Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami tampakkan; dan tidak ada suatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit (QS. Ibrahim [14]: 37-38).

Pada ayat-ayat  sebelumnya, dijelaskan usaha Nabi Ibrahim a.s untuk membekali anak-anaknya dengan keimanan dan menjauhkan mereka dari lingkungan yang merusak keimanan. Sebagai kelanjutan, ayat di atas menjelaskan usaha Ibrahim a.s berikutnya, yaitu member pembelajaran ketangguhan fisik dan mental.

Nabi Ibrahim a.s melahirkan keuturunan melalui jalur Ishak dan Ismail. Dari Ishak, lahirlah Ya’qub dengan dua belas keturunan yang kemudian disebut Bani Israil. Sedangkan dari Ismail, atas pernikahannya dengan suku Jurhum, lahirlah keturunan Adnan yang melahirkan dua suku besar yaitu Arab Musta’ribah dan Mudhar sampai kepada Nabi SAW.  Ketika berusia 86 tahun, Nabi Ibrahim dikarunia anak, yaitu Ismail dari istri kedua, Hajar. Betapa terkejutnya Hajar, ketika sang suami tiba-tiba mengajaknya bersama Ismail yang masih menyusu itu ke pegunungan Mekah, daerah kering, tandus, tak berpenghuni, dan tak ada satupun tanaman yang tumbuh. Di tempat itulah, Hajar dan Ismail ditinggalkan, dan Ibrahim a.s kembali ke Palestina. Wajarlah jika Hajar sangat keberatan ditinggal bersama si bayi tanpa bekal sedikitpun itu. ”Apakah ini perintah Allah?” tanyanya kepada Ibrahim berkali-kali. ”Benar,” jawab Ibrahim. ”Baiklah, kalau itu perintah Allah, maka saya yakin Allah tidak akan menelantarkan kami,” katanya ikhlas.  

Si bayi Ismail menangis kehausan, sedangkan air persediaan sudah habis. Hajar berlari mencari sumber air sampai ke bukit Shafa, tapi sia-sia, tak ada setetespun air. Lalu, berlari lagi sampai ke bukit Marwah, tetap saja sia-sia. Setelah tujuh kali bolak-balik dari Shafa dan Marwah, ia istirahat kelelahan. Ketika itulah, ia melihat Jibril, dan tiba-tiba ia merasakan adanya air keluar di tumitnya. Ia segera menciduk air itu untuk minuman Ismail. Jibril berkata, ”Jangan takut kesepian, karena di tempat inilah akan ada rumah Allah yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya,” kata Jibril menunjuk ke tempat yang tinggi. Beberapa burung turun meminum di sumber air itu. Suku Jurhum yang sedang melewati daerah itu lalu mengetahui bahwa di situ ada sumber air, yang kemudian terkenal dengan sumber zamzam itu.  Mereka minta ijin kepada Hajar untuk mengambil air dan berkemah di daerah sekitarnya. Lambat laun, daerah yang semula tandus tak berpenghuni itu berubah menjadi perkampungan Mekah yang kita kenal sekarang ini.

Inilah ayat yang mengajarkan perlunya pendidikan mental yang tangguh, dan  fisik yang kuat melalui pengalaman hidup, di samping pendidikan spiritual dan intelektual. Ibrahim a.s telah mengajarkan kedua bekal itu kepada Hajar dan Ismail. Hajar tidak berpangku tangan, tidak hanya berdoa, tidak hanya menggerutu menghadapi tantangan kehidupan. Ia sadar bahwa tangisan tidak bisa merubah keadaan. Pastilah, si bayi, Ismail juga menyerap spirit ketanggguhan dan kemandirian melalui keringat sang ibu.  

Ada dua cerita kehidupan yang dapat meyakinkan Anda tentang perlunya pendidikan mental baja untuk anak-anak Anda. Seorang pemilik hotel kenamaan yang memasuki usia lanjut menyerahkan estafet manajemen hotel kepada dua anaknya yang sama-sama bergelar master dalam ilmu perhotelan dari universitas kenamaan di Eropa. Setelah lima tahun dikelola sang anak, hotel dengan puluhan cabangnya itu kelimpungan menghadapi pesaing-pesaing yang baru. ”Otak anak-anak saya sangat encer, pengetahuannya tentang teori-teori perhotelan di luar kepala, tapi ketangguhannya untuk berdarah-darah menghadapi tantangan masih nol,” katanya. Ia mengaku salah dalam mendidik anaknya, yang dianggapnya cukup melalui bangku sekolah formal. ”Ternyata, anak kita harus dididik untuk bersakit-sakit dan berpayah-payah untuk merasakan pahit getirnya kehidupan, sehingga ia mengerti bahwa hidup adalah perjuangan, dan bahwa setiap rupiah hanya bisa diperoleh dengan keringat,” pesannya.  

Inilah kisah kedua yang juga menarik. Di atas pesawat dari Taiwan menuju Surabaya, seorang wanita pebisnis ekspor impor yang duduk di sebelah saya bercerita tentang anak tunggalnya yang sukses mengelola pabrik baja. Ketika saya tanya, bagaimana ia mendidik anaknya sehingga mau dan bisa mengelola pabrik sebesar itu, ia mangatakan, ”Saya didik dia sejak kecil untuk menghargai berapapun nilai uang, sebab setiap rupiah pasti dihasilkan dari perasan keringat.” Ketika sang anak kuliah di Uinversitas Kristen Petra, ia hanya memberinya bekal uang yang sangat terbatas, dan jika kurang, ia harus mencari tambahan sendiri. ”Saya pura-pura tidak tahu ketika ia bekerja sebagai pengangkut barang di sebuah pertokoan untuk menutupi biaya kuliahnya,” kisahnya. Menurutnya, saat itu sebenarnya ia menjerit, tapi ia harus tega, sebab itulah cara mendidik anaknya agar ia mengerti nilai uang dan kerja keras, serta memiliki ketangguhan sebagai pelaku bisnis masa depan dengan tantangan dan pesaing yang lebih berat.

Muslim mandiri selalu mengingat pesan Jibril kepada Nabi SAW, bahwa keperkasaan dan kemuliaan seseorang ditentukan sejauhmana ia membebaskan dirinya dari ketergantungan pada orang lain. Iamemandang kesulitan yang dihadapi sebagai tantangan. Ia mengerti kelebihan dan kekurangan dirinya, lalu berfokus pada kelebihannya bukan pada kelemahannya. Ia belajar berpikir positif, memandang kesalahan masa lalu dan kegagalan sebagai tonggak menuju sukses di masa depan. Semua itu hanya bisa dipelajari dari kehidupan nyata sebagaimana yang diajarkan Nabi Ibrahim a.s kepada Hajar dan Ismail, tidak bisa hanya dengan pendidikan formal belaka.

Surabaya, 30 Oktober 2018

Sumber: (1) Al Hamshy, Muhammad Hasan, Al Qur’an Al Karim, Tafsir Wa Bayan, Darur Rasyid, Beirut, Lebanon, tt (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 13, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 152, (3) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, vol. 6, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 388, (4) Afif Abdullah, Ma’al Anbiya’ Fil Qur’anil Karim (Nabi-Nabi Dalam Al Qur’an), Terjmah Tamyiiez Dery, dkk, Penerbit Toha Putra, Semarang, 1985.

KHUTBAH: DEBU TAKWA PENGANTAR KE SURGA

February 1st, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

KHUTBAH: DEBU TAKWA PENGANTAR KE SURGA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Khutbah Jum’at Masjid Ulul Azmi UNAIR Kampus C Surabaya, 01-02-2019

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ  وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ  اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّابَعْدُ فَيَا عِبَادَاللهِ اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Para jamaah yang saya muliakan.

       Dalam Surat At Thalaq ayat 5 Allah SWT berfirman:

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يُكَفِّرۡ عَنۡهُ سَيِّ‍َٔاتِهِۦ وَيُعۡظِمۡ لَهُۥٓ أَجۡرًا

Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya, dan akan melipatgandakan pahala baginya.

            Untuk menjelaskan ayat ini, saya akan menyampaikan dua kisah yang terkait dengan takwa dan surga. Pertama, kisah tentang seseorang yang hidup sebelum Nabi SAW. Orang tersebut hidup berlimpah harta dengan keturunan yang membanggakan. Menjelang matinya, ia bertanya, “Wahai anak-anakku, apakah ayahmu ini orang yang baik?” Mereka menjawab, “Tentu, orang baik.” Selanjutnya sang ayah mengatakan, “Ketahuilah wahai anak-anakku, aku lebih tahu tentang diriku. Aku tidak memiliki sedikitpun kebaikan di sisi Allah. Oleh sebab itu, pasti Allah akan menyiksaku kelak. Jika suatu saat aku mati, bakarlah tubuhku, lalu tumbuklah arangnya sampai menjadi abu selembut-lembutnya. Lalu, pergilah ke laut dan taburkan semua abu itu ketika angin sangat kencang!”

            Nabi SAW bersabda, “Semua anaknya berjanji untuk melakukan wasiat itu. Demi Tuhanku, mereka benar-benar melakukannya.” Ketika abu telah ditebar, Allah SWT berfirman, “Kun fayakun, maka berdirilah seorang lelaki yang utuh.” Allah kemudian bertanya, “Ay ‘abdii, maa hamalaka ‘ala an fa’alta maa fa’alta? Qaala: makhaafataka / Wahai hamba-Ku, mengapa kamu melakukan semua itu?” Lelaki itu menjawab, “Karena takut kepada (siksa-Mu).” Nabi SAW melanjutkan, “Maka sejak itu, ia mendapat limpahan rahmat Allah.” Nabi SAW mengulang sekali lagi, “Maka sejak itu, ia mendapat limpahan rahmat Allah” (HR. Al Bukhari No. 7.508 dari Abu Said r.a).

Para jamaah yang saya muliakan.

Kisah kedua berikut ini juga mirip dengan kisah pertama. Ada orang pada zaman Nabi Musa a.s yang meninggal di sebuah kampung, dan tak seorangpun bersedia memakamkannya. Mereka bahkan menyeret dan melemparkannya ke sampah. Allah SWT lalu memberitahu Nabi Musa a.s, “Wahai Musa, ada jenazah yang dibuang orang ke tempat sampah. Carilah ia sampai ketemu, lalu mandikan, bungkuslah dengan kafan, shalatilah dan makamkanlah secara terhormat. Ia benar-benar kekasih-Ku.”

Musa berjalan menyusuri sejumlah kampung, dan akhirnya menemukan “manusia sampah” itu, benar-benar membusuk di tumpukan sampah. Musa a.s terheran dan berkata, “Wahai Tuhanku, apakah Engkau memerintahkan aku melakukan shalat untuk orang yang mendapat julukan masyarakat orang sampah dan orang jahat ini?

Allah SWT mengatakan, “Wahai Musa, benar, ia memang orang jahat, tapi tahukah kamu, bahwa ketika menjelang matinya, ia meminta belas kasih-Ku. Apakah Aku, Tuhan Yang Maha Pengasih tidak mengasihinya? Ketahuilah wahai Musa, menjelang sakaratul maut, ia berkata lirih, “Wahai Tuhanku, Engkau Maha Mengetahui gunungan dosa yang saya pikul di pundakku. Tapi, saya yakin, Engkau Maha Mengatahui isi hatiku. Aku sejatinya berontak setiap kali aku melakukan dosa. Aku ingin bertobat, tapi selalu saja gagal. Wahai Tuhanku, sekalipun penuh dosa, aku tetap senang dan hormat kepada orang-orang shaleh di sekitarku.”

“Wahai Tuhanku, jika Engkau mengampuni aku, pastilah Nabi-Mu tersenyum gembira karena salah satu umatnya mendapat ampunan dan surga. Sebaliknya, Iblis dan setan akan bersedih, karena gagal memasukkan aku ke naraka. Engkau pasti lebih menyukai senyuman Nabi-Mu daripada senyuman Iblis dan kawan-kawannya. Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kasihanilah aku.” Maka Allah SWT berfirman, “Aku, Tuhan Maha Pengasih dan Maha Pengampun. Aku akan mengasihi dan mengampuni dia, karena ia telah mengakui dosa-dosanya kepada-Ku. Allah SWT berfirman, “Wahai Musa, segeralah shalat untuknya sesuai perintah-Ku. Aku akan mengampuninya atas keberkahan orang yang menshalatinya.”

Para jamaah yang saya muliakan.

Bagaimana takwa yang menghapus dosa itu? Umar bin Khattab r.a memberikan definisi yang praktis, takwa adalah kehatian-kehatian dalam setiap langkah, seperti kehati-hatian pejalan kaki di atas jalan yang penuh duri. Kaki baru diinjakkan ke tanah ketika ia yakin bahwa jalan yang diinjak itu benar-benar aman dari tusukan duri. Berdasar pengertian itu, maka tidak ada satupun orang yang bisa disebut bertakwa selain nabi. Tapi, bergembiralah, sebab Allah tetap mengampuni kesalahan kita, meskipun takwa kita hanya setitik debu. Tidak hanya itu, di samping mengampuni, Allah juga melipatgandakan pahala untuk sekecil apapun kebaikan kita, sebagaimana disebut pada ayat di atas, “..dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.” (QS. At Thalaq [65]:5). Mengenai kasih dan kemurahan Allah tersebut, Ibnu ‘Athaillah mengatakan:

عَلِمَ وُجٌوْدَ الضَّعْفِ مِنْكَ فَقَلَّلَ أَعْدَادَهَا وَعَلِمَ اِحْتِيَاجَكَ اِلَى فَضْلِهِ فَكَثَّرَ اَمْدَادَهَا

Allah mengetahui kelemahanmu, maka Allah meminimalkan (tuntutan) bilangan (ibadahmu). Allah juga mengetahui kebutuhanmu akan karunia-Nya, maka Ia melipatgandakan pahala kebaikanmu.

 Dua kisah di atas memberikan optimisme kita akan ampunan Allah. Tidak ada kebahagiaan melebihi mendapat ampunan Allah. Kisah tersebut juga tamparan untuk kita. Orang yang dipandang penuh maksiat, bahkan secara keji disebut calon penghuni neraka,  bisa jadi ia dimasukkan Allah ke surga karena setitik debu takwa yang kita sama sekali tidak mengetahuinya. Sebaliknya, orang yang merasa lebih suci daripadanya, bisa jadi lebih dimurkai Allah karena setitik dosa yang tidak dia sadari, dan itulah penyebab utama murka Allah kepadanya. Jangan sekali-kali kita merasa lebih suci dari orang lain, apalagi dengan mudahnya menuduh seseorang sebagai calon penghuni neraka. Ketahuilah cara dan standar penilaian Allah berbeda dengan cara dan standar penilian kita.  

اَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِى وَلَكُمْ, وَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Referensi: (1) Muhammad bin Abu Bakar Al Usfuri, Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah, Penerbit Mutiara Ilmu Surabaya, Zeid Husein Al Hamid, 1994: cet II: 4-6; (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, Panjimas, Jakarta (3) Muhammad ‘Awwaamah, Minas Shihah Al Ahadits Al Qudsiyyah: Mi’ah Hadits Qudsi Ma’a Syarhiha (Seratus Syarah Hadis Qudsi), Noura Books, Jakarta Selatan 2013, p. 176; (4) Ibnu Atha’illah As-Sakandari, Al Hikam, (Al Hikam dan Syarahnya) terj. DA. Pakih Sati LC, Penerbit saufa Yogyakarta, 2015, cet.1.

NABI, MENGAPA HANYA DIPUJI?

January 8th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

NABI, MENGAPA HANYA DIPUJI?
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِيَّ ٱلۡأُمِّيَّ ٱلَّذِي يَجِدُونَهُۥ مَكۡتُوبًا عِندَهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ يَأۡمُرُهُم بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَىٰهُمۡ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡخَبَٰٓئِثَ وَيَضَعُ عَنۡهُمۡ إِصۡرَهُمۡ وَٱلۡأَغۡلَٰلَ ٱلَّتِي كَانَتۡ عَلَيۡهِمۡۚ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُواْ ٱلنُّورَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ  

 (yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS. Al A’raf [7]: 157).

                Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menjelaskan ciri-ciri orang yang mendapatkan rahmat Allah. Orang-orang Yahudi mengklaim merekalah yang dimaksud pada ayat itu. Maka, ayat yang dikutip di atas menegaskan bahwa orang-orang yang mendapat rahmat itu bukan untuk satu kelompok, melainkan untuk siapapun yang beriman kepada Nabi SAW, mengikuti ajarannya dan mengajarkannya kepada umat manusia.  

sumber gambar: http://www.clker.com/cliparts

                Ayat di atas juga menegaskan, Nabi SAW yang harus diikuti itu telah dijelaskan dalam kitab Taurat dan Injil. Dalam Perjanjian Lama Ulangan XVIII antara lain disebutkan, “Seorang nabi akan Ku-bangkitkan bagi mereka seperti engkau ini. Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Ku- perintahkan kepadanya. Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan oleh nabi itu demi nama-Ku darinya akan Ku-tuntut pertanggungjawaban.” Maksud dari kata “orang seperti engkau (Musa)” adalah  Nabi SAW, karena keduanya sama-sama membawa syariat. Sedangkan Isa Al Masih tidak membawa syariat baru, tapi hanya melanjutkan syariat Nabi Musa as.

                Dalam ayat di atas ditegaskan, Nabi SAW adalah ummi, artinya tidak bisa membaca dan menulis. Ummi berasal dari kata umm (ibu) atau ummah (masyarakat umum). Pada saat itu, ibu Nabi SAW dan masyarakat pada umumnya buta aksara, kecuali beberapa orang sebagaimana disebut dalam Al Qur’an, “Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Qur’an) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu) (QS. Al Ankabut [29]: 48)

                Buta aksara sama sekali bukan berarti kebodohan. Sultan Akbar di Hindustan yang buta aksara ternyata ia filosuf cerdas sekaligus raja besar yang sukses sampai akhir hayatnya. Nabi SAW fathanah artinya genius, kuat ingatan, dan tajam analisis. Salah satu buktinya, Nabi menerima wahyu hanya melalui pendengaran dari Malaikat Jibril, tapi ia kuat menghafal semuanya. Jibril kadangkala memerintahkan Nabi SAW agar ayat yang diterimanya itu diurutkan dengan ayat-ayat yang diterima beberapa tahun sebelumnya, bahkan bisa jadi puluhan tahun, dan ia tidak pernah membuat kesalahan.

                Berdasarkan ayat di atas, tugas utama Nabi SAW adalah (1) amar makruf. Makruf berasal dari kata marifat yang artinya dikenal atau diterima oleh akal. Jadi, ajaran yang dibawa Nabi SAW bisa diterima akal sehat dan pasti benar karena bersumber dari Allah SWT. (2) nahi munkar. Munkar artinya tidak bisa diterima oleh akal sehat. Suatu contoh, semua orang waras dapat menilai bahwa mencuri, melukai, dan membunuh adalah munkar, karena tidak sesuai dengan akal orang beradab (3) menghalalkan makanan thayyibat, yaitu diperbolehkan agama sekaligus baik untuk kesehatan, dan mengharamkan khabaa-its, yaitu kebalikan dari thayyibat. Kita dilarang mengonsumsi makanan yang merusak kesehatan, meskipun ia halal, tidak dilarang agama, dan (4) menghapus ajaran yang memberatkan kaum Yahudi atau Bani Israil, yaitu ajaran bunuh diri sebagai syarat bertobat, larangan memakan hewan yang kukunya tak terbelah atau hewan yang tidak memamah biak, larangan memakan lemak hewan, larangan menikah bagi pendeta, perintah qishah, yaitu hukuman mati untuk pembunuh tanpa mempertimbangkan disengaja atau tidak, dan keluarga terbunuh telah memaafkan atau tidak, dan juga menghapus perintah menggunting atau membuang pakaian yang terkena najis.

Itulah tugas Nabi SAW menyempurnakan ajaran nabi-nabi sebelumnya. Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata, Wahaii Bani Israil, sungguh aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan isi kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira tentang (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad). Maka, ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata” (QS. Shaf [61]: 6).

                Pada ujung ayat di atas disebutkan bahwa orang yang akan mendapat kemuliaan dan kebahagiaan di sisi Allah SWT adalah yang percaya kepada Nabi SAW, memuliakannya, menjalankan perintahnya, dan mengajarkannya kepada umat manusia. Berdasar kriteria ini, maka Abu Thalib, paman Nabi SAW tidak mendapat kemuliaan dan kebahagiaan akhirat, meskipun ia penolong dan penyelamat Nabi SAW dari upaya pembunuhan orang kafir, sebab ia tidak beriman dan menjalankan ajarannya. Dengan demikian, tidaklah pengikut Nabi yang sejati, jika Anda hanya menyanjungnya, namun tetap berakhlak yang tercela. Gebyar shalawat akan bermakna jika mendorong percepatan kesejahteraan dan perdamaian dunia. Shalawat yang dikumandangkan haruslah shalawat yang melahirkan perubahan. Pujilah Nabi dan bertekadlah menjadi pribadi yang terpuji.          

Referensi: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 9, penerbit Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 76, (2) M.Qureish Shihab, Tafsir Al Misbah, Vol 4, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 322.