Header

KE SURGA DENGAN PURA-PURA

December 29th, 2012 | Posted by admin_tsb in Artikel - (2 Comments)

KE SURGA DENGAN PURA-PURA

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Masih tentang surga. Tempat mana lagi yang kita idamkan selain itu. Jika pada edisi yang lalu saya menulis Ke Surga Dengan Semangka, sekarang saya suguhkan Ke Surga dengan Pura-Pura. Ternyata, banyak jalan menuju Roma, aneka kendaraan menuju Mekkah, dan banyak cara menuju surga.

Ketika Anda melintasi beberapa jalan raya di tengah Surabaya, Anda akan membaca iklan sebuah perusahaan, “Yang Lain Pakai Topeng. Saya Apa Adanya.” Luar biasa. Iklan itu mengajak kita untuk mengedepankan kejujuran. Jangan hidup dengan pura-pura, bergaul di tengah masyarakat dengan topeng.  Jika topeng itu terbawa angin puting beliung, apa kata dunia tentang diri Anda. Karenanya, Anda pasti tersiksa untuk membawa topeng ke sana kemari dan hidup dalam kecemasan, jangan-jangan topeng terlepas. Energi terkuras untuk mengikat topeng.

Tapi, apakah semua pura-pura itu jelek. Tidak, jika kasusnya seperti yang alami Abu Aburrahman,  Hatim Al Asham, ulama besar yang wafat di Baghdad, Irak tahun 852 M atau 237 H. Sebagaimana ulama-ulama lainnya, rumahnya tidak sepi dari banyak orang yang menimba ilmu, mencari pencerahan, dan meminta solusi permasalahan. Ulama memang seperti buah masak yang jatuh dari pohonnya. Lalu orang-orang memungut dan memakan dengan lezatnya.

Pada suatu kajian Islam yang diadakan Hatim Al-Asham, ada wanita lansia yang mengangkat tangan untuk bertanya. Ketika sedang serius bertanya, wanita itu “gagal pertahanannya” sehingga mengeluarkan angin agak keras, sampai didengar orang di kanan dan kirinya. Raut mukanya berubah menahan malu dan kemudian gugup melanjutkan pertanyaan.  “Ibu, tolong bicara yang keras. Saya tuli”, pinta Al Asham. Setelah mengajukan pertanyaan, si ibu diminta lagi untuk bertanya dengan suara yang lebih keras. Hatim Al-Asham meyakinkan, “Sekali lagi, maaf, saya tidak mendengar suara ibu dengan jelas.”

Apakah Hatim Al-Asham benar-benar tuli?. Tidak. Ia sehat wal afiat. Ia hanya berpura-pura agar si penanya tidak malu telah kentut di depan syekh dengan dahi berbekas sujud. Bagaimana jika si wanita lansia itu suatu saat mengetahui bahwa Hatim Al-Asham ternyata hanya berpura-pura?. Ia sudah memikirkan hal itu. Maka syekh yang selalu menangis setiap mendengar ayat-ayat Al-Qur’an itu berusaha konsisten dan bersungguh-sungguh menjaga perasaan sang ibu. Ia menunjukkan tulinya selama lima belas tahun sampai wafatnya. Ia kemudian terkenal dengan pangggilan syekh al-asham yang artinya ulama tuli.

Hatim Al-Asham benar-benar menjadi tauladan,  bagaimana seharusnya kita menjaga perasaan orang. Jangan ada satupun orang yang dipermalukan, apalagi di depan umum. Islam melarang kita berbisik dengan seseorang ketika kita berada di tengah sebuah pertemuan, agar mereka tidak menduga-duga isi bisikan kita. Apalagi berbicara dengan bahasa yang tidak dimengerti orang di sebelahnya. Rasulullah SAW bersabda, “Jika kalian bertiga, maka janganlah dua orang berbisik tanpa menyertakan orang lain (ketiga), kecuali jika berkumpul di tengah banyak orang, karena yang demikian itu membuat gelisah orang yang tidak diajak bicara itu.” (HR Al Bukhari dan Muslim Dari Ibnu Mas’ud r.a). (Riyadlus Shalihin, II:459)

Dalam kitab Al Muwaththa’ dijelaskan bahwa Abdullah bin Dinar bercerita, “Saya pernah bersama Abdullah bin Umar bertamu di kediaman Khalid bin ‘Uqbah yang berada di tengah pasar. Tiba-tiba ada orang datang hendak berbisik dengan Khalid, padahal di sebelahnya ada saya dan Abdullah bin Umar. Maka Abdullah bin Umar memanggil orang lain menyertai pembicaraan, sehingga kami jadinya berempat.” Dengan berempat, maka masing-masing telah memiliki partner bicara dan tidak ada orang tersinggung karenanya.

Perintah berhati-hati menjaga perasaan orang lain juga tercermin dalam hadis Nabi tentang cara makan bersama banyak orang. Nabi SAW bersabda, “Jika seorang di antara kamu makan bersama banyak orang dan merasa kenyang, maka jangan angkat tanganmu sampai mereka mengangkat tangan (selesai), sebab hal itu membuat malu orang-orang yang semeja makan.” (HR. Al Baihaqi) (Mukhtarul Ahadits An Nabawiyah: 47)

Hadis-hadis tentang perintah menjaga perasaan orang itu harus diperluas cakupannya. Maka jika Anda berdua atau bertiga atau berempat di sebuah pertemuan, ajaklah mereka berbicara dengan hangat dan saling berdoa untuk kebaikan bersama. Itu jauh bermanfaat daripada Anda menjadi “manusia jempolan” artinya sibuk dengan jempolannya sendiri bermain SMS, facebook, twitter, google dan sebagainya, sehingga tidak sempat berkenalan atau bertukar pikiran sampai acara selesai. Cara bergaul seperti itu sangat mungkin menimbulkan perasaan tidak enak orang di sebelah Anda. Dalam hati bisa saja ia menilai Anda, “Orang ini egois dan angkuh. Aku orang yang lebih rendah darinya dan tidak layak berbicara dengannya.” Jika itu yang terjadi, Anda telah menyia-nyiakan kesempatan mendapat kawan yang sangat mungkin bisa dijadikan akses bisnis ke depan. Anda juga telah melukai hati orang. Hati yang terluka secara otomatis terkirim ke pusat data di langit dan mentransfer sinyal penutupan akses rizki Anda. Cara Anda bergaul merupakan investasi untuk kesuksesan masa depan Anda. Ikuti nasehat nabi, dijamin rizki Anda mengalir tiada henti. Jaga perasaan orang, malaikat senang, dan permadani ke surga untuk Anda akan terbentang.

KE SURGA DENGAN SEMANGKA

December 20th, 2012 | Posted by admin_tsb in Artikel - (3 Comments)

KE SURGA DENGAN SEMANGKA

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Inilah tulisan saya satu-satunya tanpa mengutip satupun dalil Al-Qur’an dan hadis untuk mengingatkan pembaca tentang kasih ibu. Islam mengakui adanya perbuatan baik dan buruk yang bisa diterima semua akal sehat, sehingga orang tidak beragamapun bisa membedakannya. Itulah yang disebut al ma’ruf dan al munkar.  Setiap orang pasti tidak membenarkan mencuri, membunuh orang dan sebagainya, sekalipun ia atheis. Menolong orang miskin, mengasihi orang tua juga pasti dipandang baik oleh setiap orang waras. Maka dengan satu kisah berikut ini cukuplah untuk mengingatkan kita tentang keharusan hormat dan berbalas budi atas jasa ibu dan berdoa setiap saat untuknya.

Peristiwa ini terjadi pada bulan Ramadlan pada tahun yang saya tidak ingat. Sebuah keluarga miskin dengan ibu bapak dan dua anak di Surabaya tetap berpuasa sekalipun suami istri itu pekerja kasar dan berat. Siapapun orangnya selalu ingin memberi makanan berbuka yang menyegarkan untuk keluarganya. Menjelang maghrib, ibu setengah baya itu pergi kira-kira seratus meter dari rumah kontrakannya untuk membeli semangka. Karena terdengar adzan maghrib, ia berlari kecil agar buah segar itu segera dinikmati untuk buka puasa suami dan kedua anaknya. Ia tidak melihat kanan kiri, padahal yang dilintasi itu rel kereta api. Inna lillah wainna ilahi raji’un, ia tertindas kereta api dengan semangka yang tergeletak pecah di sebelahnya. Jeritan orang yang melihatnya mengagetkan penduduk sekitar yang sedang menikmati berbuka puasa. Kedua anaknya berlari ke tempat kejadian dan merangkul ibunya yang tidak bernyawa dengan baju daster yang penuh darah. Suami dan anaknya hanya berbuka dengan setetes air di tenggorokan, bersamaan dengan linangan air mata yang membasahi rata pipinya. Ibunya pasti juga berbuka puasa dengan pemberian khusus dari malaikat dengan air telaga kautsar dari surga. Ia mati dalam keadaan berpuasa, demi cintanya kepada Allah. Ia menghembuskan nafas terakhir membawa cinta suami dan anak dengan semangka sebagai saksi di hadapan Allah.

Walaupun tidak sama persis, semua pembaca pasti bisa bercerita panjang tentang jasa dan kasih ibu kepada Anda seperti dalam kisah di atas. Apalagi ibu yang bekerja membanting tulang, memeras keringat untuk membantu ekonomi sang suami yang tidak cukup untuk kebutuhan keluarga.

Dunia memang panggung keanehan. Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita menyaksikan macam-macam kedhaliman. Seringkali kesetiaan dan pengorbanan sang ibu yang berdarah-darah itu, tidak mendapat apresiasi selayaknya dari suami, atau penghormatan dan kasih dari anak-anaknya. Anda tentu pernah menyaksikan bagaimana seorang ibu yang tulus melayani suami dan mendidik anak, tapi justru menderita karena kekerasan kata dan fisik suaminya. Anda juga tentu pernah menjumpai seorang ibu berduka atas ulah anaknya. Semakin hari semakin kurus, stres dan meninggal memikirkan anaknya. Ia telah “dibunuh” oleh anaknya sendiri. Air susu dibalas dengan air toba.

Inilah hari ibu. Kita ucapkan selamat untuk semua ibu. Sekarang, ambillah pulpen dan beberapa lembar kertas. Tulislah jasa ibu Anda kira-kira satu sampai tiga halaman. Lalu esok hari tulislah sehalaman lagi. Hari berikutnya tambahkan lagi. Saya yakin, sampai seribu halamanpun tidak akan cukup untuk menggambarkan kasih, jasa, pengorbanan dan kesetiaannya untuk Anda. Sujudlah paling sedikit tiga puluh detik setiap shalat. Jangan angkat kepala sebelum Anda bisa menteskan air mata untuk memohonkan ampunan dan rahmat Allah untuk ibu Anda (Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia). Oh Ibu, aku anakmu. Kasih tulusmu kepadaku, pasti berbuah kasih Allah untukmu. Doaku tetap untukmu dan tiada aku hentikan sebelum aku bisa mencium pipimu di surga. Aku akan terus bershalawat kepada nabi, agar aku dan kau bisa bergandengan tangan sowan dan mencium kaki Rasulullah SAW di sana.

MUKMIN GUNDUL

December 15th, 2012 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

MUKMIN GUNDUL

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Ketika saya melihat semakin banyak selebritis berkepala plontos di berbagai acara televisi, saya teringat tahun tujuhpuluhan di pondok pesantren. Pada tahun-tahun itu, santri yang pulang dari pondok dalam keadaan gundul, pasti orang tua malu, karena itu berarti si anak terkena hukuman berat di pondok. Orang-orang di kampung juga selalu menduga orang gundul orang yang baru keluar dari penjara. Itulah mode, pantas atau tidak pantas tergantung perkembangan waktu. Tentu yang dibicarakan di sini bukan gundul di Saudi Arabia, sebab berkepala plontos di tempat kelahiran Nabi itu, berarti seseorang baru saja selesai menjalankan ibadah haji atau umrah.

Ternyata tidak hanya manusia yang gundul. Setan pun mengikuti mode. Ketika masih kanak-kanak,  saya sering mendengar orang memanggil-manggil setan itu. Ketika sedang mencari sesuatu yang hilang, mereka berdoa, “Wahai setan gundul, tolong temukan barangku yang hilang.”. Pada saat memasuki musim hujan pada minggu-minggu ini, saya juga mendengar salah satu warga Surabaya  mengucapkan doa yang aneh, “Oh buyut, udano sing deres..” (Wahai  kakek-nenek  turunkan hujan yang deras..)”

Dua jenis doa unik di atas bertahun-tahun telah berkembang di tengah masyarakat pedesaan kita, tanpa disadari bahwa doa itu bertentangan dengan keimanan. Mengapa meminta pertolongan kepada setan, gundul lagi. Mengapa pula meminta hujan kepada kakek nenek?. Padahal mereka orang-orang yang bersyahadat  dan shalat. Inilah mukmin gundul karena berkepala syahadat tapi cabang-cabang keimanannya tidak ditumbuhkan. Sudah berikrar mengakui Allah sebagai Tuhannya, tapi masih meminta tolong kepada selain Allah. Sudah bersyahadat, tapi masih lebih banyak curhat kepada manusia daripada kepada Allah. Sudah muslim, tapi lebih mengandalkan pertolongan manusia daripada pertolongan Allah. Ketika menghadapi masalah, lebih banyak datang ke paranormal daripada mendatangi Allah yang sudah menunggu kehadirannya di ujung malam. Tanda-tanda mukmin gundul lainnya adalah banyak mengeluh, cemas dan khawatir menyangkut apa yang akan terjadi terkait dari sebuah ikhtiar, dan tidak percaya diri: hanya mengingat kekurangannya dan melupakan kelebihan yang diberikan Allah. Mengenalkan siapa dan bagaimana sifat-sifat Allah kepada orang jauh lebih mudah daripada meyakinkan kebesaran dan kekuasaan-Nya. Penguatan keyakinan tidak bisa hanya dengan ceramah atau beca buku, tapi diperlukan pengalaman hidup khususnya pahit getirnya roda kehidupan.

Hadis berikut ini penting dihayati agar kita terjauh dari pribadi mukmin gundul. Dari Abu ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Abbas R.A berkata, “Pada suatu hari, saya berada di belakang Nabi SAW. Beliau bersabda, “Wahai anak laki-laki, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa pesan: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati Dia di hadapanmu. Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta tolong, mintalah tolong juga kepada Allah. Ketahuilah, sekiranya semua umat manusia bersatu untuk memberikan sesuatu yang berguna bagimu, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang sudah ditetapkan Allah untukmu. Sekiranya mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakan kamu, niscaya tidak akan membahayakan kamu kecuali apa yang telah ditetapkan Allah untukmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Tirmidzi)

Sabda Nabi di atas menyuruh kita untuk menggantungkan semua hal kepada Allah semata, meminta kenikmatan, pertolongan, pemecahan masalah hanya kepada Allah, merasa cukup dengan pertolongan Allah, dan tidak perlu mengharap pertolongan dari makhluk-Nya.

Nabi Ibrahim as memberi tauladan yang luar biasa dalam keimanan dan kepasrahan. Ketika menghadapi api yang telah disiapkan untuk membakarnya, Jibril datang dan menawarkan bantuan, ”Apa yang kau butuhkan?” Nabi Ibrahim menjawab. ”Saya tidak butuh apapun darimu, sebab aku sudah merasa cukup dengan pertolongan Allah.”

Syahadat adalah kepala Anda. Tumbuhkan dari kepala itu sejuta keyakinan akan pertolongan Allah. Rukuk dan sujudlah dalam setiap shalat lebih dari tigapuluh detik, dan katakan, “Allah Maha Kuasa, Allah pasti menolong saya”.  Optimislah dalam berdoa. Iblis saja dikabulkan permohonannya oleh Allah, apalagi Anda. Orang-orang non-muslim saja bisa meyakini dan mengalami keajaiban pertolongan Tuhan, maka apalagi Anda yang beragama yang benar. Jika hari ini, Anda masih tetap saja gelisah seperti kemarin, tetap saja tidak terbakar semangat dan optimisme, serta belum yakin akan kemukjizatan pertolongan Allah, maka Anda masih termasuk mukmin gundul.