Header

PENDAKWAH TERPELAJAR DAN PEMBELAJAR
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: https://www.vectorstock.com

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan perbuatan yang baik, dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang yang tunduk kepada Allah?.” (QS. Fusshilat [41]: 33).

Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menjelaskan cinta-Nya kepada muslim yang menyatakan beriman, lalu konsisten dengan keimanannya (istiqamah). Sebagai kelanjutan, ayat yang dikutip di atas menjelaskan, bahwa keimanan itu harus juga disebarkan kepada orang lain. Sebuah kemuliaan yang tertinggi bagi seorang muslim yang tegar imannya, lalu mengerjakan kebaikan, dan mengajak orang melakukan yang sama, serta bangga untuk menyatakan dengan percaya diri sebagai muslim. Nabi SAW adalah contoh terbaik dalam hal semangat berdakwah, ketauladannya, dan keberanian serta kebanggaannya sebagai muslim di depan publik.    

Menurut satu pendapat yang dikutip dalam Tafsir Ibnu Katsir, bahwa yang dimaksud muslim pengajak kepada keimanan pada ayat di atas adalah muadzin, orang yang mengumandangkan adzan. Ibnu Mas’ud r.a berkata, “Andaikan aku dahulu sebagai muadzin, niscaya aku tidak perlu lagi berhaji,  umrah, ataupun ikut berperang.” Umar bin Khatthab r.a juga berkata, “Seandainya dulu aku seorang muadzin, niscaya cukuplah kemuliaan bagiku, sehingga aku tidak perlu lagi shalat malam dan puasa sepanjang hari, sebab aku pernah mendengar Rasulullah SAW berdoa tiga kali, “Wahai Allah, ampunilah para muadzin.”

Menurut kebanyakan ahli tafsir, apresiasi Allah untuk pengajak kebaikan itu bukan khusus untuk muadzin, tapi semua orang yang mengajarkan atau mengajak kepada kebaikan, baik dilakukan oleh muadzin, penceramah, ataupun orang awam, sekalipun hanya dengan satu kata kebaikan, dan dia sendiri menjadi tauladan dalam kebaikan itu. Nabi SAW memberi apresiasi yang besar kepada siapapun yang menyampaikan kebaikan, sebagaimana pernah dikatakan kepada Ali bin Abi Thalib, “Wahai Ali, usahamu untuk membimbing satu orang ke jalan yang benar lebih bernilai daripada dunia dan semua isinya” (HR Bukhari Muslim dan H.R Al Hakim).

Bersemangatlah menjadi pendakwah sekalipun minimalis, sebab Allah merahmati Anda, dan semua malaikat di langit, penghuni bumi, ikan di laut memintakan rahmat Allah untuk Anda. Nabi SAW bersabda,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

“Sungguh Allah, para malaikat, semua penghuni bumi, termasuk semut dalam liangnya dan ikan-ikan (dalam laut) semuanya memohonkan rahmat untuk siapapun yang mengajarkan kebaikan” (HR. At Tirmidzi dari Abu Umamah Al-Bahily).

Jangan sekali-kali berhenti sebagai pendakwah, sebab keringat Anda untuk mencerahkan manusia akan menjadi cahaya untuk kuburan Anda, sebab pahala terus menerus terkirim ke buku catatan perbuatan Anda. Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa mengajarkan atau merintis kebaikan, lalu kebaikan itu diikuti orang, maka ia mendapat pahala dari orang yang mengikuti kebaikan itu, tanpa dikurangi sedikitpun. Dan barangsiapa yang merintis kejelekan, lalu kejelekan itu diikuti orang, maka ia mendapat dosa dari yang mengikuti kejelekan itu, tanpa dikurangi sedikitpun.” (HR. Muslim dari Jarir bin Abdillah r.a). Nabi SAW juga bersabda, 

نَضَرَاللهُ امْرَءًا سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ فَرُبَّ مُبَلِّغٍ اَوْعَى مِنْ سَامِعٍ

“Semoga Allah memberi cahaya berkilau (nadlrah) pada orang yang mendengar sesuatu (syai-an) dari kami, lalu menyampaikannya (kepada orang lain) sesuatu yang telah didengar (dari kami). Ketahuilah, tidak sedikit penerima pesan (muballagh) lebih menghayati daripada orang yang mendengarnya sendiri (secara langsung)” (HR. Al Turmudzi dari Ibnu Mas’ud r.a).

Berdasar hadis ini, setiap orang memiliki kemampuan komunikasi yang berbeda dengan yang lain. Oleh sebab itu, bisa saja sebuah pesan agama oleh pendakwah diterima pendengar tanpa kesan yang maksimal, tapi justru lebih mengesankan ketika pesan yang diterima itu disampaikan kembali oleh pendengar tersebut kepada orang lain, sebab ia memiliki keterampilan komunikasi yang lebih baik. Oleh sebab itu, jadilah pendakwah sekalipun hanya dengan materi pesan yang diterima dari pendakwah lain, bukan dari kitab suci dan literatur.     

Nah, ada sisi dakwah selain mengajak kepada kebaikan (amar makruf) yaitu nahi munkar (mencegah sebuah  kemaksiatan). Sisi kedua ini jauh lebih berat dari amar makruf, bahkan berisiko tinggi. Tidak sedikit pegiat nahi munkar masuk penjara atau bahkan mati di tangan orang yang terusik harga diri dan kenyamanannya oleh pegiat nahi munkar. Benar, nahi munkar sehari lebih berat daripada amar makruf seribu tahun.

Lalu, apakah kita harus diam terhadap kemaksiatan karena risiko yang berbahaya itu? Nabi SAW memberi jawaban, jika kalian mampu, hentikan kemaksiatan itu dengan kekuasaanmu. Jika tidak mampu, lakukan dengan nasihatmu, dan jika itupun  tidak mampu, cukup berdoalah saja agar kemaksiatan itu terhapus. Jika Anda tidak melakukan apapun di antara tiga pilihan tadi, maka Anda menanggung dosa kemaksiatan tersebut, doa-doa Anda juga tidak akan didengar Allah, dan Anda ikut bertanggungjawab akan kehancuran masyarakt itu dan sekitarnya, cepat atau lambat. Sebab, kemaksiatan ibarat sebuah kebakaran. Jika tidak Anda padamkan, maka semua kampung ikut terbakar. Rasulullah SAW bersabda, “Demi Allah Yang menguasai diriku, (pilihlah!) kalian lakukan amar makruf dan nahi munkar atau kalian rasakan siksa, lalu semua doa kalian tertolak karenannya. (HR. At Tirmidzi dari Hudzifah bin Al Yaman r.a)

Dakwah minimalis, dengan satu kata kebaikan mendatangkan pahala yang besar, maka apalagi jika yang Anda sampaikan lebih banyak lagi. Oleh sebab itu, Anda harus menjadi pendakwah terpelajar dan pembelajar, artinya kaya ilmu dan tiada henti menambah ilmu. Sebab masyarakat penerima dakwah telah berkembang pesat pengetahuan dan wawasannya. Pendakwah akan kehilangan wibawa jika ia miskin ilmu dan wawasan dibanding mitra dakwahnya.  Nabi SAW bersabda,

اَلدُّنْيَا مَلْعُوْنَةٌ مَلْعُوْنٌ مَا فِيْهَا اِلَّا ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمًا وَمُتَعَلِّمًا

 “Semua isi dunia ini terkutuk, kecuali dzikrullah, orang yang taat kepada-Nya, orang terpelajar dan pembelajar (pencari ilmu)” (HR Al Turmudzi dari Abu Hurairah r.a).

     Pada era milenial ini, tidak bisa tidak, Anda harus menjadi pandakwah maksimalis, yaitu pendakwah yang terpelajar dan pembelajar.

PUYER ILAHIYAH

April 1st, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

PUYER ILAHIYAH
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ خَيۡرُ ٱلۡبَرِيَّةِ جَزَآؤُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ذَٰلِكَ لِمَنۡ خَشِيَ رَبَّهُۥ

“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan perbuatan yang baik, mereka itulah adalah  makhluk yang terbaik. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya (QS. Al Bayyinah [98]: 7-8).

Ayat di atas menjelaskan pujian Allah untuk orang-orang yang beriman dan mengerjakan perbuatan yang baik sebagai makhluk terbaik, sekaligus disediakan surga ‘Aden untuk mereka. Allah senang melihat mereka dan mereka juga senang dengan balasan itu. Balasan yang agung itu diberikan kepada mereka sesuai dengan akhlak mereka sewaktu di dunia yang selalu senang hati, puas, dan tidak mengeluh sama sekali atas apapun perintah dan takdir Allah, lebih-lebih yang tidak sesuai dengan harapan, seperti sakit, kemiskinan, bencana, dan sebagainya.   

            Tulisan ini terilhami sebuah buku terlaris di Arab Saudi (2018), Liannaka Allah, Rihlah Ilas Samaa-is Saabi’ah (Karena Engkau Allah, Sebuah Perjalanan Jauh ke Langit Tujuh) oleh Syekh Ali bin Jabir Al Fayfi. Dalam salah satu bab di dalamnya yang berjudul As-Syaafy (Tuhan Maha Penyembuh), dijelaskan bahwa sikap ridho dan senang atas takdir Allah merupakan syarat utama kesembuhan seseorang dari penyakit bersamaan dengan beberapa ikhtiar lainnya. Tulisan ini merupakan ringkasan dari bab tersebut dengan beberapa tambahan. 

As-Syaafy adalah nama Allah yang menjadikan siapapun yang memanggilnya akan riang dan optimis, bahkan sirnalah apapun kecemasannya. Nama itulah yang meyakinkan Anda, bahwa Ia Maha Kuasa menyembuhkan segala penyakit dengan perantaraan suatu sebab atau tanpa sebab sama sekali. Maka, panggillah As-Syaafy dalam setiap doa Anda untuk meminta kesembuhan dengan sepenuh hati, tanpa sedikitpun keraguan.

Ada seorang ayah yang bersedih di rumah sakit Arab Saudi karena anaknya sakit dan tidak ada harapan sembuh. Ketika shalat isyak, ia mendengar sang imam membaca ayat “..dan gembirakanlah orang-orang yang bersabar” (QS. Al Baqarah [2]: 155), maka berkuranglah kesedihannya. Ia lalu teringat firman Allah, Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menghalanginya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. 35: 2). Sejak itu, ia semakin bersemangat berdoa, dan tidak lama kemudian, sang anak sembuh total.

            Ada juga orang tua yang lain yang hampir putus asa karena anaknya terkena penyakit kebutaan. Semua anggota keluarga ikut berdoa, tapi tidak ada tanda-tanda kesembuhan. Tiba-tiba datanglah tamu yang berpesan, “Bersedekahlah dengan niat untuk kesembuhan anakmu, sebab Nabi SAW bersabda, “Daawuu mardhaakum bis shadaqah” (sembuhkan penyakit kalian dengan sedekah) (HR. At Thabrany). Setelah nasihat itu dijalankan, anak itu berangsur-angsur sembuh dari kebutaan.

            Kadangkala Allah SWT memberi penyakit agar Anda lebih empati, merasakan derita orang lain. Jika melalui penyakit itu Anda lebih empati lalu membantu untuk biaya berobat dan kebutuhan sehari-hari mereka, maka penyakit Anda akan sembuh, sebab tujuan Allah mendatangkan penyakit telah tercapai. Jika penyakit itu diberikan agar Anda lebih merendah (tawadhu’) dan bertobat kepada Allah, lalu melalui penyakit itu, Anda lebih tawadlu’, merendah dan bertobat, maka penyakit Anda akan diangkat oleh Allah, sebab tujuan pemberian penyakit telah tercapai. Yang pasti, sebuah penyakit diberikan Allah untuk menguji sejauhmana kesabaran dan perasaan hati Anda menerimanya. Jika Anda menerima penyakit itu dengan ikhlas dan senang hati, tanpa keluhan sama sekali, maka sirnalah penyakit Anda, sebab tujuan pemberian penyakit tersebut telah terpenuhi.

            Ketika Nabi Ayyub a.s sakit bertahun-tahun dan semua anaknya juga diwafatkan Allah, ia tetap tenang dan dengan senang hati menerimanya. Maka Allah memberinya kesembuhan. Ayyub a.s berdoa, “Wahai Tuhanku, sungguh aku sedang ditimpa penyakit, dan Engkaulah Tuhan Yang Paling Maha Pengasih di antara para pengasih” (QS. Al Anbiyak [21]: 83). Inilah redaksi doa yang istimewa, sebab doa itu mencerminkan racikan antara keyakinan, kepasrahan dan optimisme. Doa itu lebih menonjolkan pengakuan kemurahan Allah dan kepasrahan kepada-Nya daripada mengajukan sebuah permintaan; lebih mengedepankan hak Allah berupa sanjungan dan pujian untuk-Nya, daripada permintaan kesembuhan yang merupakan hak manusia. Inilah doa afirmatif yang disebut oleh Syekh Ali bin Jabir Al Fayfi doa mumtali-un bil yaqiin (doa dengan keyakinan sepenuhnya). Melalui doa itulah, Allah memberi obat kesembuhan yang ternyata tidak jauh, yaitu mata air di bawah kakinya. Allah SWT memerintahkan Ayyub a.s, “Hentakkan kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum” (QS. Shad [38]: 42). Melalui ayat ini, Allah menjelaskan bahwa obat penyakit Anda bisa saja dalam dirimu sendiri, atau tidak jauh dari Anda.

            Mungkin Anda pernah menerima resep dokter berbentuk puyer yaitu racikan dari berbagai jenis obat, karena menurutnya, penyakit Anda tidak bisa disembuhkan hanya dengan satu jenis obat. Dalam perspektif Islam, untuk sebuah kesembuhan, tidak cukup hanya dengan pergi ke dokter, tapi perlu juga pengaturan pola hidup. Keduanya juga belum cukup, masih harus disertai juga doa, memperbanyak sedekah, istighfar dan taubat. Racikan puyer ilahiyah itupun masih belum cukup, masih diperlukan sikap ridho, ikhlas, dan senang atas penyakit itu seperti yang dicontohkan Ayyub a.s. Dan inilah unsur yang paling berat dari semua bahan racikan puyer tersebut.

Bernafaslah dengan doa Radhitu billahi Rabba..dst (wahai Allah, saya sungguh senang apapun keputusan-Mu). Penuhilah hati dengan sumpah itu, dan konsentrasikan ke bagian tubuh yang sakit. “Minumlah” setiap pagi dan petang puyer ilahiyah yang berisi ikhtiar, doa, istighfar, tobat, sedekah, dan sumpah keikhlasan, ridho dan senang dengan apapun pemberian Allah.  Yakinlah, sebentar lagi Anda akan menyaksikan sebuah keajaiban.

Referensi: (1) Ali bin Jabir Al Fayfi, Liannaka Allah, Rihlah Ilas Samma-is Saabi’ah (Karena Engkau Allah, Sebuah Perjalanan Jauh ke Langit Tujuh), Darul Hadharah Linnasyri Wat Tauzi’, Riyadh, Makkah, 1439 H/2018, cet. 22, p. 67-83 (2) Moh. Ali Aziz, 60 Manit Terapi Shalat Bahagia, UIN Sunan Ampel Press, Surabaya, 2018.

BELAJAR TANGGUH DAN MANDIRI

March 5th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

BELAJAR TANGGUH DAN MANDIRI

Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: https://www.shareicon.net/tag/strong

رَّبَّنَآ إِنِّيٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ عِندَ بَيۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجۡعَلۡ أَفۡ‍ِٔدَةٗ مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهۡوِيٓ إِلَيۡهِمۡ وَٱرۡزُقۡهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَشۡكُرُونَ * رَبَّنَآ إِنَّكَ تَعۡلَمُ مَا نُخۡفِي وَمَا نُعۡلِنُۗ وَمَا يَخۡفَىٰ عَلَى ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِ *

Wahai Tuhan kami, sungguh aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Wahai Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. Wahai Tuhan kami, sungguh Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami tampakkan; dan tidak ada suatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit (QS. Ibrahim [14]: 37-38).

Pada ayat-ayat  sebelumnya, dijelaskan usaha Nabi Ibrahim a.s untuk membekali anak-anaknya dengan keimanan dan menjauhkan mereka dari lingkungan yang merusak keimanan. Sebagai kelanjutan, ayat di atas menjelaskan usaha Ibrahim a.s berikutnya, yaitu member pembelajaran ketangguhan fisik dan mental.

Nabi Ibrahim a.s melahirkan keuturunan melalui jalur Ishak dan Ismail. Dari Ishak, lahirlah Ya’qub dengan dua belas keturunan yang kemudian disebut Bani Israil. Sedangkan dari Ismail, atas pernikahannya dengan suku Jurhum, lahirlah keturunan Adnan yang melahirkan dua suku besar yaitu Arab Musta’ribah dan Mudhar sampai kepada Nabi SAW.  Ketika berusia 86 tahun, Nabi Ibrahim dikarunia anak, yaitu Ismail dari istri kedua, Hajar. Betapa terkejutnya Hajar, ketika sang suami tiba-tiba mengajaknya bersama Ismail yang masih menyusu itu ke pegunungan Mekah, daerah kering, tandus, tak berpenghuni, dan tak ada satupun tanaman yang tumbuh. Di tempat itulah, Hajar dan Ismail ditinggalkan, dan Ibrahim a.s kembali ke Palestina. Wajarlah jika Hajar sangat keberatan ditinggal bersama si bayi tanpa bekal sedikitpun itu. ”Apakah ini perintah Allah?” tanyanya kepada Ibrahim berkali-kali. ”Benar,” jawab Ibrahim. ”Baiklah, kalau itu perintah Allah, maka saya yakin Allah tidak akan menelantarkan kami,” katanya ikhlas.  

Si bayi Ismail menangis kehausan, sedangkan air persediaan sudah habis. Hajar berlari mencari sumber air sampai ke bukit Shafa, tapi sia-sia, tak ada setetespun air. Lalu, berlari lagi sampai ke bukit Marwah, tetap saja sia-sia. Setelah tujuh kali bolak-balik dari Shafa dan Marwah, ia istirahat kelelahan. Ketika itulah, ia melihat Jibril, dan tiba-tiba ia merasakan adanya air keluar di tumitnya. Ia segera menciduk air itu untuk minuman Ismail. Jibril berkata, ”Jangan takut kesepian, karena di tempat inilah akan ada rumah Allah yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya,” kata Jibril menunjuk ke tempat yang tinggi. Beberapa burung turun meminum di sumber air itu. Suku Jurhum yang sedang melewati daerah itu lalu mengetahui bahwa di situ ada sumber air, yang kemudian terkenal dengan sumber zamzam itu.  Mereka minta ijin kepada Hajar untuk mengambil air dan berkemah di daerah sekitarnya. Lambat laun, daerah yang semula tandus tak berpenghuni itu berubah menjadi perkampungan Mekah yang kita kenal sekarang ini.

Inilah ayat yang mengajarkan perlunya pendidikan mental yang tangguh, dan  fisik yang kuat melalui pengalaman hidup, di samping pendidikan spiritual dan intelektual. Ibrahim a.s telah mengajarkan kedua bekal itu kepada Hajar dan Ismail. Hajar tidak berpangku tangan, tidak hanya berdoa, tidak hanya menggerutu menghadapi tantangan kehidupan. Ia sadar bahwa tangisan tidak bisa merubah keadaan. Pastilah, si bayi, Ismail juga menyerap spirit ketanggguhan dan kemandirian melalui keringat sang ibu.  

Ada dua cerita kehidupan yang dapat meyakinkan Anda tentang perlunya pendidikan mental baja untuk anak-anak Anda. Seorang pemilik hotel kenamaan yang memasuki usia lanjut menyerahkan estafet manajemen hotel kepada dua anaknya yang sama-sama bergelar master dalam ilmu perhotelan dari universitas kenamaan di Eropa. Setelah lima tahun dikelola sang anak, hotel dengan puluhan cabangnya itu kelimpungan menghadapi pesaing-pesaing yang baru. ”Otak anak-anak saya sangat encer, pengetahuannya tentang teori-teori perhotelan di luar kepala, tapi ketangguhannya untuk berdarah-darah menghadapi tantangan masih nol,” katanya. Ia mengaku salah dalam mendidik anaknya, yang dianggapnya cukup melalui bangku sekolah formal. ”Ternyata, anak kita harus dididik untuk bersakit-sakit dan berpayah-payah untuk merasakan pahit getirnya kehidupan, sehingga ia mengerti bahwa hidup adalah perjuangan, dan bahwa setiap rupiah hanya bisa diperoleh dengan keringat,” pesannya.  

Inilah kisah kedua yang juga menarik. Di atas pesawat dari Taiwan menuju Surabaya, seorang wanita pebisnis ekspor impor yang duduk di sebelah saya bercerita tentang anak tunggalnya yang sukses mengelola pabrik baja. Ketika saya tanya, bagaimana ia mendidik anaknya sehingga mau dan bisa mengelola pabrik sebesar itu, ia mangatakan, ”Saya didik dia sejak kecil untuk menghargai berapapun nilai uang, sebab setiap rupiah pasti dihasilkan dari perasan keringat.” Ketika sang anak kuliah di Uinversitas Kristen Petra, ia hanya memberinya bekal uang yang sangat terbatas, dan jika kurang, ia harus mencari tambahan sendiri. ”Saya pura-pura tidak tahu ketika ia bekerja sebagai pengangkut barang di sebuah pertokoan untuk menutupi biaya kuliahnya,” kisahnya. Menurutnya, saat itu sebenarnya ia menjerit, tapi ia harus tega, sebab itulah cara mendidik anaknya agar ia mengerti nilai uang dan kerja keras, serta memiliki ketangguhan sebagai pelaku bisnis masa depan dengan tantangan dan pesaing yang lebih berat.

Muslim mandiri selalu mengingat pesan Jibril kepada Nabi SAW, bahwa keperkasaan dan kemuliaan seseorang ditentukan sejauhmana ia membebaskan dirinya dari ketergantungan pada orang lain. Iamemandang kesulitan yang dihadapi sebagai tantangan. Ia mengerti kelebihan dan kekurangan dirinya, lalu berfokus pada kelebihannya bukan pada kelemahannya. Ia belajar berpikir positif, memandang kesalahan masa lalu dan kegagalan sebagai tonggak menuju sukses di masa depan. Semua itu hanya bisa dipelajari dari kehidupan nyata sebagaimana yang diajarkan Nabi Ibrahim a.s kepada Hajar dan Ismail, tidak bisa hanya dengan pendidikan formal belaka.

Surabaya, 30 Oktober 2018

Sumber: (1) Al Hamshy, Muhammad Hasan, Al Qur’an Al Karim, Tafsir Wa Bayan, Darur Rasyid, Beirut, Lebanon, tt (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 13, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 152, (3) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, vol. 6, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 388, (4) Afif Abdullah, Ma’al Anbiya’ Fil Qur’anil Karim (Nabi-Nabi Dalam Al Qur’an), Terjmah Tamyiiez Dery, dkk, Penerbit Toha Putra, Semarang, 1985.