Header

DIPLOMASI TANAH SUCI

December 10th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

DIPLOMASI TANAH SUCI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: https://www.maxmanroe.com/vid/sosial/pengertian-diplomasi.html

إِنَّا فَتَحۡنَا لَكَ فَتۡحٗا مُّبِينٗا

“Sungguh Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata” (QS. Al Fath [48]: 1)

Ayat pembuka Surat Al Fath yang turun tahun 6 H  ini merupakan kelanjutan dari ayat-ayat perintah perang pada surat sebelumnya, yaitu Surat Muhammad  yang turun pada tahun 3 H. Ayat yang berisi kemenangan Nabi memasuki Mekah ini hanya bisa kita fahami jika kita mengetahui proses panjang “Fat-hu Makkah” tersebut.  

Penduduk Mekah, apapun suku dan agamanya, amat memuliakan kakbah. Meskipun mereka sedang perang antar suku, mereka bisa menjaga kehormatan kakbah. Lebih-lebih, pada empat bulan yang mereka muliakan, yaitu Rajab, Syawal, Dzul Qa’dah, dan Dzul Hijjah. Di dalam bangunan kakbah dan jalan di antara dua bukit Shafa dan Marwah terdapat banyak berhala.  Itulah sebabnya, ketika perintah umrah turun (QS. Al Baqarah [02]: 185), Allah menyatakan, “tidak apalah engkau mengerjakannya antara Shafa dan Marwah,” meskipun banyak berhala di sekitar tempat ibadah itu.  

Suatu malam pada tahun 6 H, Nabi bermimpi umrah di Mekah dengan selamat. Mendengar berita itu, 1.400 orang langsung mendaftar untuk mengikuti umrah, sebab mereka telah rindu Mekah setelah 6 tahun ditinggalkannya. Maka, pada bulan Dzul Qa’dah, mereka berangkat dengan membawa kambing yang akan disembelih setelah selesai umrah.

Di tengah jalan, Khalid bin Walid dan sejumlah kafir Mekah menghadang Nabi agar tidak melanjutkan ke Mekah. Setelah istirahat sejenak, Nabi tetap bersikeras melanjutkan perjalanan melewati jalan yang tidak biasa. Ketika sampai di lembah Hudaibiyah, Nabi menyuruh Umar untuk melobi kafir Mekah agar mengijinkan untuk memasuki Mekah. Tapi, Umar menyarankan agar Usman yang berangkat, sebab Usman memiliki banyak keluarga yang berpengaruh di Mekah. Maka, berangkatlah Usman. Kepada Abu Sufyan, pemimpin kafir, Usman meyakinkan bahwa kedatangan Nabi murni untuk beribadah, bukan untuk berperang. Abu Sufyan menjawab, “Jika tuan sendirian, silakan. Jangan bersama rombongan.”

Nabi cemas, sebab Usman lama tidak kembali, dan menduga ia dibunuh. Maka, Nabi meminta para sahabat untuk meletakkan tangannya di atas tangan Nabi sebagai janji kesetiaan. Khusus untuk Usman yang sedang tidak ada di tempat, Nabi meletakkan tangan kirinya di atas tangan kanannya sebagai tanda bai’at atas nama Usman.  

Tiba-tiba, muncullah Usman bersama utusan kafir Mekah, Suhail bin ‘Amr. Nabi kemudian memanggil Ali bin Abi Thalib untuk menyiapkan naskah perjanjian. Para sahabat kaget setengah marah terutama Umar bin Khattab melihat Suhail seenaknya mencoret beberapa poin dalam naskah itu. Pertama, basmalah (dengan nama Allah) diganti “Bismika Allahumma.” (dengan namamu, oh Allah). Kedua, kalimat “Inilah perjanjian antara Muhammad Rasulullah dengan Suhail bin ‘Amr” diganti “Inilah perjanjian antara Muhammad bin Abdullah dengan Suhail bin ‘Amr.” Sebab, ia memang tidak mengakui kenabian Muhammad. Ketiga, genjatan senjata selama 10 tahun. Keempat, ”Jika ada orang Quraisy Mekah datang kepada Nabi tanpa seijin pemimpin Quraisy, maka Muhammad wajib memulangkannya ke Mekah. Tapi, jika pengikut Nabi datang ke Mekah, maka tidak ada kewajiban bagi mereka untuk memulangkannya kepada Nabi di Madinah.” Kelima, dan ini yang terpenting, Nabi baru diijinkan ke Mekah tahun berikutnya.  Para sahabat tidak menduga Nabi menyetujui semua itu. Mereka kecewa, mengapa Nabi semudah itu mengalah?.

Umar lalu berbisik kepada Abu Bakar, “Bukankah Muhammad utusan Allah? Mengapa kita umat muslim harus mengalah kepada orang-orang musyrik? Abu Bakar menjawab satu persatu pertanyaan itu dengan jawaban yang sama, “Tenanglah Umar. Saya tidak ragu sedikitpun dengan pertanyaanmu itu. Muhammad benar-benar utusan Allah.” Tidak puas dengan jawaban itu, Umar mendekati Nabi dan membisikkan kata yang sama, dan Nabi menjawab singkat,  “Sebagai hamba Allah dan utusan-Nya, aku tidak diperbolehkan menentang kehendak-Nya.”

Beda sekali antara dua sahabat ini. Abu Bakar 100% percaya Nabi, sedangkan Umar sangat kritis, bahkan sedikit tersirat meragukan kerasulan Nabi. Tapi, keduanya diapresiasi oleh Nabi. Beberapa waktu setelah peristiwa itu, Umar seringkali menangis jika teringat sikapnya yang kasar kepada Nabi, “Niatku memang baik, tapi mengapa saya berkata begitu kasar kepada Nabi?”

Beberata menit sebelum ditandatangani perjanjian, para sahabat dikejutkan dengan kedatangan Abu Jundul putra Suhail dengan tangan terborgol sebagai tawanan Quraisy. Ia menyatakan telah muslim, dan menolak dipulangkan ke Mekah, meskipun yang membujuknya adalah ayahnya sendiri, Suhail. Nabi memulangkannya ke Mekah demi ketaatannya kepada sebuah perjanjian. “Wahai Abu Jundul, ikutilah ayahmu. Allah pasti menolongmu dan semua orang yang tertindas sepertimu,” pesan singkat Nabi kepadanya.

Akhirnya, perjanjian ditandatangani Abu Bakar, Umar, Abdurrahman bin Auf, Abdullah bin Suhail bin ‘Amr, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Ali bin Abi Thalib sebagai sekretaris. Umar dan beberapa sahabat lainnya masih mendongkol, sebab memandang perjanjian itu kekalahan umat Islam sekaligus penghinaan kepada Nabi.

Nabi lalu memerintahkan para sahabat memotong kambing dan mencukur rambut sebagai tanda batalnya umrah. Perintah itu diulang dua kali, tapi, mereka dingin-dingin saja. Maka, Ummu Salamah,  istri Nabi menyarankannya untuk memberi contoh terlebih dahulu. Nah, ketika Nabi mengambil pisau untuk memotong kambing dan mencukur rambutnya, barulah semua sahabat mengikutinya.  

Dalam perjalanan pulang ke Madinah itulah Surat Al Fath ini turun. “Inilah surat yang paling aku cintai, karena nilainya melampaui nilai langit, bumi dan segala isinya,” kata Nabi kepada Umar yang masih cemberut.

Inilah kehebatan Nabi yang berhasil merebut tanah suci dengan diplomasi kelas tinggi. Tak diperlukan biaya besar, dan tak ada setetespun darah tercecer. Diplomasi Nabi juga menghasilkan keajaiban, penduduk kafir Mekah yang terkenal ganas, bahkan berencana membunuh Nabi, tiba-tiba saja bersedia duduk berunding, suatu peristiwa yang langka bagi masyarakat Arab saat itu. 

Inilah ayat yang menunjukkan apresiasi Allah atas langkah-langkah diplomasi Nabi dalam Perjanjian Hudaibiyah. Para sahabat bertanya, “Itu apresiasi Allah untuk tuan. Adakah apresiasi untuk kami?.” Maka, turunlah ayat kelima pada surat tersebut. Belajarlah diplomasi, dan raihlah kemenangan tertinggi. 

Sumber: Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 26, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 108.

PENGGANTI YANG TELAH PERGI

November 4th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

PENGGANTI YANG TELAH PERGI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ

“(Orang-orang yang sabar itu adalah) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun” (Sungguh, kami adalah milik Allah, dan sungguh kepada-Nyalah kami kembali)” (QS. Al Baqarah [02]: 156)

Pada ayat sebelumnya, Allah menjelaskan bahwa setiap orang pasti menghadapi aneka ujian. Jangan bermimpi hidup tanpa cobaan, sebab kita berada di dunia, bukan di surga. Kita sering mendengar kalimat penyemangat, “Berani hidup, berani menghadapi cobaan.” Cobaan itu bisa berupa psikis, seperti kegelisahan karena peristiwa yang telah dialami atau kecemasan terhadap sesuatu yang belum terjadi. Juga bisa berupa pisik, seperti sakit, kekurangan keuangan untuk biaya hidup, dan sebagainya. Sebagai kelanjutan, ayat di atas menjelaskan bahwa orang mukmin akan tetap tegar menghadapi apapun cobaan, karena dalam dirinya telah terhunjam sebuah keyakinan, bahwa jiwa, raga dan harta adalah milik Allah, dan pasti akan diambil kembali oleh-Nya.

Jika Anda mendapat pinjaman motor, Anda tidak boleh melarang pemiliknya mengambilnya kembali. Demikian itulah tamsil yang sederhana tentang makna ayat di atas. Nyawa, raga, dan harta adalah milik Allah, maka kita tidak boleh menghalangi-Nya jika Allah mengurangi atau mengambilnya. Setiap hari kita telah menguatkan mental dengan ayat kursi, “Milik Allah-lah semua yang ada di langit dan bumi.” Keyakinan demikian itulah yang menjadi penangkal paling ampuh dari ancaman stres. Jadi, secara hakikat, sebenarnya kita dilarang mengatakan, “ini tanganku, atau ini kakiku.” Jika Anda mengakuinya sebagai milik Anda, maka Anda harus bisa menunjukkan surat kepemilikan yang sah. Dan, jika Anda mengakuinya sebagai sewa dari Allah, Anda harus menunjukkan surat persawaan yang sah dengan biaya persewaan yang jelas.

            Dari penjelasan di atas, Anda bisa memahami mengapa Nabi SAW menganjurkan orang yang mengalami sebuah musibah untuk membaca doa,  

إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ اَللّٰهُمَّ عِنْدَكَ أَحْتَسِبُ مُصِيْبَتِيْ فَـآجِرْنِيْ فِيْهَا وَأَبْدِلْنِيْ بِهَا خَيْرًا مِّنْهَا

“Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun” (Sungguh, kami adalah milik Allah, dan sungguh kepada-Nyalah kami kembali).”  Wahai ­Allah, musibah ini dari-Mu, maka berilah pahala untuk kami me­lalui musibah ini. Berikan kami ganti yang lebih baik daripada yang telah hilang dari kami.” (HR. Abu Daud dari Ummu Salamah r.a).

            Ummu Salamah r.a adalah wanita yang paling terkesan dengan doa ini, karena melalui doa itu, ia mendapatkan anugerah yang besar setelah mendapat musibah. Nama asli janda yang cantik dan cerdas dari keluarga berpengaruh di Mekah ini adalah Hindun binti Abi Umayyah. Ia terkenal dengan panggilan Ummu Salamah, karena anak pertama dan empat anaknya bernama Salamah. Sedangkan suaminya, Abdullah bin Al Asad Al Makhzumi lebih dikenal dengan Abu Salamah.

Suami-istri ini sangat setia kepada Nabi dan mengikutinya hijrah ke Abesinia. Adapun untuk hijrah ke Madinah, keluarga hanya mengijinkan suami Ummu Salamah, sedangkan Ummu Salamah dan anak-anaknya harus tetap tingal di Mekah. Setahun kemudian, Ummu Salamah dengan setengah memaksa, baru diijinkan menyusul suaminya di Madinah. Itupun dengan catatan, ia berangkat sendiri, tanpa diantar oleh siapapun. Meskipun Ummu Salamah tidak mengetahui jalan yang harus dilalui menuju Madinah, ia tetap berangkat dengan mengendarai unta sambil menggendong anaknya.

Ketika sampai di desa Tan’im, Ummu Salamah yang kehilangan arah ditolong oleh non-muslim yang berbaik hati mengantarnya sampai gerbang kota Madinah. Di sana, ia amat senang bertemu suami yang telah setahun berpisah. Ia juga bangga bersuami tentara yang terkenal cerdas dan kuat dalam perang Badar dan Uhud. Dalam perang yang terakhir itulah, ia terluka berat, lalu meninggal di rumahnya dengan didampingi Nabi SAW. Ummu Salamah terpukul, sebab suami yang jauh-jauh didatangi dari Mekah dengan pengurbanan yang luar biasa harus meninggalkannya selamanya. Sejak itulah ia membaca doa di atas.

Beberapa sahabat melamar si janda shalihah itu, termasuk dua sahabat senior, Abu Bakar dan Umar. Tapi, semua ditolak olehnya. Beberapa waktu setelah itu, ia terkejut, sebab pelamar berikutnya adalah Nabi SAW. Ia amat bergembira menerima lamaran itu dengan mengatakan, “Wahai Nabi, saya sudah tua dan dari keluarga biasa. Saya juga memiliki banyak anak.” 

Inilah buah doa Ummu Salamah. Ia mendapat suami yang jauh lebih mulia dari suami yang pergi meninggalkannya. Ketika berkumpul dengan para istri nabi lainnya, ia minder terutama terhadap Aisyah dan Hafshah, sebab mereka dari keluarga terhormat, yaitu Abu Bakar As Shiddiq dan Umar bin Khattab. Ummu Salamah termasuk istri yang istimewa, sebab dialah yang mendampingi Nabi dalam perang Hunain dan perebutan kembali kota Mekah (fat-hu Makkah). 

Dialah istri yang pernah bertanya kepada Nabi, “Mengapa wanita tidak diberi kesempatan berperang seperti lakai-laki? Mengapa pula, kami hanya mendapat separuh dari hak laki-laki dalam pembagian harta waris?” Nabi tersenyum bangga mendengar pertanyaan yang mencerminkan kecerdasan dan semangat juang sang istri. Saat itulah turun Surat An Nisa’ ayat 32-34 yang berisi larangan iri-hati terhadap kekayaan atau kelebihan yang diberikan Allah kepada seseorang, dan bahwa lelaki adalah pemimpin yang bertanggungjawab di tengah keluarga. Setelah Nabi wafat, Ummu Salamah menolak ajakan Aisyah untuk bergabung melawan kelompok Ali bin Abi Thalib r.a., dan pada tahun 39 H, ia meninggal dunia dalam usia 84 tahun.

Tanamkan sekuat-kuatnya keyakinan isi kalimat istirja’ (inna lillahi wainna ilayhi raaji-uun), agar Anda tegar dan tidak stres ketika suatu saat mendapat cobaan berat yang terkait dengan keluarga, harta, kesehatan, karir, dan sebagainya. Dan, bacalah doa di atas ketika musibah sudah terjadi, agar Allah memberi pengganti yang lebih indah daripada apa yang telah pergi atau lepas dari tangan Anda, bisa di dunia atau di akhirat kelak.

Sumber: Fathi Fawzi Abdul Mu’thy, Mawaqif fi Hayatir Rasul Nuzilat Fihi Ayatun Qur’aniyyah,  diterjemahkan oleh penerbit Mizan dengan judul “Kisah Nyata Di Balik Turunnya Ayat Suci Al Qur’an,”  Penerbit Mizan, Jakarta, 2008, p. 151-172.     

DERITA DUSTA

October 5th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

DERITA DUSTA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang jujur” (QS. At Taubah [9]: 119).

            Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menceritakan tiga sahabat Nabi dengan sifat yang berbeda. Dua orang dari mereka berkata jujur dengan risiko dikucilkan oleh lingkungannya beberapa waktu, dan seorang lainnya berbohong, sehingga ia aman dari sanksi sosial saat itu. Sebagai kelanjutan, ayat di atas memerintahkan kita untuk meniru orang yang jujur, sebab itulah tanda utama ketakwaan. Al Imam Ibnu Qayyim berkata, “Jujur adalah ciri pembeda antara munafik dan mukmin, atau antara penghuni surga dan neraka.”

Secara garis besar, ada tiga macam manusia. Pertama, muslim atau mukmin, yaitu orang yang percaya kepada Allah dan menjalankan semua perintah-Nya. Kedua, munafik, yaitu orang yang tidak beriman, tapi mengaku beriman; atau beriman, tapi berbohong. Ketiga, kafir, yaitu orang yang tidak percaya kepada Allah. Ketiga kelompok tersebut dijadikan nama-nama surat Alquran, yaitu al Mukminun, al Kafirun, dan al Munafiqun.

Orang kafir pasti mendapat hukuman, dan hukuman yang lebih berat diberikan kepada orang kafir yang berpura-pura mukmin. Sebab, ia melakukan dosa yang berlipat, yaitu tidak beriman kepada Allah dan menipu orang dengan berpura-pura mukmin. Mereka itulah yang mendapat ancaman berat dari Allah, “Sungguh orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka, dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.”

Hukuman Allah juga berlaku untuk orang yang berdosa, dan hukuman itu pasti lebih berat bagi pendosa yang tidak mengakui dosanya, bahkan bergaya seperti orang suci dan memandang kotor orang lain. Hukuman berat itu diberikan, sebab ia durhaka kepada Allah, dan tidak mengakui dosanya, serta bergaya seperti orang suci dan merendahkan orang.

Siapapun yang berdosa sebaiknya segera mengakui dosanya kepada Allah dan kepada penegak hukum. Jangan berputar-putar menghindar dari hukuman dengan retorika, sandiwara, dan rekayasa, sebab itulah dosa yang bertumpuk, yaitu berdosa kepada Allah, kepada publik, dan menyulitkan penegak hukum.

Paling sedikit, ada tiga tanda kemunafikan. Pertama, berdusta kepada seseorang. Jika seseorang berdusta kepada banyak orang, termasuk melalui media sosial, maka dosanya semakin besar. Kedua, mengingkari janji kepada Allah, kepada istri, suami, anak, orang tua, pembantu rumah tangga, dan masyarakat luas. Ingkar janji merupakan dosa, dan dosanya akan lebih besar jika ia pemimpin jutaan orang. Wahai calon pemimpin dan calon wakil rakyat! Jangan hanya demi meraih popularitas dan simpati, Anda mengobral janji-janji yang tidak realistis.   

Ketiga, tidak menjalankan amanah atau kepercayaan yang dibebankan di pundaknya. Termasuk dalam kategori ini adalah pegawai atau karyawan yang tidak serius menjalankan tugasnya, dan anggota legislatif yang tidak hadir pada sidang pembuatan undang-undang. Atau ia hadir, tapi tidak serius mengikutinya. Juga pemimpin rakyat yang lebih fokus mengurus partai, keluarga, para pendukung dan tim suksesnya, daripada mengurus rakyatnya.

Berdasar hadis riwayat Imam Al Bukhari dari Abdullah bin Umar r.a, tanda kemunafikan lainnya adalah, wa idzaa khaashama fajara, artinya ketika konflik dengan seseorang, ia tidak berbicara obyektif, bahkan membesar-besarkan kekurangan lawan konfliknya. Kesalahan kecil orang yang sedang konflik dengannya, atau menjadi pesaing dalam ekonomi atau politiknya dibesar-besarkan (blow up), bahkan melakukan rekayasa jahat untuk menjatuhkan nama baik yang bersangkutan. Nabi SAW mengajarkan kita untuk berdoa, “Wahai Allah, bantulah aku untuk berbicara benar ketika senang ataupun sedang marah dengan orang.”

Ada juga ciri munafik yang tidak banyak diketahui orang, yang disebut Allah dalam Surat An Nisa’ ayat 142, “Sungguh orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (pamer dan meminta pujian) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka berzikir menyebut Allah kecuali sangat sedikit.”

Berdasar ayat ini, salah satu tanda kemunafikan adalah menunda-nunda waktu shalat, atau mengerjakannya tanpa semangat dan penghayatan. Orang yang mengharap dipuji masyarakat sebagai orang saleh, dermawan, pejuang, dan pujian-pujian lainnya juga tanda yang terang benderang bahwa dia orang munafik. Demikian juga orang yang jarang menyebut nama Allah, lebih sering berbicara tentang hal-hal yang tidak ada gunanya atau tentang kekurangan orang lain. Nama Allah hanya dipanggil ketika ia menghadapi kesulitan ekonomi, kesehatan, keluarga, dan sebagainya. Jika semua sifat kemunafikan tersebut lengkap ada pada Anda, maka Anda munafik tulen atau munafik kelas berat. Dan, jika hanya satu atau dua sifat, maka Anda munafik kelas ringan.

Hanya Allah yang mengetahui apakah Anda muslim, munafik, atau kafir. Juga hanya Anda dan Allah yang tahu apakah Anda munafik kelas berat atau ringan, munafik tulen atau semi munafik. Alat-alat monitor pengukur tekanan darah dan pernapasan, alat pendeteksi suara, pendeteksi retina mata, hingga pemindai otak tidaklah selalu akurat membuktikan kebohongan orang.

Sekalipun Anda merasa berhasil menutupi kebohongan, sebenarnya oleh ahli piskologi, ekspresi kebohongan Anda itu terbaca. Ketika Anda berbohong, Anda akan terlihat gugup, karena khawatir kebohongan itu terbongkar. Ekspresi wajah Anda juga terlihat janggal, mulai dari senyum yang dipaksakan, kontak mata yang selalu dihindari, bahkan sesekali memalingkan wajah. Anda juga terlihat berlebihan dalam meyakinkan orang, misalnya dengan banyak bersumpah atau bahasa-bahasa agama lainnya. Kata orang bijak, “People can lie with their words, but not with their eyes / orang bisa berbohong dengan kata, tapi tidak akan bisa dengan mata;” “Jujur itu sakit, tapi lebih sakit ketika kebohongan itu terungkap;” “Sekecil apapun sebuah dusta, pasti akan ada balasannya;” “Sekali engkau berbohong, sejuta kejujuranmu diragukan orang,” dan “Kebohongan itu menyenangkanmu sesaat, tapi menyusahkanmu sampai kiamat.”

Imam Ibnul Mubarak berkata, “Dusta menjadikanmu menderita. Engkau akan lelah dan tersiksa, terus menerus waswas dan takut dustamu terbuka. Hiduplah dengan jujur apa adanya, agar batinmu bebas, dan langkahmu ringan.”

Surabaya, 25 Pebruari 2019

 Referensi: (1) Muhammad Ali As Shabuuny, Shafwatut Tafaasiir, Juz 1, Darul Qur-aanil Kariim, Beirut, 1402 H/1981 M, Cet. IV, p. 567, (2) Al Sya’rani, Abdul Wahhab, Tanbih Al Mughtarrin, penyadur: W. Wikarta: Jalan-jalan Surga, Akhlak dan Ibadah Pembuka Pintu Surga, Mizania, Bandung 2017, cet.1.