Header

NABI, MENGAPA HANYA DIPUJI?

January 8th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

NABI, MENGAPA HANYA DIPUJI?
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِيَّ ٱلۡأُمِّيَّ ٱلَّذِي يَجِدُونَهُۥ مَكۡتُوبًا عِندَهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ يَأۡمُرُهُم بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَىٰهُمۡ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡخَبَٰٓئِثَ وَيَضَعُ عَنۡهُمۡ إِصۡرَهُمۡ وَٱلۡأَغۡلَٰلَ ٱلَّتِي كَانَتۡ عَلَيۡهِمۡۚ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُواْ ٱلنُّورَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ  

 (yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS. Al A’raf [7]: 157).

                Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menjelaskan ciri-ciri orang yang mendapatkan rahmat Allah. Orang-orang Yahudi mengklaim merekalah yang dimaksud pada ayat itu. Maka, ayat yang dikutip di atas menegaskan bahwa orang-orang yang mendapat rahmat itu bukan untuk satu kelompok, melainkan untuk siapapun yang beriman kepada Nabi SAW, mengikuti ajarannya dan mengajarkannya kepada umat manusia.  

sumber gambar: http://www.clker.com/cliparts

                Ayat di atas juga menegaskan, Nabi SAW yang harus diikuti itu telah dijelaskan dalam kitab Taurat dan Injil. Dalam Perjanjian Lama Ulangan XVIII antara lain disebutkan, “Seorang nabi akan Ku-bangkitkan bagi mereka seperti engkau ini. Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Ku- perintahkan kepadanya. Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan oleh nabi itu demi nama-Ku darinya akan Ku-tuntut pertanggungjawaban.” Maksud dari kata “orang seperti engkau (Musa)” adalah  Nabi SAW, karena keduanya sama-sama membawa syariat. Sedangkan Isa Al Masih tidak membawa syariat baru, tapi hanya melanjutkan syariat Nabi Musa as.

                Dalam ayat di atas ditegaskan, Nabi SAW adalah ummi, artinya tidak bisa membaca dan menulis. Ummi berasal dari kata umm (ibu) atau ummah (masyarakat umum). Pada saat itu, ibu Nabi SAW dan masyarakat pada umumnya buta aksara, kecuali beberapa orang sebagaimana disebut dalam Al Qur’an, “Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Qur’an) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu) (QS. Al Ankabut [29]: 48)

                Buta aksara sama sekali bukan berarti kebodohan. Sultan Akbar di Hindustan yang buta aksara ternyata ia filosuf cerdas sekaligus raja besar yang sukses sampai akhir hayatnya. Nabi SAW fathanah artinya genius, kuat ingatan, dan tajam analisis. Salah satu buktinya, Nabi menerima wahyu hanya melalui pendengaran dari Malaikat Jibril, tapi ia kuat menghafal semuanya. Jibril kadangkala memerintahkan Nabi SAW agar ayat yang diterimanya itu diurutkan dengan ayat-ayat yang diterima beberapa tahun sebelumnya, bahkan bisa jadi puluhan tahun, dan ia tidak pernah membuat kesalahan.

                Berdasarkan ayat di atas, tugas utama Nabi SAW adalah (1) amar makruf. Makruf berasal dari kata marifat yang artinya dikenal atau diterima oleh akal. Jadi, ajaran yang dibawa Nabi SAW bisa diterima akal sehat dan pasti benar karena bersumber dari Allah SWT. (2) nahi munkar. Munkar artinya tidak bisa diterima oleh akal sehat. Suatu contoh, semua orang waras dapat menilai bahwa mencuri, melukai, dan membunuh adalah munkar, karena tidak sesuai dengan akal orang beradab (3) menghalalkan makanan thayyibat, yaitu diperbolehkan agama sekaligus baik untuk kesehatan, dan mengharamkan khabaa-its, yaitu kebalikan dari thayyibat. Kita dilarang mengonsumsi makanan yang merusak kesehatan, meskipun ia halal, tidak dilarang agama, dan (4) menghapus ajaran yang memberatkan kaum Yahudi atau Bani Israil, yaitu ajaran bunuh diri sebagai syarat bertobat, larangan memakan hewan yang kukunya tak terbelah atau hewan yang tidak memamah biak, larangan memakan lemak hewan, larangan menikah bagi pendeta, perintah qishah, yaitu hukuman mati untuk pembunuh tanpa mempertimbangkan disengaja atau tidak, dan keluarga terbunuh telah memaafkan atau tidak, dan juga menghapus perintah menggunting atau membuang pakaian yang terkena najis.

Itulah tugas Nabi SAW menyempurnakan ajaran nabi-nabi sebelumnya. Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata, Wahaii Bani Israil, sungguh aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan isi kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira tentang (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad). Maka, ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata” (QS. Shaf [61]: 6).

                Pada ujung ayat di atas disebutkan bahwa orang yang akan mendapat kemuliaan dan kebahagiaan di sisi Allah SWT adalah yang percaya kepada Nabi SAW, memuliakannya, menjalankan perintahnya, dan mengajarkannya kepada umat manusia. Berdasar kriteria ini, maka Abu Thalib, paman Nabi SAW tidak mendapat kemuliaan dan kebahagiaan akhirat, meskipun ia penolong dan penyelamat Nabi SAW dari upaya pembunuhan orang kafir, sebab ia tidak beriman dan menjalankan ajarannya. Dengan demikian, tidaklah pengikut Nabi yang sejati, jika Anda hanya menyanjungnya, namun tetap berakhlak yang tercela. Gebyar shalawat akan bermakna jika mendorong percepatan kesejahteraan dan perdamaian dunia. Shalawat yang dikumandangkan haruslah shalawat yang melahirkan perubahan. Pujilah Nabi dan bertekadlah menjadi pribadi yang terpuji.          

Referensi: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 9, penerbit Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 76, (2) M.Qureish Shihab, Tafsir Al Misbah, Vol 4, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 322.

MENATA HATI, MEMBUKA RIZKI

December 14th, 2018 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

MENATA HATI, MEMBUKA RIZKI

Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

وَٱلَّذِينَجَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَسَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوبِنَا غِلّٗا لِّلَّذِينَءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٞ رَّحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (al anshar dan al muhajirin) dan berdoa, “Wahai Tuhan kami, berilah ampunan untuk kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan membawa keimanan, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, sungguh Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”(QS. Al Hasyr [59]: 10).

Ayat di atas merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya tentang kemuliaan penduduk pribumi Madinah (al anshar) dalam menyambut para pendatang dari Mekah (al muhajirin). Penduduk Madinah melayani pendatang dengan senang hati dan murah harta untuk member pelayanan dan tempat tinggal yang terbaik, bahkan mengurbankan kepentingan diri dan keluarga demi kenyamanan mereka. Maka pada ayat di atas, Allah SWTmemberi pujian kepada generasi sesudah mereka yang memintakan ampunan untuk mereka, dan memohon kekuatan untuk mengikuti jejak kemuliaan mereka.


Paling sedikit, ada empat pesan penting pada ayat di atas. Pertama, introspeksi. Pernyataan doa, “Wahai Tuhan kami, ampunilah kami” secara tidak langsung menyuruh kita untuk tiada henti koreksi diri. Antara lain, apakah kita sudah menjadi suami, ayah, istri, dan ibu yang patut dijadkan tauladan? Apakah kita guru, karyawan dan pemimpin yang terbaik? Apakah semua yang kita makan selama ini benar-benar murni halal? Apakah shalat kita telah membentuk diri kita sebagai pribadi yang menumbuhkan senyum dan optimisme orang-orang di sekitar kita? Introspeksilah. Sediakan waktu secara rutin setiap malam untuk menunduk hening, usaplah air mata yang membasahi pipi, lalu beristighfarlah. Orang terbaik bukanlah orang yang tanpa dosa, tapi yang jujur mengakui dosa dan bertekad untuk berubah. Nilai Anda di mata Allah ditentukan seberapa besar ruang yang Anda siapkan untuk-Nya di hati Anda.


Kedua, kepedulian. Pernyataan, “..dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan keimanan” mengajarkan kita untuk peduli terhadap orang lain. Abu Abdillah Sufyan bin Sa’id Ats Tsaury, ulama besar Iraq mengatakan, salah satu tanda sadisme adalah minimnya doa untuk orang lain, khususnya orang yang telah wafat. Ahli hadis dan fikih yang hidup pada abad 8 M itu menambahkan, jika Anda melewati kuburan dan Anda diam tanpa doa, Andalah manusia sadis, raja-tega yang mengabaikan jeritan penghuni kubur yang merintih menunggu doa pengampunan dari kita yang masih hidup. Jika Anda bekerja pada suatu kantor atau di manapun, lalu Anda tidak berdoa untuk kemajuan tempat kerja, maka Anda juga sadis, sebab Anda hanya menghisap madu, lalu mengabaikan lebah dan sarangnya.


Ketiga, kesetaraan. Pernyataan, “..dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan keimanan” juga mengajarkan kita tentang semangat kesetaraan. Semua ayat Al Qur’an tentang hubungan nabi dan umatnya menggunakan istilah “saudaramu” atau akhuuhum. Nabi memperlakukan umatnya sebagai saudara, bukan hirarkhis, sebagai anak buah. Umat Nabi juga tidak memperlakukannya sebagai bapak buah. Prinsip inilah yang dikembangkan dalam majamen moderen. Dalam dunia pendidikan, tidak ada lagi istilah guru dan murid, tapi pendidik dan peserta didik. Dalam ilmu dakwah, tidak ada lagi subyek dan obyek dakwah, melainkan pendakwah dan mitra dakwah. Pendakwah bukan lagi memposisikan diri sebagai manusia termulia dan tersuci yang berhak menggurui obyeknya, melainkan sama-sama bermitra untuk mencari cara terbaik menapaki jalan yang lurus. Dalam posisi itu, pendakwah bertaushiyah, “Inilah perintah Allah, mari kita bersama-sama mencari cara bagaimana kita bisa menjalankannya, dan inilah yang terlarang, lalu bagaimana cara termudah untuk bersama-sama meninggalkannya.”
Sebutan “saudaraku” oleh Nabi SAW untuk umatnya, antara lain ditunjukkan pada saat ia keluar menuju kuburan. Ia memberi salam, “Salam untuk kalian wahai penghuni kubur. Sungguh, suatu saat, kami akan menyusul kalian atas kehendak Allah.” Ia melanjutkan, “Wadidtu an ra-aytu ikhwaananaa (saya ingin sekali melihat saudara-saudaraku).” Para sahabat bertanya, “Alasnaa bi-ikhwaanika (tidakkah kami ini juga saudara tuan?” Nabi menjawab, “Bal antum ash-haabii wa anaa farathuhum ‘alal haudli (ya, kalian juga sahabatku. Saya akan menemui mereka di telaga al-kautsar ) (HR. Al Bukhari dan Muslim).


Keempat, kehangatan persaudaraan. Pernyataan doa, “Wahai Tuhan kami, janganlah ada di hati kami kedengkian terhadap orang-orang beriman” menunjukkan perintah pembersihan hati untuk menciptakan persaudaraan yang hangat. Hati yang bersih dari dengki, benci dan iri hati. Inilah yang sering kita abaikan, karena perhatian kita habis tersita untuk pembersihan muka dan pewangian penampilan. Memang ini berat, sebab kata Ibnu Taimiyah, semua orang berpotensi dengki, hanya saja ada orang yang berhasil memerangi, dan sebagian yang lain justeru mengeksekusi.
Mengapa sifat negatif itu harus dihapus? Sebab benci, jengkel dan dengki bisa merusak nama baik yang amat Anda butuhkan dlam menapaki masa depan. Citra diri harus dibangun sejak dini, lebih-lebih dalam perjumpaan awal dengan orang. Perhatikan bagaimana Allah memperkenalkan dirinya pertama kali kepada manusia dengan dua namanya, Maha Pengasih dan Maha Penyayang dari 99 namanya. Dengan kesan pertama yang indah dalam memori otak itu, diharapkan manusia memiliki optimisme menatap masa depan, merasa didampingi oleh Tuhan yang selalu mengasihi dan menyayangi. Brain Tracy berkata, “A first impression says everything. One makes a judgment about you in aprroximately four seconds, and his judgment is finalized largely 30 seconds of the initial contact (Kesan pertama menceritakan segalanya. Seseorang memulai membuat penilaian tentang diri Anda dalam empat detik pertama, dan memutuskan peniliaian itu 30 detik berikutnya). Perasaan negaif itu juga merusak ketampanan dan kecantikan dan merusak kesehatan Anda. Allah SWT berfirman, “Katakanlah (wahai Muhammad), “Matilah kamu dengan membawa kegenkianmu itu). Dan, jangan lupa, kebencian, kejengkelan dan iri hati akan menutup rapat semua pintu rizki Anda, lebih-lebih pada era sekarang ini, dimana courtesy atau kesopanan, kesantunan dan kehangatan pelayanan di butuhkan dalam semua lini bisnis. Semoga, pintu rizki yang selama ini tertutup, sebantar lagi akan terbuka lebar untuk Anda.

BERSERI WALAU TAK DIBERI

November 10th, 2018 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

BERSERI WALAU TAK DIBERI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ٦٠

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan doamu. Sungguh, orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina-dina” (QS. Al Mukmin [40]: 60)

Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menjelaskan kekuasaan-Nya dalam penciptaan langit, bumi dan manusia. Tapi sayang, hanya sedikit manusia yang memahaminya. Sebagai kelanjutan dari ayat-ayat tersebut, ayat yang dikutip di atas memerintahkan kita meminta pertolongan kepada Allah Yang Maha Hebat itu. Semakin sering kita memohon, semakin senanglah Allah, sebab itu berarti pengakuan kita akan kebesaran-Nya, sekaligus kelemahan kita di hadapan-Nya. Sebaliknya, orang yang tidak meminta kepada-Nya dipandang congkak, sebab ia merasa bisa hidup tanpa Allah.

Ayat di atas juga berisi janji Allah untuk tidak akan mengecewakan semua peminta, dan Ia tidak akan ingkar janji. “Sungguh Allah tidak akan mengingkari janji” (QS. Ali Imran [3]: 9). Abu Hurairah r.a bercerita, Nabi SAW bersabda, “Setiap doa muslim pasti dikabulkan Allah. Adakalanya dipercepat terkabulnya di dunia, atau ditunda kelak di akhirat, atau diampuni dosa-dosanya sesuai dengan doanya, asalkan doa itu bukan untuk perbuatan dosa atau memutus silaturrahim.”

Berdasar hadis di atas, ada tiga macam respon Allah terhadap doa manusia, yaitu KTP (Kabul, Tunda, Pengganti). Pertama, kabul, yaitu dikabulkan persis sesuai dengan permintaan, sebagaimana dialami Nabi SAW. Ketika ia sedang berapi-api menyampaikan khutbah, tiba-tiba seorang pria interupsi, “Wahai Nabi, Madinah sedang paceklik. Hujan sudah lama tidak turun, sehingga beberapa ternak mati, dan kita juga kesulitan air. Saya mohon tuan berdoa agar Allah menurunkan hujan.” Nabi SAW lalu melihat langit sejenak dan berdoa, dan arak-arakan mendung tebal lalu menutup langit, lalu tidak lama kemudian, hujan turun.

Pada Jum’at berikutnya, pria tersebut mengulang interupsinya, “Wahai Nabi, sekarang Madinah sudah kelebihan air, sehingga banjir menggenang di beberapa tempat. Saya mohon tuan berdoa agar hujan berhenti.” Dengan sedikit senyum, Nabi berdoa, “Allahumma hawalaynaa, walaa ‘alaynaa (wahai Allah, hentikan hujan di daerah ini, dan alihkan ke daerah lain).” Benar-benar terkabul, hujan berhenti di Madinah, dan beralih ke daerah lain (HR. Al Bukhari).

Itulah contoh respon doa yang terkabul secara langsung dan persis sesuai dengan permintaan. Dalam hal ini, jangan kemudian mengira doa Nabi selalu terkabul. Puluhan tahun Nabi berdoa untuk pamannya, Abu Thalib, tapi ia tetap kafir sampai wafatnya. Nabi sedih, sebab sang paman itulah yang menyelamatkannya dari beberapa kali pembunuhan orang kafir. Doa Nabi Nuh a.s juga tidak dikabulkan, sehingga anaknya tetap kafir dan mati ditelan banjir bandang.

Kedua, tunda, artinya kadangkala Allah menunda mengabulkan sebuah doa dalm waktu yang lama, bahkan bisa saja dikabulkan setelah yang berdoa itu meninggal dunia. Itulah yang dialami Abu Bakar r.a dan istrinya. Mereka berdua bertahun-tahun berdoa agar anaknya, Abdurrahman masuk Islam (lihat QS. Al Ahqaf [46]: 17), tapi, tetap saja ia kafir  sampai sang ibu wafat. Bahkan, ia pernah mengajak sang ayah duel di medan perang. Baru setelah ibunya wafat, Abdurrahman masuk Islam, dan sejak itu, ia lengket dengan Nabi SAW dan diberi kehormatan menyediakan siwak pembersih gigi pada detik-detik terakhir wafatnya Nabi SAW. Jadi, musibah yang kita alami merupakan ujian, dan menunggu terkabulnya doa adalah ujian berikutnya. Jika Anda tergesa-gesa untuk dikabulkan, maka Anda mendikte Allah sesuai dengan kemauan Anda. Nabi SAW bersabda, “Doa seorang di antara kalian akan dikabulkan Allah, selama ia tidak tergesa-gesa dan berkata, ”qad da’awtu rabbi, falam yastajib li (saya sudah berdoa kepada Tuhanku, tapi mengapa Ia tidak mengabulkanku)” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a). Berdoalah, dan berpasrahlah kepada Allah, sebab Dialah Allah Yang Maha Pintar untuk memilihkan hari yang terbaik kapan Ia mengabulkannya.

Ketiga, pengganti, yaitu doa kita tidak dikabulkan sesuai dengan permintaan, tapi diberi pengganti yang lebih baik. Ada kisah menarik. Seorang mahasiswa di perguruan tinggi meminta motor kepada ayahnya, penjual kerupuk keliling dari kampung ke kampung. Sang ayah tidak membelikan motor atas pertimbangan tertentu. Sebagai gantinya, ia membeli seekor sapi kecil. Si anak protes, marah dan tak mau lagi membantu ayahnya menggoreng krupuk dan mengantarnya ke warung-warung sebagaimana biasa, karena permintaannya tidak dipenuhi. Setahun kemudian, sapi itu beranak kembar, dan tahun berikutnya, dua sapi itu layak jual dengan harga yang mahal. Maka ketika sang anak membutuhkan banyak biaya untuk praktikum, kuliah lapangan, penyusunan skripsi, wisuda, dan biaya-biaya lainnya yang biasanya menumpuk pada akhir studi, sang ayah menjual dua sapi itu sekaligus induknya untuk menutup semua biaya kuliah. Ternyata, masih ada sisa uang, dan itulah yang akan dipakai untuk mengkhitankan adiknya yang duduk di kelas dua SD. Pada upacara wisuda, sang anak yang sedang memakai toga tiba-tiba histeris mencari orang tuanya dan bersujud di kaki mereka. Sambil memegang map ijazah di tangan kanannya, ia menangis “Wahai ibu, wahai ayah, terima kasih engkau berdua telah mengantarkan aku menjadi sarjana. Maafkan aku, karena pernah jengkel kepadamu. Ternyata engkau mempunyai perencanaan yang mulia demi masa depanku.” Kedua orang tua yang bahagia itu ikut hanyut menangis, sedang adiknya duduk jongkok dengan mengelus punggung kakaknya sambil berkata, “Bangkitlah kak, nanti kita selamatan kesarjanaan kakak, dan aku dikhitan.”

Nah, itulah ilustrasi sederhana, bagaimana Allah memberi pengganti atas permintaan kita, karena Allah paling tahu apa yang terbaik untuk masa depan kita. Allah mempunyai perencanaan yang jauh lebih sempurna daripada Anda, hanya saja Anda tidak mengerti rahasia di balik semuanya. Ketahuilah, bisa saja kelak di akhirat, Allah berkata kepada penghuni surga yang sedang menikmati hidangan yang disuguhkan bidadari cantik, “Nikmatilah surga yang indah ini selamanya sebagai pengganti doa kalian yang tidak Aku kabulkan di dunia.”

Dengan berbekal KTP (Kabul, Tunda, Pengganti), tersenyumlah dan bersenanglah, sebab Allah sedang menyiapkan pengganti yang terindah untuk doa Anda. Sekarang, saya yakin, muka Anda tetap berseri walau Anda tidak diberi, dan itulah cara ber-Tuhan yang terpuji.

Surabaya, 26/5/2018

Referensi: (1) Abdul hadi, Senyum Indah Kanjeng Nabi, DIVA Press, Yogyakarta, 2016, p. 63, (2) Moh. Ali Aziz, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, UIN Sunan Ampel Press, Surabaya, 2015, cet. XII. P. 155, (3) Moh. Ali Aziz, Doa-Doa Keluarga Bahagia, Penerbit Kun Yaquta Foundation dan PT Duta Aksara Mulia, Surabaya, 2014, cet. III. P. 109, (4) Haddad, Imam Habib Abdullah, Al Nashaihud Diniyyah Wal Washaya Al Imaniyah, CV. Toha Putra, Semarang, 1993, p. 249. (5) Hamka, Tafsir Al Azhar, Juz 24, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p.161-164