Header

SUKSES USAHA DENGAN TEORI TIDUR AL KAHFI

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Setelah mengikuti pelantikan HIPSI (Himpunan Pengusaha Santri Indonesia) di kantor NU Jawa Timur Selasa (13/11), saya bertemu dengan pengusaha yang bergerak dalam penyembelihan sapi dari Jambi. Tiba-tiba KH Ahmad Sofwan datang bersama kepala divisi Bank Jatim Syariah dan mengajak shalat dan makan siang bersama di rumah yang tidak jauh dari kantor NU.

Sambil berjalan memasuki rumahnya, kiai besar dan terkenal dengan puluhan unit bisnis itu  bercerita tentang suka duka ekspor ikan kerapu ke Hong Kong dan Taiwan. “Yang paling rumit adalah menjaga ruh ikan. Siapa bisa ikut campur dalam urusan ruh..ha ha?,” Kata kiai yang semua anak, menantu dan semua cucunya hafal Al Qur’an itu. Jika ikan seharga Rp. 125.000 perekor di restoran Indonesia itu mati dalam pengiriman, maka harganya bisa jatuh lima puluh persen atau tidak laku sama sekali. Untuk antisipasi hal itu, agar ikan tidak bertarung dengan kawannya sendiri atau stres yang membawa kematiannya, maka ikan dibius dengan oksigen yang telah diamasukkan air. Baru enam jam berikutnya ikan hidup kembali, persis ketika sudah mendarat di bandara negara tujuan.

Sebelum kiai bercerita, pengusaha Jambi sudah berbagi pengalaman kepada saya tentang susahnya “menjaga ruh” sapi yang dikirim dari Jawa. Jika sapi dikirim selama lima hari dari Jawa ke Jambi tanpa istirahat, hampir dipastikan sapi stres atau mati sebelum sampai tujuan. Padahal Jambi amat membutuhkan pasokan sapi dari Jawa. Oleh sebab itu, para pengangkut sapi harus mengajak sapi beristirahat sehari di Batang (Jateng) dan sehari di Lampung. Itulah yang menyebabkan biaya ekonomi tinggi untuk asuransi dan biaya pengiriman.

Perbincangan tentang bisnis yang terkait dengan ruh itu mengingatkan saya tentang kisah  beberapa pemuda yang ditidurkan Allah selama 309 tahun dalam sebuah gua. “Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu…. (QS. Al Kahfi [18]:11), …”Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun lagi..” (QS Al Kahfi [18]:25). Maksud ayat itu, Allah menutup telinga mereka sehingga tidur mereka lebih nyenyak dan tidak bisa dibangunkan oleh suara apapun.

Di samping banyak pelajaran yang bisa diambil dari ayat di atas, bisa saja Allah menjelaskan kisah itu agar para ahli biologi berkreasi membuat bius semua hewan yang sedang menjadi komoditi bisnis agar hewannya tidak stres dan mati. Pengusahanya juga tidak stres menghadapi resiko kerugian dan angsuran bank. Jika Teori Tidur Al Kahfi ini bisa dikembangkan oleh ahlinya, apalagi dengan biaya yang rendah, maka ayat ini menjadi salah satu kiat sukses bagi para entrepreneur yang sedang berdiskusi di kantor NU sampai sore itu. Di antara pengusaha ekonomi menengah itu terdapat para pemula usaha yang terkait dengan “ruh” yaitu peternak lele, kambing, sapi, ayam, pemasok ikan segar ke beberapa restoran dan sebagainya. Semoga ruh hewan bisnis mereka terjaga, dan ruh bisnis mereka semakin hidup dan berkembang. Selamat bangkit menjadi santri “pemberi” bukan “penerima” dana.

MAUKAH HIDUP 10.000 TAHUN?

December 4th, 2012 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

MAUKAH HIDUP 10.000 TAHUN?

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Bulan Muharram, tahun baru 1434 hijriyah ini atau dua bulan lagi, Januari 2013, Anda sudah lebih tua. Mungkin di antara pembaca ada yang dicatat oleh Allah mati setelah pensiun, atau baru saja terdaftar sebagai pegawai pada suatu instansi. “Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS. An-Nahl [16]:70)

Ayat di atas juga menunjukkan bahwa orang yang diberi kesempatan hidup sampai tua, ia tidak lagi sempurna ingatannya, dan terbatas pengetahuannya, seperti ia bayi dan anak-anak.  Allah SWT berfirman, “Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian (awalnya). Maka apakah  mereka tidak memikirkan? (QS. Yasin [36]:68).

Rasulullah diberi hidup oleh Allah SWT selama 63 tahun Hijriyah atau 61 tahun menurut hitungan tahun Masehi. Bagi orang sesuci beliau, bekal untuk menghadap Allah tentu sudah cukup dengan usia sebanyak itu. Beliau tekun beribadah dan seringkali menangis tersedu-sedu ketika memohon ampunan Allah, padahal ia tidak punya dosa. Bagi kita, usia 61 tahun, terlalu singkat untuk mengumpulkan bekal menghadap Allah SWT. Kita berharap diberi usia lebih lama dari usia Nabi. Untuk itu kita wajib berusaha menjaga kesehatan dengan pola hidup sehat sebagaimana dicontohkan Nabi. Ada lagi kiat panjang umur yang diberikan Rasulullah Saw, yaitu menyambung tali persaudaraan. Rasulullah Saw bersabda,”Barangsiapa ingin dimudahkan rizkinya dan ditunda ajalnya (dipanjangkan usianya) hendaklah ia menyambung tali persaudaraan” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik r.a).

Berdasar hadis di atas, timbul pertanyaan: bisakah umur manusia diperpanjang? Muhammad Ibrahim An-Nu’aim dalam bukunya Kaifa Tuthilu Umrakal Intajiy (Misteri Panjang Umur) menjawab bahwa menambah jatah umur manusia bukanlah hal yang sulit bagi Allah. Sekalipun umur manusia telah ditulis di sisi-Nya, namun adalah hak mutlak Allah untuk  merubah atau menghapuskannya. Hanya Allah yang berhak merubah atau menghapus catatanNya.  Nabi dan Malaikat tidak bisa melakukannya. “Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh) (QS.Ar-Ra’d [13]:39).

Dengan kekuasaan mutlak Allah itu, bisa saja seseorang telah ditetapkan batas umurnya, namun karena ia bersilaturrahim dan banyak berdoa, maka Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Pemurah merubah ketetapan-Nya dan memberi tambahan umur kepadanya.

Ada juga pendapat lain bahwa umur manusia tidak bisa ditambah atau dikurangi, karena sudah ditetapkan Allah sebelum kelahirannya (QS. Fathir [35]: 11 dan Qs Al A’raf [7]:34). Kita hanya bisa meminta tambahan berkah atau kualitasnya. Artinya hitungan usia kita memang pendek, namun karena banyak ibadah, maka usia yang pendek menandingi usia ratusan tahun orang lain, khususnya umat sebelum nabi Muhammad SAW. Misalnya, usia muslim sehari bisa dinilai Allah setara dengan lima tahun. Setahun bisa setara dengan 3.800 tahun jika mengikuti petunjuk Rasulullah SAW berikut, “Barangsiapa berjalan ke masjid untuk shalat fardhu secara berjamaah, maka shalatnya setara dengan sekali ibadah haji. (HR Ahmad dan Abu Dawud r.a).

Shalat berjamaah lima kali sehari berarti sama dengan lima kali ibadah haji. Padahal haji hanya bisa dikerjakan setahun sekali. Jika seseorang menjalankan shalat berjamaah setahun penuh tanpa absen, maka usia setahun itu sama dengan 3.800 tahun. (5 x 360 hari = 3.800). Pada bulan suci Ramadlan, juga bisa seseorang yang memperoleh sehari sama dengan 1000 bulan atau 83 tahun, jika bersungguh-sungguh beribadah pada malam lailatul qadar.

Menurut Nabi SAW, “Umur umatku antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun, dan sedikit sekali yang lebih dari itu” (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah r.a). Sekalipun pendek, kita berharap usia kita bernilai ratusan ribu tahun karena berkah kebaikan yang kita lakukan. Inilah usia yang terbaik, sebagaimana hadis Nabi, ”Orang yang terbaik adalah yang panjang umurnya dan baik perbuatannya” (HR Ahmad dari Abu Bakrah r.a.).

ALLAHUMMA JUNK FOOD

October 20th, 2012 | Posted by admin_tsb in Artikel - (2 Comments)

ALLAHUMMA JUNK FOOD

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

            Baru kali ini, saya menghadiri pelepasan jamaah haji, 12 Oktober 2012 dengan ribuan pengunjung. “Rombongan Haji Sabar” Kalibokor Surabaya dengan pembimbing Abah Rahman itu juga menghadirkan puluhan kiai yang diminta duduk berbaris di panggung kehormatan menghadap pengunjung.  Bagi Anda yang tidak biasa dalam komunitas tahlil dan istighatsah pasti heran dan mungkin tidak sabar mengikuti urutan acara pada malam itu. Tapi mereka yang sudah terbiasa, justru memperoleh kenikmatan dan kesyahduan.

Saya menyaksikan betapa riang wajah pengunjung menikmati suara “penerbang” hadrah dengan pasukan “tepuk khas” shalawatnya, sekalipun harus berdiri lebih dari 45 menit. Sesekali terdengar suara melengking komando “liar” shalawat dari barisan belakang, dan semua pengunjung  merespon shalawat itu dengan sedikit menggoyang badan ke kanan dan kiri. Sungguh mereka menikmati shalawat bersama itu, sekalipun tidak semua memahami maknanya. Inilah salah satu bentuk ekspressi cinta Rasul.

Bagi yang belum terbiasa, semakin tidak bersabar ketika harus mendengar 12 kiai berdoa pada akhir acara secara bergilir. Doanya juga panjang-panjang. Saya yang mendapat  giliran kesebelas hampir kehabisan doa, karena sudah dibaca semua oleh para kiai sebelumnya.  Giliran paling akhir adalah Kiai Luthfi Ahmad dari Ponpes TeeBee (Tambak Bening). Karena sudah malam, ia langsung pegang mike dan tanpa pengantar langsung berdoa, “Allahumma, Ya Allah, jauhkan kami semua dari junk food, junk food, jauhkan dari junk food...” . Saya sebenarnya tertawa dalam hati, tapi saya tahan, karena saya di atas panggung di depan ribuan orang. Baru kali ini ada doa jenis itu.

Usai acara, saya tanya,  “..pak kiai, doanya kok unik sekali?”. Ia menjawab, “..karena semua doa sudah diborong habis kiai sepuh, dan kita kiai muda, harus dengan doa unik..kan?”. Setelah berbicara panjang, ternyata bukan itu alasan utama. Kiai muda ini memang sedang berkampanye cinta lingkungan dan produk dalam negeri. Bahkan dalam sambutan sebagai wakil tuan rumah, ia juga berkali-kali menekankan pentingnya masyarakat kita mengonsumsi garam kasar (grosok) yang sangat menyehatkan, bukan garam lembut di supermarket.  “Garam kasar bukan hanya cocok untuk mengusir setan..ha ha,  tapi juga penyakit…”.  Sebelum pulang, kiai berjubah hitam, tampan dan berjenggot itu memberikan tafsir tentang doa uniknya.

Menurutnya, semua kiai harus peduli tentang kesehatan umatnya, dan menanamkan kesadaran akan bahaya penjajahan negara asing untuk masa depan Indonesia. Salah satu perusak kesehatan generasi muda kita adalah makanan cepat saji yang semakin hari semakin populer di kalangan anak muda kita.

Sebuah hasil riset yang dipublikasikan di India Gazette menunjukkan bahwa 85% dari anak-anak usia 10-14 tahun, didiagnosa terancam diabetes karena kebiasaan makan yang tidak sehat. Satu diantaranya adalah junk food atau makanan cepat saji.  Riset yang dilakukan oleh Delhi Diabetes Research Centre (DDRC) di bawah bagian dari Scheme of the Delhi melibatkan 5.802 anak sekolah di ibu kota. Penelitian yang difokuskan pada masalah obesitas dan perlunya mengubah pola makan yang cenderung meniru “mimic western lifestyle”.

Pada banyak acara ulang tahun, anak-anak sekolah kita mengajak temannya bermakan ria di restoran penyedia junk food. Bahkan salah satu acara pelepasan anak TK di sebuah lembaga pendidikan, juga diadakan di restoran itu. Semua anak dan orang tuanya dengan lahap dan bangga sebagai orang moderen mengonsumsi junk food di restoran pada komplek pertokoan mewah. Junk food adalah makan yang jumlah kandungan nutrisinya terbatas. Umumnya, yang termasuk dalam golongan junk food adalah makanan yang kandungan garam, gula, lemak, dan kalorinya tinggi, tetapi kandungan gizinya sedikit. Junk food mengandung banyak sodium, saturated fat, dan kolesterol. Bila dalam tubuh jumlah ini banyak, maka akan menimbulkan banyak penyakit. Dari penyakit ringan sampai penyakit berat semacam darah tinggi, stroke, jantung, dan kanker.

Dulu, penyakit-penyakit “berat” tersebut hanya diderita oleh orang-orang tua yang umurnya di atas 40 tahun. Tetapi, semakin tahun, penderita penyakit mematikan itu semakin muda saja umurnya. Kalau tidak bisa menjaga diri, bukan tidak mungkin dalam waktu lima sampai sepuluh tahun ke depan, kaum remajalah yang menjadi si penderita itu. Sodium banyak ditemukan pada makanan yang dimakan dan minum. Sodium adalah bagian dari garam. Banyak makanan kemasan atau kalengan itu berkadar sodium tinggi. Sodium banyak terdapat pada french fries (apalagi bila ditambah dengan shakers), ayam goreng, burger, cheese burger, bologna, piza, segala jenis snack keripik kentang, dan mi instan.

Dalam perjalanan pulang, saya berfikir tentang anak-anak saya yang hampir tiada hari tanpa junk food. Ketika sampai di rumah tengah malam, saya membuka Al Qur’an. Menurut kitab suci ini, orang Islam harus selektif makanan. “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sungguh,setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al Baqarah [2]: 126). Makanan yang kita konsumsi haruslah halal (halalan) dan menyehatkan (thayyiban). Kekeliruan mengonsumsi makanan bisa berakibat sakit bahkan kematian. Kita perhatikan urutan konskuensi firman Allah dalam surat As-Syu’ara ayat 78-81 berikut ini. “…(Yaitu Tuhan) yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku, dan yang akan mematikan aku..”. Berdasar ayat ini, Allah telah menciptakan manusia dan semua makanan, lalu memberi petunjuk apa dan bagaimana mengonsumsinya. Jika menyalahi petunjuk Allah, maka manusia akan sakit atau mati. Kiai muda  kita itu mengajak anak-anak sekolah membawa makanan sehat dan alami dari rumah, dan semua keluarga Indonesia lebih banyak menikmati pecel, sayur asem, sayur bayam, dadar jagung dan makanan-makanan khas Indonesia lainnya. Lebih hemat, sehat, halalan, thayyiban, kan? Allahumma jauhkan junk food…”