Header

BERSEDEKAH DENGAN TELINGA

October 6th, 2012 | Posted by admin_tsb in Artikel - (2 Comments)

BERSEDEKAH DENGAN TELINGA

Oleh Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag

Guru Besar IAIN SAS dan Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Dalam perjalanan menuju acara khitanan massal (25/9), saya melewati sebuah  kampung sepi di Jombang. Di desa itulah, tokoh pembaru Islam di Indonesia, Prof. Dr Nurkholis Majid, atau lebih dikenal dengan panggilan Cak Nur, dilahirkan. Madrasah Ibtidaiyah di tepi jalan yang dirintis oleh ayahnya menjadi pengingat bagi siapapun yang memasuki desa itu. Saat itu, tiba-tiba saya teringat pribadi Cak Nur dalam setiap seminar atau pengajian.

Beberapa kali saya berkesempatan mengikuti seminar dimana ia menjadi salah satu narasumber. Ketika narasumber lain sedang menyampaikan makalah, ia mengikutinya dengan serius. Sesekali mencatat hal-hal yang dianggap penting. Ia tidak berbicara dengan orang lain atau menunjukkan muka jenuh mendengarkan, sekalipun peserta sudah gaduh dan teriak-teriak karena makalah yang dipaparkan tidak menarik dan tidak logis. Pada saat makan siang, Cak Nur masih sekali lagi menjabat tangan pemakalah itu dan berkata, “Apa yang Anda sampaikan tadi sangat menarik.” Saya yakin, banyak hal yang tidak menarik dalam makalah itu, tapi Cak Nur melupakan semuanya dan mengapresiasi satu atau dua poin yang baik saja.

Sejak itu, saya belajar mengikuti jejaknya, sekalipun seringkali gagal: tidak sabar mendengarkan pembicaraan orang yang tidak logis, lebih-lebih tidak jelas arahnya. Saya sering cepat berkesimpulan, “Tidak ada yang baru dari ceramah ini.” Kemudian, saya merogoh handphone di saku untuk bermain SMS. Jebol juga pertahanan saya. Apalagi,  ketika badan lagi lelah. Saya sangat sadar, itu etika tercela, tapi saya masih berat melawannya.  Ternyata, menjadi pendengar yang terpuji jauh lebih sulit daripada menjadi pembicara yang baik. Ia membutuhkan enerji besar dan super sabar untuk melawan egoisme.  Tulisan ini saya buat, semata-mata untuk memberi motivasi diri sendiri untuk menjadi pendengar yang terbaik.

Ada banyak kiat bagaimana menjadi pendengar yang terhormat. Pertama, selama proses mendengar, belajarlah untuk mencari ide pokok atau tema sentral dari isi pidato atau obrolan orang. Kedua,  cobalah untuk memfokuskan diri pada isi pidato atau obrolan, bukan pada bagaimana cara penyampaiannya. Ketiga,  jangan terlalu cepat menarik kesimpulan dengan memalingkan perhatian atau memotong obrolan orang.

Jika Anda menjadi guru, Anda harus belajar seni berbicara yang baik. Tapi, jangan lupa, Anda juga harus belajar bagaimana menjadi pendengar yang baik untuk semua peserta didik. Termasuk mendengar pertanyaan mereka yang tidak fokus, tidak bisa difaham dan tidak sopan dalam menyampaikannya. Ketika pulang di rumah, Anda harus belajar lagi menjadi pendengar yang baik untuk istri dan anak-anak. Keluarga Anda dijamin tidak akan harmonis,  jika Anda hanya pandai berbicara di depan anak dan istri, sekalipun dengan kutipan ayat Al-Qur’an dan hadis,  dan tidak belajar menjadi pendengar yang baik. Mereka tidak hanya butuh dipenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan, tapi juga butuh didengar dan dihargai.

Mengapa Allah SWT menciptakan manusia dengan dua telinga dan hanya satu mulut? Bisa jadi karena Allah mengetahui tabiat manusia yang rata-rata merasa berat mendengarkan orang lain. Dengan satu mulut saja, dunia sudah ramai gosip seperti ini. Apa jadinya, jika manusia memiliki dua mulut. Jika dikaitkan dengan perut,  telah banyak orang menderita dalam kemiskinan akibat keserakahan satu atau dua orang. Apa jadinya nasib umat manusia, jika ada orang serakah dengan dua mulut.

Jika Anda telah berhasil menunjukkan sikap mau mendengarkan orang, maka  selanjutnya Anda harus belajar mendengar dengan hati. Jika Anda ingin memberi hadiah atau sedekah bernilai kepada  seseorang: bawahan, pimpinan, istri, suami, saudara, dan anak-anak  Anda,  maka hadiahkan kepada mereka sikap Anda yang mendengarkan dengan telinga terbuka lebar, hati dan antusiasme. Anda telah melecehkan seseorang, dan amat menyakitinya,  jika Anda memalingkan muka di depan orang yang sedang serius berbicara kepada Anda.

Seorang bapak marah karena nasahet untuk anaknya hanya masuk di telinga kanan dan keluar melalui telinga kiri. Tak ada pengaruh sama sekali. Ketika sedih bercampur jengkel itu, tetangganya mengatakan, “Itu lumayan pak.  Nasehat saya sama sekali tidak bisa masuk ke telinga anak saya. Baru di daun telinga sudah terpental keluar.”

Berakhlaklah seperti Allah Yang Maha (Mau) Mendengar (as-samii’) kepada semua manusia, sekalipun mulut orang itu berbau busuk karena dustanya,  bermuka hitam karena kemunafikannya, dan tidak fokus pandangan mata karena kebiasaan khianatnya. Tirulah Nabi SAW yang selalu menghadapkan muka dan menunjukkan antusiasme kepada orang yang sedang berbicara dengannya. Berdasar ketauladan nabi, maka orang yang mengangkat telpon atau membuka SMS ketika orang lain sedang berbicara dengannya, bukanlah muslim yang baik, apalagi dilakukan ketika sedang bertamu di rumah orang.  Allah SWT berfirman, “…sebab itu sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba- hamba-Ku. Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.” (QS Az Zumar 17, 18:) Dalam Al Kitab (Injil) disebutkan, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!.” (Matius 11:15).

Ayat diatas menunjukkan secara tersirat bahwa tidak semua yang Anda dengar dari orang itu baik dan benar, tapi tetap dengarkan, lalu pilihlah yang baik dan benar untuk diikuti.

Les Giblin (2009) menulis buku Skill With People. Salah satu bab di dalamnya adalah Cara Terampil Mendengarkan Orang. Menurutnya, semakin Anda mendengarkan, semakin tampak Anda orang pandai,  semakin disukai dan dihargai, serta semakin pandai sebagai pembicara. Pendengar yang baik selalu membiarkan seseorang  mendengarkan “pembicara favorit” nya, yaitu dirinya sendiri. Orang lebih suka mendengar bicaranya sendiri seribu kali lipat daripada mendengarkan orang lain.

Ada lima petunjuk untuk menjadi pendengar yang baik.  Pertama, tataplah orang yang sedang berbicara. Siapapun yang layak didengar, layak pula ditatap. Kedua, condongkan badan ke arah pembicara dan dengarkan penuh perhatian. Tunjukkan seolah-olah Anda tidak mau kelewatan satu katapun. Ketiga, ajukan pertanyaan. Hal itu menunjukkan bahwa Anda sangat memperhatikannya. Mengajukan pertanyaan adalah bentuk sanjungan yang tertinggi. Keempat, ikutilah topik pembicaraan, dan jangan memotong atau menyela. Kuatkan kesabaran untuk menahan diri dari keinginan pindah ke topik yang lain. Kelima, gunakan kata-kata pembicara dengan “Anda” atau “Perkataan Anda”. Jika Anda menggunakan kata “saya” atau “milik saya”, Anda telah memindahkan fokus dari pembicara ke diri Anda. Itu adalah berbicara bukan mendengarkan.

Anda tentu sudah sering mendengar sabda Nabi SAW berikut ini. “Setiap persendian manusia harus bersedekah setiap hari selama matahari masih terbit. Mendamaikan dua orang yang bersengketa adalah sedekah; membantu orang untuk mengangkutkan barangnya di atas kendaraannya juga sedekah; ucapan yang baik juga sedekah, setiap langkah untuk melakukan shalat juga sedekah, dan menyingkirkan gangguan yang ada di tengah jalan juga sedekah.” (HR Bukhari Muslim dari Abu Hurairah r.a).

Bersyukurlah, mulut Anda sudah bersedekah. Demikian juga tangan dan kaki Anda. Sekarang, gilirannya telinga Anda. Ia harus banyak bersedekah dengan mendengarkan dengan baik dan menyenangkan untuk orang yang sedang berbicara dengan Anda. “Seseorang di antara kalian tidaklah disebut orang beriman, kecuali jika ia menyintai orang lain seperti menyintai dirinya sendiri.” kata Nabi SAW. Jika Anda merasa diwongke (dihargai) oleh orang yang mau mendengarkan obrolan Anda, maka Anda juga harus memerlakukan pembicara dengan perlakuan yang sama.

Semakin hari negara kita semakin kebanjiran orang yang pandai berbicara, bahkan tidak malu berbicara panjang lebar di luar bidangnya. Tapi, semakin langka ditemukan orang yang pandai menghargai dan mendengarkan orang. Bagi Anda yang muslim, bersyukurlah Allah telah mengajarkan untuk mengusap telinga setiap hari ketika berwudlu. Berdoalah ketika mengusap organ tubuh yang tipis di bagian kanan dan kiri kepala Anda itu, agar keduanya lebih banyak bersedekah daripada kemarin dan hari ini.

KIAI JAMPERSAL

October 6th, 2012 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

KIAI JAMPERSAL

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Ada-ada saja nasehat kiai. Seorang kiai hanya menyarankan singkat, “Baca shalawat Nabi yang banyak” pada seorang tamu yang bercerita panjang lebar tentang kesulitan ekonominya. Bagitu panjangnya cerita sang tamu, sampai kiai hampir mengantuk. Lain kiai, lain pula nesehatnya. Seorang Pengawai Negeri Sipil di Surabaya curhat, “Pak kiai, menurut informasi, saya akan dipindahtugaskan ke Papua. Mohon didoakan agar saya tetap bertugas di  wilayah Jawa Timur.” Di hadapan tujuh tamu lain yang sedang antre meminta nasehat, kiai berkata pendek, “Bacalah alhamdulillah 5000 kali setiap hari.” “Saya lagi susah, kok justru disuruh membaca alhamdulillah” sedikit protes dalam benak si tamu. Tapi demi kepercayaan kepada kiai, pesan itu dijalani dan ternyata berhasil.

Mau nasehat yang lebih unik? Tanyakan kepada KH Achmad Sofwan Ilyas, pengasuh Pondok Pesantren Terpadu Daarul Muttaqin Manukan Surabaya. Menurut beliau, abahnya, Kiai Sofwan di Rembang selalu berwasiat, “Agar hidupmu diberi kemudahan Allah, carilah orang miskin yang hamil tua sebanyak-banyaknya, lalu berikan biaya secukupnya untuk proses persalinan, walaupun kau peroleh dari pinjaman orang. Mereka sangat sedih dan cemas pada hari-hari itu.”

Andaikan Kiai Sofwan masih hidup, tentu ia diberi penghargaan Menteri Kesehatan RI yang sekarang lagi berjuang menurunkan kematian ibu dan anak. Kemenkes menarjet 102 kematian dari 100.000 kelahiran pada tahun 2015 nanti sesuai dengan tujuan MDGs (Millenium Development Goal’s). Angka kematian ibu sekarang masih memprihatinkan, yaitu 228 jiwa tiap 100.000 kelahiran. Menurut hitungan DR Sudibyo Alimoesa dari BKKBN, hampir setiap satu jam, dua ibu melahirkan meninggal dunia. Berdasar hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001, 90 persen kematian ibu disebabkan karena persalinan. Hal ini karena masih banyaknya ibu tidak mampu yang persalinannya tidak dilayani oleh tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang baik karena terkendala biaya.

Untuk menurunkan angka kematian sesuai dengan MDGs tersebut, berbagai upaya telah dilakukan. Antara lain melalui penempatan bidan di desa, pemberdayaan keluarga dan masyarakat dengan menggunakan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA), Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K), peyediaan fasilitas kesehatan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) di Puskesmas, dan  perawatan dan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) di rumah sakit.

Yang terakhir adalah peluncuran resmi program Jampersal (Jaminan Persalinan) untuk membantu ibu-ibu melahirkan secara gratis di fasilitas kesehatan pemerintah dan juga swasta yang sudah menandatangai kerja sama. Ibu hamil kini bisa melakukan persalinan yang dibantu oleh tenaga kesehatan secara gratis hanya dengan membawa KTP. Peserta program Jampersal adalah ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas (pasca melahirkan sampai 42 hari) dan bayi baru lahir (0-28 hari).

Melalui program dengan slogan Ibu Selamat, Bayi Lahir Sehat ini, pada tahun 2012 Pemerintah menjamin pembiayaan persalinan sekitar 2,5 juta ibu hamil agar mereka mendapatkan layanan persalinan oleh tenaga kesehatan dan bayi yang dilahirkan sampai dengan masa neonatal di fasilitas kesehatan.

Sekali lagi, andaikan Kiai Sofwan masih hidup, tentu ia akan menggerakkan semua kiai di Indonesia untuk lebih peduli terhadap tingginya angka kematian ibu dan bayi. Gerakan mulia semacam itu diperlukan sebab nyawa seorang manusia, termasuk bayi yang baru dilahirkan dihargai Allah setara dengan nyawa semua umat manusia. Ketika terjadi pembunuhan Qabil atas saudaranya, Habil, Allah SWT berfirman, “Oleh sebab itu, Kami tetapkan suatu hukum bagi Bangsa Israil, bahwa barangsiapa membunuh seorang manusia, bukan karena ia membunuh orang lain, atau bukan karena melakukan kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan ia membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa menyelamatkan kehidupan seorang manusia, maka-seakan-akan ia telah menyelamatkan kehidupan manusia seluruhnya..” (QS. Al Maidah [5]:32).

Di saat masyarakat sangat jenuh dengan media masa cetak dan eletktronik yang berisi berita gosip, persaingan politik dan kekerasan, apalagi dengan komentar para pakar yang membingungkan, saatnya kita melakukan gerakan untuk melanjutkan wasiat KH Sofwan: berbagi kasih kepada para ibu yang sedang gelisah dan bertaruh hidup diri dan bayinya pada saat dan sesudah persalinan. Nabi SAW bersabda, “Penebar kasih di antara manusia akan tertaburi kasih Allah Yang Maha Pengasih. Kasihilah penghuni bumi, engkau dikasihi semua penghuni langit.” Dalam kesempatan lain, Nabi SAW juga bersabda, “Barangsiapa membebaskan kesusahan orang mukmin dari masalah kehidupan dunia, Allah akan membebaskannya dari kesusahan di hari kiamat, dan barangsiapa memberi kemudahan atas kesulitan seseorang, Allah akan memberi kemudahan dari urusan dunia dan akhirat.” (HR Muslim dari Abu Hurairah)

Surabaya, 03-09-2012

PARA PEMBANTU, RAHIMAKUMULLAH

September 5th, 2012 | Posted by admin_tsb in Artikel - (3 Comments)

PARA PEMBANTU, RAHIMAKUMULLAH

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia 

Di depan hadirin yang terlihat lemas karena semalam suntuk i’tikaf dzikir di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, 24 Ramadlan 1433,  saya mempersingkat ceramah shubuh. Ketika turun dari mimbar, tiba-tiba KH Ahmad Sofwan Ilyas menghampiri saya. Ia meminta buku saya, “60 Menit Terapi Shalat Bahagia” untuk dipelajari lebih lanjut setelah mendengar cuplikan yang saya kutip dalam ceramah itu. Tentu sebuah kehormatan, karena buku itu nanti akan mendapat masukan berharga dari kiai besar ini.

Dengan sungguh-sungguh, ia meminta saya agar berkunjung ke rumahnya jam itu juga. Saya sebenarnya ingin segera pulang untuk meneruskan membaca berita tentang kegelisahan para bos di kota-kota besar menjelang lebaran ketika para pembantu rumah tangganya mudik ke kampung. Saya sedang berfikir tentang nasib para pembantu rumah tangga. Betapa banyak di antara mereka tidak memperoleh kehormatan sebagai manusia merdeka. Seolah-oleh membentak mereka tidak dipandang dosa. Para majikan tidak merasa bersalah memberi upah yang pasti mereka tahu tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan diri, apalagi keluarganya. Itupun tanpa hari libur sama sekali dalam seminggu. Pikiran saya itu semakin menjadi-jadi ketika berada dalam bulan Ramadlan ini. Ketika semua anggota keluarga yang lagi tidur nyenyak atau sedang berdzikir khusyuk, pembantu harus menyiapkan makan sahur sang majikan dan keluarga. Itupun makannya harus paling akhir. Beberapa hari menjelang lebaran, para majikan masih sampai hati membujuk mereka untuk menunda pulang kampung.

Di rumah mewah kiai yang juga pengusaha sukses itu, saya meminta ijin meraba-raba perabot rumah yang serba ukir “tiga dimensi.” Tiba-tiba saja kiai ini bercerita tentang wasiat alamaghfur lah, ayahandanya, Kiai Sofwan di Rembang tentang bagaimana memperlakukan pembantu. “Lho, dari mana kiai ini tahu saya sedang berfikir tentang hal itu” pikir saya.” “Para pembantu itu orang-orang mulia. Kita bisa memuliakan para tamu karena mereka. Juga atas jasa merekalah, kita bisa beribadah dengan tenang dengan pakaian bersih dan harum.” Inilah kalimat pembuka kiai. Ia kemudian meneruskan wasiat ayahnya, “Nak, berikan pembantumu waktu istirahat yang secukupnya. Jika ia sedang tidur pada jam istirahat, jangan bangunkan dia. Buatlah teh atau kopi dan suguhkan kepada para tamu dengan tanganmu sendiri. Jika sedang shalat atau mengaji, jangan sekali-kali dipanggil untuk mengerjakan sesuatu. Mereka manusia merdeka yang juga butuh istirahat dan ingin masuk surga seperti engkau.” Segera saya lepas kacamataku, karena tidak terasa air mata saya berlinang, tapi saya tetap bersikap seperti tidak terjadi gejolak jiwa sedikitpun. Kiai ini lalu meminta pamit sebentar ke dalam rumah. Ternyata ia kembali ke ruang tamu dengan membawa tiga sarung dan menyuruh saya memilihnya. “Saya ambil yang cerah saja pak kiai. Saya ingin memiliki hati secerah abah panjenengan” kata saya.

Setelah menggeser pantatnya sedikit, kiai yang terkenal dengan travel bimbingan haji dan umrah itu melanjutkan wasiat abahnya, “Nak Ahmad (panggilan untuk kiai sewaktu kecil), berhati-hatilah. Jangan mempekerjakan pembantu di luar tugas utamanya, atau lebih dari batas jam maksimalnya. Sedikit saja ia mengeluarkan keringat dengan hati yang jengkel, kejengkelan itu langsung tersambung ke arasy, maka murkalah Allah SWT dan kemudian tertutuplah pintu-pintu rizki untukmu.”.  Kiai ini kemudian berdiri dan menyampaikan dengan lebih bersemangat, padahal saya sebenarnya agak sakit menahan buang air sejak memasuki rumahnya. Tapi menjadi tidak terasa karena melihat semangat dan keikhlasan kiai mewariskan wasiat itu kepada saya. “Nak Ahmad, setiap kali pembantu itu pulang, tanyakan kepadanya daftar nama secara lengkap anggota keluarga yang miskin di kampungnya. Masukkan uang dalam amplop walaupun sedikit dan tuliskan nama masing-masing mereka, agar pembantu itu tidak salah memberikannya. Kegembiraan pembantu bisa bersilaturrahim kepada keluarga dengan membawa uang dan kebahagiaan mereka yang menerimanya tersambung ke arasy, terseyumlah Allah, dan terbukalah sejuta pintu rizki untukmu.” Saya menunduk dan beristighfar, sebab saya belum bisa melakukan persis seperti yang diwasiatkan kiai kharismatik yang sekarang “berbahagia” di alam kuburnya.

Ketika sampai di rumah, saya langsung membuka beberapa buku yang terkait dengan wasiat yang mulia di atas. Dalam kitab Tanbighul Ghafilin disebutkan sebuah kisah. Salah seorang sahabat Nabi SAW meminta air kepada tetangganya, dan menyuruh budaknya untuk mengambilnya. Karena ia terlambat mengambilkan air, tetangga itu menghardiknya dengan kata yang kasar, “Pelacur kau”. Sahabat Nabi itu langsung mengingatkan,  “Pada hari kiamat kelak, engkau akan didera Allah sebagai hukuman, jika engkau tidak bisa membuktikan ucapanmu itu.” Tetangga itu segera meminta maaf kepada si budak dan memerdekakannya. “Semoga Allah menebus dosamu” doa sahabat Nabi untuk  tetangga tersebut.

Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW, “Kam na’fu ‘anil khadim/berapa kali kami harus memaafkan pembantu?” Nabi menjawab, “70 kali untuk setiap hari”. Sebagai imbalan kebaikan majikan, pembantu tentunya harus mengikuti nasehat Al Hasan Al Bashri. Ketika ditanya, “Manakah yang didahulukan: memenuhi panggilan adzan shalat atau melayani sang tuan?,” ia menjawab, “Layani tuanmu terlebih dahulu.”.

Dalam Kitab Riyadlus Shalihin,  Ma’rur bin Suwaid berkata, “Aku melihat Abu Dzarrin r.a memakai perhiasan yang sama dengan yang dikapai pembantunya. Lalu aku bertanya kepadanya, dan dia menjelaskan bahwa dia pernah memaki seorang (pembantu)  dan mencela dengan mengaitkan dengan ibunya.  Nabi SAW mengingatkan, “Engkau manusia dengan budaya jahiliyah. Mereka saudara kalian, pembantu kalian, mereka berada dalam kekauasaan kalian. Siapapun yang mempekerjakan orang, hendaklah ia memberi makan seperti yang dia makan, memberi pakaian seperti yang dia pakai. Janganlah kalian membebenai pekerjan di luar kemampuan mereka, jika mereka dibebani pekerjaan demikian, maka bantulah mereka.” (HR Bukhari Muslim).

Nabi SAW mengajarkan perlakuan yang terhormat dan penuh kemuliaan untuk para budak. Pembantu rumah tangga sama sekali bukan budak. Oleh sebab itu, ia harus dihormati, diberi kesejahteraan dan diberi peluang memiliki masa depan kebahagiaan dunia dan akhiratnya. Lailatul Qadar adalah malam yang tepat bagi para majikan “besar” atau “kecil” untuk bertaubat dan meminta maaf kepada para pembantu yang mungkin selama ini belum diperlakukan seperti ajaran Nabi SAW. Idul Fitri tahun ini harus menjadi hari raya yang mencerahkan masa depan para pembantu. Pembaca yang tercerahkan dengan Ramadlan, yakinlah Anda juga akan tercerahkan masa depan ekonomi, karir, kesehatan dan kebahagiaan rumah tangga Anda berkat senyum dan doa tulus para pembantu Anda. Minal aidin wal faizin, berbahagialalah para pembantu, rahimakumullah.