Header

KEPEMIMPINAN RABBANI

January 17th, 2018 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

KEPEMIMPINAN RABBANI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: https://www.ted.com/topics/leadership

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤۡتِيَهُ ٱللَّهُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحُكۡمَ وَٱلنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُواْ عِبَادٗا لِّي مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلَٰكِن كُونُواْ رَبَّٰنِيِّ‍ۧنَ بِمَا كُنتُمۡ تُعَلِّمُونَ ٱلۡكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمۡ تَدۡرُسُونَ ٧٩

Tidaklah mungkin seseorang yang diberi Allah al Kitab, al hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia, “Jadilah kalian penyembah aku, bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia pasti berkata),Jadilah kalian manusia rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al Kitab dan karena kamu tetap mempelajarinya (QS. Ali Imran [03]: 79).

Ayat di atas turun ketika Nabi SAW kedatangan beberapa pendeta Yahudi dan Nasrani di Madinah. Ketika diajak Nabi memeluk Islam, mereka menjawab sinis, “Apakah kamu menyuruh kami menyembahmu seperti kaum Nasrani menyembah Isa?” Nabi mengatakan, “ma’adzallah, semoga Allah melindungi saya. Sama sekali bukan itu maksud saya.”

Ayat di atas menegaskan bahwa, pertama, tidaklah mungkin nabi-nabi, termasuk Nabi SAW yang mendapat tugas kenabian dengan bekal kitab suci dan diberi kecerdasan lalu berkhianat atau menyalahi perintah dengan menyuruh manusia menyembah dirinya selain Allah. Pengkhianatan adalah dosa bagi manusia biasa, maka apalagi bagi seorang nabi. Kedua, semua nabi justru menyuruh manusia menjadi manusia rabbani atau manusia berketuhanan, yaitu dekat kepada Tuhannya, mendalami firman-firman-Nya dan berakhlak seperti akhlak-Nya. Menurut Quraish Shihab, rabbani adalah muslim yang terus menerus mempelajari kitab suci dan mengajarkannya kepada manusia. Menurut Ibnu Abbas r.a, muslim rabbani adalah ulama, hukama (ahli hikmah dan filsafat), fuqaha’ (ahli hukum) yang menguasai ilmu dan filsafat, sehingga memahami makna terdalam dari firman-firman Allah, dan mengetahui berbagai rahasia dari semua ciptaan Tuhannya, lalu mengajarkannya kepada orang lain.

Jika dikaitkan dengan kepemimpinan, maka kepemimpinan rabbani adalah kepemimpinan yang berbasis ilmu ketuhanan dan ilmu-ilmu lainnya untuk memberikan pelayanan terbaik, kesejahteraan dan keadilan untuk masyarakat yang dipimpinnya. Nabi SAW memberi contoh tanggungjawab kepemimpinannya sampai detik-detik terakhir hidupnya. Ketika Jibril mengatakan bahwa tugasnya sebagai pengantar wahyu sudah berakhir, Nabi SAW bertanya, ”Siapa yang akan mengurusi umatku sesudah aku mati?” Allah SWT lalu mewahyukan kepada Jibril, ”Beritakan kepada kekasihku, Aku tidak akan menelantarkan umatnya. Beritahukan pula, ia orang pertama yang dikeluarkan dari bumi kelak pada hari kiamat, dan dialah yang akan memimpin semua manusia saat itu. Dialah pula yang Aku ijinkan pertama kali memasuki surga.” Nabi SAW lalu terlihat ceria, kemudian menggosok gigi dengan siwak sebelum bersyahadat untuk menutup kehidupan selamanya.

Sepanjang hidupnya, yang dipikirkan Nabi SAW hanya satu, yaitu keadaan atau nasib orang-orang yang dipimpinnya. Ia mencintai umatnya seperti seorang ibu kepada anaknya, atau kakak kepada adik-adiknya. Kisah pendek ini merupakan tamparan keras bagi siapapun pemimpin negeri ini yang mengutamakan partainya dan menomor-duakan rakyatnya. Waktu yang semestinya untuk mengurus rakyat terkuras untuk mengurus partai dan menambah pundi-pundi kekayaan keluarga, sedangkan untuk mengurus rakyat hanya dengan sisa-sisa energi yang telah terkuras sebelumnya.

Dalam sejarah, Umar bin Khattab r.a pernah bertindak cepat, memberhentikan gubernur Syria yang terbukti melakukan penyelewengan, lalu mengangkat Sa’id bin Amir sebagai penggantinya, semata-mata karena potensi dan akhlaknya. Belum lama menjabat, Said mendapat ujian dari istrinya yang  menuntut rumah dan fasilitas yang serba mewah. Said tidak tunduk kepada kemauan istri, tetap hidup sederhana, bahkan memberikan gajinya kepada fakir miskin. Menghadapi istri yang marah dan kecewa, Said mengarahkan pandangannya ke atas, seraya berkata, ”Wahai istriku, Allah sedang memperlihatkan pada saya para syuhada’, teman-temanku bercengkerama dengan para bidadari yang amat cantik. Jika engkau tidak bisa mengikuti cara kepemimpinan saya, maka saya lebih suka memilih  bidadari itu daripada engkau.”

Suatu saat, Umar mendapat laporan, bahwa gubernur yang baru itu sering terlambat ke kantor, beberapa kali absen, menolak didatangi rakyat di malam hari, dan sering pingsan di saat kerja.

Umar meminta klarifikasi Said bin Amir di depan rakyatnya. Inilah rekaman keterangannya, “Saya sebenarnya tidak ingin membuka rahasia ini. Tapi, baiklah, terpaksa saya harus ceritakan semuanya. Pertama, saya sering terlambat ke kantor, karena saya tidak punya pembantu, dan saya harus mengaduk roti sendiri, lalu shalat dhuha, dan barulah ke kantor. Kedua, saya absen ke kantor dua kali sebulan, karena ketika satu-satunya baju saya ini dicuci, saya harus menunggunya sampai kering dan baru bisa saya pakai ke kantor. Ketiga, saya menolak anda semua ke rumah malam hari, karena siang hari saya maksimalkan mengurus rakyat dan malam hari saya khususkan untuk bersujud kepada Allah. Keempat, benar, saya sering pingsan ketika di kantor. Inilah yang perlu saya jelaskan lebih detail, sebab saya memiliki pengalaman pahit yang tidak bisa saya lupakan.

Sa’ad melanjutkan, “Sebelum masuk Islam, saya menyaksikan Hubaib Al Anshari disiksa orang kafir secara keji disertai cacian yang menyakitkan hati, ”Kami akan melepas kamu, jika nabimu menggantikanmu untuk kami hajar di sini?” Hubaib menjawab, ”Aku tidak akan rela nabiku disiksa walaupun hanya dengan tusukan duri.” Saat itulah, tubuhnya dicincang-cincang, dan saya hanya berpangku tangan. Saya takut kelak ditanya Allah, mengapa saya diam dan tidak melakukan pembelaan sedikitpun. Setiap kali saya mengingat kejadian itu, saya lemas dan langsung pingsan.”  Mendengar klarifikasi tersebut, Umar bin Khattab menunduk haru, lalu bangkit memeluk erat dan mencium kening Said bin Amir sambil berkata, ”Saya bangga dan bersyukur, saya tidak salah memilihmu sebagai seorang pemimpin.”

Nabi SAW memberi tauladan kepemimpinan rabbani, yaitu dekat dengan Allah dan mengutamakan pelayanan umat. Umar bin Khattab memberi tauladan memilih pejabat yang benar-benar profesional, bukan berdasar hubungan keluarga, setoran atau mahar politik, strategi “dagang sapi,” dan sebagainya. Komitmen, kejujuran, ketulusan, kecerdasan, dan kecekatan harus menjadi pertimbangan utama. Untuk apa memilih orang cerdas, kalau terhadap uang negara ia tukang kuras? Untuk apa pula bergelar doktor kalau koruptor? Utamakan pejabat rabbani, dan ukurannya bukan berapa kali ia umrah atau berhaji.

Negeri ini terkenal kaya raya, dan hanya pemimpin rabbani yang bisa mengantarkannya menjadi negara besar setelah China dan India di kemudian hari. Andalah calon pemimpin itu!

Surabaya, 30/09/2017

Referensi: (1) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol.2, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 161 (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, Juz 3, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 217-219. (3) Khalid, Muhammad Khalid, Rijalun Haular Rasul (Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah), CV Diponegoro, Bandung, Cet VI, 1988.

 

MEMBAKAR UANG

December 19th, 2017 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

MEMBAKAR UANG
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Demi masa. Sungguh manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (QS. Al-Ashr [103]: 1-3).

Firman Allah di atas bukan satu-satunya ayat yang diawali sumpah dengan waktu. Masih banyak ayat lain yang sejenis, antara lain, “Demi waktu fajar” (QS. 89: 1), “Demi waktu subuh ketika fajar telah menyingsing” (QS. 81: 18), “Demi waktu dhuha (ketika matahari naik sepenggalan), dan demi waktu malam ketika telah sunyi” (QS. 93: 1-2), “Demi waktu malam ketika menutupi cahaya siang, dan demi waktu siang ketika terang benderang” (QS.92: 1-2). Semua ayat di atas menunjukkan betapa pentingnya waktu dan betapa besar kerugian orang yang melewati waktu tanpa perencanaan yang jelas atau digunakan untuk perbuatan sia-sia, apalagi dosa.

Muhammad Ibrahim An Nu’aim dalam bukunya Kaifa Tuthilu ‘Umrakal Intaji bertanya, “Apa komentar Anda terhadap orang yang membakar uang setiap hari?” Tentu jawaban Anda, “Ia bodoh, sombong atau tidak waras.” Bagaimana jika seseorang menyia-nyiakan waktu? Tentu lebih bodoh dan gila, sebab jika uang hilang, kita masih bisa mendapatkannya di lain waktu. Namun, jika waktu yang terbuang sia-sia, kita tidak bisa mencarinya lagi, sebab waktu tidak terulang, seperti jarum jam yang tidak bisa diputar kembali.

Waktu adalah modal besar dan penentu bahagia atau tidaknya masa depan Anda.  Sumpah Allah dengan waktu merupakan peringatan agar tidak ada satu menitpun lewat tanpa kegiatan yang bernilai positif dan produktif.  Perjalanan usia kita harus diisi dengan kegiatan yang bisa menjadi investasi untuk masa depan, baik jangka pendek yaitu dunia, maupun jangka panjang yaitu akhirat. Satu menit untuk menyebut nama Allah lebih baik dari seribu tahun tanpa mengingat-Nya. Majduddin Abul Barakat, kakek Ibnu Taimiyah tidak mau sedikitpun waktunya lewat tanpa memperoleh ilmu. Oleh karenanya, setiap ia masuk WC, ia menyuruh seseorang untuk membacakan buku dengan suara yang nyaring agar selama dalam WC ia tetap bisa memperoleh tambahan ilmu.

Abdullah bin Mas’ud berkata, ”Setiap aku melihat matahari terbenam di ufuk barat, hatiku amat gundah dan menyesal, sebab jatah umurku berkurang sedangkan ibadahku tidak bertambah.” Dawud At Tha’i lebih suka meminum fatiit (sup roti) daripada mengunyahnya, sebab menurutnya, “Minum sup roti lebih cepat. Durasi waktu untuk mengunyah roti cukup untuk membaca 50 ayat Al Qur-an.”

Para ulama terdahulu selalu membaca Al Qur-an dalam setiap perjalanan ke mana saja. Oleh karena itu, ia mengukur jarak perjalanan dengan seberapa banyak ayat Al Qur-an dibaca. Syekh Abdullah bin Baz selalu memanfaatkan waktu perjalanan dengan merenungkan tafsir ayat-ayat Al Qur’an. Abu Bakar bin Ayyasy mengatakan, ”Kebanyakan orang bersedih ketika kehilangan uang, tapi tidak pernah mengeluh ketika sehari umurnya hilang secara sia-sia.”

Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Adh Dhabi’i mengingatkan, “Gunakan waktu secara maksimal untuk meraih apa saja. Tapi, jangan lupa menyediakan waktu untuk bersenang-senang dan istirahat, sebab tubuh juga mempunyai hak untuk diberi istirahat.” Abdul Wahhab Al Sya’rani dalam kitabnya Tanbihul Mughtarrin  berpesan, “Hiduplah dengan pengaturan waktu yang teliti. Jika tidak, Anda sejatinya telah mati. Segera lakukan pekerjaan yang lain, jika suatu pekerjaan telah selesai, sebagaimana firman Allah, “Jika engkau telah selesai dari suatu pekerjaan, maka tetaplah bekerja keras untuk pekerjaan yang lain” (QS. Alam Nasyrah [94]: 7). Hasan Al Bashri berkata, “Sedetik waktu yang engkau gunakan untuk kebaikan lebih berharga daripada sejuta dinar dan dirham.”

Abdullah bin Al Mubarak  berkata, “Yang paling aku sesali dalam hidup adalah jika ada waktu yang terbuang. Kecerdasan seseorang ditentukan sejauhmana ia mengatur waktu.” Sebagian ulama terdahulu membawa sejumlah kerikil. Mereka memasukkan satu kerikil ke saku kiri jika melakukan dosa, dan satu kerikil di saku kanan jika melakukan kebaikan. Lalu, menjelang tidur, kerikil di dua saku itu dihitungnya.

Syaikh Al Qusyairi berkata, “Introspeksi yang terpenting adalah tentang waktu, sejauhmana digunakan untuk kebaikan atau dosa, sebab setiap detik harus jelas kegunaannya.” Nabi SAW bersabda,

لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ اَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ

“Dua telapak kaki manusia tidak akan bisa digerakkan pada hari kiamat sebelum menjawab (empat) pertanyaan, yaitu (1) tentang umurnya, digunakan untuk apa, (2) tentang ilmunya, sejauhmana pengamalannya, (3) tentang hartanya, darimana diperoleh dan untuk apa saja dipergunakannya, dan (4) tentang tubuhnya, sejauhmana dimanfaatkannya” (HR. At Turmudzi dari Abi Barzah Al Aslamy r.a). Nabi SAW juga bersabda, ”Orang-orang yang hadir dalam pertemuan tanpa mengingat Allah, mereka kelak pasti menyesal. Orang yang menempuh perjalanan tanpa mengingat Allah juga akan menyesal. Orang yang berbaring di tempat tidur tanpa mengingat Allah, ia pasti juga menyesal” (HR. Ahmad). Mereka meyesal bukan karena dosa, namun karena waktunya berlalu tanpa kegiatan yang dapat meningkatkan peringkatnya di surga.

Apakah Anda orang cerdas, dungu, gila ataukah waras ditentukan bagaimana Anda memanfaatkan waktu sebagai anugerah Allah yang termahal.

Referensi: (1) Kementerian Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya, Al Jumanatul ‘Ali, Bandung, 2005; (2) Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Adh Dhabi’i, Sanaabilul Khair, Investasi Akhirat, terj. Tsaniananda Fidyatul Ch, penerbit: Tinta Medina, Creative Imprint of Tiga Serangkai, Solo, Cet. I, 2016, hlm. 77-82. (3) Muhammad Ibrahim an-Nu’aim, Kaifa Tuthilu Umraka Al-intajy (4) Abdul Wahhab Al Sya’rani, Tanbih Al Mughtarrin, penyadur: W. Wikarta: Jalan-jalan Surga, Akhlak dan Ibadah Pembuka Pintu Surga, Penerbit Mizania, Bandung, 2017 cet. I, hlm.119.

IBRAHIM, TAULADAN KERAMAHAN

November 6th, 2017 | Posted by admin_tsb in Artikel - (3 Comments)

IBRAHIM, TAULADAN KERAMAHAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةٗ قَانِتٗا لِّلَّهِ حَنِيفٗا وَلَمۡ يَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ١٢٠

Sungguh Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan) (QS. An Nahl [16]: 120).

            Artikel ini ditulis ketika bangsa Indonesia masih dalam suasana mensyukuri kemerdekaan, dan muslim Indonesia sebagai jamaah haji terbanyak di dunia sedang menyelesaikan rangkaian ibadah haji bersama jutaan muslim lainnya di Mekah. Inilah ibadah yang tahapannya merupakan warisan Nabi Ibrahim a.s, nabi yang disebut sebagai kekasih (khalilullah) Allah, dan bapak dari semua nabi. “Dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya (QS. An Nisa’ [04]: 125).

Mengapa Nabi Ibrahim disebut sebagai kekasih Allah? Sebab, dialah satu-satunya nabi yang berpredikat hanif, artinya memiliki keimanan dan akhlak yang terpuji. Yaitu, pertama, ia berkepribadian labbaik, artinya tidak menunda sedetikpun perintah Allah, dan tidak selangkahpun diayunkan untuk melakukan larangan Allah. Ia berkhitan dengan kapak, bukan karena tidak ada pisau waktu itu, melainkan karena hanya kapak itulah yang ada di dekatnya. Ia tidak mau menunda sedetikpun melakukan perintah Allah hanya karena mencari ke sana kemari pisau atau alat potong lainnya. Inilah salah satu bukti konkrit kepribadian labbaik beliau.

Jika Anda muslim labbaik,  Anda pasti cepat bangkit dari duduk atau dari tidur untuk berangkat ke masjid ketika mendengar azan. Muslim labbaik selalu menaati aturan yang berlaku, dan tidak mengambil sedikitpun uang yang bukan haknya, meskipun tanpa diawasi. Semarak labbaikallahumma labbaik selama berhaji merupakan kampanye pembinaan muslim labbaik. Negara kita yang kaya raya ini akan cepat bangkit sebagai negara super power, jika dikelola oleh manusia-manusia labbaik.

Kedua, Nabi Ibrahim a.s selalu mengedepankan dialog, dan mendengar aspirasi dari bawah dalam membuat keputusan. Sebenarnya, ia bisa saja melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih Ismail seketika. Tetapi, ia meminta pendapat terlebih dahulu kepada anaknya, anak yang berpuluh-puluh tahun dinantikan kehadirannya, tapi justru harus disembelihnya. Pada saat Ismail sedang sendirian bermain panah, Ibrahim memeluknya, lalu meminta pendapatnya tentang perintah penyembelihan tersebut (QS. As-Shaffat [37]: 102 dan Hud [11]: 71).

Mengapa banyak keputusan penting di negara kita gagal dalam implementasinya?. Ya, antara lain karena bersifat top down, tidak bottom up, atau tidak menyerap aspirasi masyarakat yang akan menjadi pelaku aturan tersebut.

Ketiga, Ibrahim menjadi contoh dalam “penyembelihan” kepemilikan, keakuan atau ego. Negara kita lambat kemajuannya, disebabkan sikap kenegarawanan para tokoh kita sangat rendah. Masing-masing orang mengedepankan ego golongan, partai atau kelompoknya, bukan menjadikan kepentingan nasional sebagai panglima.

Keempat, Nabi yang lahir di Irak itu juga terkenal paling ramah dan hormat dalam menyambut tamu. Oleh sebab itu, ia mendapat julukan abud dlaifan (tauladan penghormatan tamu), sebab ia selalu menyembelih hewan untuk suguhan terbaik para tamunya, tanpa memandang ia muslim atau tidak, atau sudah dikenalnya atau belum. Ketika ia kedatangan tamu para malaikat yang memberi kabar akan dikaruniai anak, ia memotong sapi besar dan menyuruh isterinya untuk membakarnya untuk suguhan tamu tersebut, tapi mereka tidak mau makan. Ia baru tahu bahwa mereka bukan manusia (QS. Adz Dzariyat [51]: 24-25).

Mengapa industri pariwisata Indonesia tidak bisa maksimal? Padahal tourisme termasuk sumber keuangan negara yang bisa dijadikan andalan. Arab Saudi akan tetap kaya bukan karena kekayaan alamnya semata, sebab ia bisa habis, akan tetapi kaya raya dari sumber “tourisme spiritual” yang selalu meningkat setiap tahun. Sejumlah duta besar kita berkali-kali mengeluh, “Kami beriklan milyaran rupiah untuk merangsang turis mengunjungi Indonesia. Tapi, iklan itu selalu gagal, sebab mereka kecewa, tidak mendapat perlakukan yang menyenangkan selama di Indonesia, mulai dari aparat yang tak bermoral di bandara, aparat pelayanan publik, dan tindakan kekerasan atau kriminal lainnya.”

Indonesia bisa bangkit ekonominya bermodal kekayaan alam yang luar biasa, jika aparat dan masyarakatnya berakhlak seperti yang dicontohkan abud dlayfan tersebut dalam menyambut para tamunya, tanpa memandang agama, etnis dan negara asalnya. Tidak hanya kekayaan alam yang kita miliki. Jutaan masjid dan pondok pesantren, atau tempat ibadah lain dengan segala keunikannya, serta toleransi komunitas kita terhadap penganut agama yang beraneka juga bisa dikemas menjadi objek wisata, sebagaimana telah dilakukan oleh beberapa negara. Mengapa turis dunia berbondong-bondong mengunjungi danau kecil Grand Bassin di Republik Mauritius, negara mungil di Afrika. Padahal danau itu seribu persen tidak lebih baik dari danau-danau Indonesia? Para turis itu berkomentar, “Ya, saya menyukai danau ini karena masyarakatnya lancar berbahasa Inggris dan Perancis, dan memberikan hot welcome and courtesy (sambutan hangat dan keramahan).”

Industri pariwisata tidak bisa hanya bermodal keindahan alam, fasilitas lengkap maupun harga akomodasi yang ditawarkan, namun juga harus dengan sambutan yang ramah dari penduduk lokal, terutama kepada wisatawan asing. World Economic Forum membuat laporan tahunan yang memuat data kasar dari sejumlah survey yang terdiri dari sejumlah variabel, yang diantaranya adalah tingkat keterbukaan dan keramahan yang ditunjukkan masyarakat pribumi terhadap wisatawan asing. Dalam laporan itu disebutkan sepuluh negara yang sukses industri pariwisatanya karena keramahan penduduknya dengan skor masing-masing, yaitu Eslandia (6,8), Selandia Baru (6,8), Maroko (6,7), Macedonia (6,7), Austria (6,7), Senegal (6,7),  Portugal (6,6), Bosnia dan Herzegovina (6,6), Irlandia (6,6), dan Burkina Faso (6,6).

Kita bersyukur negara kita tidak termasuk sepuluh negara yang paling tidak ramah terhadap para tamu turisnya, yaitu Bolivia (4,1), Venezuela (4,5), Rusia (5,0), Kuwait (5,2), Latvia (5,2), Iran (5,2), Pakistan (5,3), Slowakia (5,5), Bulgaria (5,5), Mongolia (5,5). Indonesia selamat dari peringkat negatif ini dengan skor 5,8.

Saatnya, Indonesia bangkit dengan kekayaan alam dan keramahan terhadap tamu, sebagaimana ditcontohkan Nabi Ibrahim a.s, bapak kita.

Sumber: Muhammad Ali As-Shobuni, An-Nubuwwah Wal-Anbiya’, terj. Muslich shabir, Cahaya  Indah, Semarang, 1994: 220-249.