Header

CAHAYA PENDETA

October 27th, 2017 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

CAHAYA PENDETA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan perbuatan yang baik dan melarang mereka dari perbuatan yang tidak baik (munkar), dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, dan menghapus dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS. Al A’raf [7]: 157).

Ayat di atas menjelaskan bahwa jauh sebelum Nabi SAW lahir, nama Muhammad dan sifat atau tugas-tugasnya telah disebutkan dalam Kitab Taurat dan Injil, yaitu menyuruh manusia untuk berbuat baik, mencegah perbuakan tercela, menghalalkan makanan yang baik, mengharamkan yang tidak baik, dan menghapus aturan agama yang memberatkan Bani Israil. Aturan yang memberatkan tersebut meliputi perintah bunuh diri sebagai tanda pertobatan, larangan memakan hewan dengan kuku yang tak terbelah, hewan yang tidak memamah biak, larangan mengonsumsi lemak hewan, larangan menikah bagi pendeta, menetapkan hukum balas setimpal atau qisashah kepada semua pembunuh, baik sengaja atau tidak, perintah memotong anggota badan yang melakukan dosa, dan membuang atau menggunting pakaian yang terkena najis.

Ada kisah menarik berkaitan dengan maksud ayat di atas, yaitu yang terjadi pada diri Abu Bakar As Shiddiq. Ketika berdagang di Syria atau Syam, Abu Bakar r.a bermimpi, yaitu matahari dan bulan berada di pangkuannya. Ia mendekap matahari dan bulan itu, lalu menutupinya dengan selendang. Esok harinya, ia meminta penjelasan takwil mimpi itu kepada pendeta Nasrani. “Tuan dari mana, dari suku apa, dan apa pekerjaan tuan?,” tanya pendeta. “Saya dari Mekah, dari suku Taim, dan profesi saya adalah pedagang,” jawab Abu Bakar r.a.

Setelah diam sejenak, sang pendeta berkata, “Cahaya itu adalah pria yang bernama Muhammad dengan gelar al Amin (orang paling dipercaya), akhlaknya sangat mulia. Itulah yang dijelaskan dalam Kitab Taurat, Injil dan Zabur. Seandainya Allah tidak berencana menciptakan pria mulia ini, maka Allah tidak akan menciptakan bumi, langit dan segala isinya. Allah juga tidak akan menciptakan Nabi Adam, Nabi Idris, Nabi Nuh, dan semua nabi dan rasul. Wahai Abu Bakar, engkau akan menjadi pengikut pria terhormat itu, mendukung dan mengawalnya, serta akan menjadi kepala negara sepeninggalnya. Aku sebenarnya percaya penuh kepadanya, tapi keimanan itu aku sembunyikan, karena takut ancaman masyarakatku.”

Mendengar takwil mimpi yang menyenangkan itu, Abu Bakar r.a segera berangkat mencari Nabi SAW ke Mekah. Setelah bertemu, ia benar-benar jatuh cinta, dan merasakan beratnya berpisah dengannya. Setelah berteman beberapa waktu, Nabi SAW berkata, “Wahai Abu Bakar, kamu duduk berkali-kali denganku, tapi tidak juga menyatakan masuk Islam.” Abu Bakar r.a menjawab, “Jika benar tuan seorang nabi, tuan pasti memiliki mukjizat.” Nabi SAW menjawab, “Tidak cukupkah mukjizat yang engkau ketahui melalui mimpimu di Syria dan penjelasan pendeta Nasrani yang telah menyatakan percaya kepadaku itu?” Mendengar jawaban itu, Abu Bakar r.a spontan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Dari ayat dan kisah di atas, ada beberapa hal yang dapat diambil pelajaran. Pertama, kedatangan Muhammad sebagai nabi bukanlah berita yang baru bagi umat manusia, sebab sudah diberitakan ratusan tahun sebelumnya. Husein bin Salam, kepala pendeta Yahudi Madinah yang bertahun-tahun menjadi pengajar Taurat juga mengakui telah menemukan penjelasan dalam Kitab Taurat tentang akan datangnya seorang Nabi di Madinah. Maka, ketika ia mendengar Nabi SAW telah tiba di Madinah, ia mencocokkan sifat-sifat Nabi sebagaimana tersebut dalam Taurat. Setelah mengamati wajah Nabi SAW dari dekat, dan kelembutan budi pekertinya, ia menyimpulkan semua sifat-sifat yang diketahui dalam Kitab Taurat itu benar, lalu ia masuk Islam. Setelah muslim, namanya diganti oleh Nabi SAW dengan nama Abdullah bin Salam.

Kedua, mimpi Abu Bakar r.a tentang kedatangan Nabi SAW merupakan bagian dari cahaya kenabian.  Jangan heran, cahaya itu juga berlaku kita, sekalipun ia sudah wafat, sebab Nabi SAW bersabda, “Tidak ada lagi (isyarat) kenabian setelah kematianku, kecuali al mubassyirat. Para sahabat bertanya, “Apakah al mubassyirat itu?” Nabi menjawab, “Mimpi yang baik” (HR. Malik, Abu Dawud, Al Bukhari dari Abu Hurairah r.a). Silakan meraih cahaya itu dengan memperbanyak shalawat kepada Nabi SAW disertai tekad yang sungguh-sungguh untuk meniru akhlaknya.                 Ketiga, kedatangan Abu Bakar r.a untuk mencari ilmu kepada pendeta Kristen merupakan pelajaran bagi kita untuk membangun hubungan harmonis antara muslim dan non-muslim.  Negara tercinta warisan para pejuang ini harus kita majukan bersama, saling bahu-membahu antara semua komponen bangsa tanpa melihat latarbelakang etnis dan agama dalam bidang ekonomi, budaya, ilmu pengetahuan dan sebagainya.

Keempat,  Abu Bakar r.a mampu secara finansial memberikan dukungan dan membela Nabi SAW, karena ia kaya dari hasil profesinya sebagai pedagang. Demikian juga yang dilakukan Usman bin Affan r.a dan Abdurrahman bin Auf, serta  para saudagar besar pada masa itu. Dengan demikian, kebangkitan umat Islam ke depan tidak cukup hanya dengan memajukan semangat zikir dan keilmuan, tapi juga bangkitnya muslim-muslim saudagar kelas dunia. Kekayaan negeri ini tidak boleh justru banyak dinikmati oleh pengusaha asing. Para orang tua tidak boleh hanya berbangga anaknya menjadi pegawai negeri, pegawai pabrik, ataupun tenaga ahli di perusahaan asing sekalipun dengan bayaran tinggi, atau bidang-bidang jasa lainnya, tapi diharapkan mereka memacu semangat enterpreunership putra-putri mereka agar menjadi saudagar muslim kelas dunia dengan semangat dakwah yang menyala.

Referensi: (1) Al ‘Ushfuri, Muhammad bin Abu Bakar, Al Mawaidh Al ‘Ushfuriyah (Petuah Usfuriyah) terj. Zeid Husein Al Hamid, Penyunting: Husein Abdullah Bil Faqih, Penerbit Mutiara Ilmu, Surabaya, 1994, cet II, p. 16  (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 9, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 76 (3) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol 4, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 322.

SHALAT YANG MEMBAHAGIAKAN

July 23rd, 2017 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

SHALAT YANG MEMBAHAGIAKAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

 

sumber gambar: https://muslimvillage.com/2013/11/04/45425/daniel-pipes-on-russias-muslims-wrong-as-usual

قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢

Sungguh, (pasti) berbahagialah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu´ dalam shalatnya (QS. Al Mukminun [23]:1-2).

Artikel ini saya tulis untuk merespon beberapa orang yang masih meragukan shalat sebagai terapi atau cara-cara spesifik untuk meraih kebahagiaan, atau menganggap istilah shalat bahagia tidak ditemukan dalam literatur Islam selain shalat khusyuk. Tulisan ini juga sekaligus untuk persiapan saya memberi pencerahan shalat di 16 kota besar di Amerika Serikat tahun 2017.

Ada dua kata kunci dalam firman Allah di atas, yaitu khusyuk dan bahagia, bahwa pelaku shalat khusyuk dijamin hidup sukses dan bahagia. Setiap hari, kita diseru untuk sukses melalui azan, hayya ‘alas shalah, hayya alal falah (ayo shalat dan ayo bahagia). Kita disemangati terus menerus setiap hari untuk lebih berprestasi dan berbahagia (al falah) agar kita dapat memimpin dunia, bukan penonton atau orang yang terpuruk dan terpinggirkan.

Shalat khusyuk adalah shalat yang menumbuhkan ketundukan kepada perintah Allah, kepasrahan dan perasaan senang terhadap apapun dan berapapun pemberian Allah. Bisakah kekhusyukan diperoleh tanpa memahami makna doa-doa shalat? Hampir mustahil. Oleh sebab itu, Anda harus memahami arti semua doa shalat, sekalipun hanya secara global, tidak arti kata perkata. Bagaimana mengatasi kesulitan pemahaman doa-doa shalat yang tertulis dalam teks Arab itu, terutama bagi pemula atau mualaf? Sangat mudah, jika diajarkan dengan keseimbangan otak kiri dan kanan (lihat buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, p. 216-222).

Shalat khusyuk akan menghasilkan T2Q, yaitu tumakninah (tenang, damai, tidak tergesa-gesa dalam segala hal), tawakal (pasrah atas pemberian Allah setelah kerja keras dan doa), dan qana’ah (menerima dengan senang hati apapun dan berapapun pemberian Allah). Rincian (breakdown) dari T2Q yang merupakan modal utama untuk meraih kebahagiaan tersebut ditanamkan melalui enam gerakan utama shalat sekaligus  menghapus enam sumber kecemasan yang saya singkat KURMA PUCUK DOMIS, yaitu: pertama, kurang bersyukur, merasa serba kurang. Emosi negatif yang menjadi sumber kecemasan ini dihapus melalui renungan alhamdu lillahi rabbbil ‘alamin pada posisi berdiri shalat. Melalui hamdalah, dengan senang hati, Anda sedang berterima kasih kepada Allah SWT,  “Wahai Allah, saya berterima kasih atas keimanan yang Engkau anugrahkan kepadaku. Saya orang yang bahagia karena memiliki ibu, ayah, adik, kakak, suami atau istri, yang semuanya sangat menyayangi saya. Saya amat berbahagia karena masih hidup dan berkecukupan, tidak menjadi pengemis di jalan-jalan.” Anda bisa menambahkan deretan kenikmatan Allah yang telah Anda terima sejak kecil. Dengan penyebutan semua anugrah Allah itu, Anda akan lebih bahagia, lebih menghargai orang dan frekwensi marah kepada keluarga atau siapapun menjadi jauh berkurang. Hidup bahagia bisa diraih dengan mensyukuri apa yang ada, bukan mengharap-harap atau berangan-angan tentang apa yang belum di tangan.

Kedua, kematian yang ditakuti secara berlebihan. Ini juga merupakan sumber kecemasan. Melalui rukuk dengan posisi kepala yang diserahkan kepada Allah, Anda diingatkan untuk menyerahkan hidup-mati kepada Allah SWT, sebab kematian bukanlah pilihan, melainkan kepastian. Dengan menghapus ketakutan itu, Anda telah menutup pintu-pintu stres.  Melalui rukuk pula, Anda disemangati untuk rendah hati dan hormat kepada siapapun. Sikap hormat dan menghargai orang dapat mengantarkan Anda hidup lebih bahagia, sebab sikap itu mengundang simpati banyak orang untuk bekerjasama dalam banyak hal, termasuk dalam berbisnis untuk menambah penghasilan Anda.

Ketiga, pujian dan apresiasi orang yang diharap-harap atas apa yang Anda lakukan. Ketika Anda mengucapkan rabbana walakal hamdu pada waktu bangkit dari rukuk, sebenarnya Anda sedang bersumpah tidak mengharap balas budi, pujian, apresiasi dan terima kasih dari siapapun selain Allah, sebab Dia-lah satu-satunya yang berhak dipuji. Mengharap pujian orang sama dengan merampas hak-hak Allah, sekaligus membuka sejuta pintu stres. Sebab, menurut Al Qur’an (QS. 34: 13), hanya sedikit orang yang memberi apresiasi karya orang. Semakin besar harapan seseorang akan apresiasi orang, semakin terbuka lebar pintu stres. Orang bahagia tidak akan mengemis apresiasi, tapi justru selalu memberi apresiasi sekecil apapun jasa orang.

Keempat, curahan kesedihan hati yang belum tersalurkan kepada orang paling dipercaya. Oleh sebab itu, salah satu obat stres adalah mencurahkan masalah hidup sampai tuntas kepada orang yang dipercaya dan bersedia mendengarkannya, sekalipun orang itu tidak dapat memberikan solusi. Ketika bersujud minimal 30 detik dan Anda mencurahkan isi hati sepuas-pusanya, maka berkuranglah beban psikologis Anda, sebab semua curahan hati telah ditumpahkan kepada Allah SWT disertai keyakinan bahwa Allah akan mengambil alih semua masalah yang Anda hadapi.

Kelima, dosa-dosa masa lalu. Melalui doa pada posisi duduk di antara dua sujud, Anda diyakinkan bahwa tidaklah mungkin, Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun tidak mengampuni dan mengasihi orang yang shalat, dan merengek meminta belas kasih dan ampunan kepada-Nya.

Keenam, pesimis dan minder. Lihatlah, betapa gelap dan ciut muka orang yang tidak percaya diri, pesimis dan putus asa. Itulah tanda orang yang “kafir” dan menderita (QS. 14:7 dan 12:87). Melalui syahadat pada posisi tasyahud, keimanan Anda dikuatkan sehingga lebih percaya diri dan optimis, bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan diyakini sebagai sumber energi untuk mengarungi masa depan. Sekarang, lihatlah, betapa cerah dan ceria muka orang yang optimis. Terapi shalat bahagia bukan berarti shalat yang menghasilkan uang untuk membayar hutang atau menyembuhkan penyakit. Tapi, dengan shalat yang benar, Anda optimis dan amat yakin bahwa Allah pasti, pasti, pasti Maha Kuasa mengatasi kesulitan ekonomi, penyakit, dan seberat apapun masalah Anda. Melalui rukuk, sujud dan tasyahud, beban psikologis Anda terasa ringan, sebab tugas Anda sudah tuntas, yaitu usaha dan doa. Lalu, Anda pasrah, pasrah, pasrah dengan keyakinan bahwa Allah SWT akan “mengambil alih” semua masalah dan memberi keputusan yang terbaik untuk Anda (QS. 65: 2-3).

Terapi shalat bahagia bukan menambah atau mengurangi aturan shalat yang sudah paten dari Nabi SAW, melainkan hanya memberi kemudahan menemukan kecanggihan shalat. Handphone Anda sangat canggih untuk berkomunikasi lintas batas geografis secara audio visual dengan cepat dan akurat. Tapi, sayang, Anda tidak mengerti cara menggunakannya. Sungguh, shalat Anda super canggih sebagai pemompa semangat hidup dan pembebas penderitaan. Tapi, sayang, Andalah yang tidak canggih memanfaatkannya.

TIDUR PRODUKTIF

May 8th, 2017 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

TIDUR PRODUKTIF
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://stuartsmythe.com/

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦ مَنَامُكُم بِٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱبۡتِغَآؤُكُم مِّن فَضۡلِهِۦٓۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَسۡمَعُونَ ٢٣

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan” (QS. Ar Rum [30]:23).

Ayat di atas termasuk di antara enam ayat yang unik, karena dibuka secara berturut-turut (ayat 20-25) dengan frasa yang sama, “wa min ayatihi” (dan di antara tanda-tanda kekuasaan Allah). Semua ayat tersebut mengingatkan Anda untuk lebih cerdas dan mengapresiasi nikmat-nikmat dan kekuasaan Allah SWT, yaitu penciptaan alam semasta, proses perkembangan kehidupan manusia, keluarga bahagia, kebinekaan bahasa dan budaya, dan kenikmatan tidur yang dianugrahkan Allah untuk Anda sebagaimana disebut pada ayat di atas.

Betapa nikmatnya seorang musafir yang tidur di bawah pohon rindang dengan angin sepoi-sepoi setelah perjalanan jauh yang melelahkan. Atau seorang ibu yang tertidur lelap setelah seharian menggendong bayinya yang sedang sakit. Allah SWT berfirman, “Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat” (QS. An Naba’ [78]: 9). Mengantuk yang menjadi pengantar tidurpun harus Anda syukuri. “Kemudian setelah kesedihan menimpamu, Dia memberikan kantuk yang dirasakan sebagian kelompok dari kalian” (QS. Ali Imran [03]: 154).

Dengan tidur, Anda bisa beristirahat dari kerja keras atau dari daftar keinginan dan khayalan yang memenuhi otak Anda. Badan sebenarnya mengeluh akibat padatnya aktivitas Anda. Demikian juga mental dari pikiran yang terus menerus bekerja. Mengapa kita harus bersyukur atas kenikmatan tidur? Sebab, dengan tidur yang cukup, Anda memperoleh kondisi fisik yang segar untuk melanjutkan tugas-tugas rutin selanjutnya. Paling tidak, ada enam manfaat tidur nyenyak, yaitu menyehatkan jantung, mencegah kanker payudara dan usus besar, mengurangi stres pada jiwa dan raga, menguatkan kembali energi, meningkatkan daya ingat otak, dan memperbaiki sel tubuh yang telah rusak.

Di tengah waktu-waktu tidur itu, Anda sebaiknya menyisihkan sedikit waktu untuk shalat malam, agar hidup Anda selalu terbimbing. Nabi SAW bersabda, “Kerjakanlah shalat malam, sebab itu kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kamu, juga mendekatkan kamu kepada Tuhanmu, menghapus kesalahan-kesalahanmu, dan menjauhkan kamu dari perbuatan dosa” (HR. Al Turmudzi dari Abu Umamah r.a).

Tidur dan mimpi telah lama dikaji secara ilmiah. Setelah lama diperdebatkan, ternyata kesimpulannya sama dengan apa yang dinyatakan dalam Al Qur’an, bahwa tidur merupakan mati kecil, sebab saat itu, ruh berpisah untuk sementara waktu dari jasad. Adapun mati besar adalah lepasnya ruh dalam waktu yang lebih lama sampai bersatu kembali pada hari kiamat. “Allah-lah yang mengendalikan  jiwa (orang) ketika matinya dan (mengendalikan) jiwa (orang) yang belum mati pada saat tidurnya” (QS. Az Zumar [39]: 42). Oleh sebab itu, sebaiknya Anda memulai tidur dengan membaca basmalah, dan bangun tidur membaca hamdalah sebagaimana diajarkan Nabi SAW untuk menyatakan terima kasih atas menyatunya kembali ruh dan jasad.

Pada saat tidur, ruh berkelana cukup jauh atas kehendak Allah dan bisa bertemu dengan ruh-ruh lainnya di alam semesta. Saat itulah, mimpi terjadi, bisa mimpi buruk atau baik. Jika mimpi itu baik, maka itulah percikan cahaya kenabian. Nabi SAW bersabda,

 لَمْ يَبْقَ بَعْدِى مِنَ النُّبُوَّةِ اِلَّا الْمُبَشِّرَاتُ قَالُوا وَمَا الْمُبَشِّرَاتُ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ

“Tidak ada lagi (isyarat) kenabian setelah kematianku kecuali al mubassyirat. Para sahabat bertanya, “Apakah al mubassyirat itu?” Nabi menjawab, “Mimpi yang baik” (HR. Malik, Abu Dawud, Al Bukhari dari Abu Hurairah r.a).

Tidur itu nikmat dan menyehatkan. Alangkah lebih menyenangkan, jika disertai mimpi yang indah, bertemu dengan Nabi SAW. Itulah cahaya kenabian yang terpancarkan untuk Anda, dan pasti hal itu benar-benar Nabi SAW. Ia bersabda, “Siapapun yang menjumpai aku alam tidurnya, maka ia bagaikan menjumpai aku dalam keadaan terjaga. (Ketahuilah) setan tidak akan bisa menyerupai aku” (HR. Al Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Al Tirmidzi).

Mimpi berjumpa dengan Nabi SAW juga bagian dari kenikmatan surga yang didahulukan pemberiannya di dunia bagi auliyak atau kekasih-Nya (QS. Yunus [10]: 63). Semakin dekat dengan Nabi SAW, semakin besar kemungkinannya ia datang kepada Anda, tidak hanya dalam mimpi, tapi juga ketika terjaga, sebagaimana dialami para sahabat dan orang-orang mulia terdahulu. Seorang pria penduduk Madinah tiba-tiba melihat Nabi SAW di tengah cahaya yang belum penah dilihat sebelumnya. Ia bimbang dan bertanya dalam hati, “Benarkah ini nabi yang aku rindukan?” Nabi SAW menjawabnya, “Benar, akulah Rasulullah.” Semakin dipandang, semakin bertambahlah cahaya itu, lalu menghilang.

Husin Muhammad Syaddad bin Umar dalam bukunya Kaifiyatul Wushul Liru’yati Sayyidinar Rasul, Muhammad SAW menulis kumpulan pengalaman 134 orang suci tentang perjumpaan dengan Nabi SAW.  Caranya?  Buku itu menjelaskan, “Lakukan shalat dua rakaat dan bacalah Al Qur’an sebanyak-banyaknya menjelang tidur.” Sungguh tidur Anda amat bernilai, sebab Anda tidur dalam keadaan suci dengan iringan Al Qur’an yang suci pula.  Penulis buku itu juga bertanya dengan sedikit heran, “Mengapa perjumpaan dengan Nabi SAW tidak menjadi bagian dari cita-cita harian Anda?.

Jika kita gagal berjumpa dengan nabi, tak apalah, sebab mimpi bukan tujuan utama, melainkan perantara kedekatan kita dengannya. Insya-Allah kita akan berjumpa dengan Nabi SAW ketika Izrail mencabut nyawa kita. Jika itupun tidak tercapai, masih ada harapan terakhir, yaitu berjumpa dengannya di surga, dan itu pasti terjadi, sebab ia bersabda, “Al mar-u ma’a man ahabba (seseorang akan disatukan di surga dengan kekasihnya).” Wahai Rasulullah, kami benar-benar mencintai, menauladani dan merindukanmu. Kami berharap, mata hati kami terus berenang di lautan cinta denganmu, dan Allah SWT menerbitkan cahaya-Nya, sehingga tersingkaplah segala penghalang (hijab) antara kami dan Dia.”

Referensi: (1) Moh. Ali Aziz, Doa-doa Keluarga Bahagia, (2) Husin Muhammad Syaddad bin Umar, Kaifiyatul Wushul Lirukyati Syyidinar Rasul (Doa-doa Mimpi Bertemu Nabi SAW), terj. Moh. Al Mighwar, Pustaka Hidayah, Bandung, Cet. I, 2002 (3) Abd Razaq Naufal, Ir, Al Qur’an dan Sains Modern, Husaini, Bandung, tt.