Header

DAMAI DENGAN SHALAWAT NABI

May 2nd, 2017 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

DAMAI DENGAN SHALAWAT NABI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

 

sumber gambar: http://www.goodnewsnetwork.org/peace-sculpture-unveiled-in-wausau-2/

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا

“Sungguh Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (QS. Al Ahzab [33]: 56).

Hampir semua muslim di berbagai belahan dunia hafal ayat yang sangat populer di atas. Ketika penceramah atau pemimpin zikir membacakan ayat tersebut, hadirin secara spontan menirukannya, lalu bershalawat bersama, allhumma shalli wasallim ‘ala sayyidina Muhammad.

Ayat ini paling unik di antara semua ayat Al Qur’an, sebab sebelum memerintahkan manusia bershalawat, Allah memberi contoh untuk bershalawat terlebih dahulu bersama para malaikat. Seolah-olah Allah SWT berpesan, “Aku Yang Maha Besar dan para malaikat yang mulia bershalawat kepada Nabi. Maka, sebagai orang yang beriman, kalian seharusnya melakukan hal yang sama!” Allah SWT bershalawat kepada nabi, artinya melimpahkan rahmat-Nya. Sedangkan shalawat oleh malaikat berarti permohonan ampunan dan kemuliaan untuk Nabi SAW.

            Keunikan lainnya, ayat ini diapit dua ayat yang saling menguatkan. Ayat sebelumnya memerintahkan kita menghormati Nabi SAW dan para istrerinya, dan ayat sesudahnya tentang ancaman Allah bagi siapapun yang menyakiti atau menjelekkannya. Penghormatan itu wajib dilakukan sampai kapanpun. Umar bin Khattab menegur beberapa pemuda dari luar kota yang gaduh di depan makam Nabi SAW, “Hormatilah nabi kalian. Andaikan kalian bukan orang asing, kalian sudah pasti merasakan bogem-mentahku. Jangan bersuara keras di sini!” Berdasar isi ayat ini, Imam Nawawi dalam kitabnya Al Adzkaar menganjurkan untuk selalu bershalawat sekaligus bersalam kepada Nabi SAW, sebagaimana telah kita lakukan pada setiap tasyahud, yaitu: assalamu ‘alaka ayyuhan nabiyyu (salam untukmu wahai nabi) dan allahumma shalli ‘ala Muhammad (wahai Allah berikan shalawat untuk Nabi Muhammad).

Ayat ini menunjukkan betapa mulianya Nabi SAW di mata Allah SWT dan semua penduduk langit. Jika Anda enggan memuliakan nabi SAW, manusia yang paling agung budi pekertinya dan paling besar jasanya dalam Islam itu, maka tidaklah mungkin Anda memuliakan dan mengakui jasa-jasa orang kecil. Secara tidak langsung, Anda diajari Allah SWT untuk menjadi pribadi apresiatif, pandai berterima kasih dan selalu menghargai semua orang, lebih-lebih mereka yang terhormat.

Karena perintah bershalawat berlaku umum, maka, Nabi SAW juga bershalawat untuk dirinya sendiri di dalam dan di luar shalat. Fatimah r.a, putri Rasulullah SAW bercerita, Nabi SAW selalu bershalawat dan menyampaikan salam untuk dirinya sendiri setiap masuk dan keluar masjid, lalu memohon ampunan dan rahmat Allah (HR. Ahmad).

Begitulah pentingnya shalawat. Shalat Anda, termasuk shalat jenazah tidak sah, jika tidak disertai shalawat. Doa Anda tertolak jika tidak dimulai atau ditutup dengan shalawat. Nabi SAW bersabda, “Doa akan tertolak kecuali pembaca doa itu bershalawat untuk Nabi SAW” (HR. Al Thabrani). Sebab, shalawat adalah sayap yang dibutuhkan untuk menerbangkan doa sampai ke langit. Menurut Imam Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal, khutbah juga tidak sah, jika tanpa shalawat. Hitunglah, berapa kali Anda bershalawat dalam sehari? Mengapa demikian? Sebab, Anda harus terus menerus tersambung dengan cahaya Nabi agar bisa menyontoh akhlaknya. Bershalawatlah untuk Nabi SAW setiap kali Anda mendengar namanya. “Orang yang paling kikir adalah orang yang (mendengar) namaku di sebut, ia tidak bershalawat untukku” (HR. Al Tirmidzi dari Ali r.a).

Raihlah lima anugerah Allah melalui bershalawat. Pertama, Anda semakin dekat dengan Nabi SAW. Beliau bersabda, “Bershalawatlah untukku, sebab semua shalawat kalian sampai kepadaku di manapun kamu berada” (HR. Abu Dawud). Beberapa sahabat pernah bertanya, ”Wahai  Rasulullah, bagaimana shalawat kami diperlihatkan kepada tuan, sedangkan jasad tuan sudah bercampur dengan tanah? Beliau menjawab, ”Sungguh, Allah melarang bumi untuk memakan jasad para nabi” (HR. Abu Daud, Ahmad dan Al Hakim). ”Siapapun yang bersalam kepadaku, pasti Allah mengembalikan nyawaku sampai aku menjawab salam untuknya” (HR. Abu Daud dari Abu Hurairah r.a).

Kedua, akhlak Anda semakin mirip dengan Nabi SAW. Bacaan shalawat membuat Anda mengingat Nabi dan bertekad meniru akhlaknya. Shalawat nabi tanpa tekad meniru akhlaknya hanya shalawat formalitas. Beberapa kali dijumpai di Mesir, dua orang yang bersitegang tiba-tiba buyar setelah mendengar seruan shalawat, “shallu ‘alan nabi” oleh orang di sebelahnya. Ketiga, semakin banyak malaikat menemani dan menolong Anda. Nabi SAW bersabda, “Sungguh, Allah memiliki banyak malaikat yang berkeliling untuk menyampaikan salam umatku kepadaku” (HR. Al Nasa-i dan Al Hakim dari Abdullah bin Mas’ud r.a). Jutaan malaikat selalu menunggu shalawat untuk segera datang menjemput Anda, seperti gojek yang selalu siap berangkat ketika menerima panggilan pengguna jasa transportasi.  Keempat, Anda aman dari siksa akhirat. Nabi SAW akan hadir sebagai pemberi syafaat atau pembela ketika Anda berdiri di depan pengadilan Allah SWT. Nabi SAW bersabda,

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ حِينَ يُصْبِحُ عَشْرًا وَحِينَ يُمْسِي عَشْرًا أَدْرَكَتْهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa bershalawat untukku sepuluh kali di pagi hari dan sepuluh kali di sore hari, maka dia mendapat pembelaanku (syafa’at) pada hari kiamat” (HR. Al Thabrani dari Abu Darda). Sabdanya lagi, “Orang yang paling mulia bersamaku  pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat untukku” (HR. Al Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud r.a). “Barangsiapa bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan memberi sepuluh shalawat (rahmat) untuknya” (H.R. Muslim dari Abdillah bin ’Amr bin Al ’Ash r.a). Imam Habib Abdullah Haddad mengatakan, ”Satu shalawat Allah sudah cukup bisa menyelamatkan dan menaikkan kemuliaan Anda. Maka, alangkah tingginya kemuliaan itu, jika Allah memberi sepuluh shalawat untuk Anda.” Subhanallah.

Kelima, irama shalawat Anda bersamaan dengan gemuruh irama shalawat Allah dan para malaikat-Nya. Berkenaan dengan ayat di atas, Ibnu Katsir berkata, ”Shalawat benar-benar telah menyatukan gema irama zikir penduduk langit dan bumi.”

Semakin sering bershalawat kepada nabi, maka hidup Anda semakin DAMAI, yaitu kepanjangan dari: Dekat dengan Nabi; Akhlak Anda semakin mirip dengannya; Malaikat semakin banyak menolong Anda; Aman dari siksa akhirat, dan Irama shalawat Anda bersamaan dengan gemuruh shalawat Allah dan para malaikat-Nya. Allahumma shalli wa sallim wabarik ‘alaih.

 

Referensi: (1) Moh. Ali Aziz, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, UIN Sunan Ampel Press, Surabaya, 2015, cet. X  p. 128-135 (2)  Al Jamshy, Mohamad Hasan, Al Qur’anul Karim, Tafsir wa Bayan, Darur Rasyid, Beirut, p. 426  (3) Hamka, Tafsir Al Azhar,  Juz 22, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 84-91 (4) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol. 10, Penerbit Lenterera Hati, Jakarta, 2012, p. 526-531 (5) Al Nawawy, Abu Zakariya, Yahya bin Syaraf,  Riyadush Shalihin,  CV. Thoha Putra, Semarang, 1981.

NOL SATU

January 4th, 2017 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

NOL SATU
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

ٱلۡقَارِعَةُ ١  مَا ٱلۡقَارِعَةُ ٢  وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡقَارِعَةُ ٣  يَوۡمَ يَكُونُ ٱلنَّاسُ كَٱلۡفَرَاشِ ٱلۡمَبۡثُوثِ ٤ وَتَكُونُ ٱلۡجِبَالُ كَٱلۡعِهۡنِ ٱلۡمَنفُوشِ ٥  فَأَمَّا مَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ٦ فَهُوَ فِي عِيشَةٖ رَّاضِيَةٖ ٧  وَأَمَّا مَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ٨ فَأُمُّهُۥ هَاوِيَةٞ ٩  وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا هِيَهۡ ١٠  نَارٌ حَامِيَةُۢ ١١

Hari Kiamat? Apakah hari kiamat itu? Tahukah kamu apakah hari kiamat itu? (Itulah) hari di mana manusia seperti belalang yang bertebaran, dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang menyenangkan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? Ia adalah api yang sangat panas (QS. Al Qari’ah [101]: 1-11).

                Dalam Ilmu Retorika, terdapat teori memancing perhatian audiens, antara lain memulai pembicaraan dengan mengemukakan satu atau beberapa pertanyaan provokatif, lalu dijawab sendiri oleh pembicara. Berdasarkan teori ini, Surat Al Qari’ah yang dimulai dengan dua pertanyaan tentang kiamat benar-benar mengundang Anda untuk lebih serius memperhatikan pesan-pesan penting di dalamnya.

                Allah SWT memberitakan, suatu saat nanti Anda akan dikejutkan suara keras yang menggetarkan dada dan memekakkan telinga. Benar-benar mencekam (al qari’ah). Anda akan berlari ketakutan dengan telanjang tanpa sadar. Para ibu melemparkan bayi yang sedang disusuinya. Orang tuapun menjadi tidak mengenal anak-anak yang paling dicintainya.  Percaya atau tidak, Anda pasti akan mengalaminya. Tak ada satupun agama yang mengingkari peristiwa itu.

                 Saat itu, Anda tidak lagi di bumi karena telah terlempar jauh ke atas oleh goncangan bumi bersamaan dengan jutaan gunung yang diterbangkan ke udara seperti bulu hewan yang terhempas angin puting beliung. Muntahan gunung-gunung itupun berwarna-warni sesuai dengan kandungan di dalamnya. Jika kandungannya besi, maka merah warnanya; berwarna hitam jika kandungan utamanya batubara; dan berwarna hijau jika kandungan utamanya perunggu.

                Melalui berita tentang gunung raksasa yang berterbangan di udara pada ayat-ayat di atas, secara tidak langsung Allah sejatinya memompakan semangat hidup Anda, “Kenapa engkau bersedih dengan masalah yang engkau hadapi?” “Tidakkah Aku mampu menerbangkan jutaan gunung raksasa?” “Wahai hamba-Ku, terlalu mudah bagi-Ku mengangkat batu besar yang menindih dadamu. Bersabarlah, sebab sebentar lagi, Aku akan hadir menolongmu.” “Jangan sedikitpun cemas, sebab Aku Maha Kuasa mengangkat batu-batu besar yang menyulitkan langkahmu untuk meraih kesuksesan. Aku Maha Kuasa menyingkirkan batu-batu berat itu dengan mudah.”

                Setelah al qariah berakhir, maka semua catatan manusia dihitung satu persatu, lalu dibandingkan antara skor perbuatan baik dan buruk: “Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang menyenangkan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? Ia adalah api yang sangat panas.”  Dalam hadits qudsi, Allah SWT berfirman,

  يُؤْتَى بِحَسَنَاتِ الْعَبْدِ وَسَيِّئَاتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُقْتَصُّ بَعْضُهَا بِبَعْضٍ فَاِنْ بَقِيَتْ حَسَنَةٌ وَاحِدَةٌ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ

Pada hari kiamat kelak, catatan perbuatan baik dan buruk setiap orang diserahkan (kepada Allah). Lalu, dua catatan itu dibandingkan antara keduanya. Jika terdapat selisih satu nilai kebaikan, maka ia dimasukkan ke surga” (HQR. Al Thabrani dari Ibnu ‘Abbas r.a).

                Berdasarkan ayat dan hadits di atas, jika skor catatan perbuatan baik manusia nol satu lebih tinggi dari jumlah dosanya, maka ia selamat dari neraka dan dimasukkan ke surga. Jadi, nol satu kebaikan menjadi penghapus semua dosa seseorang. Sebaliknya, jika skor perbutan buruknya nol satu lebih besar dari kebaikannya, maka ia harus menjalani hukuman berat di neraka. Bagi manusia dengan skor pahala dan dosa yang sama, maka ia dimasukkan dalam daftar ash-habul a’raf yaitu menunggu keputusan Allah lebih lanjut. Abu Bakar As Shiddiq r.a berkata, “Timbangan kebaikanmu tergantung seberapa besar timbangan Allah di hatimu. Jika hatimu lebih condong kepada Allah, maka timbangan kebaikanmu lebih berat, dan jika timbangan Allah ringan di dadamu, maka sedikit pula timbangan kebaikanmu.”

                Apa yang harus dilakukan pada sisa-sisa hidup Anda agar mendapat tambahan skor nol satu kebaikan?. Lakukan dua zikir, yaitu zikir lidah dan zikir badan. Zikir lidah adalah membaca zikir-zikir penambah skor tertinggi untuk kebaikan, sebagaimana dianjurkan Nabi SAW. Ia bersabda, “Jika tujuh petala langit dan bumi beserta isinya, dan juga tujuh petala bumi (beserta kandungan di dalamnya) di letakkan dalam  satu keping timbangan, dan kalimat lailaha illallah (tiada Tuhan selain Allah) pada keping timbangan lainnya, maka timbangan kalimat itu akan melebihi timbangan langit dan bumi” (HR. Ahmad).

                Nabi SAW juga bersabda,Ada dua bacaan yang ringan diucapkan di lisan, tapi  menambah beratnya timbangan kebaikan dan penambah cinta Allah Yang Maha Pengasih, yaitu,  subhanallah wabihamdih, subhanallahil ‘adhim (Maha Suci Allah, segala puji bagi-Nya; Maha Suci Allah, Yang  Maha Agung) (HR. Al Bukhari). Bacaan allahumma shalli ‘ala Muhammad juga mempercepat kenaikan skor kebaikan. Nabi SAW bersabda, “Sungguh shalawat Nabi termasuk pemberat timbangan kebaikan (HR. Al Hakim dan Al Turmudzi).

                Zikir lidah tidaklah cukup. Anda juga harus melakukan dzikir badan, yaitu tindakan nyata untuk menyenangkan Allah SWT dan umat manusia, lebih-lebih untuk meringankan beban hidup mereka yang menderita. Nabi SAW bersabda, “Tidak ada yang dapat menambah berat timbangan kebaikan (di akhirat) melebihi akhlak mulia” (HR. Al Hakim dan Al Turmudzi). Jika Anda birokrat, berikan pelayanan yang paling memuaskan. Bagi para anggota legislatif, Anda harus melahirkan produk undang-undang yang menyejahterakan masyarakat. Jika Anda penegak hukum: jaksa, hakim atau polisi, maka berikan masyarakat perlindungan yang maksimal dan putuskan hukum seadil-adilnya. Zikir badan juga berupa infak Anda untuk syiar Islam atau sedekah kepada para fakir miskin. Lakukan zikir lidah dan zikir badan sebanyak-banyaknya untuk meraih tambahan nol satu kebaikan atau lebih. Nol satu itulah nilai penentu keselamatan masa depan.

Referensi: (1) Ali Usman dkk, Hadits Qudsi, Penerbit CV Diponegoro,  Bandung, 1979, p. 253-257;  (2) M. Qureish Shihab, Tafsir Al Misbah, Vol. 15, Penerbit Lenterera Hati, Jakarta, 2012, p. 561-562 (3) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz xxx, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 224-227

WUDLU INSPIRATIF

November 29th, 2016 | Posted by admin_tsb in Artikel - (1 Comments)

WUDLU INSPIRATIF
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: https://audiojungle.net

sumber gambar: https://audiojungle.net

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ إِلَى ٱلۡمَرَافِقِ وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ وَأَرۡجُلَكُمۡ إِلَى ٱلۡكَعۡبَيۡنِۚ وَإِن كُنتُمۡ جُنُبٗا فَٱطَّهَّرُواْۚ وَإِن كُنتُم مَّرۡضَىٰٓ أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوۡ جَآءَ أَحَدٞ مِّنكُم مِّنَ ٱلۡغَآئِطِ أَوۡ لَٰمَسۡتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمۡ تَجِدُواْ مَآءٗ فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدٗا طَيِّبٗا فَٱمۡسَحُواْ بِوُجُوهِكُمۡ وَأَيۡدِيكُم مِّنۡهُۚ مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجۡعَلَ عَلَيۡكُم مِّنۡ حَرَجٖ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمۡ وَلِيُتِمَّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ٦

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur (QS. Al Maidah [05]:06).

Pada ayat sebelumnya, Allah menjelaskan beberapa makanan dan hewan yang halal dimakan serta para wanita yang halal dinikah. Sebagai kelanjutan, ayat yang dikutip di atas (QS. Al Maidah [05]:06) menjelaskan perintah berwudlu yaitu membersihkan muka, tangan, kepala dan kaki sebelum shalat untuk memperoleh bimbingan dan berkah dalam usaha mencari kenikmatan biologis tersebut serta menerima semua anugrah dengan rasa syukur dan senang hati.

Bisakah kita meraih kebahagiaan dan inspirasi melalui wudlu? Kita akan menemukan jawabannya dengan mempelajari penutup ayat tentang perintah wudlu di atas, la’allakum tasykurun (agar kamu menerima semua anugrah dengan syukur atau senang hati), lalu kita kaitkan dengan doa berwudlu yang diajarkan Nabi SAW, Allahummaghfirli dzanbi, wawassi’ li fi dari wabarikli fi rizqi (Wahai Allah, ampunilah dosaku, lapangkanlah rumah tanggaku dan berkahilah rizkiku) (HR Al Nasa-i dari Abu Musa Al Asy’ari r.a). Jadi, wudlu ikut menentukan kebahagiaan rumah tangga dan keberkahan usaha Anda.

Mengapa wudlu kita selama ini hanya menghasilkan kesegaran fisik tanpa kesegaran jiwa dan otak? Anda paling tahu jawabannya: karena wudlu kita hanya wudlu ritual, bukan wudlu spiritual atau wudlu fisik tanpa hati. Berikut ini sembilan langkah berwudlu yang menghasilkan kesehatan, inspirasi, optimisme dan kebahagiaan keluarga. Pertama, cucilah kedua tangan dengan sabun agar bersih, harum dan terbebas dari kuman. Bersihkan telapak dan punggung tangan serta sela-sela jari Anda sampai bersih. Banyak penyakit yang ditimbulkan oleh masuknya kuman yang membahayakan melalui tangan.

Kedua, berkumurlah tiga kali, lalu masukkan air ke dalam hidung dan semprotkan keluar agar rambut dalam lubang hidung Anda bersih dan berfungsi untuk menangkal debu yang merusak pernafasan dan paru-paru. Bersihkan gigi dengan kayu siwak atau sikat dengan pasta gigi untuk membersihkan sisa makanan di sela-sela gigi dan menyegarkan mulut Anda. Pada saat berkumur, berdoalah dalam hati: “Wahai Allah, ampunilah dosa-dosa yang bersumber dari  mulutku. Aku yakin, dengan pertolongan-Mu, aku bisa berbicara benar, komunikatif, menyenangkan dan menyemangati  semua orang, khususnya keluargaku tercinta.”

Senyum dengan gigi yang putih bersih dan bau mulut yang segar merupakan identitas Anda sebagai muslim terbaik. Bau mulut yang harum dan tutur kata yang menyenangkan dapat menghangatkan pergaulan dengan siapapun, bahkan menyenangkan malaikat-malaikat yang bertugas mengirim rahmat untuk Anda. Jangan mengusir para malaikat dengan gigi yang kotor dan bau mulut yang tak sedap.

Ketiga, basuhlah muka Anda secara merata sebanyak tiga kali dengan membaca doa wudlu sebagaimana disebutkan di atas, sekaligus dengan doa dalam hati,  “Wahai Allah, ampunilah dosa-dosa yang bersumber dari mukaku. Aku yakin, melalui muka yang tersinari cahaya-Mu, aku bisa menyenangkan dan menyemangati semua orang, khususnya keluargaku tercinta.” Pastikan bahwa semua bagian muka Anda terbasuh dengan air, termasuk sela-sela jenggot. Keempat, basuhlah tangan kanan dan kiri Anda sampai ke siku sebanyak tiga kali dengan menggosok permukaan kulit agar benar-benar bersih sambil berdoa dalam hati,  “Wahai Allah, ampunilah dosa-dosa yang bersumber dari tanganku. Aku yakin, dengan pertolongan-Mu, tanganku ini akan menghasilkan rizki yang melimpah dan karya yang besar yang membanggakan ibu dan ayah serta semua keluargaku.”

Kelima, usaplah kepala Anda secara merata dengan cara memasukkan kedua ibu jari ke lubang telinga kanan dan kiri, sedangkan jari-jari lainnya mengusap kepala dari depan ke belakang dan sebaliknya. Berdoalah dalam hati, “Wahai Allah, ampunilah dosa-dosa yang bersumber dari pikiranku. Aku yakin, otakku yang telah tersinari cahaya-Mu akan mudah memahami segala sesuatu, penuh kreasi dan inovasi serta berpikir positif dalam segala hal.”

Keenam, usaplah telinga kanan dan kiri Anda dengan memasukkan jari telunjuk ke lubang telinga dan menggerakkannya untuk membersihkan lekuk-lekuk bagian dalam telinga. Gunakan ibu jari untuk mengusap bagian luar daun telinga dengan sedikit menarik ke atas dan ke bawah. Berdoalah dalam hati, “Wahai Allah, ampunilah dosa-dosa yang bersumber dari telingaku. Aku yakin, telingaku yang telah tersinari cahaya-Mu akan mudah menerima pengetahuan serta peka terhadap panggilan adzan dan nasihat keagamaan.”

Ketujuh, basuhlah kaki dan dua mata kaki Anda sebanyak tiga kali dengan menggosok kulit dan sela-sela jari kaki sambil berdoa dalam hati, “Wahai Allah, ampunilah dosa-dosa yang bersumber dari kakiku. Aku yakin, Engkau memberi petunjuk dan kemudahan dalam semua langkahku menuju kesuksesan.” Dahulukan kaki kanan dari yang kiri. Upayakan dengan sabun agar benar-benar bersih dari kuman.

Kedelapan, gunakan air dengan hemat sekalipun air itu milik pribadi, bahkan air sungai atau laut sekalipun. Apalagi, air itu aset publik dari kran masjid. Masa depan generasi kita amat membutuhkan air seperti Anda. Nabi SAW berwudlu hanya dengan 1 mud air (0,76 ltr) (HR. Al Jama’ah dari Anas r.a). Nabi SAW menegur Sa’ad r.a ketika ia agak boros dalam berwudlu (HR. Ahmad dan Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar r.a). Allah SWT berfirman, “Sungguh, orang-orang boros itu saudara setan” (QS. Al Isra’ [17]:26). Belajarlah hidup hemat demi masa depan yang berkualitas  dan kikislah sikap egois yang merugikan umat manusia.

Kesembilan, berdoalah ketika selesai wudlu, “Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuluh. allahumaj’alni minat tawwabina waj’alni minal mutathahhirin (Aku mengakui dengan sungguh-sungguh tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya. Aku juga mengakui dengan sunguh-sungguh Nabi Muhammad hamba-Nya dan utusan-Nya. Wahai Allah, jadikan aku termasuk orang-orang yang bertobat dan jadikan pula aku termasuk orang-orang yang selalu bersuci (HR. Ahmad, Muslim dan Al Turmudzi dari Umar r.a).

Selamat meraih kesuksesan, kebahagiaan dan keberkahan usaha melalui wudlu inspiratif.

Surabaya, 01 Nopember 2016

Referensi: (1) Muhammad Hasan Al Hamshy, Qur’an Wa Bayan ‘Ma’a Asbabin Nuzul Lis Suyuthy, Darur Rasyid, Damaskus- Beirut, tt. (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, Juz 5, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985 (3) M. Qureish Shihab, Al Misbah, Penerbit Lenterera Hati, Jakarta, 2012, (4) Moh. Ali Aziz, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, UIN Sunan Ampel Press, Surabaya, cet. XI, 2016. P. 29-42 (5) Moh. Ali Aziz, Sukses Belajar Melalui Terapi Shalat, UIN Sunan Ampel Press, Surabaya, cet. I, 2016, p. 2-10.