Header

BEBAS PRIHATIN PADA YAUMIDDIN

November 1st, 2016 | Posted by admin_tsb in Artikel - (3 Comments)

BEBAS PRIHATIN PADA YAUMIDDIN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ

(Allah) Yang Menguasai di Hari Pembalasan (QS. Al Fatihah [01]:4)

sumber gambar: http://www.aktual.com/wp-content/uploads/2015/08/Pemeriksaan-Berkas1.jpg

sumber gambar: http://www.aktual.com/wp-content/uploads/2015/08/Pemeriksaan-Berkas1.jpg

Dalam suatu pengajian, saya bertanya kepada hadirin, “Ayat manakah dalam surat Al Fatihah yang paling menakutkan?” Seorang dari mereka menjawab, “Ayat ketujuh, sebab berisi daftar orang yang dibenci Allah (al mahgdlubi ‘alaihim), atau orang-orang sesat (ad-dhallin).Saya takut termasuk di antara mereka.” Sebagian yang lain mengatakan, “Saya lebih takut dengan ayat 4: maliki yaumiddin (Allah Yang Menguasai di Hari Pembalasan), sebab inilah proses yang pasti akan saya lalui setelah kematian.” Benar, inilah ayat yang mengingatkan kita untuk selalu berhati-hati dalam setiap kata dan perbuatan, sebab semuanya dicatat oleh malaikat, lalu harus kita pertanggungjawabkan di hari pembalasan (yaumiddin).

            Ayat ini terletak setelah ayat kegembiraan, arrahmanirrahim (Allah Yang Maha Pemurah dan Penyayang). Dua ayat tersebut, arrahmanirrahim dan maliki yaumiddin disebutkan secara berurutan untuk menunjukkan pentingnya keseimbangan antara harap (raja’) dan cemas (khauf), antara antara ganjaran (reward) dan hukuman (punishment), dua hal yang harus dipadukan untuk suatu kesuksesan dan kemuliaan budi pekerti. Melalui arrahmanirrahim, Anda diberi motivasi besar, “Rianglah. Jangan bersedih, sebab kasih Tuhanmu melampaui kasih semua manusia.” Atau “Optimislah. Tidaklah mungkin Allah Yang Maha Pengasih meninggalkan kamu tanpa pertolongan-Nya, lebih-lebih ketika kamu sedang memeras keringat dan berdarah-darah demi memenuhi kebutuhan keluarga.”

            Agar Anda lebih mengingat kasih Allah sebagaimana pada ayat ketiga di atas, saya “putarkan” video tentang kasih induk ayam terhadap anak-anaknya. Ia menggaruk-garuk tanah dan mengais sampah untuk mencari makanan untuk anak-anaknya. Setelah mendapatkan makanan, ia memangil semua anaknya untuk menikmati makanan itu dan ia hanya menonton, tanpa sedikitpun mencicipinya. Ketika terik matahari menyengat, induk ayam mengepakkan sayapnya di dekat pepohonan agar anak-anaknya berteduh di bawahnya atau membiarkan mereka menari-nari di punggungnya. Lalu, ketika seekor gajah hendak mengganggu sang anak, ia melawannya sekalipun tahu resikonya adalah kematian di bawah injakan kaki sang raksasa. Kasih Allah untuk Anda melampaui itu semuanya.

            Apakah “air susu” yang diberikan Allah tersebut Anda balas dengan air toba? Apakah cinta-Nya justru Anda taburi dengan dosa? Ingatlah, Anda harus mempertanggungjawabkan semuanya pada yaumiddin. Anda akan didudukkan di kursi pengadilan sebagai terdakwa dengan Hakim Tunggal, yaitu Allah SWT. “Alaisallahu biahkamil hakimin (adakah hakim yang lebih adil daripada Allah?” (QS. At Tiin [95]: 8). Anggota badan Anda bertindak sebagai saksi, sebab pada saat itu, ia bisa berbicara tentang apa saja yang pernah Anda lakukan. Para malaikat sebagai jaksa penuntut umum menyampaikan berkas perkara yang berisi catatan semua perbuatan Anda. Hakim dan jaksa yaumiddin sama-sama tidak memiliki nomor rekening yang bisa menerima transfer Anda untuk negosiasi putusan pengadilan, sebagaimana sering Anda lakukan di dunia. Ketahuilah, pada saat itu, Rasulullah SAW akan hadir sebagai pembela Anda, jika Anda benar-benar pecinta Nabi SAW, pengamal dan penebar ajarannya selama di dunia. Maukah?

            Siapapun, termasuk Anda yang berprofesi sebagai jaksa, hakim, pengacara, polisi  dan sebagainya tidak akan bisa main-main dengan pengadilan yaumiddin. Semua orang harus melepas topeng yang selama hidupnya tidak pernah dilepas, penuh kepalsuan demi harga diri dan nama baik. Mereka tidak bisa lagi melakukan rekayasa untuk menangi pengadilan dengan kekuasaan dan kekayaannya. Hanya pada hari yaumiddin itulah, kita bisa mendapat keadilan yang hakiki. Pada saat itu, Allah SWT secara tuntas mengembalikan hak-hak setiap individu yang terzalimi atau terampas oleh orang-orang yang serakah dan zalim sewaktu di dunia. “Kami akan meletakkan timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (perbuatan baik itu) hanya seberat atompun pasti Kami berikan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pemeriksa (semua perbuatan manusia) (QS. Al Anbiyak [21]:47).

            Anda mungkin pernah terzalimi oleh orang di sekitar Anda, hanya karena ia menimbun kebencian berakar-akar, lalu memandang jelek semua yang Anda lakukan. Bisa jadi juga, pelaku kezaliman itu adalah Anda sendiri, karena tidak obyektif  menilai seseorang karena overdosis cinta Anda kepadanya, sehingga ia Anda pandang orang paling sempurna, bak seorang nabi. Subyektivitas itu bisa terjadi di mana saja: dalam ranah pengadilan, pendidikan, tempat kerja Anda, lingkungan keluarga dan sebagainya. Subhanallah, itulah realitas dunia, sebagaimana dikatakan oleh penyair, wa’ainurridla ‘an kulli ‘aibin kaliilah, kamaa anna ’ainas sukhthi tubdil masaawiyaa (di mata pecinta, cela orang dilihat tiada. Dan di mata pembenci, seseorang selalu terlihat keji). Subyektivitas dan kezaliman itu semua tidak akan terjadi pada yaumiddin. Pada hari itu, manusia akan menghadap Allah secara pribadi dan akan dinilai secara sejujur-jurunya dan seadil-adilnya.

            Ada sebuah isyarat pada yaumiddin, apakah Anda mendapat keringanan pemeriksaan ataukah pengetatan dan hukuman. Jika malaikat datang dari arah kanan untuk menyerahkan berkas perkara Anda, maka tersenyumlah, Anda akan mendapat keringanan pemeriksaan. “Adapun orang yang diberikan catatan perbuatannya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kelompoknya (sesama mukmin) dengan gembira. Adapun orang-orang yang diberikan catatan perbuatannya dari belakang, maka dia akan berteriak, “Aku benar-benar sengsara.” Dan dia akan masuk ke dalam api (neraka) yang menyala-nyala“ (QS. Al Insyiqaq [84]: 7-12)

            Ada 3 tips dari Nabi SAW agar Anda mendapat keringanan pemeriksaan pada yaumiddin. Nabi SAW bersabda:

ثلاث من كن فيه حاسبه الله حسابا يسيرا وادخله الجنة تعطى من حرمك وتعفو عمن ظلمك وتصل من قطعك

Tiga hal yang siapapun melakukannya akan mendapat keringanan pemeriksaan (di akhirat) dan dimasukkan ke dalam surga, yaitu sedekahmu kepada orang yang tidak pernah memberi apapun kepadamu, (kerelaan hatimu) memaafkan orang yang menzalimimu dan (ikhtiarmu) memulihkan persaudaraan dengan orang yang (sengaja) memutuskannya denganmu (HR. Al Hakim dari Abu Hurairah r.a).

            Berusahalah membebaskan diri Anda dari kegentingan dan keprihatinan yaumiddin dengan membebaskan umat manusia dari penderitaan, membersihkan hati dari dendam dan kebencian, dan memupuk persahabatan dengan semua orang tanpa melihat etnis dan keagamaan.

 Referensi: (1) Al Hasyimi, Sayid Ahmad, Mukhtar Al Ahadits, Pustaka Amani, Jakarta, 1995, Cet. I, p. 188 (2) Hamka, Tafsir Al Azhar,  juz I,Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 83 (3) M. Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol 1, Penerbit Lenterera Hati, Jakarta, 2012, p. 48.

 

MENYULAM DARUSSALAM

October 5th, 2016 | Posted by admin_tsb in Artikel - (6 Comments)

MENYULAM DARUSSALAM
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

 

sumber gambar: https://quakersireland.files.wordpress.com/2016/09/peace.gif

sumber gambar: https://quakersireland.files.wordpress.com/2016/09/peace.gif

وَٱللَّهُ يَدۡعُوٓاْ إِلَىٰ دَارِ ٱلسَّلَٰمِ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ٢٥

Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam) (QS. Yunus [10]:25)

            Artikel ini saya tulis ketika di telinga saya masih terngiang-ngiang suara tembakan teroris di restoran Balay Bakery di Dhaka, 1 km dari tempat istirahat saya di Ghulsan street. Malam lailatul qadar 1437 H atau 1 Juli 2016 di ibukota Bangladesh dinodai tujuh pemuda yang memancung satu persatu kepala pengunjung restoran warga negara Italy, Jepang, India, Amerika dan lain-lain yang ditest dan terbukti tidak bisa membaca Al Qur’an. Peristiwa serupa terjadi lagi setelah saya tiba di Indonesia, hati saya tersayat melihat gambar 84 mayat bergelimpangan di Perancis setelah Mohamed Lahouaiej Bouhlel menubrukkan truk pada kerumunan orang yang sedang berpesta kembang api untuk merayakan hari kemerdekaan Perancis. Masing-masing tindakan biadab itu dilakukan atas nama Islam.

            Dua peristiwa di atas menyadarkan kita sekali lagi untuk lebih intensif melakukan kampanye membangun citra Islam sebagai agama pelopor pembangun dunia damai (darussalam) sebagaimana tersirat dalam ayat di atas. Allah SWT menyeru umat manusia untuk bekerjasama membangun darussalam, yaitu dunia yang aman dan nyaman tanpa sedikitpun ketakutan. Juga yang lebih penting yaitu darussalam (surga) setelah kematian. Umat Islam sedunia selalu memohon darussalam setiap usai shalat sebagaimana diajarkan Nabi SAW:

اَللَّهُمَّ اَنْتَ السَّلاَمُ, وَمِنْكَ السَّلاَمُ, وَإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلاَمُ, فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ, وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ دَارَ السَّلاَمِ

Wahai Allah, Engkaulah as-salam (sumber kedamaian), dari-Mu-lah as-salam (kedamaian), kepada-Mu-lah (kami berharap kembali) dengan as-salam. Hidupkan kami dengan as-salam, masukkan kami ke dalam surga (darussalam).

            Ketika Nabi SAW pertama kali menginjakkan kakinya di Madinah, pesan pertama yang disampaikan adalah tentang as-salam. Husein bin Salam, kepala pendeta Yahudi Madinah yang telah bertahun-tahun mengabdikan hidupnya sebagai pengajar Taurat merekam pidato pertama Nabi SAW tersebut. Mengapa ia tertarik dengan pidato itu? Sebab  ia pernah menemukan ayat dalam Kitab Taurat yang memberitakan akan datangnya seorang Nabi di Madinah (lihat QS. Al A’raf [07]: 157).  Sejak itu, ia  berdoa untuk diberi panjang umur agar bisa berjumpa dengan nabi yang diberitakan itu. Maka, ketika ia mendengar kedatangan Nabi di Madinah, ia berlari menemuinya untuk mencocokkan sifat-sifat Nabi sebagaimana tersebut dalam Taurat. Setelah mengamati wajah Nabi SAW dari dekat dan kelembutan budi pekertinya, ia menyimpulkan semua sifat-sifat yang diketahui dalam Kitab Taurat itu benar. Inilah pesan lengkap Nabi SAW tersebut:

يَا اَيُّهَا النَّاسُ اَفْشُوا السَّلاَمَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصِلُوا الارْحَامَ وَصَلُّوا بِالَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ   تَدْخُلُواالْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

Wahai manusia, sebarkan salam, berikanlah makanan, sambunglah silaturrahim, dan shalatlah pada malam hari ketika (kebanyakan) manusia tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan as-salam (HR. At Tirmidzi dari Abdullah bin Salam r.a)

Di tengah kerumunan orang itu, sang pendeta tiba-tiba mengucapkan syahadat dengan suara yang nyaring. Nabi SAW menoleh dan bertanya,  ”Siapa namamu?”  ”Husein bin Salam,” jawabnya.  ”Sebaiknya namamu diganti dengan Abdullah bin Salam,” kata Nabi SAW. Ia pulang ke kampungnya dengan nama yang baru dan berhasil mengajak semua keluarganya untuk masuk Islam.

            Dari pesan Nabi SAW di atas, jelaslah bahwa kita hanya bisa memasuki darussalam, jika kita benar-benar mengembangkan empat kebajikan di bumi. Pertama, menebar salam, yaitu mengucap salam kepada sesama muslim dan menebar kasih dan damai kepada semua umat manusia, tanpa membedakan latarbelakang etnis dan agama. Setiap muslim harus menjadi pelopor as-salam (kedamaian dan ketertiban) dalam komunitas manapun. Nabi Ibrahim a.s juga memohon keamanaan dan kedamaian ketika selesai membangun Ka’bah bersama putranya, Ismail (QS. Al Baqarah [02]: 126). Dalam sejarah Islam, penduduk bumi lebih banyak mengikuti Islam karena tertarik akhlak as-salam yang ditauladankan oleh para tokoh Islam daripada pidato-pidato mereka di banyak mimbar, apalagi oleh kekerasan yang justru menimbulkan antipati.

            Kedua, berbagi kekayaan untuk kesejahteraan orang-orang miskin. Sudah menjadi keniscayaan bahwa dalam hidup bermasyarakat, selalu ada orang kaya dan miskin. Kedamaian masyarakat tidak akan terwujud tanpa adanya kesediaan orang kaya untuk berbagi kepada mereka yang miskin. Silakan Anda berlomba menjadi orang terkaya, sebab tidak ada satupun ayat al-Qur’an yang melarangnya. Tapi jangan buta dengan keadaan lingkungan Anda. Pengusaha, penguasa, anggota legislatif, atau siapapun sama sekali tidak dilarang menikmati rizki yang dikaruniakan Allah kepadanya. Tapi, ia harus memperhatikan keadaan orang-orang miskin melalui pembayaran zakat dan sedekah, terutama kepada mereka yang menahan diri dari meminta-minta (al qani’) (QS. Al Hajj [22]: 36).

Ketiga, merajut ikatan persaudaraan (silaturrahim). Dalam skop kecil, setiap muslim harus membangun keutuhan keluarganya, bahkan menjadikannya keluarga teladan bagi orang lain. Negara hanya kuat, damai dan sejahtera jika unit-unit keluarga di dalamnya kuat dan bahagia. Dalam skop yang lebih luas, setiap muslim juga harus bisa membangun hubungan sanak famili yang harmonis dan menghindari segala hal yang menimbulkan keretakan dalam keluarga besar. Perbedaan agama, ideologi, politik tidak boleh menjadi alasan keretakan hubungan dalam keluarga besar. Nabi Ibrahim a.s, Nabi Nuh a.s, Nabi Luth a.s, Nabi Zakaria a.s, Nabi SAW dan juga para sahabat seperti Abu Bakar r.a, Ali bin Abi Thalib r.a dan beberapa sahabat yang lain hidup di tengah keluarga besar yang multi agama. Umat Islam harus bisa membangun hubungan yang harmonis di tengah masyarakat multi etnis dan agama dengan tetap menjaga keutuhan aqidah Islam.

            Keempat, shalat malam. Inilah shalat sunah yang memiliki pengaruh besar dalam membangun kualitas keimanan, sekaligus menjadi indikator ketakwaan seseorang. Allah SWT mewajibkan shalat malam hanya untuk Nabi SAW. Itu berarti, siapapun yang menjadi pemimpin dalam level apapun, ia harus mewajibkan dirinya untuk shalat malam. Jangan mengharap cahaya dari battery yang sudah drop. Jangan mengharap pencerahan Allah, jika tidak ada charge untuk hati Anda di malam hari.

            Masa depan Darussalam hanya bisa kita raih jika kita secara terus menerus menyulam diri dengan tutur kata, sikap dan tindakan yang bernuansa assalam di tengah keluarga dan masyarakat kita.

SINGA DALAM SENYAP

September 11th, 2016 | Posted by admin_tsb in Artikel - (16 Comments)

SINGA DALAM SENYAP
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

وَلَوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ قُلۡتُم مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبۡحَٰنَكَ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ عَظِيمٞ ١٦

sumber gambar: http://cdn.pcwallart.com/images/lion-roar-front-view-wallpaper-4.jpg

sumber gambar: http://cdn.pcwallart.com/images/lion-roar-front-view-wallpaper-4.jpg

Dan mengapa kamu tidak berkata, ketika mendengar berita bohong itu, “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita membicarakan hal ini. Maha Suci Engkau (Wahai Tuhan kami). Ini adalah dusta yang besar.” (QS. An Nur [24]:16).

            Ayat di atas merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya tentang tuduhan busuk orang-orang munafik bahwa Aisyah, istri Nabi berselingkuh, berduaan dengan Sofwan bin Mu’aththil As-Sulami dalam perjalanan pulang dari perang Bani Musthaliq. Tuduhan itu menyebar begitu cepat sehingga menggegerkan umat Islam. Nabi SAW juga gelisah dan meminta pendapat Umar bin Khattab r.a. Umar bertanya, “Wahai Nabi, siapakah yang menikahkan tuan dengan Aisyah?” “Allah,” jawab Nabi. Umar berkata, “Apakah Allah menipu tuan?” Nabi menjawab: “Maha suci Engkau, wahai Allah. Ini benar-benar sebuah kebohongan (inna hadza buhtanun adhim).” Lalu turunlah ayat di atas dengan redaksi dan isi yang mirip dengan dialog Nabi dan Umar bahwa tuduhan itu sebuah kebohongan besar (buhtanun ‘adhim).

             Itulah salah satu kehebatan Umar ra. Ia seolah mengetahui bunyi wahyu yang akan diturunkan Allah. Tidak hanya itu, surat Al Maidah: 90, At Taubah: 84,  Al Anfal: 67 dan At Tahrim: 4-5 juga turun dengan redaksi dan isi yang mirip dengan perkataan Umar. Apa rahasia di balik kehebatan Umar?. Tidak lain karena ia pemimpin yang tegas dan berani dalam menegakkan keadilan di siang hari dan menunduk khusyuk penuh tangis di malam sunyi.

            Dengan fisik yang tinggi besar, berkepala botak, bertelapak kaki lebar, bersenjata  dua meter pedang di tangan kanannya, Umar benar-benar singa bagi siapapun yang merusak kehormatan umat Islam. Dialah yang menantang orang-orang kafir, “Malam nanti, saya dan Nabi berangkat hijrah ke Madinah. Silakan hadang saya jika kalian ingin menjadikan istri dan anak kalian janda dan yatim.” Ketika menjabat kepala negara, ia berpidato, “Saya tahu, banyak orang gelisah karena sikap keras saya. Untuk apa takut, jika ia tidak bersalah? Ketahuilah, sikap kerasku akan berlipat kepada siapapun yang zalim dan membuat rusuh di masyarakat. Aku akan menginjak kepala mereka sampai tunduk kepada kebenaran. Tapi, aku akan mencium kaki orang-orang yang berjiwa mulia dan hidup sederhana.”

            Suatu hari Umar memasuki Syira, salah satu wilayah kekuasaannya. Rakyat sudah menunggu sang khalifah di gerbang kota. Tapi yang datang adalah penunggang onta berbaju rombeng, telanjang kaki dengan pelana murahan. Mereka bertanya kepada penunggang onta ini, “Manakah khalifah kami?” Ia menjawab, “Orang yang kalian cari sekarang berada di depan kalian.” Mereka terpana, histeris berlarian memberitahu penduduk kota bahwa Umar telah tiba. Para pejabat sudah menyiapkan kuda terbaik dengan pelana yang pantas untuk kepala Negara, tapi Umar menolaknya, “Singkirkan kendaraan setan ini.” Umar baru bersedia menggunakan kuda itu setelah semua asesori mewahnya dilepas. Di tengah kota, Umar melihat beberapa pejabat menunggang kuda dengan pelana berbalut sutra. Ia turun dari kudanya, mengambil batu dan melempari mereka sambil berteriak, “Begitu cepat kalian berubah. Apakah dengan kendaraan mewah dan makanan enak-enak sepert ini kalian menyambut Umar? Dua tahun yang lalu, kalian masih hidup sederhana dan masih siap menahan lapar.” Umar berani melakukan semua itu karena ia telah memberi tauladan kesederhanaan sampai akhir hayatnya. Ketika menjelang mati, ia meminta Abdullah, anaknya untuk mengambil bantalnya, “Jangan-jangan Allah tidak berkenan melihat saya menikmati pengganjal kepala ini ketika aku bersiap kembali kepada-Nya.” Umar juga hanya memiliki satu gamis dengan 21 tambalan. Karenanya, ia pernah datang khutbah Jumat terlambat karena menunggu gamisnya kering.

            Ketika di mimbar khutbah pun, ia diprotes seseorang, ”Aku sama sekali tidak percaya khutbahmu. Kau tidak adil. Rakyatmu kamu beri sehelai kain, sedangkan sekarang engkau menggunakan dua helai.” Umar menoleh ke kanan dan kiri mencari anaknya, Abdullah. “Wahai anakku ini milik siapa?” “Milikku,” jawab sang anak. “Badanku besar, tidak cukup sehelai, maka saya minta jatah anakku,” lanjut Umar. Pemrotes itu kemudian melunak, “Kalau begitu, lanjutkan khutbahmu dan saya akan mendengarkannya.”

            Umar r.a mengetuk pintu dari rumah ke rumah para tentara yang bertugas di luar kota dan berhasil merontokkan imperium Persia dan Romawi. Dari luar rumah, Umar meminta para istri tentara itu mendektekan semua keperluannya. “Jika ibu punya pembantu, suruhlah dia ikut saya ke pasar agar berbelanja sesuai dengan kebutuhan ibu dan tidak salah beli,” pesan Umar.  Benarlah, Umar pergi ke pasar dengan beberapa pembantu rumah tangga berbaris di belakangnya. Mereka berbelanja sesuai dengan perintah majikan masing-masing dan Umar yang membayarnya.

            Tengah malam, Umar dengan isterinya, Ummu Kultsum mengangkut sekarung tepung, samin, daging sekaligus periuk untuk menolong seorang ibu di daerah terpencil yang merintih sakit menjelang persalinan. Beberapa lembar selimut untuk si bayi, popok, pakaian untuk sang ibu dan beberapa perlengkapan lainnya juga disiapkan. Ketika sampai di tempat, Ummu Kultsum langsung masuk rumah membantu persalinan, sedangkan Umar memasak makanan di luar. Tidak lama kemudian, terdengarlah suara jeritan bayi dari gubuk. Umar memanggil si suami untuk membawakan makanan yang telah dimasaknya untuk istrinya. Ummu Kultsum menyuapkan makanan untuk ibu yang berbahagia itu sampai kenyang.

            Umar yang segagah itu ternyata jiwanya amat lembut. Ia menunduk pasi ketika seseorang berkata kepadanya, “Tidak takutkah engkau kepada Allah?.” Setiap shalat tengah malam, air matanya membasahi jubahnya, badannya bergetar seperti anak burung yang tertiup angin. Lebih-lebih ketika membaca firman Allah, “Bacalah catatanmu. Cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghitung perbuatanmu” (QS. Al Isra’ [17]: 14). Ia juga pernah roboh dari shalatnya, pingsan ketika membaca surat At Thur ayat 1-8.  Berkali-kali ia mengatakan, “Jika aku tidur siang, aku kehilangan rakyatku dan jika tidur malam aku kehilangan diriku.”

            Saya ingin menyebutkan satu pemimpin dunia yang tak kenal ampun terhadap perusak masa depan bangsanya. Saya sebutkan pemimpin di luar Indonesia agar tulisan ini tidak berbau politik. Ia adalah presiden Filipina, Rodrigo Duterte. Setelah dilantik, dia berjanji akan membunuh 100.000 pengedar narkoba. Penggunapun akan ditembak di kepalanya, kecuali jika menyerahkan diri dan bertobat. Polisi, tentara, walikota, politikus atau siapa saja yang terbukti menjadi beking obat terlarang itu akan dilibas. Kepala kepolisianpun diancam bunuh jika tidak melaksanakan perintahnya. Benar, dalam dua bulan menjabat sebagai presiden (Juli dan Agustus 2016), ribuan orang sudah bergelimpangan merenggang nyawa dan sekitar 600.000 orang telah menyerahkan diri. Dia tahu tindakan ektrim itu melanggar HAM. Tapi, menurutnya, negara sudah benar-benar darurat, dan kejahatan narkoba sudah tidak bisa diatasi hanya dengan cara-cara konvensional.

            Negara ini membutuhkan singa yang meraung di siang hari dan siap menerkam dan mengunyah leher para koruptor, pengedar miras, narkoba, pelaku kejahatan seksual anak-anak, penyedia wanita pelacur dan semua penghancur masa depan bangsa. Tapi, pemimpin  itu juga harus seperti Umar bin Khattab yang bersujud panjang di malam senyap. Saya yakin, Andalah orangnya, insya Allah.

Sumber Bacaan: (1) Khalid Muhammad Khalid, Ma’a Umar (Umar Ibnul Khattab Mukmin Perkasa), terj. Abu Syauqi Baya’syud dan Mustafa Mahdami, Penerbit Media Idaman, Surabaya, 1989, cet. II (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985 (3) Abdullah bin Ibrahim Al Luhaidan, Al Buka-u ‘Inda Qira-atil Qur’an, Mirqat Publishing, Jakarta 2008 (4) Abdul Lathif Ahmad ‘Asyur, Al ‘Asyarotul Mubasysyaruna Bil-Jannah (Sepuluh Orang Dijamin Masuk Surga), Gema Insani Press, Jakarta 1996. (5) Nasy’at Al Masri, An Nabiyyu Zaujan (Nabi Suami Teladan) terj. Salim Basyarahil, Gema Insani Press, Jakarta, 1993 (6) Harian Jawa Pos 28 Agustus 2016.