Header

TERTARIK MANUNGGALING KAWULA GUSTI
Juni 2020

Tanya:

Assalamu’alaikum wr wb.

Suami saya akhir-akhir ini berubah. Yang dibicarakan selalu penyatuan dirinya dengan Allah, atau sering ia sebut manunggaling kawulo gusti. Perubahan itu setelah mengikuti beberapa kali pengajian di kantornya. Saya tak setuju, tapi selalu kalah argumen dengannya. Maklumlah saya mualaf. Mohon petunjuk pak ustad. Terima kasih.

Sultania Bogenvile – Bekasi

Jawab:

Wa’alaikumussalam wr wb

Ibu Sultania Bogenvile Yth. Satu sisi, saya salut dengan pencapaian spiritual suami ibu, tapi pada sisi yang lain prihatin dengan pemahamannya yang baru tentang Allah dan manusia. Dugaan saya, suami ibu berpegang pada firman Allah,

 “Kami lebih dekat dengannya daripada urat lehernya” (QS. Qaf [50]: 16).   Ayat inilah yang dijadikan pegangan para penganut faham al hulul atau wahdatul wujud, atau manunggaling kawulo gusti (istilah Jawa), bahwa Allah bisa menyatu dengan manusia.

Ayat itu harus dipahami secara menyeluruh, tidak boleh dipotong di tengah, atau pun dipisah dari konteks ayat sebelum dan sesudahnya. Ayat itu berbicara tentang dua malaikat yang bertugas mencatat perbuatan manusia. Maka, yang dimaksud kata ”Kami” dalam ayat ini adalah ”para malaikat kami, ” bukan Allah SWT. Pengertian sejenis juga terdapat pada ayat yang terdapat dalam surat Al Waqi’ah, ”Kami lebih dekat dengan (orang yang menjelang kematian) daripada kalian,” (QS. Al Waqi’ah [56]: 85). Maksudnya, ”para malaikat yang Kami tugaskan mencabut nyawa” itu lebih dekat daripada keluarga yang menyaksikannya.

QS. Qaf ayat 16 tentang kedekatan manusia dan Allah di atas juga bisa diartikan bukan secara fisik, tapi secara maknawi, bahwa pengetahuan dan pengawasan Allah sangat melekat pada manusia, sehingga Allah Maha Mendengar apa pun yang diucapkannya, dan Maha Mengatahui apa pun yang dilakukannya. Bahkan sekecil apa pun lintasan pada hati manusia. Kata ”Kami” juga bisa diartikan, ”para malaikat Kami (Allah) selalu dekat dengan manusia untuk membawa rahmat Kami untuknya.”

Jadi, pengertian keberadaan Allah yang lebih dekat dengan urat leher manusia, sekali lagi saya tegaskan, harus diartikan secara maknawi, seperti pengertian dalam sabda Nabi, aqrabu maa yakuunul ‘abdu min rabbihii wa huwa saajidun fa aktsirud du’aa-a / posisi terdekat manusia dengan Tuhannya adalah ketika bersujud. Maka, perbanyaklah berdoa” (HR. Muslim 482). Atau sabda Nabi yang lain, “Tuhan yang engkau panggil itu lebih dekat denganmu daripada leher binatang yang engkau tunggangi (‘unuqi raahilati ahadikum) (HR. Muslim No. 2704).

Itulah penjelasan saya, semoga ibu dan suami memiliki pemahaman yang sama tentang keimanan. Namun, jika tidak diperoleh titik temu, mohon jangan diperuncing, agar keutuhan rumah tangga terjaga. Ibu tetap harus bersyukur, bahwa di tengah banyak suami yang menyimpang agama, suami ibu justru semakin mendekat kepada Allah. Wallahu a’lamu bis shawab.

BAGAIMANA KIAT MENINGKATKAN KEBERKAHAN KELUARGA?
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Tanya:

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Lima tahun terakhir ini, rumah tangga saya semakin tak berkah. Hutang kami semakin banyak, dan kesalahpahaman antara saya dan suami semakin sering. Saya mohon nasihat pak ustad agar kehidupan kami bertiga bersama suami dan seorang putra bisa kembali bergairah dan berkah.   

Mawar Listianty   –  Surabaya 

Jawab:

Wa’alaikumus-salam Wr. Wb.

Saya ikut prihatin dengan keadaan rumah tangga ibu sekarang ini. Tapi, jangan berkecil hati, sebab “setelah gelap, pasti terbitlah terang.” Artinya keadaan itu, sebentar lagi berubah lebih cerah setelah ibu dan suami sama-sama intospeksi dan berbenah.

Sebenarnya sangat mudah bagi ibu untuk mendapat nasihat untuk mengatasi keadaan demikian. Gampang, putar saja rekaman nasihat pernikahan ketika ibu di depan penghulu sekitar sepuluh tahun silam itu. Tapi, tak apalah, sambil mencari rekaman tersebut, saya sampaikan beberapa bahan introspkesi ibu dan suami.

Pertama, Anda berdua harus lebih hemat. Saya yakin Anda berdua sudah melakukannya, tapi upayakan untuk ditekan lagi dengan segala cara. Misalnya, dengan tidak membeli makanan di luar rumah. Hindari makan di warung manapun. Upayakan masak sendiri, agar lebih berkah, meskipun mungkin dengan biaya yang sama dengan makanan di luar. Upayakan tidak membel pakaian. Sebab, pakaian yang ada sekarang sudah cukup untuk hidup selama lima tahun ke depan. Juga, tidak perlu dipaksakan memberi sumbangan di luar kemampuan untuk undangan pesta keluarga atau teman. Semua itu saya sarankan agar ekonomi Anda lebih berkah dan secara bertahap bisa membayar hutang-hutang Anda. Jangan menambah hutang baru, meskipun harus berlapar-lapar dan bersakit-sakit. Bacalah doa dari Nabi SAW, “Allahummakfina bihalalika ‘an haraamik, wa aghnina bifadhlika ‘amman siwaaka /wahai Allah cukupilah kebutuhan hidup kami dengan yang halal, dan berikan rizki yang banyak sehingga kami tidak bergantung kepada selain Engkau.”

Kedua, jangan lewatkan seharipun tanpa sedekah. Anda bisa membeli sepotong tempe untuk sarapan pagi janda tua sebelah rumah Anda. Atau, membelikan makanan ringan untuk yatim yang bersiap berangkat sekolah. Jika keuangan sangat terbatas, bisa sedekah dalam bentuk yang lain, misalnya menjenguk sebanyak-banyaknya orang yang sakit. Doakan kesembuhan untuknya, lalu mintalah doa darinya. Sebab, doa orang sakit sangat mujarab. Atau datang saja ke panti asuhan, dan bantulah pekerjaan pengelola panti untuk perawatan gedung, dan sebagainya. Ketiga, lakukan puasa Senin dan Kamis.

SHALAT DENGAN GENDONG BAYI
oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

Tanya:

Assalamu’alaikum wr wb.

Saya ibu muda dengan seorang bayi usia 6 bulan. Suami sering kerja luar kota dan saya sendirian tanpa pembantu. Ketika si mungil lagi cerewet, saya kadang melakukan shalat dhuhur dikumpulkan pada shalat ashar. Atau shalat maghrib saya kerjakan pada shalat isyak. Itu benar-benar terpaksa, sebab tidak ada pembantu yang mengganti saya untuk menggendong bayi. Jika saya letakkan di kasur, dia menangis sampai kaku badannya. Itu hanya sesekali, sebab kadangkala si bayi tidur pulas ketika saya menjalankan shalat atau pekerjaan rumah yang lain.

Apakah saya boleh meniru wanita-wanita Timur Tengah yang saya lihat melalui internet shalat sambil menggendong anaknya. Seingat saya, guru-guru agama kita di sekolah menjelaskan bahwa gerakan tiga kali dalam shalat bisa membatalkan shalat. Bagaimana solusinya ustad.

Demikian, atas jawaban ustad, saya ucapkan terima kasih.

Khudzaifah – Perak Surabaya

Jawab:

            Saya sangat bangga mendengar ibu yang masih muda tapi memiliki ketegaran menjadi ibu rumah tangga dengan penuh kesabaran dan ketaatan beragama yang luar biasa. Sama sekali tidak tergambar pada ibu perasaan kesal atau mengeluh. Saya yakin, ketegaran dan keimanan ibu akan membuahkan kebahagiaan rumah tangga dan kesuksesan sang anak di kemudian hari.

            Menurut saya, lebih baik ibu shalat dengan menggendong si bayi daripada melakukan jamak shalat, yaitu menggandeng dua shalat wajib dalam satu waktu, antara dhuhur dan ashar atau maghrib dan isyak. Tapi jika keadaan sangat memaksa dan itu berkaitan dengan keselamatan si bayi, maka jamak shalat diperbolehkan. Misalnya, si bayi sakit panas yang tinggi dan baru saja ditangani dokter, setelah itu ia menetek ibu dengan damai dan tenang. Jika menyusui itu dihentikan, ia meronta-ronta dan waktu shalat hampir habis, maka justru sebaiknya jamak shalat dilakukan, sebab itu bagian dari proses percepatan kesembuhan si bayi. Islam diturunkan kepada manusia bukan untuk membuat manusia tersiksa.

            Apakah hanya di internet ada wanita shalat menggendong bayi? Ternyata, Nabi SAW juga pernah melakukannya untuk cucunya. Inilah persaksian yang diberikan oleh Abu Qatadah r.a. Ia bercerita bahwa Nabi SAW shalat sedang Umamah putri Zaenab, yaitu putri Nabi SAW berada di pundaknya. Ketika beliau rukuk, anak itu diletakkan, dan ketika bangkit dari sujud, anak itu diambil lagi dan diletakkan di pundaknya kembali. ‘Amir berkata, “Saya tidak menanyakan shalat apa yang sedang dikerjakan itu.” Tapi Ibnu Juraij berkata, “Saya telah diberitahu oleh Zayd bin Abi ‘Itab dari Umar bin Sulaim bahwa itu adalah shalat shubuh.” (HR. Ahmad, An Nasa-i dan lain-lain).

Al Fakihani berkata, hadis di atas tidak hanya menunjukkan diperbolehkannya shalat dengan menggendong anak, tapi juga menunjukkan kecintaan bahkan pemuliaan Nabi SAW terhadap anak perempuan. Ini sebuah kririk secara tidak langsung kepada bangsa Arab waktu itu yang sama sekali tidak menyukai anak perempuan. Mereka malu anak perempuan sebagai anaknya, bahkan sebagian mereka menguburnya hidup-hidup.

Agar ibu lebih mantap terhadap jawaban atas pertanyaan ibu, berikut ini saya kutipkan lagi kesaksian yang diberikan oleh Abdullah bin Syidad. Suatu ketika Rasulullah SAW memimpin shalat dhuhur atau ashar. Dua cucunya, Hasan dan Husein dibawa ke depan dan diletakkan di sampingnya lalu ia bertakbir. Nabi bersujud sangat lama, sampai salah seorang sahabat mengangkat kepala dikira beliau telah bangkit dari sujud. Maka ia sujud kembali, karena Nabi masih bersujud. Ketika itulah, sabahat itu menyaksikan salah satu cucunya sedang menaiki punggung Nabi SAW. Usai shalat, beberapa sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tadi Anda sujud sangat lama sampai kami menduga ada sesuatu yang terjadi atau sedang menerima wahyu.” Nabi menjawab, “kullu dzalika lam yakun, walakinna ibny irtahalani fakarihtu an a’jalahu hatta yaqdly hajatahu (semua itu tidak terjadi. Hanya saja cucuku menaiki punggungku dan aku tidak ingin memutusnya dengan segera sampai ia puas)” (HR. Ahmad, An Nasa-i dan Al Hakim). Wallahu a’lamu bisshawab.