Header

SHALAT DENGAN GENDONG BAYI
oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

Tanya:

Assalamu’alaikum wr wb.

Saya ibu muda dengan seorang bayi usia 6 bulan. Suami sering kerja luar kota dan saya sendirian tanpa pembantu. Ketika si mungil lagi cerewet, saya kadang melakukan shalat dhuhur dikumpulkan pada shalat ashar. Atau shalat maghrib saya kerjakan pada shalat isyak. Itu benar-benar terpaksa, sebab tidak ada pembantu yang mengganti saya untuk menggendong bayi. Jika saya letakkan di kasur, dia menangis sampai kaku badannya. Itu hanya sesekali, sebab kadangkala si bayi tidur pulas ketika saya menjalankan shalat atau pekerjaan rumah yang lain.

Apakah saya boleh meniru wanita-wanita Timur Tengah yang saya lihat melalui internet shalat sambil menggendong anaknya. Seingat saya, guru-guru agama kita di sekolah menjelaskan bahwa gerakan tiga kali dalam shalat bisa membatalkan shalat. Bagaimana solusinya ustad.

Demikian, atas jawaban ustad, saya ucapkan terima kasih.

Khudzaifah – Perak Surabaya

Jawab:

            Saya sangat bangga mendengar ibu yang masih muda tapi memiliki ketegaran menjadi ibu rumah tangga dengan penuh kesabaran dan ketaatan beragama yang luar biasa. Sama sekali tidak tergambar pada ibu perasaan kesal atau mengeluh. Saya yakin, ketegaran dan keimanan ibu akan membuahkan kebahagiaan rumah tangga dan kesuksesan sang anak di kemudian hari.

            Menurut saya, lebih baik ibu shalat dengan menggendong si bayi daripada melakukan jamak shalat, yaitu menggandeng dua shalat wajib dalam satu waktu, antara dhuhur dan ashar atau maghrib dan isyak. Tapi jika keadaan sangat memaksa dan itu berkaitan dengan keselamatan si bayi, maka jamak shalat diperbolehkan. Misalnya, si bayi sakit panas yang tinggi dan baru saja ditangani dokter, setelah itu ia menetek ibu dengan damai dan tenang. Jika menyusui itu dihentikan, ia meronta-ronta dan waktu shalat hampir habis, maka justru sebaiknya jamak shalat dilakukan, sebab itu bagian dari proses percepatan kesembuhan si bayi. Islam diturunkan kepada manusia bukan untuk membuat manusia tersiksa.

            Apakah hanya di internet ada wanita shalat menggendong bayi? Ternyata, Nabi SAW juga pernah melakukannya untuk cucunya. Inilah persaksian yang diberikan oleh Abu Qatadah r.a. Ia bercerita bahwa Nabi SAW shalat sedang Umamah putri Zaenab, yaitu putri Nabi SAW berada di pundaknya. Ketika beliau rukuk, anak itu diletakkan, dan ketika bangkit dari sujud, anak itu diambil lagi dan diletakkan di pundaknya kembali. ‘Amir berkata, “Saya tidak menanyakan shalat apa yang sedang dikerjakan itu.” Tapi Ibnu Juraij berkata, “Saya telah diberitahu oleh Zayd bin Abi ‘Itab dari Umar bin Sulaim bahwa itu adalah shalat shubuh.” (HR. Ahmad, An Nasa-i dan lain-lain).

Al Fakihani berkata, hadis di atas tidak hanya menunjukkan diperbolehkannya shalat dengan menggendong anak, tapi juga menunjukkan kecintaan bahkan pemuliaan Nabi SAW terhadap anak perempuan. Ini sebuah kririk secara tidak langsung kepada bangsa Arab waktu itu yang sama sekali tidak menyukai anak perempuan. Mereka malu anak perempuan sebagai anaknya, bahkan sebagian mereka menguburnya hidup-hidup.

Agar ibu lebih mantap terhadap jawaban atas pertanyaan ibu, berikut ini saya kutipkan lagi kesaksian yang diberikan oleh Abdullah bin Syidad. Suatu ketika Rasulullah SAW memimpin shalat dhuhur atau ashar. Dua cucunya, Hasan dan Husein dibawa ke depan dan diletakkan di sampingnya lalu ia bertakbir. Nabi bersujud sangat lama, sampai salah seorang sahabat mengangkat kepala dikira beliau telah bangkit dari sujud. Maka ia sujud kembali, karena Nabi masih bersujud. Ketika itulah, sabahat itu menyaksikan salah satu cucunya sedang menaiki punggung Nabi SAW. Usai shalat, beberapa sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tadi Anda sujud sangat lama sampai kami menduga ada sesuatu yang terjadi atau sedang menerima wahyu.” Nabi menjawab, “kullu dzalika lam yakun, walakinna ibny irtahalani fakarihtu an a’jalahu hatta yaqdly hajatahu (semua itu tidak terjadi. Hanya saja cucuku menaiki punggungku dan aku tidak ingin memutusnya dengan segera sampai ia puas)” (HR. Ahmad, An Nasa-i dan Al Hakim). Wallahu a’lamu bisshawab.

TANPA SAPA DALAM KELUARGA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

Tanya:

Assalamualaikum wr wb.

Saya ibu rumah tangga dengan suami semata. Dua belas tahun berumah tangga belum dikaruniai anak. Orang-orang memandang saya bahagia bersuami tampan dengan rupiah dan dolar di mana-mana. Tapi mereka tidak tahu, bagaimana penderitaan yang saya alami mendengar label “mandul” dari mertua. Tidak sekali dua kali kata itu dilontarkan di tengah keluarga, bahkan di depan tamu, sekalipun dengan bahasa yang dihaluskan.

Penderitaan itu sekarang lebih ‘sempurna” karena sikap mertua yang tidak mau berbicara dengan saya, padahal hanya karena persoalan sepele dan kesalahpahaman. Saya telah berusaha meminta maaf, tapi tampaknya beliau belum berkenan. Saya mohon penjelasan bapak, apakah saya terkena dosa besar karena putus komunikasi lebih dari tiga hari sebagaimana yang disabdakan Nabi SAW?

Atas pencerahan bapak, saya ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum wr wb

Yosiana – Jakarta

Jawab:

            Ibu Yosiana, saya ikut prihatin dengan kondisi rumah tangga ibu. Tapi, percayalah tak selamanya mendung itu kelabu. Artinya, cobaan hidup itu suatu saat akan berakhir. Semoga ujungnya adalah kebahagiaan. Saya lebih suka menggunakan istilah cobaan hidup daripada penderitaan, istilah yang ibu gunakan. Kedengarannya seram sekali bu. Apa ada rumah tangga tanpa cobaan? Saya yakin cobaan yang ibu alami dirancang Allah untuk mendewasakan ibu dan semakin mematangkan keimanan ibu.

            Ibu benar bahwa Nabi SAW pernah bersabda:

            عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ اَنْ يَهْجُرَ اَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ فَمَنْ هَجَرَ فَوْقَ ثَلَاثٍ فَمَاتَ دَخَلَ النَّارَ رواه ابو داود

Abu Hurairah r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Seorang muslim tidak dihalalkan mendiamkan atau tidak menyapa saudaranya lebih dari tiga hari. Barangsiapa mendiamkannya lebih dari tiga hari kemudian ia mati, maka ia masuk neraka.” (HR. Abu Daud / Kitab Riyadlus Shalihin: 456)

            Saya cantumkan juga hadis-hadis lain tentang ancaman Allah bagi siapapun yang mendiamkan saudaranya, apalagi anggota keluarganya sendiri. Nabi SAW bersabda, “Siapapun yang mendiamkan saudaranya selama setahun maka sama dengan menumpahkan darahnya.” (HR. Abu Daud)

Dalam hadis yang lain juga dijelaskan, setiap hari Senin dan Kamis, semua catatan perbuatan manusia dilaporkan oleh malaikat kepada Allah. Lalu Allah mengampuni semua muslim kecuali muslim yang masih menyimpan dendam dengan yang lain. Allah memerintahkan malaikat, “Tangguhkanlah pengampunan untuk mereka sampai mereka berdamai.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a)

Berdasarkan hadis di atas, ibu tidak termasuk yang berdosa, sebab konflik itu terjadi secara sepihak. Orang yang memulai konflik dan membekukan komunikasi itulah yang berdosa. Apalagi ibu sudah mencoba mencarikan suasana dengan berinisiatif meminta maaf. Berbahagialah, dua bonus besar telah disiapkan Allah untuk ibu atas kesabaran dan usaha itu.

Saya ingin menghibur ibu sekalilagi dengan mengutip hadis bahwa muslim yang berinisiatip memulai menyapa dengan mengucapkan salam atau dengan cara lain maka dia dicatat Allah sebagai muslim yang berakhlak mulia, dan dia telah lepas dari semua dosa. Dalam syarah hadis disebutkan oleh As Shiddiqi: was saabiqu yasbiqu ilal jannah (orang yang mendahului kebaikan, dialah yang lebih awal memasuki surga). Ia mendapat dua bonus pahala yaitu pahala menyampaikan salam dan pahala memperbaiki hubungan sesama muslim. Jika salam itu dijawab, maka keduanya mendapat pahala. Tapi jika yang bersangkutan menolak menjawab salam, maka pemberi salam telah terbebas dari dosa, dan muslim yang menolak salam menanggung dosanya. (HR. Abu Daud dari Abu Hurairah r.a). Mengapa menanggung dosa? Karena ia meninggalkan dua kewajiban yaitu kewajiban menjawab salam dan kewajiban membangun hubungan harmonis sesama muslim.

Saya salut dengan usaha ibu yang terus menerus memulihkan keakraban dengan mertua. Saya yakin dan berdoa semoga mertua akan kembali bersikap seperti semula, bahkan akan jauh lebih akrab. Teruskan doa dalam sujud panjang Anda untuk keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga ibu. Wallahu a’lamu bis shawab.

 

 

CIPIKA CIPIKI SETELAH SHALAT
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

 

Tanya:

Assalamu’alaikum wr wb

Sejak pernikahan 12 tahun yang lalu sampai sekarang, saya selalu mencium pipi kanan (CIPIKA) dan cium pipi kiri (CIPIKI) istri setelah shalat berjamaah. Kami berdua merasa bahagia karena semua masalah termasuk ganjalan hati antara kami berdua bisa hilang atau minimal berkurang secara drastis. Mungkin karena itulah saya tidak mengalami konflik dengan istri berkepanjangan dan kami sungguh bahagia.

Nah, setelah putra pertama saya lulus dari sebuah pondok pesantren, dia melarang saya melanjutkan kebiasaan itu karena cipika cipiki termasuk membatalkan wudlu, sehingga harus wudlu ulang untuk shalat sunah setelah shalat fardlu atau membaca Al Qur’an. Saya mohon penjelasan, apa yang harus kami lakukan? Saya jujur mengatakan sangat berat menghentikan kebiasaan yang selama ini menjadi sarana keharmonisan kami. Jika teguran anak tidak saya ikuti, dia kelihatan kecewa, sampai suatu saat dia mengatakan, “Untuk apa papa menyekolahkan saya untuk mengerti agama, lalu setelah saya mendapat ilmu yang dicari, ilmu itu tidak dipakai?”

Saya mohon solusi Bapak pengasuh dan penjelasan hukum Islam tentang cipika cipiki dan akibatnya terhadap wudlu kami.

Subroto – Tulung Agung

Jawab:

Wa’alaikumussalam wr wb.

                Wah, ini luar biasa tapi amat membanggakan dan menyenangkan pak. Maksud saya, yang biasa dilakukan pada umumnya di kalangan kita seorang istri mencium tangan suami ketika berjabat tangan usai shalat. Tapi, Bapak Subroto lebih hangat lagi: cipika cipiki. Perlu Bapak ketahui, berjabat tangan suami istri usai shalat maupun cipika cipiki sama-sama menjadi perdebatan di kalangan ahli agama. Bukan hukumnya yang jelas-jelas halal, tapi membatalkan wudlu atau tidaknya.

                Saya memberi apresiasi besar untuk Bapak yang berhasil membangun keluarga bahagia di tengah semakin meningkatnya angka perceraian. Sekarang Bapak mempunyai tugas baru yaitu menjaga perasaan anak dan menghargai pikirannya yang sedang berkembang seirama dengan berbagai pengetahuan. Kelak, perbedaan pendapat dengan anak tidak hanya masalah agama, tapi juga menyangkut pilihan-pilihan hidup. Bersiaplah. Tapi, saya sangat yakin, Bapak bisa mengatasinya dengan bijaksana.

Menyangkut batal atau tidaknya wudlu akibat persentuhan pria dan wanita yang tidak mahram (haram dinikah) termasuk antara suami istri, saya sampaikan beberapa pendapat ulama sebagai berikut. Menurut Imam Syafii, batal secara mutlak. Sedangkan menurut Imam Malik, batal jika persentuhan itu menimbulkan kenikmatan. Adapun ciuman suami istri tetap membatalkan wudlu sekalipun tidak menimbulkan kenikmatan. Imam Abu Hanifah mempunyai pendapat yang sangat longgar, yaitu persentuhan pria dan wanita, siapapun dia, tidaklah membatalkan wudlu. Menurutnya, ciuman suami istri juga tidak membatalkan wudlu. Ia berpegang pada penuturan ‘Aisyah, istri Nabi SAW bahwa Rasululllah SAW menciumnya sedangkan Nabi sedang puasa, lalu ia bersabda, “Sungguh ciuman itu tidak membatalkan wudlu dan tidak membatalkan puasa.” (HR Ishaq bin Rahawaih dari Aisyah r.a dengan sumber sanad yang dipercaya). Juga berdasar hadits yang lain yang diceritakan oleh Hubaib bin Abu Tsabit dari Urwah dari Aisyah bahwa Nabi SAW bersabda, “Sungguh, Nabi mencium sebagian istrinya kemudian ia keluar untuk shalat tanpa wudlu terlebih dahulu. Saya (Urwah) mengatakan, “Siapa lagi istri Nabi itu jika bukan Anda? Maka Aisyah tertawa.” (HR Abu Dawud dan At Turmudzi).

Sedangkan menurut Imam Syafi’i, firman Allah SWT dalam Al Qur’an tentang batalnya wudlu akibat persentuhan laki-laki dan perempuan sudah sangat jelas: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur” (QS. Al Ma-idah [05]:06).

Kata yang tercetak tebal dalam ayat di atas “…atau menyentuh perempuan..” diartikan berbeda oleh Imam Malik dan Imam Abu Hanifah, bahwa yang dimaksud adalah hubungan badan suami istri. Menurut mereka, Al Qur’an selalu menggunakan bahasa yang halus untuk menyebut hubungan suami istri.

Bapak bisa mengajak ananda untuk bertukar pikiran dengan santai dan dari hati ke hati. Jelaskan pilihan Bapak terhadap pendapat ulama-ulama di atas. Jika tetap berseberangan, menurut saya Bapak sebaiknya mengikuti saja saran ananda agar merasa dihargai. Pikiran setiap orang termasuk ananda juga berkembang terus. Untuk membangun kehangatan suami istri masih banyak cara lain, dan Bapak menurut saya paling tahu tentang hal itu. Wallahu a’lamu bis-shawab.