Header

BAGAIMANA KIAT MENINGKATKAN KEBERKAHAN KELUARGA?
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Tanya:

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Lima tahun terakhir ini, rumah tangga saya semakin tak berkah. Hutang kami semakin banyak, dan kesalahpahaman antara saya dan suami semakin sering. Saya mohon nasihat pak ustad agar kehidupan kami bertiga bersama suami dan seorang putra bisa kembali bergairah dan berkah.   

Mawar Listianty   –  Surabaya 

Jawab:

Wa’alaikumus-salam Wr. Wb.

Saya ikut prihatin dengan keadaan rumah tangga ibu sekarang ini. Tapi, jangan berkecil hati, sebab “setelah gelap, pasti terbitlah terang.” Artinya keadaan itu, sebentar lagi berubah lebih cerah setelah ibu dan suami sama-sama intospeksi dan berbenah.

Sebenarnya sangat mudah bagi ibu untuk mendapat nasihat untuk mengatasi keadaan demikian. Gampang, putar saja rekaman nasihat pernikahan ketika ibu di depan penghulu sekitar sepuluh tahun silam itu. Tapi, tak apalah, sambil mencari rekaman tersebut, saya sampaikan beberapa bahan introspkesi ibu dan suami.

Pertama, Anda berdua harus lebih hemat. Saya yakin Anda berdua sudah melakukannya, tapi upayakan untuk ditekan lagi dengan segala cara. Misalnya, dengan tidak membeli makanan di luar rumah. Hindari makan di warung manapun. Upayakan masak sendiri, agar lebih berkah, meskipun mungkin dengan biaya yang sama dengan makanan di luar. Upayakan tidak membel pakaian. Sebab, pakaian yang ada sekarang sudah cukup untuk hidup selama lima tahun ke depan. Juga, tidak perlu dipaksakan memberi sumbangan di luar kemampuan untuk undangan pesta keluarga atau teman. Semua itu saya sarankan agar ekonomi Anda lebih berkah dan secara bertahap bisa membayar hutang-hutang Anda. Jangan menambah hutang baru, meskipun harus berlapar-lapar dan bersakit-sakit. Bacalah doa dari Nabi SAW, “Allahummakfina bihalalika ‘an haraamik, wa aghnina bifadhlika ‘amman siwaaka /wahai Allah cukupilah kebutuhan hidup kami dengan yang halal, dan berikan rizki yang banyak sehingga kami tidak bergantung kepada selain Engkau.”

Kedua, jangan lewatkan seharipun tanpa sedekah. Anda bisa membeli sepotong tempe untuk sarapan pagi janda tua sebelah rumah Anda. Atau, membelikan makanan ringan untuk yatim yang bersiap berangkat sekolah. Jika keuangan sangat terbatas, bisa sedekah dalam bentuk yang lain, misalnya menjenguk sebanyak-banyaknya orang yang sakit. Doakan kesembuhan untuknya, lalu mintalah doa darinya. Sebab, doa orang sakit sangat mujarab. Atau datang saja ke panti asuhan, dan bantulah pekerjaan pengelola panti untuk perawatan gedung, dan sebagainya. Ketiga, lakukan puasa Senin dan Kamis.

SHALAT DENGAN GENDONG BAYI
oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

Tanya:

Assalamu’alaikum wr wb.

Saya ibu muda dengan seorang bayi usia 6 bulan. Suami sering kerja luar kota dan saya sendirian tanpa pembantu. Ketika si mungil lagi cerewet, saya kadang melakukan shalat dhuhur dikumpulkan pada shalat ashar. Atau shalat maghrib saya kerjakan pada shalat isyak. Itu benar-benar terpaksa, sebab tidak ada pembantu yang mengganti saya untuk menggendong bayi. Jika saya letakkan di kasur, dia menangis sampai kaku badannya. Itu hanya sesekali, sebab kadangkala si bayi tidur pulas ketika saya menjalankan shalat atau pekerjaan rumah yang lain.

Apakah saya boleh meniru wanita-wanita Timur Tengah yang saya lihat melalui internet shalat sambil menggendong anaknya. Seingat saya, guru-guru agama kita di sekolah menjelaskan bahwa gerakan tiga kali dalam shalat bisa membatalkan shalat. Bagaimana solusinya ustad.

Demikian, atas jawaban ustad, saya ucapkan terima kasih.

Khudzaifah – Perak Surabaya

Jawab:

            Saya sangat bangga mendengar ibu yang masih muda tapi memiliki ketegaran menjadi ibu rumah tangga dengan penuh kesabaran dan ketaatan beragama yang luar biasa. Sama sekali tidak tergambar pada ibu perasaan kesal atau mengeluh. Saya yakin, ketegaran dan keimanan ibu akan membuahkan kebahagiaan rumah tangga dan kesuksesan sang anak di kemudian hari.

            Menurut saya, lebih baik ibu shalat dengan menggendong si bayi daripada melakukan jamak shalat, yaitu menggandeng dua shalat wajib dalam satu waktu, antara dhuhur dan ashar atau maghrib dan isyak. Tapi jika keadaan sangat memaksa dan itu berkaitan dengan keselamatan si bayi, maka jamak shalat diperbolehkan. Misalnya, si bayi sakit panas yang tinggi dan baru saja ditangani dokter, setelah itu ia menetek ibu dengan damai dan tenang. Jika menyusui itu dihentikan, ia meronta-ronta dan waktu shalat hampir habis, maka justru sebaiknya jamak shalat dilakukan, sebab itu bagian dari proses percepatan kesembuhan si bayi. Islam diturunkan kepada manusia bukan untuk membuat manusia tersiksa.

            Apakah hanya di internet ada wanita shalat menggendong bayi? Ternyata, Nabi SAW juga pernah melakukannya untuk cucunya. Inilah persaksian yang diberikan oleh Abu Qatadah r.a. Ia bercerita bahwa Nabi SAW shalat sedang Umamah putri Zaenab, yaitu putri Nabi SAW berada di pundaknya. Ketika beliau rukuk, anak itu diletakkan, dan ketika bangkit dari sujud, anak itu diambil lagi dan diletakkan di pundaknya kembali. ‘Amir berkata, “Saya tidak menanyakan shalat apa yang sedang dikerjakan itu.” Tapi Ibnu Juraij berkata, “Saya telah diberitahu oleh Zayd bin Abi ‘Itab dari Umar bin Sulaim bahwa itu adalah shalat shubuh.” (HR. Ahmad, An Nasa-i dan lain-lain).

Al Fakihani berkata, hadis di atas tidak hanya menunjukkan diperbolehkannya shalat dengan menggendong anak, tapi juga menunjukkan kecintaan bahkan pemuliaan Nabi SAW terhadap anak perempuan. Ini sebuah kririk secara tidak langsung kepada bangsa Arab waktu itu yang sama sekali tidak menyukai anak perempuan. Mereka malu anak perempuan sebagai anaknya, bahkan sebagian mereka menguburnya hidup-hidup.

Agar ibu lebih mantap terhadap jawaban atas pertanyaan ibu, berikut ini saya kutipkan lagi kesaksian yang diberikan oleh Abdullah bin Syidad. Suatu ketika Rasulullah SAW memimpin shalat dhuhur atau ashar. Dua cucunya, Hasan dan Husein dibawa ke depan dan diletakkan di sampingnya lalu ia bertakbir. Nabi bersujud sangat lama, sampai salah seorang sahabat mengangkat kepala dikira beliau telah bangkit dari sujud. Maka ia sujud kembali, karena Nabi masih bersujud. Ketika itulah, sabahat itu menyaksikan salah satu cucunya sedang menaiki punggung Nabi SAW. Usai shalat, beberapa sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tadi Anda sujud sangat lama sampai kami menduga ada sesuatu yang terjadi atau sedang menerima wahyu.” Nabi menjawab, “kullu dzalika lam yakun, walakinna ibny irtahalani fakarihtu an a’jalahu hatta yaqdly hajatahu (semua itu tidak terjadi. Hanya saja cucuku menaiki punggungku dan aku tidak ingin memutusnya dengan segera sampai ia puas)” (HR. Ahmad, An Nasa-i dan Al Hakim). Wallahu a’lamu bisshawab.

TANPA SAPA DALAM KELUARGA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

Tanya:

Assalamualaikum wr wb.

Saya ibu rumah tangga dengan suami semata. Dua belas tahun berumah tangga belum dikaruniai anak. Orang-orang memandang saya bahagia bersuami tampan dengan rupiah dan dolar di mana-mana. Tapi mereka tidak tahu, bagaimana penderitaan yang saya alami mendengar label “mandul” dari mertua. Tidak sekali dua kali kata itu dilontarkan di tengah keluarga, bahkan di depan tamu, sekalipun dengan bahasa yang dihaluskan.

Penderitaan itu sekarang lebih ‘sempurna” karena sikap mertua yang tidak mau berbicara dengan saya, padahal hanya karena persoalan sepele dan kesalahpahaman. Saya telah berusaha meminta maaf, tapi tampaknya beliau belum berkenan. Saya mohon penjelasan bapak, apakah saya terkena dosa besar karena putus komunikasi lebih dari tiga hari sebagaimana yang disabdakan Nabi SAW?

Atas pencerahan bapak, saya ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum wr wb

Yosiana – Jakarta

Jawab:

            Ibu Yosiana, saya ikut prihatin dengan kondisi rumah tangga ibu. Tapi, percayalah tak selamanya mendung itu kelabu. Artinya, cobaan hidup itu suatu saat akan berakhir. Semoga ujungnya adalah kebahagiaan. Saya lebih suka menggunakan istilah cobaan hidup daripada penderitaan, istilah yang ibu gunakan. Kedengarannya seram sekali bu. Apa ada rumah tangga tanpa cobaan? Saya yakin cobaan yang ibu alami dirancang Allah untuk mendewasakan ibu dan semakin mematangkan keimanan ibu.

            Ibu benar bahwa Nabi SAW pernah bersabda:

            عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ اَنْ يَهْجُرَ اَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ فَمَنْ هَجَرَ فَوْقَ ثَلَاثٍ فَمَاتَ دَخَلَ النَّارَ رواه ابو داود

Abu Hurairah r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Seorang muslim tidak dihalalkan mendiamkan atau tidak menyapa saudaranya lebih dari tiga hari. Barangsiapa mendiamkannya lebih dari tiga hari kemudian ia mati, maka ia masuk neraka.” (HR. Abu Daud / Kitab Riyadlus Shalihin: 456)

            Saya cantumkan juga hadis-hadis lain tentang ancaman Allah bagi siapapun yang mendiamkan saudaranya, apalagi anggota keluarganya sendiri. Nabi SAW bersabda, “Siapapun yang mendiamkan saudaranya selama setahun maka sama dengan menumpahkan darahnya.” (HR. Abu Daud)

Dalam hadis yang lain juga dijelaskan, setiap hari Senin dan Kamis, semua catatan perbuatan manusia dilaporkan oleh malaikat kepada Allah. Lalu Allah mengampuni semua muslim kecuali muslim yang masih menyimpan dendam dengan yang lain. Allah memerintahkan malaikat, “Tangguhkanlah pengampunan untuk mereka sampai mereka berdamai.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a)

Berdasarkan hadis di atas, ibu tidak termasuk yang berdosa, sebab konflik itu terjadi secara sepihak. Orang yang memulai konflik dan membekukan komunikasi itulah yang berdosa. Apalagi ibu sudah mencoba mencarikan suasana dengan berinisiatif meminta maaf. Berbahagialah, dua bonus besar telah disiapkan Allah untuk ibu atas kesabaran dan usaha itu.

Saya ingin menghibur ibu sekalilagi dengan mengutip hadis bahwa muslim yang berinisiatip memulai menyapa dengan mengucapkan salam atau dengan cara lain maka dia dicatat Allah sebagai muslim yang berakhlak mulia, dan dia telah lepas dari semua dosa. Dalam syarah hadis disebutkan oleh As Shiddiqi: was saabiqu yasbiqu ilal jannah (orang yang mendahului kebaikan, dialah yang lebih awal memasuki surga). Ia mendapat dua bonus pahala yaitu pahala menyampaikan salam dan pahala memperbaiki hubungan sesama muslim. Jika salam itu dijawab, maka keduanya mendapat pahala. Tapi jika yang bersangkutan menolak menjawab salam, maka pemberi salam telah terbebas dari dosa, dan muslim yang menolak salam menanggung dosanya. (HR. Abu Daud dari Abu Hurairah r.a). Mengapa menanggung dosa? Karena ia meninggalkan dua kewajiban yaitu kewajiban menjawab salam dan kewajiban membangun hubungan harmonis sesama muslim.

Saya salut dengan usaha ibu yang terus menerus memulihkan keakraban dengan mertua. Saya yakin dan berdoa semoga mertua akan kembali bersikap seperti semula, bahkan akan jauh lebih akrab. Teruskan doa dalam sujud panjang Anda untuk keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga ibu. Wallahu a’lamu bis shawab.