Header

CIPIKA CIPIKI SETELAH SHALAT
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

 

Tanya:

Assalamu’alaikum wr wb

Sejak pernikahan 12 tahun yang lalu sampai sekarang, saya selalu mencium pipi kanan (CIPIKA) dan cium pipi kiri (CIPIKI) istri setelah shalat berjamaah. Kami berdua merasa bahagia karena semua masalah termasuk ganjalan hati antara kami berdua bisa hilang atau minimal berkurang secara drastis. Mungkin karena itulah saya tidak mengalami konflik dengan istri berkepanjangan dan kami sungguh bahagia.

Nah, setelah putra pertama saya lulus dari sebuah pondok pesantren, dia melarang saya melanjutkan kebiasaan itu karena cipika cipiki termasuk membatalkan wudlu, sehingga harus wudlu ulang untuk shalat sunah setelah shalat fardlu atau membaca Al Qur’an. Saya mohon penjelasan, apa yang harus kami lakukan? Saya jujur mengatakan sangat berat menghentikan kebiasaan yang selama ini menjadi sarana keharmonisan kami. Jika teguran anak tidak saya ikuti, dia kelihatan kecewa, sampai suatu saat dia mengatakan, “Untuk apa papa menyekolahkan saya untuk mengerti agama, lalu setelah saya mendapat ilmu yang dicari, ilmu itu tidak dipakai?”

Saya mohon solusi Bapak pengasuh dan penjelasan hukum Islam tentang cipika cipiki dan akibatnya terhadap wudlu kami.

Subroto – Tulung Agung

Jawab:

Wa’alaikumussalam wr wb.

                Wah, ini luar biasa tapi amat membanggakan dan menyenangkan pak. Maksud saya, yang biasa dilakukan pada umumnya di kalangan kita seorang istri mencium tangan suami ketika berjabat tangan usai shalat. Tapi, Bapak Subroto lebih hangat lagi: cipika cipiki. Perlu Bapak ketahui, berjabat tangan suami istri usai shalat maupun cipika cipiki sama-sama menjadi perdebatan di kalangan ahli agama. Bukan hukumnya yang jelas-jelas halal, tapi membatalkan wudlu atau tidaknya.

                Saya memberi apresiasi besar untuk Bapak yang berhasil membangun keluarga bahagia di tengah semakin meningkatnya angka perceraian. Sekarang Bapak mempunyai tugas baru yaitu menjaga perasaan anak dan menghargai pikirannya yang sedang berkembang seirama dengan berbagai pengetahuan. Kelak, perbedaan pendapat dengan anak tidak hanya masalah agama, tapi juga menyangkut pilihan-pilihan hidup. Bersiaplah. Tapi, saya sangat yakin, Bapak bisa mengatasinya dengan bijaksana.

Menyangkut batal atau tidaknya wudlu akibat persentuhan pria dan wanita yang tidak mahram (haram dinikah) termasuk antara suami istri, saya sampaikan beberapa pendapat ulama sebagai berikut. Menurut Imam Syafii, batal secara mutlak. Sedangkan menurut Imam Malik, batal jika persentuhan itu menimbulkan kenikmatan. Adapun ciuman suami istri tetap membatalkan wudlu sekalipun tidak menimbulkan kenikmatan. Imam Abu Hanifah mempunyai pendapat yang sangat longgar, yaitu persentuhan pria dan wanita, siapapun dia, tidaklah membatalkan wudlu. Menurutnya, ciuman suami istri juga tidak membatalkan wudlu. Ia berpegang pada penuturan ‘Aisyah, istri Nabi SAW bahwa Rasululllah SAW menciumnya sedangkan Nabi sedang puasa, lalu ia bersabda, “Sungguh ciuman itu tidak membatalkan wudlu dan tidak membatalkan puasa.” (HR Ishaq bin Rahawaih dari Aisyah r.a dengan sumber sanad yang dipercaya). Juga berdasar hadits yang lain yang diceritakan oleh Hubaib bin Abu Tsabit dari Urwah dari Aisyah bahwa Nabi SAW bersabda, “Sungguh, Nabi mencium sebagian istrinya kemudian ia keluar untuk shalat tanpa wudlu terlebih dahulu. Saya (Urwah) mengatakan, “Siapa lagi istri Nabi itu jika bukan Anda? Maka Aisyah tertawa.” (HR Abu Dawud dan At Turmudzi).

Sedangkan menurut Imam Syafi’i, firman Allah SWT dalam Al Qur’an tentang batalnya wudlu akibat persentuhan laki-laki dan perempuan sudah sangat jelas: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur” (QS. Al Ma-idah [05]:06).

Kata yang tercetak tebal dalam ayat di atas “…atau menyentuh perempuan..” diartikan berbeda oleh Imam Malik dan Imam Abu Hanifah, bahwa yang dimaksud adalah hubungan badan suami istri. Menurut mereka, Al Qur’an selalu menggunakan bahasa yang halus untuk menyebut hubungan suami istri.

Bapak bisa mengajak ananda untuk bertukar pikiran dengan santai dan dari hati ke hati. Jelaskan pilihan Bapak terhadap pendapat ulama-ulama di atas. Jika tetap berseberangan, menurut saya Bapak sebaiknya mengikuti saja saran ananda agar merasa dihargai. Pikiran setiap orang termasuk ananda juga berkembang terus. Untuk membangun kehangatan suami istri masih banyak cara lain, dan Bapak menurut saya paling tahu tentang hal itu. Wallahu a’lamu bis-shawab.

 

 

 

 

SHALAT ORANG BERTATO?
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Tanya:

Assalamu’alaikum wr wb

Saya istri (35 tahun) bersuami pria bertato pada tangan, leher dan dada sejak muda sebelum menikah dengan saya. Ia suami yang luar biasa perhatiannya untuk saya, orang tua dan semua saudara saya. Juga sangat sopan kepada siapa saja. Pokoknya, ia segala-galanya bagi saya dan anak-anak. Hanya satu kekurangannya, sampai sekarang tidak mau shalat. Setiap saya ajak shalat, ia hanya diam, tidak menjawab satu katapun.

Pada awal tahun 2014 ini, dia tiba-tiba bercerita tentang sebab keengganannya untuk shalat. Ia sangat menyesal telah mentato sedemikian banyak anggota tubuhnya. Sudah beberapa kali ia mencoba menghilangkannya, tapi ternyata sangat sulit walaupun dengan laser, disamping biayanya mahal. Ia semakin gelisah setelah mendengar seorang ustad yang berceramah di masjid yang terdengar sampai di kamar tidurnya, bahwa shalat tidak sah bagi orang yang bertato.

Saya mohon penjelasan dan solusi atas masalah tersebut. Terima kasih. Wassalam.

Ratih Putri – Jakarta

Jawab:

Wa’alaikumussalam wr wb.

Tenang bu Ratih. Sebelum menjawab pertanyaan Anda, ijinkan saya bercerita sedikit tentang tato. Tato (tatto) adalah suatu tanda yang dibuat dengan memasukkan pigmen ke dalam kulit. Seni ini dikenal sejak 12.000 tahun lalu. Pada jaman dahulu, tato dipakai oleh masyarakat suku terasing sebagai tanda wilayah, status, atau pangkat seseorang.

Ada dua macam tato, yakni tato temporer dan tato permanen. Tato jenis pertama cara pembuatannya sangat sederhana, sama dengan cara membuat hiasan di kulit dengan henna: cukup dioleskan pada permukaan kulit dan menunggu hingga warnanya meresap ke dalam lapisan permukaan kulit. Tato jenis ini hanya bertahan beberapa waktu dan akan hilang dengan sendirinya. Adapun tato jenis kedua dibuat dengan cara memasukkan tinta ke dalam lapisan kulit dengan alat yang mirip jarum suntik. Tato jenis ini tidak bisa hilang dengan sendirinya, sehingga proses penghapusannya membutuhkan cara khusus. Misalnya menggunakan laser. Rupanya tato suami Anda termasuk jenis ini.

Bolehkah muslim membuat tato pada badannya? Nabi SAW bersabda, “Allah SWT melaknat wanita yang menyambung rambutnya, dan yang meminta untuk disambungkan, serta wanita yang mentato atau meminta ditato.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a). Allah SWT juga berfirman, “Dan aku (setan) benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku (setan) suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya. Barangsiapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (QS. An-Nisa`[04]: 119).

Berdasarkan ayat dan hadis diatas, maka Islam melarang muslim untuk bertato di bagian tubuh manapun, karena termasuk perbuatan menyakiti diri sendiri, merubah apa yang telah dikaruniakan Allah, serta mendorong orang untuk memamerkan bagian tubuhnya.

Lalu, bagaimana jika telah terlanjur melakukannya? Imam An-Nawawi mengatakan wajib menghapusnya jika tidak sulit dan tidak membahayakan kesehatan. Namun, jika tidak memungkinkan, maka yang bersangkutan cukup bertobat kepada Allah SWT. Tidak mungkin Allah membuat perintah yang menyusahkan orang. Allah SWT berfirman, “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS Al Baqarah [02]:185).

Apakah wudlu yang bersangkutan sah? Tetap sah, sebab tinta tato masuk di bawah permukaan kulit sehingga air wudlu tetap mengenai kulit anggota badan yang wajib dibasuh. Dengan demikian, shalatnya juga sah. Adapun tato yang menggunakan cat atau tinta yang menghalangi air wudlu sampai ke kulit, maka wudlu yang bersangkutan tidak sah. Ia wajib menghilangkan tato jenis ini sangat mudah.

Begitulah bu Ratih. Semoga jawaban ini benar-benar menghibur dan menyemangati suami Anda untuk shalat wajib dan shalat sunah. Semoga Anda sekelurarga menjadi keluarga penuh ibadah dan sakinah. Wallahu a’lamu bis shawab.

TRAUMA DENGAN LELAKI

December 21st, 2013 | Posted by admin_tsb in Konsultasi Keluarga Bahagia - (2 Comments)

TRAUMA DENGAN LELAKI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Tanya:

Assalamu’alaikum wr wb

sumber gambar: http://4.bp.blogspot.com/-QitZx2S0XiA/TZQ2zaP90sI/AAAAAAAAAGM/SdXSg70-QWQ/s1600/muslimah.jpg

sumber gambar: http://4.bp.blogspot.com/-QitZx2S0XiA/TZQ2zaP90sI/AAAAAAAAAGM/SdXSg70-QWQ/s1600/muslimah.jpg

Salam hangat untuk sahabat –sahabat Nurul Falah. Saya Dessi, gadis 20 tahun, yang sekarang tinggal di Surabaya. Sejak di kota pahlawan ini, keimanan saya benar-benar rapuh. Shalatpun sering saya tinggalkan, karena merasa sepertinya shalat sudah tidak ada gunanya sama sekali.

Muncul juga godaan dosa yang lain. Sekarang, saya berkali-kali bercinta dengan pria yang semuanya selalu sudah berkeluarga. Semula saya trauma dengan jejaka, sekarang lebih parah lagi trauma dengan lelaki siapa saja. Semua tidak bisa dipercaya.

Rapuh, rapuh keimanan saya. Mohon bimbingan agar selamat dari dosa dan kembali hidup dengan iman yang benar. Terima kasih pak ustad.

Dessi – Surabaya

Jawab:

Membaca pertanyaan Anda, saya teringat lagu religi Opick, “rapuh”, karena Anda berkali-kali menyebut kata itu untuk menggambarkan keimanan Anda. Saya memberi apresiasi yang besar kepada Anda yang jujur mengakui dosa-dosanya. Pengakuan dosa adalah awal dari langkah menuju kemajuan iman. Sebab, dari pengakuan itu, Anda akan memohon ampunan Allah. Orang terkutuk adalah orang yang berdosa, tapi tidak mengakui dosa-dosanya, sehingga tidak ada kemauan untuk memohon ampunan. Muslim terbaik bukan muslim tanpa dosa, tapi muslim yang mengakui dosa dan segera memohon ampunan Allah.

Untung Anda mengirim pertanyaan ini sekarang, sehingga tidak berlarut-larut dalam kesalahan besar. Apapun alasan yang dikemukakan, shalat tidak bisa ditinggalkan. Orang sakit yang tidak bisa menggerakkan anggota badan kecuali ibu jari, umpamanya,  masih terkena kewajiban shalat, yaitu dengan isyarat ibu jari itu. Jika bangunan sudah kehilangan pilarnya, ia akan roboh. Shalat adalah adalah pilar Islam. Oleh sebab itu, salah satu pembeda muslim atau kafir adalah pelaksanaan shalat. Nabi SAW bersabda, “Janjiku dengan mereka adalah shalat. Siapapun yang meninggalkannya maka ia kafir.” HR. Ahmad dari Buraidah r.a. Berdasar hadis ini, Anda harus segera bertaubat dan berjanji menjalankan shalat lima waktu bagaimanapun kesulitan hidup Anda.

Apakah Anda tidak terbalik? Seharusnya semakin besar kesulitan Anda, semakin banyak Anda bersujud kepada Allah, bukan semakin menjauhi shalat. Sebab shalat adalah sarana solusi seberat apapun masalah Anda. Allah SWT berfirman, “..dan mohonlah pertolongan Allah dengan sabar dan shalat..” (QS. Al Baqarah [2]:49)

Saya senang mendengar, bahwa sekarang sudah putus hubungan dengan pria yang sudah berkeluarga. Anda benar dan terhormat. Jika Anda teruskan, coba Anda renungkan betapa hancur hati istri dan anak-anaknya di rumah yang ditinggal suami atau bapaknya berselingkuh, walaupun dengan alasan-alasan yang katanya “Islami”. Kecuali jika sang istri mempersilakan Anda menjadi istri kedua, ketiga atau keempat bagi suaminya. Jika tidak, “Apakah Anda tega menari ceria di atas genangan air mata?”

Soal trauma dengan pria, hapuskan sekarang juga. Bersiaplah menikah dengan pria yang dipilih berdasar shalat istikharah. Anda harus tahu, trauma itu diharamkan, sebab berarti tidak ikhlas menerima takdir Allah. Jika Anda pernah ditinggalkan atau dikecewakan pria, tidakkah itu jawaban dari doa Anda sendiri, “Wahai Allah jika, ia baik untuk masa depan keimananku, maka pertemukan aku dan langgengkan rumah tanggaku dengannya. Dan jika ia tidak baik, jauhkan aku dari dia dan jauhkan dia dariku, lalu berilah aku pengganti yang lebih baik.”

Bismillah, shalatlah lebih sempurna, rukuk sujudlah yang lebih lama, untuk menghapus dosa dan taruma. Yakinlah, Allah akan mengirim pria yang terbaik sesuai dengan harapan Anda dan keluarga.  (Baca buku Terapi Shalat Bahagia). (Surabaya, 10 November 2013)