Header

MENGHADAPI KEKERASAN SUAMI

Assalamu’alaikum wr wb.

Ustad, saya ibu rumah tangga (25 tahun) yang sedang hamil untuk anak pertama. Sekarang memasuki bulan ke empat.  Pada saat-saat bersyukur atas kehamilan itu, saya mendapar ujian yang sangat berat. Suami saya bertindak kasar. Telah satu setengah tahun saya menjalani keadaan rumah tangga seperti ini. Semula saya berharap suami saya menjadi penyabar jika saya hamil. Tapi, ternyata tetap saja. Bahasa dan nada bicaranya sangat menusuk hati. Itupun berkali-kali dilakukan di depan banyak orang. Tidak jarang melakukan kekerasan fisik pada saya. Belum kering air mata saya usap, sudah mengalir lagi. Itulah yang saya alami, pak ustad.

Saya ingin tetap bersabar, tapi apa mungkin manusia selain nabi bersabar terus menerus. Apa yang harus saya lakukan?

Sekian terima kasih atas jawaban ustad.

Syukriyah (nama samaran).


Jawaban:

Wa’alaikumussalam wr wb.

Pengasuh ikut prihatin atas cobaan hidup ibu. Semoga kesabaran ibu selama ini membentuk anak ibu kelak menjadi pribadi penyabar, tahan ujian, ulet dan diberkahi sepanjang hidupnya.

Sebelum menjawab pertanyaan ibu, saya kutipkan firman Allah, “Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Wahai Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam Firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang dhalim”. (QS at-Tahrim: 10-12). Ayat itu menggambarkan adanya tipe rumah tangga di mana seorang istri menanggung derita karena ulah suaminya. Inilah yang ibu alami saat ini. Pada ayat sebelumnya, digambarkan tipe sebaliknya, yaitu suami yang menderita karena ulah istrinya, yaitu Nabi Nuh dan Nabi Luth. Insyaallah ibu akan dibangunkan rumah indah di Surga Firdaus seperti yang disediakan Allah untuk istri Fir’aun. Pengasuh mohon maaf, sama sekali tidak bermaksud menyamakan suami ibu dengan Fir’aun.

Sekalipun ibu sudah menduga jawaban dari pengasuh adalah nasehat sabar, pengasuh tetap saja menasehati demikian. Sebab nasehat tersebut bukan nasehat biasa, tapi bersumber dari Allah SWT dan berkali-kali disebut dalam Al-Qur’an. “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan sungguh, yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ (QS. Al-Baqarah [2]:45). “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah [2]:153).

Kesabaran yang dimaksud pengasuh bukanlah kesabaran pasif, tapi kesabaran aktif. Artinya, di tengah-tengah kesabaran itu, ada usaha untuk mencari solusi. Ada baiknya, ibu berbicara dari hati ke hati. Jangan-jangan hanya karena kesalah-fahaman di antara Anda berdua. Carilah waktu yang paling tepat. Wudhu dan shalatlah dua rakaat sebelum ibu memulai berbicara kepadanya. Setiap shalat malam, resapilah bacaan Ihdinas shirathal mustaqim, sambil memohon dalam hati agar Anda diberi kekuatan iman dan suami Anda diluruskan iman dan akhlaknya. Bisa juga Anda membaca Surat Ar-Ra’d 31, lalu berdoa, “Wahai Allah semua makhluk dalam genggamanMu. Tidak sulit bagiMu menggeser gunung, membelah bumi dan menghidupkan orang yang telah mati. Maka sangat mudah bagiMu untuk melunakkan hati suami saya”.

Jika Anda lakukan hal di atas selama dua bulan dan tidak ada hasil, maka sebaiknya Anda berdua datang ke psiokolog atau ahli agama. Pengasuh juga siap membantu Anda.  Saya sangat yakin ada perubahan besar pada suami Anda setelah itu, atau setelah kelahiran sang anak yang menjadi buah hati berdua. Wallahu A’lam.