Header

10 Etika Berlebaran (Idul Fitri)

Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag (Gubes UINSA Surabaya)

  1. Sebelum berangkat, pastikan rumah Anda aman dari kriminal dan musibah. Berdoalah, “Bismillah, tawakkaltu ‘alallah” (dengan menyebut nama Allah, aku pasrahkan segalanya kepada Allah), agar mendapat perlindungan harta dan keluarga, serta keselamatan perjalanan. Patuhilah protokol kesehatan.
  2. Pilihlah waktu bertamu yang tepat, dan durasi yang bijaksana. Ucapkan salam dengan hangat, lalu katakan, “taqabbalallahu minna wa minkum” (semoga Allah menerima ibadah masing-masing kita). Boleh juga ditambah, “Minal ‘a-idin wal fa-izin, mohon maaf lahir batin).
  3. Berikan waktu bicara lebih banyak kepada lawan bicara. Ajukan pertanyaan atau pancingan agar ia puas bercerita. Dengarkan dengan antusias. Jangan bercerita tentang diri dan keluarga Anda. Jika ditanya pun, jawablah yang singkat, agar lawan bicara bisa melanjutkan ceritanya.
  4. Bawalah oleh-oleh, meskipun sederhana, semata-mata untuk tanda kasih dan keakraban.
  5. Nikmatilah menu hidangan yang ada, dan ambillah secukupnya. Jangan membawa pulang hidangan, kecuali dipersilakan tuan rumah. Jangan sekali-kali mengritik hidangan, dengan bahasa sehalus apa pun. Untuk penghormatan, Anda boleh membatalkan puasa sunah. Boleh juga tetap berpuasa, asalkan meminta ijin tuan rumah sebelum berangkat bertamu. Hindari bertamu dalam keadaan lapar, kecuali tuan rumah telah menginformasikan kesiapan hidangan makan sebelumnya.
  6. Hindari topik yang berat dan sensitif. Misalnya, tentang politik, hukum Islam, pernikahan, anak, gaya hidup, dan sebagainya. Hal itu bisa menyinggung perasaan orang yang beda paham politik dan keagamaan, atau belum menikah, atau belum dikaruniai anak, atau masih berjuang merubah nasib. Hindari juga bercerita tentang kesuksesan dan kesalehan anak, saudara, atau anggota keluarga, agar tidak menimbulkan kecemburuan dan ketersinggungan anggota keluarga yang lain.
  7. Jagalah kebersihan, kerapian dan kebersihan selama bertamu. Jangan merepotkan atau mengecewakan tuan rumah. Misalnya, anak-anak Anda yang membuat lantai, taman, atau asesori rumah berantakan.
  8. Dalam acara reuni, hindari hal-hal yang menimbulkan minder atau ketidaknyamanan teman, dan mungkin kecemburuan pasangan Anda. Tanggalkan semua atribut Anda. Jangan sakit hati, ketika teman menyapa Anda dengan panggilan yang unik dan khas semasa berteman tempo dulu.
  9. Berhias dan berbusanalah dengan sederhana, dengan tetap memperhatikan kepantasan dan bau badan. Berlebihan dan pamer itu dosa.
  10. Jika Anda tuan rumah, segera temuilah tamu. Berikan hidangan yang terbaik sesuai kemampuan, dan penyambutan yang mengesankan. Ketika tamu berpamit, berdirilah, berikan oleh-oleh jika memungkinkan, dan antarkan sampai ke pintu gerbang dengan iringan doa, “fi amanillah” (semoga selalu dalam perlidungan Allah). Jawablah dengan doa pula, “wa-iyyakum” (semoga kalian mendapat perlindungan yang sama dari Allah).

(Surabaya, 29-4-2022 by Moh. Ali Aziz, penulis Terapi Shalat Bahagia)

PEDOMAN PENYEMBELIHAN QURBAN

June 17th, 2021 | Posted by admin_tsb in Lain-lain - (0 Comments)

PEDOMAN PENYEMBELIHAN QURBAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

  1. Definisi. Istilah yang benar, al udl-hiyah yaitu penyembelihan hewan pada hari raya kurban dan 3 hari sesudahnya (11-13 Dzulhijjah). Di Indonesia, lebih dikenal istilah kurban (pendekatan), seperti persembahan yang dilakukan dua putra Adam a.s untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT (QS. Al Maidah [5]: 27). 
  2. Dasar Hukum:  QS. Al Kautsar [108]: 2; QS. Al Hajj [22]: 28, 36-38; dan sabda Nabi SAW, bahwa kurban adalah perbuatan yang paling dicintai Allah, dan darahnya diterima oleh-Nya sebelum menyentuh tanah (HR. At Tirmidzi dari Aisyah r.a).
  3. Hukum: Sunah muakkadah (sangat dianjurkan) bagi yang mampu, dan wajib bagi yang bernazar. Nabi SAW: “Siapa yang tidak berkurban padahal mampu, maka jangan mendekat tempat shalat kami” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah r.a). Nabi SAW menyembelih sendiri 2 ekor kambing dengan bertakbir (HR. Bukhari dan Muslim). “Aku diperintah berkurban, dan itu sunah bagimu” (HR. At Tirmidzi). Abu Bakar, r.a dan Umar, r.a tidak pernah menyembelih kurban, karena khawatir dianggap wajib oleh masyarakat.  
  4. Jenis Hewan: hewan ternak (al-an’am): unta, sapi, kerbau, dan kambing (QS. Al Hajj [22]: 34) dengan ketentuan: (a) umur kambing (1 th), sapi (2 th), unta (5 th), (b) tidak cacat fisik (misalnya sakit, buta, pincang, sangat kurus, tanduknya putus, dsb), (c) tidak ada ketentuan jenis kelamin. Di Indonesia, ternak betina yang produktif dilarang untuk disembelih  (UU 18/2009, pasal 18 ayat 2).
  5. Waktu Penyembelihan: selama 4 hari, yaitu tanggal 10 Dzulhijjah setelah shalat idul adha sampai tanggal 13 Dzulhijjah sebelum maghrib. Nabi SAW: ”Semua hari tasyriq (11-13 Dzulhijjah) adalah hari-hari penyembelihan” (HR. Ahmad). Pada 4 hari itu, dianjurkan membaca takbir setiap usai shalat fardlu.
  6. Jumlah Pengorban: 1 ekor sapi dan sejenisnya untuk 7 orang, dan 1 ekor kambing untuk satu orang atau satu keluarga berapa pun anggotanya (Maadzhab Syafi’i). Menurut madzhab Maliki dan Hanbali: boleh 1 ekor kambing untuk dirinya sendiri dan semua anggota keluarganya, sebab kurban adalah fardlu kifayah. Para sahabat juga melakukan demikian (HR. Ibnu Majah dan At Tirmidzi). Jika jumlah pengorban melebihi ketentuan di atas, maka statusnya bukan kurban, melainkan sedekah, sekaligus pendidikan dan syiar Islam.
  7. Kurban untuk yang telah meninggal. Madzhab Syafi’i: tidak boleh, kecuali ia berwasiat sebelum meninggal. Semua dagingnya harus diberikan kepada fakir miskin. Madzhab  Maliki: makruh. Madzhab Hanafi dan Hanbali: boleh, seperti sedekah pada umumnya dari keluarga untuk menambah pahala si mayit.
  8. Porsi Pembagian Daging: 1/3 dimakan sendiri pada hari itu, 1/3 lagi disimpan untuk dimakan kapan saja, dan 1/3 sisanya dibagikan kepada masyarakat. Daging boleh juga diberikan semuanya untuk masyarakat. Khusus pengorban yang bernazar, haram memakannya.
  9. Penjualan Daging: daging dan kulit haram dijual oleh pengorban, tapi boleh bagi penerimanya. Nabi SAW: ”Jangan menjual daging hewan yang disembelih untuk denda haji dan kurban. Makanlah dan sedekahkan, nikmatilah dengan kulitnya juga, tapi jangan dijual” (HR. Ahmad dari Sa’id, r.a).
  10. Doa Peneyembelihan: jika memungkinkan, sebaiknya pengorban menyaksikan penyembelihan, atau lebih baik lagi menyembelihnya sendiri dengan berdoa, Bismillahi, wallahu akbar. Wahai Allah, terimalah penyembelihan kurban atas nama …..ini.
  11. Penerima Daging: muslim di daerah setempat. Boleh untuk luar daerah/negeri jika kedaannya lebih membutuhkan. Non-muslim yang hidup damai bersama umat Islam boleh menerimanya.
  12. Tambahan: selain orang yang berhaji, dianjurkan puasa ’arafah, yaitu tanggal 9 Dzulhijjah (sehari sebelum Idul Adlha). Allah SWT akan menghapus dosa tahun sebelumnya dan tahun berikutnya.  

Surabaya, 05-08-2018 / 25 Dzul Qa’dah 1439 H
Sumber: (1) Sabiq, As-Sayyid, Fiqh As Sunnah, Dar Al  Kitab Al  ‘Arabi, Bairut, 1973, Cet II, (2) Ibnu Rusyd Al Hafidh, Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid,Juz 1, Penerbit Dar Al Fikr, tt, (3)Wahbah Az Zuhaily, Al Fiqhul Islamy wa Adillatuhu, (4) Sulaiman Rasyid, Fiqih Islam, Sinar Baru Al Gensindo, Bandung, 2007, cet 40, (5) Hamka, Tafsir Al Azhar, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985

CARA SHALAT GERHANA

May 25th, 2021 | Posted by admin_tsb in Lain-lain - (0 Comments)

CARA SHALAT GERHANA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”


A. Bukti Kekuasaan Allah. Gerhana adalah fenomena alam biasa, yang terjadi secara rutin beberapa kali dalam setiap tahun, sebagai bukti kekuasaan Allah. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah menyembah matahari maupun bulan. Tapi, sembahlah Allah Yang menciptakannya, jika hanya Dia yang kamu sembah” (QS. Fusshilat [41]: 37). “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala penjuru bumi dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Quran itu benar. Tidak cukupkah bahwa Tuhanmu benar-benar menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Fusshilat [41]: 53). Jadi, gerhana matahari (kusuf) dan gerhana bulan (khusuf) sama sekali bukan pertanda adanya bencana, penyakit, dan sebagainya.


B. Dasar dan Hukum Shalat Gerhana. Nabi SAW bersabda, ”Sungguh matahari dan bulan adalah termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah. Kedua gerhana itu tidaklah terjadi karena mati dan hidupnya seseorang. Maka, jika kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, bersedekahlah, dan shalatlah” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari ’Aisyah, r.a).
Hukumnya: sunah muakkadah (sangat dianjurkan) bagi laki-laki dan perempuan. Shalat gerhana diperintahkan mulai tahun 2 H.


C. Waktu Shalat: mulai muncul gerhana sampai selesai. Shalat tetap sah, sekalipun di tengah pelaksanaan shalat, gerhana sudah berakhir. Boleh juga dilakukan pada waktu-waktu terlarang shalat, yaitu setelah shalat subuh dan shalat ashar, dan sebagainya.


D. Cara Shalat: sebanyak dua raka’at, dengan dua rukuk dan dua sujud pada masing-masing raka’at. Caranya: (1) niat dalam hati ketika mengangkat tangan pada takbir pertama, (2) membaca Al Fatihah dan Surat Al Qur’an, (3) rukuk, (4) i’tidal, dan membaca Al Fatihah dan Surat Al Qur’an, (5) rukuk, (6) i’tidal, (7) sujud, (8) duduk di antara dua sujud, (9) sujud kedua, (10) berdiri untuk rakaat kedua, dengan cara yang sama dengan raka’at pertama, (11) tasyahud, (12) salam.


E. Beberapa Anjuran (bukan wajib): (1) mandi sebelum shalat, (2) dikerjakan secara berjamaah di masjid. Bisa juga di rumah, dengan berjamaah atau sendirian. Jika sendirian, maka tanpa khutbah, (3) tidak ada azan dan iqamah, hanya panggilan “as-shalaatu jaami’ah” (marilah kita shalat berjamaah), (4) khutbah (satu atau dua khutbah) setelah shalat. Jika semua jamaahnya perempuan, boleh khatibnya perempuan, (5) imam mengeraskan bacaan Al Qur’an, (6) mandi sebelum shalat, (7) memanjangkan bacaan Al Qur’an (kira-kira 80-100 ayat), sedangkan bacaan Al Qur’an pada raka’at kedua lebih pendek daripada rakaat pertama. Shalat dengan hanya membaca Al Fatihah tetap sah, (8) memanjangkan rukuk dan sujud dengan mengulang lebih banyak doa di dalamnya (kira-kira sepanjang bacaan 50-100 ayat), (9) memperbanyak doa, zikir, takbir, sedekah dan perbuatan baik lainnya.

Surabaya, 24-05-2021