Header

KHUTBAH: MANUSIA ANEH

September 8th, 2020 | Posted by admin_tsb in Taushiyah/Khutbah - (0 Comments)

KHUTBAH: MANUSIA ANEH
Khutbah Jum’at Masjid Nasional Al Akbar Surabaya 4/9/2020
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ  وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّابَعْدُ فَيَا عِبَادَاللهِ اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ  قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Para jamaah yang berbahagia.

            Pada khutbah siang ini, saya akan menyampaikan khutbah berjudul ”Manusia Aneh.” Salah satu ayat yang menunjukkan keanehan manusia adalah Surat Al Muddats-tsir ayar 49-51: 

فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ كَأَنَّهُمۡ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۢ 

“Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)? Seakan-akan mereka itu keledai liar, yang lari terkejut, lari dari singa.

Allah heran, mengapa orang-orang kafir menjauhi Nabi, padahal Nabi mengajarkan keselamatan, bukan kesengsaraan. Kanehan mereka itu digambarkan dalam Al Quran seperti keledai liar yang melompat, lalu lari kencang, karena melihat seekor singa. Ia terus berlari, padahal singa itu sudah sangat jauh.

Para jamaah yang berbahagia.

Di mata Allah, kita ini juga manusia aneh. Kita meminta petunjuk jalan yang benar atau shiraathal mustaqim dalam setiap shalat, tapi kita justru memilih jalan bengkok, yang menyengsarakan masa depan, dengan seribu alasan. Sikap demikian ini seperti pengemis yang kahausan dan meminta air dingin. Tapi, ketika beri, minuman itu justru dibuangnya.

Kita manusia aneh. Dalam setiap doa, meminta dijauhkan dari hutang, tapi setiap ada tawaran barang dengan angsuran murah diterima. Padahal, barang itu bukan kebutuhan pokok, melainkan hanya untuk penambah gaya dan gengsi. Akibatnya, ketika ada kebutuhan pengobatan dan pendidikan anak, atau kebutuhan pokok lainnya, ia pontang-panting mencari pinjaman. Ia mengabaikan perintah Allah untuk mengatur ekonomi keluarga secara terencana. Allah berfirman dalam Surat Al Hasyr ayat 18,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap orang memikirkan apa yang yang telah dilakukan (sebagai persiapan) untuk hari esok”

Para jamaah yang berbahagia.

Kita manusia aneh. Kita mengakui Al Quran sumber petunjuk. Tapi, kitab suci itu hanya diletakkan di ruang tamu, di kantor, atau di mobil hanya untuk asesori dan simbol, bahwa ia keluarga santri dan pecinta Al Qur’an. Atau Al Quran sunguh-sunguh kita baca, tapi hanya untuk kemudahan rizki dan kesehatan. Akibatnya, tetap saja akhlaknya tak berubah, ya buta halal-haram dalam mengumpulkan rizki, bahkan uang milik rakyat pun juga dicuri, ya tetap kasar dan zalim di tengah keluarga, ya tak terkontrol bicaranya, dan tak merasa bersalah sama sekali, padahal kata-katanya amat menusuk perasaan sesama muslim, atau penganut agama lain.   

Kita manusia aneh. Berkali-kali kita meneriakkan cinta Rasul, atau pejuang sunah Rasul. Tapi, pada masa pandemi ini, keluar tak memakai masker, bergaya sok paling mengerti takdir, padahal hal itu membahayakan diri sendiri dan orang lain. Rasul yang mana yang kita cintai itu? Ia juga membuang sampah seenaknya, bahkan kadangkala membuangnya ke sungai. Astaghfirullah. Rasul yang mana yang dicintai itu? Ia tidak hanya boros bicara, tapi juga boros air, boros plastik dan tas kresek, padahal hal itu merusak lingkungan yang akan menyusahkan hidup anak cucu kita. Berkendara di jalan raya juga tak mengindahkan kesopanan dan keselamatan. Rasul yang mana yang kita cintai itu, dan sunah Nabi yang mana yang diperjuangkan itu.?  

Sebab Rasulullah SAW sama sekali tidak mengajarkan semua itu. Allahumma shalli ala Muhammad.   

Hadirin yang berbahagia

Pada era informasi ini, bertambah banyak orang aneh. Setiap jam mengirimkan nasihat-nasihat agama kiriman orang melalui HP. Padahal, ia tidak tahu sumber aslinya, tidak dicek benar tidaknya, juga belum paham betul isinya, apalagi menjalankannya. Tidakkah itu terkena peringatan Allah dalam surat As Shaf ayat 2,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak engkau lakukan?

Barangkali inilah jaman yang pernah diprediksi, yaitu lebih banyak pembicara, tapi ia tak punya pengetahuan agama, dan gagal menjadi tauladan bagi masyarakat sekitarnya.

Para jamaah yang berbahagia.

Masih banyak keanehan dalam hidup ini. Tidak jauh-jauh, bisa jadi keanehan itu pada diri kita sendiri. Semoga Allah mengampuni kita dan membebaskan kita dari predikat manusia aneh, sebagaimana disebut dalam ayat di atas.

اَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهُ لِى وَلَكُمْ اِنَّهُ هُوَاالْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

TABLET BERLAPIS DUA

July 11th, 2020 | Posted by admin_tsb in Taushiyah/Khutbah - (2 Comments)
DSC_0027

TABLET BERLAPIS DUA
Khutbah Idul Adha 1441 H / 31-7-2020
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

 اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُلِلَّهِ/  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ / وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهْ/ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهْ / اَمَّابَعْدُ/  قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Kaum muslimin Yth.

            Pada Khutbah Idul Adha pagi ini, saya bacakan Surat Al Kautsar ayat 1-3, surat favorit, paling sering kita baca dalam shalat, karena paling pendek:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ

”Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka, kerjakanlah shalat demi Tuhanmu, dan sembelihlah hewan kurban. Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus dari rahmat Allah.”

Saudara-saudara sekalian yang saya hormati

Firman Allah ini menjelaskan tiga hal. Pertama, nikmat Allah yang telah kita terima sungguh amat banyak, dalam kondisi apap pun. Andaikan hari ini kita sakit, kita tetap mendapat nikmat besar, yaitu masih hidup, dan itu berarti masih bisa menambah pahala dan meminta ampunan. Andaikan juga, hari ini kita tak punya uang sedikit pun, kita masih mendapat nikmat besar, yaitu bisa bersujud. Ketahuilah, sekali sujud lebih besar nilainya daripada dunia dan isinya. Tapi, dalam Alquran dinyatakan, hanya sedikit di antara kita yang ingat dan mensyukuri yang demikian itu. Kita makhluk yang susah diatur, sehingga kita belum berubah juga, meskipun Allah telah mengingatkan kita dengan firman-Nya sebanyak 31 kali dalam Alquran, ”Fa bi ayyi alaa-i rabbikumaa tukadzzibaan” (mengapa kamu tidak mengakui nikmat besar Allah itu, dan terus mengeluh?)

Kedua, ada dua cara untuk menyatakan syukur itu, yaitu ibadah individual dan ibadah sosial. Antara lain, mengerjakan shalat untuk kesalehan pribadi, dan menyembelih kurban untuk kesejahteraan manusia. Kita harus menjadi ”tablet berlapis dua.” Artinya, satu sisi, secara pribadi, kita adalah orang yang berkualitas, bersih hatinya karena banyak bersujud, dan pada sisi lainnya, kita muslim yang peduli lingkungan. Suatu saat, tangan kita bertakbir untuk shalat, dan pada saat yang lain kita gunakan tangan kita untuk menyembelih kurban dan memberi pertolongan kepada masyarakat. Oleh sebab itu, demi kemanusiaan, pada masa pandemi ini, kita boleh menggantikan menyembelih hewan dengan memberikan infak untuk menyelamatkan nyawa manusia.  Jika Anda ”tablet berlapis dua,” maka Anda pasti menjadi obat pengusir penderitaan manusia, dan Anda pasti manusia berkelas di mata Allah.

Ketiga, orang yang mengabaikan ajaran Nabi, tidak pernah berpikir halal haram, dan dalam otaknya hanya kesenangan semata, atau bahkan mengejek ajaran Nabi secara terus terang atau secara tersirat, maka ia tidak akan mendapat rahmat Allah. 

 Melalui hari raya idul qurban tahun ini, kita memohon kepada Allah, agar sifat-sifat hewan yang masih melekat pada diri kita dimatikan Allah bersamaan dengan penyembelihan jutaan hewan pada idul adha ini. Kita pasti sudah tahu sifat-sifat hewan yang hendak kita matikan itu, yaitu free sex, buta halal haram, hedonis, tidak pernah berpikir tentang tanggung jawab di akhirat, dan sebagainya. 

Sebagai penutup, semoga saudara-saudara kita yang telah wafat, yaitu para pasien covid 19, para dokter, paramedis, pejabat, sukarelawan atau siapa saja, lebih-lebih yang sedang melaksanakan tugas kemanusiaan, dicatat Allah sebagai syuhadak, sedangkan keluarganya diberi kesabaran. Semoga juga Allah memberi kesembuhan semua orang yang sakit, baik muslim atau pun non muslim, agar bisa melanjutkan tugas-tugas untuk kehidupan keluarganya, atau pun tugas-tugas pengabdiannya di tengah masyarakat.

             اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Duduk 10 detik. Lalu berdiri lagi melanjutkan khutbah kedua:

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُلِلَّهِ/  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ / وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهْ/ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهْ / اَمَّابَعْدُ/  قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ, وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

PERJUANGAN MENUJU KEMULIAAN
Khutbah Idul Fitri 1441 H / 24-5-2020
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

 اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُلِلَّهِ/  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ / وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهْ/ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهْ / اَمَّابَعْدُ/  قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Kaum muslimin Yth.

Pada idul fitri ini, kita bersyukur, bisa menyelesaikan puasa ramadhan dengan rangkaian ibadah di dalamnya, yaitu sedekah, zakat, tarawih, witir, baca Alquran dan sebagainya. Semoga semuanya diterima Allah, dan mendatangkan kasih dan ampunan-Nya untuk kita semua, juga untuk semua sesepuh dan saudara kita yang telah kembali ke hadirat Allah.

Tujuan puasa adalah ”la’allakum tattaquun,” yaitu supaya kita menjadi orang baik. Jika setelah ramadan ini, ibadah dan akhlak kita menjadi lebih baik, maka berarti puasa kita diterima Allah. Demikian juga, lailatul qadar adalah malam kemuliaan. Jika setelah lailatul qadar, tutur kata, sikap dan perbuatan kita semakin mencerminkan kemuliaan, maka berarti, kita telah mendapatkan berkah malam seribu bulan itu.

Melalui khutbah ini, kita memohon pertolongan kepada Allah agar setelah idul fitri ini, kita dijadikan pemimpin yang lebih baik, menjadi suami atau istri yang jauh lebih baik, lebih sabar dan lebih saling menghargai; menjadi ayah dan ibu yang lebih bijaksana; menjadi anak yang lebih berprestasi dan berakhlak; menjadi muslim yang lebih giat bekerja dan lebih dekat dengan orang miskin, lebih-lebih pada saat pandemi yang sungguh berat mereka rasakan sekarang ini.

Sebagai penutup, semoga saudara-saudara yang telah wafat , terutama pasien covid 19 dicatat Allah sebagai syuhadak. Semoga juga para dokter, paramedis, pejabat, sukarelawan atau siapa saja yang wafat ketika dalam melaksanakan tugas kemanusiaan, ditempatkan Allah dalam surga, bersanding dengan para Nabi dan semua pahlawan kekasih Allah. Semoga yang sedang sakit segera diberi kesembuhan, dan kita semua diselamatkan Allah dari semua penyakit dan bencana dunia dan akhirat.

             اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Duduk 10 detik. Lalu berdiri lagi melanjutkan khutbah kedua:

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُلِلَّهِ/  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ / وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهْ/ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهْ / اَمَّابَعْدُ/  قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ, وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ