Header

 

KHUTBAH SINGKAT IDUL ADHA 1442/2021
MUHASABAH DAN BAHAGIAKAN KELUARGA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُلِلَّهِ/  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ / وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهْ/ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهْ / اَمَّابَعْدُ/  قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin Yth.

Pada khutbah pagi ini, saya bacakan satu hadis Nabi yang amat cocok untuk hari-hari yang berat dan memprihatinkan ini. Seorang sahabat yang sangat akrab dengan Nabi, ‘Uqbah bin ‘Amir, r.a pernah bertanya kepada Nabi SAW: 

يَارَسُوْلَ اللهِ مَاالنَّجَاةُ، قَالَ أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ، وَابْكِ عَلَى خَطِيْئَتِكَ

Wahai Rasulullah, apa saja kiat untuk selamat? Nabi menjawab, “Kekanglah lidahmu, tetaplah di rumahmu, tangisilah dosamu” (HR. At Tirmidzi).

Hadirin Yth.

Berdasarkan hadis di atas, untuk keselamatan dunia dan akhirat, ada tiga hal  yang harus kita lakukan. Pertama, hati-hatilah ketika bicara. Ada pepatah, “Think today and speak tomorrow” (pikirkan sekarang dan ucapkan besok). Jangan asbun (asal bunyi) atau asplak (asal njeplak). Banyak orang putus persaudaraan, atau masuk penjara, atau meregang nyawa, karena bicaranya yang tanpa otak dan tanpa hati. Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a mengatakan, “Lidah orang bijak di belakang hatinya, dan lidah orang bodoh di depan hatinya.” Artinya orang pintar ditandai dengan bicara yang difilter dengan akal dan hati, dan orang bodoh berbicara tanpa dipikirkan dan dipertimbangkan terlebih dahulu.  

Kedua, bahagiakan keluarga, sehingga semua anggota keluarga senang tinggal di rumah. Atau, jangan keluar rumah, kecuali ada keperluan yang amat-amat penting. Sebab, hal itu tindakan boros atau mubazir, atau tindakan yang sia-sia, dan orang demikianlah yang paling disenangi setan. Jadikan keluarga sebagai surga (baiti jannati), bukan neraka. Bangunlah komunikasi dalam keluarga dengan akrab, menyenangkan dan menggairahkan. Jadilah pendengar baik, jangan suka memotong pembicaraan pasangan dan anggota keluarga lainnya. Jangan menjadi manusia autis, yang sibuk dengan gajetnya sepanjang hari, seolah tak ada manusia di sekelilingnya yang bisa diajak bicara.  Sediakan waktu untuk berakrab ria dengan keluarga. Inilah ibadah dalam keluarga yang berlipat pahala, dan banyak orang tidak menyadarinya. Khusus pada masa pandemi ini, sekali lagi, jangan keluar rumah, kecuali sangat penting, sebab kita wajib menjaga keselamatan diri, keluarga, dan masyarakat luas.

Ketiga, sediakan waktu untuk muhasabah yaitu menghitung kesalahan masa lalu setiap selasai shalat, atau ketika menunggu waktu shalat di masjid, atau ketika bersiap tidur. Ingatlah satu persatu dosa yang pernah kita lakukan sejak remaja, dosa kecil dan besar. Ingatlah betapa berat siksa Allah jika tidak mendapat ampunan Allah, lalu istighfar dan tobatlah.

Muhasabah atau introspeksi itu juga diperlukan, agar kita merasa sok suci dan memandang orang lain kotor dan sesat. Jangan-jangan dalam panilaian Allah, yang kotor dan sesat adalah kita sendiri. Na’udzu billah.         

Hadirin Yth.

Semoga Allah memberi kekuatan kita untuk menjalankan tiga pesan Nabi di atas, yaitu  jaga mulut, jaga keselamatan dan kebahagiaan keluarga, dan sering-seringlah muhasabah atau introspeksi. Semoga khutbah ini bermanfaat. 

           اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Duduklah 7 detik. Lalu berdiri lagi melanjutkan khutbah kedua:

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُلِلَّهِ/  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ / وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهْ/ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهْ / اَمَّابَعْدُ/  قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ, وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Catatan: (1) Khutbah idul adha dilakukan setelah shalat, (2) khutbah bisa satu kali (tanpa duduk dan tanpa khutbah kedua), atau dua kali dengan selingan duduk di antara dua khutbah.

KHUTBAH IDUL FITRI 1442/2021
KECERDASAN MENJAWAB TANTANGAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

 اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُلِلَّهِ/  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ / وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهْ/ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهْ / اَمَّابَعْدُ/  قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Kaum muslimin Yth.

Inilah idul fitri, hari kembali kepada kesucian. Selama setahun, sekian banyak sampah yang mengotori otak dan hati kita. Hari ini, semua sampah dan kotoran itu kita bersihkan melalui puasa di siang hari dan berlama-lama sujud di malam hari selama sebulan penuh. Bersyukurlah dan bergembiralah. Deretan panjang ibadah Ramadan itu sekarang kita akhiri dengan shalat idul fitri, lalu kita saling mendoakan dan saling memaafkan. Sekali lagi, bersyukurlah dan rayakan kegembiraan ini.

Tidak hanya itu, kita juga tak pernah absen memohonkan rahmat dan ampunan untuk semua keluarga kita yang telah kembali di sisi Allah, khususnya ibu dan bapak kita. Pada pembuka khutbah ini, marilah kita berdoa juga, semoga semua anggota Polri dan TNI, dokter, perawat, sukarelawan, dan semua pegiat kemanusiaan, serta pejuang negara yang gugur dalam melaksanakan tugas mendapat rahmat dan ampunan Allah, serta dicatat sebagai syuhadak.

Kaum muslimin Yth.

          Pada khutbah pagi ini, saya akan berbicara tentang pentingnya kecerdasan untuk menjawab berbagai tantangan menuju peradaban Islam. Untuk itu, saya akan menceritakan sebuah kisah tentang kekuatan otak yang menarik, yang terjadi pada tahun 80-an Hijriyah.

Pada tahun-tahun itu, Baghdad terkenal sebagai pusat kekuasaan dan peradaban Islam. Penguasa Romawi mengirim utusan untuk menguji kejeniusan ilmuwan Islam. Utusan itu dipersilakan menaiki panggung besar. Ia lalu mengajukan tiga pertanyaan, dan mengharap jawaban yang memuaskan dari para ulama dan ilmuwan Islam. Pertama, ada apa sebelum adanya Allah?. Kedua, ke arah mana wajah Allah menghadap, dan ketiga, apa yang dilakukan Allah saat ini?

Ketika para ulama dan ilmuwan bersiap menjawab, tiba-tiba seorang anak berdiri mengangkat tangan, siap menjawab semua pertanyaan itu. Si anak meminta utusan Romawi untuk menghitung mundur dari angka sepuluh sampai angka satu. “Adakah angka sebelum angka satu?,” tanya si anak. “Tidak ada,” jawab utusan Romawi. “Maka, jawaban pertanyaan pertama tuan adalah, bahwa sebelum adanya Allah, tidak ada apa pun,” kata si anak meyakinkan yang disambut tepuk tangan hadirin.

Sebelum menjawab pertanyaan kedua, si anak meminta utusan Romawi menyalakan lilin. Lalu ia bertanya, “Kemanakah cahaya lilin itu menghadap?” “ke semua arah.” “Maka, jawaban untuk pertanyaan tuan yang kedua, bahwa Allah adalah nur atau cahaya dan cahanya menerangi semua penjuru,” kata si anak dengan tegas, dan tepuk tangan panjang hadirin menggema ke semua ruangan. Utusan Romawi tertunduk malu, sebab ia bertekuk lutut dengan jawaban si anak, bukan para ulama dan ilmuwan senior.

Kaum muslimin Yth.

Setelah bisa menaklukkan logika utusan Romawi yang menguji kemajuan peradaban Islam di Baghdad, si kecil yang cerdas itu selanjutnya memohon pengatur acara. “Sekarang, saya minta tuan turun panggung, dan ganti saya yang di atas untuk menjawab pertanyaan yang ketiga, yaitu “apa yang sedang dikerjakan Allah saat ini?” Setelah utusan Romawi turun, si anak di atas panggung berkata, “Yang dikerjakan Allah saat ini adalah menurunkan kewibawaan orang yang sombong dan tidak percaya Allah, dan mengangkat kehormatan orang yang mempercayai-Nya.” Jawaban diplomatis dan analogis si anak ini amat mencengangkan semua orang dan memaksa utusan Romawi mengakui keagungan peradaban Islam saat itu.

Kaum muslimin Yth.

Kita pasti penasaran, siapakah anak kecil itu. Tidak lain adalah anak yang kemudian tumbuh menjadi Imam Abu Hanifah (80-150 H/699-767 M). Dialah imam yang paling senior di antara empat imam mazhab dalam khasanah intelektual Islam, yaitu Imam Malik (93-179 H atau 712-795 M), Imam Syafi’I 150-204 H atau 769-820), dan Imam Ahmad (164-241 H atau 780-855 M) (Nuh, 2014: 167).

Kisah di atas menggambarkan salah satu tantangan pemikiran yang dihadapi dunia Islam. Dan, tantangan itu begitu mudah dijawab dengan kekuatan otak yang dianalogikan dengan fenomina alam. Itulah kekuatan otak yang amat dihargai Al Qur’an, dan dalam berbagai ayat, Allah menagih kita dengan firman-Nya, ”afala ta’qilun? (mengapa engkau tidak berpikir?).” Albert Einstein mengatakan, “Look deep into nature, you will understand everything better” (pelajarilah alam semesta lebih mendalam, engkau akan lebih mudah memahami segala sesuatu).

Dalam beberapa hal, kebenaran bisa kita peroleh tanpa dalil wahyu. Maka, akan lebih dahsyat dan sampai kepada kebenaran yang hakiki jika akal itu tercahayai wahyu Al Qur’an, kitab suci yang kita kaji atau tadarus selama Ramadan, bulan suci yang beberapa jam yang lewat telah meninggalkan kita.

Semoga khutbah ini bermanfaat.  

           اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Duduklah 7 detik. Lalu berdiri lagi melanjutkan khutbah kedua:

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُلِلَّهِ/  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ / وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهْ/ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهْ / اَمَّابَعْدُ/  قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ, وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Catatan: (1) Khutbah idul fitri dilakukan setelah shalat, (2) khutbah bisa satu kali (tanpa duduk dan tanpa khutbah kedua), atau dua kali dengan selingan duduk di antara dua khutbah.

KHUTBAH IDUL FITRI 1442/2021
EMPAT KIAT SEDERHANA MERAIH KEBAHAGIAAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

 اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُلِلَّهِ/  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ / وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهْ/ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهْ / اَمَّابَعْدُ/  قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Kaum muslimin Yth.

Hari ini, kita bersyukur kepada Allah, bisa menyelesaikan puasa Ramadan selama sebulan. Tidak hanya berpuasa, kita juga berlomba sedekah semampunya, dan memperbanyak shalat dan zikir dalam bulan yang mulia itu. Lalu, Ramadan kita akhiri dengan saling mendoakan dan memaafkan. Betapa indahnya susana hari ini.

Semoga keluarga kita yang telah kembali kepada Allah ikut merasakan kegembiraan selama Ramadan, bahkan selamanya, berkat doa-doa kita, khususnya selama bulan suci itu.  Dengan berkah Ramadan dan lailatul qadar, kita doakan juga, semoga anggota Polri dan TNI, dokter, perawat, sukarelawan, dan semua pegiat kemanusiaan, serta pejuang negara yang gugur dalam melaksanakan tugas mendapat kegembiraan berupa rahmat dan ampunan Allah dalam kuburnya. Amin.

Kaum muslimin Yth.

Bisakah kebahagiaan idul fitri ini berlanjut sampai Ramadan yang akan datang? Bisa, asalkan akhlak mulia selama Ramadan ini kita lanjutkan pada bulan-bulan berikutnya. Orang bijak atau ahlul hikmah mengatakan, ada empat kiat sederhana untuk meraih kebahagiaan. Pertama, perbanyak doauntuk orang lain. Jangan hanya fokus berdoa untuk diri dan keluarganya, padahal banyak orang di kanan kiri kita yang sedang dalam kesulitan dan kesedihan. Sekali lagi, perbanyak sedekah doa untuk orang lain, dan jangan memberitahukan doa itu kepada yang bersangkutan. Apa imbalan Allah untuk kita? Semua malaikat mendoakan kemudahan hidup kita karena ketulusan doa kita.

Kedua, segeralah sambut panggilan azan dengan berwudu dan shalat. Jangan teruskan bermain HP atau ngobrol, atau tertawa terbahak-bahak ketika azan berkumandang. Jangan tunda shalat, kecuali ada kepentingan yang benar-benar tak bisa ditinggalkan. Jangan bikin lelucon, yaitu ingin doanya cepat dijawab Allah, tapi ia tidak cepat menjawab panggilan-Nya.

Ketiga, perbanyak shalawat. Jangan pelit bershalawat, atau hanya menggenjot shalawat ketika menghadapi masalah. Shalawat juga berfungsi sebagai sayap yang menerbangkan doa-doa kita ke langit. Jangan lupa, inilah yang terpenting, yaitu setiap membaca shalawat, sertailah permohonan dalam hati, “Wahai Allah, harumkan akhlak kami seperti harumnya akhlak Nabi-Mu, dan kumpulkan kami bersamanya dalam surga-Mu.” Sebuah keluarga dijamin bahagia, jika setiap anggotanya selalu introspeksi atas kekurangan dirinya, lalu bertekad memperbaiki akhlaknya setiap kali membaca shalawat.

Keempat, jangan egois. Artinya, sering-seringlah menoleh ke kanan dan kiri untuk mencaritahu siapa yang sedang membutuhkan pertolongan. Itulah kelanjutan ibadah shalat yang selalu kita akhiri dengan salam ke kanan dan kiri. Jika ingin dibahagiakan Allah, bertanyalah terlebih dahulu, sudah seberapa banyak orang yang kita bahagiakan. Semakin banyak beban hidup orang yang kita ringankan, semakin banyak beban hidup kita yang diringankan Allah. Hanya harta yang sampai ke tangan orang yang dapat mengantarkan kita ke surga Allah.

Kaum muslimin Yth.

Agar kita bisa menolong orang secara materi, kita harus kerja, kerja dan kerja untuk mencari rizki sebanyak-banyaknya. Menolong orang tidaklah cukup hanya dengan tenaga dan doa. Akan lebih mantap, jika disertai bantuan finansial. Jadilah manusia pemberi, bukan yang diberi. Jadilah tangan di atas, bukan tangan yang di bawah. Jangan sekali-kali bergantung kepada belas kasih orang. Mandirilah, dan itulah kunci kemuliaan dan kejayaan kita.  Ali bin Abi Thalib r,a mengatakan, “Aku sudah kenyang dengan berbagai derita hidup, dan yang paling mengerikan adalah ketika aku mengharap belas kasih orang.”

Kaum muslimin Yth.

Keempat kiat sederhana meraih kebahagiaan itu saya singkat DAST, yaitu Doa, Azan, Shalawat, dan Tolong-menolong. Semoga khutbah ini bermanfaat. 

           اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Duduklah 7 detik. Lalu berdiri lagi melanjutkan khutbah kedua:

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُلِلَّهِ/  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ / وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهْ/ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهْ / اَمَّابَعْدُ/  قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ, وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Catatan: (1) Khutbah idul fitri dilakukan setelah shalat, (2) khutbah bisa satu kali (tanpa duduk dan tanpa khutbah kedua), atau dua kali dengan selingan duduk.