Header

MUSLIM PEWANGI BUMI

June 25th, 2018 | Posted by admin_tsb in Taushiyah/Khutbah - (0 Comments)

Khutbah di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya,
Shalat Jum’at bersama RI-1 tanggal 8-Syawal 1439 H/22 Juni 2018
oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
www.terapishalatbahagia.net / malzis@yahoo.com

 

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ  وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّابَعْدُ فَيَا عِبَادَاللهِ اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ  قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin Yth.

            Sampai hari Jumat kedua pada bulan Syawal ini, kita masih merasakan kebahagiaan sebagai muslim, karena telah kembali kepada kesucian, dan kebanggaan sebagai bangsa yang memiliki tradisi silaturrahim untuk menguatkan ikatan kekeluargaan di antara sanak famili, tetangga, dan semua orang, tanpa membedakan suku, ras, dan agama. Semangat silaturrahim itulah yang melahirkan budaya mudik kita, bahkan merupakan mobilitias sosial terbesar di dunia. Kita mengapresiasi pemerintah yang bias mengatur mobilitas tersebut dengan amataman dan lancer.

Tidak hanya itu, semua muslim Indonesia, semiskin apapun berupaya menyenangkan orang dengan makanan dan minuman yang terbaik. Subhanallah, sebagian besar kita juga menyediakan uang recehan yang masih baru dari bank untuk menyenangkan anak-anak kecil, orang tua, sanak famili, guru-guru kita, penjaga masjid, para janda, dan sebagainya. Sungguh, di atas mimbar ini, saya masih mencium bau harum bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara-saudara sekalian atas berbagai kemuliaan yang dilakukan selama Ramadan dan lebaran.

Wewangian yang kita tebarkan itu jangan hanya berlangsung sesaat, tapi berlanjut sampai lebaran tahun depan. Dan, itulah salah satu tanda bahwa puasa kita diterima Allah. Ketahuilah, Allah telah memberi kita bonus harian, mingguan dan tahunan. Bonus harian berupa ampunan dosa antara satu shalat wajib dengan shalat berikutnya; bonus mingguan berupa ampunan antara Jumat sekarang dan Jum’at berikutnya, dan bonus tahunan berupa ampunan antara Ramadan tahun ini dan Ramadan tahun depan. Selamat menyongsong kehidupan dengan hati yang telah tersucikan.

Hadirin Yth.

Misi kita untuk menjadi pewangi bumi tidak terbatas kepada manusia, tapi juga kepada lingkungan, tumbuh-tumbuhan dan hewan. Kehadiran kita harus menjadi sumber senyuman bagi semua penghuni bumi. Nabi SAW mengajarkan kita untuk hemat air dengan berwudu hanya dengan 0,76 ltr air. Ia bahkan menegur Sa’ad r.a ketika ia boros air dalam berwudu. Nabi SAW rupanya sudah mengetahui apa yang akan dirasakan manusia kelak, seperti yang dikatakan oleh Forum Ekonomi Dunia, bahwa krisis air merupakan isu utama dalam satu dekade mendatang. Saat ini, 1 dari 10 penduduk dunia tidak memiliki akses ke air bersih.

Kepada tanaman, Nabi SAW mengajarkan kita untuk tidak memetik bunga sebelum mekar, agar bisa memberi kesempatan lebah menghisap sarinya, dan kepada kita untuk menikmati keindahannya. Ia juga melarang memetik buah sebelum matang, agar bisa dinikmati manusia.  Kepada binatang, Nabi SAW mengajarkan kita untuk tidak memberi beban yang berat di atas punggungnya. Nabi bahkan memberitakan adanya wanita yang dimasukkan ke neraka karena mengurung kucing sampai mati kelaparan. Sebaliknya, wanita pelacur dimasukkan ke dalam surga karena menyelamatkan nyawa seekor anjing.

Itu semua akhlak yang diajarkan Nabi SAW kepada tumbuh-tumbuhan dan hewan, apalagi kepada sesama manusia, sebab manusia adalah makhluk paling dimuliakan Allah. Apalagi, jika menyangkut kelangsungan hiudp. Tahukah Anda, bahwa ketika terjadi gempa tsunami di Aceh sekian tahun silam, sejumlah orang non-muslim di Inggris mengumpulkan dana untuk membantu saudara-saudara kita itu dengan mengutip ayat Al Qur’an yang kita sendiri agaknya telah melupakannnya, yaitu firman Allah dalam Surat Al Ma-idah ayat 32, “Barangsiapa membunuh orang, bukan (sebagai hukuman) karena pembunuhan orang atau tindakan perusakan di bumi, maka dia seakan-akan telah membunuh manusia semuanya, dan barangsiapa menjaga kelangsungan hidup manusia, maka ia seakan-akan telah menghidupkan semua (generasi) manusia.” Inilah Islam yang datang selalu dengan bunga, bukan dengan duri, dan inilah ruh Islam yang membuat Umar bin Khattab tertarik masuk Islam.

Hadirin Yth.

Ramadan dan lebaran tahun ini harus melahirkan manusia-manusia baru. Antara lain, sebagai suami yang lebih membahagiakan istri, dan sebagai bapak yang paling dibanggakan anak-anak-anaknya. Demikian juga sebagai istri kepada suami, dan ibu untuk anak-anaknya. Negara yang kuat hanya bisa dibangun di atas unit-unit keluarga yang bahagia. Kita harus menjadi manusia yang benar-benar baru, sebagai muslim terbaik di tengah masyarakat yang majmuk, sebagai pemimpin, sebagai wakli rakyat, sebagai karyawan, dan sebagai apapun peran kita di tengah masyarakat.  Jika kita tidak berubah lebih baik, lalu untuk apa kita berlapar-lapar puasa sebulan penuh? Untuk apa pula kita kerjakan ratusan rakaat shalat taraweh dan witir selama malam Ramadan? Untuk apa juga kita berlama-lama sujud pada malam-malam itikaf lailatul qadar? Untuk apa juga kita menggemakan takbir di semua ruas jalan raya pada malam lebaran sampai shalat shalat idul fitri? Hadirin, jika kita tidak berubah, berarti semua ibadah itu tak berbekas, dan itulah pemborosan waktu dan tenaga yang dikutuk Allah sebagai perbuatan setan.

Hadirin, jika kita berubah menjadi emas, semua orang akan mencarinya. Jika kita berubah menjadi bunga, tak usah diundangpun, kumbang akan datang menghampirinya. Jika kita semanis gula, semut di kejauhanpun berebut mengerumuninya. Selanjutnya, jika akhlak anak bangsa ini terpuji, maka semua negara akan berebut kemari untuk berinvestasi, dan kita akan bisa melakukan lompatan untuk mengejar ketertinggalan dan sejajar dengan negara-negara besar dunia.

Pada piala sepak bola dunia yang juga menambah keceriaan lebaran tahun ini, saya mencatat satu hal yang patut menjadi renungan kita. Para pemain sepak bola yang rata-rata berumur duapuluh tahunan tidak serta merta menyalahkan anggota tim yang melakukan kesalahan dalam laga pertandingan, tapi justru mengusap kepalanya dengan bisikan penyemangat berkompetisi. Dalam suasana kesedihan atas sebuah kekalahan pun, mereka yang masih remaja itu mengajari kita untuk sportif mengakui kelebihan lawan pertandingan. Mereka partner pertandingan, bukan musuh dalam kehidupan. Kita merenung sejanak, mengapa di antara kita yang jauh lebih tua dari mereka, berusia lebih setengah abad, dan sebagian rambut telah memutih masih saja terus menerus membesar-besarkan kesalahan orang, bahkan tega-teganya menggorengnya dan menyebarkannya dengan nada kebencian untuk menyulut permusuhan. Kebohonganpun juga dibuat sedemikian rupa demi kepuasan menjelekkan nama baik seseorang.

Baiklah, lebaran telah tiba, yang sudah ya sudah, saatnya kita hidup lebih dewasa. Yang lalu biarlah berlalu, kita memulai hidup baru. Ujaran kebencian kita ganti dengan ujaran kesejukan. Hubungan yang retak, kita rekatkan, dan yang putus, kita sambungkan. Kita gelorakan semangat kerja, kerja, dan kerja, sebab itulah ibadah, dan itulah modal utama sumbangsih kita untuk umat mansia dan masa depan bangsa.

اَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهُ لِى وَلَكُمْ اِنَّهُ هُوَاالْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

–=0=–

Doa pada khutbah kedua:

Rabbanaghfir lanaa wali-ikhwaaninal ladziina sabaquunaa bil iimaan, walaa taj’al fii quluubinaa ghillal lilladziina aamanuu, rabbanaa innaka rauufur rahiim

Wahai Allah, ampunilah semua kami yang sedang bersimpuh di masjid ini dan semua saudara kami seiman yang telah wafat mendahului kami; hapuskanlah dari hati kami sekecil apapun kedengkian terhadap sesama orang beriman.

Allahumma allif baina quluubinaa wa ashlih dzaata baininaa wahdinaa subulas salaam

Wahai Allah, lunakkanlah hati yang keras di antara kami; lembutkanlah tutur kata kami di tengah keluarga dan dalam pergaulan sehari-hari, hilangkanlah buruk sangka di antara kami, dan jadikanlah kami bergandengan tangan untuk membangun surga di negeri ini, dan memasuki surga Firadaus bersama-sama di alam baka nanti.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad, Allahummarzuqnaa fiddun-yaa ziyaaratahuu wafil aakhirarati syafaa’atahuu, wabil jannati rukyatahuu wa muraafaqatahuu.

Wahai Allah hiasilah hidup kami dengan keharuman akhlak Rasulullah, berikanlah semua yang hadir di masjid ini kesempatan menikmati bersujud lama di depan kakbah, dan bershalawat dengan hening di masjid Madinah. Kumpulkan kami di surga nanti bersama Nabi dan para pemimpin yang kami cintai.

HIDUP DENGAN LEMBARAN BARU
oleh:
Prof Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Khutbah Idul Fitri disampaikan di Kedutaan Besar Republik Indonesia Dhaka Bangladesh pada tanggal 1 Syawal 1438/ 26 Juni 2017

 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamdu.

Alhamdulil ladzi ja’ala ramadhaana sabiilan li’ubuudiyyatihi wa taqwaah

Ahmaduhuu subhaanahuu waasykuruhuu syukran wa hamdan laa hadda limuntahaah

Ayshadu an laa ilaaha illallahu wahdahuu laa syariika lah

Wa bi’aunihii watawfiiqihii shallaynaa wa shumnaa wa ‘abadnaah

Wa asyhadu anna sayyidanaa wa nabiyyanaa Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu laa nabiyya ba’dah

Ijtabaahu rabbuhuu washtafaahu wa hadaah

Shallallahu ‘alahi wa ‘alaa aalihi wa shahbihii waman waalaah

Amma ba’du

Fa uushiikum wa nafsii bi taqawallah. Qaalallahu ta’aalaa, “Ya ayyuhal ladziina aamnuttaqullaha haqqa tuqaatihi wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Pada pagi ini kita bersyukur dapat menyelesaikan puasa Ramadan sebulan penuh, dan menjalankan ratusan rakaat taraweh, witir, dan shalat-shalat sunah lainnya. Alhamdulillah, kita juga telah membayar zakat dan sedekah untuk meringankan beban hidup orang lain. Oleh sebab itu, terimalah kabar gembira dari Rasulullah SAW untuk Anda semua, bahwa siapapun yang menjalankan shalat-shalat sunah selama ramadan semata-mata demi ketaatannya kepada Allah, maka semua dosanya diampuni oleh Allah SWT. Pahala untuk shalat fardhu dan ibadah-badah wajib lainnya yang kita kerjakan selama Ramadan jauh lebih besar, sebab Allah SWT menyatakan, “Puasamu adalah untuk-Ku.” Secara tidak langsung, Allah mengatakan, “Biarlah Aku yang memberikan ganjaran sesuai dengan kehendak-Ku. Engkau tidak akan mampu menghitung besaran pahala dari-Ku untukmu.”

Kabar gembira berikutnya untuk Anda, bahwa Allah SWT akan memberikan pahala puasa sebanyak pahala orang yang menerima sedekah berbuka puasa atau sahur dari Anda. Nabi SAW juga memberi jaminan, bahwa siapapun yang meringankan beban hidup orang selama Ramadan atau di luar Ramadan, maka ia akan dibebaskan dari derita hidup di akhirat kelak. Saya yakin dan berdoa semoga para hadirin termasuk mereka yang dimuliakan Allah tersebut.

Pantaslah, jika pada idul fitri ini, kita saling memberi ucapan selamat: Eid Mubarak, yang artinya, semoga hari raya ini memberikan tambahan kemuliaan dan kebahagiaan Anda; Taqabbalallahu minna waminkum, taqabbal ya karim, yang artinya, semoga semua ibadah kita diterima Allah Yang Maha Pemurah; atau ucapan lain yang paling terkenal di Indonesia, Minal a’idin wal faizin, yang artinya, semoga kita sama-sama kembali kepada kesucian, sukses dan bahagia selamanya. Ucapan selamat itu biasanya kita sertai ekspresi rendah hati berupa permintaan maaf atas kesalahan yang mungkin telah kita lakukan sesama kita. Kita benar-benar telah menyelesaikan masalah-masalah yang mengurangi keakraban kita dengan Allah dan antara sesama kita.

 

Kaum muslimin yang berbahagia.

Idul Fitri harus kita jadikan lembaran baru untuk hidup lebih berkualitas, lebih bahagia dan lebih banyak lagi orang yang kita bahagiakan. The more people you please, the more smile of God at you (semakin banyak orang yang Anda bahagiakan, semakin banyak senyum Allah untuk Anda). Nabi SAW bersabda, “Irhamu man fil ardhi yarhamkum man fis sama’,” yang artinya ”Kasihilah penduduk bumi agar malaikat penghuni langit mengasihimu.” Setiap hari kita mendengar seruan azan, Hayya alas shalah, hayya alal falah, yang artinya ”Ayo kita kerjakan shalat, dan ayo kita raih kesuksesan dan kebahagiaan.” Mengapa kita harus sukses? Ya, agar kita bisa membahagiakan banyak orang. Inilah komando harian yang harus menyemangati kita untuk menjadi the best and the winner dalam segala hal.

Apa saja yang harus kita isi dalam lembaran baru setahun ke depan sampai ramadan berikutnya?. Pertama, lanjutkan akhlak mulia yang telah kita bangun selama ramadan. Sebulan penuh, kita tidak makan dan minum, tapi terus menerus berpikir tentang makan dan minum orang lain. Persis seperti yang dilakukan Allah, yaitu tidak makan dan minum, tapi selalu memberi makan dan minum manusia. Jika kita bisa membahagiakan orang, maka itulah kebahagiaan kita yang sejati, dan itulah definisi bahagia yang paling benar.

Pasti kita paham, bahwa kita harus memiliki finansial yang lebih dari cukup, jika kita ingin menolong banyak manusia secara maksimal. Oleh sebab itu, kita sambut baik ajakan presiden kita untuk kerja, kerja dan kerja. Artinya, kita harus meraih kekayaan sebanyak-banyaknya dengan cara yang halal, lalu kita nikmati bersama orang-orang di sekitar kita. Kerja, kerja, dan kerjalah yang maksimal dan profesional agar Anda ikut berperan memajukan kesejahteraan bangsa Indonesia dan semua umat manusia di dunia, dan itu berarti keberadaan Anda di bumi ini bernilai bagi orang lain. Untuk apa hidup, jika tidak memberi manfaat bagi orang lain? Kata Nabi SAW, ”Orang terbaik adalah yang paling sempurna imannya dan paling banyak memberi sumbangsihnya untuk umat manusia.”

Kedua, perbanyaklah rasa syukur atas apapun yang Anda terima. Salah satu doa setelah shalat taraweh yang dibaca oleh imam di berbagai masjid adalah, Allahummaj’alna bi imani kamilin, wa binna’mai syakirin, wa bilqhadha-i radhin, yang artinya, wahai Allah sempurnakanlah iman kami, jadikan kami orang yang selalu senang dengan pemberian-Mu, dan tidak mengeluh dengan apapun takdir-Mu. Nikmatilah hari demi hari tanpa keluhan. Hindari sejauh-sejauhnya sikap mengeluh, sebab orang yang mengeluh menunjukkan jiwanya sakit dan imannya rapuh. Mengeluh bahkan mendatangkan murka Allah. Allah SWT berfirman, ”Barangsiapa tidak menerima dengan senang hati semua takdir-Ku, dan tidak bersabar atas cobaan dari-Ku, maka hendaklah ia mencari Tuhan selain Aku.” Bekerjalah dengan semangat kuda di siang hari, pasrahkan hasilnya kepada Allah ketika shalat di malam sunyi, lalu nyatakan rasa senang apapun dan berapapun pemberian Allah sepenuh hati. Katakan setiap pagi dan petang, Radhitu billahi rabba wabil Islami dina wabi Muhammadin nabiyyan wa rasula, yang artinya, ”Aku senang dengan semua perintah-Mu, juga senang atas  apapun dan berapapun pemberian-Mu, aku senang menjadikan Islam sebagai agamaku, serta Nabi Muhammad sebagai utusan-Mu yang jadi panutanku.” Siapapun yang setiap pagi dan petang berjanji taat Allah dan Rasul-Nya, dan tidak mengeluh atas apapun yang diahadapi, maka Allah mencintai dan merahmatinya sepanjang hari dan malam itu.

Ketiga, selama ramadan, kita telah berlatih menjaga mulut dari makanan yang haram dan perkataan yang dosa. Isilah lembaran baru hidup kita dengan sikap ekstra hati-hati dalam menjaga mulut. Antara lain dari makanan yang haram. Lebih baik Anda mati karena bertahan pada yang halal, daripada bertahan hidup, tapi dengan yang makanan yang haram. Kita masih prihatin bahwa tingkat korupsi di beberapa negara berpenduduk muslim masih tetap tinggi, tidak terkecuali di Indonesia. Semua pelaku korupsi itu bukan dikarenakan kelaparan, melainkan keserakahan. Not hungry but greedy.

Selama ramadan, kita juga berpuasa dari perkataan yang tidak baik. Akhlak selama ramadan dalam penjagaan mulut atau lidah itu harus kita lanjutkan. Mulut kita harus terbebas dari perkataan yang menyinggung perasaan anggota keluarga kita dan masyarakat pada umumnya, atau mengandung hoax dan fitnah, apalagi yang mengundang permusuhan, baik secara vertikal antara pemerintah dan rakyat atau secara horisontal yaitu sesama warga masyarakat. Dalam media sosial, akhlak bangsa kita akhir-akhir ini, khususnya dalam bertutur-kata, nyaris lenyap, sehingga orang berpendidikan dan tidak berpendidikan, antara tokoh agama dan orang awam hampir sama saja, sama-sama tidak menjaga kesopanan, sebagaimana yang diajarkan Nabi SAW.

 

Kaum muslimin yang berbahagia.

Sudahlah, itu lembaran lama yang penuh dosa dan ketidakharmonisan. Yang lalu, biarlah berlalu. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita.  Allahu Akbar, Allahu Akbar, inilah idul fitri, hari kemuliaan dan kegembiraan. Kita buka lembaran baru dengan akhlak yang lebih mulia, saling menghargai dan saling memaafkan antar sesama. Tunjukkan kepada dunia, bahwa Anda bukan orang biasa, tapi pribadi yang agung dan luar biasa, berakhlak mulia seperti Nabi kita tercinta, selalu riang bahagia dan tiada henti membahagiakan semua manusia.

Allahu Akbar, dengan menjalankan puasa ramadan dan semua rangkaian ibadah di dalamnya, kita telah berhasil membangun surga di dada, dan Insya Allah kita akan memasukinya di alam baka. Idul fitri adalah sebuah deklarasi untuk hidup dengan lembaran baru yang berisi sikap saling memaafkan dan menghargai semua orang tanpa melihat perbedaan etnis dan keagamaan.

Minal ‘Aidin wal Faizin. Ied Mubarok. Taqbbalallahu minna waminkum. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamdu.

 LIVING LIFE IN THE NEW CHAPTER
delivered by:
Prof Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Eidul-Fitr Speech hosted by the Embassy of the Republic of Indonesia Dhaka, Bangladesh on Syawal 1, 1438 / June 26, 2017

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamdu.

Alhamdulil ladzi ja’ala ramadhaana sabiilan li’ubuudiyyatihi wa taqwaah

Ahmaduhuu subhaanahuu waasykuruhuu syukran wa hamdan laa hadda limuntahaah

Ayshadu an laa ilaaha illallahu wahdahuu laa syariika lah

Wa bi’aunihii watawfiiqihii shallaynaa wa shumnaa wa ‘abadnaah

Wa asyhadu anna sayyidanaa wa nabiyyanaa Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu laa nabiyya ba’dah

Ijtabaahu rabbuhuu washtafaahu wa hadaah

Shallallahu ‘alahi wa ‘alaa aalihi wa shahbihii waman waalaah

Amma ba’du

Fa uushiikum wa nafsii bi taqawallah. Qaalallahu ta’aalaa, “Ya ayyuhal ladziina aamnuttaqullaha haqqa tuqaatihi wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Today we are grateful that we are able to complete our fasting in the month of Ramadan and perform hundreds of raka’ats of tarawih and witir prayers, and other recommended or sunah prayers. Alhamdulillah, we also have paid zakat, and alms as much as possible to lighten the life burden of others. Therefore, kindly accept the good news from Rasulullah PBUH, “Man qaama Ramadhaana iimaanan wahtisaaban, ghufira lahuu maa taqaddama min dzanbih” which means, “Whosoever performs prayers during Ramadan solely because of Allah the Almighty, then all his sins are forgiven by Allah.” Moreover, the obligatory prayers that we perform during this holy month, certainly the rewards given by Allah will be much greater, because Allah Almighty has declared, “Your fasting is for Me.” Indirectly, Allah said, “Let Me give you reward according to My will. You will not be able to calculate the magnitude of My rewards for you.”

The next great news for you is that Allah SWT will give you reward as much as the reward of those who receive iftar or sahoor from you. The Prophet PBUH also gives assurance, “Man farraja ‘an muslimin kurbatan min kurabiddunya, farrajallahu kurbatan min kurabi yaumil qiyaamah” that means, “Whoever lightens the burden or difficulty of muslim, then he will be freed from the suffering of life in the hereafter.” I am sure that this congregation today belongs to those who are glorified by Allah the Almighty.

No wonder if on this feast day, we all greet and felicitate each other: “Eid Mubarak,” which means, “May this feast day gives you additional glory and happiness”; “Taqabbalallahu minnaa waminkum, taqabbal yaa kariim,” which means, “May all our worship be accepted by Allah, the Most Gracious,” or another most famous remarks in Indonesia, “Minal aa’idin walfaaiziin,” which means, “May all of us revert to the holiness, and attain success and happiness always.” Those wishes are usually accompanied by a humble expression of apology for all the wrong doings we may have made to our friends and family members. We have truly ended all disputes or conflicts that diminish our intimacy with Allah and among friends and family.

 

Dear brothers and sisters,

We should wield the Eid ul-Fitr as the new chapter in our lives, so that we live better in quality. We should be happier and make more other people happier. The more people you please, the more smile of God at you. Our prophet PBUH said, ”Irhamuu man fil ardhi yarhamkum man fis sama,” which means, ”Have mercy on all the inhabitants of the earth, then the angels at the heavens will love you.” When the time of shalat comes, we are called, ”Hayya ’alas shalaah, hayya ’alal falaah,” which means, ”Let us do a prayer and let’s achieve success and happiness.” This is the daily command that should encourage us to be the best and the winner in everything so that we can please many people.

What should our new chapter be filled with in the year ahead until the next Ramadan? Firstly, continue to be in the noble characters which we have built during Ramadan. For the whole month, we do not eat and drink, but constantly think about the food and drink for others. Just exactly like that Allah does, who does not eat and drink, but always feed all beings. The real happiness is whenever we are able to please other people. This is the most interesting definition of happiness.

Surely we understand, that we must be financially sound if we want to fully help many people. Therefore, we must welcome our President, Mr. Joko Widodo’s call to work, work, and work, to acquire wealth as much as possible in the halal way, then enjoy it with the people around you. We should work hard and professionally so that we can play a role in enhancing the welfare of our country and all humankind, and that means your existence on earth is of value to others. Should we continue a life, if we were not benefiting others? Our Prophet PBUH said, ”Akmalul mukminiina iimaanan ahsanuhum khuluqan wa anfa’uhum lin naas,” which means, “The best beleiver in faith among muslims is the one with the best character and the most contribution to mankind.”

Secondly, be always grateful for whatever Allah bestowed upon you. One of the supplications recited by the Imams after tarawih prayer in various mosques is, ”Allahumma ij’alnaa bil iimaani kaamiliin, wa bin na’maai syaakiriin, wa bil qhadhaa-i raadhin,” which means, ”O Allah, please perfect our faith and make us those who are always grateful for Your gifts, and not complaining with the destiny You have accorded us.” Enjoy everyday without complaining. Avoid complaining, because those who complain are indicating that their soul and faith are ill and fragile. Complaining also brings God’s wrath. Allah the Almighty said, ”Man lam yardha biqadhaa-i walam yashbir ’alaa balaa-i fal yathlub rabban ghairii,” which means, “Whoever does not gladly accept the destiny I have assigned, so he should seek other God beside Me.” Let’s work hard like horse during the day, and we surrender all the results to Allah, then we express all gratefulness for all blessings and gracious gifts from Allah the Almighty. Recite this supplication taught by our Prophet PBUH, ”Radhiitu billaahi rabbaa wa bil Islaami diinaa, wa bi Muhammadin nabiyyan wa rasuula,” which means, ”I am pleased with whatever Your commands or whatever and how much of Your gifts, I am pleased to acknowledge that Islam is my faith, and to render that Muhammad is my guide.” Those who recites those prayers each morning and evening, then defintely Allah the Almighty love and bless them throughout the day and night.

Thirdly, during Ramadan we have been practicing to keep our lips away from haram foods and sinful words. Kindly fill in the new chapter of our lives with extra care in utterrance of words and what toeat. It is better to die by suffering from hunger rather than surviving by taking haram foods. We should be concerned that the level of corruption in some Muslim countries remains high, including in Indonesia. Those who are involved in corruption practice not because they were hungry, but because they were greedy.

During Ramadan, we refrain from uttering bad words. Keeping our mouths and tongues from uttering bad words should continue after Ramadan. Our Prophet PBUH said, ”Man kaana yukminu billahi wal yaumil aakhir, fal yaqul khairan aw li yashmut,” which means, ”Whoever beleives in Allah and the day of resurrection, he must say good words or just keep silent.” Our mouths must be free from saying offensive words which can cause resentments to our family and society in general, or contain hoaxes and defamation, saying words that can ignite hostility or malignancy, be it vertically towards the government and the nation, or horizontally between communities. Nowadays in the social media, decorum have almost disappeared, as can be seen on how the educated and uneducated, the religious leaders and ordinary people,are not being careful in choosing their words.

Ayyuhal haadhiruun. Bi barakati Ramadhaana wa aatsaarihi ’alanufuusinaa, narjuu hadzal yaum ibtidaa-an bi shahiifatin jadiidah linailis sa’aadah fid dun-ya wal aakhirah. Awwalan, bis shadaqah lil fuqaraa-i wal masaakiin. Tsaaniyan, bis syukri ’alaa ni’amillah war ridlaa bi qadhaa-ih. Tsaalitsan, bil kalamit thayyibah wal akhlaaqil kariimah.

 

Dear Muslims Ummahs,

Let by gones be by gones, it’s the old chapters of life which are full of sins and disharmony. May Allah the Almighty forgive all our sins. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Eid-ul Fitr is the day of glory and joy. We should open a new page with a more noble character, respect each other and forgive one another. Show the world that you are not an ordinary muslim, but rather a muslim with great and extraordinary characters, as well as noble personality of our beloved Prophet PBUH. Be always happy and endlessly bring happiness to all beings in the world.

Allahu Akbar, by fasting and performing all worships during the holy-month of Ramadan, we have built a paradise in our hearts, and Insya Allah, we will enter the paradise later in the hereafter. Eid-ulFitr is our declaration of new chapter of life in peace, along with all people with different ethnicities and religions. May Allah the Almighty grant peace and prosperity for all Muslim ummah in the world with the blessings of Ramadan and Eid-ul Fitr.

Minal ‘aaidiin wal faaiziin. Eid Mubaarak. Taqabbalallahu minnaa wa minkum. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamdu.