Header

REBRANDING:
MUSLIM PENEBAR AROMA DUNIA
Khutbah Idul Fitri 1437 H/2016 M disampaikan oleh:
Prof Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
(Professor of Islamic Studies at State Islamic University Sunan Ampel Surabaya-Indonesia)
Diselenggarakan oleh:
Kedutaan Besar Republik Indonesia Dhaka Bangladesh
1 Syawal 1437/ 06 Juli 2016

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahilhamdu.

Innalhamda lillah, nahmaduhu wanasta’inuh, wanastaghfiruhu. Wana’udzu billahi min syururi anfusina wamin sayyi-ati a’malina. Man yahdillahu fala mudlil-la lah, waman yudl-lillahu fala hadiya lahu. Asyhadu alla ilaha illahu wahadahu la syarika lah, wa-asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu warasuluh, la nabiyya ba’dah.

Allahumma shalli ‘ala sayyidina wa maulana Muhammadin wa’ala alihi washahbihi waman walah.

Amma ba’du, faya ‘ibadallah, ushikum waiyyaya bitaqwallah. Qalallahu Ta’ala: “Ya ayyuhalladzina amanu ittaqullaha haqqa tuqatih, wala tamutunna illa wa-antum muslimun.”

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Pada kesempatan ini saya mengucapkan kepada semua muslim di manapun berada: Ied Mubarak, Selamat Idul Fitri, selamat menjadi manusia baru, manusia yang lebih akrab dengan Tuhannya dan lebih beradab kepada sesama manusia tanpa melihat perbedaan etnis dan agama. Selamat Idul Fitri, selamat menempuh hidup baru dalam keluarga yang lebih berbahagia.

Semua kesalehan itu layak kita raih setelah sebulan penuh menahan makan, minum dan nafsu birahi di siang hari, lalu kita lanjutkan i’tikaf,  zikir dan shalat taraweh dan witir ratusan rakaat di malam hari. Tidak hanya itu, selama ramadhan kita memperbanyak sedekah dan kita menutup bulan suci itu dengan membayar zakat.

Kaum muslimin yang berbahagia.

Dalam khutbah singkat ini saya akan menyampaikan tiga kisah yang saya anggap mewakili tiga generasi, yaitu generasi Rasulullah, generasi sahabat dan generasi moderen. Tiga kisah ini tidak terjadi secara kronologis, akan tetapi mengandung pesan yang sama, dan pesan penting tersebut akan saya sampaikan pada akhir khutbah ini.

Pertama, kisah yang terjadi pada zaman Rasulullah. Suatu saat, Nabi SAW duduk bersama para sahabat senior di sebuah masjid. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh seseorang yang memasuki masjid dengan berkacak pinggang di atas untanya. Umar bin Khattab yang duduk berdampingan dengan Nabi langsung berdiri hendak mencekik orang itu, tapi Nabi mencegahnya.

Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib hampir tak dapat menahan diri ketika si badui itu berteriak-teriak mencari Nabi dengan berbagai ejekan. Tapi, Nabi dengan senyum lembut menghampiri orang itu dengan mengatakan, ”Akulah yang kau cari itu.” Badui Yahudi itu melanjutkan, ”Oh, jadi engkau yang mengajarkan syahadat, shalat, zakat dan  puasa itu?” “Betul,” jawab Nabi dengan muka yang tetap sejuk dan sopan. Tiba-tiba si badui membalikkan untanya untuk keluar masjid sambil berkata, “Saya kagum atas kelembutan Nabi. Saya akan masuk Islam dan mengajak semua penduduk sekampung untuk mengikuti agamanya.”

Kedua, kisah yang terjadi pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Ketika menjadi kepala negara, baju besi kesayangannya hilang dan ternyata di tangan orang Nasrani. Ketika dalam sidang sengketa kepemilikan baju itu, hakim memanggil Ali, ”Ya amiral mukminin (wahai pemimpin umat Islam).” Ali keberatan dengan panggilan itu, sebab menurutnya, setiap orang harus sama di depan hukum. Akhirnya, pengadilan memutuskan Ali tidak berhak mengklaim baju besi sebagai miliknya karena tidak bisa menunjukkan bukti kepemilikan.

Usai sidang si Nasrani mengakui bahwa baju itu sejatinya milik Ali bin Abi Thalib. Ia menyatakan masuk Islam atas kekaguman akhlak Ali di depan hukum. Ketika baju itu hendak dikembalikan secara sukarela, Ali menjawab, ”Biarlah itu milikmu sebagai kenang-kenangan dari saya atas agamamu yang baru.”

Ketiga, peristiwa ini terjadi pada Dr. Germanus, turis dari Hongaria yang sedang berlibur musim panas di Bosnia. Pada malam hari, ia keluar hotel untuk mengetahui praktek kehidupan orang-orang Bosnia sehari-hari. Ia jumpai sebuah kafe tidak jauh dari hotel dengan lampu yang remang-remang. Ketika sedang menikmati kopi hangat, tiba-tiba dua orang masuk dengan celana adat yang longgar dan dengan golok yang diselipkan di ikat pingangnya yang lebar. Ia gemetar melihat dua orang itu memandang dirinya dengan pandangan yang aneh. Teringatlah olehnya kisah-kisah kebengisan orang-orang muslim dengan wajah serupa mereka terhadap orang-orang yang tak seagama, sebagaimana ia baca dalam banyak buku dan media massa. Apalagi ketika melihat mereka berdua berbisik. Dalam pikirannya hanya satu, ”Sebentar lagi, mereka akan menggorok saya yang kafir ini.” Ia ingin lari keluar kafe, tapi tak berdaya. Ia benar-benar lemas.

Beberapa menit kemudian, sesuatu di luar dugaan terjadi. Salah seorang mereka memberi salam dan menghampirinya. Ia bahkan menyulutkan rokok untuknya dengan bahasa isyarat yang amat sopan. Setelah itu, ia mengundang makan siang di rumah untuk esok harinya. ”Inilah perjumpaan saya pertama kali dengan muslim di negara asing,” katanya. Ia sangat terkesan dengan tutur kata dan kelembutan sikapnya, sampai ia berminat mempelajari Islam. Pada malam harinya, ia didatangi Nabi SAW dengan jubah hijau dengan aroma yang khas, yang belum pernah dijumpai sebelumnya. Ia lalu benar-benar bersyahadat untuk ikrar masuk Islam.

 

Para jamaah yang saya hormati.

Tiga kisah di atas memberi tauladan bagaimana kita harus bergaul dengan orang-orang non-Islam. Nabi SAW mengatakan:

Auhallahu Ta’ala ila Ibrahim, ya khalili, hassin khuluqaka walau ma’al kuffar tadkhulu madakhilal akbar/ Allah SWT pernah  berpesan kepada Nabi Ibrahim a.s: “Allah telah memberi wahyu kepada Nabi Ibrahim, “Hai kekasih-Ku, tunjukkan budi pekerti yang baik walaupun terhadap orang kafir, engkau akan masuk surga bersama orang-orang yang terbaik” (HR. Al Hakim dari Abu Hurairah r.a).

Mengapa saya memilih tiga kisah di atas dalam khutbah idul fitri di Dhaka tahun ini? Sebab branding umat Islam saat ini amat negatif, yaitu penganut agama yang bengis dan tega membunuh orang yang tidak seagama dengan cara-cara yang keji, bahkan terkadang terhadap sesama muslim. Orang-orang di luar Islam berlogika, orang-orang muslim ringan tangan untuk menghabisi nyawa sesama muslim hanya karena perbedaan aliran politik atau pemikiran, maka apalagi terhadap orang-orang yang berbeda agama. Kekejian terhadap non-muslim itu juga diperlihatkan hanya beberapa meter dari tempat shalat ini pada bulan suci, ketika ketika umat Islam Bangladesh sedang beri’tikaf dengan khusyuk di semua masjid untuk mengagungkan malam-malam lailatul qadar. Tujuh orang yang mengatasnamakan ISIS menyandera pengunjung Restorant Holey Artisan Bakery dan dengan bertakbir menyembelih 20 orang berkebangsaan Italy, Amerika, Jepang, Bangladesh dan India.

Saatnya kita membangun rebranding umat Islam sebagai penganut agama yang santun dan penebar aroma di tengah umat manusia, sebagaimana pesan Allah kepada Nabi SAW dan semua umatnya, ”Wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ’alamin /Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan untuk menebar kasih kepada penghuni alam semesta” (QS. Al Anbiyak [21]: 107).

Idul Fitri adalah saat yang paling tepat untuk start kampanye dunia untuk rebranding muslim sebagai penebar kasih. Kita mulai dari lingkungan keluarga sendiri, lalu lingkungan tetangga dan tempat kerja, lalu ke tingkat yang lebih luas lagi. Biarlah kita tidak bisa menyaksikan hasil usaha ini, sebab diperlukan puluhan tahun untuk rebranding citra umat, tapi kita harus memulainya sekarang dengan ekstra keringat.

Kita harus membuka lembaran sejarah, bahwa penyebaran Islam yang begitu spektakuler di semanjung Arab, Afrika dan Asia lebih banyak disebabkan oleh daya tarik akhlak Nabi SAW dan umat Islam, bukan oleh pidato-pidato  mereka di mimbar-mimbar, apalagi oleh senjata yang menakutkan. Nabi SAW memang beberapa kali menggunakan kekerasan, tapi itu dilakukan dalam keadaan perang karena terpaksa mempertahankan diri dari serangan pihak lain. Itupun dilakukan dengan etika yang sangat terpuji menurut ukuran manusia beradab.

Kita harus sadar bahwa umat manusia semakin hari semakin terpelajar dan menuntut etika terpuji dalam segala hal. Jika semakin hari citra umat Islam tidak semakin baik, maka kitalah yang bertanggung jawab jika agama ini ditinggalkan orang di kemudian hari. Lalu, orang membenarkan sebuah tesis seorang ulama, al Islamu mahjubun bil muslimin (masa depan Islam bisa suram karena ulah muslim sendiri).

Allahu Akbar, kita songsong masa depan Islam dengan spirit idul fitri, semangat penyucian jiwa. Kita tebar aroma akhlak mulia demi kejayaan Islam dan kedamaian dunia.

Minal ‘Aidin wal Faizin. Ied Mubarok. Taqbbalallahu minna waminkum. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamdu.

MENGGESER GUNUNG, MEMBELAH LAUT DENGAN SHALAT
Khutbah Jum’at Masjid Nasional Al Akbar 09 Mei 2014
Oleh: Prof. Dr. Moh Ali Aziz, M.Ag (Guru Besar UINSAS dan trainer/penulis buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia” www.terapishalatbahagia.net)

Hadirin yang terhormat

Saya diberi topik khutbah, “Inti dan Ruh Shalat.” Agar lebih hidup, saya ganti dengan topik, “Menggeser Bumi, Membelah laut dengan Shalat.” Saya akan memulainya dengan membacakan firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d [13] ayat 31:

sumber gambar: http://74211.com/wallpaper/picture_big/beautiful-nature-wallpaper-The-Blue-Wide-Sea-Divided-by-a-Narrow-Island-is-Clean-and-Impressive.jpg

sumber gambar: http://74211.com/wallpaper/picture_big/beautiful-nature-wallpaper-The-Blue-Wide-Sea-Divided-by-a-Narrow-Island-is-Clean-and-Impressive.jpg

“Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentulah Al Quran itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sungguh, Allah tidak menyalahi janji. (QS. Ar-Ra’d [13]:31).

Berkaitan dengan ayat di atas, ada peristiwa unik yang dialami seorang ibuyang hidup tertekan, tidak berdaya menghadapi kekerasan suaminya.Oleh temannya, si ibu disarankan untuk membaca ayat di atas setiap malam. Lalu, ia secara rutin melakukannya, sekalipun sama sekali tidak mengerti artinya. Beberapa bulan kemudian, secara mengejutkan, sang suami berangsur-angsur berubah, semakin melunak dan lebih santun. Karena itu, si ibu datang kepada saya untuk meminta penjelasankandungan ayat tersebut.

Ayat yang turun ketika Nabi masih berada di Mekah ini mempertegas ayat sebelumnya bahwa hati orang-orang kafir Mekah benar-benar membatu. Seandainya mereka menyaksikan Al Qur’an dapat mengoncangkan gunung-gunung, membelah bumi, atau menghidupkan orang yang telah mati, mereka tetap tidak akan beriman kepada Allah. Akan tetapi ayat ini juga dijadikan motivasi bagi Nabi untuk melakukan perubahan, sebab dalam ayat ini juga terkandung isyarat akan terjadinya revolusi besar: bangsa Arab yang telah mati jiwanya akan dihidupkan Allah SWT.

Melunakkan hati yang keras, menghidupkan jiwa yang mati, memfungsikan kembali mata yang buta dan telinga yang tuli bukanlah hal yang sulit bagi Allah. Semua makhluk ada dalam genggaman kekuasaan-Nya (bal lillahil amru jami’an).Atas usaha Nabi yang tiada henti, para pengembala unta dari penduduk pedalaman Arab (badwi)beberapa tahun kemudian menjadi pahlawan-pahlawan sejarah. Tokoh-tokoh elit penentang Nabi berbalik arah: masuk Islam dan kemudian memperkuat barisan Nabi. Mereka antara lain Umar bin Khattab, Khalid bin Walid, dan ‘Amr bin al-‘Ash. Dua kerajaan besar yang amat berpengaruh di kawasan Timur dan Barat pada waktu itu, yaitu Kerajaan Persia dan Romawi bertekuk lutut pada kekuasaan Islam.

Hadirin yang sangat terhormat

            Sengaja saya memilih ayat di atas untuk khutbah Jum’at pada bulan bernuansa isra’ mi’raj sekarang ini, semata-mata untuk meyakinkan kita semua, cahaya Allah yang dahsyat itu bisa diperoleh melalui shalat. Satu di antara doa dalam sujud kita adalah doa permohonan cahaya, bahkan memohon agar diri kita menjadi cahaya itu sendiri, “..waj’alni nura (dan jadikan diriku sebagai cahaya) (HR. Muslim, Ahmad dari Ibnu Abbas r.a). Shalat lima waktu benar-benar memberikan cahaya dan kekuatan iman yang menjadikan kita memiliki kapasitas berlipat untuk menghadapi tantangan apapun untuk sebuah cita-cita.

            Cahaya Allah tidak hanya kita butuhkan untuk menerangi diri agar terjauh dari dosa, tapi juga menerangi jiwa agar terpupus dari keputusasaan, lalu berubah menjadi hidup penuh harapan, memandang terbitnya mata hari di pagi hari sebagai lambang munculnya harapan-harapan baru. Dengan cahaya shalat, terik mentari menjadi penyemangat kerja sepanjang hari.

            Shalat tidak hanya menghasilkan pengampunan atas semua dosa dan mengantarkan kita ke surga, tapi juga bisa untuk membangun surga di dada. Artinya, orang Islam jangan hanya menunggu surga di alam baka. Mengapa kita tidak meraih surga sekarang juga? Mengapa banyak di antara kita yang telah shalat, namun masih menderita, gelisah, cemas, dan putus asa. Bagaimana mungkin mereka leading dalam ekonomi dan politik dunia. Dimana cahaya shalat kita?

Hadirin yang sangat terhormat.

            Dengan iman yang benar, kita tidak akan merasakan lelah untuk menempuh perjalanan sejauh apapun. Iman yang tangguh menjadikan kita berani menyeberangi laut yang penuh gelombang dan mendaki ke puncak gunung yang tertinggi. Ayat-ayat Al Qur’an yang kita baca dalam shalat harus dapat merubah pribadi yang lunglai dan putus asa untuk bangkit, dan yang bermental rendah diri menjadi percaya diri.

            Ayat-ayat Al Qur’an dan doa-doa dalam shalat kita harus disertai renungan mendalam sehingga menghasilkan keyakinan dan optimisme yang mantap akan kekuasaan, kasih dan keperkasaan Allah untuk menolong kita dalam semua hal. Tidak perlu menangisi takdir masa lalu, dan tidak perlu cemas membangun masa depan. Dengan sentuhan tangan Allah, semua yang sulit menjadi mudah, yang berat terasa ringan, dan yang menurut perkiraan hanya impian, benar-benar menjadi kenyataan (dreams come true), sebab Allah berfirman dalam ayat di atas, “bal lillahil amru jami’an” (semua dalam genggaman Allah).

           Mintakan cahaya itu untuk diri sendiri, suami, istri, anak atau untuk siapa saja melalui shalat. Sudah saatnya, kita akhiri sekarang juga kebiasaan shalat yang hanya raga tanpa nyawa, hanya gerakan tanpa renungan, atau hanya shalat robot, tanpa hati. Optimislah menghadapi semua persoalan hidup dengancahaya Al-Qur’an dan cahaya shalat. Saya yakin kita bisa menggoyang jagat dengan shalat. Geserlah “gunung,” belahlah “bumi,” hidupkan “orang mati” dengan shalat. Dengan semangat itulah, kita bisa menggenggam dunia, membangun surga di dada dan memasuki surga di alam baka.

MUSLIM SELEKTIF PRODUKTIF

September 5th, 2013 | Posted by admin_tsb in Taushiyah/Khutbah - (4 Comments)

MUSLIM SELEKTIF PRODUKTIF

Khutbah Jum’at di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya
30 Syawal 1434 / 06 September 2013
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ هُوَ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ  وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ  اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّابَعْدُ فَيَا عِبَادَاللهِ اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Kaum muslimin Yth.

Siang ini, saya akan menyampaikan satu hadits Nabi SAW yang sangat singkat, yang oleh Ibnu ’Abdil Bar dikatakan, “Inilah hadis paling singkat kata, tapi padat makna. Belum ada ucapan sesingkat dan sepadat itu sebelum Nabi SAW”. Inilah hadisnya:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه ” حديث حسن رواه الترمذي وغيره هكذا

Abu Hurairah r.a berkata, Rasululah SAW bersabda, ”Salah satu tanda sempurnanya keagamaan (Islam) seseorang adalah kesediaan meninggalkan sesuatu yang tidak bernilai baginya” (HR. At Tirmidzi dan lainnya)

Islam membuat skala nilai perbuatan manusia, mulai dari yang wajib (keharusan), sunnah (anjuran), mubah (netral nilai), makruh (anjuran untuk ditinggalkan) sampai yang haram (terlarang). Allah telah memberi kita akal, kitab suci al-Qur’an dan hadis Nabi sebagai alat untuk memilih di antara semua nilai tersebut. Sabda Nabi di atas memberi petunjuk, bagaimana kita seharusnya memilih di antara banyak nilai perbuatan tersebut. Kerjakan yang benar-benar bernilai, dan tinggalkan yang tidak bernilai sekalipun tidak terlarang.

Sesuatu disebut bernilai, jika ia dibutuhkan untuk kelangsungan hidup dan keselamatannya di akhirat. Terhadap hadis ini, Al Fasyani berkata, “Jika Anda membatasi diri untuk hal-hal yang penting dalam segala hal, Anda dijamin selamat dari penderitaan dunia dan akhirat. Jika Anda sadar bahwa semua kata dan tindakan selalu direkam dan dipertanggung-jawabkan di akhirat, pasti Anda tidak berbicara kecuali yang bernilai, dan tidak mendengarkan kecuali yang ada gunanya.”

Hadis ini juga megandung perintah berhati-hati dalam setiap kata dan tindakan, agar tidak ada orang yang terganggu ketenangannya atau tersakiti hatinya. Termasuk pula kata tak bernilai adalah kata yang diucapkan hanya untuk mengundang tawa orang. Dalam Kitab al-Muwatha’, Imam Malik mengutip nasehat Luqman, ”Ada tiga pangkal kebajikan, yaitu berbicara yang benar, memegang teguh amanah dan meninggalkan hal yang tidak berguna”. Imam Al-Hasan berkata, ”Salah satu tanda orang yang dibenci Allah adalah jika ia menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak bernilai.” Allah SWT berfirman,

Sungguh, bahagialah orang-orang yang beriman, (yaitu) mereka yang khusyu’ shalatnya, dan mereka yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna” (QS. Al Mukminun [23]:1-3)

Dalam kehidupan sehari-hari, kebanyakan kita tidak selektif dalam berucap dan bertindak. Kita sering melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak penting. Menghibur diri itu boleh dan perlu, tapi jika lebih dari cukup, itu sudah termasuk tak bernilai. Bergurau antar teman itu juga diijinkan untuk mengurangi ketegangan, tapi jika lebih dari cukup, maka itu termasuk tidak bernilai, bahkan seringkali menjadi sumber permusuhan. Apalagi sampai hanyut dalam gurauan yang berbau pornografi. Cobalah pegang prinsip ini ketika kita memegang telpon seluler,  di depan internet, di depan televisi, di meja makan, dan dalam segala hal. Semakin selektif terhadap ucapan dan tindakan, Anda semakin produktif, dan semakin jelas kemuliaan karakter Anda. Sebaliknya, semakin tidak selektif, semakin tampak kekeredilan dan kerapuhan iman Anda.

Al-Fasyani berpesan, ”Sibukkan dirimu dengan hal-hal yang berguna dan berpahala. Setan amat senang jika Anda menyia-nyiakan usia. Setan tahu bahwa setiap tarikan nafas dalam hidup ini amat mahal harganya. Muslim yang bijaksana akan menggunakan setiap detik usianya untuk mencari bekal menuju di akhirat.”

Setiap muslim harus menjauhi perkataan yang tidak baik. Jika tidak hati-hati, bisa saja orang mengalami penderitaan beruntun di akhirat hanya karena satu kata yang pernah diucapkannya. Ketika ia mati, setiap kali ada orang yang mengikuti ucapan buruk itu, ia mendapat siksa dalam kuburnya. Ibnu Umar r.a berkata, ”Jangan memperbanyak bicara kecuali yang bisa mendorong ingatan kepada Allah. Jika tidak, hatimu akan membatu dan Anda terjauh dari Allah.”

Hidup adalah amanah ”Sungguh, Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” (QS. An-Nisa [4]:58). Oleh sebab itu, setiap anggota badan adalah amanah. Amanah lisan adalah berbicara yang benar dan berguna. Pesan orang bijak, ”Berlebihlah dalam sedekah, tapi berhematlah dalam kata”. Amanah mata adalah menjauh dari pandangan yang dosa. Amanah tangan adalah berkarya terbaik untuk umat manusia. Amanah pemimpin adalah kesejahteraan dan keadilan untuk rakyat. Amanah ulama adalah mengarahkan umat ke jalan yang benar dan menjauhkannya dari kemaksiatan dengan fatwa dan ketauladanan. Amanah budak adalah tidak mengurangi pengabdiannya kepada tuan dan tidak curang terhadap harta yang dipercayakan kepadanya. Perlu diingat, kita adalah budak dalam hubungannya dengan Allah SWT.

Ketinggian iman seseorang ditentukan sikap selektifnya terhadap segala ucapan dan tindakan. Ada dua pedoman untuk seleksi kata dan tindakan. Pertama, ucapan atau tindakan itu diperbolehkan agama atau tidak?.  Kedua, jika diperbolehkan, kita harus mempertimbangkan, ada gunanya atau tidak. Jika tidak ada gunanya, maka tinggalkan, dan inilah tanda kesempurnaan iman Anda. Anda telah menjadi muslim produktif sebab semua kata dan tindakan Anda membuahkan kedekatan kepada Allah dan kehangatan persaudaraan sesama manusia.

Jika cukup bicara dua kalimat, jangan ucapkan kalimat ketiga. Kalimat ketiga itu tak bernilai, boros energi, bahkan kalimat yang berlebih itu bisa menjengkelkan orang.  Jika ada SMS yang tidak terlalu penting, untuk apa dibaca atau dijawab?. Jika Anda menasehati orang cukup dengan satu kata, untuk apa dua atau tiga kata. Kelebihan kata itu menandakan rendahnya keimanan, sebab Anda tidak selektif kata dan kontra produktif.

Belanjakan uang untuk hal-hal yang sangat penting saja. Jika tidak, rumah tangga Anda akan berantakan, sebab Anda boros dan mengarah ke pola hidup GLTL alias “gali lubang tutup lubang.”  Keluarlah dari rumah, jika memang ada hal penting yang harus dilakukan. Jika tidak, Anda menghamburkan BBM, tidak ikut prihatin dengan menipisnya cadangan BBM di negeri ini, dan menambah kemacetan yang menyusahkan orang di jalan raya. Jika cukup setengah piring, jangan makan satu, apalagi dua piring, sebab itu melebihi yang dibutuhkan tubuh. Makanan yang lebih dari yang dibutuhkan tubuh itulah yang menjadi sumber penyakit di kemudian hari.

Subhanallah, luar biasa, Maha Benar Allah dalam segala firman-Nya. Sungguh, pesan Rasulullah SAW sangat mendalam cakupannya. Ucapkan dan kerjakan hanya yang benar-benar penting. Tinggalkan yang tidak seberapa penting, sekalipun diperbolehkan agama, apalagi tidak ada gunanya sama sekali. Jadilah muslim selektif dan produktif. Badan Anda dijamin lebih sehat, rumah tangga Anda dijamin lebih bahagia, ekonomi Anda dijamin lebih stabil, dan tidak banyak orang di sekeliling Anda yang sinis atau bermusuhan dengan Anda. Barakallahu fikum (Semoga Allah memberkahi kehidupan kita semua)

اَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهُ لِى وَلَكُمْ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ