Header

CINTA RASUL -1

October 31st, 2011 | Posted by admin_tsb in Artikel

CINTA RASUL (1)

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Ketika menjadi imam taraweh di |Mauritius Afrika tahun 2000, beberapa kali pengunjung masjid meminta saya untuk membaca Surat Ali Imran ayat 144, ”Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sidikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.

Berbeda dengan di Indonesia, di negera bekas perbudakan itu, jamaah shalat diberi hak untuk mengusulkan ayat al-Qur’an yang dibaca oleh imam. Saya agak terkejut, sebab ayat itu tidak sepopuler surat Yasin, Al-Waqi’ah.

Setelah mempelajari isi ayat di atas, saya menduga dua alasan mengapa mereka terkesan dengan firman Allah di atas. Pertama, karena dalam sejarah,  ayat itu bisa menenangkan kaum muslimin yang kalut pada saat kematian Nabi SAW. Kedua, ayat itulah yang membakar semangat juang Mush’ab bin Umar pada perang Uhud, sampai ia mati syahid. Uraian ini hanya menguraikan alasan pertama.

Setelah sakit beberapa hari, akhirnya Nabi SAW wafat di atas pangkuan Aisyah. Setelah Aisyah memindahkan kepala Nabi SAW di atas bantal, ia berdiri dengan wajah sedih bersama sejumlah wanita yang memukul-mukul wajah.  Kegaduhan itu membuat kaum muslimin yang sedang berada di masjid terkejut, tidak percaya akan wafatnya Nabi SAW, karena pagi harinya ia sudah terlihat sembuh.

     Umar bin Khattab berlari menuju tempat jenazah disemayamkan. Ia buka pelan-pelan kain penutup wajah Nabi SAW. Ternyata ia sudah tidak bergerak lagi. Umar menduga bahwa Nabi sedang pingsan. Jadi tentu akan siuman lagi.  Mughirah, sahabat yang dekat dengan Umar berkali-kali meyakinkan bahwa Nabi telah wafat, tapi Umar justeru membentak, ”Engkau bohong”.  Bahkan Umar pergi ke masjid untuk berbicara di depan kaum muslimin.

Demi Allah, Nabi SAW tidak meninggal, melainkan hanya pergi sebentar kepada Allah, seperti kepergian Nabi Musa as, yang menghilang dari tengah-tengah masyarakat selama empat puluh hari, lalu datang kembali lagi setalah dikabarkan dia sudah mati. Sungguh, Nabi SAW pasti akan kembali seperti Nabi Musa juga. Siapapun yang mengatakan Nabi SAW meninggal, saya akan memotong tangan dan kakinya!”.

Umar masih terus mengulang-ulang pidatonya, sementara semakin banyak kaum wanita  di sekitar rumah duka yang masih memukul-mukul muka sebagai tanda kematian Nabi SAW.

Dalam keadaan demikian, datanglah Abu Bakr, mertua Nabi SAW. Tanpa menoleh ke kanan dan kiri, ia minta izin Aisyah untuk masuk ke kamar Nabi SAW. Aisyah berkata, ”Orang tidak perlu minta izin untuk hari ini”.  Dibukalah kain burdah buatan Yaman yang menutup wajah Nabi SAW. Abu Bakar ra mencium jasad Nabi dan berkata,  “Alangkah sedapnya di waktu engkau hidup, alangkah sedapnya pula di waktu engkau mati”.

Kemudian kepala Nabi diangkat dan diperhatikan paras mukanya, yang ternyata menunjukkan ciri-ciri kematian. Abu Bakar berkata, “Demi ibu-bapakku (sebuah ekspresi doa & cinta),  maut yang sudah ditentukan Allah untukmu, sekarang sudah kau rasakan. Sesudah itu, tak akan ada lagi maut menimpamu !”. Kepala Nabi dikembalikan lagi di atas bantal dan kain burdah ditutupkan kembali lagi ke muka Nabi SAW.

Abu Bakar segera pergi ke masjid untuk menenangkan kaum muslimin yang sedang mendengarkan pidato Umar. “Sabar !, sabarlah, wahai Umar !” katanya setelah ia berada di dekat Umar. “Dengarkan!”. Tetapi Umar tidak mau diam dan terus bicara. Setelah mengucapkan hamdalah, Abu Bakar berpidato sebagai berikut, “Saudara-saudara! Barangsiapa menyembah Muhammad, ketahuilah ia sudah meninggal. Tetapi barangsiapa menyembah Allah, ketahuilah Allah hidup selamanya dan tak akan mati. Lalu ia mengutip firman Allah di atas.

Kedua kaki Umar mulai gemetar dan tidak dapat lagi menyangga tubuhnya. Mendengar firman Allah yang dibacakan Abu Bakar, ia baru percaya bahwa Nabi SAW telah dipanggil Allah selamanya. Umar jatuh tersungkur ke tanah. Para sahabat yang semula percaya kepada Umar juga tidak dapat menahan tangis setelah mendengar ayat tersebut. Seolah-olah ayat itu baru saja diturunkan.

Kisah itu amat sederhana dan sudah sering kita dengar. Tapi jika diperhatikan, kita dapat mengetahui betapa cinta Umar dan para sahabat kepada Nabi SAW. Orang  sekelas Umar, yang terkenal cerdas dan kritis hampir tidak mempercayai kepergian sang kekasih. Tidak lain, karena kecintaannya yang tiada tara. Umar dan para sahabat benar-benar kehilangan cahaya yang amat dibutuhkan, pemimpin yang penuh kasih bagai kasih seorang bapak kepada anak, atau kasih kakak kepada sang adik. Kisah itu juga menunjukkan,  secerdas bagaimanapun, manusia lebih dikendalikan oleh emosi daripada rasionya.

Hari ini, jutaan muslim mulai berdatangan di makam Nabi SAW di Masjid Madinah sambil menunggu pelaksanaan puncak ibadah haji di Mekah. Ibadah haji lebih banyak mengasah emosi daripada rasio. Semoga haji dan ziarah makam Rasul kaum muslimim menghasilkan cinta Rasul lebih mendalam, sehingga mereka menjadi penggerak pembangunan karakter bangsa sepulang ke Indonesia.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

One Response



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *