Header

CIPIKA CIPIKI SETELAH SHALAT

March 3rd, 2015 | Posted by admin_tsb in Konsultasi Keluarga Bahagia

CIPIKA CIPIKI SETELAH SHALAT
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

 

Tanya:

Assalamu’alaikum wr wb

Sejak pernikahan 12 tahun yang lalu sampai sekarang, saya selalu mencium pipi kanan (CIPIKA) dan cium pipi kiri (CIPIKI) istri setelah shalat berjamaah. Kami berdua merasa bahagia karena semua masalah termasuk ganjalan hati antara kami berdua bisa hilang atau minimal berkurang secara drastis. Mungkin karena itulah saya tidak mengalami konflik dengan istri berkepanjangan dan kami sungguh bahagia.

Nah, setelah putra pertama saya lulus dari sebuah pondok pesantren, dia melarang saya melanjutkan kebiasaan itu karena cipika cipiki termasuk membatalkan wudlu, sehingga harus wudlu ulang untuk shalat sunah setelah shalat fardlu atau membaca Al Qur’an. Saya mohon penjelasan, apa yang harus kami lakukan? Saya jujur mengatakan sangat berat menghentikan kebiasaan yang selama ini menjadi sarana keharmonisan kami. Jika teguran anak tidak saya ikuti, dia kelihatan kecewa, sampai suatu saat dia mengatakan, “Untuk apa papa menyekolahkan saya untuk mengerti agama, lalu setelah saya mendapat ilmu yang dicari, ilmu itu tidak dipakai?”

Saya mohon solusi Bapak pengasuh dan penjelasan hukum Islam tentang cipika cipiki dan akibatnya terhadap wudlu kami.

Subroto – Tulung Agung

Jawab:

Wa’alaikumussalam wr wb.

                Wah, ini luar biasa tapi amat membanggakan dan menyenangkan pak. Maksud saya, yang biasa dilakukan pada umumnya di kalangan kita seorang istri mencium tangan suami ketika berjabat tangan usai shalat. Tapi, Bapak Subroto lebih hangat lagi: cipika cipiki. Perlu Bapak ketahui, berjabat tangan suami istri usai shalat maupun cipika cipiki sama-sama menjadi perdebatan di kalangan ahli agama. Bukan hukumnya yang jelas-jelas halal, tapi membatalkan wudlu atau tidaknya.

                Saya memberi apresiasi besar untuk Bapak yang berhasil membangun keluarga bahagia di tengah semakin meningkatnya angka perceraian. Sekarang Bapak mempunyai tugas baru yaitu menjaga perasaan anak dan menghargai pikirannya yang sedang berkembang seirama dengan berbagai pengetahuan. Kelak, perbedaan pendapat dengan anak tidak hanya masalah agama, tapi juga menyangkut pilihan-pilihan hidup. Bersiaplah. Tapi, saya sangat yakin, Bapak bisa mengatasinya dengan bijaksana.

Menyangkut batal atau tidaknya wudlu akibat persentuhan pria dan wanita yang tidak mahram (haram dinikah) termasuk antara suami istri, saya sampaikan beberapa pendapat ulama sebagai berikut. Menurut Imam Syafii, batal secara mutlak. Sedangkan menurut Imam Malik, batal jika persentuhan itu menimbulkan kenikmatan. Adapun ciuman suami istri tetap membatalkan wudlu sekalipun tidak menimbulkan kenikmatan. Imam Abu Hanifah mempunyai pendapat yang sangat longgar, yaitu persentuhan pria dan wanita, siapapun dia, tidaklah membatalkan wudlu. Menurutnya, ciuman suami istri juga tidak membatalkan wudlu. Ia berpegang pada penuturan ‘Aisyah, istri Nabi SAW bahwa Rasululllah SAW menciumnya sedangkan Nabi sedang puasa, lalu ia bersabda, “Sungguh ciuman itu tidak membatalkan wudlu dan tidak membatalkan puasa.” (HR Ishaq bin Rahawaih dari Aisyah r.a dengan sumber sanad yang dipercaya). Juga berdasar hadits yang lain yang diceritakan oleh Hubaib bin Abu Tsabit dari Urwah dari Aisyah bahwa Nabi SAW bersabda, “Sungguh, Nabi mencium sebagian istrinya kemudian ia keluar untuk shalat tanpa wudlu terlebih dahulu. Saya (Urwah) mengatakan, “Siapa lagi istri Nabi itu jika bukan Anda? Maka Aisyah tertawa.” (HR Abu Dawud dan At Turmudzi).

Sedangkan menurut Imam Syafi’i, firman Allah SWT dalam Al Qur’an tentang batalnya wudlu akibat persentuhan laki-laki dan perempuan sudah sangat jelas: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur” (QS. Al Ma-idah [05]:06).

Kata yang tercetak tebal dalam ayat di atas “…atau menyentuh perempuan..” diartikan berbeda oleh Imam Malik dan Imam Abu Hanifah, bahwa yang dimaksud adalah hubungan badan suami istri. Menurut mereka, Al Qur’an selalu menggunakan bahasa yang halus untuk menyebut hubungan suami istri.

Bapak bisa mengajak ananda untuk bertukar pikiran dengan santai dan dari hati ke hati. Jelaskan pilihan Bapak terhadap pendapat ulama-ulama di atas. Jika tetap berseberangan, menurut saya Bapak sebaiknya mengikuti saja saran ananda agar merasa dihargai. Pikiran setiap orang termasuk ananda juga berkembang terus. Untuk membangun kehangatan suami istri masih banyak cara lain, dan Bapak menurut saya paling tahu tentang hal itu. Wallahu a’lamu bis-shawab.

 

 

 

 

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

2 Responses



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *