Header

CUCI DARAH DENGAN SAJADAH

August 3rd, 2015 | Posted by admin_tsb in Artikel

CUCI DARAH DENGAN SAJADAH
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://www.lkc.or.id/wp-content/uploads/2012/06/hemodialysis-300x228.jpg

sumber gambar: http://www.lkc.or.id/wp-content/uploads/2012/06/hemodialysis-300×228.jpg

“Dan sungguh pasti Kami akan selalu menguji kamu dengan sedikit ketakutan, (sedikit) kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Al Baqarah [02]:155-157).

Pada ayat sebelumnya, Allah SWT berbicara tentang perintah 2-S yaitu sabar dan shalat untuk menghadapi apapun cobaan hidup. Selanjutnya pada ayat ini, sebagaimana dikutip di atas, Allah SWT menjelaskan jenis-jenis cobaan tersebut dan hadiah kebahagiaan bagi mereka yang sabar menghadapinya.

Dan sungguh, pasti Kami selalu memberi cobaan kepadamu…” merupakan sumpah Allah yang ditujukan kepada semua manusia. Tidak pandang bulu apakah Anda orang shaleh atau tidak, hidup berlimpah pahala atau bergelimang dosa. Siapapun Anda akan mengalami cobaan hidup berupa ketakutan terhadap sesuatu yang tidak diinginkan, kegalauan dalam persoalan ekonomi, kesehatan dan kematian. Termasuk kematian orang-orang yang Anda dicintai. Yang berbeda di antara kita hanyalah tingkat kecemasan dan cara-cara menyikapinya.

Sedih dan cemas merupakan bawaan manusia, termasuk para nabi. Nabi SAW meneteskan air mata ketika anak laki-laki yang dicintainya, Ibrahim meninggal dunia. Demikian juga ketika ditinggal wafat Khadijah, istri yang sangat setia, dan Abu Thalib, paman yang selalu pasang badan melawan orang-orang kafir yang menyerangnya. Dalam perang Uhud, Nabi SAW juga sedih ketika melihat paman yang merawatnya sejak kecil, Hamzah bin Abdul Muthalib bersimbah darah di depannya. Tapi, kesedihan Nabi SAW tidak berlangsung lama, apalagi sampai mengurangi semangat hidup. Kesedihan yang berlarut-larut menunjukkan kerapuhan iman. Tidak hanya itu, kesedihan yang seperti itu pasti akan merusak kesehatan dan menularkan virus kesedihan pada orang di sekitarnya. Sadarlah, jika Anda tidak bisa memberi kebahagiaan orang, jangan menularkan kesedihan kepadanya. Apapun musibah yang ada, Anda harus menghapusnya dengan membaca “Inna lillahi wa innaa ilaihi raji’uun” (QS. 02: 156). Terjemah bebasnya, “Sungguh, badan, harta, suami, istri, dan putra putriku, semua milik Allah, bukan milikku. Juga nyawaku. Aku tidak bisa menghalangi Pemilik semua itu melakukan apa saja. Semua keputusan-Nya pasti yang terbaik untukku. Aku dan semua keluargaku pasti akan kembali kepada Allah pada saat yang telah ditentukan-Nya.”

Allah SWT menjelaskan secara detail macam-macam cobaan hidup (QS.2: 155) agar Anda tidak terkejut ketika mengalaminya. Ayat tersebut juga difirmankan Allah SWT setelah ayat perintah sabar dan shalat, agar dengan dua modal itu Anda telah siap lahir batin menghadapinya. Jika Anda telah menempa iman yang membaja melalui shalat yang penuh penyerahan, Anda pasti tetap tenang dan tegar menghadapi cobaan, sebab Anda telah menyiapkan payung sebelum hujan atau telah membangun pondasi bangunan yang kokoh sebelum gempa dahsyat menggoncangnya. Anda sedih sejenak, itu wajar sebab Anda bukan malaikat. Tapi beberapa detik kemudian, Anda harus menunduk mengucapkan “Inna lillahi wa innaa ilaihi raji’uun.” Itulah tanda kedekatan dan penyerahan manusia kepada Tuhannya. (QS. Al Baqarah [02]: 156).

Jika Anda bisa mengucapkan kalimat istirja’ (inna lillahi wainna ilaihi raji’uun) sepenuh hati, tidak hanya dengan lidah seperti anak TK, maka Allah sangat senang dan bangga melihat wajah Anda, lalu memberi Anda tiga bonus termahal, yaitu shalawat dari Allah (perlindungan-Nya), rahmat-Nya, dan petunjuk-Nya, yaitu petunjuk jalan kebenaran, sekaligus petunjuk jalan keluar dari masalah yang dihadapi (QS. 02:157).

Salah satu cobaan hidup adalah penyakit, lebih-lebih yang dialami oleh orang yang merupakan tulang punggung ekonomi satu-satunya dalam keluarga. Tidak hanya berat baginya, tapi juga bagi keluarga yang merawatnya sekaligus mengambil alih tugas pencarian nafkah dan biaya berobat. Hanya orang-orang pilihan yang tetap senyum menghadapi cobaan itu dan mengucapkan kalimat istirja’ dengan penuh keriangan. Orang pilihan Allah sangat sadar bahwa mengeluh merusak keimanan sebab ia mendatangkan murka Allah. Allah akan mengatakan kepada orang yang mengeluh, “Jika mengeluh dan protes kepada keputusan-Ku, carilah Tuhan alternatif selain Aku!”

Berikut ini adalah firman Allah dalam sebuah hadits qudsi yang saya yakini dapat mempercepat Anda menjadi manusia pilihan. ‘Atho bin Yasar mengatakan Rasulullah SAW bersabda, “Ketika ada orang sakit, Allah mengutus dua malaikat kepadanya dan memerintahkan, “Perhatikan apa yang dia ucapkan kepada para penjenguknya. Jika ia mengucapkan syukur dan menyanjung Allah ketika para penjenguknya datang, maka dua malaikat itu segera mengirimkan laporan kepada Allah Azza Wajalla dan sebenarnya Allah Maha Mengetahui hal itu. Lalu Allah berfirman, “Wajib bagi-Ku untuk hamba-Ku itu, jika Aku mewafatkannya, untuk memasukkannya ke surga. Dan jika Aku memberi kesembuhan kepadanya, Aku akan mengganti dagingnya dengan daging yang lebih baik dari dagingnya sekarang dan darah yang lebih baik dari darahnya sekarang, dan akan Aku hapuskan seluruh dosanya.” (HR. Imam Malik dalam Al Muwaththa Juz 2 p. 940, hadis nomor 05)

            Jika Anda tetap ikhlas, tidak mengeluh menghadapi penyakit (tentunya setelah berobat dengan maksimal), maka Anda mendapat empat kehormatan dari Allah. Pertama, Allah mengirim dua malaikat selain malaikat pencatat perbuatan manusia yaitu Raqib dan Atid, dengan tugas khusus melaporkan apa saja yang Anda ucapkan dalam menyikapi penyakit itu. Kedua, Allah menghapus semua dosa Anda sampai habis seperti pohon yang bersih dari daun-daun tua yang berguguran, atau seperti si baby yang baru saja keluar dari perut ibunya. Ketiga, Allah memberi dua hadiah besar, yaitu surga jika Allah memutuskan Anda wafat pada saat-saat sakit itu. Itulah tanggal kematian yang terbaik menurut Allah. Keempat, jika Anda diberi kesembuhan, maka Anda menjadi manusia baru, karena Allah telah mencuci darah dan daging Anda. Daging dan darah Anda telah diganti dengan daging dan darah yang baru, yang belum ternoda dengan sedikitpun dosa. Pembaca yang sedang mengalami ujian berat! bersujudlah yang lama untuk menyatakan senang dan sama sekali tidak mengeluh dengan ujian yang Anda hadapi. Jangan angkat kepala sebelum Anda mengucapkan “radlitu billahi rabba” (sungguh, aku senang dan tidak mengeluh kepada perintah dan larangan-Mu, dan sangat senang menerima apapun cobaan dari-Mu). Selamat mencuci darah dan daging dengan sajadah. (Sumber: Moh. Ali Aziz, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, p. 167; Hamka, Tafsir Al Azhar Juz II: 20; M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah Vol 1: 435; Muhammad ‘Awwaamah, Minas Shihah Al Ahadits Al Qudsiyyah: Mi’ah Hadits Qudsi Ma’a Syarhiha (Seratus Syarah Hadis Qudsi), Noura Books, Jakarta Selatan 2013, p. 510)

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

3 Responses



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *