Header

DAMAI DENGAN SHALAWAT NABI

May 2nd, 2017 | Posted by admin_tsb in Artikel

DAMAI DENGAN SHALAWAT NABI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

 

sumber gambar: http://www.goodnewsnetwork.org/peace-sculpture-unveiled-in-wausau-2/

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا

“Sungguh Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (QS. Al Ahzab [33]: 56).

Hampir semua muslim di berbagai belahan dunia hafal ayat yang sangat populer di atas. Ketika penceramah atau pemimpin zikir membacakan ayat tersebut, hadirin secara spontan menirukannya, lalu bershalawat bersama, allhumma shalli wasallim ‘ala sayyidina Muhammad.

Ayat ini paling unik di antara semua ayat Al Qur’an, sebab sebelum memerintahkan manusia bershalawat, Allah memberi contoh untuk bershalawat terlebih dahulu bersama para malaikat. Seolah-olah Allah SWT berpesan, “Aku Yang Maha Besar dan para malaikat yang mulia bershalawat kepada Nabi. Maka, sebagai orang yang beriman, kalian seharusnya melakukan hal yang sama!” Allah SWT bershalawat kepada nabi, artinya melimpahkan rahmat-Nya. Sedangkan shalawat oleh malaikat berarti permohonan ampunan dan kemuliaan untuk Nabi SAW.

            Keunikan lainnya, ayat ini diapit dua ayat yang saling menguatkan. Ayat sebelumnya memerintahkan kita menghormati Nabi SAW dan para istrerinya, dan ayat sesudahnya tentang ancaman Allah bagi siapapun yang menyakiti atau menjelekkannya. Penghormatan itu wajib dilakukan sampai kapanpun. Umar bin Khattab menegur beberapa pemuda dari luar kota yang gaduh di depan makam Nabi SAW, “Hormatilah nabi kalian. Andaikan kalian bukan orang asing, kalian sudah pasti merasakan bogem-mentahku. Jangan bersuara keras di sini!” Berdasar isi ayat ini, Imam Nawawi dalam kitabnya Al Adzkaar menganjurkan untuk selalu bershalawat sekaligus bersalam kepada Nabi SAW, sebagaimana telah kita lakukan pada setiap tasyahud, yaitu: assalamu ‘alaka ayyuhan nabiyyu (salam untukmu wahai nabi) dan allahumma shalli ‘ala Muhammad (wahai Allah berikan shalawat untuk Nabi Muhammad).

Ayat ini menunjukkan betapa mulianya Nabi SAW di mata Allah SWT dan semua penduduk langit. Jika Anda enggan memuliakan nabi SAW, manusia yang paling agung budi pekertinya dan paling besar jasanya dalam Islam itu, maka tidaklah mungkin Anda memuliakan dan mengakui jasa-jasa orang kecil. Secara tidak langsung, Anda diajari Allah SWT untuk menjadi pribadi apresiatif, pandai berterima kasih dan selalu menghargai semua orang, lebih-lebih mereka yang terhormat.

Karena perintah bershalawat berlaku umum, maka, Nabi SAW juga bershalawat untuk dirinya sendiri di dalam dan di luar shalat. Fatimah r.a, putri Rasulullah SAW bercerita, Nabi SAW selalu bershalawat dan menyampaikan salam untuk dirinya sendiri setiap masuk dan keluar masjid, lalu memohon ampunan dan rahmat Allah (HR. Ahmad).

Begitulah pentingnya shalawat. Shalat Anda, termasuk shalat jenazah tidak sah, jika tidak disertai shalawat. Doa Anda tertolak jika tidak dimulai atau ditutup dengan shalawat. Nabi SAW bersabda, “Doa akan tertolak kecuali pembaca doa itu bershalawat untuk Nabi SAW” (HR. Al Thabrani). Sebab, shalawat adalah sayap yang dibutuhkan untuk menerbangkan doa sampai ke langit. Menurut Imam Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal, khutbah juga tidak sah, jika tanpa shalawat. Hitunglah, berapa kali Anda bershalawat dalam sehari? Mengapa demikian? Sebab, Anda harus terus menerus tersambung dengan cahaya Nabi agar bisa menyontoh akhlaknya. Bershalawatlah untuk Nabi SAW setiap kali Anda mendengar namanya. “Orang yang paling kikir adalah orang yang (mendengar) namaku di sebut, ia tidak bershalawat untukku” (HR. Al Tirmidzi dari Ali r.a).

Raihlah lima anugerah Allah melalui bershalawat. Pertama, Anda semakin dekat dengan Nabi SAW. Beliau bersabda, “Bershalawatlah untukku, sebab semua shalawat kalian sampai kepadaku di manapun kamu berada” (HR. Abu Dawud). Beberapa sahabat pernah bertanya, ”Wahai  Rasulullah, bagaimana shalawat kami diperlihatkan kepada tuan, sedangkan jasad tuan sudah bercampur dengan tanah? Beliau menjawab, ”Sungguh, Allah melarang bumi untuk memakan jasad para nabi” (HR. Abu Daud, Ahmad dan Al Hakim). ”Siapapun yang bersalam kepadaku, pasti Allah mengembalikan nyawaku sampai aku menjawab salam untuknya” (HR. Abu Daud dari Abu Hurairah r.a).

Kedua, akhlak Anda semakin mirip dengan Nabi SAW. Bacaan shalawat membuat Anda mengingat Nabi dan bertekad meniru akhlaknya. Shalawat nabi tanpa tekad meniru akhlaknya hanya shalawat formalitas. Beberapa kali dijumpai di Mesir, dua orang yang bersitegang tiba-tiba buyar setelah mendengar seruan shalawat, “shallu ‘alan nabi” oleh orang di sebelahnya. Ketiga, semakin banyak malaikat menemani dan menolong Anda. Nabi SAW bersabda, “Sungguh, Allah memiliki banyak malaikat yang berkeliling untuk menyampaikan salam umatku kepadaku” (HR. Al Nasa-i dan Al Hakim dari Abdullah bin Mas’ud r.a). Jutaan malaikat selalu menunggu shalawat untuk segera datang menjemput Anda, seperti gojek yang selalu siap berangkat ketika menerima panggilan pengguna jasa transportasi.  Keempat, Anda aman dari siksa akhirat. Nabi SAW akan hadir sebagai pemberi syafaat atau pembela ketika Anda berdiri di depan pengadilan Allah SWT. Nabi SAW bersabda,

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ حِينَ يُصْبِحُ عَشْرًا وَحِينَ يُمْسِي عَشْرًا أَدْرَكَتْهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa bershalawat untukku sepuluh kali di pagi hari dan sepuluh kali di sore hari, maka dia mendapat pembelaanku (syafa’at) pada hari kiamat” (HR. Al Thabrani dari Abu Darda). Sabdanya lagi, “Orang yang paling mulia bersamaku  pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat untukku” (HR. Al Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud r.a). “Barangsiapa bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan memberi sepuluh shalawat (rahmat) untuknya” (H.R. Muslim dari Abdillah bin ’Amr bin Al ’Ash r.a). Imam Habib Abdullah Haddad mengatakan, ”Satu shalawat Allah sudah cukup bisa menyelamatkan dan menaikkan kemuliaan Anda. Maka, alangkah tingginya kemuliaan itu, jika Allah memberi sepuluh shalawat untuk Anda.” Subhanallah.

Kelima, irama shalawat Anda bersamaan dengan gemuruh irama shalawat Allah dan para malaikat-Nya. Berkenaan dengan ayat di atas, Ibnu Katsir berkata, ”Shalawat benar-benar telah menyatukan gema irama zikir penduduk langit dan bumi.”

Semakin sering bershalawat kepada nabi, maka hidup Anda semakin DAMAI, yaitu kepanjangan dari: Dekat dengan Nabi; Akhlak Anda semakin mirip dengannya; Malaikat semakin banyak menolong Anda; Aman dari siksa akhirat, dan Irama shalawat Anda bersamaan dengan gemuruh shalawat Allah dan para malaikat-Nya. Allahumma shalli wa sallim wabarik ‘alaih.

 

Referensi: (1) Moh. Ali Aziz, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, UIN Sunan Ampel Press, Surabaya, 2015, cet. X  p. 128-135 (2)  Al Jamshy, Mohamad Hasan, Al Qur’anul Karim, Tafsir wa Bayan, Darur Rasyid, Beirut, p. 426  (3) Hamka, Tafsir Al Azhar,  Juz 22, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 84-91 (4) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol. 10, Penerbit Lenterera Hati, Jakarta, 2012, p. 526-531 (5) Al Nawawy, Abu Zakariya, Yahya bin Syaraf,  Riyadush Shalihin,  CV. Thoha Putra, Semarang, 1981.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

One Response



Leave a Reply to robiyah Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *