Header

DERITA DUSTA

October 5th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel

DERITA DUSTA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang jujur” (QS. At Taubah [9]: 119).

            Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menceritakan tiga sahabat Nabi dengan sifat yang berbeda. Dua orang dari mereka berkata jujur dengan risiko dikucilkan oleh lingkungannya beberapa waktu, dan seorang lainnya berbohong, sehingga ia aman dari sanksi sosial saat itu. Sebagai kelanjutan, ayat di atas memerintahkan kita untuk meniru orang yang jujur, sebab itulah tanda utama ketakwaan. Al Imam Ibnu Qayyim berkata, “Jujur adalah ciri pembeda antara munafik dan mukmin, atau antara penghuni surga dan neraka.”

Secara garis besar, ada tiga macam manusia. Pertama, muslim atau mukmin, yaitu orang yang percaya kepada Allah dan menjalankan semua perintah-Nya. Kedua, munafik, yaitu orang yang tidak beriman, tapi mengaku beriman; atau beriman, tapi berbohong. Ketiga, kafir, yaitu orang yang tidak percaya kepada Allah. Ketiga kelompok tersebut dijadikan nama-nama surat Alquran, yaitu al Mukminun, al Kafirun, dan al Munafiqun.

Orang kafir pasti mendapat hukuman, dan hukuman yang lebih berat diberikan kepada orang kafir yang berpura-pura mukmin. Sebab, ia melakukan dosa yang berlipat, yaitu tidak beriman kepada Allah dan menipu orang dengan berpura-pura mukmin. Mereka itulah yang mendapat ancaman berat dari Allah, “Sungguh orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka, dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.”

Hukuman Allah juga berlaku untuk orang yang berdosa, dan hukuman itu pasti lebih berat bagi pendosa yang tidak mengakui dosanya, bahkan bergaya seperti orang suci dan memandang kotor orang lain. Hukuman berat itu diberikan, sebab ia durhaka kepada Allah, dan tidak mengakui dosanya, serta bergaya seperti orang suci dan merendahkan orang.

Siapapun yang berdosa sebaiknya segera mengakui dosanya kepada Allah dan kepada penegak hukum. Jangan berputar-putar menghindar dari hukuman dengan retorika, sandiwara, dan rekayasa, sebab itulah dosa yang bertumpuk, yaitu berdosa kepada Allah, kepada publik, dan menyulitkan penegak hukum.

Paling sedikit, ada tiga tanda kemunafikan. Pertama, berdusta kepada seseorang. Jika seseorang berdusta kepada banyak orang, termasuk melalui media sosial, maka dosanya semakin besar. Kedua, mengingkari janji kepada Allah, kepada istri, suami, anak, orang tua, pembantu rumah tangga, dan masyarakat luas. Ingkar janji merupakan dosa, dan dosanya akan lebih besar jika ia pemimpin jutaan orang. Wahai calon pemimpin dan calon wakil rakyat! Jangan hanya demi meraih popularitas dan simpati, Anda mengobral janji-janji yang tidak realistis.   

Ketiga, tidak menjalankan amanah atau kepercayaan yang dibebankan di pundaknya. Termasuk dalam kategori ini adalah pegawai atau karyawan yang tidak serius menjalankan tugasnya, dan anggota legislatif yang tidak hadir pada sidang pembuatan undang-undang. Atau ia hadir, tapi tidak serius mengikutinya. Juga pemimpin rakyat yang lebih fokus mengurus partai, keluarga, para pendukung dan tim suksesnya, daripada mengurus rakyatnya.

Berdasar hadis riwayat Imam Al Bukhari dari Abdullah bin Umar r.a, tanda kemunafikan lainnya adalah, wa idzaa khaashama fajara, artinya ketika konflik dengan seseorang, ia tidak berbicara obyektif, bahkan membesar-besarkan kekurangan lawan konfliknya. Kesalahan kecil orang yang sedang konflik dengannya, atau menjadi pesaing dalam ekonomi atau politiknya dibesar-besarkan (blow up), bahkan melakukan rekayasa jahat untuk menjatuhkan nama baik yang bersangkutan. Nabi SAW mengajarkan kita untuk berdoa, “Wahai Allah, bantulah aku untuk berbicara benar ketika senang ataupun sedang marah dengan orang.”

Ada juga ciri munafik yang tidak banyak diketahui orang, yang disebut Allah dalam Surat An Nisa’ ayat 142, “Sungguh orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (pamer dan meminta pujian) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka berzikir menyebut Allah kecuali sangat sedikit.”

Berdasar ayat ini, salah satu tanda kemunafikan adalah menunda-nunda waktu shalat, atau mengerjakannya tanpa semangat dan penghayatan. Orang yang mengharap dipuji masyarakat sebagai orang saleh, dermawan, pejuang, dan pujian-pujian lainnya juga tanda yang terang benderang bahwa dia orang munafik. Demikian juga orang yang jarang menyebut nama Allah, lebih sering berbicara tentang hal-hal yang tidak ada gunanya atau tentang kekurangan orang lain. Nama Allah hanya dipanggil ketika ia menghadapi kesulitan ekonomi, kesehatan, keluarga, dan sebagainya. Jika semua sifat kemunafikan tersebut lengkap ada pada Anda, maka Anda munafik tulen atau munafik kelas berat. Dan, jika hanya satu atau dua sifat, maka Anda munafik kelas ringan.

Hanya Allah yang mengetahui apakah Anda muslim, munafik, atau kafir. Juga hanya Anda dan Allah yang tahu apakah Anda munafik kelas berat atau ringan, munafik tulen atau semi munafik. Alat-alat monitor pengukur tekanan darah dan pernapasan, alat pendeteksi suara, pendeteksi retina mata, hingga pemindai otak tidaklah selalu akurat membuktikan kebohongan orang.

Sekalipun Anda merasa berhasil menutupi kebohongan, sebenarnya oleh ahli piskologi, ekspresi kebohongan Anda itu terbaca. Ketika Anda berbohong, Anda akan terlihat gugup, karena khawatir kebohongan itu terbongkar. Ekspresi wajah Anda juga terlihat janggal, mulai dari senyum yang dipaksakan, kontak mata yang selalu dihindari, bahkan sesekali memalingkan wajah. Anda juga terlihat berlebihan dalam meyakinkan orang, misalnya dengan banyak bersumpah atau bahasa-bahasa agama lainnya. Kata orang bijak, “People can lie with their words, but not with their eyes / orang bisa berbohong dengan kata, tapi tidak akan bisa dengan mata;” “Jujur itu sakit, tapi lebih sakit ketika kebohongan itu terungkap;” “Sekecil apapun sebuah dusta, pasti akan ada balasannya;” “Sekali engkau berbohong, sejuta kejujuranmu diragukan orang,” dan “Kebohongan itu menyenangkanmu sesaat, tapi menyusahkanmu sampai kiamat.”

Imam Ibnul Mubarak berkata, “Dusta menjadikanmu menderita. Engkau akan lelah dan tersiksa, terus menerus waswas dan takut dustamu terbuka. Hiduplah dengan jujur apa adanya, agar batinmu bebas, dan langkahmu ringan.”

Surabaya, 25 Pebruari 2019

 Referensi: (1) Muhammad Ali As Shabuuny, Shafwatut Tafaasiir, Juz 1, Darul Qur-aanil Kariim, Beirut, 1402 H/1981 M, Cet. IV, p. 567, (2) Al Sya’rani, Abdul Wahhab, Tanbih Al Mughtarrin, penyadur: W. Wikarta: Jalan-jalan Surga, Akhlak dan Ibadah Pembuka Pintu Surga, Mizania, Bandung 2017, cet.1.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *