Header

DIPLOMASI TANAH SUCI

December 10th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel

DIPLOMASI TANAH SUCI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: https://www.maxmanroe.com/vid/sosial/pengertian-diplomasi.html

إِنَّا فَتَحۡنَا لَكَ فَتۡحٗا مُّبِينٗا

“Sungguh Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata” (QS. Al Fath [48]: 1)

Ayat pembuka Surat Al Fath yang turun tahun 6 H  ini merupakan kelanjutan dari ayat-ayat perintah perang pada surat sebelumnya, yaitu Surat Muhammad  yang turun pada tahun 3 H. Ayat yang berisi kemenangan Nabi memasuki Mekah ini hanya bisa kita fahami jika kita mengetahui proses panjang “Fat-hu Makkah” tersebut.  

Penduduk Mekah, apapun suku dan agamanya, amat memuliakan kakbah. Meskipun mereka sedang perang antar suku, mereka bisa menjaga kehormatan kakbah. Lebih-lebih, pada empat bulan yang mereka muliakan, yaitu Rajab, Syawal, Dzul Qa’dah, dan Dzul Hijjah. Di dalam bangunan kakbah dan jalan di antara dua bukit Shafa dan Marwah terdapat banyak berhala.  Itulah sebabnya, ketika perintah umrah turun (QS. Al Baqarah [02]: 185), Allah menyatakan, “tidak apalah engkau mengerjakannya antara Shafa dan Marwah,” meskipun banyak berhala di sekitar tempat ibadah itu.  

Suatu malam pada tahun 6 H, Nabi bermimpi umrah di Mekah dengan selamat. Mendengar berita itu, 1.400 orang langsung mendaftar untuk mengikuti umrah, sebab mereka telah rindu Mekah setelah 6 tahun ditinggalkannya. Maka, pada bulan Dzul Qa’dah, mereka berangkat dengan membawa kambing yang akan disembelih setelah selesai umrah.

Di tengah jalan, Khalid bin Walid dan sejumlah kafir Mekah menghadang Nabi agar tidak melanjutkan ke Mekah. Setelah istirahat sejenak, Nabi tetap bersikeras melanjutkan perjalanan melewati jalan yang tidak biasa. Ketika sampai di lembah Hudaibiyah, Nabi menyuruh Umar untuk melobi kafir Mekah agar mengijinkan untuk memasuki Mekah. Tapi, Umar menyarankan agar Usman yang berangkat, sebab Usman memiliki banyak keluarga yang berpengaruh di Mekah. Maka, berangkatlah Usman. Kepada Abu Sufyan, pemimpin kafir, Usman meyakinkan bahwa kedatangan Nabi murni untuk beribadah, bukan untuk berperang. Abu Sufyan menjawab, “Jika tuan sendirian, silakan. Jangan bersama rombongan.”

Nabi cemas, sebab Usman lama tidak kembali, dan menduga ia dibunuh. Maka, Nabi meminta para sahabat untuk meletakkan tangannya di atas tangan Nabi sebagai janji kesetiaan. Khusus untuk Usman yang sedang tidak ada di tempat, Nabi meletakkan tangan kirinya di atas tangan kanannya sebagai tanda bai’at atas nama Usman.  

Tiba-tiba, muncullah Usman bersama utusan kafir Mekah, Suhail bin ‘Amr. Nabi kemudian memanggil Ali bin Abi Thalib untuk menyiapkan naskah perjanjian. Para sahabat kaget setengah marah terutama Umar bin Khattab melihat Suhail seenaknya mencoret beberapa poin dalam naskah itu. Pertama, basmalah (dengan nama Allah) diganti “Bismika Allahumma.” (dengan namamu, oh Allah). Kedua, kalimat “Inilah perjanjian antara Muhammad Rasulullah dengan Suhail bin ‘Amr” diganti “Inilah perjanjian antara Muhammad bin Abdullah dengan Suhail bin ‘Amr.” Sebab, ia memang tidak mengakui kenabian Muhammad. Ketiga, genjatan senjata selama 10 tahun. Keempat, ”Jika ada orang Quraisy Mekah datang kepada Nabi tanpa seijin pemimpin Quraisy, maka Muhammad wajib memulangkannya ke Mekah. Tapi, jika pengikut Nabi datang ke Mekah, maka tidak ada kewajiban bagi mereka untuk memulangkannya kepada Nabi di Madinah.” Kelima, dan ini yang terpenting, Nabi baru diijinkan ke Mekah tahun berikutnya.  Para sahabat tidak menduga Nabi menyetujui semua itu. Mereka kecewa, mengapa Nabi semudah itu mengalah?.

Umar lalu berbisik kepada Abu Bakar, “Bukankah Muhammad utusan Allah? Mengapa kita umat muslim harus mengalah kepada orang-orang musyrik? Abu Bakar menjawab satu persatu pertanyaan itu dengan jawaban yang sama, “Tenanglah Umar. Saya tidak ragu sedikitpun dengan pertanyaanmu itu. Muhammad benar-benar utusan Allah.” Tidak puas dengan jawaban itu, Umar mendekati Nabi dan membisikkan kata yang sama, dan Nabi menjawab singkat,  “Sebagai hamba Allah dan utusan-Nya, aku tidak diperbolehkan menentang kehendak-Nya.”

Beda sekali antara dua sahabat ini. Abu Bakar 100% percaya Nabi, sedangkan Umar sangat kritis, bahkan sedikit tersirat meragukan kerasulan Nabi. Tapi, keduanya diapresiasi oleh Nabi. Beberapa waktu setelah peristiwa itu, Umar seringkali menangis jika teringat sikapnya yang kasar kepada Nabi, “Niatku memang baik, tapi mengapa saya berkata begitu kasar kepada Nabi?”

Beberata menit sebelum ditandatangani perjanjian, para sahabat dikejutkan dengan kedatangan Abu Jundul putra Suhail dengan tangan terborgol sebagai tawanan Quraisy. Ia menyatakan telah muslim, dan menolak dipulangkan ke Mekah, meskipun yang membujuknya adalah ayahnya sendiri, Suhail. Nabi memulangkannya ke Mekah demi ketaatannya kepada sebuah perjanjian. “Wahai Abu Jundul, ikutilah ayahmu. Allah pasti menolongmu dan semua orang yang tertindas sepertimu,” pesan singkat Nabi kepadanya.

Akhirnya, perjanjian ditandatangani Abu Bakar, Umar, Abdurrahman bin Auf, Abdullah bin Suhail bin ‘Amr, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Ali bin Abi Thalib sebagai sekretaris. Umar dan beberapa sahabat lainnya masih mendongkol, sebab memandang perjanjian itu kekalahan umat Islam sekaligus penghinaan kepada Nabi.

Nabi lalu memerintahkan para sahabat memotong kambing dan mencukur rambut sebagai tanda batalnya umrah. Perintah itu diulang dua kali, tapi, mereka dingin-dingin saja. Maka, Ummu Salamah,  istri Nabi menyarankannya untuk memberi contoh terlebih dahulu. Nah, ketika Nabi mengambil pisau untuk memotong kambing dan mencukur rambutnya, barulah semua sahabat mengikutinya.  

Dalam perjalanan pulang ke Madinah itulah Surat Al Fath ini turun. “Inilah surat yang paling aku cintai, karena nilainya melampaui nilai langit, bumi dan segala isinya,” kata Nabi kepada Umar yang masih cemberut.

Inilah kehebatan Nabi yang berhasil merebut tanah suci dengan diplomasi kelas tinggi. Tak diperlukan biaya besar, dan tak ada setetespun darah tercecer. Diplomasi Nabi juga menghasilkan keajaiban, penduduk kafir Mekah yang terkenal ganas, bahkan berencana membunuh Nabi, tiba-tiba saja bersedia duduk berunding, suatu peristiwa yang langka bagi masyarakat Arab saat itu. 

Inilah ayat yang menunjukkan apresiasi Allah atas langkah-langkah diplomasi Nabi dalam Perjanjian Hudaibiyah. Para sahabat bertanya, “Itu apresiasi Allah untuk tuan. Adakah apresiasi untuk kami?.” Maka, turunlah ayat kelima pada surat tersebut. Belajarlah diplomasi, dan raihlah kemenangan tertinggi. 

Sumber: Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 26, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 108.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *