Header

EMPAT MANUSIA TERMULIA

March 31st, 2020 | Posted by admin_tsb in Artikel

EMPAT MANUSIA TERMULIA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://o-plosan.blogspot.com/2010/01/penduduk-surga-yang-paling-rendah.html

”Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka  akan bersama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat Allah, yaitu  para nabi, para shiddiiqiin, para syuhada’ dan orang-orang saleh, dan mereka itulah teman yang terbaik. Itulah karunia dari Allah, dan cukuplah Allah yang Maha Mengetahui” (QS. An Nisa’[04]: 69-70).

                Aisyah r.a., istri Nabi SAW menceritakan sebab turunnya ayat ini.  ”Suatu hari, datanglah seorang pria menghadap Nabi SAW seraya berkata, ”Wahai Rasulullah, tuan lebih saya cintai daripada diriku dan anakku sendiri. Setiap kali saya duduk sendirian di rumah, pikiranku tertuju kepada tuan. Tak ada yang bisa mengobati kerinduan itu kecuali bertemu dan melihat langsung wajah tuan. Sekarang saya semakin cemas, bagaimana kelak saya mengobati kegelisahan saya, ketika tuan telah meninggal dunia. Setelah kematian, tuan juga akan ditempatkan di tempat tertinggi dalam surga bersama para nabi, sedangkan saya di tempat yang berbeda, sehingga  saya tidak lagi bisa memandang wajah tuan.” Nabi SAW terdiam mendengar curahan hati laki-laki yang mengharukan itu. Saat itulah, Jibril datang membawa ayat ini.”

Abdullah Yusuf Ali dalam The Holy Quran mengatakan, ayat ini menjelaskan empat tingkatan orang mulia dan masing-masing dipertemukan satu sama lain dalam surga. Pertama, an-nabiyyuun, yaitu orang yang yakin, seyakin-yakinnya kepada Allah, para malaikat, semua kitab suci Allah, para nabi, hari pembalasan, dan percaya bahwa semua yang terjadi adalah merupakan kehendak Allah. Apa saja yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apapun yang tidak dikehendaki, pastilah tidak terjadi. Benar, kita sudah beriman, tapi sama sekali belum yakin. Dalam keseharian, kita lebih percaya kepada janji manusia daripada janji Allah. Kita lebih percaya kepada kemampuan manusia daripada kemampuan Allah, sehingga ketika menghadapi masalah, kita justru bercerita kepada mereka, bukan kepada Allah.

Termasuk as-shiddiiquun adalah orang yang jujur. Kita jujur mengakui, agama kita seringkali tajam untuk orang lain, tapi tumpul untuk diri sendiri. Kita meminta orang lain bertindak jujur dan adil, tapi sama sekali tidak untuk diri sendiri. Misalnya, dalam proses pengadilan, jika kita jujur, ibu kandung kita harus masuk penjara 20 tahun. Tapi, jika kita mau bohong sedikit, ia bisa bebas atau hanya setahun penjara. Manakah yang kita pilih?

Dalam berdagang, jika kita jujur kita rugi, bahkan bangkrut. Tapi, jika mau bohong sedikit saja, kita bisa selamat dan untung milyaran rupiah. Manakah yang kita pilih?. Oleh sebab itu, dalam ayat ini,  as-shiddiiquun ditempatkan Allah lebih mulia di atas para syuhadak.

Abu Bakar r.a. mendapat gelar as shiddiq, sebab ia mempercayai Nabi sepenuhnya ketika beberapa orang murtad, karena Nabi bercerita tentang sesuatu yang mereka dipandang mustahil. Tidaklah mungkin ia melakukan perjalanan malam (isra’) dari Masjidil Haram ke Masjid Al Aqsa dan melanjutkan perjalanan naik (mi’raj) ke langit tertinggi hanya dalam semalam.

Ketiga, as syuhada’, yaitu muslim yang menunjukkan persaksian keimanannya kepada Allah, malaikat dan semua manusia dengan cara ikut berperang dan meninggal dunia di medan pertempuran itu. Menurut Abdullah Yusuf Ali, para penggiat dakwah, penulis buku, pengurus masjid, lembaga pendidikan, panti asuhan dan semua orang yang mewakafkan hidupnya untuk membantu manusia dan kemajuan syiar Islam termasuk dalam kategori ini. Keempat, as-shaalihuun, yaitu muslim pada umumnya yang berusaha sekuat tenaga berada di atas jalan yang lurus dan cepat-cepat beristighfar dan bertobat jika melakukan dosa. Mereka ikut pula mengembangkan Islam dalam level yang sederhana, sesuai dengan kemampuan ilmu, fisik dan finansialnya. Sekalipun demikian, Allah amat menghargai keringatnya, sebab perjuangan yang besar tidak akan bisa sukses tanpa bantuan orang-orang kecil. Mereka inilah orang-orang yang seringkali luput dalam catatan sejarah. Tapi, Allah mencatatnya dengan tinta emas di pintu surga.  Tak mungkin sebuah pohon menjadi rindang dan berbuah tanpa akar sebagai pemasok makanan, dan ranting kecil sebagai gantungan buahnya.

Ayat ini merupakan penjabaran dari ayat ketujuh dalam surat Al Fatihah yang berisi permohonan agar kita termasuk an’amta ’alaihim, orang-orang yang mendapat kenikmatan surga, yaitu an-nabiyyuun, as-shiddiiquun, as-syuhadaa’, dan as-shaalihuun. Inti ayat inilah yang dijadikan doa Nabi SAW beberapa detik sebelum wafatnya. Aisyah r.a bercerita, ”Aku mendengar Nabi berdoa menjelang wafatnya sambil bersandar kepada saya, 

أَلّلهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَأَلْحِقْنِيْ بِالرَّفِيْقِ الأَعْلى

“Wahai Allah, ampunilah aku, kasihilah aku, dan pertemukan aku dengan arrafiilqul a’laa (tempat perkumpulan orang-orang termulia)” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Pada sebagian masyarakat muslim Indonesia, ayat ini juga dibaca oleh imam shalat tarawih sebelum melanjutkan shalat witir. Doa itu antara lain berbunyi, ”Wahai Allah, jadikan kami penikmat makanan dan minuman terlezat di surga. Ijinkan kami bersenang-senang dengan para bidadari tercantik yang telah Engkau siapkan. Wahai Allah, kumpulkan kami bersama empat kelompok manusia termulia, yaitu an-nabiyyuun, as-shiddiiquun, as-syuhadaa’, dan as-shaalihuun.”

Manusia yang tertinggi kemuliaannya adalah para Nabi atau an-nabiyyuun. Dan yang paling mulia di antara para nabi itu adalah Nabi SAW.  Kelompok ini sudah tertutup bagi siapapun, sebab tidak ada lagi nabi setelah Nabi SAW. Anda hanya bisa berusaha berada pada rangking dua, tiga dan empat, yaitu as-shiddiiquun, as-syuhadaa’, dan as-shaalihuun. Selamat berlomba meraihnya, dan selamat bersiap menjadi tamu agung di surga bersama empat manusia termulia. 

Surabaya, 4 Oktober 2019

Referensi: (1) Ahmad Al Shawi Al Maaliky, Tafsir As Shaawy, Juz 1, Darul Fikri, Beirut Libanon 1993 /1414 H, p, 303 (2) Abdullah Yusuf Ali, The Holy Qur’an, Dar Al Arabia, Beirut, Lebanon, tt, p. 200 (3) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 5, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 155 (4) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, vol. 2, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 608 (5) Al Bukhari, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il, Shahih Al Bukhari, Penerbit Toha Putra, Semarang, t.t.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

One Response



Leave a Reply to M Djauhari Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *