Header

HIDUP DENGAN LEMBARAN BARU

July 19th, 2017 | Posted by admin_tsb in Taushiyah/Khutbah

HIDUP DENGAN LEMBARAN BARU
oleh:
Prof Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Khutbah Idul Fitri disampaikan di Kedutaan Besar Republik Indonesia Dhaka Bangladesh pada tanggal 1 Syawal 1438/ 26 Juni 2017

 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamdu.

Alhamdulil ladzi ja’ala ramadhaana sabiilan li’ubuudiyyatihi wa taqwaah

Ahmaduhuu subhaanahuu waasykuruhuu syukran wa hamdan laa hadda limuntahaah

Ayshadu an laa ilaaha illallahu wahdahuu laa syariika lah

Wa bi’aunihii watawfiiqihii shallaynaa wa shumnaa wa ‘abadnaah

Wa asyhadu anna sayyidanaa wa nabiyyanaa Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu laa nabiyya ba’dah

Ijtabaahu rabbuhuu washtafaahu wa hadaah

Shallallahu ‘alahi wa ‘alaa aalihi wa shahbihii waman waalaah

Amma ba’du

Fa uushiikum wa nafsii bi taqawallah. Qaalallahu ta’aalaa, “Ya ayyuhal ladziina aamnuttaqullaha haqqa tuqaatihi wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Pada pagi ini kita bersyukur dapat menyelesaikan puasa Ramadan sebulan penuh, dan menjalankan ratusan rakaat taraweh, witir, dan shalat-shalat sunah lainnya. Alhamdulillah, kita juga telah membayar zakat dan sedekah untuk meringankan beban hidup orang lain. Oleh sebab itu, terimalah kabar gembira dari Rasulullah SAW untuk Anda semua, bahwa siapapun yang menjalankan shalat-shalat sunah selama ramadan semata-mata demi ketaatannya kepada Allah, maka semua dosanya diampuni oleh Allah SWT. Pahala untuk shalat fardhu dan ibadah-badah wajib lainnya yang kita kerjakan selama Ramadan jauh lebih besar, sebab Allah SWT menyatakan, “Puasamu adalah untuk-Ku.” Secara tidak langsung, Allah mengatakan, “Biarlah Aku yang memberikan ganjaran sesuai dengan kehendak-Ku. Engkau tidak akan mampu menghitung besaran pahala dari-Ku untukmu.”

Kabar gembira berikutnya untuk Anda, bahwa Allah SWT akan memberikan pahala puasa sebanyak pahala orang yang menerima sedekah berbuka puasa atau sahur dari Anda. Nabi SAW juga memberi jaminan, bahwa siapapun yang meringankan beban hidup orang selama Ramadan atau di luar Ramadan, maka ia akan dibebaskan dari derita hidup di akhirat kelak. Saya yakin dan berdoa semoga para hadirin termasuk mereka yang dimuliakan Allah tersebut.

Pantaslah, jika pada idul fitri ini, kita saling memberi ucapan selamat: Eid Mubarak, yang artinya, semoga hari raya ini memberikan tambahan kemuliaan dan kebahagiaan Anda; Taqabbalallahu minna waminkum, taqabbal ya karim, yang artinya, semoga semua ibadah kita diterima Allah Yang Maha Pemurah; atau ucapan lain yang paling terkenal di Indonesia, Minal a’idin wal faizin, yang artinya, semoga kita sama-sama kembali kepada kesucian, sukses dan bahagia selamanya. Ucapan selamat itu biasanya kita sertai ekspresi rendah hati berupa permintaan maaf atas kesalahan yang mungkin telah kita lakukan sesama kita. Kita benar-benar telah menyelesaikan masalah-masalah yang mengurangi keakraban kita dengan Allah dan antara sesama kita.

 

Kaum muslimin yang berbahagia.

Idul Fitri harus kita jadikan lembaran baru untuk hidup lebih berkualitas, lebih bahagia dan lebih banyak lagi orang yang kita bahagiakan. The more people you please, the more smile of God at you (semakin banyak orang yang Anda bahagiakan, semakin banyak senyum Allah untuk Anda). Nabi SAW bersabda, “Irhamu man fil ardhi yarhamkum man fis sama’,” yang artinya ”Kasihilah penduduk bumi agar malaikat penghuni langit mengasihimu.” Setiap hari kita mendengar seruan azan, Hayya alas shalah, hayya alal falah, yang artinya ”Ayo kita kerjakan shalat, dan ayo kita raih kesuksesan dan kebahagiaan.” Mengapa kita harus sukses? Ya, agar kita bisa membahagiakan banyak orang. Inilah komando harian yang harus menyemangati kita untuk menjadi the best and the winner dalam segala hal.

Apa saja yang harus kita isi dalam lembaran baru setahun ke depan sampai ramadan berikutnya?. Pertama, lanjutkan akhlak mulia yang telah kita bangun selama ramadan. Sebulan penuh, kita tidak makan dan minum, tapi terus menerus berpikir tentang makan dan minum orang lain. Persis seperti yang dilakukan Allah, yaitu tidak makan dan minum, tapi selalu memberi makan dan minum manusia. Jika kita bisa membahagiakan orang, maka itulah kebahagiaan kita yang sejati, dan itulah definisi bahagia yang paling benar.

Pasti kita paham, bahwa kita harus memiliki finansial yang lebih dari cukup, jika kita ingin menolong banyak manusia secara maksimal. Oleh sebab itu, kita sambut baik ajakan presiden kita untuk kerja, kerja dan kerja. Artinya, kita harus meraih kekayaan sebanyak-banyaknya dengan cara yang halal, lalu kita nikmati bersama orang-orang di sekitar kita. Kerja, kerja, dan kerjalah yang maksimal dan profesional agar Anda ikut berperan memajukan kesejahteraan bangsa Indonesia dan semua umat manusia di dunia, dan itu berarti keberadaan Anda di bumi ini bernilai bagi orang lain. Untuk apa hidup, jika tidak memberi manfaat bagi orang lain? Kata Nabi SAW, ”Orang terbaik adalah yang paling sempurna imannya dan paling banyak memberi sumbangsihnya untuk umat manusia.”

Kedua, perbanyaklah rasa syukur atas apapun yang Anda terima. Salah satu doa setelah shalat taraweh yang dibaca oleh imam di berbagai masjid adalah, Allahummaj’alna bi imani kamilin, wa binna’mai syakirin, wa bilqhadha-i radhin, yang artinya, wahai Allah sempurnakanlah iman kami, jadikan kami orang yang selalu senang dengan pemberian-Mu, dan tidak mengeluh dengan apapun takdir-Mu. Nikmatilah hari demi hari tanpa keluhan. Hindari sejauh-sejauhnya sikap mengeluh, sebab orang yang mengeluh menunjukkan jiwanya sakit dan imannya rapuh. Mengeluh bahkan mendatangkan murka Allah. Allah SWT berfirman, ”Barangsiapa tidak menerima dengan senang hati semua takdir-Ku, dan tidak bersabar atas cobaan dari-Ku, maka hendaklah ia mencari Tuhan selain Aku.” Bekerjalah dengan semangat kuda di siang hari, pasrahkan hasilnya kepada Allah ketika shalat di malam sunyi, lalu nyatakan rasa senang apapun dan berapapun pemberian Allah sepenuh hati. Katakan setiap pagi dan petang, Radhitu billahi rabba wabil Islami dina wabi Muhammadin nabiyyan wa rasula, yang artinya, ”Aku senang dengan semua perintah-Mu, juga senang atas  apapun dan berapapun pemberian-Mu, aku senang menjadikan Islam sebagai agamaku, serta Nabi Muhammad sebagai utusan-Mu yang jadi panutanku.” Siapapun yang setiap pagi dan petang berjanji taat Allah dan Rasul-Nya, dan tidak mengeluh atas apapun yang diahadapi, maka Allah mencintai dan merahmatinya sepanjang hari dan malam itu.

Ketiga, selama ramadan, kita telah berlatih menjaga mulut dari makanan yang haram dan perkataan yang dosa. Isilah lembaran baru hidup kita dengan sikap ekstra hati-hati dalam menjaga mulut. Antara lain dari makanan yang haram. Lebih baik Anda mati karena bertahan pada yang halal, daripada bertahan hidup, tapi dengan yang makanan yang haram. Kita masih prihatin bahwa tingkat korupsi di beberapa negara berpenduduk muslim masih tetap tinggi, tidak terkecuali di Indonesia. Semua pelaku korupsi itu bukan dikarenakan kelaparan, melainkan keserakahan. Not hungry but greedy.

Selama ramadan, kita juga berpuasa dari perkataan yang tidak baik. Akhlak selama ramadan dalam penjagaan mulut atau lidah itu harus kita lanjutkan. Mulut kita harus terbebas dari perkataan yang menyinggung perasaan anggota keluarga kita dan masyarakat pada umumnya, atau mengandung hoax dan fitnah, apalagi yang mengundang permusuhan, baik secara vertikal antara pemerintah dan rakyat atau secara horisontal yaitu sesama warga masyarakat. Dalam media sosial, akhlak bangsa kita akhir-akhir ini, khususnya dalam bertutur-kata, nyaris lenyap, sehingga orang berpendidikan dan tidak berpendidikan, antara tokoh agama dan orang awam hampir sama saja, sama-sama tidak menjaga kesopanan, sebagaimana yang diajarkan Nabi SAW.

 

Kaum muslimin yang berbahagia.

Sudahlah, itu lembaran lama yang penuh dosa dan ketidakharmonisan. Yang lalu, biarlah berlalu. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita.  Allahu Akbar, Allahu Akbar, inilah idul fitri, hari kemuliaan dan kegembiraan. Kita buka lembaran baru dengan akhlak yang lebih mulia, saling menghargai dan saling memaafkan antar sesama. Tunjukkan kepada dunia, bahwa Anda bukan orang biasa, tapi pribadi yang agung dan luar biasa, berakhlak mulia seperti Nabi kita tercinta, selalu riang bahagia dan tiada henti membahagiakan semua manusia.

Allahu Akbar, dengan menjalankan puasa ramadan dan semua rangkaian ibadah di dalamnya, kita telah berhasil membangun surga di dada, dan Insya Allah kita akan memasukinya di alam baka. Idul fitri adalah sebuah deklarasi untuk hidup dengan lembaran baru yang berisi sikap saling memaafkan dan menghargai semua orang tanpa melihat perbedaan etnis dan keagamaan.

Minal ‘Aidin wal Faizin. Ied Mubarok. Taqbbalallahu minna waminkum. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamdu.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

One Response

  • Siti Aisyatul Adawiyah says:

    Terima kasih prof ini pembalajaran yang sangat berharga untuk saya bahwa bulan ramadhan bukan hanya sekedar bulan yang telah berlalu dengan segala kemuliannya tapi suatu bulan yang mengantarkan kita menjadi orang mulia dibulan berikutnya.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *