Header

HIDUP ITU KOMA (1)

February 1st, 2013 | Posted by admin_tsb in Artikel

HIDUP ITU KOMA (1)

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Kata jijik dan muak itu soal biasa jika dialamatkan kepada makanan atau minuman.  Sebab selera manusia tidak sama dan tidak kenal logika. Orang Yaman mengatakan, “al-dzauq, la jidala fih” yang diterjemahkan orang Inggris, “The taste is undebateble”. Bisa saja makanan itu menjijikkan bagi Anda, tapi paling lezat bagi yang lain. Tapi jika kedua kata itu dialamatkan kepada seseorang, maka maknanya menjadi tidak biasa, karena berbau penghinaan untuk seseorang.

Setidaknya dua kali saya mendengar dua kata itu atau ungkapan semakna dari mulut teman saya. Keduanya terjadi di luar negeri. Saya tidak menyebut kasus serupa di dalam negeri, agar tidak ada pembaca yang tersinggung. Ketika saya diundang  untuk mengisi kajian Islam untuk komunitas santri Indonesia di London, saya merasa bangga dan takjub, bagaimana mereka bisa membangun kebersamaan dalam keimanan di tengah masyarakat acuh agama. Akan tetapi, ketika mengantar saya pulang, seorang panitia bercerita di atas bus bahwa  komunitas ini adalah khusus pecinta Allah dan Rasul. Semua peserta wajib berpakaian sopan dan tutup aurat bagi muslimah. Saya baru sadar kemudian, mengapa wanita tak berjilbab yang menyertai saya dalam kajian itu tidak memperoleh sambutan sehangat mereka yang berjilbab. Semula saya menduga hanya karena wanita itu belum akrab dengan mereka, tapi ternyata ada kesan lain yang melatarbelakanginya.

Pengalaman yang lain adalah ketika saya diajak petugas KJRI Hong Kong memberi pencerahan agama untuk komunitas BMI (Buruh Migran Indonedsia) di Taipo, sebuah kota kecil, kira-kira perjalanan satu jam dari pusat kota. Inilah komunitas khas: wadah kaum lesbi yang sedang bersuka ria menikmati hari libur Minggu di sebuah kedai. Saya mengajak masuk dua orang berjilbab yang menyertai saya, tapi mereka menolak. “Saya jijik dengan mereka, pak. Saya lebih enak di luar menunggu bapak,” katanya singkat sambil mengerutkan muka.

Dua pengalaman itu saya ingat kembali, setelah saya membaca  buku Warisan Para Aulia’ karya Fariduddin Al-Attar (p.102). Pada tahun 800an Masehi, hiduplah pemuda yang terkenal kaya,  Abu Nashr, Bisyri bin al Harits. Tiada hari lewat tanpa foya-foya dan minuman memabukkan. Suatu hari, ia berjalan terhuyung-huyung karena baru saja menenggak beberapa botol miras. Dalam perjalanan itu,  ia menemukan secarik kertas kusut bertuliskan bismillahirrahmanirrahim (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang). Ia membacanya dengan senyum bahagia. Dibacanya sampai berulang kali. Setelah mencium kertas temuannya itu, ia mengambil minyak mawar untuk dipercikkan di atasnya, lalu menyimpannya di tempat yang spesial.

Pada malam hari berikutnya, seorang syekh mendapat perintah dalam mimpinya, “Carilah seorang pemuda dengan ciri-ciri begini begitu, dan katakan, bahwa Allah telah mengharumkannya, karena ia telah mengharumkan nama-Nya. Allah juga memuliakannya karena ia telah memuliakan-Nya.”  Syekh itu terus penasaran, siapa dan di mana pemuda itu?.

Setelah dicari sekian hari, syekh berhasil menemukan pemuda dengan ciri-ciri yang disebutkan dalam mimpi. Tapi syekh ragu, karena ada bau miras menyengat dari mulut si pemuda. “Mungkinkah pemuda seperti ini di harumkan dan dimuliakan Allah?” tanya syekh dalam hati berkali-kali.  Untuk menghilangkan keraguan, syekh mengambil air wudlu dan shalat malam. Ternyata ia memperoleh mimpi yang sama. Sampai mimpi pada malam ketiga juga tidak berbeda, tetap mengisyaratkan pemuda dengan ciri-ciri semula.

Pagi buta, syekh berangkat menemui sang pemuda. Syekh kaget tidak kepalang,  pemuda itu ditemukan sedang berpesta miras anggur dengan rekan-rekannya. Pemuda itu menolak diajak bicara oleh syekh dan selalu menyebutnya salah sasaran. Akan tetapi, setelah syekh meyakinkan apa yang diperoleh dalam mimpinya, pemuda itu dengan senang hati mendengar petuahnya. “Anda orang terpilih. Allah mencium Anda, karena Anda mencium kertas bertuliskan nama-Nya. Anda dimuliakan Allah, karena Anda telah memerciki minyak mawar dan menempatkan kertas bertuliskan Kasih-Nya di tempat terhormat.” Begitulah kira-kira petuah sejuk syekh kepada pemuda yang sedang tidak beralas kaki saat itu.

Sentuhan kasih sang syekh itulah yang meluluhkan hati sang pemuda untuk bertobat. Ia lalu menandai tobatnya dengan mengatakan, “Mulai hari ini dan seterusnya, saya tidak akan memakai alas kaki, sebagai kenangan tanda awal pertobatan saya.” Mantan peminum miras itu kemudian bersungguh-sungguh belajar dan menjalankan agama, sampai ia dikukuhkan masyarakat sebagai salah satu syekh paling kharismatik di Irak. Dalam sebuah fatwanya, syekh mantan peminum itu,  Bisyr bin al-Harits, mengutip firman Allah, “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap…” (QS. Al Baqarah [2]:22).

“Mengapa saya tidak beralas kaki? Sebab aku merasa tidak pantas berjalan di atas permadani yang disiapkan sang raja,” katanya untuk menguatkan selamat tinggalnya kepada alas kaki, sekaligus menunjukkan analogi kesopanan yang maksimal kepada Allah SWT.

Hidup itu masih koma. Belum titik. Jika Anda jijik dan muak kepada seseorang atas perbuatan dosanya, Anda pasti lupa, bahwa esok hari masih ada kemungkinan ia menjadi orang baik. Ia tidak setan yang tidak mungkin berubah jadi makhluk yang baik. Anda juga lupa, Anda bukan malaikat yang tidak punya dosa dan tidak ada kemungkinan jadi mantan orang baik. Esok hari penuh spekulasi antara baik dan buruk. Apa kata dunia, dan di mana Anda akan menyembunyikan muka, jika suatu saat, orang yang Anda pandang menjijikkan itu bertobat dan menjadi orang saleh, melampaui kesalehan Anda. Wallau ‘almau bis shawab.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

7 Responses



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *